Anda di halaman 1dari 178

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN

MELALUI METODE LATIHAN TERBIMBING


DENGAN MEDIA TEKS LAGU
SISWA KELAS X-7 SMA NEGERI 1 PEMALANG

SKRIPSI

untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan


pada Universitas Negeri Semarang

Oleh

Nama : Wiwin Nur Azizah

NIM : 2101403568

Prodi : Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia

Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERISTAS NEGERI SEMARANG
2007
SARI

Azizah, Wiwin Nur. 2007. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Melalui


Metode Latihan Terbimbing dengan Media Teks Lagu pada Siswa Kelas
X-7 SMA Negeri 1 Pemalang. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing I : Drs. Agus Nuryatin, M.Hum, Pembimbing II : Drs. Mukh.
Doyin, M. Si.
Kata Kunci : Keterampilan menulis cerpen, metode latihan terbimbing, media
teks lagu.

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia aspek


bersastra SMA kelas X untuk subaspek menulis menyebutkan bahwa peserta didik
harus mampu mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain ke dalam
cerpen. Dalam hal ini siswa dituntut untuk mampu menulis cerpen yang baik,
namun kemampuan menulis cerpen siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang
masih rendah. Rendahnya kemampuan menulis tersebut disebabkan oleh faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari siswa
sendiri, sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari lingkungan
siswa. Guru masih terbiasa dengan metode pembelajaran yang monoton dan
terkesan hanya mengejar meteri. Oleh karena itu, untuk meningkatkan
keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang
digunakan metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang dipaparkan dalam
penelitian ini adalah 1) seberapa besar peningkatan kemampuan menulis cerpen
melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu pada siswa kelas X
SMA N 1 Pemalang, dan 2) adakah perubahan tingkah laku siswa dalam
pembelajaran menulis cerpen setelah mengikuti pembelajaran melalui metode
latihan terbimbing dengan media teks lagu pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1
Pemalang. Tujuan Penelitian ini yaitu 1) mendeskripsikan peningkatan
kemampuan menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks
lagu pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang dan 2) mendeskripsikan
perubahan tingkah laku siswa setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen
menggunakan metode latihan terbimbing dengan media teks lagu pada siswa kelas
X-7 SMA Negeri 1 Pemalang.
Penelitian ini merupakan penelitian yang berbasis kelas. Dengan demikian
penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang meliputi
dua siklus. Tiap-tiap siklus dilakukan secara teratur yang terdiri atas empat tahap,
yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Data penelitian
yang diambil melalui tes dan nontes. Alat pengambilan data tes yang digunakan
berupa instrumen tes perbuatan yang berisi aspek-aspek kriteria penilaian
kemampuan menulis cerpen berupa penilaian kemampuan menulis cerpen melalui
metode latihan terbimbing dengan media teks lagu. Alat pengambilan data nontes
yang digunakan berupa pedoman observasi, wawancara, jurnal, angket, dan
dokumentasi foto. Selanjutnya data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.

ii
Berdasarkan analisis data penelitian, disimpulkan bahwa melalui metode
latihan terbimbing dengan media teks lagu, kemampuan menulis cerpen siswa
kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang meningkat sebesar 20,44% setelah mengikuti
pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media
teks lagu. Hasil rata-rata tes menulis cerpen pratindakan sebesar 61,30 dan pada
siklus I diperoleh hasil rata-rata sebesar 68,62, kemudian pada siklus II diperoleh
hasil rata-rata sebesar 77,05 atau meningkat sebesar 12,29% dari siklus I. Perilaku
siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang setelah mengikuti pembelajaran menulis
cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu pun mengalami
perubahan ke arah positif. Perubahan tersebut ditunjukkan dengan perilaku siswa
yang lebih serius dan bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran menulis
cerpen.
Selanjutnya, dari hasil penelitian tersebut, penulis memberikan saran 1)
guru bahasa dan sastra Indonesia dapat menggunakan metode latihan terbimbing
dengan media teks lagu dalam membelajarkan menulis cerpen kepada siswa, 2)
peneliti lain dapat melakukan penelitian yang serupa dengan metode yang
berbeda.

iii
iv
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar

hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian

atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini

dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Agustus 2007

Wiwin Nur Azizah

v
vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto :

• Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu


sudah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu
berharap (QS. Al-Insyirah : 6 - 8).
• Hidup artinya berani menghadapi tantangan, tantangan terbesar dari hidup
adalah tetap tumbuh dalam situasi apapun.
• Doa adalah senjata ampuh orang mukmin

Persembahan

Karya kecil ini kupersembahkan untuk orang-orang


yang senantiasa mengisi batin dan jiwaku
1) Bapak, Ibu dan kakak-kakakku tercinta, dari
kalian aku mengerti arti pengorbanan
2) Keluarga dan sahabat-sahabatku
3) Teman-teman PBSI’03
4) Almamater

vii
PRAKATA

Puji syukur tiada terhingga ke hadirat Allah swt, atas segala limpahan

nikmat dan karunia yang diberikan kepada penulis, sehingga penulis memperoleh

kekuatan untuk menyelesaikan skripsi ini, meskipun penulis menyadari bahwa

skripsi ini masih banyak kelemahan-kelemahan dan semata-mata karena

keterbatasan penulis, baik dalam ilmu maupun pengetahuan.

Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan,

bantuan, dan sumbang saran dari segala pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan

ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat:

1. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dekan Fakultas Bahasa dan

Seni serta Rektor Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan

izin penelitian ini,

2. Drs. Agus Nuryatin M.Hum dan Drs. Mukh. Doyin M.Si, dosen

pembimbing I dan dosen pembimbing II yang disela-sela kesibukannya

dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan kebijaksanaan memberikan

bimbingan, arahan dan masukan kepada penulis,

3. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah

menyemaikan ladang dan menanamkan ilmu sebagai bekal yang sangat

bermanfaat,

4. Dra. Rishi Mardiningsih, kepala SMA Negeri 1 Pemalang yang telah

memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini,

viii
5. Saptorini Wahyuningsih, S.S, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA

Negeri 1 Pemalang yang telah memberikan bantuan dan kerelaannya

untuk diajak bertukar pikiran dengan penulis dalam penelitian.

6. Siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang, yang telah bersedia membantu

pelaksanaan penelitian.

7. Bapak, Ibu, Mas Agus, Mba Is, dan De Ian, atas doa, dukungan, perhatian,

kesabaran, kasih sayang dan pengorbanannya selama ini,

8. Mas Aris, atas segala motivasi dan kasih sayangnya,

9. Sahabat-sahabatku Melti, Mar, Kiki, Dany, Ari, Mas Sulis, terima kasih

bangkitkan semangatku untuk maju,

10. Teman-teman seperjuangan di PBSI angkatan 2003 terima kasih atas

segala informasi, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan.

11. Roger, terima kasih bantuan komputernya,

12. Teman-teman Florist kos Aee, Anna, Achel, Upi, Mamih, Somsay, Bilqis,

Utty, dan Lusi bersama mereka aku belajar hidup,

13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah ikut

memberikan bantuan dalam menyelesaikan penelitian ini.

Insya Allah jasa-jasa mereka akan saya kenang sepanjang hayat dan

semoga Yang Mahakuasa memberikan yang terbaik dan Ridlo-Nya kepada kita

semua di kehidupan sekarang dan yang akan datang.

ix
Penulis sadar bahwa kesempurnaan hanyalah milik Yang Mahasempurna

dan skripsi ini pun masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan

saran yang membangun dari pembaca saya harapkan. Penulis juga sangat berharap

semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang, Agustus 2007

Wiwin Nur Azizah

x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i

SARI................................................................................................................ ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING................................................................... iv

PERNYATAAN.............................................................................................. v

HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................. vii

PRAKATA...................................................................................................... viii

DAFTAR ISI................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL........................................................................................... xiv

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xv

DARTAR DIAGRAM DAN GRAFIK........................................................... xvi

DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xvii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1
1.2 Identifikasi Permasalahan ....................................................... 7
1.3 Pembatasan Masalah ............................................................... 8
1.4 Rumusan Masalah ................................................................... 9
1.5 Tujuan Penelitian .................................................................... 9
1.6 Manfaat Penelitian .................................................................. 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI


2.1 Kajian Pustaka ......................................................................... 11
2.2 Landasan Teoretis ................................................................... 14
2.2.1 Hakikat Menulis Cerpen ............................................... 14
2.2.2 Tujuan Menulis Cerpen................................................... 17

xi
2.2.3 Cerpen ........................................................................... 20
2.2.3.1 Pengertian Cerpen.............................................. 20
2.2.3.2 Unsur-unsur Pembangun Cerpen ....................... 22
2.2.4 Metode Latihan Terbimbing ........................................... 32
2.2.5 Media Teks Lagu ............................................................ 34
2.2.6 Menulis Cerpen Melalui Metode Latihan Terbimbing
dengan Media Teks Lagu............................................... 35
2.3 Kerangka Berpikir ................................................................... 38
2.4 Hipotesis Tindakan ................................................................. 39

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Desain Penelitian .................................................................... 40
3.1.1 Proses Tindakan Siklus I ................................................ 41
3.1.2 Proses Tindakan Siklus II............................................... 44
3.2 Subjek Penelitian .................................................................... 46
3.3 Variabel Penilaian .................................................................. 47
3.4 Instrumen Penelitian ............................................................... 48
3.4.1 Instrumen Tes ............................................................... 48
3.4.2 Instrumen Nontes ........................................................... 52
3.4.3 Validitas Instrumen ...................................................... 55
3.5 Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 55
3.6 Teknik Analisis Data .............................................................. 58

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian ...................................................................... 60
4.1.1 Hasil Pratindakan ......................................................... 60
4.1.2 Hasil Penelitian Siklus I ............................................... 62
4.1.2.1 Hasil Tes ....................................................... 62
4.1.2.2 Hasil Nontes .................................................. 70
4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II ............................................. 90
4.1.3.1 Hasil Tes ....................................................... 91
4.1.3.2 Hasil Nontes ................................................. 100

xii
4.2 Pembahasan ............................................................................. 117
4.2.1 Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Siswa
Kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang ............................ 117
4.2.2 Peningkatan Pengaruh Penggunaan Metode Latihan
Terbimbing dengan Media Teks Lagu terhadap
Perubahan Perilaku Siswa kelas X-7 SMA Negeri 1
Pemalang....................................................................... 125
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ................................................................................. 128
5.2 Saran ....................................................................................... 129

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 130


LAMPIRAN-LAMPIRAN

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Skor Penilaian Tes Menulis Cerpen.................................................. 49


Tabel 2 Aspek Penilaian Keterampilan Menulis Cerpen ................................ 49
Tabel 3 Pedoman Penilaian Keterampilan Menulis Cerpen............................ 51
Tabel 4 Hasil Menulis Cerpen Pratindakan..................................................... 60
Tabel 5 Hasil Menulis Cerpen Siklus I ........................................................... 63
Tabel 6 Perolehan Skor Aspek Tema dan Amanat Siklus I ............................ 65
Tabel 7 Perolehan Skor Aspek Alur Siklus I .................................................. 66
Tabel 8 Perolehan Skor Aspek tokoh dan Penokohan Siklus I ....................... 67
Tabel 9 Perolehan Skor Aspek Latar Siklus I ................................................. 67
Tabel 10 Perolehan Skor Aspek Diksi dan Gaya Bahasa Siklus I .................... 68
Tabel 11 Perolehan Skor Aspek Sudut Pandang Siklus I ................................. 69
Tabel 12 Perolehan Skor Aspek Kepaduan Unsur-unsur Pembangun Cerpen
Siklus I .......................................................................................... 70
Tabel 13 Perolehan Angket Siklus I.................................................................. 83
Tabel 14 Hasil Tes Menulis Cerpen Siklus II ................................................... 91
Tabel 15 Perolehan Skor Aspek Tema dan Amanat Siklus II........................... 93
Tabel 16 Perolehan Skor Aspek Alur Siklus II ................................................. 94
Tabel 17 Perolehan Skor Aspek tokoh dan Penokohan Siklus II...................... 95
Tabel 18 Perolehan Skor Aspek Latar Siklus II................................................ 96
Tabel 19 Perolehan Skor Aspek Diksi dan Gaya Bahasa Siklus II................... 97
Tabel 20 Perolehan Skor Aspek Sudut Pandang Siklus I ................................. 98
Tabel 21 Perolehan Skor Aspek Kepaduan Unsur-unsur Pembangun Cerpen
Siklus II .............................................................................................. 99
Tabel 22 Perolehan Angket Siklus I
............................................................................................................ 10
9
Tabel 23 Perolehan Nilai Rata-rata dan peningkatan Keterampilan Menulis
Cerpen pada Pratindakan, Siklus I, dan Siklus II................................. 119

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Aktivitas Awal Pembelajaran Siklus I .......................................... 87


Gambar 2 Aktivitas Siswa mengamati dan Memperhatikan Teks Lagu
Siklus I ...................................................................................... 88
Gambar 3 Aktivitas Siswa Menulis Cerpen Siklus I ...................................... 89
Gambar 4 Aktivitas Guru Melakukan Bimbingan Siklus I............................. 90
Gambar 5 Aktivitas Awal Pembelajaran Siklus II .......................................... 114
Gambar 6 Aktivitas Siswa Menulis Cerpen Siklus II ..................................... 115
Gambar 7 Aktivitas Guru Membimbing Siswa Menulis Cerpen Siklus II ..... 116
Gambar 8 Aktivitas Siswa Membacakan Cerpen ........................................... 116

xv
DAFTAR DIAGRAM DAN GRAFIK

Diagram batang 1 Hasil Tes Keterampilan Menulis pada Pratindakan ...............61


Diagram batang 2 Hasil Tes Keterampilan Menulis pada Siklus I ......................64
Diagram batang 3 Hasil Tes Keterampilan Menulis pada Siklus II .....................92
Grafik 1 Grafik Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerpen ..................124

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Nama Siswa Kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang ......... 132
Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I.................. 133
Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II ................ 136

Lampiran 4 Contoh Cerpen Berdasarkan Teks Lagu.................................... 139

Lampiran 5 Teks Lagu Siklusi dan Siklus II................................................. 142

Lampiran 6 Hasil Tes Menulis Cerpen Prasiklus................................................... 144

Lampiran 7 Hasil Tes Menulis Cerpen Siklus I..................................................... 146

Lampiran 8 Hasil Tes Menulis Cerpen Siklus II........................................... 148

Lampiran 9 Pedoman Observasi Siswa Siklus I dan Siklus II ...................... 150

Lampiran 10 Hasil Observasi Siswa Siklus I.................................................. 152

Lampiran 11 Hasil Observasi Siswa Siklus II................................................ 154

Lampiran 12 Rekapitulasi Observasi Siswa Siklus I dan Siklus II................ 156

Lampiran 13 Pedoman Observasi Kelas Siklus I dan Siklus II ..................... 157

Lampiran 14 Hasil Observasi Kelas Siklus I .................................................. 159

Lampiran 15 Hasil Observasi Kelas Siklus II ................................................ 161

Lampiran 16 Pedoman Jurnal Guru Siklus I dan Siklus II.............................. 163

Lampiran 17 Hasil Jurnal Guru Siklus I ......................................................... 164

Lampiran 18 Hasil Jurnal Guru Siklus II ........................................................ 165

Lampiran 19 Pedoman Jurnal Siswa Siklus I dan Siklus II ............................ 166

Lampiran 20 Hasil Jurnal Siswa Siklus I ........................................................ 167

Lampiran 21 Hasil Jurnal Siswa Siklus II....................................................... 171

Lampiran 22 Rekapitulasi Jurnal Siswa Siklus I dan Siklus II ....................... 175

xvii
Lampiran 23 Pedoman Angket Siklus I dan Siklus II..................................... 176

Lampiran 24 Hasil Angket Siklus I................................................................. 178

Lampiran 25 Hasil Angket Siklus II ............................................................... 186

Lampiran 26 Rekapitulasi Angket Siklus I dan Siklus II................................ 194

Lampiran 27 Pedoman Wawancara Siklus I dan Siklus II.............................. 195

Lampiran 28 Hasil Wawancara Siklus I.......................................................... 196

Lampiran 29 Hasil Wawancara Siklus II ........................................................ 198

Lampiran 30 Hasil Menulis Cerpen Siswa Pratindakan ................................. 200

Lampiran 31 Hasil Menulis Cerpen Siswa Siklus I ........................................ 205

Lampiran 32 Hasil Menulis Cerpen Siswa Siklus II....................................... 212

Lampiran 33 Surat Izin Observasi................................................................... 224

Lampiran 34 Surat Keputusan Pengangkatan Dosen Pembimbing Skripsi .... 225

Lampiran 35 Surat Izin Penelitian................................................................... 226

Lampiran 36 Surat Keterangan Penelitian ...................................................... 227

Lampiran 37 Surat Keterangan Panitia Ujian Skripsi ..................................... 228

xviii
Hala

man

1. Daftar Nama Siswa Kelas VII D ............................................................... 92

2. Rencana Pembelajaran Siklus I Pertemuan ke-1 ....................................... 93

3. Rencana Pembelajaran Siklus I Pertemuan ke-2........................................ 96

4. Rencana Pembelajaran Siklus II................................................................. 99

5. Lembar Kerja Siswa Siklus I Pertemuam ke-1 .......................................... 102

6. Lembar Kerja Siswa Siklus I Pertemuam ke-2 ......................................... 103

7. Lembar Kerja Siswa Siklus II .................................................................... 104

8. Lembar Pengamatan Pembelajaran Berbasis Masalah

Untuk Guru Siklus I Pertemuan Ke-1 . ...................................................... 105

9. Lembar Pengamatan Pembelajaran Berbasis Masalah

Untuk Guru Siklus I Pertemuan Ke-2 . ...................................................... 107

10. Lembar Pengamatan Pembelajaran Berbasis Masalah

Untuk Guru Siklus I I ................................................................................ 109

11. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan ke-1 .................... 111

xix
12. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan ke-2..................... 113

13. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus II ............................................. 115

14. Daftar Kelompok....................................................................................... 117

15. Kisi-kisi Penyebaran Butir Soal ................................................................. 118

16. Soal Uji Coba ............................................................................................. 119

17. Kunci Jawaban Soal Uji Coba ................................................................... 127

18. Analisis Validitas, Reabilitas, Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda..... 128

19. Soal Evaluasi Siklus I ................................................................................ 138

20. Kunci Jawaban Soal Evaluasi Siklus I ....................................................... 141

21. Soal Evaluasi Siklus II ............................................................................... 142

22. Kunci Jawaban Soal Evaluasi Siklus II...................................................... 146

23. Daftar Nilai Ulangan Sebelum Tindakan................................................... 147

24. Daftar Nilai Ulangan Siklus I..................................................................... 148

25. Daftar Nilai Ulangan Siklus II ................................................................... 149

26. Rekapitulasi Hasil Belajar Sebelum Tindakan, Siklus I, dan Siklus II...... 150

27. Daftar Nilai Ulangan IPS Ekonomi Pokok Bahasan


Perusahaan dan Badan Usaha Siswa Kelas VII
SMP N 4 Randudongkal ........................................................................... 151

28. Kurikulum 2004 ......................................................................................... 157

29. Silabus ....................................................................................................... 158

30. Surat Ijin Observasi dari Fakultas Ekonomi ............................................. 159

31. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas Ekonomi ............................................. 160

32. Surat Keterangan Penelitian dari SMP N 4 Randudongkal ....................... 161

xx
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan alat yang sangat vital bagi manusia dalam

berkomunikasi. Manusia berkomunikasi agar dapat saling belajar, berbagi

pengalaman, dan dapat meningkatkan kemampuan intelektualnya. Penggunaan

bahasa dalam berkomunikasi ada dua macam yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis.

Bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulis

tersebut muncul dalam segala aktivitas seperti pendidikan, keagamaan,

perdagangan, politik, dan sebagainya.

Pengajaran keterampilan bahasa dan sastra Indonesia mencakupi

keterampilan mendengarkan, keterampilan membaca, keterampilan berbicara, dan

keterampilan menulis. Keempat keterampilan tersebut selalu berkait satu dengan

yang lain. Di antara keterampilan tersebut keterampilan mendengarkan dan

keterampilan membaca merupakan keterampilan reseptif, sedangkan keterampilan

berbicara dan keterampilan menulis merupakan keterampilan produktif.

Suyatno (2004:6) menyatakan bahwa posisi bahasa Indonesia berada dalam

dua tugas. Tugas pertama adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk

sesuai dengan kaidah dasar. Tugas kedua adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa

negara. Sebagai bahasa negara berarti bahasa Indonesia harus digunakan sesuai

dengan kaidah, tertib, cermat, dan masuk akal. Bahasa Indonesia yang dipakai

1
2

harus lengkap dan baku. Tingkat kebakuannya diukur oleh aturan kebahasaan dan

logika pemakaian. Dengan demikian pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah

tidak hanya mempelajari bahasa yang resmi, bahasa yang sesuai dengan tata

bahasa dan kaidah-kaidah penggunaannya saja tetapi juga mempelajari bahasa

dalam bentuk yang tidak resmi seperti dalam bahasa sastra.

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang

harus diajarkan pada siswa. Keterampilan menulis mempunyai peranan yang

sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan menulis merupakan

syarat untuk berkecimpung dalam berbagai macam bidang atau kegiatan. Hal ini

mengandung pengertian betapa pentingnya keterampilan dan kemampuan menulis

dalam kehidupan sehari-hari.

Diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh

pemerintah menghendaki (1) peserta didik dapat mengembangkan potensinya

sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan

penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;

(2) guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa

siswa dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar; (3)

guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan

kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan siswanya; (4) orang tua

dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan

dan kesastraan di sekolah; (5) sekolah dapat menyusun program pendidikan

tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber

belajar yang tersedia; (6) daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar

2
3

kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan

tetap memperhatikan kepentingan nasional (Depdiknas, 2005:1).

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia aspek

bersastra SMA kelas X untuk subaspek menulis menyebutkan bahwa siswa harus

mampu mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain ke dalam cerpen

(Depdiknas, 2005:4). Untuk mencapai standar kompetensi di atas proses

pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bukan sekadar pengajaran mengenai

teori-teori sastra. Di samping memperoleh pengetahuan tentang teori-teorinya

siswa pun dituntut untuk dapat mengungkapkan pikiran, gagasan, pendapat, dan

perasaannya melalui sebuah karya sastra yang berupa cerpen.

Tulisan imajinatif yang merupakan tulisan kreatif, dalam hal ini dapat

berupa puisi, cerpen, novelet, dan novel. Dalam kajian ini dipilih cerpen sebagai

objek penelitian. Pemilihan cerpen karena cerpen tidak memerlukan waktu yang

lama untuk membuatnya karena bentuknya yang lebih pendek daripada novel,

begitu pun untuk membacanya, sehingga cerpen sering disebut bacaan yang dapat

dibaca sekali duduk. Bahasa yang digunakan dalam cerpen pun menggunakan

bahasa yang sederhana, lebih sederhana jika dibandingkan dengan bahasa dalam

puisi yang mempunyai arti lebih kompleks, serta berupa pemadatan kata yang di

dalamnya menceritakan gagasan, perasaan ataupun pengalaman penulisnya.

Keterampilan menulis cerpen bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan

melalui uraian atau penjelasan semata-mata. Siswa tidak akan memperoleh

keterampilan menulis hanya dengan duduk, mendengarkan penjelasan guru, dan

mencatat penjelasan guru. Keterampilan menulis cerpen dapat ditingkatkan

3
4

dengan melakukan kegiatan menulis cerpen secara terus-menerus sehingga akan

mempengaruhi hasil dan prestasi siswa dalam menulis cerpen. Hasil dan prestasi

dapat meningkat apabila ada perubahan sikap dan tingkah laku siswa baik pada

aspek pengetahuan, keterampilan maupun psikomotor.

Tidak sedikit siswa yang mengalami hambatan dalam mengembangkan

keterampilannya menulis cerpen. Hal ini juga dialami siswa kelas X-7 SMA

Negeri 1 Pemalang, hambatan-hambatan tersebut yaitu daya imajinasi siswa

masih kurang, diksi yang digunakan dalam menulis cerpen kurang bervariasi,

kesulitan menentukan tema, dan kurang dapat mengembangkan ide. Proses belajar

mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah umumnya berorientasi

pada teori dan pengetahuan semata-mata sehingga keterampilan berbahasa

khususnya keterampilan menulis kurang dapat perhatian. Ide, gagasan, pikiran,

dan perasaan mereka berlalu begitu saja, tidak diungkapkan khususnya dalam

bentuk karya sastra.

Keterampilan menulis cerpen yang diajarkan di sekolah-sekolah selama ini

menggunakan metode konvensional. Peran guru amat dominan dalam proses

pembelajaran. Siswa kurang aktif dan sering kali metode ini menimbulkan

kebosanan bagi siswa dalam pembelajaran menulis cerpen sehingga karya yang

dihasilkan siswa kurang maksimal. Cerpen yang dibuatnya kurang menarik karena

bahasa yang digunakan monoton, dan pengembangan ide atau gagasan kurang

bervariasi. Hal ini dapat dilihat dari kesesuaian isi cerpen dengan tema,

pengembangan topik, dan diksi yang belum mendapat perhatian dari siswa.

4
5

Guru sebagai penyampai materi kepada siswa harus dapat menyampaikan

materi yang akan dibahas dengan metode dan media yang tepat dan menarik. Hal

tersebut akan berdampak pada keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran

dan mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Keprofesionalan seorang guru dituntut demi lancarnya proses belajar

mengajar. Ada tiga persyaratan utama yang harus dimiliki oleh seorang guru agar

menjadi guru yang baik, yaitu menguasai (1) bahan ajar (2) keterampilan

pembelajaran, dan (3) evaluasi pembelajaran. Dalam penguasaan keterampilan

pembelajaran guru dituntut untuk menggunakan berbagai strategi pembelajaran.

Strategi pembelajaran yang tepat dan dapat menarik perhatian siswa sehingga

menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan dapat mencapai

tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Pembelajaran menulis cerpen dalam penelitian ini menggunakan metode

latihan terbimbing karena keterampilan menulis bukanlah semata-mata milik

golongan orang yang berbakat menulis, melainkan dengan latihan yang sungguh-

sungguh keterampilan itu dapat dimiliki oleh siapa saja. Keterampilan menulis

merupakan proses belajar yang memerlukan ketekunan berlatih, semakin rajin

berlatih, keterampilan menulis akan meningkat. Begitu juga dengan keterampilan

menulis cerpen, untuk dapat menulisnya diperlukan usaha yang keras dan latihan

terbimbing secara terus-menerus untuk menghasilkan cerpen yang baik. Peran

guru sebagai motivator, fasilitator, sekaligus inspirator bagi siswa sangat

diperlukan dalam hal ini yaitu memberikan latihan terbimbing kepada siswa

dalam menulis kreatif cerpen.

5
6

Media yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen yaitu teks lagu.

Teks lagu merupakan sebuah naskah yang berisi lirik lagu yang berisi rangkaian

kata yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaan penyair. Pemilihan teks

lagu sebagai media dalam pembelajaran menulis cerpen didasarkan pada alasan-

alasan berikut: (1) pada usianya yang masih tergolong remaja kebanyakan siswa

SMA menyukai lagu-lagu, sehingga dengan media ini diharapkan dapat

menstimulus siswa untuk menghasilkan karya terbaiknya dan dapat menciptakan

suasana belajar yang menyenangkan, (2) lagu merupakan sarana hiburan yang

menyenangkan dan dapat menciptakan kepuasan, kebahagiaan dan keharuan bagi

yang menikmatinya, (3) teks lagu berisi rangkaian kata indah yang mengisahkan

sebuah cerita, baik mengenai kehidupan, pengalaman ataupun sebuah peristiwa,

dengan teks lagu tersebut dapat diketahui alur dan temanya yang akan

mempermudah siswa dalam menulis cerpen.

Media memegang peran penting dalam pembelajaran karena dengan adanya

media siswa dapat menangkap penjelasan yang disampaikan guru dengan mudah,

begitu juga dengan media yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen

dengan media teks lagu ini. Siswa diharapkan dapat meningkatkan

kemampuannya menuangkan ide-ide atau pengalamannya ke dalam sebuah karya

sastra yaitu cerita pendek dengan mudah dan dapat menghasilkan karya yang baik.

Beberapa penelitian mengenai keterampilan menulis cerpen telah banyak

dilakukan. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan dapat

disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas tentang keterampilan menulis cerpen

telah banyak dilakukan, namun metode-metode dan media yang digunakan

6
7

berbeda-beda. Metode dan media yang telah digunakan antara lain karya wisata,

pengalaman pribadi sebagai basis melalui pendekatan keterampilan proses dan

pemodelan. Hal tersebut memberi kemungkinan untuk menemukan metode-

metode yang lain untuk dijadikan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini akan

mencoba metode latihan terbimbing dengan media teks lagu untuk meningkatkan

keterampilan siswa dalam menulis cerpen.

Keterampilan menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu diasumsikan dapat mengatasi permasalahan siswa dalam

pembelajaran keterampilan menulis cerpen. Oleh karena itu, peneliti melakukan

penelitian tindakan kelas sekaligus sebagai bahan penyusunan skripsi dengan

judul Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen melalui Metode Latihan

Terbimbing dengan Media Teks Lagu Siswa Kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang.

1.2 Identifikasi Masalah

Masalah yang muncul dalam keterampilan menulis cerpen dapat

dipengaruhi oleh faktor siswa dan faktor guru. Masalah yang dialami siswa yaitu

masih rendahnya kemampuan menulis cerpen. Masalah yang muncul pada siswa

dapat diatasi dengan menyajikan pembelajaran menulis cerpen yang lebih

menarik dengan menggunakan metode yang tepat yaitu latihan terbimbing dengan

media yang sesuai dan menarik yaitu menggunakan teks lagu. Metode latihan

terbimbing membantu siswa dalam menulis cerpen karena melalui metode ini

guru memberikan latihan terbimbing kepada siswa untuk dapat menulis cerpen

yang baik dan kreatif. Teks lagu yang digunakan sebagai media dalam

7
8

pembelajaran menulis cerpen yaitu sebagai sarana untuk mempermudah siswa

menentukan tema dan alur cerpen.

Masalah yang dialami guru, yaitu kurang memberi respon terhadap

pelajaran menulis (mengarang) sehingga sering dilewati, tidak menggunakan

metode yang tepat, tidak menindaklanjuti hasil karangan siswa, kurang memberi

pelatihan menulis cerpen, dan kurang kreatif dalam mengembangkan pelajaran

menulis cerpen, serta kurang menggunakan media yang tepat dan menarik

perhatian siswa. Masalah-masalah guru ini dapat diatasi dengan menumbuhkan

kesadaran bagi guru bahwa pembelajaran menulis cerpen merupakan bagian yang

penting dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang tidak bisa

diremehkan dan dilewati begitu saja. Pembelajaran menulis cerpen harus

mendapat porsi yang cukup. Guru hendaknya dapat menggunakan metode

pembelajaran menulis cerpen yang tepat agar menciptakan suasana belajar yang

menyenangkan dan secara kreatif menggunakan sarana serta media yang ada

untuk menarik minat siswa, menghargai hasil karya siswa dengan memberi

penilaian, dan pujian seperlunya sehingga dapat tercapai tujuan yang diharapkan.

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dipilih masalah yang akan diteliti yaitu

rendahnya keterampilan menulis cerpen dan kurangnya respon siswa terhadap

pembelajaran menulis cerpen pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang.

Permasalahan tersebut akan diatasi dengan cara menggunakan metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu.

8
9

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, rumusan masalah yang akan

diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Seberapa besar peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu pada siswa kelas X-7 SMA Negeri

1 Pemalang?

2. Adakah perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran menulis

cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu pada siswa

kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang?

1.5 Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu pada siswa kelas X-7 SMA Negeri

1 Pemalang.

2. Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran

menulis cerpen menggunakan metode latihan terbimbing dengan media teks

lagu pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini mempunyai manfaat teoretis dan praktis sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis setelah dilakukan latihan menulis cerpen melalui metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu adalah berupa ditemukannya metode

pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis

cerpen.

9
10

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, khususnya bagi

siswa, guru, dan peneliti yang lain. Bagi siswa, dengan adanya penelitian ini siswa

mendapat pengalaman belajar yang bermakna melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu dan dapat meningkatkan keterampilannya menulis cerpen.

Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam upaya

meningkatkan keterampilan menulis cerpen bagi siswanya. Bagi peneliti yang

lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan pembanding terutama dalam hal cara

meningkatkan keterampilan menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu.

10
BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

Penelitian murni yang beranjak dari nol atau dari awal jarang ditemui,

karena biasanya suatu penelitian mengacu pada penelitian lain yang dapat

dijadikan titik tolak penelitian selanjutnya. Dengan demikian peninjauan terhadap

penelitian lain sangat penting untuk mengetahui relevansi penelitian yang telah

lampau dengan penelitian yang akan dilakukan.

Penelitian tindakan kelas tentang menulis cerpen merupakan penelitian

yang menarik. Banyaknya penelitian tentang menulis cerpen tersebut dapat

dijadikan salah satu bukti bahwa menulis cerpen-cerpen di sekolah-sekolah sangat

menarik untuk diteliti. Penelitian tersebut dilakukan oleh Farikoh (2003), Tutiyah

(2005), Maulana (2005), dan Kusworosari (2007).

Farikoh (2003) melakukan penelitian tentang peningkatan menulis cerpen

dengan judul Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen dengan Metode Karya

Wisata pada siswa Kelas I3 MA Ma`hadut Thalabah Babakan Lebaksiu Tegal.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa

keterampilan siswa dalam menulis cerpen dapat ditingkatkan dengan metode

karya wisata. Peningkatan ini dapat terlihat pada daya serap siswa sebelum ada

tindakan yaitu 58,66% kemudian meningkat 10,22% setelah ada siklus I menjadi

69,38%, pada siklus II meningkat 7,25% menjadi 76,63%. Dengan demikian

11
12

belajar menulis cerpen dengan metode karya wisata dapat meningkatkan

keterampilan siswa dalam menulis cerpen.

Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Tutiyah (2005) berjudul

Peningkatan Kemampuan Menulis Cerkak dengan Metode Karya Wisata pada

Siswa Kelas IE SMP Negeri 1 Banjarmangun. Penelitiannya mengkaji tentang

metode karya wisata yang berguna untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam

menulis cerkak. Penelitian yang telah dilakukan memperoleh hasil peningkatan

keterampilan siswa yang signifikan dengan nilai rata-rata siswa pada kegiatan

pembelajaran prasiklus ke siklus I meningkat sebesar 2,27. Setelah menggunakan

metode karya wisata nilai rata-rata keterampilan siswa dalam menulis cerkak

meningkat sebesar 0,51.

Kusworosari (2007) melalukan penelitian dengan judul Peningkatan

Menulis Cerpen dengan Pengalaman Pribadi sebagai Basis Melalui pendekatan

Keterampilan Proses pada Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 5 Semarang.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian ini dapat disimpulkan

bahwa keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas X-1 SMA Negeri 5

Semarang mengalami peningkatan. Hasil analisis dari data siklus I dan siklus II

mengalami peningkatan. Hasil tes pada siklus I diperoleh hasil rata-rata kelas

sebesar 62,37. Pada siklus II diperoleh hasil rata-rata kelas 73,65. Hal ini

menunjukkan peningkatan dari siklus I dan siklus II. Perilaku siswa kelas X-1

SMA Negeri 5 Semarang dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen

mengalami perubahan dari perilaku negatif menjadi perilaku positif.


13

Penelitian yang dilakukan Maulana (2005), yang berjudul Peningkatan

Keterampilan Menulis Iklan dengan Menggunakan Metode Latihan Terbimbing

pada Siswa Kelas 2B SMP Cinde Semarang Tahun Ajaran 2004/2005.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan ternyata ditemukan adanya

peningkatan keterampilan menulis siswa kelas 2 B SMP Cinde Semarang setelah

mengikuti pembelajaran menulis iklan dengan menggunakan metode latihan

terbimbing. Perubahan perilaku siswa juga tampak selama penelitian berlangsung,

siswa sudah berperilaku positif terhadap pembelajaran.

Berdasarkan kajian pustaka yang dipaparkan dapat diketahui bahwa

penelitian tindakan kelas tentang menulis cerpen maupun metode latihan

terbimbing yang digunakan untuk meningkatkan berbagai keterampilan menulis

cerpen memang sangat menarik dan banyak dilakukan. Penelitian yang telah ada

tersebut memiliki kekhasan masing-masing. Begitu juga dengan penelitian yang

dilakukan penulis kali ini. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan

keterampilan menulis cerpen seperti yang dilakukan oleh Farikoh (2003), Tutiyah

(2005), dan Kusworosari (2007). Namun demikian, penelitian ini mempunyai

perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Farikoh (2003) dan Tutiyah (2005)

menerapkan keterampilan menulis cerpen dengan menggunakan metode karya

wisata, Kusworosari (2007) menerapkan pengalaman pribadi sebagai basis

melalui pendekatan proses, sedangkan penelitian kali ini menerapkan metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu untuk meningkatkan keterampilan

menulis cerpen.
14

Penelitian ini mengkaji tentang peningkatan keterampilan menulis cerpen

dan perubahan tingkah laku siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang setelah

mengikuti pembelajaran melalui metode latihan terbimbing dengan media teks

lagu. Pada penelitian ini guru memberikan latihan terbimbing dengan media teks

lagu saat pembelajaran, sehingga siswa dapat menulis cerpen yang baik.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi solusi terhadap masalah-masalah yang

dihadapi siswa di sekolah ini, khususnya masalah kelemahan atau rendahnya

keterampilan siswa dalam menulis cerpen.

2.2 Landasan Teoretis

Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah hakikat menulis

kreatif cerpen, tujuan menulis kreatif cerpen, hakikat cerpen, unsur-unsur

pembangun cerpen, metode latihan terbimbing, media teks lagu, dan menulis

cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.

2.2.1 Hakikat Menulis Cerpen

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan

untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak tatap muka dengan orang lain

(Tarigan, 1986:3). Komunikasi tidak langsung ini dilakukan dengan menggunakan

media tulis, dengan menggunakan lambang-lambang bahasa.

Dasar penulisan kreatif atau creatif writing sama dengan menulis biasa,

pada umumnya. Unsur kreativitas mendapat tekanan dan perhatian besar karena

dalam hal ini sangat penting peranannya dalam pengembangan proses kreatif
15

seorang penulis/pengarang dalam karya-karyanya, kreativitas ini dalam ide

maupun (hasil) akhirnya (Titik 2003:31).

Karya kreatif merupakan interpretasi evaluatif yang dilakukan pengarang

terhadap kehidupan yang kemudian direfleksikan melalui medium bahasa pilihan.

Jadi sumber penciptaan karya sastra tidak lain adalah kehidupan kita secara

keseluruhannya. Karya kreatif bisa saja merupakan penemuan kembali kekuatan

dan kelemahan kita di masa lalu, keberhasilan kita kini, atau juga kegagalan kita

dalam menyongsong masa depan. Oleh karena itu di dalam karya sastra

menyuguhkan nilai kehidupan, yakni nilai-nilai yang bermakna bagi kehidupan,

yang mengarahkan dan meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia.

Menulis merupakan suatu kegiatan produktif dan ekspresif. Menulis

cerpen pada hakikatnya merujuk pada kegiatan mengarang, dan mengarang

termasuk tulisan kreatif yang penulisannya dipengaruhi oleh hasil rekaan atau

imajinasi pengarang. Menulis cerpen merupakan cara menulis yang paling selektif

dan ekonomis. Cerita dalam cerpen sangat kompak, tidak ada bagiannya yang

hanya berfungsi sebagai embel-embel. Tiap bagiannya, tiap kalimatnya, tiap

katanya, tiap tanda bacanya, tidak ada bagian yang sia-sia, semuanya memberi

saham yang penting untuk menggerakkan jalan cerita, atau mengungkapkan watak

tokoh, atau melukiskan suasana. Tidak ada bagian yang ompong, tidak ada bagian

yang berlebihan (Diponegoro 1994:6).

Dalam hal kreativitas menulis cerpen, Tamsir (dalam Endraswara

2003:239) memberikan petunjuk bahwa penulis ibarat kamerawan yang membidik

perjalanan panjang kehidupan manusia atau sesuatu yang dimanusiakan. Pendapat


16

itu memberikan gambaran bahwa penulis cerpen harus tanggap terhadap

lingkungan dan perubahan waktu. Pengalaman pribadi, pengamatan atas kejadian-

kejadian di sekitar kita, dari membaca buku atau menonton film, bahkan dari

mimpi bisa menjadi ide cerita yang mampu menggerakkan imajinasi untuk

berkreasi membuat cerpen.

Selanjutnya Siregar dalam Gie (2002:197) menyatakan bahwa cerita

adalah ekspresi yang menggunakan kata-kata atas suatu kejadian atau peristiwa

yang dialami manusia. Cerita selamanya akan menyangkut manusia atau makhluk

dan hal lain yang diperinsankan (dipersonifikasikan). Kejadian itu berlangsung

pada saat seseorang tersebut berinteraksi dengan manusia lain dan alam

sekelilingnya. Wujud dari interaksi itu dilahirkan dengan hal-hal yang dinyatakan

dari pikiran dan perasaan dan hal-hal yang dinyatakan dengan perbuatan.

Wiyanto (2005:96) mengemukakan bahwa menulis cerpen harus banyak

berkhayal karena cerpen memang karya fiksi yang berbentuk prosa. Peristiwa-

peristiwa yang terjadi dalam cerpen hanya direkayasa pengarangnya. Demikian

pula para pelaku yang terlibat dalam peristiwa itu. Waktu, tempat, dan suasana

terjadinya peristiwa pun hanya direka-reka oleh pengarangnya. Oleh karena itu,

cerpen (dan semua cerita fiksi) disebut cerita rekaan.

Cerita dalam cerpen meskipun khayal, ceritanya masih masuk akal

sehingga mungkin saja terjadi. Bahan baku cerpen memang bisa berasal dari kisah

yang benar-benar terjadi dalam masyarakat. Bisa juga cerita itu berasal dari kisah

yang benar-benar dialami sendiri oleh pengarangnya yang diolah sedemikian rupa

dalam bentuk cerpen menjadi cerita fiksi, cerita khayal, atau cerita rekaan.
17

Namun, ada beberapa cerpen yang ceritanya tidak masuk akal, ceritanya benar-

benar hasil imajinasi pengarangnya yang jauh dari kenyataan.

Trianto (dalam Kholifah 2006:19) menyebutkan bahwa tulisan yang

bersifat kreatif merupakan tulisan yang bersifat apresiatif dan ekspresif. Apresiatif

maksudnya melalui kegiatan menulis kreatif orang dapat mengenali, menyenangi,

menikmati, dan mungkin menciptakan kembali secara kritis berbagai hal yang

dijumpai dalam teks-teks kreatif karya orang lain dengan caranya sendiri dan

memanfaatkan berbagai hal tersebut ke dalam kehidupan nyata. Ekspresif dalam

arti bahwa kita dimungkinkan mengekspresikan atau mengungkapkan berbagai

pengalaman/berbagai hal yang menggejala dalam diri kita untuk dikomunikasikan

kepada orang lain melalui tulisan kreatif sebagai sesuatu yang bermakna. Salah

satu teks bersifat kreatif adalah teks cerpen.

Berdasarkan uraian menulis kreatif cerpen yang disampaikan di atas, dapat

diketahui bahwa menulis cerpen merupakan proses kreatif yang melahirkan

pikiran, perasaan, secara ekspresif dan apresiatif. Peristiwa, pelaku, waktu,

tempat, dan suasana yang terjadi dalam cerpen hanya bersifat rekaan atau khayal.

2.2.2 Tujuan Menulis Cerpen

Hartig (dalam Tarigan 1982:24) menyebutkan tujuan menulis sebagai

berikut:

1. Assignment purpose (tujuan penugasan)

Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali.

Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauannya


18

sendiri(misalnya para siswa yang diberi tugas merangkum buku; sekretaris

yang ditugaskan membuat laporan, notulen rapat).

2. Altruistik purpose (tujuan altruistik).

Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan

kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami,

menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca

lebih menyenangkan dengan karyanya itu.

3. Persuasive purpose (tujuan persuasif).

Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan

yang diutarakan.

4. Informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan)

Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/penerangan

kepada para pembaca.

5. Self-expressive purpose (tujuan pernyataan diri).

Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang

pengarang kepada pembaca.

6. Creative purpose (tujuan kreatif).

Tujuan ini erat hubungannya dengan tujuan pernyataan diri. Tetapi

”keinginan kreatif” di sini melebihi pernyataan diri, dan melibatkan dirinya

dengan keinginan mencapai norma artistik, atau seni yang ideal, seni idaman.

Tulisan yang bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian.

7. Problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah).


19

Dalam tulisan seperti ini sang penulis ingin memecahkan masalah yang

dihadapi. Sang penulis ingin menjelaskan, menjernihkan serta menjelajahi

serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri

agar dapat dimengerti dan diterima oleh para pembaca.

Dr. Samuel Jonson (dalam Diponegoro 1994:4) menyatakan bahwa ”tidak

ada seorang pun, kecuali orang goblog, yang mau menulis tidak untuk cari uang”.

Namun lain halnya pendapat Diponegoro (1994:4) yang menyangkal pendapat

tersebut ia menyatakan bahwa ”Saya juga tidak setuju, sebab ada juga orang

menulis tidak untuk cari uang dan toh ia bukan orang yang goblog. Kemungkinan

lain ialah anda berhasrat menulis cerpen karena anda dilahirkan memang untuk

menulis cerpen. Hasrat itu begitu besar sehingga seperti orang tak bersalah yang

disekap dan berontak menggebrak pintu untuk keluar. Keluar dari sekapan itu

haknya yang mutlak. Dan jika cerpen itu sudah lahir dari mesin ketik anda, anda

baru mencapai puncak kepuasan. Dan anda ingin menulis lagi cerpen yang lebih

baik, puncak demi puncak kepuasan. Dan anda tidak peduli lagi, apakah hanya

sedikit orang yang suka membaca cerpen itu, atau apakah cerpen itu hanya dimuat

dalam majalah lokal dengan sirkulasi mini, atau malah hanya terjepit dalam map

anda yang ketlingsut . kepuasan batin yang paling penting, seperti perasaan ibu

yang terbaring di ranjang bersalin ketika mendengar tangis awal bayinya yang

baru lahir”.

Selanjutnya Jabrohim (2003:71) menyebutkan bahwa tujuan yang dicapai

melalui kegiatan pengembangan menulis kreatif, yakni yang bersifat apresiatif dan

yang bersifat ekspresif. Apresiatif maksudnya bahwa melalui kegiatan penulisan


20

kreatif orang dapat mengenal, menyenangi, menikmati, dan mungkin menciptakan

kembali secara kritis berbagai hal yang dijumpai dalam teks-teks kreatif karya

orang lain dengan caranya sendiri. Ekspresif dalam arti bahwa kita dimungkinkan

mengekspresikan atau mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal

yang menggejala dalam diri kita untuk dikomunikasikan kepada orang lain.

Berdasarkan uraian di atas tentang tujuan menulis kreatif cerpen dapat

disimpulkan bahwa tujuan menulis kreatif cerpen yaitu melalui kegiatan penulisan

kreatif cerpen ini orang dapat mengenal, menyenangi dan menikmati, dan dapat

menciptakan cerpen-cerpen yang lebih kreatif. Selain itu tujuan menulis kreatif

cerpen juga untuk mendapatkan finansial, dapat mengekspresikan atau

mengungkapkan pengalaman serta didapat kepuasan batin. Bagi siswa menulis

cerpen mengandung tujuan untuk melatih diri para siswa untuk mengembangkan

kompetensi menulisnya dalam menyampaikan pendapat, pikiran, dan

perasaannya.

2.2.3 Cerpen

Cerita pendek atau cerpen merupakan satu genre sastra bentuk prosa.

Pemaparan secara mendalam tentang cerpen akan dibahas pada subbab berikut.

2.2.3.1 Pengertian Cerpen

Cerpen sebenarnya sudah banyak diketahui dan bahkan sering dinikmati

oleh banyak orang. Namun, para ahli memberikan definisi atau batasan yang

berbeda-beda. Suharianto (1982:39) menyatakan bahwa cerita pendek bukan

ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita tersebut atau sedikit
21

tokoh yang terdapat di dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang

lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut.

Jadi sebuah cerita yang pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis

cerita pendek, jika ruang lingkup yang permasalahan yang diungkapkan tidak

memenuhi persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek.

Selanjutnya Suharianto (1982:39) juga menambahkan bahwa ”cerita

pendek adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk menyuguhkan

sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian

pengarang”. Jadi sebuah cerita pendek senantiasa hanya akan memusatkan

perhatiannya pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol dan

menjadi pokok cerita pengarang.

Jakob Sumardjo dan Saini K.M juga menyatakan bahwa cerpen adalah

cerita atau narasi (bukan analisis) yang fiktif (tidak benar-benar telah terjadi tetapi

dapat terjadi di mana saja dan kapan saja) serta relatif pendek. Bila ditinjau dari

bentuknya cerpen adalah cerita yang pendek. Akan tetapi dengan hanya melihat

fisik yang pendek saja, orang belum dapat menetapkan cerita yang pendek adalah

sebuah cerpen. Di samping ciri dasar yang tadi, yaitu cerita yang pendek ciri dasar

yang lain adalah sifat rekaan (fiction). Cerpen bukan penuturan kejadian yang

pernah terjadi berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tetapi murni ciptaan saja,

direka oleh pengarangnya. Ciri dasar yang ketiga adalah sifat naratif atau

penceritaan (Sumardjo 1986:36-37). Selain itu, Wiyanto (2005:77) juga

mengungkapkan bahwa cerpen adalah cerita yang hanya menceritakan satu

peristiwa dari keseluruhan kehidupan pelakunya.


22

Dari beberapa pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa

cerita pendek adalah cerita fiksi yang bentuknya pendek dan ruang lingkup

permasalahannya menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang

menarik perhatian pengarang, dan keseluruhan cerita memberi kesan tunggal.

2.2.3.2 Unsur Pembangun Cerpen

Cerpen tersusun atas unsur-unsur pembangun cerita yang saling berkaitan

erat antara satu dengan yang lainnya. Keterkaitan antara unsur-unsur pembangun

cerita tersebut membentuk totalitas yang bersifat abstrak. Koherensi dan

keterpaduan semua unsur cerita yang membentuk sebuah totalitas amat

menentukan keindahan dan keberhasilan cerpen sebagai suatu bentuk ciptaan

sastra. Unsur-unsur dalam cerpen terdiri atas: alur atau plot, tokoh penokohan,

latar (setting), sudut pandang (poin of view), gaya bahasa, tema, dan amanat.

2.2.3.2.1 Alur atau Plot

Pengertian alur dalam cerita pendek atau dalam karya fiksi pada umumnya

adalah ”rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga

menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita”

(Aminuddin 1987:83).

Menurut Suharianto (1987:28) alur atau plot yakni cara pengarang

menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab

akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat, dan utuh”.

Selanjutnya Suharianto (1982:28) menyebutkan bahwa alur atau plot

terdiri atas lima bagian, yaitu (1) pemaparan atau pendahuluan, yakni bagian
23

cerita tempat pengarang mulai melukiskan suatu keadaan yang merupakan awal

cerita, (2) penggawatan, yaitu bagian yang melukiskan tokoh-tokoh yang terlibat

dalam cerita mulai bergerak. Mulai bagian ini secara bertahap terasakan adanya

konflik dalam cerita tersebut. Konflik itu dapat terjadi antara tokoh dan tokoh,

antara tokoh dan masyarakat sekitar, atau antara tokoh dan nuraninya sendiri, (3)

penanjakan, yaitu bagian cerita yang melukiskan konflik-konflik seperti yang

disebutkan di atas mulai memuncak, (4) puncak atau klimaks yaitu bagian yang

melukiskan peristiwa mencapai puncaknya (5) peleraian yaitu bagian cerita

tempat pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa yang telah terjadi

dalam cerita atau bagian.

Dilihat dari cara penyusunannya bagian-bagian alur tersebut, alur atau plot

cerita dapat dibedakan menjadi alur lurus, alur sorot balik (flash back), dan alur

campuran. Disebut alur lurus apabila cerita disusun mulai dari awal diteruskan

dengan kejadian-kejadian berikutnya dan berakhir pada pemecahan masalah.

Apabila cerita disusun sebaliknya, yakni dari bagan akhir dan bergerak ke muka

menuju titik awal cerita disebut alur sorot balik. Sedangkan alur campuran yakni

gabungan dari sebagian alur lurus dan sebagian alur sorot balik. Tetapi keduanya

dijalin dalam kesatuan yang padu sehingga tidak menimbulkan kesan ada dua

buah cerita atau peristiwa yang terpisah, baik waktu maupun tempat kejadian

(Suharianto 1982:29)

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa alur atau

plot adalah jalinan peristiwa secara beruntutan dalam cerita dengan

memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan kesatuan

yang padu, bulat dan utuh.


24

2.2.3.2.2 Tokoh dan Penokohan

Tokoh dan penokohan merupakan dua hal yang berhubungan erat. Berikut

penjelasan mengenai tokoh dan penokohan.

2.2.3.2.2.1 Tokoh

Tokoh cerita (charakter), menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro

1994:165), adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif. Atau

drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan

tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam

tindakan.

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dalam cerita atau

perlakuan dalam cerita (Sudjiman dalam Faozan 2002:20). Tokoh dalam cerpen

bersifat fiktif. Sudjiman juga mengemukakan pembagian tokoh dalam cerita dapat

dilihat dari fungsi dan cara penampilannya.

Berdasarkan fungsinya, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

a) Tokoh sentral adalah tokoh utama yang diceritakan dalam cerita. Tokoh

sentral dibedakan menjadi :

1) Tokoh utama atau protagonis yakni tokoh yang memegang peran

pimpinan. Ia menjadi sorotan dalam cerita.

2) Tokoh antagonis yaitu tokoh penentang protagonis.

3) Tokoh wirawan/wirawati dan antiwirawan

b) Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita,

tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung

tokoh utama.
25

Tokoh bawahan dibedakan menjadi:

(1) Tokoh andalan, yakni tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan

protagonis yang dimanfaatkan untuk memberi gambaran yang terperinci

mengenai tokoh utama.

(2) Tokoh tambahan, yakni tokoh yang tidak memegang peran penting dalam

cerita, misalnya tokoh lataran.

Berdasarkan cara penampilan tokoh dalam cerita, tokoh dibedakan

menjadi:

a) Tokoh datar/sederhana atau pipih, yakni tokoh yang hanya diungkapkan salah

satu segi wataknya saja. Watak tokoh datar sedikit sekali berubah. Termasuk

di dalamnya adalah tokoh stereotif.

b) Tokoh bulat/kompleks atau bundar, yakni tokoh yang wataknya kompleks,

terlihat kekuatan dan kelemahannya. Ia mempunyai watak yang dapat

dibedakan dengan tokoh-tokoh yang lain. Tokoh ini juga dapat mengejutkan

pembaca, karena kadang-kadang dalam dirinya dapat terungkap watak yang

tidak terduga sebelumnya.

Bagan berikut akan memperjelas uraian diatas

Tokoh utama/protagonist
Tokoh sentral Tokoh antagonis
Tokoh wirawan/wirawati
Menurut fungsinya

Tokoh andalan
Tokoh bawahan
Tokoh Tokoh tambahan

Menurut cara Tokoh datar/sederhana/pipih


menampilkan
Tokoh bulat/kompleks/bundar
26

2.2.3.2.2.2 Penokohan

Menurut Aminuddin (1987:79) penokohan adalah cara pengarang

menampilkan tokoh atau pelaku. Suharianto (1982:31) mengemukakan bahwa

yang dimaksud dengan penokohan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik

keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya,

sikapnya, keyakinannya, adat-istiadatnya, dan sebagainya. Watak adalah kualitas

tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang membedakan dengan tokoh lain.

Ada dua macam cara yang sering digunakan pengarang untuk melukiskan

tokoh ceritanya, yaitu dengan cara langsung dan cara tak langsung. Disebut

dengan cara langsung apabila pengarang langsung menguraikan atau

menggambarkan keadaan tokoh, misalnya dikatakan bahwa tokoh ceritanya

cantik, tampan, cerewet, dan sebagainya. Sebaliknya apabila pengarang secara

tersamar dalam memberitahukan wujud atau keadaan tokoh ceritanya, maka

dikatakan pelukisan tokohnya sebagai tidak langsung. Yang termasuk dalam cara

tidak langsung misalnya (a) dengan melukiskan keadaan kamar atau tempat

tinggalnya, cara berpakaiannya, cara berbicaranya, dan sebagainya, (b) dengan

melukiskan sikap tokoh dalam menanggapi suatu kejadian atau peristiwa dan

sebagainya, dan (c) dengan melukiskan bagaimana tanggapan tokoh-tokoh lain

dalam cerita bersangkutan (Suharianto 1982:31).

Cerita rekaan modern cenderung menekankan unsur perwatakan atau

penokohan. Tokoh-tokoh cerita rekaan modern mendapat sorotan yang lebih tajam

dibandingkan dengan cerita rekaan pada awal perkembangan sastra Indonesia.

Kejadian-kejadian berpusat pada konflik watak tokoh utamanya. Mutu ceria


27

rekaan banyak ditentukan oleh kepandaian pengarang dalam menghidupkan watak

tokoh-tokohnya. Pengarang yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokohnya

akan meyakinkan kebenaran cerita yang disampaikan.

2.2.3.2.3 Latar atau Setting

Latar atau setting adalah tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa

dalam cerita (Wiyanto 2005:82). Selanjutnya Nurgiyantoro (2005:217)

menyebutkan bahwa latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal

ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, meciptakan

suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Setting bukan

hanya menunjukkan tempat dan waktu tertentu tetapi juga hal-hal yang hakiki dari

suatu wilayah, sampai pada macam debunya, pemikiran rakyatnya, kegilaan

mereka, gaya hidup mereka, kecurigaan mereka dan sebagainya (Sumardjo

1991:76).

Selain itu Suharianto (1982:33) mengemukakan bahwa latar disebut juga

setting: yaitu tempat atau waktu terjadinya cerita. Waktu terjadinya cerita dapat

semasa dengan kehidupan pembaca dan dapat pula sekian bulan, tahun atau abad

yang lalu. Tempat terjadinya peristiwa dapat di suatu desa, kantor, daerah, bahkan

negara mana saja.

Wiyanto (2005:82) menyebutkan bahwa latar atau setting mencakupi tiga

hal, yaitu setting tempat, setting waktu, dan setting suasana.

1) Setting Tempat

Setting tempat adalah tempat peristiwa itu terjadi. Sebuah peristiwa bisa

terjadi di halaman rumah, di ruang tamu, atau di kamar belajar.


28

2) Setting Waktu

Setting waktu adalah kapan peristiwa itu terjadi. Sebuah peristiwa bisa saja

terjadi pada masa sepuluh tahun yang lalu, zaman Majapahit, zaman revolusi

fisik, atau zaman sekarang.

3) Setting Suasana

Peristiwa itu terjadi dalam suasana apa? Suasana ada dua macam, yaitu

suasana batin, dan suasana lahir. Yang termasuk suasana batin, yaitu perasaan

bahagia, sedih, tegang, cemas, marah, dan sebagainya yang dialami oleh

pelaku. Sementara yang termasuk suasana lahir ialah sepi (tak ada gerak),

sunyi (tak ada suara), senyap (tak ada suara dan gerak). Romantis, hiruk-

pikuk, dan lain-lain.

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa latar (setting)

adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan tempat dan

waktu dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita.

2.2.3.2.4 Sudut Pandang atau Point of View

Yang dimaksud titik pandang atau point of view adalah cara pengarang

menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan (Aminuddin 1987:90).

Sudut pandang atau titik kisah ( point of view) adalah posisi pencerita (pengarang)

terhadap kisah yang diceritakan (Wiyanto 2005:83). Point of view pada dasarnya

adalah visi pengarang artinya sudut pandangan yang diambil pengarang untuk

melihat suatu kejadian cerita (Sumardjo 1986:82). Selain itu Nurgiyantoro (2005:

248) juga menyebutkan bahwa sudut pandang pada hakikatnya merupakan


29

strategi, teknik, dan siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk

mengemukakan gagasan dan ceritanya.

Ada beberapa jenis pusat pengisahan (point of view). Menurut Suharianto

(1982:36) jenis pusat pengisahan, yaitu (1) pengarang sebagai pelaku utama

cerita. Tokoh yang akan menyebutkan dirinya sebagai “aku”, (2) pengarang ikut

main, tetapi bukan sebagai pelaku utama, (3) pengarang serba hadir. Dalam hal ini

pengarang tidak berperan sebagai apa-apa. Pelaku utama cerita tersebut orang

lain; dapat “dia” atau kadang-kadang disebut namanya tetapi pengarang serba tahu

apa yang akan dilakukan atau bahkan apa yang ada dalam pikiran pelaku cerita,

(4) pengarang peninjau, dalam pusat pengisahan ini pengarang seakan-akan tidak

tahu apa yang akan dilakukan pelaku cerita atau yang ada dalam pikirannya.

Pengarang sepenuhnya hanya mengatakan/menceritakan apa yang dilihatnya.

Dari beberapa pendapat dapat peneliti simpulkan bahwa sudut pandang

atau point of view adalah cara memandang yang digunakan pengarang sebagai

sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan latar, dan sebagai peristiwa yang

membentuk cerita dalam sebuah cerita kepada pembaca.

2.2.3.2.5 Gaya

Gaya erat hubungannya dengan nada cerita. Gaya merupakan pemakaian

bahasa yang spesifik dari seorang pengarang. Pengertian gaya dikemukakan oleh

beberapa pengarang seperti yang tersebut berikut; ”gaya bahasa adalah cara

pengarang menggunakan bahasa untuk menghasilkan karya sastra”(Wiyanto

2005:84). Aminuddin (1987:72) mengemukakan bahwa gaya bahasa mengandung

pengertian cara pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan


30

media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan

suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.

Selanjutnya Sumardjo (1986:92) mengemukakan gaya bahasa adalah cara

khas pengungkapan seseorang. Cara bagaimana seorang pengarang memilih tema,

persoalan, meninjau, persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerpen, itulah

gaya seorang pengarang. Dengan kata lain gaya adalah pribadi pengarang itu

sendiri. Dan sebagai pribadi, ia berada secara khas di dunia ini. Ia tak bisa lain

dari dirinya.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya adalah

keterampilan pengarang dalam mengolah dan memilih bahasa secara tepat dan

sesuai dengan watak pikiran dan perasaan. Setiap pengarang mempunyai gaya

yang berbeda-beda dalam mengungkapkan hasil karyanya.

2.2.3.2.6 Tema

Tema adalah ide cerita (Sumardjo 1986:56). Selanjutnya Suharianto

(1982:28) mengatakan bahwa tema sering disebut juga dasar cerita; yakni pokok

permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. Ia terasa dan mewarnai karya

sastra tersebut dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Hakikatnya tema

adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun

cerita atau karya sastra tersebut, sekaligus merupakan permasalahan yang ingin

dipecahkan pengarang dengan karyanya itu.

Menurut Aminuddin (1987:91) tema adalah ide yang mendasari suatu

cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam


31

memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Selanjutnya Wiyanto (2005: 78)

menyatakan bahwa tema adalah pokok pembicaraan yang mendasari cerita.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud

tema adalah ide atau gagasan atau permasalahan yang mendasari suatu cerita yang

merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra.

2.2.3.2.7 Amanat

Karya sastra selain berfungsi sebagai hiburan bagi pembacanya, juga

berfungsi sebagai sarana pendidikan. Dengan kata lain, pengarang selain untuk

menghibur pembaca (penikmat) juga ingin mengajari pembaca. Ajaran yang ingin

disampaikan pengarang itu dinamakan amanat. Amanat adalah unsur pendidikan,

terutama pendidikan moral, yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada

pembaca lewat karya sastra yang ditulisnya (Wiyanto 2005:84). Menurut

Suharianto (1982:70) ”amanat ialah nilai-nilai yang ada dalam cerita”.

Menurut Suharianto (1982:71) ”amanat dapat disampaikan dengan cara

tersirat dan tersurat”. Tersirat artinya pengarang tidak menyampaikan langsung

melalui kalimat-kalimat, tetapi melalui jalan nasib atau penghidupan pelakunya,

sedangkan eksplisit atau tersurat berarti pengarang menyampaikan langsung pada

pembaca melalui kalimat , baik itu berbentuk keterangan pengarangnya atau

dialog pelaku.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud

dengan amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca

lewat karya sastra yang ditulisnya.


32

2.2.4 Metode Latihan Terbimbing

Mengajar adalah suatu usaha yang sangat kompleks, sehingga sulit

menentukan bagaimana sebenarnya mengajar yang baik. Metode adalah cara yang

berkaitan dengan pengorganisasian kegiatan belajar bagi warga belajar (Syamsu

1994:155). Sedangkan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh

guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih

baik (Darsono 2000:24). Metode adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan.

Sedangkan metode mengajar adalah strategi pengajaran untuk mencapai tujuan

yang diharapkan (Djamarah 2002: 84). Hal ini mendorong seorang guru untuk

mencari metode yang tepat dalam penyampaian materinya agar dapat diserap

dengan baik oleh siswa. Mengajar secara efektif sangat bergantung pada

pemilihan dan penggunaan metode mengajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa

metode dalam pembelajaran adalah strategi pembelajaran yang digunakan oleh

guru sebagai media untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Di dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode latihan terbimbing.

Menurut peneliti metode latihan terbimbing adalah suatu cara mengajar yang baik

digunakan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, sebagai sarana untuk

memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan juga digunakan untuk

memperoleh suatu ketangkasan, kesempatan dan keterampilan dengan proses

pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam

memecahkan masalah yang dihadapinya agar tercapai keterampilan untuk dapat

memahami dirinya, keterampilan untuk menerima dirinya, keterampilan untuk

mengarahkan dirinya, dan keterampilan untuk merealisasikan dirinya sesuai


33

dengan keterampilannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan,

baik di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Bimbingan dan arahan dilakukan

oleh seseorang yang ahli dan berkompetensi di bidangnya.

Metode latihan terbimbing yang digunakan dalam proses pembelajaran

akan menciptakan kondisi siswa yang aktif. Dalam menggunakan metode tersebut

guru harus berhati-hati karena hasil dari suatu latihan terbimbing akan tertanam

dan kemudian menjadi kebiasaan. Selain untuk menanamkan kebiasaan metode

latihan terbimbing ini juga dapat menambah kecepatan, ketepatan dan

kesempurnaan dalam melakukan sesuatu, serta dapat pula dipakai sebagai suatu

cara untuk mengulangi bahan yang telah dikaji.

Untuk menunjang keberhasilan penggunaan metode latihan terbimbing

dalam pembelajaran keterampilan menulis cerpen diperlukan guru yang benar-

benar berkompetensi di bidangnya, dalam hal ini yaitu guru yang menguasai

keterampilan mengajar dan menguasai sastra. Bimbingan adalah bantuan yang

diberikan oleh seseorang, baik pria maupun wanita, yang terlatih dengan baik dan

memiliki kepribadian dan pendidikan yang memadahi kepada seseorang, dari

semua usia untuk membantunya mengatur kegiatan, keputusan sendiri, dan

menanggung bebannya sendiri (Crow&Crow dalam Mugiarso 2004:2). Kegiatan

bimbingan bukan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara kebetulan,

insidental, sewaktu-waktu tidak sengaja, atau asal saja, melainkan suatu kegiatan

yang dilakukan dengan sistematis, sengaja, berencana, terus-menerus dan terarah

pada tujuan. Setiap kegiatan bimbingan merupakan kegiatan yang berkelanjutan

artinya senantiasa diikuti secara terus menerus dan aktif sampai sejauh mana

individu telah berhasil mencapai tujuan dan penyesuaian diri.


34

2.2.5 Media Teks Lagu

Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur

pesan guna mencapai tujuan pengajaran (Djamarah dan Zain 2002:137). Dalam

proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting.

Karena dalam kegiatan belajar mengajar ketidakjelasan bahan yang disampaikan

dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Secara umum

fungsi media adalah sebagai penyalur pesan. Media pengajaran dapat

mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat

mempertinggi hasil belajar yang dicapai (Sudjana dan Rivai 2001: 2). Selain itu,

media pembelajaran dapat menambah efektivitas komunikasi dan interaksi antara

guru dan siswa.

Penggunaan media harus sejalan dengan tujuan pengajaran yang telah

dirumuskan. Manakala tujuan pembelajaran diabaikan dalam menggunakan media

maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran tetapi sebagai penghambat

dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Penggunaan media dalam

proses belajar mengajar juga dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan minat,

membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar, serta

dapat mempengaruhi psikologi siswa. Oleh karena itu media dapat digunakan

secara tepat, secara nyata membantu dan mempermudah proses belajar mengajar.

Dengan demikian, hasil pembelajaran dapat lebih optimal

Teks lagu adalah naskah yang berisi syair lagu yang merupakan ragam

suara yang berirama. Lagu merupakan karya yang estetis yang bermakna dan

mempunyai arti bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna. Oleh karena itu
35

sebelum mengkaji aspek-aspek yang lain perlu lebih dahulu dikaji lagu sebagai

sebuah struktur yang bermakna dan bernilai estetis. Penciptaan lagu dapat

memberikan kesenangan juga berharap bagi para penikmat dapat mengerti

maksud yang terkandung dalam lagu tersebut yang merupakan jalinan

komunikasi.

Suharto dalam Wardah (2005:37) mengungkapkan bahwa lagu adalah

sarana informasi dan edukasi bagi negara dan bagi masyarakat. Sebagai sarana

informasi yaitu lagu sebagai sarana penyampaian ungkapan hati atau ungkapan

perasaan seorang penyair kepada pendengar. Sebagai sarana edukasi lagu dapat

digunakan sebagai media dalam pembelajaran di sekolah karena lagu merupakan

salah satu bentuk karya seni.

Teks lagu yang berisi syair lagu dapat dijadikan sebagai media

pembelajaran menulis cerpen yaitu dengan menyoroti teks lagu tersebut dari tema

dan alur. Dengan menyoroti dua hal tersebut media teks lagu dapat mempermudah

siswa dalam mengembangkan ide, gagasan, atau perasaannya ke dalam sebuah

karya sastra yang berupa cerpen.

2.2.6 Menulis Cerpen melalui Metode Latihan Terbimbing dengan Media

Teks Lagu

Mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain ke dalam cerpen

merupakan salah satu standar kompetensi yang harus ditempuh oleh siswa dalam

pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku yaitu Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam hal ini, siswa sebagai subjek penelitian

dituntut untuk mampu menulis cerpen yang baik berdasarkan pengalaman diri
36

sendiri maupun orang lain. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis cerpen

yaitu menentukan tema, membuat kerangka karangan, menentukan tokoh, latar,

plot, sudut pandangnya dan mengembangkan kerangka karangan menjadi cerpen.

Keterampilan menulis cerpen dengan baik tidak dapat dimiliki oleh

seseorang dengan begitu saja. Namun, perlu adanya latihan terbimbing dari

seorang guru yang berkompeten dalam bidang sastra dengan terus menerus dan

teratur. Dengan demikian pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing adalah kegiatan belajar mengajar yang menerapkan proses bimbingan

dan latihan dalam menulis cerpen.

Peranan guru dalam pembelajaran ini menjadi sangat penting dan esensial

guna melaksanakan pembelajaran dengan metode latihan terbimbing agar siswa

dapat menulis cerpen dengan baik. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam

pembelajaran menulis puisi yaitu menjelaskan tentang unsur-unsur pembangun

cerpen yang meliputi: alur atau plot, tokoh dan penokohan latar (setting), sudut

pandang (point of fiew), gaya (bahasa), dan tema. Langkah yang kedua yaitu

mengarahkan siswa untuk menulis cerpen.

Tiap bagian cerpen memberikan saham penting untuk menggerakkan

cerita, mengungkapkan watak tokoh, dan melukiskan suasana. Karena itu,

kegiatan menulis cerpen merupakan cara yang selekif dan ekonomis (Diponegoro

1994:6). Hal-hal berikut dapat dijadikan pengarahan bagi siswa agar mau dan

mampu menulis cerpen. Pertama, guru mengarahkan siswa untuk dapat

menemukan ide cerita dan merumuskannya menjadi sebuah tema. Ide cerita dapat

di peroleh dari pengalaman dan kehidupan siswa dalam hal ini siswa dapat
37

menentukan tema dari teks lagu. Kedua membuat kerangka karangan. Kerangka

karangan berfungsi untuk menyusuri jalan cerita, sehingga tidak banyak yang

menyimpang. Ketiga, setelah garis besar dibuat biarkan siswa bermain dengan

imajinasinya untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, kemudian

siswa diarahkan untuk menentukan siapa tokoh utamanya, apa masalahnya, siapa

antagonisnya, dan bagaimana latar belakang ceritanya, bagaimana watak

tokohnya, bagaimana plotnya, di mana klimaksnya, sudut pandang yang

digunakan, dari mana cerita awal dan bagaimana cerita penutupnya. Dalam hal ini

diperlukan keterampilan berpikir yang penuh konsentrasi, logika yang tajam, dan

nalar yang kritis untuk berkreasi secara produktif menciptakan sebuah cerpen.

Setelah diketahui uraian tentang metode latihan terbimbing dengan media

teks lagu, dapat disimpulkan bahwa metode latihan terbimbing dengan media teks

lagu dalam pembelajaran menulis cerpen merupakan proses siswa di dalam

menulis cerpen dengan bimbingan dari guru. Langkah pertama guru menjelaskan

unsur-unsur pembangun cerpen, dan menjelaskan langkah-langkah yang harus

dilakukan sebelum memulai, menulis cerpen, kemudian siswa diminta membuat

cerpen dengan media teks lagu. Di saat siswa bekerja guru berkeliling melihat

pekerjaan siswa satu persatu, kesulitan perseorangan siswa, dibantu untuk

perseorangan dan jika kesalahan yang terjadi sama permasalahannya untuk

seluruh siswa maka guru akan membahasnya pada refleksi akhir pembelajaran.
38

2.3 Kerangka Berpikir

Pada dasarnya pengajaran menulis mempunyai tujuan supaya siswa

memiliki keterampilan, pengalaman, dan memanfaatkan keterampilan menulis

dalam berbagai keperluan. Keterampilan menulis cerpen bukanlah suatu pekerjaan

yang mudah. Kenyataan yang ada dalam pembelajaran menulis cerpen belum

memenuhi tujuan yang akan dicapai. Pada umumnya siswa belum mampu

menyampaikan ide, gagasan, pikiran dan perasaannya dengan baik dalam sebuah

karya sastra khususnya cerpen. Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru

dalam mengajarkan keterampilan menulis cerpen masih menggunakan metode

konvensional jadi siswa kurang dapat mengembangkan kemampuan bersastranya.

Upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan metode pembelajaran

yang tepat dalam pembelajaran menulis cerpen. Melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu dalam menulis cerpen, keterampilan menulis

cerpen siswa dapat ditingkatkan secara maksimal. Agar proses pembelajaran

menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dapat tepat guna dan siswa

mudah menangkap materi yang disampaikan maka guru menggunakan media

yang dapat membantu proses latihan terbimbing tersebut yaitu dengan

menggunakan media teks lagu. Secara garis besar pembelajaran menulis cerpen

melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu dilakukan dengan

langkah-langkah sebagai berikut: (1) guru melakukan apersepsi mengenai

pembelajaran menulis cerpen, (2) guru membagikan sebuah teks lagu pada siswa.

(3) siswa mengamati dan memperhatikan teks lagu tersebut, (4) guru menjelaskan

langkah-langkah menulis cerpen dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun


39

cerpen, (5) berdasarkan teks lagu tersebut siswa diminta untuk memperhatikan

tema dan jalan cerita yang ada dalam teks lagu tersebut untuk dijadikan tema dan

alur dalam cerpen yang akan dibuatnya, (6) siswa ditugaskan untuk menulis

cerpen berdasarkan kehidupan diri sendiri, (7) guru membimbing siswa dalam

menulis cerpen, kesulitan perseorangan dibimbing secara perseorangan, dan

kesulitan siswa yang terjadi secara klasikal dibahas bersama-sama secara klasikal,

(8) hasil pekerjaan menulis cerpen dikumpulkan, (9) salah satu dari hasil

pekerjaan siswa dibacakan di depan kelas, (10) siswa lain mengomentari hasil

pekerjaan temannya, (11) guru memberikan penguatan terhadap pembelajaran

menulis cerpen, (12) guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran menulis cerpen.

(13) guru dan siswa merefleksi kegiatan pembelajaran menulis cerpen.

2.4 Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam penelitian ini adalah pembelajaran menulis cerpen melalui

metode latihan terbimbing dengan media teks lagu dapat meningkatkan

keterampilan siswa dalam menulis cerpen pada siswa kelas X-7 SMA negeri 1

Pemalang.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini diperoleh dari pratindakan, tindakan

kelas pada siklus I, dan siklus II. Hasil penelitian ini terdiri atas hasil tes dan hasil

nontes. Hasil tes pratindakan adalah hasil tes menulis cerpen sebelum

pembelajaran menulis cerpen dilakukan. Hasil tes pada tindakan siklus I dan

siklus II adalah hasil tes menulis cerpen setelah mengikuti pembelajaran menulis

cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu. Adapun hasil

nontes diperoleh dari data observasi, jurnal, angket, wawancara, dan dokumentasi.

4.1.1 Hasil Tes Pratindakan

Hasil tes pratindakan yaitu berupa keterampilan siswa dalam menulis

cerpen sebelum dilakukan tindakan penelitian. Hasil tes pratindakan ini bertujuan

untuk mengetahui kondisi awal keterampilan menulis cerpen siswa kelas X7 SMA

Negeri 1 Pemalang. Jumlah siswa yang mengikuti tes pratindakan ini berjumlah

40 siswa. Hasil pratindakan dapat dilihat pada tabel 4 berikut:

Tabel 4 Hasil Menulis Cerpen Pratindakan

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 85-100 - - -
2. Baik 75-84 2 150 5 2459
3. Cukup 60-74 25 1591 62,5 X =
40
4. Kurang 50-59 11 623 27,5 = 61,30
5. Sangat 0-49 2 88 5
Kurang
Jumlah 40 2452 100

60
61

Pada tabel di atas tersebut menunjukkan bahwa keterampilan menulis

cerpen pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang sudah termasuk ke dalam

kategori cukup yaitu 61,30. Dari 40 siswa, 2 siswa atau sebesar 5% termasuk ke

dalam kategori baik, 25 siswa atau sebesar 62,5% termasuk ke dalam kategori

cukup, 11 siswa atau sebanyak 27,5% termasuk ke dalam kategori kurang, 2 siswa

atau sebanyak 5% mendapat kategori sangat kurang. Walaupun sudah berada pada

kategori cukup tetapi masih perlu adanya perbaikan untuk meningkatkan hasil

nilai siswa.

Untuk lebih jelasnya perolehan nilai hasil tes pada pratindakan dapat

dilihat pada diagram batang berikut.

25

21
20

16
15

10

5
3

0 0 0
1 2 3 4

Diagram batang 1. Hasil Menulis Cerpen Pratindakan


Keterangan: 1=Sangat Baik, 2=Baik, 3=Cukup, 4=Kurang,
5=Sangat Kurang.

61
62

Pada diagram batang 1 di atas terlihat batang yang paling tinggi adalah

batang untuk kategori cukup yaitu 52,5%. Hal ini berarti bahwa 52,5%

keterampilan menulis cerpen siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang berada

pada kategori cukup Sisanya berada pada kategori kurang dan baik. Pada kategori

kurang berada pada angka 40%, dan pada kategori baik berada angka 7,5%.

Setelah melihat hasil tes pratindakan (keadaan awal) siswa yang telah

dipaparkan, perlu dilakukan sebuah tindakan agar dapat meningkatkan

keterampilan siswa dalam menulis cerpen. Tindakan yang dilakukan adalah

berupa pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu.

4.1.2 Hasil Penelitian Siklus I

Siklus I merupakan pemberlakuan awal penelitian melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu. Tindakan siklus ini dilakukan sebagai upaya

untuk memperbaiki dan memecahkan masalah yang muncul pada pratindakan.

Pelaksanaan pembelajaran menulis cerpen siklus I terdiri atas data tes dan nontes.

4.1.2.1 Hasil Tes Siklus I

Siklus I yaitu berupa keterampilan siswa dalam menulis cerpen setelah

mengikuti pembelajaran melalui metode latihan terbimbing dengan media teks

lagu. Jumlah siswa yang mengikuti siklus I berjumlah 40 siswa. Hasil tes

pembelajaran menulis cerpen pada siklus I dapat dilihat pada tabel 5 berikut.

62
63

Tabel 5 Hasil Menulis Cerpen pada Siklus I

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 85-100 - - -
2. Baik 70-84 11 862 27,5 2746
3. Cukup 60-69 25 1653 62,5 X =
40
4. Kurang 50-59 4 231 10
= 68,65
5. Sangat 0-49 - - -
Kurang
Jumlah 40 2746 100

Pada tabel 5 menunjukkan hasil tes keterampilan menulis cerpen secara

menyeluruh mencapai rata-rata 68,65 dan termasuk ke dalam kategori cukup.

Rata-rata tersebut menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor siswa dalam

menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.

Walaupun sudah ada peningkatan, tetapi hasil yang ada belum maksimal. Rata-

rata yang dicapai oleh siswa adalah klasikal sebesar 68,48 hanya 11 siswa atau

27,5% dari jumlah keseluruhan siswa yang mencapai kategori baik, dan 25 siswa

atau 62,5% dari jumlah keseluruhan siswa yang mencapai kategori cukup, 4 siswa

atau 10% dari jumlah keseluruhan siswa yang mencapai kategori kurang.

Agar lebih jelas dapat dilihat pada diagram batang berikut hasil tes

menulis cerpen siklus I.

63
64

70
62.5
60
50
persentase

40
30 27.5
20
10 10

0 0 0
1 2 3 4 5
kategori

Diagram batang 2. Hasil Menulis Cerpen Siklus I


Keterangan: 1=Sangat Baik, 2=Baik, 3=Cukup, 4=Kurang,
5=Sangat Kurang.

Diagram batang 2 di atas menunjukkan bahwa batang yang paling tinggi

adalah kategori cukup. Keadaan tersebut sama dengan keadaan pada hasil tes

pratindakan. Tetapi jumlah persentase pada siklus I ini lebih besar dibandingkan

pada hasil tes pratindakan yaitu sebesar 62,5% atau sebanyak 25 siswa. Setelah

pada kategori cukup batang yang berada di bawah kategori cukup adalah kategori

baik, yaitu sebesar 27,5% atau sebanyak 11 siswa. Pada jumlah yang paling

sedikit, yaitu yang memperoleh kategori kurang, sebanyak 4 siswa atau sebesar

10%. Walaupun tidak ada yang berada pada kategori sangat baik, tetapi jumlah

yang memperoleh kategori cukup dan baik menjadi bertambah dan yang berada

pada kategori kurang menjadi berkurang.

Nilai pada siklus I ini merupakan penjumlahan skor dari 7 aspek

keterampilan menulis cerpen, yaitu aspek tema dan amanat, tokoh dan penokohan,

64
65

alur, latar, diksi dan gaya bahasa, sudut pandang, dan kepaduan unsur-unsur

pembangun cerpen. Hasil dari masing-masing aspek dipaparkan sebagai berikut

4.1.2.1.1 Hasil Tes Menulis Cerpen Aspek Tema dan Amanat

Penilaian aspek tema dan amanat difokuskan pada kerelevanan tema dan

amanat dengan teks lagu yang digunakan sebagai media pembelajaran. Hasil

perolehan aspek tema dan amanat dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6 Perolehan Skor Aspek Tema dan Amanat Siklus I

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor (%)
1. Sangat Baik 9-10 15 135 37,5
2. Baik 6-8 25 182 62,5
3. Cukup 3-5 - 317
X =
4. Kurang 0-2 - 40
= 7,93
Jumlah 40 317 100

Data tabel 6 menunjukkan rata-rata skor yang dicapai dalam aspek tema

dan amanat sebesar 7,93. Hasil tersebut termasuk kategori baik, artinya

keterampilan siswa dalam menentukan tema dan amanat sudah baik. Dari tabel

tersebut dapat dilihat, siswa yang mencapai kategori sangat baik berjumlah 15

siswa atau sebanyak 37,5% dari jumlah keseluruhan siswa, kategori baik dicapai

25 siswa atau sebesar 62,5% dari jumlah keseluruhan siswa, kategori cukup dan

kurang tidak ada.

65
66

4.1.2.1.2 Hasil Tes Menulis Cerpen Aspek Alur

Hasil perolehan nilai pada aspek alur difokuskan pada keterampilan siswa

menciptakan alur yang menarik. Hasil perolehan nilai pada aspek alur dapat

dilihat pada tabel 7.

Tabel 7 Perolehan Skor Aspek Alur Siklus I

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 16-20 4 65 10
2. Baik 11-15 33 421 82,5 516
X =
3. Cukup 6-10 3 30 7,5 40
4. Kurang 0-5 - = 12,90

Jumlah 40 516 100

Data pada tabel 7 menunjukkan bahwa rata-rata skor aspek alur dalam

cerpen yang dicapai siswa sebesar 12,90 termasuk dalam kategori baik , artinya

keterampilan siswa dalam menciptakan alur yang menarik dalam menulis cerpen

sudah baik. Perolehan nilai dalam kategori sangat baik dicapai 4 siswa atau

sebesar 10% dari jumlah keseluruhan, kategori baik dicapai oleh 33 siswa atau

sebesar 82,5% dari jumlah keseluruhan, kategori cukup dicapai 3 siswa atau

sebesar 7,5%, dan tidak ada satu pun siswa yang mendapat kategori kurang.

4.1.2.1.3 Hasil Menulis Cerpen Aspek Tokoh dan Penokohan

Hasil perolehan nilai pada aspek tokoh dan penokohan dapat dilihat pada

tabel 8 berikut .

66
67

Tabel 8 Perolehan Skor Aspek Tokoh dan Penokohan Siklus I

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 16-20 10 163 25 545
X =
2. Baik 11-15 29 372 72,5 40
3. Cukup 6-10 1 10 2.5 = 13,63
4. Kurang 0-5 - - -

Jumlah 40 545 100

Data pada tabel 8 menunjukkan bahwa rata-rata skor dalam aspek tokoh

dan penokohan yang dicapai siswa sebesar 13,63 (termasuk pada kategori baik),

artinya keterampilan siswa dalam menulis cerpen aspek tokoh dan penokohan

sudah baik. Perolehan nilai dalam kategori sangat baik dicapai oleh 10 siswa atau

sebesar 25%, kategori baik 29 siswa atau sebesar 72,5%, kategori cukup 1 siswa

atau sebesar 2,5% dari jumlah keseluruhan siswa, dan tidak ada siswa yang

mendapat kategori kurang.

4.1.2.1.4 Hasil Menulis Cerpen Aspek Latar

Penilaian aspek pemilihan latar difokuskan pada ketepatan pemilihan latar

yang sesuai dengan situasi dan kondisi dalam cerpen. Hasil penilaian pemilihan

latar dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9 Perolehan Skor Aspek Latar Siklus I

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 9-10 3 27 7,5
2. Baik 6-8 35 263 87,5 300
X =
3. Cukup 3-5 2 10 5 40
4. Kurang 0-2 - = 7,5

Jumlah 40 300 100

67
68

Data pada tabel 9 menunjukkan rata-rata skor yang dicapai siswa dalam

aspek pemilihan latar sebesar 7,5. Hasil tersebut termasuk kategori baik, artinya

keterampilan siswa dalam pemilihan latar yang sesuai dengan situasi dan kondisi

yang diceritakan dalam cerpen sudah baik. Dari tabel tersebut dapat dilihat, siswa

yang mencapai kategori sangat baik berjumlah 3 siswa atau sebesar 7,5%, kategori

baik 35 siswa atau sebesar 87,5%, kategori cukup dicapai 2 siswa atau 5% dari

jumlah keseluruhan siswa, dan untuk kategori dan kurang tidak ada.

4.1.2.1.5 Hasil Menulis Cerpen Aspek Diksi dan Gaya Bahasa

Penilaian aspek pemilihan diksi dan gaya bahasa difokuskan pada

ketepatan penggunaan bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi dalam

cerpen. Hasil penilaian pemilihan latar dapat dilihat pada tabel 10

Tabel 10 Perolehan Skor Aspek Diksi dan Gaya Bahasa Siklus I

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 9-10 - 0 0 262
X =
2. Baik 6-8 37 247 92,5 40
3. Cukup 3-5 3 15 7,5 = 6,55
4. Kurang 0-2 - - -

Jumlah 40 262 100

Data tabel 10 menunjukkan rata-rata skor yang dicapai dalam aspek diksi

dan gaya bahasa sebesar 6,55. Hasil tersebut termasuk kategori baik, artinya

keterampilan siswa dalam memilih diksi dan gaya bahasa sudah baik. Dari tabel

tersebut dapat dilihat, siswa yang mencapai kategori baik berjumlah 37 siswa.

Atau sebanyak 92,5% dari jumlah keseluruhan siswa, kategori cukup dicapai 3

68
69

siswa atau sebesar 7,5% dari jumlah keseluruhan siswa, dan untuk kategori sangat

baik dan kurang tidak ada.

4.1.2.1.6 Hasil Menulis Cerpen Aspek Sudut Pandang

Hasil perolehan nilai pada aspek tokoh dan penokohan dapat dilihat pada

tabel 11 berikut .

Tabel 11 Perolehan Skor Aspek Sudut Pandang Siklus I

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 9-10 4 36 10
2. Baik 6-8 34 257 85 303
X =
3. Cukup 3-5 2 10 5 40
4. Kurang 0-2 - - - = 7,58

Jumlah 40 303 100

Data pada tabel 11 menunjukkan rata-rata skor yang dicapai siswa dalam

aspek penggunaan sudut pandang sebesar 7,58. Hasil tersebut termasuk kategori

baik, artinya keterampilan siswa dalam pemilihan sudut pandang sudah dapat

menjelaskan tokoh yang ada dalam cerpen. Dari tabel tersebut dapat dilihat, siswa

yang mencapai kategori sangat baik berjumlah 4 siswa atau sebesar 10%, kategori

baik 34 siswa atau sebesar 85%, kategori cukup dicapai 2 siswa atau 5% dari

jumlah keseluruhan siswa, dan untuk kategori kurang tidak ada.

4.1.2.1.7 Hasil Menulis Cerpen Aspek Kepaduan Unsur-unsur Pembangun


Cerpen Siklus I
Penilaian aspek kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen difokuskan pada

ketepatan dalam memadukan unsur-unsur pembangun cerpen. Hasil penilaian

kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen dapat dilihat pada tabel 12.

69
70

Tabel 12 Perolehan Skor Aspek Kepaduan Unsur-unsur Pembangun Cerpen

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 16-20 5 81 12,5 523
X =
2. Baik 11-15 33 422 82,5 40
3. Cukup 6-10 2 20 5 = 13,08
4. Kurang 0-5 -

Jumlah 40 523 100

Data tabel 12 menunjukkan rata-rata skor yang dicapai dalam aspek

kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen sebesar 13,08. Hasil tersebut termasuk

kategori baik, artinya keterampilan siswa dalam memadukan unsur-unsur

pembangun cerpen sudah baik. Dari tabel tersebut dapat dilihat, siswa yang

mencapai kategori sangat baik berjumlah 5 siswa atau sebanyak 12,5% dari

jumlah keseluruhan siswa, kategori baik dicapai 33 siswa atau sebesar 82,5% dari

jumlah keseluruhan siswa, kategori cukup dicapai 2 siswa atau sebesar 5% dari

jumlah keseluruhan siswa, dan untuk kategori kurang tidak ada.

4.1.2.2 Hasil Nontes Siklus I

Hasil nontes pada siklus I ini diperoleh dari hasil observasi, jurnal,

wawancara, dan dokumentasi foto. Hasil selengkapnya diuraikan berikut ini.

4.1.2.2.1 Hasil Observasi Siklus I

Observasi dalam penelitian ini ada dua macam yaitu observasi siswa dan

observasi kelas. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perilaku

siswa selama pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing

70
71

dengan media teks lagu dan keterampilan peneliti dalam mengajar. Observasi

siswa dilakukan oleh peneliti sedangkan observasi kelas dilakukan oleh teman

peneliti.

4.1.2.2.1.1 Hasil Observasi Siswa Siklus I

Objek sasaran yang diamati dalam observasi siswa meliputi 8 perilaku

positif dan 8 perilaku negatif. Adapun objek sasaran perilaku positif meliputi: (1)

siswa memperhatikan penjelasan guru, (2) siswa banyak bertanya kepada guru, (3)

siswa berpartisipasi aktif, (4) siswa dapat mengidentifikasi dan menyebutkan

unsur-unsur yang ada dalam cerpen, (5) siswa merespon positif (senang) terhadap

metode latihan terbimbing dengan media teks lagu, (6) siswa dapat menulis

cerpen dengan senang hati, (7) siswa dapat menulis cerpen dengan cepat. Perilaku

negatif meliputi: (1) siswa kurang merespon penjelasan guru, (2) siswa kurang

bersemangat terhadap metode latihan terbimbing dengan media teks lagu, (3)

siswa banyak bicara dan bergurau dengan temannya, (4) siswa pasif dalam

pembelajaran, (5) siswa jalan-jalan/mondar-mandir pada saat pembelajaran

berlangsung, (6) siswa kurang bersemangat dalam menulis cerpen, (7) siswa

sangat lambat dalam menulis cerpen, (8) siswa enggan memberikan sanggahan

terhadap pembacaan cerpen temannya.

Berdasarkan hasil pengamatan (observasi) peneliti pada saat pembelajaran

pada siklus I, perilaku siswa yang terdeskripsi pada saat observasi menunjukkan

sikap positif dan ada pula sikap yang negatif. Perilaku positif ditunjukkan oleh

sikap siswa yang aktif mengikuti pembelajaran menulis cerpen, terlihat juga

71
72

sebagian besar siswa merespon baik pembelajaran menulis cerpen dengan metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu. Perilaku negatif ditunjukkan dengan

sikap masa bodoh dan kurang bersemangat mengikuti pembelajaran. Selain itu

siswa melakukan kegiatan seperti bicara dan bergurau dengan temannya, serta

jalan-jalan/mondar-mandir pada saat pembelajaran berlangsung. Hal ini dapat

dilihat dari hasil observasi, yang menunjukkan siswa banyak melakukan perilaku

positif daripada perilaku negatif. Selama pembelajaran tidak semua siswa

mengikuti pembelajaran dengan baik, tetapi masih ada beberapa siswa yang

melakukan perilaku negatif. Namun, peneliti sadar akan hal ini karena setiap

siswa memiliki karakteristik dan keterampilan yang berbeda. Apalagi, pola

pembelajaran yang diterapkan peneliti merupakan hal baru bagi mereka sehingga

perlu proses untuk menyesuaikannya.

Dari data observasi dapat dilihat jumlah siswa yang melakukan perilaku

positif dan siswa yang melakukan perilaku negatif. Berdasarkan data yang

diperoleh sebagian besar siswa atau sebanyak 34 siswa atau 85% dari jumlah

keseluruhan siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik. Sisanya sebanyak

6 siswa atau sebanyak 15% dari jumlah keseluruhan siswa kurang merespon

penjelasan guru. Siswa yang kurang merespon penjelasan guru, perilakunya

bermacam-macam seperti memperhatikan keadaan di luar kelas, berbicara dan

bergurau dengan temannya.

Pada siklus I ini hanya ada 4 atau sebanyak 10% dari jumlah keseluruhan

siswa yang berani mengajukan pertanyaan kepada peneliti, sisanya sebanyak 36

siswa atau sebanyak 90% tidak berani bertanya kepada peneliti. Siswa yang

72
73

kurang berani mengajukan pertanyaan pada guru ini perilakunya bermacam-

macam seperti ada yang malu-malu ketika guru memberikan kesempatan pada

siswa untuk bertanya. Ada yang masih kurang percaya diri, dan ada pula yang

asyik berbicara sendiri dengan teman sebangkunya.

Sebanyak 27 siswa atau 67,5% dari jumlah keseluruhan siswa aktif dalam

mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan baik. Sisanya, sebanyak 13 siswa

atau sebanyak 32,5% dari jumlah keseluruhan siswa kurang aktif dalam mengikuti

pembelajaran menulis cerpen. Siswa yang kurang aktif dalam mengikuti

pembelajaran menulis cerpen disebabkan karena peneliti bukanlah guru yang

biasa mengajar di kelas sehingga siswa masih merasa asing dengan guru

(peneliti).

Sebanyak 32 siswa atau sebanyak 80% dari jumlah keseluruhan siswa aktif

berpartisipasi menyebutkan unsur-unsur pembangun cerpen. Mereka secara aktif

menyebutkan satu per satu unsur-unsur pembangun cerpen dan

mendefinisikannya, serta memberikan contoh-contohnya dengan bantuan guru.

Sisanya 8 siswa atau sebanyak 8 siswa atau sebanyak 20% dari jumlah

keseluruhan siswa kurang aktif berpartisipasi menyebutkan unsur-unsur

pembangun karya sastra. Hal tersebut disebabkan mereka kurang mengetahui

unsur-unsur pembangun cerpen dan ada pula yang kurang mengikuti pembelajaran

dengan baik.

Salah satu hal yang penting dalam penelitian ini adalah metode dan media

yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran menulis cerpen yaitu metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu. Dalam hal ini, sebagian besar siswa

73
74

sebanyak 32 atau 80% dari jumlah keseluruhan siswa merespon positif metode

yang digunakan oleh peneliti, mereka merasa senang karena mereka dapat

bertanya-tanya kepada guru pada saat mengalami kesulitan dalam menulis cerpen.

Media teks lagu yang dihadirkan oleh guru juga mendapat respon yang positif,

sebagian besar dari jumlah keseluruhan siswa tersebut banyak yang menyukai

lagu-lagu. Sisanya sebanyak 8 siswa atau 20% dari jumlah keseluruhan siswa

yang kurang merespon metode dan media yang digunakan guru dalam menulis

cerpen.

Dari data observasi dapat dilihat, sebanyak 31 siswa atau 77,5% dari

jumlah keseluruhan siswa dapat menulis cerpen dengan senang hati. Hal ini

disebabkan karena mereka senang dengan media yang dihadirkan guru, selain

mereka terhibur mereka juga dapat menulis cerpen. Selain itu juga mereka merasa

dipermudah dalam menulis cerpen, teks lagu tersebut sudah ada sebagai kerangka

karangan sehingga siswa hanya mengembangkan cerita berdasarkan teks lagu.

Sisanya sebanyak 9 siswa atau 22,5% dari jumlah keseluruhan siswa kurang

senang menulis cerpen, hal ini disebabkan karena siswa kurang tertarik atau

kurang senang menulis cerpen.

Sebanyak 7 siswa atau 17,5% dari jumlah keseluruhan siswa dapat

mengerjakan atau dapat menulis cerpen dengan cepat. Tujuh siswa tersebut

mampu menyelesaikan cerpen yang ditulisnya sebelum waktu yang ditentukan

selesai. Hal ini disebabkan mereka sudah merasa mudah mengungkapkan ide dan

mampu mengembangkan lirik yang berada dalam teks lagu. Sisanya 33 siswa atau

82,5% dari jumlah keseluruhan siswa belum dapat menyelesaikan cerpen yang

dibuatnya dengan cepat.

74
75

Sebanyak 3 siswa atau sebesar 7,5% dari jumlah keseluruhan siswa berani

memberikan komentar terhadap hasil penulisan cerpen temannya yang dibacakan

di depan kelas. 37 siswa atau sebesar 92,5% kurang berani memberikan komentar

terhadap hasil penulisan cerpen yang dibacakan di depan kelas. Hal tersebut

disebabkan karena mereka malu atau kurang percaya diri berbicara di kelas, selain

itu, mereka juga mempunyai pendapat yang sama dengan teman yang telah

mengajukan pertanyaan sehingga mereka tidak memberikan komentarnya. Siswa

yang menunjukkan sikap kurang berani memberikan komentar terhadap hasil

penulisan cerpen yang dibacakan di depan kelas juga disebabkan karena mereka

tidak memperhatikan pada saat temannya membacakan cerpen di depan kelas.

Meskipun proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, tetapi masih

ada beberapa siswa yang masih kurang tertib dalam mengikuti pembelajaran

menulis cerpen. Sebanyak 11 siswa atau 27,5% dari jumlah keseluruhan siswa

banyak berbicara dan bergurau dengan temannya. Sisanya 29 siswa atau sebanyak

72,5% dari jumlah keseluruhan siswa tertib dalam mengikuti pembelajaran

menulis cerpen.

Sebanyak 8 siswa atau sebesar 20% dari jumlah keseluruhan siswa sering

jalan-jalan/mondar-mandir pada saat proses pembelajaran berlangsung. Siswa

tersebut melakukan kegiatan kurang positif seperti mengganggu temannya yang

sedang serius menulis cerpen ataupun hanya sekadar meminjam alat tulis yang

sebenarnya tidak begitu diperlukan. Sebanyak 14 siswa atau sebesar 35% dan

sering melihat pekerjaan temannya. Hal ini dilakukan ketika merasa bingung

untuk memulai menulis cerpen pada saat tes menulis cerpen berlangsung.

75
76

Berdasarkan pada uraian di atas, meskipun jumlah siswa yang melakukan

perilaku positif lebih banyak daripada perilaku negatif, tetapi pembelajaran

menulis cerpen di kelas ini perlu ditingkatkan lebih baik lagi. Guru harus

berupaya agar siswa lebih aktif dan perilaku negatif yang muncul pada siklus I ini

dapat dikurangi pada siklus berikutnya.

4.1.2.2.1.2 Hasil Observasi Kelas Siklus I

Observasi kelas ini dilakukan untuk mengevaluasi cara kerja peneliti

dalam memberikan pembelajaran menulis cerpen. Keterampilan berkomunikasi

peneliti dengan siswa sudah cukup baik. Walaupun baru dua kali masuk di kelas

tersebut, namun siswa menerima dengan sangat baik. Namun, berkaitan dengan

komunikasi, ada hambatan dari siklus I ini, yaitu peneliti belum begitu kenal dan

hafal nama siswa, sehingga pada saat siswa bertanya atau memberikan pendapat

guru harus bertanya terlebih dahulu nama siswa tersebut.

Hasil pengamatan observator terhadap peneliti, dikatakan bahwa

keterampilan peneliti dalam membuka pelajaran, penyampaian materi, penguasaan

materi, cara peneliti mengajar, dan komunikasi dengan siswa cukup baik. Dalam

menerapkan metode latihan terbimbing dengan media teks lagu sudah cukup baik.

Cara menutup pelajaran dengan refleksi sudah cukup baik. Saran dari observator

bahwa peneliti perlu memberikan pujian kepada siswa yang mau memberikan

tanggapan terhadap hasil penulisan cerpen temannya. Sehingga siswa merasa

pendapatnya tersebut merupakan nilai plus dalam pembelajaran.

4.1.2.2.2 Hasil Jurnal Siklus I

76
77

Jurnal yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jurnal. Jurnal yang

pertama adalah jurnal guru dan yang kedua adalah jurnal siswa.

4.1.2.2.2.1 Jurnal Siswa Siklus I

Pada jurnal siswa, sebagian besar siswa menyatakan senang terhadap

pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media

teks lagu. Mereka berpendapat bahwa dengan pembelajaran seperti ini akan

mempermudah siswa dalam menulis cerpen dan memotivasi siswa untuk menulis

cerpen. Hal tersebut disebabkan guru membimbing dalam penulisan cerpen dan

teks lagu dapat yang dihadirkan oleh guru dapat menghibur siswa, sehingga siswa

akan merasa senang dalam menulis cerpen. Selain itu teks lagu yang dihadirkan

guru sesuai dengan pengalaman siswa sehingga siswa mudah untuk menuangkan

pikiran, gagasan dan idenya ke dalam sebuah cerpen, walaupun ada beberapa

siswa yang tidak suka dengan lirik lagu yang ada dalam teks lagu. Ada juga siswa

yang berpendapat bahwa dengan teks lagu akan dapat memberi pengetahuan

tentang menyusun kerangka karangan. Berdasarkan hasil dari jurnal, peneliti

menyimpulkan bahwa pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu menyenangkan bagi siswa, sehingga siswa

tidak merasa terbebani dengan materi pembelajaran yang harus mereka tempuh.

Pertanyaan berikutnya mengenai kesulitan siswa dalam menulis cerpen.

Pada aspek yang kedua ini kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam

menuangkan ide atau gagasannya ke dalam cerpen, memulai menulis, dan

menggunakan diksi yang tepat, namun ada beberapa siswa yang berpendapat tidak

mengalami kesulitan. Siswa yang tidak mengalami kesulitan berpendapat bahwa

77
78

metode latihan terbimbing membantu siswa dan media teks lagu dapat membantu

siswa dalam menentukan tema dan merumuskan kerangka karangan, jadi mereka

berpendapat dari teks lagu tersebut hanya mengubahnya ke dalam sebuah cerpen.

Siswa yang mengalami kesulitan menuangkan ide berpendapat bahwa dalam

pikirannya sudah ada namun sulit untuk menuangkan, atau mengungkapkannya

dengan kata-kata. Pada dasarnya kesulitan tersebut dapat diatasi dengan

membiasakan menulis cerpen.

Aspek berikutnya adalah mengenai metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu dapat mempermudah siswa dalam menulis cerpen. Sebagian besar

siswa berpendapat mereka sangat terbantu karena tema sudah terdapat dalam teks

lagu, dan kerangka karangannya pun sudah ada, ditambah guru membimbing

siswa dalam menulis cerpen, jadi kesulitan yang dihadapi siswa dapat langsung

ditanyakan kepada guru.

Aspek yang keempat adalah mengenai kepahaman siswa dengan metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu. Menurut siswa melalui metode latihan

terbimbing ini dapat lebih memahami materi menulis cerpen dan memotivasi

siswa dalam menulis cerpen. Siswa lebih bersemangat dan lebih senang. Mata

pelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan mata pelajaran yang disepelekan

oleh siswa, khususnya materi mengarang, sehingga melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu dapat membuat siswa lebih bersemangat.

Aspek yang terakhir adalah pesan dan kesan terhadap pembelajaran

menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu. Kesan

yang dikemukakan siswa adalah belajar menulis cerpen melalui metode latihan

78
79

terbimbing dengan media teks lagu lebih menarik dan menyenangkan. Adapun

saran yang diungkapkan yaitu dalam menerangkan hendaknya pelan-pelan. Saran

yang telah diungkapkan oleh siswa dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk

pembelajaran berikutnya.

4.1.2.2.2.2 Jurnal Guru Siklus I

Jurnal guru ini berisi uraian pendapat dan seluruh kejadian yang dapat

ditangkap guru selama proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan

pengamatan guru pada saat pembelajaran berlangsung, respon siswa terhadap

metode latihan terbimbing dengan media teks lagu dalam pembelajaran menulis

cerpen cukup baik. Sebagian besar siswa tertarik dan senang terhadap metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu dalam menulis cerpen. Namun,

demikian, ada sebagian kecil siswa yang masih kurang berminat dan bersemangat

untuk mengikuti pembelajaran, mereka menyatakan kurang suka menulis cerpen

dan tidak dapat mengungkapkan ide dan gagasannya dengan kata-kata. Siswa

yang kurang berminat menunjukkan perilaku malas seperti tidak memperhatikan

sungguh-sungguh penjelasan dari guru (peneliti), bercerita sendiri dengan

temannya, dan bahkan ada yang jalan-jalan atau mondar-mandir pada saat proses

pembelajaran berlangsung.

Keaktifan siswa pada kelas ini sudah dapat dikatakan baik dalam

mengikuti pembelajaran. Walaupun yang aktif hanya siswa yang sama, dan masih

ada beberapa siswa yang pasif. Tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas

79
80

menulis cerpen masih banyak siswa yang asyik menyanyikan lagu yang terdapat

pada lembar menulis yang diberikan guru dan enggan menulis cerpen.

Fenomena-fenomena lain yang ditangkap oleh guru selama proses

pembelajaran yaitu banyak siswa yang bersorak-sorak saat hasil penulisan cerpen

temannya dibacakan di depan kelas. Hal ini disebabkan karena cerpen yang ditulis

merupakan kejadian yang pernah dialami penulisnya.

Keantusiasan siswa dalam mengikuti pembelajaran cukup antusias.

Sebagian besar siswa nampak senang dan bersemangat ketika guru membimbing

siswa. Namun demikian ada sebagian kecil siswa yang kurang antusias mengikuti

pembelajaran menulis cerpen dan tidak memperhatikan pembacaan cerpen di

depan kelas.

4.1.2.2.3 Hasil Wawancara Siklus I

Siswa yang diwawancarai pada siklus ini ada 4 siswa. Dari keempat siswa

yang diwawancarai, yang menyatakan senang terhadap pembelajaran menulis

cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu ada 3 siswa.

Sisanya 1 siswa menyatakan kurang suka dengan pembelajaran yang dilakukan

oleh guru. Alasannya yang menyatakan tidak suka adalah karena siswa tersebut

tidak suka dengan pembelajaran menulis. Siswa yang menyatakan senang adalah

karena pembelajarannya menyenangkan.

Pada pertanyaan yang kedua, dari keempat siswa hanya satu yang

menjawab kurang mampu memahami materi yang diberikan guru. Hal tersebut

memang diakui karena memang siswa tersebut tidak suka dengan menulis atau

80
81

mengarang dan selama proses pembelajaran berlangsung tidak memperhatikan

guru, sehingga kurang paham terhadap materi yang disampaikan guru. Siswa yang

menyatakan senang karena memang sejak awal pelajaran sudah tertarik dan

memperhatikan penjelasan dari guru, sehingga memahami materi yang

disampaikan oleh guru (peneliti).

Pada pertanyaan yang ketiga, keempat siswa yang ditanyai semua merasa

termotivasi setelah mengikuti pembelajaran. Mereka termotivasi dengan metode

yang dilakukan guru yaitu metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.

Menurut mereka pembelajaran yang diberikan guru sekarang lebih mudah

dipahami, apalagi guru memberikan bimbingan pada saat siswa mengalami

kesulitan. Ada juga yang menyatakan termotivasi karena teks lagu tersebut sesuai

dengan pengalamannya.

Pada pertanyaan yang kelima mengenai suasana kelas, dari keempat siswa

ada satu siswa yang menyatakan tidak begitu terpengaruh dengan suasana kelas,

walaupun kelas dalam keadaan ramai tetap bisa menulis cerpen. Tiga menyatakan

bahwa suasana kelas dapat mempengaruhi pembelajaran, menurut ketiga siswa

tersebut jika suasana kelas ramai dan tidak menyenangkan, maka pembelajaran

tidak menyenangkan dan sulit berkonsentrasi dalam pembelajaran.

Pada pertanyaan keenam, dari keempat siswa yang diwawancarai

menyatakan bahwa metode latihan terbimbing yang digunakan guru dapat

membantu mereka dalam menulis cerpen, serta media yang digunakan juga dapat

mempermudah siswa dalam menulis cerpen sehingga siswa paham terhadap

pembelajaran menulis cerpen.

81
82

Pada pertanyaan yang ketujuh dan kedelapan, dari empat siswa yang

diwawancarai menyatakan bahwa mereka masih merasa kesulitan. Tetapi tingkat

kesulitan yang mereka alami berbeda-beda. Adapun kesulitan yang mereka alami

antara lain dalam menentukan judul, menuangkan ide yang ada dalam pikiran

dengan kata-kata, dan mengembangkan lirik yang ada dalam teks lagu.

Pada pertanyaan yang kesembilan, semua siswa yang diwawancarai

menyatakan bahwa metode latihan terbimbing dengan media teks lagu dapat

membantu kesulitan yang dihadapi mereka. Menurut mereka hal tersebut

dikarenakan guru mengadakan bimbingan dan media teks lagu dapat digunakan

untuk merumuskan kerangka karangan.

Pertanyaan yang kesepuluh, semua siswa yang diwawancarai dapat

disimpulkan bahwa banyak manfaat yang siswa dapatkan dari pembelajaran

menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.

Menurut mereka manfaat yang didapatkan antara lebih paham materi menulis

cerpen, lebih kreatif, lebih bersemangat untuk menulis cerpen.

4.1.2.2.4 Hasil Angket Siklus I

82
83

Angket di dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui minat siswa

dalam pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu. Hasil angket pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 13. Perolehan Angket siklus I

Aspek SS S KS TS STS
ke
∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
1 24 60 14 35 2 5 - - - -
2 10 25 23 57,5 7 17,5 - - - -
3 10 25 20 50 10 25 - - - -
4 12 30 20 50 8 20 - - - -
5 13 32,5 21 52,5 6 15 - - - -
6 11 27,5 23 57,5 6 15 - - - -
7 11 27,5 16 40 11 27,5 2 5 - -
8 18 45 15 37,5 7 17,5 - - - -
9 14 35 23 57,5 3 7,5 - - - -
10 10 25 21 52,5 9 22,5 - - - -

Pada tabel 13 dapat dilihat, jumlah siswa yang memilih SS (Sangat

Setuju), S (Setuju), KS (Kurang Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat

Tidak Setuju) pada setiap aspek angket. Pada aspek pertama ada 24 siswa atau

60% dari jumlah keseluruhan siswa yang menyatakan sangat setuju bahwa

keterampilan menulis dapat meningkatkan kreativitas dalam belajar, dan 14 siswa

atau sebanyak 35% dijumlah keseluruhan siswa yang menyatakan setuju. Siswa

yang kurang setuju ada 2 siswa atau sebesar 5% dari jumlah keseluruhan siswa

menyatakan kurang setuju, sedangkan siswa yang menyatakan tidak setuju dan

sangat tidak setuju tidak ada. Hal ini berarti bahwa kebanyakan siswa menyetujui

bahwa keterampilan menulis dapat meningkatkan kreativitas.

83
84

Pada aspek kedua, ada 10 siswa atau 25% menyatakan bahwa mereka

merasa sangat senang terhadap cara guru menerangkan, 23 siswa atau 57,5%

menyatakan senang, dan 7 siswa atau 17,5% merasa kurang senang. Siswa yang

tidak senang sama sekali tidak ada. Hal ini berarti sebagian besar siswa merasa

senang terhadap cara guru menerangkan keterampilan menulis cerpen melalui

metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.

Pada aspek yang ketiga, siswa yang sangat senang terhadap metode

pembelajaran yang digunakan oleh guru, ada 10 siswa atau sebanyak 25%.

Sebanyak 20 siswa atau sebesar 50% siswa menyatakan merasa senang terhadap

metode yang digunakan guru. Sebanyak 10 siswa atau 25% menyatakan kurang

senang terhadap metode yang digunakan guru dalam pembelajaran. Sedangkan

siswa yang menyatakan tidak senang dan sangat tidak senang tidak ada. Dari data

tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa merasa senang terhadap metode yang

digunakan oleh guru dalam pembelajaran menulis cerpen.

Pada aspek keempat ini diperoleh 12 siswa atau sebesar 30% dari jumlah

keseluruhan siswa menyatakan sangat senang terhadap metode yang digunakan

oleh guru dalam pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk menulis

cerpen. Sebanyak 20 siswa atau sebesar 50% dari jumlah keseluruhan siswa

menyatakan bahwa mereka senang terhadap metode yang digunakan guru yang

dapat memotivasi siswa untuk menulis cerpen, siswa yang menyatakan kurang

senang sebanyak 8 siswa atau sebesar 20% dari jumlah keseluruhan siswa.

Sedangkan siswa yang menyatakan tidak senang dan sangat tidak senang, tidak

84
85

ada. Hal ini dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan oleh guru dalam

pembelajaran dapat memotivasi siswa dalam menulis cerpen.

Berkaitan dengan metode pembelajaran, pada aspek ini diperoleh siswa

yang sangat paham dengan materi pembelajaran menulis cerpen sebanyak 13

siswa atau sebesar 32,5% dari jumlah keseluruhan siswa, 21 siswa atau 52,5%

dapat memahami materi pembelajaran menulis cerpen. Ada 10 siswa atau sebesar

25% siswa yang kurang memahami materi pembelajaran menulis cerpen,

sedangkan tidak dapat memahami meteri pembelajaran menulis cerpen tidak ada.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa memahami materi

pembelajaran menulis cerpen dengan baik walaupun ada siswa yang menyatakan

kurang setuju.

Pada aspek yang keenam ini, sebanyak 11 siswa atau sebesar 27,5%

menyatakan sangat senang terhadap media yang digunakan guru untuk menulis

cerpen, 23 siswa atau sebesar 57,5% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan

setuju. Sebanyak 6 siswa atau 15% menyatakan kurang senang terhadap media

yang digunakan guru dalam pembelajaran menulis cerpen. Sedangkan siswa yang

menyatakan tidak senang dan sangat tidak senang tidak ada. Perolehan hasil ini

berarti sebagian besar siswa senang terhadap media yang digunakan oleh guru

dalam membelajarkan cerpen.

Aspek berikutnya yaitu aspek yang ketujuh. Pada aspek ini diperoleh 11

siswa atau sebesar 27,5% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan bahwa

suasana kelas sangat mempengaruhi pemahaman siswa mengenai materi menulis

cerpen, 16 siswa atau sebesar 40% menyatakan suasana kelas mempengaruhi

85
86

pemahaman siswa terhadap materi menulis cerpen, 11 siswa atau 27,5%

menyatakan bahwa suasana kelas kurang mempengaruhi pemahaman siswa

terhadap materi pembelajaran. Sedangkan 2 siswa atau sebesar 5% menyatakan

tidak setuju bahwa suasana kelas dapat mempengaruhi pemahaman siswa terhadap

materi pembelajaran. Dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa siswa

menginginkan suasana kelas yang nyaman pada saat menulis cerpen, meskipun

ada beberapa siswa yang menyatakan tidak terpengaruh dengan suasana kelas.

Aspek berikutnya masih berkaitan dengan metode yang digunakan oleh

guru dalam pembelajaran menulis cerpen. Pada aspek ini diperoleh 18 siswa atau

sebesar 45% menyatakan bahwa mereka sangat senang terhadap metode yang

menarik perhatian siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Sebanyak 15 siswa

atau 37,5% menyatakan bahwa mereka merasa senang terhadap metode yang

dapat menarik perhatian siswa dalam pembelajaran, 7 siswa atau sebesar 17,5%

menyatakan bahwa kurang senang terhadap penggunaan metode yang dapat

menarik perhatian siswa. Sedangkan siswa yang menyatakan tidak senang dan

sangat tidak senang tidak ada. Hal ini berarti siswa senang terhadap metode yang

dapat menarik perhatian mereka.

Selanjutnya aspek yang kesembilan, yaitu pendapat siswa mengenai

kebiasaan siswa dalam mengungkapkan ide, gagasan dan perasaannya ke dalam

sebuah cerpen banyak manfaatnya ada 14 siswa atau sebesar 35% menyatakan

mereka sangat setuju, 15 siswa atau sebesar 37,5% menyatakan setuju, sedangkan

sisanya yaitu 3 siswa atau sebanyak 7,5% menyatakan kurang setuju. Sedangkan

siswa yang menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju tidak ada. Dengan

86
87

demikian dapat disimpulkan bahwa kebiasaan mengungkapkan ide, gagasan, dan

perasaan ke dalam cerpen banyak manfaatnya.

Selain siswa senang terhadap metode dan media yang dihadirkan guru,

siswa juga merasa senang terhadap pembelajaran yang dilakukan guru. Sebanyak

10 siswa atau 25% yang menyatakan sangat senang, 21 siswa atau sebesar 52,5%,

dan sebanyak 9 siswa atau sebesar 22,5% menyatakan kurang senang terhadap

pembelajaran yang dilakukan guru (peneliti).

4.1.2.2.5 Hasil Dokumentasi Foto

Dokumentasi di dalam penelitian ini digunakan sebagai bukti otentik dari

kegiatan pembelajaran menulis cerpen telah dilakukan. Berikut merupakan

gambar yang menunjukkan fenomena pada saat menulis cerpen siklus I

Gambar 1. Aktivitas awal pembelajaran siklus I

Gambar di atas menunjukkan kondisi awal pembelajaran menulis cerpen

melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu siklus I. Pada gambar

87
88

tersebut di atas tampak guru atau peneliti sedang menjelaskan materi menulis

cerpen dan menunjukkan sebuah teks lagu yang digunakan sebagai media dalam

menulis cerpen. Siswa terlihat serius dalam mengikuti penjelasan yang

disampaikan oleh guru atau peneliti. Siswa tidak merasa takut diajar oleh guru

atau peneliti, mereka merasa lebih santai. Meskipun demikian, sebagian besar

siswa mengikuti penjelasan guru dengan baik. Tetapi ada beberapa siswa yang

tidak memperhatikan penjelasan guru, selalu memperhatikan orang yang

memotret sehingga mereka sering menunjukkan tingkah laku yang tidak

semestinya mereka lakukan.

Gambar 2. Aktivitas mengamati dan memperhatikan teks lagu siklus I

Pada gambar di atas menunjukkan siswa sedang mengamati dan

memperhatikan sebuah teks lagu yang digunakan sebagai media menulis cerpen.

Setelah guru atau peneliti menjelaskan materi tentang menulis cerpen dan

menunjukkan sebuah contoh cerpen yang dibuat berdasarkan teks lagu kemudian

88
89

guru membagikan sebuah teks lagu, siswa memperhatikan dan mengamati teks

lagu tersebut. Pada gambar di atas terlihat beberapa siswa yang sedang seriau

mengamati dan memperhatikan teks lagu, tetapi ada beberapa siswa yang tidak

mengamati dan memperhatikan teks lagu, siswa tersebut melihat keadaan di luar

kelas, ada pula yang memperhatikan orang yang sedang memotret. Hal ini

diharapkan tidak terjadi pada siklus berikutnya.

Gambar 3. Aktivitas Siswa Menulis Cerpen siklus I

Gambar di atas diambil pada saat siswa mengerjakan tugas dari guru yaitu

menulis cerpen dengan media teks lagu. Pada gambar tersebut, terlihat siswa

bersungguh-sungguh dalam menulis cerpen. Namun demikian, ada beberapa siswa

yang tidak segera memulai menulis cerpen. Mereka menunjukkan sikap yang

tidak semestinya. Ada yang bergurau dan asyik berbicara dengan temannya. Hal

ini diharapkan tidak terjadi pada siklus berikutnya.

89
90

Gambar 4. Aktivitas Guru Melakukan Bimbingan pada siklus I

Pada gambar 4 menunjukkan aktivitas guru yang sedang melakukan proses

bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis cerpen. Guru

atau peneliti berkeliling untuk melihat aktivitas siswa yang sedang menulis

cerpen. Kesulitan secara individu dibimbing secara individu tetapi apabila ada

beberapa siswa yang mengalami kesulitan yang sama hal itu dibahas secara

klasikal di kelas. Terlihat siswa menerima baik bimbingan yang diberikan oleh

guru. Hal ini diharapkan dapat memberikan masukkan bagi siswa untuk dapat

menciptakan hasil karya sastra yang berupa cerpen dengan baik.

4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II

Hasil penelitian siklus II ini akan membahas hasil tes dan nontes setelah

dilakukan perbaikan perencanaan pembelajaran melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu.

90
91

4.1.3.1 Hasil Tes Siklus II

Hasil tes siklus II adalah hasil tes menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu yang kedua setelah diadakan perbaikan-

perbaikan pembelajaran pada siklus I. Adapun kriteria penilaiannya masih sama,

yaitu meliputi tujuh aspek, (1) aspek tema dan amanat, (2) aspek tokoh dan

penokohan, (3) aspek alur, (4) aspek latar, (5) aspek diksi dan gaya bahasa, (6)

aspek sudut pandang, dan (7) aspek kesesuaian unsur-unsur pembangun cerpen.

Tabel 14 Hasil Menulis Cerpen pada Siklus II

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 85-100 5 433 15
2. Baik 70-84 24 1914 57,5 3082
X =
3. Cukup 60-69 10 677 25 40
4. Kurang 50-59 1 58 2,5 = 77,05
5. Sangat 0-49 - - -
Kurang
Jumlah 40 3082 100

Data pada tabel di atas menunjukkan keterampilan siswa kelas X SMA

Ngeri 1 Pemalang dalam menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu selama siklus II. Rata-rata skor yang dicapai sebesar

77,05 dan termasuk dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa target yang

ingin dicapai oleh peneliti (rata-rata klasikal 75) telah tercapai.

Perolehan hasil tes menulis cerpen pada siklus II dapat dilihat pada tabel di

atas. Pada tabel tersebut dapat dilihat siswa yang memperoleh nilai sangat baik

berjumlah 5 siswa atau sebanyak 15% dari jumlah keseluruhan siswa, siswa yang

mendapat nilai baik berjumlah 24 siswa atau sebanyak 57,5% dari jumlah

keseluruhan siswa. Siswa yang mendapat nilai cukup berjumlah 10 siswa atau

91
92

sebanyak 25% dari jumlah keseluruhan siswa, dan siswa yang mendapat nilai

kurang hanya 1 siswa atau 2,5% dari jumlah keseluruhan siswa, dan sangat kurang

tidak ada (0%). Berdasarkan perolehan hasil ini, dapat diartikan bahwa

keterampilan siswa SMA Negeri 1 Pemalang sudah dapat dikatakan baik karena

rata-rata skor yang diperoleh siswa dalam menulis cerpen pada siklus II ini sudah

berada dalam kategori baik.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram batang berikut ini.

60 57.5
50
40
persentase

30
25
20
15
10
2.5 0
0
1 2 3 4 5
kategori

Diagram batang 3 Hasil Menulis Cerpen Siklus II


Keterangan: 1=Sangat Baik, 2=Baik, 3=Cukup, 4=Kurang,
5=Sangat Kurang.

Diagram 3 menunjukkan batang yang paling tinggi adalah batang untuk

kategori baik yang berada pada angka 82,5%. Hal ini berarti keterampilan siswa

dalam menulis cerpen sebagian besar siswa sudah berada pada kategori baik.

Sisanya berada pada kategori sangat baik dan cukup. Batang tertinggi yang kedua

92
93

yaitu untuk kategori cukup yang berada pada angka 25%. Kategori sangat baik

berada pada angka 15% dan kategori kurang berada pada angka 2,5%, sedangkan

kategori kurang dan sangat kurang berada pada angka 0% (tidak ada yang

keterampilan menulis cerpen pada kategori kurang dan sangat kurang.

4.1.3.1.1 Perolehan Skor Aspek Tema dan Amanat Siklus II

Hasil penilaian tes pada aspek tema dan amanat dapat dilihat pada tabel 14

berikut.

Tabel 15 Perolehan Skor Aspek Tema dan Amanat

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 9-10 22 198 55 327
X =
2. Baik 6-8 18 139 45 40
3. Cukup 3-5 - - - = 8,18
4. Kurang 0-2 - - -

Jumlah 40 327 100

Data tabel 15 menunjukkan nilai rata-rata skor yang dicapai dalam aspek

tema dan amanat yaitu sebesar 8,18 atau termasuk dalam kategori baik. Hal ini

berarti keterampilan siswa dalam merumuskan tema dan amanat dalam menulis

cerpen sudah baik. Perolehan nilai dalam kategori sangat baik dicapai oleh 22

siswa atau sebesar 55% dari jumlah keseluruhan siswa. Kategori baik dicapai 18

siswa atau sebesar 45% dari jumlah keseluruhan siswa, siswa yang berada pada

kategori cukup dan kurang tidak ada.

Pada siklus II, siswa sudah mampu merumuskan tema dan amanat dalam

menulis cerpen. Hal ini merupakan suatu peningkatan yang baik. Seperti halnya

93
94

pada siklus I, pada siklus II ini pun tema dan amanat dapat mengambilnya dari

teks lagu yang digunakan media dalam menulis cerpen.

4.1.3.1.2 Perolehan Skor Aspek Alur Siklus II

Penilaian tes pada aspek alur masih difokuskan pada keterampilan siswa

dalam menciptakan alur yang menarik dan sesuai dengan teks lagu yang

digunakan sebagai media pembelajaran dalam menulis cerpen. Hasil penilaian tes

pada aspek alur dapat dilihat pada tabel 16 berikut.

Tabel 16 Perolehan Skor Aspek Alur

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 16-20 13 215 32,5 566
X =
2. Baik 11-15 24 321 60 40
3. Cukup 6-10 3 30 7,5 = 14,15
4. Kurang 0-5 - - -

Jumlah 40 566 100

Data tabel 16 menunjukkan nilai rata-rata skor yang dicapai dalam aspek

alur dalam menulis cerpen yaitu sebesar 14,15. hasil ini termasuk dalam kategori

baik, artinya keterampilan siswa dalam menciptakan alur yang menarik dan sesuai

dengan teks lagu yang digunakan sebagai media dalam pembelajaran menulis

cerpen sudah baik. Siswa yang memperoleh kategori nilai sangat baik sebanyak

13 siswa atau sebesar 32,5% dari jumlah keseluruhan siswa. Adapun siswa yang

memperoleh kategori nilai baik yaitu sebanyak 24 siswa atau sebesar 60% dari

jumlah keseluruhan siswa, siswa yang memperoleh kategori nilai cukup sebanyak

3 siswa atau sebesar 7,5% dari jumlah keseluruhan siswa, sedangkan siswa yang

berada pada kategori kurang tidak ada (0%).

94
95

4.1.3.1.3 Perolehan Skor Aspek Tokoh dan Penokohan Siklus II

Hasil penilaian tes pada aspek tokoh dan penokohan dapat dilihat pada

tabel 17 berikut

Tabel 17 Perolehan Skor Aspek Tokoh dan Penokohan

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 16-20 26 420 65
2. Baik 11-15 14 192 35 612
X =
3. Cukup 6-10 - - - 40
4. Kurang 0-5 - - - = 15,03

Jumlah 40 612 100

Data pada tabel 17 menunjukkan nilai rata-rata skor yang dicapai dalam

aspek tokoh dan penokohan yaitu sebesar 15,30 atau termasuk pada kategori baik.

Hal ini berarti siswa sudah mampu menentukan tokoh dan dapat menggambarkan

tokoh-tokohnya dengan sudah baik. Pada aspek tokoh dan penokohan sudah tidak

ada yang mendapat kategori nilai cukup dan kurang.

Perolehan nilai dalam kategori sangat baik dicapai oleh 26 siswa atau

sebesar 65% dari jumlah keseluruhan siswa, perolehan nilai dalam kategori baik

sebanyak 14 siswa atau sebesar 35% dari jumlah keseluruhan siswa, sedangkan

siswa yang memperoleh kategori nilai cukup dan kurang tidak ada (0%).

Pada aspek tokoh dan penokohan ini ada perubahan yang baik. Pada siklus

II ini, siswa tidak lagi mengalami kebingungan dalam menentukan tokoh dan

menggambarkan penokohannya.

4.1.3.1.4 Perolehan Skor Aspek Latar Siklus II

95
96

Penilaian tes pada aspek latar masih difokuskan pada ketepatan dalam

memilih latar sesuai dengan situasi dan kondisi dalam cerpen. Hasil penilaian tes

pada aspek latar dapat dilihat pada tabel 18 berikut.

Tabel 18 Perolehan Skor Aspek Latar

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 9-10 30 270 75 346
X =
2. Baik 6-8 10 76 25 40
3. Cukup 3-5 - - - = 8,65
4. Kurang 0-2 - - -

Jumlah 40 346 100

Data tabel 18 menunjukkan nilai rata-rata skor pada aspek latar yaitu

sebesar 8,65 atau termasuk dalam kategori baik. Pada aspek latar ini, sudah tidak

ada siswa yang berada pada kategori nilai cukup dan kurang. Adapun perincian

perolehan nilai tersebut adalah sebagai berikut: perolehan nilai dalam kategori

sangat baik dicapai oleh 30 siswa atau sebesar 75% dari jumlah keseluruhan

siswa, perolehan nilai dalam kategori baik dicapai oleh 10 siswa atau sebesar 25%

dari jumlah keseluruhan siswa, perolehan nilai pada kategori cukup dan kurang

tidak ada (0%).

Pada siklus II ini sebagian besar siswa sudah dapat memilih latar yang

sesuai dengan situasi dan kondisi sesuai dengan cerita yang dibuat siswa dalam

menulis cerpen.

4.1.3.1.5 Perolehan Skor Aspek Diksi dan Gaya Bahasa Siklus II

96
97

Penilaian tes pada aspek diksi dan gaya bahasa masih difokuskan pada

kesesuaian pemilihan diksi dan gaya bahasa dengan konteksnya. Hasil penilaian

tes pada aspek diksi dan gaya bahasa dapat dilihat pada tabel 19.

Tabel 19 Perolehan Skor Aspek Diksi dan Gaya Bahasa

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 9-10 9 81 22,5 318
X =
2. Baik 6-8 21 237 52,5 40
3. Cukup 3-5 - - - = 7,95
4. Kurang 0-2 - - -

Jumlah 40 318 100

Data pada tabel 18 menunjukkan nilai rata-rata skor yang dicapai dalam

aspek diksi dan gaya bahasa dalam menulis cerpen yaitu sebesar 7,95. Hasil ini

termasuk dalam kategori baik, artinya keterampilan siswa dalam memilih diksi

dan gaya bahasa yang sesuai dengan konteksnya sudah baik. Siswa yang

memperoleh kategori nilai sangat baik sebanyak 9 siswa atau sebesar 22,5% dari

jumlah keseluruhan siswa. Adapun siswa yang memperoleh kategori nilai baik

yaitu sebanyak 21 siswa atau sebesar 52,5% dari jumlah keseluruhan siswa,

sedangkan siswa yang memperoleh nilai dalam kategori cukup dan kategori

kurang tidak ada.

Pada aspek diksi dan gaya bahasa dalam menulis cerpen ini, sebagian

besar siswa sudah dapat menggunakan diksi dan gaya bahasa yang tepat. Pada

siklus II ini, sebagian besar siswa menggunakan diksi dan gaya bahasa yang

sesuai dengan konteks yang dibuatnya dalam menulis cerpen.

4.1.3.1.6 Perolehan Skor Aspek Sudut Pandang Siklus II

97
98

Hasil penilaian tes pada aspek sudut pandang dapat dilihat pada tabel 20

berikut.

Tabel 20 Perolehan Skor Aspek Sudut Pandang

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 9-10 22 198 55
2. Baik 6-8 18 141 45 339
X =
3. Cukup 3-5 - - - 40
4. Kurang 0-2 - - - = 8,48

Jumlah 40 339 100

Data tabel 20 menunjukkan nilai rata-rata skor yang dicapai dalam aspek

sudut pandang yaitu sebesar 8,48 atau termasuk dalam kategori baik. Hal ini

berarti keterampilan siswa dalam menggunakan sudut pandang dalam

menggambarkan tokoh dalam menulis cerpen sudah baik. Perolehan nilai dalam

kategori sangat baik dicapai oleh 22 siswa atau sebesar 55% dari jumlah

keseluruhan siswa. Kategori baik dicapai oleh 18 siswa atau sebesar 45% dari

jumlah keseluruhan siswa. Siswa yang berada pada kategori cukup dan kategori

kurang tidak ada.

Pada siklus II, siswa sudah mampu menggunakan sudut pandang yang

tepat dalam menggambarkan tokoh dalam menulis cerpen. Hal ini merupakan

suatu peningkatan yang baik. Dengan kata lain, tokoh-tokoh yang dihadirkan

dalam cerpen digambarkan dengan jelas.

98
99

4.1.3.1.7 Perolehan Skor Aspek Kepaduan Unsur-unsur Pembangun Cerpen

Siklus II

Hasil penilaian tes pada aspek kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen

dalam menulis cerpen dapat dilihat pada tabel 20 berikut.

Tabel 21 Perolehan Skor Aspek Kepaduan Unsur-unsur Pembangun Cerpen

No Kategori Rentang Frekuensi Bobot Persentase Rata-rata


Nilai Skor
1. Sangat Baik 16-20 14 228 35
2. Baik 11-15 23 316 57,5 574
X =
3. Cukup 6-10 3 30 7,5 40
4. Kurang 0-5 - - - = 14,35

Jumlah 40 574 100

Data pada tabel 21 menunjukkan nilai rata-rata skor yang dicapai dalam

aspek kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen yaitu sebesar 14,35 atau termasuk

pada kategori baik. Hal ini berarti keterampilan siswa dalam menulis cerpen

dengan unsur-unsur pembangunnya yang padu sudah baik.

Perolehan nilai dalam kategori yang sangat baik dicapai oleh 14 siswa atau

sebesar 35% dari jumlah keseluruhan siswa. Perolehan nilai dalam kategori baik

sebanyak 23 siswa atau sebesar 57,5% dari jumlah keseluruhan siswa, perolehan

nilai dalam kategori cukup dicapai oleh 3 siswa atau sebesar 7,5% dari jumlah

keseluruhan, sedangkan siswa yang memperoleh nilai dalam kategori kurang tidak

ada (0%).Pada aspek kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen sudah baik. Pada

siklus II ini, siswa tidak lagi mengalami kebingungan dalam menentukan salah

satu unsur pembangun cerpen dalam menulis cerpen.

99
100

4.1.3.2 Hasil Nontes Siklus II

Hasil penelitian nontes pada siklus II ini masih diperoleh dari data

observasi, jurnal, angket, wawancara, dan dokumentasi. Keempat hasil nontes

tersebut dijelaskan sebagai berikut.

4.1.3.2.1 Hasil Observasi Siswa Siklus II

Berdasarkan pengamatan peneliti, secara keseluruhan proses pembelajaran

menulis cerpen pada siklus II ini dapat dikatakan baik karena jumlah siswa yang

melakukan perilaku negatif telah berkurang. Pada siklus II, terdapat beberapa

perilaku siswa yang terdeskripsi melalui kegiatan observasi. Selama melakukan

kegiatan pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu, guru (peneliti) merasakan adanya perubahan pada prilaku siswa.

Pada saat guru menjelaskan materi tentang cerpen, sebagian siswa menunjukkan

perilaku yang positif dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui

metode latihan terbimbing dengan media teks lagu. Berdasarkan data yang

diperoleh sebagian besar siswa atau sebanyak 38 siswa atau sebesar 95% dari

jumlah keseluruhan siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik. Sisanya

sebanyak 2 siswa atau sebesar 5% dari jumlah keseluruhan siswa kurang

merespon penjelasan guru. Dari jumlah ini berarti terjadi peningkatan siswa yang

berperilaku positif. Siswa yang memperhatikan penjelasan guru berdasarkan

pengamatan peneliti siswa yang memperhatikan merupakan siswa yang pada

siklus I mendapat nilai baik, tetapi ada juga beberapa siswa yang pada siklus I

kurang memperhatikan di siklus II ini memperhatikan penjelasan guru.

100
101

Siswa yang aktif bertanya pada siklus II ini sebanyak 7 siswa atau sebesar

17,5% dari jumlah keseluruhan siswa dan yang tidak berani mengajukan

pertanyaan kepada peneliti yaitu sebanyak 33 siswa atau sebesar 82,5% dari

jumlah keseluruhan siswa. Siswa yang kurang berani mengajukan pertanyaan

kepada guru disebabkan kurang percaya diri, dan ada pula yang memang sudah

paham dengan materi menulis cerpen.

Sebanyak 36 siswa atau sebesar 90% dari jumlah keseluruhan siswa yang

aktif dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu. Sisanya sebanyak 4 siswa atau sebesar 10%

dari jumlah keseluruhan siswa yang tidak aktif dalam mengikuti pembelajaran

menulis cerpen. Mereka asyik bercanda dengan teman sebangkunya dan enggan

mempelajari teks lagu yang diberikan oleh guru sebagai media dalam

membelajarkan menulis cerpen.

Seperti halnya pada siklus I, hal yang paling penting dalam penelitian ini

adalah metode yang digunakan oleh guru dalam membelajarkan mengenai

menulis cerpen. Sebagian besar siswa atau sebanyak 37 atau sebesar 92,5% dari

jumlah keseluruhan siswa yang merespons positif metode yang digunakan oleh

peneliti, mereka merasa senang dapat bertanya langsung dengan guru mengenai

kesulitan-kesulitan siswa dalam menulis cerpen. Siswa lebih akrab dengan peneliti

karena pada siklus II ini merupakan pertemuan untuk ketiga kalinya sehingga

siswa tidak lagi merasa asing dengan guru. Sisanya 3 siswa atau sebesar 7,5% dari

jumlah keseluruhan siswa yang merasa kurang senang dengan metode yang

digunakan guru karena seolah-olah mereka begitu diawasi oleh guru sehingga

merasa cemas dan malu apabila yang dituliskannya salah. Dari data tersebut

berarti terjadi peningkatan siswa yang melakukan perilaku positif.

101
102

Dari data observasi dapat dilihat terjadinya peningkatan perilaku positif

siswa dalam menulis cerpen. Data tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 38

siswa atau sebesar 95% dari jumlah keseluruhan siswa yang merasa lebih

bersenang hati dalam menulis cerpen. Sisanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 5%

yang kurang bersenang hati dalam menulis cerpen. Hal ini disebabkan siswa

kurang berminat dalam menulis cerpen.

Sebanyak 13 siswa atau sebesar 32,5% dari jumlah keseluruhan siswa

yang dapat dengan cepat menyelesaikan tugas menulis cerpennya dengan baik.

Hal ini disebabkan karena mereka lebih terbiasa menulis cerpen dan lebih mudah

menuangkan kata-kata ke dalam cerpen. Sisanya 27 siswa atau sebesar 67,5% dari

jumlah keseluruhan siswa yang kurang begitu cepat dalam menyelesaikan tugas

menulis cerpen. Namun mereka dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan tepat

sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Dalam memberikan komentar terhadap pembacaan cerpen temannya di

depan kelas pada siklus II ini juga mengalami peningkatan. Pada siklus II ini

sebanyak 5 siswa atau sebesar 12,5% dari jumlah keseluruhan siswa yang berani

memberikan komentar terhadap pembacaan cerpen milik temannya. Sisanya

sebanyak 35 siswa atau 87,% dari jumlah keseluruhan siswa kurang berani

memberikan komentar terhadap hasil penulisan cerpen temannya. Hal tersebut

disebabkan siswa kurang berani mengungkapkan pendapatnya mengenai cerpen.

Proses pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu dapat berjalan dengan lancar. Siswa yang pada siklus I

melakukan perilaku negatif dalam siklus II ini lebih banyak berperilaku positif.

102
103

Suasana kelas terlihat lebih tertib daripada pada siklus yang ke II. Siswa yang

berperilaku negatif seperti sering bergurau dengan temannya, berbicara dengan

temannya, serta siswa yang sering mondar-mandir atau berjalan jalan pada saat

pembelajaran menulis cerpen berlangsung berkurang. Sebanyak 2 siswa atau

sebesar 5% dari jumlah keseluruhan siswa yang bergurau dan berbicara dengan

teman sebangkunya. Sisanya sebesar 38 siswa atau sebesar 95 dari jumlah

keseluruhan siswa. Dan siswa yang melakukan perilaku negatif yaitu mondar-

mandir atau jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas tidak ada.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan

perilaku siswa dalam mengikuti proses pembelajaran pada siklus II ini. Perilaku-

perilaku negatif siswa dapat dikurangi sehingga pembelajaran ini dapat berhasil

.
4.1.3.2.1.2 Hasil Observasi Kelas Siklus II

Berdasarkan hasil observasi kelas, secara keseluruhan keaktifan siswa

pada pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu siklus II ini sudah cukup baik. Begitu juga dengan keterampilan

guru atau peneliti dalam mengajarkan menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu. Kesungguhan siswa dalam mendengarkan

penjelasan guru pada siklus II ini sudah baik, siswa sudah aktif dalam mengikuti

pembelajaran.

Keaktifan siswa juga terlihat pada saat siswa menulis cerpen, mereka

terlihat serius dalam mengerjakannya. Kesungguhan siswa ini juga mencerminkan

perilaku yang baik dalam mengerjakan tugas. Suasana kelas pun sangat

mendukung, suasana yang tenang, tidak ramai sehingga siswa dapat menulis

cerpen dengan baik.

103
104

Keterampilan guru dalam membuka pelajaran, keterampilan menggunakan

metode latihan terbimbing dengan media teks lagu, keterampilan mengelola kelas,

keterampilan memberikan umpan balik atau bertanya sudah cukup baik.

Keterampilan guru dalam menjalin komunikasi dengan siswa dan keterampilan

guru memberikan motivasi dalam menulis cerpen juga sudah cukup baik. Hal ini

disebabkan guru sudah lebih mengenal siswa sehingga komunikasi guru dengan

siswa lebih baik daripada pada siklus I.

4.1.3.2.2 Hasil Jurnal Siklus II

Aspek yang ada dalam jurnal siswa siklus II masih sama dengan aspek

yang ada pada siklus I. Jurnal ini juga diisi setelah pembelajaran menulis cerpen.

Jurnal pada siklus II terdiri atas dua jurnal yaitu jurnal siswa dan jurnal guru.

Adapun hasil jurnal siklus II diuraikan sebagai berikut.

4.1.3.2.2.1 Jurnal Siswa Siklus II

Materi menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media

teks lagu merupakan materi yang disenangi siswa hampir seluruh siswa

menyatakan bahwa dengan materi tersebut materi dapat mengungkapkan

perasaan, pengalaman siswa. Selain itu siswa juga dapat melatih keterampilan

menulis mereka. Berdasarkan pendapat ini peneliti menilai bahwa metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu selain dapat meningkatkan keterampilan siswa

dalam menulis cerpen juga dapat menari minat siswa untuk terus menulis cerpen.

104
105

Pada aspek yang kedua mengenai kesulitan siswa dalam menulis cerpen

melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu. Pada siklus II ini

sudah banyak siswa yang tidak lagi mengalami kesulitan dalam menulis cerpen.

Namun dari jurnal yang diperoleh masih ada juga siswa yang masih mengalami

kesulitan dalam menulis cerpen. Kesulitan tersebut seperti siswa masih ada yang

kesulitan mengembangkan ide dan kurang dapat mengungkapkan ide yang ada

dalam pikiran mereka ke dalam cerpen. Pada dasarnya kesulitan-kesulitan tersebut

dapat diatasi dengan banyak latihan menulis cerpen. Guru hendaknya memberikan

motivasi pada siswa untuk membiasakan menulis cerpen selain di sekolah

sehingga siswa dapat terampil dalam menulis cerpen.

Aspek berikutnya adalah mengenai metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu dapat mempermudah siswa dalam menulis cerpen. Hampir

seluruh siswa berpendapat bahwa metode latihan terbimbing dengan media teks

lagu dapat mempermudah siswa dalam menulis cerpen. Menurut mereka dengan

metode ini siswa dapat menulis cerpen dengan baik karena kesulitan-kesulitan

yang dialami mereka bisa langsung ditanyakan pada guru dan teks lagu yang

digunakan sebagai media dalam menulis cerpen juga dapat membantu siswa

dalam menulis cerpen.

Berdasarkan jurnal siswa siklus II pada aspek yang ketiga mereka

berpendapat bahwa melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu

siswa dapat memahami materi menulis cerpen. Hal tersebut disebabkan siswa

merasa terbantu dengan adanya bimbingan yang dilakukan oleh guru serta media

yang digunakan dapat mempermudah siswa dalam menulis cerpen.

105
106

Pesan dan kesan yang diberikan oleh siswa yaitu semoga metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu tetap digunakan dalam membelajarkan

menulis cerpen. Siswa juga mengungkapkan kesannya yaitu bahwa menulis

cerpen dengan metode latihan terbimbing dengan media teks lagu lebih

menyenangkan dan dapat lebih memahami materi menulis cerpen.

4.1.3.2.2.2 Jurnal Guru Siklus II

Seperti yang dipaparkan di dalam jurnal siswa, minat siswa dalam

mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu sudah cukup baik. Siswa merasa senang menerima

pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media

teks lagu. Hal ini dapat terlihat ketika siswa menulis cerpen dengan serius.

Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen sudah

baik. Mereka tak lagi segan bertanya kepada guru apabila merasa kesulitan.

Perilaku negatif yang biasa dilakukan seperti bergurau dan jalan-jalan ketika

proses pembelajaran menulis cerpen sudah tidak lagi dilakukannya.

Fenomena-fenomena yang lain pada saat pembelajaran berlangsung adalah

ada siswa yang bertanya lagu-lagu lain, selain lagu yang digunakan oleh guru

dapat dijadikan sebagai media dalam menulis cerpen atau tidak, dan guru pun

langsung menjawab pertanyaan tersebut kalau lagu-lagu selain yang digunakan

oleh guru sebagai media dalam menulis cerpen dapat digunakan siswa sebagai

media dalam menulis cerpen.

4.1.2.2.3 Hasil Wawancara Siklus II

106
107

Pada siklus II ini jumlah siswa yang diwawancarai ada 4 siswa (1 siswa

yang mendapat nilai baik, 1 siswa yang mendapat nilai baik, dan 2 siswa yang

mendapat nilai cukup). Wawancara ini dilakukan tiga hari setelah pembelajaran

menulis buku harian dilaksanakan

Empat siswa yang diwawancarai menyatakan senang terhadap

pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Siswa yang mendapat nilai baik

menyatakan bahwa dengan metode latihan terbimbing dengan media teks lagu

dapat mempermudah siswa dalam menulis cerpen, media yang digunakan juga

sangat cocok dengan pengalaman pribadinya dan dari teks lagu tersebut ia hanya

mengembangkan saja sehingga alurnya jelas.

Pada pertanyaan yang kedua, dari keempat siswa yang diwawancarai

menyatakan mampu memahami materi yang diajarkan oleh guru. Satu siswa yang

mendapat nilai cukup menyatakan mampu memahami materi tetapi siswa tersebut

sulit untuk mengungkapkan pikirannya dengan kata-kata.

Aspek wawancara yang ketiga adalah motivasi yang didapatkan siswa

setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu yang digunakan oleh guru dalam

menyampaikan materi. Menurut mereka pelajaran yang sekarang lebih

menyenangkan, karena teks lagu yang digunakan sebagai media dalam

pembelajaran dapat memberikan hiburan. Dari keempat siswa tersebut

menyatakan termotivasi untuk belajar menulis setelah mengalami proses

pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media

teks lagu.

107
108

Aspek yang keempat adalah mengenai teks lagu yang digunakan oleh guru

dapat memberikan ide untuk membuat cerpen. Dari keempat siswa siswa yang

diwawancarai menyatakan bahwa teks lagu yang digunakan sebagai media dalam

pembelajaran menulis cerpen dengan metode latihan terbimbing karena dalam

teks lagu tersebut merupakan pengalaman yang pernah dialami siswa.

Aspek yang kelima yaitu mengenai pengaruh suasana kelas terhadap

proses pembelajaran di kelas. Keempat siswa yang diwawancarai menyatakan

bahwa suasana kelas sangat terpengaruh terhadap proses pembelajaran. Apabila

suasana kelas ramai maka siswa tidak bisa berkonsentrasi menulis cerpen.

Aspek wawancara selanjutnya yaitu mengenai metode latihan terbimbing

dapat membantu siswa dalam menulis cerpen. Dari keempat siswa yang

diwawancarai menyatakan bahwa mereka sangat terbantu, karena mereka dapat

menanyakan kesulitan yang dialami kepada guru.

Aspek yang ketujuh dan kedelapan yaitu mengenai kesulitan siswa dalam

menulis cerpen. Semua siswa yang diwawancarai menyatakan masih merasa

kesulitan dalam membuat cerpen. Kesulitan yang mereka hadapi rata-rata

mengenai pembuatan cerita yang lebih menarik.

Aspek yang kesembilan yaitu mengenai metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu yang digunakan oleh guru dapat membantu mengatasi kesulitan

yang dihadapi siswa. Dari keempat siswa yang diwawancarai menyatakan bahwa

metode tersebut dapat mengatasi kesulitan yang mereka hadapi dalam menulis

cerpen.

108
109

Aspek yang terakhir yaitu mengenai manfaat yang mereka dapatkan

setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu. Manfaat yang mereka dapatkan adalah dapat

membantu mereka memahami materi cerpen dengan baik dan mempermudah

mereka dalam menulis cerpen. Selain itu mereka menyatakan bahwa mereka

setelah pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu, mereka lebih senang mengungkapkan pengalaman mereka ke

dalam sebuah cerpen.

4.1.2.2.4 Hasil Angket Siklus II

Angket di dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui minat siswa

dalam pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu. Hasil angket pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 22. Perolehan Angket siklus I

Aspek SS S KS TS STS
ke
∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
1 29 72,5 11 27,5 - - - - - -
2 14 35 25 62,5 1 2,5 - - - -
3 13 32,5 26 65 1 2,5 - - - -
4 21 52,5 17 42.5 2 5 - - - -
5 16 40 22 55 2 5 - - - -
6 14 35 24 60 2 5 - - - -
7 14 35 16 40 10 25 - - - -
8 22 55 16 40 2 5 - - - -
9 18 45 20 50 2 5 - - - -
10 11 27,5 24 60 5 12,5 - - - -

Pada tabel 22 dapat dilihat, jumlah siswa yang memilih SS (Sangat

Setuju), S (Setuju), KS (Kurang Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat

109
110

Tidak Setuju) pada setiap aspek angket. Pada aspek pertama ada 2 siswa atau

sebesar 60% dari jumlah keseluruhan siswa yang menyatakan sangat setuju bahwa

keterampilan menulis dapat meningkatkan kreativitas dalam belajar. Sebanyak 11

siswa atau sebesar 27,5% dari jumlah keseluruhan siswa yang menyatakan setuju.

Siswa menyatakan kurang setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju tidak ada.

Hal ini berarti bahwa kebanyakan siswa menyetujui bahwa keterampilan menulis

dapat meningkatkan kreativitas.

Pada aspek kedua, sebanyak 14 siswa atau sebesar 35% dari jumlah

keseluruhan siswa yang menyatakan bahwa mereka merasa sangat senang

terhadap cara guru menerangkan, 25 siswa atau sebesar 57,5% dari jumlah

keseluruhan siswa menyatakan senang, dan 1 siswa atau 2,5% dari jumlah

keseluruhan siswa merasa kurang senang. Siswa yang menyatakan tidak senang

sekali tidak ada (0%). Hal ini berarti sebagian besar siswa merasa senang terhadap

cara guru menerangkan keterampilan menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu.

Pada aspek yang ketiga, siswa yang sangat senang terhadap metode

pembelajaran yang digunakan oleh guru, ada 13 siswa atau sebanyak 32,5% dari

jumlah keseluruhan siswa. Sebanyak 26 siswa atau sebesar 65% dari jumlah

keseluruhan siswa yang menyatakan senang terhadap metode yang digunakan

guru. Hanya 1 siswa atau 2,5% dari jumlah keseluruhan siswa yang menyatakan

kurang senang terhadap metode yang digunakan guru dalam pembelajaran.

Sedangkan siswa yang menyatakan tidak senang dan sangat tidak senang tidak

ada (0%). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa merasa senang

terhadap metode yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran menulis cerpen.

110
111

Pada aspek keempat ini diperoleh data, sebanyak 21 siswa atau sebesar

52,5% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan sangat senang terhadap metode

yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran yang dapat memotivasi siswa

untuk menulis cerpen. Sebanyak 17 siswa atau sebesar 42,5% dari jumlah

keseluruhan siswa menyatakan bahwa mereka senang terhadap metode yang

digunakan guru yang dapat memotivasi siswa untuk menulis cerpen, siswa yang

menyatakan kurang senang sebanyak 2 siswa atau sebesar 5% dari jumlah

keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang menyatakan tidak senang dan sangat

tidak senang terhadap metode yang digunakan guru yang dapat memotivasi siswa

untuk menulis cerpen, tidak ada (0%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa metode

yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran dapat memotivasi siswa dalam

menulis cerpen.

Berkaitan dengan metode pembelajaran, pada aspek ini diperoleh siswa

yang sangat paham dengan materi pembelajaran menulis cerpen, sebanyak 16

siswa atau sebesar 32,5% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan sangat

setuju, sebanyak 22 siswa atau sebesar 55% dari jumlah keseluruhan siswa dapat

memahami materi pembelajaran menulis cerpen. Ada 2 siswa atau sebesar 2,5%

siswa yang kurang memahami materi pembelajaran menulis cerpen, sedangkan

siswa yang tidak dapat memahami meteri pembelajaran menulis cerpen tidak ada

(0%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa memahami materi

pembelajaran menulis cerpen dengan baik walaupun ada siswa yang menyatakan

kurang setuju.

Pada aspek yang keenam ini, sebanyak 14 siswa atau sebesar 35% dari

jumlah keseluruhan siswa menyatakan sangat senang terhadap media yang

111
112

digunakan guru untuk menulis cerpen, sebanyak 24 siswa atau sebesar 60% dari

jumlah keseluruhan siswa menyatakan setuju. Sebanyak 2 siswa atau sebesar 5%

dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan kurang senang terhadap media yang

digunakan guru dalam pembelajaran menulis cerpen. Sedangkan siswa yang

menyatakan tidak senang dan sangat tidak senang sekali tidak ada (0%).

Perolehan hasil ini berarti sebagian besar siswa senang terhadap media yang

digunakan oleh guru dalam membelajarkan cerpen.

Aspek berikutnya yaitu aspek yang ketujuh. Pada aspek ini diperoleh 14

siswa atau sebesar 35% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan bahwa

suasana kelas sangat mempengaruhi pemahaman siswa mengenai materi menulis

cerpen, 16 siswa atau sebesar 40% menyatakan suasana kelas mempengaruhi

pemahaman siswa terhadap materi menulis cerpen, sebanyak 10 siswa atau

sebesar 25% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan bahwa suasana kelas

kurang mempengaruhi pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.

Sedangkan siswa yang menyatakan tidak setuju bahwa suasana kelas dapat

mempengaruhi pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Dari data

tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa siswa menginginkan suasana kelas yang

nyaman pada saat menulis cerpen, meskipun ada beberapa siswa yang menyatakan

tidak terpengaruh dengan suasana kelas.

Aspek berikutnya masih berkaitan dengan metode yang digunakan oleh

guru dalam pembelajaran menulis cerpen. Pada aspek ini diperoleh 22 siswa atau

sebesar 55% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan bahwa mereka sangat

senang terhadap metode yang menarik perhatian siswa pada saat pembelajaran

berlangsung. Sebanyak 16 siswa atau 40% dari jumlah keseluruhan siswa

112
113

menyatakan bahwa mereka merasa senang terhadap metode yang dapat menarik

perhatian siswa dalam pembelajaran, sebanyak 2 siswa atau sebesar5% dari

jumlah keseluruhan siswa menyatakan bahwa kurang senang terhadap

penggunaan metode yang dapat menarik perhatian siswa. Sedangkan siswa yang

menyatakan tidak senang dan sangat tidak senang tidak ada. Hal ini berarti siswa

senang terhadap metode yang dapat menarik perhatian mereka.

Selanjutnya aspek yang kesembilan, yaitu pendapat siswa mengenai

kebiasaan siswa dalam mengungkapkan ide, gagasan dan perasaannya ke dalam

sebuah cerpen banyak manfaatnya, ada 18 siswa atau sebesar 45% dari jumlah

keseluruhan siswa menyatakan bahwa mereka sangat setuju. Sebanyak 20 siswa

atau sebesar 50% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan setuju, sedangkan

sisanya yaitu 2 siswa atau sebanyak 5% dari jumlah keseluruhan siswa

menyatakan kurang setuju. Sedangkan siswa yang menyatakan tidak setuju dan

sangat tidak setuju tidak ada (0%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

kebiasaan mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaan ke dalam cerpen banyak

manfaatnya.

Selain siswa senang terhadap metode dan media yang dihadirkan guru

dalam pembelajaran menulis cerpen, siswa juga merasa senang terhadap

pembelajaran yang dilakukan guru. Sebanyak 11 siswa atau 27,5% dari jumlah

keseluruhan siswa yang menyatakan sangat senang, sebanyak 24 siswa atau

sebesar 60% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan senang, dan sebanyak 5

siswa atau sebesar 12,5% dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan kurang

senang terhadap pembelajaran yang dilakukan guru (peneliti). Sedangkan siswa

yang menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju tidak ada (0%). Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa siswa senang terhadap pembelajaran yang

dilakukan guru.

113
114

4.1.3.2.4 Dokumentasi Foto

Pada siklus II ini, pengambilan foto difokuskan pada kegiatan selama

proses pembelajaran menulis cerpen yang berupa aktivitas menulis cerpen pada

siklus II, aktivitas guru mengadakan latihan terbimbing, dan aktivitas siswa yang

sedang membacakan cerpen di depan kelas.

Gambar 5. Aktivitas Awal Pembelajaran Siklus II

Gambar di atas diambil pada saat siswa mendengarkan penjelasan guru,

yaitu pada saat guru menjelaskan kesulitan-kesulitan pembelajaran pada siklus I

dan mengevaluasi kegiatan pada siklus I. Pada gambar tersebut sebagian besar

siswa sudah menunjukkan perilaku yang positif, yaitu memperhatikan penjelasan

guru dengan seksama, tetapi masih ada sebagian kecil dari jumlah siswa yang

masih menunjukkan perilaku yang negatif.

114
115

Gambar 6. Aktivitas Menulis Cerpen Siklus II

Gambar tersebut menunjukkan aktivitas siswa pada saat mengerjakan

tugas dari guru, yaitu menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu pada siklus II. Kegiatan ini diambil sebagai penilaian tes menulis

cerpen pada siklus II. Berdasarkan gambar tersebut, siswa tampak segera menulis

cerpen dengan sungguh-sungguh. Tidak ada lagi siswa yang terlihat menunjukkan

perilaku negatif dalam menulis cerpen seperti yang terjadi pada siklus I. Semua

siswa terlihat serius dan mengerjakan tugas menulis cerpen, dilakukan sendiri,

tidak mencontoh pekerjaan temannya. Hal ini merupakan peningkatan dari siswa

yaitu adanya perubahan perilaku yang positif.

115
116

Gambar 7. Aktivitas Guru Membimbing Siswa Menulis Cerpen Siklus II

Pada gambar 7 menunjukkan aktivitas guru dalam memberikan latihan

terbimbing kepada siswa. Seperti pada siklus I guru berkeliling untuk melihat

aktivitas siswa dalam menulis cerpen. Siswa yang bertanya kepada guru

jumlahnya meningkat daripada pada siklus I. Siswa sudah mulai akrab dengan

guru sehingga kesulitan-kesulitan yang dihadapi langsung ditanyakan pada guru.

Gambar 8. Aktivitas Siswa membacakan Cerpen Siklus II

116
117

Gambar tersebut menunjukkan aktivitas siswa yang sedang membacakan

hasil cerpen yang ditulisnya di depan kelas. Siswa yang lain mendengarkan

pembacaan cerpen tersebut, dan memperhatikan cerpen hasil karya temannya agar

dapat dinilai atau dikomentari. Dalam kegiatan ini suasana kelas sedikit ramai

karena cerpen yang dibacakan di depan kelas merupakan pengalaman siswa

kebanyakan temannya juga sudah mengetahuinya.

4.2 Pembahasan

Pembahasan dalam skripsi ini meliputi pembahasan mengenai peningkatan

keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang

setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu dan perubahan perilaku siswa tersebut.

Pembahasan ini didasarkan pada hasil pratindakan, hasil tindakan siklus I, dan

hasil tindakan siklus II.

4.2.1 Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Siswa Kelas X-7 SMA

Negeri 1 Pemalang

Sebelum pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu dilakukan, terlebih dahulu dilakukan tes pratindakan. Tes

ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi awal keterampilan siswa

kelas X7 SMA Negeri 1 Pemalang dalam menulis cerpen. Hasil pratindakan ini

dianalisis dan diperoleh sebuah simpulan bahwa keterampilan menulis cerpen

siswa kelas X7 SMA Negeri 1 Pemalang masih kurang memuaskan. Hal ini

ditunjukkan dengan nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 61,30.

117
118

keterampilan siswa dalam menentukan tema dan amanat, membuat alur,

menentukan tokoh dan penokohan, menentukan latar, menggunakan diksi dan

gaya bahasa, menentukan sudut pandang, dan keterpaduan unsur-unsur dalam

cerpen termasuk dalam kategori cukup.

Setelah peneliti melihat kondisi awal keterampilan siswa menulis cerpen

melalui hasil pratindakan tersebut, maka peneliti melakukan pembelajaran

menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.

Setelah dilakukan pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu pada siklus I, keterampilan menulis cerpen

siswa mengalami peningkatan sebesar 11,94%. Nilai rata-rata yang dicapai pada

siklus I sebesar 68,62 yang berarti bahwa pada siklus I keterampilan menulis

cerpen siswa sudah cukup baik. Hal ini juga ditandai dengan peningkatan

penguasaan aspek tema dan amanat sebesar 1,35%, peningkatan penguasaan aspek

alur sebesar 1,12%, peningkatan penguasaan aspek tokoh dan penokohan, sebesar

1,93, peningkatan penguasaan aspek latar sebesar 0,20%, peningkatan penguasaan

aspek diksi dan gaya bahasa sebesar 0,43%, peningkatan penguasaan aspek sudut

pandang sebesar 0,20%, dan peningkatan penguasaan aspek kepaduan unsur-unsur

pembangun cerpen sebesar 1,70%. Meskipun pembelajaran siklus I telah

dioptimalkan perencanaan dan pelaksanaannya melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu, namun hasil tes yang diperoleh siswa pada siklus ini

belum memuaskan dan belum memenuhi target. Hal ini karena sebagian besar

siswa masih mengalami kesulitan menulis cerpen terutama dalam

mengembangkan kerangka cerpen yang ada dalam teks lagu dan menuangkan ide

yang ada dalam pikiran mereka.

118
119

Setelah dilaksanakan pembelajaran melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu pada siklus II dengan tema yang masih sama, ternyata

kesulitan siswa dalam mengembangkan kerangka cerpen dan mengungkapkan ide

ke dalam sebuah cerpen dapat diatasi. Dan hasil siklus II mengalami peningkatan

dari hasil tes siklus I, peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 23. Perolehan Nilai Rata-Rata dan Peningkatan Keterampilan Menulis


Cerpen pada Pratindakan, Siklus I, dan Siklus II

Aspek Nilai Rata-rata Kelas Peningkatan


PT SI SII PT – (%) SI- (%) PT- (%)
SI SII SII
1 6,50 7,85 8,18 1,35 20,77 0,33 4,20 1,68 20,54
= 65 = 79 = 82
2 11,78 12,90 15,30 1,12 9,51 2,40 18,60 3,52 23,01
= 60 = 65 = 77
3 11,75 13,68 14,15 1,93 16,43 0,47 3,44 2,40 16,96
= 59 = 69 = 71
4 7,03 7,23 8,65 0,20 2,84 1,42 19,64 1,62 18,73
= 70 = 72 = 87
5 6,15 6,58 7,95 0,43 6,99 1,37 20,82 1,80 22,64
= 62 = 66 = 80
6 7,10 7,30 8,48 0,20 2,82 1,18 16,16 1,38 16,27
= 71 = 73 = 85
7 11,38 13,08 14,35 0,70 6,15 1,27 9,71 2,97 20,70
= 60 = 65 = 72
Nilai 61,30 68,62 77,05 7,32 11,94 8,43 12,29 15,75 20,44
Rata-
= 61 = 69 = 77
rata

119
120

Keterangan: PT = Pratindakan
SI = Siklus I
SII = Siklus II
1 = Tema dan Amanat
2 = Alur
3 = Tokoh dan Penokohan
4 = Latar
5 = Diksi dan Gaya Bahasa
6 = Sudut Pandang
7 = Kepaduan Unsur-unsur Pembangun Cerpen

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa keterampilan siswa setiap aspek

penilaian menulis cerpen mengalami peningkatan. Uraian tabel tersebut dijelaskan

secara rinci sebagai berikut.

Pada hasil pratindakan, skor rata-rata kelas mencapai 63,19 termasuk

dalam kategori cukup. Skor rata-rata ini berasal dari jumlah rata-rata masing-

masing aspek yang dinilai. Pada pratindakan, perolehan nilai rata-rata kelas aspek

tema dan amanat sebesar 65 (termasuk kategori cukup), aspek alur sebesar 58,9

(termasuk kategori kurang), aspek tokoh dan penokohan sebesar 58,75 (termasuk

kategori kurang), aspek latar sebesar 70,3 (termasuk kategori cukup), aspek diksi

dan gaya bahasa sebesar 61,5 (termasuk kategori cukup), aspek sudut pandang

sebesar 71 (termasuk kategori cukup), dan aspek kepaduan unsur-unsur

pembangun cerpen sebesar 63,19 (termasuk kategori cukup). Keterampilan siswa

dalam menulis cerpen masih rendah disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor

internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini dapat dilihat pada keterampilan

siswa dalam aspek bahasa dan nonkebahasaan yang masih kurang. Hal ini dapat

dilihat pada hasil tes yang belum menunjukkan hasil yang memuaskan (belum

mencapai kategori baik). Adapun faktor eksternal berasal dari pola pembelajaran

120
121

guru yang masih tradisional dan kurang bervariasi. Pola pembelajaran yang lebih

mengutamakan teori, ceramah, monoton, dan terkesan hanya mengejar materi

pelajaran tanpa pertimbangan pengalaman yang akan didapatkan siswa dalam

pembelajaran.

Selanjutnya, hasil tes menulis cerpen siklus I dengan rata-rata skor klasikal

mencapai 69,7 dan termasuk kategori cukup. Hasil ini mengalami peningkatan

sebesar 7,32% dari hasil pratindakan. Meskipun hasil ini sudah mengalami

peningkatan, tetapi nilai rata-rata ini belum mencapai target nilai yang telah

ditetapkan. Skor ini juga diperoleh dari penjumlahan tujuh aspek penilaian.

Perolehan aspek tema dan amanat sebesar 78,5 (termasuk kategori baik), aspek

alur sebesar 67,5 (termasuk kategori cukup), aspek tokoh dan penokohan sebesar

68,4 (termasuk kategori baik), aspek latar sebesar 72,3 (termasuk kategori cukup),

aspek diksi dan gaya bahasa sebesar 65,8 (termasuk kategori cukup), aspek sudut

pandang sebesar 73 (termasuk kategori cukup), dan aspek kepaduan unsur-unsur

pembangun cerpen sebesar 65,4 (termasuk kategori baik). Adapun peningkatan

tiap aspek penilaian siklus I terhadap nilai rata-rata tiap aspek penilaian

pratindakan yaitu (1) aspek tema dan amanat meningkat sebesar 20,77% dari skor

pratindakan, (2) aspek alur meningkat sebesar 9,51% dari skor pratindakan, (3)

aspek tokoh dan penokohan meningkat sebesar 16,43% dari skor pratindakan, (4)

aspek latar meningkat sebesar 2,84% dari skor pratindakan, (5) aspek diksi dan

gaya bahasa meningkat sebesar 6,99% dari skor pratindakan, (6) aspek sudut

pandang meningkat sebesar 2,82% dari skor pratindakan, dan aspek kepaduan

unsur-unsur pembangun cerpen meningkat sebesar 14,94% dari skor pratindakan.

121
122

Nilai pada aspek menulis cerpen siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang

semua mengalami peningkatan dari hasil pratindakan. Pada aspek tema dan

amanat, siswa sudah bisa mengaplikasikan tema dan amanat berdasarkan teks lagu

yang digunakan sebagai media sudah cukup baik, walaupun ada beberapa siswa

yang menyimpang dari tema yang telah ada dalam teks lagu. Pada aspek alur

siswa sudah banyak mengalami peningkatan karena alur dalam menulis cerpen

sudah ada, jadi siswa lumayan tidak mengalami kesulitan. Aspek tokoh dan

penokohan siswa juga sudah dapat menghadirkan tokoh dengan karakternya yang

menarik, namun masih ada beberapa siswa yang belum bisa menghadirkan tokoh

dengan karakternya yang menarik. Pada aspek latar siswa sudah dapat

menentukan latar yang cocok sesuai dengan situasi dan kondisi dalam cerpen yang

ditulisnya. Pada aspek diksi dan gaya bahasa siswa sudah dapat menggunakan

kata-kata yang sesuai dengan konteksnya. Pada aspek sudut pandang siswa sudah

bisa menggunakan kata ganti untuk menjelaskan tokoh dengan baik. Pada aspek

yang terakhir yaitu kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen siswa sudah cukup

baik dalam menulis cerpen, terbukti dengan hasil cerpen yang cukup menarik.

Berdasarkan pada uraian di atas, peningkatan skor rata-rata dari

pratindakan ke siklus I yang paling besar yaitu pada aspek yang kedua yaitu alur.

Hal ini terjadi karena pembuatan alur dalam menulis cerpen berdasarkan teks lagu

yang digunakan sebagai media dalam metode latihan terbimbing pembelajaran

menulis cerpen. Adapun peningkatan skor rata-rata dari pratindakan ke siklus I

yang paling kecil yaitu pada aspek sudut pandang, hal ini disebabkan siswa

mengabaikan aspek ini dan menganggapnya mudah.

122
123

Berikutnya, pada hasil tes menulis cerpen siklus II, diperoleh nilai rata-rata

kelas 78,8 dan termasuk dalam kategori baik. Pencapaian skor ini menunjukkan

bahwa pembelajaran menulis cerpen pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1

Pemalang dapat dikatakan berhasil karena sudah mencapai target yaitu berada

pada kategori baik. Dengan demikian tindakan siklus III, tidak perlu dilakukan.

Perolehan skor aspek tema dan amanat sebesar 81,8 (termasuk kategori

baik), aspek alur sebesar 76,5 (termasuk kategori baik), aspek tokoh dan

penokohan sebesar 70,75 (termasuk kategori baik), aspek latar sebesar 86,5

(termasuk kategori baik), aspek diksi dan gaya bahasa sebesar 79,5 (termasuk

kategori baik), aspek sudut pandang sebesar 84,8 (termasuk kategori baik), dan

aspek kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen sebesar 71,75 (termasuk kategori

cukup). Adapun peningkatan tiap aspek penilaian siklus II terhadap nilai rata-rata

tiap aspek penilaian siklus I yaitu (1) aspek tema dan amanat meningkat sebesar

4,20% dari skor siklus I, (2) aspek alur meningkat sebesar 18,60% dari skor

siklus I, (3) aspek tokoh dan penokohan meningkat sebesar 3,44% dari skor siklus

I, (4) aspek latar meningkat sebesar 19,64% dari skor siklus I, (5) aspek diksi dan

gaya bahasa meningkat sebesar 20,82% dari skor siklus I, (6) aspek sudut pandang

meningkat sebesar 16,16% dari skor siklus I, dan aspek kepaduan unsur-unsur

pembangun cerpen meningkat sebesar 12,29% dari skor siklus I. Peningkatan skor

rata-rata siklus I ke siklus II yang paling besar yaitu pada aspek diksi dan gaya

bahasa. Hal ini disebabkan karena pada siklus II ini siswa sudah mulai terbiasa

mengungkapkan idenya dan imajinasinya ke dalam cerpen, mereka semakin

terampil menggunakan kata-kata serta gaya bahasa yang tepat dalam menulis

123
124

cerpen. Adapun peningkatan skor rata-rata siklus I ke siklus II yang paling kecil

yaitu pada aspek tokoh dan penokohan hal ini disebabkan pada siklus I nilai tokoh

dan penokohan sudah berada pada kategori baik, jadi peningkatan pada siklus II

tidak terlalu besar.

Peningkatan keterampilan siswa dalam menulis cerpen merupakan bukti

bahwa pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu dapat meningkatkan kualitas, kreativitas, prestasi dan efektivitas

pembelajaran siswa dalam menulis cerita pendek serta dapat meningkatkan

apresiasi sastra siswa khususnya terhadap karya sastra yang berupa cerpen.

Peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1

Pemalang dari pratindakan, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada diagram

batang sebagai berikut

80
70
60
Nilai Rata-rata

50
40 77
69
30 61
20
10
0
PT SI S II

Diagram batang 4. Hasil Keterampilan Menulis Cerpen pada


Pratindakan, Siklus I, dan Siklus II
Keterangan: 1=Sangat Baik, 2=Baik, 3=Cukup, 4=Kurang,
5=Sangat Kurang.

124
125

4.2.2 Perubahan Perilaku Siswa Kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang dalam

mengikuti Pembelajaran Menulis Cerpen

Pembahasan selanjutnya yaitu mengenai perubahan perilaku siswa dalam

mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu pada siklus I dan siklus II. Perubahan perilaku tersebut

diperoleh dari observasi, jurnal, wawancara dan dokumentasi foto, yang

dipaparkan dalam uraian di bawah ini.

Dari hasil nontes yaitu melalui observasi dapat dilihat bahwa pada siklus I

siswa belum mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen dengan baik, masih

ada beberapa siswa yang melakukan perilaku negatif walaupun jumlahnya lebih

sedikit daripada siswa yang melakukan perilaku positif dalam mengikuti proses

pembelajaran tersebut. Hal ini dibuktikan dengan data pada hasil observasi siswa

yang tercatat ada 11 atau sebesar 27,5% dari jumlah keseluruhan siswa yang

berbicara dan bercanda dengan temannya pada saat proses pembelajaran menulis

cerpen. Sebanyak 8 siswa atau sebesar 20% dari jumlah keseluruhan siswa yang

mondar-mandir atau jalan-jalan untuk kepentingan yang tidak jelas pada saat

proses pembelajaran berlangsung.

Pada siklus II sudah ada perubahan perilaku siswa yaitu siswa sudah

mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen dengan baik dan dapat

menciptakan suasana belajar yang nyaman. Siswa terlihat sangat bersungguh-

sungguh dalam mengikuti penjelasan dari guru, dan mereka sudah lebih aktif

dalam mengikuti pelajaran dibandingkan pada siklus I. Perilaku negatif pada

siklus I, pada siklus II banyak berkurang. Siswa yang melakukan perilaku negatif

berbicara dan bercanda dengan temannya menurun dari 11 siswa atau sebesar

125
126

27,5% dari jumlah keseluruhan siswa menjadi 2 siswa atau sebesar 5% dari

jumlah keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang berjalan-jalan atau mondar-

mandir pada saat berlangsungnya proses pembelajaran tidak ada.

Berdasarkan hasil jurnal dari siklus I ke siklus II yaitu siswa semakin

senang terhadap metode latihan terbimbing dengan media teks lagu yang

dihadirkan guru (peneliti). Menurut sebagian besar dari jumlah siswa kelas X-7

SMA Negeri 1 Pemalang yang menyatakan bahwa metode tersebut dapat

mempermudah mereka dalam menulis cerpen karena kesulitan-kesulitan yang

mereka hadapi dapat diatasi dengan metode tersebut.

Berdasarkan hasil angket dari siklus I ke siklus II diperoleh hasil bahwa

sebagian dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan setuju bahwa metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu dalam menulis cerpen sangat menyenangkan

dan dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis cerpen. Selain itu

metode tersebut juga dapat memotivasi dan menumbuhkan minat bagi siswa untuk

menulis cerpen.

Berdasarkan hasil wawancara didapatkan hasil bahwa siswa senang dan

tertarik dengan pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu. Siswa juga dapat mengambil manfaat dari pembelajaran

tersebut, siswa semakin tahu banyak tentang cerpen dan bagaimana menulis

cerpen. Selain itu pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing

dengan media teks lagu siswa semakin berminat menulis cerpen.

Berdasarkan hasil dokumen foto siklus I ke siklus II yaitu siswa semakin

tertib dan aktif dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu. Dari hasil foto (gambar 3)

126
127

menunjukkan aktivitas saat menulis cerpen pada siklus I, terlihat masih ada siswa

yang melakukan perilaku negatif yaitu bercanda dengan temannya saat proses

belajar di kelas, sedangkan pada siklus II yang ditunjukkan pada gambar 6, siswa

terlihat sangat serius dalam menulis cerpen. Berdasarkan kedua gambar tersebut

dapat disimpulkan bahwa perilaku negatif siswa dalam mengikuti pembelajaran

menulis cerpen mengalami peningkatan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar menulis cerpen melalui

metode latihan terbimbing dengan media teks lagu mampu meningkatkan

keterampilan siswa dalam menulis cerpen. Selain itu, terdapat perubahan perilaku

yaitu dari perilaku negatif ke perilaku positif siswa dalam mengikuti proses

pembelajaran menulis cerita pendek.

127
120

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti menyimpulkan

sebagai berikut:

1. Keterampilan menulis cerpen siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang

mengalami peningkatan sebesar 20,44% setelah mengikuti pembelajaran

menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.

Hasil rata-rata tes menulis cerpen pratindakan sebesar 61 (hasil pembulatan

ke bawah dari 61,30) dan pada siklus I diperoleh hasil rata-rata sebesar 69

(hasil pembulatan ke atas dari 68,62) kemudian pada siklus II diperoleh hasil

rata-rata sebesar 77 (hasil pembulatan ke bawah dari 77,05) atau meningkat

sebesar 15,75% dari siklus I. Perolehan hasil rata-rata nilai tes menulis cerpen

ini menunjukkan bahwa pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1

Pemalang dapat meningkat dan berhasil.

2. Perilaku siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang setelah mengikuti

pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu mengalami perubahan ke arah positif. Perubahan tersebut

ditunjukkan dengan perilaku siswa yang lebih serius dan bersemangat dalam

mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen.

120
121

5.2 Saran

Berdasarkan simpulan hasil penelitian tersebut, peneliti memberikan saran

sebagai berikut.

1. Guru bahasa dan sastra Indonesia dapat menggunakan metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu dalam membelajarkan menulis cerpen

kepada siswa karena metode latihan terbimbing dengan media teks lagu dapat

meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerpen dan dapat

memotivasi siswa menulis cerpen.

2. Peneliti lain dapat melakukan penelitian yang serupa dengan metode yang

berbeda. Selain itu, penulis memberikan saran, sebelum melakukan

penelitian, peneliti lain hendaknya mempersiapkan segala sesuatu yang

berkaitan dengan proses penelitian dengan matang agar dalam melakukan

penelitian kesalahan-kesalahan teknis dapat diminimalisir.

121
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu penelitian tindakan

kelas, yang lazim disebut PTK. Dengan demikian, penelitian ini sifatnya berbasis

kelas, karena dilakukan dengan melibatkan komponen yang terdapat di dalam

proses belajar mengajar di dalam kelas, materi pelajaran, dan metode

pembelajaran

Tujuan dari penelitian ini tidak lain adalah untuk memperbaiki

pembelajaran menulis dan meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa

melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu. Diharapkan dari

penelitian ini hasil belajar dapat lebih maksimal.

Empat tahapan digunakan secara sistematis dalam proses penelitian ini,

dan diterapkan dalam dua siklus, yaitu proses tindakan siklus I dan proses

tindakan siklus II. Keempat tahap dalam sebuah PTK dapat digambarkan sebagai

berikut:
1. Perencanaan 2. Perencanaan

4. Refleksi Siklus I 2. Tindakan 4. Refleksi Siklus II 2. Tindakan

3. Pengamatan 3. Pengamatan

40
41

Namun dalam hal ini, peneliti memerlukan kajian awal berupa renungan

atau refleksi awal sebagai studi pendahuluan sebelum melakukan perencanaan

penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui semua gejala atau informasi

tentang situasi-situasi yang relevan dengan topik penelitian. Dengan demikian

dalam tahap perencanaan, uraian selengkapnya dijelaskan di bawah ini.

3.1.1 Proses Tindakan Siklus I

Proses penelitian tindakan kelas dalam siklus I terdiri dari empat tahap,

yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Proses penelitian tersebut

dapat diuraikan sebagai berikut:

3.1.1.1 Perencanaan

Tahap ini dimulai dengan refleksi awal. Kegiatan yang dilakukan berupa

renungan atau pemikiran terhadap wawancara dengan guru mata pelajaran Bahasa

dan Sastra Indonesia kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang. Kegiatan dilanjutkan

dengan perencanaan pembelajaran yang dilakukan sebagai upaya memecahkan

segala permasalahan yang dilakukan yang telah ditemukan pada refleksi awal, dan

segala hal yang perlu dilakukan pada tahap tindakan. Dengan adanya

perencanaan, tindakan pembelajaran yang dilakukan akan lebih terarah dan

sistematis.

Langkah-langkah proses perencanaan ini antara lain: (1) menyusun

rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisi langkah-langkah yang dilakukan

guru di samping bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka

implementasi tindakan perbaikan tindakan yang telah direncanakan, (2)


42

mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, seperti

media pembelajaran dan alat peraga, (3) mempersiapkan cara merekam dan

menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan, (4) melakukan

simulasi (bermain peran) pelaksanaan tindakan untuk menguji keterlaksanaan

rancangan, sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan diri dalam pelaksanaan

yang sebenarnya.

3.1.1.2 Tindakan

Tindakan yang dilakukan peneliti dalam meneliti proses pembelajaran

menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu pada

siklus I ini sesuai tindakan dengan perencanaan yang telah disusun.

Tindakan yang dilakukan peneliti secara garis besar adalah melaksanakan

proses pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu. Tindakan ini meliputi tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap

pelaksanaan, dan tahap tindak lanjut.

Tahap persiapan yaitu tahap mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan

proses pembelajaran. Tahap persiapan ini berupa kegiatan guru menyapa siswa,

menanyakan keadaan, memancing siswa menyampaikan hambatan yang dialami

saat proses pembelajaran menulis cerpen.

Tahap pelaksanaan yaitu tahap melakukan kegiatan pembelajaran menulis


cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu. Tahap ini
meliputi beberapa bagian, antara lain: (1) guru memberikan materi tentang unsur-
unsur pembangun cerpen, (2) guru memberikan langkah-langkah dalam menulis
cerpen, (3) guru memberikan teks lagu ”Dunia Milik Berdua” dinyanyikan oleh
Melly Goeslow, yang dapat digunakan untuk mempermudah menentukan tema
43

dan dapat juga untuk menentukan alur dengan teks lagu tersebut, (4) siswa
diminta untuk membuat cerpen dengan media teks lagu, (5) guru berkeliling untuk
memberikan bimbingan kepada siswa yaitu mengarahkan siswa untuk dapat
menemukan ide cerita dan merumuskannya ke dalam tema yang sudah ada dalam
teks lagu, mengarahkan siswa untuk memperhatikan tiap baris dalam lagu tersebut
yang dapat digunakan sebagai kerangka karangan dari jalan cerita, berdasarkan
lirik yang ada dalam teks lagu siswa diarahkan untuk dapat bermain dengan
imajinasinya untuk dapat mengembangkan kerangka karangan tersebut, siswa
diarahkan untuk menentukan siapa tokoh utamanya, apa masalahnya, siapa tokoh
antagonisnya, bagaimana latarnya dari mana awal ceritanya, dan bagaimana cerita
ditutup, (5) hasil pekerjaan siswa dikumpulkan, (6) salah satu siswa membacakan
hasil pekerjaan itu untuk dijadikan contoh, (7) siswa yang lain menanggapi hasil
pekerjaan temannya.

3.1.1.3 Pengamatan

Pengamatan atau yang sering disebut observasi dilakukan selam proses

pembelajaran berlangsung. Dalam pengamatan ini, akan diungkap segala

peristiwa yang berhubungan dengan pembelajaran, baik aktivitas siswa selama

melakukan kegiatan pembelajaran maupun respon siswa terhadap metode dan

media pembelajaran. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan nontes.

Dalam proses pengamatan ini, data diperoleh melalui beberapa cara, antara

lain (1) tes tertulis untuk mengetahui kemampuan menulis cerpen siswa serta

peningkatannya setelah melakukan selama dua siklus, (2) observasi siswa untuk

mengetahui semua perilaku atau aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran

berlangsung, (3) dokumentasi foto yang sangat penting sebagai laporan berupa

gambaran aktivitas siswa selama penelitian. Hal ini memperkuat data yang lain,
44

yakni sebagai pemerjelas dan pendukung data yang lain. Semua data tersebut

nantinya dijelaskan dalam bentuk deskripsi secara lengkap.

3.1.1.4 Refleksi

Refleksi di dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah terjadi,

apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan dengan tindakan

perbaikan yang telah dilakukan. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan

langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. Dengan kata lain refleksi

merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai

tujuan.

Penelitian dilakukan dengan melalui dua siklus. Siklus I bertujuan untuk

mengetahui kemampuan menulis cerpen pada tahap awal tindakan penelitian.

Siklus ini sekaligus digunakan dalam refleksi untuk melakukan siklus II. Siklus II

ini digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis cerpen setelah

dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar

yang didasarkan pada siklus I.

Pada tahap ini yang dilakukan oleh peneliti yaitu menganalisis hasil tes,

hasil observasi, hasil jurnal, hasil angket dan hasil wawancara. Setelah dianalisis

akan terlihat permasalahan atau muncul pemikiran baru yang memerlukan

tindakan baru, sehingga perlu perencanaan ulang dan tindakan ulang.

3.1.2 Proses Tindakan Siklus II

Proses tindakan pada siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I. perbaikan

pada proses pembelajaran siklus II terletak pada persiapan pembelajaran,

pengkondisian suasana pembelajaran agar lebih tenang dan konsentrasi, dan


45

pemilihan teks lagu yang lebih menarik. Langkah-langkah siklus II adalah

perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi atau evaluasi.

3.1.2.1 Perencanaan

Langkah-langkah proses perencanaan ini antara lain: (1) mengadakan

perbaikan rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan

dilakukan, dengan menekankan pada penjelasan tentang pentingnya menulis

cerpen. (2) menyusun pedoman pengamatan yaitu meliputi tes tertulis, observasi

siswa, wawancara, jurnal siswa dan jurnal guru, serta (3) menyusun rancangan

evaluasi program.

3.1.2.2 Tindakan

Tindakan yang dilakukan peneliti dalam meneliti proses pembelajaran

menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu pada

siklus II ini sesuai dengan tindakan dengan perencanaan yang telah disusun.

Tindakan yang dilakukan pada siklus II berbeda dengan tindakan siklus I

walaupun ada tindakan dalam siklus I yang tetap dilakukan pada siklus II. Ada

beberapa perubahan antara lain sebelum siswa memulai menulis cerpen,

dijelaskan terlebih dahulu kesalahan-kesalahan yang terjadi pada siklus I,

kemudian siswa diberi arahan dan bimbingan agar dalam pelaksanaan kegiatan

menulis cerpen pada siklus II menjadi lebih baik. Teks lagu yang digunakan

dalam tindakan pada siklus II ini berbeda dengan teks lagu pada tindakan pada

siklus I. walaupun berbeda namun, teks lagu pada siklus II mempunyai

karakteristik yang sama dengan teks lagu pada tindakan pada siklus I. Teks lagu
46

yang digunakan pada tindakan pada siklus II yaitu “Cinta Sejati” yang

dinyanyikan oleh Ari Laso.

3.1.2.3 Pengamatan

Pengamatan terhadap siswa dilakukan selama pembelajaran berlangsung,

pada siklus I ini terlihat peningkatan hasil tes dan perilaku siswa. Perilaku siswa

yang diamati antara lain keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan keaktifan

siswa dalam menjawab pertanyaan, keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas,

cara siswa menyampaikan hasil tugasnya, dan cara siswa menyampaikan

tanggapan.

3.1.2.4 Refleksi

Refleksi ini diperoleh dengan memperhatikan hasil tes tertulis dan hasil

nontes yang meliputi observasi siswa, wawancara, jurnal guru, dan dokumentasi

foto. Pada siklus II ini, evaluasi dilakukan untuk mengetahui keefektifan

penggunaan metode latihan terbimbing dengan media teks lagu dalam menulis

cerpen dan untuk melihat peningkatan kemampuan menulis cerpen, serta untuk

mengetahui perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

3.2 Subjek Penelitian

Dalam penelitian tindakan kelas ini, subjek yang menjadi sasaran penelitian

yaitu kemampuan menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu pada siswa kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang. Penelitian ini
47

hanya dilakukan di salah satu kelas yaitu kelas X-7, yang jumlahnya 40 siswa,

yang terdiri atas 12 siswa putra, dan 28 siswa putri.

Dipilihnya kelas X-7 sebagai responden penelitian didasarkan beberapa

pertimbangan sebagai berikut:

1) Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Di dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) kelas X semester dua

terdapat beberapa kompetensi dasar, salah satunya yaitu kemampuan

mengungkapkan pengalaman diri sendiri atau orang lain ke dalam cerpen.

2) Hasil wawancara dengan Guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

kelas X

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran kelas X-7

diperoleh informasi bahwa siswa kelas X-7 memiliki kemampuan menulis

cerpen yang rendah. Proses pembelajaran menulis cerpen yang dilakukan

selama ini masih menggunakan metode ceramah tanpa bantuan media

pembelajaran.

3) Kelas X-7 memiliki keterampilan menulis cerpen rendah. Padahal menulis

merupakan tuntutan kurikulum. Maka diperlukan usaha untuk meningkatkan

keterampilan menulis tersebut salah satunya yaitu dengan mengubah metode

yang biasa digunakan oleh guru melalui metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu.

3.3 Variabel Penelitian

Variabel adalah gejala yang menjadi pusat peneliti untuk diteliti yang

menjadi atribut dari sekelompok objek yang mempunyai variasi antara satu
48

dengan yang lainnya dalam kelompok itu (Sugiyono 2003:21). Dalam penelitian

ini terdapat dua macam variabel, yaitu kemampuan menulis cerpen dan

penggunaan metode latihan terbimbing dengan media teks lagu.

3.4 Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas instrumen tes,

nontes, dan dokumentasi yang berbentuk foto.

3.4.1 Instrumen Tes

Bentuk instrumen tes yaitu tes menulis cerpen. Tes menulis cerpen adalah

tes yang menuntut siswa untuk menulis cerpen. Tes ini bertujuan mengetahui

kemampuan siswa dalam menulis cerpen melalui latihan terbimbing dengan media

teks lagu.

Alat tes menulis cerpen berupa lembar tugas berisi perintah kepada siswa

untuk menulis cerpen. Waktu yang digunakan untuk menulis cerpen adalah 60

menit. Kriteria penilaian menulis cerpen meliputi : (1) tema dan amanat yang

disampaikan, (2) tokoh dan penokohannya, (3) penyusunan alur, (4) latar yang

ditampilkan, (5) diksi dan gaya bahasa, (6) sudut pandang yang digunakan, (7)

kepaduan antarunsur pembangun cerpen


49

Tabel 1. Skor Penilaian Tes Menulis Cerpen

Aspek Skor Maksimal


- Tema dan amanat 10
- Tokoh dan penokohan 20
- Alur 20
- Latar 10
- Diksi dan gaya bahasa 10
- Sudut pandang 10
- Kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen 20
Jumlah 100

Tabel 2. Aspek Penilaian Menulis Cerpen

Aspek Skor Kriteria Kategori


1. Tema dan 16-20 Tema dan amanat sangat relevan Sangat baik
amanat dengan cerpen yang ditulis
11-15 Tema dan amanat cukup relevan Baik
dengan cerpen yang ditulis
6-10 Tema dan amanat kurang relevan Cukup
dengan cerpen yang ditulis
0-5 Tema dan amanat tidak relevan Kurang
dengan cerpen yang ditulis
2. Tokoh dan 16-20 Penggambaran tokoh dan Sangat baik
penokohan penokohan jelas
11-15 Penggambaran tokoh dan Baik
penokohan cukup jelas
6-10 Penggambaran tokoh dan Cukup
penokohan kurang jelas
0-5 Penggambaran tokoh dan kurang
penokohan tidak jelas
50

3. Alur 16-20 Rangkaian peristiwa dalam cerpen Sangat baik


disusun secara logis dan sesuai
dengan lirik dalam teks lagu
11-15 Rangkaian peristiwa dalam cerpen Baik
disusun cukup logis dan cukup
sesuai dengan lirik dalam teks lagu
6-10 Rangkaian peristiwa dalam cerpen Cukup
disusun kurang logis dan kurang
sesuai dengan lirik dalam teks lagu
0-5 Rangkaian peristiwa dalam cerpen Kurang
disusun tidak logis dan tidak sesuai
dengan lirik dalam teks lagu
4. Latar 9-10 Pemilihan tempat, waktu, dan Sangat baik
suasana yang menggambarkan
terjadinya peristiwa dalam cerpen
sangat tepat
6-8 Pemilihan tempat, waktu, dan Baik
suasana yang menggambarkan
terjadinya peristiwa dalam cerpen
cukup tepat
3-5 Pemilihan tempat, waktu, dan Cukup
suasana yang menggambarkan
terjadinya peristiwa dalam cerpen
sangat tepat
0-2 Pemilihan tempat, waktu, dan Kurang
suasana yang menggambarkan
terjadinya peristiwa dalam cerpen
sangat tepat
5. Diksi dan gaya 9-10 Penggunaan diksi dan gaya bahasa Sangat baik
bahasa sesuai dengan situasi
6-8 Penggunaan diksi dan gaya bahasa Baik
cukup sesuai dengan situasi
3-5 Penggunaan diksi dan gaya bahasa Cukup
kurang sesuai dengan situasi
0-2 Penggunaan diksi dan gaya bahasa Kurang
tidak sesuai dengan situasi
51

6. Sudut pandang 9-10 Sudut pandang yang digunakan Sangat baik


dapat menjelaskan tokoh
6-8 Sudut pandang yang digunakan Baik
cukup dapat menjelaskan tokoh
3-5 Sudut pandang yang digunakan Cukup
kurang dapat menjelaskan tokoh
0-2 Sudut pandang yang digunakan Kurang
tidak dapat menjelaskan tokoh
8. Kepaduan 16-20 Kepaduan unsur-unsur pembangun Sangat baik
unsur-unsur cerpen sudah tepat
pembangun 11-15 Kepaduan unsur-unsur pembangun Baik
cerpen cerpen cukup tepat
6-10 Kepaduan unsur-unsur pembangun Cukup
cerpen kurang tepat
0-5 Kepaduan unsur-unsur pembangun Kurang
cerpen tidak tepat

Tabel 3. Pedoman Penilaian Kemampuan Menulis Cerpen

No Nilai Kategori
1 85 – 100 Sangat baik
2 75 - 84 Baik
3 60 – 74 Cukup
4 50 – 59 Kurang
5 0 – 49 Sangat kurang

Berdasarkan pedoman penilaian penilaian kemampuan menulis cerpen

tersebut, dapat diketahui kemampuan siswa dalam menulis cerpen berhasil dengan

sangat baik, berhasil baik, berhasil cukup baik, kurang berhasil, dan tidak berhasil.
52

Siswa yang berhasil sangat baik adalah siswa yang memperoleh nilai 85-100,

siswa yang berhasil dengan baik adalah siswa yang memperoleh nilai 75-84, siswa

yang berhasil dengan kategori cukup baik yaitu siswa yang memperoleh nilai 60-

74, siswa yang berhasil dengan kategori kurang baik yaitu siswa yang

memperoleh nilai 50-59, dan siswa yang tidak berhasil yaitu siswa yang

memperoleh nilai 0-49.

3.4.2 Instrumen Nontes

Teknik nontes alat penilaian yang dipergunakan untuk mendapatkan

informasi tentang keadaan di tertes (testi, tercoba, inggris testee) tanpa dengan alat

tes. Teknik nontes diperlukan untuk mendapatkan data yang tidak , atau paling

tidak secara langsung, berkaitan dengan laku kognitif.

1) Pedoman Observasi

Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan terhadap

perubahan perilaku siswa pada proses belajar mengajar yang terjadi selama proses

penelitian. Pedoman pengamatan atau observasi ini adalah sikap positif maupun

negatif siswa pada proses belajar mengajar menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu. Respon positif siswa maupun respon negatif

siswa terhadap menulis cerpen melalui latihan terbimbing dengan media teks lagu

diamati dengan sebaik-baiknya agar menghasilkan data yang akurat.

2) Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara berisi beberapa pertanyaan untuk siswa sebagai

respondennya. Pertanyaan-pertanyaan yang ada bertujuan memperoleh data


53

tentang respon siswa terhadap meteri keterampilan menulis cerpen melalui metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu.

Dalam penelitian ini, aspek yang diungkap melalui wawancara antara lain

perasaan siswa saat mendapatkan latihan dan bimbingan dengan media teks lagu

dalam menulis cerpen, pendapat siswa tentang metode latihan terbimbing dengan

media teks lagu, kesan siswa saat mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui

metode latihan terbimbing dengan media teks lagu, dan kesulitan yang dirasakan

dalam menulis cerpen melalui latihan terbimbing dengan media teks lagu.

3) Angket

Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden. Pelaksanaan pemberian angket ditujukan

kepada semua siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini. Angket

diberikan setelah pembelajaran pada siklus I selesai dilakukan. Pertanyaan dalam

angket adalah tentang sekitar kejadian dalam proses pembelajaran menulis cerpen

melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu. Garis besar isi angket

antara lain, yaitu: (1) kegiatan guru dalam proses pembelajaran, (2) minat siswa

terhadap metode yang digunakan guru, (3) penelitian proses pembelajaran.

4) Pedoman Jurnal Guru dan Jurnal Siswa

Pedoman jurnal guru digunakan untuk mengetahui segala sesuatu yang

terjadi pada proses pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu. Jurnal dibuat oleh guru. Jurnal tersebut dibuat

setiap akhir pembelajaran pada sebuah lembar yang telah dipersiapkan.


54

Jurnal guru berisi pendapat dan seluruh kejadian yang dianggap penting

selama pembelajaran berlangsung secara tertulis. Aspek pertanyaan yang

digunakan dalam jurnal guru meliputi kesan yang dirasakan setelah mengikuti

pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media

teks lagu, pendapat pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu.

5) Dokumentasi (Foto)

Metode dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pengambilan gambar (foto). Dokumentasi merupakan data yang cukup penting

sebagai bukti terjadinya suatu peristiwa. Dalam penelitian ini, peneliti

memandang perlu menggunakan dokumentasi sebagai salah satu data instrumen

nontes. Foto yang diambil sebagai sumber data, dapat memperjelas data yang lain.

Hasil dari pengambilan gambar ini dideskripsikan dan dipadukan dengan data

lain.

6) Pengambilan gambar dilakukan pada saat siswa melakukan beberapa aktivitas

yaitu menulis cerpen, dan pada saat guru memberikan bimbingan kepada siswa

saat pembelajaran.

3.4.3 Validitas Instrumen

Uji instrumen ini menggunakan validitas isi dan permukaan. Validitas isi

adalah derajat tes yang menggambarkan esensi, topik-topik, dan ruang lingkup tes

yang dirancang untuk pengukuran, (Sevilla dalam Hardani 2006:39). Validitas isi

dilakukan dengan menyesuaikan aspek keterampilan menulis cerpen berdasarkan

landasan teori yang ada.


55

Validitas permukaan (paras) adalah tipe validitas yang berkaitan dengan

tipe tes. Tipe validitas ini tidak didukung oleh bukti-bukti bahwa tes tersebut

dapat mengukur sesuatu (Sevilla dalam Hardani 2006:39). Validitas permukaan

dilakukan dengan cara dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru.,

sehingga dari pendapat mereka dapat disepakati bahwa instrumen yang akan

digunakan dalam penelitian sudah valid.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah teknik

tes dan nontes. Teknik tes digunakan untuk mengetahui tingkatan kemampuan

menulis cerpen melalui latihan terbimbing dengan media teks lagu. Teknik nontes

digunakan untuk mengetahui perubahan tingkah laku siswa setelah pembelajaran

menulis cerpen melalui latihan terbimbing dengan media teks lagu.

3.5.1 Teknik Tes

Teknik tes adalah teknik yang dilakukan untuk memperoleh data dengan

menggunakan tes. Tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada siklus I dan pada

siklus II. Materi tes mengacu pada aspek-aspek menulis cerpen.

Tes digunakan untuk mengukur dasar dan pencapaian prestasi (Arikunto,

2002:196). Hasil tes siklus I dianalisis tersebut dapat diketahui kelemahan siswa,

yang selanjutnya sebagai dasar untuk melengkapi siklus II. Hasil siklus II

dianalisis sehingga dapat diketahui peningkatan kemampuan menulis cerpen

melalui latihan terbimbing dengan media teks lagu.


56

3.5.2 Teknik Nontes

Teknik nontes digunakan untuk mengetahui sejauh mana perubahan

perilaku siswa diadakan proses pembelajaran menulis cerpen melalui metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu. Teknik nontes meliputi lembar

observasi, wawancara, jurnal siswa dan guru, angket, dan dokumentasi foto.

1) Observasi

Observasi dalam PTK ini dilakukan oleh dua orang. Observator yang

pertama adalah peneliti sendiri. Peneliti mengamati perilaku positif dan negatif

yang muncul pada siswa. Perilaku positif atau negatif ini sudah dituliskan pada

lembar observasi siswa, peneliti tinggal memberi tanda cek list saja. Observator

yang kedua dilakukan oleh orang lain yang tugasnya adalah mengobservasi kelas.

Maksudnya observator kedua mengamati keadaan siswa secara keseluruhan pada

saat membelajarkan materi menulis cerpen kepada siswa. Observator kedua ini

juga mengadakan pengamatan sesuai dengan pedoman observasi kelas.

2) Wawancara

Wawancara dilakukan oleh peneliti secara bebas terpimpin. Artinya

peneliti terlebih dahulu membuat pedoman wawancara yang kemudian

dikembangkan sendiri pada saat wawancara. Wawancara ditujukan kepada orang-

orang yang bersangkutan dengan penelitian. Pihak-pihak yang bersangkutan

tersebut antara lain, kepala sekolah, guru mata pelajaran, siswa yang telah dipilih,

dan lain-lain.
57

3) Jurnal

Jurnal guru dan siswa diisi pada akhir pembelajaran menulis cerpen. Jurnal

siswa berisi pada tentang kesulitan siswa dalam menulis cerpen melalui metode

latihan terbimbing dengan media teks lagu. Jurnal diisi pada akhir pembelajaran.

Jurnal guru diisi oleh guru ketika pembelajaran sudah berakhir. Jurnal guru

digunakan oleh guru untuk mendeskripsikan atau mencatat fenomena-fenomena

pada saat pembelajaran menulis cerpen yaitu respon siswa terhadap pembelajaran,

keaktifan siswa, serta tingkah laku pada saat pembelajaran berlangsung.

4) Angket

Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup. Hal

ini bertujuan untuk memudahkan siswa dalam memberi jawaban dan kemudahan

peneliti menganalisisnya. Angket diberikan kepada siswa setelah pembelajaran

menulis cerpen. Angket ini diisi setelah siswa mengisi jurnal. Pengisian angket

lebih mudah dibandingkan dengan jurnal. Pada angket responden tinggal

membubuhkan tanda cek list (√) pada kolom SS (sangat setuju), S (setuju), TS

(tidak setuju), dan STS (sangat tidak setuju).

5) Dokumentasi Foto

Foto digunakan untuk merekam perilaku selama pembelajaran

berlangsung. Tingkah laku siswa yang perlu diambil gambarnya, yaitu pada saat

siswa menulis cerpen, pada saat guru membimbing dalam penulisan cerpen, dan

pada saat menggunakan media teks lagu. Gambar yang sudah diambil selanjutnya

dideskripsikan sesuai dengan kondisi pada saat itu. Foto ini merupakan bukti

otentik mengenai tingkah laku siswa pada saat pembelajaran menulis cerpen.
58

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu secara

kuantitatif dan kualitatif

3.6.1 Analisis kuantitatif

Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh dari

hasil tes secara tertulis. Hasil analisis hasil tes secara kuantitatif dihitung secara

persentase dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Merekap nilai yang diperoleh siswa

b. Menghitung nilai masing-masing aspek

c. Menghitung nilai rata-rata,

d. Menghitung persentase nilai.

Nilai dihitung dengan menggunakan persen atau disebut percentages

correction (Hardani 1997:41). Rumus-rumus penelitian adalah sebagai berikut:

R
NP = x100
SM

NP : Nilai Persen yang Dicari

R : Skor Mental yang diperoleh siswa

SM : Skor Maksimum ideal dari Tes yang Bersangkutan

100 :Bilangan tetap

Hasil perhitungan kemampuan menulis cerpen melalui metode latihan

terbimbing dengan media teks lagu dari masing-masing siklus ini kemudian akan

dibandingkan. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase

peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui latihan terbimbing dengan

media teks lagu.


59

3.6.2 Analisis Kualitatif

Analisis data secara kualitatif dilakukan untuk menganalisis data nontes

yang diperoleh dari siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Untuk

memperoleh data nontes dari responden, digunakan lembar angket, lembar

pengamatan, dan pedoman wawancara. Responden memberikan jawaban sesuai

dengan kriteria yang dilakukan peneliti.

Analisis data secara kualitatif dilakukan dengan langkah-langkah sebagai

berikut:

a. Menelaah seluruh data yang diperoleh dari hasil nontes

b. Menyusun dalam satuan-satuan

c. Mengkategorisasikan

Analisis data secara kualitatif ini digunakan untuk mengetahui perubahan

perilaku siswa dalam menulis cerpen pada siklus I dan siklus II. Selain itu data

nontes juga digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap metode

pembelajaran yang digunakan.


130

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru


Algensindo

Arikunto, Suharsimi. 2004. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Rineka Cipta

Darsono, Max 2001. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Grasindo

Diknas 2005. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Diknas

Diponegoro, Mohammad. 1994. Yuk, Nulis Cerpen Yuk. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar

Djamarah, Syaiful Bahri. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Erlangga

Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarkan


Sastra.Yogyakarta: Kota Kembang

Faozan. 2002. Peningkatan Pemahaman Tema dan Amanat Cerita Pendek dengan
Metode Pemberian Tugas Rumah Siswa Kelas II Madrasah Aliyah
Hidayatul Murtadi’in Kabupaten Demak Tahun Pelajaran 2001-2002.
Skripsi: Universitas Negeri Semarang

Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta:ANDI

Jabrohim, dkk. 2003. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kholifah, Ummi. Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Berbasis Pengalaman


Pribadi Melalui Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan Pada
Siswa Kelas VIIIA SMP Negeri 11 Semarang. Skripsi: Universitas Negeri
Semarang

Mugiarso. 2004. Bimbingan Konseling. Semarang: UNNES Press

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai. 2002. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru
Algensindo

Nurgiantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press

Rahayu, Hardani. 2006. Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Narasi


Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 1 Limpung dengan Teknik Menulis Buku
Harian. Skripsi: Universitas Negeri Semarang

130
131

Suharianto, S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta:


Gramedia

Sugiyono. 2003. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC

Syamsu, Maopa. 1994. Teori Belajar Orang Dewasa. Jakarta: Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan

Tarigan, Henry Guntur. 1985. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.


Bandung: Angkasa

Titik, dkk. 2003. Teknik Menulis Cerita Anak. Yogyakarta: PUSBUK

Wardah, Hilma. 2005. Wacana Lirik Lagu Aksi Pergerakan Mahasiswa Kajian
Diksi, Makna dan Fungsi. Skripsi: UNNES

Wiyanto, Asul. 2005. Kesastraan Sekolah Penunjang Pembelajaran Bahasa


Indonesia SMP dan SMA. Jakarta: Grasindo

131
Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SIKLUS I

Sekolah : SMA Negeri 1 Pemalang


Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain
ke dalam cerpen
Kompetensi Dasar : Menulis karangan berdasarkan kehidupan diri sendiri
dalam cerpen (pelaku, peristiwa, latar)
Indikator :Mampu menulis cerpen dengan memperhatikan
ketepatan dan kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen
kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen
Alokasi Waktu : 2 X 40 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu:
- Mampu menuangkan pikiran dan perasaannya melalui cerpen
- Mampu menerapkan unsur-unsur pembangun cerpen ke dalam cerpen
- Mampu menulis kreatif naskah cerpen

B. Materi Pembelajaran
Menulis cerpen

C. Metode Pembelajaran
Latihan Terbimbing

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
a. Guru bertanya jawab dengan siswa tentang cerpen yang pernah dibaca
dan disukainya
b. Guru menjelaskan kompetensi dasar yang akan dicapai, dan manfaat
yang akan diperoleh dalam pembelajaran menulis cerpen

2. Kegiatan Inti
a. Siswa dan guru bertanya jawab tentang unsur-unsur pembangun cerpen
b. Guru menjelaskan langkah-langkah menulis cerpen dengan
memperhatikan unsur-unsur pembangun cerpen
c. Guru membagikan sebuah teks lagu pada siswa
d. Siswa mengamati dan memperhatikan teks lagu tersebut
e. Guru membimbing siswa untuk dapat menulis dengan baik dengan:
- Guru mengarahkan siswa untuk dapat menemukan ide cerita dan
merumuskannya ke dalam tema yang sudah ada dalam teks lagu
- Guru mengarahkan siswa untuk memperhatikan tiap baris dalam
lagu tersebut yang dapat digunakan sebagai kerangka karangan
- Berdasarkan lirik yang ada dalam teks lagu siswa diarahkan untuk
dapat bermain dengan imajinasinya untuk dapat mengembangkan
kerangka karangan tersebut
- Siswa diarahkan untuk menentukan siapa tokoh utamanya, apa
masalahnya, siapa tokoh antagonisnya, bagaimana latarnya dari
mana awal ceritanya, dan bagaimana cerita ditutup.
f. Siswa ditugaskan untuk menulis cerpen berdasarkan kehidupan diri
sendiri
g. Di saat siswa mengerjakan tugas menulis cerpen guru berkeliling
memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam
menulis cerpen
h. Hasil pekerjaan menulis cerpen dikumpulkan
i. Salah satu dari hasil pekerjaan siswa dibacakan di depan kelas
j. Siswa yang lain mengomentari hasil pekerjaan temannya yang
dibacakan di depan kelas
k. Guru memberikan penguatan terhadap pembelajaran menulis cerpen

3. Kegiatan Penutup
a. Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran menulis cerpen
b. Guru dan siswa merefleksi kegiatan pembelajaran menulis cerpen
c. Guru meminta siswa untuk mengisi angket dan menuliskan pendapatnya
pada jurnal siswa

E. Media/Sumber
Media : Teks Lagu
Sumber :
1) Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X
2) Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X, Erlangga

F. Penilaian
1) Penilaian Proses
Penilaian proses dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Penilaian
ini dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah
dipersiapkan.
2) Penilaian Hasil
Berdasarkan teks lagu buatlah sebuah cerpen dengan memperhatikan
kesesuaian unsur-unsurnya!

Pemalang, 10 Maret 2007

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Peneliti,

Saptorini Wahyuningsih,S.S Wiwin Nur Azizah


NIP NIM. 2101403568
Lampiran 3
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SIKLUS II

Sekolah : SMA Negeri 1 Pemalang


Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain
ke dalam cerpen
Kompetensi Dasar : Menulis karangan berdasarkan kehidupan diri sendiri
dalam cerpen (pelaku, peristiwa, latar)
Indikator : Mampu menulis cerpen dengan memperhatikan ketepatan
dan kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen
kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen
Alokasi Waktu : 2 X 40 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu:
- Mampu menuangkan pikiran dan perasaannya melalui cerpen
- Mampu menerapkan unsur-unsur pembangun cerpen ke dalam cerpen
- Mampu menulis kreatif naskah cerpen

B. Materi Pembelajaran
Menulis cerpen

C. Metode Pembelajaran
Latihan Terbimbing

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
a. Guru mengulas sedikit tentang hal-hal yang dibahas pada pertemuan
sebelumnya
b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari itu, yakni mengevaluasi
cerpen yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya.

2. Kegiatan Inti
a. Siswa dan guru bertanya jawab tentang unsur-unsur pembangun cerpen
b. Guru menjelaskan langkah-langkah menulis cerpen dengan
memperhatikan unsur-unsur pembangun cerpen
c. Guru membagikan sebuah teks lagu pada siswa
d. Siswa mengamati dan memperhatikan teks lagu tersebut
e. Guru membimbing siswa untuk dapat menulis cerpen dengan baik,
dengan:
- Guru mengarahkan siswa untuk dapat menemukan ide cerita dan
merumuskannya ke dalam tema yang sudah ada dalam teks lagu
- Guru mengarahkan siswa untuk memperhatikan tiap baris dalam
lagu tersebut yang dapat digunakan sebagai kerangka karangan dari
jalan cerita
- Berdasarkan lirik yang ada dalam teks lagu siswa diarahkan untuk
dapat bermain dengan imajinasinya untuk dapat mengembangkan
kerangka karangan tersebut
- Siswa diarahkan untuk menentukan siapa tokoh utamanya, apa
masalahnya, siapa tokoh antagonisnya, bagaimana latarnya dari
mana awal ceritanya, dan bagaimana cerita ditutup.
f. Siswa ditugaskan untuk menulis cerpen berdasarkan kehidupan diri
sendiri
g. Di saat siswa sedang menulis cerpen, guru berkeliling memberikan
bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis cerpen
h. Hasil pekerjaan menulis cerpen dikumpulkan
i. Salah satu dari hasil pekerjaan siswa dibacakan di depan kelas
j. Siswa yang lain mengomentari hasil pekerjaan temannya yang
dibacakan di depan kelas
k. Guru memberikan penguatan terhadap pembelajaran menulis cerpen

3. Kegiatan Penutup
a. Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran menulis cerpen
b. Guru dan siswa merefleksi kegiatan pembelajaran menulis cerpen
c. Guru meminta siswa untuk mengisi angket dan menuliskan pendapatnya
pada jurnal siswa

E. Media/Sumber
Media : Teks Lagu
Sumber :
- Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X

F. Penilaian
1) Penilaian Proses
Penilaian proses dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Penilaian
ini dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah
dipersiapkan.
2) Penilaian Hasil
Berdasarkan teks lagu buatlah sebuah cerpen dengan memperhatikan
kesesuaian unsur-unsurnya.

Pemalang, 10 Maret 2007

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Peneliti,

Saptorini Wahyuningsih,S.S Wiwin Nur Azizah


NIP NIM. 2101403568
FORMAT HASIL PENILAIAN TES KETERAMPILAN MENULIS
CERPEN PRATINDAKAN, SIKLUS I DAN SIKLUS II

No No Aspek Nilai Kategori


Responden 1 2 3 4 5 6 7
1 001
2 002

3 003

4 004

5 005

6 006

7 007

8 008

9 009

10 010

11 011

12 012

13 013

14 014

15 015

16 016

17 017

18 018

19 019

20 020

21 021

22 022

23 023

24 024
25 025

26 026
27 027

28 028

29 029

30 030

31 031

32 032

33 033

34 034

35 035

36 036

37 037

38 038

39 039

40 040

Jumlah Skor

Rata-rata

Keterangan :
Aspek 1 : Tema dan amanat
Aspek 2 : Tokoh dan penokohan
Aspek 3 : Alur
Aspek 4 : Latar
Aspek 5 : Diksi dan gaya bahasa
Aspek 6 : Sudut pandang
Aspek 7 : Kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen
Lampiran
LEMBAR OBSERVASI SIKLUS I

Hari, tanggal : Kamis, 12 April 2007


Nama Pengamat : Nurul Melti
Kelas/Sekolah : X7/SMA Negeri 1 Pemalang
No No Aspek Observasi Keterangan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
1 001 - - √ √ - √ - - √ - √ √ - - - √ PERILAKU POSITIF

2 002 - - - 1. Siswa memperhatikan


√ - √ - - √ - √ √ - - - √
penjelasan guru
3 003 √ - √ √ √ √ - - √ - - √ - - - -
2. Siswa banyak bertanya pada
4 004 √ - - √ √ √ - √ - - - - - - - -
guru
5 005 √ - √ √ √ √ - - - - - - - - - - 3. Siswa berpartisipasi aktif
6 006 √ - √ √ √ - - - - - - - - - - - 4. Siswa dapat mengidentifikasi
dan menyebutkan unsur-
7 007 √ - √ √ √ √ - - - - - - - - - -
unsur yang ada dalam cerpen
8 008 √ - √ √ - √ - - - - - - - - - -
5. Siswa merespon positif
9 009 √ - - √ √ √ - - - - - √ - - - - (senang) terhadap metode
10 010 √ - √ √ √ √ - √ - - - √ - √ - - latihan terbimbing yang
diberikan guru dengan media
11 011 - - - √ √ - - - √ √ √ √ √ - √ -
teks lagu
12 012 - - √ √ - - - - √ - √ √ √ - - -
6. Siswa menulis cerpen dengan
13 013 √ - √ √ √ √ √ √ - - - - - - - - senang hati
14 014 √ - - √ √ - - - - - - - - - - - 7. Siswa berani memberikan

15 015 sanggahan terhadap hasil


√ - - √ - √ - - √ - - √ - - - -
penulisan cerpen yang
16 016 √ - √ √ √ √ - - - - - - - - - -
dibacakan di depan kelas
17 017 √ √ √ √ √ √ - - - - - - - - - -
8. Siswa dapat menulis cerpen
18 018 √ - - √ √ √ - - - - - √ - - - - dengan cepat
19 019 √ - √ √ √ √ - √ - - - - √ - - √
PERILAKU NEGATIF
-20 020 √ - √ √ √ √ - √ - - - - - - - -
9. Siswa kurang merespon
21 021 √ - - √ √ √ - - - - - √ - - - -
penjelasan guru
22 022 √ - √ √ √ √ - √ - - - - - - - - 10. Siswa kurang bersemangat
23 023 √ √ √ √ - - - √ √ - - - - - - - terhadap metode

24 024 pembelajaran yang


√ √ √ √ √ √ - √ - - - - - √ - -
dilakukan guru
25 025 √ - √ - - √ - √ - - - √ √ - - -
11. Siswa banyak bicara dan
26 026 √ - - √ √ √ - - √ - - - - - √ -
bergurau dengan temannya
27 027 √ - - √ √ √ - - √ - - √ - - - - 12. Siswa pasif dalam
28 028 √ - √ √ √ √ - - - - - - - - - - pembelajaran
13. Siswa jalan-jalan/mondar-
29 029 √ - √ √ √ √ - - √ √ √ √ - √ √ -
mandir pada saat
30 030 √ - √ √ √ - - - - - - - - - - -
pembelajaran berlangsung
31 031 √ - √ √ √ - - - - √ - √ - - - - 14. Siswa sering melihat
32 032 √ √ √ √ √ √ √ √ - - - - - - - - pekerjaan temannya pada

33 033 - - saat mengerjakan tes


√ √ √ - - - - - √ - - - - -
15. Siswa kurang bersemangat
34 034 √ - - √ - - - - √ √ √ √ - √ √ --
pada saat menulis cerpen
35 035 √ - √ √ √ √ - - - - - √ - - - - 16. Siswa tidak tertarik dengan
36 036 - - - √ √ √ - - - - √ - - - √ - media teks lagu yang

37 037 digunakan oleh guru


√ - √ √ √ √ - - - - - √ - - - -
PENGISIAN
38 038 √ - √ √ √ √ - - - - - - - - - -
(√)= melakukan
39 039 √ - √ √ √ √ - - - - √ - - - - -
(√)= tidak melakukan
40 040 √ - - √ √ √ - - - - - √ - - - -
REKAP HASIL PENILAIAN TES KETERAMPILAN MENULIS CERPEN
SIKLUS I

No No Aspek Nilai Kategori


Responden
1 2 3 4 5 6 7
1 001 9 11 13 7 7 7 13 67 Cukup
2 002 8 11 12 7 6 8 12 64 Cukup

3 003 9 14 14 8 8 8 14 75 Baik

4 004 6 11 12 7 8 7 11 62 Cukup

5 005 8 12 12 7 8 6 12 65 Cukup

6 006 9 13 13 9 8 8 14 74 Cukup

7 007 7 12 13 8 6 7 13 66 Cukup

8 008 8 11 12 7 7 7 11 63 Cukup

9 009 9 12 13 7 5 7 13 66 Cukup

10 010 9 13 13 8 7 9 13 72 Cukup

11 011 7 11 12 7 6 7 12 62 Cukup

12 012 8 12 13 8 6 7 13 67 Cukup

13 013 9 10 10 7 6 5 10 57 Kurang

14 014 8 12 11 7 6 7 12 63 Cukup

15 015 8 15 16 9 7 8 15 78 Baik

16 016 9 16 16 8 7 8 15 79 Baik

17 017 9 15 16 8 7 8 15 78 Baik

18 018 7 10 11 7 6 6 10 57 Kurang

19 019 7 15 16 8 7 9 16 78 Baik

20 020 9 14 15 5 6 7 14 70 Cukup

21 021 9 13 14 8 6 8 14 71 Cukup

22 022 9 17 17 8 7 8 17 83 Baik

23 023 8 11 12 7 6 9 12 65 Cukup

24 024 9 15 16 8 7 8 15 78 Baik

25 025 9 16 16 7 7 8 16 79 Baik
26 026 7 11 12 7 7 7 12 63 Cukup
27 027 6 11 12 6 5 7 12 59 Kurang

28 028 6 14 14 7 7 7 12 67 Cukup

29 029 6 12 12 7 6 7 12 62 Cukup

30 030 9 15 16 9 7 8 16 80 Baik

31 031 7 10 12 7 5 7 11 59 Kurang

32 032 6 13 14 7 6 5 12 63 Cukup

33 033 8 13 13 6 7 8 12 67 Cukup

34 034 7 12 13 8 6 7 13 66 Cukup

35 035 8 14 14 6 6 7 13 68 Cukup

36 036 8 13 13 7 6 7 11 65 Cukup

37 037 8 12 14 5 6 7 12 64 Cukup

38 038 9 16 17 7 6 8 16 79 Baik

39 039 7 15 16 7 7 8 15 75 Baik

40 040 9 13 14 7 8 7 12 70 Cukup

Jumlah Skor 314 516 547 289 263 292 523 2744

Rata-rata 7,85 12,9 13,68 7,23 6,58 7,30 13,08 68,62 Cukup

Keterangan :
Aspek 1 : Tema dan amanat
Aspek 2 : Alur
Aspek 3 : Tokoh dan penokohan
Aspek 4 : Latar
Aspek 5 : Diksi dan gaya bahasa
Aspek 6 : Sudut pandang
Aspek 7 : Kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen
REKAP HASIL PENILAIAN TES KETERAMPILAN MENULIS CERPEN
SIKLUS II

No No Aspek Nilai Kategori


Responden
1 2 3 4 5 6 7
1 001 9 16 16 8 7 8 15 79 Baik
2 002 7 13 14 9 8 9 13 73 Baik

3 003 6 10 13 8 7 8 10 62 Cukup

4 004 8 13 16 9 8 8 15 77 Baik

5 005 7 14 16 9 8 8 14 76 Baik

6 006 9 14 16 9 8 9 15 80 Baik

7 007 9 15 16 9 8 8 16 81 Baik

8 008 9 15 16 9 8 8 15 80 Baik

9 009 7 13 15 9 8 8 14 74 Cukup

10 010 9 16 16 9 9 9 16 84 Baik

11 011 7 11 13 9 8 9 11 68 Cukup

12 012 6 11 13 7 6 7 11 61 Cukup

13 013 9 16 16 9 9 9 16 84 Baik

14 014 9 17 16 9 9 9 16 85 Sangat
Baik
15 015 9 17 16 9 9 9 17 86 Sangat
Baik
16 016 8 14 16 9 7 8 15 77 Baik

17 017 9 14 15 9 9 7 15 78 Baik

18 018 9 17 16 9 8 8 15 83 Baik

19 019 7 14 15 8 8 9 14 75 Baik

20 020 9 17 17 9 9 9 17 87 Sangat
Baik
21 021 8 15 16 9 9 9 16 82 Baik

22 022 9 17 17 9 9 9 17 87 Sangat
Baik
23 023 9 16 16 8 8 8 16 81 Baik

24 024 9 15 16 8 8 8 15 79 Baik
25 025 8 15 16 8 8 8 15 78 Baik

26 026 9 11 15 9 8 9 14 75 Baik
27 027 9 15 16 9 8 9 16 82 Baik

28 028 9 16 17 9 8 9 15 83 Baik

29 029 6 10 12 7 7 8 10 60 Cukup

30 030 9 16 16 9 8 9 16 83 Baik

31 031 6 11 12 7 7 7 11 61 Cukup

32 032 8 13 14 9 8 9 13 74 Cukup

33 033 9 14 16 9 8 9 14 79 Baik

34 034 8 12 15 9 7 8 12 71 Cukup

35 035 9 16 16 9 8 9 16 83 Baik

36 036 6 10 11 7 6 8 10 58 Kurang

37 037 9 14 15 9 8 9 15 79 Baik

38 038 8 12 16 9 7 9 12 73 Cukup

39 039 8 13 16 9 8 9 13 76 Baik

40 040 9 18 17 9 9 9 17 88 Sangat
Baik
Jumlah Skor 327 566 612 346 318 339 574 3082

Rata-rata 8,18 14,15 15,3 8,65 7,95 8,48 14,35 77,05 Baik

Keterangan :
Aspek 1 : Tema dan amanat
Aspek 2 : Alur
Aspek 3 : Tokoh dan penokohan
Aspek 4 : Latar
Aspek 5 : Diksi dan gaya bahasa
Aspek 6 : Sudut pandang
Aspek 7 : Kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen
Nama :
No/ kelas :

FORMAT JURNAL SISWA

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jujur!


A. Apakah Anda senang dengan meteri menulis cerpen melalui metode latihan
terbimbing dengan media teks lagu?
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………….
B. Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui metode
latihan terbimbing dengan media teks lagu?
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………….
C. Apakah dengan metode latihan terbimbing dengan media teks lagu anda
mengalami kemudahan dalam menulis cerpen?
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………….
D. Apakah anda sekarang lebih paham diajar menulis melalui metode latihan
terbimbing dengan media teks lagu?
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
E. Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui metode
latihan terbimbing dengan media teks lagu yang telah diajarkan oleh guru
(peneliti)!
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Lampiran

JURNAL GURU SIKLUS II


Guru Pengampu :
Hari, tanggal :

A. Bagaimanakah minat siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen


melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu?
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
B. Bagaimanakah respon siswa terhadap pembelajaran menulis cerpen melalui
metode latihan terbimbing dengan media teks lagu
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
C. Bagaimanakah keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen
melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
D. Bagaimanakah tingkah laku siswa di kelas pada saat mengerjakan tugas
menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu?
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
E. Uraikan fenomena-fenomena lain yang muncul pada saat pembelajaran
berlangsung
Jawaban:
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Lampiran
Nama :
No/kelas:

FORMAT ANGKET

Berilah tanda (√) pada setiap pertanyaan siswa yang sesuai dengan skala
penelitian yang tersedia di bawah ini :

No Pertanyaan Skala Penilaian


SS S KS TS STS
1 Keterampilan menulis dapat meningkatkan
kreativitas siswa dalam belajar
2 Saya merasa senang terhadap cara guru
menerangkan keterampilan menulis cerpen
melalui metode latihan terbimbing dengan
media teks lagu
3 Saya senang dengan metode yang digunakan
dalam pembelajaran
4 Metode yang digunakan oleh guru dapat
memotivasi siswa untuk menulis cerpen
5 Latihan terbimbing yang diberi oleh guru
dapat membantu pemahaman siswa tentang
menulis cerpen yang baik

6 Saya senang dengan media teks lagu yang


digunakan oleh guru dalam pembelajaran
7 Suasana kelas dapat membantu pemahaman
siswa dalam menulis cerpen
8 Saya senang dengan pembelajaran menulis
cerpen yang dengan metode yang dapat
menarik perhatian siswa
9 Kebiasaan mengungkapkan ide, gagasan dan
perasaan ke dalam sebuah cerpen banyak
manfaatnya
10 Pembelajaran yang dilakukan oleh guru
sekarang lebih menyenangkan

Keterangan:
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
KS : Kurang Setuju
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
Lampiran
PEDOMAN WAWANCARA

Responden :
No. responden :
Hari dan Tanggal :
Tempat :
Kelas :
Waktu :
Topik :
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam wawancara adalah sebagai berikut:
1. Apakah kamu senang dengan pembelajaran menulis cerpen? Mengapa?
2. Apakah kamu merasa mampu memahami materi dengan metode yang
digunakan oleh guru dalam mengajar (metode latihan terbimbing dengan
media teks lagu)?
3. Apakah kamu merasa termotivasi dengan metode latihan terbimbing dengan
media teks lagu dalam pembelajaran menulis cerpen?
4. Apakah media teks lagu yang digunakan oleh guru dapat memberikan ide
untuk membuat sebuah cerpen?
5. Apakah suasana kelas dapat membantu pemahaman siswa dalam mengikuti
pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan
media teks lagu? Mengapa?
6. Menurut kamu apakah dengan adanya latihan dan bimbingan yang diberikan
oleh guru dapat membantu pembelajaran menulis cerpen?
7. Apakah kamu merasa kesulitan dalam pembelajaran menulis cerpen?
8. Apa saja kesulitan-kesulitan yang kamu hadapi dalam pembelajaran menulis
cerpen?
9. Menurut kamu apakah melalui metode latihan terbimbing dengan media teks
lagu dapat mengatasi kesulitan yang kamu hadapi?
10. Manfaat yang kamu dapatkan setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen
melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu?
Rekap Observasi Perilaku Positif Siswa

No Aspek Observasi Siklus I Siklus II Peningkatan


(%) (%) (%)
1 Siswa memperhatikan 85 95 10
penjelasan guru
2. Siswa banyak bertanya kepada 10 17,5 7,5
guru
3. Siswa berpartisipasi aktif 67,5 90 22,5
4. Siswa dapat mengidentifikasi 80 92,5 12,5
dan menyebutkan unsur-unsur
yang ada dalam cerpen
5. Siswa merespons positif 80 92,5 12,5
(senang) terhadap metode
latihan terbimbing yang
digunakan oleh guru
6. Siswa dapat menggunakan 77,5 95 17,5
media yang dihadirkan oleh
guru
7. Siswa dapat menulis cerpen 17,5 32,5 15
dengan cepat
8. Siswa dapat memberikan 7,5 12,5 5
komentar terhadap hasil
menulis cerpen temannya

Rekap Observasi Perilaku Negatif Siswa

No Aspek Observasi Siklus I Siklus II Peningkatan


(%) (%) (%)
1 Siswa kurang merespon 15 5 -10
penjelasan guru
2. Siswa kurang senang terhadap 20 7,5 -12,5
metode yang digunakan guru
3. Siswa banyak bicara dan 27,5 5 -22,5
bergurau dengan temannya
4. Siswa pasif dalam 32,5 0 -32,5
5. pembelajaran 20 0 -20
Siswa jalan-jalan/mondar-
mandir pada saat pembelajaran
6. berlangsung 35 5 -30
Siswa sering melihat pekerjaan
temannya pada saat
7. mengerjakan tes 20 0 -20
Siswa kurang bersemangat pada
8. saat menulis cerpen 12,5 0 -12,5
Siswa tidak tertarik dengan
media teks lagu yang digunakan
oleh guru
Rekap Jurnal Siswa Siklus I dan Siklus II

No Aspek Jurnal Jurnal Siswa Persentase (%) Peningkatan


Siklus Siklus Siklus Siklus (%)
I II I II
1 Kesan siswa terhadap
meteri menulis
cerpen
a. Senang 37 40 92,5 100 7,5
b. Tidak senang 3 0 7,5 0 -7,5

2 Kesulitan siswa
terhadap materi
menulis cerpen
a. Ya 28 13 70 32,5 37,5
b. Tidak 12 27 30 67,5 -37,5
3 Tanggapan siswa
terhadap metode
latihan terbimbing
dengan media teks
lagu
a. Dapat dipahami 37 40 92,5 100 7,5
b. Tidak dapat 3 0 7,5 0 -7,5
dipahami
4 Pemahaman siswa
terhadap materi
pembelajaran setelah
diajarkan melalui
metode latihan
terbimbing dengan
media teks lagu
a. Paham 37 40 92,5 100 7,5
b. Tidak paham 3 0 7,5 0 -7,5
5 Saran terhadap
kegiatan
pembelajaran
a. Mendukung 35 40 87,5 100 12,5
b.Kurang 5 0 12,5 0 -12,5
mendukung
Rekap Angket Siklus I dan Siklus II

A SS Pe S Pe KS Pe TS Pe STS Pe
s ning ning ning ning ning
S I S II SI S II SI S II SI S II SI S II
p kata kata kata kata kata
e n n n n n
k (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)

1 60 72,5 12,5 35 27,5 -7,5 5 0 -5 0 0 0 0 0 0

2 25 35 10 57,5 62,5 5 17,5 2,5 -15 0 0 0 0 0 0

3 25 32,5 7,5 50 65 15 25 2,5 -22,5 0 0 0 0 0 0

4 30 52,5 22,5 50 42.5 -7,5 20 5 -15 0 0 0 0 0 0

5 32,5 40 8,5 52,5 55 2,5 15 5 -10 0 0 0 0 0 0

6 27,5 35 7,5 57,5 60 2,5 15 5 -10 0 0 0 0 0 0

7 27,5 35 7,5 40 40 0 27,5 25 -2,5 -5 0 5 0 0 0

8 45 55 10 37,5 40 -2,5 17,5 5 -12,5 0 0 0 0 0 0

9 35 45 10 57,5 50 -7,5 7,5 5 -2,5 0 0 0 0 0 0

1 25 27,5 2,5 52,5 60 -7,5 22,5 12,5 10 0 0 0 0 0 0


0
Hasil Wawancara Siklus I

Waktu Pelaksanaan : Sabtu, 14 April 2007


Tempat Pelaksanaan : Ruang kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang
Jumlah Siswa yang Diwawancarai : 4 siswa

1. Responden Nomor 22 (siswa yang mendapat nilai baik)


1) Senang, lebih mudah menulis cerpen.
2) Mampu.
3) Ya, termotivasi
4) Ya, lagunya sesuai dengan pengalaman.
5) Ya, misalkan ramai saya tetap bisa menulis cerpen
6) Ya, kesulitan-kesulitan dapat langsung ditanyakan.
7) Ya, masih kesulitan.
8) Ya, kesulitan mengembangkan kerangka karangan.
9) Ya, membantu mengatasi kesulitan.
10) Jadi senang menulis cerpen.

2. Responden Nomor 6 (siswa yang mendapat nilai cukup)


1) Senang, lebih tahu menulis cerpen.
2) Mampu.
3) Ya, termotivasi.
4) Ya, lagunya sesuai dan mudah dimengerti.
5) Ya, kelas yang tenang menulis cerpen pun akan mudah.
6) Ya, dapat bertanya-tanya dengan guru tentang cerpen.
7) Ya, masih ada kesulitan.
8) Ya, menuangkan pikiran ke dalam kata-kata.
9) Ya, membantu mengatasi kesulitan
10) Senang menulis cerpen
3. Responden Nomor 40 (siswa yang mendapat nilai cukup)
1) Senang, bisa diungkapkan lewat cerpen
2) Mampu
3) Ya, termotivasi
4) Ya, lagunya saya suka dan sesuai dengan pengalaman
5) Ya, kelas yang ramai jadi tidak dapat berkonsentrasi
6) Ya, guru mengajari menulis cerpen
7) Ya, masih ada kesulitan
8) Ya, kesulitan mengungkapkan pikiran dalam kalimat-kalimat
9) Ya, membantu mengatasi kesulitan
10) Lebih senang menulis cerpen

4. Responden Nomor 14 (siswa yang mendapat nilai kurang)


1) Tidak terlalu suka, sulit membuatnya.
2) Mampu.
3) Ya, termotivasi
4) Ya, lagunya bagus, membantu untuk dapat menulis cerpen.
5) Tidak berpengaruh.
6) Ya, guru memberi tahu cara menulis cerpen yang baik.
7) Ya, masih ada kesulitan.
8) Ya, kesulitan merangkai kata-kata dan mengembangkan kerangka yang
ada dalam teks lagu.
9) Ya, membantu mengatasi kesulitan.
10) Lebih mudah menulis cerpen.
Hasil Wawancara Siklus II

Waktu Pelaksanaan : Kamis, 10 Mei 2007


Tempat Pelaksanaan : Ruang kelas X-7 SMA Negeri 1 Pemalang
Jumlah Siswa yang Diwawancarai : 4 siswa

1. Responden Nomor 40 (siswa yang mendapat nilai sangat baik)


1) Senang, dapat mengungkapkan pengalaman ke dalam cerpen.
2) Ya, mampu.
3) Ya, termotivasi untuk menulis cerpen.
4) Ya, lagunya sesuai dengan pengalaman.
5) Ya, kelas yang tenang dapat membantu kita untuk berimajinasi.
6) Ya, guru membantu mengatasi kesulitan dalam menulis cerpen.
7) Masih ada.
8) Membuat diksi yang menarik
9) Ya, membantu mengatasi kesulitan yang saya hadapi
10) Sekarang saya senang menulis cerpen

2. Responden Nomor 22 (siswa yang mendapat nilai sangat baik)


1) Senang, lebih tahu menulis cerpen
2) Ya, saya mampu
3) Ya, termotivasi menulis cerpen
4) Ya, lagunya sesuai dengan pengalaman
5) Ya, suasana kelas mempengaruhi dalam menulis cerpen, misalkan kelas
ramai akan menganggu menulis cerpen
6) Ya, guru membimbing dan menjelaskan menulis cerpen yang baik
7) Tidak ada
8) Tidak ada
9) Ya, membantu mengatasi kesulitan
10) Lebih tahu tentang cerpen dan saya lebih senang menulis cerpen
3. Responden Nomor 9 = Siswa yang mendapat nilai cukup
1) Senang, pembelajarannya menyenangkan
2) Ya, mampu memahami materi
3) Ya, termotivasi menulis cerpen
4) Ya, lagu mengasyikan
5) Ya, kelas tenang, kita dapat menulis cerpen dengan sungguh-sungguh
6) Ya, guru mengajari menulis cerpen
7) Ya, masih ada kesulitan
8) Ya, membuat kata-kata yang menarik
9) Ya, membantu mengatasi kesulitan
10) Dapat menulis cerpen dengan mudah dan menyenangkan

4. Responden Nomor 31 = Siswa yang mendapat nilai cukup


1) Senang, pembelajarannya menyenangkan
2) Ya, mampu
3) Ya, termotivasi menulis cerpen
4) Ya, lagunya sesuai pengalaman dan memudahkan menulis cerpen
5) Ya, kelas yang ramai akan mengganggu konsentrasi dalam menulis cerpen
6) Ya, guru membimbing siswa jadi siswa terbantu dalam menulis cerpen
7) Ya, masih ada kesulitan
8) Ya, kesulitan membuat kata-kata yang menarik untuk mewakili ide-ide
yang ada dalam pikiran
9) Ya, membantu mengatasi kesulitan
10) Lebih mudah menulis cerpen