Anda di halaman 1dari 6

Contoh perhitungan: Misalnya akan menghitung validitas tes prestasi belajar matematika.

Sebagai kriterium diambil rata-rata ulangan yang akan dicari validitasnya diberi kode X dan rata-rata nilai harian diberi kode Y. Kemudian dibuat table persiapan sebagai berikut:

TABEL PERSIAPAN UNTUK MENCARI VALIDITAS TES PRESTASI MATEMATIKA No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nama Nadia Susi Cecep Erna Dian Asmara Siswoyo Jihad Yanna Lina Jumlah X X = N Y Y = N x = XX y = YY = 10 = 10 X 6,5 7 7,5 7 6 6 5,5 6,5 7 6 65,0 Y 6,3 6,8 7,2 6,8 7 x 0 + 0,5 + 1,0 + 0,5 - 0,5 Y - 0,1 + 0,4 + 0,8 + 0,4 + 0,6 - 0,2 - 1,3 - 0,4 + 0,1 - 0,6 x2 0,0 0,25 1,0 0,25 0,25 0,25 1,0 0,0 0,25 0,25 3,5 y2 0,01 0,16 0,64 0,16 0,36 0,04 1,69 0,16 0,01 0,36 3,59 xy 0,0 + 0,2 + 0,8 + 0,2 - 0,3 + 0,1 + 1,3 0,0 + 0,05 + 0,3 2,65

6,2 - 0,5 5,1 - 1,0 6 6,5 0 + 0,5

5,9 - 0,5 63,8

65,0 = 6,5

63,8 = 6,38 dibulatkan 6,4

Dimasukkan ke rumus: xy

rxy = (x2) (y2)

2,65 = = 3,5 x 3,59

2,65 12,565

2,65 = = 3,545 Indeks korelasi antara X dan Y inilah indeks validitas soal yang dicari. 2) Korelasi product moment dengan angka kasar NXY (X) (Y) rxy = {(NX2 - (Y2)} {NY2 (Y)2} 0,748

Ket: rxy = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan Dengan menggunakan data hasil tes prestasi matematika di atas kini dihitung dengan rumus korelasi product moment dengan angka kasar yang table persiapannya sebagai berikut: TABEL PERSIAPAN UNTUK MENCARI VALIDITAS TES PRESTASI MATEMATIKA No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Nadia Susi Cecep Erna Dian Asmara Siswoyo Jihad Yanna X 6,5 7 7,5 7 6 6 5,5 6,5 7 Y 6,3 6,8 7,2 6,8 7 6,2 5,1 6 6,5 X2 42,25 49 56,25 49 36 36 30,25 42,25 49 Y2 39,69 46,24 51,84 46,24 49 38,44 26,01 45,5 36 XY 40,95 47,6 54.0 47,6 42 37,2 28,05 39 45,5

10. Lina Jumlah

6 65,0

5,9 63,8

36 426,0

34,81 410,52

35,4 417,3

Dimasukkan ke rumus: NXY (X) (Y) rxy = {(NX2 - (Y2)} {NY2 (Y)2} 10 x 417,3 (65 x 63,8) rxy = (10 x 426 4225) (10 x 410,52 4070,44)

4173 - 4147 rxy = (4260 - 4225) (4105,2 4070,44)

26 rxy = = 35 x 34,76 1216,6

26

26 = = 0,745 34,8797 Untuk memperjelas pengertian tersebut dapat disampaikan keterangan sebagai berikut: Korelasi positif menunjukkan adanya hubungan sejajar anatar dua hal. Misalnya hal pertama nilainya naik, hal kedua ikut naik, sebaliknya jika hal pertama turun, yang kedua ikut turun. Contoh korelasi positif antara nilai IPA dan Matematika. IPA Matematika : 2, 3, 5, 7, 4, 3, 2 : 4, 5, 6, 8, 5, 4, 3

Kondisi nilai Matematika sejajar dengan IPA karena naik dan turunnya nilai matematika mengikutu naik dan turunnya nilai IPA.

Korelasi negative menunjukkan adanya hubungan kebalikan antara dua hal. Misalnya hal pertama nilainya naik, justru yang kedua turun, sebaliknya jika yang pertama turun, yang kedua naik. Contoh korelasi negative antara nilai Bahasa Indonesia dan Matematika. Bahasa Indonesia Matematika : 5, 6, 8, 4, 3, 2 : 8, 7, 5, 1, 2, 3

Keadaan antara dua hal yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu hanya positif atau negative saja, tetapi mungkin 0. Besarnya korelasi pun tidak menentu. Contoh korelasi tidak tertentu. Nilai A Nilai B : 5, 6, 4, 7, 3, 8, 7 : 4, 4, 3, 7, 4, 9, 4

Keadaan kedua nilai tersebut jika dihitung dengan rumus korelasi mungkin positif mungkin negative. Koefisien korelasi selalu terdapat - antara 1,00 sampai + 1,00. Namun kerena dalam menghitung sering dilakukan pembulatan angka-angka, sangat mungkin diperoleh koefisien lebih dari 1,00. Koefisien negative menunjukkan hubungan kebalikan sedangkan koefisien positif menunjukkan adanya kesejajaran untuk mengadakan interpretasi mengenai besarnya koefisien korelasi adalah sebagai berikut: o Antara 0,800 sampai dengan 1,00 o Antara 0,600 sampai dengan 0,800 o Antara 0,400 sampai dengan 0,600 o Antara 0,200 sampai dengan 0,400 o Antara 0,00 sampai dengan 0,200 : sangat tinggi : tinggi : cukup : rendah : sangat rendah

Tes yang terdiri dari banyak butir, tentu saja lebih valid dibandingkan dengan tes yang hanya terdiri dari beberapa butir soal. Tinggi rendahnya validitas menunjukkan tinggi rendahnya reliabilitas tes. Dengan demikian maka semakin panjang tes, maka reliabilitasnya semakin tinggi. Dalam menghitung besarnya reliabilitas berhubung dengan penambahan banyaknya butir soal dalam tes ini ada sebuah rumus yang diberikan oleh Spearman dan Brown sehingga terkenal dengan rumus Spearman Brown.

Rumusnya adalah: nr rnn =

1 + (n - 1) r Ket: rnn n r = Besarnya koefisien reliabilitas sesudah tes tersebut ditambah

butir soal baru = Berapa kali butir-butir soal itu ditambah = Besarnya koefisien reliabilitas sebelum butir-butir soalnya ditambah Contoh: Suatu tes terdiri atas 40 butir soal, mempunyai koefisien reliabilitas 0,70. Kemudian butirbutir soal itu ditambah menjadi 60 butir soal. Maka koefisien reliabilitas baru adalah: nr rnn = 1 + (n - 1) r 1,5 x 0,70 = 1 + (1,5 1) x 0,70 1,05 = 1,35 = 0,79

Referensi :

Biografi Penulis, Hanindya Mustika Ningtyas lahir di Jakarta pada tangga 14 November 1993. Mengenyam pendidikan awal pada tahun 1999 di Taman Kanak-kanak Al-Mutaqin kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar di SDN Semanan 03 Pagi selesai pada tahun 2005, dan melanjutkannya kejenjang Sekolah Menengah Pertama di SMPN 45 Jakarta selesai pada tahun 2008, dan melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMAN 84 Jakarta. Sekarang tercatat sebagai Mahasiswa tingkat II Jurusan Ilmu Sosial Politik di Universitas Negeri Jakarta. Anak ke-2 dari 3 bersaudara ini memiliki hobi nonton film, mendengarkan musik, membaca komik dan novel.