Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA An.

JP DENGAN TINDAKAN APPENDIKTOMI DI RUANG OK PKU MUHAMMADIYAH BANTUL Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Mata Kuliah KMB II

Disusunoleh Suci Kurniawati Tri Erawati Lafrana Vinda Astri Permatasari

: P07120112076 P07120112078 P07120112080

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN 2013

LEMBAR PENGESAHAN ASUHAN KEPERAWATAN APPENDIKTOMI PADA An. JP DI RUANG OK PKU MUHAMMADIYAH BANTUL 2013

Diajukan untuk disetujui pada : Hari Tanggal Tempat : : Desember 2013

: Ruang OK PKU Muhammadiyah Bantul

Pembimbing Lapangan

Pembimbing Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN

A. Pengertian Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi. Appendisitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun Appendiksitis akut adalah suatu keadaan yang sering terjadi yang membutuhkan operasi kegawatan perut pada anak. Diagnosanya sulit pada anak-anak, merupakan faktor yang memberikan angka perforasi 30-60%. Inflamasi menyebabkan appendiks membengkak dan nyeri yang dapat menimbulkan gangren karena suplai darah terganggu. Appendiks juga dapat pecah, biasanya terjadi antara 36 dan 48 jam setelah awitan gejala. Pengangkatan appendiks terinflamasi dapat dilakukan pada pasien rawat jalan dengan menggunakan pendekatan endoskopi. Namun, adanya perlengketan multipel, posisi retroperitoneal dari appendiks, atau robek perlu dilakukan prosedur pembukaan (tradisional) atau disebut juga appendiktomi. Appendiktomi adalah pembedahan untuk mengangkat appendiks dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.

B. Insiden 1. Insiden sedikit lebih tinggi pada pria 2. Insiden paling tinggi pada akhir masa kanak-kanak 3. Jarang terjadi pada anak di bawah 2 tahun dan sangat jarang pada anak di bawah 1 tahun 4. Perforasi berhubungan dengan usia, lebih sering terjadi pada anak yang lebih muda, sebagian besar kemungkinan disebabkkan oleh kesulitan dalam diagnosis 5. Appendiksitis lebih sering menyerang pada usia 10 sampai 30 tahun.

C. Etiologi 1. Fekalit atau massa fekal padat karena konsumsi diet rendah serat 2. Tumor appendiks 3. Cacing ascaris 4. Erosi mukosa appendiks karena parasit E. Histolytica 5. Hiperplasia jaringan limfe.

D. Manifestasi klinis 1. Sakit, kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah dengan intensitas nyeri tertinggi pada titik McBurney (terletak di pertengahan antara krista iliaka anterior superior kanan dan umbilikus) 2. Anoreksia 3. Mual 4. Muntah (tanda awal yang umum, kurang umum pada anak yang lebih besar) 5. Demam, demam ringan di awal penyakit, dapat meningkat tajam pada peritonitis 6. Nyeri lepas 7. Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali 8. Konstipasi 9. Diare (sedikit, berair)

10. Kesulitan berjalan atau bergerak 11. Iritabilitas E. Patofisiologi Appendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat tersumbat, kemungkinan oleh fekalit (massa keras dari feses), tumor atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal yang akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri dan ulserasi mukosa menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam, terlokalisasi dikuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya appendiks yang terinflamasi berisi pus. Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat menyebabkan peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri kanan bawah disebut appendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding appendiks yang diikuti dengan gangren yang disebut appendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh pecah akan terjadi appendisitis perforasi. Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat appendikularis. Peradangan appendiks dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, momentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang, dinding appendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang menjadi kurang memudahkan terjadinya perforasi. Pada orang tua perforasi mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.

F. Pathways

G. Komplikasi Komplikasi terjadi pada 25-30% anak dengan appendisitis, terutama komplikasi dengan perforasi. Cara yang paling efektif mengurangi komplikasi appendisitis adalah mengurangi insiden perforasi. Mortalitas appendisitis rendah (0,5-1%) tetapi terjadi. Komplikasinya terutama adalah infeksi. Infeksi luka mempersulit penyembuhan pada 0-2% anak dengan appendisitis nonperforasi dan pada 10-15% dari mereka yang dengan perforasi. Dapat terjadi peritonitis jika appendiks yang membengkak pecah. Peritonitis secara bermakna meningkatkan resiko komplikasi pasca

pembedahan.

H. Penatalaksanaan Penatalaksanaan appendiksitis : 1. Sebelum operasi a. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi b. Pemasangan kateter untuk kontrol produksi urin. c. Rehidrasi d. Antibiotik dengan spektrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena. e. Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk membuka pembuluh pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai. f. Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.

2. Operasi a. Appendiktomi.

b. Appendiks dibuang, jika appendiks mengalami perforasi bebas, maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika. c. Abses appendiks diobati dengan antibiotika IV, massanya mungkin mengecil, atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. Appendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan. 3. Pasca operasi a. Observasi TTV. b. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. c. Baringkan pasien dalam posisi semi fowler. d. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien dipuasakan. e. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal. f. Berikan minum mulai 15 ml/ jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. g. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 230 menit. h. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. i. Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

Pada keadaan massa appendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai dengan : 1. Keadaan umum klien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi 2. Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tanda-tanda peritonitis 3. Laboratorium masih terdapat leukositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri.

Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan, karena dikuatirkan akan terjadi abses appendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaikbaiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada pembedahan pada appendisitis sederhana tanpa perforasi. Pada keadaan massa appendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan : 1. Umumnya klien berusia 5 tahun atau lebih. 2. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh tidak tinggi lagi. 3. Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan. 4. Laboratorium hitung leukosit dan hitung jenis normal. Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan istirahat di tempat tidur. Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih-lebih bila massa appendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut. Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau tanpa peritonitis umum.

I.

Pemeriksaan penunjang 1. Sel darah putih : Leukositosis di atas 12.000/mm3, neutrofil meningkat sampai 75% 2. Urinalisis : Normal, tetapi eritrosit atau leukosit mungkin ada 3. Foto abdomen : Dapat menyatakan adanya pengerasan material pada appendiks (fekalit), ileus terlokalisir.

J. Konsep Dasar Keperawatan 1. Pengkajian Dasar data pengkajian pasien (pra operasi)

a. Aktivitas atau istirahat Gejala : Malaise b. Sirkulasi Tanda : Takikardia c. Eliminasi Gejala : Konstipasi pada awitan awal Diare (kadang-kadang) Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan / nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus d. Makanan / cairan Gejala : Anoreksia Mual / muntah e. Nyeri kenyamanan Gejala : Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney (setengah jarak antara umbilikus dan tulang ileum kanan), meningkat karena berjalan, bersin, batuk atau nafas dalam (nyeri berhenti tiba-tiba di duga perforasi atau infark pada appendiks) keluhan berbagai rasa nyeri atau gejala tidak jelas (sehubungan dengan lokasi appendiks, contoh retrosekal atau sebelah ureter). Tanda : Perilaku berhati-hati, berbaring ke samping atau telentang dengan lutut ditekuk, meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan atau posisi duduk tegak Nyeri lepas pada sisi kiri di duga inflamasi peritoneal. f. Keamanan Tanda : Demam (biasanya rendah) g. Pernafasan Tanda : Takipnea, pernafasan dangkal

2. Diagnosa keperawatan

a. Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah. b. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh. c. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal. d. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. e. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. f. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang

dirasakan

3. Intervensi Keperawatan. Rencana tujuan dan intervensi disesuaikan dengan diagnosis dan prioritas masalah keperawatan. a. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya rasa mual dan muntah, ditandai dengan : kadang-kadang diare, distensi abdomen, tegang, nafsu makan berkurang, ada rasa mual dan muntah. Tujuan : Mempertahankan keseimbangan volume cairan Kriteria hasil : Klien tidak diare, nafsu makan baik., klien tidak mual dan muntah. Intervensi : 1) Monitor tanda-tanda vital. Rasional : Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia.

2) Monitor intake dan out put dan konsentrasi urine. Rasional : Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan meningkatkan kepekaan/endapan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan. 3) Beri cairan sedikit demi sedikit tapi sering. Rasional : Untuk meminimalkan hilangnya cairan.

b. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh, ditandai dengan : Suhu tubuh di atas normal. Frekuensi pernapasan meningkat. Distensi abdomen. Nyeri tekan daerah titik Mc. Burney, Leukosit > 10.000/mm3 Tujuan : Tidak akan terjadi infeksi Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi post operatif (tidak lagi panas, kemerahan). Intervensi : 1) Bersihkan lapangan operasi dari beberapa organisme yang mungkin ada melalui prinsip-prinsip pencukuran. Rasional : Pengukuran dengan arah yang berlawanan tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut, sehingga benar-benar bersih dapat terhindar dari pertumbuhan mikro organisme. 2) Beri obat pencahar sehari sebelum operasi dan dengan melakukan klisma. Rasional : Obat pencahar dapat merangsang peristaltic usus sehingga bab dapat lancar. Sedangkan klisma dapat merangsang peristaltik yang lebih tinggi, sehingga dapat mengakibatkan ruptura apendiks. 3) Anjurkan klien mandi dengan bersih. Rasional : Kulit yang bersih mempunyai arti yang besar terhadap timbulnya mikro organisme. 4) Edukasi tentang pentingnya kebersihan diri klien. Rasional : Dengan pemahaman klien, klien dapat bekerja sama dalam pelaksaan tindakan.

c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal, ditandai dengan : Pernapasan takipnea. Sirkulasi takikardia. Sakit di daerah epigastrum menjalar ke daerah Mc. Burney. Gelisah. Klien mengeluh rasa sakit pada perut bagian kanan bawah.

Tujuan : Rasa nyeri akan teratasi Kriteria hasil : Pernapasan normal. Sirkulasi normal. Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri. Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya. 2) Anjurkan pernapasan dalam. Rasional : Pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara adekuat sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. 3) Kolaborasi dengan dokter pemberian obat analgetik. Rasional : Sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri (apabila sudah mengetahui gejala pasti). d. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. Gelisah. Wajah murung. Klien sering menanyakan tentang penyakitnya. Klien mengeluh rasa sakit. Klien mengeluh sulit tidur Tujuan : Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya. Intervensi : 1) Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi. Rasional : Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi, sehingga dapat

mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh. 2) Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi periode istirahat setelah operasi. Rasional : Mencegah luka baring dan dapat mempercepat penyembuhan.

3) Diskusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian verband, pembatasan mandi, dan penyembuhan latihan. Rasional : Mengerti dan mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan.

e. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. Nafsu makan menurun Berat badan menurun Porsi makan tidak dihabiskan Ada rasa mual muntah Tujuan : Klien mampu merawat diri sendiri Intervensi : 1) Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi. 2) Perkirakan / hitung pemasukan kalori, jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan

mempengaruhi masukan. 3) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet. 4) Beri makan sedikit tapi sering Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan. 5) Anjurkan kebersihan oral sebelum makan Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan 6) Tawarkan minum saat makan bila toleran. Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas. 7) Diskusikan kepada pasien tentang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan distres. Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan,

memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan.

8) Memberi makanan yang bervariasi Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien.

f.

Defisit

perawatan

diri

berhubungan

dengan

kelemahan

yang

dirasakan. Kuku nampak kotor Kulit kepala kotor Klien nampak kotor Tujuan : Klien mampu merawat diri sendiri Intervensi : 1) Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien. Rasional : Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan. 2) Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih. Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman 3) Berikan edukasi pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri. Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene. 4) Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya. Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan 5) Bimbing keluarga klien memandikan klien Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan 6) Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien. Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansjoer, dkk.. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Medica Aesculpalus. FKUI : Jakarta Behrman, Richard E. dkk. 1999. Ilmu kesehatan anak Nelson volume 2. Jakarta : EGC Betz, Cecily Lynn dan Sowden, Linda A. 2009. Buku saku keperawatan pediatri. Jakarta : EGC Doengoes, Marylin E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Alih Bahasa : I Made Kariasa. Jakarta : EGC Herdman, T.H. 2012. Diagnosis Keperawatan : definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC Sjamsuhidajat R dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta : EGC Smeltzer, Suzanne C Brenda G Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddhart, Edisi 8. Jakarta : EGC

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN

A. Data pengkajian Tanggal pengkajian Tanggal MRS Ruang Jam Sumber data : Selasa, 17 Desember 2013 : 16 Desember 2013 : Ruang OK RSU PKU Muhammadiyah Bantul : 12.30 WIB : Pasien, keluarga pasien, catatan medis dan

keperawatan, tim kesehatan lain Metode pengkajian : Wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan studi dokumen Oleh : Suci Kurniawati Tri Erawati Lafrana Vinda Astri Permatasari Pre Operatif 1. Identitas Klien a. Klien Nama Tanggal lahir : An. JP :16 Januari 2003

Umur Jenis kelamin Agama Pekerjaan Suku / bangsa Alamat lengkap

: 10 tahun 11 bulan : Laki-laki : Islam : Siswa : Jawa/ Indonesia : Tegalrejo RT 65 Srigading, Sanden

Tgl. masuk rumah sakit : 16 Desember 2013 Nomor register b. Penanggung jawab klien Nama lengkap Umur Jenis kelamin Perkerjaan Suku / bangsa : Tn. M : 43 tahun : Laki-laki : PNS : Jawa/ Indonesia : 10.10.45.88

Hubungan dengan klien : Ayah Alamat lengkap Diagnosis medis 2. Pengkajian data focus Keluarga klien mengatakan nyeri perut mulai hari Sabtu tanggal 14 Desember 2013 namun klien masih bisa berjalan dengan tegak, malam Minggu tanggal 15 Desember 2013 panas dan diare. Hari Minggu BAB cair 2x, sudah periksa ke bidan tapi belum membaik serta nyeri perut : Tegalrejo RT 65 Srigading, Sanden. : Appendisitis

semakin memburuk dan klien tidak bisa berjalan dengan tegak. Tanggal 15 Desember 2013 periksa ke poli, kemudian disuruh ke IGD untuk ranap. Sejak Sabtu siang tanggal 14 Desember 2013 klien menyatakan nyeri perut

P : suspect APP Q : senut senut R : perut S : 2-3 (0-10) T : hilang timbul Klien terlihat meringis menahan sakit Klien terlihat lemah Klien menyatakan nyeri di abdomen sebelah kanan bawah Klien mengaku cemas saat akan dioperasi, karena ini baru pertama kalinya. Klien terlihat gugup, gelisah.

3. Hasil Pemeriksaan a. Pemeriksaan urin (17 Desember 2013) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Pemeriksaan URIN Urin Warna Urin Reduksi Urin pH Urin Protein Urin BJ Urin Urobilinogen Urin Bilirubin Urin Keton Kuning 6,01 1,020 + Kuning Negatif 7,0 Negatif 1,010- 1,030 Positif Negatif Negatif Hasil Nilai Normal Satuan

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Urin Nitrit Urin Leukosit Urin Eritrosit Urin Epitel Urin Sed Ca Oksalat Urin Cryst Cystin Urin Jamur Urin Sil Granula Urin Sed NH4Urat Urin Phospat Amorf Urin Sed Sil Epitel Urin Sed Sil Hyalin Urin Sed Triphel Phosphat Urin Sed Urat Amorf Urin Trichomonas Urin Bakteri Batang Urin Bakteri Coccus Urin Sed Asam Urat

+1 4-8 2-4 + -

Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP /LP

b. Pemeriksaan darah (16 Desember 2013) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Pemeriksaan APTT PPT Hemoglobin Leukosit Diff Eosinofil Diff Stab Diff Basofil Diff Segmen Hasil 35,6 15,3 12,9 13,1 0,9 0 0,7 62,4 Nilai Normal 25-40 11-15 11-17 4-11 0-3 2-6 0-1 40-70 Satuan Detik Detik g% RB/MMK % % % %

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Diff Limfosit Diff Monosit Hematokrit Trombosit Golongan Darah Antal Eritrosit Ureum Kreatinin Gula Darah Sewaktu Elektrolit Cl Elektrolit K Elektrolit Na

27,3 8,7 41,3 273 O 4,91 18,3 0,66 97,5 101,1 3,78 136,0

20-40 2-8 32-52 150-450 A / B / AB / O 3,5-5,5 10-40 0,9-1,3 80-120 98-107 3,5-5,1 137-145

% % % RB/MMK

JT/MMK MG/DL MG/DL MG/DL mmol/L mmol/L mmol/L

c. Pemeriksaan Radiologi Thorax (16 Desember 2013) Hasil : thorax anak AP/PA corak bronkovaskuler bertambah, sinus CF kanan kiri lncip, diafragma kanan kiri licin. Mendukung gambaran APP akut. 4. Persiapan operasi a. Pasien dipuasakan 6-8 jam b. Klisma dan cukur area operasi c. Serah terima pasien di ruang terima kamar operasi d. Cek informed consent, pembedahan dan pembiusan lengkap e. Ganti baju pasien dengan baju operasi, topi dan selimut khusus kamar operasi f. Lepas perhiasan dan atau gigi palsu bila ada

5. Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan NO DATA MASALAH PENYEBAB DIAGNOSA KEPERAWATAN

DS : Klien menyatakan nyeri abdomen sebelah kanan bawah P : suspect di

Nyeri akut

Agen biologi

injury Nyeri akut berhubungan dengan : agen injury ditandai dengan : DS : Klien menyatakan nyeri di abdomen sebelah kanan bawah P : suspect APP Q : senut senut R : perut

suspect app

APP Q : senut hilang

S : 2-3 (0-10) T : hilang timbul Keluarga pasien

senut R : perut S : 2-3 (0-10) T :

menyatakan sejak Sabtu siang tanggal 14

timbul Keluarga pasien menyatakan sejak siang 14 2013 Sabtu tanggal Desember pasien DO : -

Desember 2013 pasien mengeluh nyeri perut di sebelah kanan bawah

Klien

terlihat

meringis

menahan sakit Klien terlihat lemah

mengeluh nyeri perut di sebelah kanan bawah DO : Klien terlihat

meringis menahan sakit Klien lemah terlihat

2.

DS : Klien mengaku cemas akan dioperasi, karena ini baru pertama kalinya. DO : Klien gugup, gelisah. terlihat saat

Cemas

Krisis situasional (prosedur pembedahan yang dilakukan)

Cemas krisis

berhubungan situasional yang

dengan (prosedur akan

pembedahan

dilakukan) ditandai dengan :

akan DS : Klien mengaku cemas saat akan dioperasi,

karena ini baru pertama kalinya. DO : Klien gelisah. terlihat gugup,

Intra Operatif A. Pengkajian 1. Persiapan Perawat a. Operator, perawat instrument, dan asisten operator melakukan cuci tangan dengan air mengalir, hibiscrub, dan disikat selama 3-5 menit. b. Menggunakan gown steril yang sudah disiapkan oleh circulating nurse. c. Memakai gloving (sarung tangan) dbantu perawat instrument. d. Circulating nurse membuka pembungkus instrument dengan tidak menyentuh bagian yang steril dan diterima oleh scrub nurse e. Memasang slop meja mayo, serta perlak dan dialasi dengan duk steril. f. Memasang mes, dan kanul suction

g. Menyiapkan beatidine 10% dan alcohol 70% di dalam kom dibantu circulating nurse. h. Setelah itu mendesinfeksi dan drapping (memasang duk steril) i. j. Mendekatkan meja instrument/mayo Menyambung dan memfiksasi selang suction, elektrik couter.

k. Instrument operasi dan scrub nurse telah siap. 2. Persiapan Bahan Alat Habis Pakai a. AMHP dan AMBHP Bedah Alcohol 70% Mess no. 20 Hipavix Silk no. 3/0 Plain no. 0 Betadine 10% Sarung tangan Kassa depers Dermalon no. 3/0 Botol kecil

NaCL Sufratulle SILK no. 2/0 Chromic no. 0 Formalin

b. AMPH anestesi Tranfusi set Abocath no. 18 EKG Elektroda N2O Spinal needle Sevorane O2 Cairan RL Cairan infus Lidodex Tri way Spuit 3cc, 5cc, 10cc ET no. 7 N2O Lidocain Obat pre medikasi, indikasi dan lain-lain sesuai kebutuhan

3. Persiapan Instrumen a. Alat Duk klem Pinset cirurgis Pinset anatomis Gunting jaringan Gunting benang Pean Kocher 5 buah 2 buah 2 buah 1 buah 1 buah 10 buah 4 buah

Steel deep Ovarium klem Needledoft Langen beck Needle holder Klem ellis Kom Bengkok Scapel mess no.4

2 buah 1 buah 2 buah 2 buah 3 buah 1 buah 2 buah 1 buah 1 buah

b. Linen operasi Baju operasi Duk steril Duk besar lubang Slup meja Perlak 5 buah 1 buah 1 buah 1 buah 3 buah

c. Ruang operasi Lampu penerangan ruangan Lampu operasi Meja operasi Suction Elektro cauter dan negative plat Mesin anestesi Tempat sampah infeksius Tempat sampah medic tajam Tempat instrument kotor (habis pakai) Bak beisi desinfektan (saflon) untuk merendam instrument setelah operasi Ember tertutup tempat linen kotor

4. Persiapan pasien

Pasien ditidurkan dalam posisi supinasi yang selanjutnya dilakuakan anestesi (GA/RA) dan dilakukan pemasangan monitor (EKG), pada kaki kanan/kiri pasien dipasang negatif plat, pakaian dan selimut pasien diambil untuk dilakuakn tidakan septik aseptik.

5. Prosedur Operasi a. Dilakuakn desinfeksi di daerah yang akan dilakuakan incisi b. Densinfeksi yang prtama menggunakan kassa alcohol 70% dengan cara mengolesakan dari titik dalam ke luar atau secara seculer dan dilakukan berulang-ulang. c. Kemudian desinfeksi menggunakan betadin 10% denagn cara seperti pada no. b d. Dilakukan drapping pada daerah pubis sampai menutupi daerah menutupi ekstermitas bawah e. Drapping kedua dari abdomen atas sampai menutupi bagian ekstermitas atas f. Drapping ketiga pada daerah abdomen bagian samping kanan, dan bagian sudut dipasang duk klem. g. Drapping keempat padadaerah abdomen bagian samping kiri dan bagian sudutnya dipasang duk klem. h. Drapping terakhir yaitu menggunakan duk lubang besar yang menutupi seluruh tubuh pasien kecuali bagian yang mau dioperasi i. j. Sebelum dilakuakan operasi operator memimpin doa Operasi dimulai dengan incisi melalui titik Mc. Burney searah garis layer 4-5 cm k. Mengatasi perdarahan dengan cara diklem menggunakan pean dan dicauter. l. Insisi diperdalam lapis demi lapis sampai fasia

m. Setelah sampai fasia incisi diperdalam sampa otot dan peritonium n. Sampai peritonium lalu dibuka dengan menggunakan gunting jaringan, dan ambil steel depper cari apendik

o. Bila posisi apendik di retro cecal, terlebih dahulu dibebaskan menggunakan klem dan digunting selanjutnya dijahit ikat dengan silk 2/0 p. Setelah apendik terbebas dilakukan tindakan apendiktomi q. Dilakukan control perdarahan dengan steel depper. Steel depper yang dipakai di dalam abdomen yang berhubungan dengan usus dipakai kassa yang dibasahi NaCL. r. Sebelumnya ke empat sisi peritonium dipegang dengan koher, dilanjutkan control perdarahan setelah dinyatakan perdarahan tidak ada peritonium dijahit dengan chromic O, dilanjutkan otot dan fasia s. Sebelum menjahit sub kutis dilakuakan desinfeksi dengan kassa betadin t. Menjahit sub kutis menggunakan plain no. 0

u. Jahitan kulit terakhir menggunakan benang Dermalon/silk no. 3/0 v. Luka insisi dan sekitarnya dibersihakan dengan kasssa NaCL dan luka diberi betadin lalu dikeringkan dengan kassa w. Luka incisi diberi sufratulle, ditutup dengan kassa kering lalu diplester dengan menggunakan hipavix, operasi selesai, pasien dirapikan kembali.

6. Evaluasi a. Tim operasi tetap menjaga kesterilan dan keamanan pasien b. Selama operasi catat : Oksigenasi Jumlah urin Perdarahan

7. Data focus Dilakukan pembedahan insisi sepanjang 4-5 cm di abdomen sebelah kanan bawah Dipasang selang drainase di abdomen sebelah kanan bawah

B. Analisa Data NO 1. DATA DS : DO : Dilakukan pembedahan insisi 4-5 sepanjang cm di MASALAH Resiko infeksi PENYEBAB Factor resiko prosedur tindakan invasif pembedaha n kanan DIAGNOSA KEPERAWATAN Resiko infeksi berhubungan

: dengan factor resiko : prosedur tindakan invasif pembedahan DO : Dilakukan pembedahan insisi sepanjang 4-5 cm di abdomen sebelah kanan bawah Dipasang selang drainase di abdomen bawah sebelah kanan

abdomen sebelah bawah Dipasang selang drainase abdomen sebelah bawah kanan di

Intra operatif Dilakukan tindakan operasi appendiktomi sesuai prosedur yang berlaku Post Operatif C. Pengkajian Data Fokus - Pasien mengatakan nyeri pada luka operasi Pasien mengatakan luka terasa panas Pasien terlihat lemah Terdapat luka jahitan 4-5 cm di area abdomen sebelah kanan bawah Pasien terlihat meringis kesakitan Pasien terlihat gelisah Pasien terlihat lemah TD : 90/60 T : 36,2 0 C RR : 24 x/menit N : 96 x/menit D. Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan NO 1 DATA DS : Pasien mengatakan nyeri operasi DO : Pasien lemah Terdapat luka DO : terlihat Pasien mengatakan luka terasa panas pada luka MASALAH Nyeri akut PENYEBAB DIAGNOSA KEPERAWATAN akut berhubungan injury :

Agen injury : Nyeri trauma pembedahan dengan trauma

agen

pembedahan

ditandai dengan DS : Pasien mengatakan nyeri operasi Pasien mengatakan luka terasa panas pada luka

jahitan 4-5 cm di

area sebelah bawah Pasien

abdomen kanan

Pasien lemah Terdapat

terlihat

luka

terlihat

jahitan 4-5 cm di area sebelah bawah Pasien terlihat abdomen kanan

meringis kesakitan

meringis kesakitan 2. DS : DO : Pasien gelisah Pasien lemah TD : 90/60 T : 36,2 0 C RR : 24 x/menit N : 96 x/menit terlihat terlihat Resiko cedera Pengaruh regional anestesi Resiko berhubungan cedera dengan

pengaruh regional anestesi ditandai dengan DS : DO : Pasien gelisah Pasien lemah TD : 90/60 T : 36,2 0 C RR : 24 x/menit N : 96 x/menit terlihat terlihat

Pembedahan untuk mengangkat appendiks dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi

1. Sakit, kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah dengan intensitas nyeri tertinggi pada

Pengertian

titik McBurney 2. Anoreksia

1. Perforasi 2. Infeksi 3. Peritonitis

3. Mual Komplikasi Manifestasi klinis 4. Muntah 5. Demam 6. Nyeri lepas

Pemeriksaan penunjang 1. SDP : Leukositosis >12.000/mm3, neutrofil 75% 2. Urinalisis : Normal, tetapi eritrosit / leukosit mungkin ada 3. Foto abdomen : adanya pengerasan material pada appendiks (fekalit), ileus terlokalisir Appendiks terinflamasi & edema Diapedesis bakteri & ulserasi mukosa Nyeri abdomen Appendisitis supuratif akut Aliran arteri terganggu Infark dinding appendiks Gangren Appendisitis gangrenosa Pecah Appendisitis perforasi Patofisiologi APPENDIKTOMI

7. Bising usus / tidak ada 8. Konstipasi 9. Diare 10. Kesulitan berjalan / bergerak 11. Iritabilitas 1. Fekalit atau massa fekal padat karena konsumsi diet rendah serat 2. Tumor appendiks 3. Cacing ascaris 4. Erosi mukosa appendiks karena parasit E. Histolytica 5. Hiperplasia jaringan limfe Penatalaksanaan Konsep dasar keperawatan

Etiologi

Pengkajian

Intervensi keperawatan

Diagnosa keperawatan

Ctrl + click me !