Anda di halaman 1dari 11

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer.
Reaktivasi

Sering

terjandi pada: Usia >50 tahun, imunocompromise, dalam terapi imunosupresiv Kulit putih>kulit hitam dan hispanik Tiap tahun ditemukan 1 juta kasus baru Herpes Zoster di Amerika Serikat

Hasil Pengamatan: Setelah divaksin resiko terkena HZ, keparahan penyakit, maupun post herpetic neuralgia berkurang dari 51%, 61%, dan 66% dalam 3 tahun

2011 FDA menyetujui vaksinasi HZ digunakan untuk pasien imunokompeten yang berusia >60 tahun.

Hasil Survey: Vaksin HZ masih jarang digunakan (1,9%). 80% menyatakan bersedia divaksin bila dokter menyarankan Alasan menolak vaksin: 1. Merasa tidak membutuhkan vaksin dan tidak memiliki faktor resiko 2. Mahal

Pasien >60 tahun pada Academic Medical Center di Carolina Utara pada Juni- Juli 2010

Pengumpulan data : kuisioner


Umur, Ras, jenis kelamin, pendidikan terakir, riwayat vaksinasi, Riwayat HZ sebelumnya, pernah melihat orang menderita HZ.

Data diolah dengan Qualtrics ( computerized data base) Data dialisa dengan PASW

Subjek

Pengolahan Data

Ras Kulit Putih memiliki prevalensi lebih tinggi dalam menerima vaksin HZ

Ras Kulit putih dengan tingkat pendidikan > SMA lebih banyak menerima vaksin HZ Pasien yang pernah melihat orang lain terkena HZ mengenai prevalensi lebih tingg menerima vaksin HZ

Sebab utama pasien tidak divaksin HZ

Diperlukan Setelah pasien Hanya 13,7% melakukan menjalani survey 70% responden responden yang edukasi baik ini dan menyatakan tidak menyatakan kepada pasien mengetahui mengetahui pernah diberi maupun petugas tentang vaksin adanya vaksin informasi tentang penyedia layanan HZ 80% ingin vaksin HZ oleh kesehatan HZ mendapatkan dokter mereka mengenai vaksin vaksin HZ HZ
Rendahnya angka Vaksinan HZ disebabkan oleh ketidaktahuan pasein tentang adanya vaksin ini dan penyedia pelayanan kesehatan tidak pernah memperkenalkan maupun merekomendasikan vaksin ini pada pasienya.

Semua data yang dikumpulkan memiliki subjektivitas yang tinggi karena hanya mengacu pada pengakuan dari responden

Ras yang dibahas hanya AA dan Ras kulit putih sehingga prevalensi vaksin HZ pada ras lain tidak diketahui

Penelitian ini mungkin tidak representatif untuk semua populasi, karena subjek penelitian diambil dari pasien yang sudah berobat ke rumah sakit, sedangkan banyak populasi yang tidak pernah bersentuhan dengan penyedia layanan kesehatan profesional

Tingkat Vaksinasi HZ masih rendah Terdapat perbedaan yang besar antara tingkat vaksink pada ras kulit putih dan ras AA .

Tingkat pendidikan dan pernah melihat orang lain terkena HZ punya pengaruh yang besar pada vaksin HZ
Tidak adanya rekomendasi dari dokter untuk vaksinansi HZ memegang peranan besar rendahnya nagka vaksinansi HZ

Diperlukan penelitian lain mengenai efektivitas vaksin HZ pada berbagai ras mengingat insiden HZ berbeda pada tiap Ras.
Untuk meningkatkan angka vaksinansi HZ diperlukan kesadarah masyarakat, edukasi, dan penysunan kembali bagaimana dokter dalam menyampaikan informasi tentang vaksin HZ