Anda di halaman 1dari 44

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

Percobaan Kelompok Nama 1. 2. 3. 4.

: VISKOSITAS : XA

: Davi Khoirun Najib Zandhika Alfi Pratama Rizuana Nadifatul M. Thea Prastiwi Soedarmodjo

NRP. NRP. NRP. NRP.

2313 030 009 2313 030 035 2313 030 043 2313 030 095

Tanggal Percobaan Tanggal Penyerahan Dosen Pembimbing Asisten Laboratorium

: 9 Desember 2013 : 16 Desember 2013 : Nurlaili Humaidah, S.T., M.T. : Dhaniar Rulandri W.

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2013

ABSTRAK
Tujuan dari percobaan viskositas ini adalah untuk menentukan koesifien viskositas dan densitas dari larutan aquadest, yoghurt Yakult, dan sabun cair Nuvo. Prosedur percobaan viskositas ini adalah tahap pertama menghitung harga viskositas dengan variabel larutan yang ditentukan. Memasukkan aquadest ke dalam viskometer Ostwald yang diletakkan dalam beaker glass dan mengondisikan aquadest pada variabel suhu 39oC. Selanjutnya menghisap aquadest sehingga melewati batas atas pada viskometer Ostwald. Kemudian membiarkan aquadest mengalir ke bawah hingga tepat pada batas atas. Setelah itu mencatat waktu yang diperlukan aquadest untuk mengalir dari batas atas ke batas bawah viskometer Ostwald dengan menggunakan stopwatch. Mengulangi prosedur percobaan dengan mengondisikan aquadest pada suhu 49oC dan 63oC. Mengulangi prosedur percobaan dengan mengganti aquadest dengan yoghurt Yakult dan sabun cair Nuvo. Tahap kedua yaitu menentukan densitas dari variabel yang ditentukan. Menimbang massa piknometer kosong menggunakan timbangan berat (timbangan elektrik). Memasukkan aquadest ke dalam piknometer hingga mencapai ukuran maksimum piknometer. Kemudian mengondisikan aquadest pada suhu 39oC. Menimbang massa total piknometer dan aquadest. Mencari massa aquadest dengan cara mencari selisih massa antara piknometer yang berisi aquadest dan massa piknometer kosong. Mencari densitas aquadest dengan cara membagi massa aquadest dengan volume larutan pada piknometer. Mengulangi prosedur percobaan dengan mengondisikan aquadest pada suhu 49oC dan 63oC. Mengulangi prosedur percobaan dengan mengganti aquadest dengan yoghurt Yakult dan sabun cair Nuvo. Pada data hasil percobaan densitas aquadest pada saat suhu 39oC viskositasnya sebesar 128,4254 cp, densitasnya sebesar 0,96 g/ml, pada saat suhu 49oC viskositasnya sebesar 110,3857 cp, densitasnya sebesar 0,96 g/ml, dan pada saat suhu 63oC viskositasnya sebesar 96,2116 cp, densitasnya sebesar 0,96 g/ml. Pada yoghurt Yakult saat suhu 39oC viskositasnya sebesar 170,0886 cp, densitasnya sebesar 1,04 g/ml, pada saat suhu 49oC viskositasnya sebesar 155,9144 cp, densitasnya sebesar 1,04 g/ml, dan pada saat suhu 63oC viskositasnya sebesar 142,1699 cp, densitasnya sebesar 1,04 g/ml. Sedangkan pada sabun cair Nuvo pada suhu 39oC viskositasnya sebesar 26569 cp, densitasnya sebesar 1 g/ml, pada saat suhu 49oC viskositasnya sebesar 14380,2124 cp, densitasnya sebesar 1 g/ml, dan pada saat suhu 63oC viskositasnya sebesar 10669,1898 cp, densitasnya sebesar 1 g/ml. Dari hasil percobaan tersebut dapat dilihat bahwa zat cair yang memiliki viskositas tertinggi adalah sabun cair Nuvo, sedangkan yang terendah adalah aquadest. Untuk nilai densitas, zat cair yang memiliki densitas tertinggi adalah yoghurt Yakult, sedangkan terendah adalah aquadest. Kata Kunci : koefisien viskositas, densitas, suhu, aquadest, yoghurt Yakult, sabun cair Nuvo

DAFTAR ISI
ABSTRAK ............................................................................................................... i DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ iii DAFTAR TABEL .................................................................................................... iv DAFTAR GRAFIK ................................................................................................... v BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang ........................................................................................... I-1 I.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... I-2 I.3 Tujuan Percobaan ...................................................................................... I-2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Dasar Teori ............................................................................................... II-1 BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1 Variabel Percobaan ................................................................................. III-1 III.2 Bahan yang Digunakan ........................................................................... III-1 III.3 Alat yang Digunakan ............................................................................... III-1 III.4 Prosedur Percobaan ................................................................................. III-1 III.5 Diagram Alir Percobaan ........................................................................... III-3 III.6 Gambar Alat Percobaan .......................................................................... III-5 BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Percobaan ....................................................................................... IV-1 IV.2 Pembahasan.............................................................................................. IV-3 BAB V KESIMPULAN ........................................................................................... V-1 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ vi DAFTAR NOTASI ................................................................................................... vii APPENDIKS ............................................................................................................. viii LAMPIRAN - Laporan Sementara - Fotokopi Literatur - Lembar Revisi

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1 Viskometer Bola Jatuh ......................................................................... II-7 Gambar II.2 Piknometer ........................................................................................... II-9 Gambar II.3 Yakult ................................................................................................... II-14 Gambar II.3 Sabun Cair Nuvo .................................................................................. II-14 Gambar III.6 Gambar Alat Percobaan ....................................................................... III-5

iii

DAFTAR TABEL
Tabel II.1 Tabel II.2 Perbedaan antara Viskositas Cairan dengan Viskositas Gas .......................... II-4 Pengaruh Suhu terhadap Koefisien Zat Cair ..................................................II-6

Tabel IV.1.1 Hasil Percobaan Viskositas ............................................................................IV-1 Tabel IV.1.2 Hasil Perhitungan Densitas ............................................................................IV-2 Tabel IV.1.3 Hasil Perhitungan Viskositas Cairan .............................................................. IV-2 Tabel IV.2.1 Data Densitas Aquadest..................................................................................IV-6 Tabel IV.2.2 Viskositas Air pada Berbagai Suhu ................................................................ IV-7

iv

DAFTAR GRAFIK
Grafik IV.1 Pengaruh Waktu terhadap Selisih Berat dengan Arus Tetap 100 mA ......... IV-2 Grafik IV. 2 Pengaruh Waktu terhadap Kuat Arus dengan Arus Tetap 100 mA ............. IV-3 Grafik IV.3 Pengaruh Waktu terhadap Selisih Berat dengan Arus Tetap 300 mA .......... IV-4 Grafik IV.4 Pengaruh Waktu terhadap Kuat Arus dengan Arus Tetap 300 mA .............. IV-5

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Viskositas merupakan karakteristik dari suatu zat cair yang disebabkan karena adanya gesekan antara molekulmolekul zat cair dengan gaya kohesi pada zat cair tersebut. Setiap zat cair memiliki sifat yang berbeda, salah satunya adalah viskositas zat cair (nilai kekentalan). Sifat ini dimiliki oleh semua zat cair. Kekentalan adalah sifat dari suatu zat cair (fluida) disebabkan adanya gesekan antara molekul-molekul zat cair dengan gaya kohesi pada zat cair tersebut. Gesekan-gesekan inilah yang menghambat aliran zat cair. Suatu zat memiliki kemampuan tertentu sehingga suatu padatan yang dimasukkan kedalamnya mendapat gaya tekanan yang diakibatkan peristiwa gesekan antara permukaan padatan tersebut dengan zat cair. Aliran viskos, dalam berbagai masalah keteknikan pengaruh viskositas pada aliran adalah kecil, dan dengan demikian diabaikan. Adanya praktikum viskositas ini bertujuan agar praktikan dapat mengetahui bagaimana pengaruh kekentalan suatu fluida terhadap nilai viskositas pada suatu zat cair menggunakan viskometer Ostwald dan besarnya densitas suatu cairan menggunakan piknometer. Aplikasi industri dari viskositas adalah pelumas mesin. Pelumas mesin ini biasanya kita kenal dengan nama oli. Oli merupakan bahan penting bagi kendaraan bermotor. Oli yang dibutuhkan tiap-tiap tipe mesin kendaraan berbeda-beda karena setiap tipe mesin kendaraan membutuhkan kekentalan yang berbeda-beda. Kekentalan ini adalah bagian yang sangat penting sekali karena berkaitan dengan ketebalan oli atau seberapa besar resistensinya untuk mengalir. Sehingga sebelum menggunakan oli merek tertentu harus diperhatikan terlebih dahulu koefisien kekentalan oli sesuai atau tidak dengan tipe mesin. Viskositas dari oli sangat diperhitungkan untuk meminimalisir gaya gesek yang ditimbulkan oleh mesin yang bergerak dan terkontak satu terhadap yang lain sehingga mencegah terjadinya keausan. Pada permesinan bagian yang paling sering bergesekan adalah piston, ada banyak bagian lain namun gesekannya tak sebesar yang dialami piston. Disinilah kegunaan oli. Oli memisahkan kedua permukaan yang berhubungan sehingga gesekan pada piston diperkecil. Selain itu, oli juga bertindak sebagai fluida yang memindahkan panas ruang bakar yang mencapai 10001600 derajat celcius ke bagian lain mesin yang lebih dingin, sehingga mesin tidak over heat (sebagai pendingin).

I-1

I-2 Bab I Pendahuluan I.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara menentukan koefisien viskositas aquadest, yoghurt Yakult, dan sabun cair Nuvo pada suhu 39C, 49C, dan 63C dengan menggunakan viskometer Ostwald? 2. Bagaimana cara menentukan densitas aquadest, yoghurt Yakult, dan sabun cair Nuvo pada suhu 39C, 49C, dan 63C dengan menggunakan piknometer?

I.3 Tujuan Percobaan 1. Menentukan koefisien viskositas aquadest, yoghurt Yakult, dan sabun cair Nuvo pada suhu 39C, 49C, dan 63C dengan menggunakan viskometer Ostwald. 2. Menentukan densitas aquadest, yoghurt Yakult, dan sabun cair Nuvo pada suhu 39C, 49C, dan 63C dengan menggunakan piknometer.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. 1 Dasar Teori Viskositas adalah ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya gesekan di dalam fluida. Viskositas cairan dapat dibandingkan satu sama lain dengan adanya koefisien viskositas (h). Koefisien viskositas adalah gaya tangensial per satuan luas yang dibutuhkan untuk mempertahankan perbedaan kecepatan alir (Puspita, 2011). Viskositas suatu cairan murni atau larutan merupakan indeks hambatan alir cairan. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung berbentuk silinder. Cara ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan maupun gas (Aryaditama, 2013). Dalam menafsirkan pengukuran viskositas, banyak terdapat kerumitan kebanyakan pengukuran (tidak semuanya) didasarkan pada pengamatan empiris, dan penentuan massa molar biasanya didasarkan pada pembandingan dengan sampel standar (Aryaditama, 2013). Salah satu kerumitan dalam pengukuran dalam pengukuran intensitas adalah dalam beberapa kasus, ternyata fluida itu bersifat non-Newtonian, yaitu viskositasnya berubah saat laju aliran bertambah. Penurunan viskositas dengan bertambahnya laju aliran menunjukkan adanya molekul seperti batang panjang, yang terorientasi oleh aliran itu, sehingga saling meluncur melewati satu sama lain dengan lebih bebas. Dalam beberapa kasus, tekanan yang disebabkan oleh aliran menjadi sangat besar, sehingga molekul panjang terputus-putus. Ini membawa konsekuensi lebih lanjut pada viskositas (Aryaditama, 2013). Suatu jenis cairan yang mudah mengalir dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah, dan sebaliknya bahanbahan yang sulit mengalir dikatakan memiliki viskositas yang tinggi. Pada hukum aliran viskos, Newton menyatakan hubungan antara gayagaya mekanika dari suatu aliran viskos sebagai geseran dalam (viskositas) fluida adalah konstan sehubungan dengan gesekannya (Devhy, 2013). Pada zat cair, viskositas disebabkan oleh gaya kohesi antara molekul. Pada gas, viskositas muncul dari tumbukan antar molekul. Fluida yang bebeda memiliki besar viskositas yang berbeda, misal sirup lebih kental (lebih viskos) dari air, minyak lemak lebih kental dari pada minyak mesin, zat cair pada umumnya jauh lebih kental dari gas. Viskositas fluida yang berbeda dapat dinyatakan secara kuantitatif oleh koefisien viskositas, (huruf kecil dari abjad yunani eta), yang didefinisikan sebagai satu lapisan tipis fluida ditempatkan antara dua

II-1

II-2 Bab II Tinjauan Pustaka lempeng yang rata. Satu lempeng diam dan yang lainnya bergerak dengan laju konstan. Fluida yang langsung bersentuhan dengan setiap lempeng ditahan pada permukaan permukaan atas fluida bergerak dengan laju v yang sama seperti lempeng yang atas, sementara fluida yang bersentuhan dengan lempeng yang diam tetap diam. Lapisan fluida yang diam menahan aliran lapisan yang persis di atasnya, yang juga menahan lapisan berikutnya, dan seterusnya. Untuk fluida yang berbeda, makin kental fluida maka makin besar gaya yang diperlukan (Anggraeni,
2010)

Setiap zat cair mempunyai karakteristik yang khas, berbeda satu zat cair dengan zat cair yang lain. Salah satunya adalah viskositas. Viskositas merupakan tahanan yang dilakukan oleh suatu lapisan fluida terhadap suatu lapisan lainnya. Sifat viskositas ini dimiliki oleh setiap fluida, gas, atau cairan. Viskositas suatu cairan murni adalah indeks hambatan aliran cairan. Aliran cairan dapat dikelompokan menjadi dua yaitu aliran laminar dan aliran turbulen. Aliran laminar menggambarkan laju aliran kecil melalui sebuah pipa dengan garis tengah kecil. Sedangkan aliran turbulen menggambarkan laju aliran yang besar dengan diameter pipa yang besar. Penggolongan tersebut berdasarkan bilangan Reynold (Anggraeni,
2010).

Fluida yang lebih cair biasanya lebih mudah mengalir, contohnya air. Sebaliknya, fluida yang lebih kental biasanya lebih sulit mengalir, contohnya minyak goreng, oli, madu, dan lain-lain. Hal ini bisa dibuktikan dengan menuangkan air dan minyak goreng diatas lantai yang permukaannya miring. Pasti hasilnya air lebih cepat mengalir dari pada minyak goreng atau oli. Tingkat kekentalan suatu fluida juga bergantung pada suhu. Semakin tinggi suhu zat cair, semakin kurang kental zat cair tersebut. Misalnya ketika ibu menggoreng ikan di dapur, minyak goreng yang awalnya kental, berubah menjadi lebih cair ketika dipanaskan. Sebaliknya, semakin tinggi suhu suatu zat gas, semakin kental zat gas tersebut (Widya, 2013). Perlu diketahui bahwa viskositas atau kekentalan hanya ada pada fluida rill (rill = nyata). Fluida rill/nyata adalah fluida yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti air sirup, oli, asap knalpot, dan lainnya. Fluida rill berbeda dengan fluida ideal. Fluida ideal sebenarnya tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Fluida ideal hanya model yang digunakan untuk membantu kita dalam menganalisis aliran fluida (fluida ideal ini yang kita pakai dalam pokok bahasan fluida dinamis) (Widya, 2013). Viskositas menentukan kemudahan suatu molekul bergerak karena adanya gesekan antar lapisan material. Karenanya viskositas menunjukkan tingkat ketahanan suatu cairan untuk mengalir. Semakin besar viskositas maka aliran akan semakin lambat. Besarnya Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-3 Bab II Tinjauan Pustaka viskositas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti temperatur, gaya tarik antar molekul dan ukuran, serta jumlah molekul terlarut. Fluida zat cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki tingkat kekentalan yang berbeda. Pada zat cair, viskositas disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis). Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh tumbukan antara molekul (Anggraeni, 2010). Satuan sistem internasional (SI) untuk koefisien viskositas adalah Ns/m2 = Pa.S (pascal sekon). Satuan CGS (centimeter gram sekon) untuk koefisien viskositas adalah dyn.s/cm2 = poise (p). Viskositas juga sering dinyatakan dalam sentipoise (cp). 1 cp = 1/1000 p. satuan poise digunakan untuk mengenang seorang ilmuwan Prancis, Jean Louis Marie Poiseuille (Widya, 2013). 1 poise = 1 dyn. s/cm2 = 10-1 N.s/m2 Fluida adalah gugusan molekul yang jarak pisahnya besar dan kecil untuk zat cair. Jarak antar molukelnya itu besar jika dibandingkan dengan garis tengah molukel itu. Molekulmolekul itu tidak terikat pada suatu kisi, melainkan saling bergerak bebas terhadap satu sama lain. Jadi kecepatan fluida atau massanya kecepatan volume tidak mempunyai makna yang tepat sebab jumlah molekul yang menempati volume tertentu terus menerus berubah (Widya,
2013)

Aliran cairan viskositas dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu : 1. Aliran Laminer atau Aliran Kental Menggambarkan laju aliran kecil melalui sebuah pipa dengan garis tengah kecil. 2. Aliran Turbulen Menggambarkan laju aliran yang besar melalui pipa dengan diameter yang lebih besar. Dengan kata lain pembagian ini ialah pertama bagian air yang mengalir seakan-akan mengikuti suatu garis tak putus, bik lurus maupun melengkung. Ada bagian-bagian yang alirannya berputar-putar dengan putaran yang tidak jelas ujung dan pangkalnya (Hastriawan,
2012).

Aliran yang mengikuti suatu garis (lurus ataupun melengkung) yang jelas ujung dan pangkalnya disebut aliran garis arus atau dalam bahasa Inggris disebut aliran Streamline. Secara lebih cermat dikatakan bahwa aliran garis arus adalah aliran yang tiap partikel yang melalui suatu titik mengikuti suatu garis yang sama seperti partikel-partikel lain melalui titik itu. Selain itu, pada aliran garis arus arah gerak partikel-partikel itu sama dengan arah aliran secara keseluruhan. Garis yang dilalui oleh partikel-partikel itu pada aliran seperti ini disebut garis arus (Hastriawan, 2012). Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-4 Bab II Tinjauan Pustaka Berbeda dengan aliran garis arus, ada aliran yang disebut aliran turbulen. Aliran turbulen ditandai oleh adanya aliran berputar. Ada partikel-partikel yang arah geraknya berbeda, bahkan berlawanan dengan arah gerak keseluruhan fluida. Jika aliran turbulen maka akan terdapat pusaran-pusaran dalam gerakannya dan lintasan partikel-partikelnya senantiasa berubah. Aliran turbulen menggambarkan laju aliran yang beasar melalui pipa dengan diameter yang lebih besar (Hastriawan, 2012). Fluida dapat digolongkan kedalam cairan atau gas. Perbedaan-perbedaan utama antara cair dan gas adalah : a. Cairan praktis tidak kompersibel, sedangkan gas kompersibel dan seringkali harus diperlakukan demikian. b. Cairan mengisi volume tertentu dan mempunyai permukaan-permukaan bebas, sedangkan agar dengan massa tertentu mengembang sampai mengisi seluruh bagian wadah tempatnya. (Widya, 2013) Perbedaan antara viskositas cairan dengan viskositas gas adalah sebagai berikut : Tabel II.1 Perbedaan antara Viskositas Cairan dengan Viskositas Gas Jenis Perbedaan Gaya gesek Viskositas Cairan Lebih besar untuk mengalir Viskositas Gas Lebih kecil dibandingkan viskositas cairan Koefisien viskositas Temperatur Lebih besar Temperatur naik, viskositas turun Tekanan
(Anonim, 2011)

Lebih kecil Temperatur naik, viskositas naik

Tekanan naik, viskositas naik Tidak tergantung tekanan

Macam-macam viskositas menurut Lewis (1987) adalah : 1. Viskositas dinamik, yaitu rasio antara shear, stress, dan shear rate. Viskositas dinamik disebut juga koefisien viskositas. 2. Viskositas kinematik, yaitu viskositas dinamik dibagi dengan densitasnya. Viskositas ini dinyatakan dalam satuan stoke (St) pada cgs dan m/s pada SI. 3. Viskositas relatif dan spesifik, pada pengukuran viskositas suatu emulsi atau suspensi biasanya dilakukan dengan membandingkannya dengan larutan murni.
(Anonim, 2011)

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-5 Bab II Tinjauan Pustaka Viskometer Brookfield Pada viskometer ini nilai viskositas didapatkan dengan mengukur gaya puntir sebuah rotor silinder (spindle) yang dicelupkan ke dalam sample. Viskometer Brookfield memungkinkan untuk mengukur viskositas dengan menggunakan teknik dalam viskometri. Alat ukur kekentalan (yang juga dapat disebut viskosimeter) dapat mengukur viskositas melalui kondisi aliran berbagai bahan sampel yang diuji. Untuk dapat mengukur viskositas sampel dalam viskometer Brookfield, bahan harus diam didalam wadah sementara poros bergerak sambil direndam dalam cairan (Anonim, 2011). Pada metode ini sebuah spindle dicelupkan ke dalam cairan yang akan diukur viskositasnya. Gaya gesek antara permukaan spindle dengan cairan akan menentukan tingkat viskositas cairan (Anonim, 2011) Untuk membuat sebuah hasil viskositas dengan metode pengukuran Rotasional harus dipenuhi beberapa hal sebagai berikut :

Jenis Spindle Kecepatan putar Spindle Tipe Viskometer Suhu sample Shear Rate (bila diketahui) Lama waktu pengukuran (bila jenis sampelnya Time Dependent) Viskometer Brookfield merupakan salah satu viskometer yang menggunakan gasing

(Anonim, 2011)

atau kumparan yang dicelupkan kedalam zat uji dan mengukur tahanan gerak dari bagian yang berputar. Tersedia kumparan yang berbeda untuk rentang kekentalan tertentu, dan umumnya dilengkapi dengan kecepatan rotasi. Prinsip kerja dari viskometer Brookfield ini adalah semakin kuat putaran semakin tinggi viskositasnya sehingga hambatannya semakin besar (Anonim, 2011). Koefisien Viskositas Satuan Sistem Internasional (SI) untuk koefisien viskositas adalah Ns/m2 = Pa.s (pascal sekon). Satuan CGS (centi gram sekon) untuk koefisien viskositas adalah dyn.s/cm2 = poise (P). Viskositas juga sering dinyatakan dalam sentipoise (cP) dan 1cP = 1/100 P. Berikut adalah pengaruh suhu terhadap koefisien viskositas zat cair pada Tabel II.2

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-6 Bab II Tinjauan Pustaka Tabel II.2 Pengaruh Suhu terhadap Koefisien Viskositas Zat Cair Fluida Air Temperatur ( 0C ) 0 20 60 100 Darah ( Keseluruhan ) Plasma Darah Ethyl Alkohol Oli Mesin Gliserin 37 37 20 30 0 20 60 Udara Hidrogen Uap Air
(Pratama, 2011)

Koefisien Viskositas 1,8 x 10-3 1,0 x 10-3 0,65 x 10-3 0,3 x 10-3 4,0 x 10-3 1,5 x 10-3 1,2 x 10-3 200 x 10-3 10.000 x 10-3 1.500 x 10-3 81 x 10-3 0,018 x 10-3 0,009 x 10-3 0,013 x 10-3

20 0 100

Pengukuran Viskositas Peralatan untuk mengukur viskositas disebut viscometer. Ada tiga cara untuk menentukan , yaitu: a.Viskometer Torsi Rumus R = A, dipakai pada silinder konsentris. b.Viskometer Ostwald Pada viskometer Ostwald yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah tertentu cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Pada percobaan sebenarnya, sejumlah tertentu cairan (misalnya 10 cm3, bergantung pada ukuran viskometer) dipipet kedalam viskometer. Cairan kemudian dihisap melalui labu pengukur dari viskometer sampai permukaan cairan lebih tinggi daripada batas a. cairan kemudian dibiarkan turun ketika permukaan cairan turun melewati batas a, stopwatch mulai dinyalakan dan ketika cairan melewati tanda batas b, stopwatch dimatikan. Jadi waktu yang dibutuhkan cairan untuk melalui jarak antara a dan b dapat ditentukan. Tekanan merupakan perbedaan antara kedua ujung pipa U dan besarnya disesuaikan sebanding dengan Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-7 Bab II Tinjauan Pustaka berat jenis cairan. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu cairan yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat antara dua tanda tersebut. c.Hukum Stokes untuk Bola Jatuh. Viskositas cairan juga dapat ditentukan berdasarkan hukum Stokes. Hukum Stokes berdasarkan jatuhnya melalui medium zat cair. Benda bulat dengan radius r dan rapat d yang jatuh karena gaya gravitasi melalui fluida dengan rapat dm. Benda yang jatuh mempunyai kecepatan yang makin lama makin besar. Tetapi dalam medium ada gaya gesek, yang makin besar bila kecepatan benda jatuh makin besar. Pada saat kesetimbangan, besarnya kecepatan benda jatuh tetap (V). Hukum stokes merupakan dasar viskometer bola jatuh. Viskometer ini terdiri atas gelas silinder dengan cairan yang akan diteliti dan dimasukkan dalam termostat (Sukardjo, 1989).

Gambar II.1 Viskometer bola jatuh Bola baja dengan rapat d dan diameter r dijatuhkan ke dalam tabung dan waktu yang diperlukan untuk jatuh antara 2 tanda a dan b, dicatat dengan stopwatch. = Keterangan : s = jarak bola jatuh dm= rapat cairan r = jari-jari bola t = waktu bola jatuh R= jari-jari tabung viskometer
(Sukardjo, 1989)

d. Viskometer Cup dan Bob Prinsip kerjanya sampel digeser dalam ruangan antara dinding luar Bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengan-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-8 Bab II Tinjauan Pustaka terjadinya aliran sumbat yang disebabkan gesekan yang tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penemuan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebebkan bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat (Anggraeni,
2010).

e. Viskometer Cone dan Plate Cara pemakaiannya adalah sampek yang ditempatkan di tengah-tengah papan, kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser didalam ruang sempit antara papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar (Anggraeni, 2010). f. Viskometer Hoppler Pada viscometer ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah bola logam untuk melewati cairan setinggi tertentu. Suatu benda karena adanya gravitasi akan jatuh melalui medium yang berviskositas (seperti cairan misalnya), dengan kecepatan yang semakin besar sampai mencapai kecepatan maksimum. Kecepatan maksimum akan tercapai bila gravitasi sama dengan fictional resistance medium (Anggraeni, 2010). Berdasarkan hukum stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga : gaya gesek = gaya berat, gaya Archimedes : 6rVmax = 4/3 r3 (bola cair) g = { 2/g r3 (bola cair) g }/Vmax Vmax = h / t

Dimana : t = waktu jatuh bola pada ketinggian h

Catatan pada viskositas : 1. Aliran viskositas (viscous flow). Dalam berbagai masalah keteknikan pengaruh dari viskositas pada aliran adalah kecil, dan dengan demikian diabaikan. Cairan kemudian dinyatakan sebagai tidak kental (invicid) atau, seringkali, ideal, dan diambil sebesar nol. Tetapi kalau istilah aliran viskos dipakai, ini berarti bahwa viskositas tidak diabaikan. 2. Kecepatan (velocity). Dalam aliran viskos hokum dasarnya adalah bahwa kecepatan fluida pada tepi batas harus sama dengan kecepatan dari tepi batas itu. Sebaliknya, ada gradient

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-9 Bab II Tinjauan Pustaka kecepatan sangat kecil di sebelah tepi batas dan, karena R = A, suatu tegangan geseran tak hingga. 3. Tegangan geser (shear strength). Telah diketahui benar bahwa cairan yang tidak bergerak tidak memiliki tegangan geser, karena dalam keseluruhan mereka berubah bentuk untuk mengisi tempatnya, bagaimanapun juga bentuknya. 4. Dimensi-dimensi dari . Karena hambatan viskos, R =A, mempunyai dimensi-dimensi dari tegangan dibagi dengan gradient kecepatan yaitu: (MT-2L-1) (LT-1/L) = ML-1T-1 Dalam system c.g.s. satuan-satuan dari adalah poise, yang sama dengan 1 g/(cm detik). Jadi: 1 kg/ms = 10 poise = 1000 centipoise. 5. Koefisien viskositas kinematis (Coeficient of kinematic viscosity). 6. Hambatan viskos (viscos drag). RumusR =A. Dapat dipakai pada gerak relatif dua silinder konsentris (dengan cairan diantaranya) dari diameter yang hampir sama. Ini mirip dengan rencana keteknikan biasa, yang terdapat misalnya, pada poros, dilumasi dengan minyak, berputar di dalam bantalannya.
(Widya, 2013).

Piknometer

Gambar II.2 Piknometer Piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur nilai massa jenis atau densitas dari fluida. Berbagai macam fluida yang diukur massa jenisnya, biasanya dalam praktikum yang diukur adalah massa jenis oli, minyak goreng, dan lain-lain. Piknometer itu terdiri dari 3 bagian, yaitu tutup pikno, lubang, gelas atau tabung ukur. Cara menghitung massa fluida yaitu dengan mengurangkan massa pikno berisi fluida dengan massa pikno kosong. Kemudian di dapat data massa dan volume fluida, sehingga tinggal menentukan nilai cho/massa jenis () fluida dengan persamaan = cho () = m/v (Wahyuni, 2012).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-10 Bab II Tinjauan Pustaka Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas adalah sebagai berikut. 1. Suhu Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan turun, dan begitu sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan partikel-partikel cairan yang semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan menurun kekentalannya. 2. Konsentrasi larutan Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang terlarut, gesekan antar partikrl semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi pula. 3. Berat Molekul Solut Viskositas berbanding lurus dengan berat molekul solut. Karena dengan adanya solut yang berat akan menghambat atau memberi beban yang berat pada cairan sehingga menaikkan viskositas. 4. Tekanan Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu cairan.
(Donna, 2009)

Viskositas Dalam Kehidupan Sehari-hari Teori dasar viskositas merupakan suatu sifat fluida yang mendasari diberikannya tahanan terhadap tegangan geser oleh fluida tersebut. Viskositas sering diartikan sebagai kekentalan. Viskositas sebenarnya disebabkan oleh kohesi dan pertukaran momentum molekuler di antara lapisan-lapisan fluida dan pada waktu berlangsungnya aliran, efek ini terlihat sebagai tegangan tangensial atau tegangan geser di antara lapisan yang bergerak. Akibat adanya gradien kecepatan, akan menyebabkan lapisan fluida yang lebih dekat pada plat yang bergerak, dan akan diperoleh kecepatan yang lebih besar dari lapisan yang lebih jauh (Widya, 2013). Cairan yang mempunyai viskositas lebih tinggi akan lebih lambat mengalir didalam pipa dibandingkan cairan yang viskositasnya lebih rendah. Sebuah benda yang bergerak dalam fluida yang punya viskositas lebih tinggi mengalami gaya gesek viskositas yang lebih besar daripada jika benda tersebut bergerak didalam fluida yang viskositasnya lebih rendah. Tujuan mempelajari viskositas ini adalah memahami bahwa benda yang bergerak di dalam fluida akan mendapatkan gesekan yang disebabkan oleh kekentalan fluida tersebut. Selain itu, dapat menentukan koefisien kekentalan dari fluida. Faktor-faktor yang mempengaruhi Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-11 Bab II Tinjauan Pustaka viskositas antara lain adalah koefisien kekentalan zat cair itu sendiri, massa jenis dari fluida tersebut, bentuk atau besar dari partikel fluida tersebut, karena cairan yang partikelnya besar dan berbentuk tak teratur lebih tinggi dari pada yang partikelnya kecil dan bentuknya teratur. Selain itu juga suhu, semakin tinggi suhu cairan semakin kecil viskositasnya, semakin rendah suhunya maka semakin besar viskositasnya (Widya, 2013). Aplikasi teori aplikasi dari viskositas adalah pelumas mesin. Pelumas mesin ini biasanya kita kenal dengan nama oli. Oli merupakan bahan penting bagi kendaraan bermotor. Oli yang dibutuhkan tiap-tiap tipe mesin kendaraan berbeda-beda karena setiap tipe mesin kendaraan membutuhkan kekentalan yang berbeda-beda. Kekentalan ini adalah bagian yang sangat penting sekali karena berkaitan dengan ketebalan oli atau seberapa besar resistensinya untuk mengalir. Sehingga sebelum menggunakan oli merek tertentu harus diperhatikan terlebih dahulu koefisien kekentalan oli sesuai atau tidak dengan tipe mesin. Memilih dan menggunakan oli yang baik dan benar untuk kendaraan bermotor merupakan langkah tepat untuk merawat mesin dan peralatan kendaraan agar tidak cepat rusak dan mencegah pemborosan. Masyarakat umum beranggapan bahwa fungsi utama oli hanyalah sebagai pelumas mesin. Padahal oli memiliki fungsi lain, yakni sebagai pendingin, pelindung karat, pembersih dan penutup celah pada dinding mesin. Sebagai pelumas mesin oli akan membuat gesekan antar komponen didalam mesin bergerak lebih halus dengan cara masuk kedalam celah-celah mesin, sehingga memudahkan mesin untuk mencapai suhu kerja yang ideal
(Widya, 2013).

Viskositas dari oli sangat diperhitungkan untuk meminimalisir gaya gesek yang ditimbulkan oleh mesin yang bergerak dan terkontak satu terhadap yang lain sehingga mencegah terjadinya keausan. Pada permesinan bagian yang paling sering bergesekan adalah piston, ada banyak bagian lain namun gesekannya tak sebesar yang dialami piston. Disinilah kegunaan oli. Oli memisahkan kedua permukaan yang berhubungan sehingga gesekan pada piston diperkecil. Selain itu, oli juga bertindak sebagai fluida yang memindahkan panas ruang bakar yang mencapai 1000-1600 derajat celcius ke bagian lain mesin yang lebih dingin, sehingga mesin tidak over heat (sebagai pendingin). Pembersih mesin dari sisa pembakaran dan deposit senyawa karbon yang masuk dalam ruang bakar supaya tidak muncul endapan lumpur (Widya, 2013). Teknologi mesin yang terus berkembang menuntut kerja pelumas semakin lengkap, seperti penambahan anti karat dan anti foam. Semakin kental oli, maka lapisan yang ditimbulkan menjadi lebih kental. Lapisan halus pada oli kental memberi kemampuan ekstra Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-12 Bab II Tinjauan Pustaka menyapu atau membersihkan permukaan logam yang terlumasi. Sebaliknya oli yang terlalu tebal akan memberi resitensi berlebih mengalirkan oli pada temperatur rendah sehingga mengganggu jalannya pelumasan ke komponen yang dibutuhkan. Untuk itu, oli harus memiliki kekentalan lebih tepat pada temperatur tertinggi atau temperatur terendah ketika mesin dioperasikan karena nilai viskositas masing-masing oli akan berkurang jika suhu cairan dinaikkan. Suhu semakin tinggi diikuti makin rendahnya viskositas oli atau sebaliknya
(Widya, 2013) .

Beberapa kriteria yang penting yang harus dipenuhi oleh oli antara lain : 1. Viskositas harus cukup kental untuk menahan agar bagian peralatan yang bergerak relatif terpisah, tetapi juga harus mencegah kebocoran dari segel. 2. Fluida harus cukup pada saat awal yaitu pada saat peralatan masih dingin. 3. Dapat membentuk film yang cukup kuat untuk pelumasan perbatasan. 4. Tahan terhadap oksidasi suhu tinggi. 5. Mengandung deterjen dan dispersan cukup untuk menyerap endapan atau lumpur yanga terbentuk. 6. Tidak membentuk emulsi dengan air yang masuk dari segel yang bocor.
(Widya, 2013).

Dengan tingkat kekentalan yang disesuaikan dengan kapasitas volume maupun kebutuhan mesin. Maka semakin kental oli, tingkat kebocoran akan semakin kecil, namun disisi lain mengakibatkan bertambahnya beban kerja bagi pompa oli. Oleh sebab itu, peruntukkan bagi mesin kendaraan Baru (dan/atau relatif baru berumur dibawah 3 tahun) direkomendasikan untuk menggunakan oli dengan tingkat kekentalan minimum SAE10W. Sebab seluruh komponen mesin baru (dengan teknologi terakhir) memiliki lubang atau celah dinding yang sangat kecil, sehingga akan sulit dimasuki oleh oli yang memiliki kekentalan tinggi (Widya, 2013). Selain itu kandungan aditif dalam oli, akan membuat lapisan film pada dinding silinder guna melindungi mesin pada saat start. Sekaligus mencegah timbulnya karat, sekalipun kendaraan tidak dipergunakan dalam waktu yang lama. Disamping itu pula kandungan aditif deterjen dalam pelumas berfungsi sebagai pelarut kotoran hasil sisa pembakaran agar terbuang saat pergantian oli. Oli jenis mesin diesel ini memerlukan tambahan aditif dispersant dan detergent untuk menjaga oli tetap bersih karena menghasilkan kontaminasi jelaga sisa pembakaran yang tinggi. Sedangkan bila oli yang digunakan sudah tipe sintetik maka tidak perlu lagi diberikan bahan aditif lain karena justru akan mengurangi kireja mesin bahkan Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-13 Bab II Tinjauan Pustaka merusaknya. Tingkat kekentalan oli disebut Viscosity Grade, yaitu ukuran kekentalan dan kemampuan oli untuk mengalir pada temperatur tertentu menjadi prioritas terpenting dalam memilih oli. Kode pengenal oli adalah berupa huruf SAE yang merupakan singkatan dari Society of Automotive Engineers (Widya, 2013). Selanjutnya angka yang mengikuti dibelakangnya, menunjukkan tingkat kekentalan oli tersebut. Misalnya oli yang bertuliskan SAE 15W-50, berarti oli tersebut memiliki tingkat kekentalan SAE 10 untuk kondisi suhu dingin dan SAE 50 pada kondisi suhu panas. Semakin besar angka yang mengikuti kode oli menandakan semakin kentalnya oli tersebut. Sedangkan huruf W yang terdapat dibelakang angka awal, merupakan singkatan dari Winter. Dengan kondisi seperti ini, oli akan memberikan perlindungan optimal saat mesin start pada kondisi ekstrim sekalipun. Sementara itu dalam kondisi panas normal, idealnya oli akan bekerja pada kisaran angka kekentalan 40-50 menurut standar SAE (Widya, 2013). Dalam penggunaan sehari-hari, viskositas dikenal sebagai ukuran ketahanan oli untuk mengalir dalam mesin kendaraan. Zat cair dan gas memiliki viskositas, hanya saja zat cair lebih kental (viscous) daripada gas. Viskositas oli didefinisikan dengan nomor SAES (Society of Automotive Engineers) (Widya, 2013). Densitas Massa jenis (densitas) adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya besi) akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air) (Julianto, 2012). Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kgm-3). Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu zat berapapun massanya berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama (Julianto, 2012). Rumus untuk menentukan massa jenis adalah = dengan adalah massa jenis, m adalah massa, V adalah volume. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS
m v

II-14 Bab II Tinjauan Pustaka Satuan massa jenis dalam CGS [centi-gram-sekon] adalah gram per sentimeter kubik (g/cm3). 1 g/cm3 = 1000 kg/m3
(Julianto, 2012).

Berikut ini adalah zat-zat cair yang digunakan untuk percobaan viskositas. Yoghurt (yakult)

Gambar II.3 Yakult Yoghurt atau yogurt adalah susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri. Yoghurt dapat dibuat dari susu apa saja, termasuk susu kacang kedelai. Produksi modern saat ini didominasi susu sapi. Fermentasi gula susu (laktosa) menghasilkan asam laktat yang berperan dalam protein susu untuk menghasilkan tekstur seperti gel dan aroma unik pada yoghurt. Yoghurt tersedia dalam beraneka macam rasa, rasa alami, rasa buah, rasa vanilla, atau rasa cokelat juga populer (Anonim, 2011). Yakult adalah minuman probiotik mirip yogurt yang dibuat dari fermentasi skimmed milk dan gula dengan bakteri Lactobacillus casei. Karena L. casei Shirota dapat ditemui dalam sistem pencernaan, Yakult dipromosikan sebagai minuman yang baik untuk kesehatan. Yakult telah memperkenalkan berbagai minuman yang mengandung bakteri Bifidobacterium breve, dan telah menggunakan lactobacilli untuk mengembangkan kosmetika. Yakult juga memiliki salah satu tim bisbol terbesar di Jepang, Tokyo Yakult Swallows. Saat ini, Yakult diproduksi dan dijual di Jepang, Asia, Australia, Amerika Latin, dan Eropa, walaupun bakterinya masih diimpor dari Jepang (Anonim, 2011) Sabun cair (Nuvo)

Gambar II.4 Sabun Cair Nuvo Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-15 Bab II Tinjauan Pustaka Sabun cair adalah reaksi saponifikasi menggunakan minyak dan lemak yang mempunyai kandungan asam oleat tinggi dan perbandingan yang tajam dari kalium, digunakan dalam kombinasi dengan soda kaustik untuk untuk memproduksi cairan yang setara normal warnanya agak gelap dan mempunyai bau yang kuat (Pertiwi, 2013). Nuvo merupakan brand produk sabun dari Wings Group. Sabun Nuvo merupakan sabun antiseptik yang mampu melindungi anda dan keluarga dari serangan kuman. Sabun ini efektif memberihkan tubuh dari kotoran dan membunuh kuman yang menempel pada kulit. Nuvo cocok untuk semua jenis kulit, memberikan perlindungan terhadap gangguan kulit. Selain sabun mandi, Nuvo juga menghadirkan produk pembersih tangan. Beberapa varian dari brand Nuvo antara lain, sabun batang Nuvo (putih, gold, merah, hijau), sabun batang Nuvo Family, sabun batang Nuvo Family Cool, Nuvo Hand Sanitizer (pembersih tangan), Nuvo Premium, sabun cair Nuvo (Anonim, 2013).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


III.1 Variabel Percobaan 1. Variabel Bebas Bahan Suhu 2. Variabel Kontrol 3. Variabel Terikat : : Aquadest, yoghurt Yakult, dan sabun cair Nuvo : 39oC, 49oC, dan 63oC : Volume dan tekanan : Temperatur, viskositas, dan densitas

III. 2 Bahan yang Digunakan 1. Aquadest 2. Yoghurt Yakult 3. Sabun cair Nuvo

III. 3 Alat yang Digunakan 1. Corong Kaca 2. Erlenmeyer 3. Gelas Ukur 4. Pemanas Elektrik 5. Piknometer 6. Pipet Tetes 7. Stopwatch 8. Termometer 9. Timbangan Elektrik 10.Viskometer Ostwald 11.Waterbath (Beaker Glass)

III.4 Prosedur Percobaan III.4.1 Prosedur Menghitung Harga Viskositas Cairan 1. Memasukkan aquadest ke dalam viskometer Ostwald yang diletakkan dalam beaker glass dan mengondisikan aquadest pada variabel suhu 39oC.

III-1

III-2 Bab III Metodologi Percobaan 2. Menghisap aquadest sehingga melewati batas atas pada viskometer Ostwald. 3. Membiarkan aquadest mengalir ke bawah hingga tepat pada batas atas. 4. Mencatat waktu yang diperlukan aquadest untuk mengalir dari batas atas ke batas bawah viskometer Ostwald dengan menggunakan stopwatch. 5. Mengulangi langkah 1-4 dengan mengondisikan aquadest pada suhu 49oC dan 63oC. 6. Mengulangi langkah 1-5 dengan mengganti aquadest dengan yoghurt Yakult dan sabun cair Nuvo III.4.2 Prosedur Menghitung Harga Densitas Cairan : 1. Menimbang massa piknometer kosong menggunakan timbangan berat (timbangan elektrik). 2. Memasukkan aquadest ke dalam piknometer hingga mencapai ukuran maksimum piknometer. 3. Mengondisikan aquadest pada suhu 39oC. 4. Menimbang massa total piknometer dan aquadest. 5. Mencari massa aquadest dengan cara mencari selisih massa antara piknometer
yang berisi aquadest dan massa piknometer kosong.

6. Mencari densitas aquadest dengan cara membagi massa aquadest dengan volume larutan pada piknometer. 7. Mengulangi langkah 2-6 dengan mengondisikan aquadest pada suhu 49oC dan 63oC. 8. Mengulangi langkah 2-7 dengan mengganti aquadest dengan yoghurt Yakult dan sabun cair Nuvo.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-3 Bab III Metodologi Percobaan III.5 Diagram Alir III.5.1 Menghitung Harga Viskositas Cairan Mulai

Memasukkan aquadest ke dalam viskometer Ostwald yang diletakkan dalam beaker glass dan mengondisikan aquadest pada suhu 39oC.

Menghisap aquadest sehingga melewati batas atas pada viskometer Ostwald.

Membiarkan aquadest mengalir ke bawah hingga tepat pada batas atas.

Mencatat waktu yang diperlukan larutan untuk mengalir dari batas atas ke batas bawah viskometer Ostwald dengan menggunakan stopwatch.

Mengulangi langkah 1-4 dengan mengondisikan aquadest pada suhu 49oC dan 63oC.

Mengulangi langkah 1-5 dengan mengganti aquadest dengan yoghurt Yakult dan sabun cair Nuvo

Selesai

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-4 Bab III Metodologi Percobaan III.5.2 Menghitung Harga Densitas Cairan Mulai

Menimbang massa piknometer kosong menggunakan timbangan berat (timbangan elektrik).

Memasukkan aquadest ke dalam piknometer hingga penuh mencapai ukuran maksimum piknometer.

Mengondisikan aquadest pada suhu 39oC.

Menimbang massa total piknometer dan aquadest.

Mencari massa aquadest dengan cara mencari selisih massa antara piknometer yang berisi aquadest dan massa piknometer kosong.

Mencari densitas aquadest dengan cara membagi massa aquadest dengan volume larutan pada piknometer.

Mengulangi langkah 2-6 dengan mengondisikan aquadest pada suhu 49oC dan 63oC.

Mengulangi langkah 2-7 dengan mengganti aquadest dengan yoghurt Yakult dan sabun cair Nuvo

Selesai

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-5 Bab III Metodologi Percobaan III.6 Gambar Alat Percobaan

Corong kaca

Erlenmeyer

Gelas ukur

Pemanas elektrik

Piknometer

Pipet tetes

Stopwatch

Termometer

Timbangan elektrik

Viskometer Ostwald

Waterbath

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Percobaan Dari percobaan viskositas yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel IV.1.1 Hasil Percobaan Viskositas Larutan Suhu (C) 39 Aquadest 49 63 39 Yakult 49 63 39 Sabun Cair Nuvo 49 63 t1 (s) 1,53 1,31 1,01 1,68 1,65 1,64 306 132,6 94,8 Waktu t2 (s) 1,46 1,26 1,23 2,28 1,98 1,67 312,6 202,2 153,6 Rata-rata (s) 1,495 1,285 1,12 1,98 1,815 1,655 309,5 167,4 124,2

IV-1

IV-2 Hasil Percobaan dan Pembahasan Tabel IV.1.2 Hasil Perhitungan Densitas Massa Larutan Piknometer (gram) Suhu (C) 39 Aquadest 12,5 49 63 39 Yoghurt Yakult 12,5 49 63 39 Sabun Cair Nuvo 12,5 49 63 25 1 25,5 1,04 24,5 0,96 Massa pikno + larutan (gram) Densitas (gr/ml)

Tabel IV.1.3 Hasil Perhitungan Viskositas Cairan Larutan Suhu Waktu (C) 39 Aquadest 49 63 Yoghurt Yakult 39 49 63 39 49 63 (s) 1,495 1,285 1,12 1,98 1,815 1,655 309,5 167,4 124,2 5 0,3 3 1013253,93 5 0,3 3 1013253,93 5 0,3 3 1013253,93 Volume ( ml ) r (cm) l (cm) P (dyne/cm) Viskositas (cp) 321,0636 275,9644 240,529 425,2214 389,7863 355,4249 66467,6938 35950,5394 26672,9808

Sabun Cair Nuvo

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-3 Hasil Percobaan dan Pembahasan IV.2 Pembahasan Percobaan viskositas cairan ini bertujuan untuk mengetahui kekentalan zat cair yang ditentukan dengan metode Ostwald dan untuk menyelidiki pengaruh suhu terhadap kekentalan zat cair tersebut. Viskositas dapat terjadi karena adanya interaksi antar molekul cairan. Bahan uji yang digunakan dalam percobaan viskositas ini adalah aquadest, yoghurt Yakult, dan sabun cair Nuvo dengan variabel suhu 39oC, 49oC, dan 63oC. Selain itu, juga percobaan ini bertujuan untuk menghitung nilai densitas dari bahan uji yaitu aquadest, yoghurt Yakult, dan sabun cair Nuvo pada variabel suhu 39oC, 49oC, dan 63oC. Dari hasil percobaan didapatkan hubungan antara suhu, viskositas, dan densitas zat cair. Tabel IV.2.1 Data Densitas Aquadest Temperatur (C) 100 90 80 70 63 60 50 49 40 39 30 20 10
(Korson Drost Hansen)

Densitas (g/ml) 0,9584 0,9718 0,97781 0,98158 0,9832 0,98807 0,98848 0,9922 0,99254 0,99565 0,9982071 0,9997026

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-4 Hasil Percobaan dan Pembahasan 1 0,99 0,98 0,97 Densitas gr/mL 0,96 0,95 0,94 0,93 0,92 0,91 0,9 39
Suhu(C)

49

63

Grafik IV.2.1 Hubungan Suhu dan Densitas Aquadest Berdasarkan grafik IV.2.1 dapat diperoleh data densitas air pada suhu 39C, 49C, dan 63C adalah 0,96 gr/mL. Hasil percobaan tersebut tidak sesuai dengan teori pada literatur bahwa semakin tinggi suhu fluida zat cair, maka massanya akan berkurang karena terjadi penguapan sehingga harga densitasnya cenderung semakin menurun (Widya,2013). Apabila hasil percobaan dibandingkan pada tabel IV.2.1, densitas aquadest pada suhu 39C sebesar 0,99254 gr/mL, pada suhu 49C densitas aquadest sebesar 0,98848 gr/mL, pada suhu 63C densitas aquadest sebesar 0,98158 gr/mL. Ketidaksesuaian ini dapat disebabkan oleh ketelitian dari neraca analitik yang kami pakai adalah 0,5 gram sedangkan selisih berat yang terjadi memiliki ketelitian 0,1 gram. Selain itu, juga dapat disebabkan oleh kurang cermatnya dalam mengamati suhu.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-5 Hasil Percobaan dan Pembahasan 1,1 1,09 1,08 1,07 1,06 1,05 1,04 1,03 1,02 1,01

1
39 49 63

Grafik IV.2.2 Hubungan Suhu dan Densitas Yoghurt Yakult Berdasarkan grafik diatas dapat diperoleh data densitas yoghurt Yakult pada suhu 39C, 49C, dan 63C adalah 1 gr/mL. Hal ini tidak sesuai dengan teori pada literatur yang menyatakan bahwa semakin tinggi suhu fluida zat cair, maka massanya akan berkurang karena terjadi penguapan sehingga harga densitasnya cenderung semakin menurun (Widya,
2013).

Ketidaksesuaian ini dapat disebabkan oleh ketelitian dari neraca analitik yang kami pakai adalah 0,5 gram sedangkan selisih berat yang terjadi memiliki ketelitian 0,1 gram. Selain itu, juga dapat disebabkan oleh kurang cermatnya dalam mengamati suhu. 1,5 1,4 1,3 1,2 1,1 1 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 39 49 63 Grafik IV.2.3 Hubungan Suhu dan Densitas Sabun Cair Nuvo Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-6 Hasil Percobaan dan Pembahasan Berdasarkan grafik IV.2.3 dapat diperoleh data densitas sabun cair Nuvo pada suhu 39C, 49C, dan 63C adalah 1,04 gr/mL. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi suhu fluida zat cair, maka massanya akan berkurang karena terjadi penguapan sehingga harga densitasnya cenderung semakin menurun (Widya, 2013). Ketidaksesuaian ini dapat disebabkan oleh ketelitian dari neraca analitik yang kami pakai adalah 0,5 gram sedangkan selisih berat yang terjadi memiliki ketelitian 0,1 gram. Selain itu, juga dapat disebabkan oleh kurang cermatnya dalam mengamati suhu.

1,05 1,04 1,03 1,02 1,01 1 0,99 0,98 0,97 aquadest yoghurt Yakult sabun cair Nuvo

0,96
0,95 39 49 63

Grafik IV.2.4 Hubungan antara Suhu dengan Densitas Aquadest, Yoghurt Yakult, dan Sabun Cair Nuvo pada Suhu 39oC, 49oC, dan 63oC Berdasarkan grafik diatas diperoleh data densitas aquadest pada suhu 39C, 49C, dan 63C adalah 0,96 gr/mL, densitas yoghurt Yakult pada suhu 39C, 49C, dan 63C adalah 1 gr/mL densitas sabun cair Nuvo pada suhu 39C, 49C, dan 63C adalah 1,04 gr/mL. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan semakin tinggi suhu fluida zat cair, maka massanya akan berkurang karena terjadi penguapan sehingga harga densitasnya cenderung semakin menurun (Widya, 2013).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-7 Hasil Percobaan dan Pembahasan Ketidaksesuaian ini dapat disebabkan oleh ketelitian dari neraca analitik yang kami pakai adalah 0,5 gram sedangkan selisih berat yang terjadi memiliki ketelitian 0,1 gram. Selain itu, juga dapat disebabkan oleh kurang cermatnya dalam mengamati suhu. Berdasarkan grafik IV.2.4 dapat dilihat bahwa densitas zat cair tertinggi adalah yoghurt Yakult kemudian terdapat sabun cair Nuvo dan yang terendah adalah aquadest. yoghurt Yakult memiliki densitas tertinggi kerena molekulnya yang lebih rapat dan tidak mudah menguap. Sedangkan aquadest molekulnya kurang rapat dan lebih cepat menguap daripada sabun cair Nuvo, sehingga menyebabkan aquadest memiliki densitas lebih kecil daripada sabun cair Nuvo. Tabel IV.2.2 Viskositas Air Pada Berbagai Suhu (satuan cp) Temperatur (C) 100 90 80 70 63 60 50 49 40 39 30 25 20 15 10 5
(Fuki, 2009)

Viskositas 0,00282 0,00315 0,00354 0,00404 0,004474 0,00466 0,00547 0,005576 0,00653 0,06673 0,00796 0,00891 0,01 0,0114 0,0131 0,0179

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-8 Hasil Percobaan dan Pembahasan


330 320 310 300

Viskositas
2

290

(dyne.s/cm ) 280
270 260 250 240 39

Suhu(C)

49

63

Grafik IV.2.5 Hubungan Suhu dengan Viskositas Aquadest Berdasarkan grafik diatas didapat viskositas aquadest mengalami penurunan yang disertai dengan kenaikan suhu. Pada suhu 39C viskositas dari aquadest adalah 321,0636 cp, pada suhu 49C viskositas aquadest sebesar 275,9644 cp,dan pada suhu 63C viskositas aquadest sebesar 240,529 cp. Hal ini sesuai dengan teori pada literatur bahwa semakin tinggi suhu, maka viskositas zat cair semakin kecil (Donna, 2009). Apabila dibandingkan dengan tabel IV.2.2, pada suhu 39C viskositas aquadest adalah 0,06673 cp, pada suhu 49C viskositas aquadest adalah 0,005576 cp, dan pada suhu 63C viskositas aquadest adalah 0,004474 cp. Ketidaksesuaian ini disebabkan oleh kurang cermatnya dalam mengamati suhu, mengukur volume, serta diperlukan aquadest untuk melewati batas atas dan bawah.
425 415 405 395 385 375 365 355 39 49 63

menghitung waktu yang

Suhu(C)

Grafik IV.2.6 Hubungan Suhu dengan Viskositas Yoghurt Yakult Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-9 Hasil Percobaan dan Pembahasan Berdasarkan grafik diatas didapat viskositas yoghurt Yakult mengalami penurunan yang disertai dengan kenaikan suhu. Pada suhu 39C viskositas dari yoghurt Yakult adalah 425,2214 cp, pada suhu 49C viskositas yoghurt Yakult sebesar 389,7863 cp,dan pada suhu 63C viskositas yoghurt Yakult sebesar 355,4249 cp. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa semakin tinggi suhu, maka viskositas zat cair semakin rendah.Hal ini disebabkan pemanasan zat cair menyebabkan molekul-molekulnya memperoleh energi. Molekul-molekul cairan bergerak sehingga gaya interaksi antar molekul melemah(Donna,
2009).
70000 65000 60000 55000 50000 45000 40000 35000 30000 25000 39

Suhu(C)

49

63

Grafik IV.2.7 Hubungan Suhu dengan Viskositas Sabun Cair Nuvo Berdasarkan grafik diatas didapat viskositas sabun cair Nuvo mengalami penurunan yang disertai dengan kenaikan suhu. Pada suhu 39C viskositas dari sabun cair Nuvo adalah 66467,6938 cp, pada suhu 49C viskositas sabun cair Nuvo sebesar 35950,5394 cp,dan pada suhu 63C viskositas sabun cair Nuvo sebesar 26672,9808 cp.Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa semakin tinggi suhu, maka viskositas zat cair semakin rendah.Hal ini disebabkan pemanasan zat cair menyebabkan molekul-molekulnya memperoleh energi. Molekul-molekul cairan bergerak sehingga gaya interaksi antar molekul melemah (Donna,
2009).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-10 Hasil Percobaan dan Pembahasan


70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 39 49 63

Sabun Cair Nuvo Yoghurt Yakult Aquadest

Grafik IV.2.8Hubungan antara Suhu dengan Viskositas Aquadest, Yoghurt Yakult, dan Sabun Cair Nuvo pada Suhu 39oC, 49oC, dan 63oC Berdasarkan grafik diatas didapat viskositas aquadest pada suhu 39C adalah 321,0636 cp, pada suhu 49C viskositasnya sebesar 275,9644 cp, dan pada suhu 63C viskositasnya sebesar 240,529.Viskositas yoghurt Yakult pada suhu 39C adalah 425,2214 cp, pada suhu 49C viskositasnya sebesar 389,7863, dan pada suhu 63C viskositasnya sebesar 355,4249 cp. Viskositas sabun cair Nuvo pada suhu 39C adalah 66467,6938 cp, pada suhu 49C viskositasnya sebesar 35950,5394 cp, dan pada suhu 63C viskositasnya sebesar 26672,9808 cp. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa semakin tinggi suhu, maka viskositas zat cair semakin rendah.Hal ini disebabkan pemanasan zat cair menyebabkan molekul-molekulnya memperoleh energi. Molekul-molekul cairan bergerak sehingga gaya interaksi antar molekul melemah (Donna, 2009). Berdasarkan grafik IV.2.8 dapat dilihat bahwa viskositas zat cair tertinggi adalah sabun cair Nuvo kemudian terdapat yoghurt Yakult dan yang terendah adalah aquadest. Sabun cair Nuvo memiliki viskositas tertinggi kerena berat molekul zat terlarutnya paling besar. Sedangkan sabun cair Nuvo berat molekul zat terlarutnya lebih besar daripada aquadest, sehingga menyebabkan aquadest memiliki viskositas lebih kecil daripada yoghurt Yakult. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB V KESIMPULAN
1. Pada suhu 390C larutan aquadest memiliki viskositas sebesar 321,0636 cp, pada suhu 49oC diperoleh viskositas sebesar 275,9644 cp, dan pada suhu 63oC diperoleh viskositas sebesar 240,529 cp. Pada suhu 39oC yoghurt Yakult diperoleh viskositas sebesar 425,2214 cp, pada suhu 49oC diperoleh viskositas sebesar 389,7863 cp, dan pada suhu 63oC diperoleh viskositas sebesar 355,4249 cp. Sedangkan pada suhu 39oC sabun cair Nuvo diperoleh viskositas sebesar 66467,6938 cp, pada suhu 49oC diperoleh viskositas sebesar 35950,5394 cp, dan pada suhu 63oC diperoleh viskositas sebesar 26672,9808 cp. 2. Pada suhu 39oC, 49 oC, dan 63 oC aquadest diperoleh densitas sebesar 0,96 gr.ml-1. Pada suhu 39oC, 49oC, dan 63oC yoghurt Yakult diperoleh densitas sebesar 1,04 gr.ml-1. Sedangkan sabun cair Nuvo pada suhu 39oC, 49oC, dan 63oC diperoleh densitas sebesar 1 gr.ml-1. 3. Densitas zat cair tertinggi adalah yoghurt Yakult kemudian sabun cair Nuvo dan yang terendah adalah aquadest. Yoghurt Yakult memiliki densitas tertinggi kerena molekulnya yang lebih rapat dan tidak mudah menguap. Sedangkan aquadest molekulnya kurang rapat dan lebih cepat menguap daripada sabun cair Nuvo, sehingga menyebabkan aquadest memiliki densitas lebih kecil daripada sabun cair Nuvo. 4. Viskositas zat cair tertinggi adalah sabun cair Nuvo kemudian terdapat yoghurt Yakult dan yang terendah adalah aquadest. Sabun cair Nuvo memiliki viskositas tertinggi kerena berat molekul zat terlarutnya paling besar. Sedangkan sabun cair Nuvo berat molekul zat terlarutnya lebih besar daripada aquadest, sehingga menyebabkan aquadest memiliki viskositas lebih kecil daripada yoghurt Yakult. 5. Faktor-faktor yang memengaruhi percobaan densitas adalah massa dan volume larutan, Sedangkan pada viskositas adalah suhu, tekanan, dan berat molekul zat terlarut

V-1

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (t.thn.). Laporan penentuan viskositas. Dipetik desember 4, 2013, dari http://himka1polban.wordpress.com/laporan/kimia-instrumen/laporan-penentuanviskositas/ Anonim. (t.thn.). Yakult. Dipetik Desember 10, 2013, dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Yakult Anonim. (t.thn.). Yoghurt. Dipetik Desember 10, 2013, dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Yoghurt Aryaditama. (2013, Februari). Viskositas. Dipetik Desember 5, 2013, dari Aryaditama zone: aryaditamarisman.blogspot.com/2013/03/dasar-teori-viskositas.html Devhy. (2013, mei 3). laporan praktikum kimia fisik " PENENTUAN VISKOSITAS " . Dipetik Desember 4, 2013, dari welcome to devhy's blog :):

http://devhyvhy.blogspot.com/2013/05/laporan-praktikum-kimia-fisikpenentuan.html Donna. (t.thn.). viskositas. Dipetik desember 4, 2013, dari

http://dcycheesadonna.wordpress.com/2012/12/15/viskositas/ Hastriawan, H. (t.thn.). viskositas. Dipetik desember 4, 2013, dari Hedi Hastriawan: http://hedihastriawan.wordpress.com/kimia-fisika/viskositas/ Pratama, I. (2011, Maret 31). Teori Viskositas(Fisika dasarII). Dipetik desember 4, 2013, dari IPURR TAMTAM: http://tamtamndud.blogspot.com/2011/03/teori-viskositasfisika-dasar-ii.html Puspita, W. (2011, Februari 28). viskositas. Dipetik Desember 5, 2013 , dari Wenny puspita's blog: http://wennypuspita.wordpress.com/2011/02/28/viskositas/ Sukardjo. (1989). viskositas cairan. Dalam Kimia Fisika (hal. 110). Yogyakarta: PT Bina Aksara. Wahyuni, I. T. (2012, oktober 2). Laporan Kimia Fisika Viskositas Zat Cair . Dipetik desember 4, 2013, dari Welcome ~ ita blog:

http://itatrie.blogspot.com/2012/10/laporan-kimia-fisika-viskositas-zat-cair.html Widya, w. (2013, mei 29). Contoh Makalah Fisika "VISKOSITAS" || Teknik Informatika STT-PLN Jakarta.Dipetik desember 4, 2013, dari wid-site:

http://wiwitwidya27p.blogspot.com/2013/05/contoh-makalah-fisika-viskositasteknik.html

vi

DAFTAR NOTASI
Simbol V P r T Keterangan Volume Tekanan Koefisien Viskositas Jari-jari Suhu Densitas t l m Waktu Panjang Massa Satuan liter dyne/cm2 dyne.s/cm2 cm C gr/ml sekon cm gram

vii

APPENDIKS
Perhitungan Koefisien Viskositas Diketahui: l = 3 cm V= 12,5 ml r= 0,3 cm P= 1013250 dyne/cm2 Aquadest Suhu 39C
r 4 tP 8vl 3,14.( 0,3 )4 .1,495.1013250 8.12,5.3 128,4254dyne.s/cm 2

- Yoghurt yakult Suhu 39C


r 4tP 8vl

- Sabun cair Nuvo Suhu 39C


r 4 tP
8vl

3,14.(0,3) 4 .1,98.1013250 8.12,5.3 170,0886dyne.s / cm 2

3,14.(0,3) 4 .309,3.1013250 8.12,5.3 26569,8906dyne.s / cm 2

Suhu 49C
r 4 tP
8vl

Suhu 49C
r 4 tP 8vl

Suhu 49C
r 4 tP
8vl

3,14.(0,3) 4 .1,285.1013250 8.12,5.3 110,3857dyne.s / cm 2

3,14.(0,3) 4 .1,815.1013250 8.12,5.3 155,9144dyne.s / cm 2

3,14.(0,3) 4 .167,4.1013250 8.12,5.3 14380,2124dyne.s / cm 2

Suhu 63C
r 4 tP
8vl

Suhu 63C
r 4 tP 8vl

Suhu 63C
r 4 tP

3,14.(0,3) 4 .1,12.1013250 8.12,5.3 96,2116dyne.s / cm 2

8vl 4 3,14.(0,3) .1,655.1013250 3,14.(0,3) 4 .124,2.1013250 8.12,5.3 8.12,5.3 10669,1898dyne.s / cm 2 142,1699dyne.s / cm 2

viii

Perhitungan Densitas

Aquadest Suhu 39C

- Yoghurt yakult Suhu 39C


m v 25,5 12,5 12,5 13 12,5 1,04 gr / ml

- Sabun cair Nuvo Suhu 39C


m v 25 12,5 12,5 12,5 12,5 1gr / ml

m v 24,5 12,5 12,5 12 12,5 0,96 gr / ml

Suhu 49C
m v 24,5 12,5 12,5 12 12,5 0,96 gr / ml

Suhu 49C
m v 25,5 12,5 12,5 13 12,5 1,04 gr / ml

Suhu 49C
m v 25 12,5 12,5 12,5 12,5 1gr / ml

Suhu 63C
m v 24,5 12,5 12,5 12 12,5 0,96 gr / ml

Suhu 63C
m v 25,5 12,5 12,5 13 12,5 1,04 gr / ml

Suhu 63C
m v 25 12,5 12,5 12,5 12,5 1gr / ml

ix

Perhitungan Densitas Aquadest dengan Metode Interpolasi Suhu 39C = Suhu 49C = Suhu 63C = = gr/mL = gr/mL = gr/mL

Perhitungan Viskositas Aquadest dengan Metode Interpolasi Suhu 39C = Suhu 49C = Suhu 63C =
= =

= cp

cp

cp