Anda di halaman 1dari 19

IT GOVERNANCE DENGAN COBIT FRAMEWORK

Gusrian Dellisia Abiyoso


Univ. Bina Nusantara

ABSTRAK
Penerapan IT (Informasi Teknologi) pada perusahaan tentunya sudah menjadi hal
yang sudah menjadi hal yang sangat umum. Penggunaan IT pada perusahaan
tentunya membawa banyak manfaat bagi perusahaan, contohnya seperti:
meningkatkan performa bisni, meningkatkan ROI, meminimalisasi biaya dan waktu
pemasaran, dan meminimalisasi resiko dalam bisnis yang dinamis. Namun penerapan
IT pada perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan profit dari perusahaan bisa
dapat berdampak sebaliknya bila Tata Kelola IT tersebut buruk. Untuk itulah
dibutuhkan IT Governance dimana penggunaan dan penerapan IT pada perusahaan
dapat bekerja secara optimal. IT Governance sendiri mempunyai banyak Tools (Alat)
dan salah-satunya adalah COBIT (CONTROL OBJECTIVES FOR INFORMATION
AND RELATED TECHNOLOGY) framework. Dengan adanya COBIT framework
ini perusahaan dapat memanfaatkan IT dengan optimal dan sesuai dengan hasil yang
diharapkan. COBIT juga diharapkan mendukung kebutuhan manajemen dalam
menentukan dan monitoring tingkatan yang sesuai dengan keamanan dan kendali
organisasi mereka. Dengan begitu perusahaan akan merasa bahwa investasi IT-nya
membawa keuntungan maksimal bagi proses bisnis mereka.

Kata Kunci: IT governance, COBIT

PENDAHULUAN
Beberapa hasil lokakarya dan diskusi mengisyaratkan betapa pentingnya
perubahan sistem ini sebagai pendukung pembelajaran dan komunikasi ilmiah
menuju sebuah organisasi riset bertaraf internasional. Perubahan tersebut di satu sisi
membawa dampak positif sebagai peluang bagi sebuah universitas untuk
berkompetetif. Namun di sisi lain, satu hal yang perlu disadari adalah usaha
menerapkan teknologi informasi semaksimal mungkin berarti harus mengubah pola
pikir staf dan para perusahaan yang biasanya punya rasa khawatiran yang cukup
signifikan terhadap dampak perubahan tersebut. Mengubah pola pikir merupakan hal
yang teramat sulit dilakukan, karena pada dasarnya “people do not like to change”.
Kalau saat ini seorang kepala perusahaan dan/atau para pengambil keputusan sudah
memiliki komitmen khusus untuk merencanakan pengembangan sistem informasi
perusahaan terintegrasi, bagaimana dengan para staf dan pegawainya? Karena
penerapan teknologi informasi (TI) ini memerlukan biaya yang cukup besar dan
disertai resiko kegagalan yang tidak kecil, maka TI harus dikelola selayaknya aset
perpustakaan lainnya. Penerapan TI di perusahaan akan dapat dilakukan dengan baik
apabila ditunjang dengan suatu pengelolaan TI (IT Governance) dari mulai

-1-
perencanaan sampai implementasinya, dan pengelolaan TI yang akan diterapkan
harus mengacu pada standar yang sudah mendapatkan pengakuan secara luas.

Identifikasi Masalah
Tata Kelola TI yang diharapkan mendapat dukungan dari stakeholder,
memberikan pengembangan dan implementasi sistem on budget, on schedule dengan
kualitas yang tinggi, meningkatkan efisiensi, produktivitas dan efetktivitas, serta
menjamin kerahasiaan, kelengkapan, dan ketersedian informasi. Namun Tata Kelola
TI dapat memiliki beberapa masalah yaitu dimana TI hanya menjadi concern dari
terhadap tim teknikal karena tidak memperoleh perhatian dari pimpinan puncak,
kerugian financial, rusaknya reputasi Proyek overbudget/overtime/underspec,
penurunan efektivitas karena buruknya kualitas output system TI, dan buruknya
kualitas support yang digejalai oleh system yang tidak terintegrasi, pulau-pulau
aplikasi, buruknya kualitas system, tingginya keluhan user mengenai kinerja system
TI, rendahnya kepedulian terhadap aspek kerahasisaan informasi, rendahnya tingkat
ketersediaan informasi, tidak adanya kebijakan dan prosedur tata kelola IT secara
utuh.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup IT governance dengan COBIT luas merupakan kombinasi dari
prinsip-prinsip yang telah ditanamkan dan dikenal sebagai acuan model (seperti:
COSO), dan disejajarkan dengan IT balanced scorecard secara komplitnya paket
produk cobit terdiri dari cobit produk family, yaitu: executive summary, framework,
control objectives, audit guidelines, implementation tool set, serta management
guidelines, yang sangat berguna atau dibutuhkan oleh auditor, para IT users, dan para
manajer. Kontrol internal mencakup policy, struktur organisasi, praktek dan prosedur
yang menjadi tanggung jawab manajemen perusahaan.
Adapun ruang lingkup dalam penulisan IT governance dengan COBIT ini
adalah: Membantu menganalisis dan menjaga profitablitas pada lingkungan
perubahan teknologi yang bergantung pada seberapa baik pengaturan control yang
dilakukan serta bias digambarkan sebagai kebijakan kendali TI secara jelas, bersih
dan praktek yang baik.

Tujuan dan Manfaat


Dalam kerangka corporate governance, IT governance menjadi semakin
utama dan merupakan bagian tidak terpisahkan terhadap kesuksesan penerapan
corporate governance secara menyeluruh. IT governance memastikan adanya
pengukuran yang efisien dan efektif terhadap peningkatan proses bisnis perusahaan
melalui struktur yang menautkan proses-proses TI, sumberdaya TI dan informasi ke
arah dan tujuan strtegis perusahaan. Lebih jauh lagi, IT governance memadukan dan
melembagakan best practices dari porses perencanaan, pengelolaan, penerapan,
pelaksanaan dan pendukung, serta pengawasan kinerja TI, untuk memastikan
informasi perusahaan dan teknologi yang terkait lainnya benar-benar menjadi
pendukung bagi pencapaian sasaran perusahaan.. dengan keterpaduan tersebut,
diharapkan perusahaan mampu mendayagunakan informasi yang dimilikinya

-2-
sehingga dapat mengoptimumkan segala sumberdaya dan proses bisnis mereka untuk
menjadi lebih kompetitif.
Dengan adanya IT governance, proses binis perusahaan akan menjadi jauh
lebih transparan, tanggung jawab serta akuntabilitas tiap fungsi atau individu semakin
jelas. IT givernance bukan hanya penting bagi teknis TI saja, direksi dan bahkan
komisaris, yang tanggung jawab terhadap investasi dan pengelolaan resiko
perusahaan, adalah pihak utama yang harus memastikan bahwa perusahaannya
memiliki TI governance. Dengan demikian keuntungan optimum investasi TI tercapai
dan sekaligus memastikan semua potensi resiko investasi TI telah di antisipasi dan
dapat terkendali dengan baik.
Menurut cobit, keputusan bisnis yang baik harus didasarkan pada knowledge
yang berasal dari informasi yang relevan, komprehensif, dan tepat waktu. Informasi
seperti itu dihasilkan oleh sistem informasi yang memenuhi 7 kriteria: efektivitas,
efesiensi, kerahasiaan, keterpaduan, kesediaan, kepatuhan terhadap rencana atau
aturan, dan keakuratan informasi yang dihasilkan. Kunci utama untuk mengelola
bisnis secara menguntungkan pada kondisi lingkungan yang berubah pesat.
Adapun tujuan dari COBIT ini sendiri adalah :
• Diharapkan dapat membantu menemukan berbagai kebutuhan manajemen
yang berkaitan dengan TI.
• Agar dapat mengoptimalkan investasi TI
• Menyediakan ukuran atau kriteria ketika terjadi penyelewengan atau
penyimpangan.
Adapun manfaat jika tujuan tersebut tercapai adalah :
• Dapat membantu manajemen dalam pengambilan keputusan.
• Dapat mendukung pencapian tujuan bisnis.
• Dapat meminimalisasikan adanya tindak kecurangan/ fraud yang
merugikan perusahaan yang bersangkutan.

LANDASAN TEORI

Pengertian IT governance
Menurut Tarigan (2006, p25) IT governance diartikan sebagai struktur dari
hubungan dan proses yang mengarahkan dan mengatur organisasi dalam rangka
mencapai tujuannya dengan memberikan nilai tambah dari pemanfaatan teknologi
informasi sambil menyeimbangkan risiko dibandingkan dengan hasil yang diberikan
oleh teknologi informasi dan prosesnya.
IT governance merupakan satu kesatuan dengan sukses dari enterprise
governance melalui pen-ingkatan dalam efektivitas dan efisiensi dalam proses
perusahaan yang berhubungan. IT governance menyediakan struktur yang
menghubungkan proses TI, sumber daya TI dan informasi bagi strategi dan tujuan
perusahaan. Lebih jauh lagi IT governance menggabungkan good (best) practice dari
perencanaan dan pengorganisasian TI, pembangunan dan pengimplemantasian,
delivery dan support, serta memonitor kinerja TI untuk memastikan kalau informasi

-3-
perusahaan dan teknologi yang berhubungan mendukung tujuan bisnis perusahaan. IT
governance memungkinkan perusahaan untuk memperoleh keuntungan penuh dari
informasinya, dengan memaksimalkan keuntungan dari peluang dan keuntungan
kompetitif yang dimiliki.

Pengertian COBIT
Menurut Gondodiyoto (2003, p15). Cobit adalah sekumpulan dokumentasi
best practices untuk IT governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user),
dan manajemen, untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan control dan
masalah-masalah teknis IT. COBIT bermanfaat bagi auditor karena merupakan teknik
yang dapat membantu dalam mengindetifikasi IT control issues. COBIT berguna bagi
para IT users karena memperoleh keyakinan atas kehandalan system aplikasi yang di
pergunakan. Sedangkan para manager memperoleh manfaat dalam keputusan
investasi di bidang IT serta infrastrukturnya, mentusun strategi IT plan, menentukan
information architecture, dan keputusan atas procurement/ mesin. Disamping itu,
dengan keterandalan sistem informasi yang ada pada perusahaan diharapkan berbagai
keputusan bisnis dapat didasarkan atas informasi yang ada.
Menurut Robert (2008, p30) Control Objectives for Information and related
Technology (COBIT) adalah sekumpulan dokumentasi best practices untuk IT
governance yang dapat membantu auditor, manajemen and pengguna (user) untuk
menjembatani gap antara risiko bisnis, kebutuhan kontrol serta permasalahan-
permasalahan teknis.

PEMBAHASAN

IT Governance
Kesadaran IT Governance di Amerika meningkat setelah kasus skandal
keuangan yang terjadi di Amerika sehingga keluarlah the Sarbanes-Oxley Act di
tahun 2002 untuk mengembalikan stakeholder confidence. Hal ini terbukti dengan
meningkatnya belanja TI dengan pertumbuhan 5% atau US$916 milyar ditahun 2004
(IDC, 2005). Sarbanes-Oxley Act mewajibkan eksekutif perusahaan menyatakan
pertanggung-jawaban mereka dalam membangun, mengevaluasi dan memonitor
efektifitas system pengendalian intern dimana fungsi TI sangat signifikan untuk
mencapai tujuan ini.
Dalam membangun sistem pengendalian intern yang dapat diandalkan, sangat
berkaitan dengan IT Governance yaitu pemilihan dan pengembangan TI yang
memadai. Melihat kasus fraud yang terjadi pada bank-bank di negara kita, cenderung
disebabkan karena lemahnya pemilihan dan pengembangan TI sehingga
menghasilkan Sistem Informasi (SI) yang tidak handal. Lemahnya Sistem Informasi
(SI) tidak memungkinkan terjadinya deteksi dini (warning sign) atas kecurangan kecil
yang mulanya dilakukan secara coba-coba. Kecurangan kecil meningkat menjadi
kecurangan besar karena pelaku mempunyai kesempatan dan mengetahui kelemahan
system pengendalian intern yang ada dalam organisasi, disamping faktor
keserakahan.

-4-
Fokus Area dari IT Governance adalah
• pelurusan strategis: berfokus pada memastikan pertalian IT dan perencanaan
bisnis; Pada penjelasan, memelihara dan mensahkan proposisi nilai IT; dan
pada membariskan operasi IT dengan operasi perusahaan.
• Value Delivery : Adalah tentang melaksanakan proposi nilai seluruh siklus
pengiriman, memastikan bahwa IT menghasilkan manfaat yang dijanjikan
terhadap strategi itu. Berkonsentrasi pada optimizing biaya dan membuktikan
nilai yang intrinsik tentangnya
• Manajemen sumber daya: Adalah tentang investasi yang optimal dalam
manajemen yang sesuai, sumber daya IT kritis: aplikasi, informasi, orang dan
infrastruktur. Hal-Hal penting berhubungan dengan optimisasi infrastruktur
dan pengetahuan.
• Manajemen resiko: Memerlukan kesadaran resiko oleh pegawai
perseroan/perusahaan senior, suatu pemahaman yang jelas bersih
(menyangkut) perusahaan, dan menempelkan manajemen resiko tanggung-
jawab di dalam organisasi
• Pengukuran pekerjaan: Taksiran dan implementasi strategi monitor,
penyelesaian proyek, sumber daya pemakaian, jasa;layanan dan capaian
proses mengirimkan, menggunakan, sebagai contoh, kartu catatan seimbang
yang menterjemahkan strategi ke dalam tindakan untuk mencapai gol yang
bisa mengukur di luar akuntansi konvensional
Dalam hal ini dapat disimpulkan dalam tatakelola yang baik, paranan IT
Governance (tatakelola TI) merupakan hal yang sangat penting, dalam konteks
organisasi bisnis yang berkembang kebutuhan akan TI bukan merupakan barang yang
langka. COBIT (control objective for information and related technology) dapat
digunakan sebagai tools yang digunakan untuk mengefektifkan implementasi IT
Governance, yakni sebagai management guideline dengan menerapkan seluruh
domain yang terdapat dalam COBIT, yakni planning organization (PO), acquisition-
implementation (AI), Delivery-support (DS) dan Monitoring (M)
Sorotan terhadap pengadaan barang IT terhadap organisasi meningkat akhir-
akhir ini. Sebenarnya apa yang terjadi dari permasalahan tersebut? Memang,
penggunaan teknologi informasi (selanjutnya disebut IT) di berbagai industri jasa
tidak dapat dihindarkan dan telah mengubah sifat dari penyampaian jasa, yang
memaksa pegawai dan pelanggan untuk lebih berinteraksi dengan teknologi yang
dapat menghemat waktu, ruang dan jarak tempuh atas data dan informasi dalam
penyampaian servis yang dapat memuaskan nasabah pelanggan.
Industri perbankan jelas sangat terimbas dengan perkembangan IT, yang
berdampak pada tingkat persaingan ketat untuk memperebutkan nasabah. Tuntutan
untuk menyediakan jasa keuangan yang universal menjadi tidak terhindarkan
(traditional banking, e-banking, mobile banking, phone banking, wire transfrer,
priority banking; securitization; insurance; investment banking; dan seterusnya).
Tidak ada lagi batas antara pasar keuangan antar negara (borderless).
Sayangnya, kesadaran atas pemilihan dan pengembangan IT yang handal di
masa lalu, lambat disadari oleh para bankir kita. Para bankir tidak mempunyai visi

-5-
atau misi ke depan yang berkaitan dengan pemilihan dan pengembangan IT.
Kesadaran IT Governance baru terasa ketika persaingan makin menggila dimana
belanja barang IT telah menjadi luar biasa mahal paska krisis ekonomi 1997.
Bank yang menyadari pentingnya IT Governance dapat memetik "buah" dari
investasi dan pengorbaan yang telah mereka lakukan. Sebaliknya, bank yang
terlambat terlihat terengah-engah dan menjadi kalah bersaing.
Kegagalan pengembangan IT dapat meningkatkan keluhan dan tututan
nasabah serta tingginya risiko operasional misalnya a.l. perbedaan angka laporan,
kesulitan mengadopsi prinsip akuntansi yang berlaku, kesulitan untuk melakukan
rekonsiliasi antar rekening sehingga menimbulkan pos terbuka dalam jumlah besar
akibat tidak memadainya data dan informasi yang dihasilkannya atau sistem
informasi manajemen (MIS). Hal tersebut berkaitan dengan kelemahan sistem
pengendalian intern sehingga terjadi kesempatan bagi pegawai untuk melakukan
fraud (windows of the opportunities). Akibatnya reputasi bank melorot, padahal unsur
kepercayaan sangat penting bagi industri perbankan.
Ketidak-mampuan bank untuk memuaskan nasabah membuatnya pindah ke
bank lain dan mengakibatkan bank kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan.
Karena nasabah dapat menggunakan berbagai jasa bank misalnya deposan dan atau
giran sekaligus debitur.
Kesadaran pemilihan dan pengembangan IT terletak pada top management
karena mereka penentu strategi bisnis. Hal ini melibatkan pengadaan IT yang relatif
mahal yang seringkali tidak sesuai dengan kaidah good corporate governance. Bukan
rahasia lagi kalau korupsi sudah membudaya sehingga mark-up pembelian atau
membeli barang yang bermutu rendah dengan harga mahal menjadi praktek biasa
dengan komisi masuk kantung pribadi. Barang IT lalu menjadi beban perusahaan
yang dapat menimbulkan IT Failure lalu menimbulkan frustasi dan tingginya tingkat
risiko operasional dan risiko reputasi.
Organisasi yang mengedepankan governance akan memilih perangkat IT yang
berkualitas sehingga menghasilkan sistem informasi manajemen (MIS) yang handal
dan mendukung pengembangan bisnisnya. Sebagaimana disampaikan Damianides
(Information Systems Management, 2005): "The prominent role of IT in creating
business value has accelerated the establishment of the concept of IT Governance as a
high priority for boards of directors and executive management. IT Governance
practices need to focus on ensuring that the expectations of IT are met. An effective
IT Governance program will help organizations understand the issues and ensure that
IT can sustain operations, and help enable companies to use IT for competitive
advantage.".
Dengan kata lain, memang IT Governance awalnya berada di tangan direksi,
komisaris atau pemilik yang mau tahu perubahan/percepatan IT dan mempunyai
komitmen dalam pemilihan/pengembangan IT sehingga peran Chief Information
Officer (CIO) saat ini menjadi penting karena membantu manajemen untuk melihat
apa yang dibutuhkan organisasi agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan/tuntutan
pasar (competitive advantage).
Peran pegawai juga penting, apakah mereka mau menyesuaikan dengan
"perubahan" yang berkaitan perkembangan IT sehingga diperlukan sikap inovatif,

-6-
ketekunan dan keinginan untuk belajar. Perubahan IT dapat menyebabkan perubahan
prosedur kerja yang dapat menimbulkan frustrasi. Jim Collins dalam buku best
sellernya Good to Great mengatakan teknologi memang dapat mempercepat
transformasi tetapi teknologi tidak dapat menyebabkan tranformasi itu sendiri.
Karenanya, IT Governance juga berkaitan dengan pengembangan SDM yang
berkualitas.

IT Governance vs Internal Control


Dalam membangun sistem pengendalian intern yang dapat diandalkan (sebagai salah
satu sarana pencegahan fraud) sangat berkaitan dengan IT Governance yaitu
pemilihan dan pengembangan IT yang memadai. Tidak mengherankan apabila kasus
fraud pada bank-bank di negara kita, terjadi karena lemahnya pemilihan dan
pengembangan IT sehingga menghasilkan MIS yang tidak handal. Lemahnya MIS
tidak memungkinkan "deteksi dini" atas kecurangan kecil yang mulanya dilakukan
secara coba-coba. Kecurangan kecil meningkat menjadi kecurangan besar karena si
pelaku mempunyai "kesempatan" dan mengetahui kelemahan pengawasan yang ada
di organisasinya, disamping faktor "keserakahan". Mungkin saja, kalau pelaku
bermain kecil-kecilan, kasus tersebut tidak sampai tercium dan terbongkar. Namun
demikian, untuk urusan fraud, bukan masalah besar kecilnya. Intinya fraud adalah
sesuatu yang merusak dan merugikan kelangsungan perusahaan dan tatanan negara di
masa depan.

Faktor Budaya dalam IT Governance


Ketika berbicara IT Governance dalam konteks budaya Indonesia, maka pola
pikir yang digunakan dalam pembahasan adalah pola pikir budaya lembaga
organisasi, baik organisasi profit maupun organisasi non-profit. Hal ini disebabkan
implementasi IT Governance dilakukan dalam organisasi, yakni organisasi yang
berada di Indonesia, sehingga pembahasan implementasi IT Governance akan
mengacu pada pengaruh budaya indonesia dalam mempengaruh orang-orang yang
berada dalam organisasi tersebut Kondisi budaya yang ada di Indonesia sangat
berbeda dengan kondisi yang ada di luar Indonesia, seperti Amerika maupun Eropa.
Latar belakang budaya ini akan menyebabkan perbedaan kondisi psikologis
karyawan yang ada dalam masing-masing organisasi. Budaya merupakan satu set
nilai, penuntun, kepercayaan, pengertian, norma, falsafah, etika, dan cara berpikir.
Kebudayaan Indonesia secara sempit dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan
lokal yang telah ada sebelum terbentuknya Indonesia pada tahun 1945. Seluruh
kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di
Indonesia adalah merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia. Namun,
dalam studi dan realita yang ada, keanekaragaman kebudayaan indonesia, seringkali
menimbulkan permasalahan dan kendala tersendiri dalam kehidupan organisasi.
Kondisi ini menjadi perhatian yang cukup signifikan ketika sebuah organisasi
mengimplementasikan Sarbanes-Oxley dan COBIT dalam konteks budaya Indonesia.

-7-
COBIT
COBIT dikembangkan oleh IT Governance Institute, yang merupakan bagian
dari Information Systems Audit and Control Association (ISACA). COBIT
memberikan arahan ( guidelines ) yang berorientasi pada bisnis, dan karena itu
business process owners dan manajer, termasuk juga auditor dan user, diharapkan
dapat memanfaatkan guideline ini dengan sebaik-baiknya.
Cobit adalah merupakan a set of best practies (framework) bagi pengelolaan
teknologi informasi (IT management). Cobit disusun oleh oleh IT Governace Institute
(ITGI) dan Infomation Systems Audit and Control Association (ISACA), tepatnya
Information Systems Audit and ControFoundation’s(ISACF) pada tahun 1992. edisi
pertamanya dipublikasikan pada tahun 1996, edisi kedua pada tahun 1998, edisi
ketiga tahun 2000 (versi on-line dikeluarkan tahun 2003) dan saat ini adalah edisi
keempat pada desember 2005.
COBIT dikembangkan sebagai suatu generally applicable and accepted
standard for good Information Technology (IT) security and control practices . Istilah
“ generally applicable and accepted ” digunakan secara eksplisit dalam pengertian
yang sama seperti Generally Accepted Accounting Principles (GAAP). Sedang,
COBIT’s “good practices” mencerminkan konsensus antar para ahli di seluruh dunia.
COBIT dapat digunakan sebagai IT Governance tools, dan juga membantu
perusahaan mengoptimalkan investasi TI mereka. Hal penting lainnya, COBIT dapat
juga dijadikan sebagai acuan atau referensi apabila terjadi suatu kesimpang-siuran
dalam penerapan teknologi. Suatu perencanaan Audit Sistem Informasi berbasis
teknologi (audit TI) oleh Internal Auditor, dapat dimulai dengan menentukan area-
area yang relevan dan berisiko paling tinggi, melalui analisa atas ke-34 proses
tersebut. Sementara untuk kebutuhan penugasan tertentu, misalnya audit atas proyek
TI, dapat dimulai dengan memilih proses yang relevan dari proses-proses tersebut.
COBIT bermanfaat bagi auditor karena merupakan teknik yang dapat
membantu dalam identifikasi IT controls issues. COBIT berguna bagi para IT user
karena memperoleh keyakinan atas kehandalan system aplikasi yang dipergunakan.
Sedangfkan para manager memperoleh manfaat dalam keputusan investasi di bidang
IT serta Infrastruktur nya, menyusun strategic IT Plan, menentukan Information
Architecture, dan keputusan atas procurement ( pengadaan/pembelian) mesin.
Lebih lanjut, auditor dapat menggunakan Audit Guidelines sebagai tambahan
materi untuk merancang prosedur audit. Singkatnya, COBIT khususnya guidelines
dapat dimodifikasi dengan mudah, sesuai dengan industri, kondisi TI di Perusahaan
atau organisasi Anda, atau objek khusus di lingkungan TI. Selain dapat digunakan
oleh Auditor, COBIT dapat juga digunakan oleh manajemen sebagai jembatan antara
risiko-risiko TI dengan pengendalian yang dibutuhkan (IT risk management) dan juga
referensi utama yang sangat membantu dalam penerapan IT Governance di
perusahaan.
COBIT dapat dipakai sebagai alat yang komprehensif untuk menciptakan IT
Governance pada suatu perusahaan. COBIT mempertemukan dan menjembatani
kebutuhan manajemen dari celah atau gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan
masalah-masalah teknis IT, serta menyediakan referensi best business practices yang
mencakup keseluruhan IT dan kaitannya dengan proses bisnis perusahaan dan

-8-
memaparkannya dalam struktur aktifitas-aktifitas logis yang dapat dikelola serta
dikendalikan secara sfektif.
COBIT mendukung manajemen dalam mengoptimalkan investasi TI nya
melalui ukuran-ukuran dan pengukuran yang akan memberikan sinyal bahaya bila
suatu kesalahan atau resiko akan atau sedang terjadi. Manajemen perusahaan harus
memastikan bahwa sistem kendali internal perusahaan bekerja dengan baik, artinya
dapat mendukung proses bisnis perusahaan yang secara jelas menggambarkan
bagaimana setiap aktivitas kontrol individual memenuhi tuntutan dan kebutuhan
informasi serta efeknya terhadap sumber daya TI perusahaan. Sumber daya TI
merupakan suatu elemen yang sangat disoroti COBIT, termasuk pemenuhan
kebutuhan bisnis terhadap: efektivitas, efisiensi, kerahasian, keterpaduan,
ketersediaan, kepatuhan pada kebijakan atau aturan dan keandalan informasi. Berikut
Kerangka kerja COBIT ini terdiri atas beberapa arahan ( guidelines ), yakni:
• Control Objectives: Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat-tinggi ( high-
level control objectives ) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu:
o Rencana dan Atur Rencana dan Atur domain mencakup penggunaan
teknologi informasi & cara terbaik dan dapat digunakan dalam sebuah
perusahaan untuk membantu perusahaan mencapai tujuan dan sasaran.
Ia juga menyoroti organisasi dan infrastruktur TI adalah formulir
untuk mengambil untuk mencapai hasil yang optimal dan yang paling
menghasilkan keuntungan dari penggunaan IT.Tabel berikut ini berisi
proses TI dalam Perencanaan dan Organisasi domain.

Tabel 1: Proses TI dalam Perencanaan dan Organisasi domain


o Melaksanakan dan memperoleh Melaksanakan dan yang
memperoleh domain mencakup mengidentifikasi TI
persyaratan,memperoleh teknologi, dan menerapkan itu dalam
perusahaan saat ini proses bisnis. Domain ini juga alamat
perkembangan rencana pemeliharaan bahwa perusahaan harus

-9-
mengadopsi untuk memperpanjang kehidupan sebuah sistem TI dan
komponennya. Tabel berikut ini berisi proses TI dalam mendapatkan
dan Melaksanakan domain.

Table 2: proses TI dalam memperoleh dan Melaksanakan domain.

o Memberikan dan Dukungan Memberikan Dukungan dan yang


berfokus pada domain pengiriman aspek teknologi informasi. Meliputi
daerah-daerah seperti eksekusi aplikasi di dalam sistem TI dan hasil,
serta, dukungan yang memungkinkan proses yang efektif dan efisien
pelaksanaan sistem TI ini. Mendukung proses ini termasuk masalah
keamanan dan pelatihan. Tabel berikut ini berisi proses TI dalam
Memberikan Dukungan dan domain.

Tabel 3: proses TI dalam Memberikan Dukungan dan domain.

- 10 -
o Memantau dan Evaluasi Memantau dan Evaluasi yang domain
berurusan dengan strategi perusahaan dalam menilai kebutuhan
perusahaan dan apakah sistem TI yang sekarang masih memenuhi
tujuan yang telah dirancang dan kontrol yang diperlukan untuk
mematuhi peraturan persyaratan. Pemantauan juga mencakup isu yang
independen penilaian terhadap efektivitas sistem IT dalam kemampuan
untuk memenuhi tujuan-tujuan bisnis perusahaan dan pengendalian
proses oleh auditor internal dan eksternal. Tabel berikut ini berisi
proses TI dalam domain Memantau dan Evaluasi.

Tabel 4: Tabel proses TI dalam domain Memantau dan Evaluasi.

• Audit Guidelines: Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendalian yang


bersifat rinci ( detailed control objectives ) untuk membantu para auditor
dalam memberikan management assurance dan/atau saran perbaikan.
• Management Guidelines: Berisi arahan, baik secara umum maupun spesifik,
mengenai apa saja yang mesti dilakukan, terutama agar dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut:
o Sejauh mana Anda (TI) harus bergerak, dan apakah biaya TI yang
dikeluarkan sesuai dengan manfaat yang dihasilkannya?
o Apa saja indikator untuk suatu kinerja yang bagus?
o Apa saja faktor atau kondisi yang harus diciptakan agar dapat mencapai
sukses ( critical success factors )?
o Apa saja risiko-risiko yang timbul, apabila kita tidak mencapai sasaran
yang ditentukan?
o Bagaimana dengan perusahaan lainnya – apa yang mereka lakukan?
o Bagaimana Anda mengukur keberhasilan dan bagaimana pula
membandingkannya.

- 11 -
Berikut ini adalah gambaran keseluruhan dari kerangka kerja COBIT

Gambar 1 : Kerangka Kerja COBIT

Berikut ini adalah Kriteria informasi dari COBIT :


Efektivitas Untuk memperoleh informasi yang relevan dan berhubungan dengan
proses bisnis sperti penyampaian informasi dengan benar, konsisten
dapat dipercaya dan tepat waktu.

- 12 -
Efesiensi Memfokuskan pada ketentuan informasi melalui penggunaan
sumberdaya
yang optimal.
Kerahasian Memfokuskan proteksi terhadap informasi yang penting dari orang
yang
tidak memiliki hak otorisasi.
Integritas Berhubungan dengan keakuratan dan kelengkapan informasi sebagai
kebenaran yang sesuai dengan harapan dan nilai bisnis.
Ketersediaan Berhubungan dengan informasi yang tersedia ketika diperlukan dalam
proses bisnis sekarang dan yang akan datang

Kepatuhan Sesuai menurut hukum, peraturan dan rencana perjanjian untuk


proses bisnis

Keakuratan Berhubungan dengan ketentuan kecocokan informasi untuk


Informasi manajemen mengoperasikan entitas dan mengatur pelatihan keuangan
dan kelengkapan laporan pertanggung jawaban.

COBIT adalah singkatan dari Control Objective for IT. COBIT ini singkatnya
merupakan framework manajemen untuk menentukan IT process yang cocok di
sebuah perusahaan. Sedangkan HABIT yang maksudkan adalah framework
manajemen baik untuk PRIBADI maupun organisasi yang ditawarkan oleh Stephen
Covey dalam bukunya 7 Habits of Effective People dan dilanjutkan dalam buku 8th
Habit.
Dalam 7 Habits, Stephen Covey menegaskan bahwa organisasi bisa maju dan
berkembang adalah organisasi yang mission statementnya dilakukan oleh semua
pihak. Tidak hanya dari atas kebawah. Dalam bukunya 8th habit, Stephen membagi
perkembangan peradaban menjadi beberapa tingkatan era. Dari berburu, bertani,
industri, dan akhirnya kebijaksanaan. Sampai abad ke 20 banyak perusahaan masih
menerapkan pola pikir industrial dimana manusia lebih rendah daripada mesin. jika
membeli mesin adalah investasi, namun membeli (baca menggaji) pekerja adalah
beban. Tak pelak lagi hal ini mendorong banyak pemikiran yang menjadikan buruh
dan pemilik modal sebagai pihak yang tak pernah bisa akur. Pola pikir dalam
manajemen pun lebih banyak memberikan reward dan punishment. Kontrol
diberlakukan secara ketat. Namun hal itu diakhiri pada abad ke 21 dimana kreatifitas
menjadi sokoguru utama perusahaan. Covey menjelaskan bahwa berorientasi hasil
jauh lebih baik daripada berorientasi proses. Biarkan bawahan anda yang
mengembangkan. Kontrol pada hasil, bukan pada proses.
Sekilas ada perbedaan besar jika filosofi COBIT dan HABIT diterapkan
dalam proses manajemen IT. Meskipun IT sendiri adalah benda, jaringan,
infrastruktur, IT juga memiliki brainware atau manusia pelaksana. Yang lebih penting
lagi adalah informasi yang terkandung dalam IT tersebut. Beberapa perusahaan

- 13 -
mungkin menganggap keberadaan IT sangat tidak signifikan terhadap proses
bisnisnya. Namun jika informasi yang terkandung dalam IT adalah informasi
marketing, SDM, finansial, bisa dibayangkan apa yang terjadi jika infrastruktur IT
perusahaan tersebut hancur. COBIT menekankan kontrol yang ketat, sementara
HABIT menekankan keleluasaan untuk mencapai hasil. Hal inilah yang mungkin
menyebabkan banyak perusahaan di dunia menerapkan prosedur IT yang hanya pada
skala berulang-ulang namun intuitive. Namun bukan berarti control tidak diperlukan.
Dalam kasus jari 3 milyar, seorang buruh menang menuntut perusahaannya karena
jarinya terpotong gerinda yang perusahaannya tidak memiliki SOP menjalankan
gerinda.
Prosedur bisa dianalogikan sebagai rambu-rambu. Sama seperti pagar yang
membatasi jalan. Namun pagar saja tidak cukup. jangan sampai pagar tersebut
membelenggu kreatifitas sang sopir sehingga sopir tersebut ragu-ragu untuk
memberikan idenya sehingga mempercepat jalan mencapai tujuan. Buatlah pagar
hanya di pinggir jalan-jalan. Dalam hal ini HABIT bisa berperan membuat sang sopir
kreatif dan COBIT menjaga agar kreatifitas menjadi tidak berbahaya.
Lembaga Pengaturan IT (IT Governance Institute, ITGI) pada 16 Desember
2005, akan memperbaharui tujuan pengontrolan informasi dan teknologi yang terkait
(COBIT), suatu kerangka kerja pengaturan IT yang dapat diterima secara
internasional. COBIT dapat menyediakan seperangkat praktek yang dapat diterima
pada umumnya karena dapat membantu para direktur, eksekutif dan manager
meningkatkan nilai IT dan mengecilkan resiko. "Para eksekutif menyadari bahwa
dampak informasi dapat menjadikan jalan perusahaan mereka ke arah keberhasilan
dan tanggungjawab pengaturan yang meningkat yang mereka miliki untuk menjamin
adanya keberhasilan," ujar Erik Guldentops, CISA, CISM, seorang konsultan
manajemen di Brussels, Belgia dan juga anggota tim pengembangan COBIT sejak
berdirinya.
Diskusi antara para top executive dan nara sumber dalam WORKSHOP STEP
BY STEP APPROACH ini diharapkan memberikan gambaran langkah-langkah nyata
bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk melakukan self assessment tentang IT
Governance-nya. Dan semoga melalui langkah-langkah ini membuat pencapaian
Good Corporate IT Governance makin nyata!
Edisi COBIT terbaru memberikan praktek dan hubungan ke atas terbaik untuk
menunjang persyaratan pengelolaan IT bagi para eksekutif dan direktur dan yang
berkaitan dengan hubungan ke bawah digunakan untuk mengatasi persyaratan yang
lebih rinci bagi mereka yang bertanggungjawab terhadap solusi dan jasa pengiriman.
Ini semua juga memberikan dukungan agar dapat mengoptimalkan investasi IT,
menjamin nilai pengiriman dan meringankan resiko IT dengan cara yang lebih
transparan. Walaupun COBIT juga digunakan secara luas sebagai alat untuk
keperluan Sarbanes-Oxley (SOX), edisi awalnya mencakup banyak
masalahpengendalian aturan termasuk juga SOX. Ia merupakan produk yang
diperoleh melalui penelitian dan kerjasama selama 10 tahun antara ahli IT global dan
bisnis dan juga sudah tersedia sebagai standar terbuka www.isaca.org/cobit.
COBIT 4.0 bisa menggantikan komponen edisi ketiga yang menyangkut Ringkasan
Eksekutif, Kerangka kerja, Tujuan Pengontrolan dan Petunjuk Manajemen. Pekerjaan

- 14 -
sedang dilakukan agar bisa mengatasi petunjuk Audit. Perkenalan COBIT 4.0 tetap
akan melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh COBIT edisi ketiga, tetapi hanya
memberikan kesempatan untuk membangun pekerjaan itu dan selanjutkan
meningkatkan penentuan IT dan pengendaliannya bila cocok. Banyak COBIT tersedia
untuk dapat melakukan download di http://www.isaca.org/cobit. Salinan cetak dapat
dibeli di toko buku ISACA (http://www.isaca.org/bookstore) sebesar US $190.
COBIT digunakan untuk menjalankan penentuan atas IT dan meningkatkan
pengontrolan IT. COBIT juga berisi tujuan pengendalian, petunjuk audit, kinerja dan
hasil metrik, faktor kesuksesan dan model kedewasaan.

Hubungan COBIT dengan Berbagai Framework IT Governence


Secara umum, kerangka kerja IT Governance serta control yang dibutuhkan
untuk mencapainya disediakan oleh COBIT (Control Objectives for Information and
Related Technology). Dimana didalamnya terdapat panduan bagaimana organisasi
harus mengendalikan pengelolaan IT dalam pencapaian governance.
Namun COBIT hanya memberikan panduan control dan tidak memberikan
panduan implementasi operasional. Dalam memenuhi kebutuhan COBIT dalam
lingkungan operasional, maka perlu diadopsi berbagai kerangka governance
operasional.

Tentang COBIT
COBIT® (Tujuan pengendalian bagi informasi dan teknologi terkait®))
dikeluarkan oleh ITGI dapat diterima secara internasional sebagai praktek
pengendalian atas informasi, IT dan resiko terkait. COBIT digunakan untuk
menjalankan penentuan atas IT dan meningkatkan pengontrolan IT. COBIT juga
berisi tujuan pengendalian, petunjuk audit, kinerja dan hasil metrik, faktor kesuksesan
dan model kedewasaan.

Tentang ITGI
Lembaga Pengaturan IT® (IT Governance Institute, ITGI)
(http://www.itgi.org) didirikan pada tahun 1998 untuk memajukan pemikiran dan
standar internasional dalam mengarahkan dan mengendalikan teknologi informasi
sebuah perusahaan. Pengaturan IT yang efektif dapat membantu meyakinkan bahwa
IT sangat mendukung tujuan bisnis dan mengelola resiko yang berkaitan dengan IT
dan kesempatan. Lembaga Pengaturan IT mengembangkan tujuan pengendalian bagi
informasi dan teknologi terkait (COBIT) serta menawarkan penelitian dan studi kasus
untuk membantu pengelola perusahaan dan para direktur dalam tanggungjawab
pengaturan IT.
Rolling Meadows, Ill, USA, 14 Desember -- Lembaga Pengaturan IT (IT
Governance Institute, ITGI) pada 16 Desember 2005, akan memperbaharui tujuan
pengontrolan informasi dan teknologi yang terkait (COBIT), suatu kerangka kerja
pengaturan IT yang dapat diterima secara internasional.
COBIT dapat menyediakan seperangkat praktek yang dapat diterima pada
umumnya karena dapat membantu para direktur, eksekutif dan manager
meningkatkan nilai IT dan mengecilkan resiko.

- 15 -
"Para eksekutif menyadari bahwa dampak informasi dapat menjadikan jalan
perusahaan mereka ke arah keberhasilan dan tanggungjawab pengaturan yang
meningkat yang mereka miliki untuk menjamin adanya keberhasilan," ujar Erik
Guldentops, CISA, CISM, seorang konsultan manajemen di Brussels, Belgia dan
juga anggota tim pengembangan COBIT sejak berdirinya.
Edisi COBIT terbaru memberikan praktek dan hubungan ke atas terbaik untuk
menunjang persyaratan pengelolaan IT bagi para eksekutif dan direktur dan yang
berkaitan dengan hubungan ke bawah digunakan untuk mengatasi persyaratan yang
lebih rinci bagi mereka yang bertanggungjawab terhadap solusi dan jasa pengiriman.
Ini semua juga memberikan dukungan agar dapat mengoptimalkan investasi IT,
menjamin nilai pengiriman dan meringankan resiko IT dengan cara yang lebih
transparan.
Walaupun COBIT juga digunakan secara luas sebagai alat untuk keperluan
Sarbanes-Oxley (SOX), edisi awalnya mencakup banyak masalahpengendalian aturan
termasuk juga SOX. Ia merupakan produk yang diperoleh melalui penelitian dan
kerjasama selama 10 tahun antara ahli IT global dan bisnis dan juga sudah tersedia
sebagai standar terbuka www.isaca.org/cobit.
Edisi terbaru -- COBIT 4.0 memberikan fokus bisnis yang cukup kuat untuk
mengatasi tanggungjawab para direktur dan pegawai. COBIT 4.0 menandai
pembaharuan pertama dari isi COBIT sejak dirilisnya edisi COBIT ketiga di tahun
2000. Edisi pertama diterbitkan di tahun 1994. Studi kasus pelaksanaan COBIT di
organisasi internasional utama misalnya Unisys, Sun Microsystems dan DPR
Amerika juga terdapat di http://www.isaca.org/cobitcasestudies.
"COBIT 4.0 tidak kelihatan seperti sebuah buku akademik. Ada materi yang
cukup berguna pada setiap halaman," ujar Christopher Fox, ACA. "COBIT 4.0
mampu menjadi sebuah dokumen yang sangat bermanfaat."COBIT 4.0 ini juga
mencakup bimbingan bagi para direktur dan semua level manajemen dan terdiri atas
empat seksi:
• Gambaran luas mengenai eksekutif
• Kerangka kerja
• Isi utama (tujuan pengendalian, petunjuk manajemen dan
model kedewasaan)
• Appendiks (pemetaan, ajuan silang dan daftar kata-kata)
Isi utama dibagi lagi menurut proses 34 IT dan memberikan gambaran yang
sempurna mengenai cara mengendalikan, mengelola dan mengukur masing-masing
proses. Selain itu, COBIT 4.0:
• Menganalisa bagaimana tujuan pengendalian dapat dipetakan ke dalam
lima wilayah penentuan IT agar dapat mengidentifikasi gap potensial.
• Menyesuaikan dan memetakan COBIT ke standar yang lain (ITIL,
CMM, COSO, PMBOK, ISF and ISO 17799)
• Mengklarifikasikan indikator tujuan utama (KGI) dan indikator
hubungan kinerja utama (KPI), dengan mengenal bagaimana KPI
dapat bergerak mencapai KGI.

- 16 -
• Menghubungkan tujuan bisnis, IT and proses IT (penelitian mendalam
di delapan industri dengan pandangan yang lebih jelas tentang
bagaimana proses COBIT mendukung tercapainya tujuan IT spesifik
dan dengan perluasan, tujuan bisnis).
COBIT 4.0 bisa menggantikan komponen edisi ketiga yang menyangkut
Ringkasan Eksekutif, Kerangka kerja, Tujuan Pengontrolan dan Petunjuk
Manajemen. Pekerjaan sedang dilakukan agar bisa mengatasi petunjuk Audit.
Perkenalan COBIT 4.0 tetap akan melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh
COBIT edisi ketiga, tetapi hanya memberikan kesempatan untuk membangun
pekerjaan itu dan selanjutkan meningkatkan penentuan IT dan pengendaliannya bila
cocok.
Banyak COBIT tersedia untuk dapat melakukan download di
http://www.isaca.org/cobit. Salinan cetak dapat dibeli di toko buku ISACA
(http://www.isaca.org/bookstore) sebesar US $190. Situs pelengkap yang
menawarkan pandangan mendalam mengenai COBIT 4.0 sudah tersedia di
http://www.livemeeting.com/cc/isaca/view.

KESIMPULAN
Kesimpulan dari penulisan COBIT ini adalah :COBIT “ Good Practices”
dapat digunakan sebagai IT governance tools, dan membantu perusahaan
mengoptimalkan investasi TI mereka, dijadikan acuan atau referensi jika terjasi suatu
kesimpang siuran dalam penerapan TI. COBIT juga diharapkan dapat membantu
menemukan berbagai kebutuhan manajemen berkaitan dengan TI, membantu
pengoptimalan investasi TI, dan menyediakan ukuran/ kriteria ketika terjadi
penyelewengan/ penyimpangan, serta dapat diterapkan dan diterima sebagai standard
keamanan TI dan praktek kendali untuk mendukung kebutuhan manajemen dalam
menentukan dan monitoring tingkatan yang sesuai dengan keamanan dan kendali
organisasi mereka.

- 17 -
DAFTAR PUSTAKA

• Gondodiyoto, S. (2003). Audit Sistem Informasi: pendekatan CobIT. Penerbit


Mitra Wacana Media, Jakarta.
• http://en.wikipedia.org/wiki/IT_Governance
• http://www.ebizzasia.com/0217-2004/focus,0217,04.htm
• http://www.isaca.org/cobit.
• http://www.isaca.org/cobitcasestudies
• http://www.itgi.org
• http://www.livemeeting.com/cc/isaca/view.
• R, Robert; Moeller (2008). Sarbanes-Oxley Internal Control: Effective
Auditing With AS5, COBIT And ITIL.. John Wiley, USA.
• Tarigan, Joshua. (2006). MERANCANG IT GOVERNANCE DENGAN COBIT
& ARBANES-OXLEY DALAM KONTEKS BUDAYA INDONESIA, Universitas
Kristen Petra, Surabaya

- 18 -
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Gusrian Dellisia Abiyoso

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta , 7 April 1987

Jenis Kelamin : Pria

Alamat : Jl. Rawa kepa 3 no 679, Tomang, Jakarta Barat

Riwayat Pendidikan :

• 1999 – 2002 SLTP Damai, Jakarta


• 2002 – 2005 SMU Negeri 2, Jakarta
• 2005 – Sekarang Universitas Bina Nusantara
Jurusan Sistem Informasi-Manajemen

- 19 -

Anda mungkin juga menyukai