Anda di halaman 1dari 32

LABORATORIUM

KIMIA FISIKA


Percobaan : KOEFISIEN DISTRIBUSI

Kelompok : X A

Nama :
1. Davi Khoirun Najib NRP. 2313 030 009
2. Zandhika Alfi Pratama NRP. 2313 030 035
3. Rizuana Nadifatul Mukhoyada NRP. 2313 030 043
4. Thea Prastiwi Soedarmodjo NRP. 2313 030 095


Tanggal Percobaan : 2 Desember 2013
Tanggal Penyerahan : 7 Desember 2013
Dosen Pembimbing : Warlinda Eka Triastuti, S.Si., M.T.



PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2013


i
ABSTRAK
Percobaan koefisien distribusi ini bertujuan untuk menentukan harga Koefisien Distribusi
dan jumlah Wn yang tertinggal dalam campuran larutan NaOH dan Kloroform dalam HCl setelah 1
kali dan 2 kali ekstraksi.
Prosedur percobaan koefisien distribusi ini adalah sebagai berikut: mengambil 30 ml larutan
1,25 N NaOH dan memasukannya ke dalam corong pemisah. Lalu menambahkan 20 ml klorofom dan
mengocoknya hingga terjadi kesetimbangan selama 1 x 20 menit. Setelah itu, mengambil 10 ml
lapisan atas dan lapisan bawah dan memasukan masing masing lapisan tesebut ke dalam Erlenmeyer.
Menitrasinya dengan larutan 0,5 HCl dengan menggunakan indikator MO. Menghitung total NaOH
pada lapisan atas dan klorofom lapisan bawah. Setelah itu melakukan ekstraksi yang kedua dengan
mengambil 30 ml larutan NaOH 1,25 N dan memasukannya ke dalam corong pemisah. Menambahkan
30 ml klorofom dan mengocoknya hingga terjadi kesetimbangan selama 2 x 20 menit. Kemudian
memasukan masing masing lapisan atas dan lapisan bawah ke dalam Erlenmeyer sebanyak 10 ml.
Selanjutnya menitrasi dengan larutan 0,5 N HCl dengan menggunakan indikator MO. Menghitung
total NaOH pada lapisan atas dan klorofom pada lapisan bawah.
Hasil dari percobaan ini didapatkan harga Kd sebesar 9,7458 pada ekstraksi pertama,
sedangkan pada ekstraksi kedua didapatkan harga Kd sebesar 9,9199. Pada ekstraksi pertama
didapatkan harga Wn sebesar 51,0458gram, sedangkan pada ekstraksi kedua didapatkan harga Wn
sebesar 56,38 gram. Pada ekstraksi pertama didapatkan volume lapisan atas sebesar 28 ml.
Sedangkan pada ekstraksi kedua didapatkan volume lapisan atas sebesar 28 ml. Pada volume lapisan
bawah didapatkan pada ekstraksi pertama sebanyak 19 ml, sedangkan volume lapisan bawah pada
ekstraksi kedua sebanyak 28 ml. Pada ekstraksi pertama densitas lapisan atas didapatkan densitas
sebesar 1 gram/ml, sedangkan ekstraksi kedua didapatkan densitas lapisan atas sebesar 1 gram/ml.
Densitas lapisan bawah pada ekstraksi pertama sebesar 1,4 gram/ml, sedangkan ekstraksi kedua
didapatkan densitas sebesar 1,44 gram/ml. Pada ektraksi pertama didapatkan kosentrasi lapisan atas
sebesar 1,3393 M; sedangkan untuk ekstraksi kedua didapatkan kosentrasi sebesar 1,3393 M.
Sedangkan untuk kosentrasi lapisan bawah pada ekstraksi pertama didapatkan kosentrasi sebesar
13,0526 M, dan untuk kosentrasi lapisan bawah pada ekstraksi kedua didapatkan kosentrasi sebesar
13,2857 M.


















ii
DAFTAR ISI

ABSTRAK .......................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL .............................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ....................................................................................................... I-1
I.2 Perumusan Masalah ............................................................................................... I-2
I.3 Tujuan Percobaan ................................................................................................... I-2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Ekstraksi ................................................................................................................ II-1
II.2 Titrasi ..................................................................................................................... II-8
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Variabel Percobaan ............................................................................................... III-1
III.2 Bahan yang Digunakan......................................................................................... III-1
III.3 Alat yang Digunakan ............................................................................................ III-1
III.4 Prosedur Percobaan .............................................................................................. III-1
III.5 Diagram Alir Percobaan ....................................................................................... III-3
III.6 Gambar Alat Percobaan ........................................................................................ III-5
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN
IV.1 Hasil Percobaan .................................................................................................... IV-1
IV.2 Hasil Perhitungan ................................................................................................. IV-1
IV.3 Pembahasan .......................................................................................................... IV-2
BAB V KESIMPULAN ...................................................................................................... V-1
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... v
DAFTAR NOTASI ............................................................................................................. vi
APPENDIKS ....................................................................................................................... vii
LAMPIRAN :
Laporan Sementara
Fotokopi Literatur
Lembar Revisi


iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar III.6 Gambar Alat Percobaan ................................................................................. III-5



iv
DAFTAR TABEL

Tabel IV.1.1 Hasil Ekstrasi NaOH dengan Kloroform ....................................................... IV-1
Tabel IV.1.2 Hasil Titrasi Lapisan Atas dan Lapisan Bawah dengan HCl 0,5 N ............... IV-1
Tabel IV.1.3 Densitas Lapisan Atas dan Lapisan Bawah.................................................... IV-1
Tabel IV.2.1 Hasil Perhitungan K pada Tiap Larutan ......................................................... IV-1
Tabel IV.2.2 Hasil Perhitungan Nilai Wn ............................................................................ IV-2













I-1


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Kimia fisika merupakan cabang ilmu yang mengkaji hubungan antara sifat kimia
dan sifat fisika suatu zat berdasarkan pada gejala fisik, atau perubahan energinya.
Praktikum koefisien distribusi ini untuk menentukan harga koefisien distribusi
dan mencari jumlah Wn yang tertinggal dalam campuran larutan NaOH dan Kloroform
dalam HCl setelah beberapa kali ekstraksi serta kami akan memisahkan dua larutan yang
tidak bisa tercampur sempurna (ekstraksi) kemudian larutan tersebut dikeluarkan dari
corong pemisah dan membedakannya menjadi larutan atas dan larutan bawah. Koefisien
distribusi didefinisikan sebagai suatu perbandingan kelarutan suatu zat (sampel) didalam
dua pelarut yang berbeda dan tidak saling bercampur, serta merupakan suatu harga tetap
pada suhu tertentu. Tujuan ekstraksi adalah memisahkan suatu komponen campurannya
dengan menggunakan pelarut. Perbandingan konsentrasi solute (larutan) di dalam kedua
pelarut tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi. Bunyi Hukum
Distribusi adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan aktivitas zat terlarut
dalam pelarut lain di ketahui, asalkan kedua pelarut tidak tercampur sempurna satu sama
lain. Faktor yang mempengaruhi tetapan distribusi adalah temperatur, jenis zat terlarut,
jenis zat pelarut, dan konsentrasi.
Fenomena distribusi termasuk didalamnya adalah koefisien partisi yang erat
hubungannya dengan ilmu kimia. Komponen-komponen kimia yang terkandung didalam
bahan organic seperti yang terdapat didalam tumbuh-tumbuhan sangat dibutuhkan oleh
keperluan hidup manusia, baik komponen kimia yang sering digunakan dalam senyawa
organik untuk melarutkan senyawa tersebut dengan menggunakan suatu pelarut.
Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi. Ekstraksi dibagi menjadi dua, yaitu
ekstraksi padat cair, dengan pemisahannya menggunakan dua pelarut yang tidak saling
bercampur sehingga terjadi distribusis ampel di antara kedua pelarut tersebut dapat di
lakukan dengan perhitungan koefisien distribusi. Didalam praktikum kali ini kami akan
memisahkan dua larutan yang tidak bisa tercampur sempurna (ekstraksi) kemudian
larutan tersebut dikeluarkan dari corong pemisah dan membedakannya menjadi larutan
atas dan larutan bawah.
Hal lain yang penting adalah bila dalam suatu ekstraksi tersedia sejumlah volume
pelarut untuk ekstraksi, maka efisiensi ekstraksi akan lebih besar bila volume pelarut


I-2

Bab I Pendahuluan

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

yang tersedia ini digunakan dalam beberapa kali ekstraksi daripada jika digunakan
langsung dalamsatu kali ekstraksi yang besar diperoleh dengan membuat V2 kecil dan n
besar, sehingga lebih baik untuk mengekstraksi dengan pelarut yang volumenya sedikit,
tetapi dengan berulang kali, daripada mengekstraksi satu kali dalam volume yang besar.
(Sukardjo, 1997)

I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menentukan harga Koefisien Distribusi NaOH dan Klroform yang
telah di titrasi dengan larutan HCL serta menghitung Wn (berat) yang tertinggal dalam
campuran larutan stelah 1 kali dan 2 kali ekstraksi ?

I.3 Tujuan Percobaan
1. Untuk menentukan harga Koefisien Distribusi dan jumlah Wn yang tertinggal dalam
campuran larutan NaOH dan Kloroform dalam HCl setelah 1 kali dan 2 kali ekstraksi.





II-1


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Ekstraksi
Ekstraksi campuran-campuran merupakan suatu teknik dimana suatu larutan
(biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik),
yang pada hakikatnya tidak tercampurkan dengan yang pertama, dan menimbulkan
perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut kedua itu. Untuk suatu zat
terlarut A yang didistribusikan antara dua fasa tidak tercampurkan a dan b, hukum
distribusi (atau partisi) Nernst menyatakan bahwa asal keadaan molekulnya sama dalam
kedua cairan dan temperatur adalah konstan.
Hukum distribusi atau partisi. Cukup diketahui berbagai zat-zat tertentu lebih
mudah larut dalam pelarut-pelarut tertentu dibandingkan dengan pelarut-pelarut yang
lain. Jadi iod jauh lebih dapat larut dalam karbon disulfida, kloroform, atau karbon
tetraklorida. Lagi pula, bila cairan-cairan tertentu seperti karbon disulfida dan air, eter
dan air, dikocok bersama-sama dalam satu bejana dan campuran kemudian dibiarkan,
maka kedua cairan akan memisah menjadi dua lapisan. Cairan-cairan seperti itu
dikatakan sebagai tak-dapat-campur (karbon disulfida dan air) atau setengah-campur (eter
dan air), bergantung apakah satu ke dalam yang lain hampir tak dapat larut atau setengah
larut. Jika iod dikocok bersama suatu campuran karbon disulfida dan air kemudian
didiamkan, iod akan dijumpai terbagi dalam kedua pelarut. Suatu keadaan kesetimbangan
terjadi antara larutan iod dalam karbon disulfida dan larutan iod dalam air (Vogel, 1986).
Faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien distribusi, diantaranya:
1. Temperatur yang digunakan
Semakin tinggi suhu maka reaksi semakin cepat sehingga volume titrasi menjadi
kecil, akibatnya berpengaruh terhadap nilai K.
2. Jenis pelarut
Apabila pelarut yang digunakan adalah zat yang mudah menguap maka akan sangat
mempengaruhi volume titrasi, akibatnya berpengaruh pada perhitungan nilai K.
3. Jenis terlarut
Apabila zat akan dilarutkan adalah zat yang mudah menguap atau higroskopis, maka
akan mempengaruhi normalitas (konsentrasi zat tersebut), akibatnya mempengaruhi
harga K.



II-2

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS


4. Konsentrasi
Makin besar konsentrasi zat terlarut makin besar pula harga K.
Harga K berubah dengan naiknya konsentrasi dan temperatur. Harga K tergantung
jenis pelarutnya dan zat terlarut. Menurut Walter Nersnt, hukum diatas hanya berlaku bila
zat terlarut tidak mengalami disosiasi atau asosiasi, hukum di atas hanya berlaku untuk
komponen yang sama.
Distribusi larutan antara dua pelarut yang tak larut atau pelarut yang hanya sedikit
larut dapat dilakukan dengan beberapa zat terlarut dimana pasangan pelarut immisiblenya
dapat ditemukan larut sedangkan iodine larut di dalam keduanya. Bila iodine dikocok
dalam larutan yang terdiri dari karbon tetraklorida dan air maka iodine akan terdistribusi
Jika suatu sistem terdiri dari dua fraksi komponen larutan (liquida) yang tidak saling larut
satu sama lain atau immisible, ke dalamnya ditambahkan suatu zat yang larut dalam
kedua komponen larutan tersebut, maka zat tersebut akan terdistribusi dengan sendirinya
diantara kedua fasa larutan yang saling tidak larut tersebut sampai pada akhirnya
mencapai kesetimbangan.
Apabila zat terlarut X terdistribusi dalam dua pelarut yang sukar melarut satu
dengan lainnya pada temperatur konstan, maka pada keadaan setimbang ; laju (R1)
molekul X yang berpindah dari pelarut A ke pelarut B akan sama dengan laju (R2)
perpindahan molekul X dari pelarut B ke pelarut A.

Kelarutan terjadi hanya pada permukaan (interface) molekul, dimana terdapat sifat
kimia yang sama atau mirip antara dua komponen tersebut. Substansi polar cenderung lebih
misible atau lebih soluble ( lebih larut) pada substansi yang polar. Begitu pula dengan
substansi non polar yang cenderung lebih misible pada substansi yang non polar. Sedangkan
antara substansi polar dan non polar kecenderungan misible sedikit bahkan tidak ada
(immisible).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah :
Suhu, konsentrasi, dan tekanan. Jika H positif maka kenaikan temperatur akan menyebabkan
kelarutan bertambah besar, dan jika H negatif maka kenaikan temperatur akan menyebabkan
kelarutan bertambah kecil. Pada gas, umumnya H negatif dimana kelarutannya akan
bertambah besar jika temperatur diturunkan. Pengaruh konsentrasi terhadap kelarutan
R1 = R2


II-3

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

umumnya terhadap fluida berwujud liquid, sedangkan pengaruh tekanan terhadap kelarutan
umumnya terhadap fluida berwujud gas.
Kesetimbangan dapat diartikan sebagai keadaan dimana sistem tidak memiliki driving
force untuk melakukan perubahan secara spontan. Dalam hal ini konsentrasi antara dua zat
yang saling tidak larut tersebut adalah konstan. Hal ini terjadi manakala kecepatan molekul
yang terdistribusi dari permukaan satu ke permukaan yang lain (permukaan dua) sama
dengan kecepatan distribusi molekul dari permukaan dua ke permukaan satu.
Salah satu contoh adalah iodine dalam air dan karbon tetraklorida. Air dan karbon
tetraklorida saling tidak ke dalam keduanya. Setelah tercapai kesetimbangan, perbandingan
konsentrasi iodine dalam air dan karbon tetraklorida pada temperatur yang tetap akan sama.
(Maron Lando)
Contoh lain dari sistem kesetimbangan ini adalah : merkuri bromida dalam air dan
benzena. Merkuri bromida mempunyai sifat larut pada air dan benzena. Bila larutan merkuri
bromida dalam air dikocok dengan benzena yang tidak bercampur dengan air, maka merkuri
bromida akan terbagi dalam air dan dalam benzena. Setelah tercapai kesetimbangan,
perbandingan konsentrasi merkuri bromida dalam air dan benzena pada temperatur yang tetap
akan sama.
Kenyataan diatas merupakan akibat langsung dari hukum termodinamika bagi
kesetimbangan. Bila dalam larutan terdapat sepasang pelarut yaitu pelarut A dan B yang
saling immisible, maka energi bebas zat terlarut dalam pelarut A dan B adalah :

dimana :
G
A
O
dan G
B
O
adalah partial molal energi bebas standart zat terlarut dalam pelarut A dan B.
Sedangkan a
A
dan a
B
adalah aktifitas zat terlarut dalam pelarut A dan B.
Dalam keadaan setimbang :

maka dari persamaan 1 dan 2 dapat dinyatakan :
A
O
A A
a RT G G ln + =
G G RT a
B B
O
B
= + ln
G G
A B
=



II-4

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS


Karena pada temperatur yang sama harga energi bebas standart untuk tiap zat dalam pelarut
selalu konstan ( G
A
O
danG
B
O
konstan) maka :

Persamaan ( 5 ) adalah pernyataan secara matematika dari Hukum Distribusi Nernst,
dimana hukum distribusi Nernst menyatakan bahwa suatu zat dapat terdistribusi dengan
sendirinya di antara dua pelarut sampai terjadi kesetimbangan dimana rasio perbandingan
aktifitas zat dalam kedua pelarut adalah konstan pada temperatur tertentu.
Apabila larutan tersebut encer atau bersifat ideal maka koefisien aktivitas larutan
bernilai 1 sehingga aktivitas dianggap sama dengan konsentrasi. C, sehingga persamaan (5)
menjadi :

K disini adalah merupakan konstanta dan disebut sebagai koefisien distribusi dari suatu
solut diantara dua pelarut. Konstanta K tergantung pada solute dan pelarut, juga pada suhu
dan cara penulisannya, apakah konstanta ditulis CA/ CB atau CB / CA. Sebagai contoh bahwa
koefisien distribusi tergantung pada suhu adalah koefisien distribusi asam benzoat dalam air
dan kloroform pada suhu 10
o
C adalah 0,564 sedang pada suhu 40
o
C adalah 0,442.
Hal yang penting untuk diketahui adalah hukum distribusi Nernst hanya berlaku bila
zat terlarut tidak mengalami perubahan pada kedua pelarut. Jika solut tersebut terdisosiasi
menjadi ion-ion atau molekul-molekulnya yang lebih sederhana ataupun terasosiasi
membentuk molekul yang lebih kompleks, maka hukum tersebut tidak berlaku untuk
konsentrasi total dalam dua fasa tersebut tapi hanya untuk konsentrasi spesies yang sama yang
hadir dalam kedua pelarut tesebut.
Jadi misalkan suatu zat X yang terlarut dalam dua buah pelarut, dimana pada pelarut
pertama, X tidak mengalami perubahan molekul sedangkan pada pelarut yang kedua X
G RT a
A
O
A
+ ln = G RT a
B
O
B
+ ln
G G RT
a
a
B
O
A
O A
B
= ln
ln
a
a
A
B
= konstan
a
a
A
B
= konstan
K
C
C
A
B
=


II-5

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

mengalami perubahan total menjadi X
1
maka koefisien distribusi X bukan merupakan
konsentrasi total dalam kedua fase melainkan konsentrasi total pada pelarut yang pertama
dibandingkan dengan konsentrasi X yang tidak mengalami perubahan molekul dalam pelarut
yang kedua. Atau dengan kata lain koefisien distribusi suatu zat merupakan perbandingan
konsentrasi molekul zat yang mempunyai berat molekul yang sama.
Seperti konstanta kesetimbangan yang lain, koefisien distribusi merupakan fungsi
suhu yang dinyatakan dalam persamaan :

Dimana A H
o
adalah panas yang diperlukan untuk memindahkan 1 mol zat tersebut
dari pelarut satu ke pelarut yang lain.
Asam asetat mengalami dissosiasi dalam air dan assosiasi dalam CHCl3 (Sharma,K.K
Hal 372)
Besarnya koefisien distribusi dapat dicari sebagai berikut :
Dalam air :
CH3COOH CH3COO
-
+ H
+

Cw (1- o) Cwo Cwo

o = derajat dissosiasi
Cw = konsentrasi total asam dalam air
Dalam chloroform :
(CH3COOH)2 2CH3COOH
Cc-m m

Dimana : Cc : konsentrasi total mol/l dalam molekul tunggal
m : konsentrasi dalam CHCl3
Distribusi :
CH3COOH (dalam CHCl3) CH3COOH (dalam H2O)
d K
dT
ln
=
AH
RT
o
2

o
o
o
o

=
1 ) 1 (
) (
2 2
0
1
Cw
Cw
Cw
K

m Cc
m
K

=
2
1




II-6

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

m Cw(1-o)

K1, KD dan o tidak diketahui, namun demikian untuk setiap Cw dapat dicari dari
K1
0
= (Cwo)
2
1-o
K1
0
= 6.6x10
-5

Harga K1 tetap, dengan mengambil dua harga untuk Cc, Cw dan o, maka K dapat ditentukan.
Selanjutnya dapat dicari harga m.
Hukum distribusi telah banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang baik secara
teoritis maupun praktek, misalnya dalam proses-proses ekstraksi, analisis, dan penentuan
tetapan kesetimbangan. Ekstraksi mempunyai peranan penting dalam air dengan
menggunakan pelarut-pelarut organik yang tidak bercampur seperti eter, kloroform, karbon
tetraklorida, dan benzena. Ekstraksi merupakan suatu proses pentransferan komponen suatu
zat baik berupa solid maupun liquid ke dalam pelarut lain.
Proses ekstraksi telah banyak dilakukan baik dalam skala industri maupun skala
laboroatorium. Dalam skala lab ekstraksi digunakan untuk mengambil zat terlarut yang tidak
diinginkan dalam pelarut, misal untuk mengambil air dari pelarut eter, kloroform, karbon
tetraklorida ataupun benzena. Dalam industri, ekstraksi dipakai untuk menghilangkan zat-zat
yang tidak disukai dalam hasil seperti minyak tanah, minyak goreng, dan yang lain.
Bila zat mendistribusikan dirinya dalam dua pelarut dimana tidak terjadi disosiasi,
asosiasi ataupun reaksi dengan pelarut., maka dapat dihitung berat zat yang dapat diambil
dalam proses ekstraksi. Misal kita memiliki larutan yang berisi W gram dalam V1 cc larutan,
dan larutan ini dikocok secara berulang-ulang dengan V2 cc pelarut lain yang tidak saling
larut dengan pelarut yang pertama sampai distribusi mencapai kesetimbangan maka kita dapat
menghitung solut yang tidak terekstraksi pada n kali ekstraksi.
Setelah satu kali ekstraksi, konsentrasi pada pada pelarut pertama adalah W1/V1 dan
pada pelarut kedua (W W1)/V2. Sehingga koefisien distribusinya dapat dituliskan sebagai
berikut :
M
Cw
K
) 1 ( o
=

) / ) 1 ( ( (
) / ) 1 ( (
2
0
1
K Cw Cc
K Cw
K
o
o

=




II-7

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

( )
( ) ( )
(

=
2 1 1
2 1 1
/
/ /
V BM W W
V BM W
K
i

( )
1 1
2 1
V W W
V W
K

=

2 1 1 1 1
V W V KW KWV =

( ) ( )
1 2 1 1
KV W V KV W = +

|
|
.
|

\
|
+
=
2 1
1
1
V KV
KV
W W

Setelah ekstraksi kedua, terdapat W2 gram zat terlarut dalam pelarut pertama. Volume
pelarut pertama tetap V1 dan volume pelarut kedua tetap V2. Sehingga koefisien distribusi
setelah ekstraksi kedua dapat dituliskan sebagai berikut :
( )
( ) ( )
|
|
.
|

\
|

=
2 1 2 1
1 1 2
/
/ /
V BM W W
V BM W
K

( )
1 2 1
2 2
V W W
V W
K

=

( )
2 2 1 2 1
V W V W W K =


Dengan mensubstitusikan persamaan (9) ke persamaan (10) maka diperoleh
persamaan sebagai berikut :


( ) ( )
1 1 2 1 2
2 2 1 2 1 1
KV W V KV W
V W V KW V KW
= +
=

( )
2 1
1 1
2
V KV
KV W
W
+
=
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
+
=
2 1
1
2 1
1
2
V KV
KV
V KV
KV
W W

2
2 1
1
2
|
|
.
|

\
|
+
=
V KV
KV
W W


II-8

Bab II Tinjauan Pustaka

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

Dengan menggeneralisasikan hasil penurunan untuk ekstraksi kedua tersebut maka
diperoleh rumusan untuk ekstraksi yang ke-n sebagai berikut:

Jadi berat solut yang terekstraksi adalah :
n
n
V KV
KV
W W W W
(

+
=
2 1
1

n
V KV
KV
W
(

+
=
2 1
1
1
dimana K = C1 / C2
Bila harga K diketahui maka persamaan (12) dapat dipakai untuk menghitung jumlah
ekstraksi yang diperlukan untuk mengurangi jumlah solut dari W menjadi Wn.
Hal lain yang penting adalah bila dalam suatu ekstraksi tersedia sejumlah volume
pelarut untuk ekstraksi, maka efisiensi ekstraksi akan lebih besar bila volume pelarut yang
tersedia ini digunakan dalam beberapa kali ekstraksi daripada jika digunakan langsung dalam
satu kali ekstraksi.
Dengan kata lain, efisiensi dari ekstraksi yang besar diperoleh dengan membuat V2 kecil dan
n besar, sehingga lebih baik untuk mengekstraksi dengan pelarut yang volumenya sedikit,
tetapi dengan berulang kali, daripada mengekstraksi satu kali dalam volume yang besar.
(Sukardjo, 1989)
II.2 Titrasi
Titrasi adalah suatu cara penentuan konsentrasi dari suatu zat, dimana suatu larutan
ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit, sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat
menjadi ekivalen satu sama lain. Pada saat titran yang ditambahkan tampak telah ekivalen,
maka penambahan titran harus dihentikan, saat ini dinamakan titik akhir titrasi. Larutan yang
ditambahkan ke buret disebut titran, sedangkan larutan yang ditambah titran disebut titrat.

n
n
V KV
KV
W W
(

+
=
2 1
1


III-1


BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Variabel Percobaan
1 x Ekstraksi : 20 menit
2 x Ekstraksi : 40 menit.

III.2 Bahan-Bahan yang Digunakan
1. Larutan NaOH 1,25 N
2. Klorofom
3. Larutan HCl 0,5 N
4. Aquadest
5. Indikator MO

III.3 Alat-Alat Yang Digunakan
1. Batang Pengaduk
2. Beaker gelas
3. Buret
4. Corong
5. Corong pemisah
6. Erlenmeyer
7. Gelas ukur
8. Kaca arloji
9. Labu ukur
10. Piknometer
11. Pipet tetes
12. Statif dan Klem

III.4 Prosedur Percobaan
1. Mengambil 30 ml larutan 1,25 N NaOH dan memasukannya ke dalam corong
pemisah.
2. Menambahkan 20 ml klorofom dan mengocoknya hingga terjadi kesetimbangan
selama 1 x 20 menit.


III-2

Bab III Metodologi Percobaan

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

3. Mengambil 10 ml lapisan atas dan lapisan bawah memasukan masing masing
lapisan tesebut ke dalam Erlenmeyer.
4. Mentitrasinya dengan larutan 0,5 HCl dengan menggunakan indikator MO.
5. Menghitung total NaOH pada lapisan atas dan klorofom lapisan bawah.
6. Cuci corong pemisah sampai bersih.
7. Mengambil 30 ml larutan NaOH 1,25 N dan memasukannya ke dalam corong
pemisah.
8. Menambahkan 30 ml klorofom dan mengocoknya hingga terjadi kesetimbangan
selama 2 x 20 menit
9. Memasukan masing masing lapisan atas dan lapisan bawah ke dalam Erlenmeyer
sebanyak 10 ml.
10. Mentitrasi dengan larutan 0,5 N HCl dengan menggunakan indikator MO.
11. Menghitung total NaOH pada lapisan atas dan klorofom pada lapisan bawah.





III-3

Bab III Metodologi Percobaan

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

III.5 Diagram Alir Percobaan





















Mulai
Mengambil 30 ml larutan 1,25 N NaOH dan memasukannya ke dalam corong
pemisah.
Menambahkan 20 ml klorofom dan mengocoknya hingga terjadi
kesetimbangan selama 1 x 20 menit.
Mengambil 10 ml lapisan atas dan lapisan bawah memasukan masing masing
lapisan tesebut ke dalam Erlenmeyer.
Mentitrasinya dengan larutan 0,5 HCl dengan menggunakan indikator MO.
Menghitung total NaOH pada lapisan atas dan klorofom lapisan bawah.
Cuci corong pemisah sampai bersih.
Mengambil 30 ml larutan NaOH 1,25 N dan memasukannya ke dalam corong
pemisah.
Menambahkan 30 ml klorofom dan mengocoknya hingga terjadi
kesetimbangan selama 2 x 20 menit
A


III-4

Bab III Metodologi Percobaan

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS














A
Memasukan masing masing lapisan atas dan lapisan bawah ke dalam
Erlenmeyer sebanyak 10 ml.
Mentitrasi dengan larutan 0,5 N HCl dengan menggunakan indikator MO.
Menghitung total NaOH pada lapisan atas dan klorofom pada lapisan bawah.
Selesai


III-5

Bab III Metodologi Percobaan

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

III.6 Gambar Alat Percobaan

Batang Pengaduk


Gelas ukur


Beaker gelas

Kaca arloji


Buret


Labu ukur

Corong


Piknometer


III-6

Bab III Metodologi Percobaan

Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS



Corong pemisah

Pipet tetes

Erlenmeyer


Statif dan Klem

IV-1


BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Percobaan
Tabel IV.1.1 Hasil Ekstrasi NaOH dengan Kloroform
Ekstrasi
Waktu
(menit)
Konsentrasi
NaOH (N)
Volume Awal (ml)
Volume Setelah
Ekstraksi (ml)
NaOH Kloroform
Lapisan
atas
Lapisan
bawah
I 1 x 20 1, 25 30 20 28 19
II 2 x 20 1,25 30 30 28 28

Tabel IV.1.2 Hasil Titrasi Lapisan Atas dan Lapisan Bawah dengan HCl 0,5 N
Ekstrasi
Waktu
(menit)
Volume
lapisan
atas (ml)
Volume
lapisan
bawah (ml)
Volume Titrasi (ml)
Untuk lapisan
atas
Untuk lapisan
bawah
I 1 x 20 10 10 21,4 7,5
II 2 x 20 10 10 21,7 1,2

Tabel IV.1.3 Densitas Lapisan Atas dan Lapisan Bawah
Ekstrasi
Densitas
Lapisan atas Lapisan bawah
I 1 gr/ml 1,4 gr/ml
II 1 gr/ml 1,44 gr/ml

IV.2 Hasil Perhitungan
Tabel IV.2.1 Hasil Perhitungan K pada Tiap Larutan
Ekstrasi
Waktu
(menit)
Konsentrasi (M)
Kd
Lapisan atas Lapisan bawah
I 1 x 20 1,3393 13,0526 9,7458
II 2 x 20 1,3393 13,2857 9,9199




IV-2

BAB IV Hasil dan Pembahasan


Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS



Tabel IV.2.2 Hasil Perhitungan Nilai Wn
Ekstrasi
Waktu
(menit)
Volume
lapisan atas
(ml)
Volume
lapisan bawah
(ml)
K
W
(gram)
Wn
(gram)
I 1 x 20 28 19 9,7458 54,6 51,0458
II 2 x 20 28 28 9,9199 68,32 56,38

IV.3 Pembahasan
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan harga Koefisien Distribusi NaOH dan
Klroform yang telah di titrasi dengan larutan HCl serta menghitung Wn (berat) yang
tertinggal dalam campuran larutan stelah 1 kali dan 2 kali ekstraksi. Variabel waktu
yang kami gunakan dalam percobaan ini adalah 1 x 20 menit dan 2 x 20 menit.

Grafik IV.3.1 Hasil Ekstraksi NaOH dengan Kloroform
Pada grafik di atas menunjukan hubungan antara ekstrasi pertama dan kedua
dengan jumlah volume lapisan atas dan lapisan bawah yang didapat. Lapisan atas pada
0
5
10
15
20
25
30
I II
V
o
l
u
m
e

H
a
s
i
l

E
k
s
t
r
a
k
s
i

(
m
l
)
Ekstraksi
Lapisan atas
Lapisan bawah


IV-3

BAB IV Hasil dan Pembahasan


Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

ekstrasi yang pertama dan kedua sama-sama diperoleh sebanyak 28 ml. Sedangkan
untuk lapisan bawah pada ekstrasi pertama diperoleh sebanyak 19 ml sedangkan pada
ekstraksi kedua diperoleh sebanyak 28 ml.

Grafik IV.3.2 Hasil Titrasi Lapisan Atas dan Lapisan Bawah dengan HCl 0,5 N
Pada grafik di atas menunjukkan volume titrasi yang dibutuhkan untuk menitrasi
lapisan atas dan bawah pada ekstraksi yang pertama dan kedua. Pada ekstraksi pertama
lapisan bawah membutuhkan HCl 0,5 N sebagai penitrasi sebanyak 7,5 ml. Volume
yang dibutuhkan ini lebih sedikit apabila dibandingkan dengan HCl 0,5 N yang
dibutuhkan oleh lapisan atas, yakni 21,4 ml. Begitu pula yang terjadi pada ekstraksi
yang kedua. Pada ekstraksi yang kedua lapisan bawah membutuhkan HCl 0,5 N
sebanyak 1,2 ml. Sedangkan lapisan atas membutuhkan HCl 0,5 N sebanyak 21,7 ml.
0
5
10
15
20
25
I II
V
o
l
u
m
e

T
i
t
r
a
s
i

(
m
l
)
Ekstraksi
Lapisan atas
Lapisan bawah


IV-4

BAB IV Hasil dan Pembahasan


Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS


Grafik IV.3.3 Densitas Lapisan Atas dan Lapisan Bawah
Pada grafik diatas menunjukkan densitas lapisan atas yang lebih kecil
dibandingkan dengan lapisan bawah. Dalam percobaan ekstraksi yang pertama didapat
densitas lapisan atas sebesar 1 gram/ml dan lapisan bawah sebesar 1,4 gram/ml.
Sementara pada ekstraksi kedua didapat densitas lapisan atas sebesar 1 gram/ml dan
lapisan bawah sebesar 1,44 gram/ml.

0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.6
I II
D
e
n
s
i
t
a
s

(
g
r
a
m
/
m
l
)
Ekstraksi
Lapisan atas
Lapisan bawah
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
I II
K
o
n
s
e
n
t
e
r
a
s
i

(
M
)
Ekstraksi
Lapisan atas
Lapisan bawah


IV-5

BAB IV Hasil dan Pembahasan


Laboratorium Kimia Fisika
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI-ITS

Grafik IV.3.4 Hubungan Ekstraksi dengan Konsentrasi Larutan
Pada grafik di atas menunjukkan adanya hubungan antara ekstraksi pertama
dan kedua dengan konsentrasi lapisan atas dan lapisan bawah. Lapisan atas pada
ekstraksi yang pertama dan kedua memiliki konsentrasi yang sama, yakni sebesar
1,3393 M. Sedangkan lapisan bawah memiliki konsentrasi yang berbeda pada ekstrasi
yang pertama dan kedua. Pada ekstrasi pertama konsentrasi lapisan bawah sebesar
13,0526 M. Pada ekstraksi kedua konsentrasi larutan bawah sebesar 13,2857 M.

Grafik IV.3.5 Hubungan Ekstraksi dengan Koefisien Distribusi
Pada grafik di atas menunjukkan adanya hubungan antara ekstraksi pertama
dan kedua dengan koefisien distribusi yang didapatkan. Pada ekstraksi pertama
didapatkan koefisien distribusi sebesar 9,7458. Sedangkan pada ekstraksi kedua
koefisien distribusi yang didapatkan sebesar 9,9199.

9.6
9.7
9.8
9.9
10
I II
K
o
e
f
i
s
i
e
n

D
i
s
t
r
i
b
u
s
i
Ekstraksi
Kd

V-1


BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan distilasi uap tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada ekstraksi pertama didapatkan volume lapisan atas sebesar 28 ml. Sedangkan
pada ekstraksi kedua didapatkan volume lapisan atas sebesar 28 ml. Pada volume
lapisan bawah didapatkan pada ekstraksi pertama sebanyak 19 ml, sedangkan volume
lapisan bawah pada ekstraksi kedua sebanyak 28 ml.
2. Pada ekstraksi pertama densitas lapisan atas didapatkan densitas sebesar 1 gram/ml,
sedangkan ekstraksi kedua didapatkan densitas lapisan atas sebesar 1 gram/ml.
Densitas lapisan bawah pada ekstraksi pertama sebesar 1,4 gram/ml, sedangkan
ekstraksi kedua didapatkan densitas sebesar 1,44 gram/ml.
3. Pada ektraksi pertama didapatkan kosentrasi lapisan atas sebesar 1,3393 M;
sedangkan untuk ekstraksi kedua didapatkan kosentrasi sebesar 1,3393 M.
Sedangkan untuk kosentrasi lapisan bawah pada ekstraksi pertama didapatkan
kosentrasi sebesar 13,0526 M, dan untuk kosentrasi lapisan bawah pada ekstraksi
kedua didapatkan kosentrasi sebesar 13,2857 M.
4. Pada ekstraksi pertama didapatkan harga Kd sebesar 9,7458, sedangkan pada
ekstraksi kedua didapatkan harga Kd sebesar 9,9199.
5. Pada ekstraksi pertama didapatkan harga Wn sebesar 51,0458gram, sedangkan pada
ekstraksi kedua didapatkan harga Wn sebesar 56,38 gram.
v
DAFTAR PUSTAKA
Anita. 2011. http://anitabintiakhamad.blogspot.com/2011/12/praktikum-kimia-fisika_27.html.
Clausius, Antoni. 2011. http://www.scribd.com/doc/56213662/17162567-Praktikum-
Koefisien-Distribusi.
Lando, Maron. 1994. Fundamentals of Physical and Chemistry.
vi
DAFTAR NOTASI

Simbol Nama Satuan
W Berat sebelum distribusi gram
Wn Berat setelah distribusi gram
V Volume ml
Densitas gr/ml atau gr ml
-1

Kd Koefisien distribusi -
Ca Konsentrasi zat pelarut pada pelarut
organik
M
Cb Konsentrasi zat terlarut pada
pelarut anorganik
M


vii
APPENDIKS

1. Densitas lapisan atas dan lapisan bawah
a. Ekstraksi I
Lapisan bawah =
30,0-12,5
12,5

= 1,4 gr/ml
Lapisan atas =
25,0-12,5
12,5

= 1 gr/ml

b. Ekstraksi II
Lapisan bawah =
30,5-12,5
12,5

= 1,44 gr/ml

Lapisan atas =
25,0-12,5
12,5

= 1 gr/ml

2. Hasil perhitungan K pada tiap larutan
a. Ekstraksi 1
Cakloroform =
kadar (%) 10
Mr

=
1,48 x 100 x 10
119,3

= 12,4 M
M1 V1 = M2 V2
12,4 20 = M2 19
M2 = 13,0526 M
Cb (NaOH) = M1 V1 = M2 V2
1,25 30 = M2 28
M2 = 1,3393 M

viii
Kd =
C
a
C
b

=
13,0526
1,3393

= 9,7458
b. Ekstraksi 2
Caklorofom =
kadar (%) 10
Mr

=
1,48 x 100 x 10
119,3

= 12,4 M
M1 V1 = M2 V2
12,4 30 = M2 28
M2 = 13,2857 M
Cb (NaOH) = M1 V1 = M2 V2
1,25 30 = M2 28
M2 = 1,3393 M
Kd =
C
a
C
b

=
13,2857
1,3393

= 9,9199
3. Hasil perhitungan nilai Wn
a. Ekstraksi 1
W = ma + mb
= (
a
Va) + (
b
Vb)
= ( 1 28) + (1,4 19)
= 28 + 26,6
= 54,6 gram
Wn = W (
KV
1
(KxV
1
)+V
2
)
n

= 54,6 (
9,7458 28
(9,7458 28) + 19
)
1


ix
= 54,6 (
272,8824
291,8824
)
= 51,0458 gram
b. Ekstraksi 2
W = ma + mb
= (
a
Va) + (
b
Vb)
= ( 1 28) + (1,44 28)
= 28 + 40,32
= 68,32 gram
Wn = W (
K V
1
(K x V
1
) + V
2
)
n

= 68,32 (
9,9199 28
(9,9199 28) + 28
)
2

= 68,32 (
277,7572
305,7572
)
2

= 56,38 gram