Anda di halaman 1dari 11

TEORI THEVENIN DAN TEORI NORTON Rangkaian dengan semua resistansi/impedansi tertentu dapat dianalisis dengan metode arus

loop atau metode tegangan simpul. Perhatikan rangkaian berikut. Bila RL1, RL2, RL3, RL4 dipasang secara bergantian, maka akan diperoleh empat sistem persamaan linier berbeda yang harus diselesaikan untuk setiap nilai RL yang berbeda. Dengan demikian diperlukan empat kali perhitungan dengan determinan atau matriks yang berbeda. Hal tersebut akan sangat menyita waktu, dan membosankan. Pekerjaan yang sangat membosankan tersebut dapat dihilangkan jika rangkaian aktip tersebut digantikan dengan rangkaian ekivalen sederhana. Metode tersebut dinamakan Teori Thevenin dan Teori Norton.

TEORI THEVENIN.
R1 R3 R5 R7 A

R2

R4

R6

RL1

RL2 RL3 RL4

Gambar 1

Perhatikan rangkaian dalam gambar 1. Bila dinginkan untuk menentukan arus yang mengalir dalam RL1, maka perlu dilakukan perhitungan secara konvensional yaitu menentukan RT, IT kemudian dengan menerapkan prinsip rangkaian pembagi arus yang rumit akhirnya akan diperoleh arus IRL. Jika diinginkan untuk menentukan nilai arus IRL2, IRL3, dan IRL4, maka dilakukan prosedur yang sama sebanyak empat kali. Menurut Teori Thhevenin, rangkaian seperti pada gambar 1 dapat digantikan dengan sebuah rangkaian ekivalen yang sangat sederhana yang disebut Rangkaian Ekivalen Thevenin (selanjutnya disingkat RET), seperti pada gambar 2.
RTH A

VTH

RL1 RL2

RL3 RL4

Gambar 2 Rangkaian Ekivalen Thevenin Prosedur untuk mendapatkan RET. 1. RTH disebut resistansi ekivalen Thevenin. Untuk

menentukan nilai RTH, lepaskan beban RL1 pada terminal A-B sehingga terminal A-B terbuka. Hubung singkatkan sumber tegangan dan hitung RT dilihat dari arah terminal

A-B, seperti pada gambar 3. RT yang diperoleh sama dengan RTH.


R1 R3 R5 R7 A

R2

R4

R6

RTH

Gambar 3 2. VTH disebut tegangan ekivalen Thevenin. Untuk menentukan nilai VTH, lepaskan beban RL1 pada terminal A-B (terminal A-B terbuka). Tentukan tegangan pada terminal A-B dalam keadaan terbuka. VAB (opened

circuited) yang diperoleh sama dengan VTH.


R1 R3 R5 R7 A

R2

R4

R6

VAB

Gambar 4

Untuk memperoleh VAB, hitung RT, IT, IR6. Kemudian hitung VAB dengan rumus VAB = IR6 x R6 Volt. 3. Setelah mendapatkan nilai RTH dan VTH, gambarkan RET seperti pada gambar 5.
RTH A

VTH

Gambar 5 Rangkaian ekivalen Thevenin 4. Untuk menghitung nilai arus yang mengalir dalam hitung IRL dengan rumus : R L,

sambungkan RL secara bergantian pada terminal RL dan

5. Perhitungan tegangan dan daya pada RL selanjutnya dihitung menggunakan rumus yang tersedia.

Teori Thevenin untuk rangkaian dengan dua sumber tegangan

R1

R2

V1

RL

V2

Pertanyaan : Carilah RET dari rangkaian diatas dilihat dari terminal A-B. Penyelesaian : 1. Untuk mendapatkan RT, Lepaskan beban RL pada terminal A-B, sehingga terminal A-B terbuka. Selanjutnya hubung singkatkan kedua sumber tegangan dan hitung RT dilihat dari terminal A-B. Lihat rangkaian pada gambar 6.
R1 A R2 A

RL

R1

R2

B B

Gambar 6

Dengan demikian maka RT = RTH dapat dihitung dengan rumus :

2. Untuk mendapatkan VTH, maka dilakukan perhitungan dengan metode superposisi tegangan VAB yang disebabkan oleh kedua sumber tegangan. Perhatikan gambar 7a dan gambar 7b.
R1 A R2 R1 A R2

V1

V2 B Gambar 7a B Gambar 7b

Dari gambar 7a (V1 ON, V2 SC), diperoleh :

Dari gambar 7b ( V1 SC, V2 ON ) diperoleh :

Bila kedua tegangan tersebut disuperposisikan, maka diperoleh VAB = VTH dengan rumus sebagai berikut :

Bila dilakukan proses lebih lanjut, maka diperoleh :

Teori Norton. Untuk menganalisis rangkaian menggunakan teori Norton, juga diperlukan Rangkaian Ekivalen Norton (selanjutnya disingkat REN).
R1 R3 R5 R7 A

R2

R4

R6

RL1

RL2 RL3 RL4

Gambar 8 Prosedur untuk memperoleh REN adalah sebagai berikut : 1. RN disebut resistansi ekivalen Norton. Untuk menentukan nilai RN, lepaskan beban RL1 pada terminal AB sehingga terminal AB terbuka, hubung singkatkan sumber tegangan dan hitung RT dilihat dari arah terminal AB. Seperti pada

gambar 3. RT yang diperoleh sama dengan R. Lihat gambar 9.


R1 R3 R5 R7 A

R2

R4

R6

RN

Gambar 9 2. IN disebut arus Norton. Untuk memperoleh arus Norton, lepaskan beban RL pada terminal A-B, kemudian hubung singkatkan termkinal A-B. Hitung arus yang mengalir pada terminal A-B yang terhubung singkat. Arus tersebut adalah arus Norton. Lihat gambar 10.
R1 V R2 R3 R5 R7 A

R4

R6

IN

Gambar 10 3. Sesudah memperoleh RN dan IN, gambarkan REN seperti pada gambar 11.

IN

RN

Gambar 11 Rangkaian Ekivalen Norton. 4. Untuk menghitung arus beban IRL, sambungkan beban RL pada terminal A-B parallel dengan RN, kemudian hitung IRL dengan rumus : A
A IRL IN RN RL1

RL2 B

RL3 RL4

Konversi RET ke REN Pada dasarnya RET dapat dikonversi menjadi REN dan sebaliknya.
RTH A A

VTH

IN

RN

RET

REN

Jika RET sudah diperoleh, maka REN dapat diperoleh dengan mengkonversi RET ke REN dengan bantuan rumus sebagai berikut :

Demikian sebaliknya REN dapat dikonversi menjadi RET dengan bantuan rumus : Volt Ohm

RTH

VTH

RL

IN

RN

RL