Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

Sebagaimana diketahui bahwa kejahatan yang terjadi di muka bumi ini sama tuanya dengan sejarah manusia itu sendiri. Sejak dahulu orang sudah mencuri, menipu, menyakiti, memperkosa dan bahkan membunuh. Perbuatan jahat yang dapat menimbulkan kerugian, penderitaan serta kematian itu juga dirasakan oleh masyarakat sebagaia perbuatan yang dapat merusak keamanan dan kedamaian di dalam masyarakat. Oleh sebab itu harus diberantas melalui upaya yang bersifat represif maupun preventif. Dalam rangka melakukan upaya represif itulah mereka membentuk badan badan yang ditugasi untuk menangkap, mengadili serta menghukum orang orang yang bersalah.1 KUHAP(Kitab Undang undang Hukum Acara Pidana) yang merupakan pembangunan dibidang hukum nasional secara nyata. Untuk hal yang seperti ini maka perlu kalangan kedokteran untuk memahami beberapa ketentuan hukum dan beberapa pengertian hukum sesuai dengan yang diatur oleh KUHAP.5 Tempat Kejadian Perkara(TKP) adalah Tempat dimana suatu tindak pidana dilakukan/terjadi, atau tempat dimana barang bukti/korban berhubungan dengan tindak pidana.TKP merupakan sumber dari bahan-bahan penyidik perkara karena didapati bekasbekas dari peristiwa itu berupa bekas kaki, tangan, darah, muntahan dan alat/benda sebagai alat bukti di pengadilan, selain itu digunakan bahan penyidik perkara. tindakan yang dilaksanakan di TKP dalam bentuk kegiatan dan tindakan kepolisian yang terdiri; Tindakan pertama di tempat kejadian perkara ( TPTKP ) dan Pengolahan tempat kejadian perkara (OLAH TKP).2 Pengolahan perkara di tempat kejadian perkara (crime scene procesing) merupakan bagian dari fungsi serse dalam penyidikan tindak pidana. Penyidikan tindak pidana dimulai saat adanya dugaan bahwa suatu tindak pidana telah terjadi dan diakhiri bila hasil yang ingin dicapai telah diperoleh atau tidak terdapat bukti-bukti kejahatan yang dicari.1 Proses penyidikan tindak pidana pada hakekatnya merupakan suatu upaya hukum, oleh karena itu harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku.1 Dalam pengolahan tempat kejadian perkara penyidik tidak berdiri sendiri tapi didukung oleh unsur dukungan laboratorium kriminalistik maupun kedokteran forensik.1 Bilamana pihak penyidik mendapat laporan bahwa suatu tindak pidana yang mengakibatkan kematian korban telah terjadi, maka pihak penyidik dapat
1

meminta/memerintahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP) tersebut sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku dan sesuai pula dengan Undang-Undang Pokok Kepolisian tahun 1961 no.13 pasal 13 atau sesuai dengan ketentuan pasal 3 Keputusan MenHanKam / Pangab No. Kep/B/VI/1974. Bila dokter menolak, maka ia dapat dikenakan hukuman berdasarkan pada KUHP pasal 224.2 Selama melakukan pemeriksaan, harus dihindari tindakan-tindakan yang dapat merubah, mengganggu atau merusak keadaan di TKP tersebut walaupun sebagai kelanjutan dari pemeriksaan itu harus mengumpulkan segala benda bukti (trace evidence) yang ada kaitannya dengan manusia, seperti mengumpulkan bercak air mani atau bercak darah yang terdapat pada pakaian atau benda-benda di sekitar korban, yang pada dasarnya tindakan pengumpulan benda bukti tadi akan merusak keadaan di TKP itu sendiri. Dengan demikian, sebelum pemeriksaan dilakukan TKP harus diamankan, dijaga keasliannya dan diabadikan dengan membuat foto-foto dan atau sketsa sebelum para petugas menyentuhnya.2

BAB II DASAR TEORI


2.1 Tempat Kejadian Perkara Tempat kejadian perkara (TKP) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan/atau tempat terjadinya suatu peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian. Meskipun kelak terbukti bahwa di tempat tersebut tidak pernah terjadi suatu tindak pidana, tempat tersebut tetap disebut sebagai TKP. Diperlukan atau tidaknya kehadiran dokter di TKP oleh penyidik sangat bergantung pada kasusnya, yang pertimbangannya dapat dilihat dari sudut korbannya, tempat kejadiannya, kejadiannya atau tersangka pelakunya.3 TKP (crime scene) merupakan tempat penting dan sasaran pertama yang harus segera didatangi.Dalam perkara pembunuhan, biasanya di tempat ini ditemukan barang bukti korban manusia maupun bagian dari manusia serta barang-barang bukti lainnya.1 Tempat dimana korban ditemukan dapat disebut sebagai TKP pertama (Primary crime scene), yang bukan selalu merupakan tempat dimana sesungguhnya peristiwa tersebut telah terjadi.1 Jadi, dalam kasus pembunuhan kadang-kadang masih dapat ditemukan lokasi lain dimana barang bukti penting lain dapat ditemukan. Dengan demikian, TKP ini merupakan TKP ganda (multiple).1 Lokasi-lokasi yang dapat digolongkan sebagai TKP adalah : 1. Tempat dimana korban ditemukan 2. Tempat dimana tubuh korban dipindahkan 3. Tempat dimana telah terjadi serangan yang mengakibatkan kematian korban 4. Tempat-tempat dimana ditemukan barang bukti yang ada hubungannya dengan kejahatan (bagian dari tubuh manusia, kendaraan yang dipakai untuk mengangkut korban, dan lainlain).1

Tempat lain yang perlu dan bahkan sering banyak memberikan infprmasi serta barang bukti ialah rumah kediaman tersangka.1 Diperlukan atau tidaknya kehadiran dokter di TKP oleh penyidik sangat bergantung pada kasusnya, yang pertimbanganya dapat dilihat dari sudut korbannya, tempat kejadiannya, atau tersangka pelakunya. Peranan dokter di TKP adalah membantu penyidik dalam mengungkap kasus dari sudut kedokteran forensik. Pada dasarnya, semua dokter dapat
3

bertindak sebagai pemeriksa di TKP, namun dalam perkembangan spesialisasi dalam ilmu kedokteran, adalah lebih baik bila ahli kedokteran forensik atau dokter kepolisian yang hadir.3 2.2 Peranan Dokter Dalam Pemeriksaan di TKP5 Bantuan dokter dalam menangani korban di TKP memang sangat dibutuhkan, bantuan tersebut tidak hanya ditujukan untuk korban mati saja tetapi korban hidup. Dasar hukum yang berkaitan dengan hal ini adalah : Penyidik mempunyai wewenang untuk mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara (KUHAP Pasal 7 ayat 1 sub h). Pasal ini perlu dikaitkan dengan KUHAP pasal 120 ayat 1 : dalam hal penyidik menganggap perlu ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus dan KUHAP pasal 133 ayat 1. Bila dokter menolak maka ia dikenakan hukuman berdasarkan pada Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) pasal 224. Bantuan yang diminta dapat berupa pemeriksaan TKP atau di rumah sakit, pemeriksaan berdasarkan pengetahuan yang sebaik-baiknya, hasil pemeriksaan di TKP disebut dengan visum et repertum TKP. Bantuan dokter dapat berupa: 1. Persiapan : permintaan tertulis atau tidak, catat tanggal permintaan, siapa peminta, lokasi dimana, dan alat pemeriksa TKP. 2. Biaya : ditanggung yang meminta. 3. Jika korban masih hidup : Identifikasi secara visual : pakaian, perhiasan, dokumen dan kartu pengenal lainnya. Identifikasi medik : dari ujung rambut sampai kaki, termasuk gigi dan sidik jari.

4. Jika korban mati: buat sketsa foto, situasi ruangan, lihat TKP porak-poranda atau tenag.

5. Identifikasi
4

Suhu mayat, penurunan suhu, lebam mayat, kaku mayat, pembusukan. Luka : lokasi luka, garis tengah luka, banyak luka, ukuran luka, sifat luka. Darah: warna merah atau tidak, tetesan, genangan atau garis, melihat bentuk dan sifat darah dapat diperkirakan sumber darah, distribusi darah dan sumber perdarahan

6. Identifikasi lanjutan Ada sperma atau tidak Pengambilan darah : jika di dinding kering,dikerok, jika pada pakaian, digunting Darah basah/segar, masukkan ke termos es, kirim ke lab kriminologi.

7. Identifikasi lanjutan Ada sperma atau tidak Rambut Air ludah, bekas gigitan.

8. Membuat kesimpulan di TKP Mati wajar atau tidak Bunuh diri : genangan darah, TKP tenang tidak morat-marit, ada luka percobaan, luka mudah dicapai oleh korban, tidak ada luka tangkisan, pakaian masih baik. Pembunuhan: TKP morat-marit, luka multipel, ada luka yang mudah dicapai, ada yang tidak, luka disembarang tempat, pakaian robek ada luka tangkisan. Kecelakaan Mati wajar karena penyakit

2.3 Pelaksanaan Pemeriksaan di TKP Sebelum datang di TKP, ada beberapa hal yang harus dicatat sehubungan dengan alasan atau persyaratan yuridis, demi kepentingan kasus itu sendiri, yaitu : a. Siapa yang meminta/memerintahkan datang di TKP, otoritas, nama penyidik yang meminta bantuan, kapan saat permintaan/perintah tersebut dikeluarkan, bagaimana permintaan/perintah itu sampai keterangan dokter, dimana TKP, Jam saat dokter tiba di TKP, hasil pemeriksaan. b. Perlu diingat moto to touch as little as possible and to displace nothing. Tidak boleh menambah atau mengurangi benda bukti, tidak boleh sembarangan membuang puntung rokok, perlengkapan jangan tertinggal, jangan membuang air kecil di kamar mandi oleh

karena ada kemungkinan benda-benda bukti yang ada di tempat tersebut akan hilang atau hanyut. c. Di TKP dokter membuat foto dan sketsa yang mana harus disimpan dengan baik, oleh karena kemungkinan ia akan diajukan sebagai saksi ahli selalu ada. Foto dan sketsa tersebut berguna untuk memudahkan mengingatkan kembali keadaan yang sebenarnya. d. Sebagai gambaran umum dalam hal memberikan penilaian atau pendapat dari keadaan di TKP adalah : Bila keadaan di TKP itu tenang, teratur, rapi, dan dijumpai surat-surat peninggalan yang ditujukan kepada orang-orang tertentu, maka kemungkinan besar kasus yang dihadapi adalah kasus bunuh diri atau kasus kematian wajar oleh karena penyakit bila tidak didapatkannya ada tanda-tanda kekerasan. Bila keadaan di TKP tidak beraturan, kacau, terdapat tanda-tanda perkelahian, maka kemungkinan kasus yang diperiksa merupakan kasus pembunuhan dan lain sebagainya. Untuk sampai pada kesimpulan di atas dengan baik, tentu harus dipikirkan kemungkinan adanya faktor-faktor yang dapat merubah keadaan TKP.2

Dasar pemeriksaan adalah hexameter, yaitu menjawab 6 pertanyaan: apa yang terjadi, siapa yang tersangkut, di mana dan kapan terjadi, bagaimana terjadinya dan dengan apa melakukannya,serta kenapa terjadinya peristiwa tersebut. Hal-hal yang dikerjakan dokter di TKP, adalah : 1. Pemeriksaan dokter harus berkoordinasi dengan penyidik 2. Menentukan korban masih hidup atau sudah mati Bila korban masih hidup maka tindakan yang utama dan pertama bagi dokter adalah menyelamatkan korban dengan tetap mempertahankan keutuhan TKP. Bila korban telah mati, tugas dokter adalah menegakkan diagnosis kematian, memperkirakan saat kematian, memperkirakan cara kematian, memperkirakan sebab kematian, menemukan dan mengamankan benda bukti biologis dan medis. Bila perlu dokter dapat melakukan anamnesa dengan saksi-saksi untuk mendapatkan gambaran riwayat medis korban. 3. Bila meninggal dibiarkan asal tidak mengganggu lalulintas 4. Jangan memindahkan jenzah sebelum seluruh pemeriksaan TKP selesai 5. TKP diamankan oleh penyidik agar dokter dapat memeriksa dengan tenang. 6. Yang tidak berkepentingan dikeluarkan dari TKP
6

7. Mencatat identitas atau jati diri korban baik secara visual, pakaian, perhiasan, dokumen, dokumen medis dan dari gigi, pemeriksaan serologi, sidik jari. Jati diri korban dibutuhkan untuk memulai penyidikan, oleh karena biasanya ada korelasi antara korban dengan pelaku. Pelaku umumnya telah mengetahui siapa korbannya. 8. Menentukan jenis luka dan jenis kekerasan, dimana dapat memberikan informasi perihal alat atau senjata yang dipakai serta perkiraan proses terjadinya kejahatan tersebut dimana berguna dalam interogasi dan rekonstruksi. Dengan diketahui jenis senjata, pihak penyidik dapat melakukan penyidikan secara terarah. 9. Membuat foto dan sketsa keadaan TKP secara sederhana dan dapat memberikan gambaran posisi korban dikaitkan dengan situasi yang terdapat di TKP. 10. Mencari, mengumpulkan, dan menyelamatkan barang-barang bukti (trace evidence) yang ada kaitannya dengan korban, bagi kepentingan pemeriksaan selanjutnya. Hal ini juga penting, sebab semakin banyak barang bukti ditemukan, termasuk barang bukti medic, akan semakin mempermudah penegak hukum membuat terang perkara pidana. Barang bukti medic tersebut harus diselamatkan dari kerusakan dan dokter memang memiliki kemampuan untuk itu.6 2.4 Barang Bukti (Trace Evidence)8,9 Edmond Locard, pendiri Institut ilmu hukum pidana di Universitas Lyon, Prancis, mengembangkan apa yang telah menjadi dikenal sebagai Prinsip Pertukaran Locard. Ini menyatakan bahwa "setiap kontak meninggalkan jejak", menyiratkan bahwa seorang penjahat akan meninggalkan jejak dan meninggalkan barang bukti seketika di TKP. Jejak bukti sering merujuk pada substansi sampel yang terpernci, terutama serat, rambut, pecahan kaca dan kepingancat. TKP umumnya akan berisi jejak bukti, sering disebabkan oleh pelaku secara tidak sadar yang kontak dengan permukaan dan meninggalkan atau mengambil partikulat. Kehadiran jejak bukti sangat tergantung pada kegigihan, karena beberapa partikel dan zat akan lebih mudah tetap di permukaan dan untuk jangka waktu yang lebih lama daripada yang lain. Masa waktu dari jejak bukti akan bertahan selama tergantung pada ukuran dan bentuk partikel, jumlah yang terendap, aktivitas antara endapan dan pemulihan, sifat lingkungan, dan lamanya waktu berlalu. Partikel kecil akan bertahan lebih lama dari partikel yang lebih besar, karena mereka lebih cenderung menjadi bersarang di permukaan material. Permukaan tidak teratur, seperti kain tertentu dan kayu, akan mengumpulkan partikulat lebih

mudah daripada permukaan yang halus, karena mungkin ada celah-celah kecil partikel untuk melekat. Ketika jejak bukti ditemukan, berbagai faktor harus dipertimbangkan. Keteraturan material adalah sangat penting, seperti barang yang sangat umum mungkin tidak sangat berguna. bentuk dari jejak bukti yang tidak biasa atau unik untuk suatu lingkungan tertentu atau TKP yang akan menjadi yang paling penting bagi penyelidikan. Beberapa bentuk jejak mungkin sangat biasa pada sebuah TKP, memberi mereka makna khusus. Ini harus dipertimbangkan bahwa kurangnya jejak bukti baik dapat menunjukkan pembersihan luas oleh pelaku atau, mungkin lebih mungkin, fakta bahwa peristiwa itu tidak terjadi di lokasi itu. Berbagai metode digunakan dalam pengumpulan jejak bukti, metode yang digunakan tergantung pada jenis dan sifat barang bukti. Barang yang lebih besar, seperti serat panjang, dapat dikumpulkan dengan tangan atau pinset. Salah satu metode yang paling sederhana dari pemulihan adalah untuk mengguncang item di atas selembar kertas atau wadah. Namun hal ini tidak memungkinkan untuk lokasi yang tepat dari bukti-bukti pada item yang akan didokumentasikan. Beberapa partikel tidak akan lepas dengan menggetarkan item, sehingga menyikat item mungkin diperlukan. Sebuah metode umum untuk mengumpulkan jejak bukti adalah teknik taping, terutama bermanfaat dalam kasus serat dan rambut. Sebuah strip pita perekat transparan diterapkan ke permukaan, dikelupaskan, dan ditempatkan di belakang kartu. Hal ini memungkinkan sebuah catatan harus dibuat dari lokasi yang tepat dari jejak bukti. Penggunaan vakum adalah metode yang sangat berguna dari pengumpulan jejak. TKP ini dibagi menjadi grid yang lebih kecil untuk tujuan kemudahan dan dokumentasi. Vakum ini digunakan di setiap grid dengan filter yang berbeda setiap kali. Setiap individu penyaring kemudian dapat dikemas dan dianalisis secara terpisah, yang memungkinkan untuk lokasi jaringan yang tepat dari barang bukti yang akan dicatat. Metode ini tidak setepat dengan teknik taping, tetapi sangat ideal untuk mengumpulkan partikulat. Berikut adalah jenis-jenis barang bukti yang mungkin ditemukan di tempat kejadian adalah: Bercak darah Bercak mani Rambut Serat dan benang Kaca Cat
8

Cairan mudah terbakar Senjata Api Bukti Alat penanda Substansi-substansi dan preparat medis atau obat-obatan Ditanyai Dokumen Sidik jari laten

Dalam mencari dan mengumpulkan barang bukti: Dokter tetap berkoordinasi dengan penyidik terutama bila ada team lab forensik Dokter membantu mencari barang bukti Segala yang ditemukan diserahkan pada penyidik Dokter dapat meminjam barang bukti tersebut Selesai pemeriksaan TKP ditutup misal selama 3x24 jam Korban dibawa ke rumah sakit dengan disertai permohonan visum et repertum

2.5 Metode Pencarian Barang Bukti Untuk dapat memperoleh barang bukti yang diperlukan dalam proses penyidikan, dikenal 5 macam metode, yaitu : strip method, double strip or grid method, spiral method, zone method, dan wheel method : cara atau metode-metode ini telah diketahui oleh penyidik tapi perlu juga diketahui oleh dokter yang melakukan pemeriksaan TKP agar tidak merubah / merusak keaslian keadaan TKP.2

STRIP METHOD

DOUBLE STRIP OR GRID METHOD

ZONE METHOD

WHEEL METHOD

Dengan menggunakan metode yang sistematis dalam mencari barang bukti di TKP, dapat dipastikan proses penyidikan akan berjalan dengan lancar dan memberikan hasil
10

memuaskan dan dengan demikian kesulitan-kesulitan dalam persidangan dapat diatasi, khususnya dalam hal pembuktian telah terjadinya suatu kejahatan dan kaitannya dengan terdakwa pelaku kejahatan.2

2.6 Pemeriksaan Air Mani pada Pakaian atau Tekstil Adanya air mani yang tercecer baik pada pakaian korban maupun pada sprei, sarung bantal, kelambu, dan bahan tekstil lainnya dengan mudah dapat diketahui, dengan cara : a. Visual Pada pakaian atau tekstil yang berwarna cerah, bercak air mani akan berwarna abu-abu atau agak kekunin-kuningan. Sedangkan pada bahan pakaian atau tekstil yang berwarna gelap, akan tampak bercak air mani mengkilat. Bentuk bercak biasanya tidak teratur dengan intensitas warna yang lebih tegas pada bagian pinggir bercak.2 b. Mencium baunya Jika bercak air mani masih baru (basah), maka dapat dikenali dari baunya yang khas.2 c. Meraba Bercak air mani yang telah mengering pada pakaian atau tekstil, jika diraba dengan dua jari akan memberi kesan seperti meraba kain yang telah kering dikanji.2 d. Sinar ultraviolet Dengan menyinari pakaian atau tekstil yang terdapat di TKP dengan sinar ultraviolet, dapat diketahui adanya bercak air mani, yaitu pada bagian yang memberi fluoresensi putih. Oleh karena air mani mengandung zat yang berfluoresensi bila disinari dengan sinar ultraviolet.2

Dengan mengetahui cara mencari bercak air mani seperti di atas, penyidik akan lebih selektif dalam mengambil dan mengirim barang bukti pada kasus-kasus kejahatan seksual atau pada kasus penyimpangan seksual.2

2.7 Pemeriksaan Darah Pemeriksaan darah di TKP kasus kriminal dapat memberikan informasi yang berguna bagi proses penyidikan. Pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan adalah : a. Dari bentuk sifat bercak dapat diketahui : Perkiraan antara jarak lantai dengan sumber perdarahan

11

Arah pergerakan dari sumber perdarahan baik dari korban maupun dari si pelaku kejahatan

Sumber perdarahan, darah yang berasal dari pembuluh darah balik (pada luka yang dangkal), akan berwarna merah gelap. Sedangkan yang berasal dari pembuluh nadi (pada luka yang dalam), akan berwarna merah terang. Darah yang berasal dari saluran pernafasan atau paru-paru berwarna merah terang dan berbuih (jika telah mengering tampak seperti gambaran sarang tawon). Darah yang berasal dari saluran pencernaan akan berwarna merah-cokelat sebagai akibat dari bercampurnya darah dengan asam lambung. Darah dari pembuluh nadi akan memberikan bercak kecil-kecil menyemprot pada daerah yang lebih jauh dari daerah perdarahan. Sedangkan yang berasal dari pembuluh balik biasana membentuk genangan (ini karena tekanan dalam pembuluh nadi lebih tinggi dari tekanaan atmosfer, sedangkan tekanan dalam pembuluh darah balik lebih rendah sehingga tidak mungkin dapat menyemprot.

Perkiraan umur/tuanya bercak darah. Darah yang masih baru bentuknya cair dengan bau amis, dalam waktu 12 36 jam akan mengering, sedangkan warna darah akan berubah menjadi cokelat dalam waktu 10 12 hari. Oleh karena banyak faktor yang mempengaruhi darah, maka di dalam prakteknya hanya disebutkan bahwa darah tersebut sangat baru (beberapa hari), baru, tua, sangat tua (beberapa tahun), yaitu berdasarkan perubahan-perubahan warna serta perbandingan jumlah dengan intensitas reaksi terhadap uji-uji yang dilakukan di laboratorium.2

b. Dari distribusi bercak darah pada pakaian dapat diperkirakan posisi korban sewaktu terjadinya perdarahan. Pada orang yang bunuh diri dengan memotong leher dalam posisi tegak atau dalam kasus pembunuhan dimana korbannya sedang berdiri, maka bercak / aliran darah akan tampak berjalan dari atas ke bawah.2

c. Dari distribusi darah yang terdapat di lantai dapat diduga apakah kasusnya kasus bunuh diri (tergenang, setempat) atau pembunuhan (bercak dan genangan darah tidak beraturan, sering tampak tanda-tanda bahwa korban berusaha menghindar atau tampak bekas diseret).2

12

d. Pada kasus tabrak lari, pemeriksaan bercak darah dalam hal ini golongan darahnya yang terdapat pada kendaraan yang diduga sebagai penabrak dibandingkan dengan golongan darah korban akan bermakna dan memudahkan proses penyidikan.2

Pemeriksaan Bercak Darah yang Telah Kering Di dalam melakukan pemeriksaan bercak darah yang telah kering di TKP atau pada barang-barang bukti, seperti pisau, palu, tongkat pemukul, dan sebagainya, harus diperoleh kejelasan di dalam 3 hal pokok, yaitu : 1. 2. 3. Apakah bercak tersebut memang bercak darah? Jika bercak darah, apakah berasal dari manusia? Jika berasal dari manusia, apakah golongan darahnya?

Kejelasan dari ketiga hal pokok tersebut penting dalam penyelesaian kasus, oleh karena bercak darah yang kering tidak dapat dibedakan dari bercak-bercak lainnya.2

13

Pemeriksaan Laboratorium Pada Bercak Darah yang Kering Tujuan Pemeriksaan 1. Menentukan bercak darah Metode Pemeriksaan Pendahuluan : Tes Benzidine Tes Luminol Terjadinya warna hijau-biru Bercak bersinar Hasil yang Diharapkan

Penentuan : Tes Teichmann Kristal hemin-HCl berbentuk

batang, warna cokelat Tes Takayama Kristal haemochromogen, bulu, berwarna jingga 2. Menentukan darah manusia 3. Menentukan darah Tes Precipitin Terjadi presipitasi Terjadi aglutinasi pyridineberbentuk

golongan Absorption-Elution

2.8 Pemeriksaan Rambut7 Rambut merupakan salah satu jenis barang bukti yang paling sering ditemukan di tempat kejadian perkara, tetapi juga menjadi salah satu barang bukti yang paling sulit untuk dipahami. Rambut dapat dijadikan sebagai barang bukti forensic yang baik karena rambut dapat dipelajari serta dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Selain itu, rambut juga menyimpan informasi biologis yang sangat banyak serta untuk pemeriksaannya tidak sulit serta tidak memerlukan biaya yang besar. Selain itu, DNA juga dapat diperoleh dari rambut dan hal ini memberikan manfaat tambahan dalam fungsinya sebagai barang bukti forensic. Tujuan pemeriksaan forensic rambut adalah membandingkan rambut yang ditemukan atau rambut dati tempat kejadian perkara (TKP) dengan sampel rambut yang diketahui. Sampel rambut yang diketahui terdiri atas 50 100 rambut manapun dari semua bagian tubuh, biasanya rambut dari daerah kepala atau area pubis.

14

Rambut, baik rambut kepala maupun kelamin, merupakan bagian tubuh manusia yang dapat memberikan banyak informasi bagi kepentingan peradilan, antara lain tentang : a. Saat korban meninggal Normalnya tingkat pertumbuhan rambut sekitar 0,4 mm per hari. Pertumbuhan tersebut akan berhenti jika orang meninggal dunia. Atas sifat tersebut maka saat kematian dapat diperhitungkan asalkan diketahui kapan korban terakhir kali mencukur rambutnya. Lepasnya rambut akibat proses pembusukan jika kematian sudah berlangsung 48 72 jam. Perubahan warna rambut juga dapat dipakai untuk memperkirakan saat kematian. Pada penguburan yang dangkal perubahan warna terjadi sesudah 1 3 bulan, sedang pada penguburan yang dalam sesudah 6 12 bulan. b. Sebab kematian Informasi tentang sebab kematian juga dapat diperoleh melalui rambut mengingat beberapa racun tertentu, terutama racun metalik, disimpan di bagian tubuh tersebut. c. Jenis kejahatan Mengenai jenis kejahatan yang terjadi dapat diperkirakan dengan melihat macam rambut yang ditemukan. Adanya rambut pubis pada tubuh korban memberikan dugaan adanya tindak pidana perkosaan atau tindak pidan seksual lainnya dan adanya rambut binatang pada tubuh manusia atau sebaliknya juga dapat perkiraan adanya bestiality. d. Identitas korban Rambut mempunyai sifat tahan terhadap pembusukan dan bahan-bahan kimia sehingga dapat dijadikan sarana identifikasi bagi mayat-mayat yang tidak dikenal yang sudah membusuk. Meskipun tidak dapat memberikan identitas personal tapi rambut paling tidak dapat ditentukan umur, jenis kelamin, ras, dan sebagainya. e. Identitas pelaku Rambut dapat juga dipakai sebagai saran identifikasi guna mengetahui identitas pelakunya. Sebagaimana diketahui bahwa pada tindak pidan perkosaan dan pembunuhan, sering ditemukan rambut pelaku tertinggal atau berhasil dijambak oleh korban sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan identifikasi.

15

f. Benda/senjata yang digunakan Pemeriksaan mikroskopik rambut utuh akan memperlihatkan akar, bagian tengah, dan ujung yang lengkap. Pada rambut yang tercabut, rambut akan terlihat utuh disertai dengan jaringan kulit. Sebaliknya, rambut yang lepas sendiri mempunyai akar yang mengerut tanpa jaringan kulit. Rambut yang terpotong benda tajam, dengan mikroskop terlihat potongan rata, sedangkan akibat benda tumpul akan terlihat terputus tidak rata.

Informasi di atas diperoleh dengan meneliti sifat-sifat gambaran mikroskopik serta perubahan-perubahan yang terjadi akibat trauma atau racun tertentu. Panjang rambut kepala kadang-kadang dapat memberi petunjuk jenis kelamin. Tetapi untuk menentukan jenis kelamin yang pasti, harus dilakukan pemeriksaan terhadap sel-sel sarung akar rambut dengan larutan orcein. Pada rambut wanita, dapat ditemukan adanya kromatin seks pada inti sel-sel tersebut. Jika ditemukan rambut yang diduga ada kaitannya dengan kejahatan maka hendaknya rambut tersebut diperiksa dengan teliti untuk mengetahui : Keaslian rambut Penentuan rambut manusia atau bukan Identifikasi siapa pemilik rambut Umur : dapat ditentukan dengan memeriksa rambut tersebut berdasarkan tempat tubuh dan warnanya Jenis kelamin : rambut laki-laki pada umumnya lebih kaku, lebih kasar, dan lebih gelap. Sedang rambut wanita umumnya halus, panjang, dan meruncing ke arah ujung. Ras : Dapat dilihat dari warna, panjang, bentuk, dan susunan rambut.

Informasi lain yang ada kaitannya dengan kejahatan

16

BAB III KESIMPULAN

Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah suatu tempat penemuan barang bukti atau tempatterjadinya tindak pidana atau kecurigaan suatu tindak pidana, merupakan suatu persaksian.Adapun manfaat dilakukannya pemeriksaan TKP adalah menentukan saat kematian, menentukan pada saat itu sebab akibat tentang luka, mengumpulkan barang bukti, menentukan cara kematianSesuai dengan Pasal 7 ayat 1 (h) KUHAP dan Pasal 120 ayat 1 penyidik berwenang untuk meminta atau mendatangkan ahli, sehingga dokter sebagai ahli dalam kapasitasnya dapat memberikan bantuan di TKP apabila diminta. Bantuan berupa pemeriksaan korban, identifikasi, mencari barang bukti dan sampai pada kesimpulan. Banyak hal yang harus diperhatikan apabila seorang dokter diminta untuk memberikan bantuan di TKP diantaranya adalah persiapan dan yang paling penting tidak dapat dilupakan adalah pencatatan.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Idries AM. Olah TKP dalam Pedoman Praktis Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Sagung Seto. 2009. Hal 111 120 2. Tjiptomartono AL. Pemeriksaan di Tempat Kejadian Perkara dalam Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Jakarta : Sagung Seto. 2008. Hal 9 35 3. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tempat Kejadian Perkara dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : FKUI. 1997. Hal 203 206 4. http://polri.go.id/ 5. TKP. Available from: www.scribd.com/ doc/60393368/TKP 6. Bantuan Dokter di TKP. Available from : www.gunturpayasan.blogspot.com
[Accessed on 20 April 2013]

7. Identifikasi Forensik pada Spesimen Rambut Menggunakan Mikroskop. Available from :


www.scribd.com/127481464 [Accessed on 20 April 2013]

8. Makalah II for. Available from: http://www.scribd.com/doc/ 88423115/Makalah-IIFor [ Accessed on 20 April 2013] 9. Schiro, George. Collection and Preservation of Blood Evidence from Crime Scenes. Louisiana State Police Crime Laboratory. Available from: URL: http://www.crimescene-investigator.net/ 10. Trace Evidence. Available from: www.fbi.gov/about-us/lab/scientific-analysis/trace [Accessed on 20 April 2013]

18