Anda di halaman 1dari 53

Minggu, 23 Januari 2011

uji efek diuretik ekstrak etanol 70 % daun ceplukan


BAB 1 PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah Diuretik berperan dalam penyembuhan beberapa penyakit, hal ini berkaitan dengan penyembuhan penyakit tertentu, terutama yang berhubungan dengan penurunan tekanan darah melalui pembuangan air dalam darah pada penyakit hipertensi dan pembuangan zat-zat tertentu pada penyakit ginjal (batu ginjal), serta asam urat tinggi, hiperkalsemia, diabetes insipidus (Permadi, 2002). Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian, pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan kedua menunjukkan jumlah pengeluaran (kehilangan) zat-zat terlarut dan air. Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udema, yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel kembali menjadi normal (Sunaryo, 1995). Walaupun kerjanya pada ginjal, diuretik bukan obat ginjal, artinya senyawa ini tidak dapat memperbaiki atau menyembuhkan penyakit ginjal, demikian juga pada pasien insufisiensi ginjal jika diperlukan dialisis, tidak akan dapat ditangguhkan dengan penggunaan senyawa ini (Mutschler, 1991) . Beberapa diuretika pada awal pengobatan justru memperkecil ekskresi zat-zat penting urin dengan mengurangi laju filtrasi glomerulus sehingga akan memperburuk insufisiensi ginjal. Dengan demikian obat yang dapat digunakan secara terapetik hanyalah yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi gerakan air dan elektrolit dalam organisme.

Pengaruh terhadap proses transport hanya seakan-akan saja khas terhadap ginjal. Karena konsentrasi diuretika pada saat melewati nefron meningkat dengan hebat, maka efeknya pada ginjal (efek diuretika) dibandingkan efek pada organ lain lebih dominan. Jika pada peningkatan ekskresi air terjadi juga peningkatan garam-garam, maka diuretika ini dinamakan saluretika atau natriuretika (diuretika dalam arti sempit) (Mutschler, 1991). Furosemida merupakan kelompok diuretika kuat yang telah teruji secara medis ilmiah. Sebagai diuretika kuat, furosemida merupakan obat yang paling sering digunakan di Indonesia, yaitu sekitar 60% dibandingkan dengan diuretika kuat yang lain. Hal ini terjadi karena mula kerja, waktu paruh dan waktu kerja relatif singkat sehingga efek diuretikanya cepat timbul dan sangat cocok digunakan untuk keadaan akut namun sangat disayangkan pemakaian furosemida dapat menimbulkan efek samping gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, terutama ion Natrium dan Kalium. Kedua ion ini banyak yang dieksresikan sehingga menimbulkan hiponatrinemia dan hipokalemia (Sulatri dalam Agoes, 1992; Ganiswara, 1995; Mutschler, 1991). Oleh karena efek samping obat furosemida yang berupa gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit maka digunakan tanaman obat. Diuretik yang berasal dari tumbuhan diharapkan akan lebih aman dibanding obat sintetik.salah satu tumbuhan yang secara empiris berkhasiat diuretik adalah ceplukan (physalis angulata L.), daun nya dapat digunakan sebagai obat bengkak, peluruh air seni (diuretik) dan memperbaiki pencernaan pada anak-anak (Hutapea, 1994). Tanaman obat telah terbukti aman dikonsumsi karena sudah berabad-abad lamanya dikonsumsi oleh nenek moyang kita. Tidak pernah ditemukan sejarah satu generasi hilang gara-gara mengkonsumsi tanaman obat. Tanaman obat lebih murah karena bisa ditanam sendiri, dicari dikebun-kebun, dan harga yang sangat murah jika dibandingkan dengan obat kimia (Permadi, 2002).

Tanaman ceplukan berkhasiat sebagai pereda demam, penghilang nyeri, peluruh kencing (diuretik), kencing manis (diabetes melitus), anti toksik dan pereda batuk (Dalimartha, 2006). Efek diuretik dari tanaman ceplukan dibuktikan oleh Azizah (2005), ekstrak air daun ceplukan konsentrasi 10 % b/v (1,25 g/ kg BB) memberikan efek diuretik pada tikus putih jantan galur Wistar. Dalam penelitian tersebut senyawa yang diuji bersifat polar. Untuk melanjutkan penelitian tersebut perlu diteliti apakah senyawa yang bersifat polar dari ekstrak daun ceplukan dengan penyari dengan etanol 70 % mempunyai efek diuretik. Senyawa flavonoid mempunyai aktivitas biologis yang bermacam-macam diantaranya sebagai antivirus, antihistamin, diuretik, antihipertensi, bakterisida, estrogenik, mengaktivasi enzim, dan lain-lain (Geissman, 1962). Metode penyarian yang dipakai pada penelitian ini adalah maserasi. Maserasi digunakan untuk penyariaan simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut (Anonim, 1986 ; Ansel, 1989). Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah etanol 70%, hal ini dikarenakan senyawa flavonoid larut dalam etanol, aseton, dan metanol 80%. Pelarut tersebut sering dipakai untuk identifikasi flavonoid, pengekstraksian kembali larutan dalam air dengan pelarut organik yang tidak bercampur dengan air tetapi agak polar sehingga sering kali bermanfaat untuk memisahkan senyawa golongan ini dari senyawa yang lebih polar seperti karbohidrat (Robinson, 1995). Penelitian ini menggunakan hewan uji tikus, sebab tikus relatif resisten terhadap infeksi, tikus tidak begitu fotofoik seperti halnya mencit, aktifitasnya tidak terganggu oleh adanya manusia disekitarnya (Sugiyanto, 1995).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah ekstrak etanol 70% daun ceplukan mempunyai efek diuretik pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar? 2. Seberapa besar dosis ekstrak etanol 70% daun ceplukan yang menunjukkan efek diuretik pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar?

C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian adalah : 1. Mengetahui efek diuretik ekstrak etanol 70 % daun ceplukan terhadap tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar. 2. Mengetahui dosis ekstrak etanol 70% daun ceplukan yang menunjukkan efek diuretik pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar.

D.Kegunaan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak etanol 70% daun ceplukan (Physalis angulata L.) mempunyai efek diuretik terhadap tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur wistar, untuk mengetahui dosis ekstrak etanol 70% daun ceplukan yang menunjukkan efek diuretik pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Ceplukan (Physalis angulata L.) 1. Sistematika tanaman Divisi Sub Divisio Classis Sub Classis Ordo Familia Genus Species (Van Steenis, 1997) 2. Nama lain Nama tanaman Ceplukan pada berbagai daerah di Indonesia yaitu Ceplukan (Melayu), Leletop (Sumatra Timur), Ciplukan, Ceplokan, Ceplukan sapi, Ciciplukan (Jawa), Cecenet, Cecendetan, Cicindit (Sunda), Nyornyoran, Yoryoran(Madura), Keceplokan, Ciciplukan, : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotiledonae : Sympetalae : Solanales : Solanaceae : Physalis : Physalis angulata L

Angket (Bali), Kenampok, Dedesan (Sasak), Lapunonat (Seram), Daun boba (Ambon), Dagameme (Ternate), Daun loto-loto (Makasar), Leletokan (Minahasa) (Dalimartha, 2006).

3. Morfologi ceplukan Tanaman ceplukan ini paling banyak terdapat di Kabupaten Parahyangan (Heyne, 1987). Herba ceplukan tegak dengan tinggi 0,1-1 m. Batang tanaman ceplukan berusuk bersegi tajam dan berongga. Ceplukan memiliki helaian daun bulat telur memanjang bentuk lanset, tangkai bunga tegak dengan ujung yang mengangguk dan Mahkota berbentuk lonceng lebar. Tangkai sari tanaman ceplukan berwarna kuning pucat dengan kepala sari seluruhnya biru muda. Buah ceplukan berbentuk buni bulat memanjang pada waktu masak kuning (Van Steenis, 1997). 4. Kegunaan ceplukan Tanaman ceplukan berkhasiat sebagai pereda demam, penghilang nyeri, peluruh kencing (diuretik), kencing 2006). manis Tanaman (diabetes ceplukan melitus), juga anti toksik dan sebagai pereda obat

batuk(Dalimartha,

digunakan

antidiabetes,hipertensi, asam urat, pembengkakan testis, influenza dan radang tenggorokan (Wijayakusuma, 2004). Penggunaan herba ceplukan secara tradisional yaitu 15 gram herba segar dalam 3 gelas air kemudian direbus hingga airnya tinggal satu gelas lalu disaring dan di minum (Hariana, 2007). Akar ceplukan digunakan sebagai obat cacing dan penurun demam. Daun ceplukan digunakan untuk penyembuhan patah tulang, bisul, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut, kencing nanah (Sudarsono dkk., 2002).

Buah ceplukan digunakan sebagai obat gusi berdarah, obat bisul dan obat mulas, sedangkan daunnya berkhasiat sebagai obat bisul (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991). 5. Kandungan kimia Kandungan zat aktif pada tanaman Ceplukan yaitu buah Ceplukan mengandung saponin dan flavonoid. Daun Ceplukan mengandung senyawa asam sitrat, fisalin sterol/terpen, saponin, flavonoid, alkaloid (Anonim, 1995). Kulit buah mengandung senyawa C27H44O-H2O. Cairan buah Ceplukan mengandung zat gula, dan biji Ceplukan mengandung asam elaidat (Dalimartha, 2006). Physalis angulata L. mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol (Depkes 2000). 5.1 Saponin. Senyawa aktif permukaan yang kuat menimbulkan basa jika dikocok dalam air (Robinson 1995). Saponin mempunyai rasa pahit yang menusuk biasanya menyebabkan bersin atau iritasi terhadap selaput lendir bersifat racun terhadap binatang berdarah dingin seperti ikan, bersifat hemolitik dan dapat membentuk larutan koloidal dalam air, membentuk busa yang mantap pada penggojokan, sering digunakan sebagai deterjen. Selain itu, juga meningkatkan absorbsi diuretika, serta merangsang kerja ginjal. 5.2 Flavonoid. Senyawa polifenol yang mengandung 15 atom karbon yang tersusun dalam 2 cincin benzen yang dihubungkan oleh 3 atom karbon cincin alifatik sebagai pembentuk kerangka dasar C6 - C3 - C6 artinya kerangka karbonnya terdiri dari 2 gugus C6 (cincin benzen tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik 3 karbon (Robinson, 1995). Flavonoid mempunyai 2 (dua) bentuk flavonoid yaitu yang terdapat dalam bentuk bebas (aglikon) dan dalam bentuk terikat gula (glikosida). Sebagian besar terdapat dalam bentuk glikosida, baik mono, di, triglikosida (Harborne, 1987). Penggolongan flavonoid berdasarkan atas penambahan rantai oksigen heterosiklik dan perbedaan distribusi dari gugus hidrofilnya. Perbedaan oksidasi dibagian atom C menentuka sifat, khasiat, dan golongan atau type dari flavonoid. Klasifikasi flavonoid berdasarkan

perbedaan rantai C3 yaitu = flavon, flavonol, flavonon, flavononol, isoflavon, auron, dan calcon. Bagian terbesar yang sering ditemukan dalam tanaman adalah flavon dan flavonol (Harborne, 1987). Senyawa flavonoid mempunyai aktivitas biologis yang bermacam-macam diantaranya sebagai antivirus, antihistamin, diuretik, anti hipertensi, bakteriosida, estrogenik,

mengaktivasi enzim, dan lain-lain (Geissman, 1962). Kelarutan flavonoid berbeda-beda terhadap berbagai pelarut sesuai dengan golongan substitusinya. Pelarutan ini disebabkan karena polaritas yang berbeda-beda. Dalam memilih pelarutnya tidak hanya tergantung pada kandungan zat aktif yang diselidiki tetapi juga bagaimana substansi tersebut diambil (Harborne, 1987). 5.3 Polifenol. Polifenol merupakan inti benzen yang mempunyai gugus hidroksi lebih dari satu. Senyawa-senyawa polifenol sederhana, misalnya hidrokuion, resorsinol, dan pirokatekol. Polifenol jarang ditemukan dalam tumbuhan tinggi. Senyawa-senyawa yang paling banyak ditemukan adalah arbutin dan metil eter (Manitto, 1992). Senyawa polifenol merupakan bahan polimer paling penting dalam tumbuhan dan cenderung mudah larut dalam air karena berikatan dengan gula sebagai glikosida (Harborne, 1987). B.Diuretika 1.Definisi diuretik Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian, pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran (kehilangan) zat-zat terlarut air (Sunaryo, 1995). 2.Pembentukan urin

Fungsi utama ginjal adalah untuk mengeluarkan semua zat asing atau toksis dari tubuh, umpamanya obat-obat serta hasil penguraiannya, dan sisa pertukaran zat dari tubuh sendiri. Pengeluaran zat-zat ini terjadi sebagai larutan dalam air kemih. Ginjal adalah organ tubuh yang terpenting untuk mengatur homeostatis. Yang dimaksudkan suatu kesetimbangan dinamis antara cairan di dalam dan di luar sel-sel yang terutama sekali tergantung dari pertukaran Na+. Ion-ion ini terutama berada di luar sel dalam cairan antara sel dan dalam plasma darah, sedangkan ion kalium adalah sebaliknya (Tan dan Rahardja, 1991) Pembentukan urin dari darah dalam batas yang sederhana terdiri dari filtrasi glomerulus, reabsorpsi dan ekskresi selektif dari tubulus. Proses diuresis dimulai dengan mengalirnya darah kedalam gumpalan pembuluh darah (glomerulus) yang terletak di bagian kulit (korteks) dari ginjal. Dinding-dinding glomeruli ini bekerja sebagai saringan yang halus secara pasif menahan sel-sel darah merah dan zat-zat putih telur, tetapi dapat ditembus oleh air, garamgaram dan glukosa. Air saringan glomeruli (ultra filtrasi) yang diperoleh pada penyaringan ini mengandung elektrolit-elektrolit dari darah di samping banyak air ditampung di wadahwadah (kapsula Bowman) yang mengelilingi tiap gumpalan seperti corong dan disalurkan melalui pipa-pipa kecil (tubuli). Tubulus ini dibagi dalam bagian proksimal dan distal, sedangkan di antara dua bagian ini terletak suatu bagian lengkungan yang disebut Henles loop. Disini terjadi penarikan kembali secara aktif dari air dan zat-zat kimia (glukosa dan sebagian garam-garam yang masih berguna bagi tubuh) dan dikembalikan ke darah melalui kapiler-kapiler yang meliputi tubuli tersebut. Zat-zat yang tidak berguna, seperti ampas-ampas penguraian dari metabolisme tidak diserap kembali. Dengan demikian, ultra filtrat yang tiap harinya

dihasilkan rata-rata 180 liter untuk seorang dewasa, dipekatkan hingga menjadi lebih kurang 1 liter air kemih, sisanya lebih dari 99% direabsorbsi oleh tubuli (Tan dan Rahardja, 1991). 3. Penggolongan diuretik Diuretik yang efektif untuk menghilangkan air dan natrium adalah sebagai berikut : 3.1.Diuretik tiazid Tiazid bekerja pada tubulus kontortus distal ginjal, sesudah ansa Henle dengan meningkatkan ekskresi natrium, klor dan air. Tiazid dipakai untuk mengobati hipertensi dan edema perifer. Waktu paruh tiazid lebih panjang dari pada diuretik kuat. Tiazid terbagi dalam tiga kelompok sesuai dengan lama kerjanya : tiazid kerja pendek memiliki lama kerja kurang dari 12 jam; tiazid kerja menengah lama kerjanya antara 12-24 jam; dan yang bekerja lama memiliki lama kerja lebih dari 24 jam (Kee dan Hayes, 1996). Contohnya : hidroklorothiazida, klortalidon, mefrusida, indapamida, xipamida, dan klopamida (Tan dan Rahardja, 1991). 3.2. Diuretik Ansa Henle Diuretik kuat bekerja pada ansa Henle dengan menghambat transport klorida terhadap natrium ke dalam sirkulasi (menghambat reabsorpsi natrium pasif). Garam natrium dan air akan keluar bersama dengan kalium, kalsium dan magnesium. Obat-obat ini hanya memiliki sedikit efek terhadap gula darah, tetapi kadar asam urat meningkat (Kee dan Hayes, 1996). Obat-obat golongan ini sangat poten dan menyebabkan penurunan jumlah air dan elektrolit dalam jumlah besar. Efek dari diuretik ini berkorelasi dengan dosis yang berarti dengan meningkatnya dosis maka efek dan respon obat juga meningkat. Waktu paruh diuretik kuat bervariasi dari 30 menit sampai 1,5 jam. Waktu awal kerja dari diuretik terjadi setelah 30-60 menit. Efek samping yang sering dijumpai adalah ketidakseimbangan elektrolit dan cairan, seperti hipokalsemia, dan hipokloremia (Kee dan Hayes, 1996). Contohnya : furosemida, bumetanida, dan etakrinat (Tan dan Rahardja, 1991).

3.3. Diuretik hemat kalium Diuretik hemat kalium dipakai untuk diuretik ringan atau dalam kombinasi dengan obat antihipertensi (contohnya spironolakton, triamterence). Obat-obat ini bekerja pada tubulus distal ginjal untuk meningkatkan ekskresi natrium dan air dan retensi kalium. Kalium direabsorpsi dan natrium diekskresi. Efek samping utama dari obat-obat ini adalah hiperkalemia (Kee dan Hayes, 1996). 3.4. Diuretik osmotik Diuretik osmotik (contohnya manitol) dapat meningkatkan konsentrasi plasma dan cairan dalam tubulus ginjal. Diuretik osmotik dapat mengekskresikan natrium, klor, kalium, dan air. Golongan obat ini dapat mencegah payah ginjal, untuk mengurangi tekanan intrakranial (misalnya edema otak) dan untuk menurunkan tekanan intraokular (misalnya glaukoma) (Kee dan Hayes, 1996). 3.5. Penghambat anhidrase karbonik Penghambat anhidrase karbonik (Contohnya asetazolamid, diklorfenamid,

etoksilamid, dan metozilamid) menghambat kerja enzim anhidrase karbonik yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan asam-basa (keseimbangan ion hidrogen dan bikarbonat). Penghambatan enzim ini menyebabkan peningkatan pengeluaran natrium, kalium dan bikarbonat. Golongan obat ini terutama dipakai untuk menurunkan tekanan intraokular pada pasien yang menderita glaukoma kronik tetapi tidak dipakai pada glaucoma akut. Pemakaian yang lain adalah diuresis, penanganan epilepsi, dan pengobatan gangguan karena tekanan darah yang tinggi (Kee dan Hayes, 1996).

3.6. Diuretik merkuri

Obat-obat dalam golongan ini sifatnya mengiritasi saluran cerna. Oleh karena itu, diuretik merkuri sudah jarang dipakai sebagai obat diuretik (Kee dan Hayes, 1996). Obat yang bekerja pada tubulus renalis bermanfaat dalam keadaan klinis yang melibatkan elektrolit abnormal atau metabolism air. Maka kerja masing-masing obat dipahami dalam hubungan ke tempat kerjanya di dalam nefron dan fisiologi normal segmen itu (Katzung, 2001). 4.Mekanisme diuretika Mekanisme transport tubulus renalis dari obat tersebut adalah : 4.1. Tubulus proksimalis Natrium bikarbonat, glukosa, asam amino dan solut organik lebih mudah direabsorpsi dalam bagian awal tubulus proksimalis karena konsentrasi solutnya menurun. Air direabsorpsi secara pasif untuk menjaga osmolalitas yang hampir konstan pada cairan tubulus proksimal. Konsentrasi larutan dalam lumen menurun terhadap konsentrasi inulin, suatu tanda bahwa eksperimental tidak disekresikan ataupun diabsorpsi oleh tubulus ginjal (Katzung, 2001). Larutan yang direabsorpsi dalam tubulus proksimal yang paling relevan terhadap kerja diuretiknya adalah natrium bikarbonat dan natrium klorida. Reabsorpsi natrium bikarbonat oleh tubulus proksimal diawali dengan kerja pertukaran Na+ / H+ yang terletak pada membrane lumen dari sel epitel tubulus proksimal. Reabsorpsi bikarbonat di tubulus proksimal tergantung kepada aktivitas carbonic anhydrase (Katzung, 2001). Larutan yang tidak permeabel (impereant) dalam jumlah yang besar seperti glukosa dan manitol hadir dalam cairan tubuler, reabsopsi air akan menyebabkan konsentrasi larutan meningkat pada suatu titik sehingga osmolalitas cairan tubuler meningkat dan reabsorpsi secara jauh lebih terhambat. Ini adalah mekanisme terjadinya diuretik osmosis (Katzung, 2001).

4.2. Ansa Henle (lengkungan Henle) Pada perbatasan antara garis dalam dan luar dari bagian luar medula, merupakan awal dari cabang tipis ansa Henle. Cabang tipis ini tidak berpartisipasi pada reabsorpsi garam aktif tetapi memberi konsentrasi pada reabsorpsi air. Untuk itu cabang tipis ini adalah titik tangkap kerja tambahan untuk diuretik osmotik. Cabang meningkat yang tebal pada ansa Henle secara aktif mereabsorpsi NaCl dari lumen (sekitar 35% dari natrium tersaring). Sistem transport NaCl pada membran luminal cabang meningkat yang tebal adalah kotrasporter Na+/K+/2Cl. Penghambatan transport garam pada cabang meningkat yang tebal oleh diuretik ansa ( loop) menyebabkan peningkatan ekskresi urine kation-kation divalen selain terhadap NaCl (Katzung, 2001).

4.3.Tubulus berbelit distal NaCl yang direabsorpsi tubulus berbelit distal (distal convoluted tubule) lebih sedikit jumlahnya (hanya sekitar 10% dari NaCl tersaring). Bagian ini tidak permeabel air, dan reabsorpsi NaCl secara lebih jauh mengencerkan cairan tubulus. Transport NaCl dilakukan oleh diuretik dari kelompok tiazid (Katzung, 2001). 4.4. Tubulus pengumpul Tubulus pengumpul adalah sebuah tempat yang terdapat berbagai mineralokortikoid menampakkan pengaruh yang signifikan atau tempat utama dari sekresi kalium oleh ginjal dan tempat terjadinya semua perubahan-perubahan metabolisme kalium yang disebabkan diuretik. Tubulus pengumpul/kolektor bertanggung jawab hanya 2-5% dari reabsorpsi NaCl oleh ginjal, selain itu juga bertanggungjawab pada menentukan konsentrasi Na+ dalam urin (Katzung, 2001).

Hormon ADH juga bekerja di tubulus pengumpul dengan jalan mempengaruhi permeabilitas bagi air dari sel-sel saluran ini (Tjay dan Rahardja, 2002). 5. Penggunaan diuretik 5.1. Edema Jika terjadi kelebihan air di jaringanjaringan misal pada dekompensasi jantung setelah infark, dimana peredaran tadi berlangsung sempurna lagi dan air tertimbun di paruparu, atau pada ascites (busung perut) dimana air tertumpuk di rongga perut serta pada penyakit ginjal (insufisiensi) (Tan dan Rahardja 1991). 5.2. Hipertensi Guna mengurangi volume darah seluruhnya hingga tekanan darah turun. Di samping itu diduga diuretik umum berkhasiat langsung pada pembuluh darah. Diuretika memperkuat efek obat hipertensi maka biasanya digunakan dalam bentuk kombinasi dengannya. 5.3. Diabetes Insipidus (berkemih berlebihan tanpa adanya gula). Diuretik justru mengurangi polyuria secara paradoksal. 5.4. Batu Ginjal Guna membantu mengeluarkan endapan-endapan kristal dari ginjal dan saluran kemih (Tan dan Rahardja 1991). 5.5 Hiperkalsemia Obat ansa Henle dapat memperoleh peningkatan ekskresi Ca ke dalam urin dengan pengurangan dalam kadar Ca serum. Efek ini sangat bermanfaat dalam terapi akut hiperkalsemia. Penghambatan fungsi pars asenden tebal juga menyebabkan ekskresi jelas bagi NaCl, air, K+, dan Mg2+. Deplesi volume cairan ekskresi harus dicegah untuk menjamin diteruskannya respon diuretik (Katzung 1989). 6. Efek samping umum :

Efek samping umum dari diuretika yang sering terjadi adalah :

6.1.

Kehilangan kalium : semua diuretika yang bekerja dimuka tubuli sebagai

distal ujung memperbesar ekskresi ion-ion K+ dan H+ karena ditukarkan dengan ion Na+ yang kadarnya 3 mMol/liter. Pencegahan kehilangan kalium dapat dilakukan dengan menelan diuretika secara intermitten (berkala) dan bersama suatu zat penghemat kalium. 6.2. Hiponatremia dan alkalosis : akibat diuresis yang terlalu pesat dan kuat

seperti halnya dengan diuretika lengkungan, maka kadar natrium-plasma dari plasma dapat menurun keras dan terjadinya hiponatremia. Gejala-gejalanya ialah gelisah, kejang-kejang otot, haus, letargi (sering mengantuk), juga kolaps. Terutama orang-orang lanjut usia peka untuk dehidrasi, maka sebaiknya diberikan dosis pemula yang rendah, yang berangsur-angsur dipertinggi, atau obat diberikan secara berkala, misalnya 3-4 kali seminggu. 6.3. Mengurangi metabolisme glukosa, penurunan metabolisme glokosa dapat

mengatasi diabetes hingga dapat terjadi diabetes (yang laten), mungkin karena menekan sekresi insulin. Terutama tiazida terkenal untuk ini, efek anti diabetika oral diperlemah olehnya. 6.4. Retensi urat dan hiperurikemia: dapat terjadi pada semua diuretika terkecuali

amilorida. Sebabnya diduga karena adanya saringan antara diuretik dengan asam urat mengenai transpornya di tubuli. Terutama klortalidon memberikan resiko lebih tinggi untuk retensi urat dan serangan encok. Pencegahan dapat dilakukan dengan obat alopurinol atau zat penghalau asam urat yaitu probenesid. Efek samping yang lain adalah gangguan lambung usus (mual, muntah, diare), rasa letih, nyeri kepal , pusing-pusing dan jarang-jarang reaksi kulit (Tan dan Rahardja 1991).

COOH Cl H2NSO2 NH CH2 O C. Furosemid

Gambar 1. Struktur kimia Furosemid

Furosemid merupakan turunan sulfonamid yang berdaya diuretik kuat dan bertitik kerja di lengkungan bagian menaik, sangat efektif pada keadaan edema di otak dan paru-paru yang akut (Tjay dan Rahardja, 2002). Furosemid adalah diuretik kuat terutama bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit di ansa Henle bagian epitel tebal; tempat kerjanya di permukaan sel epitel bagian luminal (yang menghadap ke lumen tubuli). Diuretik kuat meningkatkan ekskresi asam yang dapat dititrasi dengan amonia. Termasuk golongan diuretik kuat yaitu asam etakrinat, furosemid, bumetamid. Furosemid lebih banyak digunakan dari pada etakrinat karena gangguan cerna yang lebih ringan dan kurva responnya kurang curam (Sunaryo, 1995). Masa kerja furosemid biasanya 2-3 jam, sedang waktu paruhnya bergantung pada fungsi ginjal. Karena agen ansa bekerja pada sisi luminal tubulus, respon diuretik berkaitan secara positif dengan ekskresi urin. Sebagai efek diuretiknya agen ansa diduga mempunyai efek langsung pada peredaran darah melalui tatanan beberapa vaskuler. Furosemid meningkatkan aliran darah ginjal dan mengakibatkan redistribusi aliran darah di dalam korteks ginjal (Katzung, 2001). Ketersediaan hayati furosemid 60% (berkurang bila bersamaan dengan makanan), volume distribusinya 0,11/kg (pada bayi baru lahir 0,81/kg), waktu paruh plasma 1,5 jam,

90% dieliminasi ginjal tanpa dirubah (terutama sekresi tubuler), 10% dimetabolisme di dalam hati (Widodo, dkk., 1993). Dosisnya 40 mg/hari (kadang perlu dinaikkan sampai 500 mg/hari), pada gagal ginjal maksimal sampai 2 gram/hari, pada anak-anak 1,2 mg/kg/hari bila perlu dapat dinaikkan (Widodo, dkk., 1993).

D. Penyarian Penyarian adalah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih sehingga zat yang diinginkan akan larut. Pemilihan sistem pelarut yang digunakan dalam ekstraksi harus berdasarkan kemampuannya dalam melarutkan jumlah yang maksimal dari zat aktif dan seminimal mungkin bagi unsur yang tidak diinginkan (Ansel, 1989). Cairan penyari yang dipilih adalah etanol karena mempunyai sifat mampu mengekstraksi senyawa polar maupun non polar, tidak toksik, tidak ditumbuhi mikroba serta mudah diuapkan. Keuntungan lainnya adalah sifatnya mengendapkan bahan putih telur dan menghambat kerja enzim serta menghasilkan suatu bahan aktif yang optimal dimana bahan pengotornya sebagian kecil larut dalam cairan pengekstraksi (Voigt, 1994). 1. Ekstrak Ekstrak merupakan sediaan kering, kental, cair, dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung (Anief, 2000). Ekstrak berdasarkan konsistensinya dibedakan menjadi tiga, yaitu ekstrak cair, ekstrak kental, ekstrak kering. Ekstrak cair merupakan sediaan cair hasil dari penyarian simplisia. Ekstrak kental merupakan sediaan kental yang dibuat dari simplisia kemudian diuapkan

pelarutnya. Ekstrak kering merupakan sediaan yang berbentuk bubuk yang dibuat dari hasil tarikan simplisia yang diuapkan dengan pelarut hingga kering (Voigt, 1994). 2. Simplisia Simplisia adalah bentuk jamak dari kata simpleks yang berasal dari kata simple berarti satu atau sederhana. Istilah simplisia dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang masih berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk, kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan (Anonim, 1979). 3. Maserasi Maserasi berasal dari kata macerare yang artinya mengairi, melunakkan, merendam. Maserasi adalah cara ekstraksi yang paling sederhana, paling baik digunakan untuk bahan sampel yang berupa serbuk simplisia yang halus yang disatukan dengan bahan ekstraksi. Metode ini lebih murah, mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan energi atau panas. Cocok untuk bahan yang dapat rusak oleh pemanasan, akan tetapi membutuhkan waktu ekstraksi yang cukup lama (Voigt, 1994). Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan akan menembus dinding sel dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam dan diluar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan yang diluar dan didalam sel (Ansel, 1989). Maserasi serbuk simplisia yang akan diekstraksi biasanya ditempatkan pada wadah atau bejana yang bermulut lebar, bersama dengan cairan penyari yang telah ditetapkan, bejana ditutup rapat dan isinya dikocok berulang-ulang, lamanya biasanya berkisar 2-14 hari. Pengocokan memungkinkan pelarut segar mengalir berulang-ulang, masuk ke seluruh permukaan dari serbuk simplisia yang sudah halus (Ansel, 1989).

Ekstrak hasil maserasi dipisahkan ampasnya dengan menyaring atau menyari ampas yang telah dibilas bebas dari ekstrak dengan penambahan cairan penyari melalui ayakan atau saringan ke dalam seluruh ekstrak dalam wadahnya (Ansel, 1989).

4.

Larutan penyari Larutan penyari yang digunakan dalam melarutkan zat-zat aktif harus memenuhi beberapa kriteria. Pelarut yang digunakan harus murah, mudah didapat, stabil secara kimia maupun fisika, bersifat netral dan selektif (melarutkan zat-zat yang diinginkan), dapat mencegah bahan dari kontaminasi mikroba, tidak mudah terbakar. 4.1. Etanol. Etanol merupakan pelarut serbaguna yang digunakan untuk ekstraksi pendahuluan. Pelarut etanol dapat melarutkan alkaloid basa, minyak menguap, glikosida, antrakinon, flavonoid, steroid dan saponin (Depkes, 1987). Campuran alkoholair merupakan campuran bahan pelarut yang berbeda dan sering digunakan. Cairan pegekstraksi etanol 70% sangat sering didapatkan dari hasil bahan aktif yang optimal dimana bahan pengotor hanya skala kecil dalam cairan pengekstraksi. Keuntungan lain sifatnya menghambat kerja enzim (Voigt, 1994). 4.2. Etil asetat. Etil asetat merupakan pelarut semi polar, mudah menguap dan mudah terbakar, maka penyimpanannya dalam wadah tertutup dan terhindar dari panas. Etil asetat merupakan cairan jernih tidak berwarna pada suhu kamar dengan bau khas seperti buah, larut dalam 15 bagian air bercampur etanol dan eter, titik didihnya 760C. senyawa yang dapat larut kedalam pelarut ini adalah flavonoid (Harborne, 1987). 4.3. n-Heksan. merupakan Suatu hasil hasil penyulingan minyak tanah yang telah bersih terdiri suatu campuran rangkaian hidrokarbon, tidak berwarna atau pucat, transparan, bersifat volatile, mudah terbakar, bau karakteristik, tidak dapat larut air, dapat larut dalam

alkohol, benzene, cloroform, eter. Uapnya mudah meledak bila berikatan dengan udara, sebaiknya disimpan di tempat dingin. Digunakan sebagai pelarut untuk lemak (Martindale, 1972).

E. Binatang percobaan 1. Sistematika tikus putih Sistematika binatang percobaan menurut Sugiyanto (1995) adalah sebagai berikut : Filum Sub filum Classis Sub Classis Ordo Familia Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Mamalia : Placentalia : Rodentia : Muridae : Rattus : Rattus norvegicus

2. Karakteristik utama tikus putih Tikus putih relatif resisten terhadap infeksi dan sangat cerdas. Tikus putih pada umumnya tenang dan mudah untuk ditangani. Tikus putih tidak begitu bersifat fotofobik seperti halnya mencit, dan kecenderungan untuk berkumpul dengan sesamanya tidak begitu besar. Aktivitasnya tidak terganggu oleh adanya manusia di sekitarnya. Suhu tubuh normal 37,5oC, laju respirasi normal 210 tiap menit. Tikus putih bila diperlakukan kasar tikus menjadi galak dan sering menyerang si pemegang (Sugiyanto, 1995). 3. Jenis kelamin Sumber variasi availabilitas sistemik, distribusi, dan kecepatan eliminasi obat-obatan pada umumnya jenis kelamin hewan tidak penting. Tikus jantan kecepatan metabolisme obat

lebih cepat dibandingkan dengan tikus betina dan kondisi biologis tubuh yang lebih stabil dibanding tikus betina. Pada tikus betina secara berkala dalam tubuhnya mengalami perubahan kondisi seperti masa kehamilan, menyusui, dan menstruasi (Sugiyanto, 1995). 4.Teknik penanganan hewan uji dan pemberian obat secara oral Pemegangan tikus biasanya dengan cara mengangkat tikus dari kandang pada pangkal ekornya dengan tangan kanan. Kemudian biarkan tikus mencengkeram alas kasar atau kawat, berikutnya luncurkan tangan kiri dari belakang tubuhnya atau punggungnya ke arah kepala. Selipkan antara jari tengah dan telunjuk pada tengkuk tikus, sedang ibu jari, jari manis dan kelingking (Sugiyanto 1995). Pemberian obat secara oral dapat juga dilakukan dengan menggunakan jarum oral kanula yang dimasukkan ke dalam mulut kemudian perlahan diluncurkan melalui tepi langitlangit belakang sampai oesophagus. Pemakaian jarum ini harus hati-hati agar dinding oesophagus tidak tembus.

F. Landasan teori Tanaman ceplukan berkhasiat sebagai pereda demam, penghilang nyeri, peluruh kencing (diuretik), kencing manis (diabetes melitus), anti toksik dan pereda batuk (Dalimartha, 2006). Efek diuretik dari tanaman ceplukan dibuktikan oleh Azizah (2005), ekstrak air daun ceplukan konsentrasi 10 % b/v (1,25 g/ kg BB) memberikan efek diuretik pada tikus putih jantan galur Wistar. Kandungan zat aktif pada tanaman Ceplukan yaitu buah Ceplukan mengandung saponin dan flavonoid. Daun Ceplukan mengandung senyawa asam sitrat, fisalin sterol/terpen, saponin, flavonoid, alkaloid (Anonim, 1995).

Saponin tidak larut dalam pelarut non polar, paling cocok diekstraksi memakai etanol atau metanol panas 70-96% dan kemudian lipid dan pigmen dipisahkan dari ekstrak dengan memakai benzen (Harborne, 1987). Alkaloid dalam bentuk asam larut dalam pelarut polar seperti air dan etanol, sedangkan dalam bentuk basa larut dalam kloroform, eter, aseton, amonia, dan metilena klorida. Flavonoid larut dalam etanol, aseton, dan metanol 80%. Pelarut tersebut sering dipakai untuk identifikasi flavonoid, pengekstraksian kembali larutan dalam air dengan pelarut organik yang tidak bercampur dengan air tetapi agak polar sehingga sering kali bermanfaat untuk memisahkan senyawa golongan ini dari senyawa yang lebih polar seperti karbohidrat (Robinson, 1995). Polifenol larut dalam pelarut polar seperti air jika gugus hidroksil bertambah banyak, mudah larut dalam larutan hidroksida encer dalam air (Robinson, 1995). Pada penelitian ini digunakan ekstrak yang didapat dari maserasi dengan menggunakan pelarut etanol. Pelarut etanol dapat digunakan untuk menyari zat yang kepolaran relatif tinggi sampai relatif rendah, karena etanol merupakan pelarut universal, etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel, dapat memperbaiki stabilitas bahan obat yang terlarut dan juga efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal (Voigt, 1994). Sehingga memungkinkan zat aktif dapat tersari dengan penyari etanol ini. Dengan demikian kemungkinan ekstrak etanol tersebut juga mempunyai efek diuretik pada tikus jantan Wistar.

G. Hipotesis Berdasarkan permasalahan yang ada, dapat disusun hipotesis dalam penelitian ini yaitu, ekstrak etanol 70 % daun ceplukan mempunyai efek diuretika pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur wistar.

BAB III METODE PENELITIAN

A.

Populasi dan Sampel

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman ceplukan yang dipetik secara acak di kecamatan Simo, Boyolali. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun ceplukan diambil secara acak, dipilih yang bersih, segar, bebas dari penyakit, dipetik secara acak di kecamatan Simo, Boyolali pada bulan Desember 2010

B. 1. Identifikasi variabel utama

Variabel Penelitian

Identifikasi variabel utama pertama dalam penelitian ini adalah fraksi etanol daun ceplukan. Variabel utama kedua dalam penelitian ini adalah dosis fraksi etanol daun ceplukan (Physalis angulata L.)

2. Klasifikasi variabel utama Variabel utama yang telah diidentifikasi terdahulu dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai macam variabel yaitu variabel bebas, variabel kendali, dan variabel tergantung. Variabel bebas yang dimaksudkan di dalam penelitian ini adalah variabel yang direncanakan untuk diteliti pengaruhnya terhadap variabel tergantung, sedang pengertian variabel tergantung dalam penelitian ini adalah titik pusat persoalan yang merupakan kriteria penelitian ini. Variabel kendali dalam penelitian ini adalah variabel yang dianggap berpengaruh selain variabel bebas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak etanol yang diberikan pada tikus putih jantan dengan berbagai dosis. Variabel kendali dalam penelitian ini adalah kondisi fisik dari hewan uji yang meliputi berat badan, usia, jenis kelamin, galur dan lingkungan tempat hidup (Laboratorium Unit Pengembangan Hewan Percobaan Universitas Setia Budi Surakarta). Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah volume urin, efek diuretik pada tikus. 2. Definisi operasional variabel utama Pertama, daun ceplukan (Physalis angulata L.) adalah daun dari pohon ceplukan yang dipanen pada bulan November, dengan kondisi segar dan belum layu.daun ceplukan (Physalis angulata L.) yang telah dikeringkan kemudian diblender. Kedua, ekstrak adalah sediaan kering, kental, cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh sinar matahari. Ketiga, ekstrak etanol 70 % adalah residu dari ekstrak etil asetat daun ceplukan yang dikeringkan dan dimaserasi dengan pelarut etanol 70 %. Keempat, hewan uji yang digunakan tikus jantan galur Wistar Kelima, diuretika adalah peningkatan volume urin yang dikeluarkan dari ekstrak daun ceplukan.

C. 1. Bahan

Bahan dan Alat

1.1. Bahan sampel. Bahan sampel yang digunakan adalah daun ceplukan yang dipetik secara acak di kecamatan Simo, Boyolali pada bulan Desember 2010 1.2. Bahan kimia. Bahan kimia yang digunakan adalah (BRATACO), n-heksana (BRATACO), etil asetat (BRATACO), furosemid 70%

etanol

(BRATACO), aquadest. 1.3. Binatang percobaan. Binatang percobaan dalam penelitian ini adalah tikus putih berjenis kelamin jantan galur wistar, usia 2-3 bulan dengan berat badan 100-200 g (Laboratorium Farmokologi Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta). 2. Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi, alat untuk membuat simplisia seperti pisau untuk merajang, oven dengan suhu rendah dan konstan, blender untuk membuat serbuk, alat untuk menyari hasil ekstraksi seperti saringan, kertas saring, alat gelas lain seperti gelas ukur, Erlenmeyer, batang pengaduk, tabung reaksi, alat yang digunakan untuk uji farmakologi seperti kandang metabolik, spuit injeksi.

D. 1. Determinasi tanaman

Jalannya Penelitian

Determinasi sebagai bahan penelitian perlu dilakukan untuk memastikan bahwa tanaman yang diperiksa dalam penelitian ini sesuai dengan tanaman yang dimaksud sehingga menghindari kesalahan pemilihan bahan tanaman tersebut. Determinasi dilakukan juga untuk mengetahui jenis dan kedudukan tumbuhan tersebut dalam sistem klasifikasi tumbuhan. Tanaman ceplukan dicocokkan dengan ciri morfologis yang ada pada tanaman dengan acuan literatur Flora untuk Sekolah di Indonesia (Van steenis,1997). 2. Deskripsi Tahap ini merupakan tahap penetapan kebenaran sampel tanaman Ceplukan (Physalis angulata L.) berkaitan dengan ciri-ciri morfologis tanaman yang ada terhadap kepustakaan dan dibuktikan oleh Laboratorium Morfologi dan Sistematika Fisiologi Tumbuhan, Universitas Setia Budi.

3.

Pengambilan bahan dan persiapan bahan


Daun Ceplukan yang sudah dipanen dibersihkan dari cemaran atau kotoran kemudian

dikeringkan di tempat teduh terhindar dari sinar matahari langsung sampai kering dalam bobot konstan. Pembuatan serbuk dengan cara digiling dan diayak menggunakan ayakan nomor 100 kemudian dilakukan perhitungan prosentase bobot kering terhadap bobot basah.

4.

Pengeringan simplisia Daun ceplukan dicuci bersih hingga bebas dari kotoran, ditiriskan kemudian dipotong

keci-kecil untuk mempercepat proses pengeringan. Pengeringan menggunakan sinar matahari langsung. Setelah kering, potongan daun ceplukan tersebut lalu diblender sampai halus dan disimpan pada wadah yang kering dan tertutup rapat. 5. Pembuatan kontrol negatif

Kontrol negatif yang digunakan adalah CMC 0,5 % + akuadest dengan volume 2,5 ml/200 g BB, pemberian secara oral. 6. Pembuatan kontrol positif

Kontrol positif yang digunakan adalah furosemida dengan dosis tunggal 21,6 mg/kg BB (2,5 ml/200 g BB), pemberian secara oral. 7. Pembuatan ekstrak n-heksan,etil asetat,etanol 70 % serbuk daun ceplukan Metode maserasi dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari sampai meresap,menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif,wadah atau bejana yg bermulut lebar,ditutup rapat dan diberi pelarut yang sesuai,dikocok berulang-ulang berkisar 1 sampai 5 hari. Pengocokan ini memungkinkan pelarut segera masuk keseluruh permukaaan bahan serbuk simplisia,sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan diluar sel dan didalam sel (Ansel 1989;Voigt 1995).

Daun ceplukan Dicuci, Dikeringkan, Diblender, Diayak Serbuk kering

Maserasi dengan n-heksan

Ekstrak n-heksan

ampas / residu

Evaporasi

maserasi

dengan etil asetat

Ekstrak pekat Ampas / residu ekstrak etil asetat

Maserasi etanol 70% Evaporasi

Evaporasi

Ekstrak pekat

Ampas / residu

Ekstrak pekat etanol 70%

Gambar 1.Skema diagram kerja pembuatan ekstrak n-heksan, etil asetat dan etanol 70 %

8.

Identifikasi kandungan senyawa ekstrak daun ceplukan Uji kualitatif kandungan senyawa kimia terhadap ekstrak daun ceplukan meliputi uji

adanya saponin, flavonoid dan polifenol. Prosedur uji saponin adalah Ekstrak ditambah air panas sama banyak didinginkan lalu dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Saponin positif ditunjukkan dengan terbentuknya buih yang mantap selama tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm. Pada penambahan 1 tetes HCl 2N buih tidak hilang (Depkes 1977). Prosedur uji flavonoid adalah Ekstrak dilarutkan dalam 1-2 ml metanol panas 50% v/v, kemudian ke dalam larutan ditambahkan serbuk Magnesium dan larutan alkohol : asam klorida (1:1) dan pelarut amil alkohol. Uji positif terjadi larutan berwarna merah atau kuning atau jingga (Depkes 1977).

Prosedur uji polifenol adalah Ekstrak ditambah air panas sama banyak di dinginkan lalu ke dalam tabung reaksi ditambah 5 ml FeCl3. Uji positif jika terjadi larutan berwarna ungu (Depkes 1977). 9. Prosedur perlakuan hewan uji Dosis meliputi dosis terapi manusia yaitu 8,671 mg/kg BB dengan faktor konversi dari manusia (70 kg) ke tikus 200 gram sebesar 0,018. Perhitungan dosis furosemida adalah dosis terapi manusia: 80 mg. Masing-masing kelompok diberi perlakuan dengan dosis tunggal secara oral : Kelompok I : ( Kontrol positif ) Furosemida dosis 4,32 mg/ 200 g BB

Kelompok II : Suspensi ekstrak etanol 70 % daun ceplukan 250 mg/200 g BB. Kelompok III : Suspensi ekstrak etanol 70 % daun ceplukan 125 mg/200 g BB. Kelompok IV : Suspensi ekstrak etanol 70 % daun ceplukan 62,5 mg/200 g BB. Kelompok V : ( Kontrol negatif ) suspensi CMC 0,5% 10. Uji efek diuretika Hewan uji harus diadaptasikan terlebih dahulu dengan kondisi laboratorium selama 3-4 hari. Hal ini dilakukan untuk menghindari stres pada saat perlakuan. Sebelum hewan uji mengalami perlakuan, pada hari terakhir hewan uji dipuasakan terlebih dahulu selama 10 jam. Tujuan dipuasakan agar kondisi hewan uji sama dan mengurangi pengaruh makanan yang dikonsumsi terhadap absorpsi sampel yang diberikan. Urin yang keluar selama 6, 12, 18, 24 jam ditampung dalam penampung
urin. Pengukuran volume urin dilakukan pada jam ke 6, 12, 18 dan 24. Volume urin yang diukur adalah volume urin tiap waktu pengamatan dan volume urin kumulatif. Setelah perlakuan

berlangsung pada jam ke 18, tikus diberi makan agar kondisi tubuh tetap sehat sehingga proses perlakuan berlangsung tidak ada tikus yang mati karena kelaparan.

Tikus Diadaptasi selama 3-4 hari Dipuasakan dari makan 10 jam

Klp I 5 ekor 5 ekor

Klp II 5 ekor

Klp III

Klp IV 5 ekor

Klp V 5 ekor

selang 2 jam diberikan perlakuan secara peroral dengan volume pemberian 2,5 ml / 200 g BB

Kontrol (-) CMC 0,5 % 2,5ml/200gBB

Suspensi Suspensi Suspensi Suspensi eks. Etanol eks. Etanol eks.etanol Furosemid 250 mg/200 g 125 mg/200 g 62,5 mg/200 g 4,32 mg/200g BB BB BB BB

Hewan uji di masukkan dalam metabolic cage

Volume urin diukur pada jam ke 6, 12, 18, 24 setelah diberi perlakuan

Dihitung volume urin kumulatif

Analisis varian 1 jalan

Gambar 3. Skema diagram kerja pengujian efek diuretik ekstrak etanol 70 % daun ceplukan (Physalis angulata L).

10.

Pengolahan data, pengujian data, analisis data Uji diuretik pada penelitian ini adalah mengukur volume urin selama 6, 12, 18, 24 jam pada masing-masing kelompok. Volume urin kumulatif dihitung prosentase volume urin kumulatif. Data yang diperoleh kemudian dijadikan sebagai luas daerah dibawah kurva (area under the curve): Dengan rumus trapezium yaitu: [ AUC ]tntn-1 = Vn-1 + Vn (tn tn- 1 ) 2 Keterangan : [AUC] Vn Vn-1 : Area dibawah kurva : Volume urin pada jam ke - n : Volume urin pada jam ke (n-1)

Dari perhitungan AUC juga dapat dihitung persen daya diuretik dengan rumus:

% daya diuretik =

AUC AUC P k X 100%

AUCv

AUCp = AUC tiap konsentrasi perlakuan AUCk = AUC kontrol negatif

Kemudian data AUC diuji distribusi normalnya dengan uji Kolmogorov-Smirnov, sedang keseragaman variannya diuji dengan uji Levence menggunakan taraf kepercayaan 95%. Apabila data terdistribusi normal dan homogen dilakukan ANAVA (analisis Varian) satu jalan dan jika berbeda bermakna, dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference (LSD) dengan kepercayaan 95%. Apabila data terdistribusi tidak normal, dilakukan uji Kruskal Wallis dan jika berbeda bermakna dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Adanya efek diuretik secara keseluruhan dari bahan uji dapat diketahui dengan membandingkan AUC waktu pengamatan versus volume urin dari kelompok bahan uji dengan AUC kontrol negatif

Jumat, 25 Mei 2012


efek diuretik pada mencit
TUJUAN Mengetahui efek diuretik pada hewan uji mencit menggunakan furosemid TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian diuretik Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian: 1. menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi. 2. menunjukkan jumlah pengeluaran zat-zat terlarut dalam air. Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan edema, yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstra sel kembali menjadi normal. Diuretik menurunkan tekanan darah terutama dengan cara mendeplesikan simpanan natrium tubuh. Awalnya, diuretik menurunkan tekanan darah dengan menurunkan volume darah dan curah jantung, tahanan vaskuler perifer. Penurunan tekanan darah dapat terlihat dengan terjadinya diuresis. Diuresis menyebabkan penurunan volume plasma dan stroke volume yang akan menurunkan curah jantung dan akhirnya menurunkan tekanan darah.

2. Mekanisme kerja diuretic Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi respon diuretik : 1. tempat kerja diuretik di ginjal. Diuretik yangbekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium sedikit, akanmemberi efek yang lebih kecil bila dibandingkan dengan diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium banyak. 2. status fisiologi dari organ. Misalnya dekompensasijantung, sirosis hati, gagal ginjal. Dalam keadaan ini akanmemberikan respon yang berbeda terhadap diuretik. 3. interaksi antara obat dengan reseptor. Diuretik dapat dibagi menjadi 6 golongan yaitu : 1. Diuretik osmotik Tempat Dan Cara Kerja : Tubuli Proksimal penghambatan reabsorbsi natrium dan air melalui daya osmotiknya Ansa Henle penghambatan reasorbsi natrium dan air oleh karena hiperosmolaritas daerah medula menurun. Duktus Koligentes penghambatan reasorbsi natrium dan air akibat adanya papilarry washout, kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau adanya faktor lain. diuretik osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah dan cepat diekskresi oleh ginjal. Contoh dari diuretik osmotik adalah ; manitol, urea, gliserin dan isosorbid. 2. Diuretik golongan penghambat enzim karbonik anhidrase Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik ini bekerja pada tubuli Proksimal dengan cara menghambat reabsorbsi bikarbonat. Yang termasuk golongan diuretik ini adalah asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid. 3. Diuretik golongan tiazid Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik golongan tiazid ini bekerja pada hulu tubuli distal dengan cara menghambat reabsorpsi natrium klorida. Obat-obat diuretik yang termsuk golongan ini adalah ; klorotiazid, hidroklorotiazid, hidroflumetiazid, bendroflumetiazid, politiazid, benztiazid, siklotiazid, metiklotiazid, klortalidon, kuinetazon, dan indapamid. 4. Diuretik hemat kalium Tempat Dan Cara Kerja Diuretik hemat kalium ini bekerja pada hilir tubuli distal dan duktus koligentes daerah korteks dengan cara menghambat reabsorbsi natrium dan sekresi kalium dengan jalan antagonisme kompetitif (sipironolakton) atau secara langsung (triamteren dan amilorida). Yang tergolong dalam kelompok ini adalah: antagonis aldosteron. triamterenc. amilorid. 5. Diuretik kuat Tempat Dan Cara Kerja Diuretik kuat ini bekerja pada Ansa Henle bagian asenden pada bagian dengan epitel tebal dengan cara menghambat transport elektrolit natrium, kalium, dan klorida. Yang termasuk diuretik kuat adalah ; asam etakrinat, furosemid dan bumetamid. 6. Xantin Xantin ternyata juga mempunyai efek diuresis. Efek stimulansianya pada fungsi jantung, menimbulkan dugaan bahwa diuresis sebagian disebabkan oleh meningkatnya aliran darah ginjal dan laju filtrasi glumerolus. Namun semua derivat xantin ini rupanya juga berefek langsung pada tubuli ginjal, yaitu menyebabkan peningkatan ekskresi Na+ dan Cl- tanpa disertai perubahan yang nyata pada perubahan urin. Efek diuresis ini hanya sedikit dipengaruhi oleh keseimbangan asam-basa, tetapi mengalami potensiasi bila diberikan bersama penghambat karbonik anhidrase. Diantara kelompok xantin, theofilin memperlihatkan efek diuresis yang paling kuat. 4. Penggunaan klinik diuretik. Diuretik golongan Tiazid, merupakan pilihan utama step 1, pada sebagian besar penderita. Diuretik golongan tiazid, : Digunakan pada payah jantung kronik kongestif, bila fungsi ginjal normal digunakan pada penderita batu ginjal disertai dengan diet rendah garam digunakan pada penderita diabetes insipid. Diuretik kuat biasanya (furosemid) : terutama bermanfaat pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal. udem paru akut. digunakan bila terdapat gangguan fungsi ginjal atau bila diperlukan efek diuretik yang segera. diberikan bersama infus NaCl hipertonis pada penderita hiperklasemia Diuretik osmotik : pada penderita udem otak Diuretik osmotik atau asetazolamid digunakan prabedah pada penderita acute angle closure glaucoma. Diuretik hemat kalium, digunakan bersama tiazid atau diuretik kuat, bila ada bahaya hipokalemia. Biasanya digunakan diuretik golongan tiazid atau diuretik kuat bersama dengan spironolakton untuk penderita sindrom nefrotik. 5. Farmakokinetik Farmakokinetik adalah aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh, yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Proses sejak obat diberikan sampai timbulnya efek terapeutik disebut proses

farmakokinetik. FUROSEMIDE Furosemide ( Lasix, uresix, impugan ) Indikasi: edema pada jantung, hipertensi Kontra indikasi: gangguan ginjal dan hati yang berat. Bentuk sediaan obat: tablet, injeksi, infuse. Furosemide atau asam 4-kloro-N-furfuril-5-sulfamoil antranilat masih tergolong derivate sulfonamide. Obat ini merupakan salah satu obat standar untuk pengobatan gagal jantung dan edema paru. Farmakokinetik : Furosemide termasuk golongan diuretik kuat yang mudah diserap melalui saluran cerna, dengan derajat yang agak berbeda-beda. Bioavailabilitas furosemid 65% sedangkan bumetenid hampir 100%. Obat golongan ini terikat pada protein plasma secara ekstensif, sehingga tidak difiltrasi di glomerolus tetapi cepat sekali di sekresi melalui sistem transport asam organik di tubuli proksimal. EFEK SAMPING Gangguan cairan dan elektrolit. Sebagian efek samping berkaitan dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, antara lain hipotensi, hiponatremia, hipokalemia, hipokalsemia, dan hipomagnesemia. Ototoksisitas : Asam atakrinat dapat menyebabkan ketulian sementara maupun menetap, dan hal ini merupakan efek samping yang serius. Pemerian: Serbuk hablur;putih atau hampir putih; tidak berbau; hamper tidak berasa Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air dan dalam kloroform P, larut dalam 75 bagian etanol(95%) P dan dalam 850 bagian eter P; larut dalam alkali hidroksida. 6. CARA PEMBERIAN 1. peroral Sebagian besar obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Beberapa obat (misalnya: alkohol dan aspirin) dapat diserap dengan cepat dari lambung, tetapi kebanyakan obat diabsorbsi sebagian besar melalui usus halus. Absorbsi obat melalui usus halus, pengukuran yang dilakukan terhadap absorbsi obat baik secara in vivo maupun secara in vitro, menunjukan bahwa mekanisme dasar absorbsi obat melalui usus halus ini adalah secara transfer pasif dimana kecepatan obat ditentukan oleh derajat ionisasi obat dan lipid solubilitas dari molekul obat tersebut. Pemberian obat peroral merupakan pemberian obat paling umum dilakukan karena relatif mudah dan praktis serta murah. Kerugiannya ialah banyak faktor dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya (faktor obat, faktor penderita, interaksi dalam absorbsi di saluran cerna). Selain itu, efek yang timbul dari pemberian obat ini relatif lambat, tidak efektif jika pengguna sering muntah-muntah, diare, tidak sabar, tidak kooperatif, kurang disukai jika obat berasa pahit. 1. Intraperitoneal (i.p) Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Penyerapan cepat karena rongga peritoneum mempunyai permukaan absorbsi yang sangat luas sehingga obat dapat masuk ke sirkulasi sistemik secara cepat. Cara ini banyak digunakan di laboratorium pada hewan uji, tetapi tidak digunakan pada manusia karena bisa berbahaya. 7. PEMBAHASAN 1. Perhitungan dosis Dosis furosemide 80 mg dalam 25 ml Perhitungan dosis Furosemid: Dosis untuk manusia : 80 mg Dosis untuk mencit : 80 mg X 0.0026 = 0.208mg/20g BB BBM = 30 g = 30 g/20 g X 0.208mg = 0.312 mg Volume penyuntikan = 8 98 98 98 gBB = 30 g/25g X 1ml = 1.2 ml Volume pengambilan : 1.2ml/0.01 ml =120 skala (2x pemberian) 2. Alat dan bahan 1. Timbangan hewan 2. Spiut injeksi 3. Stopwatch 4. Gelas ukur 5. Corong 6. Kandang pengamatan uji diuretik 7. Sonde oral/kanulla 8. Furosemid 80 mg dalam 25 ml 9. Air hangat 1ml/25 g BB 3. Cara kerja 1. Timbang mencit 2. Hitung dosis furosemid dan air hangat yang akan diberikan 3. Mencit diberikan air hangat secara oral 4. Kemudian mencit disuntikkan i.p Furosemid atau lasix dengan dosis 80 mg 5. Masukkan mencit kedalam kandang pengamatan diuretic 6. Catat jumlah urin kumulatif setiap 30 menit selama 2 jam. Pembahasan : Pratikum kali ini dilakukan uji diuretik. Diuretik berfungsi sebagai obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Dengan kata lain adalah berfungsi membuat pruduksi urine meningkat. Hal ini dilakukan dengan maksud mencuci atau membilas ginjal dari dari zat-zat berbahaya. Pada pratikum kali ini kami menggunakan mencit jantan sebagai hewan percobaan. Pada uji diuretik ini kami menggunakan obat furosemid injeksi dengan dosis 80 mg dalam 25 ml, obat disuntikkan secara intraperitonial . sebelumnya, mencit

tersebut diberikan air hangat secara oral. Setelah disuntikkan, mencit langsung dimasukkan kedalam wadah uji diuretik. Mencit nomor enam dengan BB 50 g mulai berkemih pada menit ke 30 ( setengah jam setelah penyuntikan obat) dengan volume urin 0,5 ml, kemudian pada 30 menit kedua mulai berkemih lagi dengan volume 0,5 ml, namun pada menit salanjutnya mencit tidak lagi berkemih, begitu pula pada mencit nomor tujuh dengan BB 40 g, mencit ini hanya berkemih pada menit pertama dan kedua, masing-masing dengan volume 1ml dan 0,5 ml. Mencit nomor delapan dengan BB 30 g mulai berkemih 25 menit setelah penyuntikan obat, namun sama seperti mencit nomor enam dan tujuh, mencit ini hanya berkemih pada menit pertama dan kedua, masing-masing dengan volume 1 ml dan 0,2 ml . sementara mencit nomor Sembilan, dengan BB 40 g, mulai berkemih 20 menit setelah penyuntikan obat. Berbeda dengan mencit nomor enam, tujuh dan delapan, mencit nomor Sembilan berkemih sebanyak tiga kali, yaitu 20 menit pertama dengan volume 0,9 ml, beberapa menit kemudian mulai berkemih lagi dengan volume 0,3 ml, kemudian selang beberapa menit mulai berkemih lagi dengan volume 0,5 ml. Sementara mencit nomor sepuluh, sebagai control diberikan air hangat secara oral, sehingga mencit tersebut tidak berkemih. Dari data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa mencit nomor sembilan lebih banyak mengeluarkan urin daripada mencit lainnya. Tetapi berdasarkan jumlah konsentrasi dosis obat seharusnya mencit nomor enam lebih banyak mengeluarkan urin, karena konsentrasi dosis obat untuk mencit nomor enam lebih tinggi. Dosis yang lebih besar berpengaruh terhadap kerja obat didalam tubuh. Selain itu berat badan juga mempengaruhi volume urin yang dikeluarkan. Namun disamping itu yang sangat mempengaruhi adalah jenis kelamin mencit itu sendiri. Mencit jantan lebih banyak mengeluarkan urin dibanding mencit betina . oleh karena itu kami menggunakan mencit jantan sebagai hewan percobaan. Namun hanya kelompok 9 saja yang menggunakan mencit jantan sebagai hewan uji. Sementara kelompok 6,7,8 menggunakan mencit betina. Sementara kelompok 10, menggunakan mencit betina namun hanya sebagai control diberikan air hangat secara oral, sehingga tidak menimbulkan efek. Selain itu, tidakefektifnya prosedur kerja yang dilakukan dapat juga mempengaruhi jumlah urin yang dikeluarkan. Missal pada saat penyuntikan, obat hanya masuk setengah dari dosis yang ditentukan, sehingga obat kurang efektif bekerja didalam tubuh mencit tersebut, sehingga sedikit mengeluarkan urin. Obat furosemid sebenarnya mulai menunjukkan efek pada menit ke 72, tetapi pengamatan yang di lakukan hanya sampai pada menit ke 60. Namun 30 menit setelah penyuntikan mencit mulai mengeluarkan urin, hal ini mungkin disebabkan karena efek dari stressnya mencit karena penyuntikkan yang sebelumnya di lakukan. Ini bisa dilihat dari tingkah laku mencit yang hanya diam di sudut kandang sambil menahan sakit akibat penyuntikan. DAFTAR PUSTAKA 1. Anonymous. 2007. Farmakologi dan terapi edisi 5. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2. Anonymous. 1979. Farmakope Indonesia edisi 3. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia 3. G.katzung,B.1989.farmakologi dasar dan klinik edisi 3. Jakarta : EGC 4. Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika obat edisi 5. Bandung : ITB

Wednesday, 13 February 2013

Laporan Praktikum Farmakologi Bab Diuretik

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI DIURETIK

Kelas VA Kelompok 1
Disusun oleh Arif Azmi Nugroho Ika Budisiswati : (0904015026) (0904015132)

Muhammad Zaki Sopiani (0904015185) Nita Apriliana Nurhidayat Riki Subagja (0904015194) (0904015204) (0904015228)

Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengrtahuan Alam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka JAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Pengeluaran urin atau diuresis dapat diartikan sebagai penambahan produksi volume urin yang dikeluarkan dan pengeluaran jumlah zat zat terlarut dalam air.Obat-obatan yang menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urine disebut Diuretik. Obat-obat ini merupakan penghambat transpor ion yang menurunkan reabsorbsi Na+ dan ion lain seperti Cl+ memasuki urine dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dalam keadaan normal bersama-sama air, yang mengangkut secara pasif untuk mempertahankan keseimbangan osmotic. Perubahan Osmotik dimana dalam tubulus menjadi meningkat karena Natrium lebih banyak dalam urine, dan mengikat air lebih banyak didalam tubulus ginjal. Dan produksi urine menjadi lebih banyak. Dengan demikian diuretic meningkatkan volume urine dan sering mengubah PH-nya serta komposisi ion didalam urine dan darah. Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian, pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran zat-zat terlarut dalam air. Berdasarkan mekanisme kerjanya, secara umum diuretik dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu diuretik osmotik yaitu yang bekerja dengan cara menarik air ke urin, tanpa mengganggu sekresi atau absorbsi ion dalam ginjal dan penghambat mekanisme transport elektrolit di dalam tubuli ginjal, seperti diuretik tiazid (menghambat reabsorbsi natrium dan klorida pada ansa Henle pars ascendens), Loop diuretik (lebih poten daripada tiazid dan dapat menyebabkan hipokalemia), diuretik hemat kalium (meningkatkan ekskresi natrium sambil menahan kalium). Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel menjadi normal. Proses diuresis dimulai dengan mengalirnya darah ke dalam glomeruli (gumpalan kapiler) yang terletak di bagian luar ginjal (cortex). Dinding glomeruli inilah yang bekerja sebagai saringan halus yang secara pasif dapat dilintasi air, garam dan glukosa. Ultrafiltrat yang diperoleh dari filtrasi dan mengandung banyak air serta elektrolit ditampung di wadah, yang mengelilingi setiap glomerulus seperti corong (kapsul Bowman) dan kemudian disalurkan ke pipa kecil. Di sini terjadi penarikan kembali secara aktif dari air dan komponen yang sangat penting bagi tubuh, seperti glukosa dan garam-garam antara lain ion Na+. Zat-zat ini dikembalikan pada darah melalui kapiler yang mengelilingi tubuli.sisanya yang tak

berguna seperti sampah perombakan metabolisme-protein (ureum) untuk sebagian besar tidak diserap kembali. Akhirnya filtrat dari semua tubuli ditampung di suatu saluran pengumpul (ductus coligens), di mana terutama berlangsung penyerapan air kembali. Filtrat akhir disalurkan ke kandung kemih dan ditimbun sebagai urin.

b. Tujuan - mengetahui metoda pengujian obat diuretik, potensi obat diuretik - memahami kerja dari berbagai obat diuretik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Diuretik adalah suatu obat yang dapat meningkatkan jumlah urine (diuresis) dengan jalan menghambat reabsorpsi air dan natrium serta mineral lain pada tubulus ginjal. Dengan demikian bermanfaat untuk menghilangkan udema dan mengurangi free load. Kegunaan diuretik terbanyak adalah untuk antihipertensi dan gagal jantung. Pada gagal jantung, diuretik akan mengurangi atau bahkan menghilangkan cairan yang terakumulasi di jaringan dan paru paru . di samping ituh berkurang nya volume darah akan mengurangi kerja jantung. Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi respon diuretik. 1. Pertama, tempat kerja diuretik di ginjal. Diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium sedikit, akan memberi efek yang lebih kecil bila dibandingkan dengan diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium banyak. 2. Status fisiologi dari organ. Misalnya dekompensasi jantung, sirosis hati, gagal ginjal. Dalam keadaan ini akan memberikan respon yang berbeda terhadap diuretik. 3. Interaksi antara obat dengan reseptor .Kebanyakan bekerja dengan mengurangi reabsorpsi natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih dan juga air diperbanyak. Mekanisme kerja diuretika Kebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorpsi natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih dan demikian juga dari air-diperbanyak. Obat-obat ini bekerja khusus terhadap tubuli, tetapi juga ditempat lain, yakni: 1. Tubuli proksimal. Ultrafiltrat mengandung sejumlah besar garam yang di sini direabsorpsi secera aktif untuk 70%, antara lain ion Na+ dan air, begitu pula glukosa dan ureum. Karena reabsopsi belangsung secara proporsional, maka susunan filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhap plama. Diuretik osmosis bekerja di tubulus proksimal dengan merintangi rabsorpsi air dan natrium. 2. Lengkungan Henle.

Di bagian menaiknya ca 25% dari semua ion Cl- yang telah difiltrasi direabsorpsi secara aktif, disusul dengan raborpsi pasif dari Na+ dan K+, tetapi tanpa air, hingga filtrat menjadi hipotonis. Diuretika lengkungan bekerja terutama di sini dengan merintangi transpor Cl- begitupula reabsorpsi Na+, pengeluaran air dan K+diperbanyak . 3. Tubuli distal. Dibagian pertmanya, Na+ dirabsorpsi secara aktif tanpa air hingga filtrat menjadi lebi cair dan lebih hipotonis. Senyawa tiazida dan klortalidon bekerja di tempat ini dengan memperbanyak eksresi Na+ dan Cl- sebesar 5-10%. Pada bagian keduanya, ion Na+ ditukarkan dengan ion K+ atau NH4+ proses ini dikendalikan oleh hormon anak ginjal aldosteron. Antagonis aldosteron dan zat-zat penghemat kalium bekerja di sini dengan mengekskresi Na+ dan retensi K+ . 4. Saluran Pengumpul. Hormon antidiuretik (ADH) dan hipofise bekerja di sini dengan mempengaruhi permeabilitas bagi air dari sel-sel saluran ini.

B. Penggolongan diuretik Diuretik dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yakni : a. Diuretik Kuat Diuretik kuat ini bekerja pada Ansa Henle bagian asenden pada bagian dengan epitel tebal dengan cara menghambat transport elektrolit natrium, kalium, dan klorida.Obat-obat ini berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat (4-6). Banyak digunakan dalam keadaan akut, misalnya pada udema otak dan paru-paru. Memiliki kurva dosis-efek curam, yaitu bila dosis dinaikkan efeknya senantiasa bertambah. Contoh obatnya adalah furosemida yang merupakan turunan sulfonamid dan dapat digunakan untuk obat hipertensi. Mekanisme kerjanya dengan menghambat reabsorpsi Na dan Cl di bagian ascending dari loop Henle (lengkungan Henle) dan tubulus distal, mempengaruhi sistem kontrasport Cl-binding, yang menyebabkan naiknya eksresi air, Na, Mg, dan Ca. Contoh obat paten: frusemide, lasix, impugan. Yang termasuk diuretik kuat adalah ; asam etakrinat, furosemid dan bumetamid. b. Diuretic hemat kalium Diuretik hemat kalium ini bekerja pada hilir tubuli distal dan duktus koligentes daerah korteks dengan cara menghambat reabsorpsi natrium dan sekresi kalium dengan jalan antagonisme kompetitif (sipironolakton) atau secara langsung (triamteren dan amilorida). Efek obat-obat ini lemah dan khusus digunakan terkominasi dengan diuretika lainnya untuk menghemat kalium.

Aldosteron enstiulasi reabsorpsi Na dan ekskresi K, proses ini dihambat secara kompetitif oleh antagonis alosteron. Contoh obatnya adalah spironolakton yang merupakan pengambat aldosteron mempunyai struktur mirip dengan hormon alamiah. Kerjanya mulai setelah 2-3 hari dan bertahan sampai beberap hari setelah pengobatan dihentikan. Daya diuretisnya agal lemah sehingga dikombinasikan dengan diuretika lainnya. Efek dari kombinasi ini adalah adisi. Pada gagal jantung berat, spironolakton dapat mengurangi resiko kematian sampai 30%. Resorpsinya di usus tidak lengkap dan diperbesar oleh makanan. Dalam hati, zat ini diubah menjadi metabolit aktifnya, kanrenon, yang diekskresikan melalui kemih dan tinja, dalam metabolit aktif waktu paruhnya menjadi lebih panjang yaitu 20 jam. Efek sampingnya pada penggunaan lama dan dosis tinggi akan mengakibatkan gangguan potensi dan libido pada pria dan gangguan haid pada wanita. Contoh obat paten: Aldacton, Letonal. c. Diuretik golongan tiazid Diuretik golongan tiazid ini bekerja pada hulu tubuli distal dengan cara menghambat reabsorpsi natrium klorida. Efeknya lebih lemah dan lambat, juga lebih lama, terutama digunakan pada terapi pemeliharaan hipertensi dan kelemahan jantung. Memiliki kurva dosis-efek datar yaitu jika dosis optimal dinaikkan, efeknya (diuresis dan penurunan tekanan darah) tidak bertambah. Obat-obat diuretik yang termsuk golongan ini adalah ; klorotiazid, hidroklorotiazid, hidroflumetiazid, bendroflumetiazid, politiazid, benztiazid, siklotiazid, metiklotiazid, klortalidon, kuinetazon, dan indapamid. hidroklorthiazida adalah senyawa sulfamoyl dari turunan klorthiazida yang dikembangkan dari sulfonamid. Bekerja pada tubulus distal, efek diuretiknya lebih ringan daripada diuretika lengkungan tetapi lebih lama yaitu 6-12 jam. Banyak digunakan sebagai pilihan pertama untuk hipertensi ringan sampai sedang karenadaya hipitensifnya lebih kuat pada jangka panjang. Resorpsi di usus sampai 80% dengan waktu paruh 6-15 jam dan diekskresi lewat urin secara utuh. Contoh obat patennya adalah Lorinid, Moduretik, Dytenzide (Aidan, 2008). d. Diuretik golongan penghambat enzim karbonik anhidrase Diuretik ini bekerja pada tubuli Proksimal dengan cara menghambat reabsorpsi bikarbonat. Zat ini merintangi enzim karbonanhidrase di tubuli proksimal, sehingga disamping karbonat, juga Na dan K diekskresikan lebih banyak, bersamaan dengan air. Khasiat diuretiknya lemah, setelah beberapa hari terjadi tachyfylaxie maka perlu digunakan secara berselang-seling. Asetozolamidditurunkan r sulfanilamid. Efek diuresisnya berdasarkan penghalangan enzim karboanhidrase yang mengkatalis reaksi berikut:

CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3+ Akibat pengambatan itu di tubuli proksimal, maka tidak ada cukup ion H+ lagi untuk ditukarkan dengan Na sehingga terjadi peningkatan ekskresi Na, K, bikarbonat, dan air. Obat ini dapat digunakan sebagai obat antiepilepsi. Resorpsinya baik dan mulai bekerja dl 1-3 jam dan bertahan selama 10 jam. Waktu paruhnya dalam plasma adalah 3-6 jam dan diekskresikan lewat urin secara utuh. Obat patennya adalah Miamox. Yang termasuk golongan diuretik ini adalah asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid.

e.

Diuretik osmotik Istilah diuretic Osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah dan cepat diskskresi oleh ginjal. Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretic osmotic apabila memenuhi 4 syarat:

1. difiltrasi secara bebas oleh glomerulus. 2. tidak atau hanya sedikit direbasorbsi sel tubulus ginjal. 3. secara farmakologis merupakan zat yang inert, dan 4. umumnya resisten terhadap perubahan-perubahan metabolic. Dengan sifat-sifat ini, maka diueretik osmotic dapat diberikan dalam jumlah cukup besar sehingga turut menentukan derajat osmolalitas plasma, filtrate glomerulus dan cairan tubuli Diuretik osmotik mempunyai tempat kerja : a. Tubuli proksimal Diuretik osmotik ini bekerja pada tubuli proksimal dengan cara menghambat reabsorpsi natrium dan air melalui daya osmotiknya. b. Ansa enle Diuretik osmotik ini bekerja pada ansa henle dengan cara menghambat reabsorpsi natrium dan air oleh karena hipertonisitas daerah medula menurun. c. Duktus Koligentes

Diuretik osmotik ini bekerja pada Duktus Koligentes dengan cara menghambat reabsorpsi natrium dan air akibat adanya papillary wash out, kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau adanya faktor lain. Obat-obat ini direabsorpsi sedikit oleh tubuli sehingga reabsorpsi air juga terbatas. Efeknya al diuresis osmotik dengan ekskresi air tinggi dan eksresi Na sedikit. Istilah diuretik osmotik biasanya dipakaiuntuk zat bukan elektrolit yang mudah dan cepat diekskresi oeh ginjal. Contoh dari diuretik osmotik adalah ; manitol, urea, gliserin dan isisorbid. Mannitol adalah alkohol gula yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan getahnya. Efek diuresisnya pesat tetapi singkat an dapat melintasi glomeruli secara lengkap, praktis tanpa reabsorpsi pada tubuli, sehingga penyerapan kembali air dapat dirintangi secara osmotik. Terutama digunakan sebagai infus untuk menurunkan tekanan intraokuler pada glaucoma. beberapa Mekanisme aksi dari kerja Manitol sekarang ini adalah segagai berikut: 1. Menurunkan Viskositas darah dengan mengurangi haematokrit, yang penting untuk mengurangi tahanan pada pembuluh darah otak dan meningkatkan aliran darahj keotak, yang diikuti dengan cepat vasokontriksi dari pembuluh darah arteriola dan menurunkan volume darah otak. Efek ini terjadi dengan cepat (menit). 2. Manitol tidak terbukti bekerja menurunkan kandungan air dalam jaringan otak yang mengalami injuri, manitol menurunkan kandungan air pada bagian otak yang yang tidak mengalami injuri, yang mana bisa memberikan ruangan lebih untuk bagian otak yang injuri untuk pembengkakan (membesar). 3. Cepatnya pemberian dengan Bolus intravena lebih efektif dari pada infuse lambat dalam menurunkan Peningkatan Tekanan intra cranial. 4. Terlalu sering pemberian manitol dosis tinggi bisa menimbulkan gagal ginjal. ini dikarenakan efek osmolalitas yang segera merangsang aktivitas tubulus dalam mensekresi urine dan dapat menurunkan sirkulasi ginjal. 5. Pemberian Manitol bersama Lasik (Furosemid) mengalami efek yang sinergis dalam menurunkan PTIK. Respon paling baik akan terjadi jika Manitol diberikan 15 menit sebelum Lasik diberikan. Hal ini harus diikuti dengan perawatan managemen status volume cairan dan elektrolit selama terapi Diuretik.

C. Obat diuretik

1. Diuretik hemat kalium Diuretik yang mempertahankan kalium menyebabkan diuresis tanpa kehilangan kalium dalam urine. Yang termasuk dalam klompok ini antara lain aldosteron, traimteren dan amilorid. Antagonis Aldosteron Aldosteron adalah mineralokortikoid endogen yang paling kuat. Peranan utama aldosteron ialah memperbesar reabsorbsi natrium dan klorida di tubuli serta memperbesar ekskresi kalium. Yang merupakan antagonis aldosteron adalah spironolakton dan bersaing dengan reseptor tubularnya yang terletak di nefron sehingga mengakibatkan retensi kalium dan peningkatan ekskresi air serta natrium. Obat ini juga meningkatkan kerja tiazid dan diuretik loop. Diuretik yang mempertahankan kalium lainnya termasuk amilorida, yang bekerja pada duktus pengumpul untuk menurunkan reabsorpsi natrium dan ekskresi kalium dengan memblok saluran natrium, tempat aldosteron bekerja. Diuretik ini digunakan bersamaan dengan diuretik yang menyebabkan kehilangan kalium serta untuk pengobatan edema pada sirosis hepatis. Efek diuretiknya tidak sekuat golongan diuretik kuat.

Mekanisme kerja Penghambatan kompetitif terhadap aldosteron. Bekerja di tubulus renalis rektus untuk menghambat reabsorpsi Na+, sekresi K+ dan sekresi H+ Farmakokinetik 70% spironolakton oral diserap di saluran cerna, mengalami sirkulasi enterohepatik dan metabolisme lintas pertama. Metabolit utamanya kankrenon. Kankrenon mengalami interkonversi enzimatik menjadi kakreonat yang tidak aktif.

Efek samping Efek toksik yang paling utama dari spironolakton adalah hiperkalemia yang sering terjadi bila obat ini diberikan bersama-sama dengan asupan kalium yang berlebihan. Tetapi efek toksik ini dapat pula terjadi bila dosis yang biasa diberikan bersama dengan tiazid pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal yang berat. Efek samping yang lebih ringan dan reversibel diantaranya ginekomastia, dan gejala saluran cerna Indikasi

Antagonis aldosteron digunakan secara luas untuk pengobatan hipertensi dan udem yang refrakter. Biasanya obat ini dipakai bersama diuretik lain dengan maksud mengurangi ekskresi kalium, disamping memperbesar diuresis. Sediaan dan dosis Spironolakton terdapat dalam bentuk tablet 25, 50 dan 100 mg. Dosis dewasa berkisar antara 25200mg, tetapi dosis efektif sehari rata-rata 100mg dalam dosis tunggal atau terbagi.Terdapat pula sediaan kombinasi tetap antara spironolakton 25 mg dan hidraoklortiazid 25mg, serta antara spironolakton 25 mg dan tiabutazid 2,5 mg. Triamteren dan Amilorid Kedua obat ini terutama memperbesar ekskresi natrium dan klorida, sedangkan eksresi kalium berkurang dan ekskresi bikarbonat tidak mengalami perubahan. Triamteren menurunkan ekskresi K+ dengan menghambat sekresi kalium di sel tubuli distal. Dibandingkan dengan triamteren, amilorid jauh lebih mudah larut dalam air sehingga lebih mudah larut dalam air sehingga lebih banyak diteliti. Absorpsi triamteren melalui saluran cerna baik sekali, obat ini hanya diberikan oral. Efek diuresisnya biasanya mulai tampak setelah 1 jam. Amilorid dan triameteren per oral diserap kira-kira 50% dan efek diuresisnya terlihat dalam 6 jam dan berkahir sesudah 24 jam. Efek samping Efek toksik yang paling berbahaya dari kedua obat ini adalah hiperkalemia. Triamteren juga dapat menimbulkan efek samping yang berupa mual, muntah, kejang kaki, dan pusing. Efek samping amilorid yang paling sering selain hiperkalemia yaitu mual, muntah, diare dan sakit kepala. Indikasi Bermanfaat untuk pengobatan beberapa pasien udem. Tetapi obat ini akan bermanfaat bila diberikan bersama dengan diuretik golongan lain, misalnya dari golongan tiazid. Sediaan Triamteren tersedia sebagai kapsul dari 100mg. Dosisnya 100-300mg sehari. Untuk tiap penderita harus ditetapkan dosis penunjang tersendiri.Amilorid terdapat dalam bentuk tablet 5 mg. Dosis sehari sebesar 5-10mg. Sediaan kombinasi tetap antara amilorid 5 mg dan hidroklortiazid 50 mg terdapat dalam bentuk tablet dengan dosis sehari antara 1-2 tablet. 2. Diuretik kuat Tempat kerja utamanya dibagian epitel ansa Henle bagian asenden, karena itu kelompok ini disebut juga sebagai loop diuretics. Termasuk dalam kelompok ini adalah asam etakrinat, furosemid, dan bumetanid. Furosemid

Farmakokinetik : Obat furosemid mudah diserap melalui saluran cerna. Bioavabilitas furosemid 65% diuretik kuat terikat pada protein plasma secara ekstensif sehingga tidak difiltrasi di glomerolus tetapi cepat sekali disekresi melalui system transport asam organik ditubuli proksimal. Dengan cara ini obat ini terakumulasi di cairan tubuli dan mungkin sekali ditempat kerja didaerah yang lebih distal lagi. Mula kerja Furosemid pesat, oral 0,5 1 jam dan bertahan 4 6 jam, intravena dalam beberapa menit dan 2,5 jam lamanya reabsorbsinya dari usus 50%

BAB III METODOLOGI Alat dan Bahan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Hewan uji (tikus ) 2 ekor Timbangan Sonde dan alat suntik Kandang metabolisme Kapas, gelas ukur, alcohol Obat : furasemid injeksi dengan konsentrasi 10 mg/ml Aqua bidestilata Prosedur Kerja : 1. Siapkan alat dan bahan 2. Siapkan hewan uji : 2 ekor tikus 3. Timbang tikus (hitung vol.air hangat dan dosis furosemid yang akan diinjeksikan) 4. Beri tikus air hangat dengan menggunakan sonde (oral) 5. Suntikan obat (furasemid) secara intra peritoneal dengan dosis 20 mg/kgBB dan 160 mg/kgBB 6. M menit w j ( ) 6

7. C 8. H 9. B

v v v

6 f 6

ian obat v v c 6

Bab IV Hasil dan Pembahasan I. Hasil Pengamatan Tikus BB (gram)

Dosis (VAO) 0,0432 ml 0,2779 ml

Waktu Pemberian 12.00 11.56

Volume Urin (ml) 0,4 ml 1 ml 2,4 ml 0,8 ml 6 1,8 ml 2,2 ml Total 4,6 ml 4 ml

I II

240 gr 193 gr

Tikus I dengan dosis 20 mb/kgBB BB tikus = 240 gr Konsentrasi furasemid = 10 mg/ml Dosis konversi = 20 mg x 0,018 = 0,36 mg/200 gr BB tikus = 0,0018 mg/ BB tikus VAO [10 mg/ml] = 0,0432 ml Vol. air hangat = 1 % x BB tikus = 1 % x 240 gr = 2,4 ml = 0,0018 mg/gr x 240 gr

Tikus II dengan dosis 160 mb/kgBB BB tikus = 193 gr Konsentrasi furasemid = 10 mg/ml Dosis konversi = 160 mg x 0,018 = 2,88 mg/200 gr BB tikus = 0,0144 mg/ BB tikus VAO [10 mg/ml] = 0,2779 ml Vol. air hangat = 1 % x BB tikus = 1 % x 193 gr = 1,93 ml = 0,0144 mg/gr x 193 gr

II.

Kurva Hubungan Dosis dengan Volume Urin Tikus I dengan dosis 20 mb/kgBB % vol tikus 4 x % 6 67 % 2,4 ml 4 2,4 ml 6 8 2,4 ml x 100 % = 100 %

% 7 %

% vol total = 0,4 ml + 2,4 ml + 1,8 x 100 % 2,4 ml = 191,67 %

Tikus II dengan dosis 160 mb/kgBB % vol tikus 1,93 ml 8 1,93 ml 6 1,93 ml

% 51,81 %

% 4 4 %

99 %

% vol total = 1 ml + 0,8 ml + 2,2 ml x 100 % 1,93 ml = 207,25 %

III.

Pembahasan Praktikum kali ini berkaitan dengan diuretik. Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem, yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstra sel kembali menjadi normal. Proses pengerjaan praktikum ini adalah, dengan dua hewan uji (tikus) dengan BB yang berbeda diinjeksikan menggunakan furosemid dengan dosis yang berbeda. Furosemid termasuk kedalam golongan diuretik kuat. Mekanisme kerjanya dengan menyebabkan ginjal untuk membuang air dan garam yang tidak dibutuhkan dari tubuh melalui urin. Tikus 1 diberi furosemid dengan dosis 20 mg/kgBB sedangkan tikus 2 diberi furosemid dengan dosis 160 mg/kgBB. Sebelum diberi obat, tikus terlebih dahulu diberi air hangat menggunakan sonde. Tujuan nya adalah untuk membantu mempercepat atau memperbanyak urin yang dikeluarkan. Pada tikus 1 dengan berat badan 240 gram paling banyak mengeluarkan urine pada menit ke 30 yaitu sebanyak 2,4 ml sedangkan paling sedikit pada menit ke 10 yaitu 0,4 ml. Pada tikus 2 dengan berat badan 193 gram dapat mengeluarkan urine paling banyak pada menit ke 60 yaitu 2,2 ml dan paling sedikit pada menit ke 30 yaitu 0,8 ml. Cara kerja obat furosemid, karena furosemid adalah diuretik kuat yang digunakan untuk menghilangkan air dan garam dari tubuh. Pada ginjal, bahan-bahan seperti garam,air dan molekul kecil lainnya yang biasanya akan disaring keluar dari darah dan masuk kedalam tubulus ginjal. Akhirnya cairan yang disaring menjadi air seni. Sebagian besar natrium, klorida dan air yang disaring dari darah diserap kedalam darah sebelum cairan disaring menjadi air kencing dan dihilangkan dari tubuh. Furosemid bekerja menghalangi penyerapan natrium, klorida, dan air dari cairan yang disaring dalam tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan mendalam output urin.

BAB V KESIMPULAN Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Diuretik dapat di golongkan menjadi beberapa golongan : diuretik kuat, diuretik hemat kalium, diuretik golongan tiazid, golongan penghambat enzim karbonik anhidrase, diuretik osmotik Furosemid, adalah sebuah obat yang digunakan untuk meningkatkan produksi urin. Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem, yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstra sel kembali menjadi normal.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Diuretik, di akses pada tanggal 28 November 2011 2. http://medicastore.com/apotik_online/obat_jantung/obat_diuretik.htm, di akses pada tanggal 28 November 2011 3. http://www.scribd.com/doc/33046836/DiuRetiK, di akses pada tanggal 28 November 2011 4. Mary.J, Miycek, Richard A. Harvey, Pamela C. Champe ; alih bahasa, Azwar Agoes. 2001. Farmakologi Ulasan bergambar edisi 2. Jakarta : Widya Medika