Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PENYAKIT ASMA

Disusun oleh: Ashri Almiahsari Feiziah Eulalia Arubusman Kana Afidatul Husna Mustaqim Prayogi Rodyah Widya Setya

(135070501111024) (135070507111022) (135070501111023) (135070501111011) (135070508111001) (0910753075)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG TAHUN 2013
1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Asma adalah penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di hampir semua negara di dunia, diderita oleh anak-anak sampai dewasa dengan derajat penyakit yang ringan sampai berat, bahkan dapat mematikan. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan 100-150 juta penduduk dunia menderita asma, jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah sebesar 180.000 orang setiap tahun. Sumber lain menyebutkan bahwa pasien asma sudah mencapai 300 juta orang di seluruh dunia dan terus meningkat selama 20 tahun belakangan ini (Sriwidodo, 2003). Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 1986, 1992, dan 1995 memperlihatkan asma masih menduduki peringkat ke tiga dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia.4 Laporan kasus penyakit tidak menular pada dinas kesehatan Jawa Tengah khusus penderita asma bronkial dari beberapa rumah sakit kabupaten Kudus tahun 2005 sebanyak 6.315 penderita, tahun 2006 sebanyak 6.579 penderita, sedangkan pada tahun 2007 sampai bulan Maret sebanyak 2.958 penderita (Laporan Kasus Tidak Menular. Dinas

Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005-2007).

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah : a. Apa definisi Asma ? b. Bagaimana epidemiologi Asma di Indonsia ? c. Bagaimana natural history dari asma ? d. Bagaimana pencegahan dari Asma ?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain : a. Untuk mengetahui definisi penyakit asma. b. Untuk mengetahui epidemiologi dari asma di Indonesia.
2

c. Untuk mengetahui natural history dari penyakit asma. d. Untuk mengetahui pencegahan dari penyakit asma.

1.4 Manfaat Penulisan Pada makalah ini akan dibahas definisi penyakit asma, epidemiologi penyakit asma di Indonesia, natural history dari penyakit asma, serta pencegahan dari penyakit asma. Dengan demikiandiharapkan dengan penulisan makalah ini dapat membantu mahasiswa kedokteran mendapatkan informasi mengenai penyakit asma.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Istilah asma berasal dari kata Yunani yang artinya terengah -engah dan berarti serangan nafas pendek (Price, 1995). Menurut Global Initiative for Asthma (GINA) didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan mengi berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan nafas yang luas namun bervariasi, yang sebagian bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan, inflamasi ini juga berhubungan dengan hiperreaktivitas jalan nafas terhadap berbagai rangsangan (GINA, 2006). Menurut Prasetyo (2010) asma adalah penyakit kronis (berlangsung lama) yang ditandai oleh sesak napas disertai bunyi ngik-ngik (mengi) atau batuk persisten dimana derajat keparahan setiap orang berbeda-beda. Pada saat serangan yang terjadi adalah menyempitnya jalan napas kita akibat dari pengerutan bronkus yang menyebabkan udara sulit keluar masuk paru.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Epidemiologi Asma Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal itu tergambar dari data studi survei kesehatan rumah tangga (SKRT) di berbagai propinsi di Indonesia. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 1986 menunjukkan asma menduduki urutan ke-5 dari 10 penyebab kesakitan (morbiditi) bersama-sama dengan bronkitis kronik dan emfisema. Pada SKRT 1992, asma, bronkitis kronik dan emfisema sebagai penyebab kematian (mortaliti) ke-4 di Indonesia atau sebesar 5,6 %. Tahun 1995, prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13/ 1000, dibandingkan bronkitis kronik 11/ 1000 dan obstruksi paru 2/ 1000 (PDPI, 2003). Woolcock dan Konthen pada tahun 1990 di Bali mendapatkan prevalensi asma pada anak dengan hipereaktiviti bronkus 2,4% dan hipereaktiviti bronkus serta gangguan faal paru adalah 0,7%. Studi pada anak usia SLTP di Semarang dengan menggunakan kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC), didapatkan hasil dari 402 kuesioner yang kembali dengan rata-rata umur 13,8 0,8 tahun didapatkan prevalensi asma (gejala asma 12 bulan terakhir/ recent asthma) 6,2% yang 64% di antaranya mempunyai gejala klasik. Bagian Anak FKUI/ RSCM melakukan studi prevalensi asma pada anak usia SLTP di Jakarta Pusat pada 1995-1996 dengan menggunakan kuesioner modifikasi dari ATS 1978, ISAAC dan Robertson, serta melakukan uji provokasi bronkus secara acak. Seluruhnya 1296 siswa dengan usia 11 tahun 5 bulan 18 tahun 4 bulan, didapatkan 14,7% dengan riwayat asma dan 5,8% dengan recent asthma. Tahun 2001, Yunus dkk melakukan studi prevalensi asma pada siswa SLTP se Jakarta Timur, sebanyak 2234 anak usia 13-14 tahun melalui kuesioner ISAAC (International Study of Asthma and Allergies in Childhood), dan pemeriksaan spirometri dan uji provokasi bronkus pada sebagian subjek yang dipilih secara acak. Dari studi tersebut didapatkan prevalensi asma (recent asthma ) 8,9% dan prevalensi kumulatif (riwayat asma) 11,5% (PDPI, 2003).
5

Tahun 1993 UPF Paru RSUD dr. Sutomo, Surabaya melakukan penelitian di lingkungan 37 puskesmas di Jawa Timur dengan menggunakan kuesioner modifikasi ATS yaitu Proyek Pneumobile Indonesia dan Respiratory symptoms questioner of Institute of Respiratory Medicine, New South Wales, dan pemeriksaan arus puncak ekspirasi (APE) menggunakan alat peak flow meter dan uji bronkodilator. Seluruhnya 6662 responden usia 13-70 tahun (rata-rata 35,6 tahun) mendapatkan prevalensi asma sebesar 7,7%, dengan rincian laki-kali 9,2% dan perempuan 6,6% (PDPI, 2003). Penyakit asma merupakan penyakit lima besar penyebab kematian di dunia yang bervariasi antara 5-30% (berkisar 17,4%). Di Indonesia prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan 2-5 % penduduk Indonesia menderita asma. Hasil penelitian International Study on Asthma and Allergies in Childhood menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi penyakit asma meningkat dari 4,2% pada tahun 1995 menjadi 5,4% pada tahun 2003. DKI Jakarta memiliki prevalensi asma yang lebih besar yaitu 7,5% pada tahun 2007. Penyakit asma berasal dari keturunan sebesar 30 % dan 70 % disebabkan oleh berbagai faktor lainnya. Departemen Kesehatan memperkirakan penyakit asma termasuk 10 besar penyebab kesakitan dan kematian di RS dan diperkirakan 10% dari 25 juta penduduk Indonesia menderita asma. Angka kejadian asma pada anak dan bayi sekitar 10-85% dan lebih tinggi dibandingkan oleh orang dewasa(10- 45%)Pada anak, penyakit asama dapat mempengaruhi masa pertumbuhan, karena anak yang menderita asma sering mengalami kambuh sehingga dapat menurunkan prestasi belajar di sekolah. Prevalensi asma di perkotaan umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan, karena pola hidup di kota besar meningkatkan risiko terjadinya asma (Oemiati, 2010).

3.2 Natural History of asthma 3.2.1 Prepatogenesis Menurut Szefler (2010) ada beberapa factor yang dapat menyebabkan seseorang dapat terkena penyakit asma, antara lain : a. Faktor Prenatal
6

Masa mengandung dari ibu adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan janin dalam perutnya. Namun ada beberapa hal yang harus dihindari untuk menghindari bayi yang dilahirkan terkana penyakit asma. Jika seorang ibu bekerja di industri susu sapi perah dapat meningkatkan sitokinin yang dapat meningkatkan resiko anaknya terkena asma. Factor stress yang terjadi pada ibu hamil dapat menyebabkan ekspresi penyakit alergi pada anak-anak yang salah satunya adalah asma. Dianjurkan untuk ibu hamil agar tidak merokok karena merokok pada masa kehamilan akan memperbesar resiko bayi yang dikandungnya lebih besar untuk terkena asma sebesar 4 kali lipat dari pada ibu yang tidak merokok. b. Pemberian ASI eksklusif Pemberian asi eksklusif selama 4 bulan atau lebih dapat mengurangi resiko anak terkena penyakit asma hingga umurnya 8 tahun. Menyusui juga ternyata dapat memberi efek yang

menguntungkan pada paru-paru anak. c. Pengaruh obesitas pada masa anak-anak Jika pada saat bayi berusia 1 tahun mengalami obesitas maka dia akan mengalami penurunan resiko terkena penyakit asma dan fungsi paru-paru yang lebih baik pada usia 6-8 tahun. Namun jika terjadi obesitas pada usia lebih dari 1 tahun maka resiko anak tersebut terkena asma pada umur 6-8 tahun akan menjadi lebih besar. d. Genetika Ekspresi dari gen adalah factor yang sangat menentukan akan apa yang terjadi pada tubuh seseorang. Banyak sekali penelitian yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi seberapa jauh pengaruh gen pada kemunculan penyakit asma. Dari peneletian itu menunjukkan bahwa penyakit asma kemunculannya dipengaruhi oleh gen sebesar 34 % dan dipengaruhi oleh lingkungan sebesar 66 %. e. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh terhadap resiko seseorang terkena asma. Orang-orang yang tinggal di sekitar jalan utama suatu kota dan
7

rel kereta api memiliki resiko yang lebih besar terkena penyakit asma dari pada orang yang tidak tinggal di daerah tersebut. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya banyaknya polusi di daerah tersebut yang dapat merangsang respon imun dari orang tersebut, sehingga dia dapat terserang asma. f. Infeksi Faktor lain yang dapat menyebabkan asma adalah terjadinya infeksi di paru-paru. Salah satu yang dapat menyebabkan hal tersebut adalah infeksi oleh klamidia. Infeksi klamidia dapat memodulasi respon imun , mengubah fungsi dan struktur paru-paru serta meningkatkan keparahan penyakit alergi saluran napas di kemudian hari.

3.2.2 Patogenesis Pada pasien asma timbul akibat riwayat atopi akibat pemaparan alergen. Alergen yang masuk tubuh melalui saluran pernafasan, kulit, saluran pencernaan dan lain-lain akan ditangkap oleh makrofag yang bekerja sebagai antigen presenting cells (APC). diproses dalam sel APC, kemudian oleh sel Setelah alergen tersebut, alergen

dipresentasikan ke sel Th. Sel APC melalui penglepasan interleukin I (II-1) mengaktifkan sel Th. Melalui penglepasan Interleukin 2 (II-2) oleh sel Th yang diaktifkan, kepada sel B diberikan signal untuk berproliferasi menjadi sel plasma dan membentuk IgE (Meiyati,2009). IgE yang terbentuk akan segera diikat oleh mastosit yang ada

dalam jaringan dan basophil yang ada dalam sirkulasi. Hal ini dimungkinkan oleh karena kedua sel tersebut pada permukaannya memiliki reseptor untuk 1gE. Sel eosinofil, makrofag dan trombosit juga memiliki reseptor untuk 1gE tetapi dengan afinitas yang lemah. Pasien ini sudah rentan yaitu terpapar kedua kali atau lebih dengan alergen yang sama, alergen yang masuk tubuh akan diikat oleh 1gE yang sudah ada pada permukaan mastofit dan basofil. 1katan tersebut akan menimbulkan influk Ca++ ke dalam sel dan terjadi perubahan dalam sel yang menurunkan kadar cAMP. Kadar cAMP yang
8

menurun itu akan menimbulkan degranulasi sel. Dalam proses degranulasi sel ini yang pertama kali dikeluarkan adalah mediator yang sudah terkandung dalam granul-granul (preformed) di dalam

sitoplasma yang mempunyai sifat biologik, yaitu histamin, Eosinophil Chemotactic Factor-A (ECF-A), Neutrophil Chemotactic Factor (NCF), trypase da n kinin. Efek yang segera terlihat oleh mediator tersebut ialah obstruksi oleh histamin. Hiperreaktifitas bronkus yaitu bronkus yang mudah sekali dengan bahan / mengkerut (konstriksi) bila terpapar

faktor dengan

kadar yang rendah yang pada misalnya

kebanyakan orang tidak menimbulkan reaksi apa-apa,

alergen (inhalan, kontaktan), polusi, asap rokok / dapur, bau-bauan yang tajam dan lainnya baik yang berupa iritan maupun yang bukan iritan. Dewasa ini telah diketahui bahwa hiper reaktifitas bronkus disebabkan oleh inflamasi bronkus yang kronik. Sel- sel inflamasi terutama eosinofil ditemukan dalam jumlah besar dalam cairan bilas bronkus pasien asthma bronkiale sebagai bronkhitis kronik eosinofilik. Hiper reaktifitas berhubungan dengan derajat berat penyakit. Di klinik adanya hiperreaktifitas bronkhus dapat dibuktikan dengan uji

provokasi yang menggunakan metakolin atau histamin (Meiyati,2009). Bronkus pada pasien asma oedema di mukosa dan dindingnya, infiltrasi sel radang terutama eosinofil serta terlepasnya sel silia yang menyebabkan getaran silia dan mukus di atasnya sehingga salah satu daya pertahanan saluran nafas menjadi tidak berfungsi lagi. Ditemukan pula pada pasien asthma bronkiale adanya penyumbatan saluran nafas oleh mukus terutama bronkospasme, hipersekresi pada cabang-cabang bronkhus. Akibat dari mukosa dan dinding bronkhus serta

oedema

mukus

maka terjadi

penyempitan bronkhus dan

percabangannya sehingga akan menimbulkan rasa sesak, nafas berbunyi (wheezing) dan batuk yang produktif (Meiyati,2009). Adanya stressor baik fisik maupun psikologis akan menyebabkan suatu keadaan stress yang akan merangsang HPA axis. HPA axis yang terangsang akan meningkatkan adeno corticotropic hormon (ACTH)
9

dan kadar kortisol dalam darah. Peningkatan kortisol dalam darah akan mensupresi immunoglobin A (1gA). Penurunan 1gA

menyebabkan kemampuan untuk melisis sel radang menurun yang direspon oleh tubuh sebagai suatu bentuk inflamasi pada bronkhus sehingga menimbulkan asma bronkiale (Meiyati,2009).

(Szefler,2010)

3.2.3 Pasca Patogenesis Tahap pasca patogenesis/ tahap akhir yaitu berakhirnya perjalanan penyakit yang dapat berada dalam pilihan keadaan, yaitu sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, karier, penyakit berlangsung secara kronik, atau berakhir dengan kematian. Tujuan awal dari pengobatan asma adalah agar penderita dapat hidup normal, bebas dari serangan asma serta memiliki faal paru senormal mungkin, mengurangi reaktifasi saluran napas, sehingga menurunkan angka perawatan dan angka kematian akibat asma. Penyakit asma merupakan penyakit yang kesembuhannya karier atau sembuh tidak dapat sempurna melainkan pasien sembuh masih
10

fungsional (dimana

membawa penyakit,namun gejala penyakit sudah tampak berhenti sehingga pasien dapat bekerja lagi dengan fungsi tubuh normal) yang apabila daya.tahan tubuh menurun, maka penyakit dapat kambuh kembali. Namun suatu kesalahan dalam penatalaksanaan asma dalam jangka pendek dapat menyebabkan kematian , sedangkan jangka panjang dapat mengakibatkan peningkatan serangan atau terjadi

obstruksi paru yang menahun ( Meiyanti,2009) 3.3 Pencegahan Pencegahan meliputi pencegahan primer yaitu mencegah tersensitisasi dengan bahan yang menyebabkan asma, pencegahan sekunder adalah

mencegah yang sudah tersensitisasi untuk tidak berkembang menjadi asma; dan pencegahan tersier adalah mencegah agar tidak terjadi serangan / bermanifestasi klinis asma pada penderita yang sudah menderita asma (PDPI, 2003). 3.3.1. Pencegahan Primer Perkembangan respons imun jelas menunjukkan bahwa periode prenatal dan perinatal merupakan periode untuk diintervensi dalam melakukan pencegahan primer penyakit asma. Banyak faktor terlibat dalam meningkatkan atau menurunkan sensitisasi alergen pada fetus, tetapi pengaruh faktor-faktor tersebut sangat kompleks dan bervariasi dengan usia gestasi, sehingga pencegahan primer waktu ini adalah belum mungkin. Walau penelitian ke arah itu terus berlangsung dan menjanjikan (PDPI, 2003). 3.3.1.1 Periode prenatal Kehamilan trimester ke dua yang sudah terbentuk cukup sel penyaji antigen (antigen presenting cells) dan sel T yang matang, merupakan saat fetus tersensisitasi alergen dengan rute yang paling mungkin adalah melalui usus, walau konsentrasi alergen yang dapat penetrasi ke amnion adalah penting. Konsentrasi alergen yang rendah lebih mungkin menimbulkan sensitisasi daripada konsentrasi tinggi. Faktor konsentrasi alergen dan waktu pajanan sangat mungkin
11

berhubungan dengan terjadinya sensitisasi atau toleransi imunologis (PDPI, 2003). Penelitian menunjukkan menghindari makanan yang

bersifat alergen pada ibu hamil dengan risiko tinggi, tidak mengurangi risiko melahirkan bayi atopi, bahkan makanan tersebut menimbulkan efek yang tidak diharapkan pada nutrisi ibu dan fetus. Saat ini, belum ada pencegahan primer yang dapat direkomendasikan untuk dilakukan (PDPI, 2003). 3.3.1.2 Periode postnatal Berbagai upaya menghindari alergen sedini mungkin dilakukan terutama difokuskan pada makanan bayi seperti menghindari protein susu sapi, telur, ikan, kacang-kacangan. Sebagian besar studi menunjukkan mengenai hal tersebut, menunjukkan hasil yang inkonklusif (tidak dapat ditarik kesimpulan). Dua studi dengan tindak lanjut yang paling lama menunjukkan efek transien dari menghindari makanan berpotensi alergen dengan dermatitis atopik. Dan tindak lanjut lanjutan menunjukkan berkurangnya bahkan hampir tidak ada efek pada manifestasi alergik saluran napas, sehingga disimpulkan bahwa upaya menghindari alergen makanan sedini mungkin pada bayi tidak didukung oleh hasil. Bahkan perlu dipikirkan memanipulasi dini makanan berisiko menimbulkan gangguan tumbuh kembang (PDPI, 2003). Diet menghindari antigen pada ibu menyusui risiko tinggi, menurunkan risiko dermatitis atopik pada anak, tetapi dibutuhkan studi lanjutan (PDPI, 2003). Menghindari aeroelergen pada bayi dianjurkan dalam upaya menghindari sensitisasi. Akan tetapi beberapa studi terakhir menunjukkan bahwa menghindari pajanan dengan kucing sedini mungkin, tidak mencegah alergi; dan sebaliknya kontak sedini mungkin mencegah dengan alergi kucing lebih dan anjing daripada
12

kenyataannya

baik

menghindari binatang tersebut. Penjelasannya sama dengan hipotesis hygiene, yang menyatakan hubungan dengan mikrobial sedini mungkin menurunkan penyakit alergik di kemudian hari. Kontroversi tersebut mendatangkan pikiran bahwa strategi pencegahan primer sebaiknya didesain dapat menilai keseimbangan sel Th1dan Th2, sitokin dan proteinprotein yang berfusi dengan alergen (PDPI, 2003). Pencegahan primer di masa datang akan berhubungan imunomodulasi menggunakan sel Th1 ajuvan, vaksin DNA, antigen yang berkaitan dengan IL-12 atau IFN-g, pemberian mikroorganisme usus yang relevan melalui oral

(berhubungan dengan kolonisasi flora mikrobial usus). Semua strategi tersebut masih sebagai hipotesis dan membutuhkan penelitian yang tepat (PDPI, 2003).

3.3.1.3

Asap rokok lingkungan (Enviromental tobacco smoke/ ETS) Berbagai studi dan data menunjukkan bahwa ibu perokok berdampak pada kesakitan saluran napas bawah pada anaknya sampai dengan usia 3 tahun, walau sulit untuk membedakan kontribusi tersebut pada periode prenatal atau postnatal. Berbagai studi menunjukkan bahwa ibu merokok selama kehamilan akan mempengaruhi perkembangan paru anak, dan bayi dari ibu perokok, 4 kali lebih sering mendapatkan gangguan mengi hanya dalam sedikit tahun bukti pertama yang

kehidupannya.Sedangkan

mendapatkan bahwa ibu yang merokok selama kehamilan berefek pada sensitisasi alergen. Sehingga disimpulkan merokok dalam kehamilan berdampak pada perkembangan paru, meningkatkan frekuensi gangguan mengi nonalergi pada bayi, tetapi mempunyai peran kecil pada terjadinya asma alergi di kemudian hari. Sehingga jelas bahwa pajanan
13

asap rokok lingkungan baik periode prenatal maupun postnatal (perokok pasif) mempengaruhi timbulnya

gangguan/ penyakit dengan mengi (PDPI, 2003).

3.3.2. Pencegahan sekunder Pencegahan sekunder mencegah yang sudah tersensitisasi untuk tidak berkembang menjadi asma. Studi terbaru mengenai pemberian antihitamin H-1 dalam menurunkan onset mengi pada penderita anak dermatitis atopik. Studi lain yang sedang berlangsung, mengenai peran imunoterapi dengan alergen spesifik untuk menurunkan onset asma (PDPI, 2003). Pengamatan pada asma kerja menunjukkan bahwa menghentikan pajanan alergen sedini mungkin pada penderita yang sudah terlanjur tersensitisasi dan sudah dengan gejala asma, adalah lebih

menghasilkan pengurangan /resolusi total dari gejala daripada jika pajanan terus berlangsung (PDPI, 2003). Obat yang dapat digunakan untuk pencegahan sekunder

diantaranya Teofilin yang merupakan stimulan pusat pernafasan merupakan metilxantin, Ipratropium bromide (semprot hidung) untuk inhalasi oral adalah suatu antikolinergik (parasimpatolitik) yang akan menghambat refleks vagal dengan cara mengantagonis kerja asetilkolin, dan Kortikosteroid Obat-obat golongan ini merupakan steroid adrenokortikal steroid sintetik dengan cara kerja dan efek yang sama dengan glukokortikoid. Glukokortikoid dapat menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau merelaksasi otot polos secara langsung (Departemen Kesehatan RI, 2007).

3.3.3. Pencegahan Tersier Sudah asma tetapi mencegah terjadinya serangan yang dapat ditimbulkan oleh berbagai jenis pencetus. Sehingga menghindari
14

pajanan pencetus akan memperbaiki kondisi asma dan menurunkan kebutuhan medikasi/ obat (PDPI, 2003). Obat-obatan yang dapat digunakan untuk membantu pencegahan primer termasuk obat pengontrol atau anti inflamasi, diantaranya adalah Kromolin obat ini tidak mempunyai aktifitas intrinsik bronkodilator, antikolinergik, vasokonstriktor atau aktivitas

glukokortikoid. Obat-obat ini menghambat pelepasan mediator, histamin dan SRS-A (Slow Reacting Substance Anaphylaxis, leukotrien) dari sel mast. Kromolin bekerja lokal pada paru-paru tempat obat diberikan. Nedokromil merupakan anti-inflamasi inhalasi untuk pencegahan asma. Obat ini akan menghambat aktivasi secara in vitro dan pembebasan mediator dari berbagai tipe sel berhubungan dengan asma termasuk eosinofil, neutrofil, makrofag, sel mast, monosit dan platelet. Nedokromil menghambat perkembangan respon bronko konstriksi baik awal dan maupun lanjut terhadap antigen terinhalasi (Departemen Kesehatan RI, 2007).

15

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan Dari pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa penyakit asma adalah penyakit kronis (berlangsung lama) yang ditandai oleh sesak napas disertai bunyi ngik-ngik (mengi) atau batuk persisten dimana derajat keparahan setiap orang berbeda-beda. Penyakit asma juga merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal itu tergambar dari data studi survei kesehatan rumah tangga (SKRT) di berbagai propinsi di Indonesia. Dalam natural history nya prepatogenesis penyakit asma dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor prenatal, genetik, lingkungan dan infeksi. Pada tahapan patogenesisnya yang timbul akibat riwayat atopi akibat pemaparan alergen. Alergen yang masuk ketubuh melalui saluran pernafasan, kulit, saluran pencernaan dan lain-lain akan ditangkap oleh makrofag yang bekerja sebagai antigen presenting cells (APC). Kemudian paska patogenesisnya, Penyakit asma merupakan penyakit yang kesembuhannya karier atau sembuh fungsional, apabila daya.tahan tubuh menurun, maka penyakit dapat kambuh kembali. Namun kesalahan dalam penatalaksanaan dapat menyebabkan kematian dan terjadinya obstruksi paru yang menahun. Dalam pencegahan penyakit asma dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier. 4.2. Saran Diharapkan para masyarakat menerapkan pola pencegahan primer sebelum terserang penyakit asma, karena penyakit asma juga dapat ditimbulkan karena faktor lingkungan. Kemudian bagi para penderita asma supaya menerapkan pencegahan sekunder ketika terjadi serangan dan menerapkan pencegahan tersier dengan baik untuk tahapan rehabilitasi baik dalam terapi farmakologi maupun yang lainnya.

16

Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan RI, 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Asma. Jakarta : Departemen Kesehatan RI GINA (Global Initiative for Asthma), 2006. Pocket Guide for Asthma Management and Prevension In Children. www. Ginaasthma.org. Meiyanti & Mulia J.I. 2009. Perkembangan Patogenesis dan Pengobatan Asma Bronkial. Dipetik Desember, 20, 2013 dari Fakultas Kedokteran Univrsitas Trisakti: http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Vol.19_no.3_5.pdf Oemiati R., Sihombing M., & Qomariah. . 2010. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Asma di Indonesia. Dipetik Desember, 19, 2013, dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia:

http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/201104149_0853-9987.pdf PDPI, 2003. Asma Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Prasetyo, Budi. 2010. Seputar Masalah Asma. Jakarta: Divapress. Price AS, 1995. Alih Bahasa Anugrah Patofisiologi Proses-proses Penyakit, EGC. Jakarta Sriwidodo WS, 2003. Asma. Jakarta : Cermin Dunia Kedokteran. Szefler, S.J. 2010. Advances in Pediatric Asthma in 2010 : Addresing the Major Issues. Dipetik Desember, 19, 2013, dari National Center for Biotechnology Information : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3032272/

17

Lampiran

Judul Penelitian

GAMBARAN FAKTOR PENCETUS SERANGAN ASMA PADA PASIEN ASMA DI POLIKLINIK PARU DAN BANGSAL PARU RSU Dr. SOEDARSO PONTIANAK

Tempat Penelitian

poliklinik paru dan bangsal paru RSU dr. Soedarso Pontianak.

Waktu penelitian

Mei 2011 sampai dengan Juni 2011

Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan oleh penulis pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Rancangan yang digunakan adalah cross sectional.

Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah asma, asap rokok, debu, latihan fisik, jenis makanan, perubahan cuaca, dan perubahan emosi.

Variabel Terikat (Dependent Variable) Variabel terikat adalah variabel yang akan dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian asma.

Populasi Target dan Terjangkau Populasi target pada penelitian ini adalah pasien asma di poliklinik paru dan bangsal paru RSU dr. Soedarso Pontianak. Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah pasien asma yang berobat di poliklinik paru dan bangsal paru RSU dr. Soedarso Pontianak antara bulan Mei 2011 sampai Juni 2011.

18

Sampel : Sampel Kasus Sampel kasus dalam penelitian ini adalah orang yang menderita asma di poliklinik paru dan bangsal paru RSU dr. Soedarso Pontianak. Sampel Kontrol Sampel kontrol dalam penelitian ini adalah orang yang tidak menderita asma adalah orang yang berada di sekitar penderita.

Teknik Pengambilan Sampel Sampel dipilih dengan cara pemilihan sampel tidak berdasarkan peluang (nonprobability sampling). Jenis yang digunakan adalah consecutive sampling yaitu semua subyek yang memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria Kasus Inklusi Menderita asma yang berobat di poliklinik paru dan bangsal paru RSU dr. Soedarso Pontianak selama periode penelitian Eksklusi Pindah tempat saat dilakukan penelitian dan/ atau subjek menolak berpartisipasi dalam penelitian Kriteria Kontrol Inklusi Tidak menderita penyakit asma yang saat dilakukan penelitian. Eksklusi Subjek tidak bersedia untuk mengikuti penelitian dan/ atau pindah tempat saat dilakukan penelitian

Judul Penelitian

FAKTOR RESIKO ASMA PADA MURID SEKOLAH DASAR USIA 6-7 TAHUN DI KOTA MALANG
19

Tempat Penelitian

Beberapa SD di Kota Malang Waktu penelitian :

Juni 2012 sampai dengan November 2012

Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan oleh penulis pada penelitian ini adalah merupakan cross sectional

Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah status gizi, jumlah saudara, pendidikan ibu, berat badan lahir, faktor diet, berupa konsumsi makanan cepat saji dan kurang makan sayuran, konsumsi coklat, es dan MSG, pemberian ASI, obat, yaitu pemberian parasetamol dengan frekuensi tinggi dan pemberian antibiotika saat sebelum usia satu tahun, paparan alergen bulu anjing dalam 12 bulan terakhir dan 12 bulan pertama kehidupan, paparan alergen bulu kucing dalam 12 bulan terakhir dan 12 bulan pertama kehidupan, kontak dengan unggas dalam 12 bulan terakhir, kebiasaan orang tua merokok, olah raga/aktifitas keseharian, bahan bakar memasak, faktor lingkungan rumah, yaitu lingkungan dengan paparan lalu lintas, memakai kipas angin, karpet dan kasur kapuk dalam 12 bulan terakhir.

Variabel Terikat (Dependent Variable) Variabel terikat adalah variabel yang akan dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian asma.

Populasi Target dan Terjangkau Populasi penelitian adalah semua anak SD usia 6-7 tahun yang bertempat tingal di Kota Malang dengan orang tua mereka sebagai responden. Sampel penelitian adalah semua murid kelas I dan II dan berusia 6-7 tahun dari SD terpilih dengan carasimple random sampling.

20

Judul Penelitian

FAKTOR FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN ASMA BRONKIAL PADA ANAK

Tempat Penelitian

RSUD Kabupaten Kudus

Waktu penelitian

18 Januari 2008 sampai dengan tanggal 29 April 2008

Desain penelitian

Jenis penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian epidemilogi yang bersifat observasional analitik, dengan desain Hospital Based Case Control Study. Desain ini dipilih karena dapat digunakan untuk mencari hubungan seberapa jauh faktor risiko mempengaruhi terjadinya penyakit.

Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel bebas pada penelitian ini meliputi: keberadaan tungau debu dalam rumah, keluarga yang memelihara binatang (anjing, kucing, burung), asap merokok,riwayat keluarga, perabot rumah tangga sumber alergen (karpet, kasur, bantal, selimut, seprai), makanan, perubahan cuaca (panas, dingin), dan jenis kelamin.

Variabel Terikat (Dependent Variable) Variabel terikat pada penelitian ini yaitu kejadian asma bronkiale pada anak..

Populasi Target dan Terjangkau Populasi target atau populasi referens merupakan bagian dari populasi untuk menerapkan hasil penelitian. Berdasarkan penelitian untuk mengetahui faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian asma bronkiale anak, maka populasi target penelitian ini adalah seluruh penderita asma bronkiale anak umur 1-15 tahun.Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah pasien asma bronkiale anak
21

yang berobat RSUD Kabupaten Kudus periode 18 Januari 2008 sampai dengan tanggal 29 April 2008

Sampel : Sampel Kasus Sampel kasus dalam penelitian ini adalah penderita asma bronkiale anak umur 115 tahun di RSUD Kabupaten Kudus. Sampel Kontrol Sampel kontrol dalam penelitian ini adalah orang yang tidak menderita asma bronkiale adalah orang yang berada di sekitar penderita.

Teknik Pengambilan Sampel Sampel penelitian untuk kelompok kasus diambil dari pasien asma bronkilale anak umur 1-15 tahun yang baru didiagnosa asma bronkiale di bagian anak berdasarkan pemeriksaan di RSUD Kabupaten Kudus. Kelompok kontrol diambil dari pasien anak umur 1-15 tahun pada bagian anak yang tidak ada riwayat asma bronkiale dan tidak memiliki keluhan atau adanya kelainan pada sistima saluran pernafasan selama periode penelitian dengan menggunakan accidental technique sampling.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi 1. Penderita asma anak berusia 1-15 tahun, 2. Minimal telah menghuni rumah tersebut selama 1 tahun, 3. Aktivitas di dalam rumah tersebut minimal 12 jam, 4. Responden bertempat tinggal di Kabupaten Kudus, 5. Responden memiliki identitas alamat yang jelas. 6. Bersedia menjadi sampel penelitian dengn menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi Responden yang tidak diikutkan dalam penelitian ini adalah anak yang terindikasi sebagai berikut: 1. Anak yang mengidap penyakit tuberkulosis paru.
22

2. Anak yang terdiagnosa kelainan jantung.

Judul Penelitian

KORELASI PENILAIAN ASMA TERKONTROL PADA PENDERITA ASMA PERSISTEN SESUDAH PEMBERIAN KORTIKOSTEROID INHALASI

DENGAN MENGGUNAKAN ASTHMA CONTROL SCORING SYSTEM DAN ASTHMA CONTROL TEST

Tempat Penelitian

Poliklinik Paru RSUD Dr. Moewardi Surakarta

Waktu penelitian

Bulan Mei 2006 sampai dengan Juli 2006

Desain penelitian

Penelitian menggunakan metode kohort dan dilakukan analisis statistik untuk mengetahui korelasi antara Asthma Control Scoring System dan Asthma Control Test pada penderita asma persisten sebelum dan sesudah pemberian steroid inhalasi.

Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel bebas pada penelitian ini adalah pemberian kortikosteroid inhalasi pada pasien asma persisten.

Variabel Terikat (Dependent Variable) Variabel terikat pada penelitian ini yaitu kejadian asma persisten pada pasien.

Populasi Target dan Terjangkau Populasi target atau populasi referens merupakan bagian dari populasi untuk menerapkan hasil penelitian. Berdasarkan penelitian untuk mengetahui Korelasi
23

Penilaian Asma Terkontrol Pada Penderita Asma Persisten Sesudah Pemberian Kortikosteroid Inhalasi dengan Menggunakan Asthma Control Scoring System dan Asthma Control Test, semua penyandang asma persisten yang berobat jalan di Poliklinik Paru RSUD Dr. Moewardi, Surakarta yang memenuhi kriteria inklusi dengan Rentang umur mulai dari 18 tahun hingga 45 tahun. Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah semua penyandang asma persisten yang berobat jalan di Poliklinik Paru RSUD Dr. Moewardi, Surakarta yang memenuhi kriteria inklusi pada Bulan Mei 2006 sampai dengan Juli 2006.

Judul Penelitian

PENGARUH PENJARUMAN TITIK AKUPUNTUR FEISHU (BL 13) DAN ZUSANLI (ST 36) TERHADAP JUMLAH LIMFOSIT CD4 PADA MODEL TIKUS PUTIH ASMA

Tempat Penelitian

Laboratorium Histologi FK UNS

Waktu penelitian

Mei 2011 sampai dengan Juni 2011

Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan oleh penulis pada penelitian ini adalah merupakan eksperimen laboratorium yang terkontrol dengan randomisasi (RCT)

Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penjaruman titik akupuntur dan pemberian OVA inhalasi.

Variabel Terikat (Dependent Variable)

24

Variabel terikat adalah variabel yang akan dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian asma.

Populasi Target dan Terjangkau Populasi target pada penelitian ini adalah tikus putih di Laboratorium Histologi FK UNS. Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah tikus putih asma di Laboratorium Histologi FK UNS antara bulan Mei 2011 sampai Juni 2011.

Judul Penelitian

PENGARUH TERAPI OKSIGEN PADA PENYAKIT ASMA AKUT

Tempat Penelitian

RSSP Universitas Brawijaya Malang

Waktu penelitian

April 2011 sampai dengan Juli 2011

Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan oleh penulis pada penelitian ini adalah merupakan eksperimen yang terkontrol dengan randomisasi (RCT)

Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian terapi oksigen.

Variabel Terikat (Dependent Variable) Variabel terikat adalah variabel yang akan dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian asma.

Populasi Target dan Terjangkau

25

Populasi target atau populasi referens merupakan bagian dari populasi untuk menerapkan hasil penelitian. Berdasarkan penelitian untuk mengetahui pengaruh terapi oksigen pada asma akut, maka populasi target penelitian ini adalah seluruh penderita asma akut. Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah pasien asma akut yang berobat RSSP Universitas Brawijaya Malang periode April 2011 sampai dengan Juli 2011.

26

Anda mungkin juga menyukai