Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembuatan makalah Blok Gastrointestinal System disusun untuk memenuhi nilai tugas akhir Blok Gastrointestinal System semester lima. Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah satu dari penyakit-penyakit usus yang paling umum dan mempengaruhi suatu perkiraan dari 15% orang-orang di Amerika. Istilah, usus yang teriritasi (irritable bowel), adalah bukan sesuatu yang terutama baik karena ia mengandung arti bahwa usus merespon mudah teriritasi pada stimuli yang normal, dan ini mungkin adalah atau mungkin bukan kasusnya. Beberapa nama-nama untuk IBS, termasuk spastic colon, spastic colitis, dan mucous colitis, menjadi bukti pada kesulitan mendapatkan suatu pegangan yang bersifat menguraikan pada penyakit. Lebih dari itu, setiap dari nama-nama lain sendirinya adalah menjadi persoalan seperti istilah IBS. IBS adalah paling baik digambarkan sebagai suatu penyakit fungsional. Konsep dari penyakit fungsional adalah terutama bermanfaat ketika mendiskusikan penyakit dari saluran pencernaan. Konsep diterapkan pada organ-organ berotot dari saluran pencernaan; kerongkongan, lambung, usus kecil, kantong empedu, dan kolon (usus besar). Apa yang dimaksud dengan istilah fungsional adalah bahwa salah satu dari keduanya yaitu otot-otot dari organ-organ atau syaraf-syaraf yang mengontrol organorgan tidak bekerja secara normal, dan sebagai akibatnya, organ-organ tidak berfungsi secara normal. Syaraf-syaraf yang mengontrol organ-organ termasuk tidak hanya syaraf-syaraf yang terletak didalam otot-otot dari organ-organ namun juga syaraf-syaraf dari sumsum tulang belakang (spinal cord) dan otak. Beberapa penyakit saluran pencernaan dapat dilihat dan didiagnosis dengan mata telanjang, seperti borok-borok dari lambung. Jadi, borok-borok (ulcers) dapat terlihat pada operasi, pada x-rays, dan pada endoscopies. Penyakit-penyakit lain tidak dapat dilihat dengan mata telanjang namun dapat dilihat dan didiagnosis dengan mikroskop. Contohnya, penyakit celiac dan collagenous colitis didiagnosis oleh pemeriksaan mikroskop dari biopsi-biopsi usus kecil dan usus besar (kolon).

2 1.2 Permasalahan Permasalahan pada makalah ini adalah masalah yang akan di bahas pada bab pembahasan. 1.2.1 Identifikasi Masalah Masalah yang direncanakan akan di bahas pada Karya Tulis ini mencakup: 1. Irritable Bowel Syndrome 2. Diare 1.2.2 Pembatasan Masalah 1. Irritable Bowel Syndrome a. Defenisi, etiologi dan subtipe b. Patofisiologi gejala klinis c. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnosis d. Diagnosis banding e. Penatalaksanaan f. Komplikasi dan prognosis 2. Diare a. Defenisi dan patofisiologi berdasarkan etiologi b. Penatalaksanaan

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Bila seorang mahasiswa dihadapkan pada masalah buang air besar yang berubah-ubah dengan adanya faktor pencetus, yaitu makanan pedas, mahasiswa diharapkan mampu merumuskan masalah yang dihadapi, dan menjelaskan learning objektif yang berkaitan dengan masalah Irritable Bowel Syndrome. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui lebih lanjut konsep dasar masalah yang dihadapi, dan menjelaskan learning objektif yang berkaitan dengan penyakit Irritable Bowel Syndrome. 2. Untuk mengetahui lebih dalam cara penanggulangan dan pencegahan Irritable Bowel Syndrome yang disebabkan berbagai faktor.

3 1.4 Metode Metode yang dipakai penulis dalam pembuatan makalah ini ialah dengan metode perpustakaan dan metode media elektronik yang berupa pencarian data melalui internet.

1.5 Manfaat 1. Sebagai bahan masukan dan untuk menambah pengetahuan para pembaca tentang pengetahuan konsep dasar masalah yang dihadapi, dan menjelaskan learning objektif yang berkaitan dengan masalah penyakit Irritable Bowel Syndrome. 2. Bagi penulis sendiri, menambah wawasan dan lebih memahami pengetahuan tentang masalah yang dihadapi.

BAB II ISI LAPORAN

2.1 Tema blok: Gastrointestinal System 2.2 Fasilitator: dr. Rasita Sembiring 2.3 Data pelaksanaan: 1. Tanggal tutorial : a. Selasa, 19 Oktober 2010 b. Jumat, 22 Oktober 2010 2. Pemicu 3. Pukul 4. Ruangan 2.4 Pemicu Ny. N, 35 tahun, datang dengan keluhan perut kembung disertai dengan mencret apabila memakan makanan pedas. Ny. N sering merasa mulas, dan hilang apabila buang air besar. Keluhan ini hilang timbul. Mencret dialami dengan frekuensi 3-4 x/hari, terdapat air dan ampas, dan terkadang disertai dengan lendir tetapi tidak pernah ada darah, tidak disertai oleh rasa sakit di dubur/tenesmi. Keluhan ini sudah dialami Ny. N secara berulang-ulang, selama 2 tahun terakhir ini. Pemeriksaan fisik: vital sign dalam batas normal 1. Pemeriksaan abdomen: soepel, tidak ada organomegali, tidak nyeri tekan, peristaltik usus agak meningkat Apa yang terjadi pada Ny. N? : ke empat : 09.30 12.00 WIB : ruang tutorial A13

More Info 1. Ny. N kadang-kadang tidak buang air besar lebih dari 3 hari, kadang-kadang disertai kram pada perut. 2. Pemeriksaan laboratorium: Darah rutin dalam batas normal 3. Pemeriksaan feces: Lendir (+), darah (-), tidak dijumpai parasit Bagaimana pendapat anda sekarang tentang Ny. N?

5 2.5 Tujuan Pembelajaran 1. Menjaring kemampuan mahasiswa mengintegrasikan konsep dasar Penyakit Irritable Bowel Syndrome. 2. Memahami cara kerja dan pengaruh hipersensitivitas makanan pada penyakit Iiritable Bowel Syndrome. 3. Memahami penanggulan atau manajemen Irritable Bowel Syndrome. 2.6 Pertanyaan yang Muncul dalam Curah Pendapat 1. Irritable Bowel Syndrome a. Defenisi, Etiologi dan subtipe b. Patofisiologi gejala klinis c. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnosis d. Diagnosis banding e. Penatalaksanaan f. Komplikasi dan prognosis 2. Diare a. Defenisi dan patofisiologi berdasarkan etiologi b. Penatalaksanaan

6 2.7 Jawaban atas Pertanyaan 2.7.1 Irritable Bowel Syndrome 2.7.1.1 Defenisi, Etiologi, dan Subtipe 1. Defenisi Irritable Bowel Syndrome adalah kelainan fungsional usus, yang memiliki karakteristik nyeri perut atau ketidaknyamanan dan dan kebiasaan buang air besar yang berubah-ubah, yang tidak ditemukannya abnormalitis organ. Tidak ada alat diagnosis pasti, diagnosisya berdasarkan temuan gejala klinis. Gejala yang dapat muncul pada pasien dengan IBS cukup bervariasi. Disisi lain pemeriksaan fisik dan laboratorium yang spesifik pada pasein IBS tidak ada, oleh karena itu penegakan diagnosis IBS kadangkala tidak mudah. Kejadian pada IBS lebih banyak pada perempuan dan mencapai tiga kali lebih besar dari laki-laki. Kepustakaan lain menyebutkan bahwa angka prevalensi IBS bisa mencapai 3,6-21,8% dari jumlah penduduk dengan rata-rata 11%. 2. Etiologi Sampai saat ini tidak ada teori yang menyebutkan bahwa IBS disebabkan oleh satu faktor saja. Penelitian-penelitian terakhir mengarah untuk membuat suatu model terintegrasi sebagai penyebab dari IBS. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya IBS, antara lain: a. Gangguan motilitas b. Intoleransi makanan c. Abnormalitis sensoris d. Abnormalitas dari interaksi aksi brain-gut e. Hipersensitivitas viseral f. Paska infeksi usus. Adanya IBS predominan diare dan IBS predominan konstipasi menunjukkan bahwa pada IBS terjadi suatu perubahan motilitas. Pada IBS tipe diare terjadi peningkatan kontraksi usus dan memendeknya waktu transit kolon dan usus halus. Sedangkan pada IBS tipe konstipasi terjadi penurunan kontraksi usus dan memanjangnya waktu transit kolon dan usus halus.

7 IBS yang terjadi pada paska infeksi dilaporkan hampir 1/3 kasus IBS. Keluhan-keluhan IBS muncul setelah 1 bulan infeksi. Penyebab IBS paska infeksi antara lain virus, giardia atau amuba. Pasien IBS paska infeksi biasanya mempunyai gejala perut kembung, nyeri abdomen dan diare. 3. Faktor Risiko Amerika Serikat Penelitian berbasis populasi memperkirakan prevalensi Irritable Bowel Syndrome pada 10-20% dan kejadian Irritable Bowel Syndrome di 1-2% per tahun. Orang dengan Irritable Bowel Syndrome, sekitar 10-20% mencari perawatan medis. Sebuah% 2050 estimasi arahan gastroenterologi berhubungan dengan gejala kompleks ini. Internasional Kejadian ini sangat berbeda antar negara. a) Mortalitas / Morbiditas i. Irritable Bowel Syndrome merupakan kondisi kekambuhan kronis. Dokter pengetahuan harus dapat datang dengan pasien karena

membantu

menghilangkan

kekhawatiran yang tidak semestinya sebagai penyakit mereka bertambah dan berkurang. Irritable Bowel

Syndrome tidak meningkatkan kematian atau risiko penyakit usus inflamasi atau kanker. ii. Pokok terkait morbiditas fisik Irritable Bowel Syndrome meliputi sakit perut dan modifikasi gaya hidup sekunder untuk kebiasaan usus diubah. iii. Pekerjaan ketidakhadiran menghasilkan upah yang hilang adalah lebih sering pada pasien dengan sindrom iritasi usus besar. b) Ras i. Amerika dan budaya Eropa menunjukkan frekuensi yang sama Irritable Bowel Syndrome lintas ras dan etnis. Namun, di Amerika Serikat, kuesioner survei menunjukkan prevalensi yang lebih rendah Irritable Bowel Syndrome di

8 Hispanik di Texas dan Asia di California.Populasi Asia dan Afrika mungkin memiliki prevalensi yang lebih rendah Irritable Bowel Syndrome. ii. Peran pengaruh budaya yang berbeda dan perilaku kesehatan bervariasi mencari perawatan tidak jelas. c) Seks Di negara-negara Barat, perempuan 2-3 kali lebih mungkin untuk mengembangkan Irritable Bowel Syndrome dibandingkan lakilaki, meskipun laki-laki merupakan 70-80% dari pasien dengan Irritable Bowel Syndrome di anak benua India. Wanita mencari pelayanan kesehatan yang lebih sering, tetapi pengaruh irritable bowel sindrom-spesifik dari kejadian ini tetap tidak

diketahui. Faktor-faktor lain, seperti kejadian mungkin lebih besar penyalahgunaan pada wanita, dapat mengacaukan

interpretasi statistik ini. d) Umur i. Pasien sering retrospektif catatan timbulnya sakit perut dan usus diubah kebiasaan di masa kecil. ii. Sekitar 50% orang dengan gejala Irritable Bowel Syndrome laporan awal sebelum mereka berusia 35 tahun. iii. Perkembangan gejala pada orang tua dari 40 tahun tidak mengecualikan Irritable Bowel Syndrome tetapi harus prompt pencarian lebih dekat untuk etiologi organik yang mendasari. 4. Subtipe Subgrup IBS: a. IBS predominan nyeri 1) Nyeri di fosa iliaka, tidak dapat dengan tegas menunjukkan lokasi sakitnya 2) Nyeri dirasakan lebih dari enam bulan 3) Nyeri hilang setelah defekasi 4) Nyeri meningkat jika stress dam selama menstruasi 5) Nyeri dirasakan persisten jika kambuh terasa lebih sakit

9 b. IBS predominan diare 2) Diare pada pagi hari sering dengan urgensi 3) Biasanya disertai rasa sakit dan hilang setelah defekasi c. IBS predominan konstipasi 1) Terutama wanita 2) Defekasi tidak lampias 3) Biasanya feses disertai lendir tanpa darah d. IBS alternating pattern 1) Pola defekasi yang berubah-ubah: diare dan konstipasi 2) Sering feses keras dipagi hari diikuti dengan beberapa kali defekasi dan feses menjadi cair pada sore hari

2.7.1.2 Patofisiologi Gejala Klinis Patogenesis IBS sangat sedikit diketahui dan dimengerti, meskipun perjalanan dari abnormalitas motor usus dan aktivitas sensori, disfungsi sentral neural, gangguan psikologikal, stress, dan faktor-faktor luminal telah diajukan. Pembahasan dari mioelektrikal kolonik dan aktivitas aktivitas tidak terstimulasi tidak tampak abnormalitis yang konsisten pada IBS. Penderita IBS kemungkinan menunjukkan peningkatan aktivitas motor rektosigmoid meningkat sampai 3 jam setelah makan. Kemiripan dengan mamasukkan rectal ballons antara penderita IBSD dan IBS-C menjadikan akivitas kontraktil distention-evoked kemungkinan memanjang. Teori tradisional tentang patofisiologi dapat digambarkan sebagai kompleks 3-bagian dari motilitas GI diubah, hiperalgesia mendalam, dan psikopatologi. Mekanisme pemersatu masih belum terbukti. a. Diubah motilitas GI termasuk penyimpangan berbeda dalam motilitas usus kecil dan besar. 1) Kegiatan myoelectric dari usus besar terdiri dari latar belakang gelombang lambat dengan potensi spike superimposed. Kolon dysmotility dalam memanifestasikan Irritable Bowel Syndrome sebagai variasi dalam frekuensi gelombang lambat dan tumpul, akhir-memuncak, respon postprandial potensi spike.

10 Pasien yang rentan terhadap diare menunjukkan perbedaan ini ke tingkat yang lebih besar dibandingkan pasien yang rentan terhadap sembelit. 2) Kecil dismotiliti memanifestasikan usus dalam perjalanan makan tertunda pada pasien rentan terhadap sembelit dan dalam perjalanan makan dipercepat pada pasien yang rentan terhadap diare.Selain itu, pasien menunjukkan interval yang lebih pendek antara kompleks motor migrasi (pola usus dominan interdigestive kecil motor). 3) Teori kini mengintegrasikan penyimpangan motilitas luas dan hipotesa yang hyperresponsiveness umum otot halus. Mereka menjelaskan gejala kencing meningkat, termasuk frekuensi, urgensi, nokturia, dan hyperresponsiveness untuk methacholine tantangan. b. Hiperalgesia Visceral adalah bagian kedua dari kompleks 3-bagian tradisional yang menjadi ciri khas sindrom iritasi usus besar. 1) Peningkatan persepsi motilitas normal dan nyeri viseral ciri sindrom iritasi usus besar. Rectosigmoid dan inflasi balon usus kecil menghasilkan rasa sakit pada volume yang lebih rendah pada pasien dibandingkan dengan kontrol. Terutama,

hipersensitivitas muncul dengan distensi bertahap cepat tapi tidak. 2) Pasien yang terkena dampak melebar menggambarkan distribusi dermatomal rasa sakit dimaksud. 3) Sensitisasi dari jalur usus nociceptive aferen yang sinaps di tanduk dorsal sumsum tulang belakang menyediakan mekanisme pemersatu. c. Psikopatologi adalah aspek ketiga. 1) Asosiasi antara gangguan kejiwaan dan patogenesis sindrom iritasi usus besar tidak secara jelas didefinisikan. 2) Pasien dengan gangguan psikologis berhubungan penyakit yang lebih sering dan melemahkan daripada populasi kontrol.

11 3) Pasien yang mencari perawatan medis memiliki insiden yang lebih tinggi gangguan panik, depresi berat, gangguan kecemasan, dan hypochondriasis dari populasi kontrol. 4) Gangguan Saya Axis bertepatan dengan timbulnya gejala GI di sebanyak 77% dari pasien. 5) Sebuah prevalensi yang lebih tinggi dari kekerasan fisik dan seksual telah ditunjukkan pada pasien dengan sindrom iritasi usus besar. 6) Apakah psikopatologi memicu perkembangan sindrom iritasi usus besar atau sebaliknya masih belum jelas. d. Mikroskopis peradangan telah didokumentasikan pada beberapa pasien. Konsep terobosan dalam Irritable Bowel Syndrome

sebelumnya telah dianggap tidak memiliki perubahan patologis dibuktikan. 1) Kedua radang usus besar dan radang usus kecil telah ditemukan di sebuah subset dari pasien dengan Irritable Bowel Syndrome serta pada pasien dengan dimulainya Irritable Bowel Syndrome setelah infeksi enteritis (Irritable Bowel Syndrome

Postinfectious). Faktor risiko untuk mengembangkan Irritable Bowel Syndrome postinfectious termasuk jenis kelamin

perempuan, lebih lama sakit, jenis patogen yang terlibat, tidak adanya muntah selama penyakit menular, dan usia muda. 2) Laparoskopi penuh ketebalan sampel biopsi jejunum

mengungkapkan infiltrasi limfosit ke dalam pleksus myenteric dan limfosit intraepithelial dalam subset dari pasien. degenerasi saraf pleksus myenteric juga hadir pada beberapa pasien. 3) Pasien dengan Irritable Bowel Syndrome postinfectious mungkin telah meningkatkan jumlah limfosit mukosa usus dan sel enteroendocrine. 4) sel Enteroendocrine di Irritable Bowel Syndrome postinfectious tampaknya mensekresikan serotonin tingkat tinggi, meningkatkan sekresi kolon dan mungkin menyebabkan diare. e. Usus kecil bakteri berlebih telah digembar-gemborkan sebagai mekanisme pemersatu untuk gejala kembung dan pembesaran

12 umum untuk pasien dengan sindrom iritasi usus besar. Hal ini mengakibatkan perawatan yang diusulkan dengan probiotik dan antibiotik. f. Mikroflora tinja juga berbeda antara pasien dengan sindrom iritasi usus besar versus kontrol. Analisis molekuler canggih mengusulkan perubahan dalam pola dan isi dari bakteri usus.

2.7.1.3 Pemeriksaan Penunjang dan Diagnosis 1. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium i. Riwayat yang komprehensif, pemeriksaan fisik, dan

laboratorium disesuaikan dan studi radiografi dapat membuat diagnosis Irritable Bowel Syndrome pada kebanyakan pasien. ii. Studi laboratorium mungkin termasuk yang berikut: 1) CBC menghitung dengan diferensial ke layar untuk anemia, peradangan, dan infeksi 2) Sebuah panel metabolisme yang komprehensif untuk mengevaluasi untuk gangguan metabolisme dan untuk menyingkirkan dehidrasi / kelainan elektrolit pada pasien dengan diare 3) Perdarahan gastrointestinal harus disingkirkan. Tes

hemoccult mungkin berguna. iii. Penelitian mikrobiologis untuk dipertimbangkan termasuk pemeriksaan tinja berikut: 1) Ova dan parasit: Pertimbangkan mendapat spesimen untuk Giardia antigen juga. 2) Patogen enterik 3) Leukosit 4) Clostridium difficile toksin iv. Studi-studi yang dipilih berikut ini diarahkan oleh sejarah: 1) Tes nafas: Screen untuk laktosa dan / atau intoleransi fruktosa. 2) Tes fungsi tiroid: Screen untuk hipertiroidisme atau hipotiroidisme.

13 3) Serum kalsium: Screen untuk hiperparatiroidisme. 4) Tingkat sedimentasi eritrosit atau protein C-reaktif: ini adalah tes skrining spesifik untuk peradangan. 5) Serologies atau biopsi usus kecil untuk penyakit celiac: Pertimbangkan, khususnya di IBS diare-dominan. v. Tes napas H2 untuk mengecualikan pertumbuhan bakteri yang berlebihan dapat dipertimbangkan pada pasien dengan diare. b. Imaging i. Studi-studi yang dipilih berikut ini diarahkan oleh sejarah: 1) Upper GI barium belajar dengan usus kecil tindak lanjut melalui: Screen untuk tumor, radang, obstruksi, dan penyakit Crohn. 2) Double-contrast barium enema: Screen untuk neoplasma dan peradangan. 3) Ultrasonografi Empedu: Pertimbangkan tes ini jika pasien telah berulang atau dispepsia postprandial karakteristik nyeri. 4) CT scan perut: Screen untuk tumor, obstruksi, dan penyakit pankreas. c. Tes Lainnya i. Langsung diet bebas laktosa selama 1 minggu dalam hubungannya dengan suplemen laktase. Peningkatan

incriminates intoleransi laktosa, meskipun sejarah klinis pasien dan respon ke pengadilan itu, mungkin dapat

diandalkan. Oleh

karena

beberapa

Pencernaan

merekomendasikan uji hidrogen nafas formal. Intoleransi fruktosa juga harus dipertimbangkan. ii. Langsung cepat 48 jam. diare persisten menunjukkan etiologi sekresi. iii. Manometry Anal dapat mengungkapkan respon spastik untuk distensi rektum atau masalah lainnya.

14 d. Prosedur i. Endoskopi diarahkan untuk banyak pasien dengan sindrom iritasi usus termasuk sigmoidoskopi fleksibel untuk

menentukan peradangan atau obstruksi distal. ii. Studi-studi yang dipilih berikut ini diarahkan oleh sejarah: 1) Esophagogastroduodenoscopy dengan biopsi mungkin Diindikasikan untuk pasien dengan dispepsia persisten atau jika berat badan atau gejala menyarankan malabsorpsi kekhawatiran 2) Colonoscopy - Diindikasikan untuk pasien dengan tanda-tanda peringatan, seperti pendarahan, anemia, diare kronis, usia yang lebih tua, riwayat polip kolon, kanker pada saudara-saudara tingkat pasien atau; atau gejala konstitusional, seperti penurunan berat badan atau anoreksia. Sebuah kolonoskopi pemeriksaan harus atau jika penyakit celiac adalah

dilakukan sesuai dengan pedoman yang diterbitkan. e. Temuan histologi Penelitian menunjukkan bahwa degenerasi neuronal dan

limfositosis pleksus myenteric mungkin ada dalam jejunum proksimal. Selain itu, limfositosis kolon dan hiperplasia sel enteroendocrine telah dibuktikan dalam beberapa pasien. 2. Diagnosis Baru-baru ini, sebuah panel konsensus dibuat dan kemudian diperbaharui kriteria Roma untuk memberikan diagnosis standar untuk penelitian dan praktek klinis. Roma III kriteria (2006) untuk diagnosis sindrom iritasi usus besar mengharuskan pasien harus memiliki sakit perut berulang atau ketidaknyamanan minimal 3 hari per bulan selama 3 bulan terakhir yang dikaitkan dengan 2 atau lebih hal berikut: a. Lega oleh buang air besar b. Mulai berhubungan dengan perubahan frekuensi tinja c. Serangan terkait dengan perubahan dalam bentuk tinja atau penampilan

15 Gejala pendukung meliputi: a. Diubah frekuensi tinja b. Diubah bentuk tinja c. Diubah bangku bagian (tegang dan / atau urgensi) d. Mucorrhea e. Perut kembung atau distensi subjektif Empat pola usus dapat dilihat dengan sindrom iritasi usus besar. Pola-pola termasuk IBS-D (dominan diare), IBS-C (dominan sembelit), IBS-M (diare campuran dan sembelit), dan IBS-A (diare dan sembelit bergantian). Kegunaan subtipe ini masih bisa diperdebatkan. Khususnya, dalam waktu 1 tahun, 75% pasien perubahan subtipe, dan beralih 29% antara IBS sembelit-dominan dan IBS diare-dominan. Rome III Diagnostic criterion* Recurrent abdominal pain or discomfort** at least 3 days/month in last 3 months associated with two or more of the following:
1.

Rome II At least 12 weeks, which need not be consecutive, in the preceding 12 months of abdominal discomfort or pain that has two out of three features:

1. Relieved with defecation; and/or Improvement with defecation 2. Onset associated with a change in frequency of stool; and/or 2. Onset associated with a 3. Onset associated with a change change in frequency of stool in form (appearance) of stool. 3. Onset associated with a

change in form Symptoms that Cumulatively (appearance) of stool Support the Diagnosis of Irritable * Criterion fulfilled for the last Bowel Syndrome months with symptom onset at a. Abnormal stool frequency (for research purposes abnormal least months prior to diagnosis may be defined as greater than ** Discomfort means an bowel movements per day and less uncomfortable sensation not than bowel movements per week); described as pain. In b. Abnormal stool form pathophysiology research and (lumpy/hard or loose/watery clinical trials, a stool); pain/discomfort frequency of at c. Abnormal stool passage (straining, least days a week during the urgency, or feeling of incomplete screening evaluation is evacuation); recommended for subject d. Passage of mucus; eligibility. e. Bloating or feeling of abdominal
distension.

16 2.7.1.4 Diagnosis Banding Beberapa penyakit harus dipikirkan sebagai diferensial diagnosis dari IBS karena penyakit-penyakit ini juga mempunyai gejala yang lebih kurang sama seperti IBS. Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan untuk mencari penyebab nyeri perut dan dihubungkan dengan kemungkinan IBS sebagai penyebab: 1) Apakah nyeri yang dirasakan hanya pada satu tempat atau berpindah-pindah? (pada IBS sering berpindah-pindah) 2) Seberapa sering merasakan nyeri? (pada IBS tidak tentu) 3) Berapa lama nyeri dirasakan? (pada IBS sebentar) 4) Bagaimana keadaan nyeri jika pasien buang air besar atau flatus? (pada IBS akan lebih nyaman) Pada IBS diare sering dideferensial diagnosis dengan defisisensi laktase. Kelainan lain yang juga harus dipikirkan adalah kanker kolorektal, divertikulitis, Inflammatory Bowel Disease (IBD), obstrusksi mekanik pada usus halus atau kolon, infeksi usus, iskemia, maldigesti dan malabsorbsi serta endometriosis pada pasien mengalami nyeri pada saat menstruasi. Ada beberapa tanda alarm yang harus diperhatikan sehingga diagnosis lebih menjurus ke arah suatu penyakit organik pada IBS yang antara lain onset umur lebih besar dari 55 tahun, riwayat keluhan pertama kali kurang dari enam bulan, perjalanan penyakitnya progresif atau sangat berat, gejala-gejala timbul pada malam hari, perdarahan per anus, anoreksia, berat badan turun, riwayat keluarga menderita kanker, pada pemeriksaan fisik ditemukan kelainan misal adanya distensi abdomen, anemia atau demam. Apabila tanda-tanda alarm ini ditemukan selain gejala-gejala IBS maka penyebab organik harus dipikirkan terlebih dahulu sehingga pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain harus segera dilakukan.

17 2.7.1.5 Penatalaksanaan 1. Farmako a. Antibiotik The rifaximin antibiotik nonabsorbed (<0,4%) adalah spektrum luas antibiotik khusus untuk patogen enterik (yaitu, gram positif, gram negatif, aerobik dan anaerobik) dari saluran pencernaan. Rifaximin adalah analog struktural. Ia mengikat ke subunit-beta-dependent DNA polimerase RNA bakteri,

sehingga menghambat sintesis RNA. Hal ini diindikasikan untuk Escherichia enterotoksigenik) coli (dan yang enteroaggregative dengan strain 'diare

berhubungan

wisatawan. Rifaximin telah dipelajari pada pasien dengan sindrom iritasi usus besar dan diyakini untuk meningkatkan gejala kembung, diare, sakit perut, dan sembelit. b. Antikolinergik Antispasmodic yang menghambat depolarisasi usus halus-otot pada reseptor muscarinic. i. Dicyclomine hidroklorida (Bentyl) Obat ini mengurangi urgensi kotoran dan rasa sakit. Hal ini berguna dengan gejala diare-dominan. Blok aksi asetilkolin pada situs parasimpatis di kelenjar sekretori, otot polos, dan SSP. Efek samping dosis MAA. ii. Hiosiamin sulfat (Levsin) Blok aksi asetilkolin pada situs parasimpatis di otot polos, sekresi kelenjar, dan SSP, yang, pada gilirannya, memiliki efek antispasmodic. Mengurangi urgensi

kotoran dan rasa sakit. Berguna dengan gejala diaredominan. c. Antidiare Golongan opioid sintetik nonabsorbable. Mereka

memperpanjang waktu transit GI dan sekresi penurunan melalui reseptor -opioid perifer. Mereka mengurangi nosisepsi visceral melalui penghambatan jalur aferen.

18 Diphenoxylate hidroklorida 2,5 mg dengan atropin sulfat 0,025 mg (Lomotil) kombinasi obat yang terdiri dari diphenoxylate, yang merupakan congener meperidin sembelit, dan atropin untuk mencegah penyalahgunaan. Menghambat berlebihan GI penggerak dan motilitas. Ini dapat memperburuk sembelit. Loperamide (Imodium) pada otot usus untuk menghambat gerak peristaltik dan memperlambat motilitas

usus. Memperpanjang pergerakan elektrolit dan cairan melalui usus dan meningkatkan viskositas dan hilangnya cairan dan elektrolit.Tersedia di atas meja. Meningkatkan frekuensi dan konsistensi tinja, mengurangi sakit perut dan urgensi kotoran, dan dapat memperburuk sembelit. Dewasa, 4 mg PO setelah feses longgar pertama awalnya, kemudian 2 mg setelah tiap bangku berikutnya, tidak melebihi 16 mg / d. Pediatric: Pemeliharaan: 0,1 mg / kg PO setelah setiap bangku longgar, tidak melebihi dosis awal. Kronis diare: 0,08-0,24 mg / kg / d tawaran dibagi / tid; tidak melebihi 2 mg / dosis. d. Antidepresan trisiklik Menyediakan antidepressive dan sifat analgesik. Berbagai agen memiliki khasiat; penelitian banyak yang berkonsentrasi pada imipramine dan amitriptyline (off-label digunakan). Contohnya, Imipramine (Tofranil). Obat ini memberikan efek analgesik mendalam dengan meningkatkan ambang nyeri di usus. Ini memperpanjang waktu transit oral-cecal, mengurangi sakit perut, mucorrhea, dan frekuensi tinja, dan meningkatkan kesejahteraan global variabel dalam studi. Pengaruh pada dosis subterapeutik atas tindakan antidepressive menunjukkan

mekanisme independen. e. Alosetron (Lotronex) Sebuah antagonis kuat dan selektif jenis reseptor serotonin 5HT3. reseptor 5-HT3 secara ekstensif terletak di neuron enterik dari saluran GI, dan stimulasi menyebabkan hipersensitif dan hiperaktif dari usus.

19 Alosetron blok reseptor ini dan dengan demikian efektif dalam mengontrol gejala sindrom iritasi usus besar. Hal ini disetujui hanya untuk perlakuan terhadap wanita dengan berat IBS diaredominan kronis yang belum menanggapi terapi konvensional sindrom iritasi usus. Kurang dari 5% dari kasus irritable bowel syndrome dianggap parah, dan hanya sebagian kecil dari kasus yang parah adalah IBS diare-dominan. Membatasi

penggunaannya untuk populasi ini sangat mempengaruhi dimaksudkan untuk memaksimalkan rasio manfaat-untukrisiko. Obat sebelumnya dihapus dari pasar AS tetapi

diperkenalkan kembali dengan pembatasan baru disetujui oleh FDA pada tanggal 7 Juni 2002.Pembatasan adalah karena peristiwa GI serius dan tak terduga yang merugikan (termasuk beberapa yang menyebabkan kematian) melaporkan dalam hubungannya dengan penggunaan menyusul persetujuan aslinya pada bulan Februari 2000. f. Klorida-Channel Activator Agen ini meningkatkan klorida-kaya sekresi cairan usus tanpa mengubah konsentrasi natrium dan kalium dalam serum. Lubiprostone (Amitiza). Mengaktifkan klorida saluran pada bagian apikal dari epitelium usus kecil. Akibatnya, ion klorida juga dikeluarkan.Natrium dan air secara pasif berdifusi ke lumen untuk mempertahankan isotonicity. Obat ini disetujui FDA untuk digunakan dalam sembelit idiopatik. Penelitian telah menunjukkan efektivitas lebih dari 12 minggu pada pasien dengan IBS konstipasi-dominan juga. g. Bulk-Pembentuk Pencahar Menggunakan suplemen serat untuk meningkatkan gejala sembelit dan diare. Gunakan adalah kontroversial. Produkproduk ini terbuat dari polisakarida hidrofilik alam dan semisintetik dan turunan selulosa yang larut atau membengkak dalam cairan usus, membentuk gel emolien yang memfasilitasi perjalanan isi usus dan merangsang peristaltik.

20 Metilselulosa (Citrucel), meningkatkan usus evakuasi dengan membentuk cairan kental dan mempromosikan peristaltik. Dewasa: wafer 1-2, 1-2 paket, atau 1-2 sendok teh bulat PO qd / tid dilarutkan dalam 240 ml cairan. Pediatric <6 tahun: tidak dianjurkan 6-12 tahun: 1/2-1 sendok teh bulat PO qd / tid dilarutkan dalam 120 ml cairan > 12 tahun: dosis seperti pada orang dewasa. Psyllium (Metamucil, Fiberall, Reguloid, Konsyl).

Meningkatkan evakuasi usus dengan membentuk cairan kental dan merangsang peristaltik. Dewasa: wafer 1-2, 1-2 paket, atau 1-2 sendok teh bulat PO qd / tid dilarutkan dalam 240 ml cairan. Pediatric <6 tahun: tidak dianjurkan 6-12 tahun: 1/2-1 sendok teh bulat PO qd / tid dilarutkan dalam 120 ml cairan > 12 tahun: dosis seperti pada orang dewasa. 2. Non-Farmako a. Perawatan Medis Manajemen yang sukses bergantung pada hubungan pasienoperator yang kuat. Yakinkan pasien bahwa tidak adanya patologi organik menunjukkan harapan hidup normal. Tekankan kronisitas diharapkan gejala dengan eksaserbasi berkala. Ajarkan pasien untuk mengakui stres dan

menggunakan teknik penghindaran. b. Konsultasi Pertimbangkan rujukan psikiatri. bukti yang sebelumnya telah didukung perbaikan gejala GI dengan perlakuan sukses komorbiditas psikiatri, tapi 2 studi menunjukkan hati-hati harus digunakan ketika menginterpretasikan data tersebut. Zijdenbos dkk melakukan meta-analisis dari 25 percobaan acak yang terdiri dari intervensi psikologi tunggal dengan perawatan biasa atau intervensi mengejek pada pasien yang lebih tua dari 16 tahun untuk tahun 1966-2008. {Ref44} modalitas pengobatan yang diamati psikologi intervensi sebagai kelompok dan terapi perilaku kognitif (perbaikan ukur dalam sakit perut dan kualitas hidup, relatif terhadap

21 perawatan biasa dan plasebo), psikoterapi interpersonal, dan relaksasi / manajemen stres. Hasil jangka panjang juga dinilai.Para peneliti mencatat bahwa perbedaan antara studi dan masalah kualitas gambar membuat kesimpulan yang sulit, namun mereka menyarankan bahwa meskipun terapi perilaku kognitif dan psikoterapi interpersonal yang mungkin efektif segera setelah selesai perawatan, tidak ada bukti yang meyakinkan untuk efek pengobatan berkelanjutan setelah menyelesaikan pengobatan untuk setiap modalitas et al,

pengobatan. Dengan

demikian,

Zijdenbos

direkomendasikan agar penelitian di masa depan harus fokus pada pedoman pengobatan saat ini IBS dan efek jangka panjang mereka. Ford et al mencapai kesimpulan yang sama mengenai penggunaan intervensi psikologi di IBS. Mereka juga melakukan review sistematis dan meta-analisis dari

percobaan terkontrol acak (sampai dengan Mei 2008) pada orang dewasa dengan IBS, namun, kriteria pemilihan mereka termasuk uji coba membandingkan antidepresan dengan plasebo maupun yang membandingkan terapi psikologi dengan terapi kontrol atau perawatan biasa. Para peneliti mencatat bahwa kualitas studi umumnya baik bagi mereka antidepresan melibatkan tapi miskin bagi mereka yang melibatkan terapi psikologi. Ford et al menyimpulkan bahwa antidepresan efektif untuk pengobatan IBS, tetapi meskipun fakta bahwa data yang tersedia menunjukkan terapi psikologis mungkin kemanjuran sebanding, ada bukti kurang berkualitas tinggi untuk penggunaan rutin terapi psikologi pada pasien dengan IBS. c. Diet Serat suplemen dapat memperbaiki gejala sembelit dan diare. Pengobatan secara individual karena beberapa pasien mengalami kembung dan distensi diperburuk dengan diet tinggi serat.

22 Senyawa polycarbophil (misalnya Citrucel, FiberCon) dapat menghasilkan gas dalam perut kurang dari senyawa psyllium (misalnya, Metamucil). Data mengenai efektivitas serat yang kontroversial karena 40-70% pasien meningkatkan dengan plasebo. Asupan air bijakasana pada pasien yang umumnya mengalami sembelit. Dianjurkan penghindaran kafein dapat membatasi kecemasan dan eksaserbasi gejala. Penghindaran legum dapat menurunkan perut kembung laktosa dan / atau fruktosa harus dibatasi atau dihindari pada pasien dengan gangguan ini berkontribusi. Berhati-hati untuk suplemen kalsium pada pasien membatasi asupan laktosa. d. Kegiatan Tidak ada batasan dianjurkan. 2.7.1.6 Komplikasi dan prognosis 1. Komplikasi Komplikasi penyakit fungsional dari saluran pencernaan secara relatif terbatas. Karena gejala-gejala paling sering diprovokasi oleh makan, pasien-pasien yang merubah diet-diet mereka dan

mengurangi pemasukan kalori-kalori mereka mungkin kehilangan berat badan. Untungnya, kehilangan berat badan adalah tidak umum pada penyakit-penyakit fungsional, dan ia harus menyarankan kehadiran dari suatu penyakit non-fungsional. Gejala-gejala yang membangunkan pasien-pasien dari tidur juga adalah lebih mungkin disebabkan oleh penyakit-penyakit non-fungsional daripada

fungsional. Paling umum, penyakit-penyakit fungsional mengganggu kenyamanan pasien dan aktivitas-aktivitas harian mereka.

Contohnya, pasien-pasien yang menderita dari diare pagi hari mungkin tidak meninggalkan rumah sampai diarenya berhenti. Jika diarenya menetap, mereka mungkin pergi hanya ketempat-tempat dimana mereka tahu bahwa suatu toilet tersedia secara siap. Pasienpasien yang mengembangkan nyeri setelah makan mungkin melompati (tidak makan) makan siang. Sangat umum, pasien-pasien menghubungkan gejala-gejala dengan makanan-makanan spesifik, seperti susu, lemak, sayur-sayuran, dan lain-lain.

23 Apakah hubungan-hubungan ini adalah nyata atau tidak, pasienpasien ini akan membatasi diet-diet mereka sesuai dengan itu. Susu adalah makanan yang paling umum dihilangkan, seringkali secara tidak perlu dan pada kerugian dari pemasukan kalsium yang cukup. Gangguan dengan aktivitas-aktivitas harian juga dapat menjurus pada persoalan-persoalan dengan hubungan-hubungan antar ribadi,

terutama dengan pasangan-pasangan (suami-istri). Bagaimanapun, kebanyakan pasien-pasien dengan penyakit fungsional cenderung untuk hidup dengan gejala-gejala mereka dan dengan jarang mengunjungi dokter-dokter untuk diagnosis dan perawatan. 2. Prognosis Prognosis dari IBS tergantung pada peningkatan pengetahuan kita dari proses-proses (mekanisme-mekanisme) yang menyebabkan IBS. Mendapatkan pengetahuan ini, pada gilirannya, tergantung pada pembiayaan penelitian. Karena kesulitan-kesulitan dalam

melaksanakan penelitan pada IBS, pengetahuan ini tidak akan datang dalam waktu yang cepat. Sampai kita mempunyai suatu pengertian dari mekanisme-mekanisme dari IBS, perawatan-perawatan yang lebih baru akan didasarkan pada pengertian kita yang berkembang dari fungsi kontrol pencernaan yang normal, yang sedang berlanjut lebih cepat. Terutama, ada minat yang kuat dalam neurotransmitters usus, yang adalah kimia-kimia yang digunakan oleh syaraf-syaraf usus untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Interaksi-interaksi dari neurotransmitters ini bertanggung jawab untuk penyesuaian

(modulasi) fungsi-fungsi dari usus-usus, seperti kontraksi dari otototot dan pengeluaran cairan dan lendir. Akhirnya, ada persoalan dari suatu hubungan antara IBS dan bakteri-bakteri usus. Melaui waktu beberapa tahun berikutnya, banyak informasi akan mengumpul pada hubungan yang potensial ini.

24 2.8 Ulasan Saraf parasimpatis pada saluran cerna bersifat memberikan stimulasi, kebalikan dari kerjannya pada organ lain. Persarafan saluran cerna berasal dari ganglionic celiacus atau ganglionic misentrikum superior dan inferior serta plexus pelvic. IBS adalah suatu penyakit yang utamanya pada fungsionalnnya bukan organik, adalah penting untuk menyebutkan suatu penyakit fungsional utama pada bagian bawah saluran cerna, yaitu dari usus halus ke usus besar, dalam hal ini disfungsional saluran cerna bagian atas adalah dispepsia fungsional. Gejala-gejala dari dispepsia diperkirakan berasal dari saluran pencernaan bagian atas; kerongkongan, lambung, dan bagian pertama dari usus kecil. Gejala-gejala termasuk ketidakenakan perut bagian atas, perut kembung (perasaan subyektif dari kepenuhan perut tanpa penggelembungan yang obyektif), atau penggelembungan yang obyektif

(pembengkakan atau pembesaran). Gejala-gejala mungkin atau mungkin tidak berhubungan dengan makanan-makanan. Mungkin ada mual dengan atau tanpa muntah dan cepat kenyang (suatu perasaan kekenyangan setelah makan hanya sejumlah kecil makanan). Awalnya iritasi pada saluran cerna karena kandungan capsycien yang terdapat pada makanan pedas, yang memicu terjadinya hipersensitivitas. Seringnya pada IBS, terjadi karena gangguan psikosomatik yang bermanifestasi ke saluran cerna. Terapi dari IBS sangat simptomatik karena benar-benar kelainan fungsional. Pemberian probiotik jadi perbincangan hangat saat ini. 2.9 Kesimpulan Berdasarkan berbagai masalah yang telah dibahas dalam tutorial pemicu ke empat ini maka dapat disimpulkan bahwa, Ny. N, 35 tahun menderita Irritable Bowel Syndrome (IBS), dengan terdapatnya gejala-gejala, seperti perut kembung disertai dengan diare apabila memakan makanan pedas, sering merasa mulas, dan hilang apabila buang air besar, keluhan ini hilang timbul diare dialami dengan frekuensi 34 x/hari, sudah dialami berulang-ulang, selama 2 tahun. Pengobatan pada IBS, seperti yang telah dijelaskan merupakan pengobatan simptomatik. Pada Ny. N, juga pengobatan yang simptomatik dan diberikan edukasi untuk menghindari makanan pedas yang menjadi pencetus, jika perlu diberikan psikoterapi.

25

DAFTAR PUSTAKA

Manan, Chudahman, Ari Fahrial Syam. Irritable Bowel Syndrome (IBS). W. Sudoyo, Aru, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta: FK UI 2006; 381-382. Owyang, Chun. Irritable Bowel Syndrome. Fauci, Anthony S, Dennis L. Kasper, Dan L. Longo, dkk. Harrisons Principle of Internal Medicine 17th Edition. Mc Graw Hill: USA 2008; 1899-1901. Kassinen A, Krogius-Kurikka L, Mkivuokko H, et al. The Fecal Microbiota of Irritable Bowel Syndrome Patients Differs Significantly From that of Healthy Subjects. Kassinen A, Krogius-Kurikka L, Mkivuokko H, et al. Gastroenterology. Jul 2007;133(1):24-33.

Shepherd SJ, Parker FC, Muir JG, et al. Dietary Triggers of Abdominal Symptoms in Patients With Irritable Bowel Syndrome: Randomized PlaceboControlled Evidence. Shepherd SJ, Parker FC, Muir JG, et al. Clin Gastroenterol Hepatol. Jul 2008;6(7):765-71.

Pimentel M, Park S, Mirocha J, et al. The Effect of a Nonabsorbed Oral Antibiotic (Rifaximin) on the Symptoms of the Irritable Bowel Syndrome: a Randomized Trial. Pimentel M, Park S, Mirocha J, et al. Ann Intern Med. Oct 17 2006;145(8):557-63. [Best Evidence]

Hunt MG, Moshier S, Milonova M. Brief. Cognitive-Behavioral Internet Therapy for Irritable Bowel Syndrome. Hunt MG, Moshier S, Milonova

M. Brief. Behav Res Ther. Sep 2009;47(9):797-802.

Zijdenbos IL, de Wit NJ, van der Heijden GJ, Rubin G, Quartero AO. Psychological Treatments for the Management of Irritable Bowel Syndrome. Cochrane Database Syst Rev. Jan 21 2009;CD006442. [Best Evidence]

26 Ford AC, Talley NJ, Schoenfeld PS, Quigley EM, Moayyedi P. Efficacy of Antidepressants and Psychological Therapies in Irritable Bowel Syndrome: Systematic Review and Meta-

analysis. Gut. Mar 2009;58(3):367-78. [Best Evidence]