Anda di halaman 1dari 19

Laporan Praktikum Korosi

Kurva Polarisasi

ABSTRAK

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

DAFTAR ISI

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Kemajuan industri di Indonesia sangat pesat,hal ini membuat teknologi semakin maju. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tiap tiap industri pasti punya masalah yang tidak sedikit. Masalah yang hampir selalu ada adalah korosi. Korosi menyerang disemua industri tanpa pandang bulu. Korosi tidak pernah berhenti. Chamberlain (1991) menyatakan bahwa korosi merupakan kerusakan material yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan sekelilingnya. Adapun proses korosi yang terjadi disamping oleh reaksi kimia, juga diakibatkan oleh proses elektrokimia yang melibatkan perpindahan elektron elektron, entah dari reduksi ion logam maupun pengendapan logam dari lingkungan sekeliling. Di sini yang dimaksud dengan lingkungan sekelilingnya dapat berupa lingkungan asam, udara, embun, air laut, air danau, air sungai.
Laju korosi adalah tebal material yang hilang tiap satuan waktu yang disenabkan oleh adanya korosi itu sendiri. Salah satu cara untuk mengukur besarnya laju korosi adalah dengan menggunakan tafel. Dari tafel akan didapatkan sebuah kurva yang disebut dengan kurva polarisasi. Kurva polarisasi mengandung banyak sekali informasi, ditantaranya yaitu menggambarkan daerah aktif dan pasif serta laju korosi itu sendiri. Oleh karena itu percobaan ini dilakukan guna menganalisa perilaku dan fenomena pada logam yang berada di larutan elektrolit yang ditunjukan dari kurva hubungan antara tegangan dan arus polarisasi.

I.2 Tujuan Percobaan Menganalisa fenomena- fenomena pada logam/paduan di dalam lingkungan atau media tertentu secara elektrokimia yang ditunjukan dari kurva hubungan antara tegangan dan arus polarisasi seperti adanya daerah aktif dan pasif.

I.3 Sistematika Penulisan Pada laporan praktikum kali ini memiliki sistematika penulisan sebagai berikut:

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

ABSTRAK BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang dibuatnya penelitian, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan laporan hasil penelitian. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisi teori-teori yang berkaitan dengan penelitian sehingga dapat diperoleh pengertian dan pengetahuan yang menunjang analisa permasalahan dalam penelitian ini. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini berisi rencana penelitian, prosedur pelaksanaan, peralatan, spesimen dan dimensinya. BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi data-data yang diperoleh selama penelitian dan pembahasan mengenai data dan permasalahan yang terjadi pada penelitian BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisi kesimpulan dari penelitian ini, DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Korosi Definisi dari korosi adalah penurunan mutu material akibat reaksi elektrokimia dengan lingkungan sekitar [Trethewey,1991]. Bila ditinjau dari interaksi yang terjadi, korosi adalah proses transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam bertindak sebagai sel yang memberikan elektron (anoda) dan lingkungan bertindak sebagai penerima elektron (katoda). Sedangkan penurunan mutu yang diakibatkan interaksi secara fisik bukan disebut korosi, namun biasa dikenal sebagai erosi dan keausan. Dengan bereaksi ini sebagian logam akan hilang, menjadi suatu senyawa yang lebih stabil. Di alam, logam pada umumnya berupa senyawa, karena itu peristiwa korosi juga dapat dianggap sebagai peristiwa kembalinya logam menuju bentuknya sebagaimana ia terdapat di alam. Dan ini merupakan kebalikan dari proses extractive metallurgy, yang memurnikan logam dari senyawanya. Dalam hal ini korosi mengakibatkan kerugian karena hilangnya sebagian hasil usaha manusia memurnikan logam. II.2 Korosi Elektrokimia Korosi yang terjadi akibat reaksi elektrokimia, melibatkan dua reaksi,yaitu reaksi oksidasi danreaksireduksi.Korosielektrokimiaataukorosibasahdapatterjadijikaterpenuhiempatkompone npenting(Trethewey, 1991) yaitu: Adanyareaksianoda Adanyareaksikatoda Hantaranion melaluielektrolit Hantaranelektronmelaluilogam II.3 Bentuk Bentuk Korosi Korosi sendiri ada beberapa bentuk, diantaranya : 2.3.1 Korosi Merata Korosi merata adalah korosi yang terjadi pada seluruh permukaan metal ketika bereaksi dengan lingkungan sekitar [Black, 1988]. Korosi merata merupakan
Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

korosi yang paling banyak terjadi pada logam dan merupakan jenis korosi yang seharusnya tidak berbahaya selama pengurangan ketebalan metal masih bisa ditolerir. Lapisan pasif pada logam-logam yang sangat reaktif merupakan produk dari korosi merata. Contohnya adalah Titanium memiliki laju korosi yag paling rendah jika dibanding dengan Stainless Steel dan paduan Cobalt Chromium. Tapi adanya serum protein dapat bereaksi dengan Cromium dan Nikel, sehingga menaikkan korosi merata 2 hingga 10 kali lipat [Black, 1988]. 2.1.2 Korosi Galvanik Korosi ini terjadi akibat perbedaan makroskopik pada potensial elektrokimia, biasanya merupakan dampak dari berdekatannya metal yang berbeda

[Jacobs,1998]. Contohnya adalah penggunaan metal yang tidak seharusnya, seperti halnya kawat Stainless Steel yang mengalami kontak metalik dengan femoral stem paduan Cobalt atau Titanium, paduan Cobalt femoral head mengalami kontak metalik dengan paduan Titanium femoral stem, dan baut paduan Titanium mengalami kontak metalik dengan lempengan Stainless Steel [Griffin,1983]. 2.1.3 Korosi Sumuran Korosi Sumuran adalah penembusan yang cepat pada daerah kecil pada tempat yang berlainan. Sumuran ini sangat kecil dan mudah tertutup oleh korosi. Demikian pula serangan yang dilokalisir biasanya terlindung oleh celah yang ada pada bagian logam dibawah endapan antara metal dengan metal yang lain. Sumuran ini dapat dilihat secara langsung dengan mata telanjang tapi pada kasus tertentu sumuran tersebut tidak dapat dilihat, dan berbahaya karena dapat menyebabkan bentuk stress corrosion cracking (SCC). Sumuran terukur ketika sisi anodik menjadi bagian bagian yang kecil dari permukaan dikarenakan pecahnya lapisan pasif. Perbedaan kadar oksigen menyebabkan perbedaan dari potensial elektrokimia antara sumuran dengan logam sekitar. 2.1.4 Korosi Celah Korosi ini terjadi bila ada salah satu sisi yang terlindungi dari lingkungan. Biasanya hal ini ditemukan pada bagian bawah dari kepala mur yang menahan plat implant atau pada lokasi yang serupa sebagai contoh daerah pertemuan antara komponen dari dua benda. Hal penting yang membuat terjadinya korosi ini adalah terjadinya celah, baik celah yang sempit, retakan dalam juga pada pertemuan
Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

antara dua jenis alat seperti pada plat dan kepala mur, atau defect seperti fatique crack. Mekanisme dari korosi celah adalah mula-mula terjadi korosi merata pada permukaan logam (pada celah), lalu oksigen yang ada dicelah habis untuk korosi merata sehingga tidak terbentuk lagi ion hidroxil. Selanjutnya adalah terjadinya peristiwa otokatalitik, yaitu masuknya ion ion negatif dari lingkungan kedalam celah melalui proses difusi sehingga akan terjadi serangan korosi yang lebih hebat lagi. 2.1.5 Korosi Fatique Korosi fatique adalah jenis kegagalan dari logam yang terjadi dari kombinasi dari reaksi elektrokimia dan beban siklik. Ketahanan terhadap korosi fatique sangat penting untuk alat implant atau untuk logam yang digunakan untuk aplikasi gerakan siklis. Secara normal kegagalan mungkin tidak dapat diukur, tetapi keretakan dapat muncul dari dalam logam, kerusakan permukaan, serangan kimiawi dan sebab yang lain. Lingkungan korosif dapat menyebabkan serangan korosi lokal. Serangan ini dipengaruhi oleh tipe larutan, larutan pH, kandungan oksigen dan temperatur. Lingkungan dari cairan tubuh akan menurunkan dari ketahanan fatique dari implant. Striasi dari fatique dapat diketahui pada logam yang patah dengan garis pantai yang menandakan adanya korosi fatique. Keberadaan dari sumuran akan menambah kecepatan terjadinya korosi fatique.[Sivakumar,1994]. 2.1.6 Korosi Fretting Korosi fretting terjadi bila dua permukaan yang berbeda seperti plat tulang dan kepala mur dari alat prosthetic bergesekan satu sama lain secara kontinue dalam lingkungan tubuh. Korosi ini terjadi sebagai hasil dari gerakan yang kecil antara permukaan yang saling kontak dalam lingkungan korosif, bahkan ketika tidak adanya medium korosif korosi ini dapat terjadi. Gesekan ini dapat menyebabkan partikel-partikel logam produk dari korosi ikut kedalam jaringan sekitar, atau dapat menyebabkan inisiasi dari retakan dan kegagalan patahan dari implant tersebut [Syrett,1978]. Korosi fretting pada plat tulang dan paku pada panggul dapat menyebabkan korosi lelah. Yang dapat diketahui dari lubang mur.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

2.4 Polarisasi Ketika suatu logam tidak berada dalam kesetimbangan dengan larutan yang mengandung ion-ionnya, potensial elektrodanya berbeda dengan potensial korosi bebas dan selisih antara keduanya disebut polarisasi. Besar polarisasi dinyatakan dengan satuan overvoltage () yang menyatakan besarnya polarisasi terhadap potensial equilibrium elektroda. Polarisasi aktivasi adalah reaksi elektrokimia yang dikendalikan oleh salah satu tahap siklus reaksi elektrokimia yang terjadi pada antar-muka logam dan elektrolit. Pada tahap ini dibutuhkan energi aktivasi untuk menghadapi energi barrier yang menghambat kelangsungan proses. Polarisasi konsentrasi adalah reaksi elektrokimia yang dikendalikan oleh proses difusi ion dalam elektrolit. Polarisasi ini dapat diilustrasikan dengan proses difusi ion hidrogen ke permukaan logam membentuk gas hidrogen berdasarkan reaksi evolusi hidrogen. Dalam hal ini, konsentrasi ion hidrogen rendah dalam elektrolit, dan laju reduksi ion hidrogen dipermukaan logam dikendalikan oleh difusi hidrogen ke permukaan logam tersebut. Pada polarisasi konsentrasi, sejumlah perubahan dalam sistem yang meningkatkan laju difusi ion dalam elektrolit akan mengurangi pengaruh polarisasi konsentrasi dan peningkatan laju reaksi. Adukan pada elektrolit akan mengurangi gradien konsentrasi ion positif dan meningkatkan laju reaksi. 2.3 Passivasi Passivasi logam adalah rintangan korosi akibat pembentukan produk korosi sebagai lapisan protektif yang menghambat kelangsungan reaksi. Dengan definisi lain bahwa pasifasi logam merupakan peristiwa kehilangan reaktifitas reaksi logam akibat keberadaan kondisi lingkungan tertentu. Sejumlah logam dan paduan teknik menjadi pasif dan bahkan sangat tahan korosi dalam lingkungan oksidator sedang sampai kuat. Contoh logam yang memiliki sifat pasivasi adalah Baja Tahan Karat (Stainless Steel), Nikel dan sejumlah paduan Nikel, Titanium dan paduannya, Aluminium dan paduannya. Ada dua teori berkaitan dengan lapisan pasif, yakni teori lapisan oksida dan teori adsorpsi. Menurut teori lapisan oksida, lapisan pasif adalah lapisan barrier difusi pada produk korosi yang memisahkan logam dengan lingkungan sehingga reaksi terhambat atau berhenti. Menurut teori adsorpsi, lapisan pasif logam pasif yang dilapisi oleh lapisan chemisorbed oksigen. Keberadaan lapisan ini dimaksudkan untuk mengadsorpsi molekul H2O sehingga menghambat pelarutan di anoda. Dua teori tersebut menjabarkan maksud yang hampir sama bahwa lapisan protektif yang terbentuk pada permukaan logam menciptakan kondisi pasif
Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

dan terjadi peningkatan ketahanan korosi logam. Pasivasi logam yang dinyatakan dalam laju korosi diilustrasikan dengan kurva polarisasi pada Gambar 2.1. Kurva polarisasi menunjukkan hubungan antara potensial logam dengan rapat arus. Perilaku pasivasi logam M dinyatakan sebagai rapat arus. Pada titik A, logam dalam kondisi potensial equilibrium dan rapat arus io. Ketika potensial logam menjadi lebih positif, logam berperilaku sebagai logam aktif, rapat arus ic dan laju reaksi meningkat secara eksponensial. Ketika potensial logam lebih positif sampai mencapai Epp dan rapat arus ipassif, laju korosi menurun drastis. Pada potensial Epp, terbentuk lapisan protektif pada permukaan logam dan menurunkan reaktifitas logam. Jika potensial logam makin positif, rapat arus masih tetap ipassif sampai batas daerah pasif. Peningkatan potensial lebih lanjut melampaui daerah pasif menyebabkan logam menjadi aktif kembali dan rapat arus meningkat dalam daerah transpasif.

2.4 Hubungan Pasivasi dan Polarisasi Kurva polarisasi sangat berguna untuk menggambarkan fenomena pasifasi dari logam seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.1.Gambar ini menunjukkan nilai nilai atau besaran yang terdapat dalam kurva polarisasi logam aktif pasif, yaitu :

Ecorr = Potensial korosi bebas pada saat kesetimbangan. Epp = Potensial awal pada saat lapisan pasif akan dan mulai terbentuk (awal pasifasi) Ef = Potensial pada saat lapisan pasif terbentuk sempurna (pasivasi sempurna) Er = Potensial awal pada saat lapisan pasif pecah (breakdown of passivity ) Icrit = Rapat arus yang terjadi pada saat lapisan pasif akan dan mulai terbentuk. Ip = Rapat arus yang terjadi saat lapisan pasif terbentuk sempurna.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

Gambar 2.1 Bagian Bagian Kurva Polarisasi Dari gambar 2.1 dapat dijelaskan bahwa : 1. Pada potensial yang lebih negatif dari Ecorr (daerah aktif), reaksi yang terjadi adalah reaksi reduksi yang laju reaksinya mengikuti tipe garis Tafel. 2. Potensial yang lebih positif dari dari Ecorr, laju reaksi oksidasi yaitu disolusi dari suatu
n+

+e ) juga mengikuti tipe garis tafel.

n-

3. Pada titik Epp(Primary or Peak Pasivation Potensial) sampai dengan Ef potensial menuju keseimbangan antara logam M dan salah satu dari oksidaoksida (MO) diikuti dengan semakin lambatnya laju reaksi.Pada titik ini metal mulai menjadi pasif.Arus yang bersesuaian pada titik ini dinamakan Icrit (Critical Pasivatting Current Density) 4. Pada potensial yang lebih besar dari Ef , terbentuk lapisan oksida pasif yang sangat tipis pada permukaan, sehingga laju reaksi dari disolusi metal menjadi lambat dan cenderung konstan.Arus yang bersesuaian dengan titik adalah Ip sebagai passivation current density.Peristiwa korosi disini cenderung berhenti. Kenaikan potensial berikutnya menyebabkan lapisan cenderung rusak oleh disolusi kimiawi atau serangan dari ion agresif seperti ion klorida.
Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

5. Pada potensial yang lebih positif daripada Er yaitu pada daerah transpasif korosi metal mulai terjadi karena pecahnya lapisan oxida atau hidroksida (OH), sehingga oksign kembali bereaksi dengan logam M.

2.5 Hubungan Laju Korosi dan Polarisasi Perbedaan potensial antara katoda dan anoda sangat penting untuk menggambarkan terjadinya korosi. Tetapi hal ini belum dapat menggambarkan laju korosi sebenarnya. Laju korosi yang terjadi juga dinyatakan tergantung pada kerapatan arus yang timbul (current density). Semakin tinggi kerapatan arus yang timbul maka korosi semakin hebat begitupun juga sebaliknya. Karena fenomena tersebut korosi dapat disimpulkan dengan pemakain kurva tegangan fungsi arus yang selanjutnya disebut kurva polarisasi. Laju korosi dalam kurva polarisasi dinyatakan dengan adanya Ecorr dan Icorr. Ecorr dan Icorr tidak bisa langsung didapatkan dalam kurva polarisasi, tetapi dimodelkan dengan adanya Tafel Equation dan Buttler Volmer Equation. Tafel Equation : I = Io exp ( 2.303 ( E E / b ) (2.1) I = Arus yang terjadi akibat adanya reaksi Io = Exchange Current E = Potensial Electrode. E = Equilibrium potensial b = Beta Tafel Constant. Tafel Equation hanya berlaku untuk satu reaksi. Dalam proses korosi terjadi dua reaksi yaitu reksi katodik dan anodik. Perumusan Tafel Equation dalam reaksi katodik dan anodik dikenal dengan : Butler Volmer equation : I = Icorr(exp(2.303(E-Ecorr)/ba)exp(-2.303(E-Ecorr)/bc)) (22) I = Arus terukur (amps) Icorr = Corrosion current (am E = Electrode potensial Ecorr = Corrosion potential (volts)
o o

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

ba = Anodic Beta Tafel Constant bc = Cathodic Beta tafel constant Pemodelan tersebut didekati dengan adanya Tafel Analysis yaitu ekstrapolasi garis lurus pada daerah katodik dan anodik sehingga bertemu pada daerah katodik dan anodic sehingga bertemu pada satu titik. Titik ini menyatakan Ecorr dan Icorr ( Lihat gambar 2.2 ).

Gambar 2.2. Classic Tafel Anlisis

Perhitungan laju korosi dari Icorr dalam kurva polarisasi dihtung dengan cara ( ASTM vol 03.02.G02 ) CR = K1 Icorr EW / CR = Laju Korosi (mm/yr) untuk icorr (A/Cm ) K1 = 3.27 x 10 mm g/A Cm Icorr = Rapat arus saat Ecorr (exchange current density) = density (g/cm ) EW = Equivalent Weight.
3 -3 2

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

2.6 Perilaku Korosi Aktif Pasif Pasivasi dari suatu logam atau paduan menunjukkan perilaku khusus pada pertambahan polarisasi anodik (ditunjukkan pada Gambar 2.2). Pada potensial karakteristik yang rendah dalam larutan asam teraerasi, laju korosi yang terukur dengan rapat arus anodik yang tinggi akan meningkat sejalan dengan bertambahnya potensial pada daerah aktif. Diatas Epp lapisan pasif menjadi stabil, laju korosi berkurang, di daerah pasif diperkirakan 10 kali lebih rendah daripada didaerah aktif pada Ic [Jones,1992]. Apabila lapisan film berada pada potensial yang lebih tinggi maka lapisan akan pecah/rusak dan laju korosi bertambah di daerah transpasif.
6

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

BAB III METODOLOGI

III.1 Alat dan Bahan Perccobaan III.1.1 Alat-alat Percobaan 1. 2. Bejana polarisasi Komputer dan Software CMS 100

III.1.2 Bahan-bahan Percobaan 1. 2. Stainless Steel, baja Gas O2 dan media larutan

III.2 Prosedur Percobaan 1. 2. Menyiapkan 1 L H2SO4 1M, masukkan 1000 ml larutan tersebut dalam sel polarisasi yang telah dibersihkan. Menempatkan elektroda grafit , jembatan garam dan komponen lain dalam sel penguji kemudian tutup lubang tengah dengan penutup gelas. Isi jembatan garam dengan laruta penguji. Mengurangi kadar O2 dalam larutan dengan memasukkan gas nitrogen minimal setengah jam. Menyiapkan permukaan elektroda kerja dengan pengamplasan 240#, 600# sampai halus Memasukkan elektroda kerja pemegang elektroda dan celupkan elektroda dalam larutan minimal setengah jam , percobaan siap dimulai. Mengatur laju scan potensial ( scan rate ) 0,5 mV/second.

3. 4. 5. 6.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

II.3 Gambar Skema Percobaan

II.4 Gambar Rangkaian Percobaan

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

IV.1 Analisa Data

IV.II Pembahasan

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

BAB V KESIMPULAN

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

DAFTAR PUSTAKA

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember

Laporan Praktikum Korosi


Kurva Polarisasi

LAMPIRAN DOKUMENTASI

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknolgi Sepuluh Nopember