Anda di halaman 1dari 12

ZOOLOGI INVERTEBRATA Filum Nemathelminthes

Oleh : ASRI ARUM SARI NIM.12222014

DOSEN PENGAMPU AWALUL FATHIQIN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) RADEN FATAH PALEMBANG FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN PROGRAM STUDI TADRIS BIOLOGI 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Nemathelminthes berasal dari bahasa Yunani yaitu nemathos benang dan helminthes cacing. Pengertian Nemathelminthes adalah cacing yang berbentuk benang atau gilik. Fillum ini merupakan salah satu fillum yang beranggotakan terbanyak sekitar 80.000, 15.000 diantaranya merupakan parasit. Disebut sebagai cacing gilik karena memiliki tubuh bulat panjang atau seperti benang. Nemathelminthes sudah memiliki rongga tubuh meskipun bukan rongga tubuh sejati, tetapi memiliki rongga tubuh semu. Nemathelminthes disebut sebagai hewan pseudoselomata (Nugroho, 2012). Memiliki rongga tubuh yang terbentuk ketika ektodermis membentuk mesodermis, tetapi belum memiliki mesenterium untuk menggantungkan visceral serta tidak memiliki lapisan otot yang mengelilingi saluran pencernaan (usus). Hewan berongga seperti itu sekarang dimasukkan ke dalam Aschelminthes. Akan tetapi nama Nemathelminthes lebih sering digunakan karena hanya satu kelompok besar yaitu Nematoda yang dianggap sukses mewakili Pseudocoelomata (Sutarno, 2009). Tubuh Nemthelminthes bulat panjang dengan permukaan tubuh halus dan mengkilat, hidup di air tawar, air asin, pada manusia maupun pada hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ciri khusus filum ini antara lain tubuh tidak beruasruas, triploblastis, bilateral simetris, tubuh panjang silindris, tidak besilia dan dioceus. Filum ini terdiri dari 2 kelas yaitu Nematoda dan Acanthocephala. Nematoda memiliki usus tetapi belum memiliki proboscis, sedangkan Acanthocephala belum memilki usus tetapi mempunyai proboscis yang berduri (Satino, 2004). Nemathelminthes hidup bebas atau parasit pada manusia, hewan dan tumbuhan. Nemathelminthes yang hidup bebas berperan sebagai pengurai sampah organik, sedangkan yang parasit memperoleh makanan berupa sari makanan dan darah dari tubuh inangnya (Sutarno, 2009).

1.2 Tujuan Tujuan melaksanakan pratikum filum Nemathelminthes yaitu 1. Untuk mengetahui karakteristik umum dari filum Nemathelminthes 2. Untuk mengetahui klasifikasi dari filum Nemathelminthes 3. Untuk mengetahui peranan dari filum Nemathelminthes

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik Filum Nemathelminthes Nemathelminthes berasal dari bahasa Yunani yaitu nemathos benang dan helminthes cacing. Pengertian Nemathelminthes adalah cacing yang berbentuk benang atau gilik. Fillum ini merupakan salah satu fillum yang beranggotakan terbanyak sekitar 80.000, 15.000 diantaranya merupakan parasit. Disebut sebagai cacing gilik karena memiliki tubuh bulat panjang atau seperti benang. Nemathelminthes sudah memiliki rongga tubuh meskipun bukan rongga tubuh sejati, tetapi memiliki rongga tubuh semu. Nemathelminthes disebut sebagai hewan Pseudoselomata. Untuk anatomi, dimulai dari mulut berlanjut pada faring atau esofagus yang berbentuk silindris. Faring berlanjut dengan intestin yang merupakan saluran pencernaan bagian tengah. Intestin itu berbentuk pipih dorsoventral dan berdinding tipis. Ovarinya berjumlah dua berbentuk benang yang menggulung. Ovari

mempunyai saluran telur (oviduk) yang berukuran lebih lebar. Oviduk menuju ke uterus yang terletak dindingya berotot. Kedua uterus bergabung dan bermuara pada vagina lubang vagina atau vulva terletak pada sepertiga bagian tubuh dari arah anterior (Nugroho, 2012). Menurut Sutarno (2009), karakteristik dari filum ini adalah sebagai berikut: 1. Simetris bilateral, triploblastik, tidak memiliki appendages 2. Memiliki coelom yang disebut pseudocoelom 3. Alat pencernaan lengkap 4. Alat ekskresi dengan sel Renette atau sistem H 5. Belum memiliki organ peredaran darah, respirasi 6. Cincin saraf yang mengelilingi esofagus merupakan pusat sistem saraf 7. Berumah dua, fertilisasi internal, tidak dapat melakukan reproduksi aseksual 8. Hidup bebas atau parasit

9. Ukuran tubuh Nemathelminthes umumnya mikroskopis, meskipun ada yang panjangnya sampai 1 meter. 10. Individu betina berukuran lebih besar daripada individu jantan. 11. Tubuh berbentuk bulat panjang atau seperti benang dengan ujung meruncing. 12. Permukaan tubuh dilapisi kutikula untuk melindungi diri. 13. Memiliki system pencernaan yang lengkap terdiri dari mulut, faring, usus, dan anus 14. Tidak memiliki pembuluh darah. 2.2 Fisiologi Filum Nemathelminthes 2.2.1 Sistem Reproduksi Alat reproduksi jantan terdiri dari testis dengan saluran berbentuk benang kusut, kemudian saluran vas deferens yang menuju ke vesikula seminalis dan berakhir pada saluran ejakulasi, alat reproduksi betina terkenal dengan bentuk Y. tiap-tiap cabanya terdiri ats ovari dan saluran berbentuk benang kemudian bersambung dengan uterus. selanjutnya kedua uterus bersambung menjadi satu membentuk salurn dengan otot dan bermuara pada vagina. Pembuahan sel telur terjadi di dalam uterus. Di dalam telur dapat mencapai 27 juta dan tiap-tiap hari cacing ascaris menghasilkan 200.000 telur (Jasin, 1984). Menurut Nugroho (2012), hewan ini melakukan reproduksi secara seksual. Sistem reproduksi bersifat gonokoris yaitu organ kelamin jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda. Fertillisasi terjadi secara internal. Telur hasil fertillisasi dapat membentuk kista dan dapat bertahan hidup pada lingkungan yang tidak memungkinkan. 2.2.2 Sistem Pernapasan Cacing Ascaris tidak mempunyai alat respirasi. Respirasi dilakukan secara an-aerob. Energi didapat dengan cara mengubah glikogen menjadi CO2 dan asam lemak yang dieksresikan melalui kutikula (Kastawi,2001).

2.2.3

Sistem Pencernaan Faring atau esofagus merupakan saluran pencernaan depan. Faring berlanjut dengan itnestin yang merupakan saluran pencernaan bagian tengah. Makanan diserpa oleh taring. Sel-sel kelenjar dari taring menghasilkan enzim dan intestinnya menyerap makanan serta melaksanakan pencernaan secara intraseluler. Kelebihan makanan disimpan sebagai cadangan glikogen dan lemak di dalam intestin, otot dan epidermis (Jasin, 1984).

2.2.4

Sistem Saraf Sistem saraf terdiri atas cincin saraf, tali saraf longitudinal baik ke arah anterior maupun posterior. Beberapa tali saraf utama lainnya adalah: sepasang tali saraf lateral dan ventral, tali saraf dorsal, sepasang tali saraf subdorsal, dan tali saraf sublateral. Kesemuanya dihubungkan dengan tali-tali saraf transversal (Sutarno, 2009).

2.2.5

Habitat Merupakan cacing yang bersifat endoparasit di dalam usus halus manusia. Cacing hidup bebas dalam rongga usus. Ascaris

lumbricoides merupakn farietas yang hidup pada usus babi dapat menginfeksi manusia, tetapi infeksinya akan hilang setelah 1-2 bulan (Jasin, 1984). 2.2 Klasifikasi Filum Nemathelminthes 2.2.1 Kelas Nematoda Kelas ini dibagi menjadi 2 sub kelas yaitu Eunematoda dan Gordiacea. Sub kelas Eunematoda terdiri dari 5 ordo yaitu Ascaroidea, Strongyloidea, Filaroidea, Dioctophymoidea dan Trichinelloidea (Rusyana, 2011). a. Ordo Ascaroidea terdiri dari setidaknya 4 familia: 1. Familia Ascaridae, termasuk famili ini adalah Ascaris lumbricoides 2. Familia Heterakidae, anggaotanya hidup parasit pada burung dan mamalia, contoh Heterakis gallinae (hidup parasit pada burung liar)

3. Familia Oxyuridae, species yang cukup dikenal adalah Enterobius vermicularis yang hidup parasit terutama pada anak-anak 4. Familia Rhabditidae, ada yang hidup bebas dan ada yang parasit. Contoh yang hidup parasit adalah Strongyloides stercoralis (Satino, 2004). b. Ordo Strongyloidea, terdiri dari beberapa familia diantaranya yang perlu dikenal dan penting antara lain adalah familia Ancylostomidae; contoh Ancylostomum duodenale yang hidup pada usus manusia (Satino, 2004). c. Ordo Filaroidea, ordo ini memerlukan hospes intermedier yaitu nyamuk Culex. Contoh yang terkenal yaitu Wucheria branrofti. Species ini dikenal sebagai penyebab penyakit kaki gajah (Satino, 2004). d. Ordo Dioctophymoidea, contohnya Dioctophyma renala e. Ordo Trichinelloidea, dari ordo ini yang terkenal adalah Trichinella spiralis yang dapat menyebabkan penyakit trichinosis pada manusia, babi dan tikus. Cacing masuk dalam tubuh manusia karena makan daging babi yang kurang masak yang mengandung larva cacing tersebut (Satino, 2004). 2.2.2 Kelas Acanthocephala Cacing kelas ini hidup dalam usus vertebrata dan biasanya melekat pada dinding usus dengan proboscis dengan kait duri. Hospes perantara Crustacea dan Insecta. Contoh species: Neoechinorhynchus emydis 2.3 Peranan Filum Nemathelminthes Nemathelminthes yang hidup bebas berperan sebagai pengurai sampah organik, sedangkan yang parasit memperoleh makanan berupa sari makanan dan darah dari tubuh inangnya (Nugroho, 2012).

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Zoologi Invertebrta mengenai Filum Nemathelminthes dilaksanakan, pada hari Selasa tanggal 30 Desember 2013 pukul 13.20 15.00 WIB. Pelaksanaan praktikum ini bertempat di Laboratorium Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Program Studi Tadris Biologi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini diantaranya sterefoam, silet atau cutter 3.1.1 Bahan Adapun bahan yang digunakan adalah Ascaris lumbricoides 3.2 Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan 2. Meletakkan organisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organisme tersebut.

3. Menggambar bentuk secara morfologi pada bagian-bagian organisme yang telah


diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Adapun hasil praktikum mengenai Filum Nemathelmintes yaitu pengamatan secara morfologi dari Ascaris lumbricoides adalah sebagai berikut: 4.1.1 Pengamatan secara morfologi berdasarkan praktikum

4.1.2

Pengamatan secara morfologi berdasarkan referensi

(Sumber: Sutarno, 2009)

4.2 Pembahasan Adapun pembahasan dari Praktikum Zoologi Invertebrata tentang filum Nemathelminthes yaitu Ascaris lumbricoides (cacing perut) mempunyai tubuh yang panjang, berbentuk silinder, dan runcing pada kedua ujungnya. Permukaaan tubuh tidak berwarna dinding tubuh tersusun dari kutikula, epidermis dan lapisan otot. Kutikula berwarna putih kekuningan. Permukaan tubuh tertutup oleh kutikula yang halus, elastis, liat membentuk garis-garis melintang sehingga menampakkan ruas-ruas semua pada tubuh cacing. Memiliki tiga buah bibir, satu dibagian dorsal dan dua di ventrolateral. Di dekat ujung posterior terdapat anus dengan bibir yang tebal. Di belakang bibir terdapat sebauh lubang eksresi yang terletak pada bagian midventral. Saluran pencernaan makanan terdiri atas: mulut, faring, usus panjang, dan anus. Menurut Rusyana (2011), Ascaris lumbricoides hidup di usus manusia, dinding tubuh tersusun dari kutikula epidermis, dan lapisan otot yang memanjang dimana terdapat saluran eksresi lateral, tali-tali syaraf dorsal dan ventral yang dihubungkan oleh cincin syaraf anterior. Hewan ini hidup parasit di tubuh manusia siklus hidup cacing ini sederhana, yaitu bila tertelan akan menetaskan larva, larva ini meninggalkan usus dengan jalan menembus dinding usus untuk masuk ke dalam peredaran darah dan mengikuti aliran darah sampai di jantung serta di paru-paru kemudian masuk di trakea dan tertelan lagi untuk kedua kalinya. Akhirnya sampai di usus halus mmenjadi cacing dewasa. Menurut Jasin (1984), cacing ini memiliki mulut berlanjut pada faring atau esofagus yang berbentuk silindris. Faring berlanjut dengan intestin yang merupakan saluran pencernaan bagian tengah. Intestin itu berbentuk pipih dorsoventral dan berdiding tipis. Ovarinya berjumlah dua berbentuk benang yang menggulung. Ovari mempunyai saluran telur (oviduk) yang berukuran lebih lebar. Oviduk menuju ke uterus yangterle dindingya berotot. Kedua uterus bergabung dan bermuara pada vagina lubang vagina atau vulva terletak pada sepertiga bagian tubuh dari arah anterior.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilaksanakan mengenai filum

Nemathelminthes maka dapat diambil kesimpulan bahwa Nemathelminthes memiliki dua kelas utama yaitu Nematoda dan Acanthochepala, salah satu spesies dari filum Nemathelminthes adalah Ascaris lumbricoides atau biasa disebut cacing perut yang termasuk dalam kelas Nematoda. Ascaris lumbricoides hidup parasit di tubuh manusia memiliki beberapa bagian tubuh yaitu mulut, usus, faring, uterus, anus dan bagian-bagian lainnya.

Nemathelminthes yang hidup bebas berperan sebagai pengurai sampah organik, sedangkan yang parasit memperoleh makanan berupa sari makanan dan darah dari tubuh inangnya. 5.2 Saran Adapun saran yang dapat saya berikan setelah melakukan praktikum ini adalah agar praktikan lebih teliti dalam mengamati morfologinya. Selain itu sebaiknya sampel yang dibawa tidak hanya satu agar kita lebih memahami mengenai filum Nemahelminthes dan pengetahuan kita tentunya akan bertambah.

DAFTAR PUSTAKA Jasin, Maskoeri. 1984. Sistematik Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya. Kastawi,Yusuf. 2001. Zoologi Invertebrata. Malang: Universitas Negeri Malang Nugroho, 2012. Nemathelminthes. http://staff. unila. ac. id/ gnugroho/ files/ 2012/ 08/ Nemathelminthes-12.pdf Rusyana, Adun. 2011. Zoologi Invertebrata. Bandung: Alfabeta Satino, 2004. Praktikum Avertebrata. Website: http:// staff.uny.ac.id/ sites/ default/ files/ Praktikum% 20Avert.pdf. Diakses Sabtu 2 November 2013 pukul 12.27 WIB Sutarno, Nono. 2009. Platyhelminthes. Website: http :// file. upi. edu/ Direktori/ FPMIPA/ JUR._PEND._ BIOLOGI/ 194808181974121 NONO_SUTARNO/ZOOIN/ PLATYHELMINTHES.pdf. Diakses Sabtu 2 November 2013 pukul 12.27 WIB