Anda di halaman 1dari 30

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

Percobaan Kelompok Nama


1. 2. 3. 4. 5.

: KELARUTAN TERHADAP FUNGSI SUHU : IV A :

Danissa Hanum Ardhyni Rahmani Amalia Muhammad Muhyiddin Salim Calvin Rostanto Mokhammad Faridhl Robitoh

NRP. NRP. NRP. NRP. NRP.

2313 030 033 2313 030 041 2313 030 053 2313 030 063 2313 030 087

Tanggal Percobaan Tanggal Penyerahan Dosen Pembimbing Asisten Laboratorium

: 18 November 2013 : 25 November 2013 : Warlinda Eka Triastuti, ST, MT. : Dhaniar Rulandari W

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2013

ABSTRAK
Praktikum Kelarutan sebagai fungsi suhu ini bertujuan untuk menentukan kelarutan dan menghitung panas pelarutan diferensial pada larutan jenuh asam oksalat. Pada percobaan ini asam oksalat dan NaOH. Prosedur percobaan ini, mula-mula melarutkan asam oksalat kedalam aquadest yang bersuhu 10C hingga asam oksalat yang larut ke dalam air menjadi larutan jenuh. Selanjutnya, menitrasi larutan asam oksalat tersebut dengan NaOH namun sebelum melakukan titrasi larutan asam oksalat ditetesi dengan fenolftalein sebanyak dua tetes. Langkah tersebut diulangi dengan menggunakan variabel suhu 20C,30C,dan 40C. Hasil dari praktikum yang telah dilakukan hasil yang diperoleh pada suhu aquades 10oC massa asam oksalat yang diperlukan adalah 0,5 gram. Pada suhu 20oC massa asam oksalat yang diperlukan 2,5 gram. Pada suhu 30oC massa asam oksalat yang diperlukan 3,5 gram. Pada suhu 40oC massa asam oksalat yang diperlukan 5 gram. Kesimpulan dari percobaan kelarutan ini adalah kelarutan suatu zat akan bertambah seiring dengan semakin meningkatnya suhu. Hal ini karena semakin tinggi suhu ,tumbukan dalam zat tersebut semakin mempercepat terjadinya reaksi.

Kata kunci: Kelarutan fungsi suhu, kelarutan diferensial

DAFTAR ISI
ABSTRAKS ......................................................................................................... i DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii DAFTAR TABEL ................................................................................................. iv DAFTAR GRAFIK................................................................................................ v BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang ........................................................................................ I-1 I.2 Rumusan Masalah ................................................................................... I-2 I.3 Tujuan Percobaan ................................................................................... I-2 I.4 Manfaat ................................................................................................... I-2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Dasar Teori ............................................................................................ II-1 BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1 Variabel Percobaan .............................................................................. III-1 III.2 Bahan Yang Digunakan ........................................................................ III-1 III.3 Alat Yang Digunakan ........................................................................... III-1 III.4 Prosedur Percobaan .............................................................................. III-2 III.5 Diagram Alir Percobaan ........................................................................ III-3 III.6 Gambar Alat Percobaan ........................................................................ III-4 BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV.1. Hasil Percobaan ................................................................................... IV-1 IV.2 Pembahasan .......................................................................................... IV-2 BAB V KESIMPULAN ........................................................................................ V-1 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ vi DAFTAR NOTASI ................................................................................................ vii APPENDIKS ......................................................................................................... viii LAMPIRAN - Laporan Sementara - Fotokopi Literatur - Lembar Revis

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar III.6 Gambar Alat Percobaan .................................................................... III-4

iii

DAFTAR TABEL Tabel IV.1 Hasil Kelarutan Asam Oksalat dengan Aquades..................................... IV-1

iv

DAFTAR GRAFIK
Grafik IV.1 Hubungan Ln S dan 1/T................................................................................... IV-2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal kelarutan, dimana kita tahu kelarutan itu proses terlarutnya suatu zat dalam suatu pelarut,contohnya seperti garam (zat terlarut) yang dilarutkan dalam suatu air (pelarut) yang bercampur menjadi larutan garam (larutan). Definisi dari kelarutan adalah jumlah zat yang dapat larut dalam sejumlah pelarut sampai membentuk larutan jenuh. Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh, dan lewat jenuh. Larutan jenuh bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat terlarut kurang dari larutan jenuh disebut larutan tidak jenuh, dan bila jumlah zat terlarut lebih dari larutan jenuh disebut larutan lewat jenuh. Daya larut suatu zat dalam zat lain, dipengaruhi oleh jenis zat pelarut, temperatur, dan sedikit tekanan. Pengaruh suhu terhadap kelarutan dapat kita lihat pada kehidupan sehari-hari yaitu kelarutan gula dalam air. Gula yang dilarutkan ke dalam air panas, dan dilarutkan ke dalam air dingin, maka gula yang akan lebih cepat larut pada air panas karena semakin besar suhu semakin besar pula kelarutannya. Aplikasi kelarutan dalam dunia industri adalah pada pembuatan reaktor kimia, pada proses pemisahan dengan cara pengkristalan integral, selain itu juga dapat digunakan untuk dasar atau ilmu dalam proses pembuatan granul-granul pada industri baja. Oleh karena itu percobaan tentang kelarutan sebagai fungsi suhu ini dilakukan agar mempelajari tentang kelarutan dan pengaruh suhu terhadap kelarutan serta mengetahui aplikasi dalam kehidupan sehari-hari maupun bidang industri. Kelarutan sering digunakan dalam beberapa pengertian kelarutan dinyatakan secara kualitatif dari proses larutan. Kelarutan juga digunakan secara kualitatif untuk menyatakan komposisi dalam larutan. Berdasarkan prinsipnya, kelarutan sebagai fungsi suhu didasari oleh pergeseran kesetimbangan antara zat yang beraksi dengan hasilnya. Dimana bila suhu dinaikkan maka kelarutan akan bertambah dan kesetimbangan akan bergeser. Tetapi bila suhu diturunkan maka kelarutan akan semakin kecil dan disertai oleh pergeseran kesetimbangan. Dalam percobaan ini, akan dilakukan percobaan kelarutan sebagai fungsi suhu pada asam oksalat dengan menggunakan suhu yang bervariasi dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh suhu pada penentuan kelarutan. I-1

I-2 BAB I PENDAHULUAN 1.2 RUMUSAN MASALAH 1.Bagaimana cara menentukan kelarutan dan menghitung panas pelarutan differensial pada larutan jenuh asam oksalat ?

1.3 TUJUAN 1.Menentukan kelarutan dan menghitung panas pelarutan differensial pada larutan jenuh asam oksalat.

1.4 MANFAAT 1. Menambah pengetahuan secara umum tentang menentukan kelarutan dan menghitung panas pelarutan differensial pada larutan jenuh asam oksalat. .

LABORATORIUM KIMIA FISIKA PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI-ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Kelarutan Kelarutan adalah jumlah zat yang dapat larut dalam sejumlah pelarut sampai membentuk larutan jenuh. Cara menentukan kelarutan suatu zat adalah dengan mengambil sejumlah tertentu pelarut murni, misalnya 1 liter. Kemudian menimbang zat yang akan dilarutkan misalnya 5 gram. Jumlah zat yang dilarutkan harus dapat diperkirakan agar dapat membentuk larutan lewat jenuh yang ditandai dengan masih terdapatnya zat yang tidak dapat larut. Setelah dicampur, dikocok dan didiamkan sampai terbentuk kesetimbangan zat yang tidak larut dengan zat yang larut. Kemudian padatan yang tidak larut disaring, dikeringkan dan ditimbang, misalnya didapat 1,5 gram. Larutan yang telah disaring itu mengandung (5-1,5) gram : 3,5 gram/liter, dan dapat dinyatakan dalam mol/liter dengan mencari molnya terlebih dulu (syukri, 1999, hal. 360). Kelarutan adalah jumlah zat yang dapat larut dalam sejumlah pelarut hingga membentuk larutan jenuh. Adapun cara menentukan kelarutan suatu zat ialah dengan mengambil sejumlah tertentu pelarut murni, misalnya 1 liter (Atkins, 1999). Yang dimaksud dengan kelarutan dari suatu zat dalam suatu pelarut, adalah banyaknya suatu zat dapat larut secara maksimum dalam suatu pelarut pada kondisi tertentu.Biasanya dinyatakan dalam satuan mol/liter. Jadi, bila batas kelarutan tercapai, maka zat yang dilarutkan itu dalam batas kesetimbangan, artinya bila zat terlarut ditambah, maka akan terjadi larutan jenuh, bila zat yang dilarutkan dikurangi, akan terjadi larutan yang belum jenuh. Dan kesetimbangan tergantung pada suhu pelarutan (sukardjo, 1997). Kelarutan zat menurut suhu sangat berbeda beda. Pada suhu tertentu larutan jenuh yang bersentuhan dengan zat terlarut yang tidak larut dalam larutan itu adalh sebuah contoh mengenai kesetimbangan dinamik. Karena dihadapkan dengan sistem kesetimbangan, dapat menggunakan prinsip le chatelier. Untuk menganalisis bagaimana gangguan itu pada sistem akan mempengaruhi kedudukan kesetimbangan. Gangguan ini antara lain perubahan pada suhu ini cenderung menggeser kesetimbangan kearah penyerap kalor (syukri, 1999). Jika pelarut dari zat terlarut lebih banyak merupakan peristiwa endoterm, seperti dinyatakan dalam persamaan : Kalor + zat terlarut + larutan (l1) larutan (l2)

II-1

II-2 BAB II Tinjauan Pustaka Dengan larutan (l2) lebih pekat daripada larutan (l1) maka kenaikan suhu akan meningkatkan kelarutan. Dengan kata lain, kesetimbangan bergeser ke kanan karena meningkatnya suhu. Untuk kebanyakan padatan dan cairan yang dilakukan dalam pelarut cairan, biasa urutannya kelarutan meningkat dengan kenaikan suhu (syukri, 1999, hal. 360). Pengaruh kenaikan suhu pada kelarutan zat berbeda satu sama lain. Perbedaan itu dapat dipakai untuk memisahkan campuran dua zat atau lebih dengan cara kristalisasi bertingkat. Contohnya memisahkan KNO3 dengan KBr. Kelarutan KNO3 sangat terpengaruh dengan kenaikan suhu, sedang KBr kecil sekali. Jika campuran ini dimasukkan dalam air panas, maka kelarutan KNO3 lebih besar daripada KBr sehingga KBr lebih banyak mengkristal pada suhu tinggi dan KBr dapat dipisahkan dengan menyaring dalam keadaan panas (syukri, 1999, hal.
360).

Untuk gas, pembentukan larutan dalam cairan ketimbangan dapat dinyatakan dengan : Gas + larutan (1) larutan (2) + kalor

hampir selalu eksoterm, sehingga

Untuk kesetimabngan ini, peningkatan suhu malah akan mengusir gas dan larutan sebeb pergeseran ini ke kiri adalah endoterm. Karena itu gas hampir selalu menjadi kurang larut dalam cairan jika suhunya dinaikkan (Atkins, 1994). Pengaruh temperatur dalam kesetimbangan kimia ditentukan dengan o dengan persamaan :
ln
p

RT 2

yang disebut persamaan vant hoff. Pada reaksi endoterm

konstanta kesetimbangan akan naik seiring dengan naiknya termperatur. Pada reaksi eksoterm konstanta kesetimbangan akan turun dengan naiknya temperatur (Alberty, 1996). II.2 Pengertian Larutan Larutan dapat didefinisikan sebagai campuran homogen dari dua zat atau lebih yang terdispersi sebagai molekul ataupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Disebut homogen karena komposisi dari larutan begitu seragam (satu fasa) sehingga tidak dapat diamati bagian-bagian komponen penyusunnya meskipun dengan mikroskop ultra. Dalam campuran heterogen permukaan-permukaan tertentu dapat diamati antara fase-fase yang terpisah (Koesman, 2007). Suatu larutan terdiri dari dua komponen yang penting. Biasanya salah satu komponen yang mengandung jumlah zat terbanyak disebut sebagai pelarut (solven). Sedangkan komponen lainnya yang mengandung jumlah zat sedikit disebut zat terlarut (solut). Kedua
Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI - ITS

II-3 BAB II Tinjauan Pustaka komponen dalam larutan dapat sebagai pelarut atau zat terlarut tergantung komposisinya. Misalnya dalam alkohol 70% (70 : 30), maka alkohol merupakan pelarut dan air sebagai zat terlarut. Sedangkan dalam keadaan yang sukar ditentukan seperti alkohol 50% (50 : 50), karena jumlah kedua zat dalam larutan sama, maka baik alkohol maupun air dapat dianggap pelarut atau zat terlarut. Untuk campuran zat padat dalam air, seperti sirop 60% (60 : 40), kebanyakan orang memilih air sebagai pelarut karena air tetap mempertahankan keadaan fisiknya, dan gula sebagai zat terlarut karena berubah keadaan fisiknya (Koesman, 2007). Dalam istilah kimia fisik, larutan dapat disiapkan dari campuran yang mana saja dari tiga macam keadaan zat yaitu padat, cair dan gas. Misalnya suatu zat terlarut padat dapat dilarutkan baik dalam zat padat lainnya, cairan atau gas, dengan cara yang sama untuk zat terlarut dan gas, ada 9 tipe campuran homogen yang mungkin dibuat (Ansel, 2005). Dua komponen dalam larutan adalah solute dan solvent. Solute adalah substansi yang melarutkan. Contoh sebuah larutan NaCl. NaCl adalah solute dan air adalah solvent. Dari ketiga materi, padat, cair dan gas, sangat dimungkinkan untuk memilki Sembilan tipe larutan yang berbeda: padat dalam padat, padat dalam cairan, padat dalam gas, cair dalam cairan, dan sebagainya. Dari berbagai macam tipe ini, larutan yang lazim kita kenal adalah padatan dalam cairan, cairan dalam cairan, gas dalam cairan serta gas dalam gas (sukardjo, 1997). Efek panas dalam pembentukan larutan dapat digunakan dalam penerapan prinsip Le. Chateliers untuk menghitung efek temperatur pada kelarutan. Dengan menggunakan terminology dari thermodinamika, bahwa kandungan panas atau entalpi dari sistem telah meningkat sesuai dengan jumlah energi thermal (heat molar vaporization atau Hv). Perubahan entalpi untuk proses diberikan dengan mengurangi entalpi akhir sistem dengan entalpi mula-mula. H = Hhasil Hhasil Secara umum H positif untuk setiap perubahan makroskopik yang terjadi pada tekanan konstan jika energi panas mengalir keluar. Proses dimana entalpi dalam sistem meningkat disebut proses endotermik, sedangkan entalpi yang mengalami penurunan disebut eksotermik. Perubahan entalpi terbatas hanya pada aliran panas jika proses tersebut terbawa keluar sehingga tekanan mula-mula dan akhir adalah sama, dan sistem adalah tertutup. Pembentukan dari larutan apakah itu eksotermik atau endotermik tergantung pada temperatur dan sifat alamiah solute dan solvent untuk memprediksi efek dari perubahan temperatur. Kita dapat menggunakan prinsip Le-Chatekiers, sangatlah diperlukan untuk memperhitungkan
Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI - ITS

II-4 BAB II Tinjauan Pustaka perubahan entalpi untuk proses pelarutan dari kondisi larutan jenuh. Entalpi molar dari larutan (H1) sebagai jumlah kalor dari energi panas yang seharusnya tersedia ( H1
positif)

ataupun

yang seharusnya dipindahkan (H1 negatif) untuk menjaga agar temperatur tetap konstan yang mana didalamnya terdapat satu mol zat terlarut dalam volume yang sangat besar yang mendekati larutan jenuh untuk menghasilkan larutan jenuh (sukardjo, 1997). Jika entalpi dari larutan adalah negatif peningkatan temperatur menyebabkan penurunan kelarutan. Kebanyakan padatan solute memiliki entalpi positif dari larutan sehingga kelarutan mereka meningkat sesuai dengan kenaikkan temperatur. Hampir semua perubahan kimia merupakan proses eksotermik ataupun proses endotermik. Hampir semua perubahan kimia merupakan proses eksotermik. Kebanyakan, tetapi tidak semua reaksi yang terjadi secara spontan adalah reaksi eksotermik (sukardjo, 1997).

II.3 Jenis-Jenis Larutan Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh dan lewat jenuh. Larutan disebut jenuh pada temperatur tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat terlarut kurang dari ini, disebut larutan tidak jenuh dan bila lebih disebut lewat jenuh. Zat yang dapat membentuk larutan jenuh, misalnnya natrium tiosulfat (sukarjdo, 1989). Jika kelarutan suhu suatu sistem kimia dalam keseimbangan dengan padatan, cairan atau gas yang lain pada suhu tertentu maka larutan disebut jenuh. Larutan jenuh adalah larutan yang kandungan solutnya sudah mencapai maksimal sehingga penambahan solut lebih lanjut tidak dapat larut. Konsentrasi solut dalam larutan jenuh disebut kelarutan. Untuk solut padat maka larutan jenuhnya terjadi keseimbangan dimana molekul fase padat meninggalkan fasenya dan masuk ke fase cairan dengan kecepatan sama dengan molekul-molekul ion dari fase cair yang mengkristal menjadi fase padat (sukarjdo, 1989) Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute (zat terlarut) kurang dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh atau larutan yang partikel partikelnya tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi (syukri, 1999). Larutan sangat jenuh, yaitu larutan yang mengandung lebih banyak solute dari pada yang diperlukan untuk larutan jenuh atau dengan kata lain larutan yang tidak dapat lagi melarutkan zat terlarut sehingga terjadi endapan didalam larutan. Suatu larutan jenuh merupakan kesetimbangan dinamis. Kesetimbangan tersebut akan bergeser bila suhu

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI - ITS

II-5 BAB II Tinjauan Pustaka dinaikan. Pada umumnya kelarutan zat padat dalam larutan bertambah bila suhu dinaikan
(syukri, 1999).

Pada larutan jenuh terjadi kesetimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat tidak larut. Dalam kesetimbangan ini, kecepatan melarut sama dengan kecepatan mengendap. Artinya konsentrasi zat dalam larutan akan selalu sama. Dalam larutan jenuh terjadi keseimbangan antara molekul zat yang larut dan yang tidak larut.keseimbangan itu dapat dituliskan sebagai berikut : A(p) Dimana : A (l) : molekul zat terlarut A (p) : molekul zat yang tidak larut Tetapan kesimbangan proses pelarutan tersebut :
K = =

A(l)

Dimana : az : keaktifan zat yang larut az : keaktifan zat yang tidak larut, yang mengambil harga satu untuk zat padat dalam keadaan standar yz : koefisien keaktifan zat yang larut mz : kemolalan zat yang larut yang karena larutan jenuh disebut kelarutan
(Fisika T. K., 2011)

Hubungan antara keseimbangan tetap dan temperature subsolut atau kelarutan dengan temperature dirumuskan vant hoff :
R 2

= 2

ln =

ln s = + log s = 2,303 R + atau ln2 =


1

2 1 2 . 1

Dimana : H = panas pelarutan zat per mol (kal/g mol) R = konstanta gas ideal (1,987 kal/g mol K)
Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI - ITS

II-6 BAB II Tinjauan Pustaka T = suhu (K) s = kelarutan per 1000 gr solut Berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut, larutan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : 1.Larutan pekat yaitu larutan yang mengandung relatif lebih banyak solute dibanding solvent. 2. Larutan encer yaitu larutan yang relatif lebih sedikit solute dibanding solvent. Tekanan tidak begitu berpengaruh terhadap daya larut zat padat dan zat cair, tetapi berpengaruh pada daya larut gas. Panas pelarutan yang dihitung ini adalah panas yang diserap jika 1 mol padatan dilarutkan dalam larutan yang sudah dalam keadaan jenuh. Hal ini berbeda dengan panas pelarutan untuk larutan encer yang biasa terdapat dalam table panas pelarutan. Pada umumnya panas pelarutan bernilai (+), sehingga menurut vant hoff kenaikan suhu akan meningkatkan jumlah zat terlarut (panas pelarutan (+)) = endotermis. Sedangkan untuk zat zat yang panas pelarutannya (-) adalah eksotermis. Kenaikan suhu akan menurunkan jumlah zat yang terlarut
(Fisika T. K., 2011).

Suatu larutan jenuh merupakan kesetimbangan dinamis. Kesetimbangan tersebut akan bergeser bila suhu dinaikan. Pada umumnya kelarutan zat padat dalam larutan bertambah bila suhu dinaikan (Dogra, 1984). Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam karboksilat paling sederhana ini bisa digambarkan dengan rumus HOOC COOH. Merupakan asam organik yang relatif kuat, 10.000 kali lebih kuat dari asam asetat. Dianionnya, dikenal sebagai oksalat, juga akan pereduktor. Banyak ion logam yang membentuk endapan tak larut dengan asam oksalat, contoh terbaik adalah kalsium (CaOOC-COOCa), penyusun utama jenis batu ginjal yang sering ditemukan. Asam oksalat memiliki massa molar 90.30 gr mol-1, dengan penampilan berupa kristal putih, densitasnya 1,90 gr cm-3. Kelarutan dalam air yaitu 90 gr dm-3 (pada suhu 2OoC) dan keasamannya (pKa) yaitu 1, 38, 4, 28. Titik nyala yaitu 166oC. Senyawa-senyawa yang terkait yaitu Oksalil klorida, Dinadium oksalat, Kalsium oksalat, dan Fenil oksalat ester. Data diatas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25oC, 100 kPa) (wikipedia, 2013). Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau soda hidroksida adalah sejenis basa logam kauslik. NaOH membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan kedalam air. Ia digunkan diberbagai macam industri, kebanyakan digunakan
Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI - ITS

II-7 BAB II Tinjauan Pustaka sebagai basa dalam proses tekstil, air minum, sabun dan detergen. NaOH adalah basa yang paling umum digunakan dilabolatorium kimia. NaOH murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pellet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. NaOH sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika larutan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol. Walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil dari pada kelarutan KOH. Tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non polar lainnya, meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas. Massa molar NaOH yaitu 39,9971 gr/mol. Penampilan berupa zat padat putih, densitasnya 2,1 gr/cm3, padat, titik lelehnya 3,8oC (591 K), titik didih 1390oC (1663 K), kelarutan dalam air 111 gr/100 ml (20oC), kebebasan (pKe) yaitu 2, 43, titik nyalanya yairu tidak mudah menguap (wikipedia, 2013)
. II.4 Indikator

Indikator adalah suatu zat pennjuk yang dapat membedakan larutan, asam atau basa atau netral. Alearts dan Santika (1984) melampirkan beberapa indikator dan perubahannya pada trayek pH tertentu, kegunaan indikator ini adalah untuk mengetahi beberapa kira-kira pH suatu larutan. Disamping itu juga digunakan untuk mengetahui titik akhir konsentrasi pada beberapa analisa kuantitatif senyawa organik dan senyawa anorganik (wikipedia, 2013). Fenol ftalein adalah indkator titrasi yang lain yang sering digunakan dan fenol ftalein ini merupakan bentuk asam lemah yang lain. Pada kasus ini, asam lemah tidak berwarna dan ion-ionnya berwanra merah muda terang. Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan kearah kiri dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah kekanan untuk menggantikannya mengubah indikator menjadi merah muda. Setelah tingkat terjadi pada pH 9,3. Karena pencampuran warna merah muda dan tak berwarna menghasilkan warna merah muda pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya dengan akurat (wikipedia, 2013). NaOH (natrium Hidroksida) berwarna putih atau praktis putih, massa lebur, berbentuk pellet serpihan atau batang atau bentuka lain. Sangat basa, keras, rapuh dan menunjukan pecahan hablur. Cepat menyerap karbon dioksida dan lembab. Kelarutannya mudah larut dalam air dan dalam etanol. Tetapi tidak larut dalam eter. Titik leleh 3180C serta titik didih 13900C. hidratnya mengandung 7 ; 5 ; 3,5 ; 3 ; 2 ;dan 1 molekul air. NaOH membentuk basa kuat bila dilarutkan dalam air. NaOH murni merupakan padatan berwarna putih, densitas
Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI - ITS

II-8 BAB II Tinjauan Pustaka NaOH adalah 2,1. Senyawa ini mudah terionisasi membentuk ion natrium dan hidroksida
(Dogra, 1984).

Asam okslat ada 2 macam yaitu asam oksalat anhidrat dan asam oksalat dihidrat, asam oksalat anhidrat (C2H2O4) yang memiliki berat molekul 90.04 gr/mol dan mempunyai melting point 1870C. sifat dari asam oksalat anhidrat adalah tidak berbau, berwarna putih dan tidak menyerap air. Asam oksalat dihidrat merupakan jenis asam oksalat yang dijual dipasaran yang mempunyai rumus bangun (C2H4O2.H2O) dengan berat molekul 126,07 gr/mol an melting point 101,50C dan mengandung 71,42 % asam oksalat anhidrat dan 28,58% air, bersifat tidak berbau dan dapat kehilangan molekul air dipanaskan hingga suhu 100 0C (Dogra, 1984). Indikator PP memiliki sifat fisik dan kimianya adalah massa molar 318,329 gr/mol, massa jenis 1,277 gr/mol pada suhu 320C, titik leleh : 262,50C indikator asam basa menunjukan bahwa suatu larutan bersifat asam atau basa, indikator PP (fenolftalein)

mempunyai warna tertentu pada trayek pH/ rentang pH tertentu yang ditunjukan dengan perubahan warna indikator. Bila indikator PP, merupakan indikator yang menunjukan pH basa, berarti ia berada pada rentang pH antara 8,3 10,0 (dari tidak bewarna hingga merah pink). Indikator PP tidak larut dalam air, benzene, tetapi larut dalam etanol dan eter (Dogra,
1984).

Proses apa saja yang bersifat endotermis dalam satu arah adalah eksoterm dalam arah yang lain. Karena proses pembentukan larutan dalam proses pengkristalan berlangsung dengan laju dalam proses pengkristalan berlangsung dengan laju yang sama dengan kesetimbangan maka perubahan energy netto adalah nol. Tetapi jika suhu dinaikkan maka proses akan menyerap kalor. Dalam hal ini pembentukan larutan lebih disukai. Segera setelah sushu dinaikkan tidak berada pada kesetimbangan karena ada lagi zat yang melarut. Suatu zat yang menyerap kalor ketika melarut cenderung lebih mudah larut pada suhu tinggi (Kleinfelter,
1996).

. II.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelarutan, Jenis Pelarut, Suhu, Pengadukan, Kimia Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan (solut) dan pelarut (solven). Pada contoh yang telah diberikan, zat yang dilarutkan adalah obat puyer sakit kepala berbentuk serbuk. Sedangkan yang berperan sebagai pelarut adalah air. Kelarutan adalah nilai konsentrasi maksimum yang

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI - ITS

II-9 BAB II Tinjauan Pustaka dapat dicapai oleh suatu zat dalam larutan. Jadi, kelarutan digunakan untuk menyatakan jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam larutan jenuh. Berdasarkan pengertian kelarutan pada uraian di atas, larutan dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1. Larutan tidak jenuh adalah suatu larutan yang masih dapat melarutkan zat terlarutnya pada suhu tertentu. 2. Larutan jenuh adalah suatu larutan dengan jumlah zat terlarut (molekul atau ion) yang telah maksimum pada suhu tertentu. 3. Larutan lewat jenuh adalah suatu larutan dengan zat terlarut yang melebihi jumlah maksimum kelarutannya pada suhu tertentu. Besarnya kelarutan suatu zat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Jenis Pelarut Pernahkan kalian mencampurkan minyak dengan air? Jika pernah, pasti kalian telah mengetahui bahwa minyak dan air tidak dapat bercampur. Sebab, minyak merupakan senyawa non polar, sedangkan air merupakan senyawa polar. Senyawa non polar tidak dapat larut dalam senyawa polar, begitu juga sebaliknya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa kedua zat bisa bercampur, asalkan keduanya memiliki jenis yang sama. 2. Suhu Kalian sudah mengetahui bahwa gula lebih cepat larut dalam air panas daripada dalam air dingin, bukan? Kelarutan suatu zat berwujud padat semakin tinggi, jika suhunya dinaikkan. Dengan naiknya suhu larutan, jarak antarmolekul zat padat menjadi renggang. Hal ini menyebabkan ikatan antarzat padat mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air, sehingga zat tersebut mudah larut. 3. Pengadukan Dari pengalaman sehari-hari, kita tahu bahwa gula lebih cepat larut dalam air jika diaduk. Dengan diaduk, tumbukan antar partikel gula dengan pelarut akan semakin cepat, sehingga gula mudah larut dalam air. Dalam suatu larutan, semua partikel (solut dan solven) berukuran sebesar molekul atau ion-ion. Partikel itu tersebar secara merata dalam larutan dan menghasilkan satu fase homogen. Karena sedemikian menyatunya penyebaran solut dan solven dalam larutan, sifat fisik larutan sedikit berbeda dengan solven murninya (Premono, 2009). Suatu substansi dapat dikelompokkan sangat mudah larut, dapat larut (Moderately Soluble), sedikit larut (Slightly Soluble), dan tidak dapat larut. Beberapa variabel, misalnya
Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI - ITS

II-10 BAB II Tinjauan Pustaka ukuran ion-ion, muatan dari ion-ion, interaksi atara ion-ion, interaksi antara solute dan solvent, temperature, mempengaruhi kelarutan. Kelarutan dari solute relatif mudah diukur melalui percobaan. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kelarutan antara lain: 1. Sifat alami dari solute dan solvent Substansi polar cenderung lebih miscible atau soluble dengan substansi polar lainnya. Substansi non polar cenderung untuk miscible dengan substansi nonpolar lainnya, dan tidak miscible dengan substansi polar lainnya. 2. Efek dari temperature terhadap kelarutan Kebanyakan zat terlarut mempunyai kelarutan yang terbatas pada sejumlah solvent tertentu dan pada temperatur tertentu pula. Temperature dari solvent memiliki efek yang besar dari zat yang telah larut. Untuk kebanyakan padatan yang terlarut pada liquid, kenaikkan temperatur akan berdampak pada kenaikkan kelarutan (Solubilitas). 3. Efek tekanan pada kelarutan Perubahan kecil dalam tekanan memiliki efek yang kecil pada kelarutan dari padatan dalam cairan tetapi memiliki efek yang besar pada kelarutan gas dalam cairan. Kelaruatn gas dalam cairan berbanding langsung pada tekanan dari gas diatas larutan. Sehingga sejumlah gas yang terlarut dalam larutan akan menjadi dua kali lipat jika tekanan dari gas diatas larutan adalah dua kali lipat. 4. Kelajuan dari zat terlarut a. Ukuran partikel

b. Temperatur dari solvent c. Pengadukan dari larutan

d. Konsentrasi dari larutan


(sukardjo, 1997).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI - ITS

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Variabel Percobaan Variabel Bebas : Aquades, NaOH 1N, Asam oksalat (H2C2O4), Indikator PP, Es Batu, Kertas Label, Tisu. Variabel Kontrol Variabel Terikat : 10oC, 20oC, 30 oC dan 40oC : Pengaruh fungsi suhu terhadap kelarutan suatu larutan

III.2 Bahan Praktikum 1. Aquades 2. Es batu 3. Indikator pp 4. Kertas label 5. Larutan H2C2O4 6. Larutan NaOH 0 7. Tissu

III.3 Alat Praktikum 1. Beaker Glass 2. Buret 3. Corong kaca 4. Erlenmeyer 5. Gelas ukur 6. Kaca arloji 7. Piknometer 8. Pipet tetes 9. Spatula 10. Termometer 11. Timbangan digital

III-1

III-2 BAB III Metodologi Percobaan

III.4 Prosedur Percobaan III.4.1 Percobaan Kelarutan Terhadap Fungsi Suhu Dalam percobaan ini, kelarutan asam oksalat akan diselidiki pada variabel suhu 100 C, 200C, 300C dan 400C. Tahapan percobaannya yaitu : a. Membuat larutan oksalat yang jenuh pada variabel suhu 100C, 200C, 300C dan 400C. Dengan melarutkan asam oksalat kristal ke dalam aquades, kocok hingga kristalnya tidak mau larut. b. Membuat larutan NaOH 1N dalam 100 ml aquades c. Masukkan 2-3 tetes indikator PP ke dalam larutan asam oksalat d. Menuangkan larutan NaOH yang sudah dibuat ke dalam buret e. Menitrasi larutan asam okalat jenuh yang sudah diberi indikator PP dengan menggunakan NaOH sampai larutan jenuh asam oksalat berubah menjadi warna merah muda. f. Mencatat volume NaOH yang berkurang g. Mengulangi tahap a sampai f untuk variable suhu 100C, 200C, 300C dan 400C.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-3 BAB III Metodologi Percobaan

III.5

Diagram Alir Percobaan

III.5.1 Prosedur Mencari Temperatur Kritis MULAI

Membuat larutan oksalat yang jenuh pada variabel suhu 100C, 200C, 300C dan 400C. Dengan melarutkan asam oksalat kristal ke dalam aquades, kocok hingga kristalnya tidak mau larut. . Membuat larutan NaOH 1N dalam 100 ml aquades

Masukkan 2-3 tetes indikator PP ke dalam larutan asam oksalat .


.

Menuangkan larutan NaOH yang sudah dibuat ke dalam buret

Menitrasi larutan asam okalat jenuh yang sudah diberi indikator PP dengan menggunakan NaOH sampai larutan jenuh asam oksalat berubah menjadi warna merah muda.

Mencatat volume NaOH yang berkurang

Mengulangi tahap a sampai f untuk variable suhu 100C, 200C, 300C dan 400C.

SELESAI

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-4 BAB III Metodologi Percobaan

III.6 Gambar Alat Percobaan

Beaker Glass

Buret

Corong Kaca

Erlenmeyer

Gelas ukur

Kaca arloji

Piknometer

Pipet tetes

Spatula

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-5 BAB III Metodologi Percobaan

Termometer

Timbangan elektrik

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Percobaan Tabel IV.1 Hasil Pelarutan Asam Oksalat dengan Aquadest Suhu 10C 20C 30C 40C Massa asam oksalat 0.5 gram 2.5 gram 3.5 gram 5 gram Aquades 10 ml 10 ml 10 ml 10 ml Titrasi NaOH 4.4 ml 9.3 ml 16.55 ml 21.6 ml

IV.2 Pembahasan Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur. Pengaruh kenaikan suhu pada kelarutan zat berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Pada umumnya kelarutan zat padat dalam cairan bertambah dengan naiknya suhu, karena kebanyakan proses pembentukan larutannya bersifat endoterm. Tetapi ada zat yang sebaliknya, yaitu eksoterm dalam melarut. Hasil yang diperoleh pada pengamatan percobaan ini yakni pada suhu 10C banyak asam oksalat 0,5 gram, volume titrasi sebanyak 4.4 ml, pada suhu 20C dengan jumlah asam oksalat 2.5 gram, volume titrasi sebanyak 9.3 ml, pada suhu 30C dengan banyak asam oksalat 3.5 gram, volume titrasi sebanyak 16.55 ml, pada suhu 40C, dengan jumlah asam oksalat 5 gram,volume titrasi sebanyak 21.6 ml. Dari hasil yang diperoleh ini dapat digambarkan bahwa semakin tinggi suhu, maka semakin tinggi kelarutan dari asam oksalat. Dapat dilihat dalam Tabel IV.1 dimana massa asam oksalat makin bertambah apabila semakin meningkatnya suhu. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya suhu larutan membuat reaksi semakin cepat sehinngga terjadi tumbukan di dalam larutan. Hal itu menyebabkan larutan semakin mudah larut dan membutuhkan Alasan digunakannya NaOH sebagai larutan baku untuk titrasi karena sampel yang digunakan Asam Oksalat yang memiliki sifat asam lemah, sementara NaOH

II-1

IV-2 BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN sendiri bersifat basa kuat, sehingga titrasi yang dilakukan disebut titrasi alkalimetri. Kemudian ditambahkan indikator PP. Sedangkan kegunaan titrasi dalam percobaan ini untuk mengetahui konsentrasi Asam oksalat. Suhu merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kelarutan.

Karena kebanyakan bahan kimia dapat menyerap panas bila dilarutkan, sehingga dikatakan mempunyai panas larutan negatif yang menyebabkan kelarutannya meningkat ketika suhu bertambah. Setelah menghitung kelarutan asam oksalat dan entalpi panas pelarutan asam oksalat maka dapat digambarkan dalam sebuah grafik sebagai berikut:
0,8 0,5 0,2 Ln S -0,1 -0,4 -0,7 -1 1/T 0,0035 0,0034 0,0033 0,0032

Grafik VI.1 Hubungan Ln S dan 1/T

Dari grafik hubungan antara Ln S dan I/T diperoleh kesimpulan bahwa masuk grafik mengarah ke panas pelarutan differensial. Dimana panas pelarutan differensial adalah perubahan panas sebagai jumlah mol zat terlarut , dan panas pelarutan diferensial dapat diperoleh dengan mendapatkan kemiringan kurva pada setiap konsentrasi. Jadi panas pelarutan diferensial tergantung pada konsentrasi larutan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa besar nilai kelarutan asam oksalat membuat konsentrasi larutan semakin besar, serta mengakibatkan suhu yang dihasilkan akan semakin tinggi pula.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI-ITS

BAB V KESIMPULAN

Dari hasil yang diperoleh ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu, maka semakin tinggi kelarutan dari asam oksalat. Sehingga asam oksalat yang perlu dilarutkan semakin banyak. Hal ini dikarenakan partikel yang ada dalam asam oksalat semakin cepat bertumbukan apabila suhu dinaikkan. Hasil pengamatan dalam percobaan yakni pada suhu 10C banyak asam oksalat 0,5 gram, volume titrasi sebanyak 4.4 ml, pada suhu 20C dengan jumlah asam oksalat 2.5 gram, volume titrasi sebanyak 9.3 ml, pada suhu 30C dengan banyak asam oksalat 3.5 gram, volume titrasi sebanyak 16.55 ml, pada suhu 40C, dengan jumlah asam oksalat 5 gram,volume titrasi sebanyak 21.6 ml, didapatkan suatu hasil bahwa kelarutan asam oksalat semakin besar sehingga membuat suhu yang dihasilkan semakin tinggi.

V-1

DAFTAR PUSTAKA
Alberty, R. A. (1996). Physical Chemistry 2nd edition. USA: John Wiley and sons inc. Ansel, H. (2005). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi keempat. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Atkins. (1999). Kimia Fisika Jilid II. Jakarta: Erlangga. Atkins, P. (1994). Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga. Dogra, S. (1984). Kimia Fisika dan Soal-Soal. jakarta: UI-Press. Fisika, T. K. (2011). Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisika. semarang: Laboratorium Kimia Universitas Negeri Semarang. Kleinfelter. (1996). Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga. Koesman, r. (2007). Bahan Ajar Kimia Fisika. Makassar. Premono, s. W. (2009). Kimia SMA/MA Kelas XI. Jakarta. sukardjo. (1997). Kimia Fisika. yogyakarta: Rineka Cipta. sukarjdo. (1989). kimia fisika. yogyakarta: BINA AKSARA. syukri. (1999). kimia dasar 2. bandung: ITB. wikipedia. (2013, april 8). wikipedia. Dipetik november 24, 2013, dari wikipedia web site: http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_oksalat

vi

DAFTAR NOTASI

Notasi M V gr

Nama Notasi molaritas volume gram massa jenis

Satuan Molaritas (M) atau Normalitas (N) mililiter gram gram/cm3 atau gram/ml gram/mol Sekon atau menit M-1.s-1 mmol atau milimol mmol atau milimol

Mr t k x a

massa relatif waktu konstanta kecepatan reaksi jumlah mol etil asetat yang bereaksi jumlah mol mula-mula etil asetat

vii

APPENDIKS
Dengan data yang telah diperoleh dari percobaan maka dapat ditentukan kelarutan dan panas pelarutan diferensial pada larutan jenuh asam oksalat adalah sebagai berikut: 1. Menghitung kelarutan dan menghitung panas pelarutan diferensial pada larutan jenuh asam oksalat. 1.1) Pada suhu 10C V1 N1 (4.4 )(1) N2 = 0.44 = = V2 N2 (10) N2 N=M.

Jadi, kelarutan asam oksalat pada 10 ml air di suhu 10C adalah 0.44 N Ln S =

-0.8209 = = 1931.74 J/mol Pada suhu 20C V1 N1 (9.3)(1) N2 = = V2 N2 (10) N2

1.2)

= 0.93 M

Jadi, kelarutan asam oksalat pada 10 ml air di suhu 20C adalah 0.93 N Ln S =

-0,0725 = = 175.39 J/mol Pada suhu 50C V1N1 (16.55)(1) N2 = = = V2N2 (10)N2 1.655 M

1.3)

Jadi, kelarutan asam oksalat pada 10 ml air di suhu 30C adalah 1.655 N Ln S =

0.5038 = = -1269.16 J/mol

vii

1.4)

Pada suhu 40C V1N1 N2


`

= = =

V2N2 (95)N2 2.16 N

(21.6)(1)

Jadi, kelarutan asam oksalat pada 10 ml air di suhu 40C adalah 2.16 N Ln S =

0.7701 = = 2004.0345 J/mol

2. Menghitung Banyaknya padatan NaOH 1N dalam 100ml N M M 1 =M.e =1 = =

Massa = 4 gram Jadi massa NaOH padatan yang dibutuhkan untuk membuat NaOH 1N dalam 100ml 4gram 3. Menghitung massa jenis larutan asam oksalat dengan menggunakan picnometer. Adapun hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:

= = = 1 gr/ml

viii