Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGETAHUAN LINGKUNGAN

Pengaruh Deterjen Terhadap Pertumbuhan Akar


Bawang Merah (Allium Cepa)

Oleh Kelompok VI :
RIZA UMMUL KHUSNIAH 053234021
NURI ANDRI SUSANTI 053234034
ARTIKA DHIYA NAVITRI 053234249
M. RIDUWAN 043234012
NOVRYNDA EKO S 043234016

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2009

Pengaruh Deterjen Terhadap Pertumbuhan Akar


Bawang Merah (Allium Cepa)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Mengamati pengaruh deterjen terhadap pertumbuhan akar bawang merah
II. DASAR TEORI
Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan
Hidup No 02/MENKLH/1988, adalah masuk atau dimasukkannya mahluk
hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau
berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses
alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi
lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak
langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung
berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan
tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun
tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air
maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran.
Dampak dari pencemaran langsung misalnya, berupa gangguan
kesehatan langsung (penyakit akut) maupun yang akan dirasakan setelah
jangka waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki
kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun
alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar
akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian
berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem.
Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan yang
disebakan oleh berbagai aktivitas industri dan aktivitas manusia, maka
diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan
menetapkan baku mutu lingkungan. Baku mutu lingkungan adalah batas
kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di
lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup,
tumbuhan atau benda lainnya. Salah satu contoh pencemaran lingkungan
adalah pencemaran air.
Pencemaran air adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup,
zat, energi dan atau komponen lain kedalam air dan atau berubahnya tatanan
air oleh kegiatan manusia atau proses alam sehingga kualitas air turun
sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air kurang atau tidak dapat lagi
berfungsi sesuai dengan peruntukkannya.
Pelaksanakan penilaian terhadap kualitas air, yaitu
membandingkan beberapa ukuran/parameter kunci dengan bakumutu yang
ditetapkan.
Jenis ukuran pencemaran air antara lain :
1. Kebutuhan oksigen untuk proses biologi (BOD)
Dalam air buangan terdapat zat organik yang terdiri dari unsur
karbon, hidrogen dan oksigen dengan unsur tambahan yang lain seperti
nitrogen, belerang, dll dimana unsur-unsur tersebut cenderung menyerap
oksigen. Oksigen itu dibutuhkan bagi mikroba untuk kehidupannya dan
untuk menguraikan senyawaan organik tersebut sehingga kadar oksigen
akan menurun yang menyebabkan air menjadi keruh dan berbau.
2. Kebutuhan Oksigen Kimiawi
Bentuk lain untuk mengukur kebutuhan oksigen adalah ukuran
COD atau kebutuhan oksigen kimiawi. Nilai COD ini akan menunjukan
kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk menguraikan kandungan
bahan organik dalam air secara kimiawi khususnya bagi senyawaan
organik yang tidak dapat teruraikan karena proses biologis, sehingga
dibutuhkan bantuan pereaksi oksidator sebagai sumber oksigen.
3. Lemak dan Minyak
Lemak dan minyak ditemukan mengapung di atas permukaan
air meskipun sebagian terdapat dibawah permukaan air. Lemak dan
minyak merupakan senyawa ester dari turunan alkohol yang tersusun
dari atom karbon, hidrogen dan oksigen. Lemak sukar diuraikan oleh
bakteri tetapi dapat dihidrolisa oleh alkali sehingga membentuk senyawa
sabun yang mudah larut. Adanya minyak dan lemak dipermukaan air
akan menghambat proses biologis dalam air sehingga tidak terjadi proses
fotosintesa.
4. Nitrogen
Gas yang tidak berwarna dan tidak beracun, dalam air pada
umumnya terdapat dalam bentuk organik dan bakteri merubahnya
menjadi ammonia. Dalam kondisi aeribik dan dalam waktu tertentu
bakteri dapat mengoksidasi amonia menjadi nitrit dan nirtat.
5. Suspended Solids (SS)
Padatan tersuspensi (SS) dalam air atau padatan tidak terlarut
dalam air adalah senyawa kimia yang terdapat dalam air baik dalam
keadaan melayang, terapung maupun mengendap. Senyawa ini dijumpai
dalam bentuk organik maupun anorganik. Padatan tidak terlarut ini
menyebabkan air berwarna keruh.
6. Total Disolved Solid (TDS)
Padatan terlarut dalam air (TDS) banyak ditemukan dalam air
adalah golongan senyawa alkali seperti karbonat, bikarbonat, dan
hidroksida.
Pencemaran air pada umumnya diakibatkan oleh kegiatan manusia.
Besar kecilnya pencemaran akan tergantung dari jumlah dan kualitas limbah
yang dibuang kesungai, baik limbah padat maupun cair.
Berdasarkan jenis kegiatannya maka sumber pencemaran air dibedakan
menjadi:
a. Effluent industri pengolahan
Effluent adalah pencurahan limbah cair yang masuk kedalam air
bersumber dari pembuangan sisa produksi, lahan pertanian, peternakan
dan kegiatan domestik. Dari hasil statistik industri di DKI Jakarta,
sumber industri pengolahan yang menjadi sumber pencemaran air yaitu
agro industri (peternakan sapi, babi dan kambing), industri pengolahan
makanan, industri miniman, industri tekstil, industri kulit, industri kimia
dasar, industri mineral non logam, industri logam dasar, industri hasil
olahan logam dan industri listrik dan gas.

b. Sumber domestik/buangan rumah tangga


Menurut peraturan Menteri Kesehatan, yang dimaksud dengan buangan
rumah tangga adalah buangan yang berasal bukan dari industri
melainkan berasal dari rumah tangga, kantor, hotel, restoran, tempat
ibadah, tempat hiburan, pasar, pertokoan dan rumah sakit. Limbah
domestik sering kali mengandung deterjen.
Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk
membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi.
Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain
mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh
kesadahan air.
Pada umumnya deterjen mengandung surfaktan, builder, filler dan
aditif. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang
mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka
lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air
sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan.
Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari
surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai
kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh
Sodium sulfat. Dan aditif merupakan bahan suplemen / tambahan untuk
membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih,
pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen.
Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh :
Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).
Deterjen mempunyai sifat fisis antara lain polar dan non polar..
Bila terhadap jasad renik rantai C yang lurus bersifat biogradable dan rantai
C yang bercabang bersifat unbiogradable. Sifat kimianya dapat melarutkan
lemak dan tidak dipengaruhi oleh kesadahan air.
Tanpa mengurangi makna manfaat deterjen dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari, harus diakui bahwa bahan kimia yang digunakan
pada deterjen dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap kesehatan
maupun lingkungan. Dua bahan terpenting dari pembentuk deterjen yakni
surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan
tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya.
Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilangnya
kelembaban alami yang ada pada permukan kulit dan meningkatkan
permeabilitas permukaan luar. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kulit
manusia hanya mampu memiliki toleransi kontak dengan bahan kimia
dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan akibat iritasi ‘sedang’ pada
kulit. Surfaktan kationik bersifat toksik jika tertelan dibandingkan dengan
surfaktan anionik dan non-ionik. Sisa bahan surfaktan yang terdapat dalam
deterjen dapat membentuk chlorbenzene pada proses klorinisasi pengolahan
air minum PDAM. Chlorbenzene merupakan senyawa kimia yang bersifat
racun dan berbahaya bagi kesehatan.
Pada awalnya surfaktan jenis ABS banyak digunakan oleh industri
deterjen. Namun karena ditemukan bukti-bukti bahwa ABS mempunyai
risiko tinggi terhadap lingkungan, bahan ini sekarang telah digantikan
dengan bahan lain yaitu LAS.
Ada dua ukuran yang digunakan untuk melihat sejauh mana
produk kimia aman di lingkungan yaitu daya racun (toksisitas) dan daya urai
(biodegradable). ABS dalam lingkungan mempunyai tingkat biodegradable
sangat rendah, sehingga deterjen ini dikategorikan sebagai ‘non-
biodegradable’. Dalam pengolahan limbah konvensional, ABS tidak dapat
terurai, sekitar 50% bahan aktif ABS lolos dari pengolahan dan masuk
dalam sistem pembuangan. Hal ini dapat menimbulkan masalah keracunan
pada biota air dan penurunan kualitas air. LAS mempunyai karakteristik
lebih baik, meskipun belum dapat dikatakan ramah lingkungan. LAS
mempunyai gugus alkil lurus / tidak bercabang yang dengan mudah dapat
diurai oleh mikroorganisme.
Dalam laporan lain disebutkan deterjen dalam badan air dapat
merusak insang dan organ pernafasan ikan yang mengakibatkan toleransi
ikan terhadap badan air yang kandungan oksigennya rendah menjadi
menurun. Keberadaan busa-busa di permukaan air menjadi salah satu
penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen
terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan
oksigen dan dapat menyebabkan kematian.
Builders, salah satu yang paling banyak dimanfaatkan di dalam
deterjen adalah phosphate. Phosphate memegang peranan penting dalam
produk deterjen, sebagai softener air. Bahan ini mampu menurunkan
kesadahan air dengan cara mengikat ion kalsium dan magnesium. Berkat
aksi softenernya, efektivitas dari daya cuci deterjen meningkat. Phosphate
yang biasa dijumpai pada umumnya berbentuk Sodium Tri Poly Phosphate
(STPP). Phosphate tidak memiliki daya racun, bahkan sebaliknya
merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan mahluk hidup. Tetapi
dalam jumlah yang terlalu banyak, phosphate dapat menyebabkan
pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) yang berlebihan di badan air, sehingga
badan air kekurangan oksigen akibat dari pertumbuhan algae
(phytoplankton) yang berlebihan yang merupakan makanan bakteri. Populasi
bakteri yang berlebihan akan menggunakan oksigen yang terdapat dalam air
sampai suatu saat terjadi kekurangan oksigen di badan air dan pada akhirnya
justru membahayakan kehidupan mahluk air dan sekitarnya. Di beberapa
negara, penggunaan phosphate dalam deterjen telah dilarang. Sebagai
alternatif, telah dikembangkan penggunaan zeolite dan citrate sebagai
builder dalam deterjen.
Bawang merah termasuk sayuran umbi yang multiguna paling
utama kegunaannya adalah sebagai bumbu penyedap masakkan.
Kegunaan lain bawang merah adalah sebagai obat tradisional, bawang
merah dikenal sebagai obat karena mengandung efek antiseptik dari
senyawa alliin atau allisin yang oleh enzim alliin liase diubah menjadi asam
piruvat, ammonia dan allisin anti mikroba yang bersifat bakterisida.
Dalam dunia industri makanan bawang merah sering diawetkan dalam
kaleng (canning), sous, sop kalengan, tepung bawang dan lain-lain.
Tanaman bawang merah mengalami beberapa fase pertumbuhan
yang penting. Pertumbuhan bawang merah dimulai dengan fase awal
pertumbuhan, fase pertumbuhan vegetatif, fase pertumbuhan umbi dan fase
pematangan umbi. Fase awal pertumbuan dimulai sejak umbi ditanam
sampai semua umbi tumbuh seragam. Pada fase ini bawang merah relatif
banyak memerlukan air, yang berguna untuk mempercepat pertumbuhan
yang serempak. Fase pertumbuhan vegetatif berlangsung selama tanaman
membentuk tunas dan daun, energi/unsur hara yang tersedia digunakan
untuk membentuk tunas dan daun. Pada fase pembentukan dan pematangan
umbi, pola pertumbuhannya berupa energi/unsur hara yang tersedia
dialihkan untuk pembentukan umbi.
Tanaman bawang merah dalam taksonominya digolongkan ke
dalam famili Liliaceae. Tanaman ini merupakan tanaman sayuran semusim
yang berumbi lapis (bulb), berakar serabut dan berdaun bentuk silindris.
Pangkal daun bersatu membentuk batang semu yang berubah bentuk dan
fungsinya, membengkak membentuk seperti umbi, sehingga menghasilkan
umbi bawang merah. Daun bawang merah hanya memiliki satu permukaan
berbentuk bulat memanjang yang di dalamnya terdapat rongga
udara/ruangan seperti pipa dimana semakin jauh dari akar, semakin runcing.

Gambar 1. bawang merah


(http://id.wikipedia.org/wiki/Bawang_merah)
III.ALAT DAN BAHAN
Alat
a. Neraca analitik 1 buah
b. Gelas plastik air mineral 14 buah
c. Botol air mineral 7 buah
d. Mistar skala 1 mm 1 buah
e. Kertas untuk label secukupnya
f. Air PDAM secukupnya
Bahan
a. Bawang merah 14 siung
b. Detergen RINSO Anti noda sebanyak 1 gram

IV. CARA/ALUR KERJA


1. Menyiapkan larutan deterjen dengan berbagai konsentrasi 100%, 50%,
25%, 12.5%, 6.25%, 3.1%.
a. Menyediakan bawang merah berukuran dan berdiameter hampir
sama berjumlah 12 buah. Kulit epidermis dikupas untuk menghindari
sisa ahan kimia yang tertinggal di kulit epidermis. Bagian akar
primordial yang berwarna kecoklatan dikupas.
b. Larutan deterjen yang sudah disediakan dimasukkan dalam gelas air
mineral. Setiap konsentrasi yang sama diisikan ke dalam gelas air
mineral.
c. Bawang merah diletakkan dengan posisi calon akar primordial
berada di bawah larutan deterjen.
d. Pertumbuhan akar diamati setiap 24 jam.
e. Setelah 72 jam bawang merah diangkat lalu dihitung panjang
akarnya. Panjang akar dirata-rata pada setiap perlakuan.
f. Hambatan pertumbuhan dihitung untuk setiap konsentrasi larutan
dengan menggunakan rumus:
rata − rata panjang akar kontrol − rata − rata panjang akar konsentrasi
IG = ×100%
rata − rata panjang akar kontrol

g. Buatlah grafik IG 50/hambatan pertumbuhannya.


2. Menyiapkan air PDAM sebagai kontrol.
a. Menyediakan bawang merah berukuran dan berdiameter hampir
sama berjumlah 2 buah. Kulit epidermis dikupas untuk menghindari
sisa ahan kimia yang tertinggal di kulit epidermis. Bagian akar
primordial yang berwarna kecoklatan dikupas.
b. Air PDAM yang sudah disediakan dimasukkan dalam gelas air
mineral. Setiap konsentrasi yang sama diisikan ke dalam gelas air
mineral.
c. Bawang merah diletakkan dengan posisi calon akar primordial
berada di bawah air PDAM.
d. Pertumbuhan akar diamati setiap 24 jam.
e. Setelah 72 jam bawang merah diangkat lalu dihitung panjang
akarnya. Panjang akar dirata-rata pada setiap perlakuan.
f. Hambatan pertumbuhan dihitung untuk air PDAM sebagai kontrol.
Cara menyediakan Larutan deterjen dengan berbagai konsentrasi 100%,
50%, 25%, 12.5%, 6.25%, 3.1%.

1 gram
detergen bubuk

-diencerkan hingga 1 L

100 %
500 mL diambil
1L
-diencerkan hingga 1 L

50 %
500 mL diambil
1L

-diencerkan hingga 1 L

25 %
500 mL diambil
1L

-diencerkan hingga 1 L

12,50 %
500 mL diambil
1L

-diencerkan hingga 1 L

6,25 %
500 mL diambil
1L

-diencerkan hingga 1 L

3,10 %
500 mL diambil
1L
V. DATA PENGAMATAN
Larutan Rata-rata panjang akar primordial
24 jam 48 jam 72 jam
Kontrol
1. 3,40 2,40 2,45
2. 0 0 0
Deterjen 100%
1. Busuk Busuk Busuk
2. Busuk Busuk Busuk
Deterjen 50%
1. 0 0 0
2. 0 0 0
Deterjen 25%
1. 0 0 0
2. 0 0 0
Deterjen 12.5%
1. 0,04 0,05 0,05
2. 0 0 0
Deterjen 6.25%
1. 0,85 0,09 0,09
2. - - -
Deterjen 3.1%
1. 2,40 2,40 2,45
2. 0 0 0

VI. PEMBAHASAN
Limbah domestik yang selama ini sering kali digunakan dalam
kehidupan sehari-hari adalah deterjen. Deterjen mengandung surfaktan,
builder, filler dan aditif. Dua bahan terpenting dari pembentuk deterjen
yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung
dan tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya. Percobaan ini
menggunakan tanaman bawang merah karena bawang merupakan salah satu
tanaman yang sangat mudah diamati tahapan mitosisnya karena bisa
langsung diamati dengan bantuan mikroskop dan tahapan pembelahan
selnya bisa terlihat jelas. Bagian yang digunakan adalah akar karena pada
akar primordial merupakan meristem yang masih berkembang dengan baik
sehingga masih mudah untuk diamati.
Dari data pengamatan dapat dilihat bahwa makin tinggi konsentrasi
deterjen menyebabkan terhambatnya pertumbuhan akar primordial bawang
merah. Hal ini dapat dilihat dari nilai IG untuk setiap konsentrasi larutan
deterjen:
1. 100% memiliki IG = 1
2. 50% memiliki IG =1
3. 25% memiliki IG =1
4. 12.5% memiliki IG = 98,65%
5. 6.25% memiliki IG = 90,04%
6. 3.1% memiliki IG = 29,95%

Grafik IG Vs Konsentrasi Deterjen

1.2
1
0.8
IG

0.6
0.4
0.2
0
0% 20% 40% 60% 80% 100% 120%
Konsentrasi

Gambar 2. Grafik antara IG dengan konsentrasi deterjen


Terhambatnya pertumbuhan akar primordial bawang merah
dikarenakan adanya surfaktan dan builders. Adanya surfaktan menyebabkan
busa-busa di permukaan air sehingga menurunkan oksigen terlarut. Dengan
demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan oksigen dan dapat
menyebabkan kematian. Builders, salah satu yang paling banyak
dimanfaatkan di dalam deterjen adalah phosphate. Tetapi dalam jumlah yang
terlalu banyak, phosphate dapat menyebabkan pengkayaan unsur hara
(eutrofikasi) dalam air menurun.
Pada hasil pengamatan terlihat beberapa akar primordial tumbuh
tidak optimal pada konsentrasi 12,5%. 6,25% dan 3,10%. Hal ini
dikarenakan kelebihan dalam penambahan larutan. Kekurangan dan
kelebihan air mengakibatkan tanaman mengalami stress. Perkembangan
tanaman bawang merah akan menurun dengan penurunan derajad stress air
dan tanaman ini sangat peka terhadap stress air.

VII.KESIMPULAN
Semakin tinggi konsentrasi deterjen menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan akar primordial bawang merah. Pada konsentrasi larutan
deterjen 100 %, 50 %, dan 25 % memiliki IG adalah 1 Pada konsentrasi
larutan deterjen 12,5 % memiliki IG adalah 98,65%. Pada konsentrasi
larutan deterjen 6,25 % memiliki IG adalah 90,04%. Pada konsentrasi
larutan deterjen 3,10 % memiliki IG adalah 29,95%.

VIII.PERTANYAAN
Berapa konsentrasi larutan deterjen minimum yang menghentikan proses
pertumbuhan akarnya?
25 %. Deterjen yang lebih pekat dapat menyebabkan permukaan air tertutup
sehingga sinar matahari dan oksigen yang diperlukan untuk pertumbuhan
akar bawang merah ini tidak dapat menembus permukaan air yang masuk
dalam air. Sehingga pada konsentrasi larutan deterjen 100%, 50%, dan
25 % menghentikan proses pertumbuhan akarnya.
IX. PERHITUNGAN

Tabel 1
Rata-rata
Konsentrasi 24 jam 48 jam 72 jam
panjang akar
100% 0 0 0 0
50% 0 0 0 0
25% 0 0 0 0
12,5% 0,04 0,05 0,05 0,046667
6,25% 0,85 0,09 0,09 0,343333
3,10% 2,4 2,4 2,45 2,416667
Kontrol (air PDAM) 3,4 3,45 3,5 3,45

Konsentrasi larutan deterjen 100 %, 50%, dan 25%


rata − rata panjang akar kontrol − rata − rata panjang akar konsentrasi
IG = ×100%
rata − rata panjang akar kontrol

3,45 − 0
= .100%
3,45
= 100%

Konsentrasi larutan deterjen 12,5 %


rata − rata panjang akar kontrol − rata − rata panjang akar konsentrasi
IG = ×100%
rata − rata panjang akar kontrol

3,45 − 0.046667
= .100%
3,45
= 98,65%

Konsentrasi larutan deterjen 6,25 %


rata − rata panjang akar kontrol − rata − rata panjang akar konsentrasi
IG = ×100%
rata − rata panjang akar kontrol

3,45 − 0.343333
= .100%
3,45
= 90,04%

Konsentrasi larutan deterjen 3,10 %


rata − rata panjang akar kontrol − rata − rata panjang akar konsentrasi
IG = ×100%
rata − rata panjang akar kontrol

3,45 − 2.416667
= .100%
3,45
= 29,95%

X. DAFTAR PUSTAKA
http://organisasi.org/penyebab_sebab_dan_akibat_pencemaran_lingkungan_
pada_air_dan_tanah_kesehatan_lingkungan_ilmu_sains_biologi
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/ilmu-kalaman-
dasar/dampak-pencemaran-lingkungan-terhadap-kesehatan-0
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesadahan_air
http://www.petaniwahid.blogspot.com/
http://72.14.235.132/search?q=cache:kF-
fgPeMACcJ:ditlin.hortikultura.deptan.go.id/slpht/sl_sayuran_02.htm+pertu
mbuhan+bawang+merah&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
http://id.wikipedia.org/wiki/Deterjen
http://www.tanindo.com/abdi14/hal3401.htm

Anda mungkin juga menyukai