Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Intususepsi adalah proses dimana suatu segmen usus bagian proksimal masuk ke dalam lumen usus bagian distalnya sehingga menyebabkan obstruksi usus dan dapat menjadi strangulasi kemudian mengalami komplikasi yang berujung pada sepsis dan kematian. Intususepsi merupakan salah satu kegawatdaruratan yang umum pada anak. Kelainan ini harus dikenali dengan cepat dan tepat serta memerlukan penanganan segera karena misdiagnosis atau keterlambatan diagnosis akan meningkatkan angka morbiditas(1-6). Intususepsi pertama kali digambarkan oleh Paul arbette di !msterdam pada tahun 16"#.

$onathan %utchinson melaporkan operasi pertama intususepsi yang berjalan sukses terhadap anak usia & tahun pada tahun 1'"(("). )iteratur lain menyebutkan *ilson merupakan yang pertama sukses dalam melakukan terapi pembedahan intususepsi pada tahun 1'(1(&). +i tahun 1'"6, %arald %irschprung menggambarkan pendekatan sistematik dengan reduksi hidrostatik. +i !merika -erikat, .a/itch mempopulerkan penggunaan reduksi barium enema untuk mengatasi intususepsi(").

0stimasi insidensi akurat dari intususepsi tidak tersedia untuk sebagian besar negara berkembang, demikian juga di banyak negara maju('). Irish (&111) menyebutkan insiden intususepsi adalah 1,2-# kasus per 1111 kelahiran hidup(&). erdasarkan usia, intususepsi paling banyak dialami oleh anak usia kurang dari 1 tahun dengan puncak usia #-' bulan(',3). dimana rasio laki-laki dan perempuan untuk wilayah !sia adalah 341. erdasarkan jenis kelamin, erdasarkan keterkaitan laki-laki paling banyak mengalami intususepsi dengan rasio yang berbeda di masing-masing wilayah kejadian intususepsi dengan musim, didapatkan hasil penelitian yang ber/ariasi di masing-masing wilayah di dunia('). Intususepsi dilaporkan sebagai suatu kejadian musiman dengan puncak pada musim semi, musim panas, dan pertengahan musim dingin(&). terkait dengan musim(3). erdasarkan penelitian epidemiologi intususepsi di -ingapura tahun 133"-&11#, insidensi intususepsi mengalami penurunan dan tidak

5ejala klasik yang paling umum ('26) dari intususepsi adalah nyeri perut yang si7atnya muncul secara tibatiba, kolik, intermiten, berlangsung hanya selama beberapa menit. 5ejala awal lain yang sering dikeluhkan yaitu muntah. Kerusakan usus berupa nekrosis hingga per7orasi usus dapat terjadi antara hari ke &-2 dengan puncaknya pada hari ke ( setelah gejala klinis terjadi. %al tersebut akan memperberat gejala obstruksi yang ditimbulkan oleh intususepsi dan akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas(&,3). +i negara maju, outcome dari pasien dengan intususepsi memiliki prognosis yang lebih baik karena diagnosis yang tegak secara dini diikuti dengan prosedur terapi yang kurang in/asi7 seperti reduksi barium enema. -ebaliknya, di negara berkembang, banyak anak dengan intususepsi dilaporkan mengalami keterlambatan untuk mendapatkan terapi de7initi7(11). 8ertundanya diagnosis yang berlanjut menjadi nekrosis usus, diikuti dengan terapi reduksi operasi, memiliki angka 7atalitas yang tinggi, misalnya 1'6 di 9igeria, &16 di Indonesia(11) dan hingga 2#6 di 0thiopia(3).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Intususepsi

Intususepsi adalah proses dimana suatu segmen usus bagian proksimal masuk ke dalam lumen usus bagian distalnya sehingga menyebabkan obstruksi usus dan dapat berakhir dengan strangulasi(1#). :mumnya bagian yang proksimal atau disebut intususeptum masuk ke bagian distal atau disebut intussussipien(6).

2.2

Epi e!i"l"gi

0stimasi insidensi akurat dari intususepsi tidak tersedia untuk sebagian besar negara berkembang, demikian juga di banyak negara maju('). +i !sia dalam hal ini 8aiwan dan ;ina, dilaporkan insidens dari intususepsi adalah 1,"" per 1111 kelahiran hidup. +i India, angka kejadiannya dilaporkan berkisar 1,3-2#,# per tahun. 8idak ada data yang menyebutkan tentang insidensi per kelahiran hidup. +i <alaysia lebih kurang 11,# bayi dan anak dirawat di .- :mum Kuala )umpur karena intususepsi per tahun. +i Indonesia, angka kejadian intususepsi di .- wilayah pedesaan dan perkotaan didapatkan angka yang berbeda, yaitu masing-masing 2,' dan 1",& per tahun('). Irish (&111) menyebutkan insiden intususepsi adalah 1,2-# kasus per 1111 kelahiran hidup(&). Intususepsi umumnya ditemukan pada anak-anak di bawah 1 tahun dan 7rekuensinya menurun dengan bertambahnya usia anak(1&). +i !sia, insiden puncak antara usia #-' bulan('). :mumnya intususepsi ditemukan lebih sering pada anak laki-laki. +i !7rika, tepatnya di 8unisia, rasio laki-laki dibandingkan perempuan adalah '41. +i !sia, rasio perbandingannya adalah 341. +i 8imur 8engah, perbandingan antara laki-laki dan perempuan berkisar antara 1,#41 sampai #41('). erdasarkan keterkaitan kejadian intususepsi dengan musim, didapatkan hasil penelitian yang ber/ariasi di masing-masing wilayah di dunia('). Intususepsi dilaporkan sebagai suatu kejadian musiman dengan puncak pada musim semi, musim panas, dan pertengahan musim dingin. Periode ini berhubungan dengan puncak munculnya gastroenteritis musiman dan in7eksi saluran napas atas(&). +i !sia, salah satunya 8hailand insidens intususepsi meningkat antara bulan -eptember dan $anuari 3

dan kemudian !pril. Peningkatan ini bersamaan dengan musim dingin dan panas yang merupakan puncak dari insidens in7eksi saluran napas atas dan gastroenteritis. +i <alaysia tidak ditemukan adanya perbedaan musim terkait dengan intususepsi('). &.( Eti"l"gi

0tiologi dari intususepsi terbagi menjadi &, yaitu idiopatik dan kausal(1().

1. Idiopatik <enurut kepustakaan, 31-32 6 intususepsi pada anak di bawah umur satu tahun tidak dijumpai penyebab yang spesi7ik sehingga digolongkan sebagai =in7antile idiophatic intussusceptions>(1(). Kepustakaan lain menyebutkan di !sia, etiologi idiopatik dari intususepsi berkisar antara #&-1116('). +e7inisi dari istilah intususepsi ?idiopatik@ ber/ariasi di antara penelitian terkait intususepsi. -ebagian besar peneliti menggunakan istilah ?idiopatik@ untuk menggambarkan kasus dimana tidak ada abnormalitas spesi7ik dari usus yang diketahui dapat menyebabkan intususepsi seperti di/erticulum meckel atau polip yang dapat diidenti7ikasi saat pembedahan('). Intususepsi idiopatik memiliki etiologi yang tidak jelas. -alah satu teori untuk menjelaskan kemungkinan etiologi intususepsi idiopatik adalah bahwa hal itu terjadi karena Peyer patch yang membesarA hipotesis ini berasal dari ( pengamatan4 (1) penyakit ini sering didahului oleh in7eksi saluran pernapasan atas, (&) wilayah ileokolika memiliki konsentrasi tertinggi dari kelenjar getah bening di mesenterium, dan (() pembesaran kelenjar getah bening sering dijumpai pada pasien yang memerlukan operasi. !pakah Peyer patch yang membesar adalah reaksi terhadap intususepsi atau sebagai penyebab intususepsi, masih tidak jelas(1).

&. Kausal Pada penderita intususepsi yang lebih besar (lebih dua tahun), adanya kelainan usus dapat menjadi penyebab intususepsi seperti 4 inverted Meckels diverticulum, polip usus, leiomioma, leiosarkoma, hemangioma, blue rubber blep ne/i, lymphoma dan duplikasi usus(1(). +i/ertikulum <eckel adalah penyebab paling utama, diikuti dengan polip seperti peutB-jeghers lymphangiectasias, syndrom, dan perdarahan duplikasi intestinal. )ead point lain diantaranya submukosa dengan %enoch--chCnlein

purpura, trichobeBoars dengan .apunBel syndrome, caseating granulomas yang berhubungan dengan tuberkulosis abdominal(&). Intususepsi dapat juga terjadi setelah laparotomi, yang biasanya timbul setelah dua minggu pasca bedah, hal ini terjadi akibat gangguan peristaltik usus, disebabkan manipulasi usus yang kasar dan lama, diseksi retroperitoneal yang luas dan hipoksia lokal(1().

2.#

Pat"genesis

Patogenesis dari intususepsi diyakini akibat sekunder dari ketidakseimbangan pada dorongan longitudinal sepanjang dinding intestinal. Ketidakseimbangan ini dapat disebabkan oleh adanya massa yang bertindak sebagai pencetus atau oleh pola yang tidak teratur dari peristalsis (contohnya, ileus pasca operasi). 5angguan elektrolit berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan yang dapat mengakibatkan motilitas intestinal yang abnormal, dan mengarah pada terjadinya in/aginasi. eberapa penelitian terbaru pada binatang menunjukkan pelepasan nitrit oksida pada usus, suatu neurotransmitter penghambat, menyebabkan relaksasi dari katub ileocaecal dan mempredisposisi intususepsi ileocaecal. Penelitian lain telah mendemonstrasikan bahwa penggunaan dari beberapa antibiotik tertentu dapat menyebabkan hiperplasia lim7oid ileal dan dismotilitas intestinal dengan intususepsi(1).

-ebagai hasil dari ketidakseimbangan, area dari dinding usus terin/aginasi ke dalam lumen. Proses ini terus berjalan, dengan diikuti area proDimal dari intestinal, dan mengakibatkan intususeptum berproses sepanjang lumen dari intususipiens. !pabila terjadi obstruksi sistem lim7atik dan /ena mesenterial, akibat penyakit berjalan progresi7 dimana ileum dan mesenterium masuk ke dalam caecum dan colon, akan dijumpai mukosa intussusseptum menjadi oedem dan kaku. <engakibatkan obstruksi yang pada akhirnya akan dijumpai keadaan strangulasi dan per7orasi usus(1,1(). Pembuluh darah mesenterium dari bagian yang terjepit mengakibatkan

gangguan /enous return sehingga terjadi kongesti, oedem, hiper7ungsi goblet sel serta laserasi mukosa usus. %al inilah yang mendasari terjadinya salah satu mani7estasi klinis intususepsi yaitu ! darah lendir yang disebut juga red currant jelly stool(1,&,1().

2.$

%akt"r&fakt"r 'ang i(u)ungkan engan ter*a in'a intususepsi

Penyakit ini sering terjadi pada umur (-1& bulan, dimana pada saat itu terjadi perubahan diet makanan dari cair ke padat, perubahan pemberian makanan ini dicurigai sebagai penyebab terjadi intususepsi. Intususepsi kadang-kadang terjadi setelahEselama enteritis akut, sehingga dicurigai akibat peningkatan peristaltik usus. 5astroenteritis akut yang dijumpai pada bayi, ternyata ditemukan kuman rota/irus menjadi agen penyebabnya, dimana pengamatan (1 kasus intususepsi bayi ditemukan /irus ini dalam 7eses sebanyak ("6. Pada 6

beberapa penelitian terakhir ini didapati peninggian insidens adeno/irus dalam 7eses penderita intususepsi(1().

2.+

Jenis Intususepsi(1()

$enis intususepsi dapat dibagi menurut lokasinya pada bagian usus mana yang terlibat, pada ileum dikenal sebagai jenis ileo-ileal.Pada kolon dikenal dengan jenis colocolica dan sekitar ileo-caecal disebut ileocaecal, jenis-jenis yang disebutkan di atas dikenal dengan intususepsi tunggal dimana dindingnya terdiri dari tiga lapisan. $ika dijumpai dinding yang terdiri dari lima lapisan, hal ini sering pada keadaan yang lebih lanjut disebut jenis intususepsi ganda, sebagai contoh adalah jenis ileo-ileo-colica atau colo-colica. -uwandi $.*ijayanto 0. di -emarang selama ( tahun (13'1-13'() pada pengamatannya mendapatkan jenis intususepsi sebagai berikut4 Ileo-ileal &26, ileo-colica &&,26, ileo-ileo-colica 216 dan colo-colica &&,26.

2.,

-a!)aran klinis

-ecara klasik perjalanan suatu intususepsi memperlihatkan gambaran sebagai berikut 4

!nak atau bayi yang semula sehat dan biasanya dengan keadaan giBi yang baik, tibatiba menangis kesakitan, terlihat kedua kakinya terangkat ke atas, penderita tampak seperti kejang dan pucat menahan sakit, serangan nyeri perut seperti ini berlangsung dalam beberapa menit. +i luar serangan, anakEbayi kelihatan seperti normal kembali. Pada waktu itu sudah terjadi proses intususepsi. -erangan nyeri perut datangnya berulang-ulang dengan jarak waktu 12-&1 menit dengan lama serangan &-( menit. Pada umumnya selama serangan nyeri perut itu diikuti dengan muntah berisi cairan dan makanan yang ada di lambung(&,1(). -esudah beberapa kali serangan dan setiap kalinya memerlukan tenaga, maka di luar serangan si penderita terlihat lelah dan lesu dan tertidur sampai datang serangan kembali. Proses intususepsi pada mulanya belum terjadi gangguan pasase isi usus secara total, anak masih dapat de7ekasi berupa 7eses biasa, kemudian 7eses bercampur darah segar dan lendir, kemudian de7ekasi hanya berupa darah segar bercampur lendir tanpa 7eses. kali, kadang-kadang sesudah 1& jam. ! ! darah dan lendir (red currant jelly stool) baru dijumpai sesudah 6-' jam serangan sakit yang pertama darah lendir ini ber/ariasi jumlahnya dari kasus per kasus, ada juga yang dijumpai hanya pada saat melakukan colok dubur.

Karena sumbatan belum total, perut belum kembung dan tidak tegang, dengan demikian mudah teraba gumpalan usus yang terlibat intususepsi sebagai suatu massa tumor berbentuk cur/ed sausage di dalam perut di bagian kanan atas, kanan bawah, atas tengah atau kiri bawah(#). 8umor lebih mudah teraba pada waktu terdapat peristaltik, sedangkan pada 9

perut bagian kanan bawah teraba kosong yang disebut dances sign. %al ini akibat caecum dan kolon naik ke atas, ikut proses intususepsi(1-#,",1(). -esudah 1'-&# jam serangan sakit yang pertama, usus yang tadinya tersumbat partial berubah menjadi sumbatan total, diikuti proses oedem yang semakin bertambah, sehingga pada pasien dijumpai tanda-tanda obstruksi, seperti perut kembung dengan gambaran peristaltik usus yang jelas, muntah warna hijau dan dehidrasi(1(). Fleh karena perut kembung maka massa tumor tidak dapat diraba lagi dan de7ekasi hanya berupa darah dan lendir. !pabila keadaan ini berlanjut terus akan dijumpai muntah 7eses, dengan demam tinggi, asidosis, toksis dan terganggunya aliran pembuluh darah arteri. Pada segmen yang terlibat menyebabkan nekrosis usus, gangren, per7orasi, peritonitis umum, shock dan kematian. Pada pemeriksaan colok dubur didapati4 8onus sphincter melemah, mungkin in/aginat dapat diraba berupa massa seperti portio bila jari ditarik, keluar darah bercampur lendir.

Perlu perhatian bahwa untuk penderita malnutrisi, gejala-gejala intususepsi tidak khas. 8anda-tanda obstruksi usus baru timbul dalam beberapa hari. Pada penderita ini tidak jelas tanda adanya sakit berat. Pada de7ekasi tidak ada darah. Intususepsi dapat mengalami prolaps melewati anus. %al ini mungkin disebabkan pada pasien malnutrisi, memiliki tonus yang melemah, sehingga obstruksi tidak cepat timbul(1().

2..

Diagn"sis

:ntuk menegakkan diagnosis intususepsi didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan 7isik, laboratorium dan radiologi. 5ejala klinis yang menonjol dari intususepsi adalah suatu trias gejala yang terdiri dari(12,",1() 4 1. 9yeri perut yang datangnya secara tiba-tiba, nyeri bersi7at hilang timbul. 9yeri menghilang selama 11-&1 menit, kemudian timbul lagi serangan baru. &. 8eraba massa tumor di perut bentuk curved sausage pada bagian kanan atas, kanan bawah, atas tengah, kiri bawah atau kiri atas.

10

(.

uang air besar campur darah dan lendir yang disebut red currant jelly stool.

ila penderita terlambat memeriksakan diri, maka sukar untuk meraba adanya tumor, oleh karena itu untuk kepentingan diagnosis harus berpegang kepada gejala trias intususepsi. <engingat intususepsi sering terjadi pada anak berumur di bawah satu tahun, sedangkan penyakit disentri umumnya terjadi pada anak-anak yang mulai berjalan dan mulai bermain sendiri maka apabila ada pasien datang berumur di bawah satu tahun, sakit perut yang bersi7at kolik sehingga anak menjadi rewel sepanjang hariEmalam, ada muntah, buang air besar campur darah dan lendir maka pikirkanlah kemungkinan intususepsi(1(). The Brighton Collaboration Intussuseption Working Group mendirikan sebuah diagnosis klinis menggunakan campuran dari kriteria minor dan mayor. -trasi7ikasi ini membantu untuk membuat keputusan berdasarkan tiga le/el dari pembuktian untuk membuktikan apakah kasus tersebut adalah intususepsi(&). Kriteria <ayor 1. !danya bukti dari obstruksi usus berupa adanya riwayat muntah hijau, diikuti dengan distensi abdomen dan bising usus yang abnormal atau tidak ada sama sekali. &. !danya gambaran dari in/aginasi usus, dimana setidaknya tercakup hal-hal berikut ini4 massa abdomen, massa rectum atau prolaps rectum, terlihat pada gambaran 7oto abdomen, :-5 maupun ;8 -can. (. ukti adanya gangguan /askularisasi usus dengan mani7estasi perdarahan rectum atau gambaran 7eses red currant jelly pada pemeriksaan Rectal Toucher.

Kriteria <inor

1.

ayi laki-laki kurang dari 1 tahun

&. 9yeri abdomen (. <untah #. )ethargy 2. Pucat 6. -yok hipo/olemi

11

". Goto abdomen yang menunjukkan abnormalitas tidak spesi7ik.

erikut ini adalah pengelompokkan berdasarkan tingkat pembuktian, yaitu 4

)e/el 1 H e!inite (ditemukannya satu kriteria di bawah ini)

Kriteria Pembedahan H In/aginasi usus yang ditemukan saat pembedahan Kriteria .adiologi H !ir enema atau liIuid contrast enema menunjukkan in/aginasi dengan mani7estasi spesi7ik yang bisa dibuktikan dapat direduksi oleh enema tersebut.

Kriteria !utopsi H In/agination dari usus

)e/el & H "robable (salah satu kriteria di bawah)

+ua kriteria mayor -atu kriteria mayor dan tiga kriteria minor

)e/el ( H "ossible

0mpat atau lebih kriteria minor

2.1/ Pe!eriksaan Penun*ang

2.1/.1 Pe!eriksaan La)"rat"riu! (1(,16) <eskipun hasil laboratorium tidak spesi7ik untuk menegakkan diagnosis intususepsi, sebagai proses dari progresi/itas, akan didapatkan abnormalitas elektrolit yang berhubungan dengan dehidrasi, anemia dan atau peningkatan jumlah leukosit (leukositosis J11.111Emm().

12

2.1/.2 Pe!eriksaan 0a i"l"gi

Goto polos abdomen +idapatkan distribusi udara di dalam usus tidak merata, usus terdesak ke kiri atas, bila telah lanjut terlihat tanda-tanda obstruksi usus dengan gambaran air !luid level. +apat terlihat !ree air bila terjadi per7orasi(1().

)iteratur lain menyebutkan bahwa 7oto polos hanya memiliki akurasi diagnostik #26 untuk menegakkan diagnosis intususepsi sehingga penggunaannya tidak diindikasikan jika ada 7asilitas :-5(#). erdasarkan penelitian yang dilakukan #ooker et al tahun &11' dalam Radiographic $valuation o! Intussusception, tampilan 7oto polos abdomen dengan 13

posisi le!t side do%n decubitus meningkatkan kemampuan untuk diagnosis atau menyingkirkan intususepsi(1").

arium enema +ikerjakan untuk tujuan diagnosis dan terapi, untuk diagnosis dikerjakan bila gejala-gejala klinik meragukan. Pada barium enema akan tampak gambaran cupping, coiled spring

14

appearance(1().

:ltrasonogra7i !bdomen

Pada tampilan trans/ersal :-5, tampak kon7igurasi usus berbentuk ?target@ atau ?donat@ yang terdiri dari dua cincin echogenisitas rendah yang dipisahkan oleh cincin hiperekoik, tidak ada gerakan pada donat tersebut dan ketebalan tepi lebih dari 1,6 cm. Ketebalan tepi luar lebih dari 1,6 cm menunjukkan perlunya inter/ensi pembedahan. Pada tampilan logitudinal tampak pseudokidney sign yang timbul sebagai tumpukan lapisan hipoekoik dan hiperekoik(&,(,#,6). Pemeriksaan :-5 selain sebagai diagnostik, juga dapat digunakan untuk membantu mendi7erensiasikan tipe dari intususepsi. Park et al (&11") melaporkan bahwa intususepsi transien dari usus kecil lebih sering terlokalisir pada kuadran kanan bawah atau region periumbilikal, memiliki diameter anteroposterior yang lebih kecil (1,(' cm /s &,2( cm), memiliki garis luar yang lebih tipis (1,&6 cm /s 1,2( cm), dan tidak memiliki nodus lim7atikus, dimana berbanding terbalik dengan intususepsi ileocolic(&). 15

-ebuah studi oleh <unden et al (&11") mendukung penemuan ini, dengan diameter anteroposterior rata-rata adalah 1,2 cm pada intususepsi ileoileal dan (," cm pada intususepsi ileocolic dan panjang rata-ratanya berkisar &,2 cm dan ',& cm secara respekti7(&).

;8 -can

Intususepsi yang digambarkan pada ;8 scan merupakan gambaran klasik seperti pada :-5 yaitu target sign. Intususepsi temporer dari usus halus dapat terlihat pada ;8 maupun :-5, dimana sebagian besar kasus ini secara klinis tidak signi7ikan(&).

16

2.11 Diagn"sis Ban ing(1() 1. 5astroenteritis, bila diikuti dengan intususepsi dapat ditandai jika dijumpai perubahan rasa sakit, muntah dan perdarahan. &. +i/ertikulum <eckel, dengan perdarahan, biasanya tidak ada rasa nyeri. (. +isentri amoeba, disini diare mengandung lendir dan darah, serta adanya obstipasi, bila disentri berat disertai adanya nyeri di perut, tenesmus dan demam. #. 0nterokolitis, tidak dijumpai adanya nyeri di perut yang hebat. 2. Prolapsus recti atau .ectal prolaps, dimana biasanya terjadi berulang kali dan pada colok dubur didapati hubungan antara mukosa dengan kulit perianal, sedangkan pada intususepsi didapati adanya celah.

2.12 Penatalaksanaan Pada bayi maupun anak yang dicurigai intususepsi atau in/aginasi, penatalaksanaan lini pertama sangat penting dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih lanjut. -elang lambung (9asogastric tube) harus dipasang sebagai tindakan kompresi pada pasien dengan distensi abdomen sehingga bisa die/aluasi produksi cairannya. -etelah itu, rehidrasi cairan yang adekuat dilakukan untuk menghindari kondisi dehidrasi dan pemasangan selang catheter 17

untuk memantau ouput dari cairan. Pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit darah dapat dilakukan(&,16). Pneumatic atau kontras enema masih menjadi pilihan utama untuk diagnosa maupun terapi reduksi lini pertama pada intususepsi di banyak pusat kesehatan. 9amun untuk meminimalisir komplikasi, tindakan ini harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa panduan. -alah satunya adalah menyingkirkan kemungkinan adanya peritonitis, per7orasi ataupun gangrene pada usus. -emakin lama riwayat perjalanan penyakitnya, semakin besar kemungkinan kegagalan dari terapi reduksi tersebut(16). Tin akan N"n 1peratif

!. %ydrostatic .eduction

<etode reduksi hidrostatik tidak mengalami perubahan signi7ikan sejak dideskripsikan pertama kali pada tahun 1'"6. <eskipun reduksi hidrostatik dengan menggunakan barium di bawah panduan 7luoroskopi telah menjadi metode yang dikenal sejak pertengahan 13'1-an, kebanyakan pusat pediatrik menggunakan kontras cairan saline (isootonik) karena barium memiliki potensi peritonitis yang berbahaya pada per7orasi intestinal(16).

erikut ini adalah tahapan pelaksanaannya(&,#,16) 4

1. <asukkan kateter yang telah dilubrikasi ke dalam rectum dan di7iksasi kuat diantara pertengahan bokong. &. Pengembangan balon kateter kebanyakan dihindari oleh para radiologis sehubungan dengan risiko per7orasi dan obstruksi loop tertutup. (. Pelaksanaannya memperhatikan =.ule o7 three> yang terdiri atas4 (1) reduksi hidrostatik dilakukan setinggi ( kaki di atas pasienA (&) tidak boleh lebih dari ( kali percobaanA (() tiap percobaan masing-masing tidak boleh lebih dari ( menit. #. Pengisian dari usus dipantau dengan 7luoroskopi dan tekanan hidrostatik konstan dipertahankan sepanjang reduksi berlangsung. 2. .eduksi hidrostatik telah sempurna jika media kontras mengalir bebas melalui katup ileocaecal ke ileum terminal. .eduksi berhasil pada rentang #2-326 dengan kasus tanpa

18

komplikasi.

-elain penggunaan 7luoroskopi sebagai pemandu, saat ini juga dikenal reduksi menggunakan air (dilusi antara air dan kontras soluble dengan perbandingan 341) dengan panduan :-5. Keberhasilannya mencapai 316, namun sangat tergantung pada kemampuan eDpertise :-5 dari pelakunya(#). 8eknik non pembedahan ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan reduksi secara operati7. +iantaranya yaitu 4 penurunan angka morbiditas, biaya, dan waktu perawatan di rumah sakit(&,16).

. Pneumatic .eduction(16)

Prosedur ini dimonitor secara 7luroskopi sejak udara dimasukkan ke dalam rectum. 8ekanan udara maksimum yang aman adalah '1 mm%g untuk bayi dan 111-1&1 mm%g untuk anak. Penganut dari model reduksi ini meyakini bahwa metode ini lebih cepat, lebih aman dan menurunkan waktu paparan dari radiasi. Pengukuran tekanan yang akurat dapat dilakukan, dan tingkat reduksi lebih tinggi daripada reduksi hidrostatik. langkah pemeriksaannya4 1. -ebuah kateter yang telah dilubrikasi ditempatkan ke dalam rectum dan direkatkan dengan kuat. &. -ebuah manometer dan manset tekanan darah dihubungkan dengan kateter, dan udara dinaikkan perlahan hingga mencapai tekanan "1-'1 mm%g (maksimum 1&1 mm%g) dan diikuti dengan 7luoroskopi. Kolum udara akan berhenti pada bagian intususepsi, dan dilakukan sebuah 7oto polos. (. $ika tidak terdapat intususepsi atau reduksinya berhasil, udara akan teramati melewati usus kecil dengan cepat. Goto lain selanjutnya dibuat pada sesi ini, dan udara akan dikeluarkan duluan sebelum kateter dilepas. #. :ntuk melengkapi prosedur ini, 7oto post reduksi (supine dan decubitusEupright /iews) harus dilakukan untuk mengkon7irmasi ketiadaan udara bebas. 2. .eduksi yang sulit membutuhkan beberapa usaha lebih. Penggunaan glucagon (1.2 mgEkg) untuk mem7asilitasi relaksasi dari usus memiliki hasil yang beragam dan tidak rutin dikerjakan. erikut ini adalah langkah-

19

Tin akan 1peratif

!pabila diagnosis intususepsi yang telah dikon7irmasi oleh D-ray, mengalami kegagalan dengan terapi reduksi hidrostatik maupun pneumatik, ataupun ada bukti nyata akan peritonitis di7usa, maka penanganan operati7 harus segera dilakukan(16). 2.12 K"!plikasi

Intususepsi dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah dehidrasi dan aspirasi dari emesis yang terjadi. Iskemia dan nekrosis usus dapat menyebabkan per7orasi dan sepsis. 9ekrosis yang signi7ikan pada usus dapat menyebabkan komplikasi yang berhubungan dengan =short bowel syndrome>. <eskipun diterapi dengan reduksi operati7 maupun radiogra7ik, striktur dapat muncul dalam #-' minggu pada usus yang terlibat(&).

2.13

Pr"gn"sis

Kematian disebabkan oleh intususepsi idiopatik akut pada bayi dan anak-anak sekarang jarang di negara maju. -ebaliknya, kematian terkait dengan intususepsi tetap tinggi di beberapa negara berkembang. Pasien di negara berkembang cenderung untuk datang ke pusat kesehatan terlambat, yaitu lebih dari &# jam setelah timbulnya gejala, dan memiliki tingkat inter/ensi bedah, reseksi usus dan mortalitas lebih tinggi('). <ortalitas secara signi7ikan lebih tinggi (lebih dari sepuluh kali lipat dalam kebanyakan studi) pada bayi yang ditangani #' jam setelah timbulnya gejala daripada bayi yang ditangani dalam waktu &# jam setelah onset pertama('). !ngka rekurensi dari intususepsi untuk reduksi nonoperati7 dan operati7 masing-masing rata-rata 26 dan 1-#6(&).

BAB III

PENUTUP

20

Intususepsi merupakan salah satu kegawatdaruratan yang harus dikenali dengan cepat dan tepat serta penanganan segera karena misdiagnosis atau keterlambatan diagnosis akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Fleh sebab itu, para calon dokter umum diharapkan bisa mempersiapkan diri minimal mengetahui teori terkait intususepsi mulai dari de7inisi sampai pada penatalaksanaan awal sebagai bekal jika suatu waktu menghadapi kasus ini di lapangan

21

KEPUSTAKAAN

1.

lanco G;. Intussusception. <edscape .e7erence Kserial onlineL &11& $an 1( Kdisitasi tanggal &11( +es &2LA dapat diakses pada 4 :.)4 http4EEemedicine.medscape.comEarticleE3(1"1'o/er/iewMshowall

2. Irish <-. Pediatric intussusception surgery. <edscape .e7erence Kserial onlineL &111 !pr 1# Kdisitasi pada &11( +es &2LA dapat diakses pada 4 :.)4 http4EEemedicine.medscape.comEarticleE3(""(1-o/er/iewMshowall (. *yllie .. Ileus, adhesi, insusepsi dan obstruksi lingkar tertutup in 9elson Ilmu Kesehatan !nak. ehrmen, Kliegmen, !r/in editors. 12th ed. Nol &. 05;4 $akarta. 1333. p.1(13. #. .amachandran P. Intussusception in pediatric surgery diagnosis and management. Puri P, %ollwarth < editors. -pinger4 +ordrecht %eidelberg. &113. 2. Kartono +. In/aginasi dalam Kumpulan kuliah ilmu bedah. .eksoprodjo -, Pusponegoro !+, et al. inarupa !ksara4 8angerang. &112. 6. Pendergast )! O *ilson <. Intussusception4 a sonographer@s perspecti/e. $+<- 134&(1&('. $ul-!ug. &11(. ". Gallan <0. Intussusception in Pediatric -urgery, !shcra7t K*, %older 8< (eds). #th ed. Philadelphia4 * -aunders ;ompany, &112. '. ines $, I/ano77 . !cute Intussusception in In7ants and ;hildren4 Incidence, ;linical Presentation and <anagement4 ! 5lobal Perspecti/e. 5ene/a, -witBerland4 *orld %ealth FrganiBation, &11&. oud/ille I;, Phua K , Puak -%, )ee *, %an %%, Nerstraeten 8, et al. 8he epidemiology o7 Paediatric Inturssusception in -ingapore4 133" to &11#. !nn !cad <ed -ingapore &116A(246"#-3.e

3.

11. 0kenBe -F, <gbor -F. ;hildhood intussusception4 8he implications o7 delayed presentation. !7r $ Paediatr -urg &111A'412-'. 11. Nan %eek 98, !ronson +;, %alimun 0<, -oewarno ., <olenaar $;, Nos !. Intussusception in a tropical country4 comparison among patient populations in $akarta, $ogyakarta, and !msterdam. $ Pediatr 5astroenterol 9utr 1333A&34#1&-2. 1&. http4EEwww.netterimages.comEimagesE/p/E111E111E116E6"11-1221Q1#"2.jpg 1(. -antoso <I$, Rosodiharjo !, 0r7an G. %ubungan antara lama timbulnya gejala klinis awal hingga tindakan operasi dengan lama rawatan pada penderita in/aginasi yang dirawat di .-:P. %. !dam <alik <edan. :ni/ersitas -umatera :tara4 <edan. &111. 1#. http4EEwww./irtualpediatrichospital.orgEpro/idersE;!PE;ase12EImagesE;ase12.11.jpg 15. http4EEdynamic.psu.ac.thEkidsurgery.psu.ac.thEPediatric 6&1surgeryEKI+E!tlasEImagesE0E02E+-;1111&.jpg 16. Ignacio .;, Gallat <0. Intussusception. In4 %olcomb 5*. III, <urphy $<, eds. !shcra7t@s Pediatric -urgery. Philadelphia, P!4 0lse/ier, &111.p.21'. 1". %ooker .), -chulman <%, Ru ;hang, Kan $%. .adiographic e/aluation o7 intussusception4 utility o7 le7t side down decubitus /iew. .-9! &11'A&#'4(. 1'. http4EEonradiology.blogspot.comE&111S1&S11Sarchi/e.html 22

13. http4EEwww.erpocketbooks.comEer-ultrasoundsEother-ultrasoundsE &1. ;hung +%. Intussusception. In4 !tlas o7 5eneral -urgical 8echniIues. 8ownsend ;< O 0/ers. Philadelphia, P!4 0lse/ier, &111.

23