Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997, keluarga berencana (KB) adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga. Sasaran langsung KB adalah pasangan usia subur. Pasangan usia

subur yaitu pasangan yang istrinya berumur 15-49 tahun atau pasangan suamiistri berumur kurang dari 15 tahun dan sudah haid atau istri berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid (datang bulan) (BKKBN, 2009). Kontrasepsi memiliki banyak jenis pembagian, salah satunya berdasarkan cara kerja. Pembagian menurut cara kerja alat/cara kontrasepsi contohnya : 1) Menurut keadaan biologis: senggama terputus, metode kalender, suhu badan dll 2) Memakai alat mekanis : kondom, diafragma, 3) Memakai obat kimiawi : spermisida 4) Kontrasepsi intrauterina : IUD 5) Hormonal : pil KB, suntikan KB, implant

6) Operatif : tubektomi dan vasektomi

Pemerintah membentuk Badan Koordinator Keluarga berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 1970 sebagai bentuk keasdaran

menggalakkan KB sebagai pelayanan kesehatan yang utama. UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan juga member tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan ketersediaan informasi, sarana pelayanan, ketersediaan tenaga, alat dn obat dalam penyelenggaraan KB. Kemenkes memberi target pelayanan KB tahun 2010-2014 dengan persentase peserta Kb aktif sebesar 65%. Puskesmas Padang Selasa dengan 2 kelurahan, Bukit Baru dan Bukit Lama, memiliki jumlah penduduk 58.844 jiwa. Jumlah PUS yang tercatat sebesar 7212 jiwa. Puskesmas Padang Selasa menempatkan pelayanan KB sebagai program kesehatan wajib. Pelayanan kesehatan KB di Puskesmas Padang Selasa secara keseluruhan dapat dikatakan berjalan dengan baik, walaupun terdapat beberapa kendala seperti ruangan yang kurang memadai serta jenis KB yang kurang beragam dan lebih banyak jenis KB non-MKJP (metode kontrasepsi jangka panjang). Berikut akan diuraikan analisis input, proses dan output pelayanan kesehatan KB di Puskesmas Padang Selasa.

1.2. Pertanyaan kritis Berdasarkan pemaparan singkat di atas, maka akan di analisis kondisi program pelayanan kesehatan KB di Puskesmas Padang Selasa apakah telah sesuai dengan standar yang di harapkan. Maka dari itu perlu digali :

1.2.1. Bagaimana input dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan KB di Puskesmas Padang Selasa?
2

1.2.2. Bagaimana proses dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan KB di Puskesmas Padang Selasa? 1.2.3. Bagaimana output dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan KB di

Puskesmas Padang Selasa?

1.3. Tujuan penulisan 1.3.1. Mengetahui kondisi input pelaksanaan pelayanan kesehatan KB di

Puskesmas Padang Selasa 1.3.2. Mengetahui kondisi proses pelaksanaan pelayanan kesehatan KB di

Puskesmas Padang Selasa 1.3.3. Mengetahui kondisi output pelaksanaan pelayanan kesehatan KB di

Puskesmas Padang Selasa

BAB II ANALISIS INPUT

2.1 Analisis man / tenaga kerja Jumlah tenaga kerja yang memberikan pelayanan KB di Puskesmas Padang Selasa berjumlah 4 orang bidan. Jumlah ini dirasakan cukup untuk melayani pasien yang datang untuk meminta layanan KB yang berkisar 5-10 pasien per hari. Jumlah 4 orang bidan ini bukan hanya khusus melayani KB, namun mereka juga bertugas memberi pelayanan KIA dan imunisasi. Adapun tugas pokok bidan dalam pelayanan KB yakni menyelenggarakan pelayanan KB di Puskesmas Padang Selasa. Kegiatan pokok bidan dalam pelayanan KB dalam gedung yakni : 1. Melaksanakan pelayanan kesehatan KB sesuai standar yang ditetapkan 2. Mencatat kegiatan pada kartu KB 3. Mencatat register kunjungan dan register KB 4. Memberi alat kontrasepsi yang di pilih pasien 5. Merujuk kelalaian pada akseptor kepada dokter puskesmas 6. Menyusun laporan kegiatan KB Kegiatan pokok bidan berhubungan dengan pelayanan KB diluar gedung puskesmas yakni: 1. Membuat peta wilayah kegiatan termasuk lokasi bidan di polindes dan posyandu

2. Melakukan bimbingan teknis KB yang diselenggarakan oleh bidan di desa agar sesuai dengan standar pelayanan 3. Melaksanakan perawatan kesehatan masyarakat dengan mengunjungi rumah kasus-kasus diwilayah kerja puskesmas 4. Merujuk kasus-kasus dengan kelalaian yang ditemukan dilapangan 5. Membuat laporan kegiatan bulanan Kinerja kerja bidan di Puskesmas Padang Selasa dalam memberi layanan KB dirasakan cukup memuaskan. Bidan mampu memberi edukasi yang dapat dimengerti oleh pasien baik dalam hal menentukan jenis KB, efek samping KB, cara memakai atau menggunakan KB, sampai kapan pasien harus follow up. Bidan juga dapat melayani suntikan KB dengan baik. Jika dinilai dalam hal disiplin dan keramahan bidan kepada pasien cukup baik.

2.2 Analisis money / pembiayaan Pelayanan kesehatan KB di Puskesmas Padang Selasa tidak memiliki kendala dalam hal pembiayaan. Semua alat kontrasepsi di Puskesmas Padang Selasa berasal dari BKKBN dan dinas kesehatan. Dana yang diperlukan bagi penyuluhan maupun transportasi petugas yang melayani pasien drop out di dapatkan dari BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). Dana ini akan di dapatkan dari rencana kegiatan puskesmas. Pemegang program harus memberikan pengajuan dana kepada pemimpin puskesmas agar program penyuluhan atau pelayanan pasien drop out mendapat biaya transportasi.

2.3 Analisis material / sarana dan prasarana Pelayanan kesehatan KB di Puskesmas Padang Selasa didukung dengan ;
5

1 ruangan ukuran 3x3 m 1 bed 1 meja gyn 1 meja 4 kursi 1 lemari kaca 1 bufet 1 kipas angin 1 tensi 1 stetoskop 1 timbangan berat badan IUD kit Implant Kit

Berbagai alat kontrasepsi yang disediakan di Puskesmas Padang Selasa yakni: Suntik KB 1 bulan dan 3 bulan Pil KB Kondom Implant/susuk (jarang)

Alat kontrasepsi yang ada di Puskesmas Padang Selasa berasal dari BKKBN dan dinas kesehatan. BKKBN menyuplai secara teratur tiap bulan sesuai kebutuhan puskesmas berdasarkan laporan jumlah pemakaian bulan lalu. Jika alat kontrasepsi kurang, maka BKKBN memberi kemudahan untuk mengambil alat kontrasepsi dengan tagihan barang dibebankan pada bulan selanjutnya. Hal ini memberikan kemudahan kepada petugas untuk memberi layanan yang efisien.

Adapun BKKBN menyuplai rata-rata tiap bulan : Kondom 1 kotak besar (isi 24 kotak kecil) Pil KB 100 keping KB suntik 3 bulan 80 vial Dinas kesehatan juga memberi alat kontrasepsi kepada Puskesmas Padang Selasa. Namun pemberian alat kontrasepsi dari dinas dilakukan setiap 6 bulan sekali. Adapun dinas kesehatan hanya menyuplai suntik KB 3 bulan dengan jumlah 200 vial. Dinas kesehatan tidak menyediakan kondom maupun pil KB. Alat kontrasepsi yang disediakan oleh BKKBN dan dinas kesehatan khusus untuk jamkesmas dan jamsoskes. Alat kontrasepsi diberikan secara gratis kepada pasien dengan jaminan jamsoskes dan jamkesmas. Untuk pasien askes dan pasien umum tetap dilayani namun dengan membayar alat kontrasepsi tersebut Pil KB = Rp.3000,00 Suntik KB 3 bulan = Rp 15.000,00 Suntik KB 1 bulan = Rp. 20.000,00

2.4 Analisis metode Kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Puskesmas Padang Selasa untuk pelayanan KB : 1. Adanya ruangan 2. Adanya meja dan kursi 3. Adanya petugas
7

4. Adanya alat-alat/ obat-obat KB 5. Adanya meja gynekologi 6. Adanya norplant kit 7. Adanya IUD kit 8. Adanya indoplant kit 9. Adanya pencatatan dan pelaporan

Adapun protap pelayanan KB di Puskesmas Padang Selasa dilaksanakan sebagai berikut : 1. Pasien didaftar di ruang pendaftaran 2. Pasien dipanggil menurut nomor urut 3. Petugas member konseling mengenai alat-alat KB 4. Petugas menganamnesis, memeriksa dan mengisi kartu 5. Memberikan pelayanan 6. Memberikan pesan untuk control secara teratur atau jika ada keluhan 7. Pasien boleh pulang

BAB III ANALISIS PROSES

3.1 Analisis proses perencanaan Puskesmas Padang Selasa memulai setiap tahun dengan rapat untuk menentukan rencana pelayanan KB. Setiap tahun akan dihitung target yang harus di capai dalam jumlah PUS yang menjadib akseptor aktif KB. Begitu juga dengan rencana penyuluhan ke posyandu. Tiap 3 bulan akan diadakan review jumlah akseptor aktif KB, sehingga dapat dengan cepat di analisis apakah target telah tercapai atau belum serta dapat dengan cepat menentukan tindakan yang harus dilakukan bila target tidak tercapai. Perencanaan suplai barang sudah di atur berdasarkan jumlah kebutuhan tiap bulannya dan di ajukan kepada BKKBN dan dinas kesehatan.

3.2 Analisis proses pengorganisasian Pelayanan kesehatan KB di Puskesmas Padang Selasa memiliki penanggung jawab Dr. Hj. Fade Fatimah. Adapun pemegang program pelayanan kesehatan wajib KB di percayakan kepada Roseta, Am. Keb yang bertanggung jawab membuat laporan serta melaporkan data-data yang di kumpulkan dalam pelayanan KB. Pelaksana pelayanan KB ada 4 orang bidan dalam satu ruangan yakni Roseta, Am.Keb, Rita Susanti, Am.Keb, Elia Mahandika, Am.Keb dan Bidan Kartini.

Dr. Hj. Fade Fatimah Kepala Puskesmas


Rita Susanti, Am.Keb Pelaksana Elia Mahandika, Am.Keb Pelaksana

Roseta, Am. Keb

Bidan Kartini Pelaksana

Pemegang program dan pelaksana

3.3 Analisis proses pelaksanaan Proses pelaksanaan pelayanan kesehatan KB di Puskesmas Padang Selasa cukup baik. mulai dari registrasi sampai pemberian obat semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai prosedur. Proses pencatatan juga dilaksanakan dengan cermat. Bagi pasien yang baru pertama kali mengikuti KB akan di catat nomor telpon dan alamat lengkap untuk mempermudah follow up. Data-data pasien yang dicatat meliputi nama, umur, jumlah anak, jenis KB yang dipakai.

3.4 Analisis proses pengawasan Pengawasan pelayanan kesehatan KB berupa laporan periodic per bulan. Bila target tidak tercapai maka biasanya dilaksanakan penelusuran pasien drop out dan di rencanakan penyuluhan mengenai KB di posyandu maupun pertemuan kader. Pasien drop out akan dihubungi melalui telepon ataupun dikunjungi rumahnya berdasarkan alamat yang dicatat ketika pasien pertama kali berkunjung untuk pelayanan KB. Pasien akan di telusuri alas an mengapa berhenti KB dan akan diberi edukasi.

10

Pengawasan terhadap tenaga kerja dilaksanakan melalui absen harian yang disertai jam datang dan jam pulang untuk mencegah absennya pegawai tanpa alas an yang jelas serta menjaga disiplin waktu. Pengawasan terhadap alat kontrasepsi yang tersedia dilakukan melalui catatan perbulan agar menjamin terus tersedianya alat kontrasepsi. Pengawasan terhadap jumlah peserta KB aktif juga dilaksanakan di praktek bidan swasta dan posyandu. Puskesmas secara rutin memantau jumlah pasien yang memakai KB di bidan swasta dan posyandu.

11

BAB IV ANALISIS OUTPUT

Target pelayanan KB berdasarkan kemenkes untuk tahun 2010-2014 yakni ; 1. Persentase fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan KB sesuai standar sebesar 100% 2. Persentase PUS yang menjadi peserta KB aktif (Contraceptive Prevalence Rate) sebesar 65% 3. Pencapaian cakupan peserta KB pasca persalinan sebesar 60%

Puskesmas Padang Selasa pada tahun 2011 memiliki jumlah PUS 7212 untuk wilayah kerja dengan 2 kelurahan yakni Bukit Baru dan Bukit Lama. Jumlah peserta KB aktif tahun 2011 terhitung 6190 jiwa, yakni 85% dari jumlah PUS. Hal ini sudah memenuhi 2 target dari kemenkes. Yakni Puskesmas Padang Selasa memberikan pelayanan KB sesuai standar sebesar 100% dan jumlah PUS yang menjadi peserta KB aktif sebesar 85%. Untuk jumlah peserta KB pasca persalinan belum didapatkan datanya. Hal ini dikarenakan ibu-ibu di wilayah kerja Puskesmas Padang Selasa tidak mengambil keputusan untuk mengikuti KB segera setelah melahirkan.

12

JUMLAH PESERTA KB AKTIF MENURUT JENIS KONTRASEPSI PUSKESMAS PADANG SELASA TAHUN 2011

Jumlah peserta KB aktif MKJP Non MKJP MKJP + Non MKJP IUD Jumlah Persentase 300 MOP 0 MOW 275 4,4% Implant 213 3,4% Suntik 4179 67,5% Pil 1136 18,3% Kondom 87 1,4% 6190 100%

4,8% 0%

Sumber : profil Puskesmas Padang Selasa tahun 2011

13

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Puskesmas Padang Selasa telah melaksanakan pelayanan kesehatan KB dengan baik. terbukti dari segi tenaga kerja, dana dan sarana dan prasarana yang mencukupi. Pelayanan yang dilaksanakan serta pengawasan yang dilakukan juga berjalan dengan lancar dan sesuai standar pelayanan. Hasil PUS yang menjadi peserta KB aktif dengan persentase 85% telah menjadi bukti bahwa pelayanan KB di Puskesmas Padang Selasa ini dapat dikatakan telah maksimal. Namun ada beberapa hal yang harus di perhatikan. Yakni dari segi ruangan yang kurang memadai serta minimnya jenis kontrasepsi jangka panjang yang disediakan. Petugas yang bertugas juga belum mendapatkan pelatihan untuk memasang IUD, yang merupakan salah satu dari MKJP. Puskesmas Padang Selasa sendiri dalam waktu dekat akan direnovasi seluruhnya sehingga kendala akan ruangan yang kurang memadai diharapkan akan terselesaikan. Saran yang dapat diberikan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dibidang KB adalah dengan memperbanyak jenis kontrasepsi MKJP dan memberikan pelatihan yang memadai bagi petugas. Dengan diadakan promosi yang tepat sasaran, diharapkan masyarakat akan mendapat pengertian yang benar akan manfaat MKJP khususnya IUD dan implant.

14