Anda di halaman 1dari 42

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

Percobaan Kelompok Nama 1. 2. 3. 4. 5.

: TIMBAL BALIK FENOL AIR : VI A

: Aristania Nila Wagiswari Revani Nuriawati M. Fikri Dzulkarnain Rimosan Rio Sanjaya Nur Annisa Oktaviana

NRP. NRP. NRP. NRP. NRP.

2313 030 005 2313 030 019 2313 030 037 2313 030 065 2313 030 089

Tanggal Percobaan Tanggal Penyerahan Dosen Pembimbing Asisten Laboratorium

: 16 Desember 2013 : 19 Desember 2013 : Nurlaili Humaidah, S.T., M.T. : Dhaniar Rulandri W.

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2013

ABSTRAK
Percobaan timbal balik fenol-air bertujuan untuk menentukan temperatur kritis dari fenol air dengan variabel dari berat fenol yang digunakan adalah 2,5 gram dan 3,5 gram fenol serta variabel penambahan aquadest sebesar 1,3 ml sebanyak sepuluh kali. Selain itu, percobaan ini juga bertujuan untuk mencari persen berat dari timbal balik fenol air. Prosedur yang digunakan untuk menentukan temperatur kritis dari fenol air adalah dengan menimbang 2,5 gram fenol dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi besar. Selanjutnya menambahkan aquadest sebanyak 1,3 ml ke dalam tabung reaksi yang berisi 2,5 gram fenol. Lalu mengaduk campuran air dan fenol hingga fenol larut. Kemudian memasukkan tabung reaksi yang berisi larutan fenol kedalam beaker glass dengan air didalamnya yang telah dipanaskan. Mengamati suhu dari larutan fenol ketika berubah menjadi bening, mendinginkannya, dan mengamati suhu larutan fenol ketika kembali menjadi keruh. Mengulangi langkah sebelumnya dengan menambahkan kembali aquadest sebesar 1,3 ml sebanyak sembilan kali. Mengulangi percobaan tersebut dengan mengubah variabel berat fenol menjadi 3,5 gram dan penambahan aquadest sebesar 1,3 ml sebanyak sepuluh kali. Dalam menentukan persen berat dari timbal balik fenol air prosedur yang digunakan adalah menimbang 2,5 gram fenol dan memasukkannya kedalam tabung reaksi besar. Kemudian menambahkan aquadest sebanyak 1,3 ml. Menghitung presentase berat fenol dengan cara membagi 2,5 gram fenol dengan jumlah dari 2,5 gram fenol dan 1,3 ml aquadest. Mengulangi langkah sebelumnya dengan penambahan 1,3 ml aquadest sebanyak sembilan kali. Mengulangi kembali perhitungan presentase berat fenol dengan variabel berat fenol 3,5 gram dan penambahan aquadest sebesar 1,3 ml sebanyak sepuluh kali. Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan untuk variabel berat fenol sebesar 2,5 gram dan penambahan 1,3 ml aquadest yang pertama suhu rata-ratanya adalah sebesar 58,50C. Untuk penambahan kedua, suhu rata-ratanya adalah 660C. Untuk penambahan ketiga suhu rata-rata sebesar 690C. Untuk penambahan keempat,memiliki suhu rata-rata sebesar 69,50C. Untuk penambahan kelima, didapatkan suhu rata-ratanya adalah 68,50C. Pada penambahan keenam, suhu rata-rata yang didapatkan adalah 660C. Untuk penambahan ketujuh suhu rata-ratanya adalah 64,50C. Untuk penambahan kedelapan suhu rata-rata yang didapatkan adalah 63,50C. Untuk penambahan kesembilan suhu rata-rata yang didapatkan adalah 62,50C. Dan untuk penambahan kesepuluh suhu rata-ratanya adalah 620C. Sedangkan, untuk variabel berat fenol sebesar 3,5 gram dan penambahan 1,3 ml aquadest didapatkan suhu rata-ratanya adalah 520C. Untuk penambahan kedua suhu rata-rata yang didpatkan adalah 640C. Untuk penambahan ketiga suhu rata-ratanya adalah 650C. Untuk penambahan keempat suhu rata-rata adalah 66,50C. Pada penambahan kelima suhu rata-ratanya adalah 660C. Penambahan keenam suhu rata-ratanya adalah 650C. Pada penambahan yang ketujuh suhu rata-rata yang didapatkan adalah 63,50C. Untuk penambahan yang kedelapan suhu rata-ratanya sebesar 620C. Untuk penambahan yang kesembilan suhu rata-rata sebesar 60,50C. Dan pada penambahan kesepuluh suhu rata-rata yng didapatkan sebesar 590C. Persen berat dari variabel fenol 2,5 gram didapatkan secara berurutan adalah 65,79%; 49,02%; 39,06%; 32,47%; 27,78%; 24,27%, 21,5 5%; 19,38%; 17,61%; 16,13%. Untuk presentase berat pada variabel fenol 3,5 gram adalah 79,37%; 65,79%; 56,18%; 49,02%; 43,48%; 39,06%, 35,46%; 32,47%; 29,94%; 27,78%. Didapatkan bahwa temperatur dari fenol ketika jernih akan meningkat dan akhirnya kembali turun. Untuk persen berat didapatkan semakin meningkat jumlah volume aquadest semakin menurun persen berat fenol yang didapatkan. Kata kunci : fenol, temperatur kritis, persen berat fenol, timbal balik fenol-air

DAFTAR ISI
ABSTRAK ......... i DAFTAR ISI .... ii DAFTAR GAMBAR ........ iii DAFTAR TABEL ..... iv DAFTAR GRAFIK ....... v BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang ........... I-1 I.2 Rumusan Masalah .......... I-2 I.3 Tujuan Percobaan .......... I-2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Dasar Teori ........... II-1 BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1 Variabel Percobaan ..... III-1 III.2 Bahan yang Digunakan ...... III-1 III.3 Alat yang Digunakan .............. III-1 III.4 Prosedur Percobaan ..... III-1 III.5 Diagram Alir Percobaan .......... III-2 III.6 Gambar Alat Percobaan ...... III-4 BAB IV HASIL PERCOBAAN dan PEMBAHASAN IV.1 Hasil Percobaan ........... IV-1 IV.2 Pembahasan ............ IV-2 BAB V KESIMPULAN ........ V-1 DAFTAR PUSTAKA ............ vi DAFTAR NOTASI ....... viii APPENDIKS ......... ix LAMPIRAN Laporan Sementara Fotokopi Literatur Lembar Revisi

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1 Struktur Fenol .. II-13 Gambar II.2 Struktur Air . II-14 Gambar III.6 Gambar Alat Percobaan... III-4

iii

DAFTAR TABEL
Tabel II.1 Contoh Data Hasil Pengukuran Kecepatan Reaksi Hipotetik .....II-9

Tabel IV.1.1 Hasil Percobaan ... IV-1

iv

DAFTAR GRAFIK
Grafik II.1 Grafik II.2 Komposisi Campuran Fenol Air ..II-10 Temperatur Kritis II-11

Grafik IV.2.1 Timbal Balik Fenol-Air dengan Variabel berat Fenol 2,5 gram ..IV-3 Grafik IV.2.2 Timbal Balik Fenol-Air dengan Variabel berat Fenol 3,5 gram ..IV-4 Grafik IV.2.3 Perbandingan Timbal Balik Fenol-Air Variabel berat Fenol 2,5 gram dengan Berat Fenol 3,5 gram .. IV-5

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Kimia fisika merupakan salah satu aspek penting yang diperlukan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun industri. Di dalam kimi fisika banyak hal yang dapat dipelajari salah satunya adalah mengenai timbal balik fenol-air. Timbal balik fenol-air merupakan suatu sistem dimana memperlihatkan sifat kelarutan timbal balik antara fenol dan air pada suhu tertentu dan tekanan tetap. Sistem ini disebut sebagai sistem biner dikarenakan dalam campuran tersebut terdiri dari dua zat yang berbeda yaitu campuran dari fenol dan air. Kelarutan timbal balik fenol-air akan berubah ketika salah satu komponen penyusunnya ditambah. Temperatur mempengaruhi komposisi kedua fase pada kesetimbangan. Menaikkan temperatur akan menambah kemampuan bercampurnya. Dalam timbal balik fenol-air ini terdapat suatu temperatur kritis. Temperatur kritis ini adalah temperatur pada saat campuran dapat bercampur secara homogen dan membentuk satu fasa. Kelarutan yang dimaksud yaitu ketika zat terlarut dapat larut secara sempurna atau homogen dalam sejumlah pelarut tertentu. Kelarutan fenol dalam air akan bertambah dengan penambahan air sampai campuran tersebut mencapai temperatur kritis, kemudian campuran akan homogen pada temperatur diatas 65,85C. Fenol sendiri adalah senyawa sederhana dimana gugus OH berada pada cincin benzen. Fenol dapat larut dalam air karena kemampuannya dalam membentuk ikatan hidrogen dengan air. Melalui percobaan timbal balik fenol-air ini praktikan nantinya akan mendapatkan 2 hal. Yang pertama adalah nantinya akan didapatkan temperatur kritis dari fenol. Selain itu, nantinya juga akan didapatkan persen berat dari timbal balik fenol-air. Persen berat ini didapatkan melaui pembagian berat fenol dengan jumlah berat fenol yang telah ditambah dengan aquadest. Contoh aplikasi kelarutan timbal balik adalah pada proses pembuatan logam besi. Ketika uap panas dimasukkan ke sebuah besi yang panas, uap panas ini akan bereaksi dengan besi dan membentuk sebuah besi oksida magnetik berwarna hitam yang disebut magnetit, Fe3O4. Hidrogen yang terbentuk oleh reaksi ini tersapu oleh aliran uap. Selain itu aplikasi dalam dunia industri lainnya adalah pada pembuatan reaktor kimia, pada proses pemisahan dengan cara pengkristalan integral, selain itu juga dapat digunakan untuk dasar atau ilmu dalam proses pembuatan granul-granul pada industri baja.

I-1

I-2 BAB I Pendahuluan I.2 Rumusan masalah 1. Bagaimana temperatur kritis dari fenol-air dengan variabel berat adalah 2,5 gram dan 3 gram serta penambahan aquadest sebesar 1,3 ml sebanyak sepuluh kali? 2. Bagaimana cara menghitung persen berat dari timbal balik fenol-air dengan variabel berat sebesar 2,5 gram dan 3 gram serta aquadest sebesar 1,3 ml sebanyak sepuluh kali? I.3 Tujuan Percobaan 1. Untuk mengetahui temperatur kritis dari fenol-air dengan variabel berat adalah 2,5 gram dan 3 gram serta penambahan aquadest sebesar 1,3 ml sebanyak sepuluh kali. 2. Untuk mengetahui cara menghitung persen berat dari timbal balik fenol-air dengan variabel berat sebesar 2,5 gram dan 3 gram serta aquadest sebesar 1,3 ml sebanyak sepuluh kali.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Dasar Teori Kelarutan sering digunakan dalam beberapa faham. Kelarutan menyatakan pengertian secara kualitatif dari proses larutan. Kelarutan juga di gunakan secara kuantitatif untuk menyatakan komposisi dari larutan. Suatu larutan dinyatakan merupakan larutan tidak jenuh jika solute dapat ditambahkan untuk memperoleh berbagai larutan yang berbeda dalam konsentrasinya. Dalam banyak hal, ternyata proses penambahan solute tidak dapat berlangsung secara tidak terbatas. Suatu keadaan akan dicapai dimana penambahan solute pada sejumlah solvent yang tertentu tidak akan menghasilkan larutan lain yang memiliki konsentrasi lebih tinggi (Wahyuni, 2012). Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible (Supadi, 2010). Kelarutan juga berarti adalah fungsi sebuah parameter molekul. Pengionan struktur dan ukuran molekul stereokimia dan struktur elektronik. Semuanya akan mempengaruhi antar aksi pelarut dan terlarut, seperti pada bagian terdahulu, air membentuk ikatan hidrogen dengan ion atau dengan senyawa non ionik, sedangkan polar melalui gugus OH, -NH, atau dengan pasangan elektron tak mengikat pada atom oksigen atau nitrogen. Ion atau molekul akan memperoleh sampel hidrat dan akan memisah dari bongkahan zat padat dan artinya melarut (Nagrady, 1992). Istilah kelarutan digunakan untuk menyatakan jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam sejumlah tertentu zat pelarut atau larutan. Kelarutan bergantung pada jenis zat terlarut, ada zat yang mudah larut tetapi banyak juga yang sedikit larut. Konsentrasi dari larutan jenuh, yaitu kelarutan, tergantung pada: Sifat solvent Kelarutan yang besar terjadi bila molekul-molekul solute mempunyai kesamaan dalam struktur dan sifat-sifat kelistrikan dari molekul-molekul solvent. Bila ada kesamaan dari sifat-sifat kelistrikan, misalnya momen dipol yang tinggi, antara solvent-solvent, maka gaya-gaya tarik yang terjadi antara solute-solvent

II-1

II-2 BAB II Tinjauan injauan Pustaka adalah kuat. Sebaliknya, bila tidak ada kesamaan, maka gaya-gaya gaya gaya tarik solutesolvent lemah. Secara umum, padatan ionik mempunyai kelarutan yang lebih tinggi dalam solvent polar daripada dalam pelarut non-polar. non Juga, jika solvent lebih polar, maka kelarutan dari padatan-padatan padatan ionik akan lebih besar Sifat solute Penggantian solute berarti pengubahan interaksi-interaksi solute-solute dan solute-solvent Suhu Kelarutan gas dalam air biasanya menurun jika suhu larutan dinaikkan. Gelembung-gelembung gelembung kecil yang dibentuk bila air dipanaskan adalah kenyataan bahwa udara yang terlarut menjadi kurang larut pada suhu-suhu suhu yang lebih kecil. Hal yang serupa, tidak ada aturan yang umum untuk perubahan suhu terhadap kelrutan cairan-cairan cairan dan padatan-padatan padatan
(Rahman, 2004).

Kelarutan dalam Farmakope Indonesia, diartikan dengan kelarutan pada suhu su 200C (FI III) atau 250C (FI IV) dinyatakan dalam satu bagian bobot zatpadat atau 1 bagian volume zat cair dalam bagian volume tertentu pelarut, kecuali dinyatakan lain
(Medisa, 2013).

Kelarutan yang tanpa angka adalah kelarutan pada suhu kamar (250C) pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa 1 gram zat padat atau 1 mL zat cair dalam sejumlah mL pelarut (Medisa, 2013).

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-3 BAB II Tinjauan injauan Pustaka Tabel II.1 Istilah Kelarutan Istilah Kelarutan Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut
(Anief, 2007)

Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan 1 bagian zat Kurang dari 1 1 10 10 30 30 100 100 1.000 1.000 10.000 Lebih dari 10.000

Daya larut suatu zat dalam zat lain dipengaruhi oleh : 1. Jenis pelarut dan zat terlarut. Zat-zat zat dengan struktur kimia yang mirip, umumnya dapat saling bercampur baik sedang yang tidak biasanya sukar bercampur. Air dan alkohol bercampur sempurna (completely micible) mi , air dan eter bercampur sebagian (partially miscible), sedang air dan minyak sama sekali tidak bercampur (completely immiscible miscible) 2. Temperatur. Zat padat dalam cairan, kebanyakan zat padat menjadi lebih banyak larut ke dalam suatu cairan, bila temperatur dinaikkan, misalnya kaliumnitrat (KNO3) dalam air, namun terdapat beberapa zat padat yang kelarutannya menurun bila temperatur dinaikkan misalnya pembentukan larutan air dari seriumsulfat (Ce2(SO4)3) Gas dalam cairan, kelarutan suatu gas dalam suatu cairan biasanya me menurun dengan naiknya temperatur 3. Tekanan Tekanan tidak begitu berpengaruh terhadap daya larut zat pada zat cair, tetapi berpengaruh pada daya larut gas (Friskaiga, 2012). Pelarut tertentu pada umumnya merupakan rupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat. Tingkat kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut, seperti perak klorida dalam air. air Istilah "tak larut" (insoluble) sering diterapkan Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-4 BAB II Tinjauan injauan Pustaka pada senyawa-senyawa senyawa yang sulit larut, walaupun sebenarnya hanyaterdapat sedikit kasus yang benar-benar benar tidak terdapat bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik kesetimbangan kelarutan dapat dilewati agar dapat menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh (s ( upersaturated) yang stabil (Supadi, 2010). Larutan ideal merupakan zat padat dalam larutan ideal yang bergantung pada temperatur, titik leleh zat padat, panas molar , yaitu panas yang diarbsorbsi apabila meleleh. Dalam larutan ideal, panas pelarutan sama dengan panas peleburan, yang dianggap konstanta tidak bergantung pada temperatur. Kelarutan ideal tidak dipengaruhi oleh sifat pelarut (Medisa, 2013). Larutan ideal mempunyai sifat-sifat sifat sebagai berikut : 1. Pada pengenceran komponennya todak mengalami perubahan sifat 2. Tidak terjadi perubahan panas pada pembuatan atau pengenceran 3. Volume total adalah jumlah volume komponennya 4. Mengikuti hukum Raoult tentang tekanan uap 5. Sifat fisiknya adalah rata rata-rata sifat fisika penyusun
(Sukarjo,1989).

Larutan dibagi menjadi tiga yaitu : a) Larutan jenuh Yaitu suatu larutan dimana zat terlarut berada dalam kesetimbangan d dengan fase padat (zat terlarut) b) Larutan hampir r jenuh atau tidak jenuh Yaitu suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu c) Larutan lewat jenuh Yaitu suatu kelarutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya pada temperatur tertentu, terdapat juga z zat terlarut yang tidak terlarut
(Martin, 1991).

Ada 2 reaksi dalam larutan, yaitu: a) Eksoterm, yaitu proses melepaskan panas dari sistem ke lingkungan, temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zatzat zat kim kimia yang bersangkutan akan turun

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-5 BAB II Tinjauan injauan Pustaka b) Endoterm, yaitu menyerap panas dari lingkungan ke sistem, temperatur dari campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat- zat ki kimia yang bersangkutan akan naik
(Wikipedia, 2013).

Ada dua macam larutan, yaitu : 1. Larutan homogen, yaitu apabila dua macam zat dapat membentuk suatu larutan yang susunannya begitu seragam sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian bag yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis sekalipun. Atau larutan dapat dikatakan dapat bercampur secara seragam (miscible) 2. Larutan heterogen, yaitu apabila dua macam zat yang bercampur masih terdapat permukaan-permukaan permukaan tertentu yang dapat terdeteksi antara bagian bagian- bagian atau fase-fase fase yang terpisah
(Friskaiga, 2012).

Berdasarkan susunannya, larutan dibagi menjadi dua yaitu larutan homogen dan larutan heterogen. Larutan homogen adalah yaitu apabila dua macam zat dapat membentuk suatu larutan yang susunannya begitu seragam sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian n yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis sekalipun. Atau larutan dapat dikatakan dapat bercampur secara seragam (miscible). Sedangkan larutan heterogen yaitu apabila dua macam zat yang bercampur masih terdapat permukaan permukaanpermukaan tertentu yang dapat terdeteksi antara bagian- bagian atau fase fase-fase yang terpisah. Berdasarkan kemampuan kelarutannya, larutan heterogen dibagi menjadi dua yaitu : a) Insoluble, yaitu jika kelarutannya sangat sedikit, yaitu kurang dari 0,1 gram zat terlarut dalam 1000 gram pelarut. pe Misalnya, kaca dalam air b) Immiscible,yaitu jika kedua zat tersebut tidak dapat larut antara zat satu ke dalam zat yang lain. Misalnya, minyak dalam air
(Supadi, 2010).

Secara kualitatif, larutan dapat dibedakan menjadi dua yaitu : a) Larutan pekat yaitu larutan yang mengandung relatif lebih banyak solute dibanding solvent b) Larutan encer yaitu larutan yang relatif lebih sedikit solute dibanding solvent. Dalam suatu larutan, pelarut dapat berupa air dan tan air
(Wikipedia, 2013).

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-6 BAB II Tinjauan injauan Pustaka Jenis-jenis jenis larutan yang penting yaitu : 1. Larutan gas dalam gas Gas dengan gas selalu bercampur sempurna membentuk larutan. Sifat Sifat-sifat larutan adalah aditif, asal tekanan te total tidak terlalu besar 2. Larutan gas dalam cair Tergantung pada jenis gas, jenis pelarut, tekanan dan temperatur. Daya larut N2, H2, O2 dan He dalam air, sangat kecil. Sedangkan HCl dan NH3 sangat besar. Hal ini disebabkan karena gas yang pertama tidak bereaksi dengan air, sedangkan gas yang kedua bereaksi sehingga membentuk asam klorida dan ammonium hidroksida. Jenis pelarut juga berpengaruh, misalnya N2, O2, dan CO2 lebih mudah larut dalam air daripada alkohol 3. Larutan cairan dalam cairan Bila dua cairan dicampur, zat ini dapat bercampur sempurna, bercampur sebagian, atau u tidak sama sekali bercampur. Daya larut cairan dalam cairan tergantung dari jenis cairan dan temperatur. Zat-zat zat yang memiliki jenis kepolaran yang hampir sama dan daya larutnya besar, contohnya Benzena-Toluena, Benzena AirAlkohol, Air-Metil. Metil. Zat-zat Zat yang memiliki iki jenis kepolaran berbeda dan tidak dapat bercampur, contohnya air-nitrobenzena, air-klorobenzena
(Petrucci, 1993).

Apabila kita mencampurkan suatu zat cair dengan zat cair lain, ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi pada campuran tersebut. Pertama campuran tersebut dapat membentuk satu fasa, artinya tercampur secara homogen. Kedua campuran tersebut tidak saling melaru melarutkan tkan sehingga terbentuk dua fasa. Kemungkinan ketiga yaitu campuran dapat tercampur secara homogen dan membentuk satu fasa, akan tetapi bila dilakukan penambahan pada zat terlarut maka akan terbentuk dua fasa. Hal tersebut dapat terjadi karena zat terlarut hanya larut sebagian (Castellan, 1983). Pengertian ngertian campuran itu sendiri dapat diartikan sebagai kumpulan dua atau lebih zat yang tidak bereaksi. Kemungkinan bentuk campuran : 1. Campuran kasar yaitu campuran yang sifat maupun bentuknya sama dengan keadaan murninya contoh campuran tanah dan pasir, gula dan garam, dan sebagainya 2. Dispersi koloid yaitu campuran yang ukuran partikelnya 10-7 10 7 sampai 10 10-5 cm yang tidak dapat dipisahkan dengan filtrasi dan berada di antara larutan homogen dan heterogen contoh larutan arutan tanah liat dan air, sol Fe(OH)3 , dan sebagainya Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-7 BAB II Tinjauan injauan Pustaka 3. Larutan sejati yaitu campuran yang homogen contohnya larutan gula dalam air,

garam dalam air, dan sebagainya


(Anonim, 2012).

Campuran kasar dan dispersi dispers koloid disebut juga sebagai campuran heterogen dan dapat dipisahkan secara mekanis, sedangkan larutan sejati yang bercampur secara homogen tidak dapat dipisahkan secara mekanis (Anonim, 2012). Fase merupakan bagian dari suatu sistem dimana sifat kimia dan fisisnya sama atau homogen serta antara satu fase dengan fase lainnya betul-betul betul betul terpisah oleh batasan yang baik dan jelas hingga dapat dipisahkan secara mekanis, seperti dengan penyaringan, pengendapan dan sebagainya. Fase dapat dapat terdiri dari material dalam jumlah yang besar maupun kecil serta dapat dalam satu unit atau dapat dibagi dalam berbagai unit yang lebih kecil (Anonim, 2012). Kata fase berasal dari bahasa Yunani yang berarti pemunculan. F Fase adalah keadaan materi yang seragam di seluruh bagiannya, bukan hanya dalam komposisi kimianya, melainkan juga dalam keadaan fisiknya. Jadi kita berbicara mengenai fase padat, fase cair, dan gas suatu zat. Sedangkan yang dimaksud dengan komponen adalah spesies yang ada dalam sistem, seperti zat terlarut dan pelarut dalam larutan biner
(Atkins, 1996).

Fenol dan air mempunyai sifat kelarutan timbal balik pada temperatur tertentu dan pada tekanan tetap. Sistem semacam itu disebut sistem biner fenol-air. fenol Sistem ini disebut sistem biner karena dalam campuran tersebut terdiri dari dua zat yang berbeda. Kelarutan timbal balik fenol fenol-air air akan berubah ketika salah satu komponen penyusunnya ditambah (Wahyuni, 2013). Sistem biner fenol air merupakan sistem yang memperlihatkan sifat solubilitas timbal balik antara fenol dan air pada suhu tertentu dan tekanan tetap. Solubilitas (kelarutan) adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan kan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini lebih lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible. Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni ataupun campuran (Rahayu, 2011).

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-8 BAB II Tinjauan injauan Pustaka Latar belakang yang mendasari percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenol-air air yaitu bahwa kelarutan suatu zat kimia dalam air itu berbedaberbeda-beda tergantung dari temperaturnya. Dimana tiap komposisi zat mempunyai batas temperatur minimal agar zat tersebut dapat saling melarutkan dan membentuk satu fasa. Misalnya fenol dan air merupakan senyawa polar yang dapat saling melarutkan.Campuran keduanya akan larut dan membentuk satu fasa dalam temperatur tertentu tergantung dari komposisi zatnya (Rohayati, 2013). Campuran terdiri dari beberapa jenis. Di lihat dari fasenya, Pada sistem biner fenol air, air, terdapat 2 jenis campuran yang dapat berupah pada kondisi tertentu. Suatu fase didefenisikan sebagai bagian sistem yang seragam atau homogen diantara keadaan submakroskopiknya, roskopiknya, tetapi benar benar terpisah dari bagian sistem yang lain oleh batasan yang jelas dan baik. Campuran padatan atau dua cairan yang tidak saling bercampur dapat membentuk fase terpisah. Sedangkan campuran gas gas-gas adalah satu fase karena sistemnya nya yang homogen. Simbol S mbol umum untuk jumlah fase adalah P
(Lailatul, 2013).

Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat. Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut, seperti perak klorida dalam air. Istilah tak larut (insoluble) sering diterapkan pada senyawa yang sulit larut, walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang benar-benar benar benar tidak ada bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh yang metastabil atau mengendap (Supadi, 2010). Daya larut zat padat dalam cairan tergantung jenis zat terlarut, jenis pelarut, temperatur, dan sedikit tekanan. Batas daya larutnya adalah konsentrasi larutan jenuh. Konsentrasi larutan jenuh untuk bermacam-macam bermacam macam zat dalam air sangat berbeda, tergantung jenis zatnya. Umumnya daya larut zat-zat zat zat organik dalam air lebih besar daripada dalam pelarut-pelarut pelarut organik. Umumnya daya larut bertambah dengan naiknya temperatur karena kebanyakan zat mempunyai panas pelarutan positif (Wahyuni, 2012). Kelarutan timbal balik adalah kelarutan dari suatu larutan yang bercampur sebagian an bila temperaturnya di bawah temperatur kritis. Jika mencapai temperatur kritis, maka larutan tersebut dapat bercampur sempurna (homogen) dan jika temperaturnya telah melewati temperatur kritis maka sistem larutan tersebut akan kembali dalam kondisi bercampur ampur sebagian lagi. Salah satu contoh dari temperatur timbal balik adalah Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-9 BAB II Tinjauan injauan Pustaka kelarutan fenol dalam air yang membentuk kurva parabola yang berdasarkan pada bertambahnya % fenol dalam setiap perubahan temperatur baik di bawah temperatur kritis. Jika temperatur dari dalam kelarutan fenol aquadest dinaikkan di atas 50C maka komposisi larutan dari sistem larutan tersebut akan berubah. Kandungan fenol dalam air untuk lapisan atas akan bertambah (lebih dari 11,8 %) dan kandungan fenol dari lapisan bawah akan berkurang ang (kurang dari 62,6 %). Pada saat suhu kelarutan mencapai 66C maka komposisi sistem larutan tersebut menjadi seimbang dan keduanya dapat dicampur dengan sempurna (Voight, 1994). Zat-zat zat dengan struktur kimia yang mirip umumnya dapat saling bercampur dengan gan baik, sedangkan zat-zat zat zat yang struktur kimianya berbeda umumnya kurang dapat saling bercampur (like dissolves like). Senyawa yang bersifat polar akan mudah larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa nonpolar akan mudah larut dalam pelarut nonpolar. Contohnya alkohol dan air bercampur sempurna (completely miscible), air dan eter bercampur sebagian (partially miscible), sedangkan minyak dan air tidak bercampur (completely immiscible) (Wahyuni, 2012). Kelarutan gas umumnya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi. Misalnya jika air dipanaskan, maka timbul gelembung-gelembung gelembung gelembung gas yang keluar dari dalam air, sehingga gas yang terlarut dalam air tersebut menjadi berkurang. Kebanyakan zat padat kelarutannya lebih besar pada temperatur temperatur yang lebih tinggi. Ada beberapa zat padat yang kelarutannya berkurang pada temperature yang lebih tinggi (Wahyuni, 2012). Karena molekul-molekul molekul molekul dalam pelarut terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. Bila zat A dilarutkan dalam pelarut maka akan menjadi tipe larutan sebagai berikut: 1. Larutan encer, yaitu larutan yang mengandung sejumlah umlah kecil zat A yang terlarut. terlarut 2. Larutan, yaitu campuran yang mengandung sejumlah besar zat A. 3. Larutan jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada ada volume dan tekanan tertentu tertentu. 4. Larutan lewat jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya didalam air pada temperatur tertentu. tertentu
(Sukardjo, 2004)

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-10 BAB II Tinjauan injauan Pustaka Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Misalnya, zat terlarut terdispersi terdispersi secara molecular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Jika zat terlarut bersifat volatil (mudah menguap), maka uap di permukaan larutan hanya terdiri atas uap pelarut dan uap zat terlarut. Akan tetapi, jika zat terlarut sukar menguap, maka uap di permukaan larutan hanya terdiri dari uap zat pelarut saja. Komposisi uap di permukaanlarutan telah dipelajari oleh kimiawan dari Perancis, Francois Marie Raoult. Raoult menemukan bahwa tekanan uap suatu komponen bergantu bergantung ng pada fraksi mol komponen itu dalam larutan (Wahyuni, 2012). Sistem biner fenol air merupakan sistem yang memperlihatkan sifat kelarutan timbal balik antara fenol dan air pada suhu tertentu dan tekanan tetap. Disebut sistem biner karena jumlah komponen campuran terdiri dari dua zat yaitu fenol dan air. Fenol dan air ir kelarutanya akan berubah apabila dalam campuran itu ditambahan salah satu komponen penyusunnya yaitu fenol atau air. Jika komposisi campuran fenol air dilukiskan terhadap suhu akan diperoleh kurva yang ditunjukan pada gambar II.1
(Rahayu, 2011).

L1 L2 A2 A1 B2 B1 T1 T2

T0 XA = 1 XC Molfraksi XF = 1

Grafik rafik II.1 Komposisi Campuran Fenol Air

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-11 BAB II Tinjauan injauan Pustaka L1 adalah fenol dalam air, L2 adalah air dalam fenol, XA dan XF masing-masing adalah mol fraksi air dan mol fraksi fenol, XC adalah mol fraksi komponen pada suhu kritis (Tc). Sistem ini mempunyai suhu kritis (Tc) pada tekanan tetap, yaitu suhu minimum pada saat dua zat bercampur secara homogen dengan komposisi Cc. Pada suhu T1 dengan komposisi di antara A1 dan B1 atau pada suhu T2 dengan komposisi di antara A2 dan B2, sistem berada pada dua fase (keruh). Sedangkan di luar daerah kurva (atau diatas suhu kritisnya, Tc), sistem berada pada satu fase (jernih) (Rahayu, 2011). Temperatur kritis atas Tc adalah batas atas temperatur dimana nterjadi pemisahan fase. Diatas temperatur batas atas, kedua komponen benar benar-benar menghasilkan bercampur.Temperatur ini ada gerakan termal yang lebih besar

kemampuan campur yang lebih besar pada kedua kedu komponen (Atkins, , 1999).

Grafik II.2 Temperatur Kritis Beberapa sistem memperlihatkan temperatur kritis Tc . dimana dibawah temperatur itu kedua komponen bercampur dalam segala perbandingan dan diatas temperatur itu kedua komponen membentuk dua fase. Salah satu contohnya adalah air airtrietilamina. Dalam hal ini pada temperatur rendah kedua komponen lebih dapat campur karena komponen-komponen komponen itu membentuk kompleks yang lemah, pada temperatur lebih lebih tinggi kompleks itu terurai dan kedua komponen komponen kurang dapat bercampur (Atkins,1999). Fenol merupakan senyawa sederhana dimana gugus OH OH berada pada cincin benzen. . Fenol dapat larut dalam air, sekitar 8 gram fenol akan larut dalam 100 gram air. Apabila fenol yang dilarutkan berlebih, maka akan didapatkan dua lapisan. Lapisan atas merupakan air dan lapisan bawah merupakan campuran air dan fenol. Fenol dapat larut

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-12 BAB II Tinjauan injauan Pustaka dalam lam air karena kemampuannya dalam membentuk ikatan hidrogen dengan air (Santoso,
2012).

Fenol bereaksi dengan larutan sodium hidroksida atau NaOH menghasilkan larutan tidak berwarna yang mengandung sodium fenoksida. Dalam reaksi ini, ion hidrogen digantikan oleh natrium sehingga dihasilkan sodium fenoksida dan air. Reaksi fenol dengan sodium bikarbonat atau Na2CO3 dan dengan sodium hidrogenkarbonat atau NaHCO3 tidak dapat berlangsung karena fenol kurang asam untuk bereaksi dengan kedua senyawa ini. Ion karbonat dan ion bikarbonat tidak cukup basa untuk menggantikan hidrogen pada fenol (Santoso, 2012). Fenol dibagi ke dalam dua golongan. Fenol monovalent, yaitu fenol yang hanya menigakt satu gugus hidroksil. Contoh: Phenol, o-Chlorophenol, o Chlorophenol, m m-Cresol, pHydroxybenzoic acid. Fenol polivalen , yaitu fenol yang memiliki banyak gugus hidroksil terikat pada inti fenil. Contoh, catechol, hydroquinone dan resorcinol. Fenol sangat banyak pemanfaatannya dalam kehidupan sehingga disintesis secara besar besarbesaran dalam industri atau diekstrak dari tumbuhan alam (Rahmat, 2012). Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, , yakni 8,3 gram/100 ml. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O yang dapat dilarutkan dalam air (Rahmat, 2012). Dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana ana fenol dapat melepaskan H+. Pada keadaan yang sama, alkohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan pelengkapan orbital antara satu-satunya satu satunya pasangan oksigen dan sistem aromatik, yang mendelokalisasi beban negatif melalui melalui cincin tersebut dan menstabilkan anionnya (Rahmat, 2012). Fenol didapatkan melalui oksidasi sebagian pada benzena atau asam benzoat dengan proses raschig, fenol fenol juga dapat diperoleh sebagai hasil dari oksidasi batu bara
(Rahmat, 2012).

Tidak seperti asam pada umumnya, fenol tidak memberika karbondioksida ketika dicampurkan dengan kedua zat ini. Keadaan ini menguntungkan karena kita dapat mengenali fenol:

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-13 BAB II Tinjauan injauan Pustaka 1.Fenol Fenol tidak larut dalam air 2.Fenol Fenol bereaksi dengan sodium hidroksida membentuk larutan tanpa warna yang mengandung sodium fenoksida
3. Fenol tidak bereaksi dengan sodium bikarbonat maupun sodium hidrogenkarbonat (Clark, Jim. 2004).

Sifat-sifat fenol : a. Mengandung gugus OH, terikat pada sp2-hibrida sp2 b. Mempunyai titik didih yang tinggi c. Mempunyai rumus molekul C6H6O atau C6H5OH d. Fenol larut dalam pelarut organik e. Berupa padatan (kristal) yang tidak berwarna f. Mempunyai massa molar 94,11 gr/mol g. Mempunyai titik didih 181,9C h. Mempunyai titik beku 40,9C
(Supadi, 2012).

Gambar II.1 Struktur Fenol Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di Bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil) tersedia di Bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan lapisan es (di kutub dan puncak-puncak puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. . Air dalam ob objek-objek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah tan (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) ) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia (Anonim, 2013). Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-14 BAB II Tinjauan injauan Pustaka Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen oksigen. Air bersifat tidak berwarna, , tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu padatekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 C). Zat kimia i ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik (Anonim, 2013). Air bersifat tidak berwarna, berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar yaitu 1 atm dan 0 C. Air merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, garam gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik (Anonim, 2009). Air merupakan molekul yang spesifik, untuk molekul yang sejenis atau atom disekitar atom oksigen, seperti nitrogen, flor, dan Posfor, sulfur dan klor, jika berikatan dengan hidrogen membentuk senyawa dalam bentuk gas. Hidrogen berikatan dengan oksigen membentuk air dalam fasa cair, karena oksigen lebih bersifat elektronegatif daripada elemen-elemen elemen laintersebut lain (kecuali flor) (Anonim, 2009). Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-) (Anonim, 2013).

Gambar II.2 Struktur Air

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

II-15 BAB II Tinjauan injauan Pustaka Sifat-sifat sifat air, yaitu : Mempunyai rumus molekul H2O. Satu molekul air tersusun atas dua molekul hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen Air bersifat tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) bar dan temperatur 273,15 K (0C) Air merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untukmelarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-gara garam garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan d banyak macam pelarut organik Air menempel pada sesamanya (kohesi) karena air bersifat polar Air juga mempunyai sifat adesi yang tinggi disebabkan disebabkan oleh sifat alami kepolarannya Air memiliki tegangan permukaan yang besar yang disebabkan oleh kuatnya sifat kohesi antar molekul-molekul molekul air Mempunyai massa molar :18,0153 gr/mol Air mempunyai densitas 0,998 gr/cm3 (berupa fase cairan pada 20C), dan mempunyai densitas 0,92 gr/cm3 (berupa fase padatan) Mempunyai titik lebur : 0C, 273,15 K, 32F Mempunyai titik didih : 100C, 373,15 K, 212F Kalor jenis air yaitu 4184 J/(kg.K) J berupa cairan pada 20C
(Supadi, 2012).

Salah satu contoh ontoh aplikasi kelarutan timbal balik adalah pada proses pembuatan logam besi. Ketika uap panas dimasukkan ke sebuah besi yang panas, uap panas ini akan bereaksi dengan besi dan membentuk sebuah besi oksida magnetik berwarna hitam yang disebut magnetit, Fe3O4. Hidrogen yang terbentuk oleh reaksi ini tersapu oleh aliran uap (Wahyuni, 2012). Dalam keadaan lain, hasil-hasil hasil hasil reaksi ini akan saling bereaksi. Hidrogen yang melewati magnetit panas akan mengubahnya yang kali menjadi besi, dan uap oleh panas aliran juga akan terbentuk. Uap panas ini terbentuk tersapu

hidrogen. Reaksi ini dapat berbalik, tapi dalam keadaan biasa, reaksi ini menjadi reaksi satu arah. Produk dari reaksi satu arah ini berada dalam keadaan terpisah dan tidak dapat bereaksi satu sama lain sehingga reaksi sebaliknya tidak dapat terjadi te (Wahyuni, 2012).

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


III.1 Variabel Percobaan Variabel Bebas : Penambahan aquadest 1,3 ml hingga volume 13 ml dan massa fenol 2,5 gram dan 3,5 gram Variabel Kontrol : Tekanan, zat terlarut, dan zat pelarut Variabel Terikat : Temperatur

III.2

Bahan yang Digunakan 1. Aquadest 2. Fenol (C6H5OH)

III.3

Alat yang Digunakan 1. Gelas ukur 2. Kaca Arloji 3. Pemanas Elektrik 4. Pengaduk 5. Pipet tetes 6. Tabung Reaksi 7. Termometer 8. Timbangan elektrik 9. Waterbath

III.4

Prosedur Percobaan

III.4.1 Percobaan Mencari Temperatur Kritis 1. Menimbang 2,5 gram fenol dan memasukkan ke dalam tabung reaksi besar yang telah dilengkapi dengan termometer dan pengaduk. 2. Menambahkan 1,3 ml aquadest. 3. Memanaskannya dalam waterbath. 4. Mencatat besarnya suhu ketika larutan mulai jernih. 5. Mengangkatnya dari waterbath. 6. Mencatat besarnya suhu ketika larutan mulai keruh. 7. Menambahkan aquadest sesuai variabel volume 1,3 ml. III-1

III-2 BAB III Metodologi etodologi Percobaan 8. Mengulangi tahap 2 sampai 6 hingga volume aquadest 13 ml. 9. Mengulangi tahap 1-8 1 dengan variabel berat fenol sebesar 3,5 gram. III.4.2 Perhitungan Persentase Berat Fenol 1. Menimbang 2,5 gram fenol dan memasukkan ke dalam tabung reaksi besar yang telah dilengkapi dengan thermometer dan pengaduk. 2. Menambahkan 1,3 ml aquadest. 3. Menghitung persentase berat fenol dalam larutan fenol-air fenol air dengan cara membagi 2,5 gram fenol dengan 2,5 gram fenol dan 1,3 gram air. 4. Mengulangi tahap 2 sampai 3 hingga volume aquadest 13 ml. 5. Mengulangi tahap 1-4 1 dengan variabel berat fenol sebesar 3,5 gram gram.

III.5

Diagram Alir Percobaan

III.5.1 Percobaan Mencari Temperatur Kritis Mulai

Menimbang 2,5 gram fenol dan memasukkan ke dalam tabung reaksi besar yang telah dilengkapi dengan termometer dan pengaduk.

Menambahkan 1,3 ml aquadest.

Memanaskannya dalam waterbath.

Mencatat besarnya suhu ketika larutan mulai jernih.

Mengangkatnya dari waterbath.

Mencatat besarnya suhu ketika larutan mulai keruh. Menambahkan ambahkan aquadest sesuai variabel variab volume 1,3 ml.

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

III-3 BAB III Metodologi etodologi Percobaan A

Mengulangi tahap 2 sampai 6 hingga volume aquadest 13 1 ml.

Mengulangi tahap 1-8 1 dengan variabel berat fenol sebesar 3,5 gram.

Selesai III.5.2 Perhitungan Persentase Berat Fenol Mulai

Menimbang 2,5 gram fenol dan memasukkan ke dalam tabung reaksi besar yang telah dilengkapi dengan thermometer dan pengaduk.

Menambahkan 1,3 ml aquadest.

Menghitung persentase berat fenol dalam larutan fenol-air fenol air dengan cara membagi 2,5 gram fenol dengan 2,5 gram fenol dan 1,3 gram air.

Mengulangi tahap 2 sampai 3 hingga volume aquadest 13 1 ml.

Mengulangi tahap 1-4 1 dengan variabel berat fenol sebesar 3,5 gram.

Selesai

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

III-4 BAB III Metodologi etodologi Percobaan III.6 II.6 Gambar Alat Percobaan

Gelas Ukur

Kaca Arloji

Pemanas Elektrik

Pengaduk

Pipet Tetes

Tabung Reaksi

Termometer

Timbangan Elektrik

Waterbath

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

BAB IV HASIL PERCOBAAN dan PEMBAHASAN


IV.1 Hasil Percobaan Dari percobaan timbale balik fenol air yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel IV.1.1 Hasil Percobaan Timbal Balik Fenol Air dengan Variabel Berat 2,5 gram Fenol Aquadest (ml) 1,3 2,6 3,9 5,2 6,5 7,8 9,1 10,4 11,7 13 % BeratFenol (%) 65,79 49,02 39,06 32,47 27,78 24,27 21,55 19,38 17,61 16,13 Suhu (0C) Jernih 60 67 70 71 70 67 65 64 63 63 Keruh 57 65 68 68 67 65 64 63 62 61 Rata-Rata (x)
58,5

66 69 69,5 68,5 66 64,5 63,5 62,5 62

IV-1

IV-2 BAB IV V HasilPercobaandanPembahasan Tabel IV.1.2 Hasil Percobaan Timbal Balik Fenol Air dengan Variabel Berat 3,5 gram Fenol Aquadest (ml) 1,3 2,6 3,9 5,2 6,5 7,8 9,1 10,4 11,7 13 IV.2 Pembahasan Percobaan timbal balik fenol air bertujuan untuk mencari temperatur kritis dari fenol air. Selain itu, percobaan timbal balik fenol air ini juga bertujuan untuk mencari persentase berat fenol dari timbale balik fenol air. Variabel berat fenol yang digunakan dalam percobaan timbal balik fenol air ini adalah 2,5 gram dan 3,5 gram. Sedangkan, untuk variabel penambahan aquadest adalah sebesar 1,3 ml dengan ngan penambahan sebanyak sepuluh kali. % BeratFenol (%) 79,37 65,79 56,18 49,02 43,38 39,06 35,46 32,47 29,94 27,78 Suhu (0C) Jernih 54 65 66 67 67 66 64 63 62 60 Keruh 50 63 64 66 65 64 63 61 59 58 Rata Rata-Rata (
52

64 65 66,5 66 65 63,5 62 60,5 59

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

IV-3 BAB IV V HasilPercobaandanPembahasan 72 70 68 Temperatur (0C) 66 64 62 60 58 56 0 10 20 30 40 50 60 70 Persentase Berat Fenol (%) Grafik IV.2.1 Timbal Balik Fenol-Air denganVariabel berat Fenol 2,5 gram Berdasarkan grafik IV.2.1, dapat dilihat bahwa pada saat persentase berat fenol sebesar 16,13% didapatkan suhu rata-rata larutan dari berubah jernih dan kembali menjadi keruh adalah 620C. Pada saat persentase berat fenol sebesar 17,61% didapatkan suhu rata-ratanya adalah 62,50C. Pada saat persentase berat fenol sebesar 19,38% didapatkan suhu rata-rata rata larutan adalah 63,50C. Untuk persentase berat fenol sebesar 21,55% suhu rata-rata rata larutan adalah 64,50C. Untuk persentase berat fenol sebesar 24,27% suhu rata-rata rata yang didapatkan adalah 660C. Pada persentase berat fenol 27,78% suhu rata-ratanya adalah 68,50C.Untuk persentase berat fenol 32,47% suhu rata rata-rata yang didapatkan adalah 69,50C. Pada persentase berat fenol 39,06% didapatkan suhu rata-ratanya 690C. Untuk ntuk persentase berat fenol sebesar 49,02% suhu rata rata-ratanya adalah 660C.Untuk persentase berat fenol yang terakhir yaitu 65,79% suhu rata rata-rata yang didapatkan adalah 58,50C. Berdasarkan percobaan timbal balik fenol air ini didapatkan temperatur kritisnya adalah adala 69,50C dengan persentase berat fenol adalah 32,47%. Berdasarkan literatur dijelaskan bahwa semakin banyak aquadest yang ditambahkan maka semakin tinggi temperatur kritis fenol air. Temperatur kritis yang didapatkan dari percobaan, tidak sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa komposisi berat fenol 34% dan temperatur emperatur kritis sistem fenol air adalah 660C (Fatmawati, 2011). Kurva yang terbentuk berdasarkan percobaan timbal balik fenol air dengan de variabel berat fenol 2,5 gram adalah parabola. Hal ini sesuai dengan literatur yang Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

IV-4 BAB IV V HasilPercobaandanPembahasan menyatakan bahwa kurva dari timbal balik fenol air adalah parabola, dimana temperatur kritisnya yang merupakan titik puncak dari parabola yaitu 69,50C pada persentase berat fenol 32,4%. Bentuk entuk parabola par ini berdasarkan pada bertambahnya % fenol dalam setiap
perubahan temperatur baik di bawah temperatur kritis(Atkins, 1968).

70 68 66 64 62 60 58 56 54 52 50 0 20 40 60 80 100 Persentase Berat Fenol (%)

Berdasarkan grafik IV.2.2, dapat dilihat bahwa pada saat persentase berat fenol sebesar 27,78% didapatkan suhu rata-rata rata rata larutan dari berubah jernih dan kembali menjadi keruh adalah 590C. Pada saat persentase berat fenol sebesar 29,44% didapatkan suhu rata rataratanya adalah 60,50C. Pada saat persentase berat fenol sebesar 32,47% didapatkan suhu rata-rata rata larutan adalah 62 6 0C. Untuk persentase berat fenol sebesar 35,46% suhu ratarata larutan adalah 63,50C. Untuk persentase berat fenol sebesar 39,06% suhu rata-rata yang didapatkan adalah 65 6 0C. Pada persentase berat fenol 43,38% suhu rata rata-ratanya adalah 660C.Untuk persentase berat fenol 49,02% suhu rata-rata rata yang didapatkan adalah 66,50C. Pada persentase berat fenol 56,18% didapatkan suhu rata-ratanya ratanya 6 650C. Untuk persentase berat fenol sebesar 65,79% suhu rata-ratanya adalah 640C.Untuk persentase berat fenol yang terakhir yaitu 79,37% suhu rata-rata yang ang didapatkan adalah 520C. Berdasarkan percobaan timbal balik fenol air ini didapatkan didapatkan temperatur kritisnya adalah 66,50C dengan persentase berat fenol adalah 49,02%. %. Berdasarkan literatur dijelaskan bahwa semakin banyak aquadest aquades yang ditambahkan maka semakin tinggi temperatur kritis fenol air. Temperatur kritis yang didapatkan dari percobaan, tidak sesuai dengan

Temperatur (0C)

Grafik IV.2.2 Timbal Balik Fenol-Air dengan Variabel Berat Fenol 3,5 gram

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

IV-5 BAB IV V HasilPercobaandanPembahasan literatur yang menyatakan bahwa komposisi berat fenol 34% dan t temperatur kritis sistem fenol air adalah 660C (Fatmawati, 2011). Kurva yang terbentuk berdasarkan percobaan timbal balik fenol air dengan variabel berat fenol 3,5 ,5 gram adalah parabola. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa kurva dari timbal balik fenol air adalah parabola, dimana temperatur kritisnya yang merupakan titik tit puncak dari parabola yaitu 66,50C pada persentase berat fenol 49,02%. %. Bentuk parabola ini berdasarkan pada bertambahnya % fenol dalam setiap
perubahan temperatur baik di bawah temperatur kritis(Atkins, 1968).

82 78 74 Temperatur (0C) 70 66 62 58 54 50 46 0 20 40 60 80 100 Persentase Berat Fenol (%) Grafik IV.2.3PerbandinganTimbalBalikFenol-Air PerbandinganT VariabelBeratFenol eratFenol 2,5 gram denganBeratFenol 3,5 gram Berdasarkan grafik IV.2.3 IV.2.3, dapat dilihat bahwa kesamaan antara kurva timbal balik fenolair dengan variabel 2,5 2 gramfenoldankurva dankurva timbal balik fenolair dengan variabel 3,5 gramfenol, , dimana pada kurva timbal balik fenolair dengan variabel 2,5 2 gram dan 3,5 gram keduanya membentuk parabola. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa grafik timbal balik fenol air berbentuk parabola p (Atkins, 1968). Selain itu, temperatur fenol dengan variabel berat 2,5 gram lebih tinggi dibandingkan dengan 3,5 gram, karena temperatur pada percobaan timbal balik fenol dipengaruhi oleh zat terlarut dan pelarut. Hal ini tidak sesuai dengan literatur bahwa, semakin banyak zat yang terlarut maka semakin lama larutan tersebut untuk mendidih sehingga suhunya menjadi lebih tinggi. Zat at terlarut dalam larutan timbal balik fenol fenol-air Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

IV-6 BAB IV V HasilPercobaandanPembahasan 3,5 gram lebih banyak daripada zat terlarut dalam larutan timbal balik fenol air 2,5 gram. Sehingga, semakin banyak zat terlarut maka semakin lama larutan tersebut untuk mendidih sehingga suhunya menjadi lebih lebih besar. Selain itu titik didih zat terlarut dan pelarut pun mempengaruhi temperatur larutan (Yistika, 2012). Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat dibuktikan bahwa kelarutan timbal balik fenol-air kelarutanya akan berubah apabila ke dalam campuran itu ditambahkan dengan salah satu komponen penyusunnya yaitu fenol dan air. Perubahan warna larutan dari keruh menjadi jernih dan dari jernih menjadi keruh menandakan kalau zat mengalami perubahan kelarutan yang dipengaruhi oleh perubahan suhu. Kelarutan timbal imbal balik adalah kelarutan dari suatu larutan yang bercampur sebagian bila temperaturnya di bawah temperatur kritis. Jika mencapai temperatur kritis, maka larutan tersebut dapat bercampur sempurna (homogen) dan jika temperaturnya telah melewati temperatur temperatur kritis maka sistem larutan tersebut akan kembali dalam kondisi bercampur sebagian lagi. Salah satu contoh dari temperatur timbal balik adalah kelarutan fenol dalam air yang membentuk kurva parabola yang berdasarkan pada bertambahnya % fenol dalam setiap perubahan temperatur baik di bawah temperatur kritis. Jika temperatur dari dalam kelarutan fenol aquadest dinaikkan di atas 50C maka komposisi larutan dari sistem larutan tersebut akan berubah. Kandungan fenol dalam air untuk lapisan atas akan bertambah (lebih (lebih dari 11,8 %) dan kandungan fenol dari lapisan bawah akan berkurang (kurang dari 62,6 %). Pada saat suhu kelarutan mencapai 66C maka komposisi sistem larutan tersebut menjadi seimbang dan keduanya dapat dicampur dengan sempurna(Atkins PW, 1999).

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan timbal balik fenol air yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Pada hasil percobaan timbal balik fenol air dengan variabel berat fenol adalah 2,5 gram memiliki grafik berbentuk parabola dan memiliki puncak kurva yang merupakan temperatur kritis. Temperatur kritis yang dicapai pada percobaan ini adalah 69,50c dengan persentase berat fenol adalah 32,47%. 2. Pada hasil percobaan timbal balik fenol air dengan variabel berat fenol adalah 3,5 gram memiliki grafik berbentuk parabola dan memiliki puncak kurva yang merupakan temperatur kritis. Temperatur kritis yang dicapai pada percobaan ini adalah 66,50c dengan persentase berat fenol adalah 49,02%. 3. Temperatur fenol pada variabel berat 2,5 gram lebih tinggi jika dibandingkan dengan variabel berat fenol sebesar 3,5 gram. Hal ini disebabkan karena temperatur dalam percobaan dipengaruhi oleh zat terlarut dan pelarut. Temperatur timbal balik fenol air pada variabel berat 2,5 gram lebih tinggi jika dibandingkan dengan 3,5 gram dikarenakan jumlah zat terlarutya lebih kecil dan volume aquadest yang ditambahkan sama sehingga semakin lama larutan tersebut mendidih sehingga semakin tinggi temperaturnya. 4. Faktor-fator yang mempengaruhi kelarutan pada percobaan timbal balik fenol air ini adalah suhu atau temperatur, jenis zat terlarut dan zat pelarut, pengadukan, konsentrasi, ion senama, dan luas permukaan. Zat yang memiliki kemolaran sejenis dapat saling melarutkan. Pengaturan suhu yang disesuaikan dengan titik didih zat yang digunakan akan mempercepat kelarutan. Semakin kecil luas permukaan zat maka semakin cepat zat terebut bereaksi agar dapat melarut.

V-1

III-2 BAB III Metodologi etodologi Percobaan

Laboratorium Kimia F Fisika Program Studi D3 Teknik K Kimia

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2009, Agustus 14). Forum Positif dar dahlanforum. Retrieved Desember 25, 2013, from Forum Positif dar dahlanforum web site:

http://dahlanforum.wordpress.com/2009/08/14/air-h2o-senyawa-yang-palingmelimpah-di-muka-bumi/ Anonim. (2012, Oktober 21). Numero Uno. Retrieved Desember 25, 2013, from Numero Uno: http://2011-numerouno.blogspot.com/2012/10/timbal-balik-fenol-air.html Anonim. (2013, September 22). Wikipedia. Retrieved Desember 25, 2013, from Wikipedia Ensiklopedia Bebas: http://id.wikipedia.org/wiki/Air Cahaya. (2012). Stuff about Chemist. Retrieved Desember 18, 2013, from Stuff about Chemist web site: http://sitinursiami4ict.wordpress.com/education/laporan-

praktikum-kimia-fisika-kelarutan-timbal-balik-sistem-biner-fenol-air/ Fatimah, N. (2013, April 15). Afnan Aziz. Retrieved Desember 25, 2013, from Afnan Aziz web site: http://dakwahkamp.blogspot.com/2013/04/laporan-praktikum-

kesetimbangan-fasa.html Friskaiga. (2012, Januari 16). Retrieved Desember 18, 2013, from

http://friskaiga.blogspot.com/2012/01/menentukan-suhu-kritik-fenol-air.html Lailatul. (2013, Juli 13). Titoel's. Retrieved Desember 25, 2013, from Titoel's Blog: http://lailatul27.wordpress.com/2013/07/13/laporan-praktikum-2/ Medisa, E. (2013, Maret 09). Eldesi Medisa. Retrieved Desember 18, 2013, from Eldesi Medisa Web Site: http://eldesimedis.blogspot.com/2013/03/laporan-resmi-

praktikum-kimia-fisika.html Nay. (2011 , Nopember 29). NAY. Retrieved Desember 18, 2013, from NAY Blog's: http://didahchem.blogspot.com/2011/11/sistem-biner-fenol-air.html Rahayu, I. P. (2011, Nopember). Kimia Itu Indah. Retrieved Desember 18, 2013, from Kimia Itu Indah Web Site:

http://ezzamogy.blogspot.com/2011/11/laporanpraktikum-kimia-fisika.html Rahmat, Y. K. (2012, Nopember). Yoga Kevan Rahmat Farmasi Hiburan. Retrieved Desember 25, 2013, from blogspot web site:

http://yoggazta.blogspot.com/2012/11/laporan-praktikum-fenol-kfa.html Rohayati, & Safitri, N. (2013). KELARUTAN TIMBAL BALIK SISTEM BINER FENOL AIR. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

vi

Santoso, B. (2012, Desember 2). Budi Santoso. Retrieved Desember 25, 2013, from Budi Santoso Web Site: http://inisantoso.wordpress.com/2012/12/02/fenol/ Sukardjo. (1989). Kimia Fisika. Jakarta: Rineka Cipta. Supadi. (2010, Desember 1). Supadi. Retrieved Desember 25, 2013, from Supadi Blo: http://www-supadi.blogspot.com/2010/12/kelarutan-timbal-balik.html Wahyuni, I. T. (2012, Oktober 2). Ita. Retrieved Desember 25, 2013, from Ita Blog: http://itatrie.blogspot.com/2012/10/laporan-kimia-fisika-kelarutan-timbal.html Widiyanti. (2011). Widiyanti4itc. Retrieved Desember 18, 2013, from Widiyanti4ict Web Site: http://widiyanti4ict.wordpress.com/mata-kuliah/kimia-fisika/kelarutan-timbalbalik-sistem-biner-fenol-air/ Yustika, A. (2012). LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELARUTAN TIMBAL BALIK SISTEM BINER FENOL-AIR. Semarang.

vii

DAFTAR NOTASI
Simbol m T V N M Keterangan Massa Temperatur Volume Normalitas Molaritas Satuan gram
0

L N M

viii

APPENDIKS
1. Menghitung Suhu Rata-Rata dengan Variabel Berat Fenol 2,5 gram Volume Aquadest 1,3 ml T jernih + T keruh 2 60 + 57 T= 2 T= T = 58,5 0C Volume Aquadest 2,6 ml T jernih + T keruh 2 67 + 65 T= 2 T= T = 66 0C Volume Aquadest 3,9 ml T jernih + T keruh 2 70 + 68 T= 2 T= T = 69 0C Volume Aquadest 5,2 ml T jernih + T keruh 2 71 + 68 T= 2 T= T = 69,5 0C Volume Aquadest 6,5 ml T jernih + T keruh 2 70 + 67 T= 2 T= T = 68,5 0C Volume Aquadest 7,8 ml T jernih + T keruh 2 67 + 65 T= 2 T= T = 66 0C Volume Aquadest 9,1 ml T jernih + T keruh 2 65 + 64 T= 2 T= T = 64,5 0C Volume Aquadest 10,4 ml T jernih + T keruh 2 64 + 63 T= 2 T= T = 63,5 0C Volume Aquadest 11,7 ml T jernih + T keruh 2 63 + 62 T= 2 T= T = 62,5 0C Volume Aquadest 13 ml T jernih + T keruh 2 63 + 61 T= 2 T= T = 62 0C

ix

2. Menghitung Persen Berat Fenol dengan Variabel Berat Fenol 2,5 gram Volume Aquadest 1,3 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 2,5 100 % 1,3 + 2,5 Volume Aquadest 7,8 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 2,5 100 % 7,8 + 2,5

Volume Aquadest 2,6 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campran 2,5 100 % 2,6 + 2,5

%W = 65,79 %

%W =

%W =

Volume Aquadest 9,1 ml Berat Terlarut 100 % Berat Pelarut 2,5 100 % %W = 9,1 + 2,5 %W = Volume Aquadest 10,4 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 2,5 100 % 10,4 + 2,5 %W = 21,55 %

%W = 24,27 %

%W =

Volume Aquadest 3,9 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 2,5 100 % 3,9 + 2,5 Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 2,5 100 % 5,2 + 2,5

%W = 49,02 %

%W =

Volume Aquadest 5,2 ml %W =

%W = 39,06 %

Volume Aquadest 11,7 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 2,5 100 % 11,7 + 2,5

%W = 19,38 %

%W =

Volume Aquadest 6,5 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran

%W = 32,47 %

%W =

Volume Aquadest 13 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 2,5 100 % 13 + 2,5

%W = 17,61 %

%W =

%=

2,5 100 % 6,5 + 2,5

% = 27,78 %

%W = 16,13 %

%W =

3. Menghitung Suhu Rata-Rata dengan Variabel Berat Fenol 3,5 gram Volume Aquadest 1,3 ml T jernih + T keruh 2 54 + 50 T= 2 T= T = 52 0C Volume Aquadest 2,6 ml T jernih + T keruh 2 65 + 63 T= 2 T= T = 64 0C Volume Aquadest 3,9 ml T jernih + T keruh 2 66 + 64 T= 2 T= Volume Aquadest 5,2 ml T jernih + T keruh 2 67 + 66 T= 2 T= T = 66,5 0C Volume Aquadest 6,5 ml T jernih + T keruh 2 67 + 65 T= 2 T= T = 66 0C T = 65 0C Volume Aquadest 7,8 ml T jernih + T keruh 2 66 + 64 T= 2 T= T = 65 0C Volume Aquadest 9,1 ml T jernih + T keruh 2 64 + 63 T= 2 T= T = 63,5 0C Volume Aquadest 10,4 ml T jernih + T keruh 2 63 + 61 T= 2 T= T = 62 0C Volume Aquadest 11,7 ml T jernih + T keruh 2 62 + 59 T= 2 T= T = 60,5 0C Volume Aquadest 13 ml T jernih + T keruh 2 60 + 58 T= 2 T= T = 59 0C

xi

4. Menghitung Persen Berat Fenol dengan Variabel Berat Fenol 3,5 gram Volume Aquadest 1,3 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 1,3 + 3,5 Volume Aquadest 7,8 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 7,8 + 3,5

Volume Aquadest 2,6 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 2,6 + 3,5

%W = 79,37 %

%W =

%W =

Volume Aquadest 9,1 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 9,1 + 3,5

%W = 39,06 %

Volume Aquadest 3,9 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 3,9 + 3,5

%W = 65,79 %

%W =

%W =

Volume Aquadest 10,4 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 10,4 + 3,5

%W = 35,46 %

Volume Aquadest 5,2 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 5,2 + 3,5

%W = 56,18 %

%W =

Volume Aquadest 11,7 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 11,7 + 3,5

%W = 32,47 %

%W =

Volume Aquadest 6,5 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 6,5 + 3,5

%W = 49,02 %

%W =

Volume Aquadest 13 ml %W = Berat Terlarut 100 % Berat Campuran 3,5 100 % 13 + 3,5

%W = 29,94 %

%W =

%W = 43,38 %

%W =

%W =

%W = 27,78 %

xii

Anda mungkin juga menyukai