Anda di halaman 1dari 133

PALEONTOLOGI

Oleh:

Hita Pandita

Program Studi: Teknik Geologi (S-1)

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

ANALISIS INSTRUKSIONAL

1. Pendahuluan
1.
Pendahuluan

2.

Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar

3.

Aplikasi Paleontologi

ANALISIS INSTRUKSIONAL 1. Pendahuluan 2. Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar 3. Aplikasi Paleontologi 4. Proses Pemfosilan
ANALISIS INSTRUKSIONAL 1. Pendahuluan 2. Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar 3. Aplikasi Paleontologi 4. Proses Pemfosilan

4.

Proses Pemfosilan

9.

 

Filum Brachiopoda

 
 

6.

Filum Protozoa

 
5. Taksonomi
5.
Taksonomi
ANALISIS INSTRUKSIONAL 1. Pendahuluan 2. Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar 3. Aplikasi Paleontologi 4. Proses Pemfosilan
ANALISIS INSTRUKSIONAL 1. Pendahuluan 2. Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar 3. Aplikasi Paleontologi 4. Proses Pemfosilan

7.

Filum Coelenterata

8. Filum Moluska
8.
Filum Moluska
ANALISIS INSTRUKSIONAL 1. Pendahuluan 2. Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar 3. Aplikasi Paleontologi 4. Proses Pemfosilan
ANALISIS INSTRUKSIONAL 1. Pendahuluan 2. Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar 3. Aplikasi Paleontologi 4. Proses Pemfosilan
 

12.

 

Vertebrata

11.

Filum Echinodermata

10.

Filum Arthropoda

ANALISIS INSTRUKSIONAL 1. Pendahuluan 2. Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar 3. Aplikasi Paleontologi 4. Proses Pemfosilan
ANALISIS INSTRUKSIONAL 1. Pendahuluan 2. Sejarah Paleontologi & Konsep Dasar 3. Aplikasi Paleontologi 4. Proses Pemfosilan
13. Fosil Jejak
13.
Fosil Jejak

KAJIAN PUSTAKA

Buku Teks:

  • 1. Briggs, D.E.G., and Crowther, P.R., 1996, Palaeobiology a Synthesis, The Palaeontological Association

  • 2. Lehman, U., 1985, Invertebrate of Paleontology, Freeman & Company, San Francisco

  • 3. Raup, D., and Stanley, S., 1971, Principle of Paleontology, Freeman & Company, San Francisco

Referensi :

1.

Ekdale, A.A., Broomley, R.G. and Pemberton, S

G.,

1984,

Stratigraphy, SEPM, Tulsa-Oklahoma.

2.

Bemmelen, R.W. van, 1949, The Geology of Indonesia, The Hague, Martinus Nijhoff, vol. IA.

PENILAIAN

No.

Deskripsi Penilaian

Bobot (%)

1.

Kehadiran Mahasiswa

10

3.

Tugas-tugas dan diskusi

20

4.

Ujian Tengah Semester (UTS)

30

5.

Ujian Akhir Semester (UAS)

40

 

Jumlah

100%

PENDAHULUAN

PENGERTIAN/DEFINISI

Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masa lampau. Paleo = masa lampau, Onto = kehidupan, logos = ilmu

Shrock & Twenhofel (1952):

Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masa lampau dalam skala umur geologi.

BATASAN

Studi Paleontologi dibatasi oleh skala waktu geologi yaitu umur termuda adalah Kala Holosen (0,01 jt. th. yang lalu).

OBYEK STUDI :

Fosil, sisa atau jejak organisme yang terawetkan di dalam lapisan kerak bumi, yang terawetkan oleh proses-proses alami, dan dibatasi oleh umur termuda pada Kala Holosen.

OBYEK STUDI : Fosil , sisa atau jejak organisme yang terawetkan di dalam lapisan kerak bumi,
OBYEK STUDI : Fosil , sisa atau jejak organisme yang terawetkan di dalam lapisan kerak bumi,

GEOLOGI DAN PALEONTOLOGI

Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi meliputi proses- proses pembentukannya dan gejala-gejala yang ada di dalamnya.

Di dalam mempelajarinya terdapat tiga pilar ilmu yang diperlukan, yaitu:

Paleontologi-Stratigrafi, Mineral-Batuan, dan Struktur Geologi.

F O S I L

Sisa atau jejak organisme yang terawetkan di dalam lapisan kerak bumi, yang terawetkan oleh proses-proses alami, dan dibatasi oleh

umur termuda pada Kala Holosen.

Ada 4 faktor untuk disebut sebagai fosil :

  • 1. Sisa atau Jejak Organisme. Contoh: tulang, cangkang, footprint, dll

  • 2. Terawetkan di dalam batuan atau kerak bumi.

  • 3. Terawetkan secara alami. Contoh: fosil Stegodon di daerah Sangiran

  • 4. Umur fosil tidak lebih muda dari Holosen (+ 10.000 th).

UKURAN FOSIL

Berdasarkan ukurannya dalam mempelajari fosil dibedakan menjadi dua, yaitu Mikrofosil, dan Makrofosil

  • 1. Mikrofosil, jika dalam mengamati diperlukan mikroskop.

  • 2. Makrofosil, jika dalam mengamati cukup menggunakan mata tanpa alat bantu.

UKURAN FOSIL Berdasarkan ukurannya dalam mempelajari fosil dibedakan menjadi dua, yaitu Mikrofosil, dan Makrofosil 1. Mikrofosil,

Proses Pembentukan Fosil

Ada 3 faktor yang mempengaruhi dapat tidaknya suatu organisme terawetkan menjadi fosil. Keempat faktor tersebut adalah:

  • 1. Biologis, predator dan bakteri scavenger selalu ada di semua lingkungan. Mencegah terawetkannya tubuh suatu organisme

  • 2. Fisik/Mekanik, fosil sulit terbentuk pada lingkungan dengan energi sedimentasi yang kuat.

  • 3. Kimiawi, faktor kimiawi bisa menjadi pendukung untuk terjadinya proses pemfosilan, misal replacement pada cangkang/tulang. Namun dapat menjadi faktor perusak, misalnya leaching.

SEJARAH PERKEMBANGAN PALEONTOLOGI

Oleh:

Hita Pandita

Program Studi: Teknik Geologi (S-1)

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

Strabo (58 SM 25 M), melihat kenampakan seperti beras pada batugamping yang digunakan untuk membangun piramid. Fosil tersebut kemudian dikenal sebagai Nummulites.

Abbe Giraud de Saulave (1777)

Law of Faunal Succession (Hukum Urut-urutan fauna)

Jenis-jenis fosil itu berada sesuai dengan umurnya. Fosil pada formasi terbawah tidak serupa dengan formasi yang di atasnya.

Chevalier de Lamarck (1774 - 1829),

Pencetus Hipotesa Evolusi

Organisme melakukan perubahan diri untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

Baron Cuvier (1769 1832)

Penyusun sistematika Paleontologi (Taksonomi)

William Smith (1769 - 1834),

Law of Strata Identified by Fossils (Hukum Mengenali Lapisan Dengan Fosil

Kemenerusan suatu lapisan batuan dapat dikenali dari kandungan fosilnya.

Charles Robert Darwin (1809 - 1882)

Perubahan makhluk hidup disebabkan oleh adanya faktor seleksi alam

KONSEP-KONSEP DASAR PALEONTOLOGI

Taksonomi

Konsep Spesies

Filogeni

Metode Identifikasi

TAKSONOMI

Taksonomi adalah pengelompokan organisme berdasarkan kesamaan ciri fisik tertentu.

Dalam penyebutan organisme sering dipergunakan istilah taksa apabila tingkatan taksonominya belum diketahui.

Unit terkecil dalam taksonomi adalah spesies, sedangkan unit

tertinggi adalah kingdom.

Diantara unit-unit baku dapat ditambahkan super jika terletak di

atas unit baku, contoh: super kingdom, merupakan unit yang lebih

tinggi dari kingdom. Jika ditambahkan sub terletak di bawah unit baku, contoh: sub filum, terdapat di bawah unit filum.

 

Kingdom

 

Animalia

 
Moluska 10 Filum
 
Moluska 10 Filum
Moluska
10 Filum
Moluska 10 Filum

Filum

Filum

Filum

   
       

Klas

Klas

Klas

Gastropoda

4 Klas

   
Kingdom Animalia Moluska 10 Filum Filum Filum Filum Klas Klas Gastropoda 4 Klas Ordo Ordo Ordo
       

Ordo

Ordo

Ordo

Mesogastropoda

   
Kingdom Animalia Moluska 10 Filum Filum Filum Filum Klas Klas Gastropoda 4 Klas Ordo Ordo Ordo
       

Famili

Famili

Famili

Turritellidae

   
Kingdom Animalia Moluska 10 Filum Filum Filum Filum Klas Klas Gastropoda 4 Klas Ordo Ordo Ordo
       

Genus

Genus

Genus

Turritella

   
Kingdom Animalia Moluska 10 Filum Filum Filum Filum Klas Klas Gastropoda 4 Klas Ordo Ordo Ordo
       

Spesies

Spesies

Spesies

Turritella subulata

KONSEP SPESIES

Spesies, merupakan unit terkecil di dalam taksonomi. Pengelompokan spesies dibatasi oleh kemampuan suatu organisme untuk berkembang biak

dengan organisme yang sama.

Di dalam paleontologi pengelompokan spesies didasarkan atas kesamaan ciri fisik secara keseluruhan.

KONSEP SPESIES Spesies, merupakan unit terkecil di dalam taksonomi. Pengelompokan spesies dibatasi oleh kemampuan suatu organisme

Spesifikasi Nama

  • 1. Deskriptif, Pemberian nama di dasarkan pada ciri fisik, dapat berupa:

    • a. Bentuk tubuh: Turritella angulata, memperlihatkan bentuk tubuh turreted (meninggi) dan menyudut pada kamarnya.

      • b. Struktur: Tubipora musica, memperlihatkan struktur tubuh berpipa (tube) dan terangkai seperti alat musik (musica).

  • 2. Geografis: Pemberian nama yang didasarkan pada lokasi dimana fosil tersebut pertama kali diketemukan. Contoh: Fussulina sumatrensis, Fussulina yang diketemukan di sumatera.

  • 3. Personal: Mencantumkan nama penemunya. Contoh: Discoater martinii, Martini adalah penemu fosil tersebut.

Aturan Pemberian Nama Fosil

  • 1. The Principle of Binomial Nomenclature Dalam penamaan terhadap spesies harus mengkombinasikan dua nama (binomial). Nama di depan adalah genus sedangkan nama belakang adalah spesiesnya. Contoh: Laevidentalium sexangulum, genus adalah Laevidentalium sedangkan spesiesnya adalah sexangulum.

  • 2. The Principle of Priority

Nama yang pertama kali dikeluarkan merupakan nama yang diprioritaskan untuk dipergunakan.

  • 3. Bahasa dan Penulisan Bahasa yang dipergunakan dalam penamaan adalah bahasa Latin, dan ditulis miring atau digaris bawahi.

  • 4. Nama Penemu Nama penemu yang pertama kali harus dicantumkan. Contoh: Turritella duplicata MARTIN, 1879.

  • 5. Spesies Baru Penamaan pada spesies baru harus ditambahkan kata n. sp. dibelakang nama fosil, dan hanya dipergunakan sekali pada saat dipublikasikan pertama kali.

  • 6. Istilah Tambahan Suatu fosil kadang sulit untuk diidentifikasikan/dibedakan dengan fosil yang lainnya. Untuk itu dapat dipergunakan beberapa istilah tambahan antara lain: aff. (affinitas), cf. (mirip dengan), sp/spp (spesies/spesies jamak).

FILOGENI

Filogeni adalah ilmu yang mempelajari hubungan kekerabatan suatu organisme dengan organisme lainnya.

Hubungan tersebut ditentukan berdasarkan morfologi hingga DNA. Filogeni sangat diperlukan dalam mempelajari proses evolusi dan penyusunan taksonomi.

Evolusi sendiri dapat diartikan sebagai perubahan yang berangsur-angsur dari suatu

organisme menuju kepada kesesuaian dengan waktu dan tempat. Jadi evolusi sendiri merupakan proses adaptasi dari suatu organisme terhadap lingkungannya.

Metode Penyusunan Filogeni

  • 1. Fenetik, Metode penyusunan filogeni dengan pendekatan analisa numerik. Pendekatan tersebut meliputi penghitungan Indeks ketidaksamaan, Indeks keanekaragaman, Anaisa pola dan berbagai indeks yang lain. Dalam pendekatan fenetik semua subyek dan faktor yang dianalisis punya kedudukan yang sama.

  • 2. Kladistik, Metode ini muncul atas dasar pemikiran bahwa proses alamiah akan selalu mengambil jalan yang paling singkat. Dalam kladistik setiap ciri fisik mempunyai tingkatan yang berbeda.

METODE IDENTIFIKASI

  • 1. Morfologi. Pendekatan morfologi berupa deskriptif kualitatif. Meliputi bentuk tubuh, struktur yang biasanya berkembang, dan sebagainya.

  • 2. Biometri, Pendekatan secara kuantitatif, yaitu berdasarkan ukuran tubuh dari suatu organisme.

APLIKASI PALEONTOLOGI

  • 1. Menentukan Umur Relatif Batuan

  • 2. Melakukan Korelasi

  • 3. Menentukan Lingkungan Pengendapan

  • 4. Mengetahui Paleoklimatologi

1.

Menentukan Umur Relatif Batuan

Kemunculan fosil dari zaman ke zaman selalu berbeda, sehingga fosil dapat

digunakan untuk menentukan umur relatif suatu batuan sedimen.

Fosil Indeks: fosil yang kemunculannya sangat spesifik mewakili suatu zaman, contoh: Ammonit pada Trias.

Syarat-syarat fosil indeks:

  • 1. Memiliki penyebaran lateral yang luas.

  • 2. Kisaran umurnya pendek

  • 3. Mudah dikenali

2.

Melakukan Korelasi

Korelasi: menghubungkan dua atau lebih satuan batuan berdasarkan kesamaan umur.

Biostratigrafi: Menyusun suatu satuan batuan berdasarkan kesamaan kandungan fosilnya. Dalam perkembangannya satuan biostratigrafi sering identik dengan umur dari batuan itu sendiri.

3.

Menentukan Lingkungan Pengendapan

Organisme dalam hidupnya dibatasi oleh suatu lingkungan, dimana organisme tersebut dapat beradaptasi.

Dengan demikian fosil dapat dipergunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan.

Syarat:

  • 1. Fosil terendapkan pada lingkungan dimana dia hidup (bioconoese)

  • 2. Lingkungan hidupnya sempit

  • 3. Mudah dikenali

Lingkungan Pengendapan

  • 1. Darat, meliputi gurun, sungai, danau, dan sebagainya

  • 2. Laut, meliputi: pantai, rawa, laut dangkal (neritik) dsb.

Lingkungan Pengendapan 1. Darat , meliputi gurun, sungai, danau, dan sebagainya 2. Laut , meliputi: pantai,

4. Mengetahui Paleoklimatologi

Selain lingkungan hidup, organisme juga dipengaruhi oleh iklim sebagai salah satu unsur lingkungan.

Contoh: Koral biasanya hidup pada iklim tropis sub tropis. Sehingga pada batuan yang diketemukan mengandung koral iklim masa lampaunya adalah tropis.

TAPHONOMY

Oleh:

Hita Pandita

Program Studi: Teknik Geologi (S-1)

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

TAPHONOMY

Ilmu yang mempelajari tentang kemunculan dan ketidak munculan fosil atau

organisme pada batuan, untuk mengetahui keberadaannya insitu atau tidak.

Tinjauan kemunculan dan ketidakmunculan didekati dari banyak aspek, meliputi:

Ekologi Klimatologi stratigrafi, dsb.

KEBERADAAN FOSIL DALAM BATUAN

  • 1. Biocoenose

  • 2. Thanatocoenose

  • 3. Reworked Fossil

  • 4. Introduce Fossil

Biocoenose

Keberadaan fosil dalam batuan adalah insitu, sesuai dengan ruang, dan waktu dari

fosil tersebut.

Thanatocoenose

Keberadaan fosil dalam batuan adalah insitu, sesuai dengan waktu tetapi tidak sesuai dengan ruang atau tempat orgenisme itu hidup.

Introduce Fossil

Keberadaan fosil dalam batuan adalah tidak insitu, tidak sesuai dengan ruang, dan waktu dari fosil tersebut, dimana fosil yang dijumpai berumur lebih muda dari batuannya.

Reworked Fossil

Keberadaan fosil dalam batuan adalah tidak insitu, tidak sesuai dengan ruang, dan waktu dari fosil tersebut, dimana fosil yang dijumpai berumur lebih tua dari batuannya.

SYARAT PEMFOSILAN

  • 1. Organisme tersebut tidak menjadi mangsa organisme yang lain, misal: predator atau bakteri scavenger

  • 2. Memiliki bagian tubuh/rangka yang keras dan resisten.

  • 3. Mengalami replacement yang menjadikan lebih resisten, misal rangka coelenterata terubah menjadi kalsit dan lebih keras.

  • 4. Terkubur dalam tempat yang anaerob (O2 rendah).

  • 5. Diawetkan oleh lapisan es.

  • 6. Jejak yang tertinggal tidak tererosi.

  • 7. Tertutup oleh sedimentasi berfraksi halus atau berenergi rendah.

PROSES PEMFOSILAN

  • 1. Fosil Tak Terubah (Unaltered Remains)

  • 2. Fosil Terubah (Altered Remain)

  • 3. Impresi (Cetakan)

  • 4. Fosil Jejak (Trace Fossil)

Fosil Tak Terubah (Unaltered

Remains)

Fosil yang diketemukan dalam kondisi relatif utuh tidak mengalami perubahan secara

kimiawi dan fisik. Contoh: Fosil mamouth di Siberia, tertimbun oleh es.

Fosil Tak Terubah (Unaltered Remains) Fosil yang diketemukan dalam kondisi relatif utuh tidak mengalami perubahan secara

Fosil Terubah (Altered Remains)

Fosil yang telah mengalami perubahan baik fisik maupun kimiawi. Proses- proses tersebut antara lain:

Leaching, terlarutkannya sebagian unsur-unsur karbonat.

Replacement, tergantikannya unsur-unsur kimiawi/mineral dari suatu organisme menjadi unsur-unsur yang lain.

Destilasi penggantian unsur asli dari cangkang oleh lapisan tipis karbon

Replcement

Replcement

Impresi (Cetakan)

Hasil cetakan dari jejak atau tubuh suatu organisme. Misal:

Internal mold: cetakan bagian dalam dari suatu cangkang organisme

Eksternal mold: cetakan bagian luar dari suatu cangkang organisme

Leaf Impression: Cetakan daun

Fosil Jejak (Trace Fossil)

Merupakan proses pemfosilan dari jejak-jejak aktivitas organisme. Misal:

Coprolite: Sisa-sisa kotoran binatang yang terawetkan.

Footprint: Jejak-jejak kaki binatang

Borrows: Jejak-jejak lobang-lobang tempat tinggal dan pergerakan binatang/organisme.

Fosil Jejak (Trace Fossil) Merupakan proses pemfosilan dari jejak-jejak aktivitas organisme. Misal: • Coprolite: Sisa-sisa kotoran

TAKSONOMI

Whittaker (1969) membagi organisme kedalam dua superkingdom

dan lima kingdom.

Lehmann & Hillmer (1980) membagi organisme kedalam dua superkingdom dan lima kingdom, dan 18 filum.

I. Superkingdom: Prokaryota

  • 1. Kingdom Monera

    • 1. Subkingdom Bakteria

    • 2. Subkingdom Cyanophyta

II. Superkingdom: Eukaryota

  • 2. Kingdom Protista

  • 3. Kingdom Fungi

  • 4. Kingdom Planta

  • 5. Kingdom Animalia

SUPERKINGDOM

PROKARYOTA

Organisme ini dicirikan dengan tubuh yang hanya tersusun oleh satu sel tanpa

nukleus (intisel).

KINGDOM: MONERA

1. Subkingdom: Bakteri

Bakteri merupakan organisme bersel tunggal dengan ukuran kurang dari 1 mm. Bersifat aerob dan anaerob dapat hidup di setiap lingkungan. Dapat hidup pada suhu air > 90 o C. Merupakan organisme paling tua muncul pada 3,1 milyar tahun yang lalu

2. Subkingdom: Cyanophyta (Alga hijau-biru)

Dicirikan oleh ukuran tubuh yang lebih besar dari bakteri, namun tidak lebih

dari 25 mm. Dapat melakukan fotosintesa karena mempunyai klorofil dan pigmen fotosintetik (phycocyanin).

Cyanophyta dapat hidup didaerah dengan oksigen yang ekstrem rendah dan kadang tidak ada oksigen. Sangat resisten terhadap perubahan temperatur, namun

membutuhkan lingkungan dengan pH tidak lebih rendah dari 4 dan cenderung

netral. Beberapa Alga hijau-biru dapat membentuk struktur stromatolit. Umur tertua yang pernah diketemukan kurang lebih pada Prakambrium Atas.

SUPERKINGDOM

EUKARYOTA

Merupakan organisme yang disusun oleh satu atau lebih sel yang memiliki inti sel

(nuclei)

Terbagi 4 kingdom, yaitu: Protista, Fungi, Plantae dan Animalia

Kingdom : Protista

Merupakan organisme bersel tunggal. Terdiri atas dua sub kingdom, yaitu: Prothophyta dan Protozoa

Subkingdom: Protophyta

Merupakan organisme yang dapat memproduksi oksigen, bersel tunggal dengan intisel.

Terdiri atas dua filum, yaitu: Phyrophyta dan Chrysophyta

Termasuk dalam kelompok ini adalah Dinoflagelata, Silicoflagelata, Diatomae, dan Coccolithus

Subkingdom: Protophyta Merupakan organisme yang dapat memproduksi oksigen, bersel tunggal dengan intisel. Terdiri atas dua filum,

Diatomae

Subkingdom: Protophyta Merupakan organisme yang dapat memproduksi oksigen, bersel tunggal dengan intisel. Terdiri atas dua filum,

Silicoflagelata

Subkingdom: Protophyta Merupakan organisme yang dapat memproduksi oksigen, bersel tunggal dengan intisel. Terdiri atas dua filum,

Subkingdom: Protozoa

Merupakan organisme berukuran mikro tersusun oleh satu sel, dengan intisel bisa lebih dari satu.

Klasifikasinya didasarkan pada alat geraknya. Terdiri atas 3 filum, yaitu: Flagellata, Rhizopoda, dan Ciliata.

Termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah: Foraminifera, Radiolaria, dan

Acantharia.

Subkingdom: Protozoa Merupakan organisme berukuran mikro tersusun oleh satu sel, dengan intisel bisa lebih dari satu.

Radiolaria

Subkingdom: Protozoa Merupakan organisme berukuran mikro tersusun oleh satu sel, dengan intisel bisa lebih dari satu.

Foraminifera

KINGDOM: FUNGI

Merupakan tumbuh-tumbuhan tingkat terendah. Tidak mempunyai klorofil.

Organisme ini diperkirakan muncul kurang lebih 3,4 milyar tahun yang lalu, dikenali dari Ramsaysphaera dan Isuasphaera (3,8 my tyl)

KINGDOM: PLANTAE

Merupakan kerajaan tumbuh-tumbuhan. Disusun oleh sel-sel yang banyak bersifat autotrophic.

Dalam perkembangannya ada kelompok tumbuh-tumbuhan yang sulit dipisahkan

dengan kelompok hewan (Animalia). Kelompok tersebut adalah: Acritarcha, Chitinoza, dan Petalonamae.

Dikelompokkan kedalam 2 Sub Kingdom, yaitu: Thallophyta dan Embryophyta. Dengan

filum sebanyak 10 filum.

Dalam bidang geologi fosil yang umum dijumpai berupa: fosil daun (leaf fossils), spora atau pollen, dan fosil kayu.

KINGDOM: PLANTAE Merupakan kerajaan tumbuh-tumbuhan. Disusun oleh sel-sel yang banyak bersifat autotrophic. Dalam perkembangannya ada kelompok

Gambar fosil daun dari Formasi Pucangan di

daerah Kepuhklagen Mojokerto

KINGDOM: ANIMALIA

Merupakan kelompok organisme yang sangat besar. Disusun oleh banyak sel.

Dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu: Mesozoa, Parazoa, Eumetazoa, dan

Metazoa. Juga terbagi dalam 13 filum.

SUBKINGDOM PROTOZOA

Protozoa berasal dari kata proton = awal, dan zoon = hewan. Sehingga protozoa merupakan bentuk awal dari suatu hewan.

CIRI UMUM

  • 1. Ukuran tubuh dari 1 micron (0,001 mm) sampai beberapa cm.

  • 2. Organisme bersel tunggal, dengan inti satu atau lebih, dikelilingi protoplasma.

  • 3. Sel memiliki fungsi yang bermacam-macam.

  • 4. Pada umumnya hidup secara soliter (sendiri), beberapa berkoloni.

SUSUNAN TUBUH

  • 1. Memiliki shell atau test, tersusun dari cellulose, chitin, calcareous, atau material silica.

  • 2. mempunyai alat gerak berupa: pseudopodia, axopodia, cilia dan flagella.

TAKSONOMI

Subkingdom Protozoa terbagi atas 3 filum, yaitu: Flagellata, Rhizopoda, dan Ciliata. Golongan yang sering digunakan dalam bidang geologi adalah Filum Rhizopoda.

Filum: Rhizopoda

Termasuk dalam kelompok ini adalah Foraminifera dan Radiolaria.

Foraminifera

Fosil tertua dari foraminifera terdapat pada batuan yang berumur Kambrium.

Terdapat lebih dari 30.000 spesies. Tubuhnya memiliki shell yang tersusun dari calcareous, bergerak dengan axopodia. Berdasarkan cara hidup dan ukuran foraminifera dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

Foraminifera Besar dan Foraminifera Kecil.

Foraminifera Besar: biasanya hidup sebagai benthik. Dapat digunakan untuk penentuan umur (klasifikasi huruf). Contoh genus: Nummulites (Eosen)

Foraminfera Kecil: hidup dengan cara benthik dan plangtonik. Yang benthik bagus untuk penentuan lingkungan pengendapan, sedangkan yang plangtonik bagus untuk penentuan umur. Contoh genus plangtonik: Globigerina, Hantkenina, dsb. Contoh genus benthik: Uvigerina, Quinqueloculina, dsb.

Nummulites Gyroidina Globoquadrina altispira

Nummulites

Nummulites Gyroidina Globoquadrina altispira
Nummulites Gyroidina Globoquadrina altispira

Gyroidina

Globoquadrina altispira

Radiolaria

Tubuhnya tersusun oleh test yang terbuat dari silica yang disebut dengan scleracoma. Hidup secara plangtonik. Radiolaria bergerak dengan menggunakan pseudopodia yang berbentuk mirip rambut.

Fosil tertua diketemukan pada batuan Prakambrium, dan berkembang pesat pada Zaman Kapur.

Fosil Radiolaria baik digunakan untuk penentuan lingkungan pengendapan laut dalam.

Radiolaria Tubuhnya tersusun oleh test yang terbuat dari silica yang disebut dengan scleracoma . Hidup secara
  • 1. Spongotrochus glacialis

  • 2. Lithelius nautiloides

  • 3. Dihampora furcaspiculata

  • 4. Theocalyptra bicornis

KINGDOM ANIMALIA

Merupakan kelompok organisme yang sangat besar. Disusun oleh banyak sel.

Dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu: Mesozoa, Parazoa, Eumetazoa, dan Metazoa.

Juga terbagi dalam 13 filum.

KELOMPOK: PARAZOA

Merupakan organisme yang tidak mempunyai organ tubuh lunak. Tersusun lebih

dari satu sel yang mempunyai fungsi sendiri-sendiri.

Terdiri atas dua filum: Porifera dan Archaeocyatha.

FILUM: PORIFERA

Merupakan organisme yang bentuk tubuhnya berpori-pori (ostia). Pori-pori

tersebut berfungsi untuk menyerap makanan dan bernapas.

Tubuhnya juga disusun oleh rangka yang disebut spicula. Atas dasar bentuk

dan jumlah sumbunya terbagi menjadi empat: Monaxon, Tetraxon,

Hexaxon, dan Polyaxon.

Bentuk arsitektur tubuhnya dipengaruhi oleh sistem kanal, terdiri tiga

macam, yaitu: asconoid, syconoid dan leuconoid.

Klasifikasi

Klasifikasi Porifera didasarkan atas bentuk dan material penyusun spiculanya. Terdapat empat klas, yaitu: Calcarea, Hexatinellida, Demospongia dan Sclerospongia.

Klasifikasi Klasifikasi Porifera didasarkan atas bentuk dan material penyusun spiculanya. Terdapat empat klas, yaitu: Calcarea ,

Klas: Demospongea

Mempunyai dan tidak mempunyai spicula dengan material silika. Hubungan antara spicula membentuk sudut 60 O dan 120 O . Fosil yang ditemukan bisanya disebut dengan sponga tanduk.

Terdiri atas dua ordo: Lithistida dan Hadromerida.

Fosil yang pernah diketemukan: Aulocopium (Ordovisium-Silur)

Klas: Demospongea Mempunyai dan tidak mempunyai spicula dengan material silika. Hubungan antara spicula membentuk sudut 60
Klas: Demospongea Mempunyai dan tidak mempunyai spicula dengan material silika. Hubungan antara spicula membentuk sudut 60
Klas: Demospongea Mempunyai dan tidak mempunyai spicula dengan material silika. Hubungan antara spicula membentuk sudut 60

Klas: Hexatinellida

Spicula berbentuk hexaxon, tersusun oleh asam silika. Terdapat tiga ordo: Lyssakida, Dictyida, dan Lychniskida. Fosil yang pernah diketemukan: Coeloptychium (Kapur Atas)

Klas: Calcarea (Calcispongea)

Spicula tersusun oleh calcareous berupa: kalsit, aragonit dan sedikit magnesium karbonat.

Tipe saluran: asconoid, syconoid, dan leuconoid.

Hidup di laut dangkal (neritik) sampai zona pasang surut.

Terdiri atas dua ordo, yaitu: Pharetronida dan Thalamida. Fosil yang pernah diketemukan: Enaulofungia (Yura-Kapur) dan Polytholosia (Trias).

Klas: Sclerospongea

Spiculanya berbentuk seperti pin (jarum). Kanal berbentuk bintang sehingga disebut astrorhizae. Terdiri atas empat ordo, yaitu: Ceratoporellida, Tabulospongida, Chaetetida, dan Muranida. Fosil yang pernah diketemukan: Acanthochaetes (Kapur-Resen).

FILUM: ARCHAEOCYATA

Merupakan bentuk peralihan antara Porifera dengan Coelenterata. Berbentuk kerucut dengan dinding ganda. Terdapat septa diantara dinding dalam dan luar disebut parietes. Terdapat dua klas, yaitu: Reguler dan Irreguler

KELOMPOK

EUMETAZOA/METAZOA

Merupakan organisme yang tersusun oleh tubuh lunak dan kerangka. Terdapat 2 sub kelompok, yaitu: Invertebrata dan Vertebrata.

SUBKELOMPOK:

INVERTEBRATA

Merupakan organisme yang susunan tubuhnya belum mempunyai tulang belakang. Tubuh disusun oleh bagian yang lunak dan kerangka keras. Terdapat 3 superfilum, yaitu: Coelenterata, Protostomia dan Deuterostomia.

Ketiga superfilum tersebut terbagi dalam 11 filum, yaitu:

  • 1. Cnidaria

  • 2. Mollusca

  • 3. Aschelminthes

  • 4. Annelida

  • 5. Arthropoda

  • 6. Phoronida

  • 7. Bryozoa

  • 8. Brachiopoda

  • 9. Conodontophorida

10.Echinodermata

11.Branchiotremata

PHYLUM COELENTERATA
PHYLUM COELENTERATA

Coelenterata : Kailos/Hollow --- cekung

Enteron/Intestine --- dalam

= Hewan yang mempunyai cekungan (berlekuk) pada bagian dalamnya

>>>

Disebut

semacam

kantong

endoderm Perkembangbiakan :

-. Sexual

-. Asexual

yang terlapiskan

PHYLUM COELENTERATA

Coelenterata : Kailos/Hollow --- cekung

Enteron/Intestine --- dalam

= Hewan yang mempunyai cekungan (berlekuk) pada bagian dalamnya

>>>

Disebut

semacam

kantong

endoderm Perkembangbiakan :

-. Sexual

-. Asexual

yang terlapiskan

Ciri-ciri Coelenterata

  • 1. Bentuk simetri radial/biradial, dengan satu lubang yang berfungsi sebagai mulut (dikelilingi oleh tentakel)

  • 2. Termasuk fauna invertebrata (tidak bertulang belakang)

  • 3. Dinding tubuh terdiri dari : -. Epidermis (ektoderm)

>> lapisan luar

-. Endodermis (Gastroderm) >> lapisan dalam

  • 3. Mulut langsung berhubungan dengan rongga Gastrovasekuler>>enteron

  • 4. Sistem saraf terletak disepanjang dinding tubuhnya

  • 5. Disekitar mulut tdp tentakel yang berfungsi sebagai anus

  • 6. Mempunyai 2 bentuk :

-. Polyp

: kerangka zat tanduk/karbonat

-. Medusa

: tidak mempunyai bagian yang keras, dijumpai

sebagai

fosil

hanya berupa jejak (impression)

  • 7. Hidup secara koloni dan soliter, terutama dalam bentuk Secyl

Polyp & Medusa

Polyp : bentuk seperti tabung & membuka keatas, sebagian mulut dikelilingi oleh tentakel dan bagian bawahnya tertutup, menambatkan diri pada

dasar (benthos secyl) & kerangkanya bersifat Calcareous

Mempunyai bagian yang keras, dsb sebagai Eksoskeleton/Hydrotheca

Medusa : bentuknya seperti payung dengan tentakel yang menggantung sepanjang tepi dengan mulut terdapat pada bagian akhir manubrium.

Terdapat Gonad, yang berfungsi sebagai penghasil sel-sel reproduksi

Hidup berenang secara nektonik & planktonik

Dijumpai 2 macam Canal (Circular (berjumlah satu) & Radial (berjumlah empat & kelipatannya)

Fisiografi bentuk Polyp & Medusa

Fisiografi bentuk Polyp & Medusa

Ciri Fisik

KLAS HYDROZOA

Mulut dikelilingi tentakel, bagian dasar tidak ada gullet

Bentuk peralihan dari medusa ke polip

Tersusun oleh zat tanduk atau zat gampingan (calcareous)

Klasifikasi

Terdapat 3 ordo, yaitu: Hydroida, Milleporida dan Stylasterida

KLAS STROMATOPORIDA

Tubuh tersusun oleh rangka bersifat gampingan yang disebut dengan coenosteum. Struktur dalam sama untuk semua jenis, hanya dari ukuran tubuh yang membedakan.

Hidup berkoloni dihubungkan dengan coenosteum. Terdapat

dua tipe koloni, yaitu:

Hydrozoid, berbentuk masif, pipih atau spherical.

Beatricoid, berbentuk tabung dengan permukaan

undulating.

KLAS SCYPHOZOA

Bentuk tubuh medusa.

Hidup soliter dengan berenang

Diameter tubuh dapat mencapai lebih dari 2 meter, dengan

tentakel mencapai 40 meter.

Hidup pada Kambrium Tengah Resen.

Fosil dijumpai dalam bentuk cetakan.

KLAS ANTHOZOA

Bentuk tubuh polip, menyerupai bunga.

Hidup soliter dan sebagian besar berkoloni.

Tubuh mempunyai eksoskeleton (Theca).

Pada theca terdapat sekat vertikal (Septa) dan Horisontal (Tabula)

Berkembang biak dengan dua cara, yaitu bertunas (lateral

building) atau membelah diri (caicyl building)

PHYLUM BRACHIOPODA

Organisme yang hidup di laut dengan cara benthik. Menambat dengan menggunakan pedikel.

Tubuh tersusun oleh tubuh lunak yang dilindungi oleh rangka keras yang disebut dengan valve berjumlah dua buah, ineqiuvalve, dengan bentuk valve simetri.

Valve dibedakan atas ventral valve dan dorsal valve. Pada valve yang terdapat lobang deltryum disebut dengan pedikel valve. Posisi pedikel valve digunakan untuk penentu taksonomi.

Brachiopoda terbagi dalam dua klas, yaitu: Artikulata dan Inartikulata. Brachiopoda hidup melimpah pada Masa Paleozoikum, beberapa menjadi fosil indeks.

Klas Inartikulata

Tidak mempunyai hinge line, sehingga urat dagingnya lebih kompleks.

Tidak mempunyai pedikel opening.

Klas Artikulata

Mempunyai hinge line, sehingga urat dagingnya lebih sederhana. Mempunyai pedikel opening yang terdapat pada dorsal valve

SUBGROUP : PROTOSTOMIA

FILUM MOLUSKA

Merupakan organisme yang mulai muncul pada zaman

Kambrium dan masih dijumpai sampai sekarang.

Hidup di lingkungan yang aquatik sampai darat.

Organ tubuhnya relatif lengkap. Disusun oleh tubuh lunak dan

dilindungi oleh rangka atau shell.

SUSUNAN TUBUH

Susunan tubuh lunak moluska dapat dibagi kedalam 4 bagian:

  • 1. Kepala, dengan mulut, tentakel, dan mata (pada pelecypoda

tidak dijumpai

  • 2. Bagian ventral yang berfungsi sebagai kaki.

  • 3. Bagian punggung (dorsal), terdapat intestines (pencernaan) dan alat reproduksi

  • 4. Mantel, berada diantara shell dengan tubuh lunak, berfungsi sebagai alat pernapasan.

Tubuh

keras

(Shell/Valve/Cangkang),

ada

pada

subfilum

 

Conchifera, pada subfilum Amphineura tidak dijumpai:

Bershell ganda (bivalve)

 

Bershell tunggal:

1. Terputar/tidak terputar

  • 2. Bagian dalam berstruktur/tidak berstruktur

KLASIFIKASI

Klasifikasi dalam moluska didasarkan pada tubuh kerasnya, dan terbagi dalam dua subfilum, yaitu:

  • 1. Subfilum Amphineura

  • 2. Subfilum Conchifera

SUBFILUM AMPHINEURA

Subfilum Amphineura merupakan golongan moluska yang tidak

mempunyai tubuh keras atau shell.

Sangat jarang diketemukan sebagai fosil. Masuk dalam subfilum ini: Chiton

Bagian tubuh terdiri: mulut, kaki, gill (alat pernapasan), dan anus. Dilindungi oleh zat chitin yang lunak disebut perionatum.

Dijumpai sebagai fosil dalam bentuk cetakan.

SUBFILUM CONCHIFERA

Subfilum Conchifera merupakan golongan moluska yang

mempunyai tubuh keras atau shell.

Sangat sering diketemukan sebagai fosil.

Bagian tubuh terdiri: mulut, “kaki”, gill (alat pernapasan), dan

anus.

Jumlah sangat melimpah > 126.000 spesies teridentifikasi.

Klasifikasi: Pelecypoda, Gastropoda, Scaphopoda, Monoplacophora, dan Cephalopoda.

KLAS PELECYPODA

Sering disebut dengan Bivalves dan Lamellibranchia.

Disebut Pelecypoda, karena bergerak dengan “kaki” yang

berbentuk seperti kapak.

Tubuh dilindungi oleh dua buah cangkang (valve), tidak

mempunyai “kepala”, tersusun oleh kaki, gills (alat pernapasan),

jantung, ligamen, mantel, dan otot-otot (muscle).

Klasifikasi untuk fosil didasarkan pada bentuk cangkang:

Cryptodonta, Taxodonta, Heterodonta, paleotaxodonta,

Dysodonta, dan Desmodonta.

L H
L
H

Deskripsi Morfologi:

Bentuk struktur permukaan

Jumlah ridge

Bentuk hinge line (engsel)

Jumlah gigi engsel Bentuk valve

L H Deskripsi Morfologi: • Bentuk struktur permukaan • Jumlah ridge • Bentuk hinge line (engsel)

KLAS GASTROPODA

Disebut Gastropoda, karena bergerak dengan dada “kaki”

Tubuh dilindungi oleh satu buah cangkang (shell), mempunyai

“kepala”, tersusun oleh kaki, branchia (alat pernapasan), radula

(gigi), jantung, ligamen, mantel, dan otot-otot (muscle).

Klasifikasi untuk fosil didasarkan pada bentuk shell:

Archaegastropoda, Mesogastropoda, dan Neogastropoda

a L D
a
L
D

Deskripsi Morfologi:

Bentuk kamar awal (apex) Jumlah spiral rib Bentuk whorl, menyudut atau membulat Jumlah kamar (whorl) Pola umum peri-peri

KLAS SCAPHOPODA

Dikenal dengan Tusk Shell, shell berbentuk seperti gading. Tubuh dilindungi oleh satu buah cangkang (shell), mempunyai

“kepala”, tersusun oleh kaki, branchia (alat pernapasan), radula

(gigi), jantung, ligamen, mantel, dan otot-otot (muscle).

Klasifikasi untuk fosil didasarkan pada bentuk shell: Dentaliidae

dan Siphonodentallidae

KLAS CEPHALOPODA

Bergerak dengan alat pada bagian kepala

Tubuh dilindungi oleh satu buah cangkang (shell), mempunyai

“kepala”, tersusun oleh kaki, branchia (alat pernapasan), radula

(gigi), jantung, ligamen, mantel, dan otot-otot (muscle), dan tentakel.

Pada shell bagian dalam terdapat sutura dan kamar-kamar, serta siphuncle, berfungsi untuk pengapungan.

Klasifikasi untuk fosil didasarkan pada bentuk shell: Nautiloid

dan Bellemnoid.

Bagian-bagian shell

Bagian-bagian shell Aperture Kamar Suture Siphuncle

Aperture

Kamar Suture
Kamar
Suture

Siphuncle

METODE IDENTIFIKASI MOLUSKA

Tanpa Shell

Amphineura

Moluska

METODE IDENTIFIKASI MOLUSKA Tanpa Shell Amphineura Moluska Shell Shell ganda Pelecypoda Shell tunggal Berstruktur dalam Tidak

Shell

Shell ganda

   

Pelecypoda

METODE IDENTIFIKASI MOLUSKA Tanpa Shell Amphineura Moluska Shell Shell ganda Pelecypoda Shell tunggal Berstruktur dalam Tidak

Shell tunggal

Berstruktur dalam

METODE IDENTIFIKASI MOLUSKA Tanpa Shell Amphineura Moluska Shell Shell ganda Pelecypoda Shell tunggal Berstruktur dalam Tidak

Tidak Berstruktur dalam

Cephalopoda

Terputar

METODE IDENTIFIKASI MOLUSKA Tanpa Shell Amphineura Moluska Shell Shell ganda Pelecypoda Shell tunggal Berstruktur dalam Tidak

Tdk Terputar

Gastropoda

Gading Kerucut
Gading
Kerucut

Scaphopoda

Monoplacophora

Terputar Nautiloid
Terputar
Nautiloid

Tdk Terputar Belemnoid

SUBGROUP : PROTOSTOMIA

FILUM ARTHROPODA

Nama Arthropoda diambil dari bahasa Yunani yaitu arthron = ruas dan pous/podos = kaki.

Muncul sejak zaman Prakambrium sampai sekarang.

SUBGROUP : PROTOSTOMIA FILUM ARTHROPODA Nama Arthropoda diambil dari bahasa Yunani yaitu arthron = ruas dan

Ciri Fisik

Bentuk pada umumnya memanjang, simetri bilateral, tersusun oleh tubuh yang beruas-ruas.

Ruas-ruas tubuh tersebut terbagi atas: kepala (cephalon), dada (thorax), perut (abdomen), terkadang ada yang memiliki ekor (pygidium).

Sebagian besar dari ruas-ruas tersebut ada yang memanjang disebut dengan appendages yang berfungsi macam-macam, untuk berjalan, menangkap, antena, berenang dan sebagainya.

Klasifikasi

Penentuan klasifikasi didasarkan atas: 1) Sifat ruas tubuhnya, 2) Struktur dan jumlah kaki, 3) Sifat dan posisi alat pernapasan. Berdasarkan pembagian tersebut dikelompokkan menjadi:

  • 1. Subfilum Crustacea

  • 2. Subfilum Chelicerata

  • 3. Subfilum Trilobitomorpha

  • 4. Subfilum Insecta

Subfilum Crustacea

Merupakan kelompok kepiting, udang, dan balanus. Bentuk

tubuh dari Crustacea dicirikan dengan adanya bagian tubuh

yang keras tersusun oleh zat chitin, calcareous chitinous atau calcareous exoskeleton.

Tiga klas yang cukup penting: Ostracoda, Cirripedia, dan Malacostraca

Klas Ostracoda

Berukuran kecil, berbentuk lensa, tersusun oleh dua

cangkang, pembagian ruas tubuhnya tidak jelas. Dalam

pengamatan biasanya di gunakan mikroskop, karena ukuran tubuhnya berkisar 1-20 mm.

Klas Cirripedia

Dikenal sebagai bernacle, hidup menambat pada usia dewasa, pada usia muda berupa larva. Tubuh tersusun oleh cangkang atau lempeng antara 4-10 buah.

Contoh genus adalah Balanus

Klas Cirripedia Dikenal sebagai bernacle, hidup menambat pada usia dewasa, pada usia muda berupa larva. Tubuh

Klas Malacostraca

Merupakan

organisme

terbesar

dari

Subfilum

Crustacea.

Merupakan kelompok udang dan kepiting.

Ciri fisik:

 

Tersusun oleh sekitar 21 ruas tubuh (6 pada kepala, 8 didada, 6 di perut dan ekor).

Mempunyai

carapace

pada

bagian kepala terkadang

sampai dada.

Subfilum Trilobitomorpha

Trilobita

merupakan

Arthropoda

dari

Era

Paleozoikum,

dengan tubuhnya memiliki segmen yang banyak.

Ukuran tubuh Trilobita sendiri berukuran antara 50 sampai 75 mm, walaupun begitu ada beberapa yang berukuran sangat besar lebih dari 50 cm.

Hanya ada satu klas, yaitu: Trilobit

Klas Trilobit

Bentuk tubuh terbagi atas tiga bagian utama. Pada bagian kepala disebut dengan cephalon, bagian tengah disebut thorax, dan pada bagian perut disebut pygidium (abdomen). Pada bagian cephalon , Trilobita dilengkapi dengan hypostoma semacam bibir, dua buah antenules. Pada bagian thorax, setiap jenis Trilobita terdiri atas jumlah segmen yang bervariasi. Pada setiap segmennya terdapat appendages. Sedangkan pada bagian pygidium biasanya hanya tersusun atas satu segmen.

Ekologi: Trilobit biasanya hidup pada dasar laut yang dangkal.

Subfilum Insekta

Secara umum bentuk tubuhnya terbagi atas head, thorax dan abdomen, serta sepasang sayap yang terdapat pada segmen kedua dan ketiga pada thorax. Sampai saat ini ada sekitar 12.000 species terbagi dalam 24 ordo yang masih hidup dan 10 ordo yang ditemukan sebagai fosil.

SUBGROUP : DEUTEROSTOMIA

Merupakan organisme yang pada awalnya antara mulut dan anus tidak dipisahkan,

namun kemudian berkembang menjadi terpisah.

Terdapat dua filum, yaitu: Echinodermata dan Branchiotremata.

SUBGROUP : DEUTEROSTOMIA

FILUM ECHINODERMATA

CIRI FISIK

Bentuk tubuhnya dicirikan adanya tangan berjumlah lima yang simetri. Tubuhnya memiliki sistim alur air dan mempunyai suatu rangka karbonatan, pada beberapa bentuk ada yang mempunyai duri.

Ukuran tubuhnya dari beberapa millimeter sampai hampir 20 meter.

Rangkanya tersusun oleh: 1) internal stereome, 2) kristal kalsit berorientasi seragam, dan 3) stroma organik bagian luar.

Rangkanya mengandung 3 15% magnesium karbonat bergantung pada suhu air.

EKOLOGI

hidup di laut dari laut dangkal (shallow marine) sampai laut dalam (deep marine). Beberapa hidup pada substrate yang halus (lempung), yang lainnya hidup pada substrat yang kasar (pasir atau bebatuan), beberapa lainnya secara burrowing.

EKOLOGI hidup di laut dari laut dangkal (shallow marine) sampai laut dalam (deep marine). Beberapa hidup

KLASIFIKASI

Berdasarkan cara hidupnya dibedakan atas dua, yaitu: menambat (Pelmatozoa) dan bebas (Eleutherozoa).

Klasifikasinya dibagi kedalam lima sub filum, yaitu:

Homalozoa, (Carpoids)

Blastozoa, (Blastoid dan Cystoid)

Crinozoa, (Lili laut)

Asterozoa, (Bintang laut)

Echinozoa. (Landak laut, bulu babi)

SUB FILUM HOMALOZOA

Bentuk tubuh tidak simetri (asimetri). Mempunyai rangka dan alat

penambat (stalk). Belum banyak diketahui bagaimana perkembangan

tubuhnya.

Muncul pada Masa Paleozoikum.

Klasifikasinya dibagi kedalam tiga klas, yaitu:

Homostelea (Kambrium): Gyrocytstis

Homoiostelea (Kambrium-Devon): Dendrocystites

Stylophora (Kambrium Devon): Cothurnocystis

SUB FILUM BLASTOZOA

Merupakan kelompok yang hidup dengan cara menambat

(pelmatozoa). Semuanya menempel dengan brachioles (lengan

yang pendek). Muncul pada masa Paleozoikum. Terdiri atas 4

klas, yaitu: Eocrinoidea, Parablastoidea, Blastoidea, dan Cyastoidea.

Klas Blastoidea

Memiliki bentuk tubuh pentagonal simetri dengan cara hidup menambat menggunakan stalk. Tubuh disusun oleh 13 lempeng, yang terbagi atas 5 lempeng sebagai amburakal, 5 sebagai intraamburakal, dan 3 pada basal.

Muncul pada Zaman Silur sampai Perm.

Contoh genus: Timoroblastus, Schizoblastus, dan Pentremites.

Pada Timoroblastus dicirikan dengan theca berbentuk bintang, ditemukan di Pulau Timor, berumur Perm.

Schizoblastus, theca berbentuk agak bulat, dengan ambulakral sedikit lebih panjang sari thecanya. Pada setiap ambulakral terdapat hydrospires. Muncul pada Perm - Karbon Bawah, di Pulau Timor.

SUB FILUM CRINOZOA

Merupakan kelompok yang hidup dengan cara menambat (pelmatozoa). Semuanya menempel dengan stalk atau bagian bawah Calyx).

Susunan tubuhnya terdiri dari Calyx (theca) yang dilengkapai

dengan brachial dan anal tube. Di bawah dari calyx terdapat

stalk yang dilengkapi akar. Muncul pada masa Ahkir Kambrium sampai sekarang. Terdiri atas 2 klas, yaitu: Paracrinoidea, dan Crinoidea.

SUB FILUM ASTEROZOA

Merupakan kelompok yang hidup dengan cara berjalan bebas.

Dikenal dengan bintang laut (star-fish).

Bentuk tubuh

relatif

datar

dengan

lima

buah

lengan

ambulakral. Mulut terdapat di bagian bawah tubuh.

Muncul pada masa Ahkir Kambrium sampai sekarang. Terdapat satu klas, yaitu: Stelleroidea

SUB FILUM ECHINOZOA

Echinozoa dicirikan dengan bentuk tubuh dari silindris sampai bulat yang simetri. Hidup dengan cara berjalan. Terdapat enam klas, yaitu: Helicoplacoidea, Ophiocystoidea, Cyclocystoidea, Edrioasteroidea, Holothuroidea, dan Echinoidea. Hanya klas Echinoidea saja yang kita bahas.

Klas Echinoidea

Bentuk tubuhnya dicirikan dengan adanya duri serta bentuknya yang bulat. Shelnya (corona) tersusun oleh lempeng-lempeng kalsit. Posisi mulut dan anus saling berseberangan. Pada bagian apical (atas) tersusun oleh 10 lempeng, terdiri 5 lempeng besar (genital plates), dan 5 lempeng kecil (ocular plates). Dari ocular plates kemudian berkembang menjadi ambulakral, sedangkan genital plates berkembang menjadi inter-ambulakral. Pada lempeng ambulakral dapat dikenali jenis strukturnya.

Klas Echinoidea terbagi dalam delapan ordo. Salah satu ordo yang masih dijumpai sampai sekarang adalah Cidaroida. Klasifikasi didasarkan atas:

  • 1. Jumlah kolom pada intra ambulakaral.

  • 2. Jumlah lempeng yang ada pada ambukral

  • 3. Pola struktur lempeng ambulakral

VERTEBRATA

Merupakan organisme yang dicirikan dengan tubuhnya mempunyai tulang belakang. Bentuk tubuh simetri bilateral. Rangka berfungsi melindungi dan memperkuat.

Dalam perkembangan kehidupan vertebrata merupakan

perkembangan yang paling modern. Kehidupannya dapat dijumpai diberbagai lingkungan: udara, darat, dan air. Muncul pertama kali pada Ordovisium Awal

Klasifikasinya didasarkan pada sistem sirkulasi darah, dibagi menjadi 8 klas, yaitu: Agnatha, Placodermi, Condrithyes, Ostheichthyes, Amphibia, Reptilia, Aves, dan Mammalia.

Kedelapan klas tersebut terbagi kedalam 2 kelompok, yaitu:

Pisces (Ikan) dan Tetrapoda (berkaki empat)

KELOMPOK PISCES

Merupakan bentuk kehidupan yang berada di air.

Pada awalnya ikan tidak mempunyai rahang yaitu dari Klas Agnatha.

Bernapas

dengan

insang.

mempunyai sisik.

Pada

ordo yang primitip belum

Alat gerak utamanya pada tulang ekornya. Sirip bawah yang

merupakan awal alat gerak belum berfungsi penuh sebagai alat

gerak.

Klasifikasi

Terdiri dari 4 klas, yaitu: Agnatha, Placodermi, Condrithyes, dan Ostheichthyes.

Klasifikasi Terdiri dari 4 klas, yaitu: Agnatha, Placodermi, Condrithyes, dan Ostheichthyes .

KELOMPOK TETRAPODA

Merupakan vertebrata yang dilengkapi dengan empat buah

alat gerak (2 pasang).

KELOMPOK TETRAPODA Merupakan vertebrata yang dilengkapi dengan empat buah alat gerak (2 pasang).

KLAS AMPHIBI

Merupakan bentuk paling primitip dari Tetrapoda.

Fosil tertua yang pernah diketemukan adalah Seymouria berumur Devon Atas.

Amphibia hidup di air dan di darat.

Dalam perkembangan hidupnya, bentuk muda hidup di air dengan

bergerak menggunakan ekor, kemudian tumbuh menjadi hidup di darat bergerak dengan kakinya.

KLAS REPTILIA

Reptilia merupakan golongan binatang yang pernah mendominasi kehidupan di dunia yaitu pada Masa Mesozoikum. Merupakan vertebrata yang berdarah dingin. Dalam perkembangan hidupnya, telurnya berada di darat kemudian pada kehidupan dewasanya berada di air. Hidup pada lingkungan yang luas dari udara, darat dan air. Ukuran tubuhnya bervariasi dari beberapa cm sampai beberapa meter. Bentuk terbesar contohnya adalah Brontosaurus.

KLAS AVES

Merupakan kelompok vertebrata yang dapat terbang.

Sepasang alat geraknya yang terdapat pada thorax berfungsi

sebagai sayap, sedangkan yang sepasang pada bagian bawah

berfungsi sebagai kaki. Kaki berfungsi sebagai penangkap dan berjalan.

Fungsi ekor sebagai alat gerak sudah tidak dominan, namun berguna pada pengaturan arah gerak dan keseimbangan.

Fosil

tertua

diketemukan

Archaeopteryx.

pada

batuan

berumur

Yura,

yaitu:

KLAS MAMALIA

Merupakan vertebrata berdarah panas. Bentuk kehidupan yang paling sempurna atau kompleks.

Lingkungan hidupnya ada di udara, air, dan darat.

Pada kehidupan yang di darat, alat geraknya berupa 2 pasang kaki.

Ekor lebih berfungsi sebagai penyeimbang berat badan.

Khusus Primata mempunyai kecenderungan untuk bergerak dengan dua kaki belakang, sedangkan kaki depan berfungsi sebagai penangkap.

Termasuk dalam kelompok ini adalah Primata dimana manusia

termasuk di dalamnya.

VERTEBRATA DI INDONESIA

Sampai saat ini belum dijumpai fosil vertebrata yang berumur lebih tua dari Pliosen. Fosil yang dijumpai pada umumnya berumur Pliosen Akhir sampai Resen.

Lokasi yang banyak dijumpai adalah: Jetis (Mojokerto), Sangiran, Rancah, dan Cekungan Bandung.

Di luar Jawa di Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Indonesia memiliki fosil manusia purba yaitu: Homo Mojokertensis, yang diketemukan di daerah Mojokerto.