Anda di halaman 1dari 10

Nama : Nidya wisudawati NIM : 03071003098 Tugas Khusus

METODA MEDIUM BASAH DAN PENERAPANNYA

1) Medium Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunannya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya. (Volk, dan Wheeler,1993 . Mikrobiologi Dasar Jilid 1). Akan tetapi yang terpenting medium harus mengandung nutrien yang merupakan substansi dengan berat molekul rendah dan mudah larut dalam air. Nutrien ini adalah degradasi dari nutrien dengan molekul yang kompleks. Nutrien dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh. Pada umumnya, jenis medium sangat bervariasi bergantung kepada apa yang dijadikan dasar penanaman. Berdasarkan kepada bentuknya dikenal tiga macam medium, yaitu medium cair, medium semi solid dan medium padat. Beda utama ketiga macam medium ini, yaitu ada tidaknya bahan pemadat. Medium cair tidak menggunakan bahan pemadat. Medium semi solid dan medium padat menggunakan bahan pemadat. Bahan pemadat dapat berupa amilum, gelatin, selulosa, dan agaragar. Agar agar adalah medium yang paling umum digunakan. Jumlah bahan pemadat pada medium semi solid setengahnya dari medium padat. Pada medium padat jumlah agarnya 1,5% - 1,8%. Sedangkan, berdasarkan fungsi/sifatnya terdapat beberapa macam medium, antara lain medium umum, medium selektif dan medium diferensial. Dan berdasarkan

komposisi kimianya, dikenal medium alami, medium semi sintetik, dan medium sintetik. Bakteri mudah ditemukan di air, udara dan tanah. Mereka hidup dalam suatu koloni, baik bersimbiose, bebas ataupun parasit pada makhluk hidup. Jumlah bakteri di alam sangat melimpah dengan keragaman yang sangat tinggi (Pelczar dan Chan, 2005). Untuk mempelajari kehidupan dan keragaman bakteri, diperlukan suatu usaha untuk mengembakbiakkan mereka dalam skala laboratorium. Pengembangbiakan ini dilakukan dengan menumbuhkan bakteri dari sumber isolat, seperti tanah, udara, sisa makanan, dll, dalam media yang mengandung nutrisi. Berikut adalah syarat yang harus dipenuhi media : a. Mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme yang sedang dikembangkan. b. Memiliki kelembaban optimum bagi pertumbuhan mikroorganisme. c. Mengandung oksigen (kultur bakteri aerob) dan pH yang sesuai. d. Harus bebas dari mikroba lain dan steril.

2) Macam Medium Ada 3 jenis media pengembangbiakan berdasarkan konsistensinya, antara lain: 1. Medium padat Yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat. Umumnya dipergunakan untuk bakteri, ragi, jamur dan kadang mikroalge. 2. Medium setengah padat Yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Biasanya untuk mikroba yang banyak memerlukan kandungan air dan hidup anaerobik. 3. Medium cair

Yaitu media yang tidak mengandung agar/tidak ditambah zat pemadat, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth). Biasa dipergunakan untuk kiroglae dan bakteri seperti bakteri dan ragi.

Berdasarkan komposisi penyusunnya, media dibedakan menjadi 2, yaitu: 1. Media sintetis Media yang telah diketahui susunan kimia nutrisinya, seperti media pepton agar yang terbuat dari pepton, agar dan NaCl. 2. Media non-sintetis Media yang belum diketahui susunan kimia nutrisinya, seperti kentang, wortel, kaldu, dll.

Selain itu, media / medium juga dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya, yakni antara lain : 1. Media Diperkaya (Enrich Medium) Merupakan medium yang ditambah zat-zat tertentu (serum, darah, ekstrak tumbuhan dan lain-lain), digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof. 2. Media Selektif (Selective Medium) Merupakan media yang ditambah zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain sehingga dapat mengisolasi mikroba tertentu, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu, dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi bakteri gram negatif. Dengan kata lain media selektif digunakan untuk mengisolasi kelompok khusus bakteri. Dimana media ini dilengkapi bahan kimia untuk menghambat pertumbuhan yang lainnya, sehingga memberi kemudahan untuk mengisolasi bakteri yang diinginkan. Contohnya : Endo Agar, EMB(Eosin Metilena Biru) Agar, SSA (Salmonella Shygella Agar) dan VRB (Violet Red Bile Agar).

3.

Media Differential (Deferential Medium) Merupakan media yang ditambahkan zat kimia tertentu yang menyebabkan mikroba membentuk pertumbuham atau mengadakan perubahan tertentu hingga dapat membedakan tipenya. Dengan kata lain, media ini biasanya digunakan untuk membedakan kelompok mikroorganisme dari sifat morfologi dan biokimianya. Media ini dilengkapi campuran bahan kimia, setelah inokulasi dan inkubasi, menghasilkan perubahan karakteristik pada penampakan pertumbuhan bakteri dan pada medium sekitar koloni, yang menyebabkan perbedaaan. Contohnya : TSIA (Triple Sugar Iron Agar).

4.

Media Penguji (Assay Medium) Merupakan media dengan susunan tertentu digunakan untuk pengujian-pengujian vitamin, asam amino, antibiotik dan lain-lain.

5.

Media Perhitungan Merupakan media spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba. Contohnya : Plate Count agar (PCA).

3) Media Basah / Cair Media budidaya merupakan media yang dibuat untuk menumbuhkan mikroba. Salah satu dari media budidaya adalah media yang bersifat cair atau disebut juga broth. Medium cair yang umum dipakai ialah kaldu yang disiapkan sebagai berikut. 1 liter air murni ditambahkan 3 g kaldu daging lembu dan 5 g pepton. Pepton ialah protein yang terdapat pada daging, pada air susu, pada kedelai, dan pada putih telur. Pepton mengandung banyak N2, sedang kaldu berisi garam-garam mineral dan lainlainnya lagi. Medium itu kemudian ditentukan pHnya 6,8 sampai 7, jadi sedikit asam atau netral; keadaan yang demikian ini sesuai bagi kebanyakan bakteri. Kaldu seperti tersebut di atas masih perlu disaring untuk kemudian dimasukkan ke dalam tabungtabung reaksi atau botol-botol. Penyaringan dapat dilakukan dengan kertas saring.

Setelah tabung atau botol berisi medium kaldu tersebut disumbat dengan kapas, dapatlah mereka dimasukkan ke dalam alat pensteril (autoklaf). Bahan yang diinokulasikan pada medium ini disebut inokulum. Dengan menginokulasi medium agar nutrient (nutrient agar) dengan metode cawan gores atau cawan tuang, sel-sel itu akan terpisah sendiri, setelah inkubasi, sel-sel mikroba individu itu memperbanyak diri sedemikian cepatnya sehingga didalam waktu 18 sampai 24 jam terbentuklah massa sel yang dapat dilihat dan dinamakan koloni. Koloni ini tampak oleh mata bugil. Setiap koloni yang berlainan dapat mewakili macam organisme yang berbeda-beda, setiap koloni agaknya merupakan biakan murni satu macam mikroorganisme. Jika dua sel microba pada inokulum asal terlalu berdekatan letaknya pada medium agar, maka koloni yang terbentuk dari masing masing sel dapat bercampur dengan sesamanya, atau paling tidak bersentuhan, jadi massa sel yang dapat diamati itu bukanlah suatu biakan murni. Contoh pada bakteri Bacillus pada agar medium agar cair. Pada media cair penampakan bakteri ditunjukkan dengan keruhnya warna yang terjadi pada media cair, seperti halnya pada media yang lain, pada media cair ini pun kebanyakan penampakan pertumbuhan bakteri terjadi diatas permukaan media cair, meskipun media ini berbentuk cair, tapi bakteri ini tetap saja bergerak ke atas untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. (bakteri ini bersifat aerob). Media cair (liquid medium) ini adalah media yang berbentuk cair atau bisa juga diartikan sebagai nutrisi yang dilarutkan dalam air sebagai media. Media ini bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak. Contoh dari media cair ini diantaranya : air pepton, Nutrient Broth, Lactose Broth, Tarozzi, dan lain-lain. Beberapa contoh media basah / cair: 1. Air Pepton Peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati seperti otot, liver, darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin dan kedelai. Komposisinya tergantung pada bahan asalnya dan bagaimana cara memperolehnya.

Gambar contoh medium pepton 2. Nutrient Broth Nutrient Broth merupakan media cair yang intinya sama dengan nutrient agar. Proses pembuatannyapun lebih sederhana, tinggal melarutkan peptone dan beef extract kemudian ditampung dalam labu Erlenmeyer atau tabung reaksi dan siap disterilisasi. Proses pembuatan ini tidak memerlukan panas, peptone dan beef extract akan mudah larut sempurna pada air suhu kamar jika diaduk. Contoh penerapan pembuatan medium Nutrient Broth (NB) ini adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Ditimbang 0.8 gram PDA dan dimasukan ke dalam Erlenmeyer 100ml. Dilarutkan dengan 100ml air, lalu dihomogenkan Dipanaskan di hot plate sambil diaduk hingga larutan mendidih. Ditutup dengan alumunium foil. Disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 800oC selama 20 menit. Lalu Setelah media disterilisasi, media dituangkan sesuai prosedur berikut : 1. 2. 3. 4. Disiapkan media NB Pembakar spirtus Didekatkan api media NB dituangkan kedalam tabung reaksi sampai merata. Dimasukan tabung Durham yang sudah disterilkan dengan bantuan pinset. Kemudian media diinkubasi selama 24 jam dalam incubator. Dan hasil media yang didapat sudah siap untuk diinokulasi.

Hasil yang didapat adalah semua media yang dimasukan kedalam tabung reaksi terkontaminasi oleh mikroorganisme, karena terdapat gelembung udara pada setiap tabung durham. 3. Lactose Broth Lactose Broth digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran koliform dalam air, makanan, dan produk susu, sebagai kaldu pemerkaya (pre-enrichment broth) untuk Salmonellae dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri pada umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk memetabolisme bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi untuk organisme koliform. Pertumbuhan dengan pembentukan gas adalah presumptive test untuk koliform. Lactose broth dibuat dengan komposisi 0,3% ekstrak beef; 0,5% pepton; dan 0,5% laktosa.

4. Tauge Ekstrak Broth (TEB) Medium Tauge Ekstrak Broth merupakan medium yang bersifat non sintetik. Sedangkan berdasarkan konsistensinya, termasuk medium cair. Medium ini juga digunakan untuk pertumbuhan dan pembiakan khamir. Komposisinya sama dengan medium TEA, hanya saja pada medium ini, tidah ada penambahan agar untuk konsistensinya. oleh karena pada komposisinya tidak terdapat agar sehingga medium ini disebut medium cair

5. Trypticase Soy Broth (TSB) TSB adalah media broth diperkaya untuk tujuan umum, untuk isolasi, dan penumbuhan bermacam mikroorganisme. Media ini banyak digunakan untuk isolasi bakteri dari spesimen laboratorium dan akan mendukung pertumbuhan mayoritas bakteri patogen. TSB mengandung kasein dan pepton kedelai yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen lainnya yang membuatnya menjadi media bernutrisi untuk bermacam mikroorganisme. Dekstrosa adalah sumber energi dan natrium klorida mempertahankan kesetimbangan osmotik. Dikalium fosfat

ditambahkan sebagai buffer untuk mempertahankan pH.

6. Meat extract Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa, plasenta dan daging sapi.

Untuk mencegah terkontaminasinya media oleh mikroorganisme, maka sebaiknya hal-hal yang perlu diperhatikan: 1. Mencuci tangan dan rambut sebelum praktikum. 2. Menggunakan jas lab dan sarung tangan yang steril. 3. Sebelum dan sesudah praktikum meja kerja dan tangan disemprotkan alkohol 70%. 4. Menggunakan alat dan bahan yang sudah disterilkan.

5. Tidak banyak bercanda dan ngobrol saat praktikum berlangsung. 6. Menggunakan masker. 7. Bekerja didekat zona steril (pembakar spirtus).

4) Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba 1. Suplai zat gizi. Mikroorganisme membutuhkan makanan sama seperti mahkluk lainnya. Jadi dengan adanya zat gizi yang cukup maka pertumbuhan mikroba akan sangat cepat. 2. Waktu. Tentu saja seriap makhluk hidup termasuk mikroba membutuhkan waktu untuk berkembang biak. Pertumbuhan bakteri membentuk suatu kurva atau fase logritmik. 3. Suhu. Suhu sangat penting bagi pertumbuhan mikroba, apabila suhu naik maka metabolisme naik dan pertumbuhan dipercepat atau apabila suhu naik atau turun sel berhenti melakukan kegiatan metabolisme. 4. Nilai pH. Nilai pH untuk pertumbuhan bakteri adalah sekitar atau berkisar antara pH 6,08,0. 5. Aktifitas air. Semua organisme membutuhkan air pada proses metabolisme. Aktifitas air adalah jumlah air yang terdapat dalam bahan pangan. Jenis mikroba yang berbeda membutuhkan air yang berbeda. 6. Ketersediaan Oksigen. Mikroba terbagi atas beberapa kelompok : -Aerobik : membutuhkan udar unutk kegiatan metabolismenya. -Anaerobik : tidak dapat tumbuh dengan adanya oksigen, bahkan oksigen merupakan racun baginya.

-Anaerobik fakultatif : dimana oksigen digunakan akan dipergunakan apabila tersedia, jika tidak tersedia maka akan terus anaerobik. -Mikroerofilik : mikroba yang lebih dapat tumbuh dengan kadar oksigen lebih rendah daripada yang di atmosfer. 7. 8. Faktor-faktor kimia Radiasi

Fase pertumbuhan bakteri adalah : - Fase lambat : fase adaptasi mikroba dengan media. - Fase log : setelah beradaptasi, sel-sel akan tumbuh dan membelah diri secara eksponensial. - Fase tetap : dimana mikroba tidak lagi tumbuh. Hal ini terjadi karena zat gizi yang ada telah habis atau penimbunan zat racun sebagai hasil akhir. - Fase menurun : sel-sel yang berada pada fase tetap akhirnya mati bila tiodak dipindahkan ke media lainnya. Mikroba terdiri dari : 1. Bakteri : mikroorganisme bersel satu, prokariotik yang paling sederhana. Hidup bebas dan terdapat di mana-mana. 2. Jamur : organisme eukariotik yang merupakan organisme pengurai. Ia tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat dikatakan sebagai tumbuhan. Jamur ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler. 3. Khamir : bagian dari fungi (Jamur) yang tersusun dari satu sel atau uni seluler. 4. Kapang : bagian dari fungi yang tersusun atas banyak sel (multiseluler), miseliumnya berwarna-warni sehingga mudah dikenali.