Anda di halaman 1dari 63

PENDAHULUAN Pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan, disenangi dan dapat dicerna sebagian atau seluruhnya.

Pakan sangat menentukan keberhasilan usaha peternakan. Hal ini disebabkan karena ternak akan mencapai pertumbuhan yang optimal apabila kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan selalu tersedia secara kontinyu untuk memenuhi kebutuhannya. Ransum lengkap (complete feed) merupakan pakan tunggal hasil pencampuran bahan-bahan pakan yang telah diproses untuk menghindari seleksi pakan oleh ternak. Lebih lanjut dinyatakan bahwa ternak akan melakukan seleksi pada pakan yang telah diberikan dan dengan bentuk ransum lengkap semua bahan pakan akan menjadi satu dan mempunyai kandungan nutrien yang sama pada setiap bagiannya sehingga seleksi oleh ternak dapat dikurangi Proses produksi atau pengolahan pakan dilakukan untuk

menghasilkan produk akhir yang sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Kegiatan proses produksi meliputi penggilingan (grinding), penimbangan dan percampuran (mixing), penggabungan bahan pakan (pelleting) serta pengepakan (packing).

ACARA I TEKNOLOGI PENGOLAHAN HIJAUAN

Tinjauan Pustaka

Hijauan Makanan Ternak Hijauan Segar. Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disenggut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman biji-bijian atau jenis kacang-kacangan (_______, 2000). Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong atau disenggut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak atau pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati, dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energy (_________, 2000). Jenis rumput-rumputan antara lain rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput benggala (Panicum maximum), rumput setaria (Setaria sphacelata), rumput brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput mexico (Euchlena mexicana), dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar. Jenis kacang-kacangan antara lain lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Stylosantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloidesm Calopogonium muconoides, dan jenis kacang-kacangan lain. Jenis daun-daunan antara lain daun nangka daun pisang, daun turi, petai cina, dan lain-lain (________, 2000). Hijauan Sisa Tanaman Pangan. Limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan bagi kelangsungan hidup ternak yaitu jerami padi, jerami jagung,jerami kacang-kacangan, dan pucuk tebu. Jerami padi sangat

potensial sebagai sumber pakan ternak karena mudah didapat, terutama pada musim panen. Namun, kandungan gizi, vitamin dan mineral serta daya cerna jerami padi relatif rendah (Kushartono, 2001). Jerami padi masih termasuk hijauan, tapi kualitasnya rendah. Kandungan gizi jerami padi diantaranya protein hanya 3% sampai 5%, padahal hijauan rumput, misalnya rumput gajah mencapai 12% sampai 14%. Demikian pula kadar vitamin dan mineralnya rendah pula, sehingga jerami padi dikategorikan pakan yang miskin. Disamping itu seratnya sangat liat, atau dengan kata lain kecernaannya rendah 25% sampai 45%, tergantung varietasnya (Kartasudjana, 2001). Amoniasi Pengertian Amoniasi. Pengolahan amoniasi adalah memotong ikatan rantai polisakarida dan membebaskan sellulosa dan hemisellulosa agar dapat dimanfaatkan oleh tubuh ternak. Amonia (NH 3) yang berasal dari urea akan bereaksi dengan jerami padi. Dalam hal ini ikatan tadi lepas diganti mengikat NH3, dan sellulosa serta hemiselulosa lepas (Kartasudjana, 2001). Pengolahan amoniasi adalah suatu proses pemotongan ikatan rantai dan membebaskan sellulosa dan hemisellulosa agar dapat dimanfaatkan oleh tubuh ternak. Amoniasi (NH3) yang berasal dari urea akan bereaksi dengan jerami padi, sehingga ikatan bisa terlepas dan berganti ikatan dengan dengan NH3, dan pada saat yang sama sellulosa serta hemisellulosa akan terlepas pada ikatan (Masum, 2011). Ternak yang akan diberi makan jerami padi harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Salah satunya adalah dengan amoniasi menggunakan urea yang merupakan perlakuan alkali. Perlakuan alkali dapat merenggangkan ikatan lignoselulosa dan lignohemiselulosa,

sehingga ikatan lebih longgar, dengan demikian akan memudahkan mikroorganisme memfermentasi selulosa dan hemselulosa jerami padi (Zulkarnaini, 2009)

Dosis amonia yang biasa digunakan secara optimal adalah 4 sampai 6 % NH3 dari berat kering jerami. Kurang dari 3 % tidak ada pengaruhnya terhadap daya cerna maupun peningkatan kandungan protein kasar, tetapi amonia ini hanya berfungsi sebagai pengawet saja. Bila lebih dari 6 % amonia akan terbuang karena tidak sanggup lagi diserap oleh jerami dan akan lepas ke udara bebas, kerugiannya hanya pemborosan amonia yang berarti kerugian ekonomis saja (Masum, 2011). Tujuan Amoniasi. Faktor makanan adalah sangat penting bagi produksi ternak, produksi yang baik tidak akan dapat dicapai tanpa makanan yang cukup tersedia. Ternak yang hanya diberi ransum jerami padi saja, berat badannya akan menurun. Jerami padi masih termasuk hijauan, tetapi kualitasnya rendah karena kandungan gizi jerami padi diantaranya protein hanya 3% sampai 5%. Tujuan jerami diberi perlakuan amoniasi antara lain agar kecernaan jerami meningkat, protein jerami meningkat, menghambat pertumbuhan jamur, dan memusnahkan telur cacing yang terdapat dalam jerami (Kartasudjana, 2001). Tujuan amoniasi adalah meningkatkan kualitas bahan pakan yang rendah kandungan nutrisi dan daya cerna. Keuntungan amoniasi adalah: kecernaan meningkat, protein meningkat, dan menghambat pertumbuhan jamur (Masum, 2011). Amoniasi dengan urea terhadap pakan serat

mampu meningkatkan nilai manfaat pakan tersebut. Peningkatan kecernaan NDF bagase yang diamoniasi dari 23,5% menjadi 52,7%. Penggunaan jerami padi yang diamoniasi dalam ransum ruminansia dapat meningkatkan konsumsi, kecernaan bahan kering, pertambahan berat badan dan produksi susu . Peningkatan kecernaan bahan organik jerami padi amoniasi sebesar 13% sampai 18% pada ternak domba dan konsumsi bahan kering sebesar 45% pada ternak sapi dibanding yang tidak diamoniasi. Penggunaan jerami amoniasi sampai 100% sebagai pengganti rumput menurunkan pertambahan bobot badan. Penggunaan pakan serat amoniasi sampai 100% pengganti rumput dan disuplementasi

dengan daun ubi kayu mampu mendukung laju pertumbuhan ternak yang tinggi (Zain, 2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi amoniasi. Menurut Nining (2011), faktor-faktor amoniasi dipengaruhi oleh dosis ammonia,

temperatur, tekanan, lama pengolahan, kelembaban jerami, jeis dan kualitas jerami. Dosis optimal adalah antara 3% sampai 5 % NH3 dari berat kering jerami. Kurang dari 3 % tidak ada pengaruhnya terhadap daya cerna matipun peningkatan kandungan protein kasar, tapi amonia ini hanya akan berfungsi sebagai bahan pengawet saja. Bila lebih dari 5 % juga amonia akan terbuang karena tidak mampu lagi diserap oleh jerami clan akan lepas ke udara bebas. Kerugiannya hanya pemborosan amonia yang berarti kerugian ekonomis saja. Temperatur semakin tinggi maka akan semakin singkat proses amoniasi ini berbeda. Yang paling baik adalah antara 20 sampai 100 derajat celcius. Pada temperatur rendah di bawah 0 oC proses amoniasi berjalan sangat lambat. Pengaruh tekanan tidak dapat berdiri sendiri biasanya kornbinasi dengan temperatur. Tekanan dan temperatur tinggi misalnya 16,2 kg/cm2 dengan temperatur 213'C alcan mencapai kandungan protein kasar clan daya cerna tertinggi dalarn waktu hanya 4 menit (Nining, 2011). Lama pengolahan ialah waktu yang diperlukan untuk proses amoniasi berlangsung. Waktu ini bervariasi pula sejalan dengan temperatur yang berkisar 1 sampai 8 minggu, tergantung metode yang dipergunakan. Yang tersingkat adalah bila menggunakan kontainer kedap udara dengan pemanasan sampai 100
o

C. Kelembaban ideal untuk

mencapai kandungan protein kasar dan daya cerna optimal adalah antara 30 sampai 50 %. Kurang dari 30 % dan lebih dari 50 % proses amoniasi kurang sempurna (Nining, 2011). Tiap jenis jerami rnisalnya jerami padi, jerami gandum sorghum, jagung dan lain-lain mempunyai sifat fiksasi berbeda-beda bila diolah dengan amonia. Peningkatan kandungan protein kasar misalnya :untuk alfafa jenis-jenis legume yang sudah tinggi kadar protein kasarnya tidak

dianjurkan untuk diolah dengan amonia, karena pengaruhnya kecil sekali. Jenis hijauan kering berkadar protein tinggi dianjurkan menggunakan dosis rendah (1 sampai 2 %) hanya untuk pengawet saja (Nining, 2011). Fermentasi Pengertian Fermentasi. Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang cukup besar jumlahnya dan belum sepenuhnya

dimanfaatkan. Produksi jerami padi bervariasi yaitu dapat mencapai 12 sampai 15 ton per hektar satu kali panen, atau 4 sampai 5 ton bahan kering tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman yang digunakan. Cara baru yang relative murah, praktis, dan hasilnya sangat disukai ternak adalah fermentasi dengan menambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik, dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (contohnya: starbio, starbioplus, EM-4, dan lain-lain) (Liptan, 2000). Fermentasi adalah reaksi oleh biokatalis yang digunakan untuk mengubah substrat menjadi produk baru, selanjutnya biokatalis tersebut dapat berasal dari bakteri, jamur, dan khamir (Smith, 1996). Amoniasi dan fermentasi memiliki perbedaan yang nyata dalam prinsipnya. Amoniasi merupakan suatu proses perombakan dari struktur keras menjadi lunak (hanya struktur fisiknya) dan penambahan unsur N saja. Fermentasi merupakan proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia, dan biologis sehingga bahan dari struktur yang komplek menjadi sederhana, sehingga daya cerna ternak menjadi lebih efisien (_______, 2000). Proses Fermentasi. Proses fermentasi dilakukan dengan

menggunakan probiotik sebagai starter. Peranan probiotik adalah untuk memecah selulosa menjadi nutrisi yang mudah diserap oleh tubuh ternak. Bahan yang digunakan sebagai starter antara lain starbio, bioplas atau coenzym (Masum, 2011). Fermentasi mencakup semua proses baik aerobik maupun anaerobik untuk menghasilkan berbagai produk yang melibatkan aktivitas mikrobia. Penguraian berbagai senyawa organik sebagai hasil aktivitas

mikrobia tidak harus berlangsung dalam suasana aerob, tetapi juga dalam suasana anaerob tergantung jenis mikrobianya (Darwis dan Sukara, 1990). Prinsip dasar dari proses fermentasi adalah proses enzimatik. Enzim yang diproduksi oleh mikrobia dapat menghidrolisis komponen dinding sel tanaman dalam bentuk selulosa dan hemiselulosa menjadi molekul yang lebih kecil yaitu disakarida dan monosakarida yang selanjutnya digunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan maupun kebutuhan hidup pokok mikrobia tersebut. Salah satu tujuan perlakuan fermentasi adalah untuk memecah ikatan kompleks lignin selulosa dan meningkatkan kandungan selulosa untuk dipecah oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh mikrobia (Basuki dan Wiryasasmita, 1992). Fermentasi mencakup semua proses baik aerobik maupun anaerobik untuk menghasilkan berbagai produk yang melibatkan aktivitas mikrobia. Penguraian berbagai senyawa organik sebagai hasil aktivitas mikrobia tidak harus berlangsung dalam suasana aerob, tetapi juga dalam suasana anaerob tergantung jenis mikrobianya (Darwis dan Sukara, 1990). Tujuan Fermentasi. Beberapa keuntungan penggunaan jerami fermentasi sebagai pakan diantaranya adalah meningkatkan produksi ternak karena kualitas nutrisi meningkat, mengurangi biaya pakan, penggunaan pakan dan tenaga kerja lebih efektif, lingkungan kandang lebih sehat dan nyaman dikarenakan ternak yang dihasilkan lebih sedikit kering dan tidak berbau (Masum, 2011). Pemanfaatan jerami yang telah difermentasi untuk menjadi pakan ternak lebih menguntungkan, terutama bagi petani yang juga memiliki ternak, karena mudah didapat dan kandungan nutrisinya sama dengan rumput segar. Jerami yang sudah difermentasikan kandungan proteinnya sama dengan rumput segar sekitar 7%. Proses fermentasi jerami hanya memakan waktu sekitar 21 hari, hanya dengan menebar pupuk urea dan probiotik serta jerami disusun dalam lapisan-lapisan (Amini, 1999).

Jerami yang sudah difermentasi ini mempunyai kelebihan yaitu, serat-seratnya sudah terurai sehingga lebih mudah dicerna, jerami fermentasi mengandung nitrogen, serta kadar protein lebih tinggi daripada jerami segar. Pada saat musim kemarau, pemanfaatan jerami fermentasi ini layak diperhitungkan karena rumput segar biasanya sulit diperoleh. Berbagai upaya boleh dilakukan untuk meningkatkan kualitas jerami padi, baik dengan cara fisik, kimia maupun biologis. Tetapi cara-cara tersebut biasanya disamping mahal, juga hasilnya kurang memuaskan. Fermentasi dengan cara fisik misalnya, memerlukan investasi yang mahal, secara kimiawi meninggalkan residu yang mempunyai efek buruk sedangkan dengan cara biologis memerlukan peralatan yang mahal dan hasilnya kurang disukai ternak (bau amonia yang menyengat). Jerami yang sudah difermentasi ini mempunyai kelebihan yaitu, serat-seratnya sudah terurai sehingga lebih mudah dicerna, jerami fermentasi mengandung nitrogen, serta kadar protein lebih tinggi daripada jerami segar (Amini, 1999). Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi antara lain adalah konsentrasi garam, suhu dan oksigen. Konsentrasi garam yang dianjurkan adalah 5 sampai 15% (20 sampai 600Be). Garam berfungsi untuk menghambat

pertumbuhan jenis-jenis mikroorganisme pembusuk. Suhu fermentasi harus sesuai dengan suhu optimum bakteri dapat berkembang. Suhu umumnya sekitar 300C, jika suhu kurang dari 300C pertumbuhan mikroorganisme penghasil asam laktat akan terhambat (Sumanti, 2011). Fase pertumbuhan tetap (statis), sel yang mati seimbang dengan sel yang tumbuh. Hal ini disebabkan karena komposisi media tidak memenuhi syarat pertumbuhan dan kemungkinan adanya racun yang diproduksi oleh mikrobia itu sendiri. Ukuran sel pada fase ini menjadi lebih kecil karena setiap sel membelah meskipun kekurangan nutrisi. Fase kematian. Sebagian populasi mikrobia mulai mengalami kematian pada fase ini, yang disebabkan karena tidak adanya nutrisi dalam medium dan habisnya energi cadangan di dalam sel. Jumlah sel yang mati kian banyak

sesuai dengan umurnya. Kecepatan kematian ini dipengaruhi oleh kondisi nutrisi, lingkungan, dan jenis mikrobia (Nurwantoro dan Arijah, 1994). Menurut Lehninger (2000), bagaimanapun tingginya konsentrasi substrat setelah titik batas tercapai, kecepatan reaksi akan mendekati tetapi tidak akan pernah mencapai garis maksimum. Batas ini yang disebut kecepatan maksimum (V max). Enzim menjadi jenuh oleh substratnya, dan tidak dapat berfungsi lebih cepat. Fermented Complete Feed Pengertian fermented complete feed. Complete feed merupakan pakan lengkap yang memiliki kandungan zat-zat makanan yang diformulasi secara lengkap dan seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak. Proses fermentasi merupakan proses anaerob sehingga

dihindarkan tindakan yang mengakibatkan proses masuknya udara. Fermentasi complete feed adalah bahan pakan lengkap dengan kandungan nutrient yang diformulasi lengkan dan diberi perlakuan menggunakan probiotik sebagai starter yang dilakukan diluar tubuh ternak dan secara anaerob. Tujuan fermented complete feed. Tujuan pemberian pakan fermented complete feed khususnya untuk ternak sapi potong antara lain pakan siap pakai dan memiliki kandungan nutrisi yang lengkap, peternak tidak lagi tergantung terhadap hijauan, memberikan pertambahan bobot badan lebih optimal, memperpanjang masa simpan, mengurangi biaya pakan, penggunaan pakan dan tenaga kerja lebih efisien, serta lingkungan kandang lebih sehat dan nyaman karena kotoran ternak lebih sedikit kering dan tidak berbau (Masum, 2011). Faktor yang mempengaruhi fermented complete feed.

Komposisi kandungan complete feed harus diformulasikan dengan seimbang. Komposisi kandungan complete feed yang baik mengandung protein 14% sampai 16%, serat kasar antara 16% sampai 17%, bahan kering 88,72%, dan gross energy 3.837 kcal/kg. Pencampuran bahan pakan tersebut harus homogeny dan merata supaya hasil fermentasi

memiliki kandungan nutrient yang lebih lengkap dan kualitasnya lebih tinggi (Masum, 2011). Jumlah mikrobia dan substrat yang digunakan sesuai. Penggunaan mikrobia berfungsi untuk menghasilkan enzim yang mampu mendegradasi bagian dari bahan pakan yang tidak dapat dicerna sehingga memiliki kecernaan yang tinggi. Semakin tinggi jumlah mikrobia maka semakin tinggi asam yang dihasilkan sehingga kualitasnya juga semakin meningkat (Masum, 2011).

10

Materi dan Metode

Materi Jerami Padi Amoniasi Alat. Alat yang digunakan untuk membuat jerami amoniasi adalah kantong plastik, tali rafia, cawan, timbangan dan kertas pH. Bahan. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain jerami, urea, dan air. Jerami Padi Fermentasi Alat. Alat yang digunakan untuk membuat jerami fermentasi antara lain kantong plastik, tali rafia, timbangan, gelas ukur, dan kertas pH. Bahan. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain jerami, urea, bakteri starter dan air. Fermented Complete Feed Alat. Alat yang digunakan untuk membuat fermented complete feed adalah plastik alas untuk mixing dan kantong plastik hitam untuk penyimpanan. Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah jerami, konsentrat ayam, tepung ikan, dan molasses. Metode Jerami Amoniasi. Jerami disediakan sebanyak 5 kg. Urea sebanyak 4% (200gram) dilarutkan kedalam 1 liter air kemudian larutan urea ditaburkan pada jerami hingga rata, lalu jerami dimasukkan kedalam plastik dan dibuat dalam kondisi anarobik, kemudian dilakukan

pengamatan meliputi bau, warna, tekstur sebelum dan sesudah diperam selama 21 hari. Jerami Fermentasi. Jerami disediakan seb anyak 5 kg ditambah urea sebanyak 25 gram dicampur bakteri starter 25 gram perbandingan (110 lalu ditaburkan pada jerami hingga rata, yang sebelumnya dipercikkan air terlebih dahulu, selanjutnya jerami dimaukkan dalam

11

plastik dan ditutup rapat. Amati bau, warna, tekstur sebelum dan sesudah diperam 21 hari. Fermented Completed Feed. Pembuatan complete feed dilakukan dengan mencampur jerami sebagai pakan sumber serat seberat 2 kg dicacah., ditambah 1,2 kg konsentrat ayam, 60 gram tepung ikan, dan ditambahkan campuran starter (starter, molasses, dan air).

12

Hasil dan Pembahasan

Jerami Amoniasi Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap hasil jerami amoniasi diperoleh hasil pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil pengamatan uji kualitas jerami amoniasi Lama hari Warna Tekstur Bau 0 hari Coklat Kasar Jerami kekuningan Kontrol Coklat Kasar Jerami kekuningan 21 hari Kontrol Coklat Coklat tua Kasar Kasar Normal jerami Normal jerami pH 7 7

8 8

Berdasarkan data diatas dapat dianalisis perubahan yang terjadi dalam proses pembuatan jerami padi amoniasi kelompok 4 antara lain meliputi perubahan warna, perubahan tekstur, perubahan bau, dan pH sejak pengamatan hari ke-0 dan pengamatan hari ke-21 lalu dibandingkan dengan kontrol yang ada. Perubahan yang terjadi pada pembuatan jerami padi amoniasi ini saat pengamatan 0 hari berwarna coklat kekuningan sama dengan kontrol, lalu pada pengamatan hari ke-21 terjadi perubahan warna, pada hasil jerami amoniasi praktikum dihasilkan warna coklat sedangkan pada kontrol yaitu berwarna coklat tua. Hasil tersebut menunjukan jerami hasil praktikum berkualitas cukup baik. Perubahan tekstur yang terjadi pada pembuatan jerami padi amoniasi ini yaitu pada pengamatan 0 hari didapatkan hasil tekstur jerami fermentasi hasil praktikum dan kontrol adalah sama yaitu tekstur kasar. Pengamatan 21 hari didapatkan hasil jerami amoniasi praktikum dan kontrol memiliki tekstur yang kasar. Hasil yang diperoleh pada praktikum tidak jauh berbeda dengan kontrol. Seharusnya semakin lama proses amoniasi yang dilakukan tekstur semakin halus. Menurut Rahadi (2008), proses amoniasi yang sempurna ditandai dengan tekstur jerami relatif lebih mudah putus, berwarna kuning tua atau coklat dan bau

13

amonia. Hal ini menunjukkan bahwa hasil jerami amoniasi tidak sesuai dengan literatur. Menurut Kartasudjana (2001), timbulnya bau amonia disebabkan karena adanya penambahan urea yang telah berikatan dengan jerami padi. Amonia yang berasal dari urea akan bereaksi dengan jerami padi, dengan demikian ikatan pada selulosa dan hemiselulosa akan lepas, dan mengikat NH3. Kriteria hasil amoniasi yang baik adalah berwarna kecoklatcoklatan, kering, jerami padi hasil amoniasi lebih lembut dibandingkan jerami asalnya. Berdasarkan perbandingan hasil dan literatur maka bau jerami amoniasi saat praktikum cenderung normal. Menurut Rahardi (2008), amonia menyebabkan komposisi dan struktur dinding sel yang berperan untuk membebaskan ikatan antara lignin dengan selulosa dan hemiselulosa. Reaksi yang terjadi

menyebabkan pengembangan jaringan dan meningkatkan fleksibilitas dinding sel sehingga memudahkan penetrasi (penerobosan) oleh enzim selulase yang dihasilkan mikroorganisme. Menurut Kushartono (2001), teknologi amoniasi dapat meningkatkan kandungan protein kasar jerami padi kering maupun segar di atas 10% sehingga memenuhi persyaratan pakan ternak. Jerami Fermentasi Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap hasil jerami fermentasi dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil pengamatan uji kualitas jerami fermentasi Lama hari Warna Tekstur Bau 0 hari (2%) Kontrol Coklat kekuningan Coklat kekuningan Kasar Kasar lembut, jamur Jerami Jerami Agak asam pH 8 8 6

21 hari (2%) Coklat jerami

Kontrol Coklat jerami Agak lembut Bau jerami 8 Uji organoleptik terhadap warna, tekstur, bau dan pH jerami dilakukan sebelum dan sesudah proses fermentasi. Tujuannya yaitu untuk

14

mengetahui perubahan maupun perbedaan dan kualitas jerami secara organoleptik sebelum maupun setelah proses fermentasi. Jerami yang belum melalui proses fermentasi memiliki warna coklat kekuningan, tekstur kasar, bau seperti jerami segar, dan pH 8, dan untuk jerami kontrol memiliki ciri-ciri organoleptik yang tidak jauh berbeda dengan jerami sebelum fermentasi. Proses setelah fermentasi selama 21 hari, jerami fermentasi dibuka dan diuji organoleptik untuk dibandingkan dengan jerami kontrol. Secara organoleptik jerami padi hasil fermentasi yang diperam selama 21 hari memiliki warna kuning jerami, tekstur remah, lembut, agak lembab dan basah, serta ada sedikit jamur, berbau asam, dan memiliki pH 6, sedangkan untuk jerami kontrolnya yaitu warnanya kuning jerami, agak lembut dan basah, berbau jerami dan pH 8. Berdasarkan hasil tersebut jerami fermentasi yang diperoleh tidak berhasil karena tumbuh jamur. Urea dalam proses fermentasi bermanfaat untuk mensuplai NH 3 (amonia), yang akan digunakan sebagai sumber energi bagi mikroba dalam proses fermentasi, sehingga urea dapat dinyatakan hanya sebagai katalisator, bukan sebagai penambah nutrisi pakan. Jerami fermentasi, akan memiliki Total Digestible Nutrien (TDN), atau bahan yang dapat dicerna mencapai 70%. Sebagai perbandingan, rumput atau hijauan berserat memiliki TDN maksimum 50% (Soeharto et al., 1995). Menurut Masum (2011), hasil jerami fermentasi ditentukan oleh senyawa asam yang dihasilkan oleh mikroba yang dilakukan diluar tubuh ternak. Semakin kuat tingkatan asamnya maka makin tinggi kenaikan kualitas nutrisinya. Menurut Fatma et al. (2010), pada pH 4,8 sudah menunjukkan hasil fermentasi yang baik sebagai pakan ternak dengan kualitas nutrisi yang tinggi. Berdasarkan hasil literatur tersebut perubahan pH menjadi asam menunjukkan bahwa serat kasar yang terdapat dalam jerami telah dimanfaatkan secara baik menghasilkan asam oleh bakteri yang ditambahkan sehingga hasil jerami fermentasi tersebut memiliki daya cerna yang cukup tinggi sebagai pakan ternak.

15

Terlihat adanya perubahan tekstur dan pH pada jerami fermentasi sebelum maupun sesudah proses pemeraman menggunakan probiotik. Tekstur jerami setelah dilakukan pemeraman menjadi lebih remah, lembut dan dan agak basah serta timbul jamur. Timbulnya jamur disini dapat disebabkan karena pada waktu pemeraman jerami tidak terbungkus dengan rapat sehingga spora jamur dapat masuk dan tumbuh pada jerami. Hasil fermentasi menunjukkan bahwa pH jerami menurun setelah fermentasi baik pada pemeraman selama 21 hari. Hal ini dapat terjadi karena adanya proses perombakan substrat-substrat yang terkandung dalam jerami oleh bakteri starbio sehingga dapat mempengaruhi perubahan tekstur jerami yang tadinya kasar menjadi remah dan lembut serta terjadi perubahan nilai pH jerami yaitu nilai pH menurun akibat peranan bakteri dalam menghasilkan asam laktat. Berdasarkan hasil praktikum apabila dibandingkan dengan kontrol memiliki hasil yang relatif sama, ini berarti bahwa hasil praktikum sudah sesuai dengan kontrol. Fermented Complete Feed Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh hasil fermentasi pakan lengkap pada tabel 3. Tabel 3. Hasil fermentasi complete feed Perlakuan pH Hari ke-0 Warna Bau pH Hari ke-4 Warna Bau

Jerami + Konsentrat + Coklat Jerami Coklat Harum T.ikan + 7 6 (jerami) kering (jerami) (manis) molasses + starter Berdasarkan hasil praktikum, hasil fermentasi pakan komplit memiliki karakteristik pH 6, warna coklat, dan bau harum. Menurut Sumarso et al. (2011), complete feed merupakan teknologi yang mengembangkan pakan dengan menggunakan sisa pertanian seperti jerami padi, cotton seed meal, dan coconut pod yang dicampur dengan konsentrat sehingga kebutuhan karvohidrat, protein, dan lemak untuk mempertahankan mikrobia rumen dan memproduksi produk ternak.

16

Menurut Masum (2011), hasil dari fermentasi complete feed seharusnya memiliki pH asam, bau harum dan segar, serta warna tidak ada perubahan dari hari ke-0. Hal ini menunjukkan bahwa hasil fermentasi complete feed telah sesuai dengan literatur. Menurut Masum (2011), semakin tinggi jumlah mikrobia maka semakin tinggi asam yang dihasilkan sehingga kualitasnya juga semakin meningkat. Pakan fermentasi lebih banyak menggunakan karbohidrat sehingga mikrobia dapat mengkonversi karbohidrat tersebut menjadi asam laktat yang nantinya digunakan ternak sebagai sumber energi.

17

Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, hasil jerami amoniasi dan fermentasi complete feed tidak sesuai dengan literatur. Jerami amoniasi yang diperoleh tidak tidak terjadi perubahan nyata pada jerami asal yang diamoniasi ditunjukkan dengan perubahan pH yang tidak begitu berpengaruh, tekstur tetap kasar, dan timbul jamur pada jerami fermentasi. Faktor yang mempengaruhi adalah kondisi pemeraman yang tidak sesuai sehingga keadaan aerob tidak dapat dijaga dan

menyebabkan tumbuhnya jamur jerami fermentasi. Tujuan jerami diberi perlakuan fermentasi dan amoniasi adalah untuk memperbaiki kualitas nutrient jerami sehingga menjadi pakan yang layak diberikan untuk ternak.

18

Daftar Pustaka

_____. 2000. Pembuatan jerami fermentasi. instalasi penelitian dan pengkajian teknologi pertanian mataram. No.02/Liptan/2000. Agek:59. _____. 2000. Pakan Ternak. Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Hal 1-13. Amini, R. 1999. Pengaruh Jerami Padi Yang Difermentasi Dengan Pleurotus ostreatus Untuk Meningkatkan kecernaan Jerami (In vitro). Peternakan dan Lingkungan. Edisi Februari. Vol. 5. Basuki, T., dan R Wiryasasmita. 1992. Improvement of The Nutritive Value Straw by Biological Treat. In : M. Soejono., A. Musofie., R. Utomo., N. K. Wardani dan J. B. Schiere. Limbah Pertanian Sebagai Pakan dan Manfaat Lainnya. Proceeding Bioconversion Project. Second workshop Crop residues For Feed and other purpose. Grati 16-17 November. Hal : 86-10 Darwis, A.A dan E. Sukara. 1990. Teknologi mikrobial. PAU Biotek. IPB. Bogor. Hartadi, H. 1992. Fermentasi silase shorgum biji dan kedele yang ditanam tumpang sari. Bul. Pet. 16:98-103. Kartadisastra, H. R.1997.Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Kanisius. Yogyakarta. Kartasudjana, R. 2001. Mengawetkan Hijauan Pakan Ternak. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta. Jakarta. Lehninger, A. L. 2000. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. PT Erlangga, Jakarta. Masum, Mursyid. 2011. Pedoman Pengembangan Lumbung Pakan Rumansia. Direktur Pakan Ternak. Jakarta. Mc. Donald, P. 1991. The Biochemistry of Silase.John Willey and Sons. New York. USA. Nurwantoro, D. J. dan Arijah, A. S. 1994. Mikrobiologi Pangan HewaniNabati. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Sumanti, Deddy. 2011.Teknologi Fermentasi dan Pelatihan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

19

Utomo, R, S.P.S Budhi, A. Agus, C.T Noviandi, 2008. Teknologi dan Fabrikasi Pakan. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta Zain, M. 2008. subtitusi rumput lapangan dengan kulit buah coklat amoniasi dalam ransum domba lokal. J. Media Peternakan 32: 4752. Zulkarnaini. 2009. Pengaruh suplementasi mineral fosfor dan sulfur pada jerami padi amoniasi terhadap kecernaan ndf, adf, selulosa, dan hemiselulosa. J. Ilmiah Tambua. 8:473-477.

20

Lampiran

21

ACARA II TEKNOLOGI PENGOLAHAN KONSENTRAT Tinjauan Pustaka

Bahan Pakan Pakan atau feed adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Adapun pangan atau food adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh manusia. Pangan dan pakan mempunyai kemiripan, perbedaannya terletak pada cara

pemanfaatannya dan pengolahannya. Pakan ternak mengandung empat golongan zat makanan, yaitu karbohidrat, protein, lemak dan zat-zat mineral (Retnani, 2011). Konsentrat Konsentrat adalah bahan pakan rendah serat kasar dan tinggi kandungan nutrien yang lain. Pakan konsentrat adalah setiap bahan pakan yang kandungan serat kasarnya kurang dari 18% dan TDN-nya diatas 60% berdasarkan bahan kering. Nutrien lain yang tinggi kandungannya dapat hanya satu macam nutrien atau lebih, dan gunanya untuk menambah atau mempertinggi nutrien di dalam campuran pakan atau ransum agar terpenuhi apa yang dibutuhkan ternak. Berdasarkan macam nutrien yang terkandung di dalamnya, maka ada dua macam bahan pakan konsentrat utama yaitu konsentrat sumber energi dan konsentrat sumber protein. Konsetrat sumber energi yaitu semua macam bahan pakan yang merupakan sumber energi dan mengandung serat kasar kurang dari 18%, dinding sel kurang dari 35% dan protein kasar kurang dari 20%. Kegunaan konsentrat sumber energi terutama adalah untuk menaikkan jumlah konsumsi energi atau untuk menaikkan densitas energi di dalam ransum. Energi yang terkandung di dalam konsentrat energi terutama berasal dari karbohidrat yang mudah larut ataupun minyak dan lemak. Bahan pakan yang tinggi kandungan energinya (DE, ME, atau NE) pada umumnya mengandung protein rendah

22

sampai sedang. Ternak lebih mudah mendapatkan energi dari konsentrat energi daripada yang berasal dari forage walaupun energi bruto (GE) hampir sama. Konsentrat energi meliputi berbagai macam bahan pakan butiran sebangsa padi termasuk hasil sampingannya, berbagai macam jenis umbi, berbagai macam jenis tetes dan yang sejenis, berbagai macam minyak dan lemak dan bahan pakan sumber energi lain (Retnani, 2011). Konsetrat sumber protein adalah kumpulan semua macam bahan pakan yang mengandung protin kasar lebih dari 20%. Penggunaan konsentrat protein terutama ditujukan untuk unggas muda, ternak tumbuh cepat dan ternak produksi tinggi. Berdasarkan sumbernya, konsentrat protein berasal dari ikan laut, hewan darat, tanaman dan asam amino sintetik. Konsentrat protein terdiri dari tiga macam yaitu konsentrat protein hewani, konsentrat protein nabati dan konsentrat protein sinteti

(Anggorodi, 1999). Bekatul jagung. Jagung atau zea mays merupakan bahan pakan sumber energi dari bahan baku nabati dalam komponen penyusun pakan ternak yang digunakan dalam proses pembuatan pakan di pabrik pakan. Jagung memiliki energi metabolis 3.329 kcal/kg, protein kasar 8,6% dan kandungan serat kasarnya 2,5% (Retnani, 2011). Alamsyah (2008) menyatakan bahwa jagung sering disebut the king of cereal atau the golden grain, hal ini karena jagung mempunyai nilai nutrien yang tinggi. Beberapa sifat jagung antara lain palatabel, serat kasar rendah, nilai kecernaan tinggi yaitu TDN-nya sekitar 80%. Energi jagung jagung digunakan sebagai standar untuk

membandingkan dengan energi dari bahan pakan butiran lain. Bila energi jagung diberi 100 ternyata nilai energi butiran yang lain adalah kurang dari 100. Penggunaan jagung sebagai pakan dapat diberikan pada ternak dalam keadaan masih dalam bentuk bulir utuh, sudah digiling kasar, digiling kasar bersama tongkol dan masih dalam keadaan segar bersama tongkolnya (Retnani , 2011). Kelebihan dan kekurangan jagung antara lain

23

jagung kuning mengandung pigmen kriptosantin yang sebagian dapat diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh ternak, kandungan protein (zein) dan mineral rendah, kandungan sistin tinggi tetapi metionin, lisin dan triptofan rendah, kandungan lisin dan triptofan pada jagung opaque-2 tinggi, dapat diberikan pada semua jenis ternak (Bahnke, 1996). Pollard. Pollard merupakan hasil samping penggilingan gandung yang mengandung kulit ari gandum halus serta mempunyai kandungan serat dan protein yang tinggi dan profil asam aminonya mirip gandum. Protein pollard lebih tinggi daripada protein jagung dan mengandung lisin dua kali lipat lebih banyak daripada protein endosperm (Retnani, 2011). Ichwan (2003), menyatakan bahwa pollard merupakan limbah dari pengolaha gandum. Kandungan nutrien pollard cukup baik yaitu energi metabolisme 1.140 kkal/kg, protein 11,8%, serat 11,2%, dan lemak 3,0%. Martawijaya (2004), menyatakan bahwa white pollard memiliki protein 11,99%, lemak 1,48%, karbohidrat 64,75%, abu 0,64%, serat kasar 3,75%, dan air 17,35%. Kandungan nutrien tepung pollard cukup baik karena energi metabolisme yang terkandung sebesar 1.140 kkal/kg. Bekatul. Bekatul merupakan hasil sampingan atau limbah

penggilingan padi. Sebanyak 8 hingga 8,5% berat padi adalah bekatul. Nutrien yang terdapat dalam bekatul, yaitu protein kasar 9 hingga 12%, pati 15 hingga 35%, lemak 8 hingga 12%, serat kasar 8 hingga 11%. Kandungan serat kasar yang lebih tinggi daripada jagung atau sumber lain menyebabkan bekatul diberikan dalam jumlah yang terbatas tergantung pada jenis ternaknya. Sebaiknya bekatul dijemur terlebih dahulu selama 3 hingga 4 hari untuk menghindari serangga atau bau tengik agar kualitas bekatul tidak berkurang. Penjemuran dilakukan sebelum bekatul disimpan atau digunakan sebagai bahan baku pakan. Ketersediaan bekatul yang tergantung pada musim panen padi,sifatnya yang mudah rusak, dan menjadi kebutuhan utama bagi peternak yang membuat pakan campuran sendiri mendorong tingginya harga bekatul di pasaran. Hal ini

dimanfaatkan oleh para penjual maupun pengepul bekatul dengan

24

memanipulasi isi bekayul agar diperoleh keuntungan yang lebih banyak. Beberapa bahan yang sering digunakan untuk memanipulasi bekatul yaitu sekam giling, gamping, zeolit, dan limbah tepung tapioka (onggok) Agus,(2007). Konsentrat itik. Ransum makanan yang terdiri dari berbagai unsur atau komponen makanan yang jumlahnya relatif kecil harus bercampur merata (homogen), sehingga setiap kali itik makan selalu menerima makanan dengan susunan zat yang sama (Anggorodi, 1999). Kandungan nutrien yang terdapat dalam konsentrat itik antara lain protein kasar berkisar 40%, TDN-nya 45%, BK 12,9% (Agus, 2007). Garam. Garam sering disebut sebagai natrium klorida. Garam terdiri atas natrium (39%) dan klorin (59%) yang diperlukan oleh sapi untuk pemeliharaan dan produksi. Kebutuhan zat-zat tersebut biasanya tercukupi dalam pakan. Aturan penambahan garam untuk mencukupi kebutuhan natrium adalah 14 gram untuk pemeliharaan dan 28,3 gram untuk setiap tambahan 13,6 kg produksi susu harian. Misalnya, sapi yang memproduksi 27,2 kg susu harus mengkonsumsi 71 g garam per hari. Garam harus tersedia secara bebas untuk sapi-sapi dan ternak muda dalam bentuk balok atau serbuk agar dapt dikonsumsi sesuai kebutuhan masing-masing (Anggorodi, 1999). Molases atau tetes gula tebu. Tetes gula tebu merupakan hasil ikutan penggilingan tebu untuk dijadikan gula. Tetes gula tebu

mengandung gula hingga 77 % dan protein kasar sebesar 3.5%. tetes gula tebu berwarna coklat kemerahan, kalau dicicip terasa manis. Oleh karena itu, tetes banyak digunakan pada pakan sapi untuk menambah nafsu makan ternak. Bahan pakan ini dapat dimanfaatkan untuk mengontrol debu pada pakan kering (Agus, 2007). (kurang kandungan nutrein). Tepung tapioka. Tepung tapioka adalah produk samping ekstraksi pati singkong. Tepung ini juga disebut produk sampingan tapioka. Tepung tapioka mempunyai kandungan protein rendah, tetapi tinggi kandungan

25

karbohidrat non strukturalnya dan mengandung 72% pati (%BK). Kandungan energi pada tepung tapioka sedikit lebih rendah daripada biji barley. Bahan perekat atau pengikat diperlukan untuk mengikat komponen bahan pakan agar mempunyai struktur yang kompak sehingga tidak mudah hancur, dan mudah dibentuk pada proses pembuatannya. Bahan perekat yang biasa digunakan dalam pembuatan pakan ternak berbentuk pellet antara lain tapioka, sagu, tepung gaplek, dan agar-agar. Bahan perekat dapat digunakan dengan cara dicampurkan secara langsung dengan bahan baku pakan lain pada saat masih kering atau dapat dibuat adonan tersendiri dan dicampurkan terakhir sebelum dilakukan

pencetakan pellet (Agus, 2007). Tahapan pembuatan pellet antara lain grinding atau pencacahan, mixing atau pencampuran dan pelleting atau pembuatan pellet. Grinding atau pencacahan Grinding adalah proses pengurangan ukuran partikel bahan dari bentuk kasar menjadi ukuran yang lebih halus untuk menyempurnakan proses mixing yaitu hasil pencampuran yang merata dan menghindari segregasi partikel-partikel bahan (Retnani, 2011). Grinding atau

pencacahan akan memperkecil ukuran partikel pakan, meningkatkan kecernaan khususnya bagi butiran yang bijinya keras. Partikel yang lebih kecil akan memperluas permukaan sehingga kecernaannya akan meningkat, mengakibatkan laju aliran pakan dalam saluran pencernaan meningkat, saluran pencernaan cepat kosong, dan pada gilirannya akan meningkatkan konsumsi pakan. Penggilingan juga penting jika bahan itu akan dicampurkan dengan lainnya sehingga akan bercampur secara mesra (homogen), seragam dan meningkatkan kegunaan ransum tersebut bagi ternak (Anggorodi, 1999). Tujuan dari proses meningkatkan luas grinding atau pencacahan bahan antara lain

permukaan

partikel

terhadap

sistem

pencernaan sehingga meningkatkan daya cerna bahan. Memperbaiki cara penanganan terhadap bahan baku. Memperbaiki karakteristik mixing dari

26

setiap bahan pakan sehingga bisa diperoleh hasil mixing yang lebih homogen. Meningkatkan efisiensi pelleting dan kualitas pellet karena persentase tepung bisa dikurangi dan mengurangi pekerjaan ulang dari proses pelleting akibat banyaknya tepung yang kembali ke sistem pellet (Agus, 2007). Bahan - bahan yang harus melewati proses grinding adalah jagung, sorghum, cassava chips, groundnut meal, rape seed meal, linseed meal, soyabean meal, copra meal. Kebanyakan sumber protein asal hewani sudah dalam bentuk halus sehingga tidak perlu digiling. Sistem feedmill mengadopsi teknik grinding dengan 2 pendekatan yaitu sistem pre grinding dan post grinding. Sistem pre grinding, semua bahan baku kasar yang harus dihaluskan akan masing-masing menjalani proses grinding untuk kemudian ke tahap mixing. Sistem ini cocok untuk pakan tepung khususnya ayam petelur dan memungkinkan mengatur komposisi ukuran partikel hasil grinding sehingga tidak semua ukuran partikel akhir menjadi seragam menyebabkan tampilan pakan lebih menarik misalnya ukuran jagung yang lebih besar sehingga terlihat lebih kuning. Sistem post grinding, hasil mixing akan disalurkan ke hammer mill untuk proses grinding yang kedua kalinya. Dengan cara ini akan diperoleh hasil pakan yang sangat halus dan kualitas pellet yang jauh lebih baik. Sistem post grinding cocok untuk feedmill dimana persentase pakan pellet atau butiran sangat dominan (Bahnke, 1996). Karakteristik bahan menentukan efisiensi grinding. Bahan dengan kadar air tinggi akan mempersulit grinding karena bahan cenderung lengket dan sulit keluar dari lubang saringan. Bahan kering cenderung cepat keluar dari ruang grinding tetapi menimbulkan lebih banyak debu. Benturan pisau hammermill dengan partikel bahan akan menimbulkan panas terlebih apabila partikel bahan tidak cepat keluar dan cenderung berputar-putar dalam ruang grinding. Oleh karena itu hammer mill telah diperlengkapi dengan alat bantu penyedot debu sehingga partikel bahan cepat keluar dari ruang grinding ((Utomo et al. 2008).

27

Prosedur grinding ada tiga macam yaitu cutting, chrushing, dan shearing. Cutting adalah proses dimana bahan diperkecil ukurannya melalui pemotongan dengan pisau yang tipis dan tajam. Crushing adalah prosedur yang mempergunakan tenaga penumbukan atau dengan roller. Shearing, yaitu kombinasi antara cutting dan crushing. Proses grinding terjadi apabila partikel yang akan dikurangi ukurannya bersinggungan dengan permukaan grinder dalam kecepatan yang tinggi. Reduksi dari ukuran partikel tergantung pada kecepatan relatif dari partikel dan bentuk permukaan grinder (Utomo et al. 2008). Mixing atau pencampuran. Mixing atau pencampuran merupakan proses pencampuran atau mengkombinasikan dengan menggerakkan dua atau lebih materi untuk tingkat penyebaran yang spesifik. Tujuan mixing adalah untuk

mendistribusikan secara seragam nutrien yang ada dalam bahan pakan (Agus, 2007). Pencampuran bahan-bahan dilakukan secara bertahap mulai dari bahan yang volumenya kecil hingga bahan yang volumenya besar. Proses pencampuran dapat dilakukan dalam wadah menggunakan pengaduk dalam pencampuran bahan pakan dalam jumlah kecil sementara pencampuran bahan pakan dalam jumlah besar biasanya menggunakan mesin pencampur (Utomo et al. 2008). Proses pencampuran dikatakan telah berlangsung dengan baik jika komponen yang dicampur dari sampel yang diambil selama proses pencampuran telah terdistribusi melalui komponen lain secara acak. Halhal yang perlu diperhatikan pada saat pencampuran bahan pakan antara lain kestabilan bahan atau pakan yang digunakan, jarak waktu pencampuran dengan penggunaan pakan dan peralatan yang digunakan (Agus, 2007). Pelleting. Pelleting merupakan salah satu proses pengolahan pakan dengan menggabungkan beberapa bahan pakan yang telah melalui proses grinding sehingga menjadi bentuk yang kompak melalui proses

28

penekanan (proses mekanik). Pelleting bertujuan untuk membentuk suatu kesatuan pakan yang tidak mudah tercecer. Proses pelleting

menggunakan mesin pelletizer. Pelleting yang dilakukan dengan mesin pelletizer akan mengefisienkan proses pengolahan karena pellet akan

berlangsung mengering sehingga tidak perlu lagi proses pengeringan (Agus, 2007).

29

Materi dan Metode

Materi Grinding Tidak melakukan praktikum grinding tetapi diperkenalkan mesin untuk grinding antara lain hammer mill, disk mill, willey mill. Mixing. Alat yang digunakan adalah mesin pencampur jenis vertikal. Bahan yang digunakan pollard, bekatul, konsentrat itik, bekatul jagung, dan garam. Pelleting. Alat yang digunakan yaitu plastik, ember, timbangan, mesin pellet. Bahan yang digunakan adalah dedak halus, pollard, molases, konsentrat itik, jagung giling, tepung tapioka, air.

Metode Grinding. Tidak melakukan proses grinding tetapi hanya dijelaskan cara penggunaan mesin grinding dan dijelaskan tentang mesin grinding yaitu hammer mill, disk mill, willey mill. Mixing. Bahan pakan ditimbang dan dicampur sesuai formulasi. Urutan pencamuran dari bahan pakan yang mempunyai komposisi terbesar. Pencampuran bahan pakan menggunkan vertical mixer. Lama pencampuran bahan pakan selama praktikum dibedakan menjadi 3 macam yaitu lama mixing 5, 10, dan 15 menit kemudian dilihat hasil pencampurannya. Proporsi bahan yang digunakan sebagai berikut pollard 29,41%; bekatul 41,17%; bekatul jagung 25,88% dan garam 3,53%. Pelleting. Semua bahan dicampur supaya homogen kemudian ditambahkan tepung tapioka yang sudah diencerkan dengan air hangat. Campuran diaduk secara merata dan langsung dimasukkan ke dalam mesin pelletizer dan dilanjutkan dengan proses pemeletan. Proporsi bahan pakan yang digunakan dalam proses pelleting atara lain hasil mixing (pollard, bekatul, bekatul jagung dan garam) 85%, molasses 5% dan tepung tapioka 10%.

30

Hasil dan Pembahasan Grinding Berdasarkan hasil praktikum, praktikan tidak melakukan proses grinding. Bahan baku pakan yang dibuat dalam praktikum sudah melalui proses grinding. Asisten menjelaskan tentang grindingmacam-macam mesin grinding dan tata cara penggunaan mesin grinding. Mesin grinding antara lain adalah hammer mill, disk mill dan willey mill. Grinding merupakan proses pengolahan pakan dengan cara pengurangan ukuran partikel. Paling umum digunakan, paling murah, dan metodenya sederhana (Agus, 2007). Tujuan proses grinding atau penggilingan antara lain untuk mempermudah kegiatan pembuatan pakan konsentrat, ternak mudah mengkonsumsi dan meningkatkan performa ternak. Hal tersebut disebabkan karena melalui proses grinding atau pencacahan maka ukuran partikel bahan pakan menjadi lebih kecil (Utomo et al. 2008). Alasan dilakukannya penurunan ukuran bahan, yaitu meningkatkan luas permukaan yang tersedia bagi enzim dalam proses pencernaan dan meningkatkan homogenitas. Proses penurunan ukuran partikel akan meningkatkan nilai manfaat bahan baku selama proses pencampuran dan proses pelleting. Penurunan ukuran partikel mempunyai batas-batas tertentu, jika terjadi penggilingan yang berlebihan dapat menyebabkan timbulnya kasus gastric ulcer pada ternak. Rata-rata ukuran partikel adalah 700 mikron dengan range 600 sampai 800 mikron pada ransum (Utomo et al. 2008). Alamsyah (2008) menyatakan bahwa ukuran partikel bahan dari hasil proses penggilingan dengan kategori fine (halus) memiliki permukaan yang luas sehingga mudah menyerap air dan menerima panas. Macam-macam mesin grinding antara lain hammer mill, mish mill dan willey mill. Hammer mill memiliki beberapa bagian penting salah satunya adalah grinder untuk menggiling bahan pakan. Proses grinding cukup penting mengingat proses pencampuran bahan baku akan berjalan

31

dengan baik apabila bahan baku yang akan dicampur sudah memiliki besar butir yang relatif seragam. Pengecilan bahan pakan terdiri dari 3 tahap yaitu penggilingan kasar dengan hammer mill (kalau perlu didahului dengan crusher atau penghancur), penggilingan halus dengan dish mill, dan pengayakan dilakukan dengan ukuran mash halus (Alamsyah, 2008). Hammer mill terdiri atas silinder atau root yang terdiri atas beberapa plat yang terpaut pada as atau main shaft atau axle. Pada setiap ujung plat ada lubang yang dirangkai dengan pins atau kawat sehingga plat atau hammer terpaut pada asa dan bebas pada ujung plat yang lain. Lubang screen pada hammer mills dapat 1/32 in sampai 2 in atau lebih. Hammer mills mungkin single, double atau triple. Hammer mills dapar digunakan untuk mengiling biji maupun hijauan (Utomo et al. 2008).

Gambar 1. Grinding dan Keterangannya

Mixing Bahan pakan yang digunakan untuk mixing diantaranya adalah pollard, bekatul, bekatul, bekatul jagung, dan garam. Proporsi masingmasing bahan sebagai berikut pollard 29,41%; bekatul 41,17%; bekatul

32

jagung 25,88% dan garam 3,53%. Penimbangan bahan pakan dilakukan melalui perhitungan menggunakan kandungan nutrien tiap bahan terhadap 75 kg total berat keseluruhan bahan pakan. Jumlah bahan pakan yang digunakan harus sesuai dengan kandungan nutriennya untuk memenuhi kebutuhan ternak. Sugihartina (2013) menjelaskan bahwa proporsi bahan harus sesuai dengan imbangan nutrien yang terkandung dalam pakan. Penimbangan bahan-bahan harus dilakukan dengan timbangan yang mempunyai tingkat ketelitian tinggi terutama untuk bahanbahan dengan jumlah kecil seperti vitamin, mineral, kalsium, asam amino kristal, pemacu pertumbuhan, dan lain-lain. Sampel bahan diambil tiap 5 menit, 10 menit dan 15 menit. Berdasarkan hasil praktikum sampel yang paling bagus adalah sampel yang diambil pada saat 15 menit. Sampel yang diambil pada saat 15 menit sudah merata seluruh komponen bahan pakan dan homogen sedangkan sampel yang diambil pada saat 5 menit belum merata dan ukuran partikel bahan masih kasar dan sampel yang diambil pada saat 10 menit sedikit lebih merata dan ukuran partikel bahan pakan mulai agak halus. Fatmawati (2003) menyatakan proses pencampuran secara premixing

pada mixer horizontal membutuhkan waktu 10 menit agar pakan homogen dan pencampuran mixing akhir pada mixer vertikal selama 15 menit supaya pakan homogen. Sampel bahan pakan yang homogen terdapat pada menit ke 15. Alamsyah (2008), juga menjelaskan bahwa mixer tipe vertikal berkapasitas diatas 1000 kg per mix, digunakan untuk mencampur bahan pakan dalam keadaan kering. Satu kali mix memakan waktu berkisar 15 sampai 20 menit, tergantung bahan yang digunakan. Kelebihan dari alat ini kebutuhan tenaga relatif lebih kecil, dan tidak memakan tempat dalam tata letak di ruangan. Berdasarkan data yang dibandingkan dengan literatur tentang lama pencampuran bahan pakan hingga homogen yang dilakukan di praktikum sesuai dengan literatur. Bahnke (1996) menambahkan kualitas mixing dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ukuran partikel, berat spesifik, bentuk partikel,

33

higroskopisitas dari partikel, kepekaan terhadap daya rekat pada permukaan yang kasar atau akibat penambahan minyak dan lama mixing, kecepatan putaran motor dan kapasitas mixer yang tepat. Suparjo (2010) menambahkan bahwa waktu pencampuran diperlukan untuk

menghasilkan penyebaran bahan baku yang homogen yang perlu diukur untuk setiap mixer proses pencampuran yang baik akan menghasilkan produk yang seragam pada waktu yang pendek dengan biaya, energi dan tenaga kerja yang minimum. Bagian mixer adalah sebagai berikut :

Gambar 2 . bagian-bagian mixer (Suparjo,2010) Garam digunakan sebagai parameter homogenisasi pada

pencampuran bahan dalam mixer. Garam paling umum terdapat dalam ransum, berasal dari satu sumber, tidak mahal dan relatif mudah diuji. Rosida dan Martini (1999) menjelaskan bahwa analisis kadar garam dapat digunakan untuk menguji homogenitas pencampuran. Suparjo (2010)

menjelaskan bahwa garam merupakan salah satu bahan baku mikro yang dapat digunakan dalam menguji performans mixer. Sifat fisik garam sebagai bahan uji adalah lebih padat, bentuk kubik dan lebih kecil dibanding partikel lain. Mixing atau pencampuran merupakan proses pencampuran atau mengkombinasikan dengan menggerakkan dua atau lebih materi untuk tingkat penyebaran yang spesifik. Tujuan mixing adalah untuk mencampur
34

bahan yang ada sehingga terbentuk adonan yang homogen sehingga nutrien dapat terdistribusi secara merata apabila pakan sudah dibentuk melalui proses pelleting (Agus, 2007). Prinsip kerja dalam proses mixing yaitu pencampuran dimulai dari bahan pakan yang memiliki partikel lebih besar kemudian dimasukkan bahan pakan yang berukuran lebih kecil (Bahnke, 1996). Suparjo (2010) menyatakan bahwa ukuran partikel bahan baku butiran dikontrol melalui proses penggilingan, bahan yang digiling kasar mempunyai pengaruh terhadap produk akhir. Variasi ukuran partikel yang besar mengurangi kemungkinan pencampuran bahan baku dan menyebabkan peningkatan pemisahan bahan setelah pencampuran. Alat untuk proses mixing saat praktikum dengan mixer vertikal. Mixer vertikal bekerja menghomogenkan bahan pakan dengan memutar bahan dari arah bawah keatas. Alamsyah (2008), menjelaskan bahwa faktor yang menentukan kerataan campuran bahan pakan antara lain adalah ukuran butiran dan berat dari masing-masing bahan pakan yang akan dicampur disamping sistem kerja alat dalam mencampur. Mesin mixing ada dua macam yaitu vertical mixer dan horizontal mixer. Retnani (2011) menyatakan mesin mixing memiliki kapasitas yang berbeda, untuk mixer tipe horizontal dengan kapasitas 300 sampai 500 kg (daya motor 12 hp) dan mixer tipe vertikal dengan kapasitas mencapai lebih 2 ton/jam (daya motor 3 hp dan hp). Berdasarkan kegiatan praktikum yang dilakukan, dilakukan proses mixing menggunakan vertikal mixer. Utomo et al. (2008) menyatakan bahwa penggunaan vertikal mixer memiliki beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungan menggunakan vertical mixer antara lain ekonomis untuk peternakan yang mencampur sendiri bahan pakan, biaya instalansi lebih rendah, sistem alur produksi yang sederhana. Sementara, kerugiannya adalah waktu pencampuran lama, cairan yang ditambahan tidak sebanyak pada horizontal mixer, keterbatasan jumlah bahan yang dipakai dan kapasitas pencampuran, tidak dapat membersihkan sendiri, perlu kehati-hatian dalam menangani

35

sisa adonan, dan penurunan efisiensi pencampuran akibat bahan yang dimasukan terlalu banyak atau kerusakan ribbon (Retnani, 2011). Proses mixing diawali dengan menimbang bahan-bahan pakan sesuai dengan formulasinya. Bagian alat mixer terdiri dari vertical screw conveyor yang berfungsi mengangkat atau menaikkan bahan pakan ke atas dan mencampurnya (Utomo et al. 2008). Urutan pencampuran dari bahan pakan yang mempunyai komposisi terbesar sampai yang terkecil. Hal ini dilakukan agar proses pencampuran bahan pakan lebih merata. Untuk bahan pakan yang memiliki ukuran partikel yang lebih besar dimasukkan terlebih dahulu dengan tujuan agar proses mixing pada bahan pakan yang memiliki ukuran partikel lebih besar dapat homogen dengan bahan pakan yang memiliki ukuran partikel yang kecil (Bahnke, 1996). Pelleting Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pellet diantaranya adalah bahan pakan hasil mixing (pollard, bekatul, bekatul jagung dan garam), molasses , tepung tapioka. Proporsi bahan pakan hasil mixing (pollard, bekatul, bekatul jagung dan garam) 85%, molasses 5% dan tepung tapioka 10%. Pellet yang dihasilkan pada praktikum kompak, tidak mudah pecah dan bentuknya silindris, sedangkan Parakkasi (1999) menyatakan bahwa proses pelleting mengkompresikan pakan berbentuk tepung dengan bantuan uap panas (steam) untuk menghasilkan bentuk pakan yang silindris dan tidak mudah pecah. Berdasakan literatur dapat diketahui bahwa pellet yang dibuat dalam praktikum sudah sesuai dengan literatur. Khalil dan Suryahadi (1999) menyatakan bahwa beberapa variabel yang mempengaruhi proses pembuatan pellet yaitu karakteristik bahan baku meliputi formulasi ransum, keseragaman, ukuran partikel, kadar air dan kehalusan gilingan sedangkan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pellet antara lain rasio antara diameter dan panjang lubang die, kecepatan perputaran ring lubang die, kecepatan aliran bahan baku, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan, dan

36

penekanan pada lubang die, komposisi kandungan zat makanan, temperatur dalam ruang mesin pellet, kelembaban lingkungan. Pelleting merupakan salah satu proses pengolahan pakan dengan menggabungkan bahan pakan yang sudah melalui proses mixing sehingga menjadi bentuk yang kompak melalui proses penekanan. Pelleting bertujuan untuk membentuk suatu kesatuan pakan yang tidak mudah tercecer, selain itu pakan dalam bentuk pellet akan mengurangi susut nutrien karena seluruh bahan akan terwakili dalam pellet (Agus, 2007). Pelleting diproses menggunakan mesin pelletizer. Bahan pakan yang telah melalui proses mixing, kemudian dicampur dengan molases dan tepung tapioka yang sudah dilarutkan dalam air hangat. Selama proses pencampuran dilakukan pengadukan secara manual dengan tujuan untuk mendapatkan adonan yang kompak sehingga ketika dimasukkan ke dalam mesin pelletizer tidak mudah

hancur. Pencampuran tepung tapioka dan molases dalam air hangat dimasuksudkan agar proses penyatuan bahan tersebut dapat berjalan dengan sempurna.Hal tersebut dapat terjadi karena di dalam tepung

tapioka terdapat amilopektin yang dapat digunakan sebagai bahan pelekat. Amilopektin dalam tepung tapioka mempunyai bentuk granula. Granula amilopektin akan membengkak apabila ditambah volumenya

dengan air hangat. Keadaan ini disebut sebagai proses gelatinasi. Gelatinisasi adalah suatu proses pemecahan bentuk kristalin granula pati, sehingga setiap lapisan permukaan molekulnya dapat menyerap air atau larut dan bereaksi dengan bahan lain, dan kondisinya tidak dapat kembali seperti semula. Beberapa manfaat gelatinisasi pada pati yaitu: (1) meningkatkan konversi dan kecernaan pakan ; (2) mampu meningkatkan penyerapan sejumlah air; dan (3) dapatmeningkatkan kecepatan reaksi enzimatis (amilase) untuk memecah ikatan pati menjadi bentuk lebih sederhana yang mudah larut (Uhi, 2006). Retnani (2011) menyatakan tepung tapioka banyak mengandung pati dan pada saat pengukusan pati akan diubah menjadi zat perekat atau

37

gelatin oleh uap panas. Penambahan air dapat dilakukan di luar seperti halnya pada pembuatan kanji atau puding. Setelah penambahan air maka terbentuklah suatu suspensi yang apabila dipanaskan akan terjadi

perubahan berupa pembentukan struktur gelatinasi. Hartadi et al.(2005) menjelaskan lebih lanjut bahwa kadar air yang lebih dari 20% akan menurunkan kekentalan larutan gel hasil gelatinisasi. Tepung tapioka yang telah tercampur dimasukkan pada campuran bahan pakan hingga membentuk adonan yang kompak, setelah adonan tersebut kompak lalu adonan tersebut dimasukkan kedalam mesin pelletizer. Agus (2007) menyatakan bahwa ransum dengan kandungan serat tinggi akan menghasilkan pellet yang keras, sedangkan ransum yang tinggi kandungan lemak dan air akan menghasilkan pellet yang rapuh. Bahnke (1996) menyatakan berbagai faktor yang mempengaruhi kualitas pellet adalah conditioning, spesifikasi pakan, ukuran partikel, pendinginan atau pengeringan, dan formulasi. Sugihartina (2013) menjelaskan bahwa sistem kerja mesin pellet adalah dengan mendorong bahan pakan campuran didalam tabung besi atau baja mengan menggunakan ulir (screw) menuju cetakan (die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang-lubang berdiameter 2 sampai 3 mm sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam bentuk pellet. Jenis alat dan mesin yang dipergunakan untuk pembuatan pakan ternak pada pabrik pakan skala kecil diantaranya adalah 1). Pencetak Pellet (Pelletizer). Pakan bentuk pelet dibuat dengan menggunakan mesin pellet (pelletizer) 2 (dua) tipe mesin pellet yang umum digunakan yaitu mesin pellet proses basah ( tipe horizontal dengan penekan screw) dan mesin pellet proses kering (tipe vertikal dengan penekan geardrum).; 2. Pemecah Pellet (Crumble). Mesin pemecah pellet (crumble) terutama digunakan untuk pakan ayam pedaging (periode grower dan finisher). Mesin ini berfungsi untuk memecah pellet menjadi dua atau tiga bagian. Tenaga motor yang digunakan 1 HP dengan kapasitas pengolahan 400 sampai 500 kg/jam (skala kecil ).; 3. Pendingin (cooler ) Fungsi alat ini

38

untuk mendinginkan atau mengeringkan

pellet hasil dari proses

pemeletan, dengan meniupkan udara dari kipas yang digerakkan motor (Gunawan, 2010).

Gambar 3. Pelletizer dan Keterangannya

39

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum teknologi pengolahan konsentrat meliputi tiga tahapan yaitu grinding, mixing dan pelleting. Hasil mixing yang paling baik pada menit ke 15. Pellet yang dihasilkan pada saat praktikum kompak dan tidak mudah patah.

40

Daftar Pustaka Agus, A. 2007. Membuat Pakan Ternak Secara Mandiri. Cetakan Pertama.PT.Citra Aji Parama, Yogyakarta. Alamsyah, A. 2008. Panduan Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Ardana Media, Yogyakarta. Anggorodi, R. 1999. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia. Jakarta. Bahnke, K. C. 1996. Feed Manufacturing Technology : Current Issues and Challenges. Animal Feed Science. 62 : 49-57. Gunawan, D. 2010. Pedoman pembangunan pabrik pakan skala kecil dan proses pengolahan pakan. Direktorat budidaya ternak non ruminansia. Direktrorat Jendral Peternakan. Fatmawati, A.S. 2003. Manajemen proses pengolahan konsentrat ternak sapi potong pada pd. Rosary feed kecamatan wirosari kabupaten grobongan. Jawa Tengah. Ichwan, W. M., 2003. Membuat Pakan Ayam Ras Pedaging. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. Khalil dan Suryahadi, 1997. Pengawasan mutu dalam industri pakan ternak. Majalah Poultry Indonesia. 213 :45-62. Martawijaya, E. L., 2004. Panduan Beternak Itik Petelur Secara Intensif. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. Parakkasi,A.1999. Nutrien dan makanan ternak ruminan. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Retnani, I. 2011. Proses Produksi Pakan Ternak. Ghalia. Bogor Rosida dan Martini. 1999. Pengujian homogenitas campuran pakan dengan pengukuran kadar nacl. Balai Penelitian Ternak CIA. Bogor. Sugihartina, E. 2013. Teknologi pembuatan pelet. Http://www.scribd.com/doc/57364412/teknologi-pembuatan-pelet. Diakses pada tanggal 20 desember 2013 pukul 21.00 wib. Suparjo. 2010. Pengawasan mutu pada pabrik pakan Laboratorium makanan ternak universitas jambi. Jambi. ternak.

Uhi, H. 2006. Pemanfaatan gelatin tepung sagu (metroxylon sago) sebagai bahan pakan ternak ruminansia (utilization of sago (metroxylon sago) gelatin as feed ruminant). 6(2):108-111 Utomo, R, S.P.S Budhi, A. Agus, C.T Noviandi, 2008. Buku Ajar Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

41

Lampiran

42

BAB IV UREA MOLASSES BLOCK Tinjauan Pustaka UMB merupakan campuran beberapa bahan pakan dengan molasses dan urea yang dibuat dalam bentuk blok. Pakan yang berbentuk blok memudahkan pengangkutan pakan dan pemberian kepada ternak. UMB dapat dibuat dengan beberapa komposisi dan kandungan urea dan molasses yang berbeda sesuai dengan kebutuhan ternak (Onwuku, 1999). Urea di dalam pakan sebagai non protein nitrogen yang dapat digunakan sebagai sumber amonia yang dapat digunakan oleh mikrobia dalam rumen (Cheeke, 2005). Urea Menurut Santoso (2006), urea merupakan NPN (non protein nitrogen) hanya dapat dimanfaatkan oleh ternak ruminansia karena NPN dapat dirubah menjadi NH3, kemudian nitrogen dari NH3 diikat dan dirubah menjadi asam amino. NPN dapat dimanfaatkan oleh ternak ruminansia sebagai sumber protein. Urea hanya untuk ruminansia. Namun, bila hijauan pakannya mengandung energy sangat rendah maka ternak jangan diberi urea. Tujuan pemberian urea adalah untuk meningkatkan protein kasar di dalam ransum. Nista (2007), urea merupakan sumber NPN (Nitrogen bukan protein) mudah didapat dan relatif murah harganya, dan merupakan senyawa nitrogen yang sangat sederhana dan dapat diubah oleh mikro organisme rumen, sebagian atau seluruhnya menjadi protein yang diperlukan dalam proses fermentasi dalam rumen, dan dapat

meningkatkan intake pakan. Urea merupakan sumber NPN (Nitrogen bukan protein), apabila pemberian terlalu banyak dapat menyebabkan keracunan sehingga pemberian dibatasi sampai kurang lebih 4%, dan premix sebagai sumber mineral. Bekatul dan pollard berfungsi sebagai bahan pengisi untuk memperoleh bentuk padatan yang baik dan kompak

43

Molasses Molasses merupakan limbah hasil dari pabrik gula tebu, praktis tidak mengandung protein tetapi kaya karbohidrat yang mudah dicerna. Molasses dapat digunakan sebagai pakan secara langsung atau setelah mengalami proses pengolahan. Molasses merupakan sumber energi yang tinggi karena kadar karbohidratnya tinggi. Kadar mineralnya pun cukup tinggi, juga mempunyai rasa yang disukai oleh ternak (Lubis, 1992). Molasses merupakan bahan sisa dari industri gula yang banyak dijumpai di samping hasil utamanya. Dari berbagai bahan sisa yang dihasilkan industri gula, molasses merupakan bahan dasar yang berharga sekali untuk industri dengan fermentasi. Molasses adalah sejenis sirup yang merupakan sisa dari pengkristalan gula pasir. Molasses tidak dapat dikristalkan karena mengandung glukosa dan fruktosa yang sulit untuk dikristalkan. Molasses merupakan produk limbah dari industri gula di mana produk ini masih banyak mengandung gula dan asam-asam organik, sehingga merupakan bahan baku yang sangat baik untuk pembuatan etanol. Bahan ini merupakan produk sampingan yang dihasilkan selama proses pemutihan gula. Kandungan gula dari molasses terutama sukrosa berkisar 40 sampai 55% (Musofie, 2008). Proses dalam pembuatan UMB bisa dilakukan dengan dua cara yaitu metode panas dan metode dingin. Metode panas yaitu dengan cara mendidihkan molasses terlebih dahulu kemudian dicampur dengan bahan pakan, lalu diaduk dan dituang dalam cetakan sehingga membentuk blok. Metode dingin yaitu menggunakan molasses yang langsung dicampur ke dalam bahan pakan lalu dicetak. Kedua menggunakan (Kamal, 1998). Bahan utama untuk membuat UMB adalah molasses sebagai sumber energi. Molasses merupakan bahan pakan sumber energi karena banyak mengandung pati dan gula. Kecernaanya tinggi dan bersifat palatable. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar airnya 78 sampai 86%, gula 77%, abu 10,5%, protein kasar 3,5%, dan TDN 72% (Utomo dan Soejono, 2001).
44

Materi dan Metode

Materi Alat. Alat-alat yang digunakan antara lain timbangan, plastik, nampan, dan cetakan UMB. Bahan. Bahan-bahan yang digunakan adalah hasil mixing, molasses, premix ruminansia, dan urea.

Metode Bahan-bahan berupa hasil mixing, premix ruminansia, dan urea ditimbang lalu dicampur hingga merata. Molasses ditimbang lalu dicampur ke dalam campuran konsentrat sedikit demi sedikit dan diaduk hingga merata, setelah itu campuran tadi dicetak menggunakan cetakan UMB hingga mengeras. Hasil UMB diamati dan dicatat bau dan tekstur pada hari ke-0 dan hari ke-7.

45

Hasil dan Pembahasan Salah satu teknologi dibidang pakan ternak adalah penggunaan Urea Molasses Block (UMB) sebagai pakan suplemen pada ternak ruminansia yang ditujukan untuk meningkatkan efiisensi pencernaan, sehingga akhirnya dapat meningkatkan produksi ternak. Pembuatan UMB dimulai dari pencampuran bahan, pengadukan, pemanasan, percetakan sampai pengemasan. Rangkaian proses pembuatan UMB tergantung pada formula yang dipergunakan dan tujuan pemeliharaan ternak. Namun, secara garis besar proses pembuatan UMB dapat dibedakan menjadi tiga cara, yaitu secara dingin, hangat dan panas. Berdasarkan hasil praktikum pembuatan Urea Molasses Block (UMB) dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 4. Hasil pembuatan UMB Metode Pembuatan UMB Parameter No Pengamata Metode Dingin Metode Panas n UMB 0 hari 7 hari 0 hari 7 hari Harum, 1 Bau Manis Manis Manis manis Coklat Coklat 2 Warna Coklat tua Coklat tua gelap gelap Kasar, lebih Lebih halus, Lebih padat, 3 Tekstur Kasar kering lengket lebih kenyal Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa hasil UMB melalui metode panas lebih bagus daripada metode dingin. UMB metode dipanaskan menjadi lebih harum, lebih padat dan lebih kenyal. Hal ini dikarenakan molasses yang dipanaskan dapat mengikat seluruh bahan yang digunakan dalam pembuatan konsentrat agar lebih kompak dan padat. Pemanasan molasses mampu membuat molasses membentuk gelatin. UMB metode dingin memiliki bau manis, coklat tua, dan bertekstur kasar. Menurut Van Soest (1994), bentuk suplemen UMB yang keras dan kompak merupakan bentuk yang biasa digunakan agar awet dan ternak mengkonsumsi UMB ini dengan cara menjilati sehingga suplemen ini sering disebut juga permen sapi, sehingga berdasarkan praktikum dapat diketahui bahwa metode hangat lebih baik.
46

Bau manis dan coklat disebabkan karena penambahan molasses. Molasses memiliki kandungan gula mencapai 77% dan banyak digunakan untuk menambah nafsu makan ternak, sebagai sumber energi dan mineral (Agus, 2007). Molasses yang terkandung dalam UMB membantu fiksasi nitrogen urea dalam rumen, juga dalam fermentasinya menghasilkan asam-asam lemak atsiri yang merupakan sumber energi yang penting untuk biosintesa dalam rumen, disukai ternak dan tetes tebu memberikan pengaruh yang menguntungkan terhadap daya cerna. Sedangkan urea merupakan senyawa nitrogen yang sangat sederhana dan dapat diubah oleh mikro organisme rumen, sebagian atau seluruhnya menjadi protein yang diperlukan dalam proses fermentasi dalam rumen, dan dapat meningkatkan intake pakan (Nista, 2007). Diketahui bahwa kadar pati molasses sebesar 10%. Jika suspensi pati dalam air dipanaskan, air akan menembus lapisan luar granula dan granula ini mulai menggelembung. Hal tersebut terjadi saat temperatur meningkat dari 60C sampai 85C. Menurut Gaman (1992), Granulagranula dapat menggelembung hingga volumenya lima kali lipat volume semula. Ketika ukuran granula pati membesar, campurannya menjadi kental. Pada suhu kira-kira 85C granula pati pecah dan isinya terdispersi merata ke seluruh air di sekelilingnya. Molekul berantai panjang mulai membuka atau terurai dan campuran pati atau air menjadi makin kental, membentuk sol. Pada pendinginan, jika perbandingan pati dan air cukup besar, molekul pati membentuk jaringan dengan molekul air terkurung didalamnya sehingga terbentuk gel. Keseluruhan proses ini dinamakan gelatinisasi. Dalam pembentukan UMB dengan cara panas akan memperoleh bentuk UMB yang lebih kenyal dan padat. Menurut Cheeke (2005), UMB yang bermutu memiliki warna coklat matang, bau aroma khas molasses, rasa asam, manis, dan gurih, nilai pH 3,5 sampai 4,2 dan memiliki tekstur padat, kenyal, kesat dan tidak berlendir. UMB yang tidak bermutu memiliki

47

warna belang dan terdapat bintik putih, bau busuk, rasa sangat asam, pH lebih dari 4,2 dan teksturnya bergumpal, pecah, basah dan berlendir. UMB banyak dimanfaatkan sebagai tambahan pakan untuk ternak ruminansia. Molasses berguna untuk mengurangi debu, sebagai perekat pada pellet dan sebagai additive. Bentuk suplemen UMB yang keras dan kompak merupakan bentuk yang biasa digunakan agar awet dan ternak mengkonsumsi UMB ini dengan cara menjilati sehingga suplemen ini sering disebut juga permen sapi (Pond et al., 1995).

48

Kesimpulan Perlakuan pembuatan UMB dengan metode panas diperoleh hasil UMB yang lebih baik dibandingkan dengan metode dingin. UMB metode dipanaskan menjadi lebih harum, lebih padat dan lebih kenyal. Hal ini dikarenakan molasses yang dipanaskan dapat mengikat seluruh bahan yang digunakan dalam pembuatan konsentrat agar lebih kompak dan padat. Pemanasan molasses mampu membuat molasses membentuk gelatin. Faktor yang mempengaruhi perbedaan UMB antara lain formula atau komposisi bahan, metode yang dipergunakan, serta tujuan pemeliharaan ternak.

49

Daftar Pustaka Cheeke, P. R. 2005. Applied Animal Nutrition. 3 rd edition. Person Education Inc., New Jersey. Gaman, P.M. dan K. B. Sherrington. 1992. Ilmu Pangan: Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Gadjah Mada University Press, Jogjakarta. Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Laboratorium Makanan Ternak, Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ulang. Pembangunan, Jakarta. PT

Musofie, Ahmad. 2008. Proceeding Seminar Nasional : Penggunaan urea molasses block sebagai pakan suplemen untuk sapi perah laktasi. Ahmad Musofie, Luqman Hakim, Lukman Hakim dan Darwis Miga (eds). ISPI dan PDHI Cabang Jawa. Malang. Pp 109-113. Onwuku, C. F. I. 1999. Molasses block as suplementary feed resource for ruminants. University of Agriculture. P. M. B. 2240. Abeokuta, Ogur State. Nigeria. Pond,W.G., D.C. Church, and K.R. Pond. 1995. Basic animal nutrition and feeding. 4thEdition. John Wiley and Sons, New York.p.p.318-323. Santosa, Undang. 2006. Manajemen Usaha Ternak Potong. Penebar Swadaya, Jakarta. Utomo, R., dan Soejono, M. 2001. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Hand Out. Laboratorium Teknologi Makanan Ternak. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

50

Lampiran

51

BAB V KONTROL KUALITAS PAKAN Tinjauan Pustaka

Kontrol kualitas dalam produksi pakan sangat penting dalam keberhasilan dan keuntungan suatu usaha peternakan. Tidak ada faktor lain, baik langsung maupun tidaklangsung dalam kaitannya dengan performa ternak, bahwa pengujian kuaitas pakan memerlukan perhatian dan pelaksanaan yang serius. Setiap bahan baku pakan mempunyai kandungan nutrien dan deskripsi tertentu. Sifat-sifat tersebut akan berubah karena adanya pengaruh tertentu, misalnya perlakuan, dan penambahan bahan lain, bahkan karena penyimpanan. Bahan baku pakan dinyatakan baik secara fisik apabila apabila memenuhi beberapa kriteria, antara lain kering (kadar air kurang dari 12% sampai 14%), bebas kutu atau insekta lain, tidak pecah atau rusak (utuh), bau atau rasa sesuai, penampilan luar tetap tidak berubah, dan tidak terdapat atau sedikit dijumpai bahan pemalsu. Beberapa bahan pemalsu yang paling sering digunakan adalah dedak padi halus, ekskreta ayam dan urea (bahan pemalsu yang mengandung nutrien) dan serbuk gergaji, tepung arang, pasir halus, dan batu bata giling (bahan pemalsu yang tidak mengandung nutrien (Agus, 2007). Ada beberapa uji untuk kontrol kualitas pakan dengan tujuan masing-masing. Uji kandungan sekam dalam bahan pakan (Phoroglucinol test) tujuan untuk kandungan rice hulls dalam rice bran (bekatul, dedak, dan lain-lain). Tujuan uji kandungan urea dalam bahan pakan untuk mengetahui kandungan urea pada bahan pakan (tepung ikan, dan lainlain). Uji bulk density (berat jenis) bahan pakan tujuan untuk mengetahui kualitas bahan sekaligus untuk meminimalkan pemalsuan (pencemaran) bahan (Agus, 2007).

52

Berat jenis disebut juga berat spesifik, merupakan perbandingan antara massa bahan terhadap volumenya (Khalil, 1999). Menurut Kling dan Woehlbier (1983) dalamKhalil (1999) berat jenis memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan dan

penyimpanan. Berat jenis merupakan faktor penentu dari kerapatan tumpukan. Berat jenis bersama dengan ukuran partikel juga berpengaruh terhadap homogenitas penyebaran partikel dan stabilitasnya dalam suatu campuran pakan. Menurut Suadnyana (1998) nilai berat jenis senantiasa

dipengaruhi oleh nutrisi bahan, ukuran partikel dan karaktersitik permukaan partikel. Pakan atau ransum yang terdiri atas partikel yang perbedaan nilai berat jenisnya cukup besar akan mengakibatkan campurannya tidak stabil dan cenderung mudah terpisah kembali. Berat jenis juga sangat menentukan tingkat ketelitian dalam proses penakaran secara otomatis, yang umum diterapkan pada pabrik pakan, seperti dalam proses pengemasan dan pengeluaran bahan dari dalam silo untuk dicampur atau digiling (Khalil, 1999).

53

Materi dan Metode

Materi Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum uji kontrol kualitas bahan pakan adalah urea test paper petri dish, pipet tetes, timbangan analitik, kayu, gelas ukur, erlen meyer, alat pemanas, thermometer, alat titrasi dan pipet ukur. Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum uji kontrol kualitas bahan pakan adalah ekstrak urease, larutan urea sebagai standar, larutan indikator romothymol blue (BTB) dan aquades, larutan phloroglucinol 1%, Indikator Kalium Kromat (K2CrO4), Perak Nitrat 0,05 N (AgNO3), garam, aquades dan sampel dedak serta bahan pakan yaitu Meat Bone Meal (MBM), konsentrat itik komersial, bungkil kedelai, sekam murni, bekatul, pollard, jagung, dan dedak kasar.

Metode Uji kandungan urea. Pembuatan ekstrak urease.Kedelai mentah digiling hingga halus (diayak atau disaring). Bubuk kedelai diambil sebanyak 50 gram lalu dicampur dengan 200 ml air aquades, diaduk-aduk hingga merata kemudian didiamkan semalam. Pagi harinya ekstrak urease disaring. Pembuatan urea test paper. 10 ml ekstrak urease dicampur dengan 10 ml larutan indikator (BTB). Kertas saring (Whatman no.41) dicelupkan dalam larutan tersebut hingga tercelup merata di seluruh permukaan kertas. Kertas dikeringkan dengan cara diangin-anginkan atau

dipanaskan. Kertas akan berwarna kuning orange ketika kering. Pengujian kandungan urea (urea test paper).Larutan urea standar diteteskan pada urea test paper. Kemudian sedikit sampel bahan pakan diletakkan di atas urea test paper dan ditetesi dengan aquades. Apabila bahan mengandung urea, maka akan ditunjukkan dengan perubahan

54

warna menjadi warna biru pada urea test paper. Intensitas warna menunjukkan kuantitas kandungan urea. Uji Kandungan Sekam. Sampel bahan pakan dimasukkan ke dalam petridish dan diratakan ke seluruh permukaan petridish. Larutan phloroglucinol 1% diteteskan secara merata ke seluruh permukaan sampel bahan sehingga basah seluruhnya. Perubahan warna lalu diamati. Apabila bahan pakan tersebut mengandung sekam, maka muncul warna merah pada bahan pakan yang diuji. Intensitas warna menunjukkan kuantitas kandungan sekam. Uji BulkDensity (Berat Jenis). Gelas ukur ditimbang dan dicatat beratnya. Sampel bahan pakandimasukkan ke dalam gelas ukur hingga 1 liter, lalu diratakan dengan digoyang-goyang sehingga rata.Kemudian berat sampel dengan volumenya dibandingkan denganmenggunakan rumus berikut: Bulkdensity= (berat sampel+wadah)-berat wadah x 100% Volume wadah Uji Kandungan Garam. Aquades dipanaskan sampai 70C lalu 2 sampai 3 gram sampelditimbang. Aquades panas sebanyak 50 ml ditambahkan kedalam sampeltersebut lalu diaduk selama 5 menit. Campuran lalu diencerkan denganaquades 100 ml dengan gelas ukur. 100 ml larutan diambil lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer. K2CrO4 ditambahkan sebanyak 40 tetes lalu campurantersebut dititrasi menggunakan AgNO3hingga berwarna oranye atau merah bata. Kandungan garam (%)= ml titrasi x FP x BM NaCl x N x 100% Gram sampel

55

Hasil dan Pembahasan

Uji kandungan urea. Berdasarkan praktikum uji kontrol kualitas bahan pakan yang tela5h dilakukan diperoleh hasil uji kandungan urea sebagai berikut. Tabel 5. Hasil uji kandungan urea No Nama Bahan Pakan 1 MBM (Meat Bone Meal) 2 Konsentrat Itik Komersial 3 Bungkil Kedelai Keterangan + + +

Berdasarkan hasil diatas menunjukan bahwa ketiga bahan pakan mengandung urea, ditandai dengan munculnya warna biru pada urea test paper. Uji kandungan urea bahan pakan dapat direaksikan dengan enzim urease yang terdapat pada kedelai. Menurut Fatmawati (2013), enzim urease merupakan enzim yang memiliki kemampuan untuk menghidrolisis urea menjadi ammonia dan karbondioksida. Menurut Hendriks et al (2002) menyatakan bahwa tepung daging dan tulangatau yang dikenal dengan meat and bone meal (MBM) dalam ransum babi danunggas dapat digunakan sebagai sumber protein dan memberikan kontribusi

sebesar30% protein pakan. Disamping sebagai sumber protein MBM juga berpotensisebagai sumber energi dan sumber yang baik untuk mineral Ca, P dan trace minerallainnya. Bungkil kedelai adalah produk hasil ikutan penggilingan biji kedelai setelahdiekstraksi minyaknya secara mekanis (ekspeller) atau secara kimia (solvent).Bungkil kedelai yang dihasilkan secara mekanis lebih banyak mengandung minyakdan proteinnya serat kasar, serta lebih sedikit kedelai yang

kandungan

dibandingkan

denganbungkil

dihasilkan dengan menggunakan larutan hexan (Suryahadi etal., 1997). Bungkil kedelai mengandung PK 25 sampai 40%, LK 0,9%, SK 6% dan energy metabolis mencapai 2240 kkal/kg (Hartadi et al., 1997).Bungkil kedelai sebagai bahan pakan sumber protein asal tumbuhan belum dapat

56

digantikan oleh bahan sejenis lainnya. Beragamnya kualitas bungkil kedelai selain disebabkan oleh perbedaan kualitas kedelai dan juga disebabkan oleh macam proses pengambilan minyak. Bungkil kedelai merupakan bahan pakan sumber dwiguna, sebagai sumber protein dan sumber energi. Batas maksimal penggunaan bungkil kedelai pada ransum ayam petelur fase layer ini sebesar 25% (Agus, 2007). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diperkirakan telah mengalami pemalsuan, karena semua bahan yang diuji mengalami perubahan warna menjadi biru. Hal ini membuktikan bahwa dalam bahan pakan tersebut mengandung urea. Uji kandungan sekam. Berdasarkan praktikum uji kontrol kualitas bahan pakan yang telah dilakukan diperoleh hasil uji kandungan sekam sebagai berikut. Tabel 6. Hasil uji kandungan sekam No Nama Bahan Pakan 1 Sekam Murni 2 Bekatul 3 Pollard Keterangan ++ + -

Berdasarkan hasil diatas menunjukan bahwa bekatul positif mengandung sekam di dalamnya ditandai dengan perubahan warna menjadi merah pada bekatul tersebut, sedangkan pollard negatif mengandung sekam karena tidak menunjukan perubahan warna menjadi merah. Sekam murni memiliki nilai 2 nilai positif karena perubahan warna yang sangat merah dibandingkan dengan bekatul. Pengunaan sekam murni dalam praktikum memiliki tujuan untuk pembanding antara bekatur dan pollard. Semua bahan diuji dengan menambahkan larutan

phloroghicinol 1% sehingga menunjukan perubahan warna setelah beberapa menit. Menurut Anton (2000), menyatakan bahwa test sekam dapat dilakukan di laboratorium menggunakan larutan phloroglucinol 1%, sekam akan berwarna merah jika terendam dengan larutan tersebut dan sebaran warna merah menandakan kadar sekam. Larutan tersebut akan

57

mengikat lignin di dalam sekam sehingga akan menimbulkan warna merah. Menurut Handari (2002), menyatakan jika timbul warna merah, maka jelas bahan pakan sudah oplos dengan sekam, sedangkan untuk menghitung berapa persentase pemalsuannya bisa diperkirakan dari kecenderungan warna merah yang timbul. Misalkan dari 5 gram sampel yang diambil, muncul warna merah di sebagian kecil saja, maka bisa diperkirakan kadar sekamnya sekitar 5 sampai 10%. Menurut Hartadi (1997), kandungan sekam dedak umumnya kurang dari 13%, namun seringkali ditemukan dedak padi yang kandungan sekamnya lebih dari 15%, sedangkan kandungan sekam bekatul sekitar 15%. Pengamatan yang dilakukan tidak sampai kepada persentase kandungan sekam di dalam bahan pakan yang di uji. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, diperkirakan bahwa bahan pakan bekatul mengandung sekam dan pollard tidak mengandung sekam. Uji Bulk Density. Bahan yang digunakan untuk uji bulkdensity adalah jagung giling, dedak dan bungkil kedelai. Berdasarkan

pengamatan diperoleh data sebagai berikut. Tabel 7. Hasil uji Bulk Density No Bahan Pakan Volume (l) 1 1 1 Berat Wadah (g) 547 547 547 Berat Wadah Bulk Density + sampel (g) (g/L) 1279 732 935 388 1231 684

1 2 3

Jagung Dedak Bungkil Kedelai

Berdasarkan praktikumbulkdensity dari tertinggi ke rendah adalah jagung sebesar 732g/L, bungkil kedelai sebesar 388 g/L, dan dedak dengan nilai 684 g/L. Uji bulkdensity (berat jenis) bahan pakan bertujuan untuk mengetahui kualitas bahan sekaligus untuk menganalisis ada tidaknya pemalsuan (pencemaran) bahan pakan (Agus, 2007). Uji kepadatan dilakukan dengan mengukur volume dan berat dari sampel bahan baku ransum. Masing-masing bahan baku telah memiliki standar
58

bulkdensity tersendiri, jagung 626 g/l (1 liter jagung memiliki berat 626 gram), bungkil kedelai (SBM) 594 sampai 610 g/l, dan dedak halus 337,2 sampai 350,7 g/l (Tilman et al.,1998). Bulkdensityketiga bahan yang digunakan dalam praktikum lebih besar dari pada literatur, hasil pengukuran berat jenis suatu bahan pakan dapat dikarenakan oleh beberapa faktor, antara lain ukuran partikel bahan yang kecil sehingga kerapatan bahan pakan meningkat pada volume yang sama, dan yang paling buruk adalah adanya pengoplosan bahan pakan dengan bahan lain sehingga mengakibatkan berat jenis suatu bahan berubah. Agus (2007) menyatakan bahwa bahan pakan rentan terjadi pengoplosan, bahan yang digunakan untuk campuran dibagi menjadi 2, yaitu yang mengandung nutrien seperti dedak padi halus, sekam padi giling, tongkol jagung giling, dan ekskreta ayam, sedangkan bahan campuran yang tidak mengandung nutrien seperti serbuk gergaji, tepung arang, pasir halus, batu bata giling, dan oli bekas serta tanah merah. Wirakartakusumah et. al., (1992) menambahkan bahwa nilai berat jenis bahan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain sifat unsur penyusun bahan, distribusi ukuran partikel dan bentuk serta karakteristik permukaan partikel. Uji Kandungan Garam. Bahan pakan yang dugunakan dalam uji kendungan garam adalah hasil mixing pada pengolahan konsentrat. Berdasarkan pengamatan didapat data sebagai berikut: Tabel 8. Uji Kandungan Garam Berat Sampel Volume AgNO3 Kandungan garam (g) (ml) (%) 5 menit 2,0221 0,88 1,27 10 menit 2,0020 1,44 2,1 15 menit 2,0016 1,36 1,98 Menurut Lubis (1992), prinsip dari uji kandungan garam ialah Sampel larutan AgNO3 bereaksi dengan garam (NaCl) menjadi AgCl yang berwarna putih, lalu AgNO3 bereaksi dengan kalium kromat menjadi Ag2CrO4 yang berwarna merah.Reaksi kimianya sebagai berikut :

59

AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3 2 AgNO3 + K2CrO4 Ag2CrO4 + 2 KNO3\ Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa dari ketiga sampel, mempunyai kandungan garam berturut-turut 1,27%, 2,1% dan 1,98%. Garam yang telah dimasukan dalam sampel adalah sebanyak 3%. Kandungan garam yang terdapat dalam ketiga sampel tersebut berada pada keadaan normal, karena sama denganpendapat Hartadi (1997) yang menyatakan bahwa tepung ikan yang baik mempunyai kandungan protein kasar 58 sampai 68%, kadar air 5,5 sampai 8,5% serta kandungan garam 0,5 sampai 3,0%. Berdasarkan hasil praktikum telah didapatkan bahwa menit ke-10 adalah yang mendekati persentase garam sesungguhnya sehingga dapat dipastikan bahwa pada menit ke-10 telah mengalami tingkat homogenitas terbaik dibandingkan dengan menit ke-5 dan ke-15.

60

KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa kualitas bahan pakan Meat Bone Meal (MBM), konsentrat itik komersial dan bungkil kedelai kemungkinan telah dipalsukan dengan penambahan urea. Hal ini diketahui dengan hasil positif (warna biru) pada uji kandungan urea. Bahan pakan bekatul terkontaminasi dengan adanya kandungan sekam. Hal ini diketahui dengan hasil positif (warna merah) pada uji kandungan sekam. Bulk density bahan pakan jagung, dedak dan bungkil kedelai berturut-turut adalah 732 g/L, 388 g/L dan 684 g/L. ketiga bahan yang digunakan dalam praktikum lebih besar dari pada literatur, hasil pengukuran berat jenis suatu bahan pakan dapat dikarenakan oleh beberapa faktor, antara lain ukuran partikel bahan yang kecil sehingga kerapatan bahan pakan meningkat pada volume yang sama, dan yang paling buruk adalah adanya pengoplosan bahan pakan dengan bahan lain sehingga mengakibatkan berat jenis suatu bahan berubah. Kandungan garam pada sampel 5 menit, 10 menit dan 15 menit berturut-turut adalah 1,27%, 2,1% dan 1,98%. Hal ini menunjukan bahwa pada menit ke-10 didapatkan tingkat homogenitas yang paling baik.

61

Daftar Pustaka Agus, A. 2007. Panduan Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Badian Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Anton. 2000. Industri Makanan Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta. Fatmawati. I, Prasetyawan. S , Roosdiana. A. 2009. Optimasi Amobilisasi Urease dari Schizzosaccharomyces pombe Menggunakan Matrik Kitosan-natrium Ripolifosfat. Universitas Brawijaya. Malang Hartadi H., S. Reksohadiprojo, AD. Tilman. 1997. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia. Gadjah Mada Univesity Press. Yogyakarta. Hendriks, W.H., C.A. Butts., D.V. Thomas., K.A.C. James., P.C.A. Morel andM.W.A. Verstegen. 2002. Nutritional quality and variation of meat and bonemeal. Asian-Australian J. of. Anim. Sci. 15 (10): 1371-1522 Khalil. 1999. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap sifat fisik pakan lokal: kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan dan berat jenis. Media Peternakan [vol. 22]. Lubis, D.A.1992. Ilmu Makanan Pembangunan.Jakarta Ternak. Cetakan Kedua. PT

Suadnyana, I. W. 1998. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap perubahan sifat fisik pakan lokal sumber protein. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawiro Kusuma, dan S. Lebdosoekoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Wirakartakusumah, A., K. Abdullah dan A. M. Syarif. 1992. Sifat Fisik Pangan. Depdikbud. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

62

Lampiran

63

Anda mungkin juga menyukai