Anda di halaman 1dari 4

Wakaf A.

Pengertian Wakaf Wakaf adalah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya untuk diambil manfaatnya sesuai dengan ajaran islam. Wakaf adalah salah satu lembaga pemanfaatan harta yang sangat digalakkan dalam ajaran Islam karena merupakan perbuatan yang pahalanya tidak putus-putus diterima leh yang melakukannya, selama barang yang diwakafkan itu tidak musnah dan terus dimanfaatkan orang. Perumusan wakaf juga dijelaskan dalam PP n 28 tahun 1997, yang merupakan campuran para pendapat mujtahid madzhab Hambali dan Syafii. dalam PP tersebut dijelaksan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum sseseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian harta kekayaannya yang berupa tanah milik dan melembagakannya selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam. Di dalam Islam, wakaf adalah salah satubentuk sedekah yang sangat dianjurkan meskipun perintahnya tidak disebutkan secara tegas sebagaimana halnya zakat. Namunoleh para ahli dipandang sebagai landasan perintah untuk berwakaf, yaitu: 1. Al-Quran QS. Al-Hajj:77

Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. QS. Al-Baqarah: 267

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi

untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 2. Hadist riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, menurut hadist ini Umar bin Khattab mempunyai sebidang tanah di Khaibar, suatu daerah pertanian di Madinah. Tanah itu sangat disukai oleh Umar. Pada suatu hari beliau bertanya kepada Nabi Muhammad, apakah sebaiknya melepaskan tanah yang disukai itu sebagai sedekah dalam rangka memenuhi seruan Allah dalam surat Al-Haj: 77, Nabi menjawab, tahanlah pokonya dan sedekahkan hasilnya, anjuran Nabi ini diikuti oleh Umar.

B. Tujuan wakaf: 1. Untuk kepentingan umum 2. Untuk menolong fakir miskin 3. Untuk kepentingan anggota keluarga sendiri

C. Macam-macam wakaf 1. Wakaf keluarga atau wakaf ahli atau wakaf khusus. Wakaf ini adalah wakaf yang manfaat dan hasilnya diberikan oleh wakif kepada seseorang atau sekelompok orang berdasarkan hubungan dan pertalian yang dimaksud oleh wakif. Contohnya wakaf untuk tetangga dengan jumlah dan nama yang telah ditentukan oleh wakif. 2. Wakaf umum atau wakaf khoiriyah. Wakaf ini adalah wakaf yang tujuannya mencakup semua orang yang berada dalam tujuan wakaf, baik cakupan ini untuk seluruh manusia, atau orang-orang yang berada di daerah mereka. Jika wakaf tujuannya umum untuk fakir miskin, maka perlu diperjelas mencakup orang-orang miskin dari kalangan muslim dan non-muslim saja, atau orang-orang muslim yang berada tanpa daerah yang lain.

D. Syarat Wakaf Syarat-sayat harta yang diwakafkan sebagai berikut: a. Diwakafkan untuk selama-lamanya, tidak terbatas waktu tertentu (takbid).

b. Tunai tanpa menggantungkan pada suatu peristiwa di masa yang akan dating. Misalnya, Saya wakafkan bila dapat keuntungan lebih besar dari usaha yang akan dating. Hal ini disebut tanjiz. c. Jelas mauquf alaihnya (orang yang diberi wakaf) dan bias dimiliki barang yang diwakafkan itu.

E. Rukun Wakaf a. Orang yang berwakaf (wakif), syaratnya: Kehendak sendiri Berhak berbuat baik walaupun non Islam

b. Sesuatu (harta) yang diwakafkan, syaratnya: Barang yang dimiliki dapat dipindahkan dan tetap zatnya, berfaedah saat diberikan maupun di kemudian hari. Milik sendiri walaupun hanya sebagian yang diwakakan atau musya (bercampur dan tidak dapat dipindahkan dengan bagian lain). c. Tempat berwakaf. d. Akad

F. Pengurus Wakaf (Nazir atau Mutawalli) Nazir wakaf adalah orang atau badan hukum yang memegang amanat memelihara dan mengurus harta wakaf dengan sebaik baiknya sesuai dengan wujud dan tujuannya. Pada dasarnya siapapun dapat menjadi nazir apabila ia dapat melakukan tindakan hukum. Apabila nazir itu perorangan, menurut para ahli memerlukan beberapa syarat: 1. Dewasa 2. Berakal sehat 3. Dapat dipercaya 4. Mampu menyelenggarakan segala urusan yang berhubungan dengan wakaf. Nazir wakaf berwenang untuk melakukan segala tindakan yang mendatangkan kebaikan bagi wakaf bersangkutan dengan senantiasa memperhatikan syarat-syarat yang ditentukan wakif. Contohnya, apabila harta wakaf adalah tanah, maka nazir: - nazir berhak menanaminya dengan tanaman yang diangggap baik dan mendatangkan hasil.

- nazir berhak menyewakan tanah itu kepada orang lain dan membagikan hasil yang diperoleh kepada orang yang berhak menerimanya. - nazir tidak berhak menggadaikan tanah itu atau menjadikannya jaminan hutang, baik untuk kepentingan harta wakaf itu sendiri maupun untuk menjadi jaminan orangorang yang berhak menerima hasil wakaf yang dimaksud. - nazir berhak mendapatkan upah untuk jerih payahnya mengurus harta wakaf, selama ia melaksanakan tugasnya dengan baik. Besarnya upah nazir berdasarkan ketentuan wakit yaitu 1/10 atau 1/8 dari hasil tanah yang diwakafkan, atau berapa saja yang pantas menurut pertimbangan wakif. - nazir tidak dibebani resiko yang terjadi pada harta wakaf kecuali kalau dapat dibuktikan bahwa kerusakan atau kerugian atau kelalaian bahkan kesengajaan nazir ditetapkan oleh pengadilan. Perubahan status, penggantian benda dan tujuan wakaf, dikalangan para ahli hukum fiqih Islam dapat dilakukan. Ini disandarkan pada pandangan agar manfaat wakaf itu tetap terus berlangsung sebagai shadaqah jariah dan tidak mubazir karena rusak, tidak berfungsi lagi, dan sebagainya. Dengan perubahan itu, status benda itu sebagai harta wakaf pada hakikatnya tidak berubah. Misalanya menukar tempat tanah wakaf, status wakaf tidak berubah karena dengan pertukaran tempat itu seakan-akan tanah wakaf itu dipindahkan ketempat lain. Contoh lain, yaitu mengubah tujuan wakaf, seperti mengubah tujuan bangunan yang semula untuk pemeliharaan anak yatim menjadi madrasah.