Anda di halaman 1dari 21

Asuhan Keperawatan : Sindrome Steven Jonson

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindroma steven jhonson merupakan gangguan kulit yang berpotensial fatal dan kebanyakan terjadi eritenma multiforme (Smeltzer, 2008, hlm.1972). Sindroma Steven Johnson terjadi 1 sampai 7 kasus per 1 juta penduduk dunia setiap tahun. Sindroma ini dapat terjadi pada setiap ras, bahkan juga dapat terjadi pada anjing, kucing, dan kera. Angka kematian Sindroma Steven Johnson, yaitu sekitar 15 % (Gustiawan, 2010, http://sabdaspace.com, diunduh tgl 20 Oktober 2011) Sindroma Steven Johnson jarang terjadi. Di indonesia kejadian Sindroma Steven Johnson adalah kasus yang langka dan hanya 1 dari 2000 orang yang menkonsumsi antibiotik penissilin yang terkena Sindroma Steven Johnson. Berdasarkan data yang didapat dari bagian medical record RSUD Dr Soedarso Pontianak, jumlah penderita Sindroma Steven Johnson dari bulan januari sampai april 2010 tidak ada, namun penderita yang mengalami penyakit kulit dari bulan Januari sampai April 2010 sebanyak 32 orang yang berjenis kelamin laki-laki 71,86 % dan perempuan 28,14 %. (Masdin, 2010, http://pajjakadoi.co.id, diunduh tgl 20 Oktober 2011). Dari masalah di atas, keterlibatan tim kesehatan lah yang bisa dianggap mampu memberikan solusi dari masalah tersebut dan untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan kerjasama antara tiap tim kesehatan. Perawat merupakan bagian dari tim kesehatan yang memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan intervensi kepada pasien, sehingga fungsi dan peran perawat dapat dimaksimalkan dalam memberikan asuhan keperwatan terhadap penderita seperti memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan kesehatan fisik, perawat juga dapat melakukan pendekatan spiritual, psikologis dan mengaplikasikan fungsi edukatornya dengan memberikan penyuluhan kesehatan terhadap penderita sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan penderita dan keluarga yang nantinya diharapkan dapat meminimalisir resiko maupun komplikasi yang mungkin muncul dari Syndrom Steven Johnsontersebut. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun mengharapkan seorang perawat dapat melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif berdasarkan teori yang telah diterima dan kebutuhan dari pemulihan kondisi pasien. Perawat sebagai salah satu pelaksana asuhan keperawatan yang akan memberikan pelayanan kesehatan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang akan muncul pada klien. B. Tujuan Penulisan Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk : 1. Memberi gambaran dan ilmu pengetahuan tentang konsep dasar penyakit steven johnson 2. Agar mahasiswa dapat menyusun asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit steven johnson dengan baik dan benar C. Metode Penulisan

Metode penulisan pada makalah ini dengan metode deskriptif dan melalui pengumpulan literatur dari berbagai sumber. Dalam penyampaian ini kami menggunakan metode presentasi supaya para audience dapat dengan mudah mencerna materi ini. D. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan pada makalah ini yaitu : Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan, metode penulisan dan sistematika Penulisan. Bab II : Tinjauan Teoritis terdiri dari Anatomi Fisiologi Sistem Imun (Definisi Sistem Imun, Mekanisme Pertahanan Sistem Imun, Stadium Respon Imun dan Faktor yang mempengaruhi Fungsi Respon Imun), Konsep Dasar Penyakit Steven Johnson (Pengertian, etiologi, tanda dan gejala, prognosis penyakit,patofisiologi, pemeriksaan penunjang, komplikasi dan penatalaksanaan), dan Asuhan Keperawatan Steven Johnson (Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Rencana Asuhan Keperawatan dan Evaluasi). BAB III: Penutup terdiri dari Kesimpulan dan Saran DAFTAR PUSTAKA BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Anatomi Sistem Imun Sistem Imun adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan sel yang teraberasi menjadi tumor. Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. B. Fisiologi Sistem imun 1. Mekanisme Pertahanan Sistem Imun Ketika tubuh diserang atau diinvasi oleh bakteri atau virus atai mikroorganisme patogen lainnya, maka ada 3 macam cara yang dilakukan tubuh untuk mempertahankan dirinya sendiri. Ketiga cara tersebut adalah sebagai berikut : a. Respon Imun Fagositik, meliputi sel-sel darah putih (granulosit dan makrofag) yang dapat memakan partikel-partikel asing. Sel-sel ini bergerak ketempat serangan dan kemudian menelan serta menghancurkan mikroorganisme penyerang tersebut.

b. Respon Humoral, yang kadang-kadang bekerja sebagai antibodi. Mulai bekerja dengan terbentuknya limfosit yang dapat mengubah dirinya menjadi sel-sel plasma yang menghasilkan antibodi. Antibodi ini merupakan protein yang sangat spesifik yang diangkut dalam aliran darah dan memilki kemampuan untuk melumpuhkan penyerangnya. c. Respon Imun Seluler, juga melibatkan limfosit disamping mengubah dirinya menjadi sel plasma, juga dapat mengubah sel menjadi sel-sel T sitotoksik khusus yang dapat menyerang mikroorganisme patogen itu sendiri. (Smeltzer,2002. Hlm. 1690). 2. Stadium Respon Imun Ada empat stadium yang batasnya jelas dalam suatu respon imun, keempat stadium ini adalah : stadium pengenalan, proliferasi, respon dan efektor. Yang akan disampaikan disini adalah tinjauan keempat stadium ini, yang diikuti dengan uraian tentang imunitas humoral, imunitas seluler, dan sistem komplemen (Smeltzer, 2002. Hlm: 1691-1694) a. Stadium Pengenalan Dasar setiap reaksi imun adalah pengenalan (recognition) yang merupakan tahap yang pertama dan paling penting. Tahap atau stadium ini merupakan kemempuan dari sistem imunitas untuk mengenali antigen sebagai unsur yang asing atau bukan bagian dari dirinya sendiri dan dengan demikian merupakan kejadian pendahulu dari sistem imun. Surveilans oleh Nodus Limfatikus dan Limfosit. Tubuh akan melaksanakan tugas pengenalan atau recognition dengan menggunakan nodus limfatikus dan limfosit sebagai pengawas (surveilans). Limfosit Bersirkulasi. Ada limfosit yang terdapat dalam nodus limfatikus sendiri dan ada pula limfosit yang beredar dalam darah. Jumlah limfosit dalam tubuh menambah massa sel dengan jumlah yang mengesankan. Sebagian limfosit yang beredar dapat bertahan hidup selama sepuluh tahun. Sebagian dari sel yang berukuran kecil dan bersifat keras ini akan mempertahankan sirkuit soliternya sepanjang hidup orang tersebut. b. Stadium Proliferasi Limfosit yang beredar dan mengandung pesan antigenik akan kembali ke nodus limfatikus terdekat. Begitu berada didalam nodus limfatikus, limfosit telah disensitisasi akan menstimulasi sebagian limfosit nonaktif (dormant) yang menghuni nodus tersebut untuk membesar, membelah diri, mengadakan proliferasi, dan berdiferensiasi menjadi limfosit T atau B. Pembesaran nodus limfatikus dalam leher yang menyertai sakit leher merupakan salah astu contoh dari respon imun. c. Stadium Respons Dalam stadium respons, imun yang sudah berubah akan berfungsi dengan cara humoral dan seluler. Respons Humoral Inisial. Produksi antibodi oleh limfosit B sebagai reaksi terhadap suatu antigen spesifik akan memulai respons humoral. Humoral mengacu kepada kenyataan bahwa antibodi dilepas kedalam aliran darah dan dengan demikian akan berdiam didalam plasma atau fraksi darah yang berupa cairan. Respons Seluler Inisial. Limfosit yang sudah disensitisasi dan kembali ke nodus limfatikus akan bermigrasi kedaerah nodus limfatikus (yang bukan daerah yang mengandung limfosit yang

sudah diprogram untuk menjadi sel-sel plasma) tempat sel-sel tersebut menstimulasi limfosit yang berada dalam nodus ini untuk menjadi sel-sel yang kan menyerang langsung mikroba dan bukan menyerangnya lewat kerja antibodi. d. Stadium Efektor Dalam stadium efektor, antibodi dari respons humoral atau sel T sitotoksik dari respons seluler akan menjangkau antigen dan terangkai dengan antigen tersebut pada permukaan objek yang asing. 3. Faktor yang mempengaruhi Fungsi Sistem Imun Seperti halnya sistem imun yang lain, sistem imun akan berfungsi pada taraf yang dikehendaki menurut fungsi sistem tubuh yang lain dan faktor-faktor yang ada hubungannya seperti usia, jenis kelamin, nutrisi, penyakit, serta berbagai pengaruh dari luar (Smeltzer, 2002. Hlm.1698-1700). a. Usia Orang yang berada pada kedua ujung rentang usia akan lebih besar kemungkinannya untuk menghadapi masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi sistem imun ketimbang orangorang yang berusia ditengah rentang tersebut. Penurunan fungsi berbagai sistem organ yang berkaitan dengan pertambahan usia juga turut menimbulkan gangguan imunitas. b. Jenis Kelamin Kemampuan hormon-hormon seks untuk memodulasi imunitas telah diketahui dengan baik. Ada bukti yang menunjukkan bahwa estrogen memodulasi aktivitas limfosit T (khususnya sel-sel supresor) sementara androgen berfungsi untuk mempertahankan produksi interleukin-2 (IL-2) dan aktivitas sel supresor. Estrogen cenderung menggalakkan imunitas (immunoenhancing) sedangkan androgen bersifat imunosupresif. c. Nutrisi Nutrisi yang adekuat sangat esensial untuk mencapai fungsi sistem imun yang optimal. Gangguan fungsi imun disebabkan oleh defesiensi protein kalori dapat terjadi akibat kekurangan vitamin yang diperlukan untuk sintesis DNA dan protein. Vitamin juga membantu dalam pengaturan proliferasi sel dan maturasi sel-sel imun. Faktor Psikoneuro-imunologik Bukti dari hasil observasi klinik dan berbagai penelitian pada manusia serta hewan menunjukkan bahwa respon imun secara parsial diatur dan dimodulasi oleh pengaruh neuroendokrin (Terr,1991). Dilain pihak, proses imun ternyata dapat mempengaruhi fungsi neural dan endokrin, termasuk prilaku. Jadai interaksi sistem saraf dan sistem imun tampaknya bersifat dua arah. Obat-obatan Obat-obatan tertentu dapat menyebabkan perubahan yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki pada fungsi sistem imun. Ada empat klasifikasi obat utama yang memilki potensi

d.

e.

untuk menyebabkan imunosupresi : antibiotik, kortikosteroid, obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) dan preparat sitotoksik. C. Konsep Dasar Penyakit Steven Johnson 1. Pengertian sindrom steven jhonson Sindroma Steven Johnson adalah penyakit kulit akut berat, terdiri dari erupsi kulit, kelainan mukosa dan lesi pada mata (Siregar, 2005,hlm.141). Sindroma Steven Johnson adalah gangguan kulit yang berpotensial fatal dan kebanyakan terjadi eritenma multiforme (Smeltzer, 2008, hlm.1972). Sindroma Steven Johnson (SSJ) adalah penyakit kulit yang berpotensi menyebabkan kematian dan sebagian besar disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap obat. Sindroma Steven Johnson juga bisa disebabkan infeksi (biasanya infeksi virus), penyakit keganasan, radiasi, dan idiopatik. (Gustiawan, 2010,http://sabdaspace.com, diunduh tgl 20 Oktober 2011) Kesimpulan dari pengertian diatas, bahwa Sindroma Steven Johnson merupakan gangguan kulit dengan tanda eritema, vesikel atau bula, kelainan mukosa dan lesi pada mata yang berakibat fatal bagi penderitanya. 2. Etiologi Etiologi yang pasti belum diketahui, salah satu penyebabnya adalah alergi obat secara sistemik, diantaranya penicillin dan semisintetiknya, streptomisin, sulfonamide, tetrasiklin dan antipiretik / analgetik. Selain itu dapat diakibatkan infeksi bakteri, virus, jamur, parasit, neoplasma, pasca vaksinasi, radiasi, dan makanan. (Hudak & Gallo, 2010. Hlm: 601) 3. Tanda dan gejala Sindroma Steven Johnson ini umunya terdapat pada anak dan dewasa, jarang dijumpai pada usia 3 tahun kebawah. Keadaan umumnya bervariasi dari baik sampai buruk sampai kesadarannya spoor dan koma. Berawal dari penyakit akut dapat disertai gejala prodromal berupa demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek dan nyeri tenggorokan. Trias Steven Johnson (Hudak & Gallo, 2010. Hlm: 601) adalah : a. Kelainan kulit berupa eritema, vesikel, dan bula yang kemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas. Purpura dapat terjadi dan prognosisnya menjadi lebih buruk. Pada keadaan berat kelainannya generalisata. b. Kelainan selaput lendir orifisium, yang tersering ialah mukosa mulut (100%), orifisium genitalia eksterna (50 %), lubang hidung (8%), dan anus (4%). c. Kelainan mata (80%) yang tersering konjungtivitis kataralis. Dapat terjadi konjungtivitis purulen, perdarahan, simblefaron, ulkus kornea, iritis dan iridosiklitis. Selain kelainan tersebut dapat terjadi kelainan lain, misalnya nefritis dan onikolisis. 4. Patofisiologi Menurut Ignatavicius, Workman (2008, hlm.1614), Syndrom Steven Johnson disebabkan karena adanya trauma dan kelainan neurologis yang akan mengakibatkan gangguan syaraf pernafasan dan otot pernafasan sehingga menyebabkan peningkatan permeabilitas membran alveolar kapiler. Karena gangguan tersebut dapat menyebabkan adanya dua macam gangguan

5.

6. a.

1) a) b) 2) a) b)

c) 3) a) b) c) d) 7.

yaitu yang pertama yaitu apithelium alveolar yang menyebabkan penumpukan cairan alveoli sehingga terjadi edema pulmo sehingga penurunan comlain paru, cairan surfaktan menurun dan mengakibatkan gangguan pengembangan paru sehingga terjadi ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang dengan penyakit hipoksemia dan hiperkpnia denga melakukan tindakan primer tetapi menyababkan dampak ventilasi mekanik seperti resiko infeksi dan resiko cedera. Sedangkan gangguan yang kedua adalah yaitu gangguan endothelium kapiler dengan cairan masuk keintestinal sehingga peningkatan tahanan nafas dan kehilangan fungsi silia saluran pernafasan dan bersihan jalan nafas tidak efektif. Komplikasi Menurut mansjoer, A (2000,hlm.137) komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan Sindrom Steven Johnson yaitu bronkopneumonia, sepsis, kehilangan cairan atau darah, gangguan keseimbangan atau elektrolit, syok, dan kebutaan karena gangguan lakrimasi. Penatalaksanaan Farmakologi Menurut Siregar (2005, hlm.141) menjelaskan penatalaksanaan klien dengan Sindrom Steven Johnson sebagai berikut : Umum : Mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan pemberian cairan intravena Jika penderita koma, lakukan tindakan darurat terhadap keseimbangan O2 dan CO2. Khusus sistemik Kortikosteroid dosis tinggi, Prednisone 80-200 mg (live saving) secara perenteral / per oral, kemudian turunkan perlahan-lahan Pada kasus berat diberi Deksametason IV, dosis 4x5 mg selama 3-10 hari. Jika keadaan umum membaik, penderita dapat menelan, maka obat diganti dengan Prednisone (dosis ekivalen). Pada kasus ringan diberikan Prednisone 4x5 mg-4x20 mg/ hari, dosis diturunkan secara bertahap jika telah terjadi penyembuhan Pengobatan lain : ACTH( (Sintetik) 1 mg, Obat Anabolic, KCL ( Kalium Klorida) 3x500 mg Antibiotic, Obat Hemostatik (Adona) dan Antihistamin. Topikal Vesikel dan bula yang belum pecah diberi bedak salisil 2% Kelainan yang basah dikompres dengan asam salisil 1% Kelainan mulut yang berat diberikan kompres asam borat 3% Konjungtivitis diberi salep mata yang mengandung antibiotic dan kortikosteroid. (Siregar, 1996; hal, 164) Prognosis penyakit Tes SCORTEN adalah tes untuk menskoring derajat keparahan Sindroma Steven Johnson. Perhitungan dilakukan dalam 24 jam untuk memprediksi kematian. Adanya penampakan dari tiap hal dibawah ini mendapat skor 1, dan jumlah dari poin-poin inilah yang dinamakan angka SCORTEN dengan maksimum skor 7. Penampakan yang diukur : umur lebih dari 40 tahun, adanya keganasan, nadi lebih dari 120 kali per menit, kadar glukosa lebih dari 252

mEq/L5, luas permukaan tubuh yang terkena lebih dari 10 % (Gustiawan, 2010,http://sabdaspace.com, akses tgl 20 Oktober 2010). Menurut Siregar, RS (2005, hlm.142) prognosis umumnya baik, dapat sembuh secara sempurna bergantung pada perawatan dan cepatnya mendapat terapi yang tepat. Jika terdapat purpura, prognosisnya lebih buruk, angka kematian lebih kurang 5-15 % karena purpura dapat menyebabkan pendarahan kecil didalam kulit, membran mukosa, atau permukaan serosa tetapi dapat menyebabkan terjadinya lesi bercorak anular atau serpiginosa dan biasanya terjadi setelah penyakit menular yang ditandai dengan gejala demam, anemia, dan pendarahan kulit simetris yang timbul mendadak serta cepat meluas pada ekstrimitas bawah, sring ditandai dengan ganggren dan trombosis intravaskuler yang luas.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM IMUN DAN HEMATOLOGI SINDROM STEVEN JHONSON Asuhan keperawatan klien dengan Sindroma Steven Johnson secara teoritis : A. Pengkajian Menurut Smeltzer (2008, hlm. 1975) pengkajian pasien dengan Sindrom Steven Johnson diantaranya melakukan pangkajian fisik dengan penekanan khusus pada manifestasi kulit terhadap :

1. Adanya eritema, area kemerahan yang disebabkan oleh peningkatan jumlah darah yang teroksigenasi pada vaskularisasi dermal 2. Adanya area yang melepuh dan perkembangannya ditubuh 3. Pengeluaran cairan pada bulla (lepuhan) baik jumlah, warna dan bau 4. Pada area mulut adakah terdapatnya bula atau lepuhan dan lesi arosive serta adanya rasa gatal, rasa terbakar dan kekeringan dimata. 5. Kemampuan klien dalam menelan dan minum serta berbicara secara nornal juga ditentukan 6. TTV dan perhatian khusus terhadap adanya demam, pernafasan yang cepat, dalam, ritme, dan batuk 7. Karakteristik dan banyaknya sekret dalam rongga pernafasan diobservasi 8. Pengkajian terhadap adanya demam tinggi, dan adanya takikardi dan kelemahan yang berlebihan serta fatigue sering muncul mengingat faktor-faktor tersebut merupakan proses nikrosis epidermal, peningkatan metabolisme, dan kemungkinan adanya pengelupasan mukosa pada gastrointestinal dan pernafasan. 9. Adanya pemasukan intra vena dilihat adanya tanda-tanda lokal infeksi 10. Berat badan tiap hari 11. Pasien ditanya gambaran fatigue, dan tingkat nyeri 12. Melakukan evaluasi terhadap adanya kecemasan serta koping mekanisme yang digunakan serta strategi koping dapat dikenali. B. Diagnosa keperawatan Menurut Smeltzer (2008, hlm. 1975) diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan pada pasien dengan Sindrom Steven Johnson meliputi : a. Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan inflamasi dermal dan epidermal b. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan menelan c. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada kulit d. Gangguan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik e. Gangguan persepsi sensori: kurang penglihatan berhubungan dengan konjungtivitis

C. Menurut Smeltzer (2008, hlm. 1975) , adapun rencana asuhan yang dapat disusun berdasarkan diagnosa dengan pasien sindrom steven johson diatas sebagai berikut : Rencana Asuhan Keperawatan No 1. Dx. Keperawatan Tujuannya Gangguan integritas Setelah dilakukan kulit b.d. inflamasi perawatan kulit selama dermal dan epidermal 3x24 jam dengan kriteria hasil : Ds: -Do : Menunjukkan kulit Jaringan kulit yang utuh Gangguan nutrisi kurang Setelah dilakukan dari kebutuhan tubuh pemenuhan nutrisi selama b.d. kesulitan menelan 3x24 jam dengan kriteria hasil : Ds : - Do : Menunjukkan berat badan stabil Peningkatan berat badan

2.

3.

4.

Gangguan rasa nyaman, Setelah dilakukan nyeri b.d. inflamasi pada perawatan pemenuhan rasa kulit. nyaman selama 3x24 jam dengan kriteria hasil : Ds : Klien melaporkan nyeri berkurang Do : Menunjukkan ekspresi wajah rileks Postur tubuh rileks Gangguan intoleransi Setelah dilakukan latihan Kaji respon individu terhadap aktivitas aktivitas b.d. kelemahan aktivitas selama 3x24 jam Bantu klien dalam memenuhi aktivitas fisik dengan kriteria hasil : sehari-hari dengan tingkat keterbatasan Ds : yang dimiliki klien Klien Jelaskan pentingnya pembatasan energy

Intervensi Observasi kulit setiap hari catat turgor Me sirkulasi dan sensori serta perubahan dapa lainnya yang terjadi. tepa Gunakan pakaian tipis dan alat tenun Me yang lembut. mem pros Jaga kebersihan alat tenun. Un Kolaborasi dengan tim medis. Unt Kaji kebiasaan makanan yang Mem disukai/tidak disukai. men mem Mem Men Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering. Kal Hidangkan makanan dalam keadaan peni hangat. bera Kerjasama dengan ahli gizi. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi dan Nye intensitasnya. kete Berikan tindakan kenyamanan dasar ex: Men pijatan pada area yang sakit. kele Pantau TTV. Met Berikan analgetik sesuai indikasi. mem Men

Ras dala Ras

Ras

5.

Gangguan sensori: penglihatan konjungtifitis

melaporkanpeningkatan toleransi aktivitas Do : -persepsi Setelah dilakukan kurang perawatan persepsi b.d sensori selama 3x24 jam dengan kriteria hasil : Ds : Menyadari hilangnya penglihatan secara permanen Do : Kooperatif dalam tindakan

Libatkan keluarga dalam pemenuhan aktivitas klien

Kaji dan catat ketajaman pengelihatan Kaji deskripsi fungsional apa yang dapat dilihat/tidak. Sesuaikan lingkungan dengan kemampuan pengelihatan Kaji jumlah dan tipe rangsangan yang dapat diterima klien.

meta Ras kelu Ras Ras pera Ras kete Ras kem

D. Pelaksanaan Keperwatan ( implementasi ) Pelaksanaan keperawatan adalah tindakan keperwatan secara nyata berupa serangkaian kegiatan yang sistematis berdasarkan perencanaan untuk mencapai hasil yang optimal. Apabila tindakan keperawatan dilakukan bersama dengan pasien dan atau keluarga hendaknya penjelasan diberikan terlebih dahulu mencakup tindakan yang akan dilakukan dan bantuan yang diharapkan dari pasien atau keluarganya. Juga apabila tindakan keperawatan dilakukan oleh beberapa orang tenaga perawat hendaknya tindakan yang akan dilakukan didiskusikan terlebih dahulu. Adapun pelaksanaan yang dilakukan pada pasien yang sindrom steven jhonson adalah disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah dibuat berdasarkan prioritas yag timbul. E. Evaluasi Keperawatan Evaluasi atau penilaian pada dasarnya adalah merujuk kepada suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk mengambil keputusan dalam rangka memberi nilai terhadap suatu (orang, benda, fakta). Dalam konteks keperawatan evaluasi adalah penilaian fase proses keperawatan, mempertimbangkan efektifitas tindakan keperawatan dan menunjukan perkembangan pasien terhadap pencapaian tujuan. Dari masalah yang timbul pada pasien dengan sindrom steven jhonson, maka hasil yang diharapkan pasien akan : 1. Menunjukkan keadaan kulit normal 2. Menunjukkan berat badan stabil 3. Menunjukka keadaan nyeri berkurang 4. Menunjukkan toleransi aktivitas.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Sistem imunitas atau Pertahanan dalam tubuh manusia yang berfungsi melindungi tubuh manusia dari masuknya infeksi baik itu virus, bakteri, protozoa maupun penyakit. Apabila pertahanan tubuh manusia tidak dapat mengenali antigen yang masuk kedalam tubuh maka akan meyebabkan penyakit sistem imun dan hematologi seperti salah satunya Syndrom Steven Johnson atau yang biasanya disebut dengan penyakit kulit yang sangat parah atau akut berat. Penyakit ini disebabkan oleh adanya reaksi hipersensitivitas terhadap obat, infeksi virus, bakteri, radiasi, makanan dan sebagainya. Apabila mengalami penyakit ini maka akan mengalami tanda dan gejala seperti adanya eritema, vesikel, bula, selaput lendir orifisium, dan kelainan pada mata. Sedangkan penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah dengan tiga (3) cara yaitu dengan penatalaksanaan umum, khusus sistemik dan topikal.

Adapun asuhan keperawatan yang akan dilakukan mencakup pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana asuhan keperawatan dan evaluasi. Pengkajian yang dapat kita lakukan adalah mencakup inspeksi kulit, inspeksi mulut, kemampuan menelan, TTV, sistem pernafasan, nutrisi / berat badan, dan tingkat nyeri. Berdasarkan pengkajian diatas maka dapat diangkat empat (4) diagnosa sekaligus menyusun rencana asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa ini yaitu gangguan integritas kulit yang b.d dengan inflamasi dermal dan epidermal, gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kesulitan menelan, gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi pada kulit, gangguan intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik, dan gangguan persepsi sensori; kurang penglihatan b.d konjungtivitis. B. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penyusun mengambil saran dalam rangak meningkatkan pelayanan asuhan keperawatan. Adapun saran-saran adalah sebagai berikut : 1. Pasien Apabila sudah mengetahui dan memahami gejala dari penyakit steven johnson hendaknya segera membawa pasien kerumah sakit agar dapat dilakukan tindakan keperawatan. 2. Perawat Bagi seorang perawat sebaiknya harus memahami dan mengerti baik secara teoritis maupun praktek tentang penyakit steven johnson agar dapat melakukan tindakan keperawatan. 3. Rumah Sakit Bagi rumah sakit hendaknya melengkapi fasilitas rumah sakit sehingga pada penderita steven johnson mendapatkan ruangan dan fasilitas medis yang seharusnya ada sehingga dapat melakukan tindakan keperawatan untuk mengurangi dari gejala dan komplikasi penyakit steven johnson.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall.(1998). Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa Monica Ester. Jakarta : EGC Doenges. (2001). Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC.

Ignatavicius, Workman.(2006). Medical Surgical Nursing, critical thinking in client care, fourth edition, volume 2, Upper Saddle River, By Prentice Hall. Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC Smeltzer, Suzanne C.(2008). Textbook of Medical Surgical Nursing, Philadelphia : By. Lippicott-Raven Publishers Smeltzer, Suzanne C.(2001). Keperawatan Medical Bedah Brunner & Suddart Edisi 8 Volume 2, alih bahasa Agung Waluyo. Jakarta : EGC Smeltzer, Suzanne C. (2002). Keperawatan Medical Bedah Brunner & Suddart Edisi 8 volume 3, alih bahasa oleh Andry Hartono, dkk. Jakarta : EGC Siregar. (2005). Saripati Penyakit Kulit. Jakarta : EGC Gustiawan, 2010, http:/sabdaspace.com, akses tgl 20 Oktober 2010.

Lampiran 1 CONTOH KASUS Klien Ny.S (30 tahun) masuk kerumah sakit dengan gangguan sindron steven johnson. Klien mengatakan nyeri pada sendi, nyeri saat menguyah terutama saat membuka mulut. Belum mandi selama 11 hari. Tubuh pasien melepuh, konjungtiva pucat, makan 4 gelas promina ukuran 15o cc(600 cc)/hari.Hb 9,0 gr/dl. Balutan infus belum diganti selama 3 hari. TD 100/80 mmHg, S 36,90c, N 82x/menit, dan RR 18x/menit. Keluarga mengatakan pasien hanya tamat SD dan tidak bisa membaca. PENGKAJIAN Indentitas klien Nama Umur Jenis Kelamin Agama Bangsa / Suku Pendidikan Pekerjaan : TN. I : 57 Tahun : Laki-Laki : Islam : Indonesia/ Melayu : Smp : Swasta(Pabrik Besi)

A. 1.

Status Perkawinan :Sudah Kawin Alamat Ruangan, :Jalan.Tanjung Raya II, Gg. Karya Bakti : Mawar

Nomor registrasi Tanggal masuk

: 010792180611 : 25 oktober 2011

Tanggal Pengkajian: 26 oktober 2011 Diagnosa Medis : glaukoma

Penanggung jawab: istri Tn.I

2.

Riwayat kesehatan masa lalu Penyakit waktu kecil, atau apakah pernah menderita penyakit mata dan apakah pasien mempunyai riwayat sakit pada saat melihat.

3.

Anamnesis riwayat kesehatan sekarang Pengkajian difokuskan pada gejala sekarang, apakah pasien mengeluh sakit kepala, mual muntah, melihat lingkaran seperti pelangi pada mata, nyeri sekitar mata.

4.

Riwayat kesehatan keluarga Tanyakan pada pasien apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit glaukoma atau penyakit lainnya yang berhubungan dengan penglihatan.

5.

Struktur keluarga / genogram Untuk mengetahui faktor faktor kesehatan keluarga dilihat dari strukturnya, contoh genogram adalah sebagai berikut :

Keterangan : : Meninggal : Laki-laki : Perempuan : Tinggal serumah


: Klien

6.

Data nutrisi

Dalam menentukan data nutrisi hal-hal yang harus diperhatikan: A = BB : 80 kg, TB : 173, LILA : 40 cm, B = Hb : 10 mmHg, C = Rambut klien tampak berminyak dan kering,kulit klien tampak kering, mata klien tampak keruh pada retina dan berlendir, berat badan klien sesuai dengan usianya, mukosa klien pink kemerahan dan lembab D = Porsi makan klien 2 sendok nasi, klien tidak nafsu makan, mual dan muntah pada saat makan.

7.

Pemeriksaaan fisik Perawaat melakukan pemeriksaan fisik pada klien, hal hal yang bisa diperhatikan:

a.

keadan umum

: klien tampak meringis nyeri : COMPOS METIS : Suhu : 37,5 C, Nadi : 80

b. Tingkat kesadaran klien c. TTV X/menit, d. BB : 80 Kg TB : 173 cm

TD : 130/80 X/ menit, RR : 22 X/menit

e. Sistem Sensori Persepsi 1) Sistem penglihatan: a) Visus sangat menurun b) TIO : 40 mmHg c) Mata merah

d) Kornea keruh e) Bilik mata depan dangkal f) Rincian iris tidak tampak

g) Pupil sedikit melebar, tidak bereaksi terhadap sinar h) Diskus optikus terlihat merah dan bengkak 2) I Sistem pernapasan : : bentuk thoraks klien simetris antara kiri dan kanan, tidak terdapat kelainan pada thorak, tidak terdapat distress pernafasan,

P P

: tidak terdapat kelainan bunyi pada thorak :tidak terdapat benjolan pada thorak, tidak ada perbedaan getaran antara kiri dan kanan.

A : tidak ada terdapat bunyi yang abnormal pada saat di auskultrasi. 3) Sistem kardiovaskuler Pada saat pemeriksaan fisik tidak ada masalah mengenai jantung klien, dan tidak ada keabnormalan pada jantung klien 4) Abdomen I = tidak ada kelain pada abdomen klien A = tidak terdengar bising usus yang abnormal. P = tidak terdapat masalah pada sat di perkusi P = pada saat palsasi ginjal, klien tidak mengalami sakit, dan tidak terdapat kelain pada sat dipalsasi.

8.

Pola eliminasi Klien mengatakan pola eliminasinya sebelum sakit dan saat sakit tidak ada mengalami gangguan, BAB nya 1 kali sehari dan BAK nya 6 kali sehari. Pola kebersihan a. mandi Sebelum sakit klien mengatakan dia mandi 1 hari 3 kali.dan pada saat di rumah sakit klien mengatakan 2 hari 1 kali. Gosok gigi Sebelum sakit klien mengatakan dia menggosok gigi 1 hari 3 kali. Saat sakit klien mengatakan dia menggosok gigi 2 hari sekali. Pola aktifitas Klien memiliki kebiasaan 1 minggu sekali berolahraga jalan pagi. Data psikologis Status emosi : klien tampak tenang emosinya teratur dan kadang-kadang klien tampak gelisah. konsep diri klien seorang kepala rumah tangga yang masih diperdulikan oleh keluarga. Gaya komunikasi Klien berkomunikasi dengan bahasa melayu dan perawat mengerti.

9.

a.

10. 11. a. b. c.

d. Interaksi sosial Klien mau bergaul dengan pasien lain diruangannya. 12. Data sosial a. Pendidikan dan pekerjaan

Pasien tamat SMP dan pekerjaan pasien swasta (pabrik besi) b. Hubungan sosial. Klien dalam berinteraksi sangat cepat. c. Faktor sosial kultural Semua tindakan perawat tidak ada yang bertentangan dengan klien. d. Gaya hidup Pasien memiliki kebiasaan merokok dan makan makanan yang instan.

13. Data spiritual Pasien mengatakan bahwa dirinya sholat 5 waktu dan selama dirumah sakit klien hanya sholat 3 waktu dengan kondisi duduk karena kesulitan dalam beraktifitas. 14. Data penunjang Tonometri : tekanannya 40 mmHg 1. Diagnosa Keperawatan a. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit; kerusakan mukosa mulut dan bibir b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hipersensitivitas c. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi.

2. Rencana Asuhan Keperawatan NO 1. DIAGNOSA KEPERAWATAN Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit; kerusakan mukosa mulut dan bibir. TUJUAN & KRITERIA HASIL INTERVENSI

2.

Kerusakan integritas berhubungan dengan hipersensitivitas

Ds : Nyeri hilang/berkurang setelah 1. dilakukan tindakan keperawatan 2. selama 3x24 jam dengan kriteria hasil : 3. Ds : Klien mengatakan tidak nyeri lagi 4. pada saat membuka mulut Klien mengatakan tidak nyeri lagi 5. pada saat mengunyah 6. Klien mengatakan badannya terasa segar setelah mandi Klien mengatakan mulutnya terasa 7. enak Do : Klien tidak meringis lagi pada saat membuka mulut Klien tidak meringis lagi pada saat menggerakkan mulut Luka pada rongga mulut berkurang dan mengering Tidak terdapat stomatitis pada bibir Klien tidak lemah lagi Konjungtiva dan mukosa mulut tidak pucat TTV dalam batas normal : TD : 120/90 mmHg S : 36-370c N : 60-100x/menit RR : 16-24x/menit kulit Integritas kulit membaik setelah 1. dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam dengan kriteria 2. hasil : Ds : 3. -4. Do : 5. Tidak terdapat bula dikedua lengan

Kaji karakteristik nyeri 1. Kaji kemampuan klien untuk membuka mulut 2. Istirahatkan daerah sekitar mulut jika terjadi nyeri Ajarkan teknik relaksasi pada 3. saat nyeri datang 4. Observasi TTV Bantu klien untuk memenuhi 5. kebutuhan dasar : mandi, cuci rambut, dan oral hygiene 6. Kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan analgetik 7.

Kaji keadaan umum dan 1. integritas kulit klien Observasi adanya tanda-tanda 2. infeksi Hindari lesi akibat tekanan 3. Berikan diit TKTP Mempercepat memberikan 4. kompres betadin cair dan NaCl

3.

atas Terdapat penumbuhan jaringan baru Luka diwajah mulai mengering Kurang pengetahuan tentang Klien mengetahui dan memahami 1. penyakit berhubungan dengan tentang proses penyakitnya setelah kurang terpaparnya informasi. dilakukan tindakan keperawatan 2. selama 1x30 menit dengan kriteria hasil : Ds : Klien mengatakan sudah mengetahuin tentang proses penyakitnya Do : Klien tampak senang dan mengerti

0,9 %

5.

Kaji pengetahuan klien tentang 1. penyakit 2. Lakukan penkes tentang proses penyakit klien

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan karunianya kami dapat mengerjakan makalah Sistem Hematologi dan Imunitas. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang Asuhan Keperawatan Pasien dengan Syndrom Steven Johnson. Dan kami juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Ns. Florensa, S.Kep. selaku dosen pembimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini, kami mengalami beberapa kesulitan, namun karena bantuan dan kerja sama dengan dosen pembimbing, serta teman-teman sekelompok akhirnya makalah ini dapat kami selesaikan. Oleh karena itu kami ingin mengucapkan terima kasih. Jika ada kesalahan dalam pembuatan makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Pontianak, Oktober 2010

Penyusun

i MAKALAH SISTEM HEMATOLOGI DAN IMUNITAS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SYNDROM STEVEN JOHNSON DOSEN PEMBIMBING: IBU NS. FLORENSA S.KEP Tugas Individu MUAMMAR SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM PONTIANAK PRODI SI KEPERAWATAN TAHUN AJARAN 2010-201I