Anda di halaman 1dari 25

Laporan Praktikum MK.

Teknologi Minyak Atsiri, Rempah, dan Fitofarmaka

Tanggal : Jumat, 24 Mei 2013 Dosen : Dr. Dwi Setyaningsih, S.TP, M.Si. Asisten : 1. Athin Nuryanti F34090111 2. Imastia Rahma S. F34090120

PEMBUATAN SIMPLISIA KERING

Disusun Oleh : Rista Fitria Moh. Achor Mardliyan Anissha Hud Alaydrus Hermaslin Pasaribu Hafidzar Rohim Amilya Romdhani F34100003 F34100005 F34100015 F34100021 F34100030 F34100039

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Menurut Syamir (2012), Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, memiliki lebih kurang 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat. Tumbuhan berkhasiat tersebut, 180 spesies telah dimanfaatkan oleh industri jamu tradisional yang juga merupakan potensi pasar obat herbal dan fitofarmaka. Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang Dalem dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya. Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan di negara maju. Menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia) hingga 65% dari penduduk negara maju dan 80 % dari penduduk negara berkembang telah menggunakan obat herbal. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat herbal di negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta semakin luas akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia. Untuk meningkatkan keselektifan pengobatan dan mengurangi pengaruh musim dan tempat asal tanaman terhadap efek, serta lebih memudahkan dalam standardisasi bahan obat maka zat aktif diekstraksi lalu dibuat sediaan fitofarmaka atau bahkan dimurnikan sampai diperoleh zat murni. Di Indonesia, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan industri obat tradisional, karena banyaknya variasi sediaan bahan alam maka untuk memudahkan pengawasan dan perizinan maka Badan POM mengelompokkan dalam sediaan jamu, sediaan herbal terstandar dan sediaan fitofarmaka. Dengan melihat jumlah tanaman di Indonesia yang berlimpah dan baru 180 tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh industri, maka peluang bagi profesi kefarmasian dan agroindustri untuk meningkatkan peran sediaan herbal dalam pembangunan kesehatan masih terbuka lebar. Standardisasi bahan baku dan obat jadi, pembuktian efek farmakologi dan informasi tingkat keamanan obat herbal merupakan tantangan bagi farmasi dan agroindustri agar obat herbal semakin dapat diterima oleh masyarakat luas. Selain itu, peran mahasiswa dalam meningkatkan inovasi bagi produk jamu, herbal terstandar, dan fitofarmaka sangat berpengaruh untuk kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan, penggunaan bahan kimia untuk obat-obatan mempunyai efek samping yang berbahaya untuk tubuh. Penggunaan jangka panjang obat-obatan kimia dapat memberikan efek yang permanen bahkan kerusakan pada organ manusia. Oleh karena itu, penggunaan tanaman herbal untuk jamu, obat terstandar dan fitofarmaka sangat bermanfaat baik dalam mencegah maupun mengobati dari serangan penyakit. B. Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari jamu, herbal terstandar, dan fitofarmaka yang berasal dari beberapa tanaman obat beserta kandungan bahan aktif dan khasiatnya. Selain itu, praktikum ini juga bertujuan untuk memahami cara pembuatan simplisia kering dan mengetahui aplikasi produk berbasis fitofarmaka.

II.

METODOLOGI

A. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain pisau, oven, talenan, loyang, mesin penyerbuk, wadah kaca dan aluminium foil. Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah tanaman obat seperti pegagan, meniran, kunyit putih, kunyit, sidaguri, tapak dara, sambiloto, temulawak dan temu kunci. B. Metode

Tanaman obat

Bahan dicuci hingga bersih pada air mengalir

Bahan diiris sampai tipis (5 mm) memakai pisau

Irisan dikeringkan dalam oven (500C) selama 2 hari

Bahan kering dihancurkan menjadi serbuk menggunakan mesin/mortar

Simplisia kering

III. A. Hasil [Terlampir] B. Pembahasan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Definisi tentang jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka telah diatur dalam Peraturan Kepala Badan POM No.HK.00.05.4.1384 Tahun 2005. Fitofarmaka merupakan sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. Salah satu syarat agar suatu calon obat dapat dipakai dalam praktek kedokteran dan pelayanan kesehatan formal (fitofarmaka) adalah jika bahan baku tersebut terbukti aman dan memberikan manfaat klinik. Syarat fitofarmaka yang lain adalah: Klaim khasiat dibuktikan secara klinik Menggunakan bahan baku terstandar Memenuhi persyaratan mutu

Untuk membuktikan keamanan dan manfaat ini, maka telah dikembangkan perangkat pengujian secara ilmiah yang mencakup uji farmakologi (pembuktian efek atau pengaruh obat), uji toksikologi (pembuktian syarat keamanan obat secara formal), dan uji klinik (manfaat pencegahan dan penyembuhan penyakit atau gejala penyakit). Uji klinik merupakan uji yang dilakukan pada manusia, setelah pengujian pada hewan (pra-klinik). Uji klinik pada manusia baru dapat dilakukan jika syarat keamanan diperoleh dari pengujian toksisitas pada hewan serta syarat mutu sediaan memungkinkan untuk pemakaian pada manusia. Beberapa contoh produk fitofarmaka di Indonesia adalah Nodiar (PT Kimia Farma), Stimuno (PT Dexa Medica), Rheumaneer (PT. Nyonya Meneer), Tensigard dan X-Gra (PT Phapros). 1. Obat Herbal Terstandar

Obat Herbal Terstandar (OHT) merupakan sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi. OHT memiliki grade setingkat di bawah fitofarmaka. OHT belum mengalami uji klinis, namun bahan bakunya telah distandarisasi untuk menjaga konsistensi kualitas produknya. Uji praklinik dengan hewan uji, meliputi uji khasiat dan uji manfaat, dan bahan bakunya telah distandarisasi. Kriteria Obat Herbal Terstandar antara lain: Aman dan khasiat dibuktikan secara ilmiah atau praklinik Bahan baku yang digunakan telah mengalami standarisasi Memenuhi persyaratan mutu

Hingga saat ini, di Indonesia baru 17 produk herbal terstandar yang beredar di pasaran. Sebagai contoh Diapet (PT Soho Indonesia), Kiranti (PT Ultra Prima Abadi), Psidii (PJ Tradimun), Diabmeneer (PT Nyonya Meneer), dll. Kemasan produk Herbal Terstandar berlogo jari-jari daun dalam lingkaran. 2. Jamu

Jamu adalah sediaan bahan alam yang khasiatnya belum dibuktikan secara ilmiah, namun khasiat tersebut dipercaya oleh orang berdasarkan pengalaman empirik. Dalam sediaan jamu, bahan baku yang digunakan pun belum mengalami standarisasi karena masih menggunakan seluruh bagian tanaman. Kriteria jamu antara lain adalah sebagai berikut: - Aman - Klaim khasiat dibuktikan secara empiris - Memenuhi persyaratan mutu Jumlah produk jamu di Indonesia mencapai ribuan, diantaranya adalah Tolak Angin (PT Sido Muncul), Pil Binari (PT Tenaga Tani Farma), Curmaxan dan Diacinn (Lansida Herbal). Adapun pengertian lebih ringkas dan perbedaannya dalam penggolongan obat dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 1. Perbedaan antara jamu, herbal terstandar, dan fitofarmaka Penggolongan Obat Jamu Obat Herbal Terstandar Fitofarmaka

Logo

Pengertian

Obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional

Obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral

Obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia

Perbedaan Pengujian Diuji secara empiris/secara turun temurun

Proses pengujiannya Khasiat diuji secara praklinik

Khasiat diuji secara klinik

Penjelasan

singkat

bahan

baku simplisia: 1. Kunyit putih

Taksonomi tanaman kunyit putih: Kingdom : Plantae Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Liliopsida : Zingiberales : Zingiberaceae : Kaempferia : Kaempferia rotunda L.

Kunyit putih merupakan tumbuhan yang rimpangnya berbentuk spesifik dan dapat dibedakan dari rimpang tumbuhan kunyit-kunyitan lainnya. Kunyit putih mengandung senyawa kimia, seperti kurkuminoid dan minyak atsiri. Kunyit putih merupakan salah satu di antara tumbuhan berkhasiat yang bisa diolah menjadi obat tradisional. Tumbuhan rimpang atau umbi-umbian. Selintas tumbuhan ini mirip dengan temu mangga, sebab warnanya sama-sama putih. Kunyit atau kunir putih juga berbeda dengan kunyit kuning yang berwarna kuning. Rimpang kunyit putih mempunyai bau khas aromatik, rasa agak pahit, agak pedas dan dapat bertindak sebagai astringensia. Astringensia merupakan zat yang bekerja lokal yaitu dengan mengkoagulasi protein tetapi demikian kecil daya penetrasinya sehingga hanya permukaan sel yang dipengaruhi. Akibat dari aksi tersebut permeabilitas membran mukosa yang kontak dengan astringen menurun sehingga kepekaan bagian tersebut menurun pula. Menurut Ningtyas (2008), kunyit putih memiliki perawakan berupa herba tahunan, dapat lebih dari 2 meter. Batang berupa rimpang yang bercabang di bawah tanah, berwarna coklat muda-coklat tua, di dalamnya putih atau putih kebiruan, memiliki umbi bulat dan aromatik. Daun tunggal, pelepah daun pembentuk batang semu berwarna hijau coklat tua, helaian 2 9 buah, bentuk memanjang lanset 2,5 kali lebar yang terlebar, ujung runcing meruncing, berambut tidak nyata, hijau atau hijau dengan bercak coklat ungu di tulang daun pangkal, 43 80 cm atau lebih. Daun pelindung berjumlah banyak. Bunga majemuk, susunan bulir, di ketiak rimpang primer tangkai berambut. Kelopak berjumlah 3 daun, berwarna putih atau kekuningan, bagian tengah berwarna merah atau coklat kemerahan, 3 4 cm. Mahkota tiga daun, putih kemerahan, tinggi rata-rata 4,5 cm. Benang sari satu buah tidak sempurna, bulat telur terbalik, kuning terang, 12 16 10 11,5 mm, tungkai 3 5 x 2 4 kepala sari, 6 mm. Serta memiliki buah yang berambut rata-rata 2 cm.

Kunyit putih mengandung zat warna kurkumin (diarilheptanoid), minyak atsiri, selain itu juga mengandung flavonoid, sulfur, gum, resin, tepung, dan sedikit lemak. Kunyit putih memiliki rasa yang pedas, hangat, dan memiliki bau yang aromatik. Rimpang kunyit putih ( Curcuma zedoaria) memiliki beberapa peran penting dalam pengobatan beberapa penyakit, antara lain: antiradang (antiflogistik), melancarkan aliran darah, tonik pada saluran cerna, peluruh haid ( emenagog) dan peluruh kentut. Selain itu berkhasiat untuk mengatasi memar, luka, keseleo, terantuk, terpukul, bisul (furunculus), bengkak, rematik, pegal linu, sengatan kalajengking atau ular (penawar racun/bisa), memulihkan tenaga sehabis melahirkan, menambah nafsu makan,menghilangkan nafas bau, cacingan, ambeien ( hemorrhoids), demam, sakit gigi, jantung koroner, TBC, asma, radang saluran nafas (bronchitis), mencegah pembengkakan limpa dan mencegah kanker serviks . Khasiat lainnya yaitu sebagai antiinflamasi, analgesic dan antimikroba. Rimpang kunyit putih dapat berkhasiat sebagai antikanker, hal ini dapat diperoleh dari ekstrak etanol zat warna kuning kurkumin ( demetoxycurcumin) pada rimpang kunyit putih (Ningtyas, 2008). Kunyit putih juga memiliki kandungan RIP (Ribosome Inacting Protein), zat antioksidan, dan zat antikurkumin. RIP dapat menonaktifkan pertumbuhan sel kanker, meluruhkan sel kanker tanpa merusak jaringan di sekitarnya, dan memblokir pertumbuhannya. Zat antioksidan berfungsi mencegah kerusakan gen, sementara zat antikurkumin berkhasiat sebagai antiradang. Selain itu, kunyit putih juga memiliki kandungan sesquiterpen berkhasiat antiradang. Dosis yang tepat membuat tumbuhan ini bisa menjadi obat, sedangkan jika berlebih bisa menjadi racun (Sari, 2006). 2. Kunyit kuning Kunyit (Curcuma domestica Val.) merupakan salah satu tanaman rempah dan obat. Habitat asli tanaman kunyit meliputi wilayah Asia khususnya Asia Tenggara. Tumbuhan kunyit tergolong dalam kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospermae, kelas Monocotyledonae, ordo Zingiberales, suku Zingiberaceae, genus Curcuma dan spesies Curcuma xanthorrhiza Val. Tanaman kunyit dapat hidup dengan baik pada suhu yang berkisar antara 20 300C dengan curah hujan 1500 2000 mm/tahun (Rukmana, 2008). Tanaman kunyit memiliki daun besar berbentuk lonjong dengan ujung yang meruncing dan berwarna hijau. Tanaman kunyit tumbuh pada daerah dataran rendah hingga 2000 mdpl dan memiliki tinggi kurang lebih 40 100 cm.

Sama halnya dengan tanaman temulawak, tanaman kunyit tidak memiliki akar tunggang karena merupakan tumbuhan monokotil. Tanaman kunyit memiliki akar berupa rimpang. Khasiat terbaik rimpang kunyit yang digunakan sebagai obat terdapat pada rimpang induk yang warna bagian dalamnya kemerahan dan masih segar. Rimpang kunyit banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bagian dari rempah-rempah untuk berbagai masakan, obat, dan bahan kecantikan. Rimpang kunyit juga mengandung tepung dan zat warna yang mengandung alkaloid kurkumin sehingga memiliki manfaat untuk bahan obat tradisional serta bahan baku industri jamu dan kosmetik, dan bahan bumbu masak. Selain itu rimpang tanaman kunyit juga bermanfaat sebagai antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antidiabetes, pencegah kanker, dan antitumor (Syukur, 2010). Rimpang kunyit mengandung senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai obat yakni, senyawa kurkuminoid yang terdiri atas 3 senyawa yaitu: kurkumin, demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin. Beberapa kandungan senyawa lainnya dari rimpang kunyit adalah resin, oleoresin, dan minyak atsiri yang terdiri atas senyawa monoterpen, dan sesquiterpen meliputi zingiberin, - tumeron, -tumeron, tumerol, atlanton, dan linalool (Oomah, 2000). Menurut Rustam et al. (2007), kurkuminoid yang terkandung di dalam kunyit sebagai senyawa isolasi maupun kurkuminnya mempunyai aktivitas yang sangat luas, diantaranya sebagai antioksidan (Hudayani, 2008). 3. Temulawak Klasifikasi tanaman Temulawak: Kingdom : Plantae Divisio : Magnoliophyta Kelas : Monocotyledonae Ordo : Zingiberales Family : Zingiberaceae Genus : Curcuma Spesies : Curcuma xanthorrhiza Temulawak merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) adalah tanaman yang berasal dari daerah Jawa, Bali, dan Maluku. Curcuma berasal dari bahasa arab kurkum yang berarti kuning, sedangkan xanthorriza berasal dari bahasa Yunani xantos yang berarti kuning dan rhiza yang berarti akar. Sesuai dengan klasifikasi botani, temulawak termasuk dalam kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospemae, kelas Monocotyledonae, ordo Zingiberales, famili Zingiberaceae, genus Curcuma dan nama spesies Curcuma xanthorrhiza Roxb. (Rukmana, 2006). Tumbuhan temulawak adalah tumbuhan tahunan yang berbatang tegak dengan tinggi kurang lebih 2 m, berwarna hijau atau coklat gelap. Pada tanaman temulawak, tiap batangnya mempunyai daun 2 9 helai dengan bentuk bundar memanjang, berwarna hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap (Sidik et al., 1995). Sebagai tanaman monokotil, temulawak tidak memiliki akar tunggang. Akar yang dimiliki adalah rimpang. Akar rimpang temulawak terbentuk dengan sempurna, bercabang-cabang kuat. (Afifah, 2003). Rimpang temulawak sering disebut umbi temulawak. Umbi batang temulawak berbentuk bulat telur sebesar telur ayam namun terkadang ada yang lebih besar. Umbi batang ini dinamakan rimpang yang penampang pinggirnya berwarna kuning muda, sedangkan bagian dalamnya berwarna kuning tua, aromanya tajam dan rasanya pahit (Darwis, 1991).

Kandungan kimia rimpang temulawak sebagai sumber bahan pangan, bahan baku industri atau bahan baku obat dapat dibedakan atas beberapa senyawa, yaitu pati, kurkuminoid, dan fraksi minyak atsiri (Sidik et al., 1995). Kadar seluruh fraksi kandungan bioaktif pada temulawak tersebut bervariasi diantaranya pati (48 - 59,64%), kurkuminoid (1,6 2,2%), dan minyak atsiri (1,48 1,63%) (Sidik et al., 1995). Rimpang temulawak telah digunakan oleh nenek moyang bangsa Indonesia untuk makanan, tujuan pengobatan, dan sebagai penambah energi. Tanaman temulawak merupakan satu dari beberapa jenis Curcuma yang dikenal dan banyak dikonsumsi masyarakat. Tanaman temulawak memiliki kandungan flavonoid dan minyak atsiri yang berpotensi sebagai antioksidan (Rachman et al., 2008). Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang dari temulawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang temulawak dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta antiinflamasi. Manfaat lain dari rimpang tanaman ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, antikolesterol, antiinflamasi, anemia, antioksidan, pencegah kanker, dan antimikroba (Rukmana, 2008). 4. Temu kunci Klasifikasi tanaman Temu Kunci: Kingdom : Plantae Divisio : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae Genus : Boesenbergia Spesies : Boesenbergia rotunda Tanaman temu kunci (Kaempheria pandurata Ridl.) termasuk famili Zingiberaceae, banyak tumbuh di hutanjati, tinggi tanaman dapat mencapai 80 cm, warna kulit rimpang coklat dan warna daging rimpang putih. Selain digunakan sebagai bumbu masak, rimpang temu kunci jugamemiliki khasiat sebagai obat.Rimpang temu kunci memiliki khasiat memperkuat lambung. Apabila dikunyah dengan pinang dapat digunakan sebagai obat batuk kering dan peringitis, obat sakit perut serta obat suka kencing pada anakanak. Pada wanita, rimpang temu kunci dapat digunakan sebagai obat pembengkakan kandungan serta obat infeksi alat reproduksi (Heyne, 1987). Menurut Nugraheni (2001), temu kunci dapat digunakan untuk obat diare, disentri, batu, pelangsing, dan obat keputihan. Pengujian secara in vitro menunjukkan temu kunci dapat meningkatkan jumlah limfosit, antibodi spesifik, dan dapat membunuh sel kanker (Hartono, 1999). Berbagaihasil pengkajian menunjukkan bahwa tanaman daerah tropis mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai obat (Sukara, 2002). Rimpang temu kunci mengandung minyak atsiri yaitu metil sinamat, kamper, sineol, dan terpena. Di samping minyak atsiri, temu kunci mengandung saponin dan flavonoid (Sjamsudin dan Hutapea dalam Chairul et al., 1996). Senyawa-senyawa yang mempunyai prospek cukup baik biasanya berasal dari golongan flavonoid, kurkumin, limonoid, vitamin C, vitamin E (tokoferol), dan katekin yang bisa digunakan sebagai obat antikanker. Senyawa-senyawa tersebut biasanyabermanfaat pula sebagai antioksidan (Aldi et al., 1996).

5. Pegagan Taksonomi Pegagan: Kingdom : Plantae Divisio Kelas Ordo Familia Genus Species : Spermatophyta : Dicotyledone : Umbillales : Umbilliferae (Apiaceae) : Centella : Centella asiatica

Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tidak berbatang, tumbuh merayap di daerah tropis yang berbunga sepanjang tahun. Bentuk daun tunggalnya bulat seperti ginjal manusia ( reniformis) dengan letak basalis atau rosette berjumlah 2 10 daun, ukuran 2 5 cm x 3 7 cm. Tangkai daun tegak dan sangat panjang ukurannya 9 17 cm, bagian dalam tangkai daun berlubang. Tepi daun bergerigi dengan penampang 1 7 cm dan kadang berambut. Pangkal dari tangkai daun melekuk ke dalam dan melebar seperti pelepah. Tulang daun menjari (palmitus). Helaian daun biasanya berwarna hijau dan hijau muda. Batangnya lunak dan beruas, serta menjalar hingga mencapai 1 meter. Pada tiap ruas tumbuh akar dan daun dengan tangkai daun panjang sekitar 5 - 15 cm, akar berwarna putih, dengan rimpang pendek dan stolon yang merayap dengan panjang 10 80 cm. Akar rimpangnya bercabang-cabang sedangkan akar serabut tumbuh dari buku-buku stolon (geragih) yang menyentuh tanah. Tinggi tanaman berkisar antara 5.39 13.3 cm, dengan bunga putih atau merah muda berbentuk payung, tunggal atau 3 5 bunga secara bersama keluar dari ketiak daun dengan tangkai bunga (pedunculus) lebih pendek daripada tangkai daun. Buahnya kecil bergantung lonjong atau pipih 2 2.5 mm termasuk buah tipe schizocarpium. Warna kuning coklat atau merah muda kuning dan buahnya berbelah berlekuk dua (Van Steenis, 1997; De Padua et al., 1999; dan Bermawie et al., 2008).

Rebusan daun pegagan telah digunakan untuk bermacam-macam penyakit antara lain untuk mengobati keracunan jengkol, peluruh air seni dan diaforetika, penyakit saluran empedu, wasir, batuk kering pada anak-anak, pendarahan hidung, tukak lambung, sakit ginjal dan sebagai obat kumur pada sariawan (Anonim, 1980). Selain itu digunakan pula untuk obat diare, radang usus, bronchitis dan keputihan. Penggunaan lokal yaitu untuk mengobati pembengkakan buah zakar, kaki gajah, luka baru atau borok (Heyne, 1987). Di India digunakan untuk mengobati sipilis dan lepra (Martindale, 1967).

Senyawa asiatikosida yang terdapat di dalam tanaman pegagan mampu meningkatkan daya ingat, konsentrasi dan kewaspadaan. Hal ini dimungkinkan karena asiatikosida yang terkandung di dalamnya mampu membantu kelancaran sirkulasi oksigen dan nutrisi serta melindungi sel-sel otak dari kerusakan oksidatif oleh radikal bebas karena kandungan asam lemak yang sangat tinggi dan mudah teroksidasi (Bermawi et al., 2005). Cheng et al., (2004) melaporkan bahwa ekstrak air pegagan dan senyawa asiatikosida, yang merupakan senyawa aktif dalam ekstrak tersebut potensial sebagai ramuan aktif atau obat untuk mencegah radang usus. Selanjutnya ditemukan pula bahwa glikosida total yang terkandung dalam ekstrak pegagan dapat mencegah secara signifikan efek fibrosis pada jaringan hati tikus percobaan (Ming et al., 2004).

Melalui penelitian kultur sel, terbukti bahwa ekstrak pegagan mampu mereduksi oksidan nitrit oksida, yang terbentuk sebagai akibat dari menumpuknya plak beta-amyloid di otak yang dikaitkan dengan penyakit Alzheimer (Rao et al., 2006). Selain itu pegagan mampu mempercepat proses regenerasi kulit pada bagian yang terluka lebih cepat. Hal ini disebabkan asiatikosida dan mucopolisakarida yang dikandungnya dapat memacu proliferasi sel fibroblast yang berperan besar pada penyembuhan luka, yaitu melalui kemampuannya dalam memproduksi substansi dasar pembentuk serat kolagen. Serat kolagen inilah yang mempertautkan tepi kulit yang luka (Barnes et al. 2002). Selanjutnya Dalimartha (2000) menambahkan bahwa oksiasiatikosida dapat membunuh tuberkolosis. Seluruh bagian tanaman pegagan dapat berfungsi sebagai obat kecuali akar. Khasiat dan manfaat dari pegagan antara lain disebabkan karena pegagan mengandung sejumlah nutrisi dan komponen zat kimia yang memiliki efek terapeutik. Dalam 100 g pegagan terdapat 34 kalori, 8.3 g air, 1.6 g protein, 0.6 g lemak, 6.9 g karbohidrat, 1.6 g abu, 170 mg kalsium, 30 mg fosfor, 3.1 mg zat besi, 414 mg kalium, 6580 g betakaroten, 0.15 g tiamin, 0.14 mg riboflavin, 1.2 mg niasin, 4 mg askorbat, dan 2.0 g serat (Duke, 1987). Kandungan kimia pegagan terbagi menjadi beberapa golongan, yaitu asam amino, flavonoid, terpenoid, dan minyak atsiri. Asam amino terdiri atas sejumlah besar alanin flavonoid terdiri atas quercetin, kaempferol, dan bermacam-macam glikosida.

Bermacam-macam kandungan kimia dari daun pegagan antara lain senyawa glikosida triterpenoid yang disebut asiatikosida (suatu senyawa heteroside) yang yang merupakan senyawa metabolit sekunder yang termasuk dalam kelompok terpene ini berkhasiat untuk mempercepat penyembuhan luka, asam asiatikat dan madekasat (Haralampidis et al. 2002). Phillips et al., (2006) mengemukakan bahwa terpene tersebut adalah lemak yang disintesa dari metabolit primer Acetyl CoA melalui lintasan Asam Mevalonat (MAP) atau intermediet dasar glikolisis lewat lintasan Methylerythritol Phosphate (MEP). Tiga molekul Acetyl CoA digabung untuk membentuk asam mevalonik. Senyawa intermediet 6 karbon ini kemudian mengalami pyrophosphorilasi, karboxylasi dan dehidrasi membentuk Isopentenyl pyrophosphate (IPP). IPP adalah senyawa pembentuk (prekusor) blok 5 C terpene. IPP juga dapat dibentuk dari intermediet glycolisis atau siklus reduksi karbon pada proses fotosintesa (Taiz dan Zeiger, 2002). Pegagan juga mengandung senyawa alkaloid hidrokotilina, senyawa-senyawa steroid, tannin, minyak lemak, minyak atsiri yang disebut valerian yang merupakan senyawa anti lepra dan anti sipilis, vitamin B, saponin, oksiatikosida, gula pereduksi, garam-garam mineral seperti garam kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi (Sutrisno, 1996). 6. Tapak Dara

Taksonomi Tapak Dara: Kingdom Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Plantae :Magnoliophyta :Magnoliopsida :Gentianales :Apocynaceae :Catharanthus : C. roseus

Tapak dara merupakan tanman sejenis tanaman perdu yang bersifat tahunan. Tanaman ini berasal dari Madagaskar, namun telah menyebar ke berbagai daerah tropika lainnya, seperti halnya Indonesia. Di Indonesia, tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman hias untuk memperindah taman. Nama ilmiah dari tapak dara adalah Catharanthus roseus (L.) Don. Di Indonesia tumbuhan hias pekarangan ini dikenal dengan bermacam-macam nama, seperti di disebut sindapor (Sulawesi), kembang tembaga (bahasa Sunda), dan kembang tapak dr (bahasa Jawa). Di negara tetangga Malaysia mengenalnya tanaman ini sebagai kemunting cina, pokok rumput jalang, pokok kembang sari cina, atau pokok ros pantai. Di Filipina tapak dara dikenal sebagai tsitsirika, di Vietnam sebagai hoa hai dang, di Cina dikenal sebagai chang chun hua, di Inggris sebagai rose periwinkle, dan di Belanda sebagai soldaten bloem.

Tapak dara termasuk tanaman obat yang dapat menghentikan perkembangan / pertumbuhan sel kanker. Bunga dan daunnya berpotensi menjadi sumber obat untuk leukemia dan penyakit Hodgkin. Kandungan bahan kimianya yang terkandung didalamnya adalah vincristine, vinblastine, reserpine, ajmalicine, dan serpentine. Kandungan lainnya adalah catharanthine, leurosine, norharman, lochnerine, tetrahydroalstonine, vindoline, vindolinine, akuammine, vincamine, vinleurosin, dan vinrosidin. Berbagai alkaloid ini beracun. Tanda-tanda keracunan tapak dara adalah demam, loyo, dan muntah-muntah dalam tempo 24 jam. Tanda-tanda yang lain adalah neuropati, kehilangan refleks tendon, berhalusinasi, koma, dan kematian. Namun, dengan pengolahan yang tepat dan takaran yang tepat pula tanaman ini bisa diatasi efek racunnya (Anonim, 2011). 7. Sambiloto

Klasifikasi tanaman Sambiloto: Kingdom : Plantae Divisi Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta : Lamiales : Acanthaceae : Andrographis : Andrographis paniculata

Sambiloto merupakan tumbuhan berkhasiat obat berupa terna tegak yang tingginya bisa mencapai 90 sentimeter. Asalnya diduga dari Asia tropika. Penyebarannya dari India meluas ke selatan sampai di Siam, ke timur sampai semenanjung Malaya, kemudian ditemukan Jawa. Sambiloto tumbuh liar di tempat terbuka seperti kebun, tepi sungai tanah kosong yang agak lembap atau dipekarangan. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang, bentuk laset, pangkal runcing, ujung meruncing, tepi rata, permukaan atas hijau tua, bagian bawah hijau muda, panjang 2-8 cm, lebar 1-3 cm. Sambiloto memiliki nama lokal seperti takilo (Sunda), sambilata (Jawa), dan pepaitan (Sumatra)

Sambiloto memiliki beberapa sifat kimiawi antara lain daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolid, neoandrgarafolid, 14-deoksi-11-12didehidroandrografolid,dan homoandrografolid, flavoid, alkene, keton, aldehid, mineral (kalium,kalsium, natrium), Asam kersik, damar. Flavotiod diisolasi terbanyak dari akar yaitu polimetatoksivaflavon, andrografin, pan, ikkulin. Mono-0-metilwhitin dan apigenin-7,4 dimetileter. Zak aktif andrografoid terbukti berkhasiat sebagai hepatoprotektor (melindungi sel hati dari zat toksin) (Sandberg, 1994). Tanaman ini juga memiliki efek farmakologis, berikut jenis efek farmakologis yang dimiliki tanaman sambiloto: 1. Herba ini berkhasiat bakteriostatik pada Staphylococcus Aurcus, aeruginosa.Proteus vulgaris, Shigella dysenteriae dan Escherichia Coli. Pseudomonas

2.

Herba ini sangat efektif untuk pengobatan infeksi In vitro, air rebusannya merangsang daya fagositosis sel darah putih. Andrografoid menurunkan demam yang ditimbulkan oleh pemberian vaksin yang menyebabkan panas pada kelinci. Andrografolid dapat mengakhiri kehamilan dan menghambat pertumbuhan trofosit plasenta. Dari segi farmakologi, sambiloto mempunyai efek muskarinik pada pembuluh darah, efek pada jantung iskenik, efek pada respirasi sel. Sifat kholeretik, anti inflamasi dan anti bakteri. Komponen aktifnya seperti coandrografolid, deoksiandrografolid dan 14-deoksi-11, 12didehidroandrografolid berkhasiat anti radang dan antipiretik. Pemberian rebusan daun sambiloto 40% bly sebanyak 20 milkg bb dapat menurunkan kadar glucosa darah tikus putih. Infus daun sambiloto 5%, 10% dan 15%, semuanya dapat menurunkan suhu tubuh marmut yang dibuat demam. Infus herba sambiloto mempunyai daya anti jamur terhadap Microsforum canis, Trichophyton mentagrophytes, Trichophyton rubrum, candida albicans, dan ephydermaphyton floccosum.

3.

4. 5.

6.

7.

8.

9.

10. Fraksi etanol herba sambiloto memounyai efek antihistaminergik. Tanaman ini memiliki kemampuan untuk menyembuhkan beberapa penyakit, beberapa di antaranya adalah hepatitis, infeksi saluran empedu, disentri, tifoid, diare, influenza, radang amandel (tonsilitis), abses paru, malaria, radang paru (pneumonia), radang saluran nafas (bronchitis), radang ginjal (pielonefritis), radang telingah tengah (OMA), radang usus buntu, sakit gigi, demam, kencing nanah (gonore), kencing manis (diabetes melitus), TB paru, skrofulderma, batuk rejan (pertusis) sesak nafas, leptospirosis, darah tinggi, kusta, keracunan jamur, keracunan singking, keracunan tempe bongkrek, keracunan makanan laut. Kanker, penyakit trofoblas, kehamilan anggur (mola hidatidosa) tumor paru (Lukas, 1998).

8.

Meniran

Meniran merupakan herba, semusim, tumbuh tegak, tinggi 30-50 cm, bercabangcabang. Batang berwarna hijau pucat. Daun tunggal, letak berseling. Helaian daun bundar memanjang, ujung tumpul, pangkal membulat, permukaan bawah berbintik kelenjar, tepi rata, panjang sekitar 1,5 cm, lebar sekitar 7 mm, berwarna hijau. Dalam satu tanaman ada bunga betina dan bunga jantan. Bunga jantan keluar di bawah ketiak daun, sedangkan bunga betina keluar di atas ketiak daun. Buahnya kotak, bulat pipih, licin, bergaris tengah 2-2,5 mm. Bijinya kecil, keras, berbentuk ginjal, berwarna coklat (Syamsyuhidayat & Hutapea, 1991). Meniran mempunyai rasa agak asam dan bersifat sejuk. Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam meniran diantaranya adalah saponin, flavanoid, filantin, hipofilantin, kalium, dammar, dan tannin. Filantin dan hipofilantin berfungsi untuk melindungi sel hati dari zat toksik ( hepatoprotector). Meniran mengandung senyawa-senyawa kimia seperti flavonoid, lignan. Merupakan senyawa larut dalam air yang dapat diekstraksi dengan etanol 70% dan tetap ada lapisan air setelah dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah apabila ditambah basa atau amoniak. Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon. Flavonoid yang merupakan bentuk kombinasi glikosida, terdapat dalam semua tumbuhan berpembuluh. Beberapa turunan flavonoid terdapat pada tumbuhan tingkat tinggi dan hanya terdapat pada organ-organ tertentu dari tumbuhan seperti akar, batang, daun, bunga, biji, dan kulit kayu (Harborne, 1987).

Lignan merupakan kandungan kimia yang aktif dalam tumbuhan obat tertentu. Lignan dapat diekstraksi dengan aseton atau etanol dan seringkali diendapkan sebagai garam kalium yang sukar larut. Tanin tersebar dalam setiap tanaman yang berbatang. Tanin berada dalam jumlah tertentu, biasanya berada pada bagian spesifik tanaman seperti daun, buah, akar, batang. Tanin merupakan senyawa kompleks, biasanya merupakan campuran polifenol yang sukar untuk dipisahkan karena tidak dalam bentuk kristal. Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak maka reaksi penyamaan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan. Salah satu fungsi utama tanin yaitu sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. Tanin dapat meringankan diare dengan menciutkan selaput lendir usus (Tjay dan Raharja, 1991). Flavonoid dari meniran bekerja pada sel-sel tubuh yang menjadi bagian dari sistem imun. Caranya dengan mengirimkan sinyak intraseluler pada reseptor sel, sehingga sel bekerja lebih optimal. Jika sistem imun dalam sel berfungsi memakan bakteri (fagosit) nafsu makan jadi bertambah. Jika fungsinya mengeluarkan mediator yang menambah ketahanan tubuh, hasil pengeluaran akan lebih baik. Atau jika kerjanya mengurai sel lain, prosesnya akan berlangsung lebih mulus.

Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Alkaloid termasuk senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau atom nitrogen dan berbentuk kristal. Untuk alkaloid dalam daun atau buah segar adalah rasanya pahit di lidah serta mempunyai efek fisiologis kuat atau keras terhadap manusia. Sifat lain yaitu sukar larut dalam air dengan suatu asam akan membentuk garam alkaloid yang lebih mudah larut (Harborne, 1987). Saponin adalah senyawa aktif yang menimbulkan busa jika dikocok dengan air. Pada konsentrasi rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah. Saponin dapat bekerja sebagai antimikroba. Kelarutan saponin dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter (Robbinson, 1995). Herba meniran telah digunakan masyarakat untuk pengobatan diabetes. Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa herba meniran memiliki efek imunostimulator dan aktivitas antiviral terhadap virus Hepatitis B dan virus Herpes Simpleks. Immunomodulator berperan membuat sistem tubuh lebih aktif menjalankan tugasnya, termasuk menguatkan sistem imun/sistem kekebalan tubuh. Jika sistem imun meningkat, maka daya tahan tubuh terhadap serangan berbagai bakteri dan virus juga meningkat.

9.

Binahong

Binahong adalah tanaman obat yang tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi dan mempunyai banyak khasiat dalam meyembuhkan berbagai macam penyakit ringan maupun berat. Tanaman ini sudah lama ada di Indonesia tetapi baru akhir-akhir ini saja menjadi alternatif bagi sebagian orang untuk dijadikan obat alami untuk menyembuhkan atau mengurangi beberapa penyakit ringan maupun berat. Binahong adalah tanaman obat dari daratan Tiongkok yang dikenal dengan nama asli Dheng San Chi. Tumbuhan ini telah dikenal memiliki khasiat penyembuhan yang luar biasa dan telah ribuan tahun lalu dikonsumsi oleh bangsa Tiongkok, Korea, Taiwan, dll. Seluruh bagian tanaman menjalar ini berkhasiat, mulai dari akar, batang, dan daunnya. Pemanfaatannya bisa direbus atau dimakan sebagai lalapan untuk daunnya. Daun binahong yang berciri-ciri: daun tunggal, bertangkai sangat pendek (subsessile), tersusun berseling, berwarna hijau, bentuk jantung (cordata), panjang 5 - 10 cm, lebar 3 - 7 cm, helaian daun tipis lemas, ujung runcing, pangkal berlekuk (emerginatus), tepi rata, permukaan licin, dan bisa dimakan. Menurut penelitian, binahong mengandung saponin, alkaloid dan polifenol. Sesuai dengan zat kimia yang dikandungnya, binahong berkhasiat sebagai obat batuk atau muntah darah, radang paru-paru, kencing manis, sesak nafas, borok akut yang menahun, darah rendah, radang ginjal, gejala liver, disentri, hidung mimisan, habis bedah operasi, luka bakar, luka akibat benda tajam, jerawat, usus bengkak, gusi berdarah, kurang nafsu makan, melancarkan haid, haid habis bersalin (melahirkan), menjaga stamina tubuh agar tetap sehat, penghangat badan, dan lemah syahwat juga anti bakteri. Secara umum, binahong dapat mempercepat pemulihan kesehatan setelah operasi, melahirkan, khitan, segala luka-luka dalam, radang usus, melancarkan dan menormalkan peredaran dan tekanan darah, mencegah stroke, maag, asam urat, menambah dan mengembalikan vitalitas daya tahan tubuh, wazir (ambeien), melancarkan buang air kecil, buang air besar, diabetes dll. Kasiat Tambahan dari tanaman binahong adalah dapat menyembuhkan sariawan berat, pusing-pusing, dan sakit perut. (Tampubolon, 1995).

10.

Sidaguri Sidaguri merupakan salah satu jenis tanaman obat dari famili Malvaceae. Tanaman ini adalah tanaman semak yang tumbuh liar dan banyak ditemui di pinggir selokan, sungai dan di bawah pohon besar.Sidaguri tersebar pada daerah tropis di seluruh dunia dari dataran rendah sampai ketingian 1450 m di atas permukaan laut.Bentuk batang agak berkayu, bulat dan bewarna cokelat.Daunnya berjenis tunggal dengan letak daun berseling berbentuk jantung.Buahnya buah batu terdiri dari 8 10 kendaga, dengan buah muda berwarna hijau dan buah tua berwarna hitam. Salah satu khasiat utama Sidaguri adalah menyembuhkan penyakit asam urat yang sering diderita baik lelaki maupun perempuan di atas usia tiga puluh tahun (Holm et al,1997). Daunnya mengandung alkaloid, kalsium oksalat, tanin, saponin, fenol, asam amino, dan minyak asiri.Batang Sidaguri mengandung kalsium oksalat dan tanin.Sementara bagian akar mengandung alkaloid, steroid, dan efedrine.Alkaloid dan efedrine yang terkandung dalam Sidaguri menyebabkan orang harus berhati-hati dalam mengkonsumsinya.Orang yang sensitif terhadap alkaloid efedrine tidak disarankan untuk menggunakannya.Begitu pula anak-anak, wanita hamil dan menyusui (Djauhariya, 2004). Kandungan polifenol dan flavonoid pada akar bersifat diuretik, sehingga asam urat akan luruh dan terbuang bersama urin. Sidaguri juga dapat menghambat produksi enzim xantin oksidase (XO), yang merupakan enzim penting yang turut berperan dalam sintesa asam urat. Tanpa adanya XO, maka asam urat tidak akan terbentuk dan serangan gout tidak dapat terjadi. Kemampuan ekstrak kasar flavonoid sidaguri sebagai penghambat aktivitas XO mencapai 55.29% melalui mekanisme inhibisi kompetitif.Selain untuk asam urat dan rematik, Sidaguri bermanfaat untuk flu, demam, malaria, radang amandel, radang usus, disentri, sakit perut, sakit kuning, kencing batu, bisul, radang kulit bernanah, dan eksim. Khusus untuk akarnya, digunakan untuk mengatasi influenza, asma, sakit gigi, sariawan, disentri, susah buang air besar/sembelit dan rematik (Prakoso, 2007). Teknik pengolahan tanaman obat terdiri dari sortasi, pencucian, penjemuran/penirisan, pengirisan/perajangan, dan pengolahan lebih lanjut menjadi berbagai produk/diversifikasi produk. Tanaman obat dapat diolah menjadi simplisia, serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental/kering, kapsul, tablet dan minuman (sirup, instant, permen) dll. Salah satu contohnya adalah simplisia pengirisan. Pengirisan dilakukan bertujuan untuk mempercepat proses pengeringan. Hasil dari pengeringan diperoleh produk berupa simplisia. Perajangan terlalu tebal memerlukan waktu lama dalam pengeringan dan kemungkinan besar bahan mudah terkontaminasi baik oleh bakteri maupun jamur. Sedangkan jika terlalu tipis dapat menyebabkan kadar minyak atsiri maupun zat aktif yang terdapat pada bahan menurun. Teknik perajangan dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tajam yang terbuat dari bahan steinles ataupun menggunakan mesin perajang. Kemudian bentuk irisan membujur (split). Sedangkan bahan yang berupa daun atau herba tidak perlu dirajang langsung dikeringkan saja. Setelah simplisia dirajang biasanya dikeringkan. Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan air dari suatu bahan dengan menggunakan sinar matahari. Pengeringan dapat memberikan keuntungan antara lain: memperpanjang masa simpan, mengurangi penurunan mutu sebelum diolah lebih lanjut, memudahkan dalam pengangkutan, menimbulkan aroma khas pada bahan serta memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Pengeringan temu-temuan dapat dilakukan diatas para-para dengan menggunakan sinar matahari dan ditutupi dengan kain hitam juga dapat dilakukan dengan

kombinasi antara sinar matahari dengan alat. Pada praktikum setelah dikeringkan menggunakan alat pengering lalu simplisia diserbukkan. Serbuk dapat diperoleh dengan cara menggiling simplisia dengan menggunakan mesin penepung. Ukuran serbuk disesuaikan dengan keperluan. Untuk dibuat teh ukuran serbuk agak kasar (20 40 mesh), untuk ekstraksi 40 60 mesh) dan jika ingin dibuat kapsul ukuran serbuk harus halus (80 100 mesh). Penjelasan diatas memaparkan tentang berbagai bentuk sediaan bahan baku obat tradisional. Sebagian besar berasal dari tanaman, baik keseluruhan maupun bagian dari tanaman seperti daun, buah, akar, kulit, dan batang. Bahan tersebut dapat dimanfaatkan dalam keadaan segar maupun kering. Untuk simplisia bentuk segar, ini harus segera digunakan selagi dalam keadaan baik dan juga dikhawatirkan akan tumbuh jamur atau mikroba lainnya. Jika untuk penggunaan yang lama, biasanya akan digunakan simplisia bentuk kering supaya dapat mempertahankan kandungan metabolit-metabolit yang penting dalam mengobati pasien (Anonim, 2012). Dalam keadaan segar, disarankan bahan baku obat segera dimanfaatkan dengan pertimbangan agar keadaannya masih baik, belum ditumbuhi jamur atau mikroba lain. Namun, kalau dimanfaatkan dalam jangka waktu lama, sangat disarankan bahan baku obat tersebut harus tersimpan dalam keadaan kering. Bahan yang dikeringkan ini dikenal dengan istilah simplisia. Faktor kering merupakan parameter cukup penting bagi simplisia. Kadar air yang cukup tinggi pada simplisia dapat menyebabkan bertumbuhnya jamur. Bahkan kandungan zat yang berkhasiat dapat juga turun akibat terjadinya proses metabolisme dalam simplisia walaupun kurang sempurna. Dalam keadaan normal, proses metabolisme melibatkan berbagai air sebagai media pengangkut bahan-bahan yang diperlukan. Di samping air, dalam proses metabolisme juga masih diperlukan sinar matahari, hijau daun, dan bahan-bahan lain yang berasal dari tanah. Dari proses metabolisme ini akan dihasilkan metabolit yang dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu metabolit primer dan sekunder. Metabolit primer merupakan bahan hasil metabolisme yang sangat diperlukan tanaman, sedangkan merupakan bahan selain metabolit primer. Biasanya kalau proses metabolisme berhenti (karena tanaman dicabut) maka bahan metabolit berkurang sehingga tanaman menjadi mati. Sebagai simplisia, kandungan metabolit tersebut harus tetap dipertahankan yaitu dengan proses pengeringan (Mursito, 2001). Untuk keperluan pengobatan, kelompok bahan metabolit sekunder lebih dibutuhkan. Bahan tersebut terdiri dari senyawa golongan alkaloida, glukosida, polifenol, flavonoida, antosian, seskuiterpen dan saponin. Jumlah kandungan senyawa tersebut sangat dipengaruhi oleh beragam faktor seperti lingkungan tumbuhan, pemupukan, umur tanaman saat panen, waktu panen, dan kegiatan pasca panen. Waktu panen sangat erat kaitannya dengan pembentukan metabolit sekunder. Waktu panen terbaik adalah saat tanaman menghasilkan metabolit sekunder maksimum. Secara umum, waktu panen terbaik untuk beberapa kelompok tanaman yang akan dimanfaatkan sebagai simplisia dapat dilakukan sebagai berikut: 1. 2. 3. Tanaman yang akan dimanfaatkan bijinya, panen dilakukan saat buahnya mulai mengering. Tanaman yang akan dimanfaatkan buahnya, panen dilakukan saat terjadi proses pematangan buah yang ditenadai dengan perubahan warna maupun tingkat kekerasan buah. Tanaman yang akan dimanfaatkan kulit batangnya, panen atau pengambilannya dilakukan saat sudah cukup umurnya.

4. 5.

Tanaman yang akan dimanfaatkan umbi lapisnya, panen dilakukan saat umbi lapis mencapai ukuran maksimum dan pertumbuhan bagian tanaman di atas tanah mulai terhenti. Tanaman yang akan dimanfatatkan umbinya, panen dilakukan saat bagian atas tanaman mulai mengering.

Jika disimpulkan dari penjelasan di atas terdapat beberapa kekurangan dan kelebihan sediaan bentuk kering dibandingkan sediaan bentuk segar atau sediaan rebusan. Kelebihannya antara lain memperpanjang masa simpan, mengurangi penurunan mutu sebelum diolah lebih lanjut, memudahkan dalam pengangkutan, menimbulkan aroma khas pada bahan serta memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, menjamin keadaan baik dan juga kemungkinan tumbuh jamur atau mikroba lainnya. Kelebihan lainnya juga cocok untuk penggunaan yang lama karena dapat mempertahankan kandungan metabolit-metabolit yang penting. Kadar air yang cukup tinggi pada simplisia dapat menyebabkan bertumbuhnya jamur bahkan merusak kandungan zat yang berkhasiat juga. Kekurangan sediaan bentuk kering dibandingkan sediaan segar godokan adalah diperlukan penanganan bahan yang lebih rumit dibandingkan dengan sediaan segar untuk mendapatkan produk kesehatan. Sedian bentuk kering juga telah melalui proses yang panjang sehingga kemungkinan menurunnya komponen zat aktif saat proses dapat terjadi. Perlakukan yang diberikan juga memungkinkan terjadinya kontaminasi contoh saat perajangan, pengeringan, ataupun saat pengecilan ukuran. Namun kekurangan dan kelebihan ini saling menutupi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan sediaan dan pengguna. Misalnya untuk konsumsi langsung dirumah dan bahan gampang untuk didapatkan dapat dikonsumsi dengan metoda godokan bahan segar lebih mudah dan praktis. Namun untuk bahan yang sulit didapatkan dan untuk penggunaan jangka panjang lebih baik dilakukan pengeringan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Parameter standardari simplisia kering yang sering digunakan adalah penampakan, kadar air, kadar abu, dan kadar zat aktif (Anonim, 1985). Pada praktikum ini akan diamati parameter penampakannya saja. Pada kunyit, warna standarnya adalah kuning-jingga sampai kuning-coklat. Sedangkan untuk kunyit putih warnanya lebih putih. Sampel simplisia dari bahan praktikum semuanya sesuai dengan standar. Warna ini semakin terlihat ketika dibuat menjadi irisan. Untuk aroma, kunyit mempunyai aroma wangi aromatis. Sedangkan untuk temulawak, warna irisan rimpang temulawak kering kualitas baik adalah merah bata merata. Apabila dipatahkan bekas patahan berwarna oranye cerah dan aromanya segar. Kalau dikunyah rasanya tajam dan pahit. Warna dari sampel simplisia yang digunakan sudah termasuk standar, karena berwarna coklat tua kemerahan. Untuk sampel simplisia kering juga sudah keras dan sulit dipatahkan. Menurut Wiryowidagdo (2005), secara umum bahan simplisia akan kering jika dipanaskan di bawah terik matahari sekitar 3 4 hari. Dengan menerima panas matahari langsung, irisan rimpang kunyit dan temulawak akan bisa benar-benar kering (kadar air di bawah 15%) dalam jangka waktu 4 hari penuh. Sedangkan pada praktikum ini digunakan mesin pengering. Dengan menggunakan pengering buatan dapat diperoleh simplisia dengan mutu yang lebih baik karena pengeringan akan lebih merata dan waktu pengeringan lebih cepat tanpa dipengaruhi oleh keadaan cuaca (Anonim, 1985). Terjadinya bahan yang jamuran disebabkan oleh kondisi pengering yang kurang bersih dan adanya kadar air yang melebihi batas yang disebabkan pengeringan yang tidak merata. Standar simplisia kering diharuskan tidak berjamur ataupun berserangga.

IV. PENUTUP A. Kesimpulan Pada produk tanaman herbal dapat diolah menjadi produk jamu, herbal terstandar dan fitofarmaka. Jamu merupakan bahan obat alam yang sediannya masih berupa simplisia sederhana, seperti irisan rimpang, daun atau akar kering. Jamu dapat dinaikkan kelasnya menjadi herbal terstandar dengan syarat bentuk sediaannya berupa ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang terstandarisasi. Sebuah herbal terstandar dapat dinaikkan kelasnya menjadi fitofarmaka setelah melalui uji klinis pada manusia. Sudah cukup melimpah tanaman obat yang dapat dimanfaatkan di Indonesia seperti temu-temuan (kunyit putih, kunyit kuning, temulawak, temu kunci), pegagan, meniran, tapak dara, sambiloto, binahong dan sidaguri. Tumbuhan-tumbuhan tersebut mengandung zat aktif yang memiliki khasiat untuk kesehatan maupun menyembuhkan beberapa penyakit. Teknik pengolahan tanaman obat terdiri dari sortasi, pencucian, penirisan, pengirisan, dan pengolahan lebih lanjut menjadi berbagai diversifikasi produk. Tanaman obat dapat diolah menjadi simplisia, serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental/kering, kapsul, tablet dan minuman. simplisia segar, harus segera digunakan selagi dalam keadaan baik karena dikhawatirkan akan tumbuh jamur atau mikroba lainnya. Untuk penggunaan yang lama, umumnya akan digunakan simplisia kering supaya dapat mempertahankan kandungan metabolit-metabolit yang penting dalam pengobatan. Sediaan kering memiliki cukup banyak kelebihan dari godokan segar, namun masih ada kekurangannya juga. Kelebihan dan kekurangan sediaan kering,tersebut, membuat pemilihan sediaan tanaman obat (segar/kering) disesuaikan dengan urgensi penggunaannya dan durasi penyimpanannya. Parameter standardari simplisia kering yang digunakan dalam praktikum hanyalah penampakan. Pada simplisia kering kunyit putih, kunyit kuning, temulawak dan temu kunci diperoleh hasil bahwa aroma, warna dan kekerasannya sudah sesuai dengan standar. Adanya simplisia yang ditumbuhi jamur disinyalir akibat tak bersihnya pengering, kadar air awal melebihi batas dan pengeringan yang kurang merata. Seharusnya simplisia kering bebas dari mikroba, jamur maupun serangga.

B. Saran Saran untuk praktikum simplisia ini adalah lebih baik jika penjelasan teori tak lebih dari 1 jam sehingga tak mengurangi waktu pembuatan simplisia kering maupun godokan. Tumbuhan yang dibuat sediaan keringnya lebih diperkaya lagi. Pada praktikum ini sebaiknya ada juga pembuatan aplikasi produk seperti jamu maupun herbal.

DAFTAR PUSTAKA Afifah, E. 2003. Khasiat dan Manfaat Temulawak. Jakarta: Agromedia Pustaka. Aldi, Y., N.C. Sugiarto, S. Andreanus A., dan A.S. Ranti. 1996. Uji Efek Antihis Tonninergik dari Tanaman Andrographis paniculata Ness. Warta Tanaman Obat Indonesia 3(1): 17-19. Anonim. 1985. Cara Pembutan Simplisia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim. 1980. Tumbuhan Obat. Jakarta : Lembaga Biologi Nasional LIPI. Anonim. 2011.Catharanthus roseus. [terhubung berkala]. http://zaifbio.wordpress.com/catharanthus-roseus (1 Juni 2013). Anonim. 2012. Pengertian Obat Herbal. [terhubung berkala]. http://www.psychologymania.com/2012/12/pengertian-obat-herbal.html (2 Juni 2013). Barnes J., L.A. Anderson, J.D. Philipson. 2002. Herbal Medicines, Second Edition. London: Pharmaceutical Press, 530 p. Bermawie, N., M.S.D. Ibrahim, Mamun. 2005. Karakteristik Mutu Aksesi Pegagan (Centella Asiatica L.). Prosiding Seminar Nasional TOI XXVII, Surabaya, 15-16 Maret 2005. Balai Materia Medika. Dinkes Prop. .Jatim. hal. 259-264. Bermawie, N., S. Purwiyanti, Mardiana. 2008. Keragaan Sifat Morfologi, Hasil dan Mutu Plasma Nutfah Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.). Bul. Littro. XIX (1): 1-17. Cheng, L., J.S. Guo, J. Luk, M.W.L. Koo. 2004. The Healing Effect of Centella Ectract and Asiaticosida on Acetic Acid Induced Gastric Uclers in Rat., Life Sciences, 74(18), 2237-2249. Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Jakarta: Trubus Agriwidya 214 hlm. Darwis, S. N., Haiyah S., Madjo A.B.D. 1991. Tumbuhan Obat Famili Zingiberaceae. Bogor: Pusat Penelitian danPengembangan Industri. De Padue, LSD, N Bunyapraphatsara, RHMJ Lemmens. 1999. Plant Resources of South-East Asia 12. Prosea Fondation. Djauhariya, E. dan Hernani. 2004. Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Penebar Swadaya Duke, J.A. 1987. The Handbook of Medicinal Herbs. Boca Raton, Florida: CRC Press Inc. pp 109-110. Haralampidis, K., M. Trojanowska, A.E. Osbourn. 2002. Biosynthesis of Triperpenoid Saponins in Plants. Di dalam : Scheper Ted. Advances in Biochemical Engineering/Biotechnology. Vol. 75. Berlin, Heidelberg : Springer Verlag: 32-49. Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Edisi ke dua. Bandung: ITB. Hartono, A. 1999. Terapi Nutrisi dan Herbal untuk Kanker. Intisari 435 (36): 44-53. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan.1884 hal. Holm, L., J. Doll, E. Holm, J. Pancho, and J. Herberger. 1997. World weeds. New York: John Wiley and Sons, Inc.. 1,129 p. Hudayani, F. 2008. Efek Antidiare Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma domestica. Val) pada Mencit Galur Swiss Webster [skripsi]. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Lukas, R. 1998. Rahasia Herbalis Cina, Ramuan Tanaman Obat Cina . Jakarta: Pustaka Delapratasa. Martindale. 1967. Extrapharmacopea Edisi XXV. London: The Pharmaceutical Press. 1514. Ming Z., S. Liu, L. Cao, L. Tang. 2004. Effect of Total Glucosides of Centella asiatica on Antagonizing Liver Fibrosis Induced by dimethylnitrosamine in Rats. Zhongguo Zhongxiji Jiche Zazhi (China), 24(8): 731-734. Mursito, Bambang. 2001. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Jantung. Jakarta: Penebar Swadaya. Ningtyas, R. Wulan. 2008. Formulasi Tablet Kunyah Ekstrak Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria) dengan Kombinasi Bahan Pengisi Sorbitol-Laktosa. Surakarta : Fakultas Farmasi UMS. Nugraheni, W.P. 2001. Kunci Pepet. Sidowayah 34(9): 15-18. Oomah BD. 2000. Herbs, Botanicals, and Teas. Pennsylvania: Technomic. Phillips D.R., J.M. Rasberry, B. Bartel, B.S.T. Matsuda. 2006. Biosynthestic Diversity in Plant Triterpene Cyclization. Curr. Opin. Plant Biol. 9: 305-314. Prakoso, Budi. 2007. Sidaguri Meringankan Obat Asam Urat-Rematik. Jakarta: Penebar Swadaya. Rachman, F., Logawa E. D., Hegartika H., Simanjuntak P. 2008. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Tunggal dan Kombinasinya dari Tanaman Curcuma spp. Ilmu Kefarmasian 6: 69-74. Rao, K.G.M., S. Muddanna Rao, S. Gurumadhva Rao. 2006. Centella asiatica L. (Urban.) Leaf Extract Treatment During the Growth Spurt Period Enhances Hippocampal CA3 Neuronal Dendritic Arborization in Rats. Evid. Based Complement, Altern. Med. 3(3):349-357. Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: ITB. Rukmana R. 2006.Temulawak, Tanaman Rempah dan Obat. Yogyakarta: Kanisius. Rukmana R. 2008. Temu-temuan, Apotik Hidup di Pekarangan. Ed ke-5.Yogyakarta: Kanisius. Rustam, E., Atmasari I., Yanwirasti. 2007. Efek Antiinflamasi Etanol Kunyit (Curcumadomestica Val.) pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi 12: 112-115. Sandberg, F. 1994. Andrographidis Herba Chuanxinlian: A Review. Gothenburg, Sweden: Swedish Herbal Institute. In: The American Botanical Council [USA]. Sari, L. O. R. Kumala. 2006. Pemanfaatan Obat Tradisional dengan Pertimbangan Manfaat dan Keamanannya. Majalah Ilmu Kefarmasian. 3 (1). Jember : UNEJ. Sidik, Moelyono M. W., Mutadi A. 1995. Temulawak (Curcuma xanthorrhizaRoxb.). Jakarta: Phyto Medika. Sukara, E. 2002. Sumber Daya Alam Hayati dan Pencarian Bahan Baku Obat (Bioprospekting). Prosiding Simposium Nasional II Tumbuhan Obat dan Aromatik. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi LIP. hlm. 31-37. Sutrisno B. 1996. Ikhtisar Farmakognosi Jilid I. Jakarta: CV. Quartz. Syamir, Hasnidar. 2012. Fitofarmaka. [terhubung berkala] http://bloggernidar.blogspot.com/2012/12/ fitofarmaka.html. (28 Mei 2013). Syamsuhidayat, S.S. dan J. R. Hutapea. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Syukur, Cheppy. 2010. Turina, Varietas Unggul Kunyit Kurkumin Tinggi. Jurnal Sinar Tani Edisi 3-9 November 2010. Taiz L, E. Zeiger. 2002. Plant Physiology. Massachusetts: Sinauer Associates, Inc, Publisher Sunderland. 690 p. Tampubolon, Oswald T. 1995. Tumbuhan Obat. Jakarta: Penerbit Bhratara. Tjay, T. H., dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi ke VI. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Van Steenis C.G.G.J. 1997. Flora. Moeso Surjowinoto. (Penerjemah). Jakarta: Pradnya Paramitha. 324 hal. Wiryowidagdo, S. 2007. Kimia & Farmakologi Bahan Alam edisi 2. Jakarta: EGC Buku Kedokteran.

LAMPIRAN

Bubuk Kunyit Kuning

Bubuk Kunyit Putih

Bubuk Temu kunci

Bubuk Temulawak

Simplisia Kering Kunyit Kuning

Simplisia Kering Kunyit Putih

Simplisia Kering Temu Kunci

Simplisia Kering Temulawak