Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Yang Mahaesa atas limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Anatomi Perbandingan Sistem Ekskresi. Makalah ini menjelaskan tentang pengertian sistem ekskresi beserta fungsinya, sistem ekskresi pada pisces, amfibi, reptil, aves, dan mamalia. Perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih kepada : Bapak Dosen mata kuliah Anatomi Perbandingan Hewan atas tugas yang diberikan sehingga menambah wawasan kami tentang hewan khususnya perbedaan anatomi pada sistem ekskresi, demikian pula kepada teman-teman yang turut memberi sumbang saran dalam penyelesaian makalah sebagaimana yang kami sajikan. Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, untuk itu dari lubuk hati kami yang paling dalam memohon saran dan kritik yang sifatnya membangun dan mendorong membuka cakrawala pemahaman tentang tumbuhan terkhususnya pada

perbandingan sistem ekskresi pada hewan vertebrata. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita dan selalu menginspirasi kita untuk mendalami anatomi perbandingan hewan.

Makassar, 22 September 2013

Penulis

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 2 BAB I ...................................................................................................................... 3 PENDAHULUAN ............................................................................................... 3 A. Latar Belakang ............................................................................................ 3 B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 3 C. Tujuan Masalah ........................................................................................... 4 D. Manfaat ....................................................................................................... 4 BAB II ..................................................................................................................... 5 PEMBAHASAN ................................................................................................. 5 A. Pengertian Ekskresi dan Fungsinya. ........................................................... 5 B. Sistem Ekskresi pada Pisces........................................................................ 7 C. Sistem Ekskresi pada Amfibi. ................................................................... 14 D. Sistem Ekskresi pada Reptil...................................................................... 16 E. Sistem Ekskresi pada Aves. ...................................................................... 17 F. Sistem Ekskresi pada Mamalia. ................................................................. 18 BAB III ................................................................................................................. 31 PENUTUP ......................................................................................................... 31 A. Kesimpulan ............................................................................................... 31 B. Saran .......................................................................................................... 31 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 32

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Berbagai reaksi kimia terjadi di dalam sel-sel tubuh kita untuk menjaga kita tetap hidup. Reaksi kimia tersebut menghasilkan beberapa zat sisa yang bersifat racun dan harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Sebagai contoh, pemexahan glukosa dalam sistem pernafasan menghasilkan zat sisa berupa karbon dioksida. Karbon dioksida bersifat racun bagi tubuh sehingga dikeluarkan dari dalam darah melalui paru-paru (Aryulina, 2007). Tubuh melakukan begitu banyak proses metabolisme, seperti pencernaan, respirasi dan sebagainya. Proses-proses seperti itu pada akhirnya akan menghasilkan limbah yang tidak dikeluarkan jika tidak dikeluarkan akan menyebabkan penyakit. Limbah yang dihasilkan beraneka ragam bentuknya, mulai dari gas, cair, sampai padat. Untuk itu, kita memerlukan organ pengeluaran yang berbeda-beda pula. Proses pembebasan sisa-sisa metabolisme dari tubuh disebut ekskresi. Kelebihan air, gas, garam-garam dan material-material organik (termasuk sisa-sisa metabolisme) diekskresikan keluar tetapi substan yang esensial untuk fungsi-fungsi tubuh disimpan. Material-material yang dikeluarkan ini biasanya terdapat dalam bentuk terlarut dan ekskresinya melalui suatu proses filterisasi selektif. Alat-alat tubuh yang berfungsi dalam hal ekskresi secara bersama-sama disebut sistem ekskresi. Manusia dan hewan memiliki sistem ekskresi yang berbeda (Budiyanto, 2013). Karena setiap spesies tidak sama proses metabolisme dan adaptasinya terhadap lingkungan sehingga sistem eksresi tubuhnya pun berbeda. Pada makalah ini akan dibahas mengenai anatomi perbandingan sistem ekskresi pada hewan yang menitik beratkan pada ekskresi pada subfilum vertebrata yaitu pisces, amphibi, reptil, aves, dan mamalia. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah yang dimaksud dengan sistem ekresi dan fungsi sistem eksresi? 2. Bagaimanakah sistem ekskresi pada pisces? 3. Bagaimanakah sistem ekskresi pada amphibi? 4. Bagaimanakah sistem ekskresi pada reptil? 5. Bagaimanakah sistem ekskresi pada aves? 6. Bagaimanakah sistem ekskresi pada mamalia?

C. Tujuan Masalah Adapun tujuan yang akan dicapai adalah : 1. Untuk mengetahui pengertian sistem ekskresi dan fungsinya. 2. Untuk mengetahui sistem ekskresi pada pisces. 3. Untuk mengetahui sistem ekskresi pada amphibi. 4. Untuk mengetahui sistem ekskresi pada reptil. 5. Untuk mengetahui sistem ekskresi pada aves. 6. Untuk mengetahui sistem ekskresi pada mamalia.

D. Manfaat Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh adalah : 1. Menambah wawasan mahasiswa dalam anatomi perbandingan hewan terutama perbandingan sistem ekskresi pada golongan subfilum vertebrata. 2. Memahami mekanisme osmoregulasi yang dilakukan oleh golongan subfilum vertebrata. 3. Mahasiswa dapat memahami pentingnya sistem ekskresi dalam mengatur osmoregulasi dan metabolisme tubuh.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ekskresi dan Fungsinya. Sistem ekskresi merupakan hal pokok dalam homeostasis karena sistem tersebut membuang limbah metabolisme dan merespon terhadap ketidak seimbangan cairan tubuh dengan cara mengekskresikan ion-ion tertentu sesuai kebutuhan. Sistem ekskresi sangat beraneka ragam, tetapi semuanya memiliki kemiripan fungsional. Secara umum, sistem ekskresi menghasilkan urin melalui dua proses utama yaitu filtrasi cairan tubuh dan penyulingan larutan cairan yang dihasilkan dari filtrasi itu (Campbell, dkk, 2004). Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat. Zat hasil metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui alat ekskresi. Alat ekskresi yang dimiliki oleh mahluk hidup berbeda-beda.semakin tinggi tingkatan mahluk hidup, semakin kompleks alat ekskresinya. Beberapa istilah yang erat kaitannya dengan ekskresi (Sugiarti, 2010) : defekasi : yaitu proses pengeluaran sisa pencernaan makana yang disebut feses. Zat yang dikeluarkan belum pernah mengalami metabolisme di dalam jaringan. Zat yang dikeluarkan meliputi zat yang tidakl diserap usus sel epitel, usus yang rusak dan mikroba usus. ekskresi : yaitu pengeluaran zat sampah sisa metabolisme yang tidak berguna lagi bagi tubuh. sekresi : yaitu pengeluaran getah oleh kelenjar pencernaan ke dalam saluran pencernaan. Getah yang dikeluarkan masih berguna bagi tubuh dan umumnya mengandun genzim. eliminasi : yaitu proses pengeluaran zat dari rongga tubuh, baik dari rongga yang kecil (saluran air mata) maupun dari rongga yang besar (usus). Sistem ekskresi membantu memelihara homeostasis dengan tiga cara, yaitu melakukan osmoregulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, dan mengatur

konsentrasi sebagian besar penyusun cairan tubuh. Zat sisa metabolisme adalah hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H2O, NHS, zat warna empedu, dan asam urat (Arisandy, 2012). Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar (penjaga kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut. Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat yang beracun bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk urea. Zat warna empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah merah yang dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan dioksidasi jadi urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin. Asam urat merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan mempunyai daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air rendah. Tugas pokok alat ekskresi ialah membuang sisa metabolisme tersebut di atas walaupun alat pengeluarannya berbeda-beda (Romansah, 2012). Dari uraian sebelumnya dapat diketahui bahwa tugas pokok sistem ekskresi adalah sebagai sistem yang berfungsi dalam pembuangan limbah nitrogen dan CO2 serta menjaga keseimbangan air, garam, dan ion-ion organik. Dengan kata lain fungsi sistem ekskresi adalah : 1. Membuang limbah yang tidak berguna dan beracun dari dalam tubuh. 2. Mengatur konsentrasi dan volume cairan tubuh (osmoregulasi). 3. Mempertahankan temperatur tubuh dalam kisaran normal (termoregulasi). 4. Homeostasis. Alat ekskresi yang utama pada vertebrata adalah ginjal. Struktur ginjal yang paling primitiv adalah akrinefros atau holonefros. Pada prinsipnya, terdapat beberapa ginjal pada vertebrata, yaitu pronefros, opistonefros, mesonefros, dan

metanefros. Pronefros adalah ginjal yang berkembang pada fase embrio atau larva. Selanjutnya pronefros akan berubah menjadi mesonefros, kemudian setelah hewan dewasa berubah lagi menjadi metanefros. Opistonefros terdapat pada kelompok hewan Anamniota (Cyclostoma, Pisces, Amphibi), sedangkan mesonefros terdapat pada fase embrio Amniota (Repti, Aves, dan Manusia). Namun, setelah dewasa mesonefros itu berubah menjadi metanefros (Ambeng, 2012).

B. Sistem Ekskresi pada Pisces. Ikan merupakan vertebrata yang hidup di air sehingga zat sisa metabolismenya berupa cairan. Alat pengeluaran pada ikan adalah sepasang ginjal yang berbentuk memanjang dan berwarna coklat. Pada ikan bertulang sejati (misal: ikan mas), saluran ginjal dan saluran kelamin bermuara di satu tempat yang disebut lubang urogenital yang terletak di belakang anus. Sebagian ikan bertulang rawan memiliki kelenjar pada permukaan kulitnya. Kelenjar tersebut berfungsi untuk menghasilkan lendir untuk melicinkan tubuh ikan sehingga memudahkan gerakan ikan di dalam air (Arisandy, 2012). Secara umum, alat ekskresi pada ikan dapat dikelompokkan menjadi (Ambeng, 2012) : Insang yang mengeluarkan CO2 dan H2O. Kulit, kelenjar kulit mengeluarkan lendir sehingga tubuhnya licin untuk memudahkan gerak di dalam air. Sepasang ginjal (sebagian besar) yang mengeluarkan urine. Insang yang berfungsi untuk mengeluarkan CO2 dan H2O. sebagian besar ikan memiliki 4 buah insang pada setiap sisinya. insang berbentuk lembaranlembaran tipis berwarna merah muda dan selalu berada dalam keadaan lembab. bagian terluar dari insang berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Setiap insang terdiri atas beberapa bagian, antara lain: a) Filamen insang (hemibranchia = gill filament), terdiri atas jaringan lunak, berbentuk seperti sisir berwarna merah. Terletak melekat pada lengkung insang. Pada bagian filamen insang ini banyak mengandung kapiler darah

sebagai cabang dari arteri branchialis dan merupakan tempat terjadinya pengikatan oksigen terlarut dari dalam air. b) Tulang lengkung insang (arcus branchialis = gill arch), memiliki warna putih. Bagian ini berfungsi sebagai tempat melekatnya filamen dan tapis insang. pada tulang lengkung insang terdapat saluran darah (arteri afferent dan arteri efferent) yang memungkinkan darah dapat keluar masuk ke dalam insang c) Tapis insang (gill rakers),berupa sepasang deretan batang tulang rawan yang pendek dan sedikit bergerigi, terletak melekat pada bagian depan dari lengkung insang. tapis insang memiliki fungsi untuk menyaring air pernapasan yang berkaitan dengan fungsi insang sebagai alat ekskresi. ikan-ikan herbivora, memiliki tapis insang yang rapat dan berukuran panjang yang berkaitan dengan fungsinya sebagai penyaring makanan, berbeda dengan ikan-ikan karnivora yang memiliki tapis insang jarangjarang dan berukuran pendek.
Sumber : http://sistemekskresiira.blogspot.com

Struktur insang ikan Pada larva, insangnya berupa insang luar yang merupakan penjuluran seperti benang yang keluar dari sisi kepala dekat lubang celah-celah insang. ikan dewasa memiliki insang dalam yang terletak di dalam ruang insang. Pada spesies ikan bertulang sejati, ruang insang tersebut tertutup oleh lipatan tubuh yang disebut operkulum, yang membentuk ruang operkulum di sebelah lateral insang. operkulum ini bekerja dengan cara membuka dan menutup ke arah posterior

sehingga air dapat mengalir keluar. Fungsi insang sebagai alat ekskresi berkaitan dengan mekanisme ekspirasi pada sistem pernapasan ikan, yaitu saat ikan mengeluarkan karbondioksida. karbondioksida yang dibawa darah dari jaringan akan bemuara ke insang. Karbondiokasida akan dikeluarkan bersama air yang dikeluarkan ikan saat mekanisme ekspirasi tersebut berlangsung. Saat ekspirasi, mulut ikan akan menutup, operkulum mengempis, rongga faring menyempit dan membran brankiostega melonggar. adanya kontraksi faring dan ruang operkulum menyebabkan tekanan di dalamnya lebih tinggi daripada air di sekitarnya sehingga air yang mengandung karbondioksida keluar melalui celah dari operkulum (Permatasari, 2013). Alat ekskresi pada ikan berupa sepasang ginjal yang memanjang (opistonefros) dan berwarna kemerah-merahan. Pada beberapa jenis ikan, seperti ikan mas saluran ginjal (kemih) menyatu dengan saluran kelenjar kelamin yang disebut saluran urogenital. Saluran urogenital terletak dibelakang anus, sedangkan pada beberapa jenis ikan yang lain memiliki kloaka (Romansah, 2012). Sistem ekskresi pada ikan seperti halnya pada hewan kelas vertebrata yang lain, yaitu berfungsi untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme, terutama yang mengandung nitrogen yang berasal dari metabolisme protein di dalam tubuh ikan. alat ekskresi yang utama pada ikan adalah ginjal (ren). pada ikan berkembang dua tipe ginjal, yakni : 1. Pronefros, merupakan tipe ginjal yang paling primitif. ginjal ini terdapat pada perkembangan embrional sebagian besar ikan, tetapi saat berkembang menjadi ikan dewasa, ginjal ini menjadi tidak fungsional dan fungsinya digantikan mesonefros. 2. Mesonefros, memiliki fungsi fungsi seperti opistonefros yang terdapat pada embrio amniota. Ginjal ikan terdiri atas dua bagian, yaitu ginjal dan saluran-salurannya: 1. Ginjal (ren), yang merupakan tipe ginjal mesonefros. Berjumlah sepasang, memiliki bentuk yang tidak begitu jelas. Ginjal terletak di luar ruang peritoneum, menempel di bawah tulang punggung dan memanjang dari dekat anus menuju ke arah depan hingga mencapai ujung rongga perut. 2. Saluran-saluran ginjal,

a. Ureter (ductus mesonephridicus = saluran Wolffian), merupakan saluran yang mengalirkan urin yang berasal dari ginjal. terletak di bagian pinggir dorsal rongga tubuh dan menuju ke belakang.Pada ikan jantan, kedua saluran ini tampak berupa tabung (tubulus) yang pendek, terentang dari ujung belakang ginjal sampai kantong urin, sedangkan pada ikan betina, saluran ini menuju ke sinus urogenitalia. b. Vesica urinaria, atau disebut juga dengan kantong urin yang merupakan lanjutan dari ureter kiri dan kanan, terletak di dekat anus dan berbentuk seperti kantong kecil. kantong urin ini berfungsi sebagai tempat penampungan urin sebelum dikeluarkan. c. Urethra, berupa saluran pendekyang berasal dari vesica urinaria dan menuju ke porus urogenitalia. urethra berfungsi sebagai saluran keluarnya urin dari dalam tubuh. Ginjal ikan berjumlah sepasang yang memanjang sepanjang dinding dorsal abdomen, kanan dan kiri linea mediana. tubulus ginjal pada ikan jantan telah mengalami modifikasi menjadi duktus eferen yang menghubungkan testis dengan duktus mesonefridikus. Kemudian, duktus mesonefridikus ini menjadi duktus deferens yang berfungsi untuk mengangkut sperma dan urin yang bermuara di kloaka.

Sumber : http://sistemekskresiira.blogspot.com

Ginjal ikan Ginjal mesonefros pada ikan terdiri atas sekumpulan tubulus yang di awal perkembangannya memiliki susunan yang bersegmen dan di akhir

perkembangannya tidak lagi bersegmen. Setiap tubulus, baik proksimal maupun

10

distal berupa susunan yang menggulung dan mengumpul arah longitudinal yang disebut dengan duktus arkinefridikus. Setelah keluar melewati kantung

penampungan sisa hasil sistem pencernaan atau sistem urogenital, bagian proksimal yang berupa beberapa tubulus mengumpul di kapsul hemisfer sebagai kapsula Bowman pada glomerolus yang kemudian kapsula dan glomerolus akan membentuk kapsula renalis. Proses pengeluaran air, garam, dan sisa hasil metabolisme yaitu mengikuti aliran darah masuk ke dalam kapsula dan mengalir ke dalam tubulus kemudian ke duktus arkinefridikus dan berakhir ke luar tubuh di bagian kloaka. Sistem ini tidak terjadi pada semua ikan, ada yang mengalami perubahan sesuai kebutuhan hidup ikan, contohnya pada ikan hiu dimana fungsi duktus gonad dan ginjal telah berkembang yang dilengkapi dengan duktus urinari (Permatasari, 2013). Ikan beradaptasi terhadap lingkungannya dengan cara khusus. Terdapat perbedaan adaptasi antara ikan air laut dan ikan air tawar dalam proses ekskresi. Keduanya memiliki cara yang berlawanan dalam mempertahankan keseimbangan kadar garam di dalam tubuhnya. Air garam cenderung menyebabkan tubuh terdehidrasi, sedangkan pada kadar garam rendah dapat menyebabkan naiknya konsentrasi garam tubuh. Ginjal ikan harus berperan besar untuk menjaga keseimbangan garam tubuh. Beberapa ikan laut memiliki kelenjar eksresi garam pada insang, yang berperan dalam mengeliminasi kelebihan garam. Ginjal berfungsi untuk menyaring sesuatu yang terlarut dalam air darah dan hasilnya akan dikeluarkan lewat korpus renalis. Tubulus yang bergulung berperan penting dalam menjaga keseimbangan air. Hasil yang hilang pada bagian tubulus nefron, termasuk air dan yang lain, diabsorpsi lagi ke dalam aliran darah. Korpus renalis lebih besar pada ikan air tawar daripada ikan air laut, sehingga cairan tubuh tidak banyak keluar karena penting untuk menjaga over difusi (agar cairan tubuh tidak terlalu encer). Elasmobranchii, tidak seperti kebanyakan ikan air laut, memiliki korpus renalis yang besar dan mengeluarkan air relatif banyak, seperti pada ikan air tawar (Ambeng, 2012). Untuk mempertahankan homeostasis tubuhnya ikan melakukan

osmoregulasi. Sistem Osmoregulasi ialah sistem pengaturan keseimbangan tekanan osmotik cairan tubuh (air dan darah) dengan tekanan osmotik habitat

11

(perairan). Tekanan osmotik adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi permeabel (proses osmosis) (Wahyuningtyas, 2012). Osmoregulasi dilakukan dengan berbagai cara melalui (Ambeng, 2012) : Ginjal Kulit Membran mulut Pada ikan air tawar konsentrasi zat terlarut pada cairan tubuhnya sangat berbeda dengan konsentrasi zat terlarut yang ada di lingkungannya. Di dalam cairan tubuh ikan, konsentrasi zat-zat terlarut lebih tinggi daripada konsentrasi zat terlarut yang ada di lingkungan. Hal tersebut menyebabkan masalah osmotik bagi ikan-ikan air tawar, karena secara osmosis air berpindah dari larutan yang konsentrasi zat terlarutnya rendah ke larutan yang konsentrasi zat telarutnya lebih tinggi, sehingga secara konstan tubuh ikan akan kemasukan air dari lingkungannya. Oleh karena itu, tubuh ikan diselimuti lendir untuk mencegah masuknya air ke dalam tubuh ikan secara berlebihan. Namun, tidak menutup kemungkinan juga jika tubuh ikan masih dapat kemasukan air dari lingkungan dan ion-ion di dalam tubuhnya keluar melalui insang. Ikan air tawar memperoleh kelebihan air melalui permukaan tubuhnya, khususnya melalui insang dan air yang terkandung di dalam makanannya, sehingga ikan air tawar tidak banyak minum kecuali yang terkandung dalam makanan. Selain kelebihan air, ikan air tawar juga mengalami kehilangan zat-zat terlarut yang ada di dalam urinnya (urin merupakan sampah yang dihasilkan melalui sistem ekskresi). Demi menaga kestabilan tekanan osmotik cairan di dalam tubuhnya, ikan air tawar secara terus menerus mengekskresikan air dalam jumlah besar. dalam usaha mempertahankan keadaan tersebut, di dalam tubuh ikan air tawar melibatkan kerja tiga sistem organ, antara lain sistem pencernaan untuk mengambil ion-ion dari makanan; sistem respirasi yakni menggunakan insang untuk mengambil ion-ion garam, khususnya Na+ dan Cl-; serta ginjal yang merupakan organ utama dalam sistem ekskresi yang bekerja secara konstan menghasilkan urin encer dalam jumlah banyak (kadar zat terlarut pada urin lebih rendah dibandingkan dengan yang ada pada cairan tubuh). Dengan cara tersebut, maka ikan air tawar membuang

12

kelebihan air dan mempertahankan zat-zat terlarut yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat dilakukan ikan air tawar karena ikan air tawar memiliki ginjal dengan glomerulinya yang berkembang dengan baik untuk melakukan filtrasi dengan cara memproduksi urin yang bersifat encer serta reabsorpsi selektif terhadap zat-zat terlarut kembali ke kapiler tubuler (Permatasari, 2013).

Sumber : http://youll-knowit.blogspot.com

Gambar : Osmoregulasi ikan air tawar Mekanisme osmoregulasi pada ikan air laut berkebalikan dengan ikan air tawar. Cairan tubuh ikan air laut bersifat hipoosmotik terhadap lingkungannya, yaitu memiliki konsentrasi zat terlarut yang lebih rendah daripada yang ada di lingkungannya. Ikan air laut ini kehilangan air karena proses osmosis yang terjadi melalui permukaan tubuhnya. Untuk mengganti air yang hilang tersebut maka ikan air laut meminum banyak air laut (Permatasari, 2013). Urine yang dihasilkan mengandung konsentrasi air yang tinggi. Ikan air laut memiliki konsentrasi garam yang tinggi di dalam darahnya. Ikan air laut cenderung untuk kehilangan air di dalam sel-sel tubuhnya karena proses osmosis melalui kulit. Untuk itu, insang ikan air laut aktif mengeluarkan garam dari tubuhnya. Untuk mengatasi kehilangan air, ikan minumair laut sebanyak-banyaknya. Dengan demikian berarti pula kandungan garam akan meningkat dalam cairan tubuh. Organ dalam tubuh ikan menyerap ion-ion garam seperti Na+, K+ dan Cl-, serta air masuk ke dalam darah dan selanjutnya disirkulasi. Kemudian insang ikan akan mengeluarkan kembali ion-ion tersebut dari darah ke lingkungan luar. Karena ikan laut dipaksa oleh kondisi osmotik untuk mempertahankan air, volume air seni lebih sedikit dibandingkan dengan ikan air tawar. Tubuli ginjal mampu berfungsi

13

sebagai penahan air. Jumlah glomeruli ikan laut cenderung lebih sedikit dan bentuknya lebih kecil daripada ikan air tawar (Wahyuningtyas, 2012).

Sumber : http://youll-knowit.blogspot.com

Gambar : Osmoregulasi Ikan Laut Adapun secara ringkas perbedaan osmoregulasi ikan air tawar dan laut (Wahyuningtyas, 2012) : Ikan Air Tawar sedikit minum air pengeluaran urine banyak, encer mempertahankan garam dalam tubuh Ikan air Laut banyak minum air pengeluaran urine sedikit, pekat aktif mengeluarkan tubuhnya garam dari

C. Sistem Ekskresi pada Amfibi. Tipe ginjal pada Amphibia adalah tipe ginjal opistonefros. Katak jantan memiliki saluran ginjal dan saluran kelamin yang bersatu dan berakhir di kloaka. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada katak betina. Ginjal pada katak seperti halnya pada ikan, juga menjadi salah satu organ yang sangat berperan dalam pengaturan kadar air dalam tubuhnya. Kulit Amphibia yang tipis dapat menyebabkan Amphibia kekurangan cairan jika terlalu lama berada di darat. Begitu pula jika katak berada terlalu lama dalam air tawar. Air dengan sangat mudah masuk secara osmosis ke dalam jaringan tubuh melalui kulitnya (Anonim, 2012).

14

Sumber : http://rendezvous-point.blogspot.com

Gambar : Alat Ekskresi pada Katak Secara umum, alat eksresi pada amfibi terdiri dari (Asih, 2010) : Ginjal. Paru-paru. Kulit. Kulit Amphibia yang tipis dapat menyebabkan Amphibia kekurangan cairan jika terlalu lama berada di darat. Begitu pula jika katak berada terlalu lama dalam air tawar. Air dengan sangat mudah masuk secara osmosis ke dalam jaringan tubuh melalui kulitnya (Budiyanto, 2013). Ginjal amphibi sama dengan ginjal ikan air tawar yaitu berfungsi untuk mengeluarkan air yang berlebih. Karena kulit katak permeable terhadap air, maka pada saat ia berada di air, banyak air yang masuk ke tubuh katak secara osmosis. Pada saat ia berada di darat harus melakukan konservasi air dan tidak membuangnya. Katak menyesuaikan dirinya terhadap kandungan air sesuai dengan lingkungannya dengan cara mengatur laju filtrasi yang dilakukan oleh glomerulus, sistem portal renal berfungsi untuk membuang bahan bahan yang diserap kembali oleh tubuh selama masa aliran darah melalui glomerulus dibatasi. Katak juga menggunakan kantung kemih untuk konservasi air. Apabila sedang berada di air, kantung kemih terisi urine yang encer. Pada saat berada di darat air diserap kembali ke dalam darah menggantikan air yang hilang melalui evaporasi kulit. Hormon yang mengendalikan adalah
15

hormon yang sama dengan ADH. Saat amphibia mengalami metamorfosis, hasil ekskresi amphibia juga berubah. Larva amphibia mengekskresikan amonia, sedangkan berudu dan hewan dewasa mengekskresikan urea (Budiyanto, 2013).

D. Sistem Ekskresi pada Reptil. Alat ekskresi pada reptilia adalah sepasang ginjal metanefros. Metanefros berfungsi setelah pronefros dan mesonefros yang merupakan alat ekskresi pada stadium embrional menghilang. Ginjal dihubungkan oleh ureter ke vasika urinaria (kandung kemih). Vesika urinaria bermuara langsung ke kloaka (Lubis, 2012). Bentuk ureter menyempit ke bagian posterior, ukurannya kecil, dan

permukaannya beruang-ruang. Selain ginjal, reptil memiliki kelenjar kulit yang menghasilkan asam urat tertentu yang berguna mengusir musuh. Pada jenis kurakura tertentu terdapat vesika urinaria tambahan yang juga bermuara langsung ke kloaka dan berfungsi sebagai organ respirasi. Vesika urinaria tambahan berfungsi sebagai organ respirasi. Pada kura-kura betina, organ respirasi tersebut juga berfungsi membasahi tanah yang dipersiapkan untuk membuat sarang sehingga tanah menjadi lunak dan mudah digali (Ambeng, 2012).

Sumber : http://viebhi.blogspot.com

Gambar : Sistem Ekskresi pada Reptil Hasil ekskresi pada Reptilia adalah asam urat. Asam urat ini tidak terlalu toksik jika dibandingkan dengan amonia yang dihasilkan oleh Mammalia. Asam urat dapat juga diekskresikan tanpa disertai air dalam volume yang besar. Asam urat tersebut dapat diekskresikan dalam bentuk pasta berwarna putih. Beberapa jenis Reptilia juga menghasilkan amonia. Misalnya, pada buaya dan kura-kura. Penyu yang hidup di lautan memiliki kelenjar ekskresi untuk mengeluarkan garam

16

yang dikandung dalam tubuhnya. Muara kelenjar ini adalah di dekat mata. Hasil ekskresi yang dihasilkan berupa air yang mengandung garam. Ketika penyu sedang bertelur, kita seringkali melihatnya mengeluarkan semacam air mata. Namun, yang kita lihat sebenarnya adalah hasil ekskresi garam. Ular, buaya, dan aligator tidak memiliki kandung kemih sehingga asam urat yang dihasilkan ginjalnya keluar bersama feses melalui kloaka (Budiyanto, 2013).

E. Sistem Ekskresi pada Aves. Alat ekskresi burung berupa sepasang ginjal metanefros. Burung tidak memiliki vesika urinaria sehingga hasil ekskresi dari ginjal disalurkan langsung ke kloaka melalui ureter. Tabung ginjal burung sangat banyak sehingga metabolisme burung aktif. Tiap 1 ml jaringan korteks ginjal burung mengandung 100 500 tabung ginjal. Tabung ginjal ini membentuk lengkung Henle kecil. Air dalam tubuh diperoleh melalui reabsorpsi di tubulus. Di dalam kloaka juga terjadi reabsorpsi air yang menambah jumlah air dalam tubuh. Sampah nitrogen dibuang sebagai asam urat yang dikeluarkan lewat kloaka. Asam urat berbentuk kristal putih yang bercampur feses (Budiyanto, 2013).

Gambar : Sistem Ekskresi pada Burung Burung memiliki sepasang ginjal yang berwarna coklat. Saluran ekskresi terdiri dari ginjal yang menyatu dengan saluran kelamin pada bagian akhir usus
17

Sumber : http://3bp.blogspot.com

(kloaka). Ginjal dihubungkan oleh ureter ke kloaka. Tabung ginjal membentuk lekung Henle kecil. Di dalam kloaka terjadi reabsopsi air yang menambah jumlah air dalam tubuh. Burung mengekskresikan zat berupa asam urat dan garam. Jenis burung laut juga memiliki kelenjar ekskresi garam yang bermuara pada ujung matanya. Hal tersebut untuk mengimbangi pola makannya yang memangsa ikan laut dengan kadar garam tinggi. Kelebihan kelarutan garam akan mengalir ke rongga hidung dan keluar melalui nares (lubang hidung). Larutan garam mengalir ke rongga hidung kemudia keluar lewat nares luar dan akhirnya garam menetes dari ujung paruh. Burung hampir tidak memiliki kelenjar kulit, tetapi memiliki kelenjar minyak yang terdapat pada tunggingnya. Kelenjar minyak berguna untuk meminyaki bulu-bulunya (Romasah, 2012).

F. Sistem Ekskresi pada Mamalia. Sistem ekskresi pada manusia melibatkan alat ekskresi yang terdiri atas ginjal, kulit, hati dan paru-paru. Setiap alat ekskresi tersebut berfungsi mengeluarkan zat sisa metabolisme yang berbeda,kecuali air yang dapat diekskresikan melalui semua alat ekskresi (Sugiarti, 2010). Dalam proses ekskresi ada beberapa bagian tubuh yang mempunyai fungsi penting antara lain : Alat Ekskresi Ginjal Kulit Paru-paru Hati 1. Ginjal Zat yang Diekskresikan Urine (komposisi: air, garam, mineral, senyawa N) Keringat (komposisi: air, garam, mineral, senyawa N) CO2 dan H2O Pigmen (bilirubin, urobilin)

Alat tubuh yang mempunyai fungsi spesifik untuk ekskresi sisa metabolisme yang mengandung nitrogen adalah ginjal. a) Struktur ginjal Ginjal atau ren berbentuk seperti biji buah kacang merah (kara/ercis). Ginjal terletak dikanan dan kiri tulang pinggang yaitu didalam rongga perut pada dinding tubuh dorsal. Ginjal berjumlah dua buah and berwarna merah keunguan. Ginjal sebelah kiri terletak agak lebih tinggi daripada ginjal sbelah kanan. Lapisan

18

ginjal bagian luar disebut kulit ginjal atau korteks, sedangkan lapisan dalam disebut sumsum ginjal atau medula. Lapisan paling dalam berupa rongga ginjal yang disebut pelvis renalis (Budiyanto, 2013). Saluran structural dan fungsional ginjal yang terkecil disebut nefron. Tiap nefron terdiri atas badan malpighi yang tersusun dari kapsul bowman, glomerulus yang terdapat dibagian korteks, serta tubulus-tubulus yaitu tubulus kontertus proksimal, tubulus kontertus distal, tubulus pengumpul dan lengkung henle yang terdapat dibagian medulla. Lengkung henle ialah bagian saluran ginjal yang melengkung pada daerah medulla dan berhubungan dengan tubulus proksimal maupun tubulus didaerah korteks. Pada orang dewasa panjang seluruh tubulus kurang lebih 7,5 sampai 15 km (Hidayah, 2012).

Sumber : http://4bp.blogspot.com

Gambar : Anatomi Ginjal b) Proses-proses di dalam Ginjal Cara kerja ginjal sebagai alat ekskresi adalah dengan menyaring darah sehingga zat-zat sisa yang terdapat di dalam darah dapat dikeluarkan dalam bentuk air seni (urin). Penyaringan darah hingga terbentuk urin meliputi tahap penyaringan (filtrasi), penyerapan kembali (reabsorpsi), dan pengumpulan (augmentasi) sebagai berikut (Gunawan, 2012) : a. Penyaringan (Filtrasi)

19

Darah yang banyak mengandung zat sisa metabolisme masuk ke dalam ginjal melalui pembuluh arteri ginjal (arteri renalis). Cairan tubuh keluar dari pembuluh arteri dan masuk ke dalam badan malpighi. Membran glomerulus dan kapsul Bowman bersifat permeabel terhadap air dan zat terlarut berukuran kecil sehingga dapat menyaring molekul-molekul besar. Hasil saringan (filtrat) dari glomerulus dan kapsul Bowman disebut filtrat glomerulusatau urin primer. Dalam urin primer masih terdapat air, glukosa, asam amino, dan garam mineral. b. Penyerapan Kembali (Reabsorpsi) Reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal. Hampir semua gula, vitamin, asam amino, ion, dan air diserap kembali. Zat-zat yang masih berguna tadi dimasukkan kembali ke dalam pembuluh darah yang terdapat di sekitar tubulus. Hasil reabsorpsi berupa filtrat tubulus atau urin sekunder. Urin sekunder mengandung air, garam, urea, dan pigmen empedu yang memberi warna dan bau pada urin. c. Augmentasi Di tubulus kontortus distal, beberapa zat sisa seperti asam urat, ion hidrogen, amonia, kreatin, dan beberapa obat ditambahkan ke dalam urin sekunder sehingga tubuh terbebas dari zat-zat berbahaya. Urin sekunder yang telah ditambahkan dengan berbagai zat tersebut disebut urin. Kemudian, urin disalurkan melalui tubulus kolektivus ke rongga ginjal. Dari rongga ginjal, urin menuju ke kantung kemih melalui saluran ginjal (ureter). d. Proses Pengeluaran Urin Jika kandung kemih penuh dengan urin, dinding kantong kemih akan tertekan. Kemudian dinging otot kantong kemih meregang sehingga timbul rasa ingin buang ir kecil. Selanjutnya, urin keluar melalui saluran kencing (uretra). Pengeluaran air melalui urin ada hubungannya dengan pengeluaran air melalui keringat pada kulit. Pada waktu dara dingin, badan kita tidak berkeringat. Pengeluaran air dari dalam tubuh banyak dikeluarkan melalui urin sehingga kita sering buang air kecil. Sebaliknya, pada waktu udara panas, badan kita banyak mengeluarkan keringat dan jarang buang air kecil. Urin yang dikeluarkan oleh ginjal sebagian besar teidiri atas (95%) air dan zat yang terlarut, yaitu urea, asam urat, dan amonia. yang merupakan sisa-sisa

20

perombakan protein: bermacam-macam garam terutama garam dapur (NaCl), zat warna empedu yang menyebabkan warna kuning pada urin, dan zat-zat yang berlebihan di dalam darah seperti vitamin B, C, obat-obatan, dan hormon. Urin tidak mengandung protein dan glukosa. Jika urin mengandung protein, berarti terjadi gangguan atau kerusakan ginjal pada glomerulus. Jika urin mengandung gula, berarti tubulus ginjal tidak menyerap kembali gula dengan sempurna. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya kerusakan pada tubulus ginjal, tetapi dapat pula disebabkan oleh tingginya kadar gula di dalam darah sehingga tubulus ginjal tidak dapat menyerap kembali semua gula yang ada pada filtrat glomerulus. Kadar gula darah yang tinggi disebabkan oleh terhambatnya proses pengubahan gula menjadi glikogen, akibatnya produksi hormon insulin terhambat. Kelainan ini dikenal sebagai penyakit kencing manis (diabetes mellitus). Dilihat dari segi banyaknya zat yang terkandung di urin, dapat disimpulkan bahwa ginjal merupakan organ yang sangat penting bagi tubuh. Ginjal berfungsi untuk menyaring darah, mengeluarkan sisa metabolisme, membuang zat-zat yang berbahaya bagi tubuh, dan mengatur keseimbangan air dan garam di dalam darah (Gunawan, 2012). c) Hal-hal yang mempengaruhi produksi urin Setiap hari 1500 liter darah melewati ginjal untuk disaring dan membentuk 15170 liter urin primer. Akan tetapi hanya 1 1.5 liter urin yang kita keluarkan. Banyak sedikitnya urin seseorang yang dikeluarkan tiap harinya dipengaruhi oleh hal-hal berikut (Budiyanto, 2013) : Zat-zat diuretik Zat-zat diuretik, misalnya kopi, teh dan alkohol akan menghambat reabsorpsi ion Na+. Sebagai akibatnya, konsentrasi ADH berkurang sehingga rebasorpsi air terhambat dan volume urin meningkat. Itulah sebabnya jika mengkonsumsi teh atau kopi, maka kita akan sering buang air kecil. Pengeluaran urin secara berlebihan disebut diuresis. Suhu Jika suhu internal dan eksternal naik diatas normal, maka kecepatan respirasi meningkat. Ini menyebabkan pembuluh kutaneus melebar sehingga cairan tubuh berdifusi dari kapiler ke permukaan kulit. Saat volume air menurun,

21

ADH dieksreksikan sehingga reabsorpsi air meningkat. Disamping itu, peningkatan suhu merangsang pembuluh abdominal mengerut sehingga aliran darah di glomerulus dan filtrasi menurun. Meningkatnya reabsorpsi dan berkurangnya aliran darah di glomerulus mengurangi volume urin. Itulah sebabnya jika cuaca panas, kita jarang buang air kecil. Volume larutan Volume larutan dalam darah berpengaruh terhadap produksi urin. Jika kita minum air seharian, maka konsentrasi air di daerah menjadi rendah. Hal ini merangsang hipofisis mengeluarkan ADH. Hormon ini meningkatkan reabsorpsi air di ginjal sehingga volume urin turun. Emosi Emosi tertentu dapat merangsang peningkatan atau penurunan volume urin. d) Gangguan pada Ginjal Ginjal manusia dapat mengalami gangguan dan kelainan karena berbagai hal antara lain : bakteri, tumor, abnormalitas bentuk ginjal/karena pembentukan batu ginjal. Jenis-jenis kelainan akibat kerusakan salah satu bagian ginjal adalah (Hidayah, 2012) : Nefritis Nefritis merupakan kerusakan bagian glomerulus ginjal akibat alergi racun kuman biasanya karena bakteri streptococcus. Akibat nefritis ini seseorang akan mengalami uremia dan dedema. Batu ginjal Terbentuk karena pengendapan garam kalsium didalam rongga ginjal, saluran ginjal dan kandung kemih. Penyebab pengendapan garam ini akibat terlalu banyak mengkonsumsi garam mineral dan sedikit mengkonsumsi air. Albuminuria Adalah ditemukan, albumin pada urin. Adanya albumin pada urin merupakan indikasi adanya kerusakan pada membrane kapsul endothelium atau karena iritasi sel-sel ginjal akibat masuknya substansi seperti racun, bakteri, eter, atau logam berat. Glikosuria

22

Adalah ditemukan glukosa pada urin. Adanya glukosa pada urin menunjukkan bahwa terjadi kerusakan pada tabung ginjal Hematuria Adalah ditemukan sel darah merah dalam urin. Disebabkan peradangan pada organ urinaria atau karena iritasi akibat gesekan batu ginjal. Ketosis Adalah ditemukan keton didalam darah. Hal ini dapat terjadi pada orang yang melakukan diet karbohidrat. Diabetes insipidus Adalah suatu penyakit penderitanya mengeluarkan urin terlalu banyak. Penyebab diabetes insipidus adalah kekurangan hormone ADH, hormone ADH(anti diuretika) ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis bagian balakang. Komposisi urin berpariasi tergantung jenis makanan serta air yang diminumnya. Urin normal berwarna jernih transparan sedangkan warna kuning muda urin berasal dari zat warna empedu. Urin normal pada manusia mengandug air, urea, asam urat, amoniak, keratin, asam laktat, asam fospat, asam sulfat, klorida, garam-garam terutama garam dapur, dan zat-zat yang berlebihan didalam darah misalnya vitamin C dan obat-obatan. Dilihat dari banyaknya macam zat yang terkandung dalam urin tersebut, ginjal merupakan alat pengeluaran utama. Fungsi ginjal antara lain adalah sebagai berikut (Budiyanto, 2013) : 1) 2) 3) Membuang sisa-sisa metabolisme tubuh Mengatur keseimbangan air dan garam dalam darah Membuat zat-zat yang berbahaya bagi tubuh, seperti obat-obatan, bakteri dan

zat warna. 4) Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan zat-zat

asam atau basa. Selain itu juga untuk membuang kelebihan bahan makanan tertentu seperti gula dan vitamin. 2. Kulit Kulit atau integumen mengekskresikan keringat. Tebal kulit pada manusia dewasa sekitar 0,01 cm hingga 0,5 cm. banyaknya keringat yang dihasilkan atau dikeluarkan seseorang dipengaruhi antara lain oleh aktifitas tubuh, suhu,

23

lingkungan, makanan, kondisi kesehatan dan keadaan emosi. Keringat manusia terdiri dari air, garam-garam, terutama garam dapur (NaCl), sisa metabolisme sel, urea, serta asam. Kulit (integumen) terdiri dari dua bagian, yaitu epidermis dan dermis (Budiyanto, 2013).

Gambar : Struktur Kulit Manusia Kulit adalah organ pelindung yang menutupi seluruh permukaan tubuh. Kulit merupakan lapisan sangat tipis dan tebalnya hanya beberapa milimeter. Organ ini terdiri atas tiga lapisan, yaitu (Gunawan, 2012) : a. Kulit Ari (Epidermis) Kulit ari tersusun atas tiga lapisan, yaitu lapisan tanduk (stratum korneum), lapisan granula (stratum granulosum), dan stratum germi-

nativum. Lapisan tanduk (stratum korneum) berada pada bagian yang paling luar. Lapisan tanduk merupakan jaringan mati dan terdiri atas berlapis-lapis sel pipih. Lapisan ini sering mengelupas dan digantikan oleh jaringan di bawahnya. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi sel-sel di dalamnya dan mencegah masuknya kuman penyakit. Lapisan granula (stratum granulosum) terletak di bawah lapisan tanduk. Lapisan ini terdiri atas sel bergranula yang lama-kelamaan akan mati dan
24

Sumber : http://klinikassyarif.com

kemudian terdorong ke atas menjadi bagian lapisan tanduk. Pada lapisan ini terdapat pigmen melanin yang memberikan warna pada kulit dan melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Warna pigmen kulit bermacam-macam sehingga ada orang yang berkulit hitam, sawo matang, atau kuning langsat. Bila lapisan ini tidak mengandung pigmen kulit, orang tersebut dikenal sebagai orang albino. Stratum germinativum tersusun atas dua lapisan sel. Lapisan atas (stratum spinosum) mengandung sel-sel baru. Sel-sel ini akan terdorong ke atas menjadi bagian lapisan granula di bawahnya terbentuk sel-sel baru yang dibuat oleh sel-sel yang terus-menerus membelah (stratum basal). b. Kulit Jangat (Dermis) Kulit jangat terletak di bawah lapisan kulit ari. Di dalam kulit jangat terdapat pembuluh darah, kelenjar keringat (glandula sudorifera), kelenjar minyak (glandula sebassea), dan kantung rambut. Selain itu, terdapat juga ujung-ujung saraf indera yang terdiri atas ujung saraf peraba dingin (korpuskula krausse), peraba tekanan (korpuskula paccini), peraba panas (korpuskula ruffinin), peraba sentuhan (korpuskula meissner), dan peraba nyeri. Kelenjar minyak menghasilkan minyak yang disebutsebum yang berguna untuk meminyaki rambut agar tidak kering. Di bagian bawah kantung rambut terdapat pembuluh kapiler darah yang mengangkut sari makanan ke akar rambut sehingga rambut terus tumbuh. Di dekat akar rambut terdapat otot rambut. Pada waktu kita merasa takut atau geli, otot rambut berkontraksi sehingga rambut menjadi tegak. Kelenjar keringat berbentuk pipa terpilin, memanjang dari epidermis hingga masuk ke bagian dermis. Pangkal kelenjarnya menggulung, dikelilingi oleh kapiler darah dan serabut saraf simpatik. Dari kepiler darah inilah kelenjar keringat menyerap cairan jaringan yang terdiri atas air, larutan garam, dan urea. Cairan jaringan tersebut dikeluarkan sebagai keringat melalui saluran kelenjar keringat dan akhirnya dikeluarkan melalui pori-pori kulit. Pengeluaran keringat dipengaruhi oleh cuaca (panas atau dingin), aktivitas, makanan, atau minuman. c. Jaringan Bawah Kulit (Subkutan)

25

Pada jaringan bawah kulit, terdapat jaringan lemak (adiposa). Jaringan lemak berfungsi untuk menumpuk lemak sebagai cadangan makanan dan menjaga suhu tubuh agar tetap hangat. Kira-kira 2 juta kelenjar keringat yang tersebar diseluruh dermis manusia dewasa dapat menghasilkan keringat 225 ml setiap harinya. Kerja kelenjar keringat berada dibawah pengaruh pusat pengaturan suhu badan dari sistem saraf pusat (hipotalamus) dan enzim brandikinin. Pengaturan oleh saraf pusat ini dirangsang oleh perubahan suhu di pembuluh darah. Fungsi hipotalamus adalah memonitor dan mengendalikan suhu darah. Jika darah yang melalui hipotalamus suhunya lebih rendah dari normal, maka saraf pusat pencapai panas akan mengeluarkan rangsangan ke kulit untuk menurunkan kecepatan hilangnya panas. Hal itu dilakukan dengan cara mengurangi aliran darah yang melewati pembuluh darah permukaan dan mengurangi pembentukan keringat. Sebaliknya, jika darah yang melewati hipotalamus suhunya lebih tinggi, maka saraf pusat kehilangan panas dan akan mengurangi kecepatan metabolisme, menghentikan menggigil, dan meningkatkan kecepatan hilangnya panas lewat kulit. Pengeluaran keringat yang berlebihan pada pekerja berat mengakibatkan banyak garam hilang dalam darah. Hal ini dapat mengakibatkan kejang dan pingsan. Keluarnya keringat yang berlebohan akibatnya rangsangan saraf dapat terlihat dengan menjadi merahnya warna kulit akibat pelebaran pembuluh darah di lapisan dermis. Sebaliknya penyempitan pembuluh darah menyebabkan kulit menjadi pucat, misalnya pada saat ketakutan. Selain sebagai alat pengeluaran (ekskresi), kulit juga berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh, tempat penyimpanan cadangan makanan berupa lemak, pelindung untuk mengurangi hilangnya air dalam tubuh, melindungi tubuh dari gesekan, penyinaran, panas, zat-zat kimia, dan kuman-kuman. Julit juga berperan sebagai alat indra peraba (Budiyanto, 2013). 3. Paru-paru Selain sebagai alat pernapasan paru-paru juga berungsi sebagai alat pengeluaran. Zat yang dikeluarkan oleh paru-paru adalah karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) yang dihasilkan dari proses pernapasan. Jadi, tugas paru-paru

26

adalah meneluarkan karbon dioksida dan uap air yang tidak digunakan lagi oleh tubuh. Jika tidak dikeluarkan, zat-zat tersebut akan menjadi racun (Gunawan, 2012). Paru-paru berada di dalam rongga dada manusia sebelah kanan dan kiri yang dilindungi oleh tulang-tulang rusuk. Paru-paru terdiri dari dua bagian, yaitu paru-paru kanan yang mempunyai tiga gelambir dan paru-paru kiri yang mempunyai dua gelambir. Paru-paru sebenarnya merupakan kumpulan alveolus yang terbungkus oleh selaput yang disebut pleura (Ambeng, 2012).

Gambar : Anatomi paru-paru manusia Ekskret paru-paru adalah CO2 dan H2O yang dihasilkan dari proses pernafasan. Pada prinsipnya, pengangkutan CO2 terjadi melalui tiga cara, yaitu terlarut dalam plasma darah (7-10%) berkaitan dengan hemoglobin (20%) dan dalam bentuk ion HCO3-(70%) melalui proses berantai yang disebut pertukaran klorida. Mekanisme pertukaran klorida adalah sebagai berikut (Budiyanto, 2013) : a) Darah pada alveolus paru-paru mengikat O2 dan mengangkutnya ke sel-sel

jaringan.

27

Sumber : http://4bp.blogspot.com

b)

Dalam jaringan, darah mengikat CO2 untuk dikeluarkan bersama HO2 yang

dikeluarkan dalam bentuk uap air. Reaksi kimia tersebut secara ringkas dapat kita tuliskan sebagai berikut: CO2 + H2O > H2CO3 > HCO3- + H+ Ion H+ yang bersifat racun diikat oleh hamoglobin, sedangkan HCO3keluar dari sel darah merah dan masuk ke dalam plasma darah. Sementara itu pula kedudukan HCO3- digantikan oleh ion Cl- (klorida) dari plasma darah. Pengangkutan CO2 sebagai hasil zat sisa metabolisme, diangkut oleh darah dapat melalui 3 cara : 1. Karbon dioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam karbonat dengan enzim anhidrase (7% dari seluruh CO2). 2. Karbon dioksida terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino hemoglobin (23% dari seluruh CO2). 3. Karbon dioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO3) melalui proses berantai pertukaran klorida (70% dari seluruh CO2). 4. Hati Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh dan terletak di dalam rongga perut sebelah kanan di bawah diafragma. Pada orang dewasa normal beratnya kurang lebih 2 kg dan berwarna merah (Gunawan, 2012). Sebagai alat ekskresi hati (hepar) mengeluarkan empedu 1/2 liter setiap hari. Empedu berupa cairan kehijauan, rasanya pahit, pH sekitar 7-7,6. mengandung kolesterol, garamgaram mineral, garam empedu, serta pigmen (zat warna empedu) yang disebut bilirubin dan biliverdin (Hidayah, 2012). Hati mengeluarkan empedu yang berupa cairan kehijauan, rasanya pahit, pHnya netral, dan mengandung kolesterol, garam-garam mineral, garam empedu, dan zat warna empedu yang disebut bilirubin dan biliverdin. Garam-garam empedu berfungsi dalam proses pencernaan makanan. Zat warna empedu yang berwarna hijau kebiruan berasal dari perombakan hemoglobin sel darah merah di dalam hati. Zat warna empedu diubah oleh bakteri usus menjadi urobilin yang berwarna kuning coklat yang memberikan warna feses dan urin. Sisa-sisa pencernaan protein yang berupa urea dibentuk juga di dalam hati. Urea kemudian

28

dibawa oleh darah dan selanjutnya masuk ke dalam ginjal. Akhirnya, dari ginjal dikeluarkan bersama-sama dengan urin (Gunawan, 2012).

Gambar : Anatomi Hepar Empedu yang dihasilkan oleh hati disimpan dalam kantong empedu (vesika felae) dan dikeluarkan ke usus halus untuk membantu sistem pencernaan, misalnya (Budiyanto, 2013) : a) b) c) d) Mencernakan lemak Mengaktifkan lipase Mengubah zat yang larut dalam air menjadi zat yang dapat larut dalam air. Membantu daya absorpsi lemak pada dinding usus. Kurang lebih 10 juta sel darah merah yang telah tua dan rusak dirombak dalam hati oleh sel-sel khusus yang disebut histiosit. Hemoglobin sel darah merah dipecah menjadi zat besi, globin dan hemin zat besi diambil dan disimpan dalam hati untuk dikembalikan ke sum-sum tulang. Globumin digunakan lagi untuk metabolisme protein/ untuk membentuk Hb baru, sedangkan hemin diubah menjadi zat warna empedu yang berwarna hijau biru (Hidayah, 2012). Empedu dikeluarkan ke usus dua belas jari dan dioksidasi menjadi urobilin. Urobilin berwara kuning coklat yang berperan memberi warna pada feses dan urin (Budiyanto, 2013).

29

Sumber : http://1bp.blogspot.com

Jika pembuluh empedu tersumbat, misalnya oleh kolesterol yang mengendap dan membentuk batu empedu, maka warna veses akan menjadi coklat atau abu-abu sedangkan darah akan berwarna kekunig-kuningan karena empedu masuk keperedaran darah (disebut penyakit kuning) (Hidayah, 2012). Organ hati merupakan satu-satunya kelenjar yang menghasilkan enzim arginase yang berfungsi untuk menguraikan asam amino arginin menjadi asam amino ornitin dan urea. Ornitin yang terbentuk berfungsi mengikat NH3 dan CO2 yang bersifat racun. Dalam sel-sel tubuh, ornitin diubah menjadi asam amino sitrulin. Sitrulin berperan mengikat NH3 menjadi arginin yang dapat diuraikan dalam hati, sedangkan urea dan hati diangkut ke ginjal untuk dikeluarkan bersama urin (Budiyanto, 2013).
Selain sebagai alat ekskresi, hati juga mempunyai fungsi lain yang sangat penting bagi tubuh, yaitu (Gunawan, 2012) : Sebagai tempat penyimpanan gula dalam bentuk glikogen. Sebagai tempat pembentukan dan pembongkaran protein. Hati membentuk protein akbumin, protrombin, fibrinogen, dan urea. Sebagai tempat membongkar sel darah merah (eritrosit) yang telah tua atau rusak. Hemoglobin dalam eritrosit dibongkar menjadi zat besi, globin, dan hemin. Hemin diurai menjadi bilirubin dan biliverdin. Pembentukan dan pengeluaran cairan empedu. Menetralkan obat dan racun. Tempat untuk membuat vitamin A dari provitamin A.

30

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya maka disimpulkan sebagai berikut : 1. Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat. Tugas pokok sistem ekskresi adalah sebagai sistem yang berfungsi dalam pembuangan limbah nitrogen dan CO2 serta menjaga keseimbangan air, garam, dan ionion organik. 2. Ikan mempunyai alat ekskresi berupa sepasang ginjal opistonefros selain itu juga terdapat insang yang mengeluarkan CO2 dan H2O, dan kelenjar kulit yang mengeluarkan lendir sehingga tubuhnya licin untuk memudahkan gerak di dalam air. 3. Sistem ekskresi pada amphibia adalah tipe ginjal opistonefros, kulit yang tipis dan paru-paru. 4. Sistem ekskresi pada reptil terdiri dari ginjal metanefros. Pada saat embrio, Reptilia memiliki ginjal tipe pronefros. Saat dewasa berubah menjadi mesonefros hingga metanefros selain itu kelenjar kulit yang menghasilkan asam urat tertentu sebagai alat pengusir musuh. 5. Sistem ekskresi pada aves terdiri dari ginjal, paru-paru, dan kulit. Ginjal dengan tipe metanefros. 6. Sistem ekskresi pada mamalia terdiri dari ginjal yang menghasilkan urine, kulit yang menghasilkan keringat, paru-paru yang menghasilkan CO2 dan H2O , serta hati yang menghasilkan pigmen. B. Saran Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh maka penulis menyarankan bahwa makalah ini dapat dijadikan bahan materi pembelajaran khususnya dalam menambah pengetahuan tentang anatomi perbandingan sistem ekskresi.
31

DAFTAR PUSTAKA

Ambeng. 2012. Materi Pembelajaran Matakuliah Anatomi Perbandingan Hewan. Universitas Hasanuddin. Makassar. Anonim, 2012. Sistem Ekskresi. http://uphc5a3-biology11.blogspot.com/ 2012/11/sistem-ekskresi.html. Diakses pada 21 september 2013 pukul 9.57 WITA.

Arisandy, Joni. 2012. Sistem Ekskresi pada Hewan. http://bagongmendem. blogspot.com/2012/10/sistem-ekskresi-pada-hewan.html. Diakses pada 21 september 2013 pukul 10.01 WITA. Aryulina, Diah dkk. 2007. Biologi. Penerbit Erlangga. Jakarta. Budiyanto. 2013. Makalah Sistem Eksresi. http://budisma.web.id/sistemeksresi.html. Diakses pada 21 september 2013 pukul 04.00 WITA. Budiyanto. 2013. Organ Sistem Ekskresi pada Hewan. http:// budisma.web.id/organ-sistem-ekskresi-pada-hewan.html. Diakses pada 21 september 2013 pukul 13.00 WITA. Campbell, N.A., dkk. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Penerbit Erlangga, Jakarta. Gunawan, Ary. 2012. Sistem Ekskresi Manusia. http://unitedscience. wordpress.com/ipa-3/bab-1-sistem-ekskresi-manusia/. Diakses pada 21 september 2013 pukul 10.08 WITA. Hidayah, Ahmad. 2012. Makalah Struktur Hewan tentang Ekskresi pada Manusia. http:// wwwagusgitulho.blogspot.com/2012/10/makalahsistem-ekskresi-pada-manusia.html. Diakses pada 21 september 2013 pukul 10.06 WITA. Lubis, Hasan. 2012. Sistem Ekskresi pada Hewan. http://pramudihasan. blogspot.com/2012/03/sistem-ekskresi-pada-hewan.html. Diakses pada 21 september 2013 pukul 9.59 WITA. Permatasari, Ira. 2013. Osmoregulasi pada Ikan. http://sistemekskresiira.blogspot. com/2013/07/osmoregulasi-pada-ikan.html. Diakses pada 21 September 2013 pukul 11.29 WITA. Permatasari, Ira. 2013. Sistem Ekskresi hewan Vertebrata: Sistem Ekskresi Ikan (Pisces). http://sistemekskresiira.blogspot.com/2013/06/sistem-ekskresi-

32

ikan-pisces_12.html. Diakses pada 15 September 2013 pukul 15.30 WITA. Romansah, Ashari. 2012. Makalah Fisiologi : Sistem Ekskresi pada Hewan. http://ashariromansah.blogspot.com/2012/11/makalah-fisiologi-hewansistem-eksresi.html. Diakses pada 21 september 2013 pukul 10.03 WITA. Sugiarti, Rita. 2010. Makalah Sistem Ekskresi. http://chemyalfaruq. blogspot.com/2010/06/makalah-sistem-ekskresi.html. Diakses pada 21 september 2013 pukul 10.04 WITA.

Wahyuningtyas, Nia. 2012. Sistem Osmoregulasi Ikan Air Tawar dan Air Laut. http://youll-knowit.blogspot.com/2012/03/sistem-osmoregulasi-ikan-airtawar-dan.html. Diakses pada 21 September 2013 pukul 11.24 WITA.

33