Anda di halaman 1dari 133

PALEONTOLOGI

Oleh:

Hita Pandita

Program Studi: Teknik Geologi (S-1) Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

ANALISIS INSTRUKSIONAL
1. 2. 3.

Pendahuluan

Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar

Aplikasi Paleontologi

6.

5.

4.

Filum Protozoa

Taksonomi

Proses Pemfosilan

7.

8.

9.

Filum Coelenterata

Filum Moluska

Filum Brachiopoda

12.

11.

10.

Vertebrata

Filum Echinodermata

Filum Arthropoda

13.

Fosil Jejak

KAJIAN PUSTAKA
Buku Teks:
1. Briggs, D.E.G., and Crowther, P.R., 1996, Palaeobiology a Synthesis, The Palaeontological Association 2. Lehman, U., 1985, Invertebrate of Paleontology, Freeman & Company, San Francisco 3. Raup, D., and Stanley, S., 1971, Principle of Paleontology, Freeman & Company, San Francisco

Referensi :
1. Ekdale, A.A., Broomley, R.G. and Pemberton, S..G., 1984, Ichnology: The Use of Trace Fossils in sedimentology and Stratigraphy, SEPM, Tulsa-Oklahoma. 2. Bemmelen, R.W. van, 1949, The Geology of Indonesia, The Hague, Martinus Nijhoff, vol. IA.

PENILAIAN

No.
1. Kehadiran Mahasiswa

Deskripsi Penilaian

Bobot (%)
10

3.

Tugas-tugas dan diskusi

20

4.

Ujian Tengah Semester (UTS)

30

5.

Ujian Akhir Semester (UAS)

40

Jumlah

100%

PENDAHULUAN
PENGERTIAN/DEFINISI
Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masa lampau. Paleo = masa lampau, Onto = kehidupan, logos = ilmu
Shrock & Twenhofel (1952): Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masa lampau dalam skala umur geologi.

BATASAN
Studi Paleontologi dibatasi oleh skala waktu geologi yaitu umur termuda adalah Kala Holosen (0,01 jt. th. yang lalu).

OBYEK STUDI :
Fosil, sisa atau jejak organisme yang terawetkan di dalam lapisan kerak bumi, yang terawetkan oleh proses-proses alami, dan dibatasi oleh umur termuda pada Kala Holosen.

GEOLOGI DAN PALEONTOLOGI


Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi meliputi prosesproses pembentukannya dan gejala-gejala yang ada di dalamnya.

Di dalam mempelajarinya terdapat tiga pilar ilmu yang diperlukan, yaitu: Paleontologi-Stratigrafi, Mineral-Batuan, dan Struktur Geologi.

FOSIL
Sisa atau jejak organisme yang terawetkan di dalam lapisan kerak bumi, yang terawetkan oleh proses-proses alami, dan dibatasi oleh umur termuda pada Kala Holosen. Ada 4 faktor untuk disebut sebagai fosil : 1. 2. 3. 4. Sisa atau Jejak Organisme. Contoh: tulang, cangkang, footprint, dll Terawetkan di dalam batuan atau kerak bumi. Terawetkan secara alami. Contoh: fosil Stegodon di daerah Sangiran Umur fosil tidak lebih muda dari Holosen (+ 10.000 th).

UKURAN FOSIL Berdasarkan ukurannya dalam mempelajari fosil dibedakan menjadi dua, yaitu Mikrofosil, dan Makrofosil 1. Mikrofosil, jika dalam mengamati diperlukan mikroskop. 2. Makrofosil, jika dalam mengamati cukup menggunakan mata tanpa alat bantu.

Proses Pembentukan Fosil


Ada 3 faktor yang mempengaruhi dapat tidaknya suatu organisme terawetkan menjadi fosil. Keempat faktor tersebut adalah: 1. Biologis, predator dan bakteri scavenger selalu ada di semua lingkungan. Mencegah terawetkannya tubuh suatu organisme 2. Fisik/Mekanik, fosil sulit terbentuk pada lingkungan dengan energi sedimentasi yang kuat. 3. Kimiawi, faktor kimiawi bisa menjadi pendukung untuk terjadinya proses pemfosilan, misal replacement pada cangkang/tulang. Namun dapat menjadi faktor perusak, misalnya leaching.

SEJARAH PERKEMBANGAN PALEONTOLOGI

Oleh:

Hita Pandita

Program Studi: Teknik Geologi (S-1) Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

Strabo (58 SM 25 M), melihat kenampakan seperti beras pada batugamping yang digunakan untuk membangun piramid. Fosil tersebut kemudian dikenal sebagai Nummulites. Abbe Giraud de Saulave (1777)
Law of Faunal Succession (Hukum Urut-urutan fauna) Jenis-jenis fosil itu berada sesuai dengan umurnya. Fosil pada formasi terbawah tidak serupa dengan formasi yang di atasnya.

Chevalier de Lamarck (1774 - 1829),


Pencetus Hipotesa Evolusi Organisme melakukan perubahan diri untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

Baron Cuvier (1769 1832)


Penyusun sistematika Paleontologi (Taksonomi)

William Smith (1769 - 1834),


Law of Strata Identified by Fossils (Hukum Mengenali Lapisan Dengan Fosil Kemenerusan suatu lapisan batuan dapat dikenali dari kandungan fosilnya.

Charles Robert Darwin (1809 - 1882)


Perubahan makhluk hidup disebabkan oleh adanya faktor seleksi alam

KONSEP-KONSEP DASAR PALEONTOLOGI

Taksonomi Konsep Spesies Filogeni Metode Identifikasi

TAKSONOMI
Taksonomi adalah pengelompokan organisme berdasarkan kesamaan ciri fisik tertentu. Dalam penyebutan organisme sering dipergunakan istilah taksa apabila tingkatan taksonominya belum diketahui.

Unit terkecil dalam taksonomi adalah spesies, sedangkan unit tertinggi adalah kingdom.
Diantara unit-unit baku dapat ditambahkan super jika terletak di atas unit baku, contoh: super kingdom, merupakan unit yang lebih tinggi dari kingdom. Jika ditambahkan sub terletak di bawah unit baku, contoh: sub filum, terdapat di bawah unit filum.

Kingdom
Filum Filum Klas Ordo Filum

Animalia
Moluska Gastropoda Mesogastropoda Turritellidae Turritella 10 Filum 4 Klas

Klas
Ordo

Klas
Ordo

Famili
Genus

Famili
Genus

Famili
Genus

Spesies

Spesies

Spesies

Turritella subulata

KONSEP SPESIES
Spesies, merupakan unit terkecil di dalam taksonomi. Pengelompokan spesies dibatasi oleh kemampuan suatu organisme untuk berkembang biak dengan organisme yang sama. Di dalam paleontologi pengelompokan spesies didasarkan atas kesamaan ciri fisik secara keseluruhan.

Spesifikasi Nama
1. Deskriptif, Pemberian nama di dasarkan pada ciri fisik, dapat berupa: a. Bentuk tubuh: Turritella angulata, memperlihatkan bentuk tubuh turreted (meninggi) dan menyudut pada kamarnya. b. Struktur: Tubipora musica, memperlihatkan struktur tubuh berpipa (tube) dan terangkai seperti alat musik (musica). Geografis: Pemberian nama yang didasarkan pada lokasi dimana fosil tersebut pertama kali diketemukan. Contoh: Fussulina sumatrensis, Fussulina yang diketemukan di sumatera. Personal: Mencantumkan nama penemunya. Contoh: Discoater martinii, Martini adalah penemu fosil tersebut.

2.

3.

Aturan Pemberian Nama Fosil


1. The Principle of Binomial Nomenclature Dalam penamaan terhadap spesies harus mengkombinasikan dua nama (binomial). Nama di depan adalah genus sedangkan nama belakang adalah spesiesnya. Contoh: Laevidentalium sexangulum, genus adalah Laevidentalium sedangkan spesiesnya adalah sexangulum. The Principle of Priority Nama yang pertama kali dikeluarkan merupakan nama yang diprioritaskan untuk dipergunakan. Bahasa dan Penulisan Bahasa yang dipergunakan dalam penamaan adalah bahasa Latin, dan ditulis miring atau digaris bawahi.

2.

3.

4.

Nama Penemu Nama penemu yang pertama kali harus dicantumkan. Contoh: Turritella duplicata MARTIN, 1879. Spesies Baru Penamaan pada spesies baru harus ditambahkan kata n. sp. dibelakang nama fosil, dan hanya dipergunakan sekali pada saat dipublikasikan pertama kali.

5.

6.

Istilah Tambahan Suatu fosil kadang sulit untuk diidentifikasikan/dibedakan dengan fosil yang lainnya. Untuk itu dapat dipergunakan beberapa istilah tambahan antara lain: aff. (affinitas), cf. (mirip dengan), sp/spp (spesies/spesies jamak).

FILOGENI
Filogeni adalah ilmu yang mempelajari hubungan kekerabatan suatu organisme dengan organisme lainnya. Hubungan tersebut ditentukan berdasarkan morfologi hingga DNA. Filogeni sangat diperlukan dalam mempelajari proses evolusi dan penyusunan taksonomi.

Evolusi sendiri dapat diartikan sebagai perubahan yang berangsur-angsur dari suatu organisme menuju kepada kesesuaian dengan waktu dan tempat. Jadi evolusi sendiri merupakan proses adaptasi dari suatu organisme terhadap lingkungannya.

Metode Penyusunan Filogeni


1. Fenetik, Metode penyusunan filogeni dengan pendekatan analisa numerik. Pendekatan tersebut meliputi penghitungan Indeks ketidaksamaan, Indeks keanekaragaman, Anaisa pola dan berbagai indeks yang lain. Dalam pendekatan fenetik semua subyek dan faktor yang dianalisis punya kedudukan yang sama. Kladistik, Metode ini muncul atas dasar pemikiran bahwa proses alamiah akan selalu mengambil jalan yang paling singkat. Dalam kladistik setiap ciri fisik mempunyai tingkatan yang berbeda.

2.

METODE IDENTIFIKASI
1. 2. Morfologi. Pendekatan morfologi berupa deskriptif kualitatif. Meliputi bentuk tubuh, struktur yang biasanya berkembang, dan sebagainya. Biometri, Pendekatan secara kuantitatif, yaitu berdasarkan ukuran tubuh dari suatu organisme.

APLIKASI PALEONTOLOGI
1. Menentukan Umur Relatif Batuan 2. Melakukan Korelasi 3. Menentukan Lingkungan Pengendapan

4. Mengetahui Paleoklimatologi

1. Menentukan Umur Relatif Batuan


Kemunculan fosil dari zaman ke zaman selalu berbeda, sehingga fosil dapat digunakan untuk menentukan umur relatif suatu batuan sedimen.

Fosil Indeks: fosil yang kemunculannya sangat spesifik mewakili suatu zaman, contoh: Ammonit pada Trias. Syarat-syarat fosil indeks: 1. Memiliki penyebaran lateral yang luas. 2. Kisaran umurnya pendek 3. Mudah dikenali

2. Melakukan Korelasi
Korelasi: menghubungkan dua atau lebih satuan batuan berdasarkan kesamaan umur. Biostratigrafi: Menyusun suatu satuan batuan berdasarkan kesamaan kandungan fosilnya. Dalam perkembangannya satuan biostratigrafi sering identik dengan umur dari batuan itu sendiri.

3. Menentukan Lingkungan Pengendapan


Organisme dalam hidupnya dibatasi oleh suatu lingkungan, dimana organisme tersebut dapat beradaptasi. Dengan demikian fosil dapat dipergunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan. Syarat: 1. Fosil terendapkan pada lingkungan dimana dia hidup (bioconoese) 2. Lingkungan hidupnya sempit 3. Mudah dikenali

Lingkungan Pengendapan
1. Darat, meliputi gurun, sungai, danau, dan sebagainya 2. Laut, meliputi: pantai, rawa, laut dangkal (neritik) dsb.

4. Mengetahui Paleoklimatologi
Selain lingkungan hidup, organisme juga dipengaruhi oleh iklim sebagai salah satu unsur lingkungan.

Contoh: Koral biasanya hidup pada iklim tropis sub tropis. Sehingga pada batuan yang diketemukan mengandung koral iklim masa lampaunya adalah tropis.

TAPHONOMY

Oleh:

Hita Pandita

Program Studi: Teknik Geologi (S-1) Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

TAPHONOMY
Ilmu yang mempelajari tentang kemunculan dan ketidak munculan fosil atau organisme pada batuan, untuk mengetahui keberadaannya insitu atau tidak.

Tinjauan kemunculan dan ketidakmunculan didekati dari banyak aspek, meliputi: Ekologi Klimatologi stratigrafi, dsb.

KEBERADAAN FOSIL DALAM BATUAN


1. 2. 3. 4. Biocoenose Thanatocoenose Reworked Fossil Introduce Fossil

Biocoenose
Keberadaan fosil dalam batuan adalah insitu, sesuai dengan ruang, dan waktu dari fosil tersebut.

Thanatocoenose
Keberadaan fosil dalam batuan adalah insitu, sesuai dengan waktu tetapi tidak sesuai dengan ruang atau tempat orgenisme itu hidup.

Introduce Fossil
Keberadaan fosil dalam batuan adalah tidak insitu, tidak sesuai dengan ruang, dan waktu dari fosil tersebut, dimana fosil yang dijumpai berumur lebih muda dari batuannya.

Reworked Fossil
Keberadaan fosil dalam batuan adalah tidak insitu, tidak sesuai dengan ruang, dan waktu dari fosil tersebut, dimana fosil yang dijumpai berumur lebih tua dari batuannya.

SYARAT PEMFOSILAN
1. Organisme tersebut tidak menjadi mangsa organisme yang lain, misal: predator atau bakteri scavenger 2. Memiliki bagian tubuh/rangka yang keras dan resisten. 3. Mengalami replacement yang menjadikan lebih resisten, misal rangka coelenterata terubah menjadi kalsit dan lebih keras. 4. Terkubur dalam tempat yang anaerob (O2 rendah). 5. Diawetkan oleh lapisan es. 6. Jejak yang tertinggal tidak tererosi. 7. Tertutup oleh sedimentasi berfraksi halus atau berenergi rendah.

PROSES PEMFOSILAN
1. Fosil Tak Terubah (Unaltered Remains) 2. Fosil Terubah (Altered Remain)

3. Impresi (Cetakan)
4. Fosil Jejak (Trace Fossil)

Fosil Tak Terubah (Unaltered Remains)


Fosil yang diketemukan dalam kondisi relatif utuh tidak mengalami perubahan secara kimiawi dan fisik. Contoh: Fosil mamouth di Siberia, tertimbun oleh es.

Fosil Terubah (Altered Remains)


Fosil yang telah mengalami perubahan baik fisik maupun kimiawi. Prosesproses tersebut antara lain:
Leaching, terlarutkannya sebagian unsur-unsur karbonat. Replacement, tergantikannya unsur-unsur kimiawi/mineral dari suatu organisme menjadi unsur-unsur yang lain.

Destilasi penggantian unsur asli dari cangkang oleh lapisan tipis karbon

Replcement

Impresi (Cetakan)
Hasil cetakan dari jejak atau tubuh suatu organisme. Misal:

Internal mold: cetakan bagian dalam dari suatu cangkang organisme


Eksternal mold: cetakan bagian luar dari suatu cangkang organisme Leaf Impression: Cetakan daun

Fosil Jejak (Trace Fossil)


Merupakan proses pemfosilan dari jejak-jejak aktivitas organisme. Misal: Coprolite: Sisa-sisa kotoran binatang yang terawetkan. Footprint: Jejak-jejak kaki binatang Borrows: Jejak-jejak lobang-lobang tempat tinggal dan pergerakan binatang/organisme.

TAKSONOMI
Whittaker (1969) membagi organisme kedalam dua superkingdom dan lima kingdom.
Lehmann & Hillmer (1980) membagi organisme kedalam dua superkingdom dan lima kingdom, dan 18 filum.

I. Superkingdom: Prokaryota 1. Kingdom Monera 1. Subkingdom Bakteria 2. Subkingdom Cyanophyta

II. Superkingdom: Eukaryota 2. Kingdom Protista 3. Kingdom Fungi 4. Kingdom Planta 5. Kingdom Animalia

SUPERKINGDOM PROKARYOTA
Organisme ini dicirikan dengan tubuh yang hanya tersusun oleh satu sel tanpa nukleus (intisel).

KINGDOM: MONERA 1. Subkingdom: Bakteri


Bakteri merupakan organisme bersel tunggal dengan ukuran kurang dari 1 mm. Bersifat aerob dan anaerob dapat hidup di setiap lingkungan. Dapat hidup pada suhu air > 90oC. Merupakan organisme paling tua muncul pada 3,1 milyar tahun yang lalu

2. Subkingdom: Cyanophyta (Alga hijau-biru)


Dicirikan oleh ukuran tubuh yang lebih besar dari bakteri, namun tidak lebih dari 25 mm. Dapat melakukan fotosintesa karena mempunyai klorofil dan pigmen fotosintetik (phycocyanin).

Cyanophyta dapat hidup didaerah dengan oksigen yang ekstrem rendah dan kadang tidak ada oksigen. Sangat resisten terhadap perubahan temperatur, namun membutuhkan lingkungan dengan pH tidak lebih rendah dari 4 dan cenderung netral. Beberapa Alga hijau-biru dapat membentuk struktur stromatolit. Umur tertua yang pernah diketemukan kurang lebih pada Prakambrium Atas.

SUPERKINGDOM EUKARYOTA
Merupakan organisme yang disusun oleh satu atau lebih sel yang memiliki inti sel (nuclei)
Terbagi 4 kingdom, yaitu: Protista, Fungi, Plantae dan Animalia Kingdom : Protista Merupakan organisme bersel tunggal. Terdiri atas dua sub kingdom, yaitu: Prothophyta dan Protozoa

Subkingdom: Protophyta
Merupakan organisme yang dapat memproduksi oksigen, bersel tunggal dengan intisel. Terdiri atas dua filum, yaitu: Phyrophyta dan Chrysophyta Termasuk dalam kelompok ini adalah Dinoflagelata, Silicoflagelata, Diatomae, dan Coccolithus

Diatomae

Silicoflagelata

Subkingdom: Protozoa
Merupakan organisme berukuran mikro tersusun oleh satu sel, dengan intisel bisa lebih dari satu. Klasifikasinya didasarkan pada alat geraknya. Terdiri atas 3 filum, yaitu: Flagellata, Rhizopoda, dan Ciliata. Termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah: Foraminifera, Radiolaria, dan Acantharia.

Radiolaria

Foraminifera

KINGDOM: FUNGI Merupakan tumbuh-tumbuhan tingkat terendah. Tidak mempunyai klorofil. Organisme ini diperkirakan muncul kurang lebih 3,4 milyar tahun yang lalu, dikenali dari Ramsaysphaera dan Isuasphaera (3,8 my tyl)

KINGDOM: PLANTAE Merupakan kerajaan tumbuh-tumbuhan. Disusun oleh sel-sel yang banyak bersifat autotrophic.

Dalam perkembangannya ada kelompok tumbuh-tumbuhan yang sulit dipisahkan dengan kelompok hewan (Animalia). Kelompok tersebut adalah: Acritarcha, Chitinoza, dan Petalonamae.
Dikelompokkan kedalam 2 Sub Kingdom, yaitu: Thallophyta dan Embryophyta. Dengan filum sebanyak 10 filum. Dalam bidang geologi fosil yang umum dijumpai berupa: fosil daun (leaf fossils), spora atau pollen, dan fosil kayu.

Gambar fosil daun dari Formasi Pucangan di daerah Kepuhklagen Mojokerto

KINGDOM: ANIMALIA Merupakan kelompok organisme yang sangat besar. Disusun oleh banyak sel.

Dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu: Mesozoa, Parazoa, Eumetazoa, dan Metazoa. Juga terbagi dalam 13 filum.

SUBKINGDOM PROTOZOA
Protozoa berasal dari kata proton = awal, dan zoon = hewan. Sehingga protozoa merupakan bentuk awal dari suatu hewan.

CIRI UMUM 1. Ukuran tubuh dari 1 micron (0,001 mm) sampai beberapa cm. 2. Organisme bersel tunggal, dengan inti satu atau lebih, dikelilingi protoplasma. 3. Sel memiliki fungsi yang bermacam-macam. 4. Pada umumnya hidup secara soliter (sendiri), beberapa berkoloni.

SUSUNAN TUBUH 1. Memiliki shell atau test, tersusun dari cellulose, chitin, calcareous, atau material silica.

2. mempunyai alat gerak berupa: pseudopodia, axopodia, cilia dan flagella.

TAKSONOMI

Subkingdom Protozoa terbagi atas 3 filum, yaitu: Flagellata, Rhizopoda, dan Ciliata. Golongan yang sering digunakan dalam bidang geologi adalah Filum Rhizopoda.

Filum: Rhizopoda
Termasuk dalam kelompok ini adalah Foraminifera dan Radiolaria.

Foraminifera

Fosil tertua dari foraminifera terdapat pada batuan yang berumur Kambrium. Terdapat lebih dari 30.000 spesies. Tubuhnya memiliki shell yang tersusun dari calcareous, bergerak dengan axopodia. Berdasarkan cara hidup dan ukuran foraminifera dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Foraminifera Besar dan Foraminifera Kecil.

Foraminifera Besar: biasanya hidup sebagai benthik. Dapat digunakan untuk penentuan umur (klasifikasi huruf). Contoh genus: Nummulites (Eosen) Foraminfera Kecil: hidup dengan cara benthik dan plangtonik. Yang benthik bagus untuk penentuan lingkungan pengendapan, sedangkan yang plangtonik bagus untuk penentuan umur. Contoh genus plangtonik: Globigerina,

Hantkenina, dsb. Contoh genus benthik: Uvigerina, Quinqueloculina, dsb.

Nummulites

Gyroidina

Globoquadrina altispira

Radiolaria
Tubuhnya tersusun oleh test yang terbuat dari silica yang disebut dengan scleracoma. Hidup secara plangtonik. Radiolaria bergerak dengan menggunakan pseudopodia yang berbentuk mirip rambut. Fosil tertua diketemukan pada batuan Prakambrium, dan berkembang pesat pada Zaman Kapur.

Fosil Radiolaria baik digunakan untuk penentuan lingkungan pengendapan laut dalam.

1. Spongotrochus glacialis 2. Lithelius nautiloides 3. Dihampora furcaspiculata 4. Theocalyptra bicornis

KINGDOM ANIMALIA
Merupakan kelompok organisme yang sangat besar. Disusun oleh banyak sel. Dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu: Mesozoa, Parazoa, Eumetazoa, dan Metazoa. Juga terbagi dalam 13 filum.

KELOMPOK: PARAZOA
Merupakan organisme yang tidak mempunyai organ tubuh lunak. Tersusun lebih dari satu sel yang mempunyai fungsi sendiri-sendiri.

Terdiri atas dua filum: Porifera dan Archaeocyatha.

FILUM: PORIFERA
Merupakan organisme yang bentuk tubuhnya berpori-pori (ostia). Pori-pori
tersebut berfungsi untuk menyerap makanan dan bernapas. Tubuhnya juga disusun oleh rangka yang disebut spicula. Atas dasar bentuk

dan jumlah sumbunya terbagi menjadi empat: Monaxon, Tetraxon,


Hexaxon, dan Polyaxon. Bentuk arsitektur tubuhnya dipengaruhi oleh sistem kanal, terdiri tiga macam, yaitu: asconoid, syconoid dan leuconoid.

Klasifikasi
Klasifikasi Porifera didasarkan atas bentuk dan material penyusun spiculanya. Terdapat empat klas, yaitu: Calcarea, Hexatinellida, Demospongia dan Sclerospongia.

Klas: Demospongea
Mempunyai dan tidak mempunyai spicula dengan material silika. Hubungan antara spicula membentuk sudut 60O dan 120O. Fosil yang ditemukan bisanya disebut dengan sponga tanduk. Terdiri atas dua ordo: Lithistida dan Hadromerida. Fosil yang pernah diketemukan: Aulocopium (Ordovisium-Silur)

Klas: Hexatinellida
Spicula berbentuk hexaxon, tersusun oleh asam silika. Terdapat tiga ordo: Lyssakida, Dictyida, dan Lychniskida. Fosil yang pernah diketemukan: Coeloptychium (Kapur Atas)

Klas: Calcarea (Calcispongea)

Spicula tersusun oleh calcareous berupa: kalsit, aragonit dan sedikit magnesium karbonat. Tipe saluran: asconoid, syconoid, dan leuconoid. Hidup di laut dangkal (neritik) sampai zona pasang surut. Terdiri atas dua ordo, yaitu: Pharetronida dan Thalamida. Fosil yang pernah diketemukan: Enaulofungia (Yura-Kapur) dan Polytholosia (Trias).

Klas: Sclerospongea
Spiculanya berbentuk seperti pin (jarum). Kanal berbentuk bintang sehingga disebut astrorhizae. Terdiri atas empat ordo, yaitu: Ceratoporellida, Tabulospongida, Chaetetida, dan Muranida. Fosil yang pernah diketemukan: Acanthochaetes (Kapur-Resen).

FILUM: ARCHAEOCYATA
Merupakan bentuk peralihan antara Porifera dengan Coelenterata. Berbentuk kerucut dengan dinding ganda. Terdapat septa diantara dinding dalam dan luar disebut parietes. Terdapat dua klas, yaitu: Reguler dan Irreguler

KELOMPOK EUMETAZOA/METAZOA
Merupakan organisme yang tersusun oleh tubuh lunak dan kerangka. Terdapat 2 sub kelompok, yaitu: Invertebrata dan Vertebrata.

SUBKELOMPOK: INVERTEBRATA
Merupakan organisme yang susunan tubuhnya belum mempunyai tulang belakang. Tubuh disusun oleh bagian yang lunak dan kerangka keras. Terdapat 3 superfilum, yaitu: Coelenterata, Protostomia dan Deuterostomia.

Ketiga superfilum tersebut terbagi dalam 11 filum, yaitu: 1. Cnidaria 2. Mollusca 3. Aschelminthes 4. Annelida 5. Arthropoda 6. Phoronida 7. Bryozoa 8. Brachiopoda 9. Conodontophorida 10.Echinodermata 11.Branchiotremata

PHYLUM COELENTERATA
Coelenterata : Kailos/Hollow --- cekung Enteron/Intestine --- dalam = Hewan yang mempunyai cekungan (berlekuk) pada bagian dalamnya >>> Disebut semacam kantong yang terlapiskan endoderm Perkembangbiakan : -. Sexual -. Asexual

PHYLUM COELENTERATA
Coelenterata : Kailos/Hollow --- cekung Enteron/Intestine --- dalam = Hewan yang mempunyai cekungan (berlekuk) pada bagian dalamnya >>> Disebut semacam kantong yang terlapiskan endoderm Perkembangbiakan : -. Sexual -. Asexual

Ciri-ciri Coelenterata
1.

2. 3.

3. 4. 5. 6.

7.

Bentuk simetri radial/biradial, dengan satu lubang yang berfungsi sebagai mulut (dikelilingi oleh tentakel) Termasuk fauna invertebrata (tidak bertulang belakang) Dinding tubuh terdiri dari : -. Epidermis (ektoderm) >> lapisan luar -. Endodermis (Gastroderm) >> lapisan dalam Mulut langsung berhubungan dengan rongga Gastrovasekuler>>enteron Sistem saraf terletak disepanjang dinding tubuhnya Disekitar mulut tdp tentakel yang berfungsi sebagai anus Mempunyai 2 bentuk : -. Polyp : kerangka zat tanduk/karbonat -. Medusa : tidak mempunyai bagian yang keras, dijumpai sebagai fosil hanya berupa jejak (impression) Hidup secara koloni dan soliter, terutama dalam bentuk Secyl

Polyp & Medusa


Polyp : bentuk seperti tabung & membuka keatas, sebagian mulut dikelilingi oleh tentakel dan bagian bawahnya tertutup, menambatkan diri pada dasar (benthos secyl) & kerangkanya bersifat Calcareous Mempunyai bagian yang keras, dsb sebagai Eksoskeleton/Hydrotheca Medusa : bentuknya seperti payung dengan tentakel yang menggantung sepanjang tepi dengan mulut terdapat pada bagian akhir manubrium. Terdapat Gonad, yang berfungsi sebagai penghasil sel-sel reproduksi Hidup berenang secara nektonik & planktonik Dijumpai 2 macam Canal (Circular (berjumlah satu) & Radial (berjumlah empat & kelipatannya)

Fisiografi bentuk Polyp & Medusa

KLAS HYDROZOA

Ciri Fisik
Mulut dikelilingi tentakel, bagian dasar tidak ada gullet Bentuk peralihan dari medusa ke polip Tersusun oleh zat tanduk atau zat gampingan (calcareous) Klasifikasi

Terdapat 3 ordo, yaitu: Hydroida, Milleporida dan Stylasterida

KLAS STROMATOPORIDA

Tubuh tersusun oleh rangka bersifat gampingan yang disebut dengan coenosteum. Struktur dalam sama untuk semua jenis, hanya dari ukuran tubuh yang membedakan.
Hidup berkoloni dihubungkan dengan coenosteum. Terdapat dua tipe koloni, yaitu: Hydrozoid, berbentuk masif, pipih atau spherical. Beatricoid, berbentuk tabung dengan permukaan undulating.

KLAS SCYPHOZOA

Bentuk tubuh medusa. Hidup soliter dengan berenang Diameter tubuh dapat mencapai lebih dari 2 meter, dengan tentakel mencapai 40 meter. Hidup pada Kambrium Tengah Resen. Fosil dijumpai dalam bentuk cetakan.

KLAS ANTHOZOA

Bentuk tubuh polip, menyerupai bunga. Hidup soliter dan sebagian besar berkoloni. Tubuh mempunyai eksoskeleton (Theca). Pada theca terdapat sekat vertikal (Septa) dan Horisontal (Tabula) Berkembang biak dengan dua cara, yaitu bertunas (lateral building) atau membelah diri (caicyl building)

PHYLUM BRACHIOPODA
Organisme yang hidup di laut dengan cara benthik. Menambat dengan menggunakan pedikel. Tubuh tersusun oleh tubuh lunak yang dilindungi oleh rangka keras yang disebut dengan valve berjumlah dua buah, ineqiuvalve, dengan bentuk valve simetri.

Valve dibedakan atas ventral valve dan dorsal valve. Pada valve yang terdapat lobang deltryum disebut dengan pedikel valve. Posisi pedikel valve digunakan untuk penentu taksonomi.

Brachiopoda terbagi dalam dua klas, yaitu: Artikulata dan Inartikulata. Brachiopoda hidup melimpah pada Masa Paleozoikum, beberapa menjadi fosil indeks.

Klas Inartikulata
Tidak mempunyai hinge line, sehingga urat dagingnya lebih kompleks. Tidak mempunyai pedikel opening.

Klas Artikulata
Mempunyai hinge line, sehingga urat dagingnya lebih sederhana. Mempunyai pedikel opening yang terdapat pada dorsal valve

SUBGROUP : PROTOSTOMIA FILUM MOLUSKA


Merupakan organisme yang mulai muncul pada zaman Kambrium dan masih dijumpai sampai sekarang. Hidup di lingkungan yang aquatik sampai darat.

Organ tubuhnya relatif lengkap. Disusun oleh tubuh lunak dan dilindungi oleh rangka atau shell.

SUSUNAN TUBUH
Susunan tubuh lunak moluska dapat dibagi kedalam 4 bagian:

1. Kepala, dengan mulut, tentakel, dan mata (pada pelecypoda tidak dijumpai 2. Bagian ventral yang berfungsi sebagai kaki. 3. Bagian punggung (dorsal), terdapat intestines (pencernaan) dan alat reproduksi 4. Mantel, berada diantara shell dengan tubuh lunak, berfungsi sebagai alat pernapasan.

Tubuh keras (Shell/Valve/Cangkang), ada pada subfilum Conchifera, pada subfilum Amphineura tidak dijumpai: Bershell ganda (bivalve) Bershell tunggal: 1. Terputar/tidak terputar 2. Bagian dalam berstruktur/tidak berstruktur

KLASIFIKASI
Klasifikasi dalam moluska didasarkan pada tubuh kerasnya, dan terbagi dalam dua subfilum, yaitu: 1. Subfilum Amphineura 2. Subfilum Conchifera

SUBFILUM AMPHINEURA
Subfilum Amphineura merupakan golongan moluska yang tidak mempunyai tubuh keras atau shell. Sangat jarang diketemukan sebagai fosil. Masuk dalam subfilum ini: Chiton

Bagian tubuh terdiri: mulut, kaki, gill (alat pernapasan), dan anus. Dilindungi oleh zat chitin yang lunak disebut perionatum.
Dijumpai sebagai fosil dalam bentuk cetakan.

SUBFILUM CONCHIFERA
Subfilum Conchifera merupakan golongan moluska yang mempunyai tubuh keras atau shell. Sangat sering diketemukan sebagai fosil. Bagian tubuh terdiri: mulut, kaki, gill (alat pernapasan), dan anus. Jumlah sangat melimpah > 126.000 spesies teridentifikasi. Klasifikasi: Pelecypoda, Gastropoda, Scaphopoda, Monoplacophora, dan Cephalopoda.

KLAS PELECYPODA
Sering disebut dengan Bivalves dan Lamellibranchia. Disebut Pelecypoda, karena bergerak dengan kaki yang berbentuk seperti kapak. Tubuh dilindungi oleh dua buah cangkang (valve), tidak mempunyai kepala, tersusun oleh kaki, gills (alat pernapasan), jantung, ligamen, mantel, dan otot-otot (muscle). Klasifikasi untuk fosil didasarkan pada bentuk cangkang: Cryptodonta, Taxodonta, Heterodonta, paleotaxodonta, Dysodonta, dan Desmodonta.

Deskripsi Morfologi: Bentuk struktur permukaan Jumlah ridge Bentuk hinge line (engsel) Jumlah gigi engsel Bentuk valve

KLAS GASTROPODA
Disebut Gastropoda, karena bergerak dengan dada kaki Tubuh dilindungi oleh satu buah cangkang (shell), mempunyai kepala, tersusun oleh kaki, branchia (alat pernapasan), radula (gigi), jantung, ligamen, mantel, dan otot-otot (muscle).

Klasifikasi untuk fosil didasarkan pada bentuk shell: Archaegastropoda, Mesogastropoda, dan Neogastropoda

Deskripsi Morfologi: Bentuk kamar awal (apex) Jumlah spiral rib Bentuk whorl, menyudut atau membulat Jumlah kamar (whorl) Pola umum peri-peri
L

KLAS SCAPHOPODA
Dikenal dengan Tusk Shell, shell berbentuk seperti gading. Tubuh dilindungi oleh satu buah cangkang (shell), mempunyai kepala, tersusun oleh kaki, branchia (alat pernapasan), radula (gigi), jantung, ligamen, mantel, dan otot-otot (muscle).

Klasifikasi untuk fosil didasarkan pada bentuk shell: Dentaliidae dan Siphonodentallidae

KLAS CEPHALOPODA
Bergerak dengan alat pada bagian kepala Tubuh dilindungi oleh satu buah cangkang (shell), mempunyai kepala, tersusun oleh kaki, branchia (alat pernapasan), radula (gigi), jantung, ligamen, mantel, dan otot-otot (muscle), dan tentakel. Pada shell bagian dalam terdapat sutura dan kamar-kamar, serta siphuncle, berfungsi untuk pengapungan. Klasifikasi untuk fosil didasarkan pada bentuk shell: Nautiloid dan Bellemnoid.

Bagian-bagian shell

Aperture

Kamar Siphuncle

Suture

METODE IDENTIFIKASI MOLUSKA


Moluska
Tanpa Shell Shell ganda Berstruktur dalam Terputar Shell Shell tunggal Tidak Berstruktur dalam

Tdk Terputar

Gading
Amphineura Pelecypoda Cephalopoda Gastropoda Scaphopoda

Kerucut
Monoplacophora

Terputar Nautiloid

Tdk Terputar Belemnoid

SUBGROUP : PROTOSTOMIA FILUM ARTHROPODA


Nama Arthropoda diambil dari bahasa Yunani yaitu arthron = ruas dan pous/podos = kaki. Muncul sejak zaman Prakambrium sampai sekarang.

Ciri Fisik
Bentuk pada umumnya memanjang, simetri bilateral, tersusun oleh tubuh yang beruas-ruas. Ruas-ruas tubuh tersebut terbagi atas: kepala (cephalon), dada (thorax), perut (abdomen), terkadang ada yang memiliki ekor (pygidium). Sebagian besar dari ruas-ruas tersebut ada yang memanjang disebut dengan appendages yang berfungsi macam-macam, untuk berjalan, menangkap, antena, berenang dan sebagainya.

Klasifikasi
Penentuan klasifikasi didasarkan atas: 1) Sifat ruas tubuhnya, 2) Struktur dan jumlah kaki, 3) Sifat dan posisi alat pernapasan. Berdasarkan pembagian tersebut dikelompokkan menjadi: 1. 2. 3. 4. Subfilum Crustacea Subfilum Chelicerata Subfilum Trilobitomorpha Subfilum Insecta

Subfilum Crustacea
Merupakan kelompok kepiting, udang, dan balanus. Bentuk tubuh dari Crustacea dicirikan dengan adanya bagian tubuh yang keras tersusun oleh zat chitin, calcareous chitinous atau calcareous exoskeleton.
Tiga klas yang cukup penting: Ostracoda, Cirripedia, dan Malacostraca

Klas Ostracoda

Berukuran kecil, berbentuk lensa, tersusun oleh dua cangkang, pembagian ruas tubuhnya tidak jelas. Dalam pengamatan biasanya di gunakan mikroskop, karena ukuran tubuhnya berkisar 1-20 mm.

Klas Cirripedia
Dikenal sebagai bernacle, hidup menambat pada usia dewasa, pada usia muda berupa larva. Tubuh tersusun oleh cangkang atau lempeng antara 4-10 buah. Contoh genus adalah Balanus

Klas Malacostraca
Merupakan organisme terbesar dari Subfilum Crustacea. Merupakan kelompok udang dan kepiting. Ciri fisik: Tersusun oleh sekitar 21 ruas tubuh (6 pada kepala, 8 didada, 6 di perut dan ekor). Mempunyai carapace pada bagian kepala terkadang sampai dada.

Subfilum Trilobitomorpha
Trilobita merupakan Arthropoda dari Era Paleozoikum, dengan tubuhnya memiliki segmen yang banyak. Ukuran tubuh Trilobita sendiri berukuran antara 50 sampai 75 mm, walaupun begitu ada beberapa yang berukuran sangat besar lebih dari 50 cm.

Hanya ada satu klas, yaitu: Trilobit

Klas Trilobit

Bentuk tubuh terbagi atas tiga bagian utama. Pada bagian kepala disebut dengan cephalon, bagian tengah disebut thorax, dan pada bagian perut disebut pygidium (abdomen). Pada bagian cephalon , Trilobita dilengkapi dengan hypostoma semacam bibir, dua buah antenules. Pada bagian thorax, setiap jenis Trilobita terdiri atas jumlah segmen yang bervariasi. Pada setiap segmennya terdapat appendages. Sedangkan pada bagian pygidium biasanya hanya tersusun atas satu segmen.

Ekologi: Trilobit biasanya hidup pada dasar laut yang dangkal.

Subfilum Insekta
Secara umum bentuk tubuhnya terbagi atas head, thorax dan abdomen, serta sepasang sayap yang terdapat pada segmen kedua dan ketiga pada thorax. Sampai saat ini ada sekitar 12.000 species terbagi dalam 24 ordo yang masih hidup dan 10 ordo yang ditemukan sebagai fosil.

SUBGROUP : DEUTEROSTOMIA
Merupakan organisme yang pada awalnya antara mulut dan anus tidak dipisahkan, namun kemudian berkembang menjadi terpisah.
Terdapat dua filum, yaitu: Echinodermata dan Branchiotremata.

SUBGROUP : DEUTEROSTOMIA FILUM ECHINODERMATA


CIRI FISIK
Bentuk tubuhnya dicirikan adanya tangan berjumlah lima yang simetri. Tubuhnya memiliki sistim alur air dan mempunyai suatu rangka karbonatan, pada beberapa bentuk ada yang mempunyai duri. Ukuran tubuhnya dari beberapa millimeter sampai hampir 20 meter. Rangkanya tersusun oleh: 1) internal stereome, 2) kristal kalsit berorientasi seragam, dan 3) stroma organik bagian luar. Rangkanya mengandung 3 15% magnesium karbonat bergantung pada suhu air.

EKOLOGI
hidup di laut dari laut dangkal (shallow marine) sampai laut dalam (deep marine). Beberapa hidup pada substrate yang halus (lempung), yang lainnya hidup pada substrat yang kasar (pasir atau bebatuan), beberapa lainnya secara burrowing.

KLASIFIKASI
Berdasarkan cara hidupnya dibedakan atas dua, yaitu: menambat (Pelmatozoa) dan bebas (Eleutherozoa).
Klasifikasinya dibagi kedalam lima sub filum, yaitu: Homalozoa, (Carpoids) Blastozoa, (Blastoid dan Cystoid) Crinozoa, (Lili laut) Asterozoa, (Bintang laut) Echinozoa. (Landak laut, bulu babi)

SUB FILUM HOMALOZOA


Bentuk tubuh tidak simetri (asimetri). Mempunyai rangka dan alat penambat (stalk). Belum banyak diketahui bagaimana perkembangan tubuhnya. Muncul pada Masa Paleozoikum. Klasifikasinya dibagi kedalam tiga klas, yaitu: Homostelea (Kambrium): Gyrocytstis Homoiostelea (Kambrium-Devon): Dendrocystites Stylophora (Kambrium Devon): Cothurnocystis

SUB FILUM BLASTOZOA


Merupakan kelompok yang hidup dengan cara menambat (pelmatozoa). Semuanya menempel dengan brachioles (lengan yang pendek). Muncul pada masa Paleozoikum. Terdiri atas 4 klas, yaitu: Eocrinoidea, Parablastoidea, Blastoidea, dan Cyastoidea.

Klas Blastoidea
Memiliki bentuk tubuh pentagonal simetri dengan cara hidup menambat menggunakan stalk. Tubuh disusun oleh 13 lempeng, yang terbagi atas 5 lempeng sebagai amburakal, 5 sebagai intraamburakal, dan 3 pada basal. Muncul pada Zaman Silur sampai Perm. Contoh genus: Timoroblastus, Schizoblastus, dan Pentremites. Pada Timoroblastus dicirikan dengan theca berbentuk bintang, ditemukan di Pulau Timor, berumur Perm.

Schizoblastus, theca berbentuk agak bulat, dengan ambulakral sedikit lebih panjang sari thecanya. Pada setiap ambulakral terdapat hydrospires. Muncul pada Perm - Karbon Bawah, di Pulau Timor.

SUB FILUM CRINOZOA


Merupakan kelompok yang hidup dengan cara menambat (pelmatozoa). Semuanya menempel dengan stalk atau bagian bawah Calyx).

Susunan tubuhnya terdiri dari Calyx (theca) yang dilengkapai dengan brachial dan anal tube. Di bawah dari calyx terdapat stalk yang dilengkapi akar.
Muncul pada masa Ahkir Kambrium sampai sekarang. Terdiri atas 2 klas, yaitu: Paracrinoidea, dan Crinoidea.

SUB FILUM ASTEROZOA


Merupakan kelompok yang hidup dengan cara berjalan bebas. Dikenal dengan bintang laut (star-fish).
Bentuk tubuh relatif datar dengan lima buah lengan ambulakral. Mulut terdapat di bagian bawah tubuh. Muncul pada masa Ahkir Kambrium sampai sekarang. Terdapat satu klas, yaitu: Stelleroidea

SUB FILUM ECHINOZOA

Echinozoa dicirikan dengan bentuk tubuh dari silindris sampai bulat yang simetri. Hidup dengan cara berjalan. Terdapat enam klas, yaitu: Helicoplacoidea, Ophiocystoidea, Cyclocystoidea, Edrioasteroidea, Holothuroidea, dan Echinoidea. Hanya klas Echinoidea saja yang kita bahas.

Klas Echinoidea
Bentuk tubuhnya dicirikan dengan adanya duri serta bentuknya yang bulat. Shelnya (corona) tersusun oleh lempeng-lempeng kalsit. Posisi mulut dan anus saling berseberangan. Pada bagian apical (atas) tersusun oleh 10 lempeng, terdiri 5 lempeng besar (genital plates), dan 5 lempeng kecil (ocular plates). Dari ocular plates kemudian berkembang menjadi ambulakral, sedangkan genital plates berkembang menjadi inter-ambulakral. Pada lempeng ambulakral dapat dikenali jenis strukturnya.

Klas Echinoidea terbagi dalam delapan ordo. Salah satu ordo yang masih dijumpai sampai sekarang adalah Cidaroida. Klasifikasi didasarkan atas: 1. Jumlah kolom pada intra ambulakaral. 2. Jumlah lempeng yang ada pada ambukral 3. Pola struktur lempeng ambulakral

VERTEBRATA
Merupakan organisme yang dicirikan dengan tubuhnya mempunyai tulang belakang. Bentuk tubuh simetri bilateral. Rangka berfungsi melindungi dan memperkuat.

Dalam perkembangan kehidupan vertebrata merupakan perkembangan yang paling modern.


Kehidupannya dapat dijumpai diberbagai lingkungan: udara, darat, dan air. Muncul pertama kali pada Ordovisium Awal

Klasifikasinya didasarkan pada sistem sirkulasi darah, dibagi menjadi 8 klas, yaitu: Agnatha, Placodermi, Condrithyes, Ostheichthyes, Amphibia, Reptilia, Aves, dan Mammalia. Kedelapan klas tersebut terbagi kedalam 2 kelompok, yaitu: Pisces (Ikan) dan Tetrapoda (berkaki empat)

KELOMPOK PISCES
Merupakan bentuk kehidupan yang berada di air. Pada awalnya ikan tidak mempunyai rahang yaitu dari Klas Agnatha. Bernapas dengan insang. Pada ordo yang primitip belum mempunyai sisik. Alat gerak utamanya pada tulang ekornya. Sirip bawah yang merupakan awal alat gerak belum berfungsi penuh sebagai alat gerak.

Klasifikasi
Terdiri dari 4 klas, yaitu: Agnatha, Placodermi, Condrithyes, dan Ostheichthyes.

KELOMPOK TETRAPODA
Merupakan vertebrata yang dilengkapi dengan empat buah alat gerak (2 pasang).

KLAS AMPHIBI
Merupakan bentuk paling primitip dari Tetrapoda.

Fosil tertua yang pernah diketemukan adalah Seymouria berumur Devon Atas.
Amphibia hidup di air dan di darat.

Dalam perkembangan hidupnya, bentuk muda hidup di air dengan bergerak menggunakan ekor, kemudian tumbuh menjadi hidup di darat bergerak dengan kakinya.

KLAS REPTILIA
Reptilia merupakan golongan binatang yang pernah mendominasi kehidupan di dunia yaitu pada Masa Mesozoikum. Merupakan vertebrata yang berdarah dingin. Dalam perkembangan hidupnya, telurnya berada di darat kemudian pada kehidupan dewasanya berada di air. Hidup pada lingkungan yang luas dari udara, darat dan air. Ukuran tubuhnya bervariasi dari beberapa cm sampai beberapa meter. Bentuk terbesar contohnya adalah Brontosaurus.

KLAS AVES
Merupakan kelompok vertebrata yang dapat terbang.

Sepasang alat geraknya yang terdapat pada thorax berfungsi sebagai sayap, sedangkan yang sepasang pada bagian bawah berfungsi sebagai kaki.
Kaki berfungsi sebagai penangkap dan berjalan. Fungsi ekor sebagai alat gerak sudah tidak dominan, namun berguna pada pengaturan arah gerak dan keseimbangan. Fosil tertua diketemukan pada batuan berumur Yura, yaitu: Archaeopteryx.

KLAS MAMALIA
Merupakan vertebrata berdarah panas. Bentuk kehidupan yang paling sempurna atau kompleks.

Lingkungan hidupnya ada di udara, air, dan darat.


Pada kehidupan yang di darat, alat geraknya berupa 2 pasang kaki. Ekor lebih berfungsi sebagai penyeimbang berat badan. Khusus Primata mempunyai kecenderungan untuk bergerak dengan dua kaki belakang, sedangkan kaki depan berfungsi sebagai penangkap.

Termasuk dalam kelompok ini adalah Primata dimana manusia termasuk di dalamnya.

VERTEBRATA DI INDONESIA
Sampai saat ini belum dijumpai fosil vertebrata yang berumur lebih tua dari Pliosen. Fosil yang dijumpai pada umumnya berumur Pliosen Akhir sampai Resen. Lokasi yang banyak dijumpai adalah: Jetis (Mojokerto), Sangiran, Rancah, dan Cekungan Bandung.

Di luar Jawa di Lampung, dan Sulawesi Selatan.


Indonesia memiliki fosil manusia purba yaitu: Homo Mojokertensis, yang diketemukan di daerah Mojokerto.