Anda di halaman 1dari 35

Kista Bartholini

Classic Flipcard Magazine Mosaic Sidebar Snapshot Timeslide

1. Jan 4

kista bartholini
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar tentang Kista Bartholini 1. Definisi

a. Kista bartholini adalah gangguan pada vulva yang timbul karena penyumbatan saluran bartholini akibat dari infeksi kuman Neisseria gonorheae (Baradero, 2006).

b. Kista bartholini adalah suatu pembesaran berisi cairan yang terjadi akibat sumbatan pada salah satu duktus sehingga mucus yang dihasilkan tidak dapat disekresi. Kista dapat berkembang pada kelenjar itu sendiri atau pada duktus bartholini (Amiruddin, 2004) c. .Kista bartholini adalah benjolan berbentuk kantung yang mengandung cairan seperti lendir, tertimbun dalam lumen karena saluranrannya buntu (Manuba, 2008). d. Kista adalah kantung yang berisi cairan yang terbentuk dibawah kulit atau disuatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar bartholini dapat terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar bartholini bisa tersumbat karena berbagai alasan seperti infeksi, peradangan. Cairan yang dihasilkan kelenjar ini kemudian terakumulasi menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk satu kista (Setyadeg, 2010). Beberapa defenisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa Kista bartholini merupakan tumor kisti jinak. Ditimbulkan akibat duktus kelenjar bartholini yang mengalami sumbatan, biasanya disebabkan oleh infeksi. Kuman yang sering menginfeksi kelenjar bartholini adalah bakteri bakteri Gonococcus.

2. .Anatomi Kelenjar bartholoni merupakan salah satu organ genetalia eksterna, kelenjar bartholini atau glandula vestibularis mayor, kelenjar ini biasanya berukuran sebesar kacang dan ukurannya jarang melebihi satu cm.kelenjar ini tidak teraba kecuali pada keadaan penyakit atau infeksi. Saluran keluar dari

kelenjar ini bermuara pada celah yang terdapat diantara labium minus pudendi dan tepi himen. Glandula ini homolog dengan glandula bulbourethralis pada pria. Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus dan mengeluarkan sekresinya untuk membasahi atau melicinkan permukaan vagina (Mast, 2010).

Kelenjar bartholini terletak posterolateral dari vestibulum arah jam 4 & 8, mukosa kelenjar dilapisi oleh sel-sel epitel kubus, panjang saluran

pembuangannya sekitar 2,5 cm dan dilapisi oleh sel-sel epitel transisional. Saluran pembuangan ini berakhir diantara labia minor dan hymen dan dilapisi sel epitel skuamus (Amiruddin, 2004).

Gambar 1. Anatomi Kista Bartholini (Setyadeng, 2011). 3. Fisiologi Pada introitus vagina terdapat kelenjar bartholini yang berfungsi untuk membasahi mengeluarkan lendir untuk menberikan pelumas vagina saat melakukan hubungan seksual, kira-kira spertiga dari introitus vagina kanan dan kiri yang terletak posterolateral. Dalam keadaan normal kelenjar ini tidak teraba pada palpasi (Manuba, 2008).

4. Etiologi Infeksi kelenjar bartholini terjadi oleh infeksi gonokokus, pada bartholinitis kelenjar ini akan membesar, merah, dam nyeri kemudian isinya akan menjadi nanah dam keluar pada duktusnya, karena adanya cairan tersebut maka dapat terjadi sumbatanpada salah satu duktus yang dihasilkan oleh kelenjar dan terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan menbentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Abses bartholini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Ini termasuk orgasme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonoreserta. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari lebih dari satu jenis organisme. Obstruksi distal saluran bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kista bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kalenjar (Setyadeng, 2010).

5. PatofisiologiKelenjar bartholini menghasilkan cairan membasahi vagina mulai masa pubertas, yang selain berfungsi untuk melumasi vagina mulai masa pubertas, yang selain berfungsi untuk melumasi vagina pada saat berhubungan juga pada kondisi normal. Adanya peradangan pada kelenjar bartholini yang disebabkan oleh bakteri Gonococcus. Kista bartholini terjadi karena adanya sumbatan pada salah satu duktus sehingga mucus yang dihasilkan tidak dapat disekresi. Sumbatan dapat disebabkan oleh mucus yang mengental, infeksi, trauma atau gangguan congenital. Jika terjadi infeksi pada kista bartholini maka kista ini berubah

menjadi abses yang ukurannya dapat meningkat setiap hari dan terasa nyeri (Amiruddin, 2004) 6. Epidemiologi Kista bartholini adalah masalah yang terbanyak ditemukan pada perempuan usia reproduktif. Frekuensi tersering timbulnya kista terutama pade umur 20-30 tahun, yang merupakan insiden tertinggi. Kista bartholini merupakan kista yang banyak ditemukan di daerah vulva tepatnya di sekitar labium mayora. Kurang dari 2% perempuan dapa mengalami kista atau abses bartolini pada suatu priode kehidupannya (Amiruddin, 2004).

Pada saat perempuan berumur 30 tahun terjadi involusio kelenjar bartholini secara berlahan-lahan oleh karana itu kejadian usia 40 tahun keatas jarang ditemukan. Namun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada perempuan yang lebih tua atau lebih muda (Amiruddin, 2004)

7. Tanda dan gejala. Pada saat kelenjar bartholini terjadi peradangan maka akan membengkak, merah dan nyeri tekan. Kelenjar bartholini membengkak dan terasa nyeri bila penderita berjalan dan sukar duduk (Djuanda, 2007).

Kista bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan akan tetapi kadang dirasakan sebagai benda yang berat dan menimbulkan kesulitan pada waktu koitus. Bila kista bartholini berukuran besar dapat menyebabkan rasa kurang nyaman saat berjalan atau duduk. Tanda kista bartholini yang tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi vulva disertai

kemerahan atau pambengkakan pada daerah vulva disertai kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva (Amiruddin, 2004).

Adapun jika kista terinfeksi maka dapat berkenbang menjadi abses bartholini dengan gajala klinik berupa (Amiruddin, 2004) :

a. Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik atau berhubungan seksual. b. Umunnya tidak diserati demam kecuali jika terifeksi dengan organisem yang ditularkan melaui hubungan seksual. c. Pembengkakan pada vulva selam 2-4 hari. d. Biasanya ada secret di vagina. e. Dapat terjadi rupture spontan. 8. Diagnosis. Anamnesis yang baik dan pemeriksaan fsik sangat mendukung suatu diagnosis. Pada anamnese dinyatakan tentang gejala seperti Panas, Gatal,

Sudah berapa lama gejala berlangsung, Kapan mulai muncul, Apakah pernah berganti pasangan seks, Keluhan saat berhubungan, Riwayat penyakit menulat seksual sebelumnya, Riwayat penyakit kelamin pada keluarga (Amiruddin, 2004)

Kista bartholini di diagnosis melalui pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan dengan posisi litotomi, terdapat pembengkakan pada kista pada posisi jam 5 atau jam 7 pada labium minus posterior. Jika kista terinfeksi, maka pemeriksaan kultur jaringan dibutuhkan untuk mengidantifikasi jenis bakteri penyebab abses dan untuk mengetahui ada tau tidaknya infeksi menular (Amiruddin, 2004).

9. Penatalaksanaan dan Pengobatan Penatalaksanaan kista bartholini tergantung pada beberapa faktor seperti gejala klinik nyeri atau tidak, ukuran kista, dan terinfeksi tidaknya kista. Jika kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan ganguan tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. Pada kasus jika kista kecil hanya perlu diamati beberapa waktu untuk melihat ada tidaknya pembesaran (Wiknjosastro, 2007).

Kista bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan, akan tetapi kadangkadang dirasakan sebagai benda berat dan menimbulkan kesulitan pada saat coitus. Jika kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan, tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. Dalam hal ini perlu dilakukan tindakan

pembedahan, tindakan itu terdiri atas ekstirpasi, akan tetapi tindakan ini bisa menyebabkan perdarahan. Akhir-akhir ini dianjurkan marsupisialisasi sebagai tindakan tanpa resiko dan dengan hasil yang memuaskan. Pada tindakan ini setelah diadakan sayatan dan isi kista dikeluarkan, dinding kista yang terbuka dijahit pada kulit yang terbuka pada sayatan (Wiknjosastro, 2007)

Jika bentuk kista yang tidak membesar dan tidak mengganggu tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa tetapi jika sudah bernanah harus dikeluarkan dengan sayatan. Pembedahan berupa ekstirpasi dapat dilakukan bila diperlukan yang dianjurkan adalah marsupialisasi

Penanganan tergantung kondisi kista dan keluhan yang dirasakan, kalau kelenjar kista bartholininya kecil dan tidak mengganggu bisa diobservasi saja.

Tapi kalau kistanya besar dan menyebabkan keluhan atau terinfeksi menjadi bisul (abses) terapi definitifnya berupa operasi kecil (marsupialisasi).

Marsupialisasi yaitu sayatan dan pengeluaran isi kista diikuti penjahitan dinding kista yang terbuka pada kulit vulva yang terbuka. Tindakan ini terbukti tidak beresiko dan hasilnya memuaskan. Insisi dilakukan vertical pada vestibulum sampai tengah kista dan daerah luar cincin hymen. Lebar insisi sekitar 1,5 3 cm, tergantung besarnya kista kemudian kavitas segera dikeringkan. Kemudian dilakukan penjahitan pada bekas irisan. Bedrest total dimulai pada hari pertama post operatif ( Arief Mansjoer dkk, 2006).

B. Konsep Dasar Manajemen Kebidanan 1. Pengertian Manajemen Kebidanan. Proses manajeman kebidanan adalah metode pendekatan

pemecahan masalah yang digunakan oleh

bidan dalam proses

pemacahan masalah dalam pemberian pelayanan asuhan kebidanan atau merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan oleh bidan serta merupakan metode yang terorganisasi melalui tindakan yang logical dalam memberikan pelayanan (Varney, 2008).

2. Tahapan Dalam Manajemen Kebidanan (Varney, 2008) Proses manajemen kebidanan dalam tujuh langkah yang ada pada waktu tertentu dapat diperluas dan diperbaharui. Hal ini dimulai dari

pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan evaluasi. Tujuh langkah itu adalah : a. Langkah I : Pengumpulan Data Dasar Dalam tahap ini data atau fakta yang dikumpulkan adalah data subjektif dan data objektif dari pasien. Bidan dapat mencatat hasil penemuan data dalam catatan harian sebelum didokumentasikan (sudarti dkk, 2010). Langkah pertama ini dilakukan pengumpulan, pengkajian, serta analisa data dasar untuk memulai kondisi klien, yang didapat dengan cara : 1) Anamnese meliputi melakukan tanya Jawab untuk memperoleh biodata meliputi : a) Identitas utama Pada identitas utama dianamnese nama, umur, suku, agama, pendidikan, pekerjaan, perkawinan yang keberapa, dan alamat. b) Riwayat keluhan utama Pada riwayat keluhan utama dapat dianamneses, klien mengeluh adanya rasa panas, mengeluh gatal, mengeluh adanya benjolan / pembengkakan yang nyeri pada daerah kemaluan dan ada keputihan. c) Riwayat kesehatan lalu

Pada riwayat kesehatan lalu dapat dianamnese adanya riwayat penyakit menular seksual sebelumnya atau

dikeluarga klien ada riwayat penyakit kelamin. d) Riwayat menstruasi Pada riwayat menstruasi dianamnese pertama kali klien mendapatkan haid pada umur berapa, lamanya haid berapa hari, siklus haidnya berapa hari dan nyeri yang menyertai haid (dismenorhoe). e) Riwayat Gynekologi Pada riwayat gynekologi, sebelumnya klien pernah

mengalami riwayat reproduksi, dan klien pernah mengalami penyakit menular seksual. f) Riwayat sosial ekonomi dan psikologi Keluarga selalu mendampingi dan memberikan support kepada klien dalam menjalani perawatan serta berserah diri kepada tuhan YME. Suami bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan biaya perawatan. 2) Pemeriksaan tanda-tanda vital dan fisik dilakukan secara inspeksi, dan palpasi. Hasil pemeriksaan fisik pada ibu dengan kista bartholini didapatkan : a) Inspeksi : tampak pembengkakan pada kista pada posisi Jm 5 atau jam 7 pada labium minus posterior disertai kemerahan dan tampak ada secret (keputihan) di vagina.

b) Palpasi : teraba penonjolan / pembengkakan yang nyeri saat dipalapasi pada salah satu sisi vulva. 3) Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan meliputi

pemeriksaan laboratorium untuk membedakan jenis bekteri yang menginfeksi kista kelenjar bartholini, Pemeriksaan tersebut meliputi : a) Pemeriksaan gram untuk membedakan bakteri penyebab. b) Pemeriksaan dengan menggunakan apusa darah tepi untuk melihat ada atau tidaknya leukositosis. c) Pemeriksaan kultur jaringan untuk mengidentifikasi bakteri penyebab infeksi. d) Biopsi dilakukan jika dicurigai terjadi keganasan. e) Palno tes untuk memastikan klien tidak dalam keadaan hamil. b. Langkah II : Identifikasi Diagnosis / Masalah Aktual Mengidentifikasi data secara spesifik ke dalam suatu rumusan diagnosis dan masalah kebidanan. Kata diagnosis dan masalah digunakan kedua-duanya dan mempunyai pengertian yang berbedabeda. Problem tidak dapat didefenisikan sebagai suatu diagnosis tetapi memerlukan suatu pengembangan rencana keperawatan secara menyeluruh kepada klien. Masalah lebih sering berhubungan dengan bagaiman klien menguraikan keadadan yang dirasakan,

sedangkan diagnosis lebih sering diidentifikasikan oleh badan yang difokuskan pada apa yang dialami oleh klien. Berdasarkan keluhan berupa penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi vulva disertai kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva dan pada pemeriksaan palpasi terdapat pembengkakan pada kista pada posisi jam 5 atau jam 7 pada labium minus posterior, maka dapat ditegakkan suatu diagnose kista bartholini dan masalah masalah aktual adanya rasa panas, rasa gatal, ada

benjolan/pembengkakan yang nyeri pada daerah kemaluan atau keputihan. c. Langkah III : Identifikasi diagnosa/Masalah Potensial Langkah ini dilakuakan dengan mengidentifikasi masalah atau diagnosis masalah yang lain berdasarkan beberapa masalah dan diagnosis yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi yang cukup dan apabila memungkinkan dilakukan proses pencegahan atau dalam kondisi tertentu pasien membutuhkan tindakan segera (sudarti dkk, 2010). Sehubungan dengan teori kasus ganguan system reproduksi dengan kista bartholini ini maka masalah potensial yang mungkin terjadi yaitu : kista bartholini dapat terinfeksi maka akan menjadi abses yang semakin hari semakin membesar yang dapat menjadi repture. Jika kista terinfeksi, maka pemeriksaan kultur jaringan dibutuhkan untuk mengidentifikasi jenis bakteri penyebab abses dan

untuk mengetahui ada atau tidakanya infeksi menular ( Amiruddin, 2004 ) d. Langkah IV : Pelaksanaan Tindakan Segera/Emergency Tahap ini dilakukan dengan melakukan identifikasi dan menetapkan beberapa kebutuhan setelah diagnosis dan masalah ditegakkan. Kegiatan bidan pada tahap ini adalah konsultasi, kolaborasi, dan melakukan rujukan (Sudarti dkk, 2010). Pada kasus ini kista bartholini untuk menyelamatkan klien dengan melakuka kolaborasi antara bidan dengan dokter dalam melakukan tindakan pembedahan dan marsupialisasi (Wikenjosastro, 2007).

e. Langkah V : Intervensi/ Rencana tindakan Setelah beberapa kebutuhan pasien ditetapkan, diperlukan perencanaan secara menyeluruh terhadap masalah dan diagnosis yang ada. Dalam proses perencaan asuhan secara menyeluruh juga dilakukan identifikasi beberapa data yang tidak lengkap agar

pelaksanaan secara menyeluruh dapat berhasil (sudarti dkk, 2010) Dalam langkah ini yang dapat dilakukan oleh bidan yaitu berupa perencanaan persiapan tindakan pembedahan dan

marsupialisasi.Rencana asuhan bidan pada pasien dengan kista bartholini:

1) Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu. 2) Beri dukungan mental dan spiritual 3) Ajarkan klien tehnik relaksasi jika merasa nyeri. 4) Anjurkan pasien istirahat yang cukup. 5) Observasi infus dan kateter. 6) Observasi proses eliminasi ( BAK dan BAB ) 7) Pemberian obat sesuai instruksi dokter. f. Langkah VI : Implementasi/Pelaksanaan asuhan Tahap ini merupakan tahap pelaksana dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya (sudarti dkk, 2010). Implementasi atau pelaksanaan asuhan bidan pada klien kista bartholini dilakukan berdasarkan rencana asuhan. g. Langkah VII Merupakan tahap akhir dalam manajemen kebidanan yakni dengan melakukan evaluasi dari perencanaan yang dilakukan bidan. Evaluasi sebagai bagian dari proses yang terus menerus untuk menungkatkan paleyanan secara komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien (sudarti dkk, 2010). Mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan asuhan yang diberikan kepada klien, pada tahap ini bidan harus melakukan

pengamatan dan observasi terhadap masalah yang dihadapi oleh klien. Apakah masalah diatasi seluruhnya, sebagian telah dipecahkan atau timbul masalah baru. Evaluasi yang diharapkan akan tercapai setelah asuhan kebidanan diberikan adalah : 1) Keadaan umum baik. 2) Tanda-tanda vital dalam batas normal. TD N S P : Normal (120/80 mmHg) : Normal (60-90 x/menit) : Normal (36,5-37,5C) : Normal (18-24 x/menit)

3) Kista bartholini teratasi. 4) Rasa nyeri berkurang. C. Pendokumentasian Hasil Asuhan Kebidanan Dokumentasi merupakan catatan tentang interaksi antara tenaga

kesehatan, pasien, serta respon pasien terhadap semua kegiatan yang dilakukan. Asuhan itu harus dicatat dengan benar, jelas, logis, sehingga dapat menkomunikasikan kapada orang lain mengenai asuhan yang diberikan secara sistematis dalam SOAP yaitu : 1) Subjektif Semua yang dikatakan, disampaikan dan yang dikeluhkan oleh klien sebagai langkah I Varney.

2) Objektif

Apa yang diinspeksi dan dipalpasi oleh bidan saat melakukan pemeriksaan dan hasil dari pemeriksaan laboratorium sebagai langkah I Varney. 3) Assesmen Kesimpulan yang dibuat berdasarkan data subjektif dan objektif sebagai hasil pengambilan keputusan terhadap klien tersebut sebagai langkah II, III, IV Varney.

4) Planning Apa yang dilakukan berdasarkan hasil kesimpulan dan evaluasi terhadap keputusan klinis yang diambil dalam rangka memenuhi kebutuhan klien yang telah diberikan sebagai langkah V, VI, VII Varney. Tabel 01. Pendokumentasian Manajemen Asuhan Kebidanan

7 langkah Halen Varney

langkah SOAP

kompetensi bidan 1. Pengumpulan data dasar Data Subjektif Objektif 2. Identifikasi diagnosis / Assesment masalah aktual 3. Identifikasi diagnosis / masalah potensial Diagnosis / Assesment diagnosis /

4.

Pelaksanaan

tindakan

segera / emergency 5. Intervensi tindakan 6. Implementasi 7. Evaluasi Implementasi Evaluasi / rencana Rencana asuhan Planning

Diposkan 4th January oleh mila karmila 0

Add a comment

Memuat Kirim masukan Template Dynamic Views. Diberdayakan oleh Blogger.

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya adalah infeksi, infeksi dapat mengenai organ genitalia interna maupun eksterna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak terkecuali pada glandula vestibularis major atau dikenal dengan kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian bawah introitus vagina. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya kista bartolini, kista bartolini adalah salah satu bentuk tumor jinak pada vulva. Kista bartolini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan pada duktus kelenjar bartolini, yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik. Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi abses. Kista bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. Kista bartolini bisa tumbuh dari ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista bartolini tidak menular secara seksual, meskipun penyakit menular seksual seperti Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini yang berujung pada terbentuknya kista dan abses, sifilis ataupun infeksi bakteri lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini.

BAB II ISI

2.1.Definisi Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.

Gambaran kista bartolini 2.2. Epidemiologi Dua persen wanita mengalami kista Bartolini atau abses kelenjar pada suatu saat dalam kehidupannya. Abses umumnya hampir terjadi tiga kali lebih banyak daripada kista. Salah satu penelitian kasus kontrol menemukan bahwa wanita berkulit putih dan hitam yang lebih cenderung untuk mengalami kista bartolini atau abses bartolini daripada wanita hispanik, dan bahwa perempuan dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terendah. Kista Bartolini, yang paling umum terjadi pada labia majora. Involusi bertahap dari kelenjar Bartolini dapat terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Hal ini mungkin menjelaskan lebih seringnya terjadi kista Bartolini dan abses selama usia reproduksi. Biopsi eksisional mungkin diperlukan lebih dini karena massa pada wanita pascamenopause dapat berkembang menjadi kanker. Beberapa penelitiantelah menyarankan bahwa eksisi pembedahan tidak diperlukan karena rendahnya risiko kanker kelenjar Bartholin (0,114 kanker per 100.000 wanita-tahun).Namun, jika diagnosis kanker tertunda, prognosis dapat menjadi lebih buruk. Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista Bartolini atau abses di dalam hidup mereka. Jadi, hal ini adalah masalah yang perlu dicermati.Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia antara 20 sampai 30 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada wanita yang lebih tua atau lebih muda.

2.3. Anatomi Kelenjar Bartholini Kelenjar bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna, kelenjar bartolini atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah berbentuk bundar, dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibulli. Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara pada celah yang terdapat diantara labium minus pudendi dan tepi hymen. Glandula ini homolog dengan glandula bulbourethralis pada pria. Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus dan mengeluarkan sekresinya untuk

membasahi atau melicinkan permukaan vagina di bagian caudal. kelenjar bartolini diperdarahi oleh arteri bulbi vestibuli, dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan nervushemoroidal inferior. Kelenjar bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil dari bulbus, jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif selama rangsangan seksual dan kelenjar ini akan mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak sebagai lubrikan. Drainase pada kelenjar ini oleh saluran dengan panjang kirakira 2 cm yang terbuka ke arah orificium vagina sebelah lateral hymen, normalnya kelenjar bartolini tidak teraba pada pemeriksaan palapasi. seperti pada gambar dibawah ini :

Histologi Kelenjar bartolini dibentuk oleh kelenjar racemose dibatasi oleh epitel kolumnair atau kuboid. Duktus dari kelenjar bartolini merupakan epitel transsisional yang secara embriologi merupakan daerah transisi abtara traktus urinarius dengan traktus genital.

Fisiologi Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan vagina. kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang relatif sedikit sekitar satu atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme. Tetesan cairan pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas vagina, tetapi penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas vagina berasal dari bagian vagina lebih dalam. Cairan mungkin sedikit membasahi permukaan labia vagina, sehingga kontak dengan daerah sensitif menjadi lebih nyaman bagi wanita.

2.4.Etiologi Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran pencernaan, seperti Escherichia coli. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari satu jenis organisme. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi, bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Namun, kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut.

2.5.Patofisiologi Tersumbatnya bagian distal dari duktus Bartholin dapat menyebabkan retensi dari sekresi, dengan akibat berupa pelebaran duktus dan pembentukan kista. Kista tersebut dapat menjadi terinfeksi, dan abses bisa berkembang dalam kelenjar. Kelenjar Bartholin sangat sering terinfeksi dan dapat membentuk kista atau abses pada wanita usia reproduksi. Kista dan abses bartholin seringkali dibedakan secara klinis. Kista Bartholin terbentuk ketika ostium dari duktus tersumbat, sehingga menyebabkan distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan.Sumbatan ini biasanya merupakan akibat sekunder dari peradangan nonspesifik atau trauma. Kista bartholin dengan diameter 1-3 cms eringkali asimptomatik. Sedangkan kistayang berukuran lebih besar, kadang menyebabkan nyeri dan dispareunia. Abses Bartholin merupakan akibat dari infeksi primer dari kelenjar, atau kista yang terinfeksi. Pasien dengan abses Bartholin umumnya mengeluhkan nyeri vulva yang akut dan bertambah secara cepat dan progresif. Abses kelenjar Bartholin disebakan oleh polymicrobial.

2.6. Gejala klinis Pasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa disertai nyeri. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut:

Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral. Dispareunia Nyeri pada waktu berjalan dan duduk Nyeri yang mendadak mereda, diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses)

2.7. Diagnosa Untuk menegakkan diagnosa kista bartolini dapat ditegakkan dengan : 1. a. Anamnesa

Pada anamnesa biasanya ditemukan gejala klinis, berupa :


Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral. Dispareunia Nyeri pada waktu berjalan dan duduk Nyeri yang mendadak mereda, diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses)

1. b.

Pemeriksaan ginekologi

Hasil pemeriksaan ginekologi yang dapat diperoleh dari pemeriksaan terhadap Kista Bartholin adalah sebagai berikut:

Pasien mengeluhkan adanya massa yang tidak disertai rasa sakit, unilateral, dan tidak disertai dengan tanda tanda selulitis di sekitarnya. Jika berukuran besar, kista dapat tender. Discharge dari kista yang pecah bersifat nonpurulent

Sedangkan hasil pemeriksaan fisik yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap abses Bartholin sebagai berikut:

Pada perabaan teraba massa yang tender, fluktuasi dengan daerah sekitar yangeritema dan edema. Dalam beberapa kasus, didapatkan daerah selulitis di sekitar abses. Demam, meskipun tidak khas pada pasien sehat, dapat terjadi Jika abses telah pecah secara spontan, dapat terdapat discharge yang purulen

Kista Bartholin harus dibedakan dari abses dan dari massa vulva lainnya. Karena kelenjar Bartholin mengecil saat usia menopause, suatu pertumbuhan massa pada wanita postmenopause perlu dievaluasi terhadap tanda tanda keganasan, terutama bila massanya bersifat irreguler, nodular, dan keras.

1. c.

Pemeriksaan Penunjang

Apabila pasien dalam kondisi sehat, afebris; tes laboratorium darah tidak diperlukan untuk mengevaluasi abses tanpa komplikasi atau kista. Kultur bakteri dapat bermanfaat dalam menentukan kuman dan pengobatan yang tepat bagi abses Bartholin.

2.8. Diagnosa banding Beberapa jenis lesi vulva dan vagina dapat menyerupai kista Bartholin. Beberapa diantaranya adalah: 1.Kista sebaceous pada vulva sangat sering ditemukan. Kista sebaseous ini merupakansuatu kista epidermal inklusi dan seringkali asimptomatik. Pada keadaan terinfeksi,diperlukan incisi dan drainase sederhana. 2.Dysontogenetic cysts merupakan kista jinak yang berisi mukus dan berlokasi padaintroitus atau labia minora. Terdiri dari jaringan yang menyerupai mukosa rektum,dan seringkali asimptomatik 3.Hematoma pada vulva. Dapat dibedakan dengan adanya trauma akibat berolahraga,kekerasan. 4. Fibroma merupakan tumor solid jinak vulva yang sering ditemukan. Indikasi untuk eksisi berupa timbulnya rasa nyeri, pertumbuhan yang progresif, dan kosmetik. 5. Hidradenoma merupakan tumor jinak yang dapat muncul pada labia majora dan labiaminora. Perlu dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi apabila timbul perdarahan dandiangkat bila timbul gejala

2.9.Penatalaksanaan

Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien. Suatu kista tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan, kista yang menimbulkan gejala dan abses kelenjar memerlukan drainase. Tindakan Operatif Beberapa prosedur yang dapat digunakan: 1.Incisi dan Drainase Meskipun insisi dan drainase merupakan prosedur yang cepat dan mudahdilakukan serta memberikan pengobatan langsung pada pasien, namun prosedur iniharus diperhatikan karena ada kecenderungan kekambuhan kista atau abses.Ada studiyang melaporkan, bahwa terdapat 13% kegagalan pada prosedur ini.

2.Word Catheter Word catheter ditemukan pertama kali pada tahun 1960-an. Merupakan sebuah kateter kecil dengan balon yang dapat digembungkan dengan saline pada ujung distalnya, biasanya digunakan untuk mengobati kista dan abses Bartholin. Panjang dari kateter karet ini adalah sekitar 1 inch dengan diameter No.10 French Foley kateter. Balon kecil di ujung Word catheter dapat menampung sekitar 3-4 mL larutan saline

Setelah persiapan steril dan pemberian anestesi lokal, dinding kista atau abses dijepit dengan forceps kecil dan blade no.11 digunakan untuk membuat incisi sepanjang 5mm pada permukaan kista atau abses.Penting untuk menjepit dinding kista sebelum dilakukan incisi, atau bila tidak kista dapat collapse dan dapat terjadi incisi pada tempat yang salah.Incisi harus dibuat dalam introitusexternal hingga ke cincin hymenal pada area sekitar orifice dari duktus.Apabila incise dibuat terlalu besar, Word catheter dapat lepas.

Setelah insisi dibuat, Word catheter dimasukkan, dan ujung balon dikembangkan dengan 2 ml hingga3 ml larutan saline. Balon yang mengembang ini membuat kateter tetap berada di dalam rongga kista atau abses. Ujung bebas dari kateter dapat dimasukkan ke dalam vagina.Agar terjadi epitelisasi pada daerah bekaspembedahan, Word catheter dibiarkan di tempat selama empat sampai enam minggu, meskipun epithelialisasi mungkin terjadi lebih cepat,sekitar tiga sampai empat minggu.Jika Kista Bartholin atau abses terlalu dalam, pemasangan Wordcatheter tidak praktis, dan pilihan lain harus dipertimbangkan. Abses biasanya dikelilingi oleh selulitisyang signifikan, dan pada kasus- kasus tersebut, antibiotik diperlukan. Antibiotik yang digunakan harus merupakan antibiotic spektrum luas untuk mengobati infeksi polymicrobial dengan aerob dan anaerob. Dapat dilakukan kultur untuk mencari kuman penyebab. Selama menunggu hasil kultur, diberikan terapi antibiotikempiris. Pasien dianjurkan untuk merendam di bak mandi hangat dua kalisehari (Sitz bath). Koitus harus dihindari untuk kenyamanan pasien dan untuk mencegah lepasnya wordcatheter.

Sitz bath (disebut juga hip bath, merupakan suatu jenis mandi, dimana hanya bagian pinggul dan bokong yang direndam di dalam air atau saline; berasal dariBahasa Jerman yaitu sitzen yang berarti duduk.) dianjurkan dua sampai tiga kalisehari dapat membantu kenyamanan dan penyembuhan pasien selama periode pascaoperasi.

Gambar 6: Alat yang digunakan untuk Sitz Bath 3. Marsupialisasi Alternatif pengobatans elain penempatan Wordcatheter adalah marsupialisasi dari kista Bartholin . Prosedur ini tidak boleh dilakukan ketika terdapat tanda- tanda abses akut.

Gambar 8. Marsupialisasi Kista Bartholin (kiri) Suatu incisi vertikal disebut pada bagian tengah kista, lalu pisahkan mukosa sekiar; (kanan) Dinding kista dieversi dan ditempelkan pada tepi mukosa vestibular dengan jahitan interrupted Setelah dilakukan persiapan yang steril dan pemberian anestesi lokal, dinding kista dijepit dengan dua hemostat kecil. Lalu dibuat incisivertikal pada vestibular melewati bagian tengah kista dan bagian luar dari hymenal ring.Incisi dapat dibuat sepanjang 1.5 hingga 3cm, bergantung pada besarnya kista.Berikut adalah peralatanyang diperlukan dalam melakukan tindakan marsupialisasi.

Setelah kista diincisi, isi rongga akan keluar. Rongga ini dapat diirigasi dengan larutan saline, dan lokulasi dapat dirusak dengan hemostat. Dinding kista ini lalu dieversikan dan ditempelkan pada dindung vestibular mukosa dengan jahitan interrupted menggunakan benang absorbable 2 0.18 Sitz bath dianjurkan pada hari pertama setelah prosedur dilakukan. Kekambuhan kista Bartholin setelah prosedur marsupialisasi adalah sekitar 5-10 %.

4.Eksisi (Bartholinectomy) Eksisi dari kelenjar Bartholin dapat dipertimbangkan pada pasien yang tidak berespon terhadap drainase, namun prosedur ini harus dilakukan saat tidak ada infeksi aktif. Eksisi kista bartholin karena memiliki risiko perdarahan, maka sebaiknya dilakukan di ruang operasi dengan menggunakan anestesi umum. Pasien ditempatkan dalam posisi dorsal lithotomy. Lalu dibuat insisi kulit berbentuk linear yangmemanjang sesuai ukuran kista pada vestibulum dekat ujung medial labia minora dansekitar 1 cm lateral dan parallel dari hymenal ring. Hati hati saat melakukan incisikulit agar tidak mengenai dinding kista.Struktur vaskuler terbesar yang memberi supply pada kista terletak pada bagian posterosuperior kista. Karena alasan ini, diseksi harus dimulai dari bagian bawahkista dan mengarah ke superior. Bagian inferomedial kista dipisahkan secara tumpul dan tajam dari jaringan sekitar. Alur diseksi harus dibuat dekat dengandinding kista untuk menghindari perdarahan plexus vena dan vestibular bulb danuntuk menghindari trauma pada rectum.

Gambar 8. Diseksi Kista Setelah diseksi pada bagian superior selesai dilakukan, vaskulariasi utama dari kista dicari dan diklem dengan menggunakan hemostat. Lalu dipotong dan diligasi dengan benangchromic atau benang delayed absorbable 3-0.

Gambar 9. Ligasi Pembuluh Darah Cool packs pada saat 24 jam setelah prosedur dapat mengurangi nyeri, pembengkakan, dan pembentukan hematoma. Setelah itu, dapat dianjurkan sitz bath hangat 1-2 kali sehari untuk mengurangi nyeri post operasi dan kebersihan luka. Pengobatan Medikamentosa Antibiotik sebagai terapi empirik untuk pengobatan penyakit menular seksual biasanya digunakan untuk mengobati infeksi gonococcal dan chlamydia. Idealnya, antibiotik harus segera diberikan sebelum dilakukan insisi dan drainase. Beberapa antibiotikyang digunakan dalam pengobatan abses bartholin: 1. Ceftriaxone Ceftriaxone adalah sefalosporin generasi ketiga dengan efisiensi broad spectrum terhadap bakteri gram-negatif, efficacy yang lebih rendah terhadap bakteri gram-positif, dan efficacy yang lebih

tinggi terhadap bakteri resisten. Dengan mengikat pada satu atau lebih penicillin-binding protein, akan menghambat sintesis dari dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri. Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM sebagai single dose .

2. Ciprofloxacin Sebuah monoterapi alternatif untuk ceftriaxone. Merupakan antibiotik tipe bakterisida yang menghambat sintesis DNA bakteri dan, oleh sebab itu akan menghambat pertumbuhan bakteri dengan menginhibisi DNA-gyrase pada bakteri. Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali sehari

3. Doxycycline Menghambat sintesis protein dan replikasi bakteri dengan cara berikatan dengan 30S dan50S subunit ribosom dari bakteri. Diindikasikan untuk Ctra chomatis. Dosisyang dianjurkan: 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari

4. Azitromisin Digunakan untuk mengobati infeksi ringan sampai sedangyang disebabkan oleh beberapa strain organisme. Alternatif monoterapi untukC trachohomatis. Dosisyang dianjurkan: 1 g PO 1x

2.10.Komplikasi

Komplikasi yang paling umum dari absesBartholin adalah kekambuhan. Pada beberapa kasus dilaporkan necrotizing fasciitis setelah dilakukan drainase abses. Perdarahan, terutama pada pasien dengan koagulopati. Timbul jaringan parut.

2.11.Prognosis

Jika abses dengan didrainase dengan baik dan kekambuhan dicegah, prognosisnya baik. Tingkat kekambuhan umumnya dilaporkan kurang dari 20%.

BAB III PENUTUP

3.1.Kesimpulan Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran pencernaan, seperti Escherichia coli. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari satu jenis organisme. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi, bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Namun, kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut. Pasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa disertai nyeri. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut:

Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral. Dispareunia Nyeri pada waktu berjalan dan duduk Nyeri yang mendadak mereda, diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses)

Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien. Suatu kista tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan, kista yang menimbulkan gejala dan abses kelenjar memerlukan drainase.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. Sarwono Prawiro hardjo, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, 2006,Jakarta http://obginfo.blogspot.com/2009/08/kista-bartolini.html http://obgynunair.wordpress.com/tour-of-duty/ginek-akut/ http://www.scribd.com/doc/43731478/LapKas-Kista-Bartholin-Ctine-drNandono

Kelenjar Bartholin atau dalam bahasa Latin glandula vestibularis major adalah kelenjar ganda yang terletak di bawah dan di kiri dan kanan dari pembukaan vagina pada wanita. Kelenjar ini menghasilkan lendir atau mukus untuk lubrikasi, terutama ketika peningkatan hasrat seksual, yang kemudian akan mendukung kegiatan seksual.

Kelenjar bartholin dapat membengkak bilamana terserang bakteri, terutama bakteri bakteri penyebab penyakit menular seksual, seperti: Klamidia, Gonore ataupun bakteri Escherichia Coli yang terdapat dalam usus.

Pengobatan penyakit kista bartholin, tergantung dari seberapa parah dampak yang ditimbulkannya. Bila tidak terlalu mengganggu, pengobatan kista bartholin dalam dilakukan sendiri di rumah (home treatment) dengan metode yang disebut sitz bath. Caranya cukup mudah, yaitu menyiapkan sebuah bak mandi (bayi) berisi air hangat yang diberikan cairan antiseptic/pembersih dan pasien kemudian duduk (posisi Ms. V terendam) dalam air hangat tersebut selama 10-15 menit, diulang 3-4 kali sehari. Tujuannya adalah melakukan drainase (pengairan) pada kelenjar yang bengkak tersebut.

Bila bisul cenderung membesar dan tidak juga mengecil setelah dilakukan perawatan dirumah (biasanya pasien mengalami sakit luar biasa dan tidak bisa duduk ataupun berjalan) , maka segeralah berobat ke dokter.

Pengobatan kista bartholin biasanya dengan obat-obatan antibiotik. Dalam kasus berat, dokter dapat menyarankan operasi (marsupialisasi), dimana dilakukan penyedotan nanah

dan pemasangan alat kecil/semacam tali untuk mengeluarkan cairan agar bisul mengering.

Penderita kista bartholin kronis (yaitu dengan gejala infeksi sering berulang) dapat mengkonsumsi Typhonium Plus natural supplement untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap ancaman bakteri, terutama bakteri-bakteri yang menularkan penyakit seksual, seperti: klamidia dan gonore.