Anda di halaman 1dari 12

KONSEP DAN IMPLEMENTASI AL-MUDHARABAH PADA ASURANSI SYARIAH

PENGERTIAN MUDHARABAH Mudharabah merupakan sebuah perjanjian di antara paling sedikit dua pihak dimana satu pihak, pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah dana kepada pihak lain, pengusaha (mudharib) untuk menjalankan suatu aktivitas atau usaha. Mudharib dalam hal ini memberikan kontribusi pekerjaan, waktu dan mengelola usahanya sesuai dengan ketentuan yang dicapai kontrak. Salah satunya adalah untuk mencapai keuntungan (profit) yang dibagi antara pihak investor (shahibul maal) dan mudharib berdasarkan proporsi yang disetujui bersama.

RUKUN DAN PERSYARATAN MUDHARABAH Rukun mudharabah akan terpenuhi apabila ada : 1. Pemodal dan pengelola a. Harus mampu melakukan transaksi dan sah secara hukum b. Keduanya harus mampu bertindak sebagai wakil dan kafil dari masingmasing pihak 2. Sighat (ijab dna qabul) a. Secara eksplisit dan implisit menunjukkan tujuan kontrak b. Sighat dianggap tidak sah jika salah satu pihak meninggalkan tempat berlangsungnya disempurnakan. c. Kontrak boleh dilakukan secara lisan atau verbal, tertulis atau komunikasi modern seperti faksimile/komputer 3. Modal (maal) a. Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya b. Modal harus tunai atau aset 4. Nisbah (keuntungan) a. Keuntungan harus dibagi kedua pihak negosiasi kontrak tersebut, sebelum kesepakatan

b. Proporsi keuntungan masing-masing pihak harus diketahui pada waktu berkontrak dan proporsi tersebut harus dari keuntungan c. Jika jangka waktu akad mudharabah relatif lama, tiga tahun keatas maka nisbah keuntungan dapat disepakati untuk ditinjau dari waktu ke waktu d. Kedua belah pihak juga harus menyepakati biaya apa saja yang ditanggung pemodal dan biaya apa saja yang ditanggung pengelola.

KEUNGGULAN SISTEM MUDHARABAH Ada beberapa manfaat sekaligus menjadi keunggulan dari konsep al mudharabah yang diterapkan dalam bank dan asuransi berdasarkan prinsip-prinsip syariah 1. Bank atau asuransi akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat 2. Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara tetap. Tetapi, disesuaikan dengan pendapatan/hasil usaha bank, sehingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread. 3. Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow/arus kas usaha nasabah, sehingga tidak memberatkan nasabah 4. Bank maupun asuransi akan lebih selektif dan prudent hati-hati mencari usaha yang benar-benar halal, aman, dan menguntungkan. Karena keuntungan yang konkret dan benar-benar terjadi itulah yang akan dibagikan. 5. Prinsip bagi hasil dalam mudharabah/musyarakah ini berbeda dengan prinsip bunga tetap dimana bank akan menagih penerima pembiayaan (nasabah) satu jumlah bunga tetap berapapun keuntungan yang dihasilkan nasabah, sekalipun merugi dan terjadi krisis ekonomi. Dalam mendukung mudharabah, para ahli fiqh menekankan bahwa perlu menggunakan metode-metode ini demi kesejahteraan umat manusia. Karena sering terjadi seseorang memiliki modal tapi tidak mampu menjalankan usaha, atau sebaliknya memiliki keinginan untuk berusaha tapi tidak ada modal yang dapat digunakan. Para fuqaha (ulama-ulama fiqh) telah sepakat atas larangan riba. Karenanya, praktek asuransi yang tidak dapat melepaskan diri dari praktek tersebut dapat dikategorikan sebagai asuransi yang juga haram sebagaimana diharamkannya riba.

Dari dasar pemikiran inilah, maka asuransi takaful sebagai pionir asuransi syariah di Indonesia, dalam rangka segala instrumen investasi yang dimungkinkan akan terjadi riba baik secara langsung maupun tidak langsung, senantiasa menghindari, kecuali pada hal-hal yang termasuk dalam kategori dharurah, yang benar-benar tidak dapat dihindari, misalnya simpanan wajib di departemen keuangan, atas izin dewan pengawas syariah (DPS). Dalam kasus ini, meskipun bunga yang dihasilkan tidak dibenarkan untuk diambil tapi dimasukkan dalam dana non halal (dana maslahah) yang digunakan untuk kegiatankegiatan sosial yang tidak ada hubungannya dengan bisnis takaful.

Tabel perbedaan bunga dan bagi hasil Bunga Bagi hasil

A. Penentuan bunga dibuat ada waktu A. Penentuan besarnya rasio/nisbah akad dengan asumsi harus selalu untung bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada

kemungkinan untung rugi B. Besarnya presentase berdasarkan B. Besarnya berdasarkan rasio pada bagi hasil jumlah

pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan C. Pembayaran bunga tetap seperti C. yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak

keuntungan yang diperoleh Bagi hasil tergantung proyek pada yang

keuntungan

dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua pihak.

D. Jumlah pembayaran bunga tidak D. Jumlah pembagian laba meningkat meningkat sekalipun jumlah sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan

keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang booming E. Eksistensi bunga diragunakan (kalau E. tidak dikecam) oleh semua agama termasuk Islam

Tidak

ada

yang

meragukan

keabsahan hasil

KETENTUAN BAGI HASIL DALAM MUDHARABAH Modal Dalam proses kontrak mudharabah, investor dapat menyerahkan modal mudharabah kepada mudharib, yang dilakukan sesuai dengan koridor aturan yang sah. Mudharib bebas mengelola dan menggunakan modal tersebut sesuai dengan bentuk bisnis yang dijalankan, masa usahanya dan tempat mudharib menjalankan aktivitasnya.

Manajemen Mudharib mulai mengelola kontrak mudharabah sejak menerima modal untuk aktivitas usahanya. Mudharib memiliki kebebasan dalam mengelola usahanya dan semua keputusan yang berkaitan dnegna kontrak tersebut.

Masa berlakunya kontrak Kontrak mudharabah dapat diakhiri oleh salah satu pihak dengan jalan memberitahu pihak lain atas keputusan tersebut. Hal ini mungkin terjadi karena mayoritas ulama menyatakan bahwa mudharabah bukanlah kontrak yang mengikat.

Jaminan Investor tidak dapat menjamin dari pihak mudharib untuk memastikan kembalimya modal yang diberikan atau modal beserta keuntungan. Karena dalam kontrak mudharabah, hubungan antara investor dan mudharib terikat dalam satu gadaian yang saling mempercayakan. Jika investor menuntut ada persyaratan jaminan beserta ketentuanketentuannya kepada mudharib dalam terminologi kontrak mudharabah, menurut Imam Malik dan Imam Syafii, kontrak tersebut tidak sah.

Ketentuan Bagi Hasil Kontrak mudharabah menetapkan tingkat keuntungan bagi tiap pihak. Pembagian keuntungan dilakukan melalui tingkat perbandingan rasio, bukan ditetapkan dalam jumlah yang pasti. Apabila terjadi kerugian dalam usaha, maka pihak mudharib hanya tidak mendapatkan keuntungan, sedangkan investor harus menanggung resiko kerugian tersebut. Dengan catatan, mudharib dalam menjalankan usahanya sesuai dengan aturan yang telah mereka setujui, tidak menyalahkan modal yang dipercayakan kepadanya.

IMPLEMENTASI MUDHARABAH PADA ASURANSI SYARIAH Pada bagian ini kita mencoba melihat bagaimana implementasi mudharabah yang dilakukan di Takaful Keluarga (Asuransi Jiwa) dan Takaful Umum (asuransi kerugian) sebagai pionir asuransi syariah di Indonesia. Dalam rangka untuk menghindari praktek riba, maka implementasi mudharabah pada takaful keluarga (asuransi jiwa) dapat dilihat misalnya pada perhitungan premi. Cara perhitungan dengan asumsi bunga tetap (bunga teknik) diganti dengan skim mudharabah (bagi hasil), demikian juga dalam skim-skim investasi dan perhitungan surplus underwriting (ketika peserta asuransi tidak pernah mengklaim atau hanya sedikit mengklaim dana tabarru, sehingga dana tabarru mengalami surplus underwriting. Maka, dilakukan bagi hasil antara perusahaan dan peserta sesuai perjanjian yang telah disepakati di awal). Profit (laba) pada asuransi syariah untuk asuransi kerugian, yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reasuransi dan hasil investasi bukan seluruhnya menjadi milik perusahaan sebagaimana mekanisme yang ada pada asuransi konvensional. Tetapi dilakukan bagi hasil (mudharabah) antara perusahaan dengan peserta sebagaiman yang telah diperjanjikan atau menjadi akad di awal. Besarnya bagi hasil sangat tergantung kondisi perusahaan, semakin sehat dan besar profit yang diperoleh oleh perusahaan, semakin besar pula porsi bagi hasil yang dibagikan kepada peserta. Skim bagi hasil biasanya dievaluasi setiap periode tertentu misalnya 2 atau 3 tahun sekali manakala perusahaan mengalami perubahan yang cukup signifikan baik itu untung rugi. Dalam system operasional yang berlandaskan syariah, perusahaan asuransi syaRiah melakukan kerja sama dengan peserta berdasarkan prinsip mudharabah, yaitu membagi hasil keuntungan operasional kepada seluruh peserta yang tidak mengajukan klaim atau membatalkan polis. Dengan mekanisme pengelolaan dana yang sesuai dengan syariah, dana peserta yang ada diinvestasikan. Hasil investasi dimasukan ke dalam total kumpulan dana peserta, kemudian dikurangi dengan beban asuransi (klaim dan premi reasuransi). Surplus dana kumpulan peseta dibagikan sesuai dengan system bagi hasil. Mekanisme pendistribusian surplus underwriting ini sesuai dengan Fatwa DSN MUI No. 53 / DSN MUI / III / 2006 tentang akad tabarru pada asuransi dan reauransi maupun

syariah yang telah dipaparkan sebelumnya. Dalam hal dana tabarru, jika terjadi surplus disimpan sebagai cadangan tabarru dan sebagian lainnya didistribusikan kepada peserta dan perusahaan sebagai pengelola, pilihan tersebut harus disetujui terlebih dahulu oleh peserta asuransi. Penentuan hak atas dana hasil investasi (produk saving) dan hak atas dana dari surplus underwriting (produk saving) dan hak atas dana dari surplus underwriting (produk nonsaving) semuanya bebas dari bunga, dan sebagai gantinya digunakan instrumen mudharabah. Dengan demikian, takaful keluarga dalam sistem dan operasionalnya benarbenar bersih dari praktik riba.

Implementasi al Mudharabah pada asuransi Jiwa Berikut ini beberapa bagian dalam operasional dimana takaful keluarga (asuransi jiwa) menggunakan sistem mudharabah sebagai berikut : 1. Bagi hasil dalam deposito dan sertifikat deposito bank-bank syariah 2. Bagi hasil dalam direct investment 3. Bagi hasil dalam penyertaan saham, obligasi, reksadana, leasing dan investment syariah lainnya. 4. Bagi hasil antara peserta dan perusahaan atas hasil investasi berdasarkan skema yang diperjanjikan (dalam produk jiwa yang mengandung saving) 5. Bagi hasil atas surrplus underwriting antara peserta dengan perusahaan (dalam produk asuransi jiwa non saving) 6. Bagi hasil dalam penentuan rate premi pada produk-produk saving maupun nonsaving

Contoh perhitungan mudharabah dalam produk nonsaving Ada 10 orang nasabah / peserta asuransi syariah dengan produk nonsaving. Premi yang dibayarkan masing-masing nasabah / peserta sebesar Rp 1.000.000. Biaya-biaya yang harus nasabah bayarkan meliputi loading / biaya pengelolaan sebesar 30%, biaya reasuransi sebesar Rp 1.500.000 dan biaya klaim sebesar Rp 2.000.000. Hasil investasi setara dengan 10% dan nisbah bagi hasil untuk peserta sebesasr 40% dan perusahaan sebesar 60%.

Perhitungannya adalah sebagai berikut a. Premi b. Loading (biaya akuisisi) c. Biaya reaasuransi (netto) d. Premi netto e. Biaya klaim f. Klaim reasuransi g. Hasil investasi h. Taawun (10%) i. Surplus yang dibagihasilkan Bagian peserta 40 % x 5.100.000 Bagian perusahaan 60 % x 5.100.000 10.000.000 (3.000.000) (1.500.000) 5.500.000 (2.000.000) 1.600.000 1.000.000 (1.000.000) 5.100.000 = 2.040.000 = 3.060.000

j. Rate bagi hasil bagi peserta 2.040.000 x 100 % = 20,4 % 10.000.000 k. Jadi perusahan memperoleh pengelolaan = 3.000.000 + 3.060.000 = 6.060.000 l. Taawun = membantu kumpulan lain yang klaimnya lebih besar dari premi (kumpulan yang defisit) dalam hal ini diasumsikan

Contoh perhitungan mudharabah dalam produk ada unsur saving Ada nasabah / peserta asuransi syariah sejumlah 1000 orang. Premi per anggota sebesar Rp 1.000.000. Biaya / loading yang ditanggung nasabah sebesar 35% dan untuk tabarru sebesar 5%. Hasil investasi setara sebesar 10%. Nisbah Bagi hasil untuk perusahaan asuransi syariah sebsar 40 % sedangkan untuk nasabah sebesar 60%.

Perhitungan adalah sebagai berikut Premi tahun I Dana Tabungan a. Premi bruto b. Loading c. Premi reasuransi 950.000.000 350.000.000 Dana Tabarru 50.000.000 (10.000.000)

d. Premi yang bisa diinvestasi e. Hasil investasi f. Bagian perusahaan g. Dana terkumpul h. Klaim (netto) i. Saldo dana peserta Perusahaan memperoleh : Biaya Pengelolaan dana tabungan Pengelolaan dana tabarru Total

600.000.000 60.000.000 (24.000.000) 636.000.000 (10.540.000) 625.460.000

40.000.000 4.000.000 (1.600.000) 42.400.000 (9.000.000) 33.400.000

350.000.000 24.000.000 1.600.000 375.400.000

Implementasi al Mudharabah pada Asuransi Umum Pada asuransi umum (kerugian) dengan prinsip-prinsip syariah, implementasi sistem mudharabah dapat kita lihat misalnya pada operasional PT. Asuransi takaful umum sebagai berikut 1. Akad mudharabah a. Dengan akad mudharabah berarti surplus underwriting dari hasil operasi perusahaan dibagi di antara operator dengan peserta atau partisipan. b. Dasar perhitungan mudharabah dihitung dengan menggunakan rata-rata tertimbang surplus underwriting yang diperoleh 2. Ketentuan mudharabah a. Perhitungan mudharabah harus didasarkan kepada kinerja yang sebenarnya dari takaful fundd (perusahaan asuransi tersebut). b. Pembayaran mudharabah tidak di-offset langsung dengan premi renewel (premi yang diperpanjang) kecuali atas permintaan peserta c. Mudharabah tidak dapat dibayarkan dimuka 3. Persyaratan pembayaran mudharabah a. Polis telah jatuh tempo b. Premi (takaful kontribusi) telah dibayar penuh c. Tidak ada pembayaran klaim selama periode covered

4. Formula perhitungan mudharabah a. Periode takaful b. Takaful kontribusi c. Tanggal pembayaran d. Rate mudharabah 5. Tata cara perhitungan mudharabah a. Besarnya mudharabah yang dhitung diperoleh dengan cara rata-rata tertimbang dari surplus underwriting b. Rasio mudharabah diperoleh dengan membagi rata-rata tertimbang mudharabah yang akan dibagikan dengan premi bruto rata-rata dan dibulatkan ke atas 6. Tata cara pembayaran mudharabah a. Cara mudharabah dibagikan kepada peserta yang selesai pertanggungannya dengan menggunakan rate atas premi yang disetor peserta b. Peserta yang menerima mudharabah adalah peserta yang tidak mendapatkan manfaat klaim c. Peserta yang melakukan keterlambatan pelunasan diberikan mudharabah secara proporsional d. Peserta yang telah jatuh tempo polisnya dikirimi surat konfirmasi untuk menentukan pembayaran mudharabahnya e. Pengiriman surat konfirmasi mudharabah bersamaan dengan pengiriman surat konfirmasi perpanjangan yang dilakukan customer care f. Konfirmasi mudharabah dari nasabah segera diserahkan ke devisi keuangan untuk segera dibayarkan

7. Sistem pembayaran mudharabah a. Transfer melalui bank b. Cek atas nama tertanggung c. Cash (tunai) d. Transfer ke rekening koperasi peserta e. Disumbangkan ke lembaga zakat

Contoh 1 : Perhitungan mudharabah (general insurance) Periode takaful 01/01/13 31/12/13 Takaful kontribusi Rp 3.000.000 Tanggal pembayaran 01/01/13 Rate mudharabah 10 % Mudharabah: 10 % x Rp 3.000.000 = Rp 300.000

Contoh 2 : Perhitungan mudharabah Periode takaful 01/01/13 31/12/13 Takaful kontribusi Rp 3.000.000 Tanggal pembayaran 02/01/13 Rate mudharabah 10 % Mudharabah: 10 % x 335/365 x Rp 3.000.000 = Rp 275.000 Karena pembayaran mulai dari bulan Februari maka 365 hari 30 hari = 335

Contoh 3 : Perhitungan mudharabah Periode takaful 01/01/13 31/12/13 Takaful kontribusi Rp 3.000.000 Rate mudharabah 10 % Tanggal pembayaran 01/02/13 Rp 1.500.000 01/06/13 Rp 1.500.000

Perhitungan Mudharabah: 10 % x 335/365 x Rp 1.500.000 = Rp 137.671 Karena pembayaran mulai dari bulan Februari maka 365 hari 30 hari = 335 10 % x 214/365 x Rp 1.500.000 = Rp 87.945 Karena pembayaran mulai dari bulan Februari maka 365 hari 31 hari 28 hari 31 hari 30 hari 31 hari 31 hari = 214

10

Ilustrasi perhitungan rate mudharabah PERHITUNGAN MUDHARABAH DENGAN RATA-RATA TERTIMBANG UNTUK BULAN MARET 2013
Bulan tertimbang a Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 78 Faktor Premi bruto Surplus underwriting d 1.200.000.000 800.000.000 1.200.000.000 1.000.000.000 1.200.000.000 600.000.000 1.600.000.000 800.000.000 1.200.000.000 1.600.000.000 2.000.000.000 2.400.000.000 15.600.000.000 E=(bxc) (1) 36.000.000.000 22.000.000.000 30.000.000.000 22.500.000.000 24.000.000.000 10.000.000.000 24.000.000.000 10.000.000.000 12.000.000.000 12.000.000.000 10.000.000.000 6.000.000.000 219.000.000.000 Premi tertimbang SU F=(bxd) (2) 14.400.000.000 8.800.000.000 12.000.000.000 9.000.000.000 9.600.000.000 4.200.000.000 9.600.000.000 4.000.000.000 4.800.000.000 4.800.000.000 4.000.000.000 2.400.000.000 87.600.000.000

c 3.000.000.000 2.000.000.000 3.000.000.000 2.500.000.000 3.000.000.000 1.500.000.000 4.000.000.000 2.000.000.000 3.000.000.000 4.000.000.000 5.000.000.000 6.000.000.000 39.000.000.000

Rata-rata tertimbang

2.807.692.308

1.123.076.923 336.923.077

Hak peserta 30% dari surplus underwriting Rate mudharabah 12 %

Rumus : Rata-rata tertimbang = premi tertimbang SU Faktor

Hak peserta = Rata-rata tertimbang (2) x nisbah bagi hasil

Rate Mudharabah =

Hak peserta x 100% Rata-rata tertimbang (1)

11

Perhitungan :

2.807.692.308 = 219.000.000.000 78

1.123.076.923 = 87.600.000.000 78

336.923.077 = 1.123.076.923 x 30%

12 % = 336.923.077 x 100% 2.807.692.308

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life and general) : konsep dan sistem operasional, Gema Insani, Jakarta: 2004

http://nadrahanif.blogspot.com/2012/04/perlakuan-surplus-underwriting-pada.html

12