Anda di halaman 1dari 29

ALAT UKUR DAN INSTRUMENTASI

JUDUL : INSTRUMENTASI ELEKTRONIK DAN TEKNIK PENGUKURAN EDISI KE : 2 BY : WILLIAM D COOPER PENERBIT : ERLANGGA TAHUN : 1994

ALAT UKUR DAN INSTRUMENTASI


Pengukuran dan Kesalahan
1.1. DEFINISI : Umumnya, didalam pengukuran dibutuhkan instrumen sebagai suatu cara fisis untuk menentukan suatu besaran (kuantitas) atau variabel. Instrumen tersebut membantu peningkatan keterampilan manusia dan dalam banyak hal memungkinkan seseorang untuk menentukan nilai dari suatu besaran yang tidak diketahui. Dengan demikian, sebuah instrumen dapat didefinisikan sebagai sebuah alat yang digunakan untuk menentukan nilai atau besaran dari suatu kuantitas atau variabel. Dalam pengukuran, digunakan sejumlah istilah yang didefinisikan sebagai berikut : - Instrumen : sebuah alat untuk menentukan nilai atau besaran suatu kuantitas atau variabel. - Ketelitian (accuracy) : harga terdekat di mana suatu pembacaan instrumen mendekati harga sebenarnya dari variabel yang diukur.

- Ketepatan (precision) : Suatu ukuran kemampuan untuk mendapatkan hasil pengukuran yang serupa. Dengan memberikan suatu harga tertentu bagi sebuah variabel, ketepatan (presisi) merupakan suatu ukuran tingkatan yang menunjukkan perbedaan hasil pengukuran - pengukuran yang dilakukan secara berurutan. - Sensitivitas (sensitivity) : perbandingan antara sinyal keluaran atau respons instrumen terhadap perubahan masukan atau variabel yang diukur. - Resolusi (resolution) : perubahan terkecil dalam nilai yang diukur di mana instrumen akan memberi respons (tanggapan). - Kesalahan (error) : penyimpangan variabel yang diukur dari harga (nilai) sebenarnya. Beberapa cara dapat dilakukan untuk memperkecil efek kesalahan - kesalahan ini. Misalnya, untuk memperoleh pengukuran yang tepat, disarankan agar melakukan beberapa kali pengamatan dan bukan hanya mengandalkan satu pengamatan.

1.2 KETELITIAN DAN KETEPATAN Ketelitian menyatakan tingkat kesesuaian atau dekatnya suatu hasil pengukuran terhadap harga yang sebenarnya sedang ketepatan (presisi) menyatakan tingkat kesamaan di dalam sekelompok pengukuran atau sejumlah instrumen. Untuk menunjukkan perbedaan antara ketelitian dan ketepatan, bandingkan dua buah voltmeter dari pembuatan dan model yang sama. Jika nilai tahanan deret di dalam salah satu voltmeter berubah banyak, pembacaannya bisa mengakibatkan kesalahan yang cukup besar. Karena itu ketelitian kedua voltmeter tersebut dapat berbeda sama sekali (untuk menentukan voltmeter mana yang menghasilkan kesalahan, diperlukan perbandingan terhadap voltmeter standar).

Ketepatan terdiri dari dua karakteristik, yaitu kesesuaian (conformity) dan jumiah angka yang berarti (significant figures) terhadap pengukuran dapat dilakukan. Sebagai contoh : sebuah tahanan yang besarnya 1384572 ohm setelah diukur dengan ohm meter secara konsisten dan berulang menghasilkan 1,4 mega ohm. Dalam hal ini hasil yang diberikannya adalah pembacaan yang lebih mendekati harga yang sebenarnya berdasarkan penaksiran. Walaupun dalam pengamatan ini tidak terdapat penyimpanganpenyimpangan, kesalahan yang diakibatkan oleh pembatasan terhadap pembacaan skala adalah suatu kesalahan presisi (precision).

1.2 ANGKA-ANGKA YANG BERARTI Suatu indikasi bagi ketepatan pengukuran diperoleh dari banyaknya angka-angka yang berarti (significant figures). Angka-angka yang berarti tersebut memberikan informasi yang aktual (nyata) mengenai besaran dan ketepatan pengukuran. Makin banyak angka-angka yang berarti, ketepatan pengukuran menjadi lebih besar. Sebagai contoh : jika nilai sebuah tahanan dinyatakan sebesar 68 ini berarti bahwa tahanan tersebut akan lebih mendekati 68 dari pada 67 atau 69 . Selanjutnya bila disebutkan nilai tahanan adalah 68,0 berarti nilai tahanan tersebut lebih mendekati 68,0 daripada 67,9 atau 68,1 . Pada tahanan 68 terdapat dua angka yang berarti, sedang pada tahanan 68,0 yaitu yang memiliki angka berarti yang lebih banyak, mempunyai ketepatan yang lebih tinggi daripada tahanan 68 .

Adalah lazim untuk mencatat suatu hasil pengukuran dengan menggunakan semua angka yang kita yakini paling mendekati ke harga yang sebenarnya. Misalnya jika sebuah volt meter dibaca 117,1 Volt; maka ini menunjukkan bahwa penaksiran yang paling balk menurut pengamat lebih mendekati ke 117,1 Volt daripada 117,0 Volt atau 117,2 Volt. Cara lain untuk menyatakan hasil pengukuran ini adalah menggunakan rangkuman kesalahan yang mungkin (range of posibble error). Dengan cara ini tegangan dapat dituliskan menjadi 117,1 0,005 Volt. Contoh : 1.1. Suatu rentetan pengukuran tegangan yang tidak saling bergantungan dilakukan oleh empat orang pengamat yang menghasilkan : 117,02 Volt ; 117,11 Volt ; 117,08 Volt dan 117,03 Volt. Tentukan : (a) tegangan rata-rata, (b) rangkuman kesalahan

Penyelesaian :
a). E rata-rata = =

E1 + E2 + E3 + E4 N

117,02 + 117,11 + 117, 08 + 117, 03 4

= 117, 06Volt b). Rangkuman = E maksimum E rata-rata = 117,11 117,06 = 0,05 Volt, juga E rata-rata E minimum = 117,06 117,02 = 0,04 Volt Rangkuman kesalahan rata-rata adalah : 0, 050 + 0, 04 2 = 0,045 = 0,05 Volt Bila dua atau lebih pengukuran dengan tingkat ketelitian yang ber beda di jumlah kan maka hasilnya hanya seteliti pengukuran yang paling kecil ketelitian nya . Hal ini di jelaskan dengan menjumlah kan dua buah tahanan deret seperti pada contoh : 1 2 berikut .

Contoh 1-2 : Dua buah tahanan R1 dan R2 dihubungkan secara berderet ( seri ) pengukuran masing masing menggunakan jembatan Wheatstone menghasil kan : R1=18,7 dan R2 = 3,624 . Tentukan tahanan total sampai beberapa angka berarti yang memenuhi (sesuai ). Penyelesaian : R1 = 18,7 (tiga angka yang berarti ) R2 = 3.624 (empat angka yang berarti ) Rt = R1+ R2 = 22,324 (lima angka yang berarti ) = 22,3

Angka angka yang di cetek miring untuk menunjukan bahwa pada R1 dan R2, ketiga angka terakhir merupakan angka angka yang meragukan . Dalam hal ini tidak ada gunanya untuk menggunakan dua angka terakhir (2 dan 4 ) sebab salah satu tahanan hanya teliti sampai tiga angka yang berarti atau sepersepuluh ohm. Dengan demikian ,yang di perlukan hanya sampai tiga angka yang berarti atau sepersepuluhan yang terdekat, yakni 22,3 . Contoh 1-3 : Untuk menentukan penurunan tegangan, arus sebesar 3.18 Amp dialirkan melalui sebuah tahanan 35.68 Ohm. Tentukan penurunan tegangan pada tahanan tersebut sampai angka-angka berarti yang memenuhi.

Penyelesaian : E = I x R = (3.18) A x (35.68) = 113.46224 Volt = 113 V Karena di dalam perkalian tersebut terdapat tiga angka yang berarti (yaitu 3.18), maka jawaban hanya dapat dituliskan maksimal dalam tiga angka yang berarti. Pada contoh 1-3, arus I memiliki tiga angka yang berarti dan R memiliki empat angka yang berarti; sedang hasilnya hanya dalam tiga angka yang berarti. Ini menunjukkan bahwa jawaban tidak dapat diketahui sampai suatu ketelitian yang lebih besar dari pada faktorfaktor yang didefinisikan paling jelek. Jika angka-angka tambahan bertambah banyak dalam jawaban, sebaiknya dihilangkan atau dibulatkan.

1.3. JENIS-JENIS KESALAHAN Tidak ada pengukuran yang menghasilkan ketelitian yang sempurna , tetapi adalah penting untuk mengetahui ketelitian yang sebenarnya dan bagaimana kesalahan yang berbeda digunakan dalam pengukuran. Kesalahan-kesalahan dapat terjadi karena berbagai sebab dan umumnya dibagi dalam tiga jenis utama, yaitu: * Kesalahan-kesalahan umum (gross-errors) Disebabkan oleh kesalahan manusia, diantaranya adalah kesalahan pembacaan alat ukur, penyetelan yang tidak tepat dan pemakaian instrument yang tidak sesuai, dan kesalahan penaksiran. * Kesalahan-kesalahan sistematis (systematis errors) Disebabkan oleh kekurangan-kekurangan pada instrument sendiri, seperti kerusakan atau adanya bagian-bagian yang aus dan pengaruh lingkungan terhadap peralatan atau pemakai. * Kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja (random errors) : Disebabkan oleh penyebab-penyebab yang tidak dapat langsung diketahui sebab perubahan-perubahan parameter atau sistem pengukuran terjadi secara acak.

1.4.1 Kesalahan-kesalahan umum (kecerobohan, gross errors) Kesalahan ini disebabkan oleh kekeliruan manusia dalam melakukan pembacaan atau pemakaian instrumen dan dalam pencatatan serta penaksiran hasil-hasil pengukuran. Contoh-contoh berikut menunjukkan bahwa voltmeter menimbulkan suatu "efek pembebanan" (loading effect) terhadap rangkaian, yakni mengubah keadaan awal rangkaian tersebut sewaktu mengalami proses pengukuran. Contoh 1-7: Sebuah voltmeter dengan kepekaan (sensitivity) 1000 / Volt membaca 100 V pada skala 150 V bila dihubungkan diantara ujung-ujung sebuah tahanan yang besarnya tidak diketahui. Tahanan ini dihubungkan secara seri dengan sebuah miliampermeter. bila miliamper-meter membaca 5 mA, Tentukan : (a) tahanan yang terbaca, (b) nilai tahanan aktual dari tahanan yang diukur, (c) kesalahan karena efek pembebanan voltmeter.

Penyelesaian :
(a) Tahanan total rangkaian adalah :
RT = VT 100V = = 20k IT 5mA

Dengan mengabaikan tahanan miliampermeter, harga tahanan yang tidak diketahui adalah : Rx = 20 k (b) Tahanan voltmeter adalah : RV = 1000 150V = 150k

Karena voltmeter tersebut paralel terhadap tahanan yang tidak diketahui, kita dapat menuliskan : RT RV 20 150

RX =

(c) Persentase kesalahan adalah : % Kesalahan =

RV RT

130

= 23, 05

aktual terbaca x100% = aktual

23, 05 20 x100% = 13, 23% 23, 05

Kesalahan - kesalahan ini tidak dapat dinyatakan secara sistematis tetapi hanya dapat dihindari dengan melakukan pembacaan yang cermat dan juga pencatatan data pengukuran yang benar.

1.4.2 Kesalahan Sistematis Jenis kesalahan-kesalahan ini biasanya dibagi dua bagian: (1) kesalahan-kesalahan instrumental yakni kekurangan-kekurangan dari instrumen itu sendiri, dan Contoh 1-8 : Ulangi contoh 1-7 jika miliamperemeter menunjukkan 800 mA dan Voltmeter menunjukkan 40 V pada skala 150 V. Penyelesaian : (a)
RT = VT 40V = = 50 IT 0,8 A
x150V = 150k V

R v = 1000
Rx =

RT RV 50 x150 = = 50,1 RV RT 149,95

(b)

% kesalahan =

50,1 50 x100% = 0, 2% 50,1

(2) kesalahan-kesalahan lingkungan, yakni yang disebabkan oleh keadaankeadaan luar yang mempengaruhi pengukuran.

Kesalahan-kesalahan instrumental (instrumental errors) merupakan kesalahan yang tidak dapat dihindarkan dari instrumen karena struktur mekanisnya. Misalnya didalam alat ukur d'Arsonval, gesekan beberapa komponen yang bergerak terhadap bantalan dapat menimbulkan pembacaan yang tidak tepat. Kesalahan-kesalahan instrumental dapat dihindari dengan cara : (1) pemilihan instrumen yang tepat untuk pemakaian tertentu; (2) menggunakan faktor-faktor koreksi setelah mengetahui banyaknya kesalahan instrumental; (3) mengkalibrasi instrumen tersebut terhadap sebuah instrumen standar. Kesalahan-kesalahan karena lingkungan (environmental errors) disebabkan oleh keadaan luar yang mempengaruhi alat ukur termasuk keadaan-keadaan disekitar instrumen seperti : efek perubahan temperatur, kelembaban, tekanan udara luar atau medan-medan magnetik atau medan elektrostatik. Cara-cara yang tepat untuk mengurangi efek-efek ini diantaranya adalah pengkondisian udara, penyegelan komponen-komponen instrumen tertentu secara rapat sekali, pemakaian pelindung magnetik, dll.

Kesalahan-kesalahan sistematis juga dapat dibagi dalam kesalahan statis dan kesalahan dinamis. Kesalahan statis disebabkan oleh pembatasan-pembatasan alat ukur atau hukum-hukum fisika yang mengatur tingkah laku alat ukur tersebut. Suatu kesalahan statis akan dihasilkan dalam sebuah mikrometer bila diberikan tekanan yang berlebihan untuk memutar poros. Kesalahan-kesalahan dinamis disebabkan oleh ketidak mampuan instrumen untuk memberikan respons (tanggapan) yang cukup cepat bila terjadi perubahanperubahan dalam variabel yang diukur. 1.4.3 Kesalahan-kesalahan acak (random errors) Kesalahan-kesalahan ini diakibatkan oleh penyebabpenyebab yang tidak diketahui dan terjadi walaupun semua kesalahan-kesalahan sistematis telah diperhitungkan. Cara satu-satunya untuk membetulkan kesalahan ini adalah dengan menambah jumlah pembacaan dan menggunakan cara-cara statistik untuk mendapatkan pendekatan paling baik terhadap harga yang sebenarnya.

1.5 ANALISIS STATISTIK (STATISCAL ANALYSIS) Analisis statistik terhadap data pengukuran adalah pekerjaan yang biasa sebab dia memungkinkan penentuan ketidak-pastian hasil pengujian akhir secara analisis. Hasil dari suatu pengukuran dengan metode tertentu dapat diramalkan berdasarkan data contoh (sample-data) tanpa memiliki informasi (keterangan) yang lengkap mengenai semua faktorfaktor gangguan. Agar cara-cara statistik dan keterangan yang diberikannya (interprestasi) bermanfaat, biasanya diperlukan sejumlah pengukuran yang banyak. Kesalahan-kesalahan sistematis juga harus kecil dibandingkan terhadap kesalahan-kesalahan acak; sebab pengerjaan data secara sistematis tidak dapat menghilangkan suatu prasangka tertentu yang selalu terdapat dalam semua pengukuran.

1.5.1 Nilai rata-rata (arithmetic mean) Nilai yang paling mungkin dan suatu variabel yang diukur adalah nilal rata-rata dari semua pembacaan yang dilakukan. Pendekatan paling baik akan diperoleh bila jumlah pembacaan untuk suatu besaran sangat banyak. Secara teoritis, pembacaan yang banyaknya tak berhingga akan memberikan hasil yang paling baik, walaupun dalam prakteknya hanya dapat dilakukan pengukuran yang terbatas. Nilai rata-rata diberikan oleh persamaan :
X = x x1 + x2 + x3 + x4 + .... + xn .........(1-1) = n n

Di mana: X = nilai rata-rata X1,x2,x3 = pembacaan yang dilakukan n = jumlah pembacaan Contoh 1-1 menunjukkan cara pemakaian nilai rata-rata.

1.5.2 Penyimpangan terhadap nilai rata-rata Penyimpangan (deviasi) adalah selisih antara suatu pembacaan terhadap nilai rata-rata dalam sekelompok pembacaan. Jika penyimpangan pembacaan pertama x1 adalah dl, penyimpangan pembacaan kedua x2 adalah d2, dan seterusnya, maka penyimpangan-penyimpangan terhadap nilai rata-rata adalah : Penyimpangan terhadap nilai rata-rata boleh positif atau negatif dan jumlah aijabar semua penyimpangan tersebut harus nol. Contoh 1-9 menunjukkan perhitungan penyimpangan (deviasi). Contoh 1-9 : Satu rentetan pengukuran arus yang tidak saling bergantungan dilakukan oleh enam pengamat dan menghasilkan 12,8 mA; 12,2 mA; 12,5 mA; 13,1 mA; 12,9 mA dan 12,4 mA. Tentukan (a) nilai rata-rata, (b) deviasi terhadap nilai rata-rata.

Penyelesaian :
(a). Dengan menggunakan persamaan (1-1) nilai rata-rata adalah: (b) Dengan menggunakan persamaan (1-2), penyimpangan-penyimpangan adalah : d1 = 12,8- 12,65 = 0,15 mA d2 = 12,2- 12,65 = - 0,45 mA d3 = 12,5- 12,65 = - 0,15 mA d4 = 13,1- 12,65 = 0,45 mA d5 = 12,9- 12,65 = 0,25 mA d6 = 12,4- 12,65 = -- 0,25 mA Dari sini dapat dilihat bahwa jumlah aijabar semua penyimpangan adalah nol.

1.5.3 Penyimpangan rata-rata (average deviation)


Deviasi rata-rata adalah suatu indikasi ketepatan instrumen-instrumen yang digunakan untuk pengukuran.Instrumen-instrumen yang ketepatannya tinggi akan menghasilkan deviasi rata-rata yang rendah antara pembacaan. Menurut definisi, deviasi rata-rata adalah penjumlahan nilai-nilai mutlak dari penyimpangan-penyimpangan dibagi dengan jumlah pembacaan.

Deviasi rata-rata dapat dinyatakan sebagai :


D = d 1 + d 2 + d 3 + ... + d n d = n n

Penentuan deviasi ini diberikan pada contoh 1-10 berikut. Contoh 1-10 : Tentukan deviasi rata-rata untuk data yang diberikan pada contoh 1-9. Penyelesaian : 0,15 + 0, 45 + 0,15 + 0, 45 + 0,5 + 0, 25 D= = 0, 283mA 6 1.5.4 Deviasi standar Deviasi standar (root - mean - square) merupakan cara yang sangat ampuh untuk menganalisa kesalahan-kesalahan acak secara statistik. Deviasi standar dari jumlah data terbatas didefinisikan sebagai akar dari penjumlahan semua penyimpangan (deviasi) setelah dikuadratkan dibagi dengan banyaknya pembacaan. Secara matematis dituliskan:
2 2 d12 + d 2 + d32 + ... + d n dt2 = = n n

Dalam praktek, jumlah pengamatan yang mungkin adalah terbatas. Deviasi standar untuk sejumlah data terbatas adalah:

2 2 d12 + d 2 + d32 + ... + d n dt2 = = n 1 n 1

Suatu pernyataan lain yang sesungguhnya besaran yang sama adalah variansi ( mean square deviation ) yang besarnya sama dengan kuadrat deviasi standar, yaitu: 2 Variansi (V) = mean square deviation = . Variansi merupakan besaran untuk dipakai dalam banyak perhitungan sebab sifatnya yang aditif. Deviasi standar memiliki keuntungan karena mempunyai satuan yang sama seperti variabel, sehingga mudah membuatnya untuk membandingkan besaran-besaran. Hasil-hasil ilmiah banyak dinyatakan dalam deviasi standar. 1.6 KEMUNGKINAN KESALAHAN - KESALAHAN (PROBABILITY OF ERRORS) 1.6.1 Distribusi kesalahan normal Pada Tabel 1-1 ditunjukkan sebuah daftar dari dari 50 pembacaan tegangan yang dilakukan pada selang waktu yang singkat dan dicatat paling sedikit pada setiap kenaikan 0,1 volt. Tegangan nominal tegangan yang diukur adalah 100,0 volt.

Tabel 1-1: Daftar pembacaan tegangan Pembacaan Tegangan(Volt) Jumlah Pembacaan

99,7 99,8 99,9 100,0 100,1 100,2 100,3

1 4 12 19 10 3 1 50

Hukum kesalahan Gauss atau hukum Normal membentuk dasar dalam mempelajari efek- efek acak secara analisis. Walaupun penulisan matematis bagi masalah ini di luar lingkup pembatasan ini, pernyataan kualitatif berikut adalah didasarkan pada hukum Normal (a) Semua pengamatan termasuk efek gangguan-gangguan kecil, disebut kesalahan-kesalahan acak; (b) Kesalahan-kesalahan acak bisa positif atau negatif; (c) Kemungkinan kesalahan acak yang positif dan negatif adalah sama. Adapun kemungkinan-kemungkinan bentuk kurva distribusi kesalahan adalah sebagai berikut: (a) Kemungkinan kesalahan-kesalahan yang kecil lebih besar dari kemungkinan kesalahan-kesalahan besar; (b) Kesalahan-kesalahan besar adalah sangat mustahil; (c) Terdapat kemungkinan yang sama bagi kesalahan-kesalahan positif dan negatif sehingga kemungkinan suatu kesalahan yang diberikan akan simetris terhadap harga nol.

1.6.2 Kesalahan yang mungkin (probable error) Tabel 1-2 Luasan dibawah kurva kemungkinan
Deviasi (+) 0.6745 1.0 2.0 3.0

Bagian luasan total yang tercakup 0.5000 0.6828 0.9546 0.9972

Pada Tabel 1-2 ditunjukkan bahwa separuh dari kasus tersebut berada didalam batas-batas penyimpangan 0 , 6 7 4 5 Besaran r disebut kesalahan yang mungkin (probable error) yang didefinisikan sebagai Kesalahan yang mungkin r = 0,6745 Nilai ini adalah mungkin dalam arti bahwa terdapat suatu kesempatan yang sama di mana setiap pengamatan akan memiliki suatu kesalahan acak yang tidak melebihi r. Deviasi standar lebih disukai dalam pekerjaan statistik.

1.7 KESALAHAN BATAS (LIMITING ERRORS) Dalam kebanyakan instrumen, ketelitian hanya dijamin sampai suatu persentase tertentu dari skala penuh. Batas-batas penyimpangan dari nilai yang ditetapkan disebut kesalahan batas (limiting errors) atau kesalahan garansi (guarantee errors). Misalnya jika nilai sebuah tahanan adalah 500 10 %, maka pabrik menjamin bahwa nilai tahanan tersebut berada diantara 450 dan 550 dan tidak akan lebih besar dari batas-batasyang telah ditetapkan. Contoh 1-12 : Ketelitian sebuah voltmeter 0 - 150 V dijamin sampai 1% skala penuh. Tegangan yang diukur oleh voltmeter adalah 83 V. Tentukan "limiting error" dalam persen. Penyelesaian : Besar kesalahan batas adalah : 0,01x 150V = 1.5V Persentase kesalahan pada penunjukkan voltmeter sebesar 83 V adalah: 1,5 / 85 x100% = 1.81% Dalam contoh 1-12 bahwa voltmeter dijamin memiliki suatu ketelitian yang lebih baik pada 1% skala penuh, tetapi sewaktu voltmeter tersebut membaca 83 , voltmeter kesalahan batas menjadi 1,81 %. Secara berkaitan, bila tegangan yang diukur lebih kecil, kesalahan batas akan bertambah. Contoh 1-12 menunjukkan pentingnya melakukan pengukuran sedekat mungkin ke skala penuh. Contoh 1-13 menunjukkan suatu komputasi.

Contoh 1-13: Tiga buah kotak tahanan dekade (kelipatan sepuluh) yang masing-masing dijamin sampai 1% digunakan dalam sebuah rangkaian jembatan wheat stone untuk mengukur sebuah tahanan yang tidak diketahui (Rx). Tentukan batas-batas Rx yang diberikan oleh ketiga kotak tahanan tersebut. Penyelesaian : Persamaan untuk kesetimbangan jembatan menunjukkan bahwa Rx dapat ditentukan dari ketiga kotak tahanan yaitu Rx = R1, R2, R3, dimana R1, R2 dan R3 adalah tahanan kotak yang dijamin sampai 0.1 %. Harus diketahui bahwa kedua suku dalam pembilang (yaitu Rl dan R2) bisa positif sampai batas maksimal 0.1 % dan harga dalam penyebut bisa negatif sampai maksimal 0.1% dan keduanya menghasilkan suatu kesalahan total sebesar 0.3%. Dengan demikian, kesalahan garansi diperoleh dengan menjumlahkan langsung semua kesalahan yang mungkin. Pengambilan tanda-tanda aljabar menghasilkan kombinasi yang mungkin yang paling jelek. Sebagai ilustrasi berikutnya untuk menghitung disipasi daya di dalam sebuah tahanan dengan menggunakan hubungan P = I2 R diberikan pada contoh 1-4 berikut Contoh 1-14 : Arus melalui sebuah tahanan 100 0.2 adalah 2.00 0.01 A. Dengan menggunakan persamaan p = I2 R, tentukan kesalahan batas untuk disipasi daya.

Penyelesaian : Dengan menyatakan batas-batas garansi arus dan tahanan dalam persen, diperoleh: I = 2.00 0.01 A = 2.00 A 0,5 % R = 100 0,2 = 100 0,2% Jika dalam hal ini digunakan kombinasi kesalahan yang mungkin yang paling jelek, kesalahan batas dalam disipasi daya adalah : ( P =I2 R ) (2 x 0,5%) + 0,2 % = 1,2 % Dengan demikian, disipasi daya menjadi : P = I2 . R = (2,00)2 x 100 = 400 W 1,2 % = 400 4,8 ( W )

SELESAI