Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Gigi impaksi adalah gigi yang gagal erupsi secara utuh pada posisi yang seharusnya. Hal ini dapat terjadi karena tidak tersedianya ruangan yang cukup pada rahang untuk tumbuhnya gigi dan angulasi yang tidak benar dari gigi tersebut. Gigi molar tiga biasa juga disebut sebagai wisdom teeth karena merupakan gigi yang erupsi paling akhir, umumnya erupsi antara umur 17 dan 25 tahun. Gigi impaksi merupakan sebuah fenomena yang sering terjadi di masyarakat. Gigi impaksi merupakan sumber potensial yang terus-menerus dapat menimbulkan keluhan sejak gigi mulai erupsi. Keluhan utama yang paling sering dirasakan adalah rasa sakit dan pembengkakan yang terjadi di sekeliling gusi gigi tersebut.1,2 Jenis perawatan pada kasus gigi impaksi dapat dikerjakan dengan pencabutan dan tindakan bedah mulut. Odontektomi adalah tindakan operasi untuk mengangkat gigi yang impaksi. Dalam melakukan tindakan bedah mulut diperlukan suatu pemeriksaan yang cermat dan diteliti yang meliputi pemeriksaan fisik dan penunjang sehingga diagnosa dapat ditegakkan dengan tepat. Dilanjutkan dengan membuat perencanaan operasi yang meliputi dengan pemilihan anastesi, obat-obatan, material kesehatan,

metode operasi, pembuatan flap, cara pengambilan tulang dan cara pengambilan gigi atau cara rekontruksi yang akan dilakukan. 3 Ada pendapat bahwa persyaratan kedua untuk pembedahan impaksi adalah flap yang didesain dengan baik, tercapainya akses yang kontinu dan ukurannya cukup. Pada dasarnya desain flap untuk operasi gigi molar tiga dibagi menjadi dua kategori, yaitu : flap envelope, dan flap triangular.4 Flap dibuat agar daerah operasi dapat terlihat dengan jelas dan dapat dicapai. Bentuk flap harus menjamin tersedianya lapang pandang dan jalan masuk secara mekanis yang memadai. Dasar flap harus lebih lebar dari pada bagian ujungnya yang bebas untuk mendapatkan suplai darah yang baik.5 Di klinik Laboratorium Bedah Mulut FKG UPDM(B), mahasiswa kepanitraan klinik memiliki sejumlah requirement tindakan odontektomi gigi M3 bawah dimana sebelumnya akan melakukan pembuatan flap atau insisi terlebih dahulu. Menentukan desain flap dilihat dari kasus impaksi, insisi harus sesuai untuk keadaan tertentu dan merupakan rencana pra bedah. Insisi dilakukan agar menghindari kerusakan struktur anatomi yang penting, lapang pandang yang baik, dan pembentukan jaringan parut yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis presentase guna perbaikan sistem pendidikan profesi di klinik Laboratorium Bedah Mulut FKG UPDM(B). Penelitian yang dilakukan dalam penulisan ini termasuk dalam jenis kualitatif (berdasarkan sifat data yang dikumpulkan), observasional (berdasarkan cara pengumpulan data), dan deskriptif (berdasarkan analisis

data). Penelitian ini diperlukan juga untuk mendapatkan gambaran kategori desain flap untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi M3 bawah yang telah dilakukan oleh mahasiswa kepanitraan klinik pada klinik Bedah Mulut FKG UPDM(B) tahun 2010-2012.

I.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan yang dapat diidentifikasikan dalam penelitian ini sebagai berikut : 1) Apa saja macam-macam desain flap untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi M3 bawah yang dilakukan oleh mahasiswa kepanitraan klinik laboratorium bedah mulut FKG UPDM(B) dari tahun 2010-1012? 2) Berapa presentase masing-masing kategori desain flap untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi M3 bawah yang dilakukan oleh mahasiswa kepanitraan klinik laboratorium bedah mulut FKG UPDM(B) dari tahun 2010-2012?

I.3

Maksud dan Tujuan Penelitian I.3.1 Tujuan Penelitian 1) Mendapatkan presentase masing-masing kategori desain flap

untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi M3 bawah yang dilakukan oleh mahasiswa kepanitraan klinik di

laboratorium bedah mulut FKG UPDM(B) dari tahun 2010-2012.

I.3.2 Maksud Penelitian Maksud penelitian ini adalah untuk mendapatkan persentase desain flap untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi M3 bawah yang dilakukan oleh mahasiswa kepanitraan klinik laboratorium bedah mulut FKG UPDM(B) dari tahun 2010-2012.

I.4

Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini dapat memberikan perbaikan sistem pendidikan di laboratorium bedah mulut FKG UPDM(B), sehingga klinik ini dapat meningkatkan keterampilan odontektomi para mahasiswa kepanitraan klinik atau program profesi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

II.1 IMPAKSI II.1.1 Definisi Impaksi Gigi impaksi adalah gigi yang tidak erupsi atau erupsi hanya sebagian oleh karena proses erupsi normalnya terhalang, biasanya oleh gigi di dekatnya, tulang atau jaringan sekitar yang patologis. Secara klinis, dapat dikatakan gigi impaksi bila gigi antagonisnya sudah erupsi dan hampir bisa dipastikan apabila gigi yang terletak pada sisi yang lain sudah erupsi.6,7 Gigi impaksi adalah gigi yang gagal erupsi secara utuh pada posisi yang seharusnya. Hal ini dapat terjadi karena tidak tersedianya ruangan yang cukup pada rahang untuk tumbuhnya gigi dan angulasi yang tidak benar pada gigi tersebut.1 Gigi molar tiga adalah gigi yang paling akhir erupsi dalam rongga mulut, yaitu pada usia 18-24 tahun. Keadaan ini kemungkinan menyebabkan gigi molar tiga lebih sering mengalami impaksi dibandingkan gigi yang lain karena seringkali tidak tersedia ruangan yang cukup bagi gigi untuk erupsi. Menurut Chu dkk, 28,3% dari 7468 pasien mengalami impaksi, dan gigi molar tiga mandibular yang paling sering mengalami impaksi (82,5%).3

Gambar 1 : Gambaran gigi impaksi.8

II.1.2 Etiologi Gigi Impaksi9 1. Penyebab Lokal a. b. c. d. Kedudukan gigi tetangga yang tidak teratur. Tekanan gigi tetangga. Kurangnya tempat, karena kurangnya pertumbuhan rahang. Densitas tulang diatas dan disekeliling gigi yang bersangkutan. e. f. g. Persistensi gigi sulung. Premature lost gigi sulung. Keradangan kronis yang lama dan berkesinambungan yang menyebabkan terjadinya penebalan mukosa. h. i. 2. Penyakit nekrosis karena keradangan/abses. Perubahan pada tulang karena proses keradangan.

Penyebab Sistemik a. Penyebab prenatal 1) Keturunan 2) Miscegeneration (perkawinan campur antar suku/bangsa).
6

b.

Penyebab postnatal 1) Ricketsia (gangguan penulangan normal karena defisiensi vitamin D) 2) Anemia 3) Kongenital syphilis 4) TBC 5) Gangguan kelenjar endokrin 6) Malnutrisi

c.

Kelainan pertumbuhan 1) Cleidocranial dysostosis 2) Oxycephaly 3) Progeria 4) Achondroplasia (kerdil) 5) Cleft palate (celah langit-langit)

II.1.3 Indikasi dan Kontraindikasi Pengangkatan Gigi Impaksi Indikasi :4,6,10 Adapun indikasi pengangkatan gigi impaksi, adalah : 1. Pencegahan dari terjadinya : Infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal (perikoronitis) Berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis (kista odontogenik dan neoplasma)

2.

Usia muda, sesudah akar gigi terbentuk sepertiga sampai dua pertiga bagian dan sebelum pasien mencapai usia 18 tahun (periode emas)

3. 4. 5.

Adanya infeksi (focus selulitis) Adanya keadaan patologi (odontogenik) Penyimpangan panjang lengkung rahang dan untuk membantu mempertahankan stabilitas hasil perawatan ortodonsi

6.

Prostetik atau restoratif (diperlukan untuk mencapai jalan masuk ke tepi gingiva distal dari molar kedua di dekatnya)

7.

Apabila molar kedua di dekatnya dicabut dan kemungkinan erupsi normal atau berfungsinya molar ketiga impaksi sangat kecil

8.

Secara umum, sebelum tulang sangat termineralisasi dan padat yaitu sebelum usia 26 tahun.

9.

Pembuangan molar 3 paling baik dilakukan dalam umur 15 sampai 25 tahun, atau ketika akar gigi telah terbentuk dua per tiga-nya. Opini ini dinyatakan berdasarkan banyak alasan yang berhubungan dengan perkembangan anatomi gigi molar 3 pasien pada masa ini antara lain : Akar giginya biasanya lurus dan tidak bengkok Tulang disekitarnya lebih lunak Nevus alveolaris inferior letaknya lebih jauh dari apeks akar gigi

Proses penyembuhan lebih cepat

10. Bukti klinis menunjukkan bahwa pasien dengan gigi impaksi yang tidak melakukan pembuangan gigi impaksi sampai timbul gejala memiliki potensi terjadinya komplikasi yang lebih besar dalam proses pembedahannya. Jadi jelas, pembedahan M3 impaksi yang dilakukan lebih awal akan menguntungkan pasien. Kontraindikasi :6,10,11 Adapun kontraindikasi pengangkatan gigi impaksi, adalah : 1. Sebelum panjang akar mencapai sepertiga atau dua pertiga dan apabila tulang yang menutupinya terlalu banyak (pencabutan prematur) 2. Jika kemungkinan besar akan terjadi kerusakan pada struktur penting di sekitarnya atau kerusakan tulang pendukung yang luas misalnya rasio risiko/manfaat tidak menguntungkan 3. Apabila tulang yang menutupinya sangat termineralisasi dan padat, yaitu pasien yang berusia lebih dari 26 tahun 4. Apabila kemampuan pasien untuk menghadapi tindakan pembedahan terganggu oleh kondisi fisik atau mental tertentu. 5. 6. Infeksi akut Jika diperkirakan erupsi gigi molar tiga normal

II.1.4 Dampak gigi impaksi9 1. 2. Infeksi : perikoronitis, abses, selulitis, osteitis dan osteomyelitis Rasa sakit biasa terlokalisir maupun menyebar hingga ke telinga, belakang telinga, maupun bagian yang disarafi oleh n. trigeminus (revered pain) 3. 4. 5. Kista dentigerous yang bisa berlanjut menjadi ameloblastoma Pergeseran gigi tetangga Food impaction karies pada gigi tetangga dan gigi impaksi yang erupsi sebagian

II.1.5 Klasifikasi Impaksi Gigi Molar Ketiga Rahang Bawah6 Hubungan radiografis terhadap molar kedua. M3 atas dan bawah yang impaksi dikelompokkan berdasarkan hubungannya dengan molar kedua. Klasifikasi yang didasarkan sinar-X ini dilakukan dengan melihat inklinasi gigi yang mengalami impaksi yaitu: mesioangular, distoangular, vertikal, dan horizontal. Posisi mesioangular paling sering terjadi pada impaksi gigi bawah sedangkan posisi distoangular paling sering terjadi pada impaksi gigi atas. Untungnya kedua posisi tersebut juga paling mudah pencabutannya. Didasarkan pada hubungan ruang, impaksi juga dikelompokkan bedasarkan hubungan bukal-lingualnya. Kebanyakan impaksi M3 bawah mempunyai mahkota mengarah ke lingual. Pada impaksi M3 yang melintang, orientasi mahkota selalu ke lingual.

10

Hubungan melintang juga terjadi pada impaksi gigi atas tetapi jarang.1

Gambar 2 Posisi gigi molar tiga bawah impaksi berdasarkan sumbu gigi molar tiga: mesioangular, distoangular, vertikal, horizontal, transversal. 6

Kedalaman. Baik gigi impaksi atas maupun bawah bisa dikelompokkan berdasarkan kedalamannya, dalam hubungannya terhadap garis servikal M2 di sebelahnya. Pada level A, mahkota M3 yang impaksi berada pada atau di atas garis oklusal. Pada level B mahkota M3 dibawah garis oklusal tetapi di atas garis servikal M2. Sedangkan pada level C, mahkota gigi yang impaksi terletak di bawah garis servikal.6

11

Gambar 3 Klasifikasi impaksi berdasarkan kedalamannya A. Level A : mahkota gigi molar ketiga impaksi diatas garis servikal molar kedua di dekatnya yang bererupsi. B. Level B : permukaan oklusal gigi molar ketiga impaksi setinggi garis servikal molar kedua. C. Level C : adalah posisi paling dalam. Seluruh mahkota gigi molar ketiga impaksi terletak apical terhadap garis servikal molar kedua.6

Panjang lengkung/atau kedekatannya dengan ramus ascendens. Impaksi M3 bawah juga diklasifikasikan berdasarkan hubungannya terhadap linea obliqua externa atau tepi anterior ramus asendens. Pada kelas I ada celah di sebelah distal M2 yang potensial untuk tempat erupsi M3. Pada kelas II, celah di sebelah distal M2 lebih sempit dari lebar mesio distal mahkota M3. Sedangkan pada kelas III mahkota gigi impaksi seluruhnya terletak di dalam ramus.6

Gambar 4 Gigi molar ketiga bawah impaksi juga diklasifikasi berdasarkan hubungannya dengan ramus mandibular. Kelas I apabila ketinggian ramus mandibula setinggi garis servikal molar kedua dan terdapat ruang yang cukup di belakang gigi M2 untuk erupsi M3 impaksi tersebut. Kelas II apabila garis ramus mandibula diatas garis servikal tetapi di bawah dataran oklusal dari gigi M2. Kelas III apabila garis ramus setinggi dataran oklusa molar kedua.6

12

Analisa kesulitan.Kategori ini merupakan titik awal untuk suatu analisa atau memperkirakan tingkat kesulitan pencabutan gigi impaksi. Secara umum, semakin dalam letak gigi impaksi dan semakin banyak tulang yang menutupinya serta makin besar penyimpangan angulasi gigi impaksi dari kesejajaran terhadap sumbu panjang molar kedua, makin sulit pencabutannya. Pilihan yang diperoleh dari analisa ini adalah (1) tidak diapa-apakan (2) pencabutan gigi impaksi (3) rujukan.6 Tabel 2.1 : Indeks kesulitan dari pembedahan molar ketiga bawah yang impaksi.6
Klasifikasi Hubungan ruang Mesioangular Horizontal/melintang Vertikal Distoangular Kedalaman Level A Level B Level C Ruangan yang tersedia/hubungan dengan ramus Kelas I Kleas II Kelas III Nilai 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3

Indeks kesulitan Sangat sulit 7-10 Kesulitan sedang 5-7 Kesulitan minimal 3-4 Contoh: impaksi mesioangular = 1 Level B =2 Klas II =2 Skor tingkat kesulitan = 5 Jadi gigi impaksi tersebut mempunyai tingkat kesulitan sedang.

13

II.1.6 Klasifikasi Pell dan Gregory6,9,12 a. Berdasarkan kedalaman impaksi dan jaraknya ke molar kedua 1. Posisi A : permukaan oklusal gigi impaksi sama tinggi atau sedikit lebih tinggi dari gigi molar kedua. 2. Posisi B : permukaan oklusal dari gigi impaksi berada pada pertengahan mahkota gigi molar kedua atau sama tinggi dari garis servikal 3. Posisi C : permukaan oklusal dari gigi impaksi berada di bawah garis servikal molar kedua.

Gambar 5 Klasifikasi Pell dan Gregory Berdasarkan Letak M3 Dalam Rahang. 13

b.

Posisinya berdasarkan jarak antara molar kedua rahang bawah dan batas anterior ramus mandibula dengan cara

membandingkan lebar mesio-distal molar ketiga dengan jarak antara bagian distal molar kedua ke ramus mandibula : 1. Klas I : jarak antara distal molar dua bawah dengan ramus mandibula cukup lebar mesiodistal molar tiga bawah

Gambar 6 Klasifikasi Pell dan Gregory Klas I. 12,13

14

2. Klas II : jarak antara distal molar dua bawah dengan ramus mandibula lebih kecil dari lebar mesiodistal molar tiga bawah

Gambar 7 Klasifikasi Pell dan Gregory Klas II.12,13

3. Klas III : gigi molar tiga bawah terletak di dalam ramus mandibula

Gambar 8 Klasifikasi Pell dan Gregory Klas III.12,13

II.1.7 Klasifikasi Winter9 Winter mengajukan sebuah klasifikasi impaksi gigi molar ketiga mandibula berdasarkan hubungan gigi impaksi terhadap panjang aksis gigi molar kedua mandibula. Winter juga

mengklasifikasikan posisi impaksi yang berbeda seperti impaksi vertikal, horizontal, inverted, mesioangular, distoangular,

bukoangular dan linguoangular. Dalam penelitian mereka, angulasi

15

dideterminasikan

menggunakan

sudut

yang

dibentuk

antara

pertemuan panjang aksis gigi molar kedua dan ketiga. Teori didasarkan pada inklinasi impaksi gigi molar ketiga terhadap panjang axis gigi molar kedua.

Gambar 9 Klasifikasi impaksi molar ketiga rahang bawah menurut Archer dan Kruger (1 mesioangular, 2 distoangular, 3 vertikal, 4 horizontal, 5 buccoangular, 6 linguoangular, 7 inverted) 13

a. b.

Mesioangular: Gigi impaksi mengarah ke mesial. Distoangular: Axis panjang molar ketiga mengarah ke distal atau ke posterior menjauhi molar kedua.

c. d.

Horisontal : axis panjang gigi impaksi horizontal. Vertikal: Axis panjang gigi impaksi berada pada arah yang sama dengan axis panjang gigi molar kedua.

e.

Bukal

atau

lingual:

Sebagai

kombinasi

impaksi

yang

dideskripsikan di atas, gigi juga dapat mengalami impaksi secara bukal atau secara lingual.

16

f.

Transversal: Gigi secara utuh mengalami impaksi pada arah bukolingual.

g.

Signifikansi : tiap inklinasi memiliki arah pencabutan gigi secara definitif. Sebagai contoh, impaksi mesioangular sangat mudah untuk dicabut dan impaksi distoangular merupakan posisi gigi yang paling sulit untuk dicabut.

II.2 ODONTEKTOMI II.2.1 Prosedur 11,14,15 Menurut Archer odontektomi adalah pengambilan gigi dengan prosedur bedah dengan pengangkatan mukoperiosteal flap dan membuang tulang yang ada diatas gigi dan juga tulang disekitar akar bukal dengan chisel, bur, atau rongeurs. Ada 2 metode odontektomi, yaitu : 1. Odontektomi : Pencabutan gigi secara utuh. Teknik ini juga dipakai untuk gigi dengan akar hiper sementosis 2. Odontektomi disertai odontomi : Pencabutan gigi disertai dengan pemotongan gigi (gigi dipotong menjadi beberapa bagian in separate) Prinsip dan langkah-langkah untuk menghilangkan gigi impaksi sama dengan surgical extraction lain. Ada lima teknik pembedahan odontektomi, yaitu :

17

1.

Umumnya operasi molar tiga mandibular dilakukan dengan anestesi lokal dengan bahan anestesi yang bersifat

vasokonstriktor untuk mendapatkan efek anestesi yang cukup lama dan memberikan daerah operasi yang relatif bebas darah, sehingga tidak menghalangi pandangan saat pembedahan dilakukan. Untuk molar tiga madibula dilakukan injeksi blok pada nevus alveolaris inferior dan nevus bukalis. 2. Pembuatan flap dengan melakukan insisi. Tujuannya agar mendapatkan lapang pandang yang baik, jalan masuk alat yang cukup, dan trauma secukup mungkin. 3. Mendapatkan akses yang diperlukan untuk pembuangan tulang mandibula dengan alat bur dan dibantu dengan irigasi larutan saline agar gigi terlihat untuk dilakukan pemotongan atau pengangkatan. 4. Melakukan tehnik odontektomi yaitu membelah / membagi gigi dengan bur atau chisel (pisau bedah) agar ekstraksi gigi dapat dilakukan tanpa pembuangan tulang berlebihan. Dibagi menjadi empat tipe yaitu: a. b. c. d. 5. Impaksi mesioangular Impaksi horizontal Impaksi Vertikal Impaksi Distoangular

Pembersihan dan penutupan luka.

18

II.2.2 Pembuatan Flap 5, 6,9,16 Dalam bidang kedokteran gigi sering dilakukan tindakan pembedahan, misalnya bedah preprostetik, operasi periodontal, pencabutan gigi, odontektomi, dan perawatan di bidang endodonsia yang memerlukan perawatan prosedur bedah. Pada dasarnya setiap prosedur bedah selalu melibatkan proses insisi untuk pembuatan flap. Flap merupakan suatu bagian mukosa yang secara bedah dipisahkan dari jaringan di bawahnya. Tindakan ini dilakukan untuk mendapatkan jalan masuk ke struktur di bawahnya (biasanya pada tulang atau gigi) atau untuk prosedur koreksi, untuk mencapai daerah patologis, merawat luka, atau untuk memperbaiki kerusakan jaringan. Berdasarkan klasifikasi flap ada tiga parameter penting untuk mempermudah aplikasi klinisnya yaitu lokasinya, komposisi

jaringannya, dan desain/bentuknya. Sebagian besar flap yang dibuat untuk tujuan bedah mulut adalah dibagian bukal, karena rute ini yang langsung dan tidak rumit untuk mencapai gigi yang terpendam/ fragmen ujung akar. Rute ini memberikan visualisasi yang baik dan jalan masuknya alat lebih mudah. Berdasarkan komponen jaringan yang membentuknya atau ketebalannya, flap dibagi menjadi 2 (dua) yaitu full thickness flap (berketebalan penuh) atau flap mukoperiosteal yang mengikut sertakan mukosa dan periosteum dan partial thickness flap

19

(berketebalan sebagian) atau flap mukosa yang hanya menyertakan mukosa saja sedangkan periosteum tetap ditempatnya. Flap mukoperiosteal terbentuk atas gingiva, mukosa, submukosa, dan periosteum. Flap ini dibentuk dengan cara memisahkan jaringan lunak dari tulang dengan pemotongan tumpul. Flap mukosa terdiri atas gingiva, mukosa, atau submukosa, tetapi tidak termasuk periosteum. Flap ini dibuat dengan insisi tajam sampai ke dekat tulang alveolar, tetapi periosteum dan jaringan ikat tetap dibiarkan melekat ke tulang dan menutupi tulang. Ada beberapa prinsip yang mendasari desain flap

mukoperiostal, yaitu: 9,16 1. Menyediakan ruang yang cukup bagi daerah yang akan di operasi 2. Dasar flap harus lebar sehingga jaringan lunak mendapatkan suplai darah yang cukup setelah penutupan luka 3. Untuk menghindari pendarahan, full thickness mukoperiosteal flap harus ditinggikan 4. Insisi harus didesain sedemikian rupa sehingga flap dapat menutupi tulang padat 5. 6. Dapat memperbaiki margin pada tulang yang sehat. Insisi seharusnya tidak merusak struktur anatomi yang penting

20

Pada dasarnya desain flap untuk operasi gigi molar tiga dibagi menjadi dua kategori :12 a. Flap envelope 4,6,9, 12,17,18 Insisi yang bisa diandalkan untuk pembedahan impaksi molar tiga bawah adalah flap envelope. Teknik ini biasanya dilakukan dengan membuat insisi horizontal pada tepi gingiva. Flap dibuat memanjang dari papilla mesial molar pertama rahang bawah dan mengelilingi sekitar leher gigi ke sudut garis distobukal dari molar kedua. Kemudian garis insisi memanjang ke posterior dan lateral sampai ke perbatasan anterior ramus mandibular. Flap envelope seringkali digunakan untuk

membuka jaringan lunak mandibular dalam pencabutan gigi impaksi molar tiga, perluasan insisi posterior harus divergen kearah lateral untuk menghindari cedera pada saraf lingual seperti ditunjukkan pada gambar 10. Insisi envelope dibuka kearah lateral sehingga tulang yg menutupi gigi impaksi terbuka. Keuntungan flap ini adalah kerusakan minimal dari suplai vaskular pada jaringan flap, penutupan dan proses penyembuhan luka lebih cepat dan baik. Akses bedah yang terbatas merupakan kelemahan utama desain flap ini.

21

Gambar 10. Desain flap envelope 12

Gambar 11. Desain flap envelope 12

b.

Flap Triangular 9,12,18 Flap Triangular (1 vertikal + 1 horisontal). Pada tahun (1940), Fischer mendeskripsikan suatu flap triangular

submarginal dengan satu insisi horisontal dan satu insisi vertikal. Insisi vertikal diletakkan ke arah midline dan insisi horisontal berupa suatu insisi kurva sub marginal yang diletakkan di sepanjang mahkota gigi pada gingiva cekat dengan mempertahankan gingiva margin. Flap triangular merupakan bagian dari desain envelope dengan membebaskan insisi vertikal. Teknik ini biasanya dilakukan dengan membuat insisi horizontal pada tepi gingiva, kemudian dimodifikasi seperlunya dengan melakukan insisi

22

serong kearah anterior. Saat flap jaringan dibuka pada insisi pembebas, akan diperoleh lapang pandang yang lebih luas, terutama pada aspek apikal daerah pembedahan dapat dilihat pada gambar 12. Flap triangular menunjukkan kasus di mana gigi yang terkena dampak tertanam dalam tulang dan membutuhkan pengangkatan tulang yang luas. Flap ini memiliki dua keuntungan utama. Membuat insisi yang longgar yaitu berupa suatu insisi pendek pada gingiva cekat dan margin yang akan mempermudah operator untuk memperluas lapang pandang dan untuk mendapatkan akses yang diperlukan. Hal ini juga mengurangi tekanan pada flap. Flap triangular juga memacu penyembuhan luka yang sangat cepat. Flap ini terutama diindikasikan untuk gigi-gigi posterior mandibular dan anterior maksila. Flap ini merupakan flap yang dapat digunakan untuk gigi posterior mandibular.

Gambar 12. Desain flap triangular 12

23

Gambar 13..Desain flap triangular 12

Indikasi 6 Untuk memperoleh jalan masuk ke dalam struktur yang lebih dalam seperti : 1. Tulang; untuk mencapai jalan masuk ke gigi, mengurangi terjadinya fraktur, perbaikan kontur 2. Gigi; pencabutan gigi dengan pembedahan, pengambilan ujung akar atau frakmen akar, bedah periradikular 3. 4. Patologi; dengan melakukan biopsi, kuret, eksisi, enukleasi Prosedur praprostetik; dengan melakukan alveoplasti,

pengambilan torus, vestibuloplasti, implantologi. 5. Prosedur korektif atau rekonstruktif; koreksi/ perbaikan kelainan kongenital atau dapatan Persyaratan desain6 1. Suplai darah a. Basis lebih besar dibanding tepi bebasnya (insisi tambahan harus serong).

24

b.

Mempertahankan suplai darah (insisi sejajar dengan pembuluh darah untuk memberikan vaskularisasi).

c.

Hindari retraksi flap yang terlalu lama. Hindari ketegangan, jahitan berlebih atau keduanya.

2.

Persarafan Desain diusahakan menghindari saraf yang terletak didalam (terutama nervus mentalis)

3.

Pendukung Tempatkan tepi sedemikian rupa sehingga terletak diatas tulang (paling tidak 3-4 mm dari tepi tulang yang rusak)

4.

Ukuran Ukurannya sebaiknya lebih besar dari gigi impaksi dan jangan terlalu kecil Jangan diperluas berlebihan

5.

Ketebalan Untuk flap mukoperiosteal, periosteum diambil secara menyeluruh jangan sampai terkoyak Pada waktu mengangkat flap, jangan sampai sobek

25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III.1

Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif observasional yang bertujuan agar mengetahui desain flap apa saja yang dugunakan untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi M3 bawah yang dilakukan oleh mahasiswa klinik Bedah Mulut FKG UPDM(B).

III.2

Populasi dan Sampel Penelitian III.2.1 Populasi Penelitian Populasi terjangkau penelitian adalah laporan kasus dari pasien odontektomi gigi molar tiga impaksi yang dilakukan oleh oleh mahasiswa kepanitraan klinik laboratorium bedah mulut FKG UPDM(B) dari tahun 2010-2012.

III.2.2 Besar Sampel Penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah pasien odontektomi mahasiswa kepanitraan klinik laboratorium bedah mulut FKG UPDM(B) melalui laporan kasus odontektomi gigi molar tiga impaksi rahang bawah tahun 2010-2012. Dengan demikian, besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 90 pasien.

26

III.3

Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Bedah Mulut FKG UPDM(B), yang berada di lantai 3 Gedung III FKG UPDM(B) yang berlokasi di Jalan Bintaro Permai Raya No. 3 Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia.

III.4

Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Maret - Agustus 2013.

III.5

Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah semua pasien mahasiswa kepanitraan klinik di Laboratorium Bedah Mulut FKG UPDM(B) dengan kasus impaksi pada molar ketiga rahang bawah dari tahun 2010-2012.

III.6

Data III.6.1 Jenis Data Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu dengan mencari data-data yang akan diteliti dari laporan tindakan odontektomi gigi M3 rahang bawah impaksi yang dilakukan oleh mahasiswa klinik Bedah Mulut FKG UPDM (B) dari tahun 2010-2012 III.6.2 Pengolahan Data Data penelitian ini diolah secara manual.

27

III.6.3 Analisis Data Analisis data dilakukan secara deskriptif, yaitu dengan membuat uraian secara sistematik dan menyajikannya kedalam bentuk tabel.

III.7 Tata Kerja Penelitian III.7.1 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang diperlukan adalah laporan kasus odontektomi gigi molar tiga impaksi yang didata dan disusun untuk penelitian ini.

III.4.2 Metode Kerja Data yang telah diperoleh dari laporan kasus odontektomi dideskripsikan dan dianalisa serta dihitung presentasenya. Data yang diperoleh darilaporan kasus tersebut di klasifikasikan sesuai dengan gambar radiografi gigi yang impaksi, kemudian hasil dari pengolahan data tersebut di gambarkan dalam bentuk tabel.

III.8

Definisi Operasional Variabel Observasi adalah aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan

pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.19

28

Berdasarkan sifat data yang dikumpulkan, penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.20

Berdasarkan analisis data, penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau hubungan antara fenomena yang diuji.21

Odontektomi adalah tindakan yang dilakukan untuk mengambil gigi yang tidak dapat tumbuh sempurna dikarenakan kurangnya ruang untuk tumbuh, posisi gigi yang miring, atau akar gigi yang bengkok. Bahasa awamnya adalah operasi gigi.15

Flap merupakan suatu bagian mukosa yang secara bedah dipisahkan dari jaringan di bawahnya. Tindakan ini dilakukan untuk mendapatkan jalan masuk ke struktur di bawahnya (biasanya pada tulang atau gigi) atau untuk prosedur koreksi, untuk mencapai daerah patologis, merawat luka, atau untuk memperbaiki kerusakan jaringan .

III.9 Kerangka Pikir

Desain Flap

Tindakan Odontektomi

29

III.10 Alur Penelitian


Menentukan tanggal penelitian

Memilih Laboratorium Bedah Mulut FKG UPDM(B) sebagai tempat penelitian

Menentukan tanggal penelitian

Mendapatkan data (laporan kasus odontektomi gigi molar tiga impaksi rahang bawah

Pengelompokan status pasien berdasarkan klasifikasi gigi

Klas

Posisi

Mesioangular Horizontal Vertikal

II

III

Distoangular

Penentuan desain flap berdasarkan laporan kasus odontektomi gigi molar tiga impaksi rahang bawah

Flap envelope Flap triangular

30

Data dikelompokkan kemudian diolah

Penyajian data

Pembahasan

Kesimpulan

31

BAB IV HASIL PENELITIAN

IV.1. Temuan Penelitian 1. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah Lab. Bedah Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) Jakarta. Beralamat di Jl. Bintaro Permai Raya no.3, Jakarta Selatan 12330, Telp. (021) 73885254, Fax. 73885253, e-mail: fkg@moestopo.ac.id dan website: www.moestopo.ac.id. Lab. Bedah Mulut FKG UPDM (B) berada dibawah naungan RSGM FKG UPDM (B) yang berada di lantai III. Gedung III UPDM (B). 2. Struktur Organisasi FKG UPDM (B)

Gambar 14. Struktur Organisasi FKG UPDM(B) 22

32

A. Penjabaran Hasil Penelitian Tabel 4.1.Laporan survey kasus disain flap untuk odontektomi M3 rahang bawah impaksi6,9,12,17,18 Hasil AnalisisDesain Flap Untuk Tindakan Odontektomi Pada Kasus Impaksi Gigi M3 Bawah Yang Dilakukan Oleh Mahasiswa Kepanitraan Klinik Laboratorium Bedah Mulut FKG UPDM(B), Survey Kasus Tahun 2010-2012.

No.

Nama Pasien

Umur (tahun)

Jenis Kelamin (L/P) L L L L L P L P L L L P L P P P

Status Lokalis Gigi

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Fertian Mishanudin Tn. Otang Hartono Kholid Mawardi Juwita Pusvita Supriyadi Canmelia Syamsir Henry Timothy M. Anindita Sanityasa Hira Nabilla Doni Kartika Sanidah Anugerah Kartika Putri Laksmi

22 23 37 32 29 21 34 20 25 23 24 22 33 48 20 28

48 impaksi 38 impaksi, karies dentin 48 impaksi, erupsi sebagian 48 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi, karies dentin 48 impaksi 38 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 38 impaksi, Karies pulpa 38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi,

Indeks Kesulitan Pengangkatan Gigi M3 Bawah Impaksi Hubungan Kedalaman di Hubungan Indeks Kesulitan Terhadap Dalam Terhadap Gigi Ramus* Rahang* M2** Kelas I Posisi A Mesioangular 1+1+1=3 mudah Kelas III Posisi C Horizontal 3+3+2=8 sangat sukar Kelas I Posisi A Mesioangular 1+1+1=3 mudah Kelas I Posisi A Horizontal 1+1+2=4 mudah Kelas I Posisi A Horizontal 1+1+2=4 mudah Kelas II Posisi B Vertikal 2+2+3=7 agak sukar Kelas II Posisi B Horizontal 2+2+2=6 agak sukar Kelas III Posisi A Mesioangular 3+1+1=5 agak sukar Kelas I Posisi A Horizontal 1+1+2=4 mudah Kelas III Posisi A Vertikal 3+1+1=5 agak sukar Kelas II Posisi A Horizontal 2+1+2=5 agak sukar Kelas II Posisi A Vertikal 2+1+3=6 agak sukar Kelas I Posisi A Mesioangular 1+1+1=3 mudah Kelas I Posisi A Mesioangular 1+1+1=3 mudah Kelas I Posisi A Mesioangular 1+1+1=3 mudah Kelas I Posisi A Mesioangular 1+1+1=7 mudah

Desain Flap

Triangular Triangular Envelope Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Envelope Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular

33

33

17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49.

Arlan Akbari Lani Wim Firstyananda Nita Adityarini Nurul Wulan Sari Debby Tri Handayani Andre Devi Primasari Andre Ramaditya Munalizaini Titis kartikarani Tn. Harrie Sadeli Tn. Edy Kusriadi Zaenal Arif Fahreza Ramadhan Tresye Adrianz Deni Sunjaya Arifahzan Imran Hasbullah Isti Hanah Dede Yuni Siti Ramdaniati Ny. Lia Meyriza Hidayattulloh Andro Erga Pemi Adriana Andi Panji Adihartawan Muhammad Adzwan Nurul Yusfikarini Arlita Harumalia

23 22 22 22 22 37 23 20 24 22 26 41 18 23 52 23 24 25 36 36 21 22 33 26 23 21 26 24 30 19 25 23 23

L L P P P L P L P P L L L L P L L L P L P P P P L L P L L L L P P

48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 38 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi, karies dentin 48 impaksi 48 impaksi, karies oklusal 38 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 38 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 38 impaksi

Kelas II Kelas I Kelas II Kelas II Kelas I Kelas I Kelas II Kelas II Kelas I Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas I Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas I Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas I Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II

Posisi A Posisi B Posisi B Posisi B Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi B Posisi A Posisi B Posisi A Posisi A Posisi B Posisi B Posisi A Posisi A Posisi B Posisi A Posisi A Posisi B Posisi A Posisi A Posisi B Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi B

Mesioangular Mesioangular Mesioangular Vertikal Mesioangular Vertikal Horizontal Horizontal Mesioangular Vertikal Horizontal Mesioangular Vertikal Horizontal Horizontal Vertikal Mesioangular Mesioangular Mesioangular Mesioangular Horizontal Mesioangular Mesioangular Mesioangular Mesioangular Horizontal Mesioangular Horizontal Horizontal Vertikal Mesioangular Mesioangular Mesioangular

2+1+1=4 mudah 1+2+1=4 mudah 2+2+1=5 agak sukar 2+2+2=6 agak sukar 1+1+1=3 mudah 1+1+3=5 agak sukar 2+1+2=5 agak sukar 2+1+2=5 agak sukar 1+1+1=3 mudah 2+2+3=7 agak sukar 2+1+2=5 agak sukar 1+1+1=3 mudah 2+1+2=5 agak sukar 2+1+2=5 agak sukar 1+2+2=5 agak sukar 2+2+3=7 agak sukar 2+1+1=4 mudah 2+1+1=4 mudah 2+2+1=5 agak sukar 2+1+1=4 mudah 1+1+2=4 mudah 2+2+1=5 agak sukar 2+1+1=4 mudah 2+1+1=4 mudah 2+2+1=5 agak sukar 2+1+2=5 agak sukar 2+1+1=4 mudah 2+1+2=5 agak sukar 1+1+2=4 mudah 2+1+3=6 agak sukar 2+1+1=4 mudah 2+1+1=4 mudah 2+2+1=5 agak sukar

Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Envelope Triangular Envelope Triangular Envelope Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Envelope Envelope Triangular Triangular Triangular

34

34

50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82.

Ranita Taufik Hidayah Susi Herlina Rizki Pratama Dani Adha Riandi Abdi Yosua Suryansyah Alwi Darwanto Erlan Tohir David Sri Tiana Dewi Wim Firstyananda Maliha Tn. Aris Noraina Budi Septihadi M. Fadly Firrizky Ivony Rifky Kandau Rani Suryati Anto Arif Sarifudin M. Ryan Chagora Tn. Ari Prima Ria Ai Sukarsih Nina Mukriana Bugi Widura Heriyatna Chairun Nisaa Ayo Handayani

19 22 41 23 27 25 24 25 31 24 23 21 24 20 28 29 26 24 23 24 30 28 23 24 34 27 24 36 26 31 19 25 26

P L P L L L L L L L P L P L P L L P L P P L L L L P P P L L L L P

48 impaksi, karies dentin 38 impaksi 38 impaksi 38 impaksi 48 impaksi, erupsi sebagian 38 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 38 impaksi, Erupsi sebagian 48 impaksi 38 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 38 impaksi, Erupsi sebagian 48 impaksi 38 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi

Kelas II Kelas I Kelas II Kelas II Kelas II Kelas I Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas I Kelas II Kelas I Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas II Kelas I Kelas II Kelas I Kelas I Kelas II Kelas I Kelas II Kelas I Kelas II Kelas II Kelas II Kelas I Kelas II

Posisi A Posisi B Posisi B Posisi A Posisi B Posisi B Posisi B Posisi B Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi B Posisi B Posisi A Posisi B Posisi B Posisi B Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi B Posisi A Posisi B Posisi A Posisi A Posisi A

Mesioangular Mesioangular Mesioangular Mesioangular Vertikal Horizontal Mesioangular Horizontal Mesioangular Horizontal Horizontal Horizontal Vertikal Mesioangular Horizontal Mesioangular Horizontal Mesioangular Vretikal Mesioangular Mesioangular Horizontal Vertikal Mesioangulaer Mesioangular Vertikal Mesioangular Horizontal Horizontal Mesioangular Horizontal Mesioangular Vertikal

2+1+1=4 mudah 1+2+1=4 mudah 2+2+1=5 agak sukar 2+1+1=4 mudah 2+2+3=7 agak sukar 1+2+2=5 agak sukar 2+2+1=5 agak sukar 2+2+2=6 agak sukar 2+1+1=4 mudah 2+1+2=5 agak sukar 2+1+2=5 agak sukar 2+1+2=5 agak sukar 1+1+3=5 agak sukar 2+1+1=4 mudah 1+1+2=4 mudah 2+1+1=4 mudah 2+1+2=5 agak sukar 2+2+1=5 agak sukar 2+2+3=7 agak sukar. 2+1+1=4 mudah 1+1+1=3 mudah 2+2+2=6 agak sukar 1+2+3=6 agak sukar 1+1+1=3 mudah 2+1+1=4 mudah 1+1+3=5 agak sukar 2+1+1=4 mudah 1+2+2=5 agak sukar 2+1+2=5 agak sukar 2+2+1=5 agak sukar 2+1+2=5 agak sukar 1+1+1=3 mudah 2+1+3=6 agak sukar

Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Envelope Envelope Triangular Envelope Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular Triangular

35

35

83. 84. 85. 86 87 88 89 90

Eknaz Anlaharra Ria Zaenal Aifin Suzatmoko Cindy Christiani Andani Rizka Aulina Oyang Krisnawati

23 31 26 35 21 29 16 21

L P L L P P P P

38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 38 impaksi 48 impaksi 48 impaksi 48 impaksi

Kelas II Kelas I Kelas I Kelas I Kelas III Kelas II Kelas I Kelas I

Posisi A Posis A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A Posisi A

Horizontal Vertikal Vertikal Mesioangular Horizontal mesioangular Mesioangular Mesioangular

2+1+2=5 agak sukar 1+1+3=5 agak sukar 1+1+3=5 agak sukar 1+1+1=3 mudah 3+1+2=6 agak sukar 2+1+1=4 mudah 1+1+1=3 mudah 1+1+1=3 mudah

triangular Envelope Envelope Envelope Triangular Triangular Triangular Triangular

*Klasifikasi menurut Pell dan Gregory2 **Klasifikasi menurut George Winter2

36 36

Tabel 4.2 Klasifikasi impaksi berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibula dan molar kedua bawah.6,9,12
Klasifikasi Kelas I Kelas II Kelas III Total Jumlah 31 55 4 90 % 34.4% 61.1% 4.5% 100%

Sumber : Laporan Odontektomi. Data Sekunder. 2010-2012

Berdasarkan tabel di atas yaitu klasifikasi impaksi berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibula dan molar dua bawah, menunjukkan kasus impaksi pada Kelas I yaitu sebanyak 31 kasus dari 90 kasus, sedangkan pada Kelas II ditemukan 55 kasus dan pada Kelas III ditemukan 4 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010-2012 kasus impaksi berdasarkan klasifikasi tersebut diatas yang paling banyak ditemukan adalah pada Kelas II yaitu 61.1% dari 90 kasus.
6115.0%

70% 60%
Jumlah Kasus Impaksi

50% 40% 30% 20% 10% 0%


4.4% 34.4%

Kelas I Kelas II Kelas III

GRAFIK 1. Klasifikasi berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibula dan molar dua bawah

37

Adapun dengan sampel yang sama sebanyak 90 kasus, dilihat berdasarkan kedalam molar ketiga bawah impaksi di dalam rahang. Tabel 4.3.Klasifikasi impaksi berdasarkan kedalaman molar ketiga bawah impaksi di dalam rahang.6,9,12
Klasifikasi Posisi A Posisi B Posisi C Total Jumlah 63 26 1 90 % 70% 28.8% 1.1% 100%

Sumber : Laporan Odontektomi. Data Sekunder. 2010-12

Berdasarkan tabel di atas, klasifikasi impaksi berdasarkan kedalaman molar ketiga bawah ditemukan Posisi A sebanyak 63 kasus, Posisi B sebanyak 26 kasus dan Posisi C sebanyak 1 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2008-2010 berdasarkan kedalamannya Posisi A merupakan kasus terbanyak yaitu 63 kasus atau 70% dari 90 kasus.
70.0%

70% 60%
Jumlah Kasus Impaksi

50% 40% 30% 20% 10% 0%


1.1%

Posisi A
28.8%

Posisi B Posisi C

GRAFIK 2. Berdasarkan kedalaman molar ketiga bawah impaksi di dalam rahang.

38

Demikian juga dengan sampel yang sama sebanyak 90 kasus, dilihat berdasarkan hubungan radiografis terhadap molar kedua. Tabel 4.4.Klasifikasi impaksi berdasarkan hubungan radiografis terhadap molar kedua.6,9,12
Klasifikasi Mesioangular Horizontal Vertikal Distoangular Total Jumlah 45 28 17 0 90 % 50% 31.1% 18.8% 0% 100%

Sumber : Laporan Odontektomi. Data Sekunder. 2010-2012

Berdasarkan tabel di atas, klasifikasi impaksi berdasarkan hubungan radiografi molar kedua kasus yang paling banyak ditemukan adalah posisi Mesioangular yaitu 33 kasus, posisi Horizontal ditemukan 23 kasus, posisi Vertikal 11 kasus dan tidak ditemukan kasus dengan posisi Distoangular. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010-2012 kasus terbanyak ditemukan yaitu posisi Mesioangular sebanyak 49.3% dari 67 kasus.

39

Jumlah Kasus Impaksi

Mesioangular
50.0% 31.1%

70% 60%

Horizontal Vertikal Distoangular

18.8%

50% 40% 30% 20% 10% 0%

0%
GRAFIK 3. Berdasarkan hubungan radiografis terhadap molar kedua.

Dari data tersebut diatas, didapatkan hasil perhitungan berdasarkan indeks kesulitan. Tabel 4.5. Klasifikasi impaksi berdasarkan indeks kesulitan 6,9,12 Klasifikasi Mudah Agak Sukar Sangat Sukar Total Jumlah 41 48 1 90 % 45.5% 53.3% 1.1% 100%

Sumber : Laporan Odontektomi. Data Sekunder. 2010-2012

40

Berdasarkan tabel di atas, klasifikasi impaksi berdasarkan indeks kesulitan pengangkatan molar ketiga bawah ditemukan klasifikasi Mudah sebanyak 41 kasus, klasifikasi Agak Sukar sebanyak 48 kasus dan klasifikasi Sangat Sukar sebanyak 1 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010-2012 berdasarkan indeks kesulitan dalam pengangkatan molar tiga rahang bawah impaksi, klasifikasi Agak Sukar merupakan kasus terbanyak yaitu 48 kasus atau 53.3% dari 90 kasus. Berdasarkan hasil analisis penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa melakukan tindakan yang kurang sesuai dengan requirement tindakan odontektomi gigi M3 bawah yang impaksi dengan tingkat kesulitan Mudah.

70% 60%
Jumlah Kasus Impaksi
53.3% 45.5%

50% 40% 30% 20% 10% 0%


1.1%

Mudah Agak Sukar Sangat Sukar

GRAFIK 4. Berdasarkan hubungan indeks kesulitan.

Demikian juga dengan sampel yang sama sebanyak 90 kasus, dilihat berdasarkan desain flap yang digunakan pada pembedahan gigi impaksi molar tiga bawah.

41

Tabel 4.6.Klasifikasi desain flap pada pembedahan gigi impaksi. 6,9,17,18 Klasifikasi Envelope Triangular Total Jumlah 13 77 90 % 14.4% 88.5% 100%

Sumber : Laporan Odontektomi. Data Sekunder. 2010-2012

Berdasarkan tabel di atas, klasifikasi desain flap pada pembedahan gigi impaksi ditemukan desain flap envelope sebanyak 13 kasus, desain flap triangular sebanyak 77 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 20102012 kasus terbanyak ditemukan yaitu desain flap triangular sebanyak yaitu 77 kasus atau 88.5% dari 90 kasus.
85.5%

70%
Jumlah Kasus Impaksi

60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%


14.4%

Envelope Triangular

GRAFIK 4. Berdasarkan Desain Flap

42

Tabel 4.7.Klasifikasi desain flap berdasarkan hubungan terhadap molar dua6,9,12


Klasifikasi Mesioangular Horizontal Vertikal Distoangular Total Flap envelope 4 5 4 0 13 Flap triangular 41 23 13 0 77

Sumber : Laporan Odontektomi. Data Sekunder. 2010-12

Dari hasil tabel 4.7 dapat dilihat bahwa klasifikasi desain flap triangular berdasarkan hubungan radiografis terhadap molar dua pada posisi Mesioangular sebanyak 41 kasus, posisi Horizontal sebanyak 23 kasus, dan posisi Vertikal sebanyak 13 kasus. Klasifikasi desain flap envelope berdasarkan hubungan radiografis terhadap molar dua pada posisi Mesioangular sebanyak 4 kasus, posisi Horizontal sebanyak 5 kasus, dan posisi Vertikal sebanyak 4 kasus.

Tabel 4.8.Klasifikasi desain flap berdasarkan kedalaman molar ketiga bawah impaksi di dalam rahang.6,9,12
Klasifikasi Posisi A Posisi B Posisi C Total Flap envelope 13 0 0 13 Flap triangular 50 26 1 77

Sumber : Laporan Odontektomi. Data Sekunder. 2010-12

43

Dari hasil tabel 4.8 dapat dilihat bahwa klasifikasi desain flap triangular berdasarkan kedalaman molar ketiga bawah impaksi didalam rahang pada posisi A sebanyak 50 kasus, posisi B sebanyak 26 kasus, dan posisi C sebanyak 1 kasus. Klasifikasi desain flap envelope berdasarkan kedalaman molar ketiga bawah impaksi didalam rahang pada posisi A sebanyak 13 kasus.

Tabel 4.9 Klasifikasi desain flap berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibula dan molar kedua bawah.6,9,12
Klasifikasi Kelas I Kelas II Kelas III Total Flap envelope 9 4 0 13 Flap triangular 23 50 4 77

Sumber : Laporan Odontektomi. Data Sekunder. 2010-2012

Dari hasil tabel 4.9 dapat dilihat bahwa klasifikasi desain flap triangular berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibular pada posisi Kelas I sebanyak 23 kasus, Kelas II sebanyak 50 kasus, dan Kelas III sebanyak 4 kasus. Klasifikasi desain flap envelope berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibular pada posisi Kelas I sebanyak 9 kasus, dan Kelas II sebanyak 4 kasus.

44

Tabel 4.10. Klasifikasi desain flap berdasarkan indeks kesulitan 6,9,12


Klasifikasi Mudah Agak Sukar Sangat Sukar Total Flap envelope 7 6 0 13 Flap triangular 34 42 1 77

Sumber : Laporan Odontektomi. Data Sekunder. 2010-2012

Dari hasil tabel 4.9 dapat dilihat bahwa klasifikasi desain flap triangular berdasarkan indeks kesulitan dengan klasifikasi Mudah sebanyak 34 kasus,

Agak Sukar sebanyak 42 kasus, dan klasifikasi Sangat Sukar sebanyak 1 kasus. Klasifikasi desain flap envelope berdasarkan indeks kesulitan dengan klasifikasi Mudah sebanyak 7 kasus, dan klasifikasi Agak Sukar sebanyak 6 kasus.

45

BAB V PEMBAHASAN

Hasil Penelitian mengenai desain flap untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi M3 rahang bawah yang dilakukan di klinik Bedah Mulut FKG UPDM (B). Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan sampel sebanyak 90 laporan kasus dari pasien tindakan odontektomi yang tercatat sebagai kasus impaksi M3 rahang bawah selama tahun 2010-2012. Penelitian ini dilakukan dengan melihat gambar radiografi gigi impaksi yang ada pada gambaran rontgen laporan tindakan odontektomi tersebut, dan pembahasan yang akan dilakukan adalah dengan menganalisis dan membandingkan hasil penelitian dengan tinjauan pustaka. Ada empat macam penklasifikasian yang dilihat, klasifikasi Pell dan Gregory yaitu berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibular dan molar kedua rahang bawah seperti Kelas I, II dan III, berdasarkan kedalaman impaksi dan jaraknya ke molar kedua seperti Posisi A, B dan C, klasifikasi Archer dan Kruger sama dengan yang dijelaskan pada klasifikasi Winter seperti mesioangular, distoangular dan lain-lain, serta berdasarkan klasifikasi flap ada tiga parameter penting untuk mempermudah aplikasi klinisnya yaitu lokasinya, komposisi jaringannya, dan desain/bentuknya. Desain atau bentuknya seperti flap envelope, flap triangular. 6,9,12,17,18 Hasil penelitian mengenai desain flap untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi molar tiga rahang bawah yang dilakukan oleh mahasiswa

46

kepanitraan Klinik Bedah Mulut FKG UPDM(B).6,9,12,17,18 Berdasarkan hasil penelitian pada tabel IV.1 menunjukkan bahwa berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibula dan molar dua bawah prevalensi tertinggi adalah impaksi pada posisi Klas II sebanyak 55 kasus (61.1%), Klas II yaitu jarak antara distal molar keduan bawah dengan ramus mandibula lebih kecil dari lebar mesiodistal molar tiga bawah. Kelas I sebanyak 31 kasus (34.4%), Kelas I yaitu, jarak antara distal molar dua bawah dengan ramus mandibula cukup lebar dengan mesiodistal molar ketiga bawah dan Kelas III gigi molar ketiga bawah terletak di dalam ramus mandibula sebanyak 4 kasus (4.5%). Hasil penelitian mengenai survey tingkat kesulitan odontektomi gigi M3 rahang bawah impaksi berdasarkan kedalaman impaksi M3 bawah di klinik Bedah Mulut FKG UPDM(B).1,2,8 Pada tabel IV.2 hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan kedalaman impaksi molar ketiga bawah prevalensi tertinggi adalah pada Posisi A sebanyak 63 kasus (70%). Posisi A yaitu bagian tertinggi dari molar ketiga bawah impaksi sama dengan oklusal plane gigi molar kedua bawah. Sedangkan pada Posisi B sebanyak 26 kasus (28.8%), yaitu bagian tertinggi dari molar ketiga bawah impaksi terletak dibawah oklusal plane molar kedua bawah dan pada Posisi C yaitu molar ketiga bawah impaksi terletak dibawah cervical line gigi molar kedua bawah sebanyak 1 kasus (1.1%). Hasil penelitian mengenai survey tingkat kesulitan odontektomi gigi M3 rahang bawah impaksi berdasarkan hubungan terhadap M2 bawah di klinik Bedah Mulut FKG UPDM(B).1,2,8 Berdasarkan tabel IV.3 dapat dilihat bahwa impaksi molar ketiga berdasarkan hubungan radiografi terhadap molar kedua prevalensi

47

tertinggi terjadi pada posisi Mesioangular sebanyak 45 kasus (50%), posisi Horizontal sebanyak 28 kasus (31.1%), posisi Vertikal 17 kasus (18.8%) dan tidak ditemukan kasus pada posisi Distoangular. Hasil penelitian mengenai desain flap untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi M3 rahang bawah yang dilakukan oleh mahasiswa kepanitraan klinik laboratorium bedah mulut FKG UPDM(B). 1 Berdasarkan hasil penelitian pada tabel IV.4 menunjukkan bahwa berdasarkan indeks kesulitan pengangkatan molar ketiga impaksi rahang bawah didapatkan prevalensi tertinggi adalah Agak Sukar sebanyak 38 kasus (56.7%), kategori Agak Sukar yaitu indeks kesulitan dengan nilai 5-7. Tingkat kesulitan Mudah sebanyak 28 kasus (41.8%), yaitu, dengan nilai 3-4 dan tingkat kesulitan Sangat Sukar dengan nilai 7-10 sebanyak 1 kasus (1.5%). Hasil penelitian mengenai survey desain flap untuk tindakan odontektomi gigi impaksi M3 rahang bawah di klinik Bedah Mulut FKG UPDM(B).1,2,8,17,19 Berdasarkan table IV.5 dapat dilihat bahwa klasifikasi desain flap pada pembedahan gigi impaksi M3 rahang bawah prevelensi tertinggi ditemukan desain flap triangular sebanyak 77 kasus (88.5%). Desain flap envelope sebanyak 13 kasus (14.4%). Hasil penelitian dapat dilihat bahwa klasifikasi desain flap triangular berdasarkan hubungan radiografis terhadap molar dua ditemukan prevelensi

tertinggi pada posisi Mesioangular sebanyak 41 kasus, sedangkan berdasarkan kedalaman molar ketiga bawah impaksi didalam rahang ditemukan prevelensi tertinggi pada posisi A sebanyak 50 kasus, sedangkan berdasarkan relasi molar

48

ketiga bawah dengan ramus mandibular ditemukan prevelensi tertinggi pada posisi Kelas II sebanyak 51 kasus , dan berdasarkan indeks kesulitan ditemukan prevelensi tertinggi adalah Agak Sukar sebanyak 42 kasus. Hasil penelitian dapat dilihat bahwa klasifikasi desain flap envelope berdasarkan hubungan radiografis terhadap molar dua ditemukan prevelensi

tertinggi pada posisi Horizontal sebanyak 5 kasus, sedangkan berdasarkan kedalaman molar ketiga bawah impaksi didalam rahang ditemukan prevelensi tertinggi pada posisi A sebanyak 13 kasus, sedangkan berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibular ditemukan prevelensi tertinggi pada posisi Kelas I sebanyak 8 kasus , dan berdasarkan indeks kesulitan ditemukan prevelensi tertinggi adalah Mudah sebanyak 7 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010-2012 kasus terbanyak ditemukan yaitu desain flap triangular sebanyak yaitu 77 kasus atau 88.5% dari 90 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa desain flap yang ukurannya terlalu kecil mengakibatkan jalan masuk terhalang, visualisasi yang kurang, dan luka yang tidak menguntungkan. Perluasan flap triangular memberikan keuntungan yaitu memperluas lapang pandang dan mendapatkan akses yang baik, sehingga mempermudah operator saat pembedahan dilakukan.5

V.1 Kelemahan Dalam Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa kelemahan. Adanya keterbatasan waktu dalam pelaksanaan penelitian dan penggunaan data sekunder yang berasal dari laporan kasus odontektomi gigi molar tiga impaksi yang

49

dilakukan oleh mahasiswa kepanitraan klinik laboratorium bedah mulut FKG UPDM (B) dari tahun 2010-2012. Keterbatasan waktu dalam mengerjakan penelitian ini dikarenakan peneliti harus menyelesaikan penelitian dalam waktu yang relatif singkat, dan juga penggunaan data penelitian sekunder sehingga data yang diperoleh merupakan data yang keakuratannya diragukan karena cara/ metode, alat, dan waktu pengukurannya tidak dikendalikan terlebih dahulu.

V.2 Karakteristik Subjek Penelitian Dalam penelitian ini, pemilihan subjek penelitian tidak dapat menggunakan sampel dari seluruh angkatan mahasiswa FKG, karena dalam menyampaikan kuesioner penelitian, materi yang diberikan harus sesuai sasaran yaitu mahasiswa kepanitraan klinik yang sedang bekerja di bagian Laboratorium Bedah Mulut FKG UPDM(B). Penelitian ini mengenai karakteristik subjek penelitian tentang desain flap untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi molar tiga rahang bawah yang dilakukan mahasiswa kepanitraan klinik Laboratorium Bedah Mulut FKG UPDM(B) tahun 2010-2012.

50

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1. Kesimpulan Dari hasil pembahasan pada BAB V mengenai desain flap untuk tindakan odontektomi pada kasus impaksi gigi molar ketiga bawah berdasarkan klasifikasi yang dilakukan di Laboratorium Bedah Mulut FKG UPDM(B) dapat disimpulkan bahwa: 1. Berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibula dan molar kedua bawah (Klasifikasi Pell dan Gregory) prevalensi tertinggi adalah impaksi pada posisi Kelas II (61.1%), kemudian tertinggi kedua pada posisi Kelas I (34.4%) dan posisi yang paling sedikit terjadi pada posisi Kelas III (4.5%).6,9,12 2. Berdasarkan kedalaman impaksi molar ketiga bawah (Klasifikasi Pell dan Gregory) prevalensi tertinggi adalah pada Posisi A (70%), kemudian tertinggi kedua pada Posisi B (28.8%) dan pada posisi C (1.1%).6,9,12 3. Berdasarkan hubungan radiografi terhadap molar kedua (Klasifikasi Winter) prevalensi tertinggi terjadi pada posisi Mesioangular (50%), kemudian tertinggi kedua pada posisi Horisontal (31.1%), posisi Vertikal (18.8%) dan tidak ditemukan impaksi pada posisi

Distoangular.6,9,12

51

4.

Berdasarkan indeks kesulitan, prevalensi tertinggi adalah tingkat Agak Sukar (53.3%), kemudian tingkat Mudah (45.5%) dan pada tingkat Sangat Sukar (1.1%).6,9,12

5.

Berdasarkan klasifikasi desain flap pada pembedahan gigi impaksi M3 rahang bawah prevelensi tertinggi ditemukan desain flap triangular (88.5%) dengan posisi Mesioangular, posisi A, Kelas II dan indeks kesulitan Agak Sukar. Desain flap envelope sebanyak (14.4%) dengan posisi Horizontal, posisi A, Kelas I, dan indeks kesulitan Mudah. 11,17,18 Berdasarkan hasil analisis penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa melakukan tindakan insisi flap dengan menggunakan desain flap triangular karena memiliki prinsip yaitu memperluas lapang pandang sehingga mempermudah operator untuk mendapatkan akses

yang diperlukan dan penyembuhan luka yang cepat. Flap ini merupakan flap yang dapat digunakan untuk gigi posterior mandibula, khususnya bagi mahasiswa kepanitraan klinik.18

VI.2. Saran Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka penelitian memiliki beberapa saran, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Bagi ilmu bedah mulut Bagi mahasiswa fakultas kedokteran gigi diharapkan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman lebih mendalam mengenai prosedur tindakan odontektomi terutama dalam hal menganalisis pemilihan

52

desain flap sehingga diharapkan dengan pemilihan desain flap yang tepat maka tingkat keberhasilan odontektomi tinggi. 3. Bagi subjek penelitian Bagi mahasiswa program profesi FKG UPDM (B) terutama yang sedang bekerja di bagian Lab. Bedah Mulut agar lebih teliti dalam melakukan anamnesa pasien, menganalisis gambaran rontgen, dan memilih desain flap yang tepat sesuai kasus sehingga memberi keuntungan jangka panjang berupa mengurangi komplikasi dan morbiditas. 4. Bagi peneliti lain Perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan sampel yang variatif dan lebih banyak dengan menambahkan metode penelitian mengenai desain flap pada tindakan odontektomi gigi impaksi M3 rahang bawah yaitu dengan menambahkan metode diskusi, wawancara, observasi,

perbandingan dan sebagainya. Disarankan juga pada penelitian lanjutan untuk menggunakan desain penelitian lain serta mempertimbangkan waktu penelitian dan jumlah objek penelitian agar dapat menghasilkan hasil yang maksimal dan mendalam.

53

DAFTAR PUSTAKA

1.

Alamsyah RM, Situmorang N, 2005. Dampak Gigi Molar Tiga mandibula Impaksi Terhadap Kualitas Hidup Mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Dentika Dental Journal, Vol 10: ISSN: 1693-671X: 73 Sukma N, Medawati A, 2012. Hubungan Antara Status Gizi Dengan Status Erupsi Gigi Molar Tiga. InsisivaDental Journal, Vol 1 : ISSN: 22529764 Adam K, 2000. Odontektomi Pada Penderita Dengan Trombositopenia. PABMI, ISSN: 1410-0746 Dym, Harry. 2001. Atlas of Minor Oral surgery. Philadelphia : W.B. Saunders Company, 80-83. http://dentosca.wordpress.com/2011/03/10/flap-pada-rongga-mulut/ Pedersen GW, 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Alih bahasa. Purwanto dan Basoeseno, Lilian Yuwono. 1st ed, Jakarta: Penerbit Buku Kedoteran EGC, hal 47-48, 60-63 Nasir M, Mawardi, 2003. Perawatan Impaksi Gigi Insisivus Sentralis Kiri Maksila dengan Kombinasi Teknik Flep Tertutup dan Tarikan Ortodontik. Dentika Dental Journal, Vol 8: ISSN: 1410-1629: 95.
http://gigisehatalami.files.wordpress.com/2011/07/defenisi-gigi-impaksi1.jpg

2.

3.

4.

5. 6.

7.

8. 9.

Balaji, S M. 2007. Textbook of Oral and Maxillofacial Surgery, New dehli : Elsevier, hal 231-234

10. Suwelo A, 2006. Impaksi Mesiodens Pada Anak Perempuan Usia 10 Tahun. Journal Ilmiah dan Teknologi kedokteran Gigi, Vol 3: ISSN: 16933079 11. Maulani IR, 2010. Diktat Impaksi Gigi, Jakarta, 32-39 12. Hupp JR, Ellis E, Tucker MR, 2008. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed, Elsevier: Mosby, 160-163, 171, 172 13. http://www.scribd.com/doc/27547187/Bab-II-Pembahasan-Gigi-ImpaksiKelompok-i-Bedah-Mulut-Kedokteran-Gigi-Unsri

54

14. http://www.scribd.com/doc/50823115/Teknik-Odontektomi 15. Archer WH, 1975. Oral Surgery. 3th ed, Philadelphia: WB Saunders Company, 253, 255. 16. Pedlar J,frame JW, 2007. Oral and Maxillofacial Surgery. 2nd ed, Edinburgh: Elsevier, 37 17. Arens DE, Adams WR, 1817. Endodontioc Surgery. Philadelphia: Harper & Row, 112 18. http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=download&sub=DownloadFile&act=vie w&typ=html&file=(0594-H-2010).pdf&ftyp=4&id=45757 19. Pengamatan. Available at :http://id.wikipedia.org/wiki/Pengamatan. Diunduh tanggal 13 April 2013 (no 19) 20. Penelitian kualitatif available Penelitian_kualitatif at : http://id.wikipedia.org/wiki/

21. Penelitian Deskriptif. Available at :http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_ deskriptif. Diunduh tanggal 29 April 2013. (no 21). 22. Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama). 2012. Struktur Organisasi FKG UPDM(B). Jakarta. Hal : 19. (no 23)

55