Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, makanan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang manusia sehingga makanan yang dikonsumsi haruslah aman, bergizi, sehat dan tidak

menimbulkan gangguan kesehatan serta layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan pada bagian kedua tentang Bahan Tambahan Pangan pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang menggunakan bahan apapun sebagai bahan tambahan pangan yang dinyatakan terlarang atau melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan. Bahan tambahan pangan dalam kehidupan sehari-hari sudah umum

digunakan,namun sering terjadi kontroversi karena banyak produsen pangan yang menggunakan bahan tambahan yang berbahaya bagi kesehatan serta melebihi dari dosis yang diijinkan dalam industri. Secara khusus, tujuan pengguanaan bahan tamabahan pangan dalam pangan adalah untuk : 1. Mengawetkan makanan dengan mencegah pertumbuhan mikroba perusak pangan atau mencegah terjadinya reaksi kimia yang dapat menurunkan mutupangan. 2. Membentuk makanan menjadi lebih baik,renyah, dan enak dimulut. 3. Memberikan warna dan aroma yang lebih menarik. 4. Meningkatakan kualitas pangan. 5. Menghemat biaya.

BTP II 1

1.2 Rumusan masalah a. Apa pengertian Bahan Tambahan Pangan? b. Apa pengertian Formalin? c. Bagaimana mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung Formalin? d. Apa pengaruh formalin terhadap kesehatan? e. Bagaimana cara pengujian formalin? f. Apa pengertian Boraks? g. Bagaimana mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung Boraks? h. Apa pengaruh boraks terhadap kesehatan? i. Bagaimana cara pengujian Boraks?

1.3 Tujuan Penulisan a. Untuk mengetahui pengertian Bahan Tambahan Pangan. b. Untuk mengetahui pengertian dari Formalin dan Boraks. c. Untuk mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung Formalin dan Boraks. d. Untuk mengetahui pengaruh formalin dan boraks terhadap kesehatan. e. Untuk mengetahui cara pengujian formalin dan Boraks.

1.4 Manfaat Makalah a. Agar masyarakat berhati-hati dan tidak salah memilih produk pangan yang akan dikonsumsi. b. Agar masyarakat bisa mendapatkan pemahaman tentang formalin dan boraks serta bahayanya bagi kesehatan bagi tiap manusia.

BTP II 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pengertian Bahan Tambahan Pangan Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan antara lain bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental. Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor

722/Menkes/Per/IX/88 menjelaskan juga bahwa bahan tambahan pangan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan bahan baku khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja ditambahankan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tersebut. Menurut Permenkes RI No.1168/Menkes/Per/X/1999 Tentang perubahan atas peraturan Menteri Kesehatan No. 722/Menkes/Per /IX/1988 tentang bahan tambahan Makanan. Terdapat sepuluh bahan tambahan makanan yang dilarang digunakan dalam makanan seperti Formalin (Formaldehyde) dan Asam Borat (Boric Acid). Tahu berasal dari bahasa cina tao-hu atau tokwa. Kata tao atau teu berarti kacang. Untuk membuat tahu, orang menggunakan kacang kedele kuning (putih) yang disebut wong-teu. Dan arti kata hu atau kwa berarti rusak, lumat, dan hancur menjadi bubur. Sehingga dapat diartikan bahwa tahu adalah makanan yang terbuat dari kedele yang dilumatkan, dihancurkan menjadi bubur. Tahu merupakan salah satu jenis makanan yang dibuat dari kedelai dengan jalan memekatkan protein pada titik isoelektrisnya, dengan atau tanpa penambahan unsureunsur lain yang diizinkan. Tahu diproduksi dengan memanfaatkan sifat protein, yaitu akan menggumpal bila bereaksi dengan asam. Penggumpalan protein oleh asam cuka akan berlangsung secara cepat dan serentak diseluruh bagian cairan sari kedelai, sehingga besar air yang semula tercampur dalam sari kedelai akan terperangkap di dalamnya. Pengeluaran air yang terperangkap tersebut dapat dilakukan dengan memberikan tekanan. Semakin besar
BTP II 3

tekanan yang diberikan, semakin banyak air dapat dikeluarkan dari gumpalan protein. Gumpalan protein itulah yang kemudian disebut tahu. Syarat kualitas tahu Tahu merupakan pekatan protein kedelai dalam keadaan basah. Komponen terbesarnya terdiri atas air dan protein. Berdasarkan Standar Industri Indomesia (SII) No. 0270-80 ditetapkan persyaratan mengenai standar kualitas tahu sebagaimana terlihat pada tabel : Standar kualitas tahu berdasarkan SII No. 0270-80 No. Karakteristik 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Protein Abu (tanpa garam) Serat kasar Logam berbahaya (As, Pb, Mg, Zn) Zat warna Bau dan rasa Kondisi Zat pengawet Ketentuan lain Minimal 9% Maksimal 1% Maksimal 0,1% Negatif Pewarna khusus untuk makanan Normal untuk tahu Normal, tidak berjamur, tidak berlendir Jenis dan jumlah diizinkan ; a. Natrium benzoate (0,1%) b. Nipagin (0,08%) c. Asam propionate (0,3%) 9. Bakteri Coli Negatif

Bakso atau baso adalah jenis bola daging yang paling lazim dan pertama kali ditemukan oeh Mas Fredy dalam masakan Indonesia.[1] Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, taoge, tahu, terkadang telur, ditaburi bawang goreng dan seledri. Bakso sangat populer dan dapat ditemukan di seluruh Indonesia; dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar.

Dalam proses pembuatanya, ada bakso yang dicampur dengan boraks atau bleng untuk membuat tepung menjadi lebih kenyal mirip daging serta lebih awet.[2] Hal ini membuat bakso pernah dianggap makanan yang kurang aman oleh BPOM. BPOM mengingatkan bahwa mengonsumsi makanan berkadar boraks tinggi selama kurun 510
BTP II 4

tahun dapat meningkatkan risiko kanker hati.[3] Maka bakso yang dijual di berbagai pasar tradisional dan pasar swalayan diwajibkan bebas boraks. Karena bakso terbuat dari daging, maka sebaiknya bakso disimpan dalam kondisi beku sebelum direbus untuk dikonsumsi. Karena alasan itulah di supermarket bakso dijual dalam kondisi beku untuk menjaga temperatur agar bakso dapat terjaga kualitasnya dan tidak tercemar bakteri. Konsumen perlu berhati-hati dalam memilih bakso yang dijual oleh pedagang bakso keliling. Bakso yang dijual tetapi dipajang di etalase pada temperatur ruang rawan tercemar bakteri, misalnya bakteri penyebab diare atau salmonela penyebab tifus. Pilihlah bakso yang tengah direbus. 2.2. Pengertian Formalin Formalin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna atau hamper yidak berwarna dengan bau yang menusuk, uapnya merangsang selaput lendir, hidung dan tenggorokan, dan rasa membakar. Bobot tiap milliliter (ml) adalah 1,08 gram. Dapat bercampur dalam air dan alkohol tetapi tidak bercampur dalam kloroform dan eter. Sifatnya yang mudah larut dalam air dikarenakan adanya electron sunyi pada oksigen sehingga dapat mengadakan ikatan hydrogen molekul air. Formalin memiliki rumus kimia CH2O, merupakan senyawa organik yang diproduksi dari reaksi oksidasi methanol dengan bantuan katalis tertentu. Formalin memiliki banyak nama kimia, diantaranya formol, methylene aldehyde, paraforin, morbicid, oxomethane, tetraoxymthylene, mthyloxide, karsan, trioaxane, oxymethylene dan methylene glycol. Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 30% - 40%. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk yang sudah diencerkan, yaitu dalam kadar formaldehid 40, 30, 20, 10% serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing-masing sekitar 5 gram.

BTP II 5

2.3. Ciri-ciri makanan yang mengandung Formalin Harga formalin yang relative murah mengakibatkan formalin sering

disalahgunakan. Untuk menghinndarkan terjadinya keracunan, masyarakat harus dapat membedakan bahan atau produk makanan yang megandung formalin dan yang sehat. Beberapa cirri produk berformalin antara lain: 1) Ciri-ciri mie basah yang mengandung formalin Tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar (25C) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 C). Bau agak mnyengat, bau formalin. Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. 2) Ciri-ciri tahu yang mengandung formalin Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25C) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 C). Tahu terlampau keras, namun tidak padat. Tekstur lebih kenyal dan tidak mudah hancur. Bau agak menyegat, bau formalin. 3) Ciri-ciri bakso yang mengandung formalin Tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar (25C). Tekstur sangat kenyal. 4) Ciri-ciri ikan segar yang mengandung formalin Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25C). Warna insang merah tua, dan ridak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih. Bau menyengat, bau formalin. 5) Ciri-ciri ikan asin yang mengandung formalin Tidak rusak sampai lebih satu bulan pada suhu kamar (25C). Bersih cerah dan tidak mudah hancur. Tidak dihinggapi lalat jika diletakkan ditempat terbuka. Tidak berbau khas ikan asin.

BTP II 6

2.4. Pengaruh Formalin Terhadap Kesehatan A. Bahaya formalin bila tertelan Bahaya Jangka Pendek (Akut) Dapat menyebabkan mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah, dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah yang rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat menyebabkan keusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, system susunan syaraf pusat dan ginjal. Bahaya Jangka Panjang (Kronis) Pada dasarnya, formalin dalam jaringan tubuh sebagian akan dimetabolisir kurang dari 2 menit oleh enzim formaldehid dehidrogenase menjadi asam format yang kemudian diekskresikan tubuh melalui urin dan sebagian di ubah menjadi CO2 yang dibuang melalui nafas. Fraksi

formaldehid yang tidak mengalami metabolisme akan terikat secara stabil dengan makromolekul selulerprotein DNA yangdapat berupa ikatan silang. Ikatan silang formaldehid dengan DNA dan protein ini diduga bertanggung jawab atas terjadinya kekacauan infomasi genetik dan konsekuensi lebih lanjut seperti terjadi mutasi genetic dan sel kanker. Oleh karena itu lah, International Agency Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikannya sebagai karsinogenik golongan I (cukup bukti sebagai karsinogen pada manusia), khususnya pada saluran pernafasan. Mutasi genetik tersebut mungkin dapat menyebabkan penyakit penyakit genetik. Bila gen gen rusak itu diwariskan, maka akan terlahir generasi dengan cacat gen. B. Bahaya formalin jika terhirup Bahaya jangka pendek (Akut) Apabila formalin dihirup pada konsentrasi 0,1 5,0 bpj dapat mengakibatkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, pada konsentrasi 10-20 bpj mengakibatkan gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan kerongkongan serta batuk, dan pada konsentrasi 25-50 bpj mengakibatkan kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan, misalnya radang paru (pneumonitis) dan pembengkakan paru (pulmory edema), bahkan pada konsentrasi sangat tinggi dapat mengakibatkan kematian. Selain itu, gejala lain yang tampak apabila formalin terhirup yaitu bersin, pharingitis (radang tekak),
BTP II 7

radang tenggorokan, sakit dada, rasa haus berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah. Bahaya Jangka Panjang (Kronis) Dapat menyebabkan sakit kepala, gangguan pernafasan, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal, sensitisasi paru-paru, gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi dan penurunan daya ingat. Selain itu, pada wanita dapat menyebabkan gangguan haid serta kemandulan. Formalin dapat menyebabkan kanker pada hidung, rongga hidung dan radang nasofaring.

2.5. Pengujian Formalin Analisis formalin dalam makanan biasanya dilakukan secara kualitatif berdasarkan reaksi warna, yaitu reaksi yang disertai perubahan warna. 1. Uji dengan asam kromatropat Pereaksi dibuat dengan melarutkan asam kromatropatdalam H2SO4 72% (500 mg/100 ml). Sebanyak 5 ml pereaksi asam kromatopat ini dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambah 1 ml larutan hasil destilasi sambil diaduk. Larutan dimasukkan ke dalam penangas air mendidih selama 15 menit dan di amati perubahan warna yang terjadi. Adanya formaldehid ditunjukkan dengan timbulnya warna ungu terang sampai ungu tua. 2. Uji Hehner-Fulton Sebanyak 5 ml larutan hasil destilasi ditambah 6 ml H2SO4 dan didinginkan. Sebanyak 5 ml campuran ini dimasukkan kedalam tabung reaksi lalu ditambah 1 ml susu bebas aldehid secara perlahan lahan sambil didinginkan. Campuran selanjutnya ditambah 0,5 ml pereaksi (dibuat dengan mencampur 1 bagian air brom jenuh kedalam 1 bagian asam sulfat pekat dan dibiarkan dingin). Adanya formaldehid ditunjukkan dengan timbulnya warna merah muda ungu. 3. Uji dengan FeCl3 (untuk sampel susu dan olahannya) Sebanyak 5 gram sampel ditimbang lalu ditambah 50 ml aquadest dan dimasukkan kedalam corong pisah. Campuran ditambah 1-2 ml asam asetat 4 N lalu dikocok dengan 2 x 20 ml eter. Lapisan eter dipisahkan dan diuapkan dengan rotavator sampai kering. Residu ditambah 10-20 ml aquadest lalu diaduk dan dituang kedalam 3 ml

BTP II 8

asam sulfat yang telah ditetesi dengan 2 tetes FeCl310% secara perlahan lahan. Timbulnya warna merah lembayung menunjukan adanya formaldehid. 4. Uji dengan Fenilhidrazin. Larutan uji yang mengandung formalin ditambah 10 tetes fenilhidrazin HCL 5%, 2 tetes larutan natrium prusid 0,5% kemudian ditambah 10 tetes natrium hidroksida. Timbulnya warna biru yang kemudian berubah menjadi hijau dan akhirnya kuning merah menunjukkan adanya formalin. 5. Dengan menggunakan reaksi Nashs Larutan uji yang mengandung formalin ditambah dengan pereaksi Nashs lalu di inkubasi dalam penangas air pada suhu 37oC 1oC selama 30 menit. Timbulnya warna kuning yang intens menunjukan adanya formalin. Pereaksi Nashs dibuat dengan melarutkan 150 gram amonium asetat, 3 ml asam asetat, 2 ml asetil aseton dengan aquades sampai 1000,0 ml. Cara ini juga digunakan untuk melakukan uji kuantitatif untuk mengetahui kandungan formalin yang ditambahkan dalam makanan.

2.7. Pengertian Boraks Boraks berasal dari bahasa arab yaitu Bouraq. Boraks merupakan garam Natrium, Na2 B4O7 IOH2O, yang banyak digunakan dalam berbagai industry non pangan khususnya industry kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Gelas pyrex yang terkenal dibuat dengan campuran boraks. Gambar struktur kimia pada boraks

Boraks adalah serbuk hablur putih, tidak berbau, sedikit larut dalam air dingin, tetapi lebih larut dalam air panas, dan praktis tidak larut dalam etanol (95%), PH : 9,5 berat jenisnya 1,73, titik lebur 741C, dan titik didihnya 1575C (depkes RI, 1979). Boraks secara praktis dipakai sebagai pengawet keyu, antiseptik kayu, bahan solder, bahan pembersih, dan pengontrol kecoak. Dalam bidang farmasi digunakan sebagai antiseptikum ekstern, misal pada obat cuci mata (boorwater), salep kulit kecil, obat
BTP II 9

kumur, dan semprot hidung. Boraks tidak dapat digunakan pada luka yang luas karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh. Boraks merupakan senyawa yang terkadang disalahgunakan karena boraks dalam industri makanan diketahui dapat memperbaiki tekstur makanan, penngguanan boraks sebagai bahan tambahan pangan nampaknya ditujukan untuk menjadikan makanan menjadi lebih kenyal, empuk dan membuat tampilan makanan menjadi lebih menarik, misalnya pada bakso dan kerupuk. Bakso yang menggunakan boraks sangat renyah, disukai dan tahan lama sedangkan kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk tekssturnya bagus dan renyah.

2.8. Ciri-ciri makanan yang mengandung Boraks Beberapa ciri produk berboraks antara lain: 1. Ciri-ciri mie basah yang mengandung boraks : Teksturnya kenyal, lebih mengkilat. Tidak lengket dan tidak cepat putus. Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. 2. Ciri-ciri jajanan (seperti lontong) yang mengandung boraks : Teksturnya sangat kenyal, berasa tajam Seperti sangat gurih dan membuat lidah bergetar. Memberikan rasa getir. 3. Ciri-ciri kerupuk yang mengandung boraks : Teksturnya renyah dan menimbulkan rasa getir. 4. Ciri ciri bakso mengandung boraks : Teksturnya sangat kenyal Bila digigit akan kembali kebentuk semula Tahan lama atau awet beberapa hari Warnanya tampak lebih putih Bau terasa tidak alami. Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola bekel.

2.9.Pengaruh Boraks Terhadap Kesehatan Sering mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks dapat menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang system syaraf puat,
BTP II 10

menimbulkan depresi, apatis, sianosi, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, bahkan kematian. Pengaruhnya terhadap kesehatan adalah, 1). Tanda dan gejala akut : Muntah, diare, merah dilendir, konfusi dan depresi sistem syaraf pusat. 2). Tanda dan gejala kronis : Nafsu makan menurun Gangguan pencernaan Gangguan sistem syaraf pusat (bingung dan bodoh). Anemia, rambut rontok dan kanker.

2.10. Pengujian Boraks Identifikasi boraks dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pada umunya, identifikasi boraks dapat dilakukan dengan reaksi warna dengan kertas kurkumin, reaksi warna dengan larutan kurkumin, asam sulfat pekat dan alcohol (uji nyala api), dan kerja oleh panas. Uji manik boraks dilakukan dengan membengkokan ujung kawat platinum menjadi lingkaran kecil yang dipanaskan di atas api Bunsen sampai membara kemudian dengan cepat dibenamkan di bubuk Na2 B4O7 10H2O dan dipanaskan pada bagian nyala yang terpanas, maka garam membengkak ketika melepas air kristalnya ddan menyusut sebesar lingkaran membentuk manic, mirip kaca tembus cahaya yang tidak berwarna dari natrium tetraborat dan anhidrida borat. Pengujian boraks dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya adalah uji nyala api yang menyebutkan bahwa jika sedikit boraks di campurkan dengan 1 ml asam sulfat pekat dan 5 ml methanol atau etanol (yang pertama lebih disukai karena lebih mudah menguap) dalam sebuah cawan poselin kecil, dan alkohol ini dinyalakan: alkohol akan terbakar dengan nyala yang pinggirnya hijau disebabkan oleh pembentukan metil borat B (OCH3)3 atau etil borat B (OC2H5), kedua ester ini beracun. Garam tembaga dan barium mungkin memberi nyala hijau yang serupa. Modifikasi yangberikut dari uji ini, yang tergantung pada sifat boron trifluorida, BF3, yang lebih menguap, dapat dipakai dengan adanya senyawa tembaga dan barium. Zat-zat ini tidak membentuk senyawa yang mudah menguap pada kondisi-kondisi eksperimen yang sudah modifikasi berikut. Campurlah dengan sesama borat dengan kalsium klorida yang telah dijadikan bubuk dan sedikit asam sulfat pekat dan bawa sedikit dari pasta yang terjadi tersebut diatas cicin dan di kawat platinum, atau pada ujung batang kaca, sampai dekat sekali ke tepi bagian dasar
BTP II 11

nyala Bunsen tanpa benar-benar menyentuhnya, boran triklorida yang mudah menguap terbentuk, akan mewarnai nyala menjadi hijau.(svehla, 1985 : 366) Reaksi warna dengan larutan kurkumin juga merupakan salah satu cara identifikasi boraks pada makanan. Rohman (2007) menyebutkan bahwa reaksi warna dengan larutan kurkumin terbukti mampu mengidentifikasi senyawa boraks pada makanan. Uji kualitatif boraks dilakukan dengan cara: sebanyak 20 gram sampel di bubuhi serbuk NaCO3 secukupnya. Kemudian diarangkan di atas nyala Bunsen, dan elanjutnya diabukan di dalam tanur listrik dan didinginkan. Abu yang dihasilkan ditambah dengan air dan ditambahkan beberapa tetes HCl 5 N lalu disaring, lalu di tambah 4 tetes asam oksalat jenuh, dan 1 ml ekstrak etanol kurkumin. Larutan diupakan di atas penangas air sampai kering. Bila terbentuk warna merah (merah cerry) maka positif mengandung boraks, apabila sisa pengendapan dibubuhi Na4OH-NaOH encer maka akan terbentuk warna hijau kehitaman.

BTP II 12

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


3.1.ALAT DAN BAHAN 1. IDENTIFIKASI FORMALIN ALAT Beaker glass Erlenmeyer Batang pengaduk Hot plate Panci Kompor

BAHAN Asam kromatofat Aquades Sampel tahu

2. IDENTIFIKASI BORAKS ALAT Cawan Porselin Neraca analitik Korek api Pipet ukur

BAHAN Sampel bakso Alkohol 70% Asam sulfat pekat (H2SO4)

BTP II 13

3.2.CARA KERJA 1. IDENTIFIKASI FORMALIN 1.1 REAKSI WARNA MENGGUNAKAN ASAM KROMATOFAT DENGAN METODE KUALITATIF Timbang bahan sebanyak 5 gram, masukkan aquades dalam beaker glass sebanyak 50 ml, kemudian didihkan. Masukkan bahan yang diuji ke dalam erlenmeyer, lalu direndam dengan aquades yang mendidih, masukkan asam kromatofat, lalu aduk. Produk yang mengandung formalin akan ditunjukkan dengan berubahnya warna air dari bening menjadi merah muda hingga ungu. Semakin ungu berarti kadar formalin semakin tinggi. Jika perlakuan diatas belum menghasilkan uji yang positif, pasang kembali panci ke atas kompor, rebus aquades yang baru, masukkan gelas yang berisi campuran produk, aquades lama dan asam kromatofat ke dalam panci. Waktu perebusan selama 20 menit dihitung sejak aquades yang baru mendidih. Terjadinya perubahan warna pada reaksi kimia ialah di sebabkan adanya reaktan yang diubah menjadi produk. Perubahan yang terjadi disebabkan adanya pemutusan ikatan-ikatan antar atom reaktan dan pembentukan ikatan-ikatan baru yang membentuk senyawa kompleks. Reaksi warna adalah salah satu jenis reaksi kimia yang dilakukan dengan pengamatan pada perubahan warna yang terjadi (kualitatif).

2. IDENTIFIKASI BORAKS 2.1 METODE UJI NYALA API Identifikasi dengan asam sulfat pekat dengan alkohol dilakukan dengan cara sebagai berikut: menambahkan sedikit sampel kemudian sampel dicampurkan dengan 1 ml asam sulfat pekat dan 5 ml alkohol 70% dalam sebuah cawan porselin kecil. Menyalakan alkohol tersebut, memperhatikan nyala api yang ditimbulkan oleh alkohol apabila nyala api yang terjadi warna padsa bagian pinggirnya hijau maka ada kandungan boraks dalam sampel.

BTP II 14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.HASIL Tabel 1.1 Identifikasi formalin Sampel Baku pembanding formalin Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Pereaksi Asam Kromatofat Asam Kromatofat Asam Kromatofat Asam Kromatofat Asam Kromatofat Asam Kromatofat Pengamatan warna Ungu Bening Bening Bening Bening Bening Hasil (+) (-) (-) (-) (-) (-)

Tabel 1.2 Identifikasi boraks Sampel Baku Pembanding Boraks Sampel A Pereaksi Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Warna nyala api Biru dengan pinggiran hijau Biru merah Hasil pengamatan (+)

(-)

Sampel B

Biru merah

(-)

Sampel C

Biru merah

(-)

Sampel D

Biru merah

(-)

Sampel E

Biru merah

(-)

BTP II 15

4.2.PEMBAHASAN 1. Identifikasi Formalin Pada penelitian kali ini, peneliti menggunakan asam kromatofat untuk mengatahui keberadaan formalin dalam bahan makanan secara kualitatif. Asam kromatofat digunakan untuk mengikat formalin agar terlepas dari bahan. Formalin juga bereaksi dengan asam kromatopik menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna merah keunguan. Reaksinya dapat dipercepat dengan cara menambahkan asam fosfat dan dan hydrogen peroksida. Caranya bahan yang diduga mengandung formalin ditetesi dengan campuran antara asam kromatopik, asam fosfat, dan hydrogen peroksida. Jika dihasilkan warna merah keunguan maka dapat disimpulkan bahwa bahan tersebut mengandung formalin. Terjadinya perubahan warna pada reaksi kimia ialah di sebabkan adanya reaktan yang diubah menjadi produk. Perubahan yang terjadi disebabkan adanya pemutusan ikatan-ikatan antar atom reaktan dan pembentukan ikatan-ikatan baru yang membentuk senyawa kompleks. Reaksi warna adalah salah satu jenis reaksi kimia yang dilakukan dengan pengamatan pada perubahan warna yang terjadi (kualitatif). Dari hasil penelitian di dapat hasil sampel yg di uji pada tabel 1.1:

Tabel 1.1 Identifikasi formalin Sampel Baku pembanding formalin Sampel A Sampel B Sampel C Sampel D Sampel E Pereaksi Asam Kromatopat Asam Kromatopat Asam Kromatopat Asam Kromatopat Asam Kromatopat Asam Kromatopat Pengamatan warna Ungu Bening Bening Bening Bening Bening Hasil (+) (-) (-) (-) (-) (-)

Penggunaan

formalin

dimaksudkan

untuk

memperpanjang

umur

penyimpanan, karena formalin adalah senyawa antimikroba serbaguna yang dapat membunuh bakteri, jamur bahkan virus. Selain itu interaksi antara formaldehid dengan protein dalam pangan menghasilkan tekstur yang tidak rapuh dalam waktu
BTP II 16

yang lama dan untuk beberapa produk pangan seperti tahu, mie basah, ikan segar, memang dikehendaki oleh konsumen. Formalin dapat masuk lewat mulut karena mengkonsumsi makanan yang diberi pengawet formalin. Jika akumulasi formalin kandungan dalam tubuh tinggi, maka bereaksi dengan hampir semua zat di dalam sel. Ini akibat sifat oksidator formalin terhadap sel hidup. Dampak yag dapat terjadi tergantung pada berapa banyak kadar formalin yang terakumulasi dalam tubuh. Semakin besar kadar yang terakumulasi, tentu semakin parah akibatnya. Mulai dari terhambatnya fungsi sel hingga menyebabkan kematian sel yang berakibat lanjut berupa kerusakan pada organ tubuh. Di sisi lain dapat pula memicunya pertumbuhan sel-sel yang tak wajar berupa sel-sel kanker. Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing pemberian formalin dalam dosis tertentu jangka panjang secara bermakna mengakibatkan kanker saluran cerna seperti adenocarcinoma pylorus, preneoplastic hyperplasia pylorus dan adenocarcinoma duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan peningkatan resiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan (Takahashi et al., 1986). Di dalam tubuh, jika terakumulasi dalam jumlah besar, formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh. Akumulasi formalin yang tinggi di dalam tubuh akan menyebabkan berbagai keluhan, misalnya iritasi lambung dan kulit, muntah, diare, serta alergi. Bahkan bisa menyebabkan kanker, karena formalin bersifat karsinogenik.Formalin termasuk ke dalam karsinogenik golongan IIA. Golongan I adalah yang sudah pasti menyebabkan kanker, berdasarkan uji lengkap, sedangkan golongan IIA baru taraf diduga, karena data hasil uji pada manusia masih kurang lengkap (Winarno, 2004). Lembaga perlindungan lingkungan Amerika Serikat (EPA) dan lembaga internasional untuk penelitian kanker (IARC) menggolongkan formalin sebagai senyawa yang bersifat karsinogen. Formalin akan mengacaukan susunan protein atau RNA sebagai pembentuk DNA di dalam tubuh manusia. Jika susunan DNA kacau maka akan memicu terjadinya sel-sel kanker dalam tubuh manusia. Tentu prosesnya memakan waktu yang lama, tetapi cepat atau lambat jika tiap hari tubuh kita
BTP II 17

mengonsumsi makanan yang mengandung formalin maka kemungkinan terjadinya kanker juga sangat besar (Widyaningsih dan Murtini, 2006). Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Itu sebabnya formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Tetapi, imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Usia anak khususnya bayi dan balita adalah salah satu yang rentan untuk mengalami gangguan akibat formalin. Secara mekanik integritas mukosa (permukaan) usus dan peristaltik (gerakan usus) merupakan pelindung masuknya zat asing masuk ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi zat berbahaya tersebut. Secara imunologik sIgA (sekretori Imunoglobulin A) pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal zat asing masuk ke dalam tubuh. Sehingga pada orang dewasa relatif damp aknya dapat ditekan oleh system tubuh. Namun pada usia anak, usus imatur (belum sempurna) atau sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan bahan berbahaya masuk ke dalam tubuh sulit untuk dikeluarkan. Hal ini juga akan lebih mengganggu pada penderita gangguan saluran cerna yang kronis seperti pada penderita Autism, penderita alergi dan sebagainya (Blair et al., 1987). Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatan penggunaan bahan kimiawi, secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter. Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam bentuk makanan untuk orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg per hari. Bila formalin masuk ke tubuh melebihi ambang batas tersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada organ dan sistem tubuh manusia. Akibat yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat atau jangka pendek dan dalam jangka panjang, bisa melalui hirupan, kontak langsung atau tertelan. Berdasarkan standar Eropa, kandungan formalin yang masuk dalam tubuh tidak boleh melebihi 660 ppm (1000 ppm setara 1 mg/liter). Sementara itu, berdasarkan hasil uji klinis, dosis toleransi tubuh manusia pada pemakaian secara terus-menerus (Recommended Dietary Daily Allowances/RDDA) untuk formalin
BTP II 18

sebesar 0,2 miligram per kilogram berat badan. Misalnya berat badan seseorang 50 kilogram, maka tubuh orang tersebut masih bisa mentoleransi sebesar 50 dikali 0,2 yaitu 10 miligram formalin secara terus-menerus. Sedangkan standar United State Environmental Protection Agency/USEPA untuk batas toleransi formalin di udara, tercatat sebatas 0.016 ppm. Sedangkan untuk pasta gigi dan produk shampo menurut peraturan pemerintah di negara-negara Uni Eropa (EU Cosmetic Directive) dan ASEAN (ASEAN Cosmetic Directive) memperbolehkan penggunaan formaldehida di dalam pasta gigi sebesar 0.1 % dan untuk produk shampoo dan sabun masing-masing sebesar 0.2 %. Peraturan ini sejalan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan makanan (BPOM) di Indonesia (Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat & Makanan RI No HK.00.05.4.1745, Lampiran III "Daftar zat pengawet yang diizinkan digunakan dalam Kosmetik dengan persyaratan..." no 38 : Formaldehid dan paraformaldehid). Walaupun daya awetnya sangat luar biasa, formalin dilarang digunakan pada makanan. Di Indonesia, Formalin dan metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999. Begitu juga dengan boraks, kloramfenikol,

dietilpilokarbonat, dulsin, dan nitrofurazon. Selain itu formalin yang bersifat racun ini tidak termasuk ke dalam daftar bahan tambahan makanan pada Codex Alimentarius maupun yang dikeluarkan oleh Depkes, sehingga penggunaan formalin pada makanan dilarang (Winarno, 2004). Para ilmuwan dari Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB), telah melakukan riset dan menemukan bahan alami pengganti formalin, khususnya pada produkproduk perikanan, seperti ikan asin. Salah satu produk tersebut adalah chitosan. Chitosan merupakan produk turunan dari polimer chitin, yakni produk samping (limbah) dari pengolahan industri perikanan, khususnya udang dan rajungan yang selanjutnya melalui berbagai macam proses. Karakteristik fisiko-kimia chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal, dapat larut dalam larutan asam organik sepert asam asetat, tetapi tidak larut dalam pelarut organik lainnya. Beberapa indikator parameter daya awet hasil pengujian antara lain pertama, pada keefektifan dalam mengurangi jumlah lalat yang hinggap, dimana pada konsentrasichitosan 1,5 persen, dapat mengurangi jumlah lalat secara signifikan. Kedua, pada keunggulan dalam uji
BTP II 19

mutu penampakan dan rasa, dimana hasil riset menunjukkan penampakan ikan asin dengan coating chitosan lebih baik bila dibandingkan dengan ikan asin kontrol tanpa formalin dan dengan formalin. Indikator ketiga, adalah pada keefektifan dalam menghambat pertumbuhan bakteri, dimana nilai TPC (bakteri) sampai pada minggu kedelapan perlakuan, pelapisan chitosan masih sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) ikan asin, yakni dibawah 1 x 10 pangkat lima (100 ribu koloni per gram). Hal itulah yang menyebabkan daya simpan ikan asin yang diberikan perlakuan chitosan bisa bertahan sampai tiga bulan dibanding dengan ikan asin dengan penggaraman biasa yang hanya bisa bertahan sampai dua bulan. Sedangkan indikator terakhir atau keempat, yakni pada kadar air, di mana perlakuan dengan pelapisan chitosan sampai delapan minggu menunjukkan kemampuan chitosan dalam mengikat air, karena sifat hidrofobik, sehingga dengan sifat ini akan menjadi daya tarik para pengolah ikan asin dalam aspek ekonomis. 2. Identifikasi Boraks Pada praktikum sebelumnya, dilakukan analisis terhadap sampel makanan yang diduga mengandung bahan kimia natrium tetraborat, atau yang lebih dikenal dengan nama boraks. Seperti yang kita ketahui, boraks merupakan senyawa kimia yang biasanya digunakan untuk mengawetkan mayat ataupun specimen-spesimen biologi lainnya. Natrium tetraborat atau boraks, menurut BPOM sendiri,sama sekali dilarang penggunaan nya dalam makanan ataupun minuman.

Penggunaan boraks dalam dosis yang rendah tidak akan menyebabkan kerusakan namun akan terakumulasi di otak, hati, lemak dan ginjal. Jika terakumulasi terus akan menyebabkan mal fungsi dari organ-organ tersebut sehingga membahayakan tubuh. Penggunaan boraks dalam dosis yang banyak mengakibatkan penurunan nafsu makan, gangguan pencernaan, demam, anuria dan dalam jangka panjang akan menyebabkan radang kulit merangsang SPP, apatis, depresi, slanosis, pingsan, kebodohan dan karsinogen. Bahkan bisa menimbulkan kematian. Oleh sebab itu berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 dilarang menggunakan boraks sebagai bahan campuran dan pengawet makanan. Boraks (Na2B4O7) dengan nama kimia natrium tetra borat, natrium biborat, natrium piroborat merupakan senyawa kimia yang berbentuk kristal dan berwarna putih dan jika dilarutkan dalam air menjadi natrium hidroksida serta asam boraks. Natrium hidroksida dan asam boraks masing-masing bersifat antiseptik, sehingga
BTP II 20

banyak digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat misalnya : salep, bedak, larutan kompres, dan obat pencuci mata. Penggunaan boraks di industri farmasi ini sudah sangat dikenal. Hal ini dikarenakan banyaknya boraks yang dijual di pasaran dan harganya yang sangat murah. Selain itu boraks bagi industri farmasi memberikan untung yang besar. Boraks pada dasarnya merupakan bahan untuk pembuat solder, bahan pembersih, pengawet kayu, pengontrol kecoa, dan bahan pembuatan kaca. Dengan sifat fisik dan sifat kimia yang dimiliki, boraks digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan benda-benda tersebut. Boraks sedikit larut dalam air, namun bisa bermanfaat jika sudah dilarutkan dalam air. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui adanya boraks dalam makanan secara kualitatif, dan apabila sampel makanan positif mengandung boraks, dilakukan uji kuntitatif untuk mengetahui kadar boraks yang terkandung dalam makanan tersebut. Uji nyala adalah salah satu metode pengujian untuk mengetahui apakah dalam makanan terdapat boraks atau tidak. Disebut uji nyala karena sampel yang digunakan dibakar, kemudian warna nyala dibandingkan dengan warna nyala boraks asli. Serbuk boraks murni dibakar menghasilkan nyala api berwarna hijau. Jika sampel yang dibakar menghasilkan warna hijau maka sampel dinyatakan positif

mengandung boraks. Prosedur dilakukan dengan melarutkan senyawa uji dengan metanol dalam wadah (cawan penguap) kemudian dibakar, warna api hijau menunjukkan terdapat senyawa boraks (Roth, 1988). Identifikasi dengan asam sulfat pekat dengan alkohol dilakukan dengan cara sebagai berikut: menambahkan sedikit sampel kemudian sampel dicampurkan dengan 1 ml asam sulfat pekat dan 5 ml alkohol 70% dalam sebuah cawan porselin kecil. Menyalakan alkohol tersebut, memperhatikan nyala api yang ditimbulkan oleh alkohol apabila nyala api yang terjadi warna padsa bagian pinggirnya hijau maka ada kandungan boraks dalam sampel.

BTP II 21

Dari hasil penelitian di dapat hasil sampel yg di uji pada tabel 1.2 Tabel 1.2 Identifikasi Boraks Sampel Baku Pembanding Boraks Sampel A Pereaksi Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Alkohol H2SO4 Warna nyala api Biru dengan pinggiran hijau Biru merah Hasil pengamatan (+)

(-)

Sampel B

Biru merah

(-)

Sampel C

Biru merah

(-)

Sampel D

Biru merah

(-)

Sampel E

Biru merah

(-)

Dapat dilihat bahwa dari hasil penelitian, sampel yang telah di uji tdak mengandung bahan tambah pangan yang berbahaya yaitu boraks (Na2B4O7). Hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya perubahan warna pada nyala api, nyala api normal berwarna biru merah.

BTP II 22

BAB V PENUTUP
5.1.KESIMPULAN Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut : Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan antara lain bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental. Formalin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna atau hampir tidak berwarna dengan bau yang menusuk, uapnya merangsang selaput lendir, hidung dan tenggorokan, dan rasa membakar. Ciri-ciri mie basah yang mengandung formalin Tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar (25C) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 C). Bau agak mnyengat, bau formalin. Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. Ciri-ciri tahu yang mengandung formalin Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25C) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 C). Tahu terlampau keras, namun tidak padat. Tekstur lebih kenyal dan tidak mudah hancur. Bau agak menyegat, bau formalin. Ciri-ciri bakso yang mengandung formalin Tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar (25C). Tekstur sangat kenyal. Ciri-ciri ikan segar yang mengandung formalin Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25C). Warna insang merah tua, dan ridak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih. Bau menyengat, bau formalin. Ciri-ciri ikan asin yang mengandung formalin Tidak rusak sampai lebih satu bulan pada suhu kamar (25C).
BTP II 23

Bersih cerah dan tidak mudah hancur. Tidak dihinggapi lalat jika diletakkan ditempat terbuka. Tidak berbau khas ikan asin. REAKSI WARNA MENGGUNAKAN ASAM KROMATOFAT DENGAN METODE KUALITATIF Timbang bahan sebanyak 5 gram, masukkan aquades dalam beaker glass sebanyak 50 ml, kemudian didihkan. Masukkan bahan yang diuji ke dalam erlenmeyer, lalu direndam dengan aquades yang mendidih, masukkan asam kromatofat, lalu aduk. Produk yang mengandung formalin akan ditunjukkan dengan berubahnya warna air dari bening menjadi merah muda hingga ungu. Semakin ungu berarti kadar formalin semakin tinggi. Jika perlakuan diatas belum menghasilkan uji yang positif, pasang kembali panci ke atas kompor, rebus aquades yang baru, masukkan gelas yang berisi campuran produk, aquades lama dan asam kromatofat ke dalam panci. Waktu perebusan selama 20 menit dihitung sejak aquades yang baru mendidih. Terjadinya perubahan warna pada reaksi kimia ialah di sebabkan adanya reaktan yang diubah menjadi produk. Perubahan yang terjadi disebabkan adanya pemutusan ikatan-ikatan antar atom reaktan dan pembentukan ikatan-ikatan baru yang membentuk senyawa kompleks. Reaksi warna adalah salah satu jenis reaksi kimia yang dilakukan dengan pengamatan pada perubahan warna yang terjadi (kualitatif). Boraks merupakan garam Natrium, Na2 B4O7 IOH2O, yang banyak digunakan dalam berbagai industry non pangan khususnya industry kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Gelas pyrex yang terkenal dibuat dengan campuran boraks.

METODE UJI NYALA API Identifikasi dengan asam sulfat pekat dengan alkohol dilakukan dengan cara sebagai berikut: menambahkan sedikit sampel kemudian sampel dicampurkan dengan 1 ml asam sulfat pekat dan 5 ml alkohol 70% dalam sebuah cawan porselin kecil. Menyalakan alkohol tersebut, memperhatikan nyala api yang ditimbulkan oleh alkohol apabila nyala api yang terjadi warna padsa bagian pinggirnya hijau maka ada kandungan boraks dalam sampel.

BTP II 24

DAFTAR PUSTAKA Afranti., Leni H. 2008. Teknologi Pengawetan Pangan. Bandung : Alfebeta Blair A, P. Stewart, PA Hoover. 1987. Cancers of the nasopharynx and oropharynx and formaldehyde exposure. J. Natl. Cancer Inst. 78(1): 191-193. Cahyadi, Wisnu. 2005. Bahan Tambahan Pangan. Jakarta : PT. Bumi Askara Departemen Kesehatan RI. 1999. Peraturan Menteri Kesehatan

No.1168/Menkes/Per/X/1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan No.722/Menkes/per/IX/1088 tentang Bahan Tambahan Makanan. Jakarta: Depkes RI Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta Mudjajanto ES. 2010. Tahu, Makanan Favorit yang Keamanannya Perlu Diwaspadai. Bogor : Laporan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian IPB. Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta Roth, H. J. 1988. Analisis Farmasi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Svehla, G. D. Ph., Sc. D., F. R. I. C. 1985. Vogel Buku Teks Analisis Organik Kualitatif Makro dan Semimakro Bagian II Edisi Kelima. Media Pusaka : Jakarta Takahashi M, R. Hasegawa, F. Furukawa, K. Toyoda, H. Sato and Y. Hayashi. 1986. Effects of ethanol, potassium metabisulfite, formaldehyde and hydrogen peroxide on gastric carcinogenesis in rats after initiation with N-methylN'nitro-

N'nitrosoguanidine. Jap. J. Cancer Res. 77: 118-124. Widyaningsih DT dan SM Erni. 2006 . Formalin. Surabaya : Penerbit Trubus Agrisarana. Winarno FG . 2004. Keamanan Pangan Jilid 1. Bogor: M-Brio Press.

BTP II 25