Anda di halaman 1dari 150

1

Kata pengantar
Bahasa Arab pertama sekali dikenal sebagai
bahasa-bahasa orang-orang dizajirah Semenanjung
Arabia, kemudian setelah datangnya agama Islam
dikenal pula sebagai bahasa Al-Quran sebagai
pedoman hidup kaum muslimin itu dituliskan dalam
bahasa Arab yang sangat indah susunannya dan
jaringan kalimatnya.
Bahasa Arab dikenal juga sebagai bahasa Ilmu
Pengetahuan sebab begitu banyak ilmu pengetahuan
dimasa perkembangan Islam yang dituliskan dalam
bahasa ini, lalu ditahapan perkembangan selanjutnya
bahasa Arab telah menjadi bahasa Dunia, karena tidak
hanya digunakan oleh sekelompok masyarakat Arab
atau pemeluk Islam saja, tetapi telah diakui sebagai
bahasa kumunikasi di PBB (Perserikatan Bangsa
Bangsa).
Dilihat dari segi penggunaannya maka bahasa Arab
ini terbagi dua yaitu: Bahasa Ammiyah (bahasa yang
dipakai untuk berkomunikasi sehari hari), berasal dari
bahasa daerah di Jazirah Arabiya tidak terikat pada tata
bahasa.
Kedua bahasa fushah yaitu bahasa Resmi, misalnya
bahasa Al-Quran dan Hadist, untuk karangan ilmiah
kitab-kitab, surat-menyurat dan komunikasi resmi
lainnya. Bahasa fushah (resmi) ini memiliki tingkat
kesulitan tersendiri karena terikat erat dengan
peraturan kebahasaan diantaranya ilmu nahwu
(Qawaid) dan Ilmu Balaghah Semantik
1
Arab.

1
semantik adalah istilah yang digunakan dalam bidang
linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa

2

Ilmu Balaghah tetap dianggap sebagai ilmu yang
tersulit untuk dicerna, sebab ilmu ini akan
menterkaitkan antara komponen-komponen ilmu
bahasa Arab yang fushah (resmi),. Namun
jika dipelajari dengan penghayatan yang tinggi serta
dihubungkan pula kepada kegunaannya dari sisi ilmu-
ilmu agama jelas akan mendatangkan kenikmatan
tersendiri dan dapat memperkaya dan mempertajam
mata bathin manusia, sehingga menimbulkan dampak
kehidupan yang baik serta dapat mengusir kejenuhan
untuk mempelajarinya.
I
Pendahuluan
A. Latar belakang munculnya ilmu balaghah
Arab Jahiliyah (Pra Islam) sudah mengenal dunia
sastra jauh sebelumnya. Mereka dikenal sebagai
pujangga-pujangga ) ) yang memiliki kecakapan
dalam menyusun dan merangkai kata-kata sehingga
indah didengar dan bagus diucapkan yang kemudian
menghasilkan karya sastra. Hal itu bukan diperolehnya
melalui lembaga-lembaga pendidikan formal atau
dengan mempelajari kaidah-kaidah ilmu tertentu, tetapi
terbentuk melalui fitrah dan insting bahasa yang sudah
ada dalam diri mereka.
Sejarah berhasil mengabadikan sejumlah nama
sastrawan Arab pra jahiliah yang telah memberikan
kontribusi besar dalam dunia sastra, di antaranya: An-
Nbighah
2
, Hasan bin Tsbit
3
, al Khans, Umru al-

2
Penyair ini memiliki nama asli An-Nabighah Az-Zibyani
Abu Umamah Ziyad bin Muawiyah. Namun, ia lebih dikenal
dengan panggilan an-Nabighah, yang berarti seorang yang pandai

3

Qais, Zuhair bin Ab Salm, Tharfah bin al Abd,
Antarah bin Asy-Syaddd, Amr bin Kultsum, Lubaid
bin Rabah.
Salah seorang penguasa Arab saat itu an-Nbighah
az-Zibyn sengaja membangun pasar bernama Ukzh,
yaitu pasar tahunan tempat bertemu dan berkumpulnya
para sastrawan () dan penyair () dari seluruh
penjuru Arab untuk melantunkan bait-bait syairnya.
Semua gubahan syair-syair terbaru dan kemunculan
penyair-penyair terkemuka tidak terlepas dari peran
pasar Ukzh dalam memperkenalkannya. Secara
alamiah semua itu mengalami proses penyeleksian yang
ketat melalui metode kritik sastra yang dikenal luas saat
itu. Semua transaksi jual beli syair berlaku di tempat
ini. Selain Ukzh ada beberapa pasar yang menjadi
tempat berkumpulnya para sastrawan. Yang terpenting
adalah Majinnah dan Dzul Majz. Semuanya terletak
dekat Kabah.

berpuisi, karena memang sejak muda ia pandai berpuisi. An-
Nabighah merupakan salah seorang tokoh penyair terkemuka Arab
Jahiliyyah dan juga menjabat sebagai dewan hakim dalam
perlombaan puisi yang diadakan di pasar Ukadz. Ia memiliki
Diwan (antologi) puisi yang dikomentari oleh Batholius (Ibnu
Sayyid al-Batholius) yang telah berulang-ulang dicetak, meskipun
antologi puisinya itu tidak menghimpun seluruh puisinya.
3
Hasan bin Tsabit bin Mundir berasal dari suku Khazraj
kabilah Khotoniah di Jasrib sekarang Madinah Ayahnya bernama
Mundir, ia adalah sorang tokoh berpengaruh dan dihormati oleh
kabilahnya. Begitu juga dengan Ibunya yang bernama Faria'h binti
Kholid bin Qais Al-Khazraj. Ia penyair yang gigih membela Islam
dan Rasululah dari kecaman para kaum musrikin dan kafirin,
terutama para penyair pada masa itu

4

Syair-syair terbaik yang muncul dari pasar-pasar
itu mendapat penghargaan berupa hak paten untuk
diletakkan dan dipajang di dinding kabah sehingga
semua orang bisa melihatnya. Suatu apresiasi terhadap
nilai sastra dan seni yang sangat tinggi, karena Kabah
adalah tempat paling sakral dan menjadi prestise Arab.
Karya-karya terbaik itu dikenal dengan nama al-
Muallaqt. Sebagian riwayat menyebutkan terdapat 7
buah syair, sementara yang lainnya menyatakan 10
buah syair yang pernah dipajang di dinding Kabah.
Penyair-penyair yang tampil dalam kesempatan itu
merupakan utusan kebanggaan suku. Seorang penyair
profesional menempati kedudukan terhormat di dalam
masyarakat. Derajat suku akan terangkat karena
kefasihan lidah penyair yang dimilikinya bahkan
perang dan damai yang hampir selalu berlatar belakang
fanatisme kesukuan dapat diciptakan oleh bangsa arab
karena kefasihan lidah para penyairnya.
Setelah itu agama Islam muncul Muhammad saw.
lahir sebagai Nabi pembawa risalah, dan al-
Quran merupakan mukjizatnya yang terbesar
Kemukjizatan al-Quran terkandung pada aspek bahasa dan
isinya Dari aspek bahasa, Alquran mempunyai tingka fashhah
dan balghah yang tinggi. Sedangkan dari aspek isi, pesan dan
kandungan maknanya melampaui batas-batas kemampuan
manusia. Ketika Alquran muncul, banyak di dalamnya
terkandung hal-hal yang tidak bisa ditangkap oleh orang-orang
pada zamannya, akan tetapi kebenarannya baru bisa dibuktikan
oleh orang-orang pada abad modern sekarang ini.
Kata-kata dan isinya dibaca, ditelaah, dijadikan
rujukan dan merupakan sumber inspirasi, muncul dan

5

berkembangnya berbagai ide dan karya jutaan umat manusia.
Kitab ini dijadikan pedoman dan karenanya amat
dicintai oleh seluruh kaum muslimin. Karena
kecintaannya pada Alquran, kaum muslimin
membacadan menelaahnya baik dengan tujuan ibadah maupun
untuk memperoleh pengetahuan darinya. Dengan dorongan
Alquran pula para ulama dan ilmuwan mengarang dan
menterjemahkan bermacam-macam buku ilmu pengetahuan,
baik yang berkaitan dengan keislaman seperti bahasa Arab,
syariat, filsafat dan akhlak, maupun yang yang bersifat umum
seperti sejarah, kesenian dan perekonomian. Hanya dalam tempo
satu abad, inspirasi yang dibawa Alquran telah membuat penuh
berbagai perpustakan di kota-kota besar Islam pada
masa itu seperti Mesir,Baghdad dan Cordova
4
.
Fenomena ini muncul karena ayat-ayat Alquran
mendorong kaum muslimin untuk menjadi masyarakat
literat. Ayat yang mula-mula turun kepada Nabi
Muhammad ialah yang berhubungan dengan keharusan
membaca. Hal ini dapat kita lihat pada surah al-Alaq 1-5
4O^~- c)
El)4O Og~-.- 4-UE
^ 4-UE =}=Oee"-
;}g` -U4N ^g
4O^~- El4O4
N4O^- ^@
Og~-.- =^U4
U^) ^j
=^U4 =}=Oee"- 4`
uu4C ^)

4
Rinaharat Dauzi, Takmilah al Muajam al Arabiyah, (Iraq,
Dar ar Rasyid, 1980), 15

6

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah
Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan
perantaraan kalm , Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.
Pada saat turunnya Alquran, bahasa Arab merupakan
bahasa yang murni dan bermutu. Bahasa Arab belum
terkontaminasi dengan bahasa asing lainnya. Namun seiring
dengan peningkatan peran agama, sosial dan politik yang
diembannya, bahasa Arab mulai berasimilasi dengan bahasa-
bahasa lain di dunia,seperti Persia, Yunani, India dan bahasa-
bahasa lainnya
5
.
Asimilasi dengan bahasa Persia lebih banyak dibanding
dengan bahasa-bahasa lainnya. Asimilasi ini muncul
karena bangsa Arab banyak yang melakukan pernikahan dengan
bangsa Persia, sehingga sedikit banyak bahasa Arab terwarnai
dengan bahasa tersebut. Selain itu pula banyak keturunan
Persia yang menempati posisi penting baik dibidang
politik, militer, ilmu pengetahuan, dan keagamaan.
Dominasi kuturunan Persia terjadi pada masa
kekhalifahan daulat Bani Abbasiyah. Dengan
berasimilasinya orang-orang Persia ke dalam masyarakat Arab
dan Islam, mulailah bahasa Arab mengalami
kemunduran. Apalagi pemimpin-pemimpin yang berkuasa
bukan orang Arab, sehingga timbullah satu bahasa pasar
6
yang
telah jauh menyimpang dari bahasa aslinya. Kondisi ini terjadi
pada beberapa wilayah Islam seperti Mesir, Baghdad dan

5
Ibid, 13
6
Al Lughah al basyariyah al yaumiyah

7

Damaskus. Kemunduran penggunaan bahasa Arab yang paling
hebat terjadi di Persia
7
.
Adanya kemunduran-kemunduran pada bahasanya,
membuat orang-orang Arab merasa prihatin dan mulailah
mereka berfikir untuk mengembalikan bahasa Arab pada
kemurniannya. Mereka mulai menyusun ilmu nahwu, sharaf
dan balghah.
Para pakar bahasa Arab mulai menyusun ilmu balghah
yang mencakup ilmu bayn, mani dan bad. Ilmu-ilmu
ini disusun untuk menjelaskan keistimewaan dan keindahan
susunan bahasa Alquran dari segi kemukjizatannya.Ilmu itu
disusun setelah muncul dan berkembangnya
ilmu nahwu dan sharaf.
B. Tokoh-tokoh dan Karya-karyanya
Pada awalnya struktur ilmu balghah belumlah lengkap
seperti yang kitakenal sekarang ini. Setelah mengalami berbagai
fase perkembangan dan penyempurnaan akhirnya
disepakati bahwa ilmu ini membahas tiga kajian
utama,yaitu ilmu bayn, mani dan bad. Ilmu bayn
membahas prosedur pengungkapan suatu ide fikiran atau
perasaan ke dalam ungkapan yang bervariasi.Ilmu mani
membahas bagaimana kita mengungkapkan sesuatu ide
fikiran atau perasaan ke dalam bahasa yang sesuai dengan
konteksnya. Sedangkan bad membahas bagaimana
menghaluskan, memperindah dan meninggikan suatu ungkapan.
Tokoh pertama yang mengarang buku dalam bidang ilmu
bayn adalah Ab Ubaidah Mamar ibn al Mutsanna (wafat, 208
H) dengan kitabnya Majz Alquran
8
Beliau adalah murid

7
Rinaharat Dauzi, Takmilah..... 16
8
Sayid Ahmad al Hasyimi, Jawahir al Balaghah, (Bairut,
Maktabah al Ashriyah, 1999), 9

8

al-Khalil.Dalam bidang ilmu mani, kitab Ijz
Alquran yang dikarang oleh al-Jhizh
9
merupakan kitab
pertama yang membahas masalah ini. Sedangkan kitab pertama
dalam ilmu bad adalah karangan Ibn al-Mutaz
dan Qudmah bin Jafar
10
.
Pada fase berikutnya, munculah seorang ahli balghah yang
termashur,beliau adalah Abd al-Qhir al-Jurjni yang mengarang
kitab Dalil al-Ijz dalam ilmu mani dan Asrr al-
Balghah dalam ilmu bayn
11
. Setelah itu muncullah
Abu Yaqub Yusuf Sakkki yang mengarang kitab Miftah
al-Ulm yang mencakup segala masalah dalam
ilmu balghah
12
.
Selain tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, masih banyak
lagi tokoh yang mempunyai andil dalam pengembangan
ilmu balghah, yaitu:
1. Hasan bin Tsabit
13
, beliau seorang penyair Rasullullah saw.
Orang Arab sepakat bahwa ia adalah seorang tokoh penyair

9
Nama lengkapnya Abu Utsman Amar ibn Bahr ibn
Mahbub al Kinani beliau seorang tokoh mutazilah lahir dan wafat
di bashrah (164-255H/780-869M)
10
Pengarang buku naqad asy-Syiri, nama lengkapnya
Qudamah ibn Jafar ibn Qudamah ibn Ziyad al-Baghdadi, Abu al-
Faraj, penulis buku (balaghah, mantiq, filsafat, dll)
11
Abdul Mutaali as Shaidi, Bughyah al idlah, (Maktabah al
Adab, tt), 3
12
Ibid, 4
13
Nama lengkapanya Hassan bin Tsabit bin al-Mundzir al-
Hazrojy al-Anshory. Nama panggilannya Abul Walid, di antara
syirnya yg memuji Nabi:

Yang lebih baik darimu tak pernah kulihat,yang lebih elok darimu
tak pernah terlahirkan


9

dari kampung. Suatu pendapat menyatakan bahwa ia
hidup selama 120 tahun; 60 tahun dalam masa
Jahiliyah dan 60 tahun dalam masa keislaman. Ia
meninggal pada tahun 54 H
2 Abu-Thayyib, beliau adalah Muhammad bin al-Husain
seorang penyair kondang. Ia mendalami kata-kata bahasa
Arab yang aneh. Syiirnya sangat indah dan memiliki
keistimewaan, bercorak filosofis, banyak kata-kata
kiasannya dan beliau mampu menguraikan rahasia
jiwa. Ia dilahirkan di Kufah, tepatnya di sebuah tempat
bernama Kindah pada tahun 303 H, dan wafat tahun 354
H.
3 . Umru al-Qais
14
, ia tokoh penyair Jahiliyah yang
merintis pembagian bab-bab dan macam-macam
syiir. Ia dilahirkan pada tahun 130 sebelum
Hijriyah. Nenek moyangnya adalah para raja dan
bangsawan Kindah. Ia wafat pada tahun 80 sebelum
Hijriyah. Syiir-syiirnya yang pernah tergantung di Kabah
sangat masyhur.
4 . Abu Tammam (Habib bin Aus Ath-Thai), ia seorang
penyair yang masyhur,satu-satunya orang yang mendalam
pengetahuannya tentang mani, fashahatal-syir dan
banyak hafalannya. Ia wafat di Mosul pada tahun 231
Hijriyah.
5. Jarir bin Athiyah al-Tamimi, ia seorang di antara
tiga penyair terkemuka pada masa pemerintahan
Bani Umayah. Mereka adalah al-Akhthal, Jarir,

Kau lahir tanpa sedikitpun cacat,seolah kau tercipta seperti yang
kau inginka

14
Namanya Jundab ibn Hajar al Kindi

10

dan al-Farazdaq. Dalam beberapa segi ia melebihi kedua
rekannya. Dia wafat pada tahun 110 H.
6. Al-Buhturi, ia seorang penyair Bani Abasiyah yang
profesional. Ketika Abu al-Ala al-Maarri ditanya tentang
al-Buhtury dia berkata, Siapakah yang ahlisyiir di
antara tiga orang ini, Abu Tammam, al-Buhturi,
ataukah al-Mutanabbi? Ia menjawab, Abu Tamam dan
al-Mutanabbi keduanya adalah para pilosof; sedangkan
yang penyair adalah al-Buhturi. Dia lahir di Manbaj dan
wafat di sana pada tahun 284 H.
7. Saif al-Daulah, ia adalah Abu al-Hasan Ali bin
Abdullah bin Hamdan, raja Halab yang sangat cinta
syiir. Lahir tahun 303, wafat tahun 356.
8. Ibnu Waki, ia seorang penyair ulung dari Baghdad. Lahir di
Mesir dan wafat disana pada tahun 393 H.
9. Ibn Khayyath, ia seorang penyair dari Damaskus. Ia telah
menjelajahi beberapa negara dan banyak mendapatkan
pujian dari masyarakat yang mengenalnya. Ia sangat
masyhur, karena karya-karyanya khususnya pada buku-
buku syiir yang sangat populer. Ia wafat pada tahun 517
H.
10. Al-Maarri, ia adalah Abu al-Ala al-Maarri.
Dia seorang sastrawan, pilosof dan penyair masyhur,
lahir di Maarrah (kota kecil di Syam). Matanya buta
karena sakit cacar ketika berusia empat tahun. Dia
meninggal di Maarrah pada tahun 449 H.
11. Ibn Taawidzi, ia adalah penyair dan sastrawan
Sibth bin at-Taawidzi. Wafat di Baghdad pada tahun
584 H, dan sebelumnya buta selama lima tahun.
12. Abu Fath Kusyajin, ia seorang penyair profesional dan
terbilang sebagai pakar sastra. Ia cukup lama menetap

11

di Mesir dan berhasil mengharumkan negeri itu.
Dia wafat pada tahun 330 H.
13. Ibn Khafajah, ia seorang penyair dari Andalus. Ia tidak
mengharapkan kemurahan para raja sekalipun mereka
menyukai sastra dan para sastrawan. Iawafat pada tahun
533 H.
14. Muslim bin al-Walid, ia dijuluki dengan Shari al-
Ghawani. Ia seorang penyair profesional dari dinasti
Abbasiyah. Ia adalah orang yang pertama kali
menggantungkan syiirnya kepada Bad. Dia wafat pada
tahun 208 H.
15. Abu al-Atahiyah, ia adalah Ishaq bin Ismail bin al-
Qasim, lahir di Kufah pada tahun 130 H. Syiirnya
mudah di pahami, padat dan tidak banyak mengada-ada.
Kebanyakan syiirnya tentang zuhud dan peribahasa. Dia
wafat pada tahun 211 H
16. Ibn Nabih, ia seorang penyair dan penulis dari Mesir. Ia
memuji Ayyubiyyin dan menangani sebuah karya sastra
berbentuk prosa buat Raja al-Asyraf Musa. Ia pindah ke
Mishshibin dan wafat di sana pada tahun 619 H.
17. Basysyar bin Burd, ia seorang penyair masyhur. Para
periwayat menilainya sebagai seorang penyair yang modern
lagi indah. Ia penyair dua zaman, Bani Umayah dan Bani
Abasiyah. Dia wafat pada tahun 167 H.
18. Al-Nabighah Al-Dzubyani, ia adalah seorang penyair
Jahiliyah. Ia dinamai Nabighah karena kejeniusannya
dalam bidang syiir. Ia dinilai oleh Abd al-Malik bin
Marwan sebagai seorang Arab yang paling mahir bersyiir.
Ia adalah penyair khusus Raja Numan Ibn al-
Mundzir. Di zaman Jahiliyah, ia mempunyai kemah
merah khusus untuknya di pasar tahunan Ukash. Para
penyair lain berdatangan kepadanya, lalu mereka

12

mendendangkan syiir-syiirnya untuk ia nilai.
Ia wafat sebelum kerasulan Muhammad saw.
19. Abu al-Hasan al-Anbari, ia seorang penyair kondang yang
hidup di Baghdad. Ia wafat pada tahun 328 H. Ia terkenal
dengan ratapannya kepada Abu Thahirbin Baqiyah,
patih Izz al-Daulah, ketika ia dihukum mati
dan tubuhnya disalib. Maratsinya (ratapannya) itu
merupakan maratsi yang paling jarang mengenai orang
yang mati disalib. Karena ketinggiannya, Izzud Daulah
sendiri memerintahkan agar dia disalib. Dan seandainya ia
sendiri yang disalib, lalu dibuatkan maratsi tersebut
untuknya.
20. Syarif Ridha
15
, ia adalah Abu al-Hasan Muhammad yang
nasabnya sampai kepada Husain bin Ali RA. Ia seorang
yang berwibawa dan menjaga kesucian dirinya. Ia disebut
sebagai tokoh syiir Quraisy karena orang yang pintar
diantara mereka tidak banyak karyanya, dan orang yang
banyak karyanya tidak pintar, sedangkan ia menguasai
keduanya. Ia lahir di Baghdad dan wafat disana (359H-
406H)
21. Said bin Hasyim al-Khalidi, ia seorang penyair
keturunan Abdul Qais. Kekuatan hafalannya sangat
mengagumkan. Ia banyak menulis buku-buku sastra dan
syiir. Ia wafat pada tahun 400 H
22. Antarah, ia adalah seorang penyair periode pertama. Ibunya
berkebangsaan Ethiopia. Ia terkenal berani dan

15
Pengarang kitab talkhish al-bayan fi majazatil-quran, nama
lengkapnya Muhammad ibn al-Husain ibn Musa, Abu al-Hasan,
ar-Ridlo al-Alawi al-Husaini al-Musawi (Mabahits al-
balaghah,hlm. 192)



13

menonjol. Ia wafat tujuh tahun sebelum kerasulan
Muhammad.
23. Ibnu Syuhaid al-Andalusi, ia dari keturunan Syahid al-
Asyjai. Ia seorang pemuka Andalus dalam ilmu sastra. Ia
dapat bersyiir dengan indah dan karya tulisnya bagus.
Ia wafat di Kordova, tempat kelahirannya pada tahun
426 H.
24. Al-Abyuwardi, ia adalah seorang penyair yang fash, ahli
riwayat, dan ahli nasab. Karya-karyanya dalam bidang
bahasa tiada duanya. Ia wafat di Ishbahan pada tahun 558
H. Abiyuwardi adalah nama kota kecil di Khurasan.
25. Ibnu Sinan al-Kahfaji
16
(423 H-466 H/1032 M-1073 M), ia
adalah seorang penyair dan sastrawan yang berpendirian
syiah. Ia diangkat menjadi wali pada salah satu
benteng di Halab oleh Raja Mahmud bin Saleh,
tetapi ia memberontak terhadap raja.Akhirnya ia mati
diracun
26. Ibnu Nubatah Al-Sadi, ia adalah Abu Nashr Abd al-Aziz,
seorang penyair ulung yang sangat lihai dalam merangkai
dan memilih kata. Ia wafat pada tahun 405 H.
C. Pengertian Balghah
Balghah secara etimologi berasal d ari kata dasar
yang memiliki arti sama dengan kata yaitu
sampai. Makna ini dapat kita lihat pada firman Allah
surah al Ahqaf ayat 15:

16
Pengarang kitab Sirr al-Fashahah, nama lengkapnya
Abdullah ibn Muhammad ibn Said, ibn Sinan, Abu Muhammad
al-Khafaji al-Halabi, ia belajar satra dari Abi al-Ala (Mabahits
al-balaghah,hlm. 205)



14

/EEO -O) EuU4
+O7- EuU44
=}1g4O LO4LEc 4
Sehingga apabila ia telah sampai dewasa dan umurnya
sudah sampai empat puluh tahun
Dalam bahasa keseharian kita juga menemukan ungkapan,

Fulan telah sampai pada tujuanya.
Pada intinya, balghah mendatangkan makna yang
agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan
fasih, memberi bekas yang efisien di lubuk hati, dan
sesuai dengan situasi, kondisi dan orang-orang yang
diajak bicara.
Secara ilmiah, balaghah merupakan suatu disiplin
ilmu yang berlandaskan pada kejernihan jiwa dan
ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan
perbedaan yang samar diantara macam-macam uslub
(ungkapan). Kebiasaan mempelajari balaghah
merupakan modal pokok dalam membentuk tabiat
kesastraan dan menggiatkan kembali beberapa bakat
yang terpendam.
Unsur-unsur balaghah adalah kalimat, makna dan
susunan kalimat yang memberikan kekuatan, pengaruh
dalam jiwa, dan keindahan. Juga kejelian dalam
memilih kata-kata dan uslub sesuai dengan tempat
bicaranya, waktu, tema, kondisi para pendengar dan
emosional yang dapat mempengaruhi dan menguasai
mereka. Pada waktu yang lalu para sastrawan tidak

15

menyenangi penggunaan kata 'aidlan'. Mereka
menganggap kata tersebut monopoli para
ilmuwan. Oleh karena itu, mereka tidak mau
menulisnya dalam syair maupun tulisan prosa mereka.
Suatu hal yang perlu diperhatikan dengan serius
oleh seorang ahli balaghah adalah mempertimbangkan
beberapa ide yang bergejolak dalam jiwanya. Ide yang
dikemukakan itu harus benar, berbobot dan menarik
sehingga mempengaruhi sebagai hasil kreasi seseorang
yang berwawasan utuh dan bersifat lembut dalam
merangkai dan menyusun ide. Setelah hal itu selesai,
kemudian memilih kata-kata yang jelas, meyakinkan,
dan sesuai. Lalu menyusunnya dengan urutan yang
indah dan menarik. Jadi, balaghah itu tidak terletak
pada kata per kata, juga tidak pada makna saja,
melainkan balaghah adalah efek yang timbul dari
keutuhan paduan keduanya dan kompatibilitas
susunannya.
Dalam kajian sastra, Balghah ini menjadi sifat
dari kalm dan mutakallim sehingga lahirlah sebutan
dan
Menurut Abd al-Qadir Husein (1984) Balghah
dalam kalm adalah

dalam arti bahwa kalm itu sesuai dengan situasi
dan kondisi para pendengar.Perubahan situasi dan kondisi
para pendengar menuntut perubahan susunan kalm Situasi
dan kondisi yang menuntut kalm ithnb tentu berbeda

16

dengan situasi dan kondisi yang menuntut kalm jz
Berbicara kepada orang cerdas tentu berbeda dengan berbicara
kepada orang dungu. Demikian juga dengan tuntutan fashl
meninggalkan khithb washl, tuntutan taqdm tidak
sesuai dengan takhr dan seterusnya bahwa untuk
setiap situasi dan kondisi ada kalm yang sesuai
dengannya ( )
Nilai Balghah setiap kalm bergantung kepada sejauh
mana kalm itu dapat memenuhi tuntutan situasi dan
kondisi, setelah memperhatikan fashhah-nya.
Kalm fashh adalah kalm yang secara nahwu tidak
dianggap menyalahi aturan yang mengakibatkan dlofut- talif (
lemah susunan ) dan taqd (rumit). Dari aspek bahasa
terbebas dari gharbah (asing) dalam kata-katanya. Dan dari
aspek sharaf terbebas dari menyalahi qiys seperti tidak
menggunakan kata

, karenamenurut qiys adalah


. Sedangkan secara dzauq terbebas dari tanfur


(berat pengucapannya) baik dalam satu kata, seperti kata

atau dalam beberapa kata sekalipun satuan


kata-katanya tidak tanfur
D. Aspek-aspek Balghah
Nilai ketinggian suatu ungkapan (kalm balgh) ada
pada dua aspek, yaitu :
1. Kalm balgh yaitu kalm yang sesuai dengan
tuntutan keadaan serta terdiridari kata-kata yang fash
contoh:


Muhammad itu junjungan dunia dan akhirat,
manusia dan jin serta junjungan dua golongan Arab
dan Ajam

17

Tujuan syiir tersebut, yaitu untuk menerangkan bahwa
Muhammad adalahorang mulia.
2 Mutakalim balgh, yaitu kepiawaian yang ada pada
diri seseorang dalam menyusun kata-kata balgh
(indah dan tepat), sesuai dengan keadaan waktu dan
tempat.
Kemampuan balghah yang ada pada seseorang berupa
kemampuannya menghadirkan makna yang agung dan jelas
dengan ungkapan yang benar-benar fash, memberi bekas
yang berkesan di lubuk hati, sesuai dengan situasi
dankondisi serta sesuai dengan kondisi orang-orang yang diajak
bicara.
Secara ilmiah, ilmu Balghah merupakan suatu
disiplin ilmu yang mengarahkan pembelajarnya untuk bisa
mengungkapkan ide fikiran dan perasaannya berlandaskan
kepada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan
kejelasan perbedaan yang sama di antara macam-macam uslub
(ungkapan). Dengan kemampuan menguasai konsep-konsep
balghah, bisadiketahui rahasia-rahasia bahasa Arab dan seluk
beluknya serta akan terbuka rahasia-rahasia kemukjizatan
Alquran dan al-Hadits.
E. Uslub
uslub adalah makna yang terkandung pada kata-
kata yang terangkai sedemikian rupa sehingga lebih
cepat mencapai sasaran kalimat yang diinginkan dan
lebih menyentuh jiwa pendengar. Uslub juga dikenal
dengan gaya bahasa.Tiga macam uslub di dalam
menyusun kalimat:
1) Uslub I lmiah: uslub ini adalah uslub yang paling
mendasar dan paling banyak membutuhkan logika

18

yang sehat dan pemikiran yang lurus dan jauh dari
khayalan syair.Karena uslub ini berhadapan dengan
akal dan berdialog dengan pikiran serta
menguraikan hakikat ilmu yang penuh
ketersembunyian dan kesamaran. Kelebihan yang
paling menonjol dari uslub ini adalah
kejelasannya. Dalam uslub ini harus jelas faktor
kekuatan dan keindahannya. Kekuatannya terletak
pada pancaran kejelasannya dan ketepatan
argumentasinya. Sedangkan keindahannya terletak
pada fasilitas ungkapannya, kejernihan kebiasaan
dalam memilih kata-katanya, dan bagusnya
penetapan makna dari berbagai segi kalimat yang
cepat dipahami. Untuk uslub ini sebaiknya
dihindari pemakaian kata atau kalimat majaz dan
badi 'yang dibagus-baguskan kecuali bila tidak
diprioritaskan dan tidak sampai menyentuh salah
satu prinsip atau kekhasan uslub ini. Biasanya
uslub ini digunakan dalam buku-buku berwacana
ilmiah, buku kuliah, sekolah dan pendidikan.
2) Uslub Sastra: Dalam uslub jenis ini keindahan
adalah salah satu sifat dan kekhasannya yang
paling menonjol. Sumber keindahannya adalah
khayalan yang indah, imajinasi yang tajam,
persentuhan beberapa titik keserupaan yang jauh di
antara beberapa hal dan pemakaian kata benda atau
kata kerja yang kongret sebagai pengganti kata

19

benda atau kata kerja yang abstrak. Secara garis
besar uslub ini harus indah, menarik inspirasinya
dan jelas serta tegas. Orang-orang yang baru terjun
ke dalam dunia sastra banyak yang beranggapan
bahwa uslub itu akan semakin baik bila banyak
memakai kata-kata majaz, tasybih (penyerupaan)
dan jauh imajinasinya. Anggapan ini sangat keliru,
sebab hilangnya keindahan uslub ini kebanyakan
justru karena dibuat-buat dan diada-adakan dan
tidak ada yang merusak keindahannya yang lebih
jelek dari pada kesengajaan menyusunnya. Kami
yakin bahwa syair berikut ini tidak menarik
perhatian kita:
#

( Air matanya yang bagaikan butir-butir mutiara bunga


narjis turun membasahi pipinya yang putih kemerah-
merahan bagaikan bunga mawar dan jari jemari
tangannya yang lentik itu digigitkan ke giginya yang
putih bagaikan salju ).
3) Uslub Khithabi: Dalam uslub ini sangat menonjol
ketegasan makna dan redaksi, ketegasan
argumentasi dan data dan luas wawasan. Dalam
uslub ini seorang pembicara dituntut dapat
membangkitkan semangat dan mengetuk hati para
pendengarnya.Keindahan dan kejelasan uslub ini
memiliki peran yang besar dalam mempengaruhi

20

dan menyentuh hati. Di antara yang memperbesar
peran uslub ini adalah status si pembicara dalam
pandangan para pendengarnya, penampilannya,
keunggulan argumentasinya, volume dan
kemerduan suaranya, kebagusan penyampaiannya
dan ketepatan sasarannya. Di antara yang
menentukan kelebihan uslub ini yang menonjol
adalah pengulangan kata atau kalimat tertentu,
pemakaian sinonim, pemberian contoh masalah,
pemilihan kata-kata yang tegas. Baik sekali uslub
ini bila diakhiri dengan pergantian gaya bahasa
dari kalimat berita menjadi kalimat tanya, kalimat
berita yang menyatakan kekaguman, atau kalimat
berita yang menyatakan keingkaran.
F. Balghah dalam konteks Linguistik Modern
Istilah linguistik berasal dari bahasa Latin lingua
Dalam bahasa Perancis berpadanan dengan kata langue dan
langage Sedangkan dalam bahasa Italiaberpadanan
dengan kata lingua dan dalam bahasa Spanyol bepadanan
dengan kata lengua Secara leksikal kata tersebut
bermakna bahasa.
Sedangkan secara terminologis linguistik
mempunyai pengertian seperti berikut ini:
1. Menurut kamus pringgodigdo dan Hassan
Shadily (1977: 633-634), linguistic adalah
penelaahan bahasa secara ilmiah.

21

2. Chaedar Alwasilah
17
mengungkapkan, linguistik adalah
ilmu pengetahuan yang mempunyai obyek forma
bahasa lisan dan tulisan yang mempunyai ciri-ciri
pemerlain.
3. Al-Khully mengungkapkan, linguistik adalah
ilmu yang mempelajari bahasa

17
Nama Lengkapnya Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah, M, penulis
kreatif, hasil karya penelitian yang publikasikan lima tahun terakhir :
1. Developing Theories of Teaching Academic Indonesian to Non-
Language Majors. Indonesian JELT. (2005)
2. Jaminan Mutu Perguruan tinggi. Pikiran Rakyat. (2005)
3. Baca Tulis Masyarakat Madani. Pikiran Rakyat. (2005)
4. Membangun Mesin Reproduksi Pengetahuan. Pikiran Rakyat.
(2005)
5. Tujuh Ayat Pembinaan Mahasiswa. Pikiran Rakyat. (2005)
6. Tujuh Ayat Demokarasi Kampus. Pikiran Rakyat. (2005)
7. Mendamba Lahirnya Kritikus Mumpuni. Pikiran Rakyat. (2006)
8. Menaksir Buku Ajar. Pikiran Rakyat. (2005)
9. Dakwah Bilqalam Sunda. Pikiran Rakyat. (2006)
10. Redefinisi Profesi Dosen. Pikiran Rakyat. (2006)
11. Bangsa Indonesia Telat Mikir? Pikiran Rakyat. (2005)
12. Kurikulum Berbasis Literasi. Pikiran Rakyat. (2005)
13. Pokoknya Menulis. (2005)
14. Pokoknya budaya Sunda. (2006)
15. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. (2008)
16. Jejak Langkah Orang Sunda. (2008)
Pokoknya BHMN: Ayat-ayat Pendidikan Tinggi. (2008)
17. Pengantar Penelitian Linguistik Terapan. Pusat Bahasa
Depdiknas. (2005)
18. TEFLIN Journal Vol. 16 No. 1, Februari (2005)
19. Situational Analysis on Education for International
understanding in South-East Asia (Indonesia). APCEIU. (2007)
20. Pendidikan di Indonesia -Masalah dan Solusi-. Kedeputian Bid.
Koor. Pendidikan, Agama, dan Aparatur Negara. (2008)

22

Dalam Bukunya Aslb Tadrs al-Lughah al-
'Arabiyah, al-Khuli
18
,mengemukakan tentang cabang-cabang
linguistik ('Ilmu al-Lughah) sbb:
1) 'Ilmu al-Lughah al-Nazhari (Linguistik Teoritis),
Bidang kajian ilmu inimencakup;
a) Ilmu ashwat (fonetik); Ilmu yang membahas proses
terjadinya,penyampaian dan penerimaan bunyi bahasa,
seperti fonetik artikulasi (pengucapan bunyi), fonetik
akustis (perpindahan bunyi), dan fonetikauditoris
(pengurutan bunyi).
b) Ilmu Funimat (fonemik); ilmu ini membahas
fungsi-fungsi bunyi dan prosesnya menjadi fonem-
fonem, serta pembagiannya yang didasarkan pada
penggunaan praktis suatu bahasa.
c) Sejarah Linguistik; ilmu ini membahas
perkembangan bahasa dalam bentukwaktunya, serta
hal-hal yang terjadi pada rentang waktu tersebut
sepertiasimilasi, perubahan-perubahan pengaruhnya
terhadap bahasa lain atausebaliknya.

18
Amin al-Khuli adalah salah satu pemikir penting dari
Mesir yang dikenal karena usahanya untuk mengenalkan
pendekatan baru dalam tafsir Qur'an. Dia dianggap sebagai salah
satu tokoh pembaharu, " mujaddid ". Dia juga salah satu murid
Muhammad Abduh dan mewarisi gagasan-gagasan pembaharuan
yang ia kenalkan selama ini. Salah satu kontribusi penting Amin
al-Khuli adalah dalam bidang metode tafsir Qur'an. Dia, antara
lain, dikenal karena metode literer ( al-manhaj al-adabi ) dalam
penafsiran Qur'an yang kemudian diterapkan oleh sejumlah sarjana
seperti A'ishah bint al-Shathi ', istrinya sendiri, dan Muhammad
Ahmad Khalafullah yang menulis disertasi tentang kisah -kisah
dalam Qur'an yang kemudian dicekal oleh pihak Al-Azhar itu.


23

d) Ilmu Sharf (Morfologi); ilmu ini membahas
tentang morfem danpembagiannya.
e) Ilmu Nahw (Sintaksis); ilmu ini membahas urutan
kata-kata pada suatukalimat.
f) Ilmu Mani (semantik)
2) Ilmu al-Lughah al-Tathbq (Linguistik terapan);
bidang kajian ini mencakuppengajaran bahasa asing,
terjemah, psiko linguistik dan sosiolinguistik.
Dengan melihat penjelasan dari al-Khuli tersebut
kita bisa mengetahui bahwa dalam bidang Linguistik
ilmu balghah termasuk pada bidang linguistik
teoritik. Posisi ilmu balghah dalam bidang garapan
linguistik dapat kita lihat pada bagan berikut ini
















G. Balghah dan Semantik
Sebelum menguraikan kedudukan ilmu balghah dan
hubungannya dengansemantik secara lebih jelas, perlu









24

diketahui bahwa setiap bahasa mempunyaikesamaan dan
perbedaan dengan bahasa lainnya pada beberapa
karakteristiknya.Dengan melihat pembagian lingustik dari
al-Khuli serta bagan di atas, posisi ilmubalghah dalam
kajian linguistik ini menempati kajian teoretik.
Balghah merupakan salah satu cabang ilmu bahasa Arab
yang menguraikan bentuk-bentuk pengungkapan dilihat
dari tujuannya. Sebagian wilayah kajian ilmu ini terkait
dengan makna, sehingga selalu bersinggungan dengan semantic
.Menurut Prof. Mansoer Pateda
19
, semantik berarti teori
makna atau teori arti. Ilmu ini merupakan cabang sistematik
bahasa yang menyelidiki makna atau arti.
Semantik mempunyai objek berupa hubungan antara benda
(obyek) dan simbul linguistik, selain itu juga ilmu ini
membahas sejarah perubahan makna-makna kata.
Semantik sebagai ilmu untuk mengungkapkan makna
mempunyai beberapa teori:
1. Conceptual Theory
Teori ini berpendapat bahwa makna adalah mental
image si pembicara dari subyek yang dia bicarakan.
2. Reference atau correspondence theory
Teori ini berpendapat bahwa makna adalah hubungan
langsung antara maknadengan symbol-simbol acuannya.
3. Field Theory

19
penyusun kamus Bahasa Gorontalo, sekaligus guru besar
di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) sepanjang karir
akademiknya, menelurkan 30 karya buku yang diterbitkan secara
nasional, di antaranya yang terkenal adalah Kamus Bahasa
Gorontalo-Indonesia, Suwawa-Indonesia, bahasa Atinggola-
Indonesia, Karya terakhirnya adalah terjemahan Al Qur`an dalam
bahasa Gorontalo.

25

Teori ini menafsirkan kaitan makna antara kata atau
beberapa kata dalam kesatuan bidang semantic
tertentu.
Selain itu pula semantik mengkaji kata dan makna,
denotasi dan konotasi, pola struktur leksikal dan tata
urut taksonomi. Hal ini selaras dengan bidang
garapanilmu balghah. Pada skema gambar di atas ilmu
balghah adalah bidang kajian qaw'id (linguistik
terotits) yang mengkaji tentang isi atau makna dari
kalimat.Terlepas dari kesamaan balghah dan semantik, ada
satu hal yang tidak dibahas semantik dalam ilmunya,
yaitu ilmu bad. Ilmu ini mempelajari tata cara
membaguskan atau memperindah kalimat. Hal ini
tidak menjadi objek kajian emantik.

H. Balghah dalam Alquran
Alquran merupakan firman Allah yang di dalamnya
terdapat petunjuk dan hidayah bagi ummat manusia. Kitab ini
menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Selain
karena nabi yang membawa kitab ini berbahasa Arab, bahasa
Arab juga diakui mempunyai tingkat balghah yang tinggi,
sensitifitas dalam hermeneutiknya, mempunyai ragam gaya
bahasa dan mempunyai kosa kata yang sangat kaya.
Alquran mempunyai kemukjizatan yang sangat tinggi, baik
pada tataran isi maupun bahasa yang digunakannya. Ketinggian
bahasa Alquran dapat kita lihat pada aspek pemilihan fonem,
pemilihan kata-kata, pilihan kalimat dan efek yang
ditimbulkannya, serta adanya deviasi.

26

Pada aspek pemilihan fonem-fonem, Zarqani
20

berkata, Yang dimaksud dengan keserasian dalam tata bunyi
Alquran adalah keserasian dalam pengaturan harkat (tanda
baca yang menimbulkan bunyi a, i dan u), sukun (tanda baca
mati), mad (tanda baca yang menimbulkan bunyi panjang),
dan ghunnah (nasal) sehingga enak untuk didengar dan
diresapkan.
Adanya keserasian dalam pemilihan fonem-fonem
yang dipilih Alquran dapat kita lihat dan kita rasakan ketika
mendengar bacaan ayat Alquran yang dibaca dengan baik dan
benar. Huruf-hurufnya seolah menyatu, perpindahan dari satu
nada ke nada berikutnya sangat bervariasi, sehingga terasa adanya
variasi yang menarik. Hal ini muncul sebagai akibat
permainan huruf konsonan dan vocal yang dilengkapi
dengan pengaturan harakat, sukun, mad , dan ghunnah
Untuk contoh ini kita bisa lihat surah al-Kahfi ayat 9-
16. Pada akhir ayat-ayat tersebut diakhiri dengan bunyi a
namun diiringi dengan konsonan yang bervariasi, sehingga
menimbulkan hembusan suara yang berbeda, yaitu ba, da, ta,
dan qa
Keserasian bunyi pada akhir ayat Alquran dapat
dikelompokkan kepada tiga kategori, yaitu:
1. Pengulangan bunyi huruf yang sama, seperti pengulangan
huruf ra dan ha pada surah al-Qamar (54:33-41), al-
Insan (76:1-13), Abasa (80:17-23), dan al-Syams
(91:11-15).
2. Pengulangan bunyi lapal, seperti pengulangan lapal al-
thriq, kaid, dakk,soff, ahad , dan aqabah pada

20
Abdul Baqi bin Yusuf bin Ahmad Az Zarqoni Al Maliki
meniggal tahun 1099

27

surah al-Thriq (86:1-2, 15-16), al-Fajr (89:21-22,
25-26), dan al-Balad (90:11-12)
3. Pengulangan bunyi lapal yang berhampiran, seperti
pengulangan bunyi tumisat furijat, nusifat, uqqitat,
ujjilat, gharq, nasyt, sabh, sabq, amr,
rjifah,rdifah, wjifah, khsyiah, hrifah,
suyyirat, uttilat, sujjirat,dan zuwwijat pada surah
al-Nzit (79:1-5, 6-10), al-Takwr (81: 3-12).

Selain tampaknya keindahan bunyi, pemilihan
fonem-fonem tertentu pada ayat Alquran juga memiliki
kaitan atau efek terhadap maknanya. Mahmud Ahmad Najlah
21

dalam bukunya Lughah Alquran al-Karm fi Juz Amma
mengkaji huruf sin pada surah al-Ns terutama pada
ayat 5 dan 6. Huruf sin termasuk konsonan
frikatif. Konsonan ini diucapkan dengan cara mulut
terbuka,namun harus dengan menempelkan gigi atas dengan
gigi bawah pada ujung lidah.Huruf ini dipilih dengan tujuan
untuk memberi kesan bisikan seperti makna
yangterdapat pada kedua ayat tersebut. Dalam sejarah ada
seorang yang bernama Musailimah al-Kadzdzb. Dia mencoba
menyusun Alquran tandingan dengan membuat ayat-ayat yang
huruf akhirnya mirif. Akan tetapi dia hanya meniru bunyi dan
irama Alquran, dia tidak mampu meniru efek bunyi-
bunyi tersebut terhadap maknanya
I. Bidang Kajian Balghah
Ilmu Balghah merupakan sebuah disiplin ilmu yang
berkaitan denganmasalah kalimat, yaitu mengenai maknanya,

21
Mahmud Ahmad Najla adalah seorang Palestina yang lahir
dan dibesarkan di pengasingan. Ia telah menjadi seorang aktivis
dan ia mendapat gelar Sarjana Sosiologi dari Universitas Birzeit

28

susunannya, pengaruh jiwaterhadapnya, serta keindahan dan
kejelian pemilihan kata yang sesuai dengantuntutan. Untuk
sampai pada sasaran tersebut ada tiga sub ilmu yaitu:
1. Ilmu Bayn: suatu ilmu untuk mengungkapkan suatu
makna dengan berbagaiuslub. Ilmu ini objek
pembahasannya berupa uslub-uslub yang berbeda
untukmengungkapkan suatu ide yang sama. Ilmu Bayn
berfungsi untuk mengetahuimacam-macam kaidah
pengungkapan, sebagai ilmu seni untuk meneliti
setiap uslub dan sebagai alat penjelas rahasia balghah.
Kajiannya mencakup tasybh, majz dan kinyah
2. Ilmu Mani: Ilmu ini mempelajari bagaimana kita
mengungkapkan suatu ideatau perasaan ke dalam
sebuah kalimat yang sesuai dengan tuntutan
keadaan.Bidang kajian ilmu ini meliputi: kalm dan
jenis-jenisnya, tujuan-tujuan kalm, washl dan
fashl, qashr, dzikr dan hadzf, jz, muswh dan
ithnb
3. Ilmu Bad: Ilmu ini membahas tata cara
memperindah suatu ungkapan, baikpada aspek lafazh
maupun pada aspek makna. Ilmu ini membahas dua
bidangutama, yaitu muhassint lafzhyyah dan
muhassint manawiyyah Muhassint lafzhyyah
meliputi: jins, iqtibs, dan saja Sedangkan
Muhassint manawiyyah meliputi: tauriyyah,
tibq, muqbalah, husn al-tall, takd al-
Madh bim yusybih al-al-Dzammm dan uslb al-
hakm
RANGKUMAN
1) Meningkatnya peran sosial, politik, ekonomi, dan
kebudayaan bahasa Arab memunculnya asimilasi
dengan budaya-budaya sekitarnya serta tidak dapat

29

dielakkan adanya kontaminasi terhadap bahasa
Arab murni. Kondisi inilah yang mendorong para
ulama untuk mengembangkan ilmu-ilmu
kebahasaaraban termasuk balghah;
2) Tokoh pertama yang mengembangkan ilmu bayn
adalahAbu Ubaidah, ilmu mani oleh al-Jhizh,
dan ilmu bad oleh Ibn al-Mutaz;
3) Balghah secara leksikal bermakna sampai.
Sedangkan secara terminologis balghah adalah
kesesuaian suatu kalm dengan situasi dan kondisi
disertai kefasihan yang tinggi serta terbebas dari
dhafu al-talf dan tidak taqd maknawiwa al-
lafzhi
4) Fashah al-balghah tergantung pada dua aspek, yaitu
balghahal-kalm dan balghah al-mutakallim
5) Dalam linguistik modern balghahsangat erat
kaitannya dengan semantic dan sosio linguistik;
6) Alquran adalah kitab suci yang mempunyai
tingkat balghah yang tinggi. Salah
satu kemukjizatan Alquran adalah pada aspek
bahasa;
7) Ilmu balghah mempunyai tiga bidang kajian, yaitu
ilmu bayn, ilmu mani, dan ilmu bad.

LATIHAN
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan
singkat dan tepat!
1. Jelaskan proses pengembangan peran dan
fungsi bahasa Arab dalam kehidupansosial,
politik, ekonomi, dan kebudayaan!

30

2. Bagaimana implikasi peningkatan peran tersebut
bagi kemurnian bahasa Arab? Berikan contoh
konkritnya!
3. Jelaskan pengertian balghah secara leksikal dan
terminologis!
4. Apa yang anda ketahui tentang kalm fashh dan balgh
5. Jelaskan secara singkat bahwa Alquran merupakan
kitab suci yang mempunyaikemukjizatan tinggi
dalam bahasany

II
Fashhah dan Balghah
Sebelum sampai kepada pembahasan bidang-bidang kajian
ilmu balghah terlebih dahulu akan dikemukakan
konsep tentang fashhah dan balghah kedua istilah ini
sangat terkait dan merupakan bagian yang tidak bisa
dipisahkan dari ilmu balghah

A. Definisi Fashhah
1. Fashhah Menurut Etimologi
Menurut etimologi fashhah berarti jelas, terang
dan gamblang. Sebagaimana firman Allah swt. dalam
al-Quran yang mengisahkan pernyataan nabi Musa
tentang nabi Harun:
/C4 C]NOE- 4O-
E=^ /j_g` L^=Og
"Dan saudaraku Harun, dia lebih jelas perkataannya
dibandingkan aku. (QS. al-Qashash [28]: 34)


31

Kata "

" pada ayat di atas berarti "lebih jelas


cara berfikir dan bertutur kata". Makna tersebut juga
diungkapkan Rasulullah dalam sabdanya:

"Saya orang yang paling fasih (jelas/terang) berbahasa


Arab.

Dalam ungkapan berbahasa Arab, terdapat
beragam penggunaan kata fashhah, di antaranya:

Anak itu sudah fasih berbicara. (Jika bicaranya jelas


dan terang).

Waktu Shubuh sudah fasih. (Jika cahayanya sudah


terang dan jelas).

Lidah itu sudah fasih. (Jika ia mampu mengungkapkan


maksudnya secara benar).
2. Fashhah Menurut Terminologi
Secara terminologi fashhah berarti lafaz yang
jelas, terang maknanya, mudah dipahami dan sering
dipergunakan para penyair dan penulis. Ia bernilai
indah dan bagus ketika dibaca dan didengar. Standar
untuk menilai baik atau buruk, lancar atau tidak
lancarnya pengucapan suatu kata adalah adz-dzauq as-
salm (taste of language) para penyair dan penulis. Hal
itu terbentuk berkat keseringan mendengar, menulis
dan merangkai kata-kata.

32

Dengan menguasai berbagai kecakapan tersebut
dapat dibedakan kalimat-kalimat yang memenuhi
kriteria-kriteria fashhah. Oleh karenanya, fashhah
menjadi sifat dari (kata), (kalimat) dan
(pembicara) adalah menurut dari sisi mana seseorang
menilainya.
Fashhah terbagi pada tiga macam, yaitu
a. Kalimah fashhah atau Fashhah al-Kalimah
(kata fasih)
Fashhah al-Kalimah ( ) yaitu kata
atau lafaz yang memenuhi unsur-unsur
fashhah. Agar suatu kata bernilai fashhah ada
beberapa kriteria yang harus terpenuhi,
sebagaimana disebutkan para ulama balaghah,
di antaranya harus terhindar dari hal-hal berikut:
1) Tanfur al-hurf , yakni kata-kata yang sukar
diucapkan.Contoh :

"aku membiarkannya makan rumput"
Pada ungkapan di atas terdapat kata huhuKata
ini terdiri dari dua huruf yaitu ha dan ain
yang dibaca secara berulang-ulang. Kata yang
terdiri dari huruf-huruf seperti ini biasanya
sulit diucapkan. Kata-kata yang terdiri dari
huruf-huruf yang sulit diucapkan
dinamakan tanfurul hurf
Contoh lain Seperti lafaz:

(tempat
yang kasar),

(air jernih dan tawar)



33

(tinggi kepang rambutnya), dan


(suara kodok)
22
.
2) Gharbah yakni suatu ungkapan yang terdiri dari
kata-kata yang asing, jarang dipakai, dan tidak
diketahui oleh banyak orang.Contoh :


Mengapa kalian berkumpul padaku seperti
menonton orang gila? pergilah!
Kata yang sulit artinya disini adalah taka'ka'tum
dan ifronqi. Kedua kata tersebut dianggap
gharabah, karena jarang digunakan sehingga sulit
mengartikannya
3) Mukhlafah al-qiys yakni kata-kata yang
menyalahi atau tidak
sesuaidengan kaidah umum sharaf. Contoh,

Sesuatu yang lentur akan sulit untuk ditegakkan,


dan sesuatu yang kerasakan sulit untuk
dilenturkan
Pada syiir di atas terdapat dua kata, yaitu

dan

Shgah (bentuk) kedua kata


tersebut tidak sesuai dengan kaidah-kaidah
ilmu Sharf.Jika mengikuti kaidah kedua kata
tersebut mestinya

dan


Contoh lain:


22
Dr. Fiti Abd. Al-Qadir Farid, Funun al Balaghah Bain
al-Quran wa kalam al-Arab, (Kuwait, Dar al-Liwa, 1980), 27

34

"Segala puji bagi Allah yang Maha Tinggi lagi
Maha Agung # Yang Esa, Maha Kekal lagi Maha
Permulaan."
susunan kata-kata yang dibentuk tidak
mengikuti kaidah-kaidah baku ilmu Sharf
pada contoh di atas adalah:

di mana
bentuknya yang baku berdasarkan ilmu sharf
adalah

.
Contoh lain adalah kata (terompet), di
mana bentuknya yang baku berdasarkan ilmu
sharf adalah sebagaimana disebutkan
dalam sebuah syair:


"Jika sebagian manusia menjadi pedang negara
# maka di antara mereka harus ada terompet dan
genderang."
b. Kalm fashih atau Fashhah al-Kalm ( kalimat )
Fashhah al-Kalm ( ) yaitu kalimat
yang memenuhi unsur-unsur fashhah. Hal ini
terwujud apabila semua kata-kata yang
membentuknya bernilai fashhah juga. Untuk
itu ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi,
di antaranya adalah harus terhindar dari hal-hal
berikut:
1) Susunan kalimatnya tidak tanfur yakni tidak
tersusun dari kata-kata yang berat atau sukar
diucapkan. Bisa jadi kata-katanya fash akan

35

tetapi susunannya sulit diucapkan, maka ia termasuk
kepada tanafur al-kalimt ,contoh:

Adapun kuburan musuh itu di tempat sunyi dan


tiada kuburan lain dekat kuburan itu
Susunan kalimat dalam syi'ir di atas dianggap
berat mengucapkannya, sebab berkumpul beberapa
kata yang hampir bersamaan hurufnya yakni pada
kalimat (

) terdapat tiga
huruf qaf dan empat huruf ra, yang disebut secara
berulang ulang
23
. Dalam bahasa Jawa kita mengenal
kalimat yang susah diucapkan karena faktor
pengulangan huruf huruf yang sama, yaitu: laler
menclok nyang lore rel
2) Susunan kalimatnya tidak dha'fu al-ta'lf
yaitu susunan kalimat yang lemah sebab
menyalahi kaidah ilmu nahwu atau sharaf,
seperti

(seharusnya)


Kecuali :

atau


Kalimat ( jumlah) yang terakhir ini
dibolehkan karena ada dhamr munfashil yang
kembali ke fa'il
3) Adanya taqd lafzhy (kerancuan pada kata-
kata). Suatu kalimat termasuk kategori taqd
lafzhy apabila ungkapan kata-katanya tidak

23
Dr. Fiti Abd. Al-Qadir Farid, Funun al Balaghah Bain
al-Quran...,30

36

menunjukkan tujuannya karena ada cacat dalam
susunannya, seperti kata Farazdaq:

Susunan kalimat di atas asalnya

Tiadalah seorangpun yang menyerupainya,


kecuali raja yang bapak ibunya itu masih hidup,
yaitu bapaknya (Ibrohim) yang menyerupai dia.
Maksudnya tiada di antara manusia yang masih
hidup yang menyerupaidia, kecuali raja yang
menyerupai bapak ibunya, yaitu Ibrahim.
4 ) Taqd manawi, seperti

Aku mencari tempat yang jauh dari kamu


sekalian, agar kamu kelak menjadi dekat
denganku dan supaya kedua mataku
mengucurkan air mata,kemudian supaya menjadi
keras
Maksudnya, sekarang aku lebih suka berpisah jauh
denganmu untuksementara waktu meskipun
sampai mengucurkan air mata karena
prihatin.Untuk mengambil makna dari syiir
di atas sangat sulit, sehingga dinamakan
taqd maknawi
c. Fashhah al-Mutakallim ( Pembicara )
Fashhah al-Mutakallim ( ), yaitu
malkah (kecakapan) seseorang dalam hal
mengungkapkan maksud dan tujuannya dengan

37

fashh dalam semua situasi dan kondisi, baik
ketika senang, sedih, kecewa, marah maupun
kondisi lainnya. Semua bentuk perasaan itu
mampu diungkapkan dengan kata-kata. Atau
pembicara yang mampu merangkai kata-kata
sehingga terbentuk ungkapan yang fashh ketika
menulis atau berbicara dengan orang lain.
B. Definisi Balghah
1. Balghah Menurut Etimologi
Menurut etimologi balghah berarti


(sampai) dan

(berakhir). Dalam ungkapan


bahasa Arab disebutkan bahwa:


(Fulan sudah sampai keinginannya). Contoh lain:

(Rombongan itu sudah berakhir di


Madinah sebagai tempat tujuannya).
2. Balghah Menurut Terminologi
Balghah menurut terminologi yaitu kesesuaian
antara konteks pembicaraan dengan situasi dan
kondisi audien (lawan bicara) disertai
penggunaan bahasa yang fashhah.
Balagah menjadi sifat dari (pembicara) dan
(kalimat). Sementara (kata) tidak bisa disifati
dengan balagah karena ia hanya terdiri dari hurup-
hurup yang tidak bisa dipahami maknanya. Di samping
itu ia sendiri tidak mampu menyampaikan si pembicara
kepada suatu maksud dan tujuan.
C. Unsur-unsur Balghah
Dalam balaghah ada 2 unsur prinsipil yang harus
diperhatikan:

38

1) Situasi dan kondisi ketika berbicara dengan orang
lain
Dalam bahasa Arab dinamakan / yaitu
keadaan yang menuntut pembicara mengungkapkan
kata-katanya dengan uslb (gaya bahasa) tertentu.
2) Bentuk tertentu yang dipergunakan dalam suatu
pengungkapan bahasa
Dalam bahasa Arab dinamakan

seperti uslb
ithnb (yaitu penggunaan kalimat yang panjang
tetapi maksudnya sedikit) dan biasa digunakan untuk
pujian. Tetapi kalau audien (lawan bicara) adalah
seorang yang cerdas, maka cukup menggunakan
uslb jz (yaitu penggunaan kalimat yang ringkas
tetapi maksudnya sarat dan padat). Jadi memuji dan
orang yang cerdas adalah (situasi dan
kondisi), adapun ithnb dan jz adalah
(tuntutan).
Mengungkapkan perkataan dalam bentuk ithnb dan
jz adalah . Ringkasnya keadaan yang
menyebabkan pembicara menyampaikan
perkataannya dengan bentuk tertentu dinamakan
atau . Adapun penyampaian perkataan
sesuai dengan tuntutan dan kedaaan tertentu
dinamakan . Jadi, balghah bukan
menyampaikan kata-kata yang bermakna indah atau
hanya memilih lafaz-lafaz yang jelas dan terang
tetapi ia harus memperhatikan penggunaan kedua
unsur tersebut yaitu lafaz dan makna secara
bersamaan.
D. Perbedaan Fashhah dengan Balghah

39

Terdapat perbedaan antara fashhah ( )
dengan balghah ( ), di antaranya dalam hal
berikut:
1) Obyek kajian fashhah khusus berkaitan dengan
lafaz. Adapun balghah obyek kajiannya di
samping berkaitan dengan lafaz juga berkaitan
dengan makna.
2) Fashhah adalah sifat dari (kata),
(kalimat) dan (pembicara). Adapun balghah
adalah sifat dari (kalimat) dan
(pembicara).
3) Salah satu syarat suatu ungkapan bernilai balagah
adalah (kalimat) yang gunakan untuk
mengungkapkannya harus memenuhi kriteria
fashhah sehingga muncul kaidah:

.
"Semua kalimat yang bernilai balghah itu pasti
memenuhi unsur fashhah, tetapi tidak semua kalimat
yang bernilai fashhah itu memenuhi unsur balghah."

III
ILMU MANI
TUJUAN
Setelah mengikuti proses pembelajaran ini
diharapkan peserta didik mengetahui: 1) Pengertian
mani; 2) Objek kajian ilmu mani; dan 3) Manfaat
mempelajariilmu mani.

BAHASAN

40

A. Pengertian
Kata (

) merupakan bentuk jamak dari (

).
Secara leksikal katatersebut berati maksud, arti atau
makna. Para ahli ilmu Bayn mendefinisikannyasebagai
pengungkapan melalui ucapan tentang sesuatu yang ada
dalam pikiranatau disebut juga sebagai gambaran dari
pikiran
Sedangkan menurut istilah: Ilmu Mani adalah
ilmu untuk mengetahuihal-ihwal lafazh bahasa Arab
yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi


Yaitu ilmu yang mempelajari kesesuaian antara konteks
pembicaraan dengan situasi dan kondisi sehingga
maksud dan tujuan bisa tersampaikan secara jelas dan
gamblang.
Yang dimaksud dengan hal ihwal lafazh bahasa
Arab adalah model-model susunan kalimat dalam
bahasa Arab, seperti penggunaan taqdm atau takhr,
penggunaan marifat atau nakirah, disebut (dzikr ) atau
dibuang (hadzf ),dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud
dengan situasi dan kondisi adalah situasi dan kondisi
mukhthab, seperti keadaan kosong dari informasi itu,
atauragu-ragu, atau malah mengingkari informasi
tersebut. Ilmu mani pertama kalidikembangkan oleh
Abd al-Qhir al-Jurzni.
Objek kajian ilmu bayn adalah kalimat-kalimat
berbahasa Arab.Ditemukannya ilmu ini bertujuan untuk
mengungkap kemukjizatan Alquran,hadits dan rahasia-
rahasia kefasihan kalimat-kalimat bahasa Arab, baik
puisimaupun prosa. Dengan melalui ilmu ini kita bisa

41

membedakan kalimat-kalimat yang sesuai dengan
situasi dan kondisinya mengetahui kalimat-kalimat
yang tersusun rapi, dan dapat membedakan antara
kalimat yang baik dan jelek.
Berdasarkan keterangan di atas, dalam ilmu
Man terdapat dua unsur yang perlu diperhatikan,
yaitu kondisi audien (pendengar) dan obyek (topik
pembicaraan).
1. Kondisi Audien (pendengar)
Pembicaraan harus disesuaikan dengan kapasitas
intelektual audien. Bahasa yang digunakan ketika
berbicara dengan orang yang tingkat intelektualnya
tinggi, tentu berbeda dengan orang yang tingkat
intelektualnya rendah. Misalnya penggunaan cara
berbahasa dengan seorang mahasiswa di perguruan
tinggi berbeda dengan seorang murid Sekolah Dasar
atau orang yang pernah mengenyam pendidikan
dengan orang yang tidak pernah mengenyam
pendidikan.
Kalau berbicara dengan orang terdidik kita cukup
menggunakan kalimat yang singkat dan padat bukan
bertele-tele. Dengan cara itu mereka sudah bisa
memahami dan menangkap maksud dan tujuan sang
pembicara, tetapi sebaliknya kalau kita berbicara di
hadapan orang yang tidak terdidik maka dibutuhkan
penggunaan kata-kata yang panjang dan bertele-tele
sekalipun maksud dan tujuan yang ingin
disampaikan hanya sedikit.
2. Obyek/Topik Pembicaraan

42

Obyek pembicaraan memegang peranan penting
dan substansial dalam ilmu maani. Obyek
pembicaraan juga harus disesuaikan dengan kadar
intelektual audien. Karena ada obyek pembicaraan
yang bisa dijangkau oleh audien dan sebaliknya ada
obyek-obyek pembicaraan yang tidak bisa
terjangkau oleh akal dan kadar keilmuannya.
Kemampuan menganalisa dan problem solving
(memecahkan masalah) tentu tidak akan mampu
dilakukan oleh anak-anak yang masih belajar di
bangku sekolah tingkat dasar.

B. Objek Kajian Ilmu Mani
Sebagaimana didefinisikan oleh para ulama
balghah bahwa ilmu man bertujuan membantu agar
seseorang dapat berbicara sesuai dengan muqtadhal
hal.Agar seseorang dapat berbicara sesuai dengan
muqtadhahl hal maka ia harusmengetahui bentuk-
bentuk kalimat dalam bahasa Arab. Kapan seseorang
harusmengungkapkan dalam bentuk taqdm takhr,
washl, fashl, dzikr, hadzf , dan bentuk-bentuk lainnya.
Objek kajian ilmu mani hampir sama dengan
ilmu nahwu. Kaidah-kaidah yang berlaku dan digunakan
dalam ilmu nahwu berlaku dan digunakanpula dalam ilmu
mani. Dalam ilmu nahwu dibahas masalah taqdm
dan takhr, hadzf, dan dzikr. Hal-hal tersebut juga
merupakan objek kajian dari ilmu mani. Perbedaan
antara keduanya terletak pada wilayahnya. Ilmu nahwu
lebih bersifat mufrad (berdiri sendiri), tanpa
terpengaruh oleh faktor lain seperti keadaan kalimat-
kalimat di sekitarnya. Sedangkan ilmu mani lebih
bersifat tarkbi (tergantung kepada factor lain). Hasan

43

Tamam menjelaskan bahwa tugas ahli nahwu hanya
sebatas mengotak-ngatik kalimat dalam suatu jumlah,
tidaksampai melangkah kepada jumlah yang lain.
Kajian dalam ilmu mani adalah keadaan kalimat
dan bagian-bagiannya. Kajian yang membahas bagian-
bagian berupa msunad-musnad ilaih dan fiil
mutaallaq. Sedangkan objek kajian dalam bentuk
jumlah meliputi fashl,washl, jz ithnb, dan
muswat .Secara keseluruhan ilmu mani mencakup
ada delapan macam, yaitu
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Kalimat dalam bahasa Arab disebut al-jumlah.
Dalam kaca mata ilmu nahwu dan dari sisi tarkib
(struktur), al-jumlah itu terdiri dari dua macam, yaitu
jumlah ismiyah (kalimat nominal) dan jumlah filiyah
(kalimat verbal). Dilihat dari segi fungsinya, al-jumlah
itu banyak sekali ragamnya.
1. jumlah ismiyah (kalimat nominal)
Pengertian jumlah ismiyyah menurut para pakar
nahwu adalah sbb:




44




Jumlah ismiyyah adalah suatu jumlah (kalimat)
yang terdiri dari mubtada dan khabar. Dari segi
fungsinya jumlah ismiyyah hanya menetapkan
sesuatu hukum pada sesuat, tidak yang lainnya
Jumlah ini tidak berfungsi untuk tajaddud dan
istimrr. contoh ( ). Dari contoh ini
tidak difahami selain menetapkan hukum gerak bagi
bumi tanpa melihat kapan pergerakan itu terjadi
Jumlah ismiyyah adalah suatu jumlah yang
tersusun dari mubtada dan khabar. Jumlah
ismiyah menurut asalnya digunakan untuk
menetapkan sesuatu terhadap sesuatu tanpa
memperdulikan kontinuitas dan pembaharuan.
Hal itu, apabila khabar-nya terdiri dari ism fail
atau ism maful, seperti ungkapan:

Sifat mukhtalifah adalah sifat yang melekat
pada anwauha, maka dengan jumlah itu
ditujukan untuk menetapkan sifat mukhtalifah
kepada anwauha tanpa pembatasan waktu
(lampau, sedang atau akan).

Lain halnya jika khabar -nya terdiri dari fiil,
seperti:

Kata ikhtalafat adalah fiil al-Madhi, maka
ungkapan di atas mengandung arti:Macam
macamnya telah berbeda (waktu lampau).Pada
jumlah ismiyah (kalimat nominal) mubtada

45

ditempatkan pada permulaan kalimat,
sedangkan khabar ditempatkan sesudahnya,
seperti:
;E^- *. _4O
--gUE^-
Namun, jika mubtada terdiri dari nakirah
(indefinitif article) dan khabar berupa prase
preposisi, maka khabar didahulukan, seperti:
OuLg` e4C-47
7eE^4O`
Pada contoh ini, maka (OuLg`) sebagai
khabar dan ( 7eE^4O` 7
e4C-47) sebagai mubtada
Karakteristik jumlah ismiyah adalah
membentuk makna tsubt (tetap) dan dawm
(berkesinambungan), contoh seperti kalimat
;E^- *. _4O
--gUE^-
2. jumlah filiyah (kalimat verbal)


(


) :

Jumlah filiyah ialah kalimat yang terdiri dari


fiil dan fail atau fiil dan naib fail.
Jumlah filiyah, mengandung makna
pembatasan waktu, yaitu waktu lampau, sedang
dan akan .Pada jumlah filiyah (kalimat verbal),
fiil (verba) itu dapat berbentuk aktif

46

(subyeknya melakukan pekerjaan atau
perbuatan) dan pasif (subyeknya dikenai
pekerjaan atau dikenai perbuatan)

Contoh jumlah filiyah dengan verba aktif
seperti:

Contoh jumlah filiyah dengan verba pasif


seperti
}4 _/E@O> El44N
1Og4O^- 4
O4O=E4- _/4EO
E7):4> g4^Ug`
Karakteristik jumlah filiyah tergantung kepada
fiil yang digunakan; fiil mdhi (kata kerja untuk
waktu lampau) membentuk karakter,bisa positif
dan bisa negatif.
contoh karakter positif seperti kalimat

contoh karakter negatif seperti kalimat


;e*l> .-E4C O).
UE_ OU>4
Sedangkan fiil mudhri (kata kerja untuk waktu
sedang dan akan, juga untuk perbuatan rutin)
membentuk tajaddud (pembaharuan),
contoh seperti
EC+C) +lu4^
EC+C)4 --g4-Oe
Selain melihat dari susunan unsur-
unsur yang membentuk jumlah ilmu nahwu
juga melihat isi kalimat dari sisi itsbt (positif)
dan manfi (negatif) nya saja. Jumlah mutsbatah

47

(kalimat positif) menurut al-Masih (1981), ialah
kalimat yang menetapkan keterkaitan antara
subjek dan predikat. Kalimat ini terdiri dari
unsur subjek dan predikat sebagai unsur
pokoknya. Kedua unsur tersebut dapat dijumpai
dalam jumlah ismiyah (kalimat nominal) dan
jumlah filiyah (kalimat verbal) .
Sedangkan Jumlah manfiyah (kalimat negatif)
merupakan lawan dari kalimat positif, yaitu
kalimat yang meniadakan hubungan antara
subjek dan predikat, seperti contoh berikut:
Cw)O^NLEc E
-/=O4> ) 4` 47.E-
+.- _ +O^^)
OUu4C 4O;_E^-
4`4 _O>uC4C
Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu
(Muhammad), maka kamu tidak akan lupa kecuali
kalau Allah menghendaki
C. Manfaat ilmu Mani
Ilmu mani mempelajari hal-hal yang berkaitan
dengan kalimat ( jumlah) bahasa Arab dan kaitannya
dengan konteks. Dengan mengetahui hal-hal tersebut
kita bisa menyampaikan suatu gagasan atau ide kepada
mukhthab sesuai dengan situasi dan kondisinya.
Dengan melihat objeknya mempelajari ilmu ini dapat
memberi manfaat sbb
1. Mengetahui kemukjizatan Alquran berupa segi kebagusan
penyampaian,keindahan deskripsinya, pemilihan diksi, dan
penyatuan antara sentuhanakan dan qalbu.
2. Menguasai rahasia-rahasia ketinggian dan kefashan
bahasa Arab baik pada syiir maupun prosanya.

48

Dengan mempelajari ilmu mani kita bias
membedakan mana ungkapan yang benar dan yang tidak,
yang indah danyang rendah, dan yang teratur dan yang tidak

RANGKUMAN
1. Kata merupakan bentuk jamak dari kata
. Secara leksikal kata tersebut bermakna arti
atau makna. Sebagai sebuah disiplin ilmu ia
mempelajari bagaimana agar ungkapan itu sesuai
dengan tuntutan situasi dankondisi.
2. Objek kajian ilmu ini adalah mencakup tatanan
kalimat dan bagian bagiannya. Pada tatanan kalimat
ilmu ini mengkaji masalah fashl, dan washl, jz
musawt dan ithnb. Sedangkan pada tataran bagian
kalimat ilmu ini membahas musnad dan musnad
ilaih,dan mutaaaliqatul fili
3. Manfaat yang diperoleh jika kita mempelajari ilmu
ini adalah dapatmengapresiasi ketinggian bahasa
Alquran dan bahasa Arab

LATIHAN
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini
dengan singkat dan tepat!
1. Jelaskan pengertian mani baik secara leksikal
maupun dalam terminologyilmu balghah!
2. Tulislah objek yang menjadi kajian ilmu mani!
3. Kemukakan objek kajian ilmu mani pada tataran
kalimat dan bagiannya!
4. Manfaat apakah yang akan diperoleh setelah
mempelajari ilmu mani?
IV

49

MUSNAD DAN MUSNAD I LAI H
TUJUAN
Setelah proses pembelajaran diharapkan peserta
didik dapat menguasai masalah-masalah yang berkaitan
dengan: 1) Pengertian musnad dan musnad ilaih 2)
Tempat-tempat musnad ilaih 3) Tempat-tempat musnad
ilaih 4) Me-makrifat kan musnad ilaih 5) Me-nakirah-
kan musnad ilaih 6) Menyebut musnad ilaih
7)Membuang musnad ilaih

BAHASAN
Jumlah atau kalm paling tidak terdiri dari dua
unsur. Kedua unsur tersebut dalam ilmu mani adalah
musnad dan musnad ilaih. Dalam ilmu ushul fiqh
musnad biasa dinamakan mahkum bih dan musnad ilaih
dinamakan mahkumalaih. Sedangkan dalam ilmu
nahwu posisi musnad dan musnad ilaih bervariasi
tergantung bentuk jumlah dan posisinya dalam kalimat.
Dalam istilah gramatikabahasa Arab dikenal istilah
umdah dan fadhlah, Umdah adalah unsur-unsur utama
dalam struktur suatu kalimat, sedangkan fadllah adalah
pelengkap. Fadllah dalam istilah ilmu mani dinamakan
qayyid
Kaitan antara musnad dan musnad ilaih dinamakan
isnd. Isnd adalah penisbatan suatu kata dengan kata
lainnya sehingga memunculkan penetapan suatu hukum
atas yang lainnya baik bersifat positif maupun negatif.
Contoh:

Pada contoh di atas ada dua unsur utama, yaitu kata


(

) dan (

) Makna dari kalimat di atas adalah



50

sifat esa ditetapkan kepada Allah. Kata (

) sebagai
musnad ilaih dan (

) sebagai musnad. Penisbatan


sifat esa kepadaAllah dinamakan isnd.

A. Musnad I laih
Secara etimologi musnad ilaih bermakna yang disandarkan
kepadanya. Sedangkan secara terminologis musnad ilaih
adalah:

Musnad Ilaih adalah mubtada yang mempunyai khobar,


fail, naibul fail, dan beberapa isim dari amil
nawasikh.
Dalam pengertian lain musnad ilaih adalah kata-
kata yang dinisbatkan kepadanya suatu hukum,
pekerjaan, dan keadaan. Posisi musnad ilaih dalam
kalimat terdapat pada tempat-tempat berikut ini
1) fil
2) nib al- fil


3) mubtada


4) isim ( ) dan sejenisnya
5) isim (

) dan sejenisnya


6) maful pertama (

) dan sejenisnya


7) maful kedua dari ( ) dan sejenisnya.

B. Musnad
Musnad adalah sifat, fiil atau sesuatu yang bersandar
kepada musnad ilaih. Musnad berada pada tempat-
tempat berikut ini:

51

1. Khabar mubtada
2. Fiil-tm
3. Isim fiil


4. Khabar ( ) dan akhwat- nya



5. Khabar (

) dan akhwat nya


6. Maful kedua dari (

) dan akhwat-nya


7. Maful ketiga dari ( ) dan akhwat-nya



C. Me-makrifat-kan Musnad I laih
Dalam konteks-konteks tertentu musnad ilaih
perlu dimarifatkan. Konteks-konteks tersebut
menunjukkan tujuan yang dimaksudkannya. Me-
makrifat-kan musnad ilaih bisa dengan berbagai cara,
seperti dengan mengungkapkan nama, dengan menggunakan
isim maushl, dan dengan isim isyrah. Masing-masing
dari cara pen-takrif-an tersebut mempunyai tujuannya
masing-masing.
1. Me-makrifat-kan dengan isim alam
Me-makrifat-kan dengan cara alamiyah
(menyebut nama) mempunyai beberapa tujuan sbb:
a) Menghadirkan dzat kepada ingatan pendengar
seperti firman Allah dalam surah al-Ikhlash ayat 1
~ 4O- +.-
NEO
b) Memulyakan atau menghinakan musnad ilaih,
seperti contoh di bawah ini,

52



c) Optimis dan berharap yang baik

2. Me-marifat-kan musnad ilaih dengan dhamr
Me-marifat-kan musnad ilaih dalam suatu
kalimat biasa juga dengan isim dhamr. sedangkan isim
dhamr mempunyai beberapa bentuk ,yaitu
a) Isim dhamr dalam bentuk mutakallim. contoh
sabda Nabi saw

Sayalah nabi yang tiada berdusta. Sayalah putera
Abd al-Muthallib.

b) Isim dhamr dalam bentuk mukhthab. contoh

Engkaulah orang yang mengingkariku Apa yang


engkau janjikan padaku, Dan telah kecewa
lantaran aku, Orang yang mencela kepadamu.

c) Isim dhamr dalam bentuk ghib, contoh

Dialah Allah yang maha suci lagi maha luhur


3. Me-marifat-kan dengan isim isyrah
Pe-marifat-an musnad ilaih dengan isim isyrah
dalam suatu kalimat mempunyai beberapa tujuan sbb
a) menjelaskan keadaan musnad ilaih, apakah
dekat, jauh atau sedang seperti kita berkata,
, ,

53

b) mengingatkan bahwa musnad ilaih layak
mempunyai sifat-sifat yang akan disebut
setelah isim isyarah,contoh
Elj^q _O>4N
O1- }g)` )_)O W
Elj^q4 N-
]O)U^^-
Dalam praktek berbahasa kadang-kadang kata
(

) yang menunjukkan dekat digunakan untuk


mengagungkan sesuatu yang ditunjuknya
seperti firman Allah,
Ep) -EOE-
4p-47O^- Ogg4
/^Ug g N4O^~
Akan tetapi kadang-kadang juga sebaliknya,
kata (

) digunakan untuk merendahkan


seperti firman Allah dalam surah al-Ankabut
64,
4`4 jOE-
7E_O4OE^-
.4Ou^O.- )
O;_ _Ug4
Demikian juga kata () yang menunjukkan
jauh digunakan untuk mengagungkan
sesuatu yang ditunjuknya, contoh
.- ElgO
CU4-:^- =UuC4O O
gOOg
Me-marifat-kan musnad ilaih dengan isim
isyrah merupakan cara untuk menghadirkan
sesuatu yang disyrahkan. Disamping itu ada

54

beberapa tujuanlain dari me-marifat-kan
musnad ilaih dengan isim isyrah, yaitu;
a) Menjelaskan keadaan musnad ilaih dalam jarak
dekat, Contoh

Inilah barang dagangan kita
b) Menjelaskan keadaan musnad ilaih dalam
jarak sedang, contoh

Itulah anakku
c) Menjelaskan keadaan musnad ilaih dalam jarak
jauh, contoh

Itulah hari ancaman/kiamat
d) Mengagungkan derajat musnad ilaih dalam
jarak dekat
Ep) -EOE-
4p-47O^-
Ogg4 /^Ug g
N4O^~
Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk
kepada jalan yang lurus

e) Mengagungkan derajat dalam jarak jauh,
contoh
ElgO CU4-:^-
=UuC4O O gOOg
Kitab Alquran itu tidak ada keraguan didalamnya
f) Meremehkan musnad ilaih dalam jarak dekat,
contoh firman Allah dalamsurah al-Anbiya
ayat 3

55

E- .-EOE- )
EO4=E :UuVg)`
Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia
biasa

g) Menampakkan rasa aneh


Banyak sekali orang yang berakal sempurna,
Sedang usaha kehidupannya lemah Dan banyak sekali
orang yang sangat bodoh,Yang anda jumpai penuh
rizqi, inilah yang meninggalkan kebingungan di
angan-angan, dan membuat orang alim berubah
menjadi kafir zindiq
h) Menyindir kebodohan mukhthab ,Contoh



Mereka itulah bapak-bapakku, Maka datangkanlah
kepadaku hai jarir semisal mereka, Ketika
beberapa perkumpulan,Telah menghimpun
kelompok kami
i) Mengingatkan bahwa yang di isyrahkan itu
pantas menyandang suatu sifat-sifat tertentu.
Elj^q _O>4N
O1- }g)` )_)O W
Elj^q4 N-
]O)U^^-

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari
tuhannya,dan merekaitulah orang-orang yang
beruntung.

56

4. Men-takrif-kan dengan isim maushl
Me-marifat-kan musnad ilaih dengan isim
maushl mempunyai tujuan-tujuan sbb
a) Sangat tidak baik jika digunakan dengan cara
sharh (jelas) seperti firman Allah dalam surah
Yusuf ayat 23
+O^>E144O4
/-- 4O- )
E_guO4 }4N
gOO^^^
dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di
rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan
dirinya (kepadanya)
b) mengagungkan seperti firman Allah taala
dalam surah Thaha 78
g4Og=4 =}g)`
gE47^- 4`
g4Og=EN
mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan
mereka.
Selain tujuan-tujuan di atas men-takrif-kan dengan
isim maushl juga mempunyai tujuan-tujuan sbb:
a).Menumbuhkan keingintahuan pada sesuatu,
yakni tatkala maksud shilah wa maushul
adalah hukum yang aneh seperti syiir berikut
ini

Makhluk dimana manusia, Bingung terhadapnya,


Adalah binatang yang tercipta, dari benda tak
bernyawa,

b) Merahasiakan suatu hal dari selain mukhthab

57

Aku telah mengambil apa Yang didermakan oleh


sang raja, Dan akupun menunaikan hajat-hajatku
sebagaimana ia inginkan.

c).Mengingatkan kesalahan mukhthab, contoh
Ep) 4g~-.-
]ONN;> }g` p1
*.- N14:gN
:71^` : ( 497 )
Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru
selain Allah itu adalah mahluk yang lemah yang
serupa juga dengan kamu.(al-Araf;194)
d) Mengingatkan kesalahan selain mukhthab.
Contoh

Sesungguhnya wanita yang mana hati anda,


mengira ia telah bosan terhadap anda, adalah
diciptakan untuk mencintai anda, sebagaimana
anda disiptakan untuk mencintainya
e) Menganggap Agung kedudukan mahkum bih.
Contoh


Sesungguhnya Zat yang meninggikan langit,adalah
yang mendirikan rumah untuk kita yang tiang-
tiang daripadanya,lebih mulia dan lebih panjang.

f) Mengejutkan karena
mengagungkan/menghina.

58

Contoh
g4Og=4 =}g)`
gE47^- 4`
g4Og=EN
Lalu mereka ditutup oleh laut yang
menenggelamkan mereka (Thaha; 78.)
g) Menganggap hina dalam menjelaskan nama
diri.contoh

Orang yang memeliharaku adalah ayahku



h) Menentukan suatu ketentuan pahala/siksa

Maka orang-orang yang beriman dan


mengerjakan amal-amal yangbaik,bagi mereka
ampunan dan rezeki yang mulia
i) Mencela.Contoh

Orang-orang yang berbuat baik padamu itu


,sungguh aku telah berbuat buruk terhadapnya.
j) Menunjukan keseluruhan. Contoh

Orang-orang yang datang kepadamu, maka


hormatilah mereka.
k) Menyamarkan. Contoh

Bagi setiap jiwa akan mendapat balasannya apa


yang telah ia kerjakan.
5. Men-takrif-kan musnad ilaih dengan Al ();
Alif lam merupakan salah satu alat untuk
memakrifatkan kata dalam bahasa Arab. Ada dua jenis

59

() yang perlu kita perhatikan, yaitu al lil ahdi dan
alliljins
a) Al lil ahdi fungsinya untuk menunjukkan
kekhususan pada sesuatu, contoh
.4E .4LUEcO
_O) ]O4NOg
LOc4O _/=E
NpO4NOg 4OcO-
+
Sebagaimana kami telah mengutus dahulu seorang
rasul kepada Firaun,maka Firaun mendurhakai
rasul itu.( al-Muzammil ; 15-16)
Partikel () pada kata (OcO- )
merupakan al lil ahdi, yaitu rasul yang disebut
kedua kali merupakan pengulangan dari rasul
yang pertama. Dan rasul yang dimaksud
adalah sudah diketahui yaitu Musa as.
c) al-liljins yaitu partikel ( ) berfungsi untuk
menunjukkan jenis dari makna yang ada pada
kata tersebut.
Al-liljins masuk ke dalam musnad ilaih karena
empat tujuan,yaitu
a) Mengisyarahkan kenyatan sesuatu makna
terlepas dari kaidah umumkhusus.Contoh

Manusia adalah binatang yang berfikir.



Al ( ) ini disebut juga lam jinis karena
mengisyarahkan keadaan jenis yang
dibicarakan dalam kalimat tersebut. Manusia
pada kalimat di atas adalah jenis makhluk
Allah.

60

b) Mengisyarahkan hakikat yang samar.Contoh
~4 p N-4C
CU^wg]~.-
Dan aku khawatir kalau kalau dia dimakan
srigala (Surah Yusuf; 13)
c).Mengisyarahkan setiap satuan yang bisa
dicakup lafazh menurut bahasa.Contoh


Dia mengetahui yang ghaib dan yang tampak
d) Menunjukkan seluruh satuan dalam kondisi
terbatas

Sang raja mengumpulkan para pedagang dan


menyampaikan beberapanasehatnya pada mereka.
Maksud ungkapan di atas adalah bahwa raja
mengumpulkan para pedagang kerajaanya,
bukan pedagang dunia seluruhnya.
6. Me-marifat-kan musnad ilaih dengan idhfah
Salah satu bentuk dalam me-marifat-kan musnad
ilaih adalah dengan idhfah Dengan di-idhafat-kan pada
kata lain suatu kata yang asalnya nakirah berubah
menjadi marifat .Ada beberapa tujuan me-marifat-kan
musnad ilaih dengan di-idhofat-kan pada salah satu isim
marifat, yaitu ;
a) Sebagai cara singkat guna menghadirkan
musnad ilaih di hati pendengar,contoh:

Pembantu mudaku telah dating


Kalimat diatas lebih singkat dibanding kalimat

Telah datang pembantu muda yang menjadi miliku




61

b) Menghindarkan kesulitan membilang-bilang

Para ahli kebenaran telah sepakat terhadap


masalah demikian.
e) Keluar dari tuntutan mendahulukan
sebagian atas sebagian yang lain.contoh

Sejumlah pimpinan tentara telah datang


d) Menagungkan mudhaf dan mudhaf ilaih. Contoh

Surah sang raja telah datang



Sang Raja adalah muridku
e) Meremehkan.Contoh

Anak pencuri itu datang



7. Men-tarif-kan Musnad ilaih dengan nid
Mentakrifkan musnad ilaih pada suatu kalimat
mempunyai beberapa tujuan,yaitu
a) Bila tanda-tanda khusus tidak dikenal oleh
mukhthab

Hai seorang laki-laki!


b).Mengisyarahkan kepada alasan untuk
sesuatu yang diharapkan, contoh

Hai murid! Tulislah pelajaran!)


8. Me-nakirah-kan musnad ilaih
Dalam konteks-konteks tertentu kadang-kadang
musnad ilaih perlu di-nakirah-kan (tidak tentu). Pe-

62

nakirah-an musnad ilaih tentunya mempunyai tujuan-
tujuan tertentu. Di antara tujuan pe-nakirah-an musnad
ilaih adalah menunjukkan jenis sesuatu, menunjukkan
banyak, dan menunjukkan sedikit. Untuk lebih jelasnya
kita perhatikan contoh-contoh berikut ini:
a). nakirah yang menunjukkan jenis,
=4E= +.- _O>4N
)_)OU~ _O>4N4
)_g;Ec W -O>4N4
g-@O=
E4O4=gN
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran
mereka, dan penglihatan mereka ditutup


Pada ayat di atas terdapat kata yang di-nakirah-
kan, yaitu kata E4O4=gN penakirahan kata
tersebut bertujuan untuk menunjukkan suatu jenis
E4O4=gN yang tidak banyak diketahui oleh
manusia. Jenis E4O4=gN tersebut adalah
tertutupnya mata seseorang dari melihat ayat-ayat
Allah

b). Nakirah untuk menunjukkan banyak seperti
firman Allah dalam surah al-Araf ayat 113,
W-EO7~ ]) 4L
-O;_V
beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun
mengatakan: "(Apakah) Sesungguhnya Kami akan
mendapat upah, jika kamilah yang menang?"



63

Pada ayat di atas terdapat kata yang di-nakirah-
kan yaitu kata (-O;_

) Pe-nakirah-an kata
tersebut bertujuan untuk menunjukkan banyaknya
pahala yang akan mereka terima.

c(. Nakirah menunjukkan sedikit seperti firman Allah
dalam surah al-Taubah ayat72
E4N4 +.-
--gLg`u^-
geE4g`u^-4
eELE_ O@O^_` }g`
E_g-^4` NOE_u^-
4g)-E= OgOg
=}=O4`4 LO4:j1C )
geELE_ p;4N _
p4O;jO4 ;g)` *.-
+O4-
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin,
lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang
dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di
dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus
di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar
Pada ayat di atas Allah menggunakan isim
nakirah untuk mengungkapkan surga yaitu dengan kata
(eELE_ )
Penggunaan isim nakirah menunjukkan bahwa
surga itu kecil dan sedikitnilainya dibandingkan
dengan ridha Allah swt. Ridha Allah merupakan
sumber dari berbagai kebahagiaan hidup manusia.
d) Merahasiakan perkara.Contoh

Seorang lelaki berkata, Engkau telah menyimpang


dari kebenaran.

64

Pada contoh diatas nama dari musnad ilaih tidak
disebutkan bahkan disamarkan, agar ia tidak
ditimpa hal yang menyakitkan.
e) Bertujuan untuk makna mufrad (tunggal)

Satu kecelakaan adalah lebih ringan daripada dua


kecelakaan
f( Menjelaskan jenis/macamnya

Bagi setiap (macam) penyakit ada (satu macam) obat



Kalimat di atas secara rincinya adalah


Bagi setiap macam penyakit, ada obatnya
9. Musnad Ilaih disifati dengan naat
Mensifati musnad Ilaih dalam ilmu maani
memiliki beberapa tujuan, antara lain:
a) menjelaskan keadaan musnad ilaih yang
sesungguhnya ( ). Contoh,

Benda yang panjang lebar dan dalam membutuhkan


tempat yang longgar yang memadahi
Contoh lain: seperti perkataan Aus ibn Hajar
dalam mensifati orang yang cerdas berikut ini.

24

Sesungguhnya orang yang memadukan sifat berani,
cerdik, baik, dan taqwa, adalah orang cerdas, yang

24
Ibn. Yaqub al Gharbi, Syuruh a-Talkhish,Juz:1 (Kuwait,
Nasyr Adab al-Hauzah, tt), 362

65

dugaanya terhadap kamu benar, seolah olah dia
melihat dan mendengar.

b) mengistimewakan musnad ilaih dengan sifat yang
membedakan dari yang lainya ( ).
Contoh,

Pelajar yang rajin telah berkunjung ke rumahku



Zaid pedagang berada di rumahku
c) untuk mencela musnad ilaih ( ). Contoh,

Zaid yang bodoh itu telah pergi


d) untuk memuji musnad ilaih ( ). Contoh,

Zaid yang alim itu telah datang


Pada contoh no 3 dan 4 di atas, kalau mukhathab
sudah mengetahui siapa yang dimaksud dengan
zaid, maka mendatangkan sifat (

)
bertujuan untuk mencela atau memuji, akan tetapi
apabila mukhathab belum mengetahuai siapa
yang dimaksud zaid, maka mendatangkan sifat di
atas bertujuan untuk men-takhshish
e) untuk menegaskan dan mengukuhkan musnad
ilaih ( ). Contoh,


25

Satu kali ketukan dapat membangunkan khalid dari
tidurnya

25
Ilal Nurim, Jadid ats-Tsalah al-Funun fi Syarh Jauhar
al-Maknun, juz,1 (at-Tar al-Baidla 2007), 117

66

Kata (

) pada contoh di atas berwazan (

)
yang menunjukan arti satu kali pekerjaan atau
menunjukan (

), kemudian disifati
dengan kata (

) sebagai penguat atau


penegas
26
.
f) untuk menentukan atau mengkongkretkan
musnad ilaih ( ). Apa bila musnad ilaih
berupa kata yang relatif (

), Contoh,


Tidak ada seekor pun burung merpati di muka bumi
ini kecuali berkicau
musnad ilaih-nya (

) sifatnya (

),
kalau tidak disifati dengan (

), bisa juga
dipahami burung merpati yang di kebun.
27

g) menambah ke-umuman musnad ilah
28
, Contoh,

Tidak ada binatang yang melata di muka bumi dan


tiada pula burung yang terbang di udara kecuali
rizkinya di jamin oleh Allah
Dua kata (

dan

) berupa isim jins dan


sudah menunjukan arti umum, setelah disifati
dengan kata (

dan

) sifat
umumnya lebih menyeluruh (

)
29

10.Men-taukidi musnad ilah

26
Ibid, 117
27
Ibid, 117
28
Hasil penemuan az-Zamakhsyari
29
Abdul Mutaali as Shaidi, Bughyah al idlah....., 110

67

Men-taukidi musnad Ilaih dalam ilmu maani
memiliki beberapa tujuan, antara lain:
a) Menetapkan makna musnad ilah kepada sami
(

) seperti:


Dikatakan

dua kali agar sami


keyakinannya mantap bahwa yang datanh itu
zaid (musnad ilah) bukan orang lain.
b) Menolak prasangka sami bahwa mutakallim
lupa, seperti:


Sebelum menyebutkan kata

, boleh jadi
sami berprasangka bahwa mutakallim lupa,
yang datang itu orang lain bukan zaid
c) Menolak prsangka majaz, seperti:

Sebelum menyebutkan kata

, boleh jadi
sami berprasangka bahwa yang datang itu
bukan raja melainkan ajudannya atau utusannya
d) Menolak anggapan tidak mencakup seluruhnya
(

), seperti:


11. menyertakan athaf bayan pada musnad ilaih
bertujuan antara lain untuk:
a) memperjelas musnad ilaih dengan isim yang
khusus baginya ( ).
Contoh.

(temanmu khalid telah


datang)
Mendatangkan Athaf bayan pada contoh di atas
untuk memperjelas maksud musnad ilaih dalam

68

arti menghilangkan relatifitas makna, kalau
hanya disebutkan (

), mengandung
berbagai kemungkinan karena teman mukhathab
itu banyak tidak hanya khalid.
Dan lagi untuk memperjelas maksud musnad
ilaih, athaf bayan yang didatangkan tidak harus
berupa kata yang lebih khusus dan lebih terang,
sebab kejelasan maksud terkadang diperoleh
dari penggabungan mathuf dengan mathuf
30

ilaih-nya.
Contoh: orang yang bernama umar tidak hanya
satu orang, melainkan ada sepuluh orang
bahkan lebih, dengan kinayah yang berbeda
beda, dan salah satunya Abu Hafsh. Sebaliknya
orang yang berkinayah Abu Hafsh juga ada
sepuluh orang bahkan lebih, dengan nama yang
berbeda beda, salah satunya Umar, kemudian
dikatakan

(telah datang Abu


Hafsh yang bernama umar) maka maksudnya
menjadi jelas.

Contoh lain:

Demi zat yang melindungi binatang binatang liar


yang berlindung (di tanah haram), yaitu burung
burung yang dibelai para rombongan menuju
mekkah yang berjalan melewati desa ghail dan
sanad.

30
Ibn. Yaqub al Gharbi, Syuruh a-Talkhish,Juz:1..., 373

69

Musnad ilaihnya berupa kata (

) yang
berarti binatang binatang liar yang berlindung di
tanah haram tidak hanya burung. Sedangkan
Athaf bayan-nya (

) yang berarti burung


baik yang berlindung di tanah haram ataupun
tidak. Setelah dua kata itu digabungkan dengan
cara athaf bayan maka maksudnya menjadi
jelas yaitu burung burung yang berlindung di
tanah haram
31

b) memuji musnad ilaih
32
. Contoh:
EE_ +.- O4:u^-
=e^14l^- 4-4OE^-
V41g~ +EELUg 4
Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu
sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi
manusia
Kata
(-4OE^-=e^14l^
- ) adalah athaf bayan bagi kata
(O4:u^-), ia didatangkan tidak
untuk memperjelas melainkan untuk memuji,
sebab kata (O4:u^-)
maksudnya sudah jelas tanpa adanya kata
(-4OE^-=e^14l^
- )
33
,
Perlu diketahui bahwa Athaf bayan itu hampir
sama dengan na'at / sifat , hanya perbedaannya sebagai
berikut:

31
Ibid, 374
32
Pendapat az-Zamakhsyari dalam tafsir al Kasyaf
33
Ibn. Yaqub al Gharbi, Syuruh a-Talkhish,Juz:1..., 374

70

a) Na'at untuk menjelaskan sifat sifat man'utnya
yang masih samar. Contoh:

Telah datang Abu Hafsh yang bersifat mulia.


b) Athaf bayan untuk menjelaskan esensi maksud
ma'thuf alaih-nya. Contoh:

Telah datang Abu Hafsh yakni Umar


12. Mendatangkan badal bagi musnad ilaih dalam
ilmu maani bertujuan antara lain untuk:
a) Memperjelas dan memperkuat ketetapan hukum
bagi musnad ilaih yaitu bagi badal-kul minal-
kul. Contoh:

Telah datang saudaramu si zaid


Ketika disebut kata (

) pada contoh di atas,


sesungguhnya sami (audien) sudah faham, dan
ditambah dengan kata ( ), pemahamannya
lebih mantap.
Contoh yang lain (AS. Al-Fatihah: 6-7)
4^gu--
EO4O_^-
474-O^-
EO4O 4g~-.-
=e;Eu^ )_^OU4N
)OOEN O_^E^-
)_^OU4 4
4-g._-
Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada

71

mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan
bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

b) Untuk menghasilkan maksud yang esensial dari
musnad ilaih yaitu ketika badalnya ba'dhi
minal-kul atau isytimal.
Contoh badal ba'dhi minal-kul,

Telah membuat aku kagum si gadis itu, yaitu kedua


matanya
Contoh badal isytimal

Telah membuat aku kagum profesor itu, yaitu


ilmunya
Katika menyebutkan kata (

),pada contoh
badal ba'dhi minal-kul di atas, memang itulah
maksud yang esensial yang dikehendaki oleh
mutakallim. Begitu pula ketika menyebutkan
kata (

) pada contoh badal isytimal


Badal ghalath tidak termasuk dalam kajian ilmu
maani sebab ia tidak termasuk kalam fashih

13. Menyertakan athaf nasaq pada musnad ilaih
dalam ilmu maani memeliki bebera tujuan
antara lain untuk
a) Merinci dan meringkas musnad ialaih, yaitu
apabila huruf athafnya menggunakan (),
Contoh

Umar, khalid, dan zaid telah mengambil


tunjangan fungsional
Struktur kalimat dengan sistem athaf nasaq
seperti contoh di atas lebih ringkas dari pada

72

ungkapan dengan tidak menggunakan athaf
nasaq, seperti:

b) Merinci dan meringkas musnad, yaitu apabila


huruf athafnya menggunakan (

), Contoh
1 .

2 .

3 .

c) Meringkas dan mengembalikan hukum yang


benar kepada sami (meralat). Contoh,

Telah datang zaid bukan umar


d) memindahkan hukum dari suatu perkara
kepada perkara yang lain. Contoh

Tidaklah datang zaid, melainkan umar.



e) Ada unsur keragu-raguan pada diri
mutakallim,. Contoh,

f) Menanamkan keraguan kepada


sami.(pendengar) Contoh,


73

Laila menganggap aku lelaki yang durjana,
memangnya diriku yang bersih, ataukah dia yang
durjana.
g) Mengaburkan atau membingungkan
pendengar (

). Contoh, (QS. Saba:24)


^^)4 u
+C) _O>E
O- u O)
U= --)lG`
dan Sesungguhnya Kami atau kamu (orang-
orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran
atau dalam kesesatan yang nyata.
h) 1. Menyerahkan pilihan Contoh,


Nikahilah Hindun atau saudara perempuannya.

2. Mengizinkan atau membolehkan. Contoh,

Silahkan masuk rumah zaid atau khalid.


14. Memasang dlamir pemisah sesudah musnad
ilauh bertujuan antara lain:
a) Mentakhshish musnad ilaih dengan musnad.
Contoh
W-EONUu4C Ep
-.- 4O- N4l^4C
O4O+-- ;}4N
jg14lgN
34

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah
menerima taubat dari hamba-hamba-Nya

34
Q.S. at-Taubah: 104

74

c) Men-takidi takhshish, apabila di dalam
struktur kalimat sudah ada kata lain yang
mentakhshish. Contoh,
Ep) -.- 4O-
C-O+-- O1gOO-
Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima
taubat lagi Maha Penyayang.
d) Untuk membedakan antara khabar dengan
sifat. Contoh

Dengan adanya dlamir (

), menunjukan
bahwa kata sesudahya yakni (

) menjadi
khabar (prediket) dari kata sebelumnya,
yakni (

), bukan sifatnya.
15) Mendahulukan musnad ilaih dari pada musnad
dalam ilmu maani memiliki beberapa tujuan (sasaran),
antara lain:
a) karena Asal (asalnya memang didepan),
sebab ia sebagai obyek hukum ( )
sesuatu yang akan dihukumi seharusnya
dimunculkan terlebih dahulu sebelum
hukumnya. Contoh,

Muhammad seorang penyair


b) bikin penasaran sehingga ingin mengetahui
khabar-nya. Contoh,

Adapun yang menggoncangkan daratan itu, ialah


binatang yang diciptakan dari benda mati
(manusia)

75

c) Menikmati (rasa nikmat mendorong untuk
mendahulukan musnad ilaih). Contoh,

(Hore!) anaku telah lulus ujian


d) Memuliakan/menghormati ( ).
Contoh,

Al-Quran itu terpelihara


e) Pelecehan (bermaksud untuk menghina).
Contoh,


Anak koruptor datang
f) Memberi perhatian (attensi) pada musnad
ilaih. Contoh,


Kyaiku datang
g) memelihara nadzam (dlarurat syiir karena
wazan). Contoh.

35

Kamu jangan terperdaya oleh pakaian bersih,
sebab ia dicuci dengan air dan sabun bisa bersih.
Sebagaimana telur rusak, kulitnya putih tapi
dalamnya busuk
Musnad ilaih yang didahulukan adalah
(

), karena memelihara wazan qafiyah.




35
Ilal Nurem, Jadid ats-Tsalatsah al-Funun...Juz 1, 130

76

h) Optimis (selalu berharap kebaikan atau
berekah). Contoh,

Orang orang sukses menanyakan anda.


i)

"5. Untuk menghinakan; 6. mementingkan; 7. darurat nadham atau
sajak; 8. mengharap sempana/berekah; 9.
mengkhususkan musnad ilaih bagi musnad; 10. untuk maksud
umum kalau musnadnya menyertai hurul salah (nafi), sebab kalau
begitu menunjukkan umum nafi (meskipun tidak berarti
keseluruhannya, melainkan umumnya saja dan kebalikan dari
umum nafi,
ialah nafi umum, maksudnya menafikan keseluruhannya, tiada
sebagianpun yang tidak manfi)". 5. Menghinakan, seperti: 6.
Mementingkan, seperti: 7.a. Darurat nadham karena wazan,
seperti:
Artinya: "Cukuplah saksi bagi kecintaanku kepadamu dengan
hatimu, sebab hati itu saksi yang paling adil untuk diangkat saksi".
Dan firman Allah:
Artinya: "Tiadalah hati itu berdusta terhadap apa-apa yang ia
pandang". b.Darurat qafiyah (ujung bait), seperti:
Artinya: "Janganlah menipumu pakaian yang bersih itu, sebab
dengan sabun dan airpun bisa bersih. Laksana telur yang rusak,
kulitnya putih, akan tetapi di dalamnya bau seperti bangkai".
c. Darurat sajak, seperti:
Artinya: "Kataku: Kapankah bersua lagi wahai kekasih! Jawabnya:
Jangan panik! sebentar lagi bisa berjumpa".
8.Mengharap berkah, seperti: 9. Menganggap keji, seperti: =
Pebuatan keji itu di rumahmu. 10.Mengkhususkan musnad ilaih
bagi
musnad, yaitu terbagi atas: a.Bila didahului huruf nafi, seperti: =
Saya sama sekali tidak mengucapkan ini. b.Kalau tidak didahului
nafi, gunanya untuk tahshish, seperti: = Saya telah berbuat
mengenai kebutuhanmu, bukan untuk orang lain. c.Untuk
menguatkan
hukum, seperti: = Dia memberi barang yang berharga, atau seperti:
= Kamu tidak berdusta. Kalimat ini lebih menguatkan hukum
dari kata: , sebab kalau lafazh tekanannya pada kalimat ,
sedangkan pada lafazh pada lafazh . Yang demikian itu kalau
musnad

77

ilaihnya dengan isim marifat dan musnadnya fiil. Kalau musnad
ilaihnya isim nakirah, dimaksudkan untuk mentakhshish jenis,
seperti: atau dimaksudkan hanya seorang, tidak banyak dari laki-
laki yang datang itu. 11.Untuk mengumumkan nafi, ialah bila lafazh
"kullu" diidhafatkan kepada musnad ilaih dan musnadnya disertai
nafi, seperti: = Seluruh manusia tidak berdiri. Yakni: seorangpun
tiada yang berdiri. Kalau lafazh "kullu" didahului nafi, maksudnya
untuk salab-umum menafikan umum, meskipun mengecualikan
salah satunya, seperti syair: Artinya: "Tiadalah setiap perkara yang
diharapkan oleh manusia itu bisa tercapai, sebab anganpun
suka bertiup dengan tidak sekehendak tukang perahu". Sebagian
tercapai, sebagian lagi tidak.
Meskipun demikian, adakalanya angin itu bertiup
sesuai dengan keinginan tukang perahu.
Al-Dzikr secara leksikal bermakna menyebut. Sedangkan
dalam terminologi ilmu balghah Al-Dzikr adalah
menyebut musnad ilaih Al-Dzikr merupakan kebalikan
dari al-Hadzfu. Contoh

(
Dalam praktek berbahasa Al-Dzikr (menyebut
musnad ilaih) mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1) Al-dhh wa al-tafrq (menjelaskan dan membedakan)
Penyebutan musnad ilaih pada suatu kalimat salah
satunya bertujuan untuk menjelaskan subjek pada
suatu nisbah. Jika musnad ilaih itu tidak
disebutkan maka tidak akan muncul kesan
kekhususannya. Contoh,

sebagai jawaban dari


3) Ghabwatul mukhthab (menganggap mukhthab


bodoh)
Mutakallim yang menganggap mukhthab tidak tahu
apa-apa ia akan menyebut musnad ilaih pada suatu
kalimat yang ia ucapkan. Dengan menyebut

78

musnad ilaih mukhthab mengetahui fil,
mubtada , atau fungsi-fungsi lain yang termasuk
musnad ilaih Demikian juga akan terhindar dari
kesalahfahaman mukhthab pada ungkapan yang
dimaksud

4) Taladzdzudz (senang menyebutnya) Seorang
mutakallim yang mencintai sesuatu ia pasti akan banyak
menyebutnya. Pepatah mengatakan

barang siapa yang mencintai sesuatu ia pasti akan


banyak menyebutnya

Jika mutakallim mencintai musnad ilaih ia pasti akan
menyebutnya, dan tidak akan membuangnya.

G. Membuang Musnad ilaih
Al-Hadzfu secara leksikal bermakna membuang.
Sedangkan maksudnya dalam terminologi ilmu balghah
adalah membuang musnad ilaih. Al-Hadzfu
(membuang musnad ilaih) merupakan kebalikan dari al-
Dzikru (menyebut musnad ilaih). Dalam praktek
berbahasa, al-Hadzfu mempunyai beberapa tujuan, yaitu
1. Untuk meringkas atau karena sempitnya konteks
kalimat, contoh:

Pada dialog di atas terdapat kalimat yang musnad ilaih-


nya,yaitu pada kata (

), Kalimat lengkapnya adalah


(

)
Dalam sebuah syiir terdapat suatu ungkapan


79

Kalimat lengkap dari ungkapan tersebut adalah

Kata yang dibuang pada kalimat di atas adalah musnad


ilaih -nya, yaitu (

)

2. Terpeliharanya lisan ketika menyebutnya, contoh

Pada ayat kedua terdapat lafazh yang dibuang, yaitu kata


(

) yangkedudukannya sebagai musnad ilaih.


Kalimat lengkapnya adalah (

)

3. Li al-hujnah (merasa jijik jika menyebutnya) Jika
seseorang merasa jiji menyebut sesuatu - apakah nama
orang atau benda -ia pasti tidak akan menyebutkannya
atau mungkin menggantikannya dengankata-kata lain
yang sebanding.

4. Li al-Tamm (generalisasi)Membuang musnad
ilaih pada suatu kalimat juga mempunyai tujuan
untukmengeneralkan pernyataan. Suatu pernyataan yang
tidak disebut subjeknya secara jelas akan menimbulkan
kesan banya pesan itu berlaku untuk umum(orang banyak)

5. Ikhfu al-amri an ghairi al-mukhtha. Kadang-
kadang seorang mutakallim ingin merahasiahkan
musnad ilaih kepadaselain orang yang diajak bicara
(mukhthab). Untuk itu ia membuang
musnad ilaih, sehingga orang lain tidak mengetahui
siapa subjeknya.


80

H. Al Khuruj 'An Muqtadla Al Dhahir (statemen
inkonsekutif)
a) prolog
36

Sebelum menyelami pembahasan tentang bab ini
lebih mendalam, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa,
ada tiga istilah dalam balaghah yang sangat erat
hubungannya dengan bab ini. Di antaranya:
1. Al-Hal
Al-Hal adalah kondisi yang memicu mutakallim
menyampaikan sebuah statemen. Baik kondisi
tersebut dimunculkan oleh mukhathab, atau
dikarenakan hal-hal lain yang mempengaruhi pola
kalimat yang disampaikan. Intinya, Al Hal bisa
diukur dengan konteks atau imajinasi mutakallim.
2. Dhahir Al-Hal
Dhahir Al-Hal adalah Kondisi yang menuntut
mutakallim mengungkapkan statemennya sesuai
dengan kondisi tersebut untuk
mendeskripsikannya. Contoh, dalam menyampaikan
statemen, seorang pembicara yang baik pasti
memperhatikan psikologi lawan bicara secara benar,
dan kemudian mengkombinasikan antara suasana

36
prolog[n] pembukaan (sandiwara, musik, pidato, dsb);
(kata) pendahuluan; peristiwa pendahuluan: sandiwara dibuka dng
prolog yg diucapkan oleh pemeran utama




81

hati dan kondisi sekitar untuk berimajinasi, baru ia
menguraikan statemennya secara tepat dan
jelas. Jadi, kapan mutakallim harus berbicara
panjang lebar atau bersingkat kata , Barometernya
ada pada kondisi psikis mukhathab (lawan bicara),
antara blank, khawatir atau menentang. Kondisi
mukhathab yang menuntut penerapan statemen
disebut "Dhahir Al Hal". yang artinya, dhahirul hal
hanya ibarat benang merah antara pernyataan dan
kenyataan. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa
setiap statemen yang sesuai dengan "Dhahir Al Hal",
pasti sesuai dengan Al Hal, bukan sebaliknya.
3. Takhrij Al kalam 'ala wifqi muqtadla al dhahir
(statemen konsekutif)
Yaitu, mendiskursi sebuah statemen berdasarkan
kondisi yang menuntutnya. Seperti contoh-contoh di
semua bahasan balaghah yang absah fashahiyah
dan balaghiyah-nya.
Dari uraian singkat di atas, dapat dengan mudah
dipahami bahwa, maksud Al Akhdlari meletakkan
bab ini di antara Ahwal Musnad Ilaih (subyek) dan
Ahwal Musnad (predikat), adalah agar jangan
sampai terjadi kerunyaman pembahasan saat kita
sudah berenang lebih dalam, di mana saat kita
tengah mengarungi samudra ilmu ma'ani ternyata
kita bermasalah dengan pembahasan awal yang
belum terjamah sama sekali. Maka untuk
mengantisipasinya, tepat sekali Al Akhdlari
mewanti-wanti para pegiat retorika Sastrawi ini agar

82

mempersiapkan pemahaman soal statemen yang
konsekutif dan inkonsekutif.
Perlu diketahui juga, bahwa cakupan bab ini
memiliki kapasitas pembahasan makro dan mikro.
Makro artinya, tidak berpusat pada tela'ah musnad
Ilaih saja. sedangkan mikro artinya, berstressing pada
pengamatan musnad Ilaih
b) Definisi
Dr. Isa Ali Al 'akub mendefinisikan Al khuruj' an
muqtadla al dhahir dengan sederhana sekali, yakni
menguraikan statemen yang tidak sesuai konsekuensi
kaidah yang telah digariskan. Artinya, statemen
tersebut sebenarnya mendeskripsikan sebuah konteks
yang jelas, akan tetapi disengaja tidak sesuai kondisi
mukhathab serta situasi sekitar, melainkan berdasar
pada subyektivitas imajinasi mutakallim yang
dimotivasi oleh tujuan-tujuan tertentu. Contoh: saat ada
orang yang mengagung-agungkan paham pluralisme
dan berkeinginan untuk menegaskan argument agar
faham tersebut diterima oleh masyarakat setempat,
maka ia menggunakan statemen yang sebenarnya tidak
sesuai dengan tuntutan akal mukhathab secara reflex,
namun sangat kontekstual dan lebih elegan untuk
diucapakan. Masyarakat mengatakan, "tolong
selamatkan muslimin Indonesia dari pluralisme!!!" Lalu
sang retor menjawab: "saudara-saudara sekalian,
pluralitas adalah sunnatullah, siapapun yang menentang
sunnatullah, sama halnya ia memusuhi fitrahnya
sendiri". Di sana ada unsur Uslubul Hakim yang jika
mukhathab tidak jeli, ia hanya akan menjadi korban

83

statemen para retor yang canggih bersilat lidah. Tidak
kah beda antara pluralisme dan pluralitas?
c) Pemetaan dan tujuan
Di antara sub pembahasan yang masuk dalam
kategori Al Khuruj 'an muqtadla Al Dhahir yaitu:
c.1) Skala mikro (fokus pada musnad Ilaih)
1. Menggunakan isim Dlamir di tempat isim
dhahir. Maksudnya, menyebutkan subyek yang
harus menggunakan kata asli (isim dhahir), tapi
menggantinya dengan kata ganti (isim
dlamir). Contoh paling sederhana dalam bahasa
arab adalah (Dlamir Sya'n). Seperti firman Allah
OEu> NO=-
}4 OEu>
COU^- /--
O) jOO-

(sesungguhnya bukan mata mereka yang buta,
melainkan hati yang terbungkus dada merekalah yang
buta) (QS al Hajj:46).
Dalam bahasa kita, kata "nya" dalam sambungan
kata "sesungguhnya" juga merupakan dlamir
sya'n seperti yang dikenal orang arab, karena ia
seolah mewakili kalimat sesudahnya yang
ditaukidi dengan kata sungguh.
Al Akhdlari mengurai tujuan statemen
inkonsekutif tersebut dalam nadham Jauhar al-
Maknun:
*

*
,

84

*

Para ulama pakar Maani telah mengeluarkan dari


muqradla dhahir pada muqtadla-hal, seperti
menempatkan isim dlamir pada tempat isim dhahir,
untuk bermacam macam kegunaan, seperti 1:
membangkitkan, 2: menyempurnakan perbedaan, 3:
menghinakan, 4: menganggap bodoh, 4: menganggap
tahu, 5: mengaku jelas, 6: menetapkan musnad ilaih,
seperti Allah itu dzat tempat meminta

Kesimpulan dari bait pertama syathr awal
ditambah kata "" adalah, bahwa tidak
mungkin statemen inkonsekutif bisa dibilang
baligh (Sastrawi) kalau tanpa tujuan. Maka Al
Akhdlari menyebutkan "" (membangkitkan
sensitivitas kemampuan lawan bicara dalam
mencerna bahasa agar lebih kuat efisien di
benaknya), sebagai satu-satunya tujuan untuk
inkonsekusi penggunaan isim dlamir pada tempat
isim dhahir. Tujuan tersebut sudah bisa mewakili
tujuan-tujuan lain yang disebutkan dalam buku-
buku balaghah al mabsuthat. Contoh: Dia, Allah
itu maha Esa.
2. Menggunakan isim dhahir pada tempat isim
dlamir. Berkesebalikan dengan bentuk
inkonsekusi statemen sebelumnya, model kedua
ini justru cenderung memperhatikan pengulangan
kata, atau mengimprovisasi isim isyarah sebagai
alat bantunya.
Contoh: KH.Sahal Mahfudh memegang tampuk
kepemimpinan NU lagi, padahal KH. Sahal

85

Mahfudh sebenarnya sudah berkehendak lebih
berfokus dalam pengelolaan pesantrennya di
kajen-Margoyoso-Pati. Pengulangan kata
KH. Sahal Mahfudh pada contoh di atas,
sebenarnya sudah masuk kategori pengulangan
yang invaluable dalam ilmu balaghah, alias
kurang baligh. Namun, jika ada tujuan tertentu,
seperti karena ingin mengkultuskan nama
tersebut, maka justru menambah nilai Sastrawi
dengan mengulangnya.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa
model statemen inkonsekutif yang ke-dua ini terkadang
menggunakan alat bantu berupa isim isyarah, dan
terkadang secara langsung menyebut tokohnya dalam
bentuk isim isyarah
Di antara tujuan-tujuanya, seperti yang disinggung
Al Akhdlari pada bait di atas adalah:
1. Kamalu al'inayah bitamyizi Al musnad Ilaih
(perhatian penuh tehadap subyek karena ia
dispesialkan dalam keindahan makna yang
dimaksud)
Contoh:
di dunia ini, ada orang jelek memperistri wanita
yang cantik ... begitu juga sebaliknya, ada orang
cakep beristrikan wanita ingusan ... itulah yang
sering kali membingungkan para kaum muda yang
hendak menjemput jodohnya.
Kata "itulah" selalu menggunakan kata ganti
"mereka". Akan tetapi tidak dipakai oleh seorang
retor karena agar pendengar (sami') lebih
merasakan keindahan subyek yang sebetulnya
inkonsekutif tersebut.

86


2. Sukhriyyah (menertawakan / menghinakan)
Contoh: ketika ada seorang wanita yang sedang
sebal terhadap pria yang dibencinya, kebetulan
di samping wanita tersebut ada teman curhatnya
yang bercerita tentang pria yang dibencinya itu,
bahwa "melalui teman curhatnya, tadi si-dia
mengemis-ngemis permaafan atas apa yang
pernah diperbuatnya ". Lalu si-wanita
menanggapi "emang orang itu sudah gila
ya?". Wanita tersebut tidak menggunakan kata
"dia" karena ingin menertawakan kerendahan
pria yang dibencinya.

3. Ijhal As sami '(menganggap mukhathab seolah
tidak tahu apa-apa andai tidak ditampilkan
didepan matanya)
Contoh: ketika seorang suami bertanya kepada
istrinya yang sedang kecape'an di dapur, "lagi
ngapain sih mah?" dengan nada keras istri
menjawab, " ini loh nyiapin makan siang buat
papa ... ". Jika sang suami pernah belajar
balaghah secara intens, pasti ia segera tersadar
sambil tersenyum bahwa istrinya sedang
mengaplikasikan ilmu balaghah.
4. Iddi'a_u fathanati as sami '(menilai kecerdasan
sami') berkesebalikan dengan sebelumnya.
Dengan tujuan ini mutakallim menganggap as
sami' seolah sudah tahu sebelum yang
dibicarakan ada di hadapannya.
Contoh: ketika calon mertua memberitahukan
bahwa anaknya mau menikah secepatnya dengan

87

dia, dan sudah cukup lama mereka
berpacaran. Setelah panjang lebar membahas
tentang rencana pernikahan mereka, calon
mertua bilang "anak itu sudah lama mengidam-
idamkan pria sepertimu nak!". Beliau tidak
menggunakan kata "dia", karena menganggap
dengan penuh keyakinan bahwa pria tersebut
sudah tahu soal itu meski tidak harus dicolokkan
di depan mata.
5. Da'wa dhuhuri Al musnad Ilaih (menganggap
subyek adalah sesuatu yang tampak gamblang
untuk diperlihatkan menurut penilaian
mutakallim)
Contoh: ketika ada yang menyesali kematian
seorang egalitarian super di usianya yang masih
muda. Seorang retor berkomentar "sekaliber itu,
terlalu dini untuk meninggalkan dunia
ini". Seorang retor tersebut tidak menggunakan
kata "dia" dalam statemennya karena kehebatan
Al marhum memang sudah diakui secara jumhur
oleh berbagai elemaen masyarakat.
Tidak dalam bentuk isyarah Subyek yang disebut di
sini, terkadang diulang, terkadang pula mengatas
namakan seperti orang lain saat membicarakan diri
sendiri dalam sebuah ungkapan yang mengambil dua
kalimat atau lebih.
Contoh:
Khadijah adalah istri pertama Nabi Muhammad
SAW, padahal Khadijah sudah pernah menikah
dua kali sebelumnya.

88

Pengulangan kata Khadijah tersebut, dinilai dapat
menurunkan nilai sastra jika tanpa ada tujuan yang
mem-back up-nya.
Di antara tujuan model statemen inkonsekutif ini,
seperti yang telah disinggung pada bait terakhir syathr
Tsani dari 3 bait di atas adalah:
1. Tamkin Al Musnad Ilaih fi dzihni Al Sami
'(memperkuat kesan akan subyek yang jadi topik
utama dalam statemen, di dalam sanubari
pendengar)
Contoh: katakan ...! Dia, Allah maha Esa. Allah
maha mulia nan abadi. Pengulangan kata "Allah"
di atas dimaksudkan agar kesan kata "Allah"
tersebut senantiasa tertancap kokoh dalam hati
mukhathab.
2. Qashdu al isti'thaf (berarti untuk mendapatkan
belas kasih dari obyek statemen / sami ')
Contoh: di saat seorang mukmin bertobat, dan
menaruh harapan kuat akan ampunan Allah
SWT, dia bermunajat dalam heningnya malam
... "Duhai Tuhanku, hambamu yang pendosa telah
sowan ke hadiratMu ... mengakui segala dosa yang
pernah diperbuatnya seraya memohon ampunanmu
... bila Kau berkenan memaafkan, memang hanya
engkau yang mampu untuk itu, namun bila kau
campakkan, kepada siapa lagi dia berharap selainmu
... Seorang mukmin tersebut tidak mengatas
namakan "saya" secara langsung dalam
Munajatnya, karena ia sedang mengharapkan
belas kasih dari Tuhannya. Begitulah salah satu
sisi keindahan bahasa yang sengat perlu kita
amati.

89

3. Al Irhab / takhwif As Sami '(menggentarkan
pendengar / lawan bicara agar ia segera menuruti
kemauan pembicara setelah mau mendengarkan
pembicaraannya)
Contoh: ketika kepala sekolah menasehati para
murid yang akan melaksanakan tes, beliau
bersosialisasi kepada para siswa, "Kepala sekolah
berkeputusan, siapapun yang tidak menyetorkan
hafalan Jauhar Al maknun tidak akan naik kelas
". Pak kepala sekolah mengatas namakan dirinya
dengan menyebut pangkatnya tersebut, bertujuan
agar kata-kata yang disampaikan beliau benar-
benar didengar para murid dan kemudian
dijadikan pegangan selama mereka masih
bersekolah di sekolah tersebut. dan banyak lagi
tujuan-tujuan lain, tergantung perkembangan
inspirasi para pengguna bahasa yang mau
menelateni konten sastra yang selama ini belum
terungkap dalam liang retorika, bagai barang
tambang yang belum muncul di permukaan
bumi.

c.2). Skala makro (mencakup selain musnad Ilaih)
Statemen inkonsekutif yang berskala makro ini,
tidak hanya berkonsentrasi pada musnad Ilaih
(subyek), melainkan juga terkadang bersinggungan
langsung dengan musnad (predikat) dan bahkan lebih
luas lagi, terkadang berada di muta'alliqat al fi ' il,
majrurat, na'at dan lain sebagainya.
Ada empat jenis statemen inkonsekutif berskala
makro yang ditampilkan oleh Al Akhdlari dalam
nadham al-Jauhar al-Maknun

90

1. Sharfu muradi Dzi nuthqin aw sualin lighairi maa
araad
2. Iltifat
3. raadu al madly ma'a iraadati al mustaqbal
4. Qalb

Statemen inkonsekutif yang berskala makro yang,
Pertama adalah : sharfu muraadi Dzi nuthqin au
sualin lighairi ma araad" Al Akhdlari menyebutkan
dalam nadham al-Jauhar al-Maknun
*

*

Dan sebagian dari yang menyalahi muqtadla zhahir


ialah: memalingkan tujuan pembicara, atau tujuan
penanya kepada selain tujuan yang dimaksudkan yang
dikehendaki, karena anggapan bahwa ialah yang
paling tepat dan lebih baik diucapkan atau
ditanyakan, seperti Hujjaj dan Qubatsara

sharfu muraadi Dzi nuthqin au sualin lighairi
ma araad" dengan istilah lain, "mujawabatul
mutakallim bighairi ma yataraqqab" yang lebih dikenal
dengan "al mughalathah" menurut Al Jurjani dan lebih
populer dengan istilah "Uslubu al hakim" menurut As-
sakkaki. artinya, mutakallim memalingkan statemennya
dari maksud yang diinginkan penanya atau pendengar,
karena menurut mutakallim itu lebih baik untuk
dilakukan. Sebenarnya ada jenis pembicaraan seperti
ini di budaya kita yang sering disebut mbolot, andai
saja mbolot tersebut ada nilai-nilai yang tersirat dari

91

dalamnya, maka mbolot pun serupa dengan istilah
"uslubul hakim". Contoh: ketika seorang abg bertanya
kepada ayahnya, "yah, mengapa anak kecil selalu
diatur orangtuanya?" ayah yang bijak dan pandai
beretorika pasti bisa menjawab "karena pohon jika
dibiarkan bengkok saat ia baru tumbuh, terlalu keras
untuk diluruskan kembali setelah ia tumbuh besar".
Statemen inkonsekutif yang berskala makro Ke
dua adalah iltifat. Al Akhdlari mencantumkan model
ke dua ini dalam nadham al-Jauhar al-Maknun
*
*

Adapun arti iltifat, ialah pemindahan suatu susunan
kalimat/ibarat dari sebagian jalan ke jalan lain, yang
dipandang layak, adapun sisi kebaikan dan
kegunaannya ialah, untuk menarik perhatian
pendengar pada pembicaraan itu masih ada lagi
kegunaannya yang khusus bagi sebagian bab.



iltifat artinya: mengalihkan pembicaraan dari satu
bentuk ke bentuk yang lain demi penyegaran statemen
secara variatif dengan persyaratan bentuk yang kedua
harus inkonsekutif serta tetap kontekstual.
Ada tiga perangkat paling urgen dalam iltifat untuk
dikaji, dan dua kondisi paling integral untuk ditelusuri
serta banyak tujuan yang perlu terus digali.
a. Perangkat iltifat.
Iltifat hanya berkonsentrasi pada tokoh dalam
pembicaraan, tidak pandang apakah ia sebagai subyek

92

ataukah obyek, baik orang pertama, seperti "saya, kami
dan kita" orang kedua, seperti "kamu dan kalian"
maupun orang ketiga, seperti "dia dan mereka" .
Sehingga dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa
iltifat memiliki enam bentuk:
1. takallum - khithab (kembali menyebutkan orang
pertama kemudian menyebutkan orang kedua,
sementara tokohnya sama) contoh: Al-Quran
menceritakan keluh kesah orang Kafir dalam
firman-Nya:
4`4 4Oj +l;N
Og~-.- O)+4OC
gO^O)4 4pONE_O>
Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang Telah
menciptakanku? Dan hanya kepada-Nya-lah kalian
(semua) akan dikembalikan. (QS. Yaasin: 22).

Ayat ini dibuka dengan kata ganti orang pertama
(mengapa aku tidak menyembah [ Tuhan] yang
telah menciptakanku). Nah berdasarkan
konteksnya, seharusnya ayat tersebut konsisten
dengan tetap menggunakan kata ganti orang
pertama hingga akhir. Tapi mengejutkan, ayat
tersebut ditutup dengan kataganti orang kedua
plural: "Dan hanya kepada-Nya-lah kalian
(semua) akan dikembalikan." Bukankah mustinya:
"dan hanya kepada-lah aku dikembalikan"?
2. Takallum - ghaibah (kembali menyebutkan orang
pertama kemudian menyebutkan orang ketiga,
sementara tokohnya sama) Contoh:
~ EOg14lg4C
4g~-.- W-O4O

93

-O>4N )_O^
W-O7C4L^> }g` gO4uOO
*.- _ Ep) -.-
NOg^4C =O+^e~.-
Og- _ +O^^) 4O-
+OO4^-
N7gOO-
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui
batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosasemuanya. Sesungguhnya Dia-
lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kalimat pertama berbunyi Katakanlah: Hai hamba-
hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah! Lalu tanpa tedeng aling-aling kalimat
berikutnya malah mengarah pada orang ketiga:
sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. seharusnya ayat
tersebut berbunyi seperti ini: Katakanlah: "Hai
hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari
rahmat-Ku, sesungguhnya Aku mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Aku-lah yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. "
3. Khithab - takallum (kembali menyebutkan orang
kedua kemudian menyebutkan orang pertama,
padahal tokohnya sama) Contoh: seperti syair
Alqamah ibn Abduh:


94


37

membinasakan diri sendiri jika kau ingin mencari gadis
cantik itu, padahal kamu beruban dan tidak muda
lagi.Aku dibebani Laila padahal sangat jauh jaraknya,
terlalu lama waktunya, juga begitu kuat penghalang
antara kita.

Pujangga kita ini rupanya gengsi; tidak mau
mengakui bahwa dirinyalah yang sebenarnya
sedang memburu "daun muda" meskipun usianya
sendiri sudah mendekati senja. Dengan alasan itu
Alqamah mencoba memerankan diri sendiri
sebagai orang lain lalu mencoba membuka
syairnya dengan kata ganti orang kedua
(membinasakan dirimu sendiri ... dst.). Tapi Alqamah
tidak bertahan dengan gaya redaksi seperti itu,
karena pada garis kedua dia langsung meloncat
pada "pengakuan" sebenarnya (yaitu dirinya
sendiri): Aku dibebani Laila.
4. Khithab - ghaibah (kembali menyebutkan orang
kedua kemudian menyebutkan orang ketiga,
padahal tokohnya sama) Contoh (QS. Ali Imran:
9):
.E4+4O ElE^)
7g`E_ +EE4-
O41g =UuC4O gOOg _

37
Abdul Mutaali as Shaidi, Bughyah al idlah....., 154


95

]) -.- -)UuCNC
E1E1g^-

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan
manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang
tak ada keraguan padanya", Sesungguhnya Allah tidak
menyalahi janji. .
kepindahannya terlihat jelas dengan penggunaan
kata ganti orang kedua ("sesungguhnya Engkau"),
lalu pindah ke bentuk ketiga tunggal
("sesungguhnya Allah").Padahal kalau diteliti lebih
jauh, seharusnya: "Sesungguhnya Engkau tidak
menyalahi janji".Contoh lain bisa diambil pada
surat Yunus ayat 22 yang berbunyi:
-/EEO -O) +L7 )
lU^- 4^4OE_4
jgj EC@O) lO4:j1C

Sampai saat kamu berada di dalam bahtera, dan
meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang
ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik.

Ayo tebak!!! mana iltifatnya? Sepintas lalu ayat ini
salah arah. Kita yang awam ini pastinya komplain
karena "gak nyambung!". Sebab mustinya bunyi
ayat yang lebih relevan adalah: Sampai saat kamu
berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera
itu membawa kalian yang ada di dalamnya dengan
tiupan angin yang baik.
5. Ghaibah - takallum (kembali menyebutkan orang
ketiga kemudian menyebutkan orang pertama, dan
tokohnya sama) Contoh (QS. Al-Isra: 1):

96

=}E:c -Og~-.-
O4O jglE)
1E^O ;g)`
gOE^-
g-4OE^- O)
gOE^-
=^~- Og~-.-
E4^4O4 +OOEO
+O4C)ON6g ;}g`
.E4g-4C-47 _ +O^^)
4O- 71gOO-
+OO4l^-

Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-
Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil
Aqsha yang Telah Kami berkahi sekelilingnya, agar
Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha
mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ayat ini dimulai dengan membicarakan
kemahabesaran Allah (orang ketiga tunggal):
"Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsha." Kemudian uslub ini berubah
ke posisi orang pertama dengan firman-Nya: "...
yang telah Kami berkahi sekelilingnya". Padahal
yang ditunggu-tunggu pembaca seperti ini: "...
yang telah Allah berkahi sekelilingnya".

6. Ghaibah - khithab (kembali menyebutkan orang
ketiga kemudian menyebutkan orang kedua, dan
tokohnya sama) Contoh (QS. Al-Baqarah: 83):

97

^O)4 4^'O 4-VOg`
/j_4 Cg74O)
4p+lu> ) -.-
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani
Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah
...
Ayat ini ditujukan kepada Bani Israil. Awalnya
memang diungkapkan kata-kata Bani Israil
langsung, tapi kemudian pindah ke diksi orang
kedua: "janganlah kamu menyembah selain
Allah".Seharusnya: janganlah mereka menyembah
selain Allah .....
b. Ketentuan iltifat
1. Adanya dua statemen berbeda, dan tetap
kontekstual keduanya.
2. statemen kedua inkonsekutif karena penyebutan
tokohnya beralih, akan tetapi tetap sama sasarannya.
c. Rahasia di balik iltifat
Pada intinya, iltifat memiliki tujuan utama yaitu
"menarik perhatian lawan bicara agar lebih intens
mengamati arah statemen variatif yang ditampilkan
oleh seorang retor" karena citra rasa seseorang yang
memiliki imajinasi kuat, pasti menyukai berbagai
variasi jika dibarengi dengan emosionalitas yang
sempurna. Contoh sederhana, dalam surat Al Fatihah
yang mengambil contoh iltifat. Di saat seorang hamba
menyebut nama Allah, kemudian menghayati sifat-sifat
agung pada bacaan setelahnya, mulai dari sifat kasih
sayang, pujian akan kekuasaan pada alam semesta,
belas kasih-Nya di balik keagungan tahta raja diraja-
Nya, sampai kepada hak veto- Nya atas segala apa yang
terjadi pada hari akhir kelak, pasti ia terdorong untuk

98

benar-benar menfokuskan hati kepada Dzat yang layak
menyandang semua keabsolutan itu. lalu ..sesampainya
sang hamba pada klimaks kemantapan hatinya, ia
beralih dari statemen ghaibah (acuan) menjadi statemen
khithab (sapaan). Seolah seorang hamba tersebut benar-
benar sudah sampai taraf penyerahan diri kepada Allah
dan telah bertekad bulat bahwa hanya kepada-Nya ia
menengadahkan tangannya ... karena tidak yang bisa
mencukupi segala kebutuhan manusia saat ia terhimpit
keterpurukan kecuali Allah SWT.
Syekh Zamakhsyari bilang: Jika seorang hamba
membuka pujian kepada Allah dengan pujian
sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam dan jiwa
yang penuh zikir, dirinya akan menyebut: alhamdulillah
(segala puji bagi Allah) yang mengindikasikan hanya
Dia-lah yang pantas mendapatkan pujian tersebut dan
memang hanya Dia-lah yang berhak, maka timbul
dalam jiwa satu kekuatan untuk iqbal ("Approaching")
(pada langkah selanjutnya). Jika berpindah ke rabbil
'alamin (Tuhan semesta alam) yang mengindikasikan
bahwa Allahlah yang menguasai semesta ini - dan tak
ada yang keluar dari malakut-Nya -, dorongan tersebut
semakin kuat.Begitulah seterusnya. Dan tiapkali salah
satu dari sifat-sifat agung itu 'diberlakukan' sampai
masalah itu akhirnya benar-benar berada pada ending
berguna: Dialah Penguasa segala hal di hari
pembalasan, maka saat itulah ia merasa dirinya tengah
melakukan pendekatan tadi (iqbal), dan secara khusus
diwujudkan dalam suatu permohonan dengan penuh
kerendahan sekaligus memohon pertolongan dalam
segala aktifitasnya dengan berujar: iyyaaka na'budu wa

99

iyyaaka nasta'in (Hanya kepada-Mu kami menyembah,
hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan).
Ada juga tujuan-tujuan lain dalam iltifat
tergantung konteks yang bergabung statemen iltifat
diuraikan.
Kalau selama ini banyak kalangan yang menggelar
pelatihan-pelatihan "Kiat Sukses Berkomunikasi yang
Efektif dan Efisien", sesungguhnya al-Quran sudah
mendahului mereka lebih dari 1400 tahun lalu!
Apapun hikmah diciptakannya gaya bahasa iltifat,
hanya Allah-lah yang Maha tahu segala rahasia-
rahasianya
Sepertinya membicarakan keunikan al-Quran tidak
akan pernah habis. Banyak orang membahas psikologi
dalam perspektif al-Quran, sastra dalam al-Quran,
kosmologi, biologi, morfologi, sains, dll. Tapi nyatanya
meneropong keotentikan al-Quran dari sudut
redaksional saja membuat kita tak henti-hentinya
menggelengkan kepala. Seolah Allah berfirman: inilah
gudang ilmu itu. Ayo, bikin satu ayat saja yang
menyerupai al-Quran, kalian sanggup 'nggak?
~ '- geEE4-;_-
^e"- O}^-4
-O>4N p W-O>4C
uVg) -EOE-
p-47O^- 4pO>4C
g)-u1g) O4 ]~E
gO^u4 *u4lg
-LOO)_
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin
berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini,
niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa

100

dengannya sekalipun sebagian mereka menjadi
pembantu bagi sebagian yang lain". (QS. Al-Isra: 88).

Statemen inkonsekutif yang berskala makro ke-
tiga adalah " raadu al madly wa iraadatul mustaqbal"
Al Akhdlari mencantumkan model ke tiga ini dalam
nadham al-Jauhar al-Maknun

.....
Dan termasuk penyimpangan dari muqtadla dzahir
ialah mendatangkan shighat fiil madli ubtuk arti
mustaqbal.

" raadu al madly wa iraadatul mustaqbal"artinya,
mengungkapkan sesuatu yang baru akan terjadi
menggunakan perangkat madly yang semestinya
berfungsi untuk menjelaskan sesuatu yang telah
terjadi.Contoh: pada saat iqamah dilantunkan indah
oleh mu'adzdzin, sebagai tanda akan didirikannya
jama'ah shalat fardlu, mu'adzdzin melafalkan "qad
qaamat Ash Shalah" 2x. sementara arti sebenarnya
adalah, shalat didirikan, padahal imamnya saja belum
bertakbiratul ihram. Maka di sini terjadi inkonsekusi
statemen oleh mu'adzdzin, namun tetap mendapat
apresiasi kesusastraannya, karena memiliki tujuan yang
bisa diterima oleh imajinasi yang sehat. Yaitu
tahaqququl wuqu (pasti terealisasi). Maka ia disebut
kalam yang keluar dari kaidah yang digariskan, namun
tetap elegan untuk dinilai balaghiyyah-nya.
Banyak lagi bentuk-bentuk kata yang dimaksudkan
oleh mutakallim dengan arti lain diluar madly versus
mudlari ', selain bentuk madli yang berarti zaman

101

mustaqbal, seperti contoh (4v@OE) dalam
(QS. An-Naml:87)
4O4C4 NCELNC O)
jOOO- 4v@OE }4`
O) g4OEOO-
}4`4 O) ^O-
dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, Maka
terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di
bumi,

Ada juga isim fa'il atau maf'ul disebutkan,
sementara yang dimaksud adalah zaman mustaqbal
seperti saat mengunakan fi'il mudlari' .
Contoh 1: yang isim fa'il, (QA. Az-Zariyat: 6)
Ep)4 4g].-
/7g~4O
dan Sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi.


Contoh 2: yang isim maf'ul, (QS. Hud: 103)
ElgO O4C vO^_O`
+O- +EE4-
hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua
manusia dikumpulkan untuk (menghadapi) nya,


Dan ada pula shighat mustaqbal yang dimaksud
zaman madly, dengan tujuan tertentu. seperti contoh:
saat sepasang kakek dan nenek bernostalgia pada
pernikahan mereka lima puluh tahun silam, sang nenek
sedang mencandai sang kakek yang tak lain adalah
suaminya sendiri, sembari mengatakan "tau nggak
mbah? Kenapa dulu aku mau kau nikahi? " Dengan

102

agak kurang yakin, sang kakek kembali bertanya,"
kenapa emang Nek? "Dan nenek pun mengatakan" dulu
aku mau kakek ajak nikah karena nenek yakin akan
bisa mencintai kakek sepenuh hati ". Seorang nenek
yang mengatakan "akan bisa mencintai" tersebut
sebenarnya telah melakukannya kurang lebih lima
puluh tahun silam. Namun menggunakan kata-kata
"akan" karena berarti untuk menghadirkan rasa heran
terpana pada hati suaminya yang mungkin sudah lapuk
dimakan usia itu.

Statemen inkonsekutif yang berskala makro ke-
empat adalah "Qalb" Al Akhdlari mencantumkan
model ke empat ini dalam nadham al-Jauhar al-
Maknun
# ....

Dan mereka (ulama) suka membalikan ujung kalimat


pada tempat ujung lainnya, karena maksud
mendapatkan faidah juga, dan mereka suka
mengeluarkan syiir yaitu adapub daerah padang
pasir penuh debu, seakan akan tanahnya itu bagaikan
langit
Pengertian Qalb: menempatkan bagian dari
sebuah kalimat di bagian yang lain, akan tetapi
pembenaran topiknya tidak berubah. Artinya, menaruh
karakter yang semestinya tidak disandang oleh sebuah
kata dalam statemen, tapi tetap dilakukan dengan

103

maksud agar setelah orang lain mengerti, dia akan lebih
responsif dari pada tidak menggunakan cara itu. contoh:
saat seorang pujangga sudah tak percaya lagi akan hati
seseorang, tiba-tiba ia bicara "samudra tidak seluas
hatimu". Artinya, saat banyak orang menganalogikan
kelapangan hati seseorang dengan menggunakan kiasan
samudra yang membentang luas, justru ia menganggap
samudra tidak seluas hati seseorang tersebut. Karena
saking banget sempitnya hati seseorang tersebut, untuk
menerima aspirasi perasaan, maupun kepedulian hati
yang acap kali tercampakkan oleh ego sepihak.


RANGKUMAN

1. Musnad adalah suatu sifat, kata kerja atau sesuatu
yang bersandar kepada musnad ilaih. Tempat-
tempat musnad adalah khabar mubtada fiil tm
isim fiil khabar kna dan akhwat-nya, khabar inna
dan akhwat-nya, maful kedua dari dzonna maful
ketiga dari ar

2. Musnad ilaih adalah mubtada yang mempunyai
khabar, fail, naib al-fil, dan beberapa isim
nawsikh. Tempat-tempat musnad ilaih dalam
kalimat adalah fail, nib al-fil, mubtada, isim
kna, isim inna, maful pertama dzanna, maful
kedua ar


104

3. Me-marifat-kan musnad ilaih artinya
menentukan musnad ilaih, caranya dengan
menambahkan al, dhamr, isim isyarah, idhafah,
dan nid

4. Menyebut musnad ilaih pada suatu
kalm mempunyai beberapa tujuan sbb:
a. menjelaskan dan membedakan
b. menganggap mukhthab tidak tahu
c. dansenang menyebutnya.

.5. Membuang musnad ilaih bertujuan untuk:
a. untuk meringkas atau karena sempitnya
konteks
b. terpeliharanya lisan ketika menyebutnya
c. merasa jijik menyebutnya
d. untuk generalisasi
e. untuk menyembunyikan sesuatu kepada selain
mukhthab


LATIHAN

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini
secara singkat dan tepat!

1. Apakah yang anda ketahui tentang musnad dan
musnad ilaih ? Lengkapi jawaban kalian dengan
contoh!
2. Kemukakan tempat-tempat musnad ilaih pada
kalimat dan berikan contoh untuk masing-masing
tempat

105

3. Kemukakan tempat-tempat musnad pada kalimat
dan berikan contoh untuk masing-masing tempat!
4. Sebutkan cara-cara men-takrif-kan musnad ilaih
dan berikan contoh untuk masing-masing!
5. Apa tujuan dibuangnya musnad ilaih pada suatu
kalimat? Lengkapi jawaban kalian dengan contoh!
6. Jelaskan istilah-istilah berikut ini: dhamr,
isyrah, idhafat, dan nid!

V
KALM KHABARI

TUJUAN
Setelah mengikuti proses pembelajaran
ini diharapkan peserta didik dapat menguasai materi-
materi berikut ini: 1) Pengertian kalm khabari; 2)
Tujuan kalm khabari; dan 3) Bentuk-bentuk kalm
khabari

BAHASAN
Kalm dalam bahasa Arab atau kalimat dalam bahasa
Indonesia adalahsuatu untaian kata-kata yang memiliki
pengertian yang lengkap. Dalam konteksilmu balghah
kalm terdiri dari dua jenis, yaitu kalm khabari dan
insyi
.
A. Definisi al-Khabar (statement sentence)
Yaitu berita (kata-kata) yang bisa jadi sesuai (benar) atau
tidak sesuai (bohong) dengan fakta dan realita di lapangan
pada dirinya, tanpa memandang dan mempertimbangkan
subyek yang berbicara.

106

Jika suatu pembicaraan sesuai dengan kenyataan, maka
berita tersebut mengandung kebenaran. Tetapi sebaliknya
jika suatu berita tidak sesuai dengan kenyataan, maka berita
tersebut mengandung kebohongan.
Pada definisi di atas disebutkan tanpa memandang dan
mempertimbangkan subyek yang berbicara, karena umat
Islam berkeyakinan bahwa berita-berita yang bersumber dari
Allah dalam al-Quran dan Rasulullah dalam hadisnya pasti
mengandung kebenaran (sesuai antara berita dengan realita).
Contoh khabar 1:
jika tersebar berita bahwa si fulan meninggal dunia lalu
kita pergi ke rumahnya dan melihat keluarganya menangis
dan orang-orang berkumpul sambil bersiap-siap untuk
memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan
jenazahnya, maka kita berkeyakinan bahwa berita mengenai
kematian si fulan mengandung kebenaran karena sesuai
dengan fakta dan realita, dan begitu juga sebaliknya.
Contoh khabar 2 ,

Seorang mahasiswa berkata Prof. Ahmad tidak bisa


hadir dalam munaqosah besuk
Ucapan mahasiswa di atas bisa dikategorikan kalm
khabari, setelah mahasiswa tersebut mengucapkan
kalimat itu kita bisa melihat apakah ucapannya benar
atau salah. Jika ternyata ustadz Ahmad keesokan
harinya tidak datang dalam perkuliahan, maka ucapan
mahasiswa tersebut benar. Sedangkan jika ternyata
keesokan harinya ustadz Ahmad datang pada
perkuliahan, maka kalimat tersebut tidak benar atau
dusta.

B. Pola Kalimat Khabar ( )

107

Al-jumlah al-khabariyah (pola kalimat khabar) dilihat
dari sisi pembentuknya dibuat dengan memakai dua pola,
yaitu:
a. Pola yang terbuat dari mubtada dan khabar atau
dikenal dengan nama al-jumlah al-ismiyah,
contohnya: (Muhammad berdiri)
b. Pola yang terbuat dari fiil dan fil atau dikenal
dengan nama al-jumlah al-filiyah, contohnya:
(Telah berdiri Muhammad)
C Uslb al-Khabar ( )
Karena ruang lingkup bahasan ilmu Man berkaitan
dengan efektivitas suatu pembicaraan (berita) sesuai dengan
situasi dan kondisi audien, maka ada tiga bentuk uslb
khabar yang dipergunakan pembicara untuk meyakinkan
audien (lawan bicara):
(a) Al-Uslb al-Ibtid ( )
Jika audien tidak memiliki berita sama sekali
mengenai suatu peristiwa, maka berita yang
disampaikan tidak perlu menggunakan taukd
(penguat/penegas), contohnya:
(b) Al-Uslb al-Thalab ) (
Jika audien ragu-ragu atau bimbang mengenai
kebenaran suatu berita, maka untuk meyakinkannya
kita cukup menggunakan satu taukid (penegas),
contohnya:
(c) Al-Uslb al-Inkr ) (
Jika audien mengingkari kebenaran suatu berita atau
tidak percaya dengan kandungannya, maka untuk
meyakinkannya kita menggunakan dua taukd atau

108

lebih, contohnya: atau
dimana pada kalimat pertama menggunakan dua
taukd yaitu dan sedangkan pada kalimat
kedua menggunakan tiga taukd yaitu (sumpah)
dan serta
D. Huruf Taukd ) (
Ada beberapa huruf taukd yang dipergunakan untuk
memperkuat suatu berita sehingga audien mengakui
kebenaran sesuatu yang disampaikan, yaitu:


E. Deviasi kalm
Seperti telah dijelaskan di muka bentuk-bentuk
kalm khabari jika dikaitkan dengan keadaan mukhthab
ada tiga jenis, yait ibtidi, thalabi, dan inkri. Pada
kalm ibtidi tidak memerlukan taukd . Karena kalm
ini diperuntukkan bagi mukhthab yang khl al-dzihni
(tidak mempunyai pengetahuan tentang hukum yang
disampaikan). Pada kalm thalabi, mutakallim
menambahkan satu huruf taukd untuk menguatkan
pernyataannya, sehingga mukhthab yang ragu-ragu
bisa menerimanya. Sedangkan pada kalm inkri,
mutakallim perlu menggunakan dua taukd untuk
memperkuat pernyataannya, karena mukhthab yang
dihadapinya menolak pernyataan kita (munkir ).
Namun demikian dalam praktek berbahasa keadaan
tersebut tidak selamanya konstan. Ketika berbicara dengan
mukhthab yang khl al-dzihni kadang digunakan taukd.
Atau juga sebaliknya seseorang tidak menggunakan taukd

109

pada saat dibutuhkan, yaitu ketika ia berbicara dengan
seorang yang inkar.
Di bawah ini kita perhatikan penggunaan kalm khabari
yang menyalahi maksud lahirnya.
1) Kalm thalabi digunakan untuk mukhthab
khl al-dzihni
4 /j_lgCCq` O)
4g~-.-
W-EOU _ gE+)
4pO~4O^G`
( : 37 )

Dan janganlah kau bicarakan kepada-Ku tentang
orang-orang zhalim itu,sesungguhnya mereka itu
akan ditenggelamkan (Q.S Hud: 37)

Pada ayat di atas mukhthab-nya adalah nabi Nuh. Ia
sebagai khl al-dzihni karena ia pasti menerima
apa yang Allah putuskan. Namun di sini Allah
menggunakan taukd seolah-olah nabi Nuh ragu. Hal ini
dilakukan untuk memperkuat suatu pernyataan.
.4`4 7e@O4q
/O^4^ _ Ep)
"^EL-
E4OE`V
g7EOOO)
( : 85 )
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari
kesalahan), karena sesungguhnyanafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan (Q.S. Yusuf: 53)


110

2( Kalm ibtidi digunakan untuk mukhthab
inkri
7_)4
O) /g4 ( :
163 )

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa (Q.S al-
Baqarah: 163)

Pada ayat di atas Allah menggunakan
kalm khabari ibtidi yaitu tidak menggunakan
taukd, padahal mukhthab-nya adalah orang-orang
kafir yang inkar. Pertimbangan penggunaan kalm
ibtidi untuk mukhthab inkari adalah karena di
samping orang-orang kafir itu telah ada bukti yang
dapatmendorong mereka untuk beriman. Oleh
karena itu keingkaran mereka tidakdijadikan dasar
untuk menggunakan ungkapan penegasan dengan
taukd

F. Tujuan kalm Khabar
Setiap ungkapan yang dituturkan oleh seseorang
pasti mempunyai tujuan tertentu. Suatu kalm khabari
biasanya mempunyai dua tujuan, yaitu fidahal-
khabar dan lzim al-faidah
1) Fidah al-khabar adalah suatu kalm khabari
yang diucapkan kepada orang yang belum tahu sama
sekali isi perkataan itu. Contoh


111

Pada kalimat di atas mutakallim ingin memberi
tahu kepada mukhthab bahwa Umar bin Abdul
Aziz tidak pernah mengambil sedikit pun
hartadari baitul mal. Mutakallim berpraduga
bahwa mukhthab tidak mengetahui hukum yang
ada pada kalimat tersebut.

2) Lzim al-fidah adalah suatu kalm khabari yang
diucapkan kepada orang yang sudah mengetahui isi
dari pembicaraan tersebut, dengan tujuan agar
orang itu tidak mengira bahwa si pembicara tidak
tahu.

Saya pergi ke kampus agak terlambat



Selain kedua tujuan utama dari kalm kahabar
terdapat tujuan-tujuan lainnya yang merupakan
pengembangan dari tujuan semula. Tujuan-tujuan
tersebut adalah sbb:
1. Istirhm (minta dikasihi) Dari segi
bentuknya kalm ini berbentuk khabar (berita),
akan tetapi dari segi tujuannya mutakallim ingin
dikasihi oleh mukhthab. Contoh kalm khabari
dengan tujuan istirhm adalah do'a nabi Musa yang
dikutip Alquran, (Q.S. al Qashash ayat : 24)
p4O O)E+) .Eg
=e^4O^ O) ;}g`
OOE= OO
Tuhanku, aku ini sangat membutuhkan kebaikan yang
Engkau berikan padaku.

112

2. Izhhr al-dha'fi (memperlihatkan kelemahan)
seperti do'a Nabi Zakaria dalam Alquran. (Q.S.
Maryam : 4)
4 p4O O)E+)
=}E-4 N;E^-
/j_g` E4-;--4
+EO- 4:^1E-
Tuhanku sesungguhnya aku telah lemah tulangku dan
kepalaku telah penuh uban
3) Izhhr al-tahassur (memperlihatkan penyesalan)
seperti doa Imran bapaknya Maryam yang
dihikayatkan dalam al-Qur'an. (Ali Imran: 36)
p4O O)E+)
.Og+u=4
_/6^q +.-4
OUu E)
;eE=4
Tuhanku, aku telah melahirkan ia wanita dan Allah
mengetahui apa yang ia lahirkan

4) Al-Fakhr (sombong) seperti perkataan Amru bin
Kalsum :

Jika seorang anak kami telah lepas menyusu, semua


orang sombong akan tunduk menghormatinya
5) Dorongan bekerja keras
Dari segi bentuk dan isinya kalm ini bersifat
khabari (pemberitahuan), akan tetapi maksud
mutakallim mengucapkan ungkapan tersebut agar
mukhthab bekerja keras. Contoh kalm khabari

113

untuk tujuan ini adalah surah Thahir bin Husain
38

kepada Abbas bin Musa al-Hadi
39
yang terlambat
membayar upeti,


Orang yang mempunyai banyak kebutuhan itu
bukanlah orang yang sepanjang malam tidur nyenyak.
Akan tetapi, orang yang mempunyai banyak
kebutuhan itu sepanjang malam dalam ketakutan.

RANGKUMAN

1. Kalm khabari ialah suatu ungkapan yang mengandung
kemungkinan benar atau bohong dilihat dari teksnya
itu sendiri
2. Kalm khabari mempunyai dua tujuan. Pertama
adalah untuk memberi tahu mukhthab tentang
suatu informasi. Tujuan ini dinamakan fidah al-
khabar. Kedua diucapkan kepada orang yang sudah tahu
dengan tujuan agar orang yang diajak bicara tidak mengira
bahwa ia tidak mengetahuinya.
3. Selain kedua tujuan utama dari kalm khabari
ada tujuan-tujuan lainnya dari kalm khabari,
yaitu: a) istirhm (minta dikasihani); b) izhhr al-
dlafi (memperlihatkan kelemahan); c) izhhr al-

38
Tahir bin Husain (Arab, Persia: ) (meninggal
822) adalah seorang jenderal dan gubernur
selama kekhalifahan Abbasiyah. Secara khusus, ia menjabat di
bawah khalifah al-Ma'mun
39
Nama aslinya Musa al Mubaraqqa dari golongan
Syiah Imamiyah, dia anak kesembilan dari Imam Mohammad al-
Taqi al Jawwad dan adik kesepuluh dari Imam Ali al-Hadi

114

tahassur (memperlihatkan penyesalan); d) al-
Fakhr (sombong); e) dorongan bekerja keras.
4. Kalm khabari ada tiga jenis, yaitu ibtidi, thalabi,
dan inkri. Kalm ibtidi adalah suatu kalm
khabari yang tidak menggunakan taukd. Kalm ini
digunakan untuk orang yang tidak tahu sama sekali (khl
al-dzihni). Kalm thalabi adalah suatu kalm
khabari yang menggunakan satu taukd. Kalm ini
digunakan untuk mukhthab
mutaraddid (mukhthab yang ragu). Sedangkan
kalm inkri adalah suatu kalm khabari yang
menggunakanlebih dari satu taukd Kalm ini
digunakan untuk mukhthab munkir
5. Dalam kenyatan sering terjadi penyimpangan dari kaidah
dan aturan umum,seperti ungkapan ibtidi untuk
inkari atau sebaliknya ungkapan inkri digunakan
untuk mukhthab ibtidi
.
LATIHAN
Jawablah Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini
dengan tepat dan benar!
1. Jelaskan pengertian kalm khabar dan kemukakan
perbedaannya dengan kalm insyi ?
2. Salah satu tujuan kalm khabar adalah lzimul
fidah. Apa maksudnya dan berikan contognya!
3. Apakah tujuan kalm khabar dari kalimat-kalimat
berikut ini!
1


115

p4O 3 O)E+)
.Eg
=e^4O^ O)
;}g` OOE=
OO
4 4 p4O O)E+)
=}E-4 N;E^-
/j_g` E4-;--4
+EO- 4:^1E-
p4O 5 O)E+)
.Og+u=4
_/6^q +.-4
OUu E)
;eE=4
4. Jelaskan istilah-istilah di bawah ini,
kemudian berikan contohnya masing-masing!
a. Khlidz dzihnib.
b. Mutaraddid
c. Munkir

5. Apakah yang dimaksud
kalm ibtidi manzilata al-munki ? Berikan
contohnya!

VI
KALM I NSYI


TUJUAN

116

Setelah mengikuti proses pembelajaran
ini diharapkan peserta didik menguasai materi-materi
sbb: 1) Pengertian kalm insyi; 2) Kategorisasi kalm
insyi; 3) Variasi makna pada berbagai kategori kalm
insyi

BAHASAN

A. Pengertian
Kata (

) merupakan bentuk mashdar dari kata


(

) Secara leksikal kata tersebut bermakna


membangun, memulai, kreasi, asli, menulis, dan
menyusun.Dalam ilmu kebahasaaraban insyi merupakan salah
satu nama mata kuliah yang mengajarkan menulis.
Insyi sebagai kebalikan dari khabari merupakan bentuk
kalimat yang setelah kalimat tersebut dituturkan kita tidak
bisa menilai benar atau dusta. Hal ini berbeda dengan
sifat kalm khabari yang bisa dinilai benar atau dusta
Dalam terminologi ilmu mani kalm insy'i adalah,

Kalm insyi adalah suatu kalimat yang tidak bisa
disebut benar atau dusta

Jika seorang mutakallim mengucapkan suatu kalm
insyi, mukhthab tidak bisa menilai bahwa ucapan
mutakallim itu benar atau dusta. Jika seorang berkata
(

) kita tidak bisa mengatakan bahwa ucapannya itu benar


atau dusta. Setelah kalm tersebut diucapkan yang mesti
kita lakukan adalah menyimak ucapannya.

B. Pembagian Kalm Insyi

117

Secara garis besar kalm insyi (originative sentence)
ada dua jenis, yaitu insyi thalabi dan insyi ghair thalabi.
Kalm yang termasuk kategori insyi thalabi adalah amar,
nahyu, istifhm tamann, dan nid. Sedangkan
kalm yang termasuk kategori ghair thalabi adalah ta'ajjub,
adz-Dzamm, qasam, kata-kata yang diawali dengan af'lur
raja Jenis-jenis kalm insyi thalabi tidak termasuk ke
dalam bahasan ilmu mani. Sehingga jenis-jenis
kalimat tersebut tidak akan di bahas dalam buku ini.
Insyi thalabi menurut para pakar balghah adalah,

kalam insya thalabi adalah suatu kalam yang


menghendaki adanya suatu tuntutan yang tidak
terwujud ketika kalm itu diucapkan.

Dari definisi di atas tampak bahwa pada kalm
insyi thalabi terkandung suatu tuntutan. Tuntutan
tersebut belum terwujud ketika ungkapan tersebut
diucapkan. Kalimat-kalimat yang termasuk kategori
inysa thalabi adalah,
1. Amar
Secara leksikal amar bermakna perintah.
Sedangkan dalam terminologi ilmu balghah amar
adalah,

Tuntutan mengerjakan sesuatu kepada yang lebih


rendah

Al-Hsyimi (1960) mendefinisikan jumlah al-
amr (kalimat perintah) sebagai tuturan yang
disampaikan oleh pihak yang lebih tinggi kedudukannya

118

kepada pihak yang lebih rendah agar melaksanakan suatu
perbuatan, seperti
^^) }^4
4L^EO4^ El^OU4N
4p-47O^-
1ECjO6> uO;
'Cg El)4O
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran kepadamu
(hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah
kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu

Untuk menyusun suatu kalm amar ada empat shgah
yang biasa digunakan:
a) Fi'l al-amr
Semua kata kerja yang ber-shgah fi'l amr termasuk
kategori thalabi,
Contoh 1:

Ambillah kitab itu dengan kuat!


Contoh 2:
W-+:;N-4 -.- 4
W-O7)O; gO)
6*^OE- W
Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (QS.
An-Nis [4]: 36)
Fiil amr pada kalimat ini adalah lafaz


Contoh 3:


119

Wahai malam, panjanglah! Wahai tidur, hilanglah! #
Wahai waktu Shubuh berhentilah! Dan jangan lagi
engkau terbit.
Fiil amr pada bait syair ini adalah lafaz

dan

.
Contoh 4:

Hiduplah mulia atau matilah terhormat # Antara


tusukan tombak dan kibaran bendera perang.
Fiil amr pada bait syair ini adalah lafaz

dan


b) Fi'l Mudhri yang disertai lam amar
Fi'il mudhri yang disertai dengan lam amar
maknanya sama dengan amr yaitu perintah.
Contoh 1,

Hendaklah berinfak ketika dalam keleluasaan


Contoh 2:
}74^4 74g)`
OE`q 4pONN;4C O)
)OOC^- 4pNON`4C4
NOuO^)
4pOE_uL4C4 ^}4N
@O4^- _
Elj^q4 N-
]O)U^^-
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang makruf dan mencegah dari yang

120

munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(QS. li Imrn [3]: 104)
Contoh 3:
O W-O_^4O^
_1E> W-OONO^4
-4O7O+^
W-OO-C4O^4
ge^14l^)
-1gE^-
Kemudian, hendaklah mereka meng-hilangkan
kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah
mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan
hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf
sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS. Al-
Hajj [22]: 29)
Fiil mudhri yang disertai dengan lm al-amr
adalah lafaz pada ayat pertama dan


serta

pada ayat kedua.


c) Isim fi'il amar
Kata isim yang bermakna fi'il (kata kerja) termasuk
shigat yang membentuk kalm insyi thalabi ,
Contoh,

Mari melaksanakan shalat! Mari menuju


kebahagiaan!

d) Masdar pengganti fi'il
Mashdar yang posisinya berfungsi sebagai pengganti
fi'il yang dibuang bisa juga bermakna amar,
Contoh,

121

Berusahalah pada hal-hal yang baik



Dari keempat shgah tersebut makna amar pada
dasarnya adalah perintah dari yang lebih atas kepada yang lebih
rendah. Namun demikian ada beberapa makna amar selain
dari makna perintah.
Makna-makna tersebut antara lain:
1) Al-Irsyd (mengarahkan), Contohnya pada lafaz

sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:


E_GC^4C -g~-.-
W-EONL4`-47 -O)
7+L4C-E> ^E)
-O) E_ O=OG`
+O+l+- _
U+-'4O^4 74LuO+
lUg> ;E^)
_
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan
hendaklah seorang penulis di antara kamu
menuliskannya dengan benar. (QS. Al Baqarah [2]:
282)
2) Ad-Du (doa). Contohnya pada lafaz


sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:
p4O /j_;N)eu
up 4O7;-
C4Eug^ /--
=e;Eu^ O>4N _

122

Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri
nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan
kepadaku. (QS. An-Naml [27]: 19)
3) Al-Iltims (memohon dengan penuh). Contohnya
pada lafaz

pada kalimat berikut:


Berilah aku pena itu wahai saudara


4) At-Tamann (mengharap sesuatu yang mustahil
terjadi). Contohnya pada lafaz

pada syair ini:


Wahai malam yang panjang! Tampakkanlah # Sinar


pagimu, dan tidak ada yang menyerupai sinar pagimu
5) At-Takhyr (memilih). Contohnya pada lafaz


pada kalimat berikut:


Nikahilah Hindun atau saudarinya
6) At-Taswiyah (persamaan). Contoh-nya pada lafaz
pada kalimat berikut:


Engkau bersabar atau tidak
7) At-Tajz (melemahkan). Contoh-nya pada lafaz


sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:
p)4 +L O) UuC4O
Og)` 4L^EO4^ _O>4N

123

4^gl4N W-O>
E4OOOO) }g)`
g)-uVg)`
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al
Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami
(Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal
al-Quran itu (QS. Al-Baqarah [2]: 23)
8) At-Tahdd (mengancam). Contoh-nya pada lafaz

sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:


EW-OU4- 4` ;e+-^Og-
W +O^^) E)
4pOUEu> NOO4
Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya
dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS.
Fushshilat [41]: 40)
9) Al-Ibhah (membolehkan). Contohnya pada lafaz

dan

sebagaimana disebutkan dalam al-


Quran:
W-OU74
W-O+4O'=-4 _/4EO
4E-4lE4C N7
7O^OC^- +*4O-
=}g` O^OC^-
g14Oc- =}g`
@O;E^- W
Makanlah dan minumlah sehingga jelas bagimu
benang putih dari benang hitam yaitu waktu fajar.
(QS. Al Baqarah [2]: 187)

124

10) Al-Ikrm (memuliakan). Contoh-nya pada lafaz
sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:
E-OU7=u1- U=O)
4-gLg`-47
"Masuklah kalian ke dalamnya (surga) dengan
sejahtera lagi aman". (QS. Al- Hijr [15]: 46)
11) Al-Imtinn (pemberian nikmat). Contohnya
pada lafaz

sebagaimana disebutkan dalam


al-Quran:
W-OU7 Og` N:~Ee4O
+.- 1EUEO 4ljOC
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang
Telah diberikan Allah kepadamu. (QS. An Nahl [16]:
114)
12) Al-Ihnah (penghinaan). Contohnya pada lafaz

sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:


~ W-O+^O7 E4OEgO
u -Cg4
Jadilah kalian batu atau besi. (QS. Al-Isr [17]:
50)
13) Ad-Dawm (kontinyu atau berkesinambungan).
Contohnya pada lafaz sebagaimana
disebutkan dalam al-Quran:
4^gu-- EO4O_^-
474-O^-
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Ftihah
[1]: 6)

125

14) Al-Itibr (mengambil pelajaran). Contohnya
pada lafaz sebagaimana disebutkan dalam
al-Quran:
W-NOO^- _O)
j@OE .-O)
4OE^ gOguL4C4 _
Perhatikanlah buahnya di waktu berbuah dan
(perhatikan pula) kematangannya.... (QS. Al-Anm
[6]: 99)
15) Al-Idznu (mengizinkan). Contoh-nya: =
masuklah!
16) At-Tadb (mengajarkan adab atau sopan
santun). Contohnya pada lafaz

sebagaimana
disebutkan pada hadis:

Makanlah apa yang ada di depanmu


17) At-Taajjub (kagum atau heran). Contohnya pada
lafaz sebagaimana disebutkan dalam al-
Quran:
OO^- E-^OE
W-O+4Og El
41^`-
Lihatlah bagaimana mereka membuat
perumpamaan-perumpamaan terhadap-mu.... (QS.
Al-Isr [17]: 48)
2. Nahyu

126

Makna nahyu secara leksikal adalah melarang, menahan,
dan menentang. Sedangkan dalam terminologi
ilmu balghah nahyu adalah,

Tuntutan meninggalkan suatu perbuatan dari pihak


yang lebih tinggi
Dengan kata lain An-Nahyu adalah meminta
(menuntut) penghentian suatu perbuatan dari orang
yang lebih tinggi kedudukannya (posisinya) kepada
orang yang lebih rendah. Dikenal juga dengan nama
larangan. Ia adalah anonim (lawan kata) dari al-amr.
Kalau al-amr memiliki beberapa shgat, berbeda
dengan an-nahyu yang hanya memiliki satu shgat,
yaitu fiil mudhri yang disertai dengan


Contoh,
4 W-O+4O^>
-OE+@O- W
+O^^) 4p~E
LO4= 47.Ec4
1EO):Ec
:

( 65 )
Janganlah kamu sekalian mendekati zina!
Sesungguhnya zina itu perbuatankeji dan jalan yang
sejelek-jeleknya. (al-Isra:32)
Pada ayat di atas terdapat ungkapan nahyu, yaitu pada kata
4 W-O+4O^>
-OE+@O-
Ungkapan tersebut bermakna larangan Allah swt
melarang orang-orang beriman berbuat zina.


127

An-Nahyu terkadang keluar dari maknanya yang asli
kepada makna-makna lain. Hal ini dapat diketahui
dengan mengkaji konteks dan redaksi suatu kalimat. Di
antara makna-makna yang dimaksud adalah:
1) Al-Irsyd (memberi petunjuk). Contohnya pada
lafaz

sebagaimana disebutkan dalam al-


Quran:
Og^4C -g~-.-
W-ONL4`-47
W-OU4*O ;}4N
47.4O;- p) E:>
7 7uOO
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika
diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu.
(QS. Al-Midah [5]: 101)
2) Ad-Du (doa). Contohnya pada lafaz
sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:
E4+4O .4^'Og-E>
p) .4L1O4e u
4^Cu= _
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami
jika kami lupa atau kami tersalah. (QS. Al-
Baqarah [2]: 286)
3) Al-Iltims (memohon dengan penuh).
Contohnya terdapat pada lafaz pada
kalimat ini:


128

Wahai saudaraku, janganlah engkau
mengunjungiku pada malam hari
4) At-Tamann (mengharap sesuatu yang mustahil
terjadi). Contohnya pada lafaz pada
bait syair:

Duhai malam yang panjang, munculkanlah # sinar


subuhmu, karena tidak ada yang menyerupai sinar
subuhmu ini.
5) At-Tais (mengungkapkan rasa penyesalan).
Contohnya pada lafaz sebagaimana
disebutkan dalam al-Quran:
W-+OO4-u> ;~
7OEE Eu4
7g4EC) _
Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir
sesudah beriman. (QS. At-Taubah [9]: 66)
6) At-Taubkh (menjelekkan). Contoh-nya pada
lafaz pada kalimat berikut:

Jangan engkau melarang seseorang berbuat jelek


sementara engkau melakukannya.
7) Al-Tahdid (mengancam). Contoh-nya pada lafaz
pada kalimat berikut:

Jangan engkau patuhi perintahku



129

8) Al-Karhah (membenci). Contoh-nya pada lafaz
pada kalimat:

Jangan engkau menengok dalam keadaan sholat


9) Al-Itins (menghibur). Contohnya pada lafaz
sebagaimana disebutkan dalam al-
Quran:
up4O^4` ]) -.-
E4E4` W
Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya
Allah beserta kita. (QS. At-Taubah [9]: 40)
10) At-Tahqr (menghina). Contohnya pada lafaz
pada bait syair berikut:

Janganlah kalian mencari keutamaan,


sesungguhnya keutamaan itu tangganya # sulit.
Hiduplah dengan tenang dan hati yang damai.
Contoh lain pada lafaz pada bait syair:

Biarkanlah kemuliaan itu datang sendiri, janganlah


engkau berangkat untuk mencarinya # Duduklah
karena sesungguhnya engkau adalah pemberi
pangan dan sandang.
11) Ad-Dawm (perbuatan yang terus menerus).
Contohnya terdapat pada lafaz
sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:

130

4 -4=O> -.- EgEN
O4N NEu4C
]O)U-- _
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad)
mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat
oleh orang-orang yang zalim. (QS. Ibrhm [14]:
42)
12) Bayn al-qibah (menjelaskan akibat). Seperti
dalam contoh lafaz sebagaimana
disebutkan dalam al-Quran:
4 E4=O^4`
4g~-.- W-OUg~
O) O):Ec *.-
>4O^` _ 4
v7.41;O E4gN
)_)4O 4pO~EeONC
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang
gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu
hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
(QS. li Imrn [3]: 169)
At-Tamann, yaitu meminta (menuntut) sesuatu
yang mustahil (tidak mungkin) terjadi atau mungkin
tetapi tidak bisa diharapkan.
Lafaz yang dipergunakan untuk at-tamann yaitu


Contohnya sebagaimana dalam syair:

Semoga masa muda itu bisa kembali lagi # Supaya saya


bisa memberitahu apa yang dilakukan seseorang di masa
tua.

131

Contoh lain sebagaimana disebutkan dalam al-
Quran:
=e^OU4C E4 u1g` .4`
)q NpNO~ +O^^)
7~. ]^EO 1g4N
...Semoga kita diberikan harta benda sebagaimana
yang diberikan kepada Karun. (QS. Al-Qashash [28]:
79)
Sedangkan untuk meminta (menuntut) sesuatu yang
mungkin/bisa terjadi dinamakan at-tarajj. Lafaz-lafaz
yang dipergunakan untuk at-tarajj adalah

dan

.
Contohnya sebagaimana disebutkan dalan al-Quran:
/=OE +.- p 4O)4C
gEuE^)
... Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan
kemenangan (kepada Rasul-Nya).... (Q.S. Al-Midah
[5]: 52)
Contoh lain sebagaimana firman Allah:
OjO;> EE -.-
[g^47 Eu4 ElgO
-6O^`
... Kamu tidak mengetahui barangkali Allah
mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru. (QS.
Ath-Thalq [65]: 1)
Namun karena faktor-faktor keindahan bahasa,
terkadang dipergunakan juga lafaz dengan makna
at-tarajj.

132

Jadi, lafaz yang dipergunakan untuk at-tamann ada
4: satu yang asli yaitu sementara yang 3, yaitu
dan

serta

menjadi pengganti, dan ini


dipergunakan karena memenuhi faktor-faktor
keindahan bahasa.
Contoh penggunaan sebagaimana disebutkan
dalam al-Quran:
E_ 4L- }g`
47.EE7- W-ONE;=41
.4L
Maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan
memberi syafaat bagi kami. (QS. Al-Arf [7]: 53)
Contoh penggunaan sebagaimana disebutkan
dalam al-Quran:
OU Ep 4L LEOE
4pO74L =}g`
4-gLg`u^-
Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke
dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang
beriman. (QS. Asy-Syuar [26]: 102)
Contoh penggunaan sebagaimana disebutkan
dalam syair:

Wahai kawanan burung qatha (mirip merpati), siapakah


yang mau meminjamkan sayapnya # Agar aku bisa
terbang kepada kekasihku


133


3. I stifhm
Kata (

) merupakan bentuk
mashdar dari kata (

) Secara leksikal kata


tersebut bermakna meminta pemahaman/meminta
pengertian Secara istilah istifhm bermakna


menuntut pengetahuan tentang sesuatu
Kata-kata yang digunakan untuk istifhm ini
ialah :



Suatu kalimat yang menggunakan kata tanya
dinamakan jumlah istifhmiyyah , yaitu kalimat
yang berfungsi untuk meminta informasi tentang
sesuatu yangbelum di ketahui sebelumnya dengan
menggunakan salah satu huruf istifhm
Contoh kalimat tanya seperti
.^^)
+OE4^4O^ O)
g-^O
jO;^-
.4`4
El.4Ou1 4`
7-^O
jO;^- : ( 4 - 5 )
Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Alquran) pada

134

malamkemuliaan. Dan tahukah kamu
apakah malam kemuliaan itu?)
a) Hamzah ( )
Hamzah sebagai salah satu adat istifhm
mempunyai dua makna,
(1) Tashawwuri
Tashawwuri artinya jawaban yang
bermakna mufrad. Ungkapan
istifhm yang meminta pengetahuan
tentang sesuatu yang bersifat mufrad
dinamakan istifhm tashawwuri.
Contoh,
1

Pada kedua kalimat di atas adat


yang digunakan untuk bertanya adalah
hamzah. Aspek yang dipertanyakan
pada kedua kalimat di atas adalah hal
yang bersifat tashawwur Pada kalimat
pertama hal yang ditanyakan adalah
dua pilihan antara (

)
dan (

)
Kedua ungkapan tersebut bersifat
tashawwur (makna mufrad), tidak
berupa nisbah (penetapan sesuatu atas
yang lain). Demikian juga pada
pertanyaan nomor 2, penanya
menanyakan apakah engkau (

) atau
(

) Kedua kata tersebut bersifat


tashawwuri (mufrad ) bukan nisbah

135

.
(2) Tashdq
Hamzah juga digunakan untuk
pertanyaan yang bersifat tashdq, yaitu
penisbatan sesuatu atas yang lain.
Contoh,


Kedua kalimat di atas merupakan
jumlah istifhmiyah. Adat yang
digunakan untuk bertanya adalah
hamzah. Hal yang ditanyakan oleh
kalimat di atas adalah kaitan
antara (

) dan (

)
Penisbatan sifat berkarat kepada emas
merupakan hal ditanyakan oleh
mutakallim. Karena hal yang
dipertanyakan bersifat nisbah maka
dinamakan tashdq
b) Man (

)
Kata (

) termasuk ke dalam adat


istifhm yaitu untuk menanyakan tentang
orang. Contoh,


Adat istifhm pada jumlah
istifhamiyah di atas adalah (

) yang
bertujuan untuk menanyakan siapa yang
membangun mesjid ini.


136

Selain kedua adat istifhm di atas masih
terdapat beberapa adat lainnya yang mempunyai
fungsi masing-masing. Adat-adat tersebut adalah sbb:
)c)

yang digunakan untuk menanyakan


sesuatu yang tidak berakal. Kata ini juga
digunakan untuk meminta penjelasan
tentang sesuatu atau hakikat
sesuatu.Contoh,



(d) (

) yang digunakan untuk meminta


penjelasan tentang waktu, baik waktu
lampau maupun sekarang. Contoh,


(e) (

) digunakan untuk meminta


penjelasan mengenai waktu yang akan
datang. Kata ini kebiasaannya digunakan
untuk menantang. Contoh,
El4^OU4*OEC
^}4N
gO4NOO-
4p+C
E_EcO

(f) (

) digunakan untuk menanyakan


keadaan sesuatu. Contoh,


)g) (

) digunakan untuk menanyakan


tempat. Contoh,



137


)h) ( ) merupakan adat istifhm yang
digunakan untuk menanyakan penisbatan
sesuatu pada yang lain (tashdq) atau
kebalikannya. Padaadat istifhm ( )
tidak menggunakan

dan muadil-nya.
Adat istifhm ( ) digunakan apabila
penanya (mutakallim) tidak mengetahui
nisbah antar musnad dan musnad
ilaih-nya. Adat ( ) tidakbisa masuk ke
dalam nafyu, mudhri (makna sekarang)
syarath, dan tidak bisa pula pada huruf
athaf . Hal ini berbeda dengan hamzah
yang bisa memasuki tempat-tempat
tersebut;

(i) (

) merupakan adat istifhm yang


maknanya ada tiga, yaitu:
1) maknanya sama dengan


Contoh:
_O^+ ^ONC
jOE- +.-
Eu4
E_g>O4`
2) bermakna


Contoh:



138

3) maknanya sama
dengan


Contoh:


(j) (

) merupakan adat istifhm yang


maknanya menanyakan jumlah yang
masih samar. Contoh


(k) (

)untuk menanyakan dengan


mengkhususkan salah satu dari dua hal yang
berserikat. Contoh

Kata ini digunakan untuk menanyakan hal


yang berkaitan denganwaktu, tempat,
keadaan, jumlah, baik untuk yang berakal
maupun yang tidak.

Dalam konteks berbahasa adat-adat
istifhm seperti yang telah dijelaskan dimuka
terkadang mempunyai
makna yang berbeda dengan makna asalnya Penggunaan
adat-adat istifhm kadang digunakan bukan untuk tujuan
bertanya, akan tetapi untuk maksud yang lainnya.
Maksud-maksud penggunaan adat istifhm yang
menyimpang dari tujuan awalnya adalah sbb
1) Perintah
Penggunaan adat istifhm dalam
berbahasa kadang-kadang juga digunakan untuk
maksud amr. Contoh:

139

(
11 )
Apakah kalian tidak mau berhenti?
(al-Midah:91
Kalimat tanya pada ayat di atas
mestilah dimaknai perintah. Maksudnya
adalah Berhentilah!.

2) Nahyu (larangan)
Penggunaan adat istifhm dalam praktek
berbahasa kadang juga digunakan untuk tujuan
nahyu. Contoh,
_4^O4=^C`
_ +.
O-EO p
+O4=^C` : ( 46 )
Apakah kalian takut terhadap
mereka? Padahal Allah lebih berhak
untuk ditakuti (at-Taubah:13)

Ungkapan istifhm pada ayat di atas
maknanya adalah larangan untuk
menakuti mereka (orang-orang kafir)

3) Taswiyah (menyamakan antara dua
hal)
Penggunakan adat istifhm juga kadang
untuk makna taswiyah Contoh:
v7.-4OEc
)_^1U4
_>OEO^4

140

7 u
-OOL>
4pONLg`uNC : ( 6 )
Sama saja bagi mereka, apakah
engkau memberi peringatan atau
tidak. Mereka tidak akan beriman.(Q.S
al-Baqarah: 6)

Pada ayat di atas kalimat istifhm
bermakna taswiyah (menyamakan antara
diberi peringatan atau tidak) mereka tetap
tidak beriman.

4). Nafyu (kalimat negatif)
Kalimat negatif merupakan lawan
dari kalimat positif, yaitu kalimat yang
meniadakan hubungan antara subjek
dan predikat, seperti berikut:
Cw)O^NLEc
E -/=O4> )
4` 47.E-
+.-
Kami akan membacakan (Alquran)
kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak
akan lupa, kecuali kalau Allah
menghendaki

Selain dengan menggunakan huruf
nafiyah, makna manfy bisa juga terdapat pada
ungkapan istifhamiyah. Contoh firman
Allah pada surah ar-Rahman 60

141

E- +7.-4OE_
^}=O;Oe"-
)
}=O;Oe"-
Tidaklah balasan untuk kebaikan itu
melainkan dengan kebaikan

5) Inkr (penolakan)
Ungkapan istifhmiyah juga kadang
mempunyai makna inkar atau penolakan.
Contoh,


Bukankah Allah yang kamu cari?

6) Tasywq (mendorong)
Ungkapan istifhamiyyah juga kadang
mempunyai makna untuk mendorong
mukhthab agar
melakukan pesan yang disampaikan
mutakallim. Contoh firman Allah dalam
Alquran,
E-
7e1
_O>4N
E4OO_g`
71L>
;}g)` -EO4N
7g : ( 41 )
Maukah kalian aku tunjukkan kepada
suatu perniagaan yang

142

dapat menyelamatkan kamu dari
adab yang pedih. (Ash-Shaff :10)

Ungkapan istifhmiyah pada ayat di
atas berfungsi sebagai dorongan kepada
mukhthab agar menyimak pesan
berikut yang akan disampaikannya.
7) Penguatan
Ungkapan istifhmiyah kadang juga
digunakan untuk penguatan suatu
pertanyaan. Contoh,
O-~.O4^-
4`
O-~.O4^-
.4`4
El.4Ou1 4`
O-~.O4^-
Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu?
Tahukah kamu, apakah hari
kiamat itu?
Pertanyaan yang berulang-ulang pada
ayat di atas berfungsi untuk menguatkan.

1) Tazhm (mengagungkan)
Contoh ungkapan istifhmiyah yang
bermakna tazhm adalah firman Allah,
}4` -O Og~-.-
7E;=EC
+E4gN )
gOg^^O))

143

Tiada yang dapat memberi syafa'at di
sisi Allah tanpa izin-Nya?

9). Tahqr (merendahkan)
Ungkapan istifhmiyah bisa bermakna
tahqr (merendahkan). Contoh,


Inikah orang yang kamu puja-puja itu?

10) Taajjub (mengagumi)
Ungkapan istifhmiyah yang
bermakna taajjub dapat kita lihat pada
contoh berikut ini,


Tidaklah bagi rasul ini memakan
makanan dan berjalan
di pasar-pasar?
11). Al-Wad (ancaman)
Ungkapan istifhmiyah kadang juga
bermakna ancaman seperti terlihat
padafirman Allah berikut ini,
4O>
E-^OE E
ElG4O
UO4')
Og^-
Tidakkah kamu melihat bagaimana
perbuatan Tuhanmu

144

terhadap pasukan bergajah?
12). Tamann (harapan yang tak
mungkin terkabul)
Makna tamann juga terdapat pada
ungkapan istifhmiyah Contohnya adalah
firman Allah berikut ini,
E_ 4L- }g`
47.EE7-
W-ONE;=41
.4L u : ( 52 )
Apakah kami mempunyai orang
yang dapat memberi syafaat
agar mereka memberi syafaat
kepada kami?



I LMU BAYN

TUJUAN
Setelah mengikuti proses pembelajaran peserta didik
diharapkan dapat memahami 1)pengertian bayn; 2)
peletak dasar ilmu bayn; 3) manfaat ilmu bayn; dan
4)bidang kajian ilmu bayn.

BAHASAN
A. Pengertian Bayn
1) Al-Bayn Menurut Etimologi
Kata al-bayn () dalam semua bentuk isytiqq
(perubahan katanya) menunjukkan arti azh-zhuhr

145

(), al-kasyf () dan al-dhh ()
(menjelaskan atau menerangkan). Sebagaimana
disebutkan pada beberapa surat dalam al-Quran. Di
antaranya adalah firman Allah swt.:
ElgEOE -))-4:NC
+.- gOg-4C-47
+EE4Ug _^UE
]O+-4C
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepada manusia supaya mereka bertakwa. (QS. al-
Baqarah [2]: 187)
CgEOE -))-4lNC
+.- N:
ge4CE- 7+UE
]NO-E4->
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepada kalian supaya kalian memikirkannya. (QS. al-
Baqarah [2]: 266)
C@ONC +.- 4))-4lN1g
7
Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya)
kepada kalian. (QS. an-Nis [4]: 26)
.4L^4O^4
El^O) 4O-g]~.-
4))-4l+g +EELUg
4` 4@O+^
jgO)

146

_^UE4
]NO-E4-4C
Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) al-
Quran agar kamu menjelaskan kepada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya
mereka memikirkan. (QS. an-Nahl [16]: 44)
^O)4 EO +.-
4-V1g` 4g~-.-
W-O>q
=U4-^-
+OEL7[j14+
+EELUg 4
+O4^O+-'>
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-
orang yang telah diberi kitab (yaitu) hendaklah
kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia.
(QS. li Imrn [3]: 187)
+-4Ec4 O)
^}:=O4` 4g~-.-
W-EOU
_=O^
-E-4:>4 :
E-^OE 4LUE
)_) E44Og4
N7 4V^`-
Dan kalian telah berdiam di tempat-tempat kediaman
orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan
telah nyata bagi kalian bagaimana kami telah berbuat

147

terhadap mereka dan telah kami berikan kepada kalian
beberapa perumpamaan. (QS. Ibrhm [14]: 45)
Demikian makna al-bayn dalam al-Quran. Masih
banyak kata-kata () dengan berbagai macam bentuk
dalam al-Qur'an, namun di sini sekedar menjadi contoh
bagi ayat-ayat yang lain.
Menurut definisi ar-Rghib al-Ashfahn, al-
bayyinah adalah penunjukan makna yang jelas baik
pada hal-hal yang bersifat konkrit maupun abstrak. Al-
bayn merupakan ciri khas manusia yang
membedakannya dengan makhluk-makhluk lain. Allah
swt. berfirman:
}EuOO- ^
=^U4 4p-47O^-
^g 4UE
=}=Oee"- ^@
+OE^U4N
4p4O4:^- ^j
Ar-Rahmn, Yang mengajarkan al-Quran,
Menciptakan manusia dan mengajarkannya al-bayn.
(QS. ar-Rahmn [55]: 1-4).

Al-bayn disebutkan juga dalam Hadis pada
beberapa tempat, di antaranya:
Pertama, Sabda Rasulullah saw.:

Sesungguhnya sebagian dari al-bayn itu membuat


orang tersihir (terkesima/terhipnotis) dengan kata-kata.

148

Dalam konteks ini al-bayn berarti menyampaikan
maksud dan tujuan dengan menggunakan lafaz yang
paling indah. Itu semua tentu melalui pemahaman dan
kecerdasan hati (spiritual).
Kedua, Sabda Rasulullah saw.:

Berkata yang kotor/jorok dan al-bayn adalah cabang


dari sifat kemunafikan.
Dalam konteks ini al-bayn berarti bertindak
berlebihan atau over acting dalam berbicara. Biasanya
itu muncul disebabkan perasaan ujub (tindakan agar
dikagumi oleh orang yang melihatnya dan itu
merupakan penyakit hati).
Pada kedua Hadis tersebut di atas, al-bayn
menunjukkan arti menjelaskan dan menerangkan (al-
kasyfu wa al-dhh).

2. Al-Bayn Menurut Terminologi
Menurut terminologi, al-bayn adalah suatu disiplin
ilmu yang mempelajari cara mengungkapkan bahasa
dengan susunan kalimat yang beragam, di mana yang
sebagian lebih jelas penunjukan maknanya atau lebih
berkesan dari yang lain. Jadi ilmu al-bayn berkaitan
dengan keindahan berbahasa yang pengungkapannya
menggunakan kata-kata indah dan mampu
meninggalkan kesan yang mendalam di hati pendengar
atau pembaca.

149

Pengertian di atas bukanlah satu-satunya definisi yang
dikemukakan oleh para pakar. Ada beberapa pakar lain yan
mempunyai definisi tersendiri tentang ilmu ini.
1. Imam Akhdhari Ilmu Bayn ialah ilmu yang mempelajari tata
cara pengungkapan suatu makna dengan menggunakan
susunan kalimat yang berbeda-beda penjelasannya (dari yang
jelas, kurang jelas dan lebih jelas).Maksud definisi
tersebut adalah, bahwa ilmu bayn merupakan ilmu
untuk mengetahui teknik-teknik mengekspresikan
suatu ide fikiran atau perasaan dengan menggunakan
ungkapan yang sesuai dengan konteksnya. Ungkapan
tersebut bervariasi antara satu kondisi dengan
kondisi lainnya.
2. K.H A. Wahab Muhsin. Menurut beliau ilmu Bayn
adalah ilmu untuk mengetahui cara menyusun satu
pengertian dengan bermacam-macam redaksi.
3. Rukyatul Hilal dan Yayan Nurbayn. Menurut keduanya,
ilmu bayn adalah suatu ilmu yang memuat konsep
dankaidah-kaidah untuk menyampaikan suatu ide dengan
beberapa cara yangberbeda antara satu dengan yang lainnya.
(Diktat Balghah 1 : 6)

B. Peletak Dasar Ilmu Bayn
Ilmu Bayn pertama kali dikembangkan oleh Abu Ubaidah
Ibn al-Matsani (211 H). Sebagai dasar pengembangan
ilmu ini beliau menulis sebuah kitab dengan judul Majz
Alquran Dalam perkembangan berikutnya muncul
seorangtokoh terkemuka dalam ilmu ini yaitu Abd al-
Qhir al-Jurjni (471 M). Ilmu ini terus berkembang dan
disempurnakan oleh para ulama berikutnya, sepeti al-Jhizh ibn
Mutaz, Quddmah, dan Ab Hill al- Askari.


150

C. Manfaat Ilmu Bayn
Objek kajian ilmu Bayn adalah tasybh, majz, dan
kinyah Melaluiketiga bidang ini kita akan mengetahui
ungkapan-ungkapan bahasa Arab yang fash, baik dan benar,
mengetahui ungkapan-ungkapan yang tidak fash dan
tidakcocok untuk diucapkan. Ilmu ini pula dapat
membantu kita untuk mengungkapkan suatu ide atau
perasaan melalui bentuk dan uslub yang bervariasi sesuai dengan
muqtadha al-hl Dengan pengetahuan di atas seseorang akan
mampu menangkap kemukjizatan Alquran dari aspek bahasanya.
Dengan kemampuan yang memadai, pada ilmu ini seseorang
akan mampu menangkap keindahan, ketepatan, dan kehebatan
ayat Alquran, baik pada tataran jumlah kalimah sampai
kepada huruf-hurufnya.