Anda di halaman 1dari 152

i

KEMENTERIAN PERTANIAN

DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN

DRAFT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL TANAMAN PANGAN Nomor : TENTANG PEDOMAN TEKNIS SEKOLAH LAPANGAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (SL-PTT) PADI DAN JAGUNG TAHUN ANGGARAN 2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR JENDERAL TANAMAN PANGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka ketahanan pangan nasional untuk memenuhi kebutuhan konsumsi maka perlu diupayakan peningkatan produksi tanaman pangan; bahwa untuk mewujudkan peningkatan produksi tanaman pangan terutama padi dan jagung tahun 2013 difokuskan melalui pendekatan SL-PTT; bahwa dalam DIPA Satuan Kerja Dinas yang menangani Tanaman Pangan di Provinsi dan
1

b.

c.

Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2013 terdapat Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia melalui Pelaksanaan SL-PTT; d. bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dipandang perlu menerbitkan Pedoman Teknis SL-PTT Padi dan Jagung Tahun Anggaran 2013; Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
2

Mengingat :

1.

2.

3.

4.

Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438); 5. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013 (Lembaran Negara Tahun 2012 Nomor 228, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5361); Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara 5165); Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2012 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013; Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara, sebagamana telah diubah beberapa kali, juncto Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; Presiden 2009 Nomor tentang

6.

7.

8.

9.

10. Keputusan 84/P/Tahun

Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II Periode 2009 2014; 11. Keputusan Presiden Nomor 157/M Tahun 2010 tentang Pengangkatan Dalam Jabatan Struktural Eselon I di lingkungan Kementerian Pertanian; 12. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; 13. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 37/PMK.02/2012 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2013; 14. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.02/2012 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2013; 15. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/Permentan/OT.140/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian; Memperhatikan : 1. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Induk Tahun Anggaran 2013 Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Nomor : DIPA-018.03-0/2013 Tanggal 5 Desember 2012.

2. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Petikan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun Anggaran 2013 Nomor : DIPA-018.03.1.238251/2013 Tanggal 5 Desember 2012. M E M U T U S K A N: Menetapkan KESATU : : Pedoman Teknis SL-PTT Padi dan Jagung Tahun Anggaran 2013, seperti tercantum pada Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini. : Pedoman Teknis sebagaimana dimaksud dalam diktum KESATU merupakan acuan pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Melalui Pelaksanaan SL-PTT Tahun Anggaran 2013. : Segala biaya yang diperlukan akibat ditetapkannya Keputusan ini dibebankan kepada DIPA Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. : Keputusan ini mulai tanggal ditetapkan. berlaku pada

KEDUA

KETIGA

KEEMPAT

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal DIREKTUR JENDERAL TANAMAN PANGAN,

UDHORO KASIH ANGGORO Nip. 19561106 198403 1 002

SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth: 1. Menteri Pertanian; 2. Wakil Menteri Pertanian; 3. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian; 4. Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian; 5. Gubernur Provinsi di seluruh Indonesia; 6. Bupati/Walikota di seluruh Indonesia; 7. Kepala Dinas Pertanian Provinsi yang membidangi Tanaman Pangan di seluruh Indonesia; 8. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang membidangi Tanaman Pangan di seluruh Indonesia.

Lampiran KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL TANAMAN PANGAN NOMOR : Tanggal Januari 2013

DAFTAR ISI

Hal DAFTAR ISI ................................................................................. i DAFTAR TABEL .......................................................................... iv DAFTAR GAMBAR ...................................................................... v DAFTAR LAMPIRAN .................................................................. vi
I. PENDAHULUAN .............................................................................. A. Latar Belakang ........................................................................... B. Tujuan dan Sasaran ................................................................... C. Pengertian-Pengertian Dalam SL-PTT ...................................... II. KERAGAAN, SASARAN DAN TANTANGAN PRODUKSI TAHUN 2013 ................................................................. A. Keragaan Produksi ..................................................................... B. Sasaran Produksi Tahun 2013 ................................................... C. Tantangan dan Peluang Peningkatan Produksi ......................... III. STRATEGI DAN UPAYA PENCAPAIAN PRODUKSI TAHUN 2013 ..................................................................................... A. Strategi ....................................................................................... B. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Tahun 2013 ................... IV. PTT PADI DAN JAGUNG ................................................................. A. Prinsip-prinsip PTT ..................................................................... B. Tahapan Penerapan PTT ........................................................... C. Komponen PTT Padi .................................................................. D. Komponen PTT Jagung ............................................................. E. Peran Komponen PTT................................................................ F. Pemilihan Teknologi PTT ........................................................... G. Keuntungan Penerapan Teknologi PTT ..................................... V. SEKOLAH LAPANGAN PTT PADI DAN JAGUNG ......................... A. Model Pemberdayaan Petani Melalui SL-PTT ........................... B. Tipe, Kriteria dan Batasan Kawasan SL-PTT ............................ C. Kriteria Kawasan ........................................................................ D. Penentun Calon Lokasi .............................................................. E. Ketentuan Pelaksana SL-PTT.................................................... i 1 1 5 7 14 14 15 16 18 18 19 27 27 28 28 30 31 32 33 34 34 38 40 49 51

VI.

VII.

VIII. IX. X.

F. Persyaratan Kelompoktani Pelaksana SL-PTT .......................... G. Bantuan SL-PTT......................................................................... H. Mekanisme Pelaksanaan SL-PTT.............................................. I. Pertemuan Kelompok SL-PTT ................................................... PENGORGANISASIAN DAN OPERASIONAL SL-PTT ................... A. Pengorganisasian SL-PTT ......................................................... B. Operasionalisasi SL-PTT ........................................................... PEMBIAYAAN MEKANISME PENCAIRAN DANA DAN PENGADAAN ........................................................................... A. Pembiayaan .............................................................................. B. Mekanisme Pengajuan dan Penyaluran Dana Bantuan Sosial SL-PTT .............................................................. C. Mekanisme Pengadaan ............................................................. BIMBINGAN / PEMBINAAN DAN PENDAMPINGAN ...................... MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN ............................... PENUTUP ..........................................................................................

51 52 57 57 58 58 59 60 60 61 61 63 65 67

LAMPIRAN ................................................................................ 69

ii

DAFTAR TABEL

Hal Tabel 1. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi 2008-2012 (ARAM III BPS).............. 14 Tabel 2. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Jagung 2008-2012 (ARAM III BPS) ......... 15 Tabel 3. Persentase Kenaikan Angka Sasaran 2013 Terhadap ARAM II Tahun 2012 .................................... 16 Tabel 4. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Padi Tahun 2013................................................................... 20 Tabel 5. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Jagung Tahun 2013................................................................... 24 Tabel 6. Komponen PTT Padi Dasar............................................. 29 Tabel 7. Komponen PTT Padi Pilihan ........................................... 29 Tabel 8. Tipe, Kriteria dan Orientasi Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Tanaman Pangan ............................... 39 Tabel 9. Batasan Pengembangan Kawasan Padi dan Jagung Tahun 2013................................................................... 40 Tabel 10.Plafon Stimulan/Bantuan Saprodi SL-PTT Padi dan Jagung Tahun 2013 ............................................... 54

iii

DAFTAR GAMBAR

Hal Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Sketsa Model Pemberdayaan Petani Melalui SL-PTT ...................................................... Kriteria Kawasan 1.000 Ha .................................... Laboratorium Lapangan (LL) ................................. Pola SL-PTT Kawasan Pertumbuhan .................... Pola SL-PTT Kawasan Pengembangan................. Pola SL-PTT Kawasan Pemantapan ..................... 37 41 42 44 45 45

iv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4.

Hal Sasaran Inidkatif Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Tahun 2013 ..... 69 Sasaran Inidkatif Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Jagungi Tahun 2013 70 Alokasi SL-PTT Padi dan Jagung Tahun 2013... 71 Blangko Calon Lokasi Bantuan Sosial Budidaya (SL-PTT/Kawasan) Tanaman Pangan Tahun 2013........................................................ 120 Contoh SK Penetapan Kelompoktani ................. 123 Rencana Usaha Kelompok (RUK) ...................... 126 Surat Pernyataan Penerima dan Penggunaan Dana Bansos ..................................................... 127 Mekanisme Pencairan Dana Bantuan SL-PTT ... 128 Rencana Jadwal Pelaksanaan SL-PTT Padi Dan Jagung Tahun 2013.................................... 130 Blangko Laporan Bulanan Kecamatan Realisasi SL-PTT Kawasan Pertumbuhan/ Pengembangan/Pemantapan ............................ 131 Blangko Laporan Bulanan Kabupaten Realisasi SL-PTT Kawasan Pertumbuhan/ Pengembangan/Pemantapan ............................ 132 Blangko Laporan Bulanan Provinsi Realisasi SL-PTT Kawasan Pertumbuhan/ Pengembangan/Pemantapan ............................ 133 Blangko Laporan Akhir Provinsi/Kabupaten Realisasi SL-PTT Kawasan Pertumbuhan/ Pengembangan/Pemantapan ............................ 134 Form Isian Hasil Ubinan SL-PTT Padi/Jagung ... 135

Lampiran 5. Lampiran 6. Lampiran 7. Lampiran 8. Lampiran 9. Lampiran 10.

Lampiran 11.

Lampiran 12.

Lampiran 13.

Lampiran 14.

I. A. Latar Belakang.

PENDAHULUAN

Pengembangan sektor tanaman pangan merupakan salah satu strategi kunci dalam memacu pertumbuhan ekonomi pada masa yang akan datang. Selain berperan sebagai sumber penghasil devisa yang besar, juga merupakan sumber kehidupan bagi sebagian besar penduduk

Indonesia. Salah satu strategi yang dilakukan dalam upaya memacu peningkatan produksi dan produktivitas usahatani padi dan jagung adalah dengan mengintegrasikan antar sektor dan antar wilayah dalam pengembangan usaha pertanian. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia, telah memunculkan kerisauan akan terjadinya keadaan rawan pangan di masa yang akan datang. Selain itu, dengan semakin meningkatnya tingkat

pendidikan dan kesejahteraan masyarakat terjadi pula peningkatan konsumsi per-kapita untuk berbagai jenis pangan, akibatnya Indonesia membutuhkan tambahan ketersediaan pangan guna mengimbangi laju pertambahan penduduk yang masih cukup tinggi. Komoditi tanaman pangan memiliki peranan pokok sebagai pemenuh kebutuhan pangan, pakan dan industri dalam negeri yang setiap tahunnya cenderung meningkat seiring
1

dengan

pertambahan

jumlah

penduduk

dan

berkembangnya industri pangan dan pakan sehingga dari sisi Ketahanan Pangan Nasional fungsinya menjadi amat penting dan strategis. Sasaran produksi padi tahun 2013 sebesar 72.063.735 ton GKG dan sasaran produksi jagung sebesar 19.831.047 ton PK dengan rincian sasaran per provinsi seperti pada Lampiran 1 dan Lampiran 2, diupayakan dapat dicapai untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas. Karena itu diperlukan upaya peningkatan produksi yang luar biasa untuk mencapai sasaran tersebut. Berbagai upaya

peningkatan produksi dan produktivitas telah dilaksanakan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) sejak tahun 2008 peningkatan mutu maupun melalui PTT atau pada tahun-tahun

intensifikasi

sebelumnya. Pelaksanaan SL-PTT sebagai pendekatan pembangunan tanaman pangan khususnya dalam

mendorong peningkatan produksi padi dan jagung nasional telah terbukti, namun kedepan dengan tantangan yang lebih beragam maka perlu penyempurnaan dan

peningkatan kualitas. Oleh karena itu pada tahun 2013, upaya peningkatan produksi melalui penerapan Sekolah Lapangan

Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) akan difokuskan melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan

pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas, terintegrasi dari hulu sampai hilir, peningkatan jumlah paket bantuan sebagai instrumen stimulan, serta dukungan pendampingan dan pengawalan. Kawasan pertumbuhan merupakan daerah yang tingkat produktivitasnya masih di bawah rata-rata produktivitas Provinsi (daerah-daerah merupakan sub-optimal), daerah yang kawasan tingkat

pengembangan

produktivitasnya sama dengan rata-rata produktivitas Provinsi, sedangkan kawasan pemantapan adalah daerah yang tingkat produktivitasnya di atas rata-rata produktivitas Provinsi dan atau Nasional. Luas SL-PTT Padi tahun 2013 adalah 4.625.000 ha, yang dialokasikan pada kawasan pertumbuhan (padi pasang surut, padi rawa lebak, padi lahan kering dan padi sawah) seluas 297.900 ha, kawasan pengembangan (padi sawah, padi hibrida dan padi lahan kering) seluas 589.700 ha dan luas kawasan pemantapan (padi sawah dan padi lahan kering) seluas 3.737.400 ha. Sedangkan SL-PTT Jagung seluas 260.000 ha, dialokasikan pada kawasan

pertumbuhan (jagung hibrida dan jagung komposit) seluas 54.700 ha, kawasan pengembangan (jagung hibrida) seluas 170.300 ha dan kawasan pemantapan (jagung hibrida) seluas 35.000 ha. Lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 3.

Dalam SL-PTT petani dapat belajar langsung di lapangan melalui pembelajaran dan penghayatan langsung

(mengalami),

mengungkapkan,

menganalisis,

menyimpulkan dan menerapkan (melakukan/mengalami kembali), menghadapi dan memecahkan masalah-masalah terutama dalam hal teknik budidaya dengan mengkaji bersama berdasarkan spesifik lokasi. Melalui penerapan SL-PTT petani akan mampu mengelola sumberdaya yang tersedia secara terpadu dalam

melakukan budidaya di lahan usahataninya berdasarkan spesifik lokasi sehingga petani menjadi lebih terampil serta mampu mengembangkan usahataninya dalam rangka peningkatan produksi padi dan jagung. Namun demikian wilayah di luar SL-PTT harus tetap dilakukan pembinaan, pendampingan dan pengawalan sehingga produksi dan produktivitas tetap dapat meningkat. Dengan fasilitasi tersebut diharapkan pelaksanaan SL-PTT berbasis kawasan skala luas dapat terlaksana dengan

baik dan tepat sasaran sehingga dapat memberikan sumbangan terhadap peningkatan produktivitas dan

produksi tahun 2013. Agar upaya pencapaian sasaran produksi padi dan jagung melalui kegiatan SL-PTT tahun 2013 dapat tercapai, maka perlu untuk menyusun Pedoman Teknis Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) sebagai acuan
4

bagi semua pihak yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan tersebut di lapangan. Dengan adanya pedoman teknis ini, semua pihak terkait akan berkontribusi secara positif sehingga akhirnya

kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan yang berkontribusi terhadap pencapaian sasaran produksi padi dan jagung. Mengingat tingginya keberagaman kondisi di masingmasing daerah dan kemampuan adopsi inovasi, maka pedoman teknis ini diharapkan dijabarkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota sesuai dengan kondisi spesifik lokasi dalam bentuk Petunjuk Teknis Pelaksanaan

Lapangan agar lebih operasional sesuai kebutuhan di lapangan dan tidak multitafsir sedangkan Dinas Pertanian Provinsi menjabarkan dalam bentuk Petunjuk

Pelaksanaan, sehingga kegiatan tersebut dapat dilakukan tepat waktu dan tepat sasaran. B. Tujuan dan Sasaran. 1. Tujuan. a. Menyediakan acuan pelaksanaan SL-PTT padi dan jagung melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas untuk mendukung kegiatan peningkatan produksi tahun 2013 di Provinsi dan

Kabupaten/Kota.

b. Meningkatkan

koordinasi

dan

keterpaduan

pelaksanaan SL-PTT padi dan jagung melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas, antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. c. Meningkatkan perubahan pengetahuan, petani keterampilan guna dan

sikap

mempercepat

penerapan komponen teknologi PTT padi dan jagung dalam usahataninya teknologi ke agar petani

replikasi/penyebarluasan

sekitarnya berjalan lebih cepat. d. Meningkatkan produktivitas, produksi dan

pendapatan serta kesejahteraan petani padi dan jagung.

2. Sasaran. a. Tersedianya acuan pelaksanaan SL-PTT padi dan jagung melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas untuk mendukung kegiatan peningkatan produksi tahun 2013 di provinsi dan kabupaten/kota. b. Terkoordinasi dan terpadunya pelaksanaan SL-PTT padi dan jagung melalui dan
6

pola

pertumbuhan, dengan

pengembangan

pemantapan

pendekatan kawasan skala luas antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota. c. Meningkatnya pengetahuan, keterampilan dan sikap petani sehingga penerapan adopsi teknologi PTT padi dan jagung berjalan lebih cepat, dan

keberlanjutan serta replikasi ke areal yang lebih luas dapat terwujud. d. Meningkatnya produktivitas padi inbrida sawah 0,75/ha, padi hibrida 2,0 ton/ha, padi pasang surut 0,3 ton/ha, padi rawa lebak 0,3 ton/ha dan padi lahan kering/gogo 0,5 ton/ha pada areal SL-PTT seluas 4,625 juta ha. Untuk jagung hibrida 2,5 ton/ha dan jagung komposit 1,0 ton/ha pada areal SL-PTT seluas 260 ribu ha, untuk mendukung sasaran produksi padi tahun 2013 sebesar 72,06 juta ton GKG dan produksi jagung sebesar 19,83 juta ton PK. C. Pengertian Pengertian dalam SL-PTT. 1. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan

produktivitas dan efisiensi usahatani melalui perbaikan sistem/pendekatan dalam perakitan paket teknologi yang sinergis antar komponen teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta bersifat spesifik lokasi. PTT merupakan
7

inovasi

baru

untuk

memecahkan

berbagai

permasalahan

dalam

peningkatan produktivitas padi. Teknologi intensifikasi padi bersifat spesifik lokasi, bergantung pada masalah yang akan diatasi (demand driven technology).

Komponen teknologi PTT ditentukan bersama-sama petani melalui analisis kebutuhan teknologi (need assessment). Komponen teknologi PTT

dasar/compulsory adalah teknologi yang dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi. Komponen teknologi PTT pilihan adalah teknologi pilihan disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan. Komponen teknologi PTT pilihan dapat menjadi compulsory apabila hasil KKP (Kajian Kebutuhan dan Peluang)

memprioritaskan komponen teknologi yang dimaksud menjadi keharusan untuk pemecahan masalah utama suatu wilayah, demikian pula sebaliknya bagi

komponen teknologi dasar. 2. Kawasan adalah suatu daerah tertentu dengan ciriciri tertentu. Dalam konteks pertanian kawasan yang dimaksud adalah suatu areal (sawah, lahan kering, tadah hujan, rawa lebak, rawa pasang surut) di lokasi tertentu tanpa memperhitungkan batas-batas

administrasi wilayah (desa/kampung), sungai, jalan, atau batas-batas lainnya.

3.

Kawasan Pertumbuhan merupakan daerah yang tingkat produktivitasnya masih di bawah rata-rata produktivitas Provinsi (daerah-daerah suboptimal),

pemanfaatan lahan belum optimal, tingkat kehilangan hasil masih tinggi. 4. Kawasan Pengembangan merupakan daerah yang tingkat produktivitasnya Provinsi, sama dengan lahan rata-rata hampir

produktivitas

pemanfaatan

optimal, tingkat kehilangan hasil sedang tetapi mutu hasil belum optimal. 5. Kawasan Pemantapan merupakan daerah yang tingkat produktivitasnya di atas rata-rata produktivitas provinsi dan atau nasional, mutu hasil belum optimal, efisiensi usaha belum berkembang dan optimalisasi pendapatan melalui produksi subsektor tanaman sudah maksimal (kecuali ada introduksi teknologi baru). 6. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman

Terpadu (SL-PTT) adalah suatu tempat pendidikan non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usahatani, mengatasi permasalahan,

mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga

usahataninya menjadi efisien, berproduktivitas tinggi


9

dan berkelanjutan. Indikator keberhasilan SL-PTT dapat dilihat dari peningkatan pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap, penerapan budidaya yang baik dan benar, peningkatan produktivitas dan keberlanjutan serta replikasinya. 7. Laboratorium Lapangan (LL) adalah kawasan/area yang terdapat dalam kawasan SL-PTT yang berfungsi sebagai lokasi percontohan, temu lapang, tempat belajar dan tempat praktek penerapan teknologi yang disusun dan diaplikasikan bersama oleh

kelompoktani/petani. 8. Pemandu Pertanian, Lapangan Pengamat (PL) adalah Penyuluh

Organisme

Pengganggu

Tanaman (POPT), Pengawas Benih Tanaman (PBT) yang telah mengikuti pelatihan SL-PTT dan berperan sebagai pendamping dan pengawal pelaksanaan SLPTT. 9. Pemahaman Masalah dan Peluang (PMP) atau Kajian tahapan Kebutuhan pendekatan dan PTT Peluang yang (KKP) diawali adalah dengan

kelompoktani melakukan identifikasi masalah di wilayah setempat dan membahas peluang kemungkinan

mengatasi masalah tersebut. 10. POSKO I - V adalah Pos Simpul Koordinasi sebagai tempat melaksanakan
10

koordinasi

dalam

rangka

mendukung kelancaran pelaksanaan SL-PTT. POSKO yang dimaksud adalah POSKO yang telah ada misalnya POSKO P2BN. 11. Rencana Usahatani Kelompok (RUK) adalah

rencana kerja usahatani dari kelompoktani untuk satu periode musim dan tanam yang disusun bersama melalui dalam wilayah

musyawarah pengelolaan

kesepakatan

usahatani

sehamparan

kelompoktani yang memuat uraian kebutuhan, jenis, volume, harga satuan dan jumlah uang yang diajukan untuk pembelian saprodi sesuai kebutuhan di lapangan (spesifik lokasi). 12. Pupuk Organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, antara lain pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos (humus) berbentuk padat yang telah mengalami dekomposisi. 13. Pengawalan dan Pendampingan oleh Petugas Dinas adalah kegiatan yang dilakukan oleh petugas

Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota termasuk PPL, POPT, PBT, Mantri Tani dan atau petugas lainnya sesuai dengan kebutuhan di lapangan dalam

melakukan pengawalan dan pendampingan, guna lebih mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan SL-PTT.

11

14. Pengawalan

dan

Pendampingan

oleh

Aparat

adalah kegiatan yang dilakukan oleh TNI-AD beserta jajarannya (Babinsa), Camat, Kades dan atau petugas lainnya sesuai dengan kebutuhan di lapangan dalam melakukan pengawalan dan pendampingan, guna lebih mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan SL-PTT. 15. Pengawalan dan Pendampingan oleh Peneliti adalah kegiatan yang dilakukan oleh peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) didukung oleh peneliti UK/UPT Lingkup Badan Litbang Pertanian gunameningkatkan pemahaman dan akselerasi adopsi PTT dengan menjadi narasumber pada pelatihan, penyebaran informasi, melakukan uji adaptasi varietas unggul baru, demplot, dan supervisi penerapan

teknologi. 16. Pengawalan dan Pendampingan oleh Penyuluh adalah kegiatan yang dilakukan oleh Penyuluh guna meningkatkan penerapan teknologi spesifik lokasi sesuai rekomendasi BPTP dan secara berkala hadir di lokasi LL dan SL dalam rangka pemberdayaan kelompoktani sekaligus memberikan bimbingan kepada kelompok dalam penerapan teknologi. Penyuluh

diharapkan hadir pada setiap pertemuan kelompoktani di lapangan. Pada kawasan pertumbuhan, pertemuan kelompok minimal 8 kali selama satu musim tanam,

12

pada

kawasan

pengembangan

minimal

kali,

sedangkan pada kawasan pemantapan minimal 4 kali selama satu musim tanam. 17. Pengawalan (Pengawas dan Pendampingan Pengganggu oleh POPT

Organisme

Tanaman)

adalah kegiatan pendampingan oleh Pengawas OPT dalam rangka pengendalian hama terpadu. 18. Pengawalan (Pengawas dan Benih Pendampingan Tanaman) oleh PBT

adalah

kegiatan

pendampingan oleh Pengawas Benih dalam rangka pengawasan benih. 19. Wilayah Fokus adalah lokasi peningkatan

produktivitas di areal SL-PTT. 20. Wilayah Non-Fokus adalah lokasi peningkatan

produktivitas di luar areal SL-PTT. 21. Carry Over adalah sisa pertanaman kegiatan tahun berjalan tetapi produksi tidak berkontribusi pada tahun tersebut, dan akan berkontribusi pada tahun berikutnya. 22. Kelompoktani adalah sejumlah petani yang

tergabung dalam satu hamparan/wilayah yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan untuk meningkatkan usaha agribisnis dan memudahkan pengelolaan dalam proses distribusi, baik itu benih, pestisida, sarana produksi dan lain-lain.
13

23. Swadaya adalah semua upaya yang berasal dari modal petani sendiri. 24. Benih bersubsidi adalah sejumlah tertentu benih varietas unggul bermutu padi inbrida, padi hibrida, padi gogo/lahan kering, jagung hibrida dan jagung komposit yang disalurkan oleh pemerintah dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditentukan oleh

Pemerintah/Menteri Pertanian dan digunakan untuk mendukung pelaksanaan Program Pembangunan

Tanaman Pangan (SL-PTT dan Non SL-PTT). 25. Cadangan Benih Nasional (CBN) adalah sejumlah tertentu benih padi dan jagung yang memenuhi spesifikasi teknis, dan merupakan milik pemerintah pusat yang pengadaannya bersumber dari dana APBN dan pemanfaatnnya sesuai pedoman dan peraturan perundang-undangan.

14

II. KERAGAAN, SASARAN DAN TANTANGAN SERTA PELUANG PENINGKATAN PRODUKSI TAHUN 2013 A. Keragaan Produksi. Produksi padi dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 3,44 %/tahun, dari 60,32 juta ton GKG pada tahun 2008 menjadi 68,96 juta ton GKG pada tahun 2012 (ARAM II) sedangkan laju peningkatan produktivitas mencapai

1,14%/tahun dan luas panen meningkat rata-rata 2,26 %/tahun, sebagaimana terlihat dalam Tabel 1. Tabel 1. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi 2008-2012 (ARAM II BPS)
TAHUN 2008 2009 2010 2011 LUAS PANEN Ha 12,327,425 12,883,576 13,253,450 13,203,643 4.51 2.87 (0.38) 2.03 2.26 % PRODUKTIVITAS Ku/Ha 48.94 49.99 50.15 49.80 51.19 2.15 0.32 (0.70) 2.79 1.14 % PRODUKSI Ton 60,325,925 64,398,890 66,469,394 65,756,904 68,956,292 6.75 3.22 (1.07) 4.87 3.44 %

2012 13,471,653 Rata-Rata

Produksi jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 3,94 %/tahun dari 16,32 juta ton PK pada tahun 2008 menjadi 18,96 juta ton PK pada tahun 2012 sedangkan laju peningkatan produktivitas (ARAM II) mencapai

4,05%/tahun dan luas panen rata-rata menurun sebesar 0,14 %/tahun, sebagaimana terlihat dalam Tabel 2.

15

Tabel 2. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Jagung 2008-2012 (ARAM II BPS)
TAHUN 2008 2009 2010 2011 LUAS PANEN Ha 4,001,724 4,160,659 4,131,676 3,864,692 3.97 (0.70) (6.46) 2.64 -0.14 % PRODUKTIVITAS Ku/Ha 40.78 42.37 44.36 45.65 47.80 3.90 4.70 2.91 4.71 4.05 % PRODUKSI Ton 16,317,252 17,629,748 18,327,636 17,643,250 18,961,645 8.04 3.96 (3.73) 7.47 3.94 %

2012 3,966,579 Rata-Rata

B. Sasaran Produksi Tahun 2013 1. Padi. Sasaran produksi padi tahun 2013 adalah 72,06 juta ton GKG atau meningkat 6,25 % dibanding sasaran produksi tahun sebelumnya sebesar 67,82 ton GKG. Sasaran tanam 14,59 juta ha, sasaran panen 14,09 juta ha, sasaran produktivitas 51,15 ku/ha. Apabila dibandingkan dengan pencapaian pada tahun 2012 (ARAM II), sasaran produksi tahun 2013 adalah 4,51 % di atas produksi ARAM II 2012 yaitu sebesar 68,96 juta ton GKG, sedangkan produktivitas menurun sebesar 0,03 % (provitas ARAM II 2012 sebesar 51,19 ku/ha). Untuk itu, maka sasaran produktivitas tahun 2013 ditetapkan sebesar 52,00 ku/ha atau meningkat 0,81 % dibanding ARAM II 2012, sasaran tanam 14,36 juta ha dan sasaran panen sebesar 13,86 juta ha.

16

2. Jagung. Sasaran produksi jagung tahun 2013 adalah 19,83 juta ton PK atau 4,59 % diatas produksi tahun 2012 (ARAM II) yaitu sebesar 18,96 juta ton PK. Sasaran tanam 4,5 juta ha, sasaran panen 4,10 juta ha dan sasaran produktivitas 48,34 ku/ha. Tabel 3. Persentase Kenaikan Angka Sasaran 2013 Terhadap ARAM II Tahun 2012
KOMODITAS URAIAN
Luas Tanam (jt Ha)

ARAM II 2012
13.95 13.47 51.19 68.96 4.10 3.96 47.80 18.96

SASARAN 2013
14.36 13.86 52.00 72.06 4.25 4.10 48.34 19.83

%
2.94 2.90 1.58 4.50 3.66 3.54 1.13 4.59

PADI

Luas Panen (jt Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Produksi (jt ton GKG) Luas Tanam (jt Ha) Luas Panen (jt Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Produksi (jt ton PK)

JAGUNG

Sasaran produksi padi dan jagung tahun 2013, disajikan pada Lampiran 1 dan Lampiran 2.

C. Tantangan dan Peluang Peningkatan Produksi. Kendala antar sektoral dalam peningkatan produksi tanaman pangan yang semakin kompleks karena berbagai perubahan dan perkembangan lingkungan strategis diluar sektor

17

pertanian

berpengaruh

dalam

peningkatan

produksi

tanaman pangan. Tantangan utama yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi tanaman pangan adalah : 1). Meningkatnya permintaan beras sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk, 2). Terbatasnya ketersediaan beras dunia, dan 3).Kecenderungan meningkatnya harga pangan. Disamping tantangan, upaya peningkatan produksi tanaman juga dihadapi oleh sejumlah permasalahan, yaitu antara lain : 1). Dampak Perubahan Iklim (DPI) dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), 2). Rusaknya infrastruktur irigasi, lingkungan dan semakin terbatasnya sumber air, 3). Konversi lahan sawah, 4). Keterbatasan akses petani terhadap sumber-sumber pembiayaan, 5). Kompetisi antar komoditas, 6). Tingginya konsumsi beras sebagai pangan pokok sumber karbohidrat dan 7). Belum sinerginya antar sektor dan PusatDaerah dalam menunjang pembangunan pertanian khususnya produksi padi dan jagung. Disamping tantangan dan permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningatan produksi tanaman pangan, terdapat sejumlah peluang yang apabila dimanfaatkan dengan baik akan memberikan kontribusi pada upaya peningkatan produksi. Peluang tersebut antara lain : 1). Kesenjangan hasil antara potensi dan kondisi di lapangan masih tinggi, 2).

18

Tersedia teknologi untuk meningkatkan produktivitas, 3). Potensi sumberdaya lahan sawah, rawa/lebak, lahan kering (perkebunan, kehutanan) yang SDM masih (Petani, luas, PPL, 4).

Pengetahuan/Keterampilan

POPT,

Pengawas Benih Tanaman, dan Petugas Pertanian Lainnya) masih dapat dikembangkan, 5). Tersedianya potensi

pengembangan produksi berbagai pangan pilihan selain beras, 6). Dukungan Pemerintah Daerah dan 7).

Ketersediaan sumber genetik.

19

III. STRATEGI DAN UPAYA PENCAPAIAN PRODUKSI TAHUN 2013 A. Strategi. Strategi peningkatan produksi tanaman serealia tahun 2013 adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan Produktivitas. Peningkatan produktivitas dilakukan melalui pemakaian benih varietas unggul bermutu produktivitas tinggi termasuk benih padi hibrida dan jagung hibrida, sistem jarak tanam jajar legowo, pemupukan berimbang dan pemakaian pupuk organik serta pupuk bio-hayati,

pengelolaan pengairan dan perbaikan budidaya disertai pengawalan, pendampingan, pemantauan dan

koordinasi, dll. Strategi ini terutama dilaksanakan di wilayah dimana perluasan areal sudah sulit dilakukan, sehingga dengan penerapan teknologi spesifik lokasi diharapkan masih dapat ditingkatkan produktivitasnya. Hal lain yang dapat diterapkan adalah dengan

mengurangi potensi kehilangan hasil melalui penanganan panen danpasca panen yang lebih baik. 2. Perluasan Areal Tanam dan Pengelolaan Lahan.
20

Perluasan areal dilakukan melalui upaya optimalisasi lahanmelalui upaya perbaikan seperti JITUT, JIDES, dan Tata Air Mikro, pompanisasi dan penambahan baku lahan sawah (cetak sawah baru), disertai konservasi lahan yang berkelanjutan serta peningkatan indeks pertanaman, pengelolaan air irigasi, dll. 3. Pengamanan Produksi. Pengamanan produksi dimaksudkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim seperti kebanjiran dan

kekeringan serta pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), dan pengamanan kualitas produksi dari residu pestisida serta mengurangi kehilangan hasil pada saat penanganan panen dan pasca panen yang masih cukup besar. 4. Penyempurnaan Manajemen. Manajemen yang telah ada dan berjalan saat ini perlu lebih disempurnakan agar pelaksanaan program dapat berjalan sesuai rencana. Penyempurnaan manajemen tersebut berupa dukungan kebijakan dan regulasi, penyempurnaan manajemen teknis serta

penyempurnaan data dan informasi. Dengan kegiatan penyempurnaan diharapkan

pelaksanaan peningkatan produksi tanaman pangan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan pada akhirnya dapat mendukung pencapaian sasaran produksi
21

tahun 2013 dan surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014. B. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Tahun 2013 Upaya pencapaian sasaran produksi padi dan jagung tahun 2013 adalah sebagai berikut : 1. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Padi Tahun 2013 Fokus Utama pencapaian sasaran produksi padi tahun 2013 adalah peningkatan produktivitas padi melalui peningkatan kualitas SL-PTT berbasis pola pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas, terintegrasi dari hulu sampai hilir, peningkatan jumlah paket bantuan sebagai instrument stimulan, serta dukungan pendampingan dan

pengawalan pada areal seluas 4,625 juta ha. Sedangkan di luar fokus utama melalui upaya peningkatan produksi lainnya pada kawasan areal tanam seluas 9,17 juta ha, dan perluasan areal tanam seluas 567 ribu ha

sebagaimana terlihat dalam Tabel 4 berikut ini :

22

Tabel 4. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Padi Tahun 2013


No 1 Uraian Peningkatan Produktivitas a. Kegiatan SL-PTT b. Kegiatan SRI c. GP3K d. Pengamanan Pasca Panen Perluasan Areal Tanam a. Pencetakan Sawah Baru b. Pencetakan Sawah Baru (BUMN) c. Penyiapan Lahan Beririgasi (PLPB) d. Optimasi Lahan e. Pengelolaan Air (Kementan & Kemen PU) Pengurangan a. Serangan OPT b. Konversi Lahan Swadaya Murni Petani Jumlah Luas Tanam (Ha) 8,295,000 4,625,000 200,000 3,200,000 270,000 566,939 100,000 100,000 80,273 286,666 382,000 132,000 250,000 5,112,203 14,356,142 Luas Panen (Ha) 8,007,993 4,464,975 193,080 3,089,280 260,658 547,323 96,540 96,540 77,496 276,747 368,783 127,433 241,350 4,935,321 13,859,420 Produktivitas Produksi (Ton) (Ku/Ha) 54.88 55.21 58.10 58.77 0.84 34.81 30.00 30.00 11.25 44.76 56.82 56.82 56.82 48.86 52.00 43,950,494 24,651,127 1,121,795 18,155,697 21,875 1,905,144 289,620 289,620 87,183 1,238,721 2,095,270 724,020 1,371,250 24,112,827 72,063,735

a.

Fokus produktivitas padi

utama melalui

peningkatan SL-PTT berbasis

kawasan adalah upaya pencapaian sasaran produksi padi tahun 2013 yang difokuskan pada kegiatan peningkatan produktivitas di kawasan areal tanam padi seluas 4,625 juta ha, yang terdiri dari: 1) Kawasan Pertumbuhan seluas : 297.900 ha. a. Padi inbrida sawah seluas 61.800 ha yang dialokasikan di 45 Kabupaten/Kota pada 17 Provinsi. b. Padi inbrida pasang surut seluas 96.000 ha yang dialokaikan di 17 Kabupaten/Kota pada 8 Provinsi.

23

c. Padi inbrida rawa lebak seluas 26.000 ha yang dialokasikan di 12 Kabupaten/Kota pada 5 Provinsi. d. Padi inbrida lahan kering seluas 114.100 ha yang dialokasikan di 83 Kabupaten/Kota pada 13 Provinsi. 2) Kawasan Pengembangan seluas : 589.700 ha. a. Padi inbrida sawah seluas seluas 272.500 ha yang dialokasikan di 178 Kabupaten/Kota pada 27 Provinsi. b. Padi hibrida seluas 200.000 ha yang

dialokasikan di 120 Kabupaten/Kota pada 13 Provinsi. c. Padi inbrida lahan kering seluas 117.200 ha yang dialokasikan di 60 Kabupaten/Kota pada 8 Provinsi. 3) Kawasan Pemantapan seluas : 3.737.400 ha. a. Padi inbrida sawah seluas 3.417.000 ha yang dialokasikan di 345 Kabupaten/Kota pada 27 Provinsi.
b. Padi inbrida lahan kering seluas 320.400 ha

yang dialokasikan di 113 Kabupaten/Kota pada 13 Provinsi. Alokasi SL-PTT Padi Tahun 2013, per Provinsi dan Kabupaten/Kota, disajikan pada Lampiran 2.

24

b. Upaya peningkatan produksi padi di luar wilayah fokus Upaya peningkatan produksi dan produktivitas padi areal di luar wilayah fokus dilakukan melalui

serangkaian pembinaan, pengawalan, pendampingan dan bimbingan yang terkoordinasi dan terintegrasi dengan memanfaatkan benih bersubsidi, benih non subsidi dan atau benih dari sumber-sumber lain, pupuk bersubsidi (urea, ZA, SP-36/Superphos, NPK dan pupuk organik), alsintan, SRI, fasilitas

penyuluhan melalui Demfarm, GP3K, penanganan pasca panen, cetak sawah baru, optimasi lahan, pengelolaan air dan swadaya murni petani. Areal yang dikelola dengan pola ini seluas 9,74 juta ha dengan kontribusi produksi sebesar 47,41 juta ton GKG. Agar upaya ini dapat berhasil maka dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan melalui dukungan dan gerakanyang luar biasa antara lain :(1). gerakan pengolahan tanah,(2). gerakan tanam dan panen serentak,(3). gerakan pemupukan berimbang, 4). gerakan penerapan teknologi,(5). gerakan

pengendalian OPT,(6). gerakan penanganan panen dan pasca panen, dan (7). gerakan lainnya dengan

25

dukungan dana APBN maupun APBD I dan APBD II serta dana masyarakat dan stakeholder. Petugas Pertanian/Penyuluh Pertanian, POPT dan PBT tetap harus melakukan pengawalan dan

pendampingan pada areal tanam di luar SL-PTT. Pada prinsipnya semua dana yang ada dikelola oleh Dinas Pertanian dan Bakorluh/Bapeluh ditujukan untuk meningkatkan produksi padi dan jagung baik di areal SL-PTT maupun di luar areal SL-PTT. Posko I P2BN di Pusat, Posko II di Provinsi, Posko III di Kabupaten/Kota, Posko IV di Kecamatan/BPP, dan Posko V di Desa agar dioperasionalkan secara optimal sesuai dengan Permentan Nomor 45 Tahun 2011 mengenai Tata Hubungan Kerja Antar

Kelembagaan Teknis, Penelitian dan Pengembangan, dan Penyuluhan Pertanian Dalam Mendukung

Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). 2. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Jagung Tahun 2013 Fokus utama pencapaian sasaran produksi jagung tahun 2013 adalah peningkatan produktivitas melalui SL-PTT berbasis kawasan seluas 260 ribu Ha. Sedangkan di luar fokus utama melalui upaya peningkatan produksi lainnya pada kawasan areal tanam seluas 3,82 juta ha dan

26

perluasan

areal

tanam

seluas

173,50

ribu

ha,

sebagaimana padaTabel 5 berikut ini :


Tabel 5. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Jagung Tahun 2013
No 1 Uraian Peningkatan Produktivitas a. SLPTT b. GP3K & Swasta 2 Perluasan Areal a. Optimalisasi Pengembangan Luas Areal b. Cadangan Benih Nasional (CBN) 3 Pengamanan Produksi a. Pengamanan OPT b. Pengamanan Susut Hasil 4 Swadaya Murni Petani Jumlah Luas Tanam (Ha) 450,000 260,000 190,000 173,500 80,000 93,500 70,190 35,000 35,190 3,557,123 4,250,813 Luas Panen (Ha) 416,700 240,760 175,940 160,661 74,080 86,581 64,996 32,410 32,586 3,459,678 4,102,035 Provitas (Ku/Ha) 65.86 67.00 58.00 52.11 50.00 50.00 52.11 50.00 50.00 45.99 48.34 Produksi (Ton) 2,744,460 1,681,030 1,063,430 837,138 386,000 451,138 338,667 168,875 169,792 15,910,783 19,831,047

a. Fokus utama peningkatan produktivitas jagung melalui SL-PTT berbasis kawasan adalah upaya pencapaian sasaran produksi jagung tahun 2013 yang difokuskan pada kegiatan peningkatan produktivitas jagung di kawasan areal tanam seluas 260 ribu Ha yang terdiri dari : 1) Kawasan Pertumbuhan seluas : 54.700 ha. a. Jagung hibrida seluas 9.000 ha yang

dialokasikan di 9 Kabupaten/Kota pada 5 Provinsi. b. Jagung komposit seluas 45.700 ha yang dialokasikan di 60 Kabupaten/Kota pada 13 Provinsi.
27

2) Kawasan Pengembangan seluas : 170.300 ha. a. Jagung hibrida seluas 170.300 ha yang

dialokasikan di 148 Kabupaten/Kota pada 23 Provinsi. 3) Kawasan Pemantapan seluas : 35.000 ha. a. Jagung hibrida seluas 35.000 ha yang

dialokasikan di 31 Kabupaten/Kota pada 10 Provinsi. Alokasi SL-PTT Jagung Tahun 2013, per Provinsi dan Kabupaten/Kota, disajikan pada Lampiran 2. b. Upaya peningkatan produksi jagung di luar fokus utama peningkatan produktivitas dan produksi

dilakukan dengan pembinaan, pendampingan dan bimbingan yang terkoordinasi dan terintegrasi dengan memanfaatkan benih bersubsidi, benih non subsidi dan atau benih dari sumber-sumber lainnya, pupuk bersubsidi, GP3K, dan swadaya murni petani. Upaya ini diperkirakan mampu menyumbangkan produksi pada tahun 2013 sebesar 18,15 juta ton PK dari areal tanam seluas 3,99 juta ha. Upaya peningkatan dengan hibrida produktivitas perluasan produktivitas jagung agar benih

dilakukan jagung

penggunaan tinggi

disamping

peningkatan pemupukan berimbang. Lokasi-lokasi yang masih menggunakan varietas lokal dan varietas

28

komposit produktivitas rendah agar diupayakan dapat diganti dengan jagung hibrida atau jagung komposit produktivitas tinggi. Upaya penggunaan benih jagung hibrida atau jagung komposit produktivitas tinggi, antara lain dapat dilakukan dengan : 1). mendekatkan para produsen benih jagung hibrida tinggi atau jagung para komposit 2).

produktivitas

kepada

petani,

memotivasi produsen benih tersebut

melakukan

demonstrasi di lokasi-lokasi sasaran, 3). mendorong kemitraan petani dengan produsen benih atau dengan pengusaha pakan ternak (konsumen jagung). Dengan demikian penggunaan benih jagung hibrida

diharapkan dapat meningkat. Upaya perluasan areal tanam jagung agar diupayakan pula dengan peningkatan indeks pertanaman (IP) di lahan yang masih mempunyai potensi atau perluasan pada lokasi/lahan baru (bukaan baru, lahan

perkebunan, lahan kehutanan, dan lain-lain).

29

IV. PTT PADI DAN JAGUNG Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) merupakan inovasi baru untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam peningkatan produktivitas. Teknologi intensifikasi bersifat spesifik lokasi, tergantung pada masalah yang akan diatasi (demand driven technology). Komponen teknologi PTT ditentukan bersamasama petani melalui analisis kebutuhan teknologi (need assessment). PTT sebagai suatu pendekatan inovatif dalam upaya

meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani serta sebagai suatu pendekatan pembangunan tanaman pangan khususnya dalam mendorong peningkatan produksi padi dan jagung melalui SL-PTT telah dilaksanakan secara Nasional mulai tahun 2008 dan berlanjut hingga sekarang dengan berbagai perbaikan dan penyempurnaan dari sisi perencanaan, pelaksanaan dan pengawalan serta pendampingan. A. Prinsip-prinsip PTT. 1. Terpadu : PTT merupakan suatu pendekatan agar sumber daya tanaman, tanah dan air dapat dikelola

dengan sebaik-baiknya secara terpadu. 2. Sinergis : PTT memanfaatkan teknologi pertanian terbaik, dengan memperhatikan keterkaitan yang saling

mendukung antar komponen teknologi.

30

3. Spesifik

lokasi

PTT

memperhatikan

kesesuaian

teknologi dengan lingkungan fisik maupun sosial budaya dan ekonomi petani setempat. 4. Partisipatif : Petani turut berperan serta dalam memilih dan menguji teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat dan kemampuan petani melalui proses

pembelajaran dalam bentuk laboratorium lapangan (LL). B. Tahapan Penerapan PTT. 1. Langkah pertama penerapan PTT adalah pemandu lapangan bersama petani melakukan Pemahaman

Masalah dan Peluang (PMP) atau Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP). Identifikasi masalah peningkatan hasil di wilayah setempat dan membahas peluang mengatasi masalah tersebut, berdasarkan cara pengelolaan

tanaman, analisis iklim/curah hujan, kesuburan tanah, luas pemilikan lahan, lingkungan sosial ekonomi. 2. Langkah kedua adalah merakit berbagai komponen teknologi PTT berdasarkan kesepakatan kelompok untuk diterapkan di lahan usahataninya. 3. Langkah ketiga adalah penyusunan RUK berdasarkan kesepakatan kelompok. 4. Langkah keempat adalah penerapan PTT. 5. Langkah kelima adalah pengembangan/replikasi PTT ke petani lainnya.
31

C. Komponen PTT Padi. Komponen dasar/compulsory dan pilihan disesuaikan

spesifik wilayah setempat yang paling tepat diterapkan. Komponen teknologi pilihan dapat menjadi compulsory apabila hasil KKP memprioritaskan komponen teknologi dimaksud menjadi keharusan untuk pemecahan masalah utama suatu wilayah, demikian pula sebaliknya bagi komponen teknologi dasar. Adapun komponen PTT padi dasar/compulsory, dikemukakan pada Tabel 6 sedangkan komponen pilihan pada Tabel 7 berikut. Tabel 6. Komponen PTT Padi Dasar
Padi sawah irigasi
Varietas moderen (VUB, PH, PTB) Bibit bermutu dan sehat Pengaturan cara tanam (jajar legowo)

Padi sawah tadah hujan


Varietas moderen (VUB, PTB) Benih bermutu dan sehat Pengelolaan hara P dan K berdasar PUTS Pemberian bahan organik Pengendalian gulma terpadu

Padi gogo
Pergiliran varietas (VUB, PTB) Benih bermutu dan sehat Pemberian bahan organik

Padi rawa lebak


Varietas moderen (VUB, PTB) Bibit bermutu dan sehat Pemupukan N granul, P dan K berdasarkan PUTS PHT sesuai OPT sasaran.

Pemupukan berimbang dan efisien menggunakan BWD dan PUTS/petak omisi/Permentan No. 40/2007
PHT sesuai OPT sasaran.

Pemupukan berdasar status kesuburan tanah


Konservasi tanah dan air

Tabel 7. Komponen PTT Padi Pilihan


Padi sawah irigasi Padi sawah tadah hujan Padi gogo Padi rawa lebak

Bahan organik/pupuk

Umur bibit Pengolahan tanah yang

kandang/amelioran**

Pengelolaan tanaman

baik Pengelolaan air optimal (pengairan berselang) Pupuk cair (PPC, ppk organik, pupuk biohayati)/ZPT , pupuk mikro) Penanganan panen dan pasca panen

yang meliputi populasi dan cara tanam (legowo, larikan, dll) Cara tanam dilarik dengan populasi tanaman tinggi menggunakan alat tanam row seeding PHT sesuai OPT sasaran Penanganan panen dan pasca panen

Pengelolaan tanaman

yang meliputi populasi dan cara tanam (legowo, larikan, dll) PHT sesuai OPT setempat Pengendalian gulma terpadu Pola tanam berbasis padi gogo Penanganan panen dan pasca panen

Pengelolaan tanaman

yang meliputi populasi dan cara tanam (legowo, larikan, dll) Umur bibit Pengelolaan air , pembuatan saluran/ caren keliling Pengendalian gulma terpadu Penanganan panen dan pasca panen

*: Komponen teknologi pilihan dapat menjadi compulsory apabila hasil KKP memprioritaskan komponen teknologi yang dimaksud menjadi keharusan untuk pemecahan masalah utama suatu wilayah, demikian pula sebaliknya bagi komponen teknologi dasar. **: Prioritas

(Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan, Badan Litbang 2012 dan Analisis)

32

Adapun

PTT

padi

di

lahan

pasang

surut

yaitu

1).Penggunaan varietas unggul adaptif, 2). Pemupukan spesifik lokasi, 3). Amelioran (digunakan abu dan/atau kapur untuk meningkatkan pH), 4). Pengendalian terpadu untuk hama, penyakit dan gulma dan 5). Menggunakan alsin untuk pra dan pasca panen. Pengolahan tanah sempurna dimaksudkan untuk pencucian racun dan meratakan tanah.
(Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan, Badan Litbang, 2012).

D. Komponen PTT Jagung. Komponen dasar dan pilihan disesuaikan spesifik wilayah setempat yang paling tepat diterapkan. Komponen PTT Jagung dasar yaitu : 1). Varietas unggul baru, hibrida atau komposit, 2). Benih bermutu dan berlabel, 3). Populasi 66.000 75.000 tanaman/ha dan 4). Pemupukan

berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Sedangkan komponen PTT Jagung pilihan adalah :

1). Penyiapan lahan, 2). Pemberian pupuk organik, 3). Pembuatan saluran drainase pada lahan kering, atau saluran irigasi pada lahan sawah, 4). Pembumbunan, 5).

Pengendalian gulma secara mekanis atau dengan herbisida kontak, 6). Pengendalian hama dan penyakit, dan 7). Panen tepat waktu dan pengeringan segera. Dalam rangka peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 400 jagung, persyaratan yang harus dipenuhi adalah : 1). Lokasi tersedia cukup air saat diperlukan, terutama saat musim
33

kemarau, 2).Lahan bebas genangan air saat musin hujan, 3).Tenaga kerja cukup tersedia stiap saat dan 4). Umur varietas yang ditanam tidak lebih 100 hari. E. Peran Komponen PTT. Penggunaan menghasilkan benih daya varietas unggul bermutu tinggi akan dan

perkecambahan

yang

seragam, tanaman yang sehat dengan perakaran yang baik, tanaman tumbuh lebih cepat, tahan terhadap hama dan penyakit, berpotensi hasil tinggi dan mutu hasil yang lebih baik. Penanaman yang tepat waktu, serentak dan jumlah populasi yang optimal dapat menghindari serangan hama dan penyakit, menekan pertumbuhan gulma, terhindar dari kelebihan dan kekurangan air, memberikan pertumbuhan tanaman yang sehat dan seragam serta hasil yang tinggi. Pemberian pupuk secara berimbang berdasarkan

kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara tanah dengan prinsip tepat jumlah, jenis, cara, dan waktu aplikasi sesuai dengan jenis tanaman akan memberikan pertumbuhan yang baik dan meningkatkan kemampuan tanaman mencapai hasil tinggi. Pemberian air pada tanaman secara efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah merupakan faktor penting bagi pertumbuhan dan hasil tanaman yaitu air sebagai pelarut sekaligus pengangkut hara
34

dari tanah ke bagian tanaman. Kebutuhan akan air disetiap stadia tanaman berbeda-beda, pemberian air secara tepat akan meningkatkan hasil dan menekan terjadinya stres pada tanaman yang diakibatkan karena kekurangan dan kelebihan air. Perlindungan tanaman dilaksanakan untuk mengantisipasi dan mengendalikan serangan OPT dan DPI dengan meminimalkan kerusakan atau penurunan produksi akibat serangan OPT. Pengendalian dilakukan berdasarkan prinsip dan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Khususnya pengendalian dengan pestisida merupakan pilihan terakhir bila serangan OPT berada diatas ambang ekonomi. Penggunaan pestisida harus memperhatikan jenis, jumlah dan cara penggunaannya sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku sehingga tidak menimbulkan

resurjensi atau resistensi OPT atau dampak lain yang merugikan lingkungan. Penanganan panen dan pasca panen akan memberikan hasil yang optimal jika panen dilakukan pada waktu dan cara yang tepat yaitu tanaman dipanen pada masak fisiologis berdasarkan umur tanaman, kadar air dan penampakan visual hasil sesuai dengan diskripsi varietas. Pemanenan dilakukan dengan sistem kelompok yang dilengkapi dengan peralatan dan mesin yang cocok sehingga menekan kehilangan hasil. Hasil panen dikemas dalam wadah dan

35

disimpan ditempat penyimpanan yang aman dari OPT dan perusak hasil lainnya sehingga mutu hasil tetap terjaga dan tidak tercecer. F. Pemilihan Teknologi PTT. Komponen teknologi yang dipilih dan diterapkan oleh petani dalam melaksanakan SL-PTT adalah komponen teknologi PTT. Perakitan komponen teknologi budidaya dilakukan dengan cara penelusuran setiap alternatif komponen

teknologi, jumlah yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi. Apabila hal tersebut telah diketahui maka antar komponen teknologi dan aspek lingkungan dapat disinergiskan.

Pemilihan teknologi budidaya yang optimal dapat dilakukan dengan memaksimalkan komponen teknologi yang saling sinergis dan meminimalkan komponen teknologi yang saling antagonis (berlawanan) sehingga diperoleh teknik budidaya dalam pendekatan PTT yang spesifik lokasi. Kombinasi komponen teknologi yang digunakan pada lokasi tertentu dapat berbeda dengan lokasi lainnya, karena beragamnya teknologi kondisi lingkungan pertanaman. yang Setiap sedang

dan

kombinasi

teknologi

dikembangkan pada suatu lokasi dapat berubah sejalan dengan perkembangan ilmu dan pengalaman petani di lokasi setempat. Untuk menetapkan paket teknologi SL-PTT yang akan dilaksanakan di setiap unit agar dikonsultasikan

36

dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di masingmasing wilayah. G. Keuntungan Penerapan Teknologi PTT. 1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil usahatani 2. Efisiensi biaya usahatani dengan penggunaan teknologi yang tepat untuk masing-masing lokasi. 3. Kesehatan lingkungan tumbuh pertanaman dan

lingkungan kehidupan secara keseluruhan akan terjaga.

37

V. SEKOLAH LAPANGAN PTT PADI DAN JAGUNG A. Model Pemberdayaan Petani Melalui SL-PTT. SL-PTT berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompoktani, sekaligus tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan, pembinaan manajemen kelompok serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. Untuk itu, melalui SL-PTT diharapkan petani/kelompok tani nantinya akan mampu mengambil keputusan atas dasar pertimbangan teknis dan ekonomis dalam setiap tahapan budidaya usahataninya serta mampu mengaplikasikan

teknologi secara benar sehingga meningkatkan produksi dan pendapatannya. Sekolah Lapangan PTT tidak terikat dengan ruang kelas, sehingga belajar dapat dilakukan di saung dan tempattempat lain yang berdekatan dengan lahan belajar. Dalam SL-PTT terdapat satu unit Laboratorium Lapangan (LL) yang merupakan bagian dari kegiatan SL-PTT sebagai tempat bagi petani anggota kelompoktani dapat

melaksanakan seluruh tahapan SL-PTT pada lahan tersebut. Dalam melaksanakan LL kelompoktani dapat mengacu pada rekomendasi teknologi setempat. SL-PTT dilaksanakan oleh kelompoktani yang sudah

terbentuk dan masih aktif. Kelompoktani yang dimaksud


38

diupayakan

kelompoktani

yang

dibentuk

berdasarkan

hamparan, atau lokasi lahan usahataninya diupayakan masih dalam satu hamparan setiap kelompok. Hal ini perlu untuk mempermudah interaksi antar anggota karena mereka saling mengenal satu sama lainnya dan diharapkan tinggal saling berdekatan sehingga bila teknologi SL-PTT sudah diadopsi secara individu akan mudah ditiru petani lainnya. Tiap unit SL-PTT terdiri dari petani peserta yang berasal dari satu kelompoktani yang sama dan atau dengan

kelompoktani lain terdekat. Dalam setiap unit SL-PTT perlu ditetapkan seorang ketua yang bertugas mengkoordinasikan aktivitas bertugas anggota sebagai pada yang kelompok, pencatat setiap seorang sekretaris yang yang kegiatankegiatan pertemuan mengurusi dan

dilaksanakan bendahara

seorang yang

bertugas

masalah

berhubungan dengan keuangan. Untuk menjamin kelangsungan dinamika kelompok dalam kelas SL-PTT, perlu diusahakan paling tidak satu orang dari kelompoktani sebagai motivator yang mampu memberikan respon yang cepat terhadap inovasi dan mampu mendorong anggota kelompok lainnya dapat memberikan respon yang sama. Peserta SL-PTT akan mengadakan pengamatan bersama sama di petak percontohan/Laboratorium Lapangan (LL), mendiskripsikan dan membahas temuantemuan lapangan.
39

Pemandu Lapangan berperan sebagai fasilitator untuk mengarahkan jalannya diskusi kelompok. Peserta SL-PTT wajib mengikuti setiap tahap pertanaman dan mengaplikasikan kombinasi komponen teknologi yang sesuai spesifik lokasi mulai dari pengolahan tanah,

budidaya, penanganan panen dan pasca panen. Pada setiap tahapan pelaksanaan, petani peserta diharapkan melakukan serangkaian kegiatan yang sudah direncanakan dan

dijadwalkan, baik dipetak LL maupun di lahan usahataninya. Sketsa model pemberdayaan petani melalui SL-PTT, seperti pada Gambar 1 berikut ini.

40

Gambar 1. Sketsa Model Pemberdayaan Petani Melalui SL-PTT

41

B. Tipe, Kriteria dan Batasan Kawasan SL-PTT. Fokus kegiatan peningkatan produktivitas tanaman serealia tahun 2013 dilaksanakan melalui peningkatan kualitas SLPTT melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan

pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas, terintegrasi dari hulu sampai hilir, peningkatan jumlah paket bantuan sebagai instrumen stimulan, pengawalan serta pendampingan. Untuk itu, lokasi SL-PTT tahun 2013 akan lebih difokuskan kedalam 3 kawasan, yaitu kawasan pertumbuhan, kawasan pengembangan dan kawasan pemantapan. Luas 1 (satu) kawasan untuk padi inbrida, padi hibrida, jagung hibrida dan jagung komposit 1.000 ha kecuali padi rawa lebak seluas 500 ha. Luas 1 (satu) kawasan 1.000 ha, untuk beberapa provinsi seperti NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dan Kabupaten di daerah perbatasan disesuaikan dengan kondisi geografis setempat. Untuk jelasnya tipe, kriteria dan orientasi pengembangan serta batasan dukungan dan

pengembangan kawasan dikemukakan pada Tabel 8 dan Tabel 9.

42

Tabel 8. Tipe, Kriteria dan Orientasi Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Tanaman Pangan
TIPE KAWASAN PERTUMBUHAN PENGEMBANGAN PEMANTAPAN KRITERIA KAWASAN PRODUKTIVITAS LEBIH RENDAH DARI RATA-RATA PROVINSI PEMANFAATAN LAHAN BELUM OPTIMAL TINGKAT KEHILANGAN HASIL MASIH TINGGI PRODUKTIVITAS HAMPIR SAMA DENGAN PRODUKTIVITAS RATA-RATA PROVINSI PEMANFAATAN LAHAN HAMPIR OPTIMAL TINGKAT KEHILANGAN HASIL SEDANG MUTU HASIL BELUM OPTIMAL PRODUKTIVITAS SUDAH LEBIH TINGGI DARI PRODUKTIVITAS RATA-RATA PROVINSI MUTU HASIL BELUM OPTIMAL EFISIENSI USAHA BELUM BERKEMBANG OPTIMALISASI PENDAPATAN MELALUI PRODUKSI SUBSEKTOR TANAMAN SUDAH MAKSIMAL (KECUALI ADA INTRODUKSI TEKNOLOGI BARU) -

ORIENTASI PENGUATAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PENINGKATAN INDEKS PERTANAMAN (IP) PENURUNAN TINGKAT KEHILANGAN HASIL PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PENURUNAN TINGKAT KEHILANGAN HASIL PENINGKATAN MUTU HASIL

PENGENALAN TEKNOLOGI BARU PENINGKATAN MUTU HASIL EFISIENSI USAHA MELALUI PEMANFAATAN LIMBAH LINGKUNGAN DIVERSIFIKASI PRODUK TANAMAN PANGAN PENGATURAN HARGA DAN MARGIN DIVERSIFIKASI PENDAPATAN MELALUI SUBSEKTOR LAIN

Keterangan: 1. Pemerintah memiliki keterbatasan anggaran 2. Sasaran pembangunan yang ditargetkan adalah peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan. 3. Pada setiap kawasan, diperlukan dukungan setiap Eselon I mengacu target orientasi.

43

Tabel 9. Batasan Pengembangan Kawasan Padi dan Jagung Tahun 2013


Komoditi Faktor Pertimbangan Kawasan Jenis Lahan Komponen Model 1 Kawasan 1 SL-PTT Padi Inbrida 2 SL-PTT Padi Inbrida Spesifik Lokasi 3 SL-PTT Padi Inbrida Peningkatan IP PADI Baku Lahan 1 Lahan Sawah 4 SL-PTT Padi Inbrida Lahan Rawa - Rawa Lebak - Pasang Surut 5 SL-PTT Pengembangan Padi Hibrida 6 Demfarm Padi Hibrida 2 Lahan Kering 7 SL-PTT Padi Lahan Kering 1 SL-PTT Jagung Hibrida JAGUNG Baku Lahan Lahan Sawah/Lahan Kering 2 SL-PTT Jagung Komposit 3 Optimasi Jagung Hibrida 500 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 Luasan 1 Kawasan (Ha) 1,000 1,000 1,000

Catatan : 1. Faktor pertimbangan baku lahan sangat diperhatikan 2. Alokasi jenis model kawasan agar memperhatikan tingkat produktivitas, indeks pertanaman, dan pengembangan jaringan irigasi (Kesepakatan dengan Kementerian PU). 3. Apabila ada lahan yang dapat diperluas lagi maka akan dilakukan melalui instrumen Cadangan Benih Nasional (CBN). 4. Dukungan dari Eselon 1 lain terutama Ditjen PSP, PPHP, Badan Litbang, dan BPPSDMP diletakkan sesuai dengan kebutuhan komponen dan permasalahan yang ada.

C. Kriteria Kawasan.

Luas 1 (satu) kawasan 1.000 ha diutamakan dalam 1 desa dalam satu kecamatan dan penuhi terlebih dahulu areal dalam satu desa dalam satu kecamatan. Namun apabila areal di desa tersebut belum mencukupi, maka

kekurangannya dapat ditambah/dipenuhi dari desa terdekat,


44

dan seterusnya hingga kawasan seluas 1.000 ha dapat terpenuhi. Apabila kawasan 1.000 ha belum dapat dipenuhi dari satu kecamatan, maka kekurangannya dapat dipenuhi dari kecamatan terdekat, dan seterusnya hingga kawasan seluas 1.000 ha terpenuhi. Untuk lebih jelasnya dikemukakan pada berikut. Gambar 2

KRITERIA KAWASAN 1.000 HA

KABUPATEN A
Kecamatan A
Desa A

Kecamatan B
Alt 3 Desa 1000 ha A

1000 ha/ desa


Alt 1

Desa A
800 ha Alt 2 200 ha Desa B

Desa B

1. Alternatif 1 : 1000 ha dlm 1 Desa 2. Alternatif 2 : 1000 ha dlm beberapa Desa dalam 1 Kec 3. Alternatif 3 : 1000 ha dlm beberapa desa dalam 2 kecamatan atau lebih Keterangan: 1. Penuhi areal dalam satu desa, bila areal belum mencukupi di desa tersebut maka kekurangannya dapat ditambah dari desa terdekat. 2. Apabila kawasan 1.000 ha belum dapat dipenuhi dari satu kecamatan, maka kekurangannya dapat dipenuhi dari kecamatan terdekat. 3. Transfer Bantuan Sosial (Bansos) ke Rekening Kelompoktani

Gambar 2. Kriteria Kawasan 1.000 Ha

45

Pada setiap 25 ha dalam kawasan seluas 1.000 ha, dilaksanakan 1 unit Laboratorium Lapangan (LL) seluas 1 ha sehingga jumlah LL dalam kawasan 1.000 ha sebanyak 40 unit (40 ha LL). LL merupakan tempat

pembelajaran/pertemuan petani di lapangan. Pertemuan kelompok dilaksanakan 25 pada ha. areal Untuk LL dalam SL

hamparan/kawasan

lebih

jelasnya

dikemukakan pada Gambar 3 berikut. KAWASAN = 1.000 HA (SL = 960 HA & LL = 40 HA/40 Unit)
SL
LL

...
Keterangan : : 1 Ha LL Laboratorium Lapang /25 Ha SL 1. Pada setiap 25 ha dalam kawasan 1.000 ha dilaksanakan 1 unit LL seluas 1 ha, sehingga jumlah LL dalam 1000 ha terdapat sebanyak 40 unit LL (40 Ha LL). 2. Pertemuan kelompok dilaksanakan pada areal LL dalam hamparan/ kawasan 25 ha

Gambar 3. Laboratorium Lapangan (LL) Dalam LL dilakukan percontohan penerapan teknologi paket anjuran secara sempurna, sebagai arena belajar para petani.
46

Dalam LL diharapkan dapat pula dilakukan petak-petak percontohan pengenalan varietas-varietas unggul baru atau paket-paket teknologi baru lainnya atas persetujuan BPTP setempat. Jenis sarana produksi dan dosis yang digunakan pada areal SL maupun LL disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi dan dicantumkan dalam Rencana Usahatani Kelompok/RUK masing-masing kelompoktani. Untuk lebih jelasnya agar dikonsultasikan dengan Balai Pengkajian Teknologi

Pertanian (BPTP) di masing-masing daerah. Besarnya bantuan saprodi sebagai salah satu instrumen perangsang/stimulan baik pada areal SL maupun LL disesuaikan dengan kawasan dimana SL-PTT tersebut dialokasikan dan disesuaikan pula dengan komoditi yang diusahakan kelompoktani peserta SL-PTT. Bantuan sarana produksi dan pertemuan kelompok merupakan Belanja Sosial (BANSOS) dan penggunaannya dengan mekanisme transfer langsung ke rekening kelompoktani dalam bentuk uang dan sesuai pedoman serta peraturan perundangundangan yang berlaku. Sedangkan insentif/bantuan

transport bagi petugas pendamping (petugas dinas dan aparat) dan papan nama merupakan Belanja Barang Non Operasional (BBNOL) dan penggunaannya disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan pedoman serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

47

Seperti telah dikemukakan diatas bahwa pada setiap 25 ha SL dalam kawasan seluas 1.000 ha, akan terdapat 1 unit Laboratorium Lapangan (LL) seluas 1 ha sehingga jumlah LL dalam kawasan 1.000 ha terdapat sebanyak 40 unit LL (40 ha LL), berarti sisanya seluas 960 ha berupa areal SL. Sebagai contoh, apabila satu kelompoktani mempunyai areal 50 ha maka kelompoktani tersebut akan mendapatkan 2 unit LL dan seterusnya. Jika areal tidak mencukupi 25 ha, maka dapat digabung dengan kelompoktani lainnya yang

berdekatan dan lokasi pelaksanaan pertemuan kelompoktani disepakati oleh kelompoktani tersebut. Pola SL-PTT Padi dan Jagung pada satu kawasan dikemukakan pada Gambar 4, 5 dan 6 berikut :
SL-PTT Kawasan Pertumbuhan dengan penggunaan benih varietas unggul bermutu pada : 1. Padi Inbrida Sawah 61.800 ha 2. Padi Inbrida Pasang Surut 96.000 ha 3. Padi Inbrida Rawa Lebak 26.000 ha 4. Padi Inbrida Lahan Kering 114.100 ha 5. Jagung Hibrida 9.000 ha 6. Jagung Komposit 45.700 ha

FOKUS KEGITAN PENAMBAHAN PRODUKSI

KAWASAN PERTUMBUHAN 1.000 HA 40 UNIT SL (1 Unit / 24 Ha)

Pendampingan oleh Penyuluh Pertanian, Peneliti, POPT, PBT, dan Aparat

Bantuan (disesuaikan dengan rekomendasi spesifik lokasi): 1. Pupuk Urea 2. Pupuk NPK 3. Pupuk Organik 4. Herbisida 5. Kaptan 6. Pertemuan Kelompok

40 Unit LL
(1 Unit/1 Ha)

Gambar 4. Pola SL-PTT Kawasan Pertumbuhan

48

FOKUS KEGITAN PENAMBAHAN PRODUKSI

SL-PTT Kawasan Pengembangan dengan penggunaan benih varietas unggul bermutu pada : 1. Padi Inbrida Sawah 272.500 ha 2. Padi Hibrida 200.000 ha 3. Padi Inbrida Lahan Kering 117.200 ha 4. Jagung Hibrida 170.300 ha

KAWASAN PENGEMBANGAN1.000 HA 40 UNIT SL (1 Unit / 24 Ha)

Pendampingan oleh Penyuluh Pertanian, Peneliti, POPT, PBT, Aparat

Bantuan (disesuaikan dengan rekomendasi spesifik lokasi): 1. Pupuk Urea 2. Pupuk NPK 3. Pupuk Organik 4. Pertemuan Kelompok

40 Unit LL
(1 Unit/1 Ha)

Gambar 5. Pola SL-PTT Kawasan Pengembangan

FOKUS KEGITAN PENAMBAHAN PRODUKSI

SL-PTT Kawasan Pemantapan dengan penggunaan benih varietas unggul bermutu pada : 1. Padi Inbrida Sawah 3.417.500 ha 2. Padi Inbrida Lahan Kering 320.400 ha 3. Jagung Hibrida 35.000 ha

KAWASAN PEMANTAPAN 1.000 HA 40 UNIT SL (1 Unit / 24 Ha)

Pendampingan oleh Penyuluh Pertanian, Peneliti, POPT, PBT, dan Aparat

Bantuan (disesuaikan dengan rekomendasi spesifik lokasi): 1. Pupuk Urea 2. Pupuk NPK 3. Pupuk Organik

Pertemuan Kelompok

40 Unit LL
(1 Unit/1 Ha)

Gambar 6. Pola SL-PTT Kawasan Pemantapan

49

Kebutuhan sarana produksi dan pendukung lainnya (papan nama dan lainnya) yang tidak dibantu pemerintah maupun kekurangannya, maka penyediaannya agar ditanggung dan diusahakan secara swadana oleh anggota

kelompoktani atau berasal dari sumber lainnya. Hal ini dimaksudkan agar petani/kelompoktani ikut merasa

memiliki sehingga mempunyai tanggungjawab moral untuk mensukseskan SL-PTT Padi dan Jagung dalam rangka mendukung pencapaian sasaran produksi tahun 2013. Selanjutnya agar kegiatan SL-PTT berbasis kawasan tersebut berkontribusi nyata pada produksi tahun 2013, maka pertanaman di areal SL-PTT diharapkan sudah dilaksanakan pada awal tahun 2013 (Akhir MH 2012/2013 sampai MK II 2013), kecuali secara teknis maupun adminstrasi tidak memungkinkan dilaksanakan seperti halnya padi gogo/lahan kering maka dapat dilaksanakan pada awal MH 2013/2014 (Oktober-Desember 2013). Untuk itu, sedini mungkin diambil langkah-langkah dan disiapkan secara terencana, akurat dan efektif melalui koordinasi dengan instansi terkait antara lain Dinas Pengairan, BMKG, Penyedia Benih, Pupuk, Alsintan dan lain sebagainya agar pelaksanaan tepat waktu dan sasaran. Guna mengetahui tingkat produktivitas pada areal SL-PTT maka pada tahun 2013 direncanakan mendapat bantuan

50

dana untuk pendataan ubinan pada setiap kabupaten/kota pelaksana SL-PTT yang besarnya antara 1 50 unit dengan total areal ubinan padi 14.973 unit dan jagung 2.345 unit. Untuk memperoleh data ubinan yang optimal ada areal SL-PTT Padi dan Jagung yang telah ditentukan oleh Dinas Kabupaten/Kota, maka diharapkan ubinan dilaksanakan paling lambat pada bulan Desember 2013. Untuk itu perlu diambil langkah-langkah guna penyusunan jadwal tanam/panen yang tepat. Kegiatan ini dilakukan oleh petugas ubinan pada Dinas Pertanian

Kabupaten/Kota (Mantri Tani/ Mantri Statistik). Sebagai bentuk peningkatan kualitas SL-PTT Padi dan Jagung di lapangan, maka dukungan pendampingan dan pengawalan perlu lebih dioptimalkan. Pendampingan dan pengawalan dilakukan oleh Petugas Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota termasuk PPL, POPT, PBT, KCD, Mantri Tani atau petugas lain sesuai kebutuhan di masing-masing lokasi dan Aparat (TNI-AD beserta jajarannya/BABINSA, Camat dan Kades atau lainnya) serta petugas Pusat. Pengawalan SL-PTT dilakukan pula oleh para Peneliti BPTP di masing-masing lokasi SL/LL yang penugasannya melalui Surat Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pendampingan dan pengawalan oleh petugas dinas dan aparat, dilakukan pula pada seluruh areal tanam/panen
51

baik SL-PTT maupun pertanaman Reguler (Non SL-PTT) melalui Gerakan Pengembangan Kawasan Padi dan Jagung. Untuk itu Posko P2BN pada setiap tingkatan (Kecamatan, Kabupaten/Kota dan Provinsi) harus lebih diaktifkan guna melakukan koordinasi dengan berbagai pihak dan instansi terkait untuk turun ke lapangan memantau kondisi di lapangan, menggerakkan percepatan tanam/panen serentak, pemeliharaan tanaman dan

mengetahui segala permasalahannya untuk selanjutnya diselesaikan. Pendampingan kegiatan SL-PTT oleh Pemandu Lapangan khususnya Penyuluh Lapangan, POPT, PBT dan Peneliti mempunyai sebagai : 1. Pemandu yang paham terhadap permasalahan,

kebutuhan dan kekuatan yang ada di lapangan dan desa. 2. Dinamisator proses latihan SL-PTT sehingga

menimbulkan ketertarikan dan lebih menghidupkan latihan. 3. Motivator yang kaya akan pengalaman dalam berolah tanam dan dapat membantu membangkitkan

kepercayaan diri para peserta SL-PTT 4. Konsultan bagi petani peserta SL-PTT untuk

mempermudah

menentukan

langkah-langkah

52

selanjutnya

dalam

melaksanakan

kegiatan

usahataninya setelah kegiatan SL-PTT selesai. Dalam rangka memberikan apresiasi kepada petugas lapangan yang telah melaksanakan pengawalan dan pendampingan SL-PTT/P2BN, maka kepada petugas tersebut akan diberikan penghargaan berupa uang yang besarannya disesuaikan dengan dana yang tersedia. Penghargaan diberikan kepada tiga orang petugas per kabupaten/kota. Untuk itu Dinas Pertanian Kabupaten/Kota perlu merumuskan kriteria penilaian yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. D. Penentuan Calon Lokasi. Pemilihan penempatan calon lokasi SL-PTT dengan prioritas luasan areal sesuai dengan ketentuan batasan kawasan, produktivitas dan indeks pertanamannya masih berpotensi untuk ditingkatkan dan petaninya responsif terhadap teknologi. Pemilihan letak petak LL yang berada di dalam areal SLPTT terpilih dengan prioritas pertimbangan terletak di bagian pinggir areal SL-PTT sehingga berbatasan langsung dengan areal di luar SL-PTT diharapkan penerapan teknologi SLPTT mudah dilihat dan ditiru oleh petani di luar SL-PTT. Format CL dan CPCL disajikan pada Lampiran 4.

53

1. Penentuan Calon Lokasi. a. Lokasi dapat berupa persawahan yang beririgasi, sawah tadah hujan, lahan kering dan pasang surut yang produktivitas dan/atau indeks pertanamannya masih dapat ditingkatkan. Prioritas pertama lokasi SLPTT tahun anggaran 2013 ditempatkan pada lokasi yang IP (Indeks Pertanaman) paling rendah dan/atau pada lokasi yang produktivitasnya paling rendah serta areal sawah bukaan/cetakan baru. Oleh karena itu Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian

Kabupaten/Kota harus melakukan identifikasi lokasilokasi yang produktivitas dan/atau IP-nya masih dapat ditingkatkan. b. Diprioritaskan bukan daerah endemis hama dan penyakit, bebas dari bencana kekeringan, kebanjiran dan sengketa. c. Unit SL-PTT, diusahakan agar berada dalam satu hamparan/kawasan yang strategis dan mudah

dijangkau petani atau disesuaikan dengan kondisi di lapangan. d. Lokasi SL-PTT setiap 25 ha, diberi papan nama sebagai tanda lokasi pelaksanaan SL/LL. e. Letak Laboratorium Lapangan (LL) pada SL-PTT diutamakan ditempatkan pada lokasi yang sering dilewati petani sehingga mudah dijangkau dan dilihat
54

oleh

petani

sekitarnya

untuk

dicontoh

dalam

usahataninya. 2. Penentuan Calon Petani/Kelompoktani SL-PTT. a. Kelompoktani/petani yang dinamis dan bertempat tinggal dalam satu desa/wilayah yang berdekatan dan diusulkan oleh Kepala Desa, KCD dan atau Penyuluh Lapangan. b. Petani yang dipilih adalah petani aktif yang memiliki lahan ataupun penggarap/penyewa dan mau menerima teknologi baru. c. Bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan SLPTT. d. Kelompoktani SL-PTT ditetapkan dengan Surat

Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang membidangi tanaman pangan, sebagaimana contoh pada Lampiran 5. E. KetentuanPelaksana SL-PTT. Ketentuan pelaksana SL-PTT sebagai berikut : 1. Lokasi SL-PTT diusahakan berada pada satu hamparan atau kawasan, mempunyai potensi untuk ditingkatkan produktivitas dan/atau IP-nya, serta anggota

kelompoktaninya respons terhadap penerapan teknologi.

55

2. Luas satu unit SL-PTT padi dan jagung adalah 25 ha yang di dalamnya terdapat satu unit LL seluas 1 ha. 3. Peserta tiap unit SL-PTT diupayakan para petani yang berasal dari hamparan seluas 25 ha. 4. Memiliki Pemandu Lapangan. F. Persyaratan Kelompoktani Pelaksana SL-PTT. 1. Kelompoktani tersebut masih aktif dan mempunyai kepengurusan yang lengkap yaitu Ketua, Sekretaris dan Bendahara. 2. Menyusun RUK sebagaimana terlihat dalam Lampiran 6. 3. Kelompoktani penerima bantuan SL-PTT ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian

Kabupaten/Kota. 4. Memiliki rekening yang masih berlaku/masih aktif di Bank Pemerintah (BUMN atau BUMD/Bank Daerah) yang terdekat dan bagi Kelompoktani yang belum memiliki, harus membuka rekening di bank. 5. Rekening bank diutamakan berupa rekening bank setiap kelompoktani namun dapat pula rekening gabungan kelompoktani (Gapoktan). Jika menggunakan rekening gapoktan, mekanisme pengaturan antar kelompoktani agar diatur lebih lanjut oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota.

56

6. Membuat surat pernyataan bersedia dan sanggup menggunakan dana bantuan SL-PTT sesuai

peruntukannya (RUK) dan sanggup mengembalikan dana apabila tidak sesuai peruntukannya sebagaimana terlihat dalam Lampiran 7. 7. Bersedia menambah biaya pembelian sarana produksi dan pendukung lainnya, bilamana bantuan pemerintah tersebut tidak mencukupi/kurang. 8. Bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan SL-PTT. G. Bantuan SL-PTT. Guna mendukung pelaksanaan SL-PTT padi inbrida sawah, padi pasang surut, padi rawa lebak, padi hibrida, padi inbrida lahan kering, jagung hibrida dan jagung komposit, sebagai stimulan direncanakan mendapat sarana produksi (pupuk urea, pupuk NPK, pupuk organik, pertemuan bagi petugas kapur pertanian,

herbisida),

sedangkan transport

kelompoktani, pendamping

insentif/bantuan

(petugas dinas dan aparat) dan papan nama diberikan pada setiap 25 ha dalam kawasan 1.000 ha baik kawasan pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan.

Adapun plafon bantuan saprodi secara rinci sebagai berikut : 1. Areal Laboratorium Lapangan pertumbuhan, pengembangan, (LL) pada dan kawasan

pemantapan

57

mendapatkan bantuan saprodi

(urea, NPK, pupuk

organik, herbisida dan kapur pertanian). 2. Areal SL di luar LL pada kawasan pertumbuhan dan pengembangan mendapatkan bantuan saprodi yang volume dan jenisnya tidak sebesar pada lokasi LL. Kekurangan swadana. 3. Areal SL di luar LL pada kawasan pemantapan tidak mendapatkan bantuan saprodi. Untuk itu saprodi pada areal tersebut diharapkan dapat disediakan melalui swadana dan/atau dari sumber-sumber lainnya. Pengunaan saprodi (volume dan jenisnya) di tingkat lapangan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing daerah (spesifik lokasi) dan telah disetujui oleh PPL, BPTP, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan BPTP Provinsi saprodi agar dapat dipenuhi secara

setempat. Untuk lebih jelasnya, plafon stimulan/bantuan saprodi untuk pelaksanaan SL-PTT Padi dan Jagung Tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini :

58

Tabel 10. Plafon Stimulan/Bantuan Saprodi SL-PTT Padi dan Jagung Tahun 2013
No Uraian Areal (Ha) 297,900 LL 2,472 1,414 - Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 300 kg/ha, organik 1000 kg/ha) - Pertemuan kelompok 8 kali - Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 200 kg/ha, organik 750 kg/ha) - Pertemuan kelompok 8 kali Biaya (Rp 000/ha) Instrumen Stimulan I Kawasan SL-PTT Padi 1 Kawasan Pertumbuhan a. Padi inbrida sawah

SL TOTAL b. Padi inbrida Pasang Surut LL

59,328 61,800 3,840

1,059

1,324

- Saprodi di luar benih (urea 150 kg/ha, NPK 200 kg/ha, Herbisida 4 liter, Kaptan 500 kg/ha) - Pertemuan kelompok 8 kali - Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 150 kg/ha, Herbisida 4 liter, Kaptan 500 kg/ha) - Pertemuan kelompok 8 kali

SL TOTAL c. Padi Inbrida Rawa Lebak LL

92,160 96,000 24,960

1,119

1,324

- Saprodi di luar benih (urea 150 kg/ha, NPK 200 kg/ha, Herbisida 4 liter, Kaptan 500 kg/ha) - Pertemuan kelompok 8 kali - Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 100 kg/ha, Herbisida 4 liter, Kaptan 250 kg/ha) - Pertemuan kelompok 8 kali

SL TOTAL d. Padi Inbrida Lahan Kering LL

1,040 26,000 4,564

829

1,414

- Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 300 kg/ha, organik 1.000 kg) - Pertemuan kelompok 8 kali - Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 200 kg/ha, organik 750 kg) - Pertemuan kelompok 8 kali

SL TOTAL Kawasan Pengembangan a. Padi Inbrida Sawah LL

109,536 114,100 589,700 10,900

1,059

1,344.90

- Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 275 kg/ha, organik 1.000 kg) - Pertemuan kelompok 6 kali - Saprodi di luar benih (urea 75 kg/ha, NPK 150 kg/ha, organik 500 kg) - Pertemuan kelompok 6 kali

SL TOTAL b. Padi Hibrida LL

261,600 272,500 8,000

762.40

1,402.40

- Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 300 kg/ha, organik 1.000 kg) - Pertemuan kelompok 6 kali - Saprodi di luar benih (urea 75 kg/ha, NPK 150 kg/ha, organik 500 kg) - Pertemuan kelompok 6 kali

SL TOTAL c. Padi Inbrida Lahan Kering LL

192,000 200,000 4,688

762.40

1,344.90

- Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 275 kg/ha, organik 1.000 kg) - Pertemuan kelompok 6 kali - Saprodi di luar benih (urea 75 kg/ha, NPK 150 kg/ha, organik 500 kg) - Pertemuan kelompok 6 kali

SL TOTAL 3 Kawasan Pemantapan a. Padi Inbrida Sawah LL

112,512 117,200 3,737,400 136,680

762.40

1,276.60

- Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 250 kg/ha, organik 1.000 kg) - Pertemuan kelompok 4 kali - Pertemuan kelompok 4 kali

SL TOTAL b. Padi Inbrida Lahan Kering LL

3,280,320 3,417,000 12,816

21.60

1,276.60

- Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 250 kg/ha, organik 1.000 kg) - Pertemuan kelompok 4 kali - Pertemuan kelompok 4 kali

SL TOTAL TOTAL I

307,584 320,400 4,625,000

21.60

59

No

Uraian

Areal (Ha)

Biaya (Rp 000/ha)

Instrumen Stimulan

II Kawasan SL-PTT Jagung Kawasan 1 Pertumbuhan a. Jagung Hibrida LL

54,700 360 1,664 - Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 300 kg/ha, organik 1.000 kg, Herbisida 2 liter) - Pertemuan kelompok 8 kali - Saprodi di luar benih (urea 50 kg/ha, NPK 100 kg/ha) - Pertemuan kelompok 8 kali

SL TOTAL b. Jagung Komposit LL

8,640 9,000 1,828

364

1,664

- Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 300 kg/ha, organik 1.000 kg, Herbisida 2 liter) - Pertemuan kelompok 8 kali - Saprodi di luar benih (urea 50 kg/ha, NPK 100 kg/ha) - Pertemuan kelompok 8 kali

SL TOTAL 2 Kawasan Pengembangan a. Jagung Hibrida LL

43,872 45,700 170,300 6,812

364

1,042

- Saprodi di luar benih (urea 100 kg/ha, NPK 200 kg/ha, organik 750 kg) - Pertemuan kelompok 5 kali - Saprodi di luar benih (NPK 100 kg/ha) - Pertemuan kelompok 5 kali

SL TOTAL 3 Kawasan Pemantapan a. Jagung Hibrida LL

163,488 170,300 35,000 1,400

257

716.60

- Saprodi di luar benih (urea 50 kg/ha, NPK 100 kg/ha, organik 750 kg) - Pertemuan kelompok 4 kali - Pertemuan kelompok 4 kali

SL TOTAL TOTAL II TOTAL I + II

33,600 35,000 260,000 4,885,000

21.60

Bantuan sarana produksi dan pertemuan kelompok diberikan langsung kepada kelompoktani, melalui mekanisme transfer ke rekening kelompoktani dalam bentuk uang, sedangkan papan nama dan pengawalan serta pendampingan melalui Satker Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang membidangi tanaman pangan. Adapun dosis pemupukan disesuaikan dengan rekomendasi setempat. Apabila rekomendasi di
60

suatu lokasi memerlukan pupuk jenis lainnya maka bila dana mamadai dapat dibiayai dari dana yang tersedia. Untuk memperoleh produktivitas yang tinggi, maka benih yang digunakan pada pelaksanaan SL-PTT adalah benih varietas unggul bermutu produktivitas tinggi yang bersumber dari benih bersubsidi yang disediakan oleh Pemerintah. Apabila tidak dapat dipenuhi dari benih bersubsidi maka dapat pula dipenuhi secara swadaya dan atau dari sumbersumber lainnya. Penggunaan benih di luar benih bersubsidi harus disetujui oleh Kepala Dinas Pertanian

Kabupaten/Kota. Selanjutnya dilaporkan kepada Kepala Dinas Pertanian Provinsi untuk kemudian disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Provinsi kepada Direktur Jenderal Tanaman Pangan. Khusus untuk padi lahan kering/gogo, padi pasang surut dan padi rawa lebak apabila varietas unggul nasional tidak tersedia, maka dapat menggunakan varietas unggul lokal yang telah beradaptasi dengan baik dan ditanam oleh petani di wilayah tersebut dan sumber pembiayaannya berasal dari swadaya petani pelaksana SL-PTT. Penggunaan varietas tersebut harus disetujui oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan BPTP setempat. Selanjutnya dilaporkan kepada Kepala Dinas Pertanian Provinsi untuk kemudian disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Provinsi kepada Direktur Jenderal Tanaman Pangan.

61

H. Mekanisme Pelaksanaan SL-PTT Mekanisme pelaksanaan SL-PTT yang meliputi : persiapan, mengorganisasian menciptakan dan kelas, penerapan metode belajar, menghidupkan dinamika kelompok,

monitoring dan evaluasi serta pelaporan oleh pemandu lapangan berpedoman pada Pedoman Teknis SL-PTT Padi dan Jagung Tahun 2012 atau tahun sebelumnya sepanjang tidak bertentangan satu sama lain. I. Pertemuan Kelompok SL-PTT. Pertemuan kelompok dalam areal SL dan LL disesuaikan dengan kawasan dimana SL-PTT tersebut dialokasikan. Pada kawasan pertumbuhan, pertemuan minimal 8 kali pertemuan, pada kawasan pengembangan minimal 6 kali pertemuan dan pada kawasan pemantapan minimal 4 kali pertemuan. Oleh karena itu perlu dijadwalkan secara periodik dengan waktu pertemuan dirundingkan bersama petani peserta sehingga dapat dihadiri dan tidak

mengganggu/merugikan waktu petani. Pertemuan kelompok dilakukan oleh pelaksana SL-PTT, tempat pertemuan di lokasi pelaksana SL-PTT. Peserta pertemuan adalah petani peserta dipandu oleh Pemandu Lapangan. Hal-hal yang lebih teknis dan operasional lapangan agar diatur/diuraikan oleh Petunjuk Pelaksanaan Teknis

62

Lapangan SL-PTT yang disusun/dibuat oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota.

63

VI. PENGORGANISASIAN DAN OPERASIONAL SLPTT

A. Pengorganisasian SL-PTT. Agar pelaksanaan SL-PTT terkoordinasi dan terpadu mulai dari kelompoktani, kabupaten, provinsi sampai ke tingkat pusat maka perlu dibentuk tim pengendali tingkat pusat, tim pembina tingkat provinsi, tim pelaksana tingkat

kabupaten/kota serta tim pelaksana tingkat kecamatan. Tim pengendali tingkat pusat, ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan. Tim

pembina tingkat provinsi ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur/Kepala bersangkutan. Dinas Sedangkan Pertanian tim Provinsi yang tingkat

pelaksana

kabupaten/kota serta kecamatan, ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota. Tim pembina tingkat provinsi serta tim pelaksana tingkat kabupaten/kota dan tim pelaksana kecamatan

melaksanakan kegiatan koordinasi pelaksanaan SL-PTT melalui Pos Simpul Koordinasi (POSKO) mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota sampai tingkat provinsi. Posko SL-PTT dapat memanfaatkan POSKO yang telah ada seperti POSKO P2BN seperti diamanatkan pada Permentan Nomor 45 Tahun 2011 tentang Tata Hubungan Kerja Antar Kelembagaan Teknis, Penelitian dan Pengembangan, Dan
64

Penyuluh

Pertanian

Dalam

Mendukung

Peningkatan

Produksi Beras Nasional (P2BN). B. Operasionalisasi SL-PTT. Tim Pengendali Pusat melakukan koordinasi dan sinergisitas program dan kegiatan antar instansi terkait untuk kelancaran pelaksanaan SL-PTT. Tim Pembina Tingkat Provinsi melakukan koordinasi dan mengorganisir Tim Pelaksana Tingkat Kabupaten/Kota untuk dapat melaksanakan SL-PTT sesuai sasaran. Pembinaan dilakukan mulai sejak perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan evaluasi. Tim Pelaksana Tingkat Kabupaten/Kota dan kecamatan melakukan langsung pelaksanaan SL-PTT dengan

mengorganisir dan menggerakkan Kepala Cabang Dinas Pertanian Kecamatan (KCD), Penyuluh, POPT, PBT, Kepala Desa, Babinsa, Kelompoktani, dan petani dalam

melaksanakan SL-PTT sesuai sasaran. Pengorganisasian/ gerakan dilakukan mulai sejak perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan serta juga evaluasi. Tim Pelaksana kegiatan

Kabupaten/Kota

melakukan

administrasi

sesuai prosedur dan peraturan perundang-undangan yang berlaku .

65

VII.

PEMBIAYAAN, MEKANISME PENCAIRAN DANA DAN PENGADAAN

A. Pembiayaan. Sumber pembiayaan pelaksanaan SL-PTT padi dan jagung tahun 2013 berasal dari APBN dan APBD maupun dana dari pihak swasta, stakeholders yaitu antara lain sebagai berikut : 1. Bantuan Sosial (Bansos) yang dialokasikan melalui dana tugas pembantuan tahun 2013 dengan mekanisme transfer langsung ke kelompoktani peserta SL-PTT dalam bentuk uang. Bantuan digunakan untuk pembelian pupuk urea, NPK, pupuk organik, kapur pertanian dan herbisida serta pelaksanaan pertemuan kelompok pada areal SLPTT. 2. Bantuan alat dan mesin pertanian antara lain traktor, mesin pembuat pupuk organik, alsintan pascapanen melalui dana tugas pembantuan di Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan dana dekonsentrasi di Dinas Pertanian Provinsi ataupun dana APBN sesuai dengan ketersediaan dana. 3. Bantuan pengendalian OPT melalui dana APBN pada BPTPH, sesuai dengan ketersediaan dana. 4. Bantuan pengawalan, pendampingan, pembinaan,

monitoring, evaluasi dan pelaporan SL-PTT melalui dana

66

tugas pembantuan di Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan dana dekonsentrasi di Dinas Pertanian Provinsi. 5. Bantuan pendampingan SL-PTT oleh PPL, POPT dan PBT melalui dana BOP masing-masing Institusi. 6. Bantuan pendampingan teknologi SL-PTT oleh peneliti melalui dana APBN pada BPTP/Badan Litbang. 7. Kemitraan dengan perusahaan mitra yang bergerak dibidang agribisnis tanaman pangan yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian Provinsi maupun Kabupaten/Kota

setempat. B. Mekanisme Pengajuan dan Penyaluran Dana Bantuan Sosial SL-PTT. Mekanisme pencairan dan penyaluran dana Bantuan Sosial (Bansos) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku. Mekanisme pencairan dana bantuan sosial bagi

pelaksanaan SL-PTT Tahun 2013 dapat dilihat pada Lampiran 8. C. Mekanisme Pengadaan. 1. Dana yang telah dicairkan oleh kelompoktani

dipergunakan untuk membeli saprodi sesuai dengan kebutuhan kelompok sebagaimana yang telah tertuang pada RUK yang telah disetujui oleh Ketua Kelompoktani, Bendahara Kelompoktani
67

dan

Penyuluh/Petugas

Pertanian, Lampiran 6.

dengan

contoh

blanko

disajikan

pada

2. Kelompoktani dapat membeli saprodi di kios/toko saprodi terdekat atau di Produsen Penyalur Saprodi sesuai dengan RUK. 3. Dalam rangka pengawasan pelaksanaan bantuan SLPTT, Kelompoktani penerima bantuan agar melakukan hal-hal sebagai berikut : a. Menyimpan tanda bukti (kwitansi) pembelian saprodi. b. Mencatat semua nomor seri label benih yang diterima. c. Mencatat semua nomor seri karung/kantung/

botol/sachet pupuk/saprodi yang dibeli. d. Membuat surat pernyataan Penerimaan Dana

Bantuan Sosial SL-PTT sebagaimana terlihat dalam Lampiran 7. e. Saprodi yang belum digunakan agar disimpan dengan baik untuk menjaga mutu. 4. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bertanggung jawab penuh terhadap penyaluran dan penggunaan Dana Bantuan Sosial bagi pelaksanaan SL-PTT oleh

petani/kelompoktani.

68

VIII. BIMBINGAN/PEMBINAAN DAN PENDAMPINGAN Bimbingan/pembinaan dan pendampingan dilaksanakan secara periodik mulai dari persiapan sampai dengan panen dan berjenjang mulai dari Pusat, Provinsi, Kabupaten dan

Kecamatan serta Desa seperti terlihat dalam rencana jadwal pelaksanaan pada Lampiran 9. A. Pusat melakukan koordinasi, supervisi dan pembinaan pelaksanaan SL-PTT di provinsi dan kabupaten sesuai dengan ketersediaan dana. B. Provinsi melakukan koordinasi, supervisi, pembinaan dan pengawalan pelaksanaan SL-PTT di kabupaten diharapkan minimal 2(dua) kali selama musim tanam sesuai dengan ketersediaan dana. C. Kabupaten melakukan koordinasi dan pembinaan

pelaksanaan SL-PTT di tingkat lapangan/kelompoktani pelaksana SL-PTT diharapkan minimal 4(empat) kali selama musim tanam disesuaikan dengan ketersediaan dana. Melakukan pendampingan kelompoktani pelaksana SL-PTT dalam menerapkan paket teknologi spesifik lokasi dan membantu kelancaran distribusi bantuan SL-PTT dll. D. Pengawalan dan pendampingan oleh peneliti Puslitbangtan, BB Padi, Balitsereal, Balitkabi, dan Lolit Tungro bersama peneliti BPTP.
69

Pengawalan dan pendampingan oleh peneliti diutamakan pada kawasan pertumbuhan, pengembangan dan

pemantapan yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan ketersediaan dana yang ada di masing-masing BPTP setempat. Pendampingan dan pengawalan SL-PTT perlu mengedepankan teknologi spesifik lokasi yang sinergisitas, yakni teknologi yang mengutamakan peningkatan

produktivitas dan pengurangan kehilangan hasil serta pendekatan teknologi yang memperhatikan sub-ekosistem setempat. Disamping melakukan pengawalan dan pendampingan, peneliti/ BPTP dapat melakukan display varietas

berdampingan dengan lokasi SL-PTT.

70

IX. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN A. Monitoring. Kegiatan monitoring dilaksanakan secara periodik mulai dari persiapan sampai dengan panen oleh petugas Pusat, Provinsi dan Kabupaten sebagaimana terlihat dalam rencana jadwal pelaksanaan pada Lampiran 9. Monitoring meliputi perkembangan pelaksanaan SL-PTT, hasil yang telah dicapai dll. B. Evaluasi. Kegiatan evaluasi dilaksanakan oleh petugas Pusat, Provinsi dan Kabupaten setelah seluruh rangkaian

kegiatan dalam SL-PTT selesai sebagaimana terlihat dalam rencana jadwal pelaksanaan pada Lampiran 9. Evaluasi meliputi 1) Komponen kegiatan pelaksanaan SLPTT, 2) Tingkat pencapaian sasaran areal dan hasil, 3) Kenaikan produktivitas di lokasi SL-PTT dan LL, 4) Penerapan komponen teknologi PTT, dan 5) Ubinan SLPTT. C. Pelaporan. Kegiatan pelaporan dilaksanakan oleh petugas provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan serta desa/unit SL-PTT secara periodik setiap bulan. Pelaporan dilakukan secara berjenjang yaitu dari Pemandu Lapangan ke Dinas Pertanian Kabupaten/Kota,
71

dari

Dinas

Pertanian

Kabupaten/Kota ke Dinas Pertanian Provinsi dan dari Dinas Pertanian Provinsi ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan c/q Direktorat Budidaya Serealia. Laporan meliputi pelaksanaan SL-PTT, hasil yang telah diperoleh, dll sebagaimana terlihat dalam format laporan (Lampiran 10, 11, 12, 13 dan 14). Laporan akhir memuat hasil evaluasi, kesimpulan, saran serta data dukung lainnya dll. Laporan ke pusat disampaikan ke Direktorat Budidaya Serealia Jl. AUP No. 3 Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520; Telp. (021) 7806262 ; Faximile (021) 7802930 ;email.

serealiapangan@yahoo.com. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran Tahun 2014 sebagai

penerapan azas reward and punishment.

72

X.

PENUTUP

Peningkatan produktivitas padi dan jagung melalui peningkatan kualitas SL-PTT dengan pola pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan melalui pendekatan kawasan skala luas,

merupakan salah satu terobosan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pencapaian sasaran produksi padi dan jagung nasional. SL-PTT akan berhasil meningkatkan produksi dan pendapatan petani apabila didukung oleh semua pihak termasuk pemangku kepentingan baik hulu, onfarm maupun hilir serta terciptanya koordinasi pelaksanaan SL-PTT yang sinkron dan sinergis pada setiap tingkat pemerintahan mulai dari Pusat, Provinsi,

Kabupaten/Kota, Kecamatan sampai tingkat Desa. Untuk itu diperlukan niat tulus dari seluruh stakeholders, pola gerakan yang seiring seirama terpadu terkoordinasi terpantau mulai dari pusat sampai lapangan, upaya dan dukungan yang luar biasa karena sasaran yang diminta luar biasa, dari seluruh pelaku usaha, pemangku kepentingan dan masyarakat tani, kecepatan pengambilan keputusan dalam menyelesaikan

masalah dan komitmen seluruh pemangku kepentingan. Peran Gubernur dan Bupati/Walikota sangat besar dalam mendukung setiap kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah termasuk SL-PTT. Untuk itu Kepala Dinas Pertanian Provinsi berupaya dan Kepala Dinas Kabupaten/Kota diharapkan untuk

meyakinkan

Gubernur/Bupati/
73

Walikota

memberi perhatian serius terhadap keberhasilan kegiatan pembangunan tanaman pangan terutama pelaksanaan SL-PTT dan pengembangan produksi padi dan jagung di wilayahnya untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani. Sebagai catatan penting bahwa pelaksanaan SL-PTT

diharapkan sebagai upaya untuk mencapai sasaran produksi tahun 2013 seperti pada Lampiran 1 dan Lampiran 2.

- o00o -

74

Lampiran 1
SASARAN INDIKATIF LUAS TANAM, LUAS PANEN, PRODUKTIVITAS DAN PRODUKSI PADI TAHUN 2013 Luas Tanam Luas Panen Provitas No. Provinsi Produksi (Ton) (Ha) (Ha) (Ku/Ha) 1. ACEH 430,248 415,361 46.79 1,943,481 2. SUMUT 820,080 791,705 49.94 3,953,951 3. SUMBAR 506,274 488,757 51.12 2,498,673 4. RIAU 156,345 150,936 38.91 587,331 5. KEP. RIAU 799 771 17.38 1,341 6. JAMBI 181,479 175,200 40.46 708,833 7. SUMSEL 841,922 812,791 45.61 3,706,999 8. BABEL 12,119 11,700 14.23 16,647 9. BENGKULU 143,462 138,498 38.25 529,738 10. LAMPUNG 669,400 646,239 49.88 3,223,633 SUMATERA 3,762,129 3,631,959 47.28 17,170,627 11. DKI 1,787 1,725 60.46 10,431 12. JABAR 2,112,265 2,039,180 62.54 12,752,747 13. BANTEN 423,499 408,846 52.27 2,137,232 14. JATENG 1,793,742 1,731,678 59.45 10,295,253 15. DIY 147,892 142,775 64.72 924,005 16. JATIM 2,071,472 1,999,800 57.97 11,593,767 JAWA 6,550,657 6,324,004 59.64 37,713,435 17. BALI 151,804 146,552 64.20 940,867 18. NTB 448,759 433,232 52.30 2,265,949 19. NTT 214,345 206,929 31.33 648,252 BALI & NT 814,909 786,713 49.00 3,855,068 20. KALBAR 504,668 487,206 30.92 1,506,373 21. KALTENG 227,525 219,653 30.51 670,105 22. KALSEL 519,730 501,747 44.53 2,234,348 23. KALTIM 154,081 148,750 40.79 606,689 KALIMANTAN 1,406,004 1,357,356 36.97 5,017,515 24. SULUT 138,161 133,381 49.00 653,566 25. GORONTALO 62,018 59,873 50.15 300,266 26. SULTENG 275,609 266,073 42.78 1,138,335 27. SULSEL 1,016,061 980,906 50.41 4,945,224 28. SULBAR 85,975 83,001 48.30 400,853 29. SULTRA 145,225 140,200 38.43 538,845 SULAWESI 1,723,051 1,663,433 47.96 7,977,089 30. MALUKU 31,811 30,710 31.22 95,880 31. MALUT 18,552 17,910 37.60 67,338 32. PAPUA 40,065 38,679 34.82 134,661 33 PAPUA BARAT 8,966 8,656 37.11 32,122 MALUKU & PAPUA 99,394 95,955 34.39 330,001
INDONESIA 14,356,142 13,859,420 52.00 72,063,735

75

Lampiran 2 SASARAN INDIKATIF LUAS TANAM, LUAS PANEN, PRODUKTIVITAS DAN PRODUKSI JAGUNG TAHUN 2013
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PROVINSI ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG BABEL KEPRI SUMATERA 11 DKI JAKARTA 12 JAWA BARAT 13 JAWA TENGAH 14 DI YOGYAKARTA 15 JAWA TIMUR 16 BANTEN JAWA 17 BALI 18 NTB 19 NTT BALI DAN NUSA TENGGARA 20 KALIMANTAN BARAT 21 KALIMANTAN TENGAH 22 KALIMANTAN SELATAN 23 KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN 24 SULAWESI UTARA 25 SULAWESI TENGAH 26 SULAWESI SELATAN 27 SULAWESI TENGGARA 28 GORONTALO 29 SULAWESI BARAT SULAWESI 30 MALUKU 31 MALUKU UTARA 32 PAPUA BARAT 33 PAPUA MALUKU DAN PAPUA LUAR JAWA INDONESIA L. TANAM (HA) 50,872 268,270 76,950 15,747 11,482 30,500 31,443 380,915 644 530 867,353 20 164,825 590,164 78,000 1,318,262 3,230 2,154,501 25,151 126,530 254,630 406,311 48,500 3,567 23,540 4,250 79,857 130,520 40,900 338,300 33,500 146,988 25,994 716,202 7,153 13,504 1,700 4,232 26,589 2,096,312 4,250,813 L.PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (KU/HA) 49,091 36.46 258,881 51.45 74,257 62.39 15,196 27.30 11,080 42.56 29,433 37.78 30,342 38.12 367,583 45.68 621 40.03 511 25.13 836,996 47.46 19 26.41 159,056 65.98 569,508 50.76 75,270 51.22 1,272,123 51.51 3,117 33.27 2,079,094 52.37 24,271 52.25 122,101 45.62 245,718 30.89 392,090 36.80 46,803 46.21 3,442 45.54 22,716 48.10 4,101 30.49 77,062 45.90 125,952 39.13 39,469 44.99 326,460 47.63 32,328 24.97 141,843 49.20 25,084 43.82 691,135 45.06 6,903 29.75 13,031 22.57 1,641 16.39 4,084 17.44 25,658 23.29 2,022,941 44.21 4,102,035 48.34 PRODUKSI (TON) 179,010 1,331,876 463,253 41,483 47,158 111,197 115,652 1,679,034 2,488 1,285 3,972,435 51 1,049,469 2,890,562 385,504 6,552,143 10,370 10,888,099 126,819 557,079 759,140 1,443,037 216,285 15,674 109,260 12,503 353,722 492,911 177,560 1,555,020 80,723 697,843 109,927 3,113,985 20,539 29,416 2,690 7,124 59,769 8,942,948 19,831,047

76

Lampiran 3 REKAPITULASI ALOKASI SL-PTT PADI DAN JAGUNG TAHUN 2013


No I Uraian Kawasan SL-PTT Padi a. Kawasan Pertumbuhan - Padi Inbrida Sawah - Padi Inbrida Pasang Surut - Padi Inbrida Rawa Lebak - Padi Inbrida Lahan Kering b. Kawasan Pengembangan - Padi Inbrida Sawah - Padi Hibrida - Padi Inbrida Lahan Kering c. Kawasan Pemantapan - Padi Inbrida Sawah - Padi Inbrida Lahan Kering Jumlah Kawasan SL-PTT Padi II Kawasan SL-PTT Jagung a. Kawasan Pertumbuhan - Jagung Hibrida - Jagung Komposit b. Kawasan Pengembangan - Jagung Hibrida c. Kawasan Pemantapan - Jagung Hibrida Jumlah Kawasan SL-PTT Jagung 54,700 9,000 45,700 170,300 170,300 35,000 35,000 260,000 297,900 61,800 96,000 26,000 114,100 589,700 272,500 200,000 117,200 3,737,400 3,417,000 320,400 4,625,000 Areal (Ha)

71

LOKASI PELAKSANA SLPTT PADI DAN JAGUNG TAHUN 2012


SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) PROVINSI & KABUPATEN/KOTA TOTAL AREAL PERTUMBUHAN SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SL(Ha) NASIONAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JAKARTA JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR 59,328 1,920 1,920 1,920 3,840 1,920 960 1,920 2,880 480 1,920 1,920 1,920 17,376 8,640 960 4,992 3,840 LL (Ha) 2,472 80 80 80 160 80 40 80 120 20 80 80 80 724 360 40 208 160 Total (Ha) 61,800 2,000 2,000 2,000 4,000 2,000 1,000 2,000 3,000 500 2,000 2,000 2,000 18,100 9,000 1,000 5,200 4,000 SLPTT PADI PASANG SURUT PENINGKATAN IP Kab SL(Ha) 45 2 2 2 4 2 1 1 3 1 2 2 2 8 5 1 4 3 92,160 4,800 8,640 16,320 3,840 39,360 5,760 12,480 960 LL (Ha) 3,840 200 360 680 160 1,640 240 520 40 Total (Ha) 96,000 5,000 9,000 17,000 4,000 41,000 6,000 13,000 1,000 Kab 17 3 2 3 1 3 2 2 1 SLPTT PADI LEBAK PENINGKATAN IP SL(Ha) 24,960 2,880 7,680 3,840 1,920 8,640 LL (Ha) 1,040 120 320 160 80 360 Total (Ha) 26,000 3,000 8,000 4,000 2,000 9,000 Kab 12 2 3 2 1 4 SLPTT PADI LAHAN KERING PENINGKATAN IP SL(Ha) 109,536 6,720 8,640 960 20,160 15,360 11,520 29,760 3,648 3,360 4,128 960 480 3,840 LL (Ha) 4,564 280 360 40 840 640 480 1,240 152 140 172 40 20 160 Total (Ha) 114,100 7,000 9,000 1,000 21,000 16,000 12,000 31,000 3,800 3,500 4,300 1,000 500 4,000 Kab 83 6 7 1 7 9 7 16 6 7 8 1 4 4 (Ha) 297,900 9,000 2,000 2,000 9,000 14,000 25,000 9,000 8,000 1,000 63,000 26,000 25,000 12,000 500 3,000 2,000 2,000 31,000 3,800 21,600 13,300 2,000 5,700 8,000 Kab 137 7 2 2 6 6 6 7 3 1 10 10 8 7 1 3 2 2 16 6 13 8 1 6 4

NO.

72

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) PROVINSI & KABUPATEN/KOTA TOTAL AREAL PENGEMBANG AN (SL+LL)

NO.

SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI SL(Ha) LL (Ha) 10,900 480 360 120 160 240 1,560 240 400 480 280 160 1,680 160 280 240 80 240 80 1,480 200 120 200 420 520 280 160 280 Total (Ha) 272,500 12,000 9,000 3,000 4,000 6,000 39,000 6,000 10,000 12,000 7,000 4,000 42,000 4,000 7,000 6,000 2,000 6,000 2,000 37,000 5,000 3,000 5,000 10,500 13,000 7,000 4,000 7,000 Kab 178 7 9 3 4 6 14 6 8 9 5 4 21 4 7 5 2 6 2 15 4 3 5 12 4 5 4 4

DEMFARM PADI HIBRIDA SL(Ha) 192,000 11,520 8,640 3,840 8,640 12,480 7,680 3,840 47,040 1,920 6,720 69,120 6,720 3,840 LL (Ha) 8,000 480 360 160 360 520 320 160 1,960 80 280 2,880 280 160 Total (Ha) 200,000 12,000 9,000 4,000 9,000 13,000 8,000 4,000 49,000 2,000 7,000 72,000 7,000 4,000 Kab 120 11 9 4 8 13 8 3 27 2 7 18 6 4 -

SLPTT PADI LAHAN KERING SPESIFIK LOKASI SL(Ha) 112,512 9,600 12,480 11,520 19,008 6,720 43,200 5,760 4,224 LL (Ha) 4,688 400 520 480 792 280 1,800 240 176 Total (Ha) 117,200 10,000 13,000 12,000 19,800 7,000 45,000 6,000 4,400 Kab 60 5 4 5 10 7 20 4 5 -

(Ha) 589,700 24,000 18,000 13,000 17,000 18,000 43,000 6,000 19,000 25,000 15,000 8,000 91,000 6,000 7,000 25,800 2,000 20,000 2,000 154,000 11,000 3,000 12,000 14,500 13,000 7,000 8,400 7,000

Kab 230 12 12 6 8 8 14 6 9 13 10 4 27 4 7 11 2 8 2 21 6 3 6 13 4 5 5 4

NASIONAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JAKARTA JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR

261,600 11,520 8,640 2,880 3,840 5,760 37,440 5,760 9,600 11,520 6,720 3,840 40,320 3,840 6,720 5,760 1,920 5,760 1,920 35,520 4,800 2,880 4,800 10,080 12,480 6,720 3,840 6,720

73

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SL(Ha) NASIONAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JAKARTA JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR 3,280,320 192,000 192,960 118,080 65,280 59,520 183,360 53,760 155,520 339,840 310,080 46,080 291,840 85,440 39,360 121,920 40,320 43,200 98,880 272,640 72,000 29,760 164,160 82,080 143,040 4,800 24,480 49,920 LL (Ha) 136,680 8,000 8,040 4,920 2,720 2,480 7,640 2,240 6,480 14,160 12,920 1,920 12,160 3,560 1,640 5,080 1,680 1,800 4,120 11,360 3,000 1,240 6,840 3,420 5,960 200 1,020 2,080 Total (Ha) 3,417,000 200,000 201,000 123,000 68,000 62,000 191,000 56,000 162,000 354,000 323,000 48,000 304,000 89,000 41,000 127,000 42,000 45,000 103,000 284,000 75,000 31,000 171,000 85,500 149,000 5,000 25,500 52,000 Kab 345 21 21 14 11 11 13 10 12 21 29 4 28 13 11 11 11 10 8 22 10 9 10 16 5 3 6 5 SLPTT PADI LAHAN KERING SL(Ha) 307,584 1,920 6,720 14,400 13,440 57,600 46,080 30,720 65,856 4,800 8,640 28,800 24,768 3,840 LL (Ha) 12,816 80 280 600 560 2,400 1,920 1,280 2,744 200 360 1,200 1,032 160 Total (Ha) 320,400 2,000 7,000 15,000 14,000 60,000 48,000 32,000 68,600 5,000 9,000 30,000 25,800 4,000 Kab 113 1 6 9 8 15 20 1 27 5 5 7 5 4 (Ha) 3,737,400 202,000 208,000 123,000 68,000 62,000 206,000 56,000 176,000 414,000 371,000 80,000 372,600 89,000 41,000 127,000 42,000 50,000 112,000 284,000 75,000 31,000 201,000 85,500 174,800 5,000 25,500 56,000 Kab 348 21 22 14 11 11 13 10 12 21 29 4 29 13 11 11 11 10 9 22 10 9 10 16 5 3 6 5 (Ha) 4,625,000 235,000 228,000 138,000 94,000 94,000 274,000 71,000 203,000 439,000 386,000 89,000 463,600 158,000 74,000 177,800 56,000 70,500 117,000 440,000 86,000 34,000 215,000 131,000 16,800 21,600 13,300 181,800 7,000 33,900 5,700 71,000 Kab 389 21 22 14 11 11 14 10 12 21 29 4 29 13 13 11 11 11 9 22 10 9 10 19 7 13 8 5 3 6 6 5 TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL) TOTAL PADI

NO.

74

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG HIBRIDA SL(Ha) NASIONAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JAKARTA JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR 8,640 1,920 2,880 1,920 960 960 LL (Ha) Total (Ha) 360 80 120 80 40 40 9,000 2,000 3,000 2,000 1,000 1,000 2 3 2 1 1 2,880 2,880 3,840 4,800 3,840 960 1,920 11,520 2,880 960 2,880 3,840 672 120 120 160 200 160 40 80 480 120 40 120 160 28 3,000 3,000 4,000 5,000 4,000 1,000 2,000 12,000 3,000 1,000 3,000 4,000 700 3 3 4 5 3 1 2 12 3 10 3 4 7 SLPTT JAGUNG KOMPOSIT Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 9 43,872 1,828 45,700 Kab 60

NO.

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG

SLPTT JAGUNG HIBRIDA SL(Ha) 163,488 9,600 2,880 6,720 4,800 7,680 2,880 6,720 960 22,080 3,840 20,160 5,760 1,920 2,880 1,920 10,560 18,240 16,320 6,720 960 3,168 2,880 3,840 LL (Ha) Total (Ha) 6,812 400 120 280 200 320 120 280 40 920 160 840 240 80 120 80 440 760 680 280 40 132 120 160 170,300 10,000 3,000 7,000 5,000 8,000 3,000 7,000 1,000 23,000 4,000 21,000 6,000 2,000 3,000 2,000 11,000 19,000 17,000 7,000 1,000 3,300 3,000 4,000 Kab 148 6 3 7 4 7 3 5 1 19 4 21 5 2 3 2 8 9 17 7 1 7 3 4

SLPTT JAGUNG HIBRIDA SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 33,600 2,880 960 4,800 5,760 2,880 960 4,800 3,840 1,920 4,800 1,400 120 40 200 240 120 40 200 160 80 200 35,000 3,000 1,000 5,000 6,000 3,000 1,000 5,000 4,000 2,000 5,000 Kab 31 3 1 4 6 3 1 5 4 2 2 (Ha) 260,000 10,000 6,000 7,000 2,000 6,000 11,000 3,000 7,000 6,000 32,000 7,000 25,000 6,000 2,000 4,000 2,000 21,000 23,000 21,000 6,000 14,000 12,000 6,000 1,000 4,300 6,000 1,000 4,000 700 4,000 Kab 207 6 6 7 2 4 8 3 5 5 24 4 21 5 2 3 2 8 9 18 3 7 12 4 10 8 5 1 4 7 4

JUMLAH KABUPATEN PELAKSANA SL-PTT PADI DAN JAGUNG

(Ha) 54,700 2,000 3,000 3,000 4,000 5,000 4,000 4,000 2,000 12,000 5,000 1,000 1,000 3,000 1,000 4,000 700 -

Kab 146 2 3 3 4 5 82 3 2 12 4 10 1 3 1 4 7 -

Kab 395 21 22 14 11 11 14 10 12 21 29 4 29 13 13 11 11 11 9 22 10 9 10 19 8 15 8 5 3 6 9 5

75

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 ACEH Kab. Aceh Barat Kab. Aceh Besar Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh Singkil Kab. Aceh Tengah Kab. Aceh Tenggara Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Utara Kab. Bireuen Kab. Aceh Pidie Kab. Simeuleu Kab. Gayo Lues Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Jaya Kab. Nagan Raya Kab. Aceh Tamiang Kab. Bener Meriah Kab. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh 1,920 960 960 80 40 40 2,000 1,000 1,000 Kab 2 1 1 SLPTT PADI LAHAN KERING PENINGKATAN IP SL(Ha) 6,720 960 960 1,920 960 960 960 LL (Ha) 280 40 40 80 40 40 40 Total (Ha) Kab 7,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1 1 1 1 1 6 1 (Ha) 9,000 2,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 TOTAL AREAL PERTUMBUHAN

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PENGEMBANGAN (SL+LL) DEMFARM PADI HIBRIDA (Ha) 24,000 1,000 3,000 1,000 2,000 4,000 3,000 3,000 1,000 2,000 3,000 1,000 Kab 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI SL(Ha) 11,520 1,920 960 1,920 1,920 1,920 960 1,920 LL (Ha) 480 80 40 80 80 80 40 80 -

Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 12,000 2,000 1,000 2,000 2,000 2,000 1,000 2,000 7 11,520 1 1 1 1 1 1 1 960 960 960 960 1,920 960 960 960 960 960 960 480 40 40 40 40 80 40 40 40 40 40 40 12,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

76

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SLPTT PADI LAHAN KERING Kab 1 1 (Ha) 202,000 7,000 16,000 13,000 3,000 2,000 12,000 23,000 25,000 17,000 25,000 3,000 5,000 12,000 4,000 13,000 10,000 2,000 6,000 1,000 1,000 2,000 Kab 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 (Ha) 235,000 9,000 17,000 16,000 3,000 2,000 14,000 27,000 29,000 20,000 29,000 4,000 5,000 12,000 5,000 16,000 13,000 2,000 8,000 1,000 1,000 2,000 TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL) TOTAL PADI

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG SLPTT JAGUNG HIBRIDA Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9,600 2,880 1,920 960 1,920 960 960 400 120 80 40 80 40 40 10,000 3,000 2,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1 1 1 1 1 1 3,000 2,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1 1 1 1 1 6 (Ha) 10,000 1 Kab 6 (Unit) 766 50 50 50 20 13 50 50 50 50 50 27 33 50 33 50 50 13 50 7 7 13 (Unit) 90 20 20 10 20 10 10 UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 ACEH Kab. Aceh Barat Kab. Aceh Besar Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh Singkil Kab. Aceh Tengah Kab. Aceh Tenggara Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Utara Kab. Bireuen Kab. Aceh Pidie Kab. Simeuleu Kab. Gayo Lues Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Jaya Kab. Nagan Raya Kab. Aceh Tamiang Kab. Bener Meriah Kab. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh 192,000 6,720 15,360 12,480 2,880 1,920 11,520 20,160 24,000 16,320 24,000 2,880 4,800 11,520 3,840 12,480 9,600 1,920 5,760 960 960 1,920 8,000 280 640 520 120 80 480 840 1,000 680 1,000 120 200 480 160 520 400 80 240 40 40 80 200,000 7,000 16,000 13,000 3,000 2,000 12,000 21,000 25,000 17,000 25,000 3,000 5,000 12,000 4,000 13,000 10,000 2,000 6,000 1,000 1,000 2,000 21 1,920 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 80 80 2,000 2,000 -

1 1,920

77

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PENGEMBANG AN (SL+LL) SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI DEMFARM PADI HIBRIDA

SL(Ha) 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 SUMUT Kab. Asahan Kab. Dairi Kab. Deli Serdang Kab. Tanah Karo Kab. Labuhan Batu Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab. Tapanuli Utara Kab. Toba Samosir Kab. Pakpak Barat Kab. Humbang Hasundutan Kab. Serdang Bedagai Kab. Padang lawas Kota Padang Sidempuan Kab. Nias Selatan Kab. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Batu Bara 1,920 960 960 -

LL (Ha) 80 40 40 -

Total (Ha) 2,000 1,000 1,000 -

Kab 2 1 1 -

(Ha) 2,000 1,000 1,000 -

Kab 2 1 1 -

SL(Ha) 8,640 960 960 960 960 960 960 960 960 960

LL (Ha) 360 40 40 40 40 40 40 40 40 40

Total (Ha) 9,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000

Kab 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1

SL(Ha) 8,640 960 960 960 960 960 960 960 960 960

LL (Ha) 360 40 40 40 40 40 40 40 40 40

Total (Ha) Kab 9,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Ha) 18,000 2,000 1,000 2,000 1,000 2,000 2,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 2,000

Kab 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

78

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SLPTT PADI LAHAN KERING TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL) TOTAL PADI

SL(Ha) 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 SUMUT Kab. Asahan Kab. Dairi Kab. Deli Serdang Kab. Tanah Karo Kab. Labuhan Batu Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab. Tapanuli Utara Kab. Toba Samosir Kab. Pakpak Barat Kab. Humbang Hasundutan Kab. Serdang Bedagai Kab. Padang lawas Kota Padang Sidempuan Kab. Nias Selatan Kab. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Batu Bara 192,960 9,600 7,680 9,600 7,680 9,600 9,600 9,600 9,600 9,600 9,600 9,600 15,360 2,880 9,600 7,680 4,800 16,320 5,760 9,600 9,600 9,600

LL (Ha) 8,040 400 320 400 320 400 400 400 400 400 400 400 640 120 400 320 200 680 240 400 400 400

Total (Ha) 201,000 10,000 8,000 10,000 8,000 10,000 10,000 10,000 10,000 10,000 10,000 10,000 16,000 3,000 10,000 8,000 5,000 17,000 6,000 10,000 10,000 10,000

Kab 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

SL(Ha) 6,720 960 1,920 960 960 960 960 -

LL (Ha) 280 40 80 40 40 40 40 -

Total (Ha) 7,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 6 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 208,000 10,000 8,000 11,000 8,000 10,000 10,000 10,000 10,000 12,000 11,000 10,000 16,000 4,000 1,000 10,000 8,000 5,000 17,000 6,000 10,000 11,000 10,000

Kab 22 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Ha) 228,000 12,000 8,000 12,000 10,000 11,000 12,000 10,000 12,000 12,000 12,000 11,000 17,000 4,000 1,000 10,000 10,000 5,000 18,000 7,000 11,000 11,000 12,000

Kab 22 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

79

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI)

TOTAL AREAL PEMANTAPAN TOTAL JAGUNG JAGUNG

UBINAN PADI

UBINAN JAGUNG

SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SL(Ha) 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 SUMUT Kab. Asahan Kab. Dairi Kab. Deli Serdang Kab. Tanah Karo Kab. Labuhan Batu Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab. Tapanuli Utara Kab. Toba Samosir Kab. Pakpak Barat Kab. Humbang Hasundutan Kab. Serdang Bedagai Kab. Padang lawas Kota Padang Sidempuan Kab. Nias Selatan Kab. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Batu Bara 2,880 960 960 960 -

LL (Ha) Total (Ha) 120 40 40 40 3,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 3 1 1 1 -

SL(Ha) 2,880 960 960 960 -

LL (Ha) Total (Ha) Kab 120 40 40 40 3,000 1,000 1,000 1,000 3 1 1 1 -

(Ha) 3,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 3 1 1 1 -

(Ha) 6,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 6 1 1 1 1 1 1 -

(Unit) 1,014 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 27 7 50 50 33 50 47 50 50 50

(Unit) 60 10 10 10 10 10 10 -

80

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SLPTT PADI PASANG SURUT PENINGKATAN IP SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

(Ha)

Kab

3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

SUMBAR Kab. Lima Puluh Kota Kab. Agam Kab. Padang Pariaman Kab. Pasaman Kab. Pesisir Selatan Kab. Sijunjung Kab. Solok Kab. Tanah Datar Kab. Dharmas Raya Kab. Solok Selatan Kab. Pasaman Barat Kota Padang Kota Payakumbuh Kota Pariaman RIAU Kab. Bengkalis Kab. Indragiri Hilir Kab. Indragiri Hulu Kab. Kampar Kab. Kuantan Singingi Kab. Pelalawan Kab. Rokan Hilir Kab. Rokan Hulu Kab. Siak Kota Dumai Kab Meranti

1,920 960 960 3,840 960 960 960 960 -

80 40 40 160 40 40 40 40 -

2,000 1,000 1,000 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

2 1 1 4 1 1 1 1 -

4,800 1,920 960 1,920 -

200 80 40 80 -

5,000 2,000 1,000 2,000 -

3 1 1 1 -

2,000 1,000 1,000 9,000 1,000 2,000 1,000 2,000 2,000 1,000 -

2 1 1 6 1 1 1 1 1 1 -

2,880 960 960 960 3,840 960 960 960 960 -

120 40 40 40 160 40 40 40 40 -

3,000 1,000 1,000 1,000 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

3 1 1 1 4 1 1 1 1 -

81

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI LAHAN KERING SPESIFIK LOKASI SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

TOTAL AREAL PENGEMBANG AN (SL+LL)

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI)

TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL)

TOTAL PADI

SLPTT PADI SAWAH (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab (Ha) Kab (Ha) Kab

3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

SUMBAR Kab. Lima Puluh Kota Kab. Agam Kab. Padang Pariaman Kab. Pasaman Kab. Pesisir Selatan Kab. Sijunjung Kab. Solok Kab. Tanah Datar Kab. Dharmas Raya Kab. Solok Selatan Kab. Pasaman Barat Kota Padang Kota Payakumbuh Kota Pariaman RIAU Kab. Bengkalis Kab. Indragiri Hilir Kab. Indragiri Hulu Kab. Kampar Kab. Kuantan Singingi Kab. Pelalawan Kab. Rokan Hilir Kab. Rokan Hulu Kab. Siak Kota Dumai Kab Meranti

9,600 1,920 960 960 1,920 3,840 12,480 960 4,800 5,760 960

400 80 40 40 80 160 520 40 200 240 40

10,000 2,000 1,000 1,000 2,000 4,000 13,000 1,000 5,000 6,000 1,000

5 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1

13,000 3,000 1,000 1,000 2,000 2,000 4,000 17,000 1,000 1,000 6,000 1,000 6,000 1,000 1,000

6 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1

118,080 12,480 14,400 11,520 12,480 14,400 5,760 13,440 13,440 4,800 3,840 6,720 1,920 960 1,920 65,280 4,800 16,320 1,920 5,760 5,760 5,760 16,320 2,880 2,880 960 1,920

4,920 520 600 480 520 600 240 560 560 200 160 280 80 40 80 2,720 200 680 80 240 240 240 680 120 120 40 80

123,000 13,000 15,000 12,000 13,000 15,000 6,000 14,000 14,000 5,000 4,000 7,000 2,000 1,000 2,000 68,000 5,000 17,000 2,000 6,000 6,000 6,000 17,000 3,000 3,000 1,000 2,000

14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

123,000 13,000 15,000 12,000 13,000 15,000 6,000 14,000 14,000 5,000 4,000 7,000 2,000 1,000 2,000 68,000 5,000 17,000 2,000 6,000 6,000 6,000 17,000 3,000 3,000 1,000 2,000

14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

138,000 13,000 15,000 12,000 16,000 16,000 8,000 14,000 14,000 7,000 6,000 12,000 2,000 1,000 2,000 94,000 6,000 20,000 3,000 12,000 8,000 8,000 19,000 10,000 4,000 1,000 3,000

14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

82

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG HIBRIDA TOTAL AREAL PERTUMBUHAN

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG SLPTT JAGUNG HIBRIDA

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

SL(Ha) 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 SUMBAR Kab. Lima Puluh Kota Kab. Agam Kab. Padang Pariaman Kab. Pasaman Kab. Pesisir Selatan Kab. Sijunjung Kab. Solok Kab. Tanah Datar Kab. Dharmas Raya Kab. Solok Selatan Kab. Pasaman Barat Kota Padang Kota Payakumbuh Kota Pariaman RIAU Kab. Bengkalis Kab. Indragiri Hilir Kab. Indragiri Hulu Kab. Kampar Kab. Kuantan Singingi Kab. Pelalawan Kab. Rokan Hilir Kab. Rokan Hulu Kab. Siak Kota Dumai Kab Meranti 1,920 960 960 -

LL (Ha) Total (Ha) 80 40 40 2,000 1,000 1,000 -

Kab 2 1 1 -

(Ha) 2,000 1,000 1,000 -

Kab 2 1 1 -

SL(Ha) 6,720 960 960 960 960 960 960 960 -

LL (Ha) 280 40 40 40 40 40 40 40 -

Total (Ha) 7,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 7,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 -

Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 -

(Unit)
570 50 50 50 50 50 50 50 50 47 40 50 13 7 13 414 40 50 20 50 50 50 50 50 27 7 20

(Unit)
70 10 10 10 10 10 10 10 20 10 10 -

83

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SLPTT PADI PASANG SURUT PENINGKATAN IP Kab

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PERTUMBUH AN SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK SLPTT PADI LEBAK PENINGKATAN IP LOKASI SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha)

5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

JAMBI Kab. Batanghari Kab. Bungo Kab. Kerinci Kab. Merangin Kab. Muaro Jambi Kab. Sarolangun Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Tj. Jabung Timur Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh SUMSEL Kab. Lahat Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Ogan Komering Ulu Kab. Banyuasin Kab. OKU Timur Kab. OKU Selatan Kab. Ogan Ilir Kab. Empat lawang Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau

1,920 960 960 -

80 40 40 -

2,000 1,000 1,000 -

2 8,640 1 1 4,800 3,840 - 16,320 1,920 1,920 - 12,480 -

360 200 160 680 80 80 520 -

9,000 5,000 4,000 17,000 2,000 2,000 13,000 -

2 1 1 3 1 1 1 -

2,880 960 1,920 7,680 4,800 1,920 960 -

120 40 80 320 200 80 40 -

3,000 1,000 2,000 8,000 5,000 2,000 1,000 -

2 14,000 1 1,000 1,000 1,000 1 2,000 5,000 4,000 3 25,000 2,000 1 5,000 2,000 13,000 1 2,000 1 1,000 -

6 1 1 1 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 -

5,760 960 960 960 960 960 960 37,440 960 1,920 1,920 1,920 9,600 1,920 2,880 960 1,920 8,640 1,920 960 960 960

240 40 40 40 40 40 40 1,560 40 80 80 80 400 80 120 40 80 360 80 40 40 40

6,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 39,000 1,000 2,000 2,000 2,000 10,000 2,000 3,000 1,000 2,000 9,000 2,000 1,000 1,000 1,000

6 1 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

84

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA DEMFARM PADI HIBRIDA SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SLPTT PADI LAHAN KERING SPESIFIK LOKASI SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab TOTAL AREAL PENGEMBANGAN (SL+LL)

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

JAMBI Kab. Batanghari Kab. Bungo Kab. Kerinci Kab. Merangin Kab. Muaro Jambi Kab. Sarolangun Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Tj. Jabung Timur Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh SUMSEL Kab. Lahat Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Ogan Komering Ulu Kab. Banyuasin Kab. OKU Timur Kab. OKU Selatan Kab. Ogan Ilir Kab. Empat lawang Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau

3,840 960 960 960 960 -

160 40 40 40 40 -

4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

4 1 1 1 1 -

11,520 2,880 1,920 2,880 1,920 1,920 -

480 120 80 120 80 80 -

12,000 3,000 2,000 3,000 2,000 2,000 -

5 1 1 1 1 1 -

18,000 3,000 3,000 4,000 1,000 3,000 1,000 1,000 2,000 43,000 1,000 2,000 3,000 2,000 10,000 3,000 4,000 2,000 2,000 9,000 2,000 1,000 1,000 1,000

8 1 1 1 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

59,520 3,840 3,840 9,600 7,680 2,880 4,800 7,680 12,480 2,880 960 2,880 183,360 12,480 20,160 7,680 12,480 24,000 1,920 52,800 26,880 7,680 7,680 5,760 1,920 1,920 -

2,480 160 160 400 320 120 200 320 520 120 40 120 7,640 520 840 320 520 1,000 80 2,200 1,120 320 320 240 80 80 -

62,000 4,000 4,000 10,000 8,000 3,000 5,000 8,000 13,000 3,000 1,000 3,000 191,000 13,000 21,000 8,000 13,000 25,000 2,000 55,000 28,000 8,000 8,000 6,000 2,000 2,000 -

11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

85

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI LAHAN KERING SL(Ha) 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JAMBI Kab. Batanghari Kab. Bungo Kab. Kerinci Kab. Merangin Kab. Muaro Jambi Kab. Sarolangun Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Tj. Jabung Timur Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh SUMSEL Kab. Lahat Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Ogan Komering Ulu Kab. Banyuasin Kab. OKU Timur Kab. OKU Selatan Kab. Ogan Ilir Kab. Empat lawang Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau 14,400 960 960 1,920 1,920 1,920 3,840 960 960 960 LL (Ha) 600 40 40 80 80 80 160 40 40 40 Total (Ha) 15,000 1,000 1,000 2,000 2,000 2,000 4,000 1,000 1,000 1,000 Kab 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) TOTAL PADI SLPTT JAGUNG KOMPOSIT

(Ha) 62,000 4,000 4,000 10,000 8,000 3,000 5,000 8,000 13,000 3,000 1,000 3,000 206,000 14,000 22,000 10,000 15,000 27,000 6,000 56,000 28,000 9,000 8,000 7,000 2,000 2,000 -

Kab 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 94,000 5,000 8,000 13,000 13,000 6,000 8,000 14,000 18,000 5,000 1,000 3,000 274,000 15,000 26,000 13,000 22,000 39,000 9,000 73,000 32,000 11,000 18,000 9,000 3,000 3,000 1,000

Kab 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

SL(Ha) 2,880 960 960 960 -

LL (Ha) 120 40 40 40 -

Total (Ha) 3,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 3 1 1 1 -

86

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG HIBRIDA SL(Ha) 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JAMBI Kab. Batanghari Kab. Bungo Kab. Kerinci Kab. Merangin Kab. Muaro Jambi Kab. Sarolangun Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Tj. Jabung Timur Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh SUMSEL Kab. Lahat Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Ogan Komering Ulu Kab. Banyuasin Kab. OKU Timur Kab. OKU Selatan Kab. Ogan Ilir Kab. Empat lawang Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau 4,800 960 960 1,920 960 7,680 960 960 960 960 960 1,920 960 LL (Ha) 200 40 40 80 40 320 40 40 40 40 40 80 40 Total (Ha) 5,000 1,000 1,000 2,000 1,000 8,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 Kab 4 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 -

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG SLPTT JAGUNG HIBRIDA SL(Ha) 960 960 LL (Ha) 40 40 Total (Ha) 1,000 1,000 Kab 1 1 (Ha) 6,000 1,000 1,000 3,000 1,000 11,000 2,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 Kab 4 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1 -

UBINAN PADI

UBINAN JAGUNG

(Unit)
433 33 50 50 50 40 50 50 50 33 7 20 597 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 20 20 7

(Unit)
50 10 10 20 10 110 20 20 10 10 10 10 20 10 -

87

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI PASANG SURUT PENINGKATAN IP SL(Ha) LL (Ha) 7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 BENGKULU Kab. Bengkulu Selatan Kab. Bengkulu Utara Kab. Rejang Lebong Kab. Kaur Kab. Seluma Kab. Muko-muko Kab. Lebong Kab. Kepahiang Kab Bengkulu Tengah Kota Bengkulu LAMPUNG Kab. Lampung Barat Kab. Lampung Selatan Kab. Lampung Tengah Kab. Lampung Utara Kab. Lampung Timur Kab. Tanggamus Kab. Tulang Bawang Kab. Way Kanan Kab. Pesawaran Kab. Mesuji Kab. Pringsewu Kab. Tulangbawang Barat 3,840 3,840 160 160 Total (Ha) 4,000 4,000 SLPTT PADI LEBAK PENINGKATAN IP Kab 2 1 1 SLPTT PADI LAHAN KERING PENINGKATAN IP SL(Ha) 8,640 1,920 960 960 960 960 960 1,920 LL (Ha) 360 80 40 40 40 40 40 80 Total (Ha) 9,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 (Ha) 9,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 8,000 1,000 3,000 4,000 Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 TOTAL AREAL PERTUMBUHAN

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 1 3,840 960 2,880 1 160 40 120 4,000 1,000 3,000 -

88

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI DEMFARM PADI HIBRIDA TOTAL AREAL PENGEMBAN GAN (SL+LL)

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) 7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 BENGKULU Kab. Bengkulu Selatan Kab. Bengkulu Utara Kab. Rejang Lebong Kab. Kaur Kab. Seluma Kab. Muko-muko Kab. Lebong Kab. Kepahiang Kab Bengkulu Tengah Kota Bengkulu LAMPUNG Kab. Lampung Barat Kab. Lampung Selatan Kab. Lampung Tengah Kab. Lampung Utara Kab. Lampung Timur Kab. Tanggamus Kab. Tulang Bawang Kab. Way Kanan Kab. Pesawaran Kab. Mesuji Kab. Pringsewu Kab. Tulangbawang Barat 5,760 960 960 960 960 960 960 9,600 960 960 1,920 1,920 960 960 960 960 240 40 40 40 40 40 40 400 40 40 80 80 40 40 40 40 6,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 10,000 1,000 1,000 2,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 6 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1 8,640 960 1,920 960 960 960 960 960 960 360 40 80 40 40 40 40 40 40 -

Total (Ha) 9,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 8 1 1 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 6,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 19,000 1,000 2,000 4,000 3,000 2,000 1,000 2,000 2,000 2,000 -

Kab 6 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

SL(Ha) 53,760 5,760 7,680 6,720 4,800 8,640 5,760 6,720 1,920 3,840 1,920 155,520 11,520 18,240 22,080 12,480 19,200 11,520 11,520 9,600 9,600 15,360 8,640 5,760

LL (Ha) 2,240 240 320 280 200 360 240 280 80 160 80 6,480 480 760 920 520 800 480 480 400 400 640 360 240

Total (Ha) 56,000 6,000 8,000 7,000 5,000 9,000 6,000 7,000 2,000 4,000 2,000 162,000 12,000 19,000 23,000 13,000 20,000 12,000 12,000 10,000 10,000 16,000 9,000 6,000

Kab 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

89

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI LAHAN KERING

TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL PADI SLPTT JAGUNG HIBRIDA TOTAL JAGUNG

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 BENGKULU Kab. Bengkulu Selatan Kab. Bengkulu Utara Kab. Rejang Lebong Kab. Kaur Kab. Seluma Kab. Muko-muko Kab. Lebong Kab. Kepahiang Kab Bengkulu Tengah Kota Bengkulu LAMPUNG Kab. Lampung Barat Kab. Lampung Selatan Kab. Lampung Tengah Kab. Lampung Utara Kab. Lampung Timur Kab. Tanggamus Kab. Tulang Bawang Kab. Way Kanan Kab. Pesawaran Kab. Mesuji Kab. Pringsewu Kab. Tulangbawang Barat 13,440 960 1,920 2,880 960 960 960 2,880 1,920 560 40 80 120 40 40 40 120 80 14,000 1,000 2,000 3,000 1,000 1,000 1,000 3,000 2,000 -

Kab 8 1 1 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 56,000 6,000 8,000 7,000 5,000 9,000 6,000 7,000 2,000 4,000 2,000 176,000 13,000 21,000 26,000 14,000 21,000 13,000 12,000 13,000 12,000 16,000 9,000 6,000

Kab 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Ha) 71,000 7,000 11,000 9,000 6,000 11,000 8,000 9,000 2,000 6,000 2,000 203,000 14,000 23,000 31,000 17,000 26,000 14,000 12,000 15,000 14,000 22,000 9,000 6,000

Kab 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

SL(Ha) 2,880 960 960 960 6,720 960 1,920 1,920 960 960 -

LL (Ha) 120 40 40 40 280 40 80 80 40 40 -

Total (Ha) 3,000 1,000 1,000 1,000 7,000 1,000 2,000 2,000 1,000 1,000 -

Kab 3 1 1 1 5 1 1 1 1 1 -

(Ha) 3,000 1,000 1,000 1,000 7,000 1,000 2,000 2,000 1,000 1,000 -

Kab 3 1 1 1 5 1 1 1 1 1 -

(Unit)
403 47 50 50 40 50 50 50 13 40 13 590 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 40

(Unit)
30 10 10 10 70 10 20 20 10 10 -

90

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI LAHAN KERING PENINGKATAN IP SL(Ha) 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 20 21 26 12 1 2 3 4 JABAR Kab. Bandung Kab. Bekasi Kab. Bogor Kab. Ciamis Kab. Cianjur Kab. Cirebon Kab. Garut Kab. Indramayu Kab. Karawang Kab. Kuningan Kab. Majalengka Kab. Purwakarta Kab. Subang Kab. Sukabumi Kab. Sumedang Kab. Tasikmalaya Kota Banjar Kab. Bandung Barat Kota Tasikmalaya Kota Bandung Kota Sukabumi DI YOGYAKARTA Kab. Bantul Kab. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Kab. Sleman 960 960 LL (Ha) 40 40 Total (Ha) 1,000 1,000 Kab 1 1 -

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PENGEMBAN GAN (SL+LL) DEMFARM PADI HIBRIDA

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI SL(Ha) 11,520 960 960 960 1,920 1,920 960 960 960 1,920 3,840 960 960 960 960 LL (Ha) 480 40 40 40 80 80 40 40 40 80 160 40 40 40 40 Total (Ha) 12,000 1,000 1,000 1,000 2,000 2,000 1,000 1,000 1,000 2,000 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 Kab 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1

SLPTT PADI SAWAH

SL(Ha) 12,480 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 3,840 960 1,920 960

LL (Ha) 520 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 160 40 80 40

Total (Ha) 13,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 4,000 1,000 2,000 1,000

Kab 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1

(Ha) 25,000 2,000 1,000 2,000 2,000 3,000 1,000 1,000 3,000 2,000 2,000 2,000 3,000 1,000 8,000 2,000 3,000 1,000 2,000

Kab 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1

SL(Ha) 339,840 20,160 19,200 17,280 19,200 19,200 19,200 16,320 33,600 28,800 16,320 19,200 9,600 25,920 20,160 17,280 19,200 1,920 9,600 5,760 960 960 46,080 12,480 4,800 8,640 20,160

LL (Ha) 14,160 840 800 720 800 800 800 680 1,400 1,200 680 800 400 1,080 840 720 800 80 400 240 40 40 1,920 520 200 360 840

Total (Ha) 354,000 21,000 20,000 18,000 20,000 20,000 20,000 17,000 35,000 30,000 17,000 20,000 10,000 27,000 21,000 18,000 20,000 2,000 10,000 6,000 1,000 1,000 48,000 13,000 5,000 9,000 21,000

Kab 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1

91

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI LAHAN KERING

TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL PADI SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG SLPTT JAGUNG HIBRIDA

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

SL(Ha) LL (Ha) 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 20 21 26 12 1 2 3 4 JABAR Kab. Bandung Kab. Bekasi Kab. Bogor Kab. Ciamis Kab. Cianjur Kab. Cirebon Kab. Garut Kab. Indramayu Kab. Karawang Kab. Kuningan Kab. Majalengka Kab. Purwakarta Kab. Subang Kab. Sukabumi Kab. Sumedang Kab. Tasikmalaya Kota Banjar Kab. Bandung Barat Kota Tasikmalaya Kota Bandung Kota Sukabumi DI YOGYAKARTA Kab. Bantul Kab. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Kab. Sleman 57,600 3,840 960 3,840 7,680 9,600 6,720 1,920 960 1,920 960 960 8,640 3,840 2,880 2,880 30,720 30,720 2,400 160 40 160 320 400 280 80 40 80 40 40 360 160 120 120 1,280 1,280 -

Total (Ha) 60,000 4,000 1,000 4,000 8,000 10,000 7,000 2,000 1,000 2,000 1,000 1,000 9,000 4,000 3,000 3,000 32,000 32,000 -

Kab 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 414,000 25,000 20,000 19,000 24,000 28,000 20,000 27,000 42,000 32,000 18,000 22,000 11,000 28,000 30,000 22,000 23,000 2,000 13,000 6,000 1,000 1,000 80,000 13,000 37,000 9,000 21,000

Kab 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1

(Ha) 439,000 27,000 20,000 20,000 26,000 30,000 20,000 27,000 45,000 33,000 19,000 25,000 11,000 30,000 32,000 24,000 26,000 2,000 14,000 6,000 1,000 1,000 89,000 15,000 41,000 10,000 23,000

Kab SL(Ha) LL (Ha) 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 960 960 3,840 960 960 960 960 40 40 160 40 40 40 40

Total (Ha) 1,000 1,000 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000

Kab SL(Ha) LL (Ha) 1 1 4 1 1 1 1 4,800 960 1,920 960 960 2,880 960 960 960 200 40 80 40 40 120 40 40 40

Total (Ha) 5,000 1,000 2,000 1,000 1,000 3,000 1,000 1,000 1,000

Kab 4 1 1 1 1 3 1 1 1

(Ha) 6,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000 7,000 2,000 2,000 1,000 2,000

Kab 5 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1

(Unit)
924 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 13 50 47 7 7 200 50 50 50 50

(Unit)
60 10 20 10 10 10 70 20 20 10 20

92

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI DEMFARM PADI HIBRIDA TOTAL AREAL PENGEMBAN GAN (SL+LL)

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL) SLPTT PADI SAWAH SLPTT PADI LAHAN KERING TOTAL PADI

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 11 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 JATENG Kab. Banjarnegara Kab. Banyumas Kab. Batang Kab. Blora Kab. Boyolali Kab. Brebes Kab. Cilacap Kab. Demak Kab. Grobogan Kab. Jepara Kab. Karanganyar Kab. Kebumen Kab. Kendal Kab. Klaten Kab. Kudus Kab. Magelang Kab. Pati Kab. Pekalongan Kab. Pemalang Kab. Purbalingga Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab. Semarang Kab. Sragen Kab. Sukoharjo Kab. Tegal Kab. Temanggung Kab. Wonogiri Kab. Wonosobo 6,720 1,920 960 1,920 960 960 280 80 40 80 40 40 7,000 2,000 1,000 2,000 1,000 1,000 5 1 1 1 1 1 7,680 960 960 960 960 960 960 960 960 320 40 40 40 40 40 40 40 40 8,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

(Ha)

Kab

SL(Ha)

LL (Ha) 12,920 480 400 240 280 400 640 720 480 600 360 400 520 480 440 440 440 560 480 480 480 520 280 280 600 480 280 440 400 320

Total (Ha) 323,000 12,000 10,000 6,000 7,000 10,000 16,000 18,000 12,000 15,000 9,000 10,000 13,000 12,000 11,000 11,000 11,000 14,000 12,000 12,000 12,000 13,000 7,000 7,000 15,000 12,000 7,000 11,000 10,000 8,000

Kab SL(Ha) LL (Ha) 29 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 46,080 2,880 1,920 4,800 2,304 1,536 4,800 2,880 4,416 192 5,760 768 192 960 1,920 960 192 960 768 960 6,912 1,920 120 80 200 96 64 200 120 184 8 240 32 8 40 80 40 8 40 32 40 288 -

Total (Ha) 48,000 3,000 2,000 5,000 2,400 1,600 5,000 3,000 4,600 200 6,000 800 200 1,000 2,000 1,000 200 1,000 800 1,000 7,200 -

Kab 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 371,000 15,000 12,000 6,000 12,000 12,400 17,600 23,000 15,000 19,600 9,000 10,200 19,000 12,800 11,000 11,200 11,000 15,000 12,000 14,000 13,000 13,200 8,000 7,800 15,000 12,000 7,000 12,000 17,200 8,000

Kab 29 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Ha) 386,000 16,000 12,000 6,000 15,000 12,400 18,600 26,000 15,000 20,600 9,000 11,200 19,000 12,800 11,000 11,200 11,000 15,000 12,000 15,000 13,000 13,200 9,000 8,800 15,000 12,000 7,000 14,000 17,200 8,000

Kab 29 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

8 15,000 1 1,000 1 3,000 1,000 1 3,000 1 1,000 1 1,000 1,000 1 1,000 1 1,000 1 2,000 -

10 310,080 1 11,520 9,600 5,760 1 6,720 9,600 1 15,360 1 17,280 11,520 1 14,400 8,640 1 9,600 12,480 11,520 10,560 10,560 10,560 13,440 11,520 1 11,520 11,520 12,480 1 6,720 1 6,720 14,400 11,520 6,720 1 10,560 9,600 7,680

93

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG KOMPOSIT

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG

UBINAN PADI

UBINAN JAGUNG

SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SL(Ha) 11 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 JATENG Kab. Banjarnegara Kab. Banyumas Kab. Batang Kab. Blora Kab. Boyolali Kab. Brebes Kab. Cilacap Kab. Demak Kab. Grobogan Kab. Jepara Kab. Karanganyar Kab. Kebumen Kab. Kendal Kab. Klaten Kab. Kudus Kab. Magelang Kab. Pati Kab. Pekalongan Kab. Pemalang Kab. Purbalingga Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab. Semarang Kab. Sragen Kab. Sukoharjo Kab. Tegal Kab. Temanggung Kab. Wonogiri Kab. Wonosobo 2,880 960 960 960

LL (Ha) 120 40 40 40

Total (Ha) 3,000 1,000 1,000 1,000

Kab 3 1 1 1

(Ha) 3,000 1,000 1,000 1,000

Kab SL(Ha) 3 1 1 1 22,080 960 960 960 960 1,920 960 3,840 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960

LL (Ha) Total (Ha) 920 40 40 40 40 80 40 160 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 23,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 19 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5,760 960 960 960 960 960 960 240 40 40 40 40 40 40 6,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 6 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 32,000 1,000 1,000 1,000 2,000 2,000 1,000 1,000 5,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 2,000

Kab 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Unit)
1,437 50 50 40 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 47 50 50 50

(Unit)
290 10 10 10 20 20 10 10 20 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 20 20

94

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab DEMFARM PADI HIBRIDA SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab (Ha) Kab TOTAL AREAL PENGEMBAN GAN (SL+LL)

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

SLPTT PADI LAHAN KERING SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

JATIM Kab. Bangkalan Kab. Banyuwangi Kab. Blitar Kab. Bojonegoro Kab. Bondowoso Kab. Gresik Kab. Jember Kab. Jombang Kab. Kediri Kab. Lamongan Kab. Lumajang Kab. Madiun Kab. Magetan Kab. Malang Kab. Mojokerto Kab. Nganjuk Kab. Ngawi Kab. Pacitan Kab. Pamekasan Kab. Pasuruan Kab. Ponorogo Kab. Probolinggo Kab. Sampang Kab. Sidoarjo Kab. Situbondo Kab. Sumenep Kab. Trenggalek Kab. Tuban Kab. Tulungagung

40,320 960 2,880 960 2,880 1,920 1,920 1,920 1,920 2,880 960 2,880 960 1,920 2,880 2,880 960 960 960 960 3,840 1,920

1,680 40 120 40 120 80 80 80 80 120 40 120 40 80 120 120 40 40 40 40 160 80

42,000 1,000 3,000 1,000 3,000 2,000 2,000 2,000 2,000 3,000 1,000 3,000 1,000 2,000 3,000 3,000 1,000 1,000 1,000 1,000 4,000 2,000

21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

47,040 960 2,880 1,920 4,800 960 960 2,880 960 3,840 1,920 1,920 960 1,920 960 1,920 2,880 960 2,880 1,920 1,920 960 960 960 960 960 960 960

1,960 40 120 80 200 40 40 120 40 160 80 80 40 80 40 80 120 40 120 80 80 40 40 40 40 40 40 40

49,000 1,000 3,000 2,000 5,000 1,000 1,000 3,000 1,000 4,000 2,000 2,000 1,000 2,000 1,000 2,000 3,000 1,000 3,000 2,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000

27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

91,000 2,000 6,000 3,000 8,000 3,000 3,000 5,000 3,000 7,000 3,000 5,000 2,000 2,000 3,000 5,000 6,000 1,000 4,000 3,000 2,000 1,000 1,000 2,000 1,000 2,000 5,000 3,000

27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

291,840 9,600 15,360 9,600 20,160 8,640 8,640 21,120 9,600 8,640 19,200 9,600 9,600 9,600 11,520 9,600 11,520 16,320 5,760 11,520 11,520 11,520 7,680 4,800 4,800 3,840 3,840 11,520 6,720

12,160 400 640 400 840 360 360 880 400 360 800 400 400 400 480 400 480 680 240 480 480 480 320 200 200 160 160 480 280

304,000 10,000 16,000 10,000 21,000 9,000 9,000 22,000 10,000 9,000 20,000 10,000 10,000 10,000 12,000 10,000 12,000 17,000 6,000 12,000 12,000 12,000 8,000 5,000 5,000 4,000 4,000 12,000 7,000

28 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

65,856 2,688 1,536 1,920 4,992 2,112 192 576 192 192 3,264 2,688 2,112 3,072 384 3,264 384 9,408 5,568 2,880 576 2,688 5,760 192 2,304 2,304 2,688 1,920

2,744 112 64 80 208 88 8 24 8 8 136 112 88 128 16 136 16 392 232 120 24 112 240 8 96 96 112 80

68,600 2,800 1,600 2,000 5,200 2,200 200 600 200 200 3,400 2,800 2,200 3,200 400 3,400 400 9,800 5,800 3,000 600 2,800 6,000 200 2,400 2,400 2,800 2,000

27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

95

NO.

PROVINSI & KABUPATEN/KOTA

TOTAL AREAL PEMANTAPAN TOTAL PADI (SL+LL)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI)

SLPTT JAGUNG KOMPOSIT (Ha) Kab (Ha) SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG SLPTT JAGUNG HIBRIDA SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab (Ha) Kab

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

(Ha)

Kab

(Unit)
1,437 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 40 48 49 50 50 50

(Unit)
250 20 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 20 10 10 10 20 10 20 10 10 10

13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

JATIM Kab. Bangkalan Kab. Banyuwangi Kab. Blitar Kab. Bojonegoro Kab. Bondowoso Kab. Gresik Kab. Jember Kab. Jombang Kab. Kediri Kab. Lamongan Kab. Lumajang Kab. Madiun Kab. Magetan Kab. Malang Kab. Mojokerto Kab. Nganjuk Kab. Ngawi Kab. Pacitan Kab. Pamekasan Kab. Pasuruan Kab. Ponorogo Kab. Probolinggo Kab. Sampang Kab. Sidoarjo Kab. Situbondo Kab. Sumenep Kab. Trenggalek Kab. Tuban Kab. Tulungagung

372,600 12,800 17,600 12,000 26,200 11,200 9,200 22,600 10,200 9,200 23,400 12,800 12,200 10,000 15,200 10,400 15,400 17,400 9,800 11,800 15,000 12,600 14,800 14,000 5,000 5,200 6,400 6,400 14,800 9,000

29 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

463,600 14,800 23,600 15,000 34,200 14,200 12,200 27,600 10,200 12,200 30,400 15,800 17,200 12,000 17,200 13,400 20,400 23,400 9,800 12,800 19,000 15,600 16,800 15,000 6,000 7,200 7,400 8,400 19,800 12,000

3,840 960 960 960 960 -

160 40 40 40 40 -

4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

4 1 1 1 1 -

4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

4 1 1 1 1 -

20,160 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960

840 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40

21,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000

21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

25,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000

21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

96

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SLPTT PADI PASANG SURUT PENINGKATAN IP SLPTT PADI LEBAK PENINGKATAN IP SLPTT PADI LAHAN KERING PENINGKATAN IP LL (Ha) 840 160 120 120 80 160 120 80 640 80 120 120 40 40 40 120 40 40 Total (Ha) 21,000 4,000 3,000 3,000 2,000 4,000 3,000 2,000 16,000 2,000 3,000 3,000 1,000 1,000 1,000 3,000 1,000 1,000 Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KALBAR Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Kapuas Hulu Kab. Ketapang Kab. Pontianak Kab. Sambas Kab. Sanggau Kab. Sintang Kab. Melawi Kab. Sekadau Kab. Kubu Raya Kab. Kayong Utara Kota Singkawang KALTENG Kab. Barito Selatan Kab. Barito Utara Kab. Kapuas Kab. Kotawaringin Barat Kab. Kotawaringin Timur Kab. Katingan Kab. Seruyan Kab. Sukamara Kab. Lamandau Kab. Pulang Pisau Kab. Murung Raya Kab. Barito Timur Kab. Gunung Mas 960 960 1,920 1,920 40 40 80 80 1,000 1,000 2,000 2,000 1 1 1 1 39,360 19,200 19,200 960 5,760 2,880 2,880 1,640 800 800 40 240 120 120 41,000 20,000 20,000 1,000 6,000 3,000 3,000 3 1 1 1 2 1 1 1,920 1,920 80 80 2,000 2,000 1 1 20,160 3,840 2,880 2,880 1,920 3,840 2,880 1,920 15,360 1,920 2,880 2,880 960 960 960 2,880 960 960

(Ha) 63,000 4,000 3,000 3,000 2,000 20,000 5,000 3,000 2,000 20,000 1,000 26,000 2,000 2,000 8,000 3,000 1,000 1,000 1,000 6,000 1,000 1,000

Kab 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

97

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI DEMFARM PADI HIBRIDA

TOTAL AREAL PENGEMBA NGAN (SL+LL)

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KALBAR Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Kapuas Hulu Kab. Ketapang Kab. Pontianak Kab. Sambas Kab. Sanggau Kab. Sintang Kab. Melawi Kab. Sekadau Kab. Kubu Raya Kab. Kayong Utara Kota Singkawang KALTENG Kab. Barito Selatan Kab. Barito Utara Kab. Kapuas Kab. Kotawaringin Barat Kab. Kotawaringin Timur Kab. Katingan Kab. Seruyan Kab. Sukamara Kab. Lamandau Kab. Pulang Pisau Kab. Murung Raya Kab. Barito Timur Kab. Gunung Mas 3,840 960 960 960 960 6,720 960 960 960 960 960 960 960 160 40 40 40 40 280 40 40 40 40 40 40 40 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 7,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 4 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1,920 960 960 80 40 40 2,000 1,000 1,000 -

Kab 2 1 1 -

(Ha) 6,000 2,000 1,000 1,000 2,000 7,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 4 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 -

SL(Ha) 85,440 13,440 11,520 2,880 10,560 4,800 14,400 3,840 8,640 2,880 2,880 2,880 4,800 1,920 39,360 2,880 1,920 5,760 2,880 2,880 7,680 960 960 7,680 2,880 2,880

LL (Ha) 3,560 560 480 120 440 200 600 160 360 120 120 120 200 80 1,640 120 80 240 120 120 320 40 40 320 120 120

Total (Ha) 89,000 14,000 12,000 3,000 11,000 5,000 15,000 4,000 9,000 3,000 3,000 3,000 5,000 2,000 41,000 3,000 2,000 6,000 3,000 3,000 8,000 1,000 1,000 8,000 3,000 3,000

Kab 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

98

NO.

PROVINSI & KABUPATEN/KOTA

TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL PADI SLPTT JAGUNG HIBRIDA TOTAL JAGUNG

UBINAN PADI

UBINAN JAGUNG

(Ha) 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KALBAR Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab. Kapuas Hulu Kab. Ketapang Kab. Pontianak Kab. Sambas Kab. Sanggau Kab. Sintang Kab. Melawi Kab. Sekadau Kab. Kubu Raya Kab. Kayong Utara Kota Singkawang KALTENG Kab. Barito Selatan Kab. Barito Utara Kab. Kapuas Kab. Kotawaringin Barat Kab. Kotawaringin Timur Kab. Katingan Kab. Seruyan Kab. Sukamara Kab. Lamandau Kab. Pulang Pisau Kab. Murung Raya Kab. Barito Timur Kab. Gunung Mas 89,000 14,000 12,000 3,000 11,000 5,000 15,000 4,000 9,000 3,000 3,000 3,000 5,000 2,000 41,000 3,000 2,000 6,000 3,000 3,000 8,000 1,000 1,000 8,000 3,000 3,000

Kab 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Ha) 158,000 18,000 17,000 6,000 13,000 6,000 36,000 9,000 12,000 5,000 3,000 25,000 6,000 2,000 74,000 5,000 4,000 15,000 4,000 4,000 12,000 3,000 2,000 1,000 15,000 1,000 4,000 4,000

Kab 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

SL(Ha) 5,760 960 960 1,920 960 960 1,920 960 960 -

LL (Ha) 240 40 40 80 40 40 80 40 40 -

Total (Ha) 6,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 -

Kab 5 1 1 1 1 1 2 1 1 -

(Ha) 6,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 -

Kab 5 1 1 1 1 1 2 1 1 -

(Unit)
536 50 50 40 50 40 50 50 50 33 20 50 40 13 371 33 27 50 27 27 50 20 13 7 50 7 33 27

(Unit)
60 10 10 20 10 10 20 10 10 -

99

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SLPTT PADI PASANG SURUT PENINGKATAN IP SLPTT PADI LEBAK PENINGKATAN IP SLPTT PADI LAHAN KERING PENINGKATAN IP

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 17 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KALSEL Kab. Banjar Kab. Barito Kuala Kab. Hulu Sungai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah Kab. Hulu Sungai Utara Kab. Kota Baru Kab. Tabalong Kab. Tanah Laut Kab. Tapin Kab. Balangan Kab. Tanah Bumbu KALTIM Kab. Berau Kab. Bulungan Kab. Kutai Barat Kab. Kutai Timur Kab. Malinau Kab. Nunukan Kab. Pasir Kab. Penajem Paser Utr Kab. Kutai Kertanegera Kota Samarinda Kab. Tana Tidung 2,880 960 960 960 120 40 40 40 3,000 1,000 1,000 1,000 3 12,480 1 9,600 1 2,880 1 520 400 120 13,000 10,000 3,000 2 1 1 8,640 4,800 960 960 1,920 360 200 40 40 80 9,000 5,000 1,000 1,000 2,000 4 1 1 1 1 11,520 1,920 960 2,880 1,920 960 1,920 960 480 80 40 120 80 40 80 40 12,000 2,000 1,000 3,000 2,000 1,000 2,000 1,000 7 1 1 1 1 1 1 1

(Ha) 25,000 1,000 10,000 6,000 1,000 1,000 2,000 3,000 1,000 12,000 2,000 1,000 3,000 2,000 1,000 2,000 1,000

Kab 8 1 1 1 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1

100

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 17 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KALSEL Kab. Banjar Kab. Barito Kuala Kab. Hulu Sungai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah Kab. Hulu Sungai Utara Kab. Kota Baru Kab. Tabalong Kab. Tanah Laut Kab. Tapin Kab. Balangan Kab. Tanah Bumbu KALTIM Kab. Berau Kab. Bulungan Kab. Kutai Barat Kab. Kutai Timur Kab. Malinau Kab. Nunukan Kab. Pasir Kab. Penajem Paser Utr Kab. Kutai Kertanegera Kota Samarinda Kab. Tana Tidung 5,760 960 960 960 1,920 960 1,920 960 960 240 40 40 40 80 40 80 40 40 6,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 2,000 1,000 1,000 5 1 1 1 1 1 2 1 1 SLPTT PADI LAHAN KERING SPESIFIK LOKASI SL(Ha) 19,008 3,840 768 2,880 768 4,224 1,920 960 960 768 1,920 LL (Ha) Total (Ha) Kab 792 160 32 120 32 176 80 40 40 32 80 19,800 4,000 800 3,000 800 4,400 2,000 1,000 1,000 800 2,000 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TOTAL AREAL PENGEMBAN GAN (SL+LL)

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH

(Ha) 25,800 4,000 800 3,000 1,800 1,000 4,400 3,000 3,000 2,000 800 2,000 2,000 1,000 1,000 -

Kab 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 -

SL(Ha) 121,920 13,440 10,560 14,400 15,360 8,640 8,640 12,480 9,600 13,440 8,640 6,720 40,320 2,880 7,680 2,880 2,880 2,880 1,920 3,840 2,880 9,600 1,920 960

LL (Ha) Total (Ha) 5,080 560 440 600 640 360 360 520 400 560 360 280 1,680 120 320 120 120 120 80 160 120 400 80 40 127,000 14,000 11,000 15,000 16,000 9,000 9,000 13,000 10,000 14,000 9,000 7,000 42,000 3,000 8,000 3,000 3,000 3,000 2,000 4,000 3,000 10,000 2,000 1,000

Kab 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

101

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA TOTAL PADI SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG SLPTT JAGUNG HIBRIDA

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

(Ha) 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 17 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KALSEL Kab. Banjar Kab. Barito Kuala Kab. Hulu Sungai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah Kab. Hulu Sungai Utara Kab. Kota Baru Kab. Tabalong Kab. Tanah Laut Kab. Tapin Kab. Balangan Kab. Tanah Bumbu KALTIM Kab. Berau Kab. Bulungan Kab. Kutai Barat Kab. Kutai Timur Kab. Malinau Kab. Nunukan Kab. Pasir Kab. Penajem Paser Utr Kab. Kutai Kertanegera Kota Samarinda Kab. Tana Tidung 177,800 19,000 21,800 24,000 18,800 11,000 13,400 18,000 13,000 19,000 9,800 10,000 56,000 5,000 9,000 6,000 5,000 4,000 2,000 4,000 3,000 13,000 3,000 2,000

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2,880 960 960 960 1,920 960 960 120 40 40 40 80 40 40 3,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 -

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 3 1 1 1 2 1 1 960 960 40 40 1,000 1,000 -

Kab 1 1 -

(Ha) 4,000 1,000 1,000 2,000 2,000 1,000 1,000 -

Kab 3 1 1 1 2 1 1 -

(Unit)
550 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 318 33 50 33 33 27 13 33 20 50 13 13

(Unit)
40 10 10 20 20 10 10 -

102

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SLPTT PADI PASANG SURUT PENINGKATAN IP

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PERTUMBU HAN SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK DEMFARM PADI HIBRIDA LOKASI (Ha) 500 500 3,000 1,000 1,000 1,000 Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 1 5,760 960 960 1 960 960 960 960 3 1,920 960 1 1 960 1 240 40 40 40 40 40 40 80 40 40 6,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 6 1 1 1 1 1 1 2 1 1 6,720 960 960 960 960 960 960 960 280 40 40 40 40 40 40 40 7,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 7 1 1 1 1 1 1 1 -

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 18 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 19 1 2 3 4 5 6 7 8 9 SULUT Kab. Bolaang Mangondow Kab. Minahasa Kab. Kep. Talaud Kab. Minahasa Selatan Kota Tomohon Kab. Minahasa Utara Kab. Minahasa Tenggara Kab. Bolmong Utara Kab. Bolmang Selatan Kab. Bolmang Timur Kota Kotamobagu SULTENG Kab. Banggai Kab. Buol Kab. Toli-Toli Kab. Donggala Kab. Morowali Kab. Poso Kab. Parigi Moutong Kab. Tojo Una-Una Kab. Sigi 480 480 1,920 960 960 20 20 80 40 40 500 500 2,000 1,000 1,000 1 1 2 1 1 960 960 40 40 1,000 1,000 1 1 -

103

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI LAHAN KERING SPESIFIK LOKASI SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 18 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 19 1 2 3 4 5 6 7 8 9 SULUT Kab. Bolaang Mangondow Kab. Minahasa Kab. Kep. Talaud Kab. Minahasa Selatan Kota Tomohon Kab. Minahasa Utara Kab. Minahasa Tenggara Kab. Bolmong Utara Kab. Bolmang Selatan Kab. Bolmang Timur Kota Kotamobagu SULTENG Kab. Banggai Kab. Buol Kab. Toli-Toli Kab. Donggala Kab. Morowali Kab. Poso Kab. Parigi Moutong Kab. Tojo Una-Una Kab. Sigi 6,720 960 960 960 960 960 960 960 280 40 40 40 40 40 40 40 7,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 -

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PENGEMBANG AN (SL+LL) SLPTT PADI SAWAH SLPTT PADI LAHAN KERING TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL) TOTAL PADI

(Ha) 20,000 3,000 3,000 3,000 2,000 3,000 3,000 2,000 1,000 2,000 1,000 1,000 -

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 8 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 43,200 15,360 6,720 2,880 960 3,840 1,920 4,800 1,920 1,920 2,880 98,880 17,280 3,840 8,640 8,640 4,800 9,600 24,960 21,120 1,800 640 280 120 40 160 80 200 80 80 120 4,120 720 160 360 360 200 400 1,040 880 45,000 16,000 7,000 3,000 1,000 4,000 2,000 5,000 2,000 2,000 3,000 103,000 18,000 4,000 9,000 9,000 5,000 10,000 26,000 22,000 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1 4,800 960 960 960 960 960 8,640 960 1,920 960 2,880 1,920 200 40 40 40 40 40 360 40 80 40 120 80 5,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 9,000 1,000 2,000 1,000 3,000 2,000

(Ha)

Kab 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Ha) 70,500 20,000 11,000 500 7,000 1,000 7,000 5,000 9,000 4,000 3,000 3,000 117,000 20,000 7,000 10,000 10,000 5,000 11,000 27,000 3,000 24,000

Kab 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1

5 50,000 1 17,000 1 8,000 1 4,000 1,000 1 5,000 2,000 1 6,000 2,000 2,000 3,000 5 112,000 1 19,000 1 6,000 9,000 9,000 5,000 1 11,000 26,000 1 3,000 1 24,000

104

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG KOMPOSIT

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 18 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 19 1 2 3 4 5 6 7 8 9 SULUT Kab. Bolaang Mangondow Kab. Minahasa Kab. Kep. Talaud Kab. Minahasa Selatan Kota Tomohon Kab. Minahasa Utara Kab. Minahasa Tenggara Kab. Bolmong Utara Kab. Bolmang Selatan Kab. Bolmang Timur Kota Kotamobagu SULTENG Kab. Banggai Kab. Buol Kab. Toli-Toli Kab. Donggala Kab. Morowali Kab. Poso Kab. Parigi Moutong Kab. Tojo Una-Una Kab. Sigi 4,800 960 960 960 960 960 3,840 960 960 1,920 200 40 40 40 40 40 160 40 40 80 5,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 4,000 3,000 1,000 -

(Ha)

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 5 10,560 1 1,920 1 1,440 480 1 1,920 960 1 1,920 960 1 960 82 18,240 1 1,920 960 960 1 1,920 960 1,920 2,880 3,840 80 2,880 440 80 60 20 80 40 80 40 40 760 80 40 40 80 40 80 120 160 120 11,000 2,000 3,000 2,000 2,000 1,000 1,000 19,000 1,000 1,000 2,000 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 8 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4,800 960 960 960 960 960 200 40 40 40 40 40 5,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 5 1 1 1 1 1 -

(Ha) 21,000 4,000 3,500 500 4,000 1,000 3,000 2,000 3,000 23,000 3,000 1,000 1,000 3,000 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000

Kab 8 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Unit)
354 50 50 3 47 7 47 33 50 27 20 20 400 50 47 50 50 33 50 50 20 50

(Unit)
135 20 20 5 20 10 20 20 20 150 20 10 10 20 10 20 20 20 20

5 5,000 1 1,000 1 1,000 1 1,000 1 1,000 1 1,000 3 4,000 1 1,000 1 1,000 1 2,000

105

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PENGEMBANG AN (SL+LL)

SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI

DEMFARM PADI HIBRIDA

SLPTT PADI LAHAN KERING SPESIFIK LOKASI

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 20 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 SULSEL Kab. Bantaeng Kab. Barru Kab. Bone Kab. Bulukumba Kab. Enrekang Kab. Gowa Kab. Jeneponto Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Maros Kab. Pangkep Kab. Pinrang Kab. Kep. Selayar Kab. Sidenreng Rappang Kab. Sinjai Kab. Soppeng Kab. Takalar Kab. Tana Toraja Kab. Wajo Kota Palopo Kab. Luwu Timur Kab. Toraja Utara 1,920 960 960 80 40 40 2,000 1,000 1,000 2 35,520 960 960 2,880 960 960 960 2,880 960 1 6,720 1 6,720 1,920 1,920 2,880 2,880 960 1,480 40 40 120 40 40 40 120 40 280 280 80 80 120 120 40 37,000 1,000 1,000 3,000 1,000 1,000 1,000 3,000 1,000 7,000 7,000 2,000 2,000 3,000 3,000 1,000 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 69,120 960 960 3,840 960 960 1,920 960 3,840 1,920 14,400 14,400 1,920 9,600 3,840 960 5,760 960 960 2,880 40 40 160 40 40 80 40 160 80 600 600 80 400 160 40 240 40 40 72,000 1,000 1,000 4,000 1,000 1,000 2,000 1,000 4,000 2,000 15,000 15,000 2,000 10,000 4,000 1,000 6,000 1,000 1,000 18 43,200 1 1,920 1 1,920 1 3,840 1 1,920 1 1,920 1 2,880 1,920 1 1,920 1,920 1 2,880 1 1,920 1 2,880 960 1 3,840 1 1,920 1 2,880 1 2,880 1 960 1 1 960 1 960 1,800 80 80 160 80 80 120 80 80 80 120 80 120 40 160 80 120 120 40 40 40 45,000 2,000 2,000 4,000 2,000 2,000 3,000 2,000 2,000 2,000 3,000 2,000 3,000 1,000 4,000 2,000 3,000 3,000 1,000 1,000 1,000 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Ha) 154,000 4,000 4,000 11,000 3,000 4,000 6,000 2,000 4,000 2,000 10,000 5,000 25,000 1,000 26,000 6,000 15,000 10,000 2,000 9,000 3,000 2,000

Kab 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

106

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH TOTAL PADI

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SL(Ha) 20 SULSEL 1 Kab. Bantaeng 2 Kab. Barru 3 Kab. Bone 4 Kab. Bulukumba 5 Kab. Enrekang 6 Kab. Gowa 7 Kab. Jeneponto 8 Kab. Luwu 9 Kab. Luwu Utara 10 Kab. Maros 11 Kab. Pangkep 12 Kab. Pinrang 13 Kab. Kep. Selayar 14 Kab. Sidenreng Rappang 15 Kab. Sinjai 16 Kab. Soppeng 17 Kab. Takalar 18 Kab. Tana Toraja 19 Kab. Wajo 20 Kota Palopo 21 Kab. Luwu Timur 22 Kab. Toraja Utara

LL (Ha) Total (Ha) 284,000 5,000 5,000 30,000 15,000 5,000 15,000 4,000 15,000 18,000 18,000 11,000 30,000 2,000 33,000 5,000 18,000 9,000 3,000 17,000 3,000 18,000 5,000

Kab

(Ha)

Kab

SL(Ha) LL (Ha) 680 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40

Total (Ha) 17,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000

Kab 17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

SL(Ha) 3,840 960 960 960 960 -

LL (Ha) Total (Ha) Kab 160 40 40 40 40 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 4 1 1 1 1 -

(Ha) 21,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000

Kab 18 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Unit)
1,010 50 50 50 50 50 50 40 50 50 50 50 50 20 50 50 50 50 33 50 20 50 47

(Unit)
210 10 10 10 10 10 10 10 10 20 10 20 10 10 10 20 10 10 10

272,640 11,360 4,800 200 4,800 200 28,800 1,200 14,400 600 4,800 200 14,400 600 3,840 160 14,400 600 17,280 720 17,280 720 10,560 440 28,800 1,200 1,920 80 31,680 1,320 4,800 200 17,280 720 8,640 360 2,880 120 16,320 680 2,880 120 17,280 720 4,800 200

22 440,000 1 9,000 1 9,000 1 41,000 1 18,000 1 9,000 1 21,000 1 6,000 1 19,000 1 20,000 1 28,000 1 16,000 1 56,000 1 3,000 1 60,000 1 11,000 1 33,000 1 19,000 1 5,000 1 26,000 1 3,000 1 21,000 1 7,000

22 16,320 1 1 1 960 1 1 960 1 960 1 960 1 960 1 960 1 960 1 1 960 1 960 1 960 1 960 1 960 1 960 1 1 960 1 960 1 960 1 960

107

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI SLPTT PADI LAHAN KERING SPESIFIK LOKASI TOTAL AREAL PENGEMBAN GAN (SL+LL)

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL PADI SLPTT PADI SAWAH

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

(Ha)

Kab SL(Ha)

LL (Ha) Total (Ha)

Kab

(Ha)

Kab

21 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 22 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

SULTRA Kab. Buton Kab. Konawe Kab. Kolaka Kab. Muna Kab. Konawe Selatan Kab. Bombana Kab. Wakatobi Kab. Kolaka Utara Kab. Konawe Utara Kab. Buton Utara Kota Bau-Bau Kota Kendari BALI Kab. Badung Kab. Bangli Kab. Buleleng Kab. Gianyar Kab. Jembrana Kab. Karangasem Kab. Klungkung Kab. Tabanan Kota Denpasar Kab Negara

4,800 1,920 960 960 960 2,880 960 960 960 -

200 80 40 40 40 120 40 40 40 -

5,000 2,000 1,000 1,000 1,000 3,000 1,000 1,000 1,000 -

4 1 1 1 1 3 1 1 1 -

5,760 960 1,920 1,920 960 -

240 40 80 80 40 -

6,000 1,000 2,000 2,000 1,000 -

4 1 1 1 1 -

11,000 1,000 2,000 1,000 2,000 3,000 2,000 3,000 1,000 1,000 1,000 -

6 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 -

72,000 960 23,040 18,240 960 18,240 4,800 960 1,920 1,920 960 29,760 3,840 960 4,800 3,840 2,880 2,880 960 8,640 960 -

3,000 40 960 760 40 760 200 40 80 80 40 1,240 160 40 200 160 120 120 40 360 40 -

75,000 1,000 24,000 19,000 1,000 19,000 5,000 1,000 2,000 2,000 1,000 31,000 4,000 1,000 5,000 4,000 3,000 3,000 1,000 9,000 1,000 -

10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

86,000 2,000 26,000 20,000 3,000 22,000 7,000 1,000 2,000 2,000 1,000 34,000 5,000 1,000 5,000 5,000 3,000 3,000 2,000 9,000 1,000 -

10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

108

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG HIBRIDA SLPTT JAGUNG KOMPOSIT

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG SLPTT JAGUNG HIBRIDA (Ha) Kab

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

(Ha)

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

(Unit)
270 13 50 50 20 50 47 7 13 13 7 216 33 7 33 33 20 20 13 50 7 -

(Unit)
50 20 20 10 -

21 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 22 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

SULTRA Kab. Buton Kab. Konawe Kab. Kolaka Kab. Muna Kab. Konawe Selatan Kab. Bombana Kab. Wakatobi Kab. Kolaka Utara Kab. Konawe Utara Kab. Buton Utara Kota Bau-Bau Kota Kendari BALI Kab. Badung Kab. Bangli Kab. Buleleng Kab. Gianyar Kab. Jembrana Kab. Karangasem Kab. Klungkung Kab. Tabanan Kota Denpasar Kab Negara

2,880 960 960 960 -

120 40 40 40 -

3,000 1,000 1,000 1,000 -

3 1 1 1 -

960 960 -

40 40 -

1,000 1,000 -

1 1 -

4,000 1,000 2,000 1,000 -

3 1 1 1 -

1,920 960 960 -

80 40 40 -

2,000 1,000 1,000 -

2 1 1 -

6,000 2,000 3,000 1,000 -

3 1 1 1 -

109

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SLPTT PADI LAHAN KERING PENINGKATAN IP SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

(Ha)

Kab

23 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 24 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

NTB Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kota Kab. Kab. Kota NTT Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab.

Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Bima Sumbawa Barat Lombok Utara Mataram Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Ngada Sikka Sumba Barat Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Rote-Ndao Manggarai Barat Alor Nagekeo Sumba Tengah Sumba Barat Daya Manggarai Timur

1,920 960 960 -

80 40 40 -

2,000 1,000 1,000 -

2 1 1 -

29,760 960 3,840 1,920 1,920 1,920 960 960 1,920 1,920 1,920 960 960 2,880 960 4,800 960

1,240 40 160 80 80 80 40 40 80 80 80 40 40 120 40 200 40

31,000 1,000 4,000 2,000 2,000 2,000 1,000 1,000 2,000 2,000 2,000 1,000 1,000 3,000 1,000 5,000 1,000

16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

2,000 1,000 1,000 31,000 1,000 4,000 2,000 2,000 2,000 1,000 1,000 2,000 2,000 2,000 1,000 1,000 3,000 1,000 5,000 1,000

2 1 1 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

4,800 960 960 960 960 960 10,080 960 480 960 960 960 960 960 480 960 960 480 960

200 40 40 40 40 40 420 40 20 40 40 40 40 40 20 40 40 20 40

5,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 10,500 1,000 500 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 500 1,000 1,000 500 1,000

5 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

110

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA DEMFARM PADI HIBRIDA SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PENGEMBAN GAN (SL+LL) SLPTT PADI SAWAH (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SLPTT PADI LAHAN KERING SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab (Ha) Kab (Ha) Kab TOTAL AREAL PEMANTAPAN (SL+LL) TOTAL PADI

23 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 24 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

NTB Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kota Kab. Kab. Kota NTT Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab.

Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Bima Sumbawa Barat Lombok Utara Mataram Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Ngada Sikka Sumba Barat Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Rote-Ndao Manggarai Barat Alor Nagekeo Sumba Tengah Sumba Barat Daya Manggarai Timur

6,720 960 960 960 960 1,920 960 3,840 960 960 960 960 -

280 40 40 40 40 80 40 160 40 40 40 40 -

7,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

6 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 -

12,000 2,000 2,000 2,000 2,000 3,000 1,000 14,500 1,000 500 1,000 1,000 2,000 1,000 1,000 1,000 1,500 1,000 1,000 1,500 1,000

6 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

164,160 21,120 19,200 20,160 32,640 21,120 26,880 1,920 9,600 9,600 1,920 82,080 4,800 2,880 4,800 7,680 5,760 3,840 5,280 5,760 2,880 2,880 4,800 5,760 5,760 5,760 5,760 7,680

6,840 880 800 840 1,360 880 1,120 80 400 400 80 3,420 200 120 200 320 240 160 220 240 120 120 200 240 240 240 240 320

171,000 22,000 20,000 21,000 34,000 22,000 28,000 2,000 10,000 10,000 2,000 85,500 5,000 3,000 5,000 8,000 6,000 4,000 5,500 6,000 3,000 3,000 5,000 6,000 6,000 6,000 6,000 8,000

10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

28,800 9,600 4,800 960 1,920 1,920 8,640 960 -

1,200 400 200 40 80 80 360 40 -

30,000 10,000 5,000 1,000 2,000 2,000 9,000 1,000 -

7 1 1 1 1 1 1 1 -

201,000 32,000 25,000 22,000 36,000 24,000 37,000 2,000 10,000 11,000 2,000 85,500 5,000 3,000 5,000 8,000 6,000 4,000 5,500 6,000 3,000 3,000 5,000 6,000 6,000 6,000 6,000 8,000

10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

215,000 34,000 27,000 24,000 38,000 28,000 39,000 2,000 10,000 11,000 2,000 131,000 6,000 4,000 4,500 8,000 2,000 11,000 9,000 5,000 8,500 9,000 3,000 6,000 6,000 8,500 3,000 7,000 8,000 12,500 10,000

10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 19 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

111

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG KOMPOSIT SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

SLPTT JAGUNG HIBRIDA SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

SLPTT JAGUNG HIBRIDA SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab (Ha) Kab

(Unit)
426 50 50 50 50 50 50 13 50 50 13 767 40 27 30 50 13 50 50 33 57 50 20 40 40 50 20 47 50 50 50

(Unit)
100 20 20 10 10 20 10 10 120 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 -

23 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 24 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

NTB Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kota Kab. Kab. Kota NTT Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab.

Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Bima Sumbawa Barat Lombok Utara Mataram Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Ngada Sikka Sumba Barat Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Rote-Ndao Manggarai Barat Alor Nagekeo Sumba Tengah Sumba Barat Daya Manggarai Timur

1,920 960 960 11,520 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 960 -

80 40 40 480 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 -

2,000 1,000 1,000 12,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

2 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

6,720 960 960 960 960 960 960 960 -

280 40 40 40 40 40 40 40 -

7,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

7 1 1 1 1 1 1 1 -

4,800 2,880 1,920 -

200 120 80 -

5,000 3,000 2,000 -

2 1 1 -

14,000 2,000 5,000 1,000 1,000 3,000 1,000 1,000 12,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

7 1 1 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

112

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SL(Ha) 25 1 2 3 4 5 6 7 8 26 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 MALUKU Kab. MTB Kab. Maluku Tengah Kab. Maluku Tenggara Kab. Pulau Buru Kab. Seram Bag Barat Kab. Seram Bag Timur Kab. Buru Selatan Kab. Maluku Barat Daya PAPUA Kab. Biak Numford Kab. Jayapura Kab. Jayawijaya Kab. Merauke Kab. Mimika Kab. Nabire Kab. Kep Yapen Waropen Kota Jayapura Kab. Sarmi Kab. Keerom Kab. Pegunungan Bintang Kab. Mappi Kab. Waropen Kab.Intan Jaya Kab. Nduga 17,376 480 14,784 192 672 480 192 288 288 LL (Ha) Total (Ha) 724 20 616 8 28 20 8 12 12 18,100 500 15,400 200 700 500 200 300 300 SLPTT PADI LAHAN KERING PENINGKATAN IP Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 8 1 1 1 1 1 1 1 1 3,648 1,152 192 768 384 384 768 3,360 2,496 96 384 96 96 96 96 152 48 8 32 16 16 32 140 104 4 16 4 4 4 4 3,800 1,200 200 800 400 400 800 3,500 2,600 100 400 100 100 100 100 Kab 6 1 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL PADI SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI LL (Ha) Total (Ha) Kab 520 200 240 40 40 13,000 5,000 6,000 1,000 1,000 4 1 1 1 1 (Ha) 16,800 1,200 5,200 800 6,400 1,000 1,400 800 21,600 500 18,000 200 700 100 500 200 700 100 100 300 100 100 Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

(Ha) 3,800 1,200 200 800 400 400 800 21,600 500 18,000 200 700 100 500 200 700 100 100 300 100 100

Kab SL(Ha) 6 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12,480 4,800 5,760 960 960 -

113

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG HIBRIDA SLPTT JAGUNG KOMPOSIT

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL AREAL PERTUMBUH AN SLPTT JAGUNG HIBRIDA

TOTAL JAGUNG

UBINAN PADI

UBINAN JAGUNG

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 25 1 2 3 4 5 6 7 8 26 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 MALUKU Kab. MTB Kab. Maluku Tengah Kab. Maluku Tenggara Kab. Pulau Buru Kab. Seram Bag Barat Kab. Seram Bag Timur Kab. Buru Selatan Kab. Maluku Barat Daya PAPUA Kab. Biak Numford Kab. Jayapura Kab. Jayawijaya Kab. Merauke Kab. Mimika Kab. Nabire Kab. Kep Yapen Waropen Kota Jayapura Kab. Sarmi Kab. Keerom Kab. Pegunungan Bintang Kab. Mappi Kab. Waropen Kab.Intan Jaya Kab. Nduga 1,920 960 960 80 40 40 2,000 1,000 1,000 2 1 1 2,880 960 960 960 960 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 120 40 40 40 40 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3,000 1,000 1,000 1,000 1,000 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 3 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 5,000 1,000 1,000 1,000 2,000 1,000 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 -

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab 4 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 960 960 40 40 1,000 1,000 1 1 -

(Ha) 6,000 2,000 1,000 1,000 2,000 1,000 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 -

Kab 4 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

(Unit)
112 8 35 5 43 7 9 5 75 3 50 1 5 1 3 1 5 1 1 2 1 1

(Unit)
60 20 10 10 20 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -

114

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI SLPTT PADI LAHAN KERING SPESIFIK LOKASI

TOTAL AREAL PENGEMBA NGAN (SL+LL)

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH

SLPTT PADI LAHAN KERING

SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab (Ha)

Kab SL(Ha)

LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

28 1 2 3 4 5 6 7 8 30 1 2 3 4 5 6 7 8

BANTEN Kab. Lebak Kab. Pandeglang Kab. Serang Kab. Tangerang Kota Cilegon Kota Serang Kota Tangerang Kota Tangerang Selatan GORONTALO Kab. Boalemo Kab. Gorontalo Kab. Pohuwato Kab. Bone Bolango Kab. Gorontalo utara Kota Gorontalo Kab. Limboto Kab. Marisa

6,720 1,920 1,920 960 960 960 3,840 960 960 960 960 -

280 80 80 40 40 40 160 40 40 40 40 -

7,000 2,000 2,000 1,000 1,000 1,000 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

5 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 -

4,224 384 1,536 384 192 1,728 -

176 16 64 16 8 72 -

4,400 400 1,600 400 200 1,800 -

5 1 1 1 1 1 -

7,000 2,000 2,000 1,000 1,000 1,000 8,400 1,400 1,600 1,400 1,200 2,800 -

5 143,040 1 38,400 1 44,160 1 37,440 1 19,200 1 3,840 5 24,480 1 3,360 1 12,480 1 1,920 1 960 1 4,800 960 -

5,960 1,600 1,840 1,560 800 160 1,020 140 520 80 40 200 40 -

149,000 40,000 46,000 39,000 20,000 4,000 25,500 3,500 13,000 2,000 1,000 5,000 1,000 -

5 24,768 1 9,600 1 11,520 1 2,496 1 960 1 192 6 1 1 1 1 1 1 -

1,032 400 480 104 40 8 -

25,800 10,000 12,000 2,600 1,000 200 -

5 1 1 1 1 1 -

115

NO.

TOTAL AREAL PROVINSI & KABUPATEN/KOTA PEMANTAPAN (SL+LL)

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) TOTAL PADI SLPTT JAGUNG KOMPOSIT

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG SLPTT JAGUNG HIBRIDA (Ha) Kab

UBINAN UBINAN PADI JAGUNG

(Ha)

Kab

(Ha)

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) Kab

(Unit)
235 50 50 50 50 35 178 33 50 23 15 50 7 -

(Unit)
60 10 10 10 10 20 40 10 10 10 10 -

28 1 2 3 4 5 6 7 8 30 1 2 3 4 5 6 7 8

BANTEN Kab. Lebak Kab. Pandeglang Kab. Serang Kab. Tangerang Kota Cilegon Kota Serang Kota Tangerang Kota Tangerang Selatan GORONTALO Kab. Boalemo Kab. Gorontalo Kab. Pohuwato Kab. Bone Bolango Kab. Gorontalo utara Kota Gorontalo Kab. Limboto Kab. Marisa

174,800 50,000 58,000 41,600 21,000 4,200 25,500 3,500 13,000 2,000 1,000 5,000 1,000 -

5 1 1 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 -

181,800 52,000 60,000 42,600 22,000 5,200 33,900 4,900 14,600 3,400 2,200 7,800 1,000 -

5 2,880 1 1 960 1 1 960 1 960 6 3,840 1 960 1 960 1 1 960 1 960 1 -

120 40 40 40 160 40 40 40 40 -

3,000 1,000 1,000 1,000 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

3 2,880 960 1 960 1 1 960 4 1 1 1 1 -

120 40 40 40 -

3,000 1,000 1,000 1,000 -

3 1 1 1 -

6,000 1,000 1,000 1,000 1,000 2,000 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 -

5 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 -

116

SL-PTT PADI KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH PENINGKATAN IP SL(Ha) 27 1 2 3 4 5 6 7 8 29 1 2 3 32 1 2 3 4 5 6 7 8 9 33 1 2 3 4 5 MALUT Kab. Halmahera Tengah Kab. Halmahera Barat Kab. Halmahera Timur Kab. Kepulauan Sula Kab. Halmahera Selatan Kab. Halmahera Utara Kab. Pulau Morotai Kota Tidore Kepulauan BABEL Kab. Bangka Kab. Bangka Selatan Kab. Blitung Timur PAPUA BARAT Kab. Sorong Kab. Manokwari Kab. Fak-Fak Kab. Raja Ampat Kab. Teluk Bintuni Kab. Teluk Wondama Kab. Sorong Selatan Kab. Maybrat Kab Tambrauw SULBAR Kab. Mamuju Kab. Majene Kab. Mamasa Kab. Mamuju Utara Kab. Polewali Mandar 8,640 960 960 4,800 960 960 960 960 4,992 1,920 1,920 960 192 3,840 1,920 960 960 LL (Ha) 360 40 40 200 40 40 40 40 208 80 80 40 8 160 80 40 40 Total (Ha) 9,000 1,000 1,000 5,000 1,000 1,000 1,000 1,000 5,200 2,000 2,000 1,000 200 4,000 2,000 1,000 1,000 SLPTT PADI LAHAN KERING PENINGKATAN IP Total (Ha) 4,300 400 600 400 300 1,000 1,000 400 200 1,000 1,000 500 200 100 100 100 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 Kab 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 4 1 1 1 1

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT PADI KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI)

SLPTT PADI SAWAH SPESIFIK LOKASI Total (Ha) Kab 7,000 3,000 1,000 1,000 2,000 4 1 1 1 1

Kab SL(Ha) LL (Ha) 5 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 3 1 1 1 4,128 384 576 384 288 960 960 384 192 960 960 480 192 96 96 96 3,840 960 960 960 960 172 16 24 16 12 40 40 16 8 40 40 20 8 4 4 4 160 40 40 40 40

(Ha) 13,300 1,400 1,600 5,400 300 2,000 2,000 400 200 2,000 2,000 5,700 2,000 2,200 1,100 200 100 100 8,000 3,000 2,000 2,000 1,000

Kab SL(Ha) LL (Ha) 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 6,720 2,880 960 960 1,920 280 120 40 40 80

117

SL-PTT PADI KAWASAN PEMANTAPAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT PADI SAWAH SLPTT PADI LAHAN KERING TOTAL AREAL PEMANTAPA N (SL+LL) TOTAL PADI

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI)

SLPTT JAGUNG HIBRIDA

SL(Ha) 27 1 2 3 4 5 6 7 8 29 1 2 3 32 1 2 3 4 5 6 7 8 9 33 1 2 3 4 5 MALUT Kab. Halmahera Tengah Kab. Halmahera Barat Kab. Halmahera Timur Kab. Kepulauan Sula Kab. Halmahera Selatan Kab. Halmahera Utara Kab. Pulau Morotai Kota Tidore Kepulauan BABEL Kab. Bangka Kab. Bangka Selatan Kab. Blitung Timur PAPUA BARAT Kab. Sorong Kab. Manokwari Kab. Fak-Fak Kab. Raja Ampat Kab. Teluk Bintuni Kab. Teluk Wondama Kab. Sorong Selatan Kab. Maybrat Kab Tambrauw SULBAR Kab. Mamuju Kab. Majene Kab. Mamasa Kab. Mamuju Utara Kab. Polewali Mandar 4,800 960 2,880 960 49,920 21,120 960 11,520 2,880 13,440

LL (Ha) Total (Ha) 200 40 120 40 2,080 880 40 480 120 560 5,000 1,000 3,000 1,000 52,000 22,000 1,000 12,000 3,000 14,000

Kab SL(Ha) LL (Ha) Total (Ha) 3 1 1 1 5 1 1 1 1 1 3,840 960 960 960 960 160 40 40 40 40 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000

Kab 4 1 1 1 1

(Ha) 5,000 1,000 3,000 1,000 56,000 23,000 2,000 13,000 3,000 15,000

Kab 3 1 1 1 5 1 1 1 1 1

(Ha) 13,300 1,400 1,600 5,400 300 2,000 2,000 400 200 7,000 1,000 5,000 1,000 5,700 2,000 2,200 1,100 200 100 100 71,000 29,000 2,000 16,000 6,000 18,000

Kab 8 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 5 1 1 1 1 1

SL(Ha) 960 960 960 960 -

LL (Ha) Total (Ha) 40 40 40 40 1,000 1,000 1,000 1,000 -

Kab 1 1 1 1 -

118

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PERTUMBUHAN (SAPRODI) NO. PROVINSI & KABUPATEN/KOTA SLPTT JAGUNG KOMPOSIT

TOTAL AREAL PERTUMBUH AN

SL-PTT JAGUNG KAWASAN PENGEMBANGAN (SAPRODI) TOTAL JAGUNG SLPTT JAGUNG HIBRIDA

UBINAN PADI

UBINAN JAGUNG

SL(Ha) LL (Ha) 27 1 2 3 4 5 6 7 8 29 1 2 3 32 1 2 3 4 5 6 7 8 9 33 1 2 3 4 5 MALUT Kab. Halmahera Tengah Kab. Halmahera Barat Kab. Halmahera Timur Kab. Kepulauan Sula Kab. Halmahera Selatan Kab. Halmahera Utara Kab. Pulau Morotai Kota Tidore Kepulauan BABEL Kab. Bangka Kab. Bangka Selatan Kab. Blitung Timur PAPUA BARAT Kab. Sorong Kab. Manokwari Kab. Fak-Fak Kab. Raja Ampat Kab. Teluk Bintuni Kab. Teluk Wondama Kab. Sorong Selatan Kab. Maybrat Kab Tambrauw SULBAR Kab. Mamuju Kab. Majene Kab. Mamasa Kab. Mamuju Utara Kab. Polewali Mandar 672 96 96 96 96 96 144 48 28 4 4 4 4 4 6 2 -

Total (Ha) 700 100 100 100 100 100 100 100 -

Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 -

(Ha) 1,000 1,000 1,000 1,000 700 100 100 100 100 100 150 50 -

Kab SL(Ha) LL (Ha) 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 3,168 384 384 480 480 480 480 480 3,840 960 960 960 960 132 16 16 20 20 20 20 20 160 40 40 40 40

Total (Ha) 3,300 400 400 500 500 500 500 500 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000

Kab 7 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1

(Ha) 4,300 400 400 500 500 500 1,000 500 500 1,000 1,000 700 100 100 100 100 100 150 50 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000

Kab 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1

(Unit)
88 9 11 36 2 13 13 3 1 47 7 33 7 38 13 15 7 1 1 1 203 50 13 50 40 50

(Unit)
43 4 4 5 5 5 10 5 5 10 10 7 1 1 1 1 1 1 1 40 10 10 10 10

119

Lampiran 4
BLANKO CALON LOKASI BANTUAN SOSIAL BUDIDAYA (SL-PTT/KAWASAN) TANAMAN PANGAN TAHUN 2013
KABUPATEN PROVINSI KOMODITI SASARAN : : : Padi Inbrida/Padi Hibrida/Padi Lahan Kering/Jagung Hibrida/Jagung Komposit/Kedelai *) : Peningkatan Produktivitas Peningkatan Indeks Pertanaman No Kecamatan/Desa 1 KEC .................... Ds. ...................... Ds. ...................... Ds. ...................... Ds. ...................... Ds. ...................... 2 KEC .................... Ds. ...................... Ds. ...................... Ds. ...................... Ds. ...................... Ds. ...................... 3 Dst Luasan (Ha) Produktivitas Awal (Ku/Ha) Target Peningkatan Produktivitas (Ku/Ha) Keterangan SL-PTT Kawasan ................. Perluasan Areal Potensi Lahan Non Tanaman Pangan

Ket :

Jumlah *). Pilih salah satu ................., ........................... 2012 Kepala Dinas Pertanian .....................

................................................................ Nip. ..........................................................

120

DAFTAR CALON PETANI DAN CALON LOKASI PENERIMA BANSOS SL-PTT TAHUN 2013 Nama Poktan / Gapoktan Jumlah Anggota Kelompok Desa Kecamatan Kabupaten Kawasan Komoditi No. Nama Petani

: : : : : : :
Luas Areal (ha) Kebutuhan Benih (kg) Varietas Jadwal Tanam

1 2 3 4 5 dst Jumlah Mengetahui KCD/Penyuluh Nama . Nama . Ketua Kelompoktani

121

DAFTAR CALON PETANI DAN CALON LOKASI PENERIMA BANTUAN SOSIAL SL-PTT TAHUN 2013 Kabupaten Kawasan Komoditas : : Pertumbuhan / Pengembangan / Pemantapan : Padi Inbrida Sawah / Padi Inbrida Pasang Surut / Padi Inbrida Rawa Lebak / Padi Inbrida Lahan Kering Jagung Komposit / Jagung Hibrida Desa Nama Nama Ketua Kelompok Tani Jumlah Anggota Luas Areal (Ha) Jumlah Kebutuhan Benih (Kg) Jadwal Tanam Varietas

No 1 2 3 4 dst

Kecamatan

Jumlah

Ditetapkan,Tgl.Bln.Tahun 2013 Kepala Dinas Pertanian Kabupaten ,

Nama NIP

122

Lampiran 5

SURAT KEPUTUSAN KEPALA DINAS PERTANIAN KABUPATEN/KOTA NOMOR : .............................................2013 TENTANG PENETAPAN KELOMPOKTANI PENERIMA DANA BANTUAN SOSIAL (BANSOS) SL-PTT ............................................................)* TAHUN ANGGARAN 2013 KEPALA DINAS PERTANIAN KABUPATEN/KOTA Menimbang : a. Bahwa ketahanan pangan nasional perlu terus diupayakan melalui peningkatan produksi untuk menjamin kecukupan pangan yang semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Bahwa peningkatan produksi padi dan jagung tahun 2013 difokuskan pada peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi dalam SL-PTT. Bahwa pelaksanaan SL-PTT padi dan jagung untuk peningkatan produksi, produktivitas dan pendapatan petani perlu ditetapkan kelompoktani penerima Bansos SL-PTT tahun 2013. Bahwa sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b dan c perlu ditetapkan Kelompoktani Penerima Bantuan SLPTT Padi dan Jagung Tahun Anggaran 2013. Undang Undang Nomor .............. Tahun ............. tentang ................; Surat Keputusan .......... Nomor .............. Tahun ............. tentang ................; Peraturan Daerah Kabupaten / Kota Nomor .............. Tahun ............. tentang ................; dst DIPA Dinas Pertanian .............. Tanggal Tahun ............ Kabupaten / Kota Nomor ............. Bulan ................

b.

c.

d.

Mengingat

1. 2. 3. 4.

Memperhatikan

1.

2.

Pedoman Teknis Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi, Jagung Tahun 2013.

123

MEMUTUSKAN Menetapkan PERTAMA : : Penetapan Kelompoktani penerima bantuan SL-PTT ....................................................*) tahun anggaran 2013 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini maka akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di :............................... Pada Tanggal : ................................ Kepala Dinas Pertanian Kabupaten / Kota .......................................... NIP. ..................................... Tembusan : 1. Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI di Jakarta 2. Bupati / Walikota di .............. 3. Kepala Dinas Pertanian Provinsi di ................ 4. dst. *) disesuaikan dengan komoditi (SL-PTT padi inbrida, padi hibrida,padi lahan kering, jagung hibrida dan jagung komposit) **) disesuaikan dengan sumber bantuan

KEDUA

124

Lampiran Surat Keputusan Kepala Dinas Kabupaten/Kota Penetapan Kelompoktani Penerima Dana Bansos untuk SL, LL dan Dana Pertemuan Kelompok SL-PTT Tahun 2013

No.

Nama Poktan/Gapoktan

Nama Ketua

Alamat Desa Kec.

Nomor Rekening

Jumlah ( Rp )

Alamat Bank Cabang, Unit

1 2 3 4 5 dst Jumlah Ditetapkan,, Bln. 2013 Kepala Dinas Pertanian Kabupaten / Kota.,

Nama NIP

125

Rencana Usaha Kelompok (RUK) Pelaksana SL-PTT Tahun 2013 Nama Kelompoktani Alamat Kelompoktani Luas Lahan Jumlah Anggota Poktan Rincian Kebutuhan Kel. Komoditi Varietas No 1. 2. 3. dst Jumlah Mengetahui, Penyuluh/Petugas Pertanian : : : : : : : Jenis Volume (Kg) Harga Satuan (Rp.)

Lampiran 6

Uraian Kebutuhan

Jumlah (Rp.)

., .. Bendahara Kelompok, Ketua Kelompok,

Nama NIP

Nama

Nama

126

Lampiran 7 SURAT PERNYATAAN PENERIMAAN BANSOS DAN PENGGUNAAN BANSOS

Yang bertandatangan dibawah ini adalah nama : .. selaku Ketua Kelompoktani .......................... Desa . Kecamatan .. Kabupaten dengan ini menyatakan bahwa dana yang kami terima sebesar Rpdan akan kami gunakan : a. Untuk pembelian saprodi SL-PTT b. Biaya pertemuan Kelompoktani c. Bersedia dan sanggup untuk melaksanakan penanaman, pemeliharaan sampai panen di areal SL-PTT dan sanggup mengembalikan dana apabila tidak sesuai peruntukannya. Demikian Surat Pernyataan ini kami buat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya . Mengetahui Petugas Lapangan ............................... 2013 Ketua Kelompoktani Materai 6.000

(......................................)

(.....................................)

127

Lampiran 8
MEKANISME PENCAIRAN DANA BANTUAN SL-PTT POLA BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT (BLM) TA. 2013

Pembentukan Tim Teknis Kab/Kota

Menyusun Juknis dan Kriteria Seleksi CP/CL KPA/PPK SPP-LS


Seleksi Tahap-I Administrasi

SPM-LS

KPPN

Seleksi Tahap-II Penilaian Proposal/Usulan Kelompoktani Menyusun RUK didampingi PPL & diverifikasi Tim Teknis Kab/Kota Forum Musyawarah & Berita Acara CP/CL

SP2D

Penetapan Kelompoktani Kelompok Sasaran


Membuka Rekening di Bank

Bank terdekat

Pencairan dana dari rekening melalui persetujuan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota setelah diverifikasi oleh Tim Teknis/Tim Verifikasi Kabupaten/Kota

128

RENCANA JADWAL PELAKSANAAN SL-PTT PADI DAN JAGUNG TAHUN 2013 NO 1 2 3 4 5 KEGIATAN Penyusunan Pedum, Juklak, Juknis Pembentukan Tim Teknis Sosialisasi CP/CL Pengiriman RUK, RDKK, Rekening Poktan/Gapoktan ke Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Pusat 6 7 Proses Administrasi Keuangan dan Pengiriman Dana ke Rekening Kelompok Pelatihan PL 1. Pelatihan PL I 2. Pelatihan PL II 3. Pelatihan PL III 8 Pelaksanaan 1. Tanam 2. Pemeliharaan 3. Panen 9 10 11 12 Pembinaan Monitoring Evaluasi Pelaporan BULAN JUL

Lampiran 9
AGUST SEP OKT NOP

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

Lampiran 10
BLANGKO LAPORAN BULANAN KECAMATAN REALISASI SL-PTT KAWASAN PERTUMBUHAN / PENGEMBANGAN / PEMANTAPAN PADI INBRIDA SAWAH/ PADI INBRIDA PASANG SURUT / PADI INBRIDA RAWA LEBAK / PADI HIBRIDA PADI LAHAN KERING / JAGUNG KOMPOSIT / JAGUNG HIBRIDA TAHUN 2013 KECAMATAN : BULAN No (1) 1 2 3 4 dst Jumlah 6 150 6 140 93.33 110 79.55 875 10 A B (2) : Jumlah Desa Poktan (3) 2 4 Luas Areal (Ha) (4) 50 100 Jumlah SL-PTT ( Unit ) (5) 2 4 Realisasi Tanam (Ha) (6) 45 95 (%) (7) 90.00 95.00 Luas (Ha) (8) 30 80 Realisasi Panen Provitas (ku/ha) (9) 75.00 81.25 Produksi (ton) (10) 225 650 Dilaksanakan MH 13/14 (Ha) (11) 5 5 Keterangan (12)

., tgl,, bulan,.., tahun Petugas Penyuluh Pertanian / Kepala Cabang Dinas Pertanian Nama NIP

Lampiran 11
BLANGKO LAPORAN BULANAN KABUPATEN REALISASI SL-PTT KAWASAN PERTUMBUHAN / PENGEMBANGAN / PEMANTAPAN PADI INBRIDA SAWAH/ PADI INBRIDA PASANG SURUT / PADI INBRIDA RAWA LEBAK / PADI HIBRIDA PADI LAHAN KERING / JAGUNG KOMPOSIT / JAGUNG HIBRIDA TAHUN 2013 KABUPATEN : BULAN No : Jumlah Kecamatan Desa (1) 1 2 dst Jumlah 1 2 50 50 50 50 50 100.00 50 80.00 80 0 (2) 1 (3) 1 Poktan (4) 2 Luas Areal (Ha) (5) 50 SK Penetapan CPCL (Ha) (6) 50 Pengajuan Ke Bank Proses (Ha) (7) 50 Cair (Ha) (8) 50 Realisasi Tanam (Ha) (9) 50 (%) (10) 100.00 Luas (Ha) (11) 50 Realisasi Panen Provitas (ku/ha) (12) 80.00 Produksi (ton) (13) 80 Dilaksanakan MH 13/14 Keterangan (Ha) (14) 0 (15)

., tgl,, bulan,.., tahun Tim Teknis Tingkat Kabupaten/Kota / Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota

Nama NIP

Lampiran 12
BLANGKO LAPORAN BULANAN PROVINSI REALISASI SL-PTT KAWASAN PERTUMBUHAN / PENGEMBANGAN / PEMANTAPAN PADI INBRIDA SAWAH/ PADI INBRIDA PASANG SURUT / PADI INBRIDA RAWA LEBAK / PADI HIBRIDA PADI LAHAN KERING / JAGUNG KOMPOSIT / JAGUNG HIBRIDA TAHUN 2013

PROVINSI : BULAN :
No (1) 1 2 3 4 5 dst Jumlah 9 17 18 450 A B Kabupaten Kecamatan (2) (3) 4 5 Jumlah Desa (4) 8 9 Poktan (5) 8 10 Luas Areal (Ha) (6) 200 250

SK Penetapan CPCL (Ha) (7) 200 250

Pengajuan Ke Bank Proses (Ha) (8) 200 250 Cair (Ha) (9) 200 250

Realisasi Tanam (Ha) (10) 195 245 (%) (11) 97.50 98.00 Luas (Ha) (12) 100 150

Realisasi Panen Provitas (ku/ha) (13) 75.00 80.00 Produksi (ton) (14) 750 1200

Dilaksanakan MH 13/14 Keterangan (Ha) (15) 5 5 (16)

450

450

450

440

97.78

250

78.00

1950

10

., tgl,, bulan,.., tahun Tim Teknis Tingkat Provinsi Kepala Dinas Pertanian Provinsi

Nama NIP

Lampiran 13
BLANGKO LAPORAN AKHIR PROVINSI/KABUPATEN REALISASI SL-PTT KAWASAN PERTUMBUHAN / PENGEMBANGAN / PEMANTAPAN
PADI INBRIDA SAWAH/ PADI INBRIDA PASANG SURUT / PADI INBRIDA RAWA LEBAK / PADI HIBRIDA PADI LAHAN KERING / JAGUNG KOMPOSIT / JAGUNG HIBRIDA

TAHUN 2013
PROV/KAB : BULAN :
Target No Kab/Kec Unit (1) 1 2 3 4 5 dst Jumlah 9 17 450 450 440 97.78 250 78.00 1950 82.50 71.50 70.00 A B (2) (3) 4 5 SK Penetapan CPCL Luas Area (Ha) (Ha) (4) 8 9 (7) 200 250 Realisasi Tanam Unit (9) 200 250 (Ha) (10) 195 245 (%) (11) 97.50 98.00 Bulan Tanam (12) Apr, Jun Luas (Ha) (13) 150 Realisasi Panen Provitas (ku/ha) (14) 75.00 80.00 Produksi (ton) (15) 750 1200 Provitas Provitas Provitas Tidak Non SL dalam LL Sebelum pada MT Dilaksana (ku/Ha) SL (ku/Ha) yang sama kan (Ha) (ku/Ha) (16) (17) (18) (19) 80.00 85.00 70.00 73.00 70.00 70.00 Ket

(20)

Mar, Apr, Mei 100

., tgl,, bulan,.., tahun Tim Teknis Tingkat Provinsi/ Kepala Dinas Pertanian Provinsi/Kabupten

Nama NIP

Lampiran 14
FORM ISIAN HASIL UBINAN SL-PTT PADI / JAGUNG Kabupten Kawasan Komoditas : : PERTUMBUHAN / PENGEMBANGAN / PEMANTAPAN : PADI INBRIDA SAWAH/ PADI INBRIDA PASANG SURUT / PADI INBRIDA RAWA LEBAK / PADI HIBRIDA / PADI LAHAN KERING / JAGUNG KOMPOSIT / JAGUNG HIBRIDA Nama KelompokTani Alamat Desa Kecamatan Jumlah Ubinan (Unit) Tanggal Ubinan Petugas Ubinan Nama NIP Hasil Ubinan (Ku/Ha GKG) LL Non LL / SL Varietas

No

Nama Petani

., tgl,, bulan,.., tahun Kepala Dinas Pertanian Kabupten

Nama NIP