Anda di halaman 1dari 46

TUGAS AKHIR

ANALISIS PROGRAM PROMOTIF DAN PREVENTIF HUBUNGANNYA DENGAN PROGRAM JAMINAN PERSALINAN DI PUSKESMAS SEI SELINCAH PALEMBANG TAHUN 2011

TUGAS AKHIR ANALISIS PROGRAM PROMOTIF DAN PREVENTIF HUBUNGANNYA DENGAN PROGRAM JAMINAN PERSALINAN DI PUSKESMAS SEI SELINCAH

Oleh:

Nur Eka Sanfitri, S.Ked

0410871001065

Pembimbing:

DR. dr. Fachmi Idris, M.Kes

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2012

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan akhir studi kepaniteraan klinik senior IKK-IKM yang berjudul :

ANALISIS PROGRAM PROMOTIF DAN PREVENTIF HUBUNGANNYA DENGAN PROGRAM JAMINAN PERSALINAN DI PUSKESMAS SEI SELINCAH PALEMBANG TAHUN 2011

Oleh:

Nur Eka Sanfitri, S.Ked

0410871001065

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang periode 21 Mei 2012 – 30 Juli 2012.

Pembimbing I,

Pembimbing II,

DR.Dr.H.Fachmi Idris,M.Kes

Dr.H.M.A.Husnil Farouk,MPH

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya,

Dr.Zulkarnain,M.Med.SC

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena dengan rahmat- Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Analisis Program Promotif Dan Preventif Hubungannya Dengan Program Jaminan

Persalinan Di Puskesmas Sei Selincah Tahun 2011. Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada DR.dr.Fachmi Idris,M.Kes selaku Pembimbing I dan Dr.H.M.A.Husnil Farouk,MPH selaku Pembimbing II. Penulis menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca, khususnya civitas akademika Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas.

Palembang, Juli 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul........................................................................................................... ....................................................................................................................................

i

Halaman Pengesahan................................................................................................. ....................................................................................................................................

ii

Kata Pengantar........................................................................................................... ....................................................................................................................................

iii

Daftar Isi.................................................................................................................... ....................................................................................................................................

iv Daftar Tabel...............................................................................................................

v

Daftar Bagan..............................................................................................................

vi

Daftar Lampiran.........................................................................................................

vii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang.............................................................................................

1.2

Rumusan Masalah.......................................................................................

1.3

Tujuan Penelitian........................................................................................

1.4

Manfaat Penelitian......................................................................................

BAB II

ANALISIS INPUT

2.1

Analisis Man...................................................................................................

2.2

Analisis Money................................................................................................

2.3

Analisis Material............................................................................................

2.4

Analisis Method..............................................................................................

BAB III ANALISIS PROCESS

3.2

Analisis Pengorganisasian..........................................................................

  • 3.3 Analisis Pergerakan-Pelaksanaan...............................................................

  • 3.4 Analisis Kontrol Pelaksanaan.....................................................................

BAB IV ANALISIS OUTPUT................................................................................

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  • 5.1 Kesimpulan.................................................................................................

  • 5.2 Saran...........................................................................................................

Daftar Pustaka........................................................................................................... Lampiran...................................................................................................................

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Besaran tarif pelayanan Jaminan Persalinan pada pelayanan dasar ........... Tabel 2. Bukti penunjang klaim di pelayanan tingkat dasar ..................................... Tabel 3. Klaim oleh Puskesmas................................................................................. Tabel 4. Perbandingan jumlah kunjungan tahun 2010 dan tahun 2011 ....................

DAFTAR BAGAN

Bagan 1. Penyaluran dan pertanggungjawaban dana Jamkesmas.............................

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Wawancara dengan Kepala Puskesmas................................................. Lampiran 2. Wawancara dengan Pemegang Program............................................... Lampiran 3. Wawancara dengan Bidan Praktek Swasta...........................................

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1. Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator status kesehatan masyarakat. AKI di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Develoment Goals/MDG’s 2000) pada tahun 2015, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102. Kematian ibu juga diakibatkan beberapa faktor resiko keterlambatan (Tiga Terlambat), di antaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan (terlambat mengambil keputusan), terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan, dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat dalam keadaan emergensi. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, sesuai dengan Standar Pelayanan Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Dengan demikian dalam penyelenggaran Jaminan Persalinan semua atribut program seperti Buku KIA, partograf dan kohort menjadi kewajiban untuk dilaksanakan meskipun harus dibedakan dengan syarat kelengkapan lain.

Menurut hasil Riskesdas 2010, persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin (Quintile 1) baru mencapai sekitar 69,3%. Sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4%. Salah satu kendala penting untuk mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan adalah keterbatasan dan ketidak-tersediaan biaya sehingga diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan melalui kebijakan yang disebut Jaminan Persalinan. Jaminan Persalinan dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan, yang didalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir. Dengan demikian, kehadiran Jaminan Persalinan diharapkan dapat mengurangi terjadinya Tiga Terlambat tersebut sehingga dapat mendorong akselerasi tujuan pencapaian MDGs. Pada penulisan makalah ini diambil data dari puskesmas yang ada di kota Palembang yaitu Puskesmas Sei Selincah. Didata jumlah ibu hamil dan jumlah pemeriksaan kehamilan (antenatal care) yang tercatat selama periode 1 Januari 2010-31 Desember 2010 dan periode 1 Januari 2011-31 Desember 2011. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai analisis kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil dengan program jampersal di puskesmas sei selincah palembang.

  • 1.2. Rumusan Masalah Dapat dirumuskan beberapa masalah yang terkait dengan kualitas program

promotif dan preventif setelah adanya program Jaminan Persalinan, yaitu:

  • 1. Bagaimana input (masukan) di Puskesmas Sei Selincah Palembang untuk terlaksananya program Jaminan Persalinan?

  • 2. Bagaimana proses penyelenggaraan program Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah Palembang?

1.3.

Tujuan

1.3.1.

Tujuan Umum

Mengetahui peran program Jaminan Persalinan dalam pelaksanaan program promotif dan preventif di Puskesmas Sei Selincah Palembang

  • 1.3.2 Tujuan Khusus

    • 1. Mengetahui keadaan input di Puskesmas Sei Selincah untuk terlaksananya program Jaminan Persalinan.

    • 2. Mengetahui proses penyelenggaraan Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah.

    • 3. Mengetahui capaian program promotif dan preventif di Puskesmas Sei selincah hubungannya dengan adanya Jaminan Persalinan.

1.4 Manfaat

Tugas

akhir

ini

diharapkan

dapat

memberikan

informasi

mengenai

program Jaminan Persalinan.

  • 1. Bagi Puskesmas Menjadi salah satu acuan dalam mengevaluasi dan meningkatkan program Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah.

  • 2. Bagi Dinas Kesehatan Sebagai sarana informasi sehingga dapat memberikan saran dan dukungan terhadap program Jaminan Persalinan

  • 3. Bagi Mahasiswa Menambah pengetahuan mengenai program Jaminan Persalinan dan pengalaman yang menjadi bekal saat bertugas di puskesmas pada masa yang akan datang.

Sebagai

sumber

data

awal

untuk

membantu

analisis

program

Jaminan Persalinan dan dapat digunakan sebagai data awal untuk

penelitian lebih lanjut.

BAB II ANALISA INPUT

2.1. Analisa Man Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, TNI/POLRI, dan Swasta. Fasilitas kesehatan yang termasuk dalam program ini adalah fasilitas pelayanan persalinan tingkat pertama, fasilitas pelayanan persalinan tingkat lanjutan dan pelayanan persalinan persiapan rujukan. Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri, Klinik Bersalin, Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi. Pelayanan persalinan tingkat pertama diberikan di Puskesmas dan Puskesmas PONED (untuk kasus tertentu), serta jaringannya termasuk Polindes dan Poskesdes, fasilitas kesehatan swasta (bidan, dokter, klinik, rumah bersalin) yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota. Pelayanan persalinan tingkat pertama diberikan oleh dokter atau bidan yang berkompeten dan berwenang memberikan pelayanan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas dan pelayanan KB pasca salin, serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk pelayanan persiapan rujukan pada saat terjadinya komplikasi (kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir serta KB paska salin) tingkat pertama. Pelayanan persalinan tingkat lanjutan untuk rawat jalan diberikan di poliklinik spesialis Rumah Sakit, sedangkan rawat inap diberikan di fasilitas perawatan kelas III di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota. Pelayananan persalinan tingkat lanjutan diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. Pelaksanaan program Jampersal untuk pelayanan persalinan tingkat pertama di Puskesmas Sei Selincah Palembang dilakukan oleh bidan berkompeten dan dokter yang bertugas di Puskesmas Sei Selincah. Pelayanan ini juga diberikan oleh fasilitas kesehatan swasta. Pada wilayah kerja Puskesmas Sei Selincah terdapat tiga bidan praktek swasta yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama dengan Tim Pengelola Kota. Pelayanan jaminan persalinan yang diberikan di puskesmas ataupun di bidan praktek swasta meliputi:

Pemeriksaan kehamilan

Pemeriksaan kehamilan yang diberikan di Puskesmas dan bidan praktek swasta di wilayah kerja Puskesmas Sei Selincah dilakukan minimal sebanyak 4 kali. Penatalaksanaan persalinan

Puskesmas Sei Selincah belum membuka pelayanan penatalaksanaan persalinan karena keterbatasan jumlah tenaga kesehatan (bidan) sehingga penatalaksanaan persalinan di wilayah Puskesmas Sei Selincah dilakukan oleh Bidan Praktek Swasta yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama dan sudah mendapat rujukan dari Puskesmas Sei Selincah. Puskesmas akan merujuk kehamilan dan persalinan dengan resiko tinggi ke Rumah Sakit. Pelayanan nifas

Puskesmas Sei Selincah memberikan pelayanan nifas sesuai standar meliputi pelayanan nifas (khusus Kf1 dan KN1 diberikan oleh Bidan Praktek Swasta atau Rumah Sakit rujukan karena Puskesmas belum memberikan pelayanan persalinan), pelayanan bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin. Kesimpulan :

Tenaga kesehatan dan pelayanan yang diberikan di Puskesmas Sei Selincah sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2562/MENKES/PER/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Untuk Pelayanan Persalinan Normal belum dilakukan oleh Puskesmas Sei Selincah karena keterbatasan jumlah tenaga kesehatan (bidan) sehingga untuk pelayanan ini dirujuk ke Bidan Praktek Swasta.

2.2 Analisa Money Pendanaan Jaminan Persalinan merupakan bagian integral dari pendanaan Jamkesmas, sehingga pengelolaannya pada Tim Pengelola/Dinas Kesehatan Kab/Kota tidak dilakukan secara terpisah baik untuk pelayanan tingkat pertama/ pelayanan dasar maupun untuk pelayanan tingkat lanjutan/ rujukan. Pengelolaan dana Jamkesmas di pelayanan tingkat pertama/ pelayanan dasar dilakukan oleh

Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Jamkesmas Tingkat Kabupaten/Kota sedangkan pelayanan tingkat lanjutan/ rujukan dilakukan oleh RS. Alokasi dana Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota diperhitungkan berdasarkan estimasi proyeksi jumlah bumil peserta Jamkesmas dan sasaran bumil penerima manfaat Jaminan Persalinan yang belum memiliki jaminan persalinan di daerah tersebut dikalikan total besaran biaya paket pelayanan persalinan tingkat pertama. Alokasi dana Jaminan Persalinan di PPK Tingkat Lanjutan/Rujukan diperhitungkan berdasarkan perkiraan jumlah bumil peserta Jamkesmas dan sasaran bumil penerima manfaat Jaminan Persalinan yang belum memiliki jaminan persalinan dengan resiko tinggi/dengan komplikasi yang perlu mendapatkan penanganan di PPK Lanjutan/Rujukan di daerah tersebut dikalikan rata-rata besaran biaya paket pelayanan persalinan resiko tinggi/dengan komplikasi menurut INA CBGs. Penyaluran Dana Ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dilakukan melalui rekening khusus Jamkesmas dalam bentuk giro bank yang dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dana Jamkesmas dan Jaminan Persalinan untuk Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan disalurkan langsung dari Kementerian Kesehatan melalui KPPN ke rekening Fasilitas Kesehatan Pemberi Pelayanan Kesehatan secara bertahap sesuai kebutuhan.

Besarnya tarif pelayanan jaminan persalinan di fasilitas kesehatan dasar adalah:

Besarnya tarif pelayanan jaminan persalinan di fasilitas kesehatan dasar

adalah:

Besarnya tarif pelayanan jaminan persalinan di fasilitas kesehatan dasar adalah:
Keterangan: 1. Biaya-biaya Jaminan persalinan pada fasilitas kesehatan dasar a. Klaim persalinan ini tidak harus dalam

Keterangan:

1. Biaya-biaya Jaminan persalinan pada fasilitas kesehatan dasar

  • a. Klaim persalinan ini tidak harus dalam paket (menyeluruh) tetapi dapat dilakukan klaim terpisah, misalnya ANC saja, persalinan saja atau PNC saja.

b.Pelayanan nomor 4 dibayarkan apabila dilakukan tindakan stabilisasi pasien pra rujukan.

  • c. Pelayanan nomor 5a dan 5b dilakukan pada fasilitas kesehatan tingkat I PONED yang

mempunyai kemampuan dan sesuai kompetensinya. d.Untuk kasus-kasus yang pada waktu ANC telah diduga/diperkirakan adanya risiko persalinan, pasien sudah dipersiapkan jauh hari untuk dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih baik dan mampu seperti Rumah Sakit.

  • e. Di daerah yang tidak memiliki fasilitas kesehatan Puskesmas PONED dengan geografis yang

  • f. tidak memungkinkan, bidan dapat diberikan kewenangan oleh Kepala Dinas Kesehatan dengan penugasan sebagaimana telah diatur dalam Permenkes Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan; sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. 2. Besaran biaya untuk pelayanan Jaminan persalinan, komplikasi kehamilan, komplikasi nifas dan komplikasi bayi baru lahir, maupun pelayanan rujukan terencana tingkat lanjutan menggunakan tarif paket Indonesia Case Base Group (INA-CBGs).

Pengelolaan dana Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dilakukan oleh Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang memiliki tugas meliputi

penerimaan dari Pusat, verifikasi atas klaim, pembayaran, dan

pertanggungjawaban klaim dari fasilitas kesehatan Puskesmas dan lainnya. Tim pengelola Jamkesmas Kabupaten/kota melakukan pembayaran atas klaim dengan langkah sebagai berikut :

  • 1. Puskesmas melakukan pengajuan klaim atas: Pelayanan Persalinan (baik untuk peserta Jamkesmas dan maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan non peserta Jamkesmas) mengacu pada tarif pelayanan janpersal yang ditetapkan Menkes (biaya tarif pelayanan Jaminan Persalinan sebagaimana tercantum dalam Tabel.1).

  • 2. Klaim pelayanan Jaminan Persalinan yang diajukan fasilitas/tenaga kesehatan swasta (Bidan praktik mandiri, Klinik Bersalin, dsb) yang telah memberikan pelayanan persalinan, sesuai tarif sebagaimana dimaksud (lihat tarif pelayanan persalinan)

  • 3. Pembayaran atas klaim-klaim sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b dilakukan berdasarkan hasil Verifikasi yang dilakukan Tim Pengelola Kabupaten/Kota.

  • 4. Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota melakukan verifikasi atas klaim mencakup:

    • a. Kesesuaian realisasi pelayanan dan besaran tarif disertai bukti pendukungnya.

    • b. Pengecekan klaim dari fasilitas/tenaga kesehatan swasta yang memberikan pelayanan Jaminan Persalinan beserta bukti pendukungnya.

    • c. Melakukan kunjungan ke lapangan untuk pengecekan kesesuaian dengan kondisi sebenarnya bila diperlukan.

    • d. Memberikan rekomendasi dan laporan pertanggungjawaban atas klaim-klaim tersebut kepada Kepala Dinas Kesehatan setiap bulan yang akan dijadikan laporan pertanggungjawaban keuangan ke Pusat.

    • e. Seluruh berkas rincian bukti-bukti yakni;

i. Dokumen pengeluaran dana dan dokumen atas klaim Jamkesmas dan Persalinan di Pelayanan Dasar oleh Puskesmas dan Fasilitas Kesehatan swasta serta, ii. Bukti-bukti pendukung klaim sebagaimana dipersyaratkan, disimpan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai dokumen yang dipersiapkan apabila dilakukan audit oleh Aparat Pengawas Fungsional (APF).

  • f. Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota membuat dan mengirimkan pertanggungjawaban berupa Laporan Rekapitulasi Realisasi Penggunaan Dana dan Pemanfaatan Pelayanan Jamkesmas dan Jaminan Persalinan di Pelayanan Dasar yang telah dibayarkan ke Puskesmas dan Fasilitas Kesehatan swasta ke Tim Pengelola Pusat c.q. Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan dan TP Jamkesmas Provinsi c.q. Dinas Kesehatan Provinsi

  • g. Untuk mempercepat penyampaian informasi mengenai pemanfaatan pelayanan Jamkesmas dan Jaminan Persalinan serta penyerapan dana, Tim Pengelola Kabupaten/Kota mengirimkan rekapitulasi pemanfaatan program melalui format yang ditentukan berbasis web kepada Tim Pengelola Jamkesmas Pusat.

Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas

kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi:

1.

Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau

identitas lainnya), dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. 2. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas, termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu, dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. Untuk

pemenuhan buku KIA di daerah, Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA).

  • 3. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan.

  • 4. Fotokopi/tembusan surat rujukan, termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga.

pemenuhan buku KIA di daerah, Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah

Pemanfaatan dana (penggunaan dana setelah menjadi pendapatan fasilitas kesehatan baik fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta) di fasilitas kesehatan pemerintah baik fasilitas kesehatan tingkat pertama/dasar maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjutan/rujukan, mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku/tata kelola keuangan daerah dan pengaturannya bergantung pada

status fasilitas kesehatan tersebut; apakah BLU/BLUD atau non BLU/BLUD. Pemanfaatan dana yang diterima oleh Dokter Praktik/Bidan Praktik Mandiri, sepenuhnya menjadi hak Dokter Praktik/Bidan Praktik Mandiri. Pemanfaatan dana pada Puskesmas dengan Status BLUD adalah :

  • 1. Dana jamkesmas dan dana persalinan terintegrasi menjadi satu yang masuk dalam APBN merupakan dana belanja bantuan sosial yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan peserta Jamkesmas dan pelayanan persalinan bagi seluruh sasaran yang membutuhkan.

  • 2. Setelah dana tersebut disalurkan pemerintah rekening Kepala Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program, maka status dana tersebut berubah menjadi dana masyarakat (sasaran).

  • 3. Setelah Puskesmas dan jaringannya, melakukan pelayanan kesehatan dan mendapatkan pembayaran klaim dari Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/kota, maka status dana tersebut berubah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan.

  • 4. Dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas BLUD) sebagaimana dimaksud angka tiga 3 (tiga), maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan oleh Puskesmas sesuai RBA/DPA-BLUD yang telah ditetapkan termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan.

  • 5. Besaran jasa pelayanan persalinan sebagaimana dimaksud angka 4 (empat) minimal sebesar 75 % dibayarkan kepada pemberi pelayanan dengan memperhatikan maksud pemberian insentif agar terjadi akselerasi tujuan program dan tujuan MDGs, terutama pencapaian penurunan angka kematian ibu bersalin.

  • 6. Pengaturan sebagaimana dimaksud pada angka 5 (lima) diatur melalui peraturan Bupati/Walikota atas usulan Kepala Dinas Kesehatan yang didasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan tentang Petunjuk teknis pelaksanaan ini.

Pemanfaatan dana untuk Bidan Praktik mandiri, Fasilitas kesehatan swasta adalah:

  • 1. Dana jaminan persalinan (Jampersal) dalam APBN merupakan dana belanja bantuan sosial yang diperuntukkan untuk pelayanan persalinan bagi seluruh sasaran yang membutuhkan.

  • 2. Dana tersebut setelah disalurkan pemerintah melalui SP2D ke rekening Kepala Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program, maka status dana tersebut berubah menjadi dana masyarakat (sasaran).

  • 3. Setelah Bidan Praktik Mandiri, Dokter Praktik, Klinik Bersalin dan fasilitas kesehatan lainnya (yang sudah bekerjasama dengan Dinas Kesehatan), melakukan pelayanan kesehatan dan mendapatkan pembayaran klaim dari Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/kota, maka status dana tersebut berubah menjadi pendapatan/penerimaan tenaga atau fasilitas kesehatan swasta tersebut.

  • 4. Dana yang telah menjadi pendapatan tenaga atau fasilitas kesehatan swasta

tersebut (yang sudah bekerjasama dengan Dinas Kesehatan) sepenuhnya menjadi pendapatan fasilitas tersebut dan dapat digunakan langsung. Pendanaan Jampersal di Puskesmas Sei Selincah didapat melalui Dinas Kesehatan Kota Palembang melalui Tim Pengelola Dinas Kesehatan Kota. Puskesmas mendapatkan pembayaran Jampersal setelah melakukan klaim ke Tim Pengelola Jamkesmas Kota dengan langkah:

Puskesmas melakukan pengajuan klaim atas:

Pelayanan Persalinan (baik untuk peserta Jamkesmas dan maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan non peserta Jamkesmas) mengacu pada tarif pelayanan janpersal yang ditetapkan Menkes (biaya tarif pelayanan Jaminan Persalinan sebagaimana tercantum dalam Tabel.1). Puskesmas Sei Selincah belum membuka pelayanan persalinan normal, sehingga klaim yang diajukan Puskesmas meliputu klaim untuk pelayanan pemeriksaan kehamilan, pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir, pelayanan pra rujukan pada komplikasi kebidanan dan neonatal serta pelayanan KB Pasca Persalinan. Klaim persalinan dilakukan secara terpisah (hanya ANC dan PNC) karena Puskesmas merujuk pelayanan persalinan ke Bidan

Praktek Swasta daerah kerja Puskesmas Sei Selincah dan Rumah Sakit

untuk kehamilan dan persalinan resiko tinggi. Biaya klaim yang diajukan oleh Puskesmas adalah:

Tabel 3. Klaim oleh Puskesmas

No.

Jenis

Frek

Tarif

Jumlah

Ket

Pelayanan

(Rp)

(Rp)

  • 1. Pemeriksaan

4

20.000

80.0000

Klaim yang diajukan

setiap ibu hamil.

Kehamilan

kali

oleh Puskesmas untuk

(ANC)

ANC meliputi 4 kali

ANC walaupun ANC yang dilakukan lebih dari 4 kali untuk

  • 2. Pelayanan ibu

3

20.000

60.000

Klaim yang dilakukan

persalinan.

nifas dan bayi baru lahir

kali

oleh Puskesmas hanya untuk 3 kali frekuensi

karena untuk pelayanan Kf1 dan KN1 dilakukan oleh Bidan Praktek Swasta setelah pelayanan

  • 3. Pelayanan

pra

1

100.000

100.000

Rujukan

ini

rujukan

pada

kali

dipersiapkan sejak

Sakit.

komplikasi

diperkirakan adanya

kebidanan dan

risiko persalinan saat

neonatal

ANC. Rujukan ini

ditujukan ke Rumah

  • 4. KB Pasca

1

     

Salin

kali

a. IUD,

60.000

  • 60.000 ini

KB Pasca Salin

Implant

diberikan sebelum 40

b. Suntik

10.000

  • 10.000 setelah

hari

melahirkan.

Puskesmas juga menyertakan berkas rincian bukti telah memberikan pelayanan jaminan persalinan pada saat mengajukan klaim. Berkas rincian bukti tersebut antara lain :

  • 1. Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya), dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas.

  • 2. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas, termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu, digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani.

  • 3. Fotokopi/tembusan surat rujukan, termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga.

Tim Pengelola Jamkesmas Kota akan melakukan verifikasi atas klaim yang diajukan setelah Puskesmas mengajukan klaim, Setelah Puskesmas dan jaringannya, melakukan pelayanan kesehatan dan mendapatkan pembayaran klaim dari Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/kota, maka status dana tersebut berubah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan. Kesimpulan :

Pendanaan di Puskesmas Sei Selincah sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2562/MENKES/PER/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Tetapi masih terdapat beberapa masalah seperti berapa besarnya biaya jasa yang didapatkan oleh bidan Puskesmas karena Peraturan Menteri ini hanya mengatur minimal sebanyak 75% dari besarnya jasa pelayanan dibayarkan pada pemberi pelayanan tanpa aturan lebih lanjut.

2.3. Analisis Material Pelayanan persalinan tingkat pertama program Jaminan Persalinan dilakukan di Puskesmas, Puskesmas PONED dan fasilitas kesehatan swasta (bidan, dokter, rumah bersalin) yang memiliki Perjanjian Kerja Sama. Sarana dan prasarana yang dibuuhkan untuk menyukseskan program Jaminan Persalinan ini antara lain:

Sarana medis

o

o

Ruang konseling, ruang pemeriksaan ibu hamil, ruang persalinan

dan meja resusitasi neonatus, ruang perawatan o Alat pemeriksaan kehamilan umum (stetoskop, alat pengukur tekanan darah, alat pengukur suhu tubuh, meteran, timbangan, pengukur tinggi badan), USG Laboratorium medis

Sarana penyuluhan

Leaflet, pamflet Sarana khusus

o Alat dan obat kontrasepsi (IUD, Implant, Suntik) Puskesmas Sei Selincah merupakan Puskesmas yang memiliki pelayanan cukup lengkap. Puskesmas ini memiliki ruang konseling yang digabung dengan ruang periksa hamil, ruang persalinan, meja resusitasi, ruang perawatan dan laboratorium medis. Alat untuk pemeriksaan kehamilan, alat pertolongan persalinan dan alat resusitasi neonatus sudah dimiliki oleh Puskesmas Sei Selincah. Puskesmas ini juga memiliki alat USG dan mendapatkan kunjungan dari dokter spesialis kebidanan dan kandungan selama dua hari dalam satu minggu. Pemeriksaan darah rutin, proteinuria serta reduksi urin dapat dilakukan di laboratorium Puskesmas Sei Selincah. Pemeriksaan ini penting untuk deteksi dini ibu hamil untuk mencegah pre-eklamsia. Alat dan kontrasepsi yang tersedia di Puskesmas ini cukup untuk melayani pasien. Kesimpulan:

Material yang tersedia di Puskesmas Sei Selincah mendukung untuk dilakukan program Jaminan Persalinan.

2.4. Analisa Method Metode yang digunakan pemerintah untuk menjamin persalinan penduduk yang tidak mampu adalah melalui program Jaminan Persalinan. Jaminan Persalinan ini didukung oleh pemerintah melaui Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia No. 2562/MENKES/PER/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan yang kemudian petunjuk tekhnis ini diikuti dan diterapkan oleh Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan persalinan tingkat dasar. Petunjuk teknis ini mengatur tentang ruang lingkup Jaminan Persalinan, paket manfaat dan tata laksana pelayanan Jaminan Persalinan, pendanaan Jaminan Persalinan, pengorganisasian, indicator keberhasilan, pemantauan dan evaluasi. Puskesmas Sei Selincah sudah mengikuti dan menerapkan Petunjuk Teknis ini dalam menyelenggarakan program Jaminan Persalinan. Kesimpulan:

Metode yang digunakan sesuai dengan standard input nasional yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2562/MENKES/PER/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.

BAB III ANALISA PROCESS

3.1 Analisa Perencanaan

Perencanaan program Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah dimaksudkan agar pelaksanaan program Jaminan Persalinan ini dapat berjalan

secara efektif dan efisien. Langkah-langkah dalam perencanaan program Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah adalah:

  • 1. Analisa situasi

Puskesmas Sei Selincah memiliki jumlah warga miskin hampir 1/3 dari jumlah total penduduk di wilayah kerjanya. Tidak semua warga miskin ini memiliki jaminan kesehatan yang disediakan oleh pemerinah sehingga masih terdapat ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya dan melakukan persalinan di tenaga kesehatan (Puskesmas, BIdan Praktek Swasta).

  • 2. Identifikasi masalah dan penetapan prioritas masalah Beberapa isu yang masih menjadi masalah di Puskesmas Sei Selincah Palembang adalah:

    • a. Masih terdapat ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya secara rutin ke Puskesmas atau Bidan praktek Swasta.

    • b. Masih ada persalinan yang ditolong oleh dukun.

    • c. Cakupan kunjungan nifas belum memenuhi target.

    • d. Belum semua kematian ibu terlaporkan.

Prioritas masalah pada Puskesmas Sei Selincah adalah

a.Peningkatan pelayanan antenatal berkualitas dalam mendukung Jampersal.

  • b. Peningkatan persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.

Tujuan program Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah adalah:

1. Tujuan Umum

Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. 2. Tujuan Khusus

  • a. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

  • b. Meningkatnya cakupan pelayanan: 1) Bayi baru lahir. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir, KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

  • c. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel.

Target yang akan dicapai melalui program Jaminan Persalinan ini antara lain:

  • 1. Kinerja Program (sesuai dengan Program KIA)

  • a. Cakupan K1

: 97%

  • b. Cakupan K4

: 92%

  • c. Cakupan Pertolongan Persalinan

: 90%

  • d. Cakupan Pelayanan Nifas

: 90%

  • 2. Kinerja Pendanaan dan Tata Kelola Keuangan

    • a. Termanfaatkannya dana Jaminan persalinan Bagi seluruh sasaran

    • b. Terselenggaranya proses klaim terhadap pelayanan Jaminan Persalinan

  • a. Penggunaan sistem pencatatan kohort dan pertograf

  • b. Penjabaran dari kebijakan kementrian kesehatan Republik Indonesia belum terlalu jelas, spesifik.

  • 5. Merumuskan strategi atau kegiatan yang harus dilaksanakan

    • a. Meningkatkan jangkauan pelayanan ANC melalui kunjungan rumah

    • b. Meningkatkan persalinan ditolong nakes melalui kemitraan bidan dan dukun

    • c. Meningkatkan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan melalui peningkatan kapasitas Puskesmas dan jaringannya serta swasta

    • d. Meningkatkan jangkauan pelayanan nifas melalui kunjungan rumah

    • e. Meningkatkan pelayanan KB pasca persalinan melalui konseling KB metode jangka panjang pada ANC

  • f. Adanya mekanisme pelaporan kematian ibu berbasis masyarakat dan fasilitas di Desa Siaga Setelah dibuat perencanaan, maka tahap berikuntya adalah menyusun Plan of Action untuk dibahas dalam minilokakarya bulanan/tribulanan.

3.2 Analisis Pengorganisasian

Puskemas Sei Selincah membentuk tim koordinasi program Jaminan

Persalinan yang terdiri dari pimpinan puskesmas sebagai pelindung dan bidan- bidan KIA yang berkompeten sebagai ketua, sekretaris dan anggota program Jaminan Persalinan. Pengorganisasian program Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah Palembang:

Pelindung

: Dr.Hj.Sri Mariawati

Ketua

: Nirmaini, Am.Keb

Sekretaris

: Sri Hartati, Am.Keb

Anggota

: Mardalena, Am.Keb Dahliana Lubis, Am.Keb

3.3 Analisis Pergerakan-Pelaksanaan

Pada proses penggerakan pelaksanaan, Kepala Puskesmas Sei Selincah dapat melakukan monitoring dan supervisi terhadap kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan oleh petugas puskesmas termasuk Bidan Praktek Swasta. Pada akhir/awal bulan berikutnya sebelum mengajukan perencanaan untuk bulan berikutnya, Puskesmas melakukan rekapitulasi pencatatan dan menyusun laporan serta melakukan evaluasi (laporan kegiatan, PWS). Hasil evaluasi kegiatan dibahas dalam minilokakarya Puskesmas untuk menilai keberhasilan kegiatan, mengetahui berbagai permasalahan dan mencari solusi serta menyusun kegiatan (POA) pada bulan berikutnya. Program Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah sudah dapat dilaksanakan sejak tahun 2011. Pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai dengan buku KIA yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, tetapi Puskesmas belum membuka untuk pelayanan persalinan normal. Seperti yang disampaikan oleh ketua program Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah

“…….Kalau yang menolong persalinannya bidan wilayah puskesmas, karena kalau kami (bidan pkm) tidak memiliki waktu, tenaga untuk menolong. Ada 3

bidan yang sudah MOU dengan jampersal. Bidan sri nirmala, bidan yusida, bidan masdewati. Kalau bidan puskesmas ini belum melakukan pelayanan jampersal persalinan karena tenaga. Karena bidan ini harus melayani rawat jalan dll, kalau ada tenaga tambahan baru bisa.” Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Jaminan Persalinan, pertolongan persalinan diberikan di Puskesmas tetapi peraturan ini memperbolehkan fasilitas kesehatan swasta seperti Bidan Praktek Mandiri yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama untuk memberikan pertolongan persalinan setelah mendapat rujukan dari Puskesmas, sedangkan untuk pasien persalinan resiko tinggi dirujuk ke Rumah Sakit. Cakupan kunjungan ibu hamil dan nifas yang datang ke Puskesmas mengalami peningkatan setelah ada program Jaminan Persalinan. Kualitas

pelaksanaan pelayanan Jaminan Persalinan cukup baik terlihat dari jumlah kunjungan K1 dan K4 yang sama tinggi dan mencapai target.

Pelaksanaan proses klaim pembayaran Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah memiliki beberapa hambatan antara lain proses klaim pada awal tahun yang lama dan kurang jelasnya kebijakan mengenai klaim dana pembayaran. Hal ini dikeluhkan oleh bidan puskesmas yang melayani program Jaminan Persalinan, “…….Kurangnya jampersal ini adalah lamanya proses klaim. Kami juga tidak diberi tahu jumlah yang diklaim, misalnya kami

mengklaim 50 pasien tetapi kemudian kami tidak diberi tahu berapa jumlah yang di klaim dan berapa yang tidak di klaim….”. Dalam peraturan menteri disebutkan bahwa ,” Besaran jasa pelayanan persalinan sebagaimana dimaksud angka 4 (empat) minimal sebesar 75 % dibayarkan kepada pemberi pelayanan dengan memperhatikan maksud pemberian insentif agar terjadi akselerasi tujuan program dan tujuan MDGs, terutama pencapaian penurunan angka kematian ibu bersalin”, tetapi tidak disebutkan dengan jelas berapa pembagiannya untuk puskesmas, bidan, kriteria klaim yang dibayarkan dan waktu pembayarannya.

3.4 Analisis Kontrol Pelaksanaan Puskesmas

Puskesmas melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala baik

bulanan, triwulan maupun tahunan melalui kegiatan seperti:

  • 1. Minilokakarya Puskesmas Supervisi

2.

Kontrol pelaksanaan ini meliputi pengawasan mengenai pelayanan kesehatan yang diberikan, capaian target, dan hambatan-hambatan yang ditemukan dalam

pelaksanaan program.

BAB IV ANALISA OUTPUT

Jaminan Persalinan diharapkan memberikan kontribusi dalam upaya untuk meningkatkan cakupan pencapaian program KIA. Untuk mengukur/melihat

keberhasilan Jaminan Persalinan sebagai dasardalam menilai keberhasilan dan pencapaian pelaksanaan Jaminan Persalinan digunakan beberapa kelompok indikator-indikator sebagai berikut:

Indikator Kinerja Program (sesuai dengan Program KIA)

  • a. Cakupan K1

  • b. Cakupan K4

  • c. Cakupan pertolongan persalinan

  • d. Cakupan pelayanan nifas lengkap (KF lengkap)

Tabel 4. Perbandingan jumlah kunjungan tahun 2010 (sebelum Jampersal) dan

2011 (setelah Jampersal)

Pelayanan Dasar

2010

2011

ANC I

730

789

ANC II

725

785

ANC III

721

781

ANC IV

718

779

Persalinan

696

752

Nifas

681

739

Total

4272

4626

Dari data didapatkan peningkatan jumlah kunjungan ibu hamil, pertongan persalinan dan nifas. Peningkatan jumlah kunjungan ini dapat timbul karena hilangnya hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan yang di dalamnyan termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca salin dan pelayanan bayi baru lahir.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan analisis terhadap program Jaminan Persalinan di Puskesmas Sei Selincah Palembang meliputi analisis input, process dan output didapatkan bahwa program Jaminan Persalinan ini sudah cukup baik dan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2562/MENKES/PER/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Jumlah kunjungan ibu hamil dan nifas di Puskesmas Sei Selincah mengalami peningkatan setelah adanya Jaminan Persalinan.

5.2 Saran Dari hasil wawancara didapatkan masih terdapat hambatan dalam pelaksanaan program Jaminan Persalinan ini khususnya tentang proses klaim di Puskesmas dan pengadaan alat dan obat bagi fasilitas kesehatan swasta. Proses klaim di Puskesmas Sei Selincah memerlukan waktu yang lama pada awal tahun dan kurang jelasnya kebijakan mengenai klaim dana pembayaran. Hal ini dikeluhkan oleh bidan puskesmas yang melayani program Jaminan Persalinan, “…….Kurangnya jampersal ini adalah lamanya proses klaim. Kami juga tidak diberi tahu jumlah yang diklaim, misalnya kami mengklaim 50 pasien tetapi kemudian kami tidak diberi tahu berapa jumlah yang di klaim dan berapa yang tidak di klaim….”. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang lebih spesifik mengenai kriteria klaim yang dibayarkan, besarnya klaim yang didapat perpasien dan pembagian dana pembayaran Jaminan Persalinan di Puskesmas antara tenaga kesehatan dan biaya operasional Puskesmas. Pengadaan alat dan obat-obatan bagi fasilitas kesehatan swasta tidak diberikan oleh pemerintah. Fasilitas kesehatan swasta seperti Bidan Praktek Mandiri harus mengeluarkan biaya sendiri untuk hal ini padahal biaya Jaminan Persalinan yang dibayarkan oleh pemerintah hanya biaya jasa, seperti hasil wawancara, “……Selain itu, bidan kan menolong persalinan gratis untuk

masyarakat, tetapi tidak ada bantuan pemerintah untuk bidan. Bidan menggunakan alat sendiri, obat sendiri. Belum ada sampai sekarang bantuan

pemerintah untuk bidan seperti obat-obatan untuk bidan praktek swasta….”. oleh karena itu pemerintah diharapkan dapat memberikan bantuan pada Bidan Praktek Mandiri. Informasi Jaminan Persalinan di daerah belum tersebar merata sehingga

penduduk yang tidak tahu masih membayar untuk pemeriksaan kehamilan, persalinan dan nifas. Hal ini diketahui dari bidan dalam wawancara, “….Iya, banyak penduduk daerah yang belum tahu jampersal itu gratis. Karena pendudu

di daerah itu jarang ke puskesmas, mereka biasanya memanggil bidan ke rumah”. Oleh karena itu disarankan agar petugas Puskesmas di daerah lebih aktif untuk memberikan penyuluhan kepada warganya mengenai Jaminan Persalinan. Penggunaan buku KIA sebagai syarat untuk mengklaim dana Jaminan Persalinan kurang efektif. Karena tenaga kesehatan manapun dapat menggunakannya sebagai alat untuk mengklaim walaupun tenaga kesehatan tersebut tidak memberikan pelayanan kesehatan, seperti yang diungkapkan, “Buku ibu. Misalnya pasien ini penduduk sini, tetapi ingin melahirkan di dusun. Saat melahirkan kan dibantu oleh bidan disana, jadi bidan disana dapat mengklaim pasien ini. Juga kalau buku ini hilang, bidan pkm tidak dapat mengklaim. Jadi buku ini kurang efektif, karena bisa diklaim oleh bidan lain. Kalau jamkesmas dulu, misalnya untuk pasien sungai selincah pokoknya klaimnya harus di puskesmas sungai selincah”. Disarankan untuk pengklaiman tidak hanya menggunakan buku KIA sebagai syaratnya.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2011; hal. 1-41.

  • 2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA). 2009

  • 3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kebijakan Kementrian Kesehatan Dalam Sinergitas Implementasi Jamkesmas Dengan Program Keluarga Harapan (PKH) 2011.

  • 4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penerapan Kebijakan Jaminan Persalinan Dalam Mendukung Pelayanan Keluarga berencana 2011.

  • 5. Tim Penyusun KESGA. Laporan Pencapaian Program Kesehatan Keluarga (KESGA) 2010.

  • 6. Tim Penyusun KESGA. Laporan Pencapaian Program Kesehatan Keluarga (KESGA) 2011.

  • 7. Tim Penyusun PTP. Perencanaan Tingkat Puskesmas, Puskesmas Sei Selincah Palembang 2011.

  • 8. Tim Penyusun Profil Puskesmas Sei Selincah. Profil Puskesmas Sei Selincah 2011.

LAMPIRAN

1. Wawancara dengan Kepala Puskesmas, Dr.Sri Mariawati.

Pertanyaan

Jawaban

Hal-hal Menonjol

Menurut dokter, tentang kebijakan pemerintah mengenai Jampersal bagaimana?

Baik. Menurut saya Jampersal meringankan beban ibu-ibu yang tidak mampu ya.

Jampersal meringankan beban finansial bagi ibu hamil yang tidak mampu

Dilihat dari perbedaan dengan jamkesmas- jamsoskes dan jampersal, perbedaan secara umumnya apa dok?

Kalau prinsipnya sama, Cuma beda sedikit. Kalau jamkesmas langsung ANC Rp 25.000, PNC Rp 25000. Perbedaannya di tarif pelayanan, kalau jampersal sekali kunjungan Rp 10.000 atau Rp 20.000. Nanti coba ditanyakan lagi dengan pemegang program.

Perbedaan tarif pelayanan Jamkesmas (sistem paket) dengan Jampersal (dibayar per kunjungan).

Paket pada jamkesmas atau jampersal itu seperti apa dok?

Paketnya 4x ANC, Nifas 2x. Secara umum sama, perbedaanya di tarif.

Paket pelayanan Jamkesmas, Jampersal.

Menurut dokter, apa latar belakang penggantian sistem dari jamkesmas- jamsoskes menjadi jampersal?

Itu kurang jelas menurut saya. Mungkin terutama untuk bidan swasta. Padahal sudah ada paket, tetapi kadang meminta biaya tambahan. Misalnya paketnya sudah Rp 350.000, tetapi dari si pasien kalau mau memberi dipersilahkan. Kalau jampersal ini, tidak diperbolehkan seperti itu.

Latar belakang timbulnya Jampersal salah satunya agar Bidan Swasta tidak memungut biaya tambahan ke pasien untuk persalinan.

Besar biaya tambahan itu berapa dok?

Tidak seberapa, biasanya semampu mereka. Kalau tidak mampu, juga tidak.

Jadi, menurut dokter timbulnya jampersal ini salah satunya

Iya, sepertinya begitu. Karena mungkin kalau hanya dari paket, jumlah yang

Alasan Bidan Swasta memungut bayaran pada pasien.

karena ada biaya

didapat bidan agak kurang.

tambahan yang

Karena mereka harus

 

dipungut bidan?

membeli bahan –bahan lagi, juga harus membayar jasa yang membantu dia. Mereka mempunyai pembantu lagi, tenaga pembersih, dan lain- lain. Kemungkinan jumlahnya kurang kalau hanya dari paket.

Menurut dokter kalau dari segi kebijakan pemerintah, bagaimana dok apakah ada yang menyebabkan timbulnya jampersal?

Saya kurang paham itu.

Bagaimana tentang penerapan program jampersal di wilayah puskesmas ini?

Sudah jalan. Dari tahun 2011

Pelaksaan program Jampersal.

Apakah ada kesulitan- kesulitan tentang penerapan program ini dok?

Saya kurang tahu, yang lebih tahu yang melaksanakan. Coba nanti tanyakan langsung sama bidannya.

Tetapi, secara umum apakas sudah bisa dilaksanakan dok?

Bisa, sudah jalan.

Menurut dokter, bagaimana sebaiknya program jampersal itu di masa yang akan datang? Apakah ada saran- saran dok?

Kalau sekarang ini sudah bagus, sudah baik. Kedepan, mungkin yang melaksanakan yang lebih tahu. Kita kan Cuma membayarkan, yang melaksanakan bidan. Coba ditanya ke sana apa kesulitannya.

Buat puskesmas dok, bagaimana sistem pembiayaan dan pelayanan jampersal?

Begini, pembagian jampersal untuk puskesmas ini tidak jelas. Kalau yang diterima itu, hanya untuk jasa bidan.

Pembagian dana pembayaran Jampersal untuk bidan dan operasionan Puskesmas

Kalau untuk puskesmas, saya

masih belum jelas.

 

kurang tahu. Untuk tahun ini pun belum dibagikan karena belum jelas, untuk operasional dan jasa belum jelas.

 

Bagaimana harapan buat kedepan mengenia jampersal ini dok?

Harapannya program ini terus berjalan.

2. Wawancara dengan pemegang program jampersal di Puskesmas, Ibu Nirmaini.

Jawaban

Pertanyaan

Hal-hal Menonjol

Menurut ibu, mengapa pemerintah membuat jampersal? Apa karena supaya tidak ada dukun yang menolong persalinan atau jangan lagi ada perawat yang menolong melahirkan?

Iya mungkin salah satunya itu yang menyebabkan timbulnya jampersal. Karena dalam jampersal yang menolong persalinan ini harus tenaga yang memang betul-betul bisa menolong partus. Bidan terutama.

Alasan timbulnya Jampersal adalah untuk mengupayakan agar tidak ada lagi persalinan yang ditolong oleh tenaga yang tidak berkompeten (dukun)

Bagaimana penerapan program jampersal di wilayah kerja ini? Sudah bisa dipakai atau dijalankan belum?

Sudah. Disini sudah dilaksanakan persalinan memakai jampersal. Kalau dia mampu tidak menggunakan jampersal tetapi yang merasa tidak mampu dapat menggunakan jampersal. Tetapi sebenarnya untuk pelayananan K1, K4 itu gratis di puskesmas. Walaupun dia mampu, tidak mampu tetap gratis. Kalau yang menolong persalinannya bidan wilayah puskesmas, karena kalau kami (bidan pkm) tidak memiliki waktu, tenaga untuk menolong. Ada 3 bidan yang sudah MOU dengan jampersal. Bidan sri nirmala, bidan yusida, bidan masdewati. Kalau bidan puskesmas ini belum melakukan pelayanan jampersal persalinan karena tenaga. Karena bidan ini harus melayani rawat jalan dll, kalau ada tenaga tambahan baru bisa.

Jampersal ditujukan terutama untuk warga tidak mampu. Pelayanan K1, K4 diberikan gratis untuk warga mampu ataupun tidak mampu. Pelayanan persalinan dirujuk ke Bidan Praktek Swasta yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama dengan Puskesmas.

Menurut ibu, apakah jampersal ini memiliki kekurangan?

Kurangnya jampersal ini adalah lamanya proses klaim. Kami juga tidak diberi tahu jumlah yang diklaim, misalnya kami mengklaim 50 pasien tetapi kemudian kami tidak diberi tahu berapa jumlah yang di klaim dan berapa yang tidak di klaim.

Lamanya proses klaim Jampersal. Kriteria pasien yang diklaim dan rincian klaim masih belum jelas.

Apakah sudah jelas besarnya biaya yang dikeluarkan oleh jampersal per pasien?

Kalau untuk ANC, 4x ANC sebesar Rp 80.000. Kalau untuk 4x PNC juga Rp 80.000. Kalau untuk persalinan RP 500.000. Tetapi sekarang seperti ini, persalinan pasien dilakukan oleh bidan mandiri, sedangkan bidan melakukan ANC masih membayar (memungut bayaran) yang gratisnya di puskesmas. Kendalanya karena dinkes membayar bidan mandiri per paket, sedangkan pasien ANC, PNC di puskesmas. Jadi kami merasa rugi. Selain itu, bidan kan menolong persalinan gratis untuk masyarakat, tetapi tidak ada bantuan pemerintah untuk bidan. Bidan menggunakan alat sendiri, obat sendiri. Belum ada sampai sekarang bantuan pemerintah untuk bidan seperti obat-obatan untuk bidan praktek swasta. Makanya bidan memungut bayaran pada anc, pnc. Selain itu bidan juga menggunakan obat yang bermerk, jadi wajar kalau

Tarif pelayanan untuk Jampersal. Bidan Puskesmas merasa rugi atas pembayaran Jampersal. Tidak ada bantuan alat dan obat untuk Bidan Praktek Swasta sehingga bidan masih memungut atau menerima bayaran dari pasien.

bidan meminta bayaran.

 

Jadi bidan disini hanya dibayar untuk persalinan. Juga bagaimana untuk bidan yang praktek murni kalau klaimnya lama? Tetapi biasanya proses pngklaim yang lama terjadi pada awal tahun, mulai bulan juni ini sudah tidak ada masalah tetapi ketika awal tahun biasanya klaimnya memakan waktu lama lagi.Yang pasti sekarang belum ada bantuan obat untuk bidan praktek swasta. Kemarin sudah ada obat dari dinas untuk bidan, kemudian kami cek ke gudang obat tida ada obat yang masuk.

 

Jadi bidan yang memakai jampersal ini tidak mendapatakan bantuan alat dan obat?

Iya, belum ada.

Kalau di puskesmas, apakah ada bantuan alat dan obat?

Kalau di puskesmas, baik jampersal ataupun tidak itu gratis semua. Jadi kita tidak tahu apakah itu obat jampersal atau bukan.

Puskesmas mendapatkan bantuan alat dan obat dari pemerintah.

Jadi kalau di puskesmas perbedaannya belum dirasakan antara jamkesmas dan jampersal?

Iya, kami tidak tahu. Pokoknya yang datang kesini tetap gratis.

Apa saran ibu buat

Kalau bisa dana pelayanan

jampersal?

  • di puskesmas ini jangan

Saran untuk

untuk puskesmas semua.

Jampersal:

Misalnya 20% untuk puskesmas, karena yang

Sistem pembagian antara bidan dan

bekerja itu bidan. Juga laporannya yang terlalu rumit. Misalnya jampersal

Puskesmas diperjelas. Sistem pelaporan

  • di daerah, bidan bisa

jangan terlalu

 

mengklaim jampersal dan bidan juga masih memungut bayaran pada ibu sebesar Rp 500.000. Karena mungkin pengawasan dari jampersalnya kurang.

rumit. Pengawasan terkait klaim Jampersal ditingkatkan.

Dan mungkin pengetahuan penduduk tentang jampersal yang gratis itu kurang ya bu?

Iya, banyak penduduk daerah yang belum tahu jampersal itu gratis. Karena penduduk di daerah itu jarang ke puskesmas, mereka biasanya memanggil bidan ke rumah. Kalau di puskesmas ini, untuk pasien yang sudah aterm, kita tanya ibu mau melahirkan dimana. Kalau dia normal, kita rujuk ke bidan tapi kalau dia beresiko kita rujuk ke RS

Banyak penduduk yang tinggal di daerah belum tahu kalau sudah ada Jaminan Persalinan.

Tentang laporan tadi, rumitnya itu apa bu?

Buku ibu. Misalnya pasien ini penduduk sini, tetapi ingin melahirkan di dusun. Saat melahirkan kan dibantu oleh bidan disana, jadi bidan disana dapat mengklaim pasien ini. Juga kalau buku ini hilang, bidan pkm tidak dapat mengklaim. Jadi buku ini kurang efektif, karena bisa diklaim oleh bidan lain. Kalau jamkesmas dulu, misalnya untuk pasien sungai selincah pokoknya klaimnya harus di puskesmas sungai selincah.

Buku KIA dapat diklaim oleh bidan lain yang menolong persalinan tetapi tidak memberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan.

Jadi menurut ibu kan buku ini kurang efektif. Apa saran ibu untuk buku ini?

Sebenernya masalahnya hanya yang tadi. Kalau dia penduduk sini, yang mengklaimnya tetap di

Saran untuk klaim, “Kalau dia penduduk sini, yang

puskemas ini. Jadi

mengklaimnya

 

aturannya seperti jamkesmas dulu. Untuk bukunya sudah bagus, tetapi bisa di klaim oleh bidan lain. Selain itu, jampersal ini hanya mengklaim 4x ANC. Tetapi rata-rata ibu hamil yang datang sudah dengan usia kehamilan 5 bulan ke atas. Jadi kita susah mengisi K1 nya, karena akan terjadi jumlah K4 yang lebih besar dari K1. Juga kita hanya dibayar 4x untuk ANC walaupun ibu hamil ini datang tiap bulan ke puskesmas untuk ANC.

tetap di puskemas ini. Jadi aturannya seperti jamkesmas dulu….”

Jadi jasa untuk bidan di puskesmas ini kurang ya bu? Tidak jelas pembagiannya?

Iya kurang, tidak jelas. Memang kami sudah digaji oleh pemerintah jadi kami tidak bisa banyak tuntutan.

Jasa bidan dari Jampersal dirasakan kurang.

Bagaimana laporan untuk ke dinkes? Apakah ada kesulitan?

Susah. Karena ada tanda tangannya. Ibu membuat per paket untu pasien.

Apakah sesuai capaian program jampersal ini dengan uang yang dikeluarkan dinas/pemerintah?

Tidak tahu. Karena yang menerima bukan bidan melainkan bendahara BOK.

Apa sisi postifnya dari jampersal ini?

Ibu tidak lagi melahirkan dengan dukun, jadi tidak ada alasan bidan mahal lagi.

Sisi positif Jampersal adalah tidak ada ibu yang melahirkan dengan dukun lagi.

Jadi persentase untuk AKI nya rendah bu?

Iya rendah. Karena ibu rutin kesini, jadi kalau ada masalah cepat dirujuk ke RS. Tetapi kendala kami di

Persentase AKI di Puskesmas sei Selincah rendah.

RS adalah pasien yang kami kirim tidak mendapat

Pasien dengan

 

respon pengobatan apa-apa

kehamilan resiko

dari RS.

tinggi yang dirujuk

ke Rumah Sakit

kurang mandapat

respon pengobatan.

Apa saran ibu untuk

Saran kami, kalau untuk

jampersal?

anak ke3 tidak perlu

Saran untuk

ditanggung jampersal lagi.

Jampersal,

Jadi ibunya bisa berpikir

“….kalau untuk

ulang untuk hamil lagi dan

anak ke3 tidak

berpikir untuk memakai

perlu ditanggung

KB.

jampersal lagi… ”

..

Apakah ada hubungan

Tidak ada. Sama saja.

antara jampersal dengan

Jadi jampersal secara umum

Jampersal

jumlah penggunaan KB?

ini sangat menguntungkan

menguntungkan

pasien.

pasien.

3.

Wawancara dengan bidan praktek swasta, Ibu Hj.Masdewati Pohan

Pertanyaan

Jawaban

Hal-hal Menonjol

Ibu sudah berapa lama

Baru. Dari bulan januari

 

menggunakan

2012 ini

jampersal?

Sebelumnya bu, kalau

Sebelumnya ya bayar

Sebelum Jampersal,

ada masyarakat yang

sendiri.

pelayanan pemeriksaan

ANC atau melahirkan

kehamilan dan

itu ditanggung

persalinan dipungut

pemerintah atau bayar

bayaran.

sendiri?

Jadi menurut ibu,

Bagus. Positif.

apakah jampersal ini ada

sisi positifnya?

Sudah bisa dijalankan di

Sudah.

sini belum?

Apakah ada kesulitan-

Tidak ada. Yang penting

Syarat menggunakan

kesulitannya?

ada KK, KTP.

Jampersal ada KK,

KTP.

Bagaimana dengan

Bagus, tidak ada kesulitan.

Waktu klaim Jampersal

proses klaimnya bu?

Syaratnya kan ada, ada KK

tidak lama.

nya.

Bagaimana dengan obat-

Obat tidak ditanggung.

Obat tidak ditanggung

obatan?

Obat sendiri.

pemerintah.

Menurut ibu, apa

Tidak ada, Cuma kalau

Saran untuk Jampersal

kurangnya jampersal

bisa obat-obatan nya diberi

agar pemerintah

ini?

oleh pemerintah.

memberi obat-obatan.

Menurut ibu, apakah

Sesuai. Cuma kalau bisa

dana yang dikeluarkan

alat dan obat diberi oleh

oleh pemerintah untuk

pemerintah juga.

jampersala sesuai

dengan jasa dan capaian

program?

Apakah ada saran untuk

Tidak ada. Menurut saya

jampersal ini?

sudah cukup bagus

Menurut ibu, apa yang

Mungkin untuk membantu

Latar belakang

membuat pemerintah

masyarakat yang kurang

timbulnya jampersal

mebuat program

mampu. Tetapi sebenarnya

untuk membantu

jampersal?

ada juga pasien yang

masyarakat yang

mampu yang tetap

kurang mampu.

memakai jampersal.

Jumlah kunjungan

Sama saja, hanya

Jumlah kunjungan

setelah adanya

bertambah sedikit karena

pasien bertambah

jampersal, apakah

gratis. Dan juga bidan

setelah adanya

semakin bertamabah?

puskesmas merujuk pasien

Jampersal.

yang ingin melahirkan

kesini.