Anda di halaman 1dari 4

KHILAFAH: KENISCAYAAN YANG TERTUNDA

(Tanggapan untuk Syafii Maarif)

Oleh: Muhammad Ismail Yusanto


(Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia)

Resonansi Syafii Maarif di Koran Republika, Selasa, 25 April 2006 lalu, penting untuk ditanggapi. Dalam
tulisannya itu, Syafii pada intinya menyatakan bahwa meski patut diperhatikan, jelas berlebihan bila teori khilafah
yang diusung kembali oleh Taqiyyudin an-Nabhani, pendiri gerakan Islam Hizbut Tahrir, dikaitkan sebagai sesuatu
yang syar\\\'i karena, katanya, tidak ada logika al Qur\\\'an yang dapat dijadikan dasar. Dengan demikian, sistem
khilafah yang pernah dibangun di masa lalu adalah buah ijtihad belaka. Dia juga menyatakan meratapi kejatuhan
kekhilafahan Turki Utsmani sebagai menyesatkan dan ahistoris.

Setidaknya, ada lima poin dari Resonansi itu yang harus ditanggapi. Hanya karena sempitnya ruangan, tidak
mungkin semua argumen dituliskan di sini. Pertama, bahwa menurut Syafii, untuk membaca dan merekonstruksi
sejarah diperlukan dua pilar, logika dan pengetahuan. Dia mencontohkan Ibn Khaldun dengan Muqaddimah-nya.
Mengenai dua pilar tersebut kita sepakat, dan apa yang telah dilakukan oleh Ibn Khaldun pada akhirnya memang
membuktikan hal itu. Pada titik ini, sebenarnya an-Nabhani juga telah melakukan hal yang sama, seperti tampak
pada kitab as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz I maupun ad-Daulah al-Islamiyyah. Di sini, an-Nabhani berhasil
menguraikan secara logis, rasional dan argumentatif sejumlah persoalan; mulai dari konsepsi kepribadian, akidah
dan peranannya dalam pembentukan sebuah kepribadian, dan rumusan akidah Islam; kritik terhadap ahli kalam,
filsuf muslim dan metodologi mereka; ilmu hadis, tafsir, usul fikih dan sejarah pemikirannya; hingga sejarah
kemajuan dan kemunduran fikih Islam, termasuk pengaruh konflik terhadap perkembangan fikih. An-Nabhani juga
membuat rumusan, bagaimana seharusnya sejarah ditulis mengingat sejarah adalah bagian yang tak terpisahkan dari
tsaqafah. Pada titik ini, sebenarnya an-Nabhani justru telah berhasil membuat rumusan yang belum sempat
disempurnakan oleh Ibn Khaldun ketika membahas kategorisasi ilmu aqliyyah dan ilmu syar\\\'iyyah, dengan
rumusan yang sangat cerdas dan akurat dalam format al-\\\'ulum wa at-tsaqafah. Sementara dalam buku ad-Daulah
al-Islamiyyah, an-Nabhani tidak saja berhasil memaparkan fakta sejarah daulah Islam sejak masa Nabi hingga era
kemunduran dan kejatuhannya di Turki, tapi juga mampu memberikan analisis yang tidak didapat dalam buku-buku
sejarah biasa; cara yang sama dilakukan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya. Karena itu, wajar ketika
Syaikh Yusuf al-Kandahlawi, penulis Hayat as-Shabah, membaca karya an-Nabhani itu kontan memberikan
apresiasi yang luar biasa, yang menunjukkan kekagumannya kepada kedalaman ilmu dan kekuatan logika anNabhani. Ini mengingatkan kita pada ungkapan para kiayi di pesantren: La ya\\\'rifu al-\\\'alima illa al-\\\'alimu.

Kedua, mengenai gagasan khilafah dalam al-Quran, memang al-Quran tidak menyatakan secara harfiah kata
khilafah dalam makna sistem pemerintahan. Akan tetapi, sangatlah jelas gagasan dan istilah khilafah dalam konteks
itu bisa kita temukan dalam dua sumber Islam yang lain, yaitu as-Sunnah dan Ijmak shahabat. Dalam shahih Bukhari
dari Abu Hurairah misalnya, Nabi bersabda Innahu la nabiyya min ba\\\'di wa satakunu khulafa\\\' fayaktsuruna, qalu
famadza ta\\\'muruna, qala fu bi ba\\\'iati al-awwal (bahwa tidak akan ada nabi setelahku, dan akan ada para khalifah
hingga jumlah mereka banyak. Mereka bertanya: Apa yang Anda perintahkan kepada kami? Beliau (Nabi)
menjawab: tunaikanlah baiat khalifah yang pertama). Pesan inilah yang kemudian dilaksanakan oleh para sahabat
(sehingga menjadi ijmak shahabat) dalam peristiwa Tsaqifah Bani Sa\\\'adah yang memilih Abu Bakar sebagai

khalifah, menggantikan kepemimpinan Nabi. Karena itulah, para ulama sepanjang sejarah tidak pernah mengingkari
eksistensi khilafah serta kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan, termasuk menegakkan kembali setelah
sekian lama tidak ada. Dalam khazanah klasik, selain dibahas dalam buku-buku fikih, masalah khilafah juga dibahas
dalam buku-buku akidah. Sebut saja kitab al-Hushun al-Hamidiyyah (Benteng Sultan \\\'Abdul Hamid) misalnya,
yang menjadi buku wajib di kalangan pesantren di seluruh Indonesia, berisi akidah Ahlus Sunnah dan pendiriannya
tentang wajibnya mempertahankan khilafah. Jadi, meski secara harfiah kata daulah dan khilafah dalam makna
sistem pemerintahan tidak disebutkan dalam al-Quran, tetapi substansinya ada. Di sinilah, fungsi as-Sunnah: li
tubayyina li an-nasi ma nuzzila ilayhim (menjelaskan apa yang diturunkan (dalam al Qur\\\'an) kepada mereka).

Ketiga, Syafii mengatakan bahwa khilafah adalah masalah ijtihad, karenanya boleh berbeda, dan tidak perlu
memaksakan hasil ijtihad kepada orang lain. Menanggapi soal ini, lebih dulu harus diklarifikasi benarkah ide
khilafah adalah masalah ijtihadiyah? Terdapat kaidah yang sangat masyhur di kalangan para ulama ushul: la
ijtihada \\\'inda wurudi an-nash (tidak ada ijtihad ketika ada nash atau dalil yang menyatakan). Artinya, wilayah
ijtihad semestinya adalah wilayah yang memang tidak dinyatakan oleh nash (ghairu manshush). Hadits shahih
Bukhari tentang khilafah di atas jelas sekali menyatakan Innahu la nabiyya min ba\\\'di wa satakunu khulafa\\\'.
Artinya tidak ada nabi setelah Muhammad dan negara yang dibangun oleh Nabi Muhammad sepeninggal beliau
tidak akan dipimpin oleh para nabi, tetapi oleh manusia biasa dan jumlahnya banyak. Mereka inilah yang disebut
hadits tadi dengan istilah khulafa\\\' (pengganti), yang menggantikan dan meneruskan roda kepemimpinan Nabi
dalam pemerintahan dan negara Islam. Karena itu, dalam hadits Ahmad disebut al-khilafah \\\'ala minhaj annubuwwah. Dengan demikian, tidaklah tepat bila disebut bahwa gagasan khilafah adalah masalah ijtihadiyah. Dan
mengingat sudah demikian gamblang disebut dalam hadits yang shahih dan telah menjadi ijmak shahabat (yang
bernilai tinggi dalam sistematika sumber hukum Islam) sesungguhnya dalam masalah khilafah tidak lagi diperlukan
ijtihad. Demikian halnya dengan masalah baiat, karena perintah ini jelas dinyatakan dalam nash: fu bi ba\\\'iati alawwal (tunaikanlah bai\\\'at yang pertama). Sebagai akad, baiat harus dilaksanakan dengan sukarela. Hanya saja,
mekanismenya bagaimana, apakah dengan cara istikhlaf (penunjukan), wilayat al-ahd (putra mahkota), al-ghalabah
wa al-qahr (kudeta) atau in\\\'iqad ahlu al-halli wa al-\\\'aqd (pengangkatan oleh ahlu al-halli wa al-\\\'aqd)? Nah, di
sinilah para ulama, termasuk Muawiyah, kemudian berijtihad. Hasil ijtihad Muawiyah - yang mengangkat Yazid
melalui wilayat al-ahd - ini ditolak oleh para sahabat, seperti Ibn Umar, Abdurrahman bin Abu Bakar, Abdullah bin
Zubair dan lain-lain. Karena itu, tindakan Muawiyah ini tidak bisa disebut telah mengubah sistem Khilafah menjadi
monarki. Logika dan argumentasi semacam ini juga dipakai oleh as-Suyuthi ketika menulis Tarikh al-Khulafa\\\'
sehingga keberadaan sistem khilafah, urutan dan keabsahannya, berhasil ditulis dengan cermat. Tulisan as-Suyuthi
ini sekaligus membantah logika dan argumentasi yang mengatakan bahwa khilafah itu hanya sampai pada masa Ali
bin Abi Thalib atau Hasan bin Ali.

Keempat, penilaian Syafii bahwa al-Mawardi (w. 1058) yang dalam kitab al Ahkamu al-Shultaniyah masih
mensyaratkan keturunan Quraisy untuk menjadi khalifah sebagai upaya mempertahankan Daulah Abbasiyah yang
masih berdarah Quraisy adalah tidak betul, tidak ilmiah dan sekaligus merupakan pelecehan intelektual dari seorang
ulama sekaliber al-Mawardi. Seharusnya bila ingin menyanggah, argumentasi al-Mawardi itu dikaji dari sisi dalil
dan cara penarikan hukumnya, baru disimpulkan: apakah pendapat al-Mawardi kuat atau tidak? Kita bisa saja tidak
setuju dengan pendapat al-Mawardi, tetapi tetap harus diakui bahwa pendapat itu adalah pendapat syar\\\'iy karena
berdasar sebuah hadits al-aimmatu min quraisy (para imam [khalifah] itu dari Quraisy). Hadits itu tentu tidak bisa
dikatakan sebagai dalil yang menegasikan hak bangsa lain untuk menjadi khalifah. Alasannya, mafhum mukhalafah
(logika berkebalikan) tidak bisa ditarik dari kata benda (al-laqab), seperti kata Quraisy ini, yang lantas berarti selain
bangsa Quraisy tidak boleh menjadi imam (khalifah). Dari sini bisa kita tarik kesimpulan, bahwa syarat Quraisy itu
sebenarnya hanyalah syarat keutamaan (afdhaliyah), bukan syarat wajib, sehingga orang dari suku, etnis dan bangsa
manapun boleh dan sah menjadi khalifah, dan karenanya khilafah juga bukan negara bangsa (nation state). Selain
itu, ada argumentasi menarik lain sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Khaldun. Menurutnya, hadits Nabi tersebut
harus dilihat konteksnya, dimana bangsa Quraisy ketika itu memang paling kuat, sehingga kualifikasi Quraisy

sebagai syarat khalifah sangatlah relevan. Tetapi, tidak berarti lantas khalifah harus mutlak terus menerus dari
keturunan Quraisy.

Dengan nalar seperti ini, kita sesungguhnya bisa dengan mudah memahami argumentasi al-Mawardi sekaligus bisa
menyanggah dan mendudukkan posisinya. Bukan malah membuat fantasi, bahwa seolah-olah al-Mawardi
menyatakan begitu karena hendak membela khilafah \\\'Abbasiyah yang keturunan Quraisy. Bila logika Syafii ini
dipakai, kita pasti dengan mudah terjerumus kedalam kubangan curiga dan suu\\\'dzan (buruk sangka) tanpa dasar
sekaligus menunjukkan ketidakmampuan nalar intelek kita untuk memahami argumen ilmiah yang ditulis oleh al
Mawardi. Karenanya, penggunaan logika seperti ini jelas sangatlah absurd.

Kelima, pernyataan Syafii bahwa meratapi kejatuhan Turki Usmani yang dipandang sejumlah orang sebagai bentuk
khilafah yang terakhir merupakan bentuk penyesatan dan ahistoris, ini juga sangat aneh.

Kalau kita membaca buku-buku sejarah di seputar khilafah Utsmani, diantaranya kitab al-Daulah alUtsmaniyah, \\\'Awamilu al-Nuhud wa asbabu al-Suqut yang ditulis oleh Dr. Ali Muhammad al-Shalabi, akan
tergambar dengan sangat jelas bagaimana peranan kekhilafahan ini dalam melanjutkan kegemilangan peradaban
Islam yang telah dibangun oleh para khulafa sebelumnya. Tak aneh bila Paul Kennedy dalam The Rise and Fall of
The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000, menulis: Empirium Utsmani, dia
lebih dari sekadar mesin militer, dia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu membentuk satu kesatuan iman,
budaya dan bahasa pada sebuah area yang lebih luas dari yang dimiliki oleh Empirum Romawi dan untuk jumlah
penduduk yang lebih besar. Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, dunia Islam telah jauh melampui Eropa
dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa
kota diantaranya memiliki universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid-masjid yang
indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum
muslimin selalu berada di depan\\\"

Setelah runtuhnya kekhilafahan Utsmani, bagaimana keadaan dunia Islam sekarang? Terpuruk di segala bidang!
Wilayah Islam yang semula demikian luas, kini terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara kecil-kecil. Karena itu,
umat Islam yang berjumlah 1,4 milyar tidak kuasa melindungi diri dan menahan serangan lawan. Afghanistan dan
Irak diserang bahkan sampai sekarang terus diduduki oleh penjajah. Konflik Palestina tak juga kunjung berakhir.
Bagaimana mungkin 1,4 milyar umat Islam keok melawan Israel yang berpenduduk hanya 9 jutaan? Sementara itu,
sumber daya alam (minyak, gas, emas, nikel, batubara dan sebagainya) yang demikian melimpah di dunia Islam
terus dirampok oleh negara asing. Umat Islam juga terpuruk di bidang pendidikan, sains, teknologi dan ekonomi.
Kemiskinan dan kebodohan ada di mana-mana. Tak terlihat lagi kejayaan sebagaimana digambarkan oleh Paul
Kennedy. Apakah keadaan seperti ini yang memang terjadi semenjak runtuhnya khilafah Utsmani yang telah
memimpin dunia Islam ratusan tahun lamanya dengan segala plus minusnya tidak pantas diratapi?

Harus ditegaskan, jutru karena kita memahami sejarahlah, jatuhnya Khilafah Islam yang terakhir di Turki memang
harus terus diingat oleh umat Islam di seluruh dunia sebagai pangkal kehancuran dunia Islam. Khilafahlah yang
menjadikan umat Islam memiliki sejarah gemilang, kebesaran dan keagungan sebagaimana digambarkan secuil oleh
Paul Kennedy. Harapannya, dengan mengingati keruntuhan itu, umat Islam yang kini terpuruk di segala bidang akan
menyadari bagaimana mereka dahulu dan bagaimana pula senyatanya sekarang. Dan yang paling penting, umat
menjadi terdorong untuk bangkit dan berjuang meraih kembali kejayaannya sebagaimana pernah diujudkan di masa
lalu sehingga umat Islam kembali menjadi umat yang unggul atau khayru ummat, sebagaimana disebut al-Qur\\\'an.
Jadi, inilah substansi peringatan itu dilakukan. Dan kesanalah tujuan yang hendak diraih Syaikh Taqiyyudin melalui
Hizbut Tahrir dalam terus-menerus melakukan penyadaran ke tengah umat. Maka, sungguh aneh bila upaya
semacam ini disebut oleh Syafii sebagai penyesatan?

Memang, sebagian dari gagasan khilafah adalah ide yang bisa didiskusikan dan diperdebatkan. Tapi sebagian lagi
adalah perjuangan untuk mewujudkan kedalam dunia realitas sehingga pada akhirnya, seperti kata Nu\\\'man Hanef
dalam sebuah artikel yang dimuat di International Media Monitor (31/1/2006), kita tidak mempunyai pilihan lain,
kecuali harus menerima keniscayaan kembalinya Khilafah. Pada saat itulah, perdebatan soal khilafah itu segera
berhenti, dan kita segera menyadari bahwa itu bukan penyesatan. Wallahu a\\\'lam.