Anda di halaman 1dari 38

LABORATORIUM

KIMIA FISIKA


Percobaan : DESTILASI UAP

Kelompok : X A

Nama :
1. Davi Khoirun Najib NRP. 2313 030 009
2. Zandhika Alfi Pratama NRP. 2313 030 035
3. Rizuana Nadhifatul M. NRP. 2313 030 043
4. Thea Prastiwi Soedarmodjo NRP. 2313 030 095




Tanggal Percobaan : 21 Oktober 2013
Tanggal Penyerahan : 28 Oktober 2013
Dosen Pembimbing : Nurlaili Humaidah, S.T., M.T.
Asisten Laboratorium : Dhaniar Rulandri W.


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2013

i
ABSTRAK
Tujuan dari percobaan destilasi uap ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari uap
terhadap titik didih dan juga untuk menghitung densitas dari minyak jahe.
Prosedur percobaan destilasi uap adalah sebagai berikut: mempersiapkan perangkat destilasi
lengkap kemudian bahan-bahan yang diperlukan untuk destilasi, yaitu rimpang jahe, rimpang jahe
yang akan digunakan sebagai bahan percobaan dipotong-potong dan dikeringkan agar
mempermudah uap untuk mengekstrak minyak dalam rimpang jahe. Lalu di masukkan ke dalam labu
destilat. Selanjutnya mengisi boiler dengan air secukupnya, kemudian menyalakan kompor. Menutup
valve yang ada pada boiler saat uap pada panci sudah mengepul. Menyalakan stopwatch sebagai
awal mula perhitungan waktu destilasi uap dan hitung dalam kurun waktu selama 120 menit.
Mengukur (T) dan tekanan (P) yang ada pada labu destilat. Mencatat waktu, tekanan, dan suhu saat
destilat pertama kali menetes. Mengamati volume hasil destilasi yang ada pada labu erlenmeyer,
sebelum penuh harus diganti dengan labu erlenmeyer yang lain. Mengambil minyak jahe dengan cara
menyedot hasil destilasi dengan pipet tetes. Selanjutnya untuk menghitung densitas dari minyak jahe,
langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang piknometer yang akan diisi minyak jahe pada
keadaan kosong terlebih dahulu. Lalu memasukkan minyak jahe pada piknometer berukuran 5 ml,
pada percobaan ini didapat destilat sebanyak 81 ml. Menimbang piknometer yang berisi minyak jahe.
Menghitung berat (massa) minyak jahe dengan mencari selisih antara berat piknometer yang telah
terisi dengan berat piknometer yang kosong. Kemudian prosedur untuk mendapatkan densitas dari
minyak jahe adalah hasil pembagian dari berat (m) dari minyak jahe dengan volume (v) minyak jahe.
Hasil dari destilasi minyak jahe tersebut adalah destilat pertama keluar pada menit kedua
dengan suhu 95C dan tekanan 400 mbar sedangkan suhu konstan pada 97C dan tekanan 560 mbar.
Destilat berupa air dan minyak yang dapat dihitung melalui volume dan berat/massa dari minyak
jahe, menurut teori minyak atsiri yang didapat sebesar 1,7% sampai 3,8% dari berat kering, namun
percobaan yang kami lakukan tidak menghasilkan minyak. Ini dikarenakan titik didih dari jahe untuk
mendapatkan minyak atsirinya melebihi 100C, sedangkan titik didih alat destilasi uap yang kami
gunakan suhu maksimalnya adalah 100C. Oleh karena itu, kami memeras jahe yang kami gunakan
sebanyak 250 gram dan mendapatkan destilat sebanyak 81mL. Densitas dari minyak jahe setelah
dihitung sebesar 0,9 gram/ml.

Kata Kunci : destilasi, minyak atsiri, titik didih



















ii
DAFTAR ISI

ABSTRAK .......................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL .............................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ....................................................................................................... I-1
I.2 Perumusan Masalah ............................................................................................... I-2
I.3 Tujuan Percobaan ................................................................................................... I-2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori ............................................................................................................ II-1
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Variabel Percobaan ............................................................................................... III-1
III.2 Bahan yang Digunakan......................................................................................... III-1
III.3 Alat yang Digunakan ............................................................................................ III-1
III.4 Prosedur Percobaan .............................................................................................. III-1
III.5 Diagram Alir Percobaan ....................................................................................... III-3
III.6 Gambar Alat Percobaan ........................................................................................ III-5
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN
IV.1 Hasil Percobaan .................................................................................................... IV-1
IV.2 Pembahasan .......................................................................................................... IV-1
BAB V KESIMPULAN ...................................................................................................... V-1
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... v
DAFTAR NOTASI ............................................................................................................. vi
APPENDIKS ....................................................................................................................... vii
LAMPIRAN :
Laporan Sementara
Fotokopi Literatur
Lembar Revisi


iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1 Rangkaian Alat Destilasi Uap ....................................................................... II-7
Gambar II.2 Tekanan Uap Cairan A dalam Diagram ........................................................ II-13
Gambar II.3 Tekanan Uap Cairan B dalam Diagram ........................................................ II-13
Gambar II.4 Tekanan Uap Total dari Cairan A dan B....................................................... II-14
Gambar II.5 Grafik Kemungkinan Keadaan Pereaksi dan Hasil Reaksi pada saat
Tercapai Keadaan Setimbang ....................................................................... II-15
Gambar II.6 Sistem Pada Tipe I ........................................................................................ II-17
Gambar II.7 Sistem Pada Tipe II ....................................................................................... II-18
Gambar II.8 Sistem Pada Tipe III ...................................................................................... II-19
Gambar III.6 Gambar Alat Percobaan ................................................................................. III-5





















iv
DAFTAR TABEL

Tabel IV.1.1 Hasil Pengamatan Destilat pada Tetes Pertama ............................................. IV-1
Tabel IV.1.2 Hasil Percobaan Destilasi Uap pada Rimpang Jahe Kering 250 gram .......... IV-1



















I-1


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Di alam banyak tumbuhan yang mengandung minyak kotor yang memiliki titik
didih yang tinggi pada campuran yang kaya akan bahan organik. Sebagian dari campuran
itu memiliki kegunaan yang penting sebagai obat pada bidang kedokteran, parfum,
penyedap rasa, dan lain-lain. Contohnya adalah anti malaria dari pohon kina yang
diperoleh dari penyulingan pohon-pohon kina, geraniol dari bunga mawar, serta vanillin
dari kelopak polong vanili, pada percobaan ini, akan dilakukan penyulingan terhadap
minyak kotor dengan suatu teknik yang dikenal sebagai destilasi uap. Destilasi atau
penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan
kerapatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Dalam penyulingan, campuran
zat didihkan sehingga menguap dan uap ini kemudian didinginkan kembali dalam bentuk
cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Dalam percobaan ini akan digunakan destilasi uap dalam pemisahan minyak atsiri
dari jahe. Pada destilasi uap, suatu larutan tak dapat bercampur homogen yang salah satu
komponennya adalah air, akan di destilasi pada suatu temperatur yang lebih rendah dari
titik komponen masing-masing yang terkandung dalam campuran. Inilah sebabnya total
uap air (Ptot) dari suatu larutan tak dapat bercampur. Ptot adalah penjumlahan tekanan
uap dari individu/komponen masing-masing dalam keadaan murni.Ptot tekanan udara
masing-masing komponen akan sama dengan tekanan atmosfer adalah ketika campuran
mendidih. Karena pada saat itu, kotoran minyak berbentuk cairan dimungkinkan telah
terdekomposisi/terpisah ketika dilakukan pemanasan pada temperatur tinggi. Destilasi
dengan uap adalah suatu teknik yang menguntungkan untuk memisahkan komponen-
komponen di dalam minyak kotor yang tidak dapat bercampur satu sama lain yaitu
dengan menggunakan air yang mendidih di bawah 100C. Di dalam proses pemisahan ini
dapat terjadi dari fakta bahwa eugenol merupakan suatu campuran phenol, dengan asam
lemah. Sedangkan eugenol asam cuka dan caryolhyllene adalah netral. Struktur dari
ketiga senyawa yang mungkin terkandung dalam minyak pada jahe.
Destilasi banyak digunakan dalam industri maupun laboratorium. Tujuannya yaitu
untuk menentukan zat organik yang mempunyai titik didih tinggi atau mudah terurai pada
titik didih normalnya. Contohnya, yaitu air raksa dengan air, anilin dengan air, karbon
disulfida dengan air, dan sebagainya. Dimana titk didih yang lebih rendah akan mudah


I-2

Bab I Pendahuluan

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

menguap dan berada di atas (vapor) dan titik didih yang lebih tinggi berada di bawah
(bottom).

I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh uap terhadap titik didih minyak rimpang jahe dengan
menggunakan destilasi uap?
2. Bagaimana cara mengetahui densitas dari minyak rimpang jahe pada proses destilasi
uap?

I.3 Tujuan Percobaan
1. Mempelajari dan mengetahui pengaruh uap terhadap titik didih minyak rimpang jahe
dengan menggunakan destilasi uap.
2. Mengetahui jumlah densitas dari minyak rimpang jahe pada proses destilasi uap.





II-1


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
Sebelum membahas lebih lanjut tentang destilasi, kita akan mencoba menelusuri
terlebih dulu sejarah destilasi tersebut. Pertama kali destilasi dikenalkan oleh seorang
kimiawan Babilonia di Mesopotamia pada millennium ke-2 sebelum masehi. Namun,
untuk industri dibawa oleh kimiawan muslim dalam proses mengisolasi ester untuk
membuat parfum. Pada abad ke-8 kimiawan muslim juga berhasil mendapatkan substan
kimia yang benar-benar murni melalui proses destilasi. Pada tahun 800-an ahli kimia
Persia, Jabir Ibnu Hayam menjadi inspirasi dalam destilasi skala mikro, karena
penemuannya di bidang destilasi yang masih dipakai sampai sekarang. Petroleum
pertama kali didestilasi oleh kimiawan muslim yang bernama Al-Razi pada abad ke-9,
untuk destilasi karosin atau minyak tanah pertama ditemukan oleh Avicenna pada awal
abad ke-11 (Addien, 2008).
Destilasi adalah suatu proses pemurnian yang didahului dengan penguapan
senyawa cair dengan cara memanaskannya, kemudian mengembunkan uap yang
terbentuk. Prinsip dasar dari destilasi adalah perbedaan titik didih dari zat-zat cair dalam
campuran zat cair tersebut sehingga zat (senyawa) yang memiliki titik didih terendah
akan menguap lebih dulu, kemudian apabila didinginkan akan mengembun dan menetes
sebagai zat murni (destilat). Destilasi digunakan untuk memurnikan zat cair, yang
didasarkan atas perbedaan titik didih cairan. Pada proses ini cairan berubah menjadi uap.
Uap ini adalah zat murni. Kemudian uap ini didinginkan pada pendinginan ini, uap
mengembun menjadi cairan murni yang disebut destilat (Sinaga, 2010).
Perbedaan komposisi antara fase cair dan fase uap merupakan syarat utama agar
pemisahan dengan destilasi dapat dilakukan. Apabila komposisi fase uap sama dengan
komposisi fase cair, maka pemisahan dengan jalan destilasi tidak dapat dilakukan.
Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan
proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan masing-masing komponen akan
menguap pada titik didihnya. Model ideal destilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan
Hukum Dalton (Addien, 2008).
Penguapan dan destilasi umumnya merupakan proses pemisahan satu tahap.
Proses ini dapat dilakukan secara tidak kontinu atau kontinu, pada tekanan normal atau
vakum. Pada destilasi sederhana, yang paling sering dilakukan adalah operasi tidak


II-2

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

kontinu. Dalam hal ini campuran yang akan dipisahkan dimasukan dalam penguap
(umumnya alat penguap labu) dan dididihkan. Hal khusus dari destilasi sederhana adalah
destilasi kukus, destilasi molekuler dan destilasi refluks (Education, 2011).
Penguapan yang berlangsung juga tidak dapat dipisahkan oleh air, jika material
air tidak dimasukkan kedalam ketel maka suatu kesalahan besar jika menganggap proses
hidrodestilasi dapat berlangsung karena air jika dimasukkan kedalam tabung yang
dipanaskan pada temperatur tinggi akan menghasilkan uap panas, dan jika air tersebut
dicampur dengan senyawa hidro lainnya maka 80% kemungkinan uap yang ada akan
menimbulkan bau dari senyawa hidro tersebut (Education, 2011).
Minyak Atsiri adalah minyak yang bersifat mudah menguap dengan komposisi
dan titik didih yang berbeda beda setiap substitusi yang dapat menguap tentunya dapat
menghasilkan bau dan memiliki titik didih tertentu hal ini dipengaruhi oleh suhu
(Education, 2011).
Pada campuran dua cairan yang tidak larut, tekanan uap total adalah penjumlahan
tekanan uap dari masing masing komponen dalam keadaan murni. Tekanan uap tersebut
tidak tergantung pada perbandingan antar komponen. Tekanan uap total dari campuran
dapat menyamai tekanan udara pada suhu yang lebih rendah dari pada suhu yang dicapai
sehinggga titik didih campuran selalu lebih rendah dari pada titik didih terendah dari
komponen yang membentuknya (Education, 2011).
Tekanan uap adalah sebuah ukuran kecenderungan molekul cairan untuk berubah
menjadi uap, sehingga merupakan ukuran kemudahan menguap (volatilitas) dari bahan
yang bersangkutan. Setiap cairan memiliki tekanan uap yang spesifik (Redian, 2013).
Terdapat berbagai macam destilasi, yaitu:
1. Destilasi Sederhana
Pada destilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih
yang jauh atau dengan salah satu komponen bersifat volatil. Jika campuran dipanaskan
maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Selain
perbedaan titik didih, juga perbedaan kevolatilan, yaitu kecenderungan sebuah
substansi untuk menjadi gas. Destilasi ini dilakukan pada tekanan atmosfer. Aplikasi
destilasi sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air dan alkohol.
2. Destilasi Fraksinasi
Fungsi destilasi fraknisasi adalah memisahkan komponen-komponen cair, dua
atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Destilasi ini juga


II-3

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20 C dan
bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari destilasi
jenis ini digunakan pada industri minyak mentah, untuk memisahkan komponen-
komponen dalam minyak mentah. Perbedaan destilasi fraknisasi dan destilasi
sederhana adalah adanya kolom fraknisasi. Di kolom ini terjadi pemanasan secara
bertahap dengan suhu yang berbeda-beda pada setiap platnya. Pemanasan yang
berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian distilat yang lebih dari plat-plat di
bawahnya. Semakin ke atas, semakin tidak volatil cairannya.
3. Destilasi Vakum
Destilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didestilasi tidak
stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik didihnya
atau campuran yang memiliki titik didih di atas 150 C. Metode destilasi ini tidak
dapat digunakan pada pelarut dengan titik didih yang rendah jika kondensornya
menggunakan air dingin, karena komponen yang menguap tidak dapat dikondensasi
oleh air. Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa vakum atau aspirator. Aspirator
berfungsi sebagai penurun tekanan pada sistem destilasi ini.
4. Destilasi Uap
Destilasi uap digunakan untuk memurnikan zat/senyawa cair yang tidak larut
dalam air, dan titik didihnya cukup tinggi, sedangkan sebelum zat cair tersebut
mencapai titik didihnya, zat cair sudah terurai, teroksidasi atau mengalami reaksi
pengubahan (rearranagement), maka zat cair tersebut tidak dapat dimurnikan secara
destilasi sederhana atau destilasi bertingkat, melainkan harus didestilasi dengan
destilasi uap. Destilasi uap adalah istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi
campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan
uap air ke dalam campuran sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap
pada temperatur yang lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung. Untuk
destilasi uap, labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan dihubungkan dengan
labu pembangkit uap. Destilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang
memiliki titik didih mencapai 200 C atau lebih. Destilasi uap dapat menguapkan
senyawa-senyawa ini dengan suhu mendekati 100 C dalam tekanan atmosfer dengan
menggunakan uap atau air mendidih. Sifat yang fundamental dari destilasi uap adalah
dapat mendestilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari masing-masing
senyawa campurannya. Selain itu destilasi uap dapat digunakan untuk campuran yang


II-4

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didestilasi dengan air. Aplikasi
dari destilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak
eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk ekstraksi
minyak parfum dari tumbuhan. Campuran dipanaskan melalui uap air yang dialirkan
ke dalam campuran dan mungkin ditambah juga dengan pemanasan. Uap dari
campuran akan naik ke atas menuju ke kondensor dan akhirnya masuk ke labu distilat
(Wikipedia, 2013).
Larutan ideal memiliki tekanan yang uap yang berbanding lurus dengan fraksi
molnya dalam larutan untuk seluruh kisaran fraksi mol :
Pi = Xi Pi
0

Keterangan :
Pi
0
= Tekanan uap zat murni I
Xi = Fraksi mol zat murni I
Pi = Tekanan uap parsial larutan
(Maron & Lando, 1965)

Dengan Pi
0
adalah tekanan uap (pada suhu tertentu) zat murninya I, Xi adalah
fraksi molnya dalam larutan dan Pi adalah tekanan uap parsial diatas larutan. Ini
merupakan generalisasi dari Hukum Raoult untuk setiap komponen larutan. Ketika
fraksinasi terjadi pada campuran yang tidak saling larut (immiscuble), hal ini sering
disebut condistillation. Ketika salah satu zat tersebut berupa air, maka proses ini
disebut steam distillation (penyulingan uap). Untuk kondisi dimana suatu bahan tidak
saling larut tekanan total dapat dicari dengan Hukum Dalton, yaitu :
P = P
0
A
+ P
0
B

Keterangan :
P = Tekanan total
P
0
A
= Tekanan air
P
0
B
= Tekanan uap sampel
(Maron & Lando, 1965)

Dimana P adalah tekanan total, P
o
A
adalah tekanan air dan P
o
B
tekanan uap dari
sampel. P
o
A
dan P
o
B
adalah berkoresponding terhadap temperatur (Maron & Lando,
1965).


II-5

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

Setiap suhu yang mendidih selama campuran dilambangkan dengan T (tekanan
uap parsial dari dua konstituen P
0
a
dan P
0
b
sesuai dengan suhu tertentu). Jika kita
membiarkan N
a
dan N
b
menjadi fraksi mol dari kedua konstituen dalam uap maka,
P
0
a
= N
a
P dan P
0
b
= N
b


P
Keterangan :
P
0
a
= Tekanan air
N
a
= Fraksi mol air
P
0
b
= Tekanan uap sampel
N
b
= Fraksi mol sampel
P = Tekanan total
(Maron & Lando, 1965)

Perbandingan tekanan di temperatur T konstan tentunya memiliki
perbandingan mol yang konstan juga.

Na

Na
N

Keterangan :
P
0
a
= Tekanan air
N
a
= Fraksi mol air
P
0
b
= Tekanan uap sampel
N
b
= Fraksi mol sampel
(Maron & Lando, 1965)

Karena,
N

a
n
a
n
a
n

dan N

n
a
n


Keterangan :
N
a
= Fraksi mol air
N
b
= Fraksi mol sampel
n
a
= jumlah mol volume A
n
b
= jumlah mol volume B
(Maron & Lando, 1965)



II-6

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

Di mana n
a
dan n
b
adalah jumlah mol volume A dan B. Maka,

n
a
n


Keterangan :
P
0
a
= Tekanan air
P
0
b
= Tekanan uap sampel
n
a
= Jumlah mol volume A
n
b
= Jumlah mol volume B
(Maron & Lando, 1965)

Karenanya rasio tekanan dan rasio tekanan parsial pada T adalah konstan, n
a
/
n
b
juga harus konstan. Komposisi uap setiap saat konstan sepanjang kedua cairan
tersebut ada. Karena n
a

dan n

dimana W
a
adalah massa minyak dan W
b

adalah massa air. Sehingga,

n
a
n

a

Keterangan :
P
0
a
= Tekanan air
P
0
b
= Tekanan uap sampel
n
a
= Jumlah mol volume A
n
b
= Jumlah mol volume B
W
a
= Massa minyak
W
b
= Massa air
M
a
= Berat molekul minyak
M
b
= Berat molekul air
(Maron & Lando, 1965)

Sehingga kita dapat mencari Berat Molekul minyak dari rumus :






II-7

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

Keterangan :
P
0
a
= Tekanan air
P
0
b
= Tekanan uap sampel
n
a
= Jumlah mol volume A
n
b
= Jumlah mol volume B
W
a
= Massa minyak
W
b
= Massa air
M
a
= Berat molekul minyak
M
b
= Berat molekul air
(Maron & Lando, 1965)

Fraksi mol tidak dimasukkan persamaan karena cairan yang teruap tidak saling
mempengaruhi. Seringkali dalam penyulingan dibuat laju alir steam dibuat berlebih
agar produk yang dihasilkan lebih besar karena dengan laju alir steam besar
diharapkan proses terekstraknya minyak oleh steam semakin besar (Maron & Lando,
1965).





Gambar II.1 Rangkaian Alat Destilasi Uap
(Rahayu, 2009)
Azeotrop
Azeotrop adalah campuran dari dua atau lebih komponen yang memiliki titik
didih yang konstan. Azeotrop dapat menjadi gangguan yang menyebabkan hasil destilasi
menjadi tidak maksimal. Komposisi dari azeotrop tetap konstan dalam pemberian atau
penambahan tekanan. Akan tetapi ketika tekanan total berubah, kedua titik didih dan
komposisi dari azeotrop berubah. Sebagai akibatnya, azeotrop bukanlah komponen tetap,
Pengatur uap
Panci Air
Kompor
gas


II-8

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

yang komposisinya harus selalu konstan dalam interval suhu dan tekanan, tetapi lebih ke
campuran yang dihasilkan dari saling memengaruhi dalam kekuatan intramolekuler dalam
larutan (Wikipedia, 2013).
Azeotrop dapat didestilasi dengan menggunakan tambahan pelarut tertentu,
misalnya penambahan benzena atau toluena untuk memisahkan air. Air dan pelarut akan
ditangkap oleh penangkap Dean-Stark. Air akan tetap tinggal di dasar penangkap dan
pelarut akan kembali ke campuran dan memisahkan air lagi. Campuran azeotrop
merupakan penyimpangan dari hukum Raoult (Wikipedia, 2013).
Efektifitas Destilasi
Secara teori, hasil destilasi dapat mencapai 100% dengan cara menurunkan
tekanan hingga 1/10 tekanan atmosfer. Dapat pula dengan menggunakan destilasi
azeotrop yang menggunakan penambahan pelarut organik dan dua destilasi tambahan,
dan dengan menggunakan penggunaan cornmeal yang dapat menyerap air baik dalam
bentuk cair atau uap pada kolom terakhir. Namun, secara praktek tidak ada destilasi yang
mencapai 100% (Wikipedia, 2013).
Destilasi Skala Industri
Umumnya proses destilasi dalam skala industri dilakukan dalam menara, oleh
karena itu unit proses dari destilasi ini sering disebut sebagai menara destilasi (MD).
Menara destilasi biasanya berukuran 2-5 meter dalam diameter dan tinggi berkisar antara
6-15 meter. Masukan dari menara destilasi biasanya berupa cair jenuh, yaitu cairan yang
dengan berkurang tekanan sedikit saja sudah akan terbentuk uap dan memiliki dua arus
keluaran, arus yang diatas adalah arus yang lebih volatil (mudah menguap) dan arus
bawah yang terdiri dari komponen berat. Menara destilasi terbagi dalam 2 jenis kategori
besar, yaitu :
1. Menara Destilasi tipe Stagewise, menara ini terdiri dari banyak piringan yang
memungkinkan kesetimbangan terbagi-bagi dalam setiap piringannya, dan
2. Menara Destilasi tipe Continous, yang terdiri dari pengemasan dan kesetimbangan
cair-gasnya terjadi di sepanjang kolom menara (Wikipedia, 2013).
Jahe (Zingiber officinale Rosc)
Jahe merupakan salah satu jenis tanaman rempah-rempah yang ada di Indonesia.
Komoditas ini dikenal sejak jaman penjajahan Belanda, konon alasan negeri Belanda
datang ke Indonesia karena tanaman jahe. Rimpang jahe banyak dicari karena memiliki


II-9

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

kelebihan dalam hal kesehatan, kesegaran, dan campuran untuk membuat masakan
(Kurnianti, 2013).
Indonesia sebagai negara tropis merupakan daerah yang cocok untuk tanaman
jahe. Namun, pada kenyataannya tidak mudah untuk mendapatkan jahe dengan kualitas
dan kuantitas yang dibutuhkan, baik kebutuhan dalam negeri maupun ekspor (Kurnianti,
2013).
Jahe merupakan tanaman rempah yang dimanfaatkan sebagai minuman atau
campuran pada berbagai bahan pangan. Rasa jahe yang pedas bila dibuat minuman dapat
memberikan sensasi sebagai pelega dan penyegar tenggorokan, juga dapat memberikan
rasa hangat pada tubuh (Kurnianti, 2013).
Selain sebagai penyedap makanan dan minuman, rimpang jahe juga berkhasiat
sebagai obat-obatan. Dewasa ini jahe banyak dimanfaatkan untuk asupan makanan,
industri makanan/minuman, atau bahan obat. Oleh karena itu, rimpang jahe juga banyak
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut (Kurnianti, 2013).
Jahe termasuk kedalam kelas Monocotyledon yaitu tanaman berkeping satu dan
famili Zingiberaceae atau famili temu-temuan. Tanaman ini merupakan salah satu
jenis tanaman rempah-rempah yang telah lama tumbuh di Indonesia. Bahkan bangsa
asing mencoba mencari dan mendatangi negara Indonesia beberapa abad silam karena
tanaman ini (Kurnianti, 2013).
Nama Zingiber merupakan nama latin yang berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu
singibera, yang mempunyai makna berbentuk tanduk. Hal itu dikarenakan percabangan
rimpang jahe memiliki bentuk yang menyerupai tanduk rusa. Biasanya tanaman ini
banyak tumbuh di pekarangan rumah maupun di kebun. Bahkan sekarang tanaman jahe
banyak dibudidayakan di daerah tegalan (Kurnianti, 2013).
Sejak jaman dahulu, tanaman jahe sudah dikenal dan dibutuhkan banyak orang.
Namun sayangnya pada saat itu merka belum mengenal cara budidaya jahe yang baik dan
benar sehingga hasil panen waktu itu tidak maksimal. Tanaman jahe diperkirakan berasal
dari India dan Cina yang terkenal sebagai negara yang memanfaatkan jahe untuk obat-
obatan. Bangsa Yunani dan Romawi memperoleh jahe dari para pedagang Arab yang
membawa jahe dari India. Sementara itu orang-orang Jamaica mulai mengenal jahe
sekitar tahun 1952 yang kemudian dibawa oleh orang-orang Karibia (Kurnianti, 2013).
Jahe adalah tanaman rimpang yang sudah sangat dikenal sebagai rempah-rempah
dan bahan obat. Rimpang jahe ada yang berbentuk seperti jemari. Adanya rasa pedas


II-10

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

yang sangat dominan dalam rimpang jahe disebabkan oleh senyawa keton zingeron.
Klasifikasi tanaman jahe digolongkan sebagai berikut.
Filum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale
(Kurnianti, 2013)
Akar tanaman jahe keluar dari garis lingkaran sisik rimpang, berwarna putih
sampai cokelat, berbentuk bulat ramping serta berserat. Akar tumbuh mendatar dekat
perpukaan tanan dan bercabang. Jahe merupakan tanaman berbatang semu, berbentuk
silindris dengan tinggi tanaman berkisar antara 30-100 cm. Tanaman jahe memiliki
rimpang berwarna putih, putih kekuningan, dan jingga (Kurnianti, 2013).
Daun berpasangan berbentuk menyerupai pedang, dan tersusun berseling-seling
secara teratur dengan panjang 15 23 cm, lebar 1 3 cm, dengan panjang tangkai daun
berkisar 24 mm. Tulang daun tersusun sejajar serta permukaan daun bagian atas berbulu
putih. Ujung daun berbentuk runcing yang membulat pada bagian pangkal. Daun terdiri
atas upih dan helaian, pada setiap buku terdapat dua daun (Kurnianti, 2013).
Bunga tanaman jahe tersusun dalam rangkaian malai atau bulir yang berbentuk
silinder seperti jagung. Bunga tersebut tumbuh dari rimpang yang keluar dari permukaan
tanah diantara batang tanaman dan terpisah dari batang dan daunnya. Bunga tersebut
berbentuk seperti tongkat, tetapi kadang-kadang keluar juga bunga dengan bentuk bulat
telur. Panjang malai sekitar 4-7 cm dengan lebar 1,52,5 cm. Setiap bunga dilindungi
oleh daun pelindung (bractea) berwarna hijau cerah berbentuk bulat telur (ovatus) atau
jorong (elliptic). Di dalam daun pelindung terdapat 1-8 bunga jahe yang memiliki
mahkota berbentuk tabung dengan helaian agak sempit berwarna kuning kehijauan. Bibir
mahkota bunga berwarna ungu gelap dan berbintik-bintik putih kekuningan. Bunga
tanaman jahe memiliki benang sari semu (staminodium) yang menyerupai mahkota
bunga. Tangkai putiknya berjumlah dua buah dengan kepala sari berwarna ungu
berkukuran 9 mm. Kepala putik berada di atas kepala sari sehingga kecil kemungkinan


II-11

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

untuk terjadi penyerbukan sendiri. Namun peluang untuk terjadi penyerbukan buatan
masih terbuka (Kurnianti, 2013).
Secara umum terdapat tiga jenis tanaman jahe yang dapat dibedakan dari aroma,
warna, bentuk, dan besar rimpang. Ketiga jenis tanaman jahe tersebut adalah jahe putih
besar, jahe putih kecil, dan jahe merah. Jahe putih besar biasa disebut juga dengan jahe
gajah atau jahe badak, hal itu dikarenakan jahe putih besar memiliki ukuran rimpang
yang lebih besar dengan bentuk yang gemuk.
1. Jahe Putih Besar
Jahe putih besar memiliki rimpang yang lebih besar dan gemuk, ruas
rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Rimpang jahe ini
berwarna putih kekuningan. Jahe putih besar bisa dikonsumsi baik saat berumur muda
maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan. Rasa rimpang jahe
gajah tidak begitu pedas dibanding jahe putih kecil dan jahe merah. Jahe ini memiliki
kandungan minyak atsiri sekitar 0,18-1,66% dari berat kering.
2. Jahe Putih Kecil
Jahe putih kecil atau disebut juga jahe emprit memiliki ruas kecil dengan
warna rimpang putih. Bentuknya agak pipih dan berserat lembut. Saat ini telah
diciptakan varietas unggul jahe putih kecil atau jahe emprit, yaitu JPK 3 dan JPK 6
yang mampu berproduksi hingga 16 ton/ha. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur
tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya
lebih pedas. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan dan memiliki kandungan
minyak atsiri yang tinggi yaitu 1,7-3,8% berat kering dan kadar oleoresin 2,39-8,87%.
3. Jahe Merah
Jahe merah yang memiliki nama latin Zingiber offocinale var. rubrum biasa
disebut juga dengan nama jahe sunti. Jahe merah memiliki rasa yang sangat pedas
dengan aroma yang sangat tajam sehingga sering dimanfaatkan untuk pembuatan
minyak jahe dan bahan obat-obatan. Jahe merah memiliki rimpang yang berwarna
kemerahan dan lebih kecil jika dibandingkan dengan jahe putih kecil atau sama
dengan jahe kecil dengan serat yang kasar. Jahe ini memiliki kandungan minyak atsiri
sekitar 2,58-3,90% dari berat kering.
(Kurnianti, 2013)
Kebutuhan permintaan jahe dari Indonesia ke negara pengimpor jahe beberapa
tahun terakhir ini cukup meningkat. Volume permintaan dalam negeri juga terus


II-12

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

meningkat seiring dengan semakin berkembangnya industri makanan dan minuman yang
menggunakan bahan baku jahe. Sayangnya, adanya peningkatan permintaan jahe belum
dapat diimbangi dengan peningkatan produksi jahe (Kurnianti, 2013).
Adapun negara tujuan jahe dari Indonesia antara lain Jepang, Arab Saudi, serta
Malaysia dalam bentuk jahe segar, jahe kering, dan jahe olahan. Komoditas ekspor
olahan seperti asinan (jahe putih besar), jahe kering (jahe putih besar, jahe putih kecil,
dan jahe merah), maupun minyak atsiri dari jahe putih kecil dan jahe merah (Kurnianti,
2013).
Berdasarkan hal tersebut, jahe layak dijadikan sebagai salah satu komoditas
unggulan dalam usaha mengembangan agribisnis dan agroindustri. Selain itu, jahe juga
memiliki peluang cukup besar untuk dikembangkan. Hal itu dikarenakan selain iklim,
kondisi tanah, dan letak geografis, Indonesia sangat cocok untuk bertanam jahe. Dengan
demikian Indonesia bisa menjadi salah satu negara penyuplai jahe terbesar di dunia
(Kurnianti, 2013).
Dalam menetukan tekanan uap total pada sebuah diagram tekanan uap suatu
campuran cairan, dapat melakukan pemisalan dengan memiliki campuran yang ideal dari
dua cairan A dan B. Masing-masing A dan B membuat kontribusi sendiri untuk tekanan
uap keseluruhan campuran. Fokuskan pada salah satu cairan, misalnya cairan A.
Misalkan fraksi mol A dalam campuran (menjaga suhu konstan) diperbesar menjadi dua
kali lipat. Menurut Hukum Raoult, hal tersebut akan menggandakan tekanan uap parsial.
Jika fraksi mol diperbesar tiga kali lipat, tekanan uap parsial akan menjadi tiga kali lipat,
dan seterusnya. Dengan kata lain, tekanan uap parsial A pada suhu tertentu sebanding
dengan fraksi mol-nya. Jika digambar grafik dari tekanan uap parsial A melawan fraksi
mol, akan didapatkan garis lurus (Clark, 2005).



II-13

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS


Gambar II.2 Tekanan Uap Cairan A Dalam Diagram

Selanjutnya, melakukan hal yang sama pada cairan B (kecuali bahwa kita akan
menggambar alur pada seperangkat sumbu yang sama). Fraksi mol B jatuh sebagai A
meningkat sehingga garis akan lereng turun daripada naik. Sebagai fraksi mol B jatuh,
tekanan uap akan jatuh pada tingkat yang sama (Clark, 2005).

Gambar II.3 Tekanan Uap Cairan B Dalam Diagram

Dalam diagram diatas menyatakan bahwa tekanan uap murni B lebih tinggi
daripada A murni. Itu berarti bahwa molekul harus melepaskan diri lebih mudah dari
permukaan B daripada A. B adalah cairan lebih mudah menguap. Untuk mendapatkan
tekanan total uap campuran, diperlukan menambah nilai untuk A dan B bersama-sama di
setiap komposisi. Efek bersih dari hal tersebut adalah untuk memberikan garis lurus
seperti yang ditunjukkan dalam diagram berikutnya (Clark, 2005).


II-14

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS


Gambar II.4 Tekanan Uap Total Dari Cairan A dan B
(Clark, 2005)

Keadaan kesetimbangan kimia adalah suatu keadaaan dimana konsentrasi seluruh
zat tidak lagi mengalami perubahan, sebab zat-zat diruas kanan terbentuk dan terurai
kembali dengan kecepatan yang sama. Keadaan kesetimbangan ini bersifat dinamis,
artinya reaksi terus berlangsung dalam dua arah dengan kecepatan yang sama. Pada
keadaan kesetimbangan tidak mengalami perubahan secara mikrokopis (perubahan yang
dapat diamati atau diukur). Kesetimbangan kimia dibedakan atas kesetimbangan
homogen dan kesetimbangan heterogen. Pada kesetimbangan homogen semua zat yang
ada dalam sistem kesetimbangan memiliki fase yang sama ada dalam bentuk gas atau
larutan. Sedangkan kesetimbangan heterogen semua zat-zat yang ada dalam sistem
kesetimbangan memiliki fase yang berbeda dalam bentuk padat-gas atau padat-larutan
(Wiguna, 2013).
Pada saat terjadi kesetimbangan, ada beberapa kemungkinan perubahan
konsentrasi pada pereaksi dan hasil reaksi.

P + Q R + S
Keterangan :
Belakang panah : Reaktan (yang bereaksi)
Depan panah : Produk (hasil reaksi)
(Oktavia, 2013)




II-15

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

Beberapa kemungkinan yang terjadi pada kesetimbangan seperti di atas, dapat
dipelajari pada gambar berikut ini.

Gambar II.5 Grafik Kemungkinan Keadaan Pereaksi dan Hasil Reaksi pada saat Tercapai
Keadaan Setimbang
(Oktavia, 2013)
Pada gambar diatas, diketahui tiga kemungkinan yang terjadi pada pereaksi dan
hasil reaksi saat tercapai keadaan setimbang, yaitu:
1. Konsentrasi hasil reaksi lebih besar daripada konsentrasi pereaksi (Gambar a)
2. Konsentrasi hasil reaksi lebih kecil daripada konsentrasi pereaksi (Gambar b)
3. Konsentrasi hasil reaksi sama dengan konsentrasi pereaksi (Gambar c)
Dari Gambar diatas juga terlihat bahwa pada saat setimbang, jumlah pereaksi dan
hasil reaksi adalah konstan, sehingga perbandingannya juga konstan (Oktavia, 2013).
Kesetimbangan yang terjadi seperti penjelasan di atas, dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan adalah sebagai berikut.
1. Pengaruh konsentrasi
Jika konsentrasinya diperbesar pada salah satu zat maka reaksi bergeser dari arah zat
tersebut, sedangkan bila konsentrasinya diperkecil maka reaksi akan bergeser ke arah
zat tersebut. Lebih tepatnya apabila dalam suatu sistem kesetimbangan ditambahkan
lebih banyak reaktan atau produk, reaksi akan bergeser ke sisi lain untuk


II-16

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

menghabiskannya. Sebaliknya, jika sebagian reaktan atau produk diambil, reaksi akan
bergeser ke sisinya untuk menggantikannya.
2. Pengaruh tekanan
Perubahan tekanan hanya berpengaruh pada sistem gas, berdasarkan hukum boyle
bila tekanan gas diperbesar maka volumenya diperkecil, sedangkan bila tekanan gas
diperkecil maka volume gas diperbesar, berdasarkan persamaan gas ideal PV = nRT
bahwa tekanan berbanding lurus dengan jumlah mol gas. Jika mol gas bertambah
maka tekanan akan membesar, sebaliknya bila jumlah mol gas berkurang maka
tekanan akan menjadi kecil. Dengan demikian jika tekanan diperbesar maka reaksi
akan bergeser ke arah jumlah mol gas yang lebih kecil dan juga sebaliknya. Secara
umum, meningkatkan tekanan (mengurangi volume ruangan) pada campuran yang
setimbang menyebabkan reaksinya bergeser ke sisi yang mengandung jumlah
molekul gas yang paling sedikit. Sebaliknya, menurunkan tekanan (memperbesar
volume ruangan) pada campuran yang setimbang menyebabkan reaksinya bergeser ke
sisi yang mengandung jumlah molekul gas yang paling banyak. Sementara untuk
reaksi yang tidak mengalami perubahan jumlah molekul gas (mol reaktan = mol
produk), faktor tekanan dan volume tidak mempengaruhi kesetimbangan kimia.
3. Pengaruh Suhu
Jika suhu dinaikkan maka reaksi akan bergeser ke arah reaksi endoterm, sedangkan
jika suhu diturunkan maka reaksi akan bergeser ke arah eksoterm. Contoh : N
2
(g) +
3H
2
(g) 2NH
3
(g) H= - 92 kJ, bila suhu diubah dari 500 menjadi 1200 maka
kesetimbangan ke arah endoterm atau ke kiri. Secara umum, memanaskan suatu
reaksi menyebabkan reaksi tersebut bergeser ke sisi endotermis. Sebaliknya,
mendinginkan campuran reaksi menyebabkan kesetimbangan bergeser ke
sisi eksotermis.
4. Katalis
Katalis hanya berfungsi untuk mempercepat tercapainya kesetimbangan kimia.
Katalis meningkatkan laju reaksi dengan mengubah mekanisme reaksi agar melewati
mekanisme dengan energi aktivasi terendah. Katalis tidak dapat menggeser
kesetimbangan kimia. Penambahan katalis hanya mempercepat tercapainya keadaan
setimbang (Wiguna, 2013).




II-17

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

Diagram Titik Didih Destilasi pada Larutan Biner
Pada destilasi terdapat perbedaan titik didih pada larutan yang membuat
perbedaan pada hasil yang dicapai ketika fasa cair dan gas (uap). Perbedaan ini secara
umum diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :
1. Sistem Tipe I

Gambar II.6 Sistem Pada Tipe I
(Maron & Lando, 1965)

Jika kita memanaskan larutan dengan komposisi a, dan tidak mendidih sampai suhu
T
a
tercapai. Pada suhu ini uap yang datang dari dari a akan memiliki komposisi a'.
Karena a' lebih banyak daripada B, sedangkan komposisi residu harus menjadi
banyak dalam A. Komposisi baru residu, b, tidak bisa memanaskan namun hingga
sampai suhu T
b
tercapai, yang lebih tinggi dari T
a
. Pada gilirannya uap datang dari
dari B akan memiliki komposisi b', dan sekali lagi harus lebih banyak pada B.
Akibatnya komposisi residu akan diperkaya dalam A, dan suhu harus naik sebelum
residu akan mendidih (Maron & Lando, 1965).








II-18

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

2. Sistem Tipe II

Gambar II.7 Sistem pada Tipe II
(Maron & Lando, 1965)

Jika larutan memiliki komposisi antara A dan C, seperti pada proses destilasi, suhu
uap yang ada pada saat mendidih akan lebih tinggi daripada larutan murni a. Jika
destilasi dilanjutkan, terdapat pendapat yang sama seperti yang digunakan untuk
larutan pada tipe I yang menunjukkan bahwa a pada akhirnya residu murni dari A,
yang mendidih pada suhu T
a
. Di sisi lain, jika uap dari larutan murni, a',
dikondensasikan dan diredestilasi berulang kali, uap dengan komposisi C akhirnya
akan diperoleh. Uap tersebut terkondensasi dan ketika didestilasi lagi akan
menghasilkan komposisi uap sebagai larutan dan karenanya tidak ada pemisahan
lebih lanjut yang mungkin menggunakan destilasi. Akibatnya, setiap campuran yang
memiliki komposisi antara A dan C dapat dipisahkan dengan destilasi fraksional
hanya menjadi residu murni A dan destilat akhir komposisi C yang tidak murni dapat
dikembalikan. Di sisi lain, jika komposisi larutan antara C dan B adalah didestilasi,
misalnya b, uap yang datang, b ', akan lebih banyak di A daripada di larutan murni
dan karenanya pada destilasi berulang residu akan cenderung ke arah larutan murni B,
sedangkan destilat akan cenderung ke arah C. Larutan tersebut pada destilasi
kompleks akan menghasilkan larutan murni B di residu dan mendidih konstan pada
campuran C dalam destilat. Dengan tidak ada A yang dapat dikembalikan dengan
destilasi (Maron & Lando, 1965).


II-19

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

3. Sistem Tipe III

Gambar II.8 Sistem pada Tipe III
(Maron & Lando, 1965)

Akan dianalogiskan dengan solusi dari tipe II , dengan pengecualian bahwa residu
cenderung ke arah campuran yang mendidih maksimum , sedangkan sulingan
cenderung ke arah komponen yang murni. Jika campuran mulai memiliki komposisi
antara A dan D , seperti a, uap yang diperoleh pada distilasi, a', akan lebih banyak di
A daripada larutan itu sendiri. Oleh karena itu komposisi residu akan bergeser ke arah
D dan akhirnya akan mencapai itu . Di sisi lain, akhirnya akan menghasilkan pada
destilat A yang murni. Campuran antara D dan B. seperti b , namun akan
menghasilkan pada destilasi uap komposisi b ' lebih banyak di B daripada di larutan.
Oleh karena itu, sekali lagi lagi residu akan bergeser ke arah D , sementara pada
redistillation dari campuran sebagai b akhirnya akan menghasilkan residu komposisi
D dan distilat murni B. Oleh karena itu , bahwa setiap sistem biner jenis ini dapat
dipisahkan pada distilasi fraksional lengkap menjadi residu komposisi D , konstanta
campuran mendidih maksimum , dan destilat baik murni A atau B murni , tergantung
pada apakah komposisi awal adalah antara A dan D atau D dan B. tetapi campuran
komposisi D tidak dapat dipisahkan lebih lanjut dengan distilasi (Maron & Lando,
1965).
III-1


BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Variabel Percobaan
1. Variabel kontrol : Tekanan udara, suhu, dan waktu pada proses destilasi
2. Variabel terikat : Kadar minyak dan densitas
3. Variabel bebas : Potongan rimpang jahe kering

III.2 Bahan yang Digunakan
1. Potongan rimpang jahe kering sebanyak 250 gram
2. Air

III.3 Alat yang Digunakan
1. Erlenmeyer
2. Gelas Ukur
3. Labu destilat
4. Serangkaian destilasi uap :
a. Boiler
b. Kompor
c. Kondensor
d. Kaki tiga
5. Piknometer
6. Pipet tetes
7. Stopwacth
8. Thermometer

III.4 Prosedur percobaan
III.4.1 Proses Destilasi Uap
1. Menyiapkan semua peralatan dan bahan.
2. Memastikan perangkat destilasi uap terpasang dengan baik.
3. Menyiapkan sampel yang berupa potongan rimpang jahe kering sebanyak
250 gram dan memasukkannya ke dalam labu destilat.
4. Mengisi boiler dengan air secukupnya.


III-2

Bab III Metodologi Percobaan


Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

5. Memanaskan boiler dan menyalakan air pada kondensor.
6. Menutup valve yang ada pada boiler saat uap pada panci sudah mengepul.
7. Menyalakan stopwatch sebagai awal mula perhitungan waktu destilasi uap.
8. Mengukur suhu dan tekanan yang ada pada labu destilat.
9. Mencatat waktu, tekanan, dan suhu saat destilat pertama kali menetes.
10. Mengamati volume hasil destilasi yang ada pada labu erlenmeyer, sebelum penuh
harus diganti dengan labu erlenmeyer yang lain hingga mencapai waktu 120
menit.
11. Mengambil minyak jahe dengan cara menyedot hasil destilasi dengan pipet tetes.
12. Mencatat semua data yang diperlukan dalam analisa, seperti persen minyak yang
dihasilkan dalam proses destilasi.
13. Melakukan perhitungan massa jenis minyak jahe.

III.4.2 Menghitung Densitas Minyak Jahe
1. Menimbang piknometer yang akan diisi minyak jahe pada keadaan kosong
terlebih dahulu.
2. Memasukkan minyak jahe ke dalam piknometer dan menimbang piknometer yang
berisi minyak jahe.
3. Menghitung berat (massa) minyak jahe dengan mencari selisih antara berat
piknometer yang telah terisi dengan berat piknometer yang kosong.
4. Selanjutnya, setelah diketahui massanya, bisa diketahui densitasnya menggunakan
cara berikut ini :


Keterangan:
: massa jenis atau densitas (gram/ml)
m : massa (gram)
V : Volume (ml)







III-3

Bab III Metodologi Percobaan


Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

III.5 Diagram Alir Percobaan
III.5.1 Percobaan Destilasi Uap






























Menyiapkan semua peralatan dan bahan.
Memastikan perangkat destilasi uap terpasang dengan baik.
Menyiapkan sampel yang berupa potongan rimpang jahe kering sebanyak
250 gram dan memasukkannya ke dalam labu destilat.

Memanaskan boiler dan menyalakan air pada kondensor
Menutup valve yang ada pada boiler saat uap pada panci sudah mengepul
Menyalakan stopwatch sebagai awal mula perhitungan waktu destilasi uap
Mengamati volume hasil destilasi yang ada pada labu erlenmeyer, sebelum penuh harus
diganti dengan labu erlenmeyer yang lain hingga mencapai waktu 120 menit.
Mengukur suhu dan tekanan yang ada pada labu destilat
Mulai
Mengisi boiler dengan air secukupnya.
Mencatat tekanan dan suhu saat destilat pertama kali menetes
A


III-4

Bab III Metodologi Percobaan


Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS














III.5.2 Perhitungan Densitas Minyak Jahe



















Mulai
Menimbang piknometer yang akan diisi minyak jahe pada keadaan kosong
terlebih dahulu.

Memasukkan minyak jahe ke dalam piknometer dan menimbang piknometer yang berisi
minyak jahe.
Menghitung berat minyak jahe dengan mencari selisih antara berat piknometer yang telah
terisi dengan berat piknometer yang kosong
Setelah diketahui massanya, bisa diketahui densitasnya menggunakan rumus yang telah
ditetapkan
Selesai
Mengambil minyak jahe dengan cara menyedot hasil desilasi dengan pipet tetes
A
A
Mencatat semua data yang diperlukan dalam analisa, seperti persen minyak yang
dihasilkan dalam proses destilasi.
Melakukan perhitungan massa jenis minyak jahe
Selesai


III-5

Bab III Metodologi Percobaan


Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

III.6 Gambar Alat Percobaan



Erlenmenyer



Gelas Ukur




Labu Destilat


Piknometer







Pipet Tetes


Stopwatch


Serangkaian alat destilasi uap

Erlenmeyer
Kondensor
Labu destilat
Thermometer
Boiler
Kompor
Kaki tiga
Manometer

IV-1


BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Percobaan
Tabel IV.1.1 Hasil Pengamatan Destilat pada Tetes Pertama
Tekanan uap
(mbar)
Waktu
(menit)
Suhu
(C)
400 2 95

Tabel IV.1.2 Hasil Percobaan Destilasi Uap pada Rimpang Jahe Kering 250 gram
Waktu
(menit)
Tekanan uap
total
(mbar)
Suhu
(C)
Hasil
destilat
(ml)
Volume
piknometer/
volume
minyak
(ml)
Massa
minyak
(gram)
Densitas
(gram/ml)
120 560 97 81 5 4,5 0,9

IV.2 Pembahasan
Percobaan destilasi uap minyak jahe bertujuan untuk mempelajari dan
mengetahui pengaruh uap terhadap titik didih minyak rimpang jahe dengan
menggunakan destilasi uap. Selain itu, juga untuk mengetahui jumlah densitas dari
minyak rimpang jahe pada proses destilasi uap.
Dalam percobaan ini, kami mendapatkan destilat sebanyak 81 ml dari 250 gram
rimpang jahe kering. Namun, destilat yang kami dapatkan bukan berasal dari hasil
destilasi yang keluar melewati kondensor. Kami mendapatkan destilat tersebut melalui
proses pemerasan rimpang jahe yang terdapat pada labu destilat. Hal tersebut kami
lakukan karena destilat yang keluar melalui kondensor dan tertampung dalam labu
erlenmeyer hanya berupa air dari hasil pemanasan. Fungsi alat yang sudah menurun
menyebabkan proses destilasi berjalan tidak sempurna. Ada kebocoran pada perangkat
destilasi uap ini, uap pada proses destilasi yang berubah menjadi air keluar melalui celah
tepat dibawah manometer. Minyak jahe pun tertinggal di dalam labu destilat dan tidak
dapat naik menuju proses berikutnya. Penyebab lain terjadinya kegagalan pada proses
destilasi uap ini adalah titik didih pada alat destilasi uap yang kami gunakan suhu


IV-2

BAB IV Hasil dan Pembahasan

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

maksimalnya adalah 100C, sedangkan titik didih dari jahe untuk mendapatkan minyak
atsirinya melebihi 100C.
Prinsip dasar dari destilasi adalah perbedaan titik didih dari zat-zat cair dalam
campuran zat cair tersebut sehingga zat (senyawa) yang memiliki titik didih terendah
akan menguap lebih dulu, kemudian apabila didinginkan akan mengembun dan menetes
sebagai zat murni (destilat) (Sinaga, 2010). Pemisahan senyawa dengan destilasi juga
bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam campuran. Tekanan uap
campuran diukur sebagai kecenderungan molekul dalam permukaan cairan untuk
berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan
uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih.
Suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik
didih. Cairan yang mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan
mempunyai titik didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada
suhu kamar. Apabila tekanan dalam vakum tidak cukup kuat, maka senyawa yang akan
didestilasi tidak akan terangkat naik bersama uap air. Tekanan yang ada dalam vakum
hanya mampu untuk mengangkat air menuju tabung pendingin dan meninggal zat atau
senyawa yang akan didestilasi (Nurhidayati, 2011).
Pada percobaan destilasi uap minyak jahe ini didapatkan nilai densitas dari
minyak jahe sebesar 0,9 gram/ml. Dari hasil yang diperoleh ini memiliki
ketidakcocokan dengan literatur yang ada dimana nilai densitas dari minyak jahe
seharusnya berada pada kisaran angka 0,871-0,882 gram/ml (Lentera, 2002).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada percobaan destilasi uap minyak jahe ini
terjadi kegagalan diakibatkan beberapa faktor diantaranya bahan utama yaitu jahe tidak
dapat diproses menggunakan destilasi uap, alat destilas uap yang ada kurang memadai,
temperatur yang seharusnya dicapai tidak dapat tercapai, dan pengaruh tekanan vakum
dalam labu destilat yang tidak dapat menguapkan minyak jahe. Sehingga, hasil yang
didapatkan berupa destilat sebanyak 81 ml dengan nilai densitas sebesar 0,9 gram/ml
masih memiliki kandungan air yang cukup banyak.




V-1


BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan distilasi uap tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1. Destilasi uap dengan rimpang jahe kering menghasilkan destilat sebanyak 81 ml pada
tekanan 560 mbar dan temperatur 97
o
C dengan variabel waktu selama 120 menit.
2. Pada percobaan destilasi uap minyak jahe didapatkan densitas dari minyak jahe
sebesar 0,9 gram/ml.
3. Destilasi uap dengan rimpang jahe kering tidak dapat menghasilkan minyak secara
maksimal dikarenakan terhalang oleh kendala teknis serta titik didih jahe yang
mencapai lebih dari 100
0
C tidak sesuai dengan alat destilasi yang suhu maksimumnya
hanya mencapai 100
0
C sehingga minyak yang dihasilkan bercampur dengan air dan
uap minyak yang berada dalam labu destilat tidak dapat terangkat menuju kondensor
yang mengharuskan kami melakukan pemerasan terhadap rimpang jahe dalam labu
destilat untuk mendapatkan 81 ml destilat minyak jahe.
4. Percobaan destilasi uap minyak jahe ini terjadi kegagalan diakibatkan beberapa faktor
diantaranya bahan utama yaitu jahe tidak dapat diproses menggunakan destilasi uap,
alat destilas uap yang ada kurang memadai, temperatur yang seharusnya dicapai tidak
dapat tercapai, serta pengaruh tekanan vakum dalam labu destilat yang tidak dapat
menguapkan minyak jahe.


v
DAFTAR PUSTAKA
Addien. 2008. KIMIA INDUSTRI STEMBAYO: DISTILASI part 1. Diakses di (http://oteka-
stembayo.blogspot.com/2008/12/distilasi-part-1.html) pada tanggal 03 November 2013.
Clark, Jim. 2005. Raoult's Law and Ideal Mixtures of Liquids. Diakses di
(http://www.chemguide.co.uk/physical/phaseeqia/idealpd.html) pada tanggal 04
November 2013.
Education. 2011. EDUCATION: CONTOH LAPORAN DESTILASI (LAB KIMIA DASAR)
Free Download Ebook Natural Social Science Marine Medical">EDUCATION:
CONTOH LAPORAN DESTILASI (LAB KIMIA DASAR) Free Download Ebook Natural
Social Science Marine Medical. Diakses di
(http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/05/contoh-laporan-destilasi-lab-kimia.html)
pada tanggal 08 November 2013.
Kurnianti, Novik. 2013. Mengenal Tanaman Jahe. Diakses di
(http://www.tanijogonegoro.com/2013/04/mengenal-tanaman-jahe.html) pada tanggal
27 Oktober 2013.
Lentera, Tim. 2002. Khasiat dan Manfaat Jahe Merah Si Rimpang Ajaib. Agromedia Pustaka
: Jakarta.
Maron, Samuel H. dan Lando, Jerome B. 1965. Fundamentals Of Physical Chemistry.
Macmillan Publishing Co., Inc. : New York.
Nurhidayati. 2011. Nurhidayati. Diakses di (http://dayzsmileasrainbow.blogspot.com/) pada
tanggal 20 November 2013.
Oktavia, Rini. 2013. Kesetimbangan Dinamis | rini oktavia. Diakses di
(http://rinioktavia19942.wordpress.com/kimia-kelas-xi/semester-i/kesetimbangan-
kimia/kesetimbangan-dinamis/) pada tanggal 08 November 2013.
Redian, Bobby. 2013. Destilasi dan Rektifikasi.doc. Diakses di
(http://www.scribd.com/doc/179476384/DESTILASI-DAN-REKTIFIKASI-doc) pada
tanggal 03 November 2013.
Rolandy19. 2011. Macam-macam Distilasi. Diakses di
(http://rolandy19.blogspot.com/2011/02/macam-macam-desilasi_10.html) pada tanggal
28 Oktober 2013.
Sinaga, Ghani. 2010. Ghani's Chemistry Blog: Destilasi Uap. Diakses di
(http://lifechemicals.blogspot.com/2010/12/destilasi-uap.html) pada tanggal 03
November 2013.
v
Wiguna, Prayoga. 2013. Makalah Kesetimbangan Kimia | Dunia Chayoy. Diakses di
(http://chayoy.blogspot.com/2011/04/makalah-kesetimbangan-kimia.html) pada tanggal
08 November 2013.
Wikipedia. 2013. Distilasi. Diakses di (http://www.id.wikipedia.org/wiki/Distilasi) pada
tanggal 28 Oktober 2013.
vi
DAFTAR NOTASI

Simbol Keterangan Satuan
V Volume Liter
P Tekanan uap total Atm
T Suhu konstan C
Massa jenis Gram/cm
3
W
A
Berat air Gram
W
B
Berat minyak Gram


vii
APPENDIKS
1. Menghitung massa jenis minyak pada jahe
Massa pikno = 11,5 gram
Massa total (pikno + minyak) = 16,0 gram
Massa minyak = massa total massa pikno
= 16,0 gram 11,5 gram
= 4,5 gram
Volume minyak = 5 ml
minyak =
m
V

=
4,5 gram
5 ml

= 0,9 gram/ml
2. Menghitung kadar minyak pada jahe
Kadar Minyak =
massa minyak x 100
massa potongan rimpang jahe kering

=
4,5 x 100
250

= 1,8 %