Anda di halaman 1dari 35

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

Percobaan Kelompok Nama 1. 2. 3. 4. 5.

: KECEPATAN REAKSI : VI A

: Aristania Nila Wagiswari Revani Nuriawati M. Fikri Dzulkarnain Rimosan Rio Sanjaya Nur Annisa Oktaviana

NRP. NRP. NRP. NRP. NRP.

2313 030 005 2313 030 019 2313 030 037 2313 030 065 2313 030 089

Tanggal Percobaan Tanggal Penyerahan Dosen Pembimbing Asisten Laboratorium

: 18 November 2013 : 25 November 2013 : Nurlaili Humaidah, ST. MT. : Dhaniar Rulandri W.

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2013

ABSTRAK
Tujuan melakukan percobaan kecepatan reaksi ini adalah untuk mengetahui konstanta kecepatan reaksi dari penyabunan etil asetat dan NaOH. Selain itu, tujuan lainnya adalah untuk menentukan nilai orde reaksi dari penyabunan etil asetat dan NaOH. Prosedur percobaan kecepatan reaksi yaitu pertama membuat 250 ml larutan 0,02 N etil asetat, 500 ml larutan 0,02 N Na OH, dan 250 ml larutan 0,02 N HCl. Memasukkan 25 ml larutan 0,02 N NaOH kedalam erlenmeyer. Menambahkan 25 ml larutan 0,02 N etil asetat dan mengocoknya selama 3,5 menit. Menghentikan proses pengocokan setelah 3,5 menit kemudian menambahkan 25 ml larutan 0,02 N HCl dan mengocoknya kembali selama 3,5 menit. Menambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes kedalam 10 ml campuran. Mentitrasi campuran tersebut dengan larutan 0,02 N NaOH. Mengulangi prosedur pertama sampai enam sebanyak 3 kali dengan variabel waktu yang berbeda yaitu selama 6,5 menit, 9,5 menit, 12,5 menit, 15,5 menit, 18,5 menit. Dari hasil percobaan yang telah dilakukan didapatkan bahwa lama proses pengocokan membuat volume titran yang dibutuhkan dalam titrasi semakin banyak. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa semakin lama proses pengocokan yang dilakukan pada larutan maka semakin sedikit volume titran dalam titrasi untuk merubah warna larutan dari tidak bewarna menjadi merah muda. Kondisi paling optimum adalah pada t =18,5 menit dengan volume tiran sebesar 4,4 ml. Sedangkan,kondisi paling minimum adalah pada t = 3,5 menit dengan volume titran sebesar 2,8 ml. Namun, dalam percobaan kali ini terdapat beberapa kesalahan yaitu nilai dari normalitas etil asetat yang sangat jauh dari variabel yang telah ditentukan. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pengukuran volume etil asetat yang kurang teliti, dan ketidak akuratan dalam pehitungan.

DAFTAR ISI
ABSTRAK ......... i DAFTAR ISI .... ii DAFTAR GAMBAR ........ iii DAFTAR TABEL ..... iv DAFTAR GRAFIK ....... v BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang ........... I-1 I.2 Rumusan Masalah .......... I-1 I.3 Tujuan Percobaan .......... I-2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Dasar Teori ........... II-1 BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1 Variabel Percobaan ..... III-1 III.2 Alat yang Digunakan ....... III-1 III.3 Bahan yang Digunakan ............ III-1 III.4 Prosedur Percobaan ..... III-2 III.5 Diagram Alir Percobaan .......... III-3 III.6 Gambar Alat Percobaan ...... III-4 BAB IV HASIL PERCOBAAN dan PEMBAHASAN IV.1 Hasil Percobaan ........... IV-1 IV.2 Pembahasan ............ IV-2 BAB V KESIMPULAN ........ V-1 DAFTAR PUSTAKA ............ vi DAFTAR NOTASI ....... vii APPENDIKS ......... viii LAMPIRAN Laporan Sementara Fotokopi Literatur Lembar Revisi

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1 Gambar II.2 Gambar II.3 Gambar II.4 Gambar III.6 Pengaruh Luas Permukaan Terhadap Laju Reaksi .... II-5 Pengaruh Suhu Terhadap Kecepatan Reaksi ... II-6 Katalis Heterogen .... II-7 Pengaruh Konsentrasi Terhadap Kecepatan Reaksi .. II-7 ... III-4

iii

DAFTAR TABEL
Tabel II.1 Contoh Data Hasil Pengukuran Kecepatan Reaksi Hipotetik .....II-9

Tabel IV.1.1 Hasil Percobaan ... IV-1

iv

DAFTAR GRAFIK
Grafik II.1 Grafik II.2 Besarnya Energi Aktifasi dalam Reaksi Eksoterm dan Endoterm Perubahan Konsentrasi Zat A dan Meningkatnya Konsentrasi dalam Selang Waktu II-2 Grafik II.3 Grafik II.4 Grafik II.5 Grafik II.6 Kecepatan Menurut Guldenberg dan Waage . II-3 Reaksi Orde 0 ... II-10 Reaksi Orde 1 ... II-10 Reaksi Orde 2 ... II-11
? ? ?

II-2

Grafik IV.2.1 Hubungan antara

Terhadap Waktu ................................................... IV-2 IV-3

Grafik IV.2.2 Pengaruh Waktu Pengocokan dan Volume Titran .......... Grafik IV.2.3 Pengaruh Waktu Pengocokan terhadap Jumlah Etil Asetat yang

Bereaksi ... IV-5

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Kecepatan reaksi atau laju reaksi adalah banyaknya mol/liter suatu zat yang dapat berubah menjadi zat lain dalam setiap satuan waktu. Reaksi kimia memiliki bermacammacam jenis, salah satunya adalah penyabunan atau saponifikasi. Penyabunan adalah reaksi pembentukan sabun, yang biasanya dengan bahan awal lemak dan basa. Nama lain reaksi penyabunan adalah reaksi penyabunan. Dalam pengertian teknis, reaksi penyabunan melibatkan basa (soda kaustik NaOH) yang menghidrolisis trigliserida. Trigliserida dapat berupa ester asam lemak membentuk garam karboksilat. Proses penyabunan bisa terjadi pada etil asetat. Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3COOC2H5. Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini sering disingkat EtOAc, dengan Et mewakili gugus etil dan OAc mewakili asetat. Etil asetat diproduksi dalam skala besar sebagai pelarut. Idealnya dalam melakukan percobaan penyabunan etil asetat dan NaOH, kita mengharapkan hasil yang maksimal yaitu kami dapat menentukan konstanta kecepatan reaksi serta orde reaksinya dengan mudah dan tepat. Namun, dalam kondisi sesungguhnya pasti terdapat faktor yang menghambat dalam berlangsungnya percobaan sehingga perlu waktu lebih untuk menghasilkan data yang akurat. Oleh karena itu, kami tertarik untuk melakukan percobaan penyabunan etil asetat dalam rangka mengetahui faktor apa saja yang menghambat berlangsungnya percobaan sehingga kami bisa menemukan solusi agar dapat memperoleh data yang akurat dengan mudah dan tepat. I.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari percobaan ini yaitu : a. Bagaimana cara menghitung konstanta kecepatan reaksi dari penyabunan etil asetat dan NaOH? b. Berapakah nilai orde reaksi dari penyabunan etil asetat dan NaOH?

I-1

I-2 BAB I Pendahuluan I.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan yang dilakukan yaitu : a. Menghitung konstanta kecepatan reaksi dari penyabunan etil asetat dan NaOH NaOH. b. Menentukan nilai orde reaksi dari penyabunan etil asetat dan NaOH.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Dasar Teori Pada setiap pergantian tahun dan hari raya Idul Fitri atau Lebaran banyak pesta kembang api dan petasan. Kembang api dan petasan dibuat oleh manusia dari bahan yang mudah terbakar dan mudah meledak. Peristiwa terbakarnya kembang api dan meledaknya petasan merupakan contoh peristiwa kimia yang berlangsung secara cepat. Juga banyak sekali peristiwa perkaratan besi yang terjadi. Peristiwa perkaratan besi merupakan contoh peristiwa kimia yang berlangsung lambat. Reaksi kimia ada yang berlangsung secara cepat dan ada yang lambat (Lebong, 2013). Reaksi-reaksi yang berjalan sangat cepat dapat dipelajari secara kinetik, seperti reaksi ion atau pembakaran. Akan tetapi reaksi yang sangat lambat seperti perkaratan tidak dapat dipelajari secara kinematik, (Sukardjo,1989). Informasi tentang kecepatan berlangsungnya suatu reaksi amat penting diketahui, misalnya bagi industri dapat memprediksi jumlah produk, lama waktu produksi dan mungkin sampai dengan jumlah karyawan yang dibutuhkan dalam sebuah pabrik
(Zulfikar, 2010).

Dalam ilmu Fisika (kinematika), kecepatan yaitu perubahan jarak persatuan waktu, v =
X t

. Dalam ilmu Kimia, kecepatan reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi

molar pereaksi atau hasil reaksi per satuan waktu. Jika Anda melakukan reaksi, akan tampak bahwa konsentrasi molar pereaksi berkurang, sedangkan konsentrasi molar hasil reaksi bertambah sampai semua pereaksi habis . Kinetika kimia membahas tentang laju reaksi dan mekanisme terjadinya reaksi, dipelajari perubahan laju yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi terjadinya pereaksi, hasil reaksi dan katalis. keterangan yang penting dapat pula diperoleh dari studi tentang pengaruh suhu, tekanan, pelarut, konsentrasi atau komposisi terhadap laju reaksi (Khoiriah & dkk, 2013). Reaksi berlangsung karena adanya partikel-partikel, atom atau molekul yang bertumbukan dan tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi, hanya tumbukan dengan energi yang cukup yang dapat menghasilkan reaksi. Energi tersebut dikenal dengan Energi aktifasi dan didefinisikan sebagai energi kinetik minimum yang harus dimiliki II-1

II-2 BAB II Tinjauan Pustaka atau diberikan kepada partikel agar tumbukannya menghasilkan sebuah reaksi. Dalam Hubungannya dengan energi atau H, maka enegi aktifasi bukan bagian dari energi tersebut seperti pada dua jenis jen reaksi eksoterm dan endoterm (Zulfikar, 2010).

Grafik II.1 Besarnya Energi Aktifasi dalam Reaksi Eksoterm ksoterm dan Endoterm Untuk lebih mudah memahami perhatikan persamaan reaksi sebagai berikut : AB Pada awal reaksi, yang ada hanya zat A, sedangkan zat B belum terbentuk. Selama reaksi berjalan, secara perlahan-lahan perlahan lahan zat A berkurang, dan zat B terbentuk atau bertambah (Zulfikar, 2010). AB

Grafik II.2 Perubahan Konsentrasi K Zat A dan Meningkatnya Konsentrasi dalam Selang Waktu Sehingga kita dapat katakan bahwa kecepatan reaksi adalah berkurangnya konsentrasi zat A dalam selang waktu tertentu, dengan persamaan : Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-3 BAB II Tinjauan Pustaka

dimana V= [A] t = kecepatan dalam mol/L.s = penurunan konsentrasi k zat A dalam mol/L Selang waktu dalam detik Kecepatan reaksi dapat kita ubah dalam satuan konsentrasi B, yaitu bertambahnya konsentrasi zat B dalam selang waktu tertentu. Jika kita rumuskan :

(Zulfikar, 2010)

dimana V = kecepatan dalam mol/L.s [B] = pertambahan n konsentrasi zat B dalam mol/L t = selang waktu dalam detik
(Zulfikar, 2010)

Guldenberg dan Waage mengamati kecepatan reaksi dan dan menyatakan bahwa kecepatan reaksi bergantung pada konsentrasi konsentrasi dari zat yang bereaksi. Hubungan ini dirumuskan Kecepatan reaksi pada sistem homogen (satu fase) berbanding langsung dengan konsentrasi zat-zat zat yang bereaksi dipangkatkan dengan koefisien masing masing-masing zat yang bereaksi sesuai dengan persamaan reaksinya reaksinya (Zulfikar, 2010).

Grafik rafik II.3 Kecepatan Menurut Guldenberg dan an Waage

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-4 BAB II Tinjauan Pustaka aA+bB Maka menurut Guldenberg dan Waage, kecepatan reaksi zat A dan B menjadi zat C dan D adalah: V k [A] dan [B] a dan b
(Zulfikar, 2010)

= kecepatan reaksi = konstanta kecepatan reaksi = konsentrasi zat A dan zat B = koefisien zat A dan zat B dalam persamaan reaksi reaks Berlansungnya sebuah reaksi banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor. faktor Faktor-

faktor tersebut t diantaranya adalah : 1. Luas Permukaan Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi dimulai dari bidang sentuh (bidang yang saling bersinggungan antar reaktan) dan pada dasarnya terjadi karena tumbukan antar zat-zat zat pereaksi. Makin luas bidang sentuh maka makin banyak tumbukan dan makin cepat pula terjadi reaksi. Luas permukaan bidang sentuh dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikelnya. Apa hubungan ukuran partikel dengan kecepatan reaksi? Mari kita lakukan kegiatan berikut ini (Lebong, 2013). Pengaruh luas permukaan ini banyak diterapkan dalam industri maupun dalam kehidupan sehari-hari, hari, yaitu dengan menghaluskan terlebih dahulu bahan yang berupa zat padat sebelum direaksikan. Mengunyah makanan juga merupakan upaya dalam rangka memperluas permukaan sehingga penguraian selanjutnya berlangsung lebih cepat (Lebong, 2013). Laju reaksi berbanding lurus dengan luas permukaan reaktan

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-5 BAB II Tinjauan Pustaka

Gambar II.1 II. Pengaruh Luas Permukaan Terhadap Laju Reaksi 2. Perubahan Suhu Reaksi eaksi kimia cenderung berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi. Semakin tinggi suhu reaksi, energy kinetik yang dihasilkan semakin besar, semakin cepat pergerakan partikel-partikel partikel zat yang bereaksi sehingga tumbukan antar partikel lebih cepat dan reaksi berlangsung lebih cepat, cepat sesuai dengan teori Arhenius Arhenius. Berbagai proses industri dipercepat dengan pemanasan, misalnya industri amoniak (NH3) dan asam sulfat (H2SO4) (Lebong, 2013). Di samping memperbesar energi kinetik, ternyata peningkatan suhu juga meningkatkan energi potensial suatu zat. Dengan semakin besarnya energi potensial zat, maka semakin besar terjadinya tumbukan yang efektif, sehingga laju rea reaksi semakin cepat (Nurul, 2012).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-6 BAB II Tinjauan Pustaka

Gambar II.2 II. Pengaruh Suhu Terhadap Kecepatan Reaksi 3. Katalis. Katalis adalah suatu zat yang mempercepat suatu laju reaksi, namun ia sendiri, secara kimiawi, tidak berubah pada akhir reaksi. Ketika reaksi selesai, maka akan didapatkan kembali massa katalasis yang sama seperti pada awal ditambahkan. Katalis dapat dibagi berdasarkan dua tipe dasar, yaitu reaksi heterogen dan reaksi homogen. Didalam reaksi heterogen, katalis berada dalam fase yang yang berbeda dengan reaktan. Sedangkan pada dalam reaksi homogen, katalis berada dalam fase yang sama dengan reaktan (Lebong, 2013). Suatu uatu campuran yang terlihat batas antara dua komponen, dua komponen itu berada dalam fase yang berbeda. Campuran antara padat dan cair terdiri dari dua fase. Campuran antara beberapa senyawa kimia dalam satu larutan terdiri hanya dari satu fase, karena tidak dapat dilihat batas antara senyawa-senyawa senyawa kimia tersebut. Fase berbeda denga istilah keadaan fisik (padat, cair dan gas). Fase dapat juga meliputi padat, cair dan gas, akan tetapi lebih sedikit luas. Fase juga dapat diterapkan dalam dua zat cair dimana keduanya tidak saling melarutkan melarutkan (contoh, minyak dan air)
(Lebong, 2013).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-7 BAB II Tinjauan Pustaka

Gambar II.3 Katalis Heterogen 4. Konsentrasi Larutan Jika konsentrasi suatu larutan makin besar, larutan akan mengandung jumlah partikel semakin banyak sehingga partikel-partikel partikel tersebut akan tersusun lebih rapat dibandingkan larutan yang konsentrasinya lebih rendah. Susunan partikel yang lebih rapat memungkinkan terjadinya tumbukan semakin banyak dan kemungkinan terjadi reaksi lebih besar. Makin besar konsentrasi konsentrasi zat, makin cepat laju reaksinya. Hubungan kuantitatif perubahan konsentrasi dengan laju reaksi tidak dapat ditetapkan dari persamaan reaksi, tetapi harus melalui percobaan (Nurul, 2012). Semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, makin besar laju reaksinya.

Gambar II.4 Pengaruh Konsentrasi Terhadap Kecepatan Reaksi

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-8 BAB II Tinjauan Pustaka 5. Tekanan Banyak reaksi yang melibatkan pereaksi dalam wujud gas. Kelajuan dari pereaksi seperti itu juga dipengaruhi tekanan. Penambahan tekanan dengan memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi, dengan demikian dapat memperbesar laju reaksi (Anonim, 2009). Laju rerata adalah rerata laju untuk selang waktu tertentu. Perbedaan antara laju rerata dengan laju sesaat dapat diandaikan dengan laju kendaraan. Misalnya suatu kendaraan menempuh jarak 300 km dalam 5 jam. Laju rerata kendaraan itu adalah 300 km/5 jam = 60 km/jam. Tentu saja laju kendaraan tidak selalu 60 km/jam. Laju sesaat ditunjukkan oleh speedometer kendaraan. Laju sesaat adalah laju pada saat tertentu. Sebagai telah kita lihat sebelumnya, laju reaksi berubah dari waktu ke waktu. Pada umumnya, laju reaksi makin kecil seiring dengan bertambahnya waktu reaksi. oleh karena itu, plot konsentrasi terhadap waktu berbentuk garis lengkung, seperti gambar di bawah ini. Laju sesaat pada waktu t dapat ditentukan dari kemiringan (gradien) tangen pada saat t tersebut, sebagai berikut. Persamaan laju reaksi dapat ditulis sebagai:

Persamaan seperti di atas, disebut persamaan laju reaksi atau hukum laju reaksi. Persamaan laju reaksi seperti itu menyatakan hubungan antara konsentrasi pereaksi dengan laju reaksi. Bilangan pangkat pada persamaan di atas disebut sebagai orde reaksi atau tingkat reaksi pada reaksi yang bersangkutan. bersangkutan. Jumlah bilangan pangkat konsentrasi pereaksi-pereaksi pereaksi disebut sebagai orde reaksi total. Artinya, reaksi berorde x terhadap pereaksi Areaksi berorde y terhadap pereaksi B, orde reaksi total pada reaksi tersebut adalah (x + y). Nilai dari x dan y hanya dapat diperoleh dari percobaan (James E. Brady,
1990). Faktor k yang terdapat pada persamaan tersebut disebut tetapan laju reaksi. Harga

k ini tetap untuk suatu reaksi, dan hanya dipengaruhi oleh suhu dan katalis (Nurul, 2012). Terdapat dua metode yang dapat dikembangkan untuk menentukan perubahan konsentrasi pereaksi per satuan waktu, yaitu metode diferensial dan metode integral. Metode diferensial berguna untuk menentukan tingkat reaksi, sedangkan metode integral berguna rguna untuk mengevaluasi tingkat reaksi. Metode integral didasarkan pada pengukuran Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-9 BAB II Tinjauan Pustaka reaksi setiap saat. Data yang terkumpul selanjutnya dievaluasi dengan persamaan integral yang dimodifikasi ke dalam bentuk grafik. Kemudian, ditentukan apakah reaksi tersebut tingkat satu, tingkat dua, atau tingkat tertentu. Mengingat metode integral m memerlukan pemahaman matematika, khususnya integral yang memadai maka tidak diberikan di sini .Metode diferensial disebut juga metode laju awal atau metode laju ratarata-rata. Metode ini didasarkan pada perubahan konsentrasi pereaksi dalam selang waktu tertent tertentu. Dengan kata lain, metode diferensial adalah metode untuk menentukan tingkat reaksi atau laju reaksi (Nurul, 2012). Dalam praktiknya, penentuan kecepatan reaksi didasarkan pada konsentrasi awal pereaksi yang berbeda secara beraturan, sedangkan selang waktu reaksi dibuat tetap. Simak reaksi berikut: . Persamaan kecepatan reaksinya dapat ditulis: . Nilai x ditentukan dari hasil penyelidikan menggunakan metode laju awal. Untuk menentukan tingkat reaksi reak diperlukan sekurang-kurangnya kurangnya tiga kali pengukuran dengan konsentrasi awal berbeda dalam selang waktu yang dibuat tetap. Data hasil pengukuran kemudian ditabulasikan ke dalam tabel.

Setelah data ditabulasikan ke dalam tabel, selanjutnya masing-masing data laju reaksi dibandingkan , misalnya

Jadi, tingkat reaksinya sama dengan 2. Oleh karena itu, persamaan untuk kecepatan reaksi hipotetik di atas dapat ditulis sebagai:

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-10 BAB II Tinjauan Pustaka Orde reaksi menyatakan besarnya pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju reaksi. Beberapa orde reaksi yang umum terdapat dalam persamaan reaksi kimia beserta maknanya sebagai berikut : 1. Reaksi Orde 0 Suatu reaksi kimia dikatakan mempunyai orde nol, jika besarnya laju reaksi tersebut tidak dipengaruhi oleh konsentrasi pereaksi. Artinya, seberapapun peningkatan konsentrasi pereaksi tidak akan mempengaruhi besarnya laju reaksi.

Grafik II.4 Reaksi Orde 0 2. Reaksi Orde 1 Suatu reaksi kimia dikatakan mempunyai orde satu, apabila besarnya laju reaksi berbanding lurus dengan besarnya konsentrasi pereaksi. Artinya, jika konsentrasi pereaksi dinaikkan dua kali semula, maka laju reaksi juga akan meningkat besarnya esarnya sebanyak (2)1 atau 2 kali semula juga.

Grafik II.5 Reaksi Orde 1 3. Reaksi Orde 2 Suatu reaksi dikatakan mempunyai orde dua, apabila besarnya laju reaksi merupakan pangkat dua dari peningkatan konsentrasi pereaksinya. Artinya, jika konsentrasi pereaksi dinaikkan 2 kali semula, maka laju reaksi akan meningkat

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-11 BAB II Tinjauan Pustaka sebesar (2)2 atau 4 kali semula. semula. Apabila konsentrasi pereaksi dinaikkan 3 kali semula, maka laju reaksi akan menjadi (3)2 atau 9 kali semula.

Grafik II.6 Reaksi Orde 2


(Nurul, 2012)

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


III.1 Variable Percobaan a. Kontrol : Etil asetat 0,02 N NaOH 0,02 N HCl 0,02 N b. Manipulasi c. Respon III.2 Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Baker Glass Biuret Erlenmeyer Gelas Ukur Klem Labu Ukur Pipet tetes : Waktu pengocokan yaitu 3,5, 6,5, 9,5, 12,5, 15,5, 18,5 dalam menit. : Banyaknya volume titran (NaOH)

8. Pipet volume 9. Statif

10. Timbangan Elektrik III.3 Bahan 1. 2. 3. 4. Larutan PP Larutan NaOH 0,02 N Larutan HCL 0,02 N Larutan Etil Asetat 0,02 N

III-1

III-2 BAB III Metodologi Percobaan III.4 Prosedur Percobaan 1. 2. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan Membuat 250 ml larutan 0,02 0,0 N etil asetat,500 ml larutan 0,02 N NaOH, dan 250 ml larutan 0,02 0,0 N HCl. 3. 4. Memasukkan 25 ml larutan 0,02 0,0 N NaOH kedalam erlenmeyer Menambahkan 25 ml larutan 0,02 0,0 N etil asetat dan mengocoknya selama 3,5 menit. 5. Menghentikan ikan proses pengocokan setelah 3,5 menit kemudian menambahkan 25 ml larutan 0.02 N HCl dan mengocoknya kembali selama 3,5 menit. 6. 7. 8. Menambahkan indikator PP sebanyak 2 tetes kedalam 10 ml campuran Mentitrasi campuran tersebut dengan larutan 0,0 0,02 N NaOH Mengulangi prosedur 2 sampai 7 sebanyak 5 kali dengan variabel waktu yang berbeda yaitu selama 6,5 menit, 9,5 menit, 12,5 menit, 15,5 menit, dan 18,5 menit.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-3 BAB III Metodologi Percobaan III.5 Diagram Alir Percobaan Mulai

Membuat 250 ml larutan 0,02 N etil asetat,500 ml larutan 0,02 2 N NaOH, dan 250 ml larutan 0,02 N HCl.

Mencampurkan 25 ml NaOH 0,02 0,0 N dengan 25 ml etil asetat 0,0 0,02 N

Mengocok larutan tersebut selama 3,5 menit

Menambahkan larutan HCl 0,02 0,0 N dan mengocoknya selama 3,5 menit

Mengambil 10 ml larutan tersebut

Mentitrasi larutan campuran tersebut dengan NaOH 0,0 0,02 N

Mencatat volume titran yang digunakan untuk mentitrasi larutan

Mengulangi prosedur percobaan sebanyak 5 kali dengan variabel waktu yang berbeda yaitu selama 15 menit, 20 menit, 25 menit

Selesai

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-4 BAB III Metodologi Percobaan III.6 Gambar Alat Percobaan

Baker Glass

Biuret

Erlenmeyer

Gelas Ukur

Klem

Labu Ukur

Pipet Tetes

Pipet Volume

Statif

Timbangan Elektrik

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


IV.1 Hasil Percobaan Penyabunan Etil Asetat dan NaOH Setelah melakukan percobaan, didapatkan hasil percobaan sebagai berikut : Tabel IV.1.1 Hasil Percobaan s = k E M IM Ok F 1. 2. 3. 4. 5. 6. 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml s = s = e` = E M IM Ok F E M IM Ok F 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml = E F 3,5 6,5 9,5 12,5 15,5 18,5 s = q ~ s = ` ~ ~ 10 ml 10 ml 10 ml 10 ml 10 ml 10 ml s = q ~= E F 2,8 3,0 3,3 3,5 3,9 4,4

b = = ^ ~= k ~l e =

Tabel IV.1.2 Perhitungan Penyabunan Ethyl Asetat dengan NaOH Konsentrasi Konsentrasi Waktu Kocok Volume Titran Mula-Mula CH3COOH (menit) (ml) (N) (N) 3,5 5,5 8,5 12,5 15,5 18,5 2,8 3 3,3 3,5 3,9 4,4 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 0,00224 0,0024 0,00264 0,0028 0,00312 0,00352

x a-x 0,1261 0,1363 0,1521 0,1628 0,1848 0,2136

IV-1

IV-2 BAB IV Hasil Percobaan dan Pembahasan fs K Om ~~~ Percobaan kecepatan reaksi ini bertujuan untuk menentukan konstanta kecepatan reaksi selain itu percobaan ini bertujuan untuk menentukan nilai orde reaksi dari penyabunan etil asetat. Reaksi berlangsung karena adanya partikel partikelpartikel, atom atau molekul yang bertumbukan dan tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi, hanya tumbukan dengan energi yang cukup yang dapat menghasilkan reaksi. Kecepatan ecepatan reaksi adalah berkurangnya konsentrasi zat A dalam selang waktu tertentu. . Bahan yang digunakan dalam percobaan kecepatan reaksi ini antara lain etil asetat, NaOH, dan HCl dengan variabel waktu yang digunakan adalah 3,5 menit, 6,5 menit, 9,5 menit, 12,5 menit, 15,5 menit, dan 18,5 menit menit. Sehingga, dari hasil percobaan didapatkan hubungan antara pengaruh engaruh pengocokan, jumlah etil asetat yang bereaksi, dan volume titran. Dalam percobaan yang dilakukan, penentuan konstanta dan orde kecepatan reaksi menggunakan metode reaksi penyabunan yaitu antara CH3COOC2H5 dan NaOH. Konstanta onstanta reaksi dari reaksi penyabunan etil persamaan yang berasal dari grafik antara 0.3 0.25 0.2 L ~J 0.15 0.1 0.05 0 0 5 10 t ~ = m ~= 15 20 0.1261 0.1363 0.1521 0.1848 0.1628 y = 0.013x asetat ini didapat didapatkan dari

x terhadap t, yang diperoleh dari : ax

0.2136

d ~ = fs K O K N Hubungan antara

terhadap erhadap Waktu

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-3 BAB IV Hasil Percobaan dan Pembahasan Berdasarkan grafik IV. IV.2.1, dapat dilihat hubungan antara dengan waktu

pengocokan, bahwa semakin lama waktu pengocokan yang diberikan pada campuran larutan etil asetat, NaOH serta HCl maka semakin besar pula orde reaksi yang dihasilkan. Dari data tersebut, pada waktu pengocokan 3,5 menit orde reaksinya sebesar 0,1261. Untuk waktu pengocokan 6,5 menit orde reaksinya sebesar 0,1363. Untuk waktu pengocokan 9,5 menit orde reaksinya sebesar 0,1521. Untuk waktu pengocokan 12,5 menit orde reaksinya sebesar 0,1628. Untuk waktu pengocokan 15,5 menit orde reaksinya sebesar sebesar 0,1848. Dan untuk waktu pengocokan 18,5 menit orde reaksinya sebesar 0,2136. Dari grafik diatas didapatkan slope a.k dimana a merupakan konsentrasi mulamula mula sehingga konstanta reaksi dapat dicari dengan membagi harga slope dengan a yang diketahui nilainya. ya. Setelah kita memperoleh persamaan garis y = 0,013x, maka kita dapat mensubsitusikannya ke dalam rumus persamaan sebagai berikut :
x = a.k.t , sehingga diperoleh ax

Berdasarkan percobaan dan perhitungan melalui persamaan

yang

telah dilakukan didapatkan konstanta laju reaksi untuk penyabunan etil asetat dengan NaOH adalah 0,65 M-1s-1 . Berdasarkan literatur disebutkan bahwa konstanta laju reaksi untuk penyabunan etil asetat dengan NaOH berkisar 0,057 M-1s-1( Glasstone, 1946 ). Hasil percobaan yang didapatkan tidak sesuai dengan literatur. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor salah sala satunya adalah ketika proses penimbangan NaOH, timbangan yang digunakan kurang akurat, , sehingga mempengaruhi konsentrasi larutan NaOH yang dibuat. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah pada saat titrasi pada perubahan warna larutan dari tidak berwarna menjadi merah muda sulit untuk memberi batasan warna saat awal mulai terjadinya perubahan Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-4 BAB IV Hasil Percobaan dan Pembahasan warna hingga menjadi merah muda yang sama pada setiap perbedaan lamanya waktu yang diperoleh dalam proses pengocokan. Hal ini menyebabkan perbedaa perbedaan volume NaOH yang digunakan untuk mentitrasi larutan sehingga hal itu dapat berpengaruh terhadap hasil yang didapatkan. 5 4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0

4.4 3.9 2.8 3 3.3 3.5

s = q ~

3.5

6.5

9.5 12.5 t ~ = m ~

15.5

18.5

d ~ = fs K O K OPengaruh Waktu Pengocokan dan Volume Titran Berdasarkan grafik IV.2.2, IV. dapat dilihat hubungan antara waktu pengocokan dengan volume titran, bahwa semakin lama waktu pengocokan yang diberikan pada campuran larutan etil asetat, asetat NaOH serta HCl maka semakin besar pula volume titran NaOH yang dibutuhkan untuk merubah warna larutan dari tidak berwarna rwarna menjadi merah muda. Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil percobaan pada waktu pengocokan 3,5 menit didapatkan volume titran sebesar 2,8 ml. untuk waktu pengocokan 6,5 menit volume titran yang dibutuhkan adalah 3 ml, untuk waktu 9,5 menit volume titran sebesar 3,3 ml. Untuk waktu pengocokan 12,5 menit volume titran sebesar 3,5 ml. Sedangkan untuk waktu pengocokan 15,5 menit volume titran an sebesar 3,9 ml dan untuk waktu pengocokan 18,5 menit volume titran yang dibutuhkan adalah 4,4 ml. Berdasarkan arkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh pula hubungan antara lama waktu pengocokan terhadap volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalennya.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-5 BAB IV Hasil Percobaan dan Pembahasan

0.004 b = ^ ~= ~ = _ ~~ 0.0035 0.003 0.0025 0.002 0.0015 0.001 0.0005 0 3.5 6.5 9.5 12.5 t ~ = m ~ 15.5 0.00224 0.0024 0.00264 0.0028 0.00312

0.00352

18.5

d ~ = fs K O K P Pengaruh Waktu Pengocokan terhadap Jumlah Etil Asetat yang Bereaksi Dari grafik IV.2,3 ,3 Pengaruh waktu (t) pengocokan terhadap etil asetat yang bereaksi dapat diketahui semakin lama waktu pengocokan yang diberikan maka semakin besar pula jumlah mol etil asetat yang bereaksi. Pada waktu kocok 3,5 menit mol etil asetat yang bereaksi adalah sebesar 0,00224 mol. Untuk waktu pengocokan 6,5 menit jumlah mol yang bereaksi adalah 0,0024 mol. Untuk waktu pengocokan 9,5 menit jumlah mol yang bereaksi sebesar 0,00264 mol. Pada waktu pengocokan 12,5 menit jumlah mol yang bereaksi sebesar 0,0028 mol, untuk waktu pengocokan 15,5 menit sebesar 0,00312 mol, dan untuk waktu pengocokan 18,5 menit jumlah mol yang bereaksi sebesar esar 0,00352 mol. Hal ini dapat terjadi karena semakin lama proses pengocokan berlangsung maka semakin banyak jumlah partikel yang bereaksi. . Hal ini disebabkan karena adanya tumbukan antara partikel satu dengan partikel lainnya. Hal ini bisa terlihat pada saat dilakukan pengocokan selama 18,5 menit, maka jumlah etil asetat yang bereaksi semakin besar pula. Dalam menentuk kan orde reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH, kita dapat menggunakan persamaan yang terjadi antara etil asetat dan NaOH. Berdasarkan teori yang ada yaitu : Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-6 BAB IV Hasil Percobaan dan Pembahasan A+B hasil ......................................................................................... (c (c)

Rate = k2 . CA . CB Karena konsentrasi yang digunakan dalam penyabunan antara etil asetat dan NaOH sama, maka A = B, sehingga menjadi : 2A Rate = k2 . CA2 (Sukardjo, 1985) CH3COOC2H5(aq) + NaOH(aq) C 2 H 5 OH(aq) + CH3COONa(aq) hasil ...................................................................................... ......................................................................................... (b)

Dari reaksi yang berlangsung antara etil asetat dengan NaOH mempunyai konsentrasi yang sama yaitu sebesar 0,02 N. Sehingga, dengan menggunakan dasar teori persamaan rate = k2 . CA2 maka orde reaksi penyabunan etil asetat d dengan NaOH merupakan orde reaksi tingkat dua.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dan perhitungan yang ada, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Semakin lama waktu pengocokan yang diberikan pada campuran larutan etil asetat dan NaOH , maka semakin besar volume titran NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi yaitu pada saat t sebesar 18,5 menit dimana membutuhkan volume titran (NaOH) paling besar sebanyak 4,4 ml untuk mencapai titik ekivalennya. 2. Konstanta reaksi dari penyabunan etil asetat dengan NaOH dapat ditentukan melalui grafik antara persamaan

terhadap t.

3. Konstanta dari penyabunan etil asetat dengan NaOH didapatkan 0,65 M-1 s-1. 4. Berdasarkan prosedur percobaan penyabunan etil asetat diperoleh orde reaksi sebesar 2 M-1s-1.

V-1

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2009, Juni 16). Laju Reaksi Kimia. Retrieved November 23, 2013, from Laju Reaksi Kimia Web Site: http://hera-kimia.blogspot.com/ Khoiriyah, A., & dkk. (2013). Laporan Tetap Kimia Fisika Pengaruh Konsentrasi dan Suhu Pada Kecepatan Reaksi. Palembang: Academia.Edu. Lebong, C. (2013, April). Chandra Lebong. Retrieved November 23, 2013, from Chandra Lebong Web Site: http://ichanlebong.blogspot.com/2013/04/faktor-faktor-yang-mempenga ruhi.html Nurul. (2012). Laju Reaksi. Retrieved November 23, 2013, from Laju Reaksi: http://kimia.upi.edu/staf/nurul/web2012/0905762/isi-materi3.html Sukardjo. (1989). Kimia Fisika. Jakarta: Rineka Cipta. Zulfikar. (2010, September 16). Situs Kimia Indonesia. Retrieved November 23, 2013, from Situs Kimia Indonesia Web Site: http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimiakesehatan/kecepatan-reaksi-dan-energi/kecepatan-reaksi/

vii

DAFTAR NOTASI

Notasi M N V gr ? t k x a

Nama Notasi molaritas normalitas volume gram massa jenis massa relatif waktu konstanta kecepatan reaksi jumlah mol etil asetat yang bereaksi Konsentrasi Mula-mula

Satuan M N ml gram gram/cm3 atau gram/ml gram/mol detik M-1.s-1 mmol N

Mr

vii

APPENDIKS
1. Penyabunan CH3COOC2H5 oleh NaOH Untuk t = 3,5 menit CH3COOC2H5 awal NaOH awal HCl awal = 0,02 N = 0,02 N = 0,02 N = 0,02 x 25 = 0, 5 mmol mol NaOH awal = 0,02 x 25 = 0,5 mmol mol HCl = 0,02 x 25 = 0,5 mmol Volume NaOH titrasi mol NaOH titrasi = 2,8 ml = 0,02 x 2,8 = 0,056 mmol Volume CH3COOC2H5 = 25 ml Volume NaOH Volume HCl = 25 ml = 25 ml

mol CH3COOC2H5 awal

Reaksi (1) CH3COOC2H5 + NaOH Awal Bereaksi Sisa 1 x 1-x 1 x 1-x C2H5OH + CH3COONa x x

Reaksi (2) NaOH sisa Awal Bereaksi Sisa 1-x 1-x 0 + HCl 1 1-x x NaCl 1-x + H2O 1-x

Reaksi (3) NaOH Awal Bereaksi Sisa 0,5 0,5 0 + HCl sisa x x 0 NaCl x + H2O x

Pada reaksi (3) mol NaOH titrasi mol HCl titrasi mol HCl x = 0,056mmol = x mmol = mol NaOH = 0,056 mmol

CH3COOC2H5 yang bereaksi = 0,056 mmol/ 25 ml = 0,00224M

Untuk perhitungan t selanjutnya dengan cara yang sama. 2. Perhitungan pembuatan grafik x adalah CH3COOC2H5 yang bereaksi a adalah CH3COOC2H5 mula-mula = 0,00224 M = 0,02N = 0,02 M
x ax

= 0,00224/ (0,02-0,00224) = 0,1261

Untuk perhitungan t selanjutnya dengan cara yang sama.

Tabel Hasil Perhitungan Penyabunan Ethyl Asetat dengan NaOH T (menit) 3,5 5,5 8,5 12,5 15,5 18,5 V NaOH (ml) 2,8 3 3,3 3,5 3,9 4,4 a (N) 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 x (N)
0,00224 0,0024 0,00264 0,0028 0,00312 0,00352

x (a x)
0,1261 0,1363 0,1521 0,1628 0,1848 0,2136

3. Perhitungan K Dari perhitungan yang telah dilakukan dan dari grafik didapatkan bahwa Persamaan : y = 0,013x Dimana persamaan reaksi orde 2 : k = 0,013/ 0,02 = 0,65 M-1menit-1
x = a.k.t ax