Anda di halaman 1dari 28

BAB II Pembahasan Praktikum

II.1 Pengujian Metalografi Low Carbon II.1.1 Hasil Mounting Keadaan sebelum mounting tidak diketahui karena praktikan mendapatkan bahan low carbon yang sudah melewati tahap mounting. Keadaan setelah mounting menunjukan sampel dalam keadaan baik. Namun, sampel terlalu kecil sehingga sulit dalam proses polishing. Keadaan sampel yang terdapat banyak buble juga cukup mengganggu. Namun, bisa praktikan abaikan karenaberukuran kecil. Prosedur dilakukan sesuai dengan langkah yang sudah dijelaskan pada laporang awal praktikum. Intinya, sebelum sampel diberikan cairan mounting, resin dan hardener dicampur dan diaduk terlebih dahulu dalam wadah yang terpisah. Setelah itu, cairan mounting bisa dimasukan kedalam bejana yang telah ditempel uji sampel. Penampakan hasil mounting terlihat jelas di permukaan. Artinya, seluruh permukaan tampak jelas pada permukaan mounting. Namun, mounting masih meninggalkan sifat material yang kasar dan itu tidak representatif untuk dilakukannya uji material, sehingga sampel uji harus melalui beberapa tahapan selanjutnya sampai bahan material reprsentatif untuk diamati. Cacat yang terdapat pada sampel berupa buble yang cukup banyak. Hal ini dikarenakan proses pengadukan resin dan hardener yang terlalu cepat sehingga ada udara yang terperangkap di campuran bahan mounting. II.1.2 Hasil Amplas Prosedur amplas dilakukuan dengan beberapa kali tahapan. Ukuran mesh yang digunakan bertahap dari yang paling kasar ke yang paling halus. Dengan ukuran mesh 80, 120, 240, 400, 600, 800, dan 1200. Prosedur dilakukan dengan hatihati dan terus mencampurkan air pada permukaan amplas. Hal ini untuk mendinginkan permukaan yang terjadi gesekan dan memberikan umur yang lebih panjang pada kertas amplas.

19

Ukuran Mesh 80

Hasil Grinding Lebih dari satu arah goresan

Analisis Kesalahan dalam proses pengamplasan karena berubah arah.

120

1 arah goresan lebih halus

Berhasil

240

1 arah goresan lebih halus

Berhasil

400

1 arah goresan lebih halus

Berhasil

600

1 arah goresan lebih halus

Berhasil

800

1 arah goresan lebih halus

Berhasil

1200

1 arah goresan lebih halus

Berhasil

II.1.3 Hasil Poles Poles dilakukan untuk mengkilapkan permukaan uji sampel. Proses poles dilakukan dengan dua tahapan. Yaitu, poles kasar dan poles halus. Secara prosedur tidak ada perbedaan antara kedua tahap tersebut. Alat dan metode yang sama. Namun, ada perbedaan secara teknis yaitu poles kasar dilakukan searah dengan putaran polishing. Sedangkan poles halus dilakukan dengan membuat gerakan memutar pada material uji sampel. Hasil Poles Mengkilat Cacat Cacat gores sedikit Analisis Terdapat cacat gores

karena adanya kesalahan pada proses amplas

II.1.4 Etsa

20

Etsa adalah proses terakhir yang betujuan untuk mengetahui struktur mikro pada saat dilakukan uji mikroskop. Teknik etsa yang digunakan adalah secara kimia. Zat etsa yang dipakai adalah nital. Zat Etsa Nital Hasil Etsa Tidak terlihat Analisis Hal ini dikarenakan nital yang untuk

konsentrasi kurang

cukup

pengetsaan yaitu 5 detik Nital Terlihat gores butir bakal-bakal 8 detik tambahan

pengetsaan.

II.1.5 Hasil Pengamatan Struktur Mikro Sampel Individu Hasil gambar analisa dari sampel uji low carbon dengan apa yang ada di literatur

Foto dari asisten Sampel : Low Carbon Steel Etsa : Nital

Foto dari literatur Sampel : Low Carbon Steel Etsa : Perbesaran Foto : Keterangan : Tidak terdapat keterangan.

Perbesaran Foto : 5000x Keterangan : Tidak dapat di ketahui Fase yang ada pada literatur.

21

Low carbon steel terdapat kandungan karbon sebanyak 0,05%-0,3%. Hal itu membuat material bersifat ulet. Dari literatur yang didapatkan modulus young dari low carbon yaitu 210 Gpa.

Mechanical Properties AISI 1018 Low/Mid Carbon Hardness, Brinell Hardness, Knoop (Converted from Brinell hardness) Hardness, Rockwell B (Converted from Brinell hardness) Hardness, Vickers (Converted from Brinell hardness) Tensile Strength, Ultimate Tensile Strength, Yield Elongation at Break (In 50 mm) Reduction of Area Modulus of Elasticity (Typical for steel) Bulk Modulus (Typical for steel) Poissons Ratio (Typical For Steel) Machinability (Based on AISI 1212 steel. as 100% machinability) Shear Modulus (Typical for steel)

Metric 126 145 71 131

Imperial 126 145 71 131

440 MPa 63800 psi 370 MPa 53700 psi 15.0 % 40.0 % 15.0 % 40.0 %

205 GPa 29700 ksi 140 GPa 20300 ksi 0.290 70 % 0.290 70 %

80.0 GPa 11600 ksi

Aplikasi pada material low carbon steel berupa kontruksi jembatan, bangunan dan pembuatan baut.

II.2 Pengujian Metalografi Besi Tuang Kelabu II.2.1 Hasil Mounting Permukaan bidang sampel hasil mounting tidak rata, sebagian besi tuang kelabu permukaan sampel terdapat korosi. Prosedur kerja mounting dari BTK tidak dilakukan langsung oleh praktikan. Melainkan telah di proses oleh asisten lab. Hal ini untuk mempercepat waktu praktikum. Namun pada dasarnya, proses mouning dilakukan dengan cara mencampurkan resin dan hardener pada wadah terpisah sebelum pada akhirnya mencampurkan resin dan hardener pada tabung yang berisi sampel uji.

22

Hasil mounting yang didapatkan dari besi tuang kelabu berupa permukaan sampel dan mounting yang tidak rata. Cacat yang ada dikarenakan terdapat kelebihan tekanan resin/hardener pada suatu bidang tertentu.

II.2.2 Hasil Amplas Prosedur amplas dilakukuan dengan beberapa kali tahapan. Ukuran mesh yang digunakan bertahap dari yang paling kasar ke yang paling halus. Dengan ukuran mesh 80, 120, 240, 400, 600, 800, dan 1200. Prosedur dilakukan dengan hatihati dan terus mencampurkan air pada permukaan amplas. Hal ini untuk mendinginkan permukaan yang terjadi gesekan dan memberikan umur yang lebih panjang pada kertas amplas. Ukuran Mesh 80 Hasil Grinding Terdapat bidang pada ujung-ujung sampel (3 cacat) 120 240 400 600 800 1200 1 bidang besar di tengah. 1 bidang besar di tengah. 1 bidang besar di tengah. 1 bidang besar di tengah. 1 bidang besar di tengah. 1 bidang besar di tengah. Permukaan sampel tidak rata Permukaan sampel tidak rata Permukaan sampel tidak rata Permukaan sampel tidak rata Permukaan sampel tidak rata Permukaan sampel tidak rata Analisis Permukaan sampel tidak rata

II.2.3 Hasil Poles Polishing dilakukan secara dua tahapan. Yaitu, poles kasar dan poles halus. Secara alat dan bahan yang digunakan tidak ada perbedaan antara keduanya termasuk pengadaan cairan magnesium agar dapat menghaluskan sampel. Namun, perbedaan terletak pada teknis yang dipakai saat memoles sampel. Uji kasar dilakukan secara satu arah terhadap putaran mesin poles. Sedangkan uji halus dilakukan dengan memutar permukaan sampel secara kontinu.

23

Hasil Poles Poles Kasar baik Poles halus baik Tidak ada Tidak ada

Cacat

Analisis Material mudah dipoles Material mudah dipoles

II.2.4 Hasil Etsa Proses etsa dilakukan dengan etsa secara kimia dengan campuran zat etsa berupa zat nital. Langkah prosedur kerja pada proses etsa dimulai dengan mencuci permukaan sampel dengan air. Setelah itu, mencelupkannya kedalam larutan alkohol dan zat nital. Lalu, kembali dicelupkan kedalam larutan alkohol. Zat Etsa Nital Hasil Etsa Grafit Terlihat Analisis Kurang di etsa

II.2.5 Hasil Pengamatan Struktur Mikro Sampel Individu Hasil mikrostruktur besi tuang kelabu (BTK) dan perbandingan dengan literatur yang ada.

Sampel : Besi Tuang Kelabu Etsa : Nital Perbesaran : 500x Keterangan : Didapatkan dari asisten

Sampel : Grey cast iron Etsa : Perbesaran : 50 mikron Keterangan : dari dept. washington

BTK memiliki komposisi paduan karbon cukup besar sehingga cenderung bersifat getas. Fase yang terbentuk dari sampel uji berupa fase garphit. Gambar pada

24

literatur juga memperlihatkan perbedaan yang tidak terlalu mencolok. Hasil spesimen terlihat sangat representatif dari beberapa struktur yang ada.

II.3 Pengujian Metalografi Baja AlSi II.3.1 Hasil Mounting Hasil mounting menunjukan penampakan terdapatnya gelembung, permukaan mounting rata namun permukaan sampel belum rata dan masih ada goresan. Prosedur dilakukan dengan mencampurkan resin dan hardener terlebih dahulu. Kesalahan biasanya terjadi pada proses pengadukan bahan resin dan hardener. Sehingga seringkali terbentuk gelembung yang dapat mengganggu proses sampel uji. Permukaan sampel hasil mounting terlihat tidak rata. Kondisi seperti ini diharuskan untuk dilanjutkan pada proses berikutnya. Terdapat cacat yaitu adanya gelembung. Hal ini dikarenakan pencampuran resin dan hardener tidak merata dan pengadukan yang dilakukan terlalu cepat. II.3.2 Hasil Amplas Prosedur amplas dilakukuan dengan beberapa kali tahapan. Ukuran mesh yang digunakan bertahap dari yang paling kasar ke yang paling halus. Dengan ukuran mesh 80, 120, 240, 400, 600, 800, dan 1200. Prosedur dilakukan dengan hatihati dan terus mencampurkan air pada permukaan amplas. Hal ini untuk mendinginkan permukaan yang terjadi gesekan dan memberikan umur yang lebih panjang pada kertas amplas. Ukuran Mesh 80 Hasil Grinding Terdapat bidang Analisis Disebabkan penekanan sampel terhadap kertas amplas yang terlalu besar 120 Cukup memuaskan Berhasil menghilangkan hasil gores dari grinding sebelumnya 240 Cukup memuaskan Berhasil menghilangkan hasil gores dari grinding sebelumnya 400 Cukup memuaskan Berhasil menghilangkan

25

hasil gores dari grinding sebelumnya 600 Cukup memuaskan Berhasil menghilangkan hasil gores dari grinding sebelumnya 800 Terdapat bidang di ujung-ujung sampel Seharusnya penekanan dikurangi pada saat grinding dengan ukuran mesh yang cukup tinggi. 1200 Terdapat bidang di ujung-ujung sampel Seharusnya penekanan juga dukurangi pada saat grinding dengan ukuran mesh yang cukup tinggi.

II.3.3 Hasil Poles Polishing dilakukan secara dua tahapan. Yaitu, poles kasar dan poles halus. Secara alat dan bahan yang digunakan tidak ada perbedaan antara keduanya termasuk pengadaan cairan magnesium agar dapat menghaluskan sampel. Namun, perbedaan terletak pada teknis yang dipakai saat memoles sampel. Uji kasar dilakukan secara satu arah terhadap putaran mesin poles. Sedangkan uji halus dilakukan dengan memutar permukaan sampel secara kontinu. Hasil Poles Poles Kasar Cacat Tidak ada Analisis Berhasil menghilangkan goresan hasil grinding Poles halus Tidak ada Masih terdapat sedikit goresan yang sukar dihilangkan

II.3.4 Hasil Etsa Proses etsa dilakukan dengan etsa secara kimia dengan campuran zat etsa berupa zat nital. Langkah prosedur kerja pada proses etsa dimulai dengan mencuci permukaan sampel dengan air. Setelah itu, mencelupkannya kedalam larutan alkohol dan zat nital. Lalu, kembali dicelupkan kedalam larutan alkohol.

26

Zat Etsa HF + nital

Hasil Etsa Permukaan sampel menjadi buram

Analisis Menyerang atau mengikis batas butir sehingga terlihat jelas fasa spesifiknya

II.3.5 Hasil Pengamatan Struktur Mikro Sampel Individu Perbandingan hasil foto mikrostruktur sampel uji dengan hasil foto mikrostruktur yang ada di literatur.

tidak ada mikrostruktur AlSi dalam literatur Sampel : AlSi Etsa : Nital Perbesaran : 500x Keterangan : Foto yang didapat dari asisten Komposisi material terdiri campuran Alumunium (Al) dan Silika (Si). Terdapat dua fase spesifik yang terlihat, yaitu fasa alumunium dan silka yang saling terpisah. Alumunium berwarna kuning terang sedangkan Si berwarna kuning gelap.

II.4 Pengujian Metalografi Steel Forging II.4.1 Hasil Mounting Hasil mounting pada sampel Steel forging berupa permukaan yang rata, tidak terdapat korosi pada permukaan sampel.

27

Prosedur dilakukan dengan mencampurkan resin dan hardener terlebih dahulu. Kesalahan biasanya terjadi pada proses pengadukan bahan resin dan hardener. Sehingga seringkali terbentuk gelembung yang dapat mengganggu proses sampel uji.

Sampel uji terlihat sangat baik. Tidak ada cacat yang berarti pada sampel uji. Tidak ada cacat sampel

II.4.2 Hasil Amplas Prosedur amplas dilakukuan dengan beberapa kali tahapan. Ukuran mesh yang digunakan bertahap dari yang paling kasar ke yang paling halus. Dengan ukuran mesh 80, 120, 240, 400, 600, 800, dan 1200. Prosedur dilakukan dengan hatihati dan terus mencampurkan air pada permukaan amplas. Hal ini untuk mendinginkan permukaan yang terjadi gesekan dan memberikan umur yang lebih panjang pada kertas amplas. Ukuran Mesh 80 Hasil Grinding Haasil grinding bagus, saat pertama kali amplas langsung mendapatkan hasil satu arah 120 Terdapat dua bidang Analisis Permukaan sampel hasil mounting rata, membuat sampel uji mudah untuk diamplas Karena posisi pengamplasan tidak sejajar bidang 240 Terdapat dua bidang Karena Posisi pengamplasan tidak sejajar bidang 400 Terdapat 3 bidang Karena posisi pengamplasan tidak sejajar bidang 600 Terdapat 2 bidang Karena posisi pengamplasan tidak sejajar bidang dan telah sulit untuk diubah karena sudah terlanjur terdeformasi

28

800

Terdapat dua bidang

Karena posisi pengamplasan tidak sejajar bidang dan telah sulit untuk diubah karena sudah terlanjur terdeformasi

1200

Terdapat satu bidang tetapi terdapat bagian yang tidak searah (bagian pinggir)

Karena posisi pengamplasan tidak sejajar bidang dan telah sulit untuk diubah karena sudah terlanjur terdeformasi

II.4.3 Hasil Poles Polishing dilakukan secara dua tahapan. Yaitu, poles kasar dan poles halus. Secara alat dan bahan yang digunakan tidak ada perbedaan antara keduanya termasuk pengadaan cairan magnesium agar dapat menghaluskan sampel.

Namun, perbedaan terletak pada teknis yang dipakai saat memoles sampel. Uji kasar dilakukan secara satu arah terhadap putaran mesin poles. Sedangkan uji halus dilakukan dengan memutar permukaan sampel secara kontinu. Hasil Poles Poles kasar Cacat Bagian pinggir tak dapat terpoles kaena permukaan tidak rata Poles halus Bagian pinggir tak dapat terpoles karena permukaan tidak rata Permukaan tidak rata Analisis Permukaan tidak rata

II.4.4 Hasil Etsa Proses etsa dilakukan dengan etsa secara kimia dengan campuran zat etsa berupa zat nital. Langkah prosedur kerja pada proses etsa dimulai dengan mencuci permukaan sampel dengan air. Setelah itu, mencelupkannya kedalam larutan alkohol dan zat nital. Lalu, kembali dicelupkan kedalam larutan alkohol.

29

Zat Etsa Nital

Hasil etsa Terdapat garis goresan hasil etsa tidak terlihat

Analisis Kurang etsa

II.4.5 Hasil Pengamatan Struktur Mikro Sampel Individu Hasil foto mikrostruktur analsisi uji sampel dengan literatur yang ada bahan material steel forging.

tidak ada mikrostruktur steel forging dalam literatur Sampel : Steel Forging Etsa : Nital Perbesaran foto : 500x Keterangan : Foto dari asisten Hasil foto tidak terlihat jelas sehingga sulit sekali menyimpulkan fasa apa yang terbentuk dari material ini. II.5 Pengujian Metalografi Sampel Uji kelompok Gear grade Ori II.5.1 Hasil Mounting Bidang sampel tidak rata. Di beberapa bagian mounting terlihat gelembunggelembung yang berukuran kecil. Prosedur dilakukan dengan mencampurkan resin dan hardener terlebih dahulu. Kesalahan biasanya terjadi pada proses pengadukan bahan resin dan hardener.

30

Sehingga seringkali terbentuk gelembung yang dapat mengganggu proses sampel uji. Permukaan sampel uji hasil mounting tidak rata. Cacat yang didapatkan berupa gelembung-gelembung udara yangg

terperangkap dalam campuran resin. II.5.2 Hasil Amplas Prosedur amplas dilakukuan dengan beberapa kali tahapan. Ukuran mesh yang digunakan bertahap dari yang paling kasar ke yang paling halus. Dengan ukuran mesh 80, 120, 240, 400, 600, 800, dan 1200. Prosedur dilakukan dengan hatihati dan terus mencampurkan air pada permukaan amplas. Hal ini untuk mendinginkan permukaan yang terjadi gesekan dan memberikan umur yang lebih panjang pada kertas amplas. Ukuran Mesh 80 Hasil Grinding Terdapat 2 cacat bidang Analisis Disebabkan oleh distribusi tekanan yang tidak merata 120 Terdapat 2 cacat bidang Masih disebabkan oleh distribusi penekanan yang tidak merata 240 Terdapat 6 cacat bidang Disebabkan oleh penekanan yang lebih kuat pada bidang 400 Terdapat 4 cacat bidang Disebabkan oleh penekanan yang efektif sehingga ada beberapa bidang menjadi satu bidang yang sama 600 Terdapat 12 cacat bidang Disebabkan oleh penekanan yang sangat kuat, sehingga menimbulkan penekanan yang tidak merata. 800 Terdapat satu bidang Disebabkan oleh

31

yang besar, tetapi masih terdapat bidang-bidang lain yang kecil di ujungujung sampel 1200 Terdapat satu bidang semakin besar dan alur bidang yang makin merata

distribusi tekanan yang mulai merata pada bidang

Disebabkan oleh distribusi penekanan yang semakin merata pada satu bidang.

II.5.3 Hasil Poles Polishing dilakukan secara dua tahapan. Yaitu, poles kasar dan poles halus. Secara alat dan bahan yang digunakan tidak ada perbedaan antara keduanya termasuk pengadaan cairan magnesium agar dapat menghaluskan sampel.

Namun, perbedaan terletak pada teknis yang dipakai saat memoles sampel. Uji kasar dilakukan secara satu arah terhadap putaran mesin poles. Sedangkan uji halus dilakukan dengan memutar permukaan sampel secara kontinu. Hasil Poles Kasar Cacat Terdapat goresan dalam jumlah banyak Analisis Goresan terjadi karena cacat bidang pada proses grinding/pengamplasan Halus Masih terdapat goresan tetapi jumlahnya sedikit Goresan terjadi karena cacat pada bidang pada proses grinding/pengamplasan

II.5.4 Hasil Etsa Proses etsa dilakukan dengan etsa secara kimia dengan campuran zat etsa berupa zat nital. Langkah prosedur kerja pada proses etsa dimulai dengan mencuci permukaan sampel dengan air. Setelah itu, mencelupkannya kedalam larutan alkohol dan zat nital. Lalu, kembali dicelupkan kedalam larutan alkohol. Zat Etsa Nital Hasil Etsa Hanya terlihat rongga kecil dan beberapa Analisis Goresan terjad karena kesalahan proses

32

goresan.

grinding. Minimnya hasil dikarenakan proses etsa yang terlalu sebentar

II.5.5 Hasil Pengamatan Struktur Mikro Sampel Kelompok Foto hasil struktur gear kelompok 1 dengan kelompok lain.

Foto gear Ori kelompok 1

Foto Gear Kw 1 Kelompok 2

Foto gear kw 2 kelompok 3 Komposisi dari ketiga material relatif sama. Perbedaan mikrostruktur yang disebabkan dikarenakan perbedaan proses yang ditempuh. Pada gear original terlihat struktur yang lebih padat yang berdampak pada mechanical properties material tersebut. Material gear ori kelompok satu menjadi lebih tough dibandingkan gear yang lain. Fasa yang terbentuk kemungkinan fasa martensit. Karena pada fasa ini material mengalami kekerasan yang maksimal.

II.6 Hasil Pengamatan Struktur Mikro HST II.6.1 Data Percobaan Material : Medium Steel Carbon JIS S45C

33

Temperatur pemanasan Media quench

: 895oC : Air

II.6.2 Penjejakan Beban yang digunakan Diameter Bola Inden : 187,5 Kg : 3,175 mm BHN 471,613 534,670 457,734 488

Penjejakan I II III Rata-rata

Diameter Indentasi Rata-rata (mm) 0,7070 0,6645 0,7175 0,6963

II.6.3 Pembahasan Hasil Struktur Komposisi Medium Low Carbon JIS S45C Si 0,15-0,35 Mn 0,6-0,9 P 0,03 max S 0,035 max

C (karbon) 0,42-0,48

Mechanical Properties : Density Modulus Young Tensile Strength Yield Strength Poissons Ratio : 7700 8030 Kg/m3 : 190 220 Gpa : 569 (kondisi standar) 686 (quenching, tempering) : 343 (kondisi standar) 490 (quenching, tempering) : 0,27 0,30

34

Perbandingan data dengan Kelompok lain 1. Data Quench Kelompok 1 Hasil Pengamatan Struktur Mikro Sampel HST o Data Percobaan Material Temperature Pemanasan Media Quench : Medium Carbon Steel (JIS S45C) : 895C : Air

Penjejakan Beban yang digunakan (kg) : 187.5 Diameter bola inden (mm) : 3.175 mm Penjejakan Diameter Indentasi rata-rata (mm) I II III 0.703 (x) ; 0.711(y) 0.654 (x) ; 0.675 (y) 0.721 (x) ; 0.714 (y) 471.613 534.670 457.734 BHN

Penghitungan BHN berdasarkan rumus BHN yang dilampirkan di borang pengujian HST. 2. Data Quench Kelompok 2

35

Hasil Pengamatan Struktur Mikro Sampel HST o Data Percobaan Material Temperature Pemanasan Media Quench : Medium Carbon Steel (JIS S45C) : 900C : Oli

Penjejakan Beban yang digunakan (kg) : 187.5 Diameter bola inden (mm) : 3.175 mm Penjejakan Diameter Indentasi rata-rata (mm) I II III 0.827 (x) ; 0.726 (y) 0.792 (x) ; 0.799 (y) 0.769 (x) ; 0.792 (y) 389.93 371.24 385.88 BHN

Penghitungan BHN berdasarkan rumus BHN yang dilampirkan di borang pengujian HST.

3. Data Quench Kelompok 3 Hasil Pengamatan Struktur Mikro Sampel HST o Data Percobaan Material Temperature Pemanasan Media Quench : Medium Carbon Steel (JIS S45C) : 900C : Udara

Penjejakan Beban yang digunakan (kg) : 187.5 Diameter bola inden (mm) : 3.175 mm Penjejakan Diameter Indentasi rata-rata (mm) I II 1.087 (x) ; 1.09 (y) 1.03 (x) ; 1.14 (y) 195.385 196.688 BHN

36

III

1.159 (x) ; 1.154 (y)

172.36

Penghitungan BHN berdasarkan rumus BHN yang dilampirkan di borang pengujian HST.

Hasil Perbandingan Data Kelompok Media quench sangat berpengaruh dalam kekerasan suatu material yang terlihat pada nilai Brinell Hardness (BHN). Media quench ini sangat bergantung pada kemampuan maedia untuk mendinginkan material yang dipanaskan dengan cepat. Semakin cepat pendinginan, material akan semakin keras. Disimpulkan dari perbandingan data diatas bahwa media quench air lebih cepat mendinginkan material, sehingga medium steel carbon JIS s45c menjadi lebih keras dibandingkan penanganan yang terjadi pada media quench oli dan udara.

Perbandingan Literatur Dari literatur yang didapatkan nilai BHN medium low carbon JIS s45c adalah 160220. Tergantung dari komposisi kimia material tersebut. Dari data yang dihasilkan ketiga kelompok hasil proses tempering dengan metode HST terbukti meningkatkan nilai kekerasan pada material tersebut. Yaitu, BHN 488 (media quench air), BHN 380 (media quench air), dan 180 (media quench udara). Sebenarnya metode quenching dengan media udara lebih tepat dikatakan dengan metode annealing. Karena pada prinsipnya quenching dilakukan dengan tempo waktu yang singkat.

Aplikasi Material Medium steel carbon JIS s45c sering digunakan untuk kepala pukulan, milling cutter, drill bit, screw tap, dan beberapa pekakas mesin.

37

II.7 Percobaan Jominy II.7.1 Data Percobaan Jenis Baja Temperatur Austensasi Jenis Indentor Diamter Indentor Beban Indentasi Waktu Indentasi : Medium Steel carbon JIS s45c : 903oC : Intan : 3,175 mm : 187,5 Kg : 10 detik

II.7.2 Tabel Hasil Penjejakan dan Nilai BHN Titik Pengujian ke1 2 3 4 5 6 3,5 23,5 31 39,5 47,5 56,5 Jarak dari sumber (mm) 0,737 0,979 1,024 1,052 1,064 1,109 0,740 0,983 1,016 1,062 1,069 1,103 0,7385 0,981 1,020 1,057 1,067 1,106 431,731 242 223,380 207,580 203,594 189,053 D1 Diameter penjejakan D2 Drata-rata BHN

38

7 8 9 10

65 72,5 81,5 90

1,123 1,151 1,153 1,168

1,127 1,143 1,153 1,171

1,125 1,147 1,153 1,170

182,509 175,334 173,448 168,261

II.7.3 Grafik Hardenability

Grafik Hardenabillity
500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 3.5 23.5 31 39.5 47.5 56.5 65 72.5 81.5 90

Grafik Hardenabillity

II.7.4 Pembahasan Hasil Berbedanya kekerasan yang terjadi pada tiap penjejakan disebabkan oleh proses quenching media air yang disemprotkan pada bagian bawah spesimen. Hal ini menyebabkan pendinginan yang tidak merata dan tidak terdistribusi menyeluruh di seluruh bagian spesimen. Bagian bawah yang langsung bersentuhan dengan media quench mengalami pendinginan yang lebih cepat sehingga menyebabkan bagian bawah spesimen lebih keras dibandingkan dengan bagian yang lain. Semakin ke atas bagian spesimen semakin lunak karena waktu pendinginan yang berbeda. Kekerasan juga dipengaruhi oleh fasa martensit yang terbentuk pada waktu pendinginan yang singkat. Sedangkan, waktu pendinginan yang relatif lama akan menimbulkan material yang telah dipanaskan kembali ke fasa austenit.

39

Jominy Test

Makna nilai kekerasan suatu material berbeda untuk kelompok bidang ilmu yang berbeda. Bagi insinyur metalurgi nilai kekerasan adalah ketahanan material terhadap penetrasi sementara untuk para insinyur disain nilai tersebut adalah ukuran dari tegangan alir, untuk insinyur lubrikasi kekerasan berarti ketahanan terhadap mekanisme keausan, untuk para insinyur mineralogi nilai itu adalah ketahanan terhadap goresan, dan untuk para mekanik work-shop lebih bermakna kepada ketahanan material terhadap pemotongan dari alat potong. Begitu banyak konsep kekerasan material yang dipahami oleh kelompok ilmu, walaupun demikian konsep-konsep tersebut dapat dihubungkan pada satu mekanisme yaitu tegangan alir plastis dari material yang diuji. Pada percobaan Jominy, kecepatan pendinginan tidak merata. Hal tersebut disebabkan karena hanya satu bagian/ujung (bagian bawah) dari benda uji diquench dengan semprotan air sehingga kecepatan pendinginan yang terjadi menurun sepanjang benda uji, dimulai dari ujung yang disemprot air. Pada percobaan jominy pelaksanaannya menggunakan dua metode, dimana cara pendinginan untuk ujung yang bawah dengan cara menyemprotkan air langsung yaitu quench

40

sedangkan untuk ujung yang lain dilakukan dengan cara normalizing. Pendinginan di ujung yang disemprot dengan air pendinginannya lebih cepat daripada ujung yang satunya karena bantuan udara. Jadi laju pendinginan terbesar terjadi di ujung benda uji yang disemprot air. Logam yang didinginkan dengan kecepatan yang berbeda-beda misalnya dengan media pendingin yang berbeda, air, udara atau minyak akan mengalami perubahan struktur mikro yang berbeda. Setiap struktur mikro misalnya fasa martensit, bainit, ferit dan perlit merupakan hasil transformasi fasa dari fasa austenit. Masing-masing fasa tersebut terjadi dengan kondisi pendinginan yang berbeda-beda dimana untuk setiap paduan bahan dapat dilihat pada diagram Continous Cooling Transformation (CCT) dan Time Temperature Transformation (TTT) diagram. Masing-masing suatu fasa mempunyai nilai kekerasan yang berbeda. Dengan pengujian Jominy maka dapat diketahui laju pendinginan yang berbeda akan menghasilkan kekerasan bahan yang berbeda. Pada percobaan Jominy ini , mampu keras dari suatu baja yang sama akan bervariasi karena dipengaruhi oleh komposisinya, dimana komposisi tersebut merupakan komposisi kimia dan terdapat ukuran-ukuran dari setiap benda uji atau spesimen. Spesimen yang biasa digunakan dalam percobaan Jominy test ini adalah baja karbon. Pada baja,pendinginan yang cepat dari fasa austenit menghasilkan fasa martensit yang tinggi kekerasannya. Sedangkan pendinginan yang lambat kan

menghasilkan fasa austenit yang cenderung yang kekerasannya rendah. Kesesuaian grafik jominy hasil percobaan dengan literatur

Grafik Hardenabillity
500 400 300 200 100 0 3.5 23.5 31 39.5 47.5 56.5 65 72.5 81.5 90 Grafik Hardenabillity

41

Secara keseluruhan grafik terlihat sesuai. Semakin jauh dari dari daerah quench semakin lunak material spesimen. Hanya saja pada percobaan terdapat anjlokan yang cukup tajam dikarenakan ada bagian yang dilewat karena adanya korosif.

42

BAB III Kesimpulan


Kesimpulan dari ketiga percobaan tersebut : Percobaan Metalografi Proses sebelum pengujian mikroskop berupa mounting, grinding, polishing dan etsing sangat mempengaruhi penampakan struktur yang dapat dilihat. Cacat pada spesimen sangat mempengaruhi proses pengamatan. Cacat yang terjadi berupa cacat bidang maupun goresan. Percobaan HST Media quench sangat berpengaruh pada sifat kemampukerasan spesimen. Perbedaan media quench mempengaruhi waktu pendinginan. Semakin cepat pendinginan maka semakin keras pula material yang ada. Proses pendinginan yang cepat karena terbentuknya fasa martensit.

Percobaan Jominy Perbedaan permukaan yang terkena media pendingin quench mempengaruhi kekerasan setiap bagian dari spesimen. Bagian spesimen yang bersentuhan langsung dengan media quench memiliki kekerasan paling tinggi. Terlihat dari grafik hardenability yang ditandai dengan nilai BHN. Bagian yang terkena media quench lebih keras karena waktu pendinginan yang lebih cepat pula. Semakin cepat waktu pendinginan akan menambah nilai hardness dari material.

43

BAB IV Tugas Tambahan

44

45

Daftar Pustaka
Modul Praktikum Metalografi. 2013. Depok : Laboratorium Metalografi dan HST Departemen Metalurgi dan Material FTUI. Callister, William D. Material science and Engineering.2007.United State of America: John Wiley&Sons,inc http://gregoriusagung.wordpress.com/2009/11/22/uji-kekerasan-dan-jominytest/ http://depts.washington.edu/matseed/ces_guide/images/GreyCast.jpg http://enican.com/LightSteelMicrostructure.jpg http://beyond-steel.blogspot.com/2010/01/jis-s45c-for-industry.html http://hadibudi.blogspot.com/2013/05/laporan-hardenability-jomini-test.html http://www.astm.org/Standards/steel-standards.html

46