Anda di halaman 1dari 51

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

LABORATORIUM KIMIA FISIKA Percobaan : Destilasi Biner Kelompok : VI A Nama : 1. Aristania Nila

Percobaan

:

Destilasi Biner

Kelompok

:

VI A

Nama

:

1.

Aristania Nila Wagiswari

NRP.

2313 030 005

2.

Revani Nuriawati

NRP.

2313 030 019

3.

M. Fikri Dzulkarnain Rimosan

NRP.

2313 030 037

4.

Rio Sanjaya

NRP.

2313 030 065

5.

Nur Annisa Oktaviana

NRP.

2313 030 089

Tanggal Percobaan

Tanggal Penyerahan

Dosen Pembimbing

Asisten Laboratorium

: 25 November 2013

: 2 Desember 2013

: Nurlaili Humaidah, S.T., M.T.

: Dhaniar Rulandri W.

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

2013

ABSTRAK Tujuan dari percobaan destilasi biner adalah untuk mengetahui cara menentukan titik azeotrop pada campuran kloroform dan aseton serta mengetahui titik azeotropnya, dan menghasilkan komposisi yang sama antara fasa uap dan fasa cairnya. Praktikum ini dimulai dari pemasangan peralatan destilasi lengkap. Setelah itu Menyiapkan 20 buah botol parfum 10 ml untuk wadah sampel dan memberi label yaitu 1 L hingga 10 L untuk tempat residu dan 1 V sampai 10 V untuk tempat destilat. Volume sampel yang diambil sebanyak 2 ml. Memasukkan 50 ml aseton murni kedalam labu, mendidihkannya, dan mencatat titik didihnya yang besarnya harus sekitar 56,5˚C pada 760 mmHg. Selanjutnya mengumpulan sampel sebanyak 2 ml sebagai 1 L dan 1 V. Lalu melakukan percobaan tersebut sampai mendapatkan 10 L dan 10 V, tetapi dengan variable kontrol dari volume klorofrom dan volume aseton yang berbeda dan juga dengan variabel bebas yaitu suhu. Menghitung indeks bias masing-masing dari sampel. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa destilasi merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan dalam penguapan suatu bahan. Azeotrop merupakan campuran dua atau lebih komponen pada suatu komposisi tertentu di mana komposisi tersebut tidak bisa berubah hanya dengan destilasi biasa. Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah indeks bias yang terjadi adalah fluktuatif, kami mengasumsikan bahwa hal ini dapat terjadi karena terdapat beberapa titik pada alat yang bocor dan menguap pada saat proses distilasi. Indeks bias tertinggi adalah indeks bias residu 7 L pada temperature 56,5°C yaitu 1,434. Sedangkan indeks bias terendah adalah indeks bias residu 1 L pada suhu 56,5°C yaitu 1,354. Titik azeotrop campuran kloroform dan aseton pada percobaan adalah 64,8°C. Komposisi campuran azeotrop pada percobaan kami adalah 28% kloroform dan 72% aseton.

i

DAFTAR ISI

ABSTRAK

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR GAMBAR

iii

DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR GRAFIK

v

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang

I-1

I.2

Rumusan Masalah

I-1

I.3

Tujuan

I-1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Dasar Teori

II- 1

II.1.1 Dasar-dasar Metode Pemisahan

II -1

II.1.2 Macam-macam Metode Pemisahan

II- 2

II.1.3 Destilasi

II- 2

II.1.4 Prinsip Destilasi

II- 3

II.1.5 Destilator

II- 4

II.1.6 Destilasi Biner

II- 4

II.1.7.Titik Azeotrop

II- 5

II.1.8.Hukum-hukum pada destilasi BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

II- 6

III.1

Variabel Percobaan

III-1

III.1.1 Variabel Bebas

III-1

III.1.2 Variabel Terikat

III-1

III.1.3

Variabel Kontrol

III-1

III.2

Alat Percobaan

III-1

III.3

Bahan Percobaan

III-1

III.4

Prosedur Percobaan

III-1

III.4

Diagram Alir Percobaan

III-3

III.5

Gambar Alat Percobaan

III-6

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Tabel Hasil Percobaan

IV-1

IV.2 Pembahasan

IV-1

BAB V KESIMPULAN

V-1

NOTASI

vi

APENDIKS

vii

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN :

viii

Laporan Sementara

Literatur

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1.5.1 Destilator

II-4

Gambar II.1.7.1 Kurva Saturated Vapor dan Saturated Liquid

II-5

Gambar II.4.1.1

Kurva Kesetimbangan Uap Cair Campuran

II-6

Gambar III.6.1.1 Gambar Alat

III-5

iv

DAFTAR GRAFIK

Grafik IV.2.1 Titik Azeotrop Residu-Destilat

IV-3

Grafik IV.2.2 Grafik Hubungan Fraksi Mol dengan Suhu

IV-4

v

DAFTAR TABEL

Tabel IV.1.1 Indeks bias residu (L) Fraksi mol pada campuran aseton-kloroform

IV-1

Tabel IV.1.2 Indeks bias destilat (V) Fraksi mol pada campuran aseton-kloroform

IV-2

iv

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Dewasa ini pembelajaran kimia fisika sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Pemahaman akan kimia fisika penting mengingat segala peristiwa berkaitan dengan konsep dan hukum kimia fisika. Sangat penting untuk melakukan praktikum ini karena dalam dunia industri, hampir semua hal mengaplikasikan konsep praktikum kimia fisika. Selain itu, dari praktikum kita dapat mengaplikasikan dari teori yang didapat sehingga mengetahui proses dan cara kerja yang sebenarnya dan tidak sekedar mengetahui teori saja.

Salah satu bab dalam kimia fisika yang dapat dibahas dan dipelajari dalam praktikum adalah binary liquid. Binary liquid untuk mengetahui dan menentukan titik azeotrop pada sistem biner antara kloroform dan aseton. Binary liquid disebut juga dengan proses destilasi biner. Pengertian distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volalitas) suatu bahan. Dalam penyulingan, campuran zat didihkan hingga menguap dan uap ini kemudian didinginkan kembali kedalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Dalam binary liquid, dimana cairan zat yang digunakan adalah campuran kloroform dan aseton dengan komposisi yang variasi. I.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara menghitung menentukan dan mengetahui titik azeotrop pada sistem biner antara kloroform dan aseton? I.3 Tujuan Percobaan 1. Untuk mengetahui cara menentukan dan mengetahui titik azeotrop pada sistem biner antara kloroform dan aseton.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori Secara mendasar, proses pemisahan dapat diterangkan sebagai proses perpindahan massa yang terdiri dari proses pemisahan secara mekanis dan kimiawi. Pemilihan jenis pemisahan bergantung pada kondisi campuran. Pemisahan secara mekanis dilakukan kapanpun karena lebih mudah dan biaya operasinya lebih murah. Untuk campuran yang tidak dapat dipisahkan melalui proses pemisahan mekanis (seperti pemisahan minyak bumi), maka dapat menggunakan proses pemisahan kimiawi. Proses pemisahan suatu campuran dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode pemisahan bergantung pada fasa komponen penyusun campuran, campuran homogen (satu fasa) atau campuran heterogen (lebih dari satu fasa). Campuran heterogen meliputi:

padat- padat, padat-cair, padat-gas, cair-cair, cair-gas, gas-gas, campuran padat-cair-gas, dan sebagainya. Pada berbagai kasus, dua atau lebih proses pemisahan harus dikombinasikan untuk mendapatkan hasil pemisahan yang diinginkan (Wikipedia, 2013). II.1.1 Dasar-dasar Metode Pemisahan Suatu zat dapat dipisahkan dari campurannya karena mempunyai perbedaan sifat.Hal ini dinamakan dasar pemisahan. Beberapa dasar pemisahan campuran adalah sebagai berikut :

1. Ukuran Partikel Jika dalam suatu campuran terdapat perbedaan ukuran partikel, maka dapat dipisahkan dengan media penyaring yang disesuaikan dengan ukuran zat partikel yang diinginkan.

2. Titik Didih Jika suatu campuran terdapat zat yang berbeda titik didihnya, maka dapat dipisahkan dengan distilasi dengan kontrol suhu yang ketat (agar tidak melewati titik didih campuran), sehingga zat dari campuranya dapat dipisahkan dengan baik.

3. Kelarutan Suatu zat memiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, dengan melihat kelarutan zat yang berbeda dalam campurannya, maka zat yang diinginkan dapat dipisahkan menggunakan pelarut tertentu.

4. Pengendapan Suatu zat memiliki kecepatan mengendap yang berbeda dalam suatu campuran yang dapat dipisahkan dengan metode sedimentasi atau sentrifugasi (satu zat) dan metode presipitasi yang dikombinasi dengan filtrasi (lebih dari satu zat).

II-1

II-2 BAB II Tinjauan Pustaka 5. Difusi Dua zat berwujud cair atau gas bila dicampur

II-2

BAB II Tinjauan Pustaka

II-2 BAB II Tinjauan Pustaka 5. Difusi Dua zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat

5. Difusi Dua zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat berdifusi satu sama lain yang gerak partikelnya dipengaruhi oleh muatan listrik. Pemisahannya menggunakan metode elektrodialisis dan metode elektroforesis.

6. Adsorbsi Penarikan suatu zat oleh bahan pengadsorbsi secara kuat sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorbsi (Primasiswa, 2013).

II.1.2 Macam-macam Metode Pemisahan Untuk proses pemisahan suatu campuran heterogen, terdapat beberapa proses pemisahan, yaitu:

1. Sedimentasi

2. Sentrifugasi

3. Filtrasi

Untuk proses pemisahan suatu campuran homogen, terbentuknya suatu fase baru (terbentuk dari perbedaan sifat fisik dan kimiawi) sehingga campuran heterogen mudah dipisahkan. Metode yang digunakan untuk terjadinya suatu fase baru, yaitu:

1. Absorpsi atau penyerapan

2. Adsorpsi atau penjerapan

3. Kromatografi

4. Distilasi atau penyulingan

5. Ekstraksi

6. Sublimasi

(Wikipedia, 2013)

II.1.3 Destilasi Destilasi adalah teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan titik didih dari zat penyusun campuran. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Proses destilasi terdapat dua tahap proses: tahap penguapan dilanjutkan tahap pengembangan kembali uap menjadi cair atau padatan.

tahap pengembangan kembali uap menjadi cair atau padatan. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-3 BAB II Tinjauan Pustaka Pembagian Destilasi adalah sebagai berikut: 1. Distilasi berdasarkan proses, yaitu

II-3

BAB II Tinjauan Pustaka

II-3 BAB II Tinjauan Pustaka Pembagian Destilasi adalah sebagai berikut: 1. Distilasi berdasarkan proses, yaitu :

Pembagian Destilasi adalah sebagai berikut:

1. Distilasi berdasarkan proses, yaitu :

a. Distilasi Kontinyu

b. Distilasi Batch

2. Berdasarkan basis tekanan operasi, yaitu :

a. Distilasi Atmosferis

b. Distilasi Vakum

c. Distilasi Tekanan

3. Berdasarkan komponen penyusun, yaitu :

a. Destilasi Sistem Biner

b. Destilasi Sistem Multi Komponen

4. Berdasarkan sistem operasi, yaitu :

a. Distilasi Sederhana

b. Distilasi Bertingkat

(D. Andrian, 2012)

II.1.4 Prinsip Destilasi Pada operasi destilasi, terjadinya pemisahan didasarkan pada gejala bila campuran zat cair dalam keadaan setimbang dengan uapnya, maka fasa uapnya akan lebih banyak mengandung komponen yang lebih mudah menguap. Apabila uap tersebut kemudian dikondensasikan, maka akan didapatkan cairan yang berbeda komposisinya dari cairan yang pertama. Cairan yang didapatkan dari kondensasi mengandung lebih banyak komponen yang lebih mudah menguap (volatile). Bila cairan yang berasal dari kondensasi diuapkan lagi sebagian, maka didapatkan uap dengan komponen volatile yang lebih tinggi. Keberhasilan destilasi tergantung pada keadaan setimbang yang terjadi antara fasa uap dan fasa cair dari suatu campuran biner yang terdiri dari komponen volatile dan non-volatile (Perry's, 1988).

komponen volatile dan non-volatil e (Perry's, 1988). Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-4 BAB II Tinjauan Pustaka II.1.5 Destilator Gambar II.1.5.1 Destilator Gambar di atas merupakan alat

II-4

BAB II Tinjauan Pustaka

II-4 BAB II Tinjauan Pustaka II.1.5 Destilator Gambar II.1.5.1 Destilator Gambar di atas merupakan alat destilasi

II.1.5 Destilator

II-4 BAB II Tinjauan Pustaka II.1.5 Destilator Gambar II.1.5.1 Destilator Gambar di atas merupakan alat destilasi

Gambar II.1.5.1 Destilator Gambar di atas merupakan alat destilasi atau yang disebut destilator. Yang terdiri dari thermometer, labu didih, steel head, pemanas, kondensor, dan labu penampung destilat. Termometer digunakan untuk mengukur suhu uap zat cair yang didestilasi selama proses destilasi berlangsung yang harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Berskala suhu tinggi yang diatas titik didih zat cair yang akan didestilasi.

b. Ditempatkan pada labu destilasi atau steel head dengan ujung atas reservoir HE sejajar

dengan pipa penyalur uap ke kondensor. Labu didih berfungsi sebagai tempat suatu campuran zat cair yang akan didestilasi. Steel head berfungsi sebagai penyalur uap atau gas yang akan masuk ke alat pendingin (kondensor) dan biasanya labu destilasi dengan leher yang berfungsi sebagai steel head. Kondensor memiliki 2 celah, yaitu celah masuk dan celah keluar yang berfungsi untuk aliran uap hasil reaksi dan untuk aliran air keran. Pendingin yang digunakan biasanya adalah air yang dialirkan dari dasar pipa agar bagian dari dalam pipa lebih lama mengalami kontak dengan air sehingga pendinginan lebih sempurna dan hasil yang diperoleh lebih sempurna. Penampung destilat bisa berupa erlenmeyer, labu, ataupun tabung reaksi tergantung pemakaiannya. Pemanasnya juga dapat menggunakan penangas, ataupun mantel listrik yang biasanya sudah

terpasang pada destilator (Petrokimia SMK, 2013). II.1.6 Destilasi Biner Distilasi biner campuran azeotrop propanol-etil asetat dengan metode Pressure Swing Distillation, prinsip yang digunakan yaitu pada tekanan yang berbeda, komposisi azeotrop suatu campuran akan berbeda pula. Berdasarkan itu, distilasi dilakukan bertahap menggunakan dua kolom distilasi yang beroperasi pada tekanan yang berbeda. Kolom

distilasi yang beroperasi pada tekanan yang berbeda. Kolom Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-5 BAB II Tinjauan Pustaka distilasi pertama memiliki tekanan operasi yang lebih tinggi. Penerapannya didasarkan

II-5

BAB II Tinjauan Pustaka

II-5 BAB II Tinjauan Pustaka distilasi pertama memiliki tekanan operasi yang lebih tinggi. Penerapannya didasarkan pada

distilasi pertama memiliki tekanan operasi yang lebih tinggi. Penerapannya didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya.

Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton (Himka Polban, 2012).

II.1.7. Titik Azeotrop Campuran azeotrop (constant boiling mixture) adalah campuran suatu zat yang memiliki titik didih minimal atau titik didih maksimal, tergantung dari tekanan yang dipakai untuk konstrasi tertentu. Komposisi tersebut tidak bisa berubah hanya melalui distilasi biasa. Ketika campuran azeotrop dididihkan, fasa uap yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama dengan fasa cairnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar kurva di bawah ini.

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar kurva di bawah ini. Gambar II.1.7.1 Kurva Saturated Vapor dan Saturated

Gambar II.1.7.1 Kurva Saturated Vapor dan Saturated Liquid

Titik A pada pada kurva merupakan boiling point

Kondensat kemudian dididihkan, didinginkan, dan seterusnya hingga mencapai titik azeotrop. Pada titik azeotrop, proses tidak dapat diteruskan karena komposisi campuran akan selalu tetap. Pada gambar di atas, titik azeotrop digambarkan sebagai pertemuan antara kurva saturated vapor dan saturated liquid. Produk bawah kolom pertama menghasilkan ethyl acetate murni sedangkan produk atasnya menghasilkan campuran propanol-ethyl acetate yang komposisinya mendekati komposisi azeotropnya. Produk atas kolom pertama kemudian didistilasi kembali pada kolom yang bertekanan lebih rendah (kolom kedua). Produk bawah kolom kedua menghasilkan propanol murni sedangkan produk atasnya menghasilkan campuran propanol-ethyl acetate yang komposisinya mendekati komposisi azeotropnya. Berikut ini adalah gambar kurva kesetimbangan uap cair campuran propanol-etil asetat pada tekanan tinggi dan rendah.

propanol-etil asetat pada tekanan tinggi dan rendah. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-6 BAB II Tinjauan Pustaka Gambar II.1.7.2 Kurva Kesetimbangan Uap Cair Campuran Propanol Asetat pada

II-6

BAB II Tinjauan Pustaka

II-6 BAB II Tinjauan Pustaka Gambar II.1.7.2 Kurva Kesetimbangan Uap Cair Campuran Propanol Asetat pada Tekanan
II-6 BAB II Tinjauan Pustaka Gambar II.1.7.2 Kurva Kesetimbangan Uap Cair Campuran Propanol Asetat pada Tekanan

Gambar II.1.7.2 Kurva Kesetimbangan Uap Cair Campuran Propanol Asetat pada Tekanan Tinggi dan Tekanan Rendah Dari kurwa diatas dapat dilihat bahwa feed masuk kolom pada temperatur 108,2 C dengan komposisi propanol 0,33. Pada kolom pertama (P=2,8 atm), komposisi azeotrop yaitu sebesar 0,5 sehingga distilat yang diperoleh berkisar pada nilai tersebut sedangkan bottom yang diperoleh berupa ethyl acetate murni.Untuk memperoleh propanol murni, distilat kemudian didistilasi lagi pada kolom kedua (P=1,25 atm). Distilat ini memasuki kolom kedua pada temperatur 82,6 C. Komposisi azeotrop pada kolom kedua yaitu 0,38 sehingga kandungan propanol pada distilat berkisar pada nilai tersebut. Senyawa senyawa yang terdapat dalam campuran akan menguap pada saat mencapai titik didih masing masing (Himka Polban,

2012).

II.1.8. Hukum-hukum pada Destilasi Hukum-hukum yang mendasari dari proses destilasi adalah Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

1. Hukum Raoult Hukum ini mengasumsikan bahwa komponen memberikan kontribusi terhadap total tekanan uap campuran dalam sebanding dengan persentase campuran dan tekanan uap ketika murni, atau dengan ringkas: tekanan parsial sama dengan fraksi mol dikalikan dengan tekanan uap ketika murni. Jika salah satu perubahan komponen komponen lain

murni. Jika salah satu perubahan komponen komponen lain yang tekanan uap, atau jika volatilitas komponen tergantung
murni. Jika salah satu perubahan komponen komponen lain yang tekanan uap, atau jika volatilitas komponen tergantung
murni. Jika salah satu perubahan komponen komponen lain yang tekanan uap, atau jika volatilitas komponen tergantung
murni. Jika salah satu perubahan komponen komponen lain yang tekanan uap, atau jika volatilitas komponen tergantung
murni. Jika salah satu perubahan komponen komponen lain yang tekanan uap, atau jika volatilitas komponen tergantung

yang tekanan uap, atau jika volatilitas komponen tergantung pada persentase dalam campuran, hukum akan gagal.

tergantung pada persentase dalam campuran, hukum akan gagal. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-7 BAB II Tinjauan Pustaka 2. Hukum Dalton Hukum ini menyatakan bahwa tekanan uap total

II-7

BAB II Tinjauan Pustaka

II-7 BAB II Tinjauan Pustaka 2. Hukum Dalton Hukum ini menyatakan bahwa tekanan uap total adalah

2. Hukum Dalton Hukum ini menyatakan bahwa tekanan uap total adalah jumlah dari tekanan uap masing- masing komponen dalam campuran. Ketika multi-komponen cair dipanaskan, tekanan uap setiap komponen akan meningkat, sehingga menyebabkan tekanan uap total meningkat. Ketika tekanan uap total mencapai tekanan yang mengelilingi cair, mendidih terjadi dan berubah ke gas cair di seluruh sebagian besar cairan. Perhatikan bahwa campuran dengan komposisi tertentu memiliki satu titik didih pada tekanan tertentu, ketika komponen saling larut.

P t = P A + P B + P C +

+P N

(Sukardjo, 1985)

= P A + P B + P C + +P N (Sukardjo, 1985) Laboratorium Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Variabel Percobaan III.1.1 Variabel Bebas Suhu: x°C

III.1.2 Variabel Terikat Indeks bias destilat dan residu pada masing-masing variabel suhu yang sudah ditentukan. III.1.3 Variabel Kontrol

1. Volume kloroform

2. Volume aseton

III.2 Alat Percobaan

1. Corong

2. Erlenmeyer

3. Gelas ukur

4. Pipet volume

5. Pipet tetes

6. Termometer

7. Beaker Glass

8. Refraktometer

9. Seperangkat alat destilator

III.3 Bahan Percobaan

1. Kloroform

2. Aseton

III.4 Prosedur Percobaan

1. Menyiapkan peralatan destilasi lengkap

2. Menyiapkan 20 buah tabung reaksi untuk wadah sampel dan memberi label yaitu 1L hingga 10L untuk tempat residu dan 1 V sampai 10V untuk tempat destilat. Volume sampel yang di ambil sebanyak x ml.

3. Memasukkan x ml aseton murni ke dalam labu, mendidihkannya, dan mencatat titik

didihnya yang besarnya harus sekitar 56,5 pada 760 mmHg. Selanjutnya mengumpulkan sampel sebanyak y ml sebagai 1L dan 1V.

III-1

III-2 BAB III Metodologi Percobaan 4. Menghentikan proses destilasi dan mendinginkan labu, kemudian mengembalikan sisa

III-2

BAB III Metodologi Percobaan

III-2 BAB III Metodologi Percobaan 4. Menghentikan proses destilasi dan mendinginkan labu, kemudian mengembalikan sisa

4. Menghentikan proses destilasi dan mendinginkan labu, kemudian mengembalikan sisa destilasi tahap 3 ke dalam labu, menambahkan x ml kloroform dan memulai proses destilasi kembali. Mengambil y ml sampel berupa residu dan destilat ketika suhunya telah mencapai x dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 2L dan 2V.

5. Melanjutkan proses destilasi dan mengambil x ml sampel berupa residu dan destilat dan destilat ketika suhunya telah mencapai x dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 3L dan 3V.

6. Meneruskan proses destilasi hingga suhu x mendinginkannya kemudian menambahkan x ml kloroform dan x ml aseton.

7. Meneruskan proses destilasi hingga suhu x , kemudian mengambil x ml sampel berupa residu dan destilat dan memasukkannya kedalam tabung berlabel 4L dan

4V.

8. Mendinginkan labu, kemudian menambahkan x ml kloroform dan y ml aseton. Selanjutnya mengambil z ml sampel berupa residu dan destilat ketika suhunya telah mencapai x dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 5L dan 5V.

9. Melanjutkan proses destilasi kembali hingga titik didihnya tidak berubah, kemudian mengambil x ml sampel berupa residu dan destilat kemudian memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 6L dan 6V.

10. Mencuci labu dan membilasnya dengan sedikit kloroform kemudian mengeringkannya. Selanjutnya labu diisi dengan x ml kloroform, mendidihkannya hingga suhu sekitar x dan mengambil x ml sampel berupa residu dan destilat lalu memasukkannya kedalam tabung reaksi berlabel 7L dan 7V.

11. Mendingikan labu, mengembalikan destilat dari tahap 10 dan menambahkan x ml campuran destilat dan residu dari tahap 7, 8, dan 9. Melanjutkan proses destilasi kembali pada suhu x , kemudian mengambil x ml sampel berupa residu dan destilat lalu memasukkannya, kedalam tabung reaksi berlebel 8L dan 8V.

12. Mendinginkan labu, menambahkan destilat dari tahap k dan menambahkan x ml campuran destilat dan residu dari tahap 5 dan 6, kemudian meneruskan proses destilasi hingga suhu x dan mengambil x ml sampel berupa residu dan destilat lalu memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlebel 9L dan 9V.

memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlebel 9L dan 9V. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-3 BAB III Metodologi Percobaan 13. Melanjutkan proses destilasi hingga suhu konstan dan mengambil x

III-3

BAB III Metodologi Percobaan

III-3 BAB III Metodologi Percobaan 13. Melanjutkan proses destilasi hingga suhu konstan dan mengambil x ml

13. Melanjutkan proses destilasi hingga suhu konstan dan mengambil x ml sampel berupa residu dan destilat lalu memasukkannya kedalam tabung reaksi berlebel 10L dan 10V.

14. Menghitung indeks bias masing-masing dari sampel.

10V. 14. Menghitung indeks bias masing-masing dari sampel. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-4 BAB III Metodologi Percobaan III.5 Diagram Alir Percobaan Mulai Menyiapkan 20 buah tabung reaksi

III-4

BAB III Metodologi Percobaan

III-4 BAB III Metodologi Percobaan III.5 Diagram Alir Percobaan Mulai Menyiapkan 20 buah tabung reaksi untuk

III.5 Diagram Alir Percobaan

Mulai
Mulai

Menyiapkan 20 buah tabung reaksi untuk wadah sampel dan memberi label yaitu 1L hingga 10L untuk tempat residu dan 1V sampai 10V untuk tempat destilat. Volume sampel yang di ambilsebanyak 2 ml

tempat destilat. Volume sampel yang di ambilsebanyak 2 ml Memasukkan 50 ml aseton murni ke dalam

Memasukkan 50 ml aseton murni ke dalam labu, mendidihkannya, dan mencatat

titik didihnya yang besarnya harus sekitar 56,5

pada 760 mmHg. Selanjutnya

mengumpulkan sampel sebanyak 2 ml sebagai 1L dan 1V

mengumpulkan sampel sebanyak 2 ml sebagai 1L dan 1V Menghentikan proses destilasi dan mendinginkan labu,

Menghentikan proses destilasi dan mendinginkan labu, kemudian mengembalikan sisa destilasi tahap c ke dalam labu, menambahkan 20 ml kloroform dan memulai proses destilasi kembali. Mengambil 2 ml sampel berupa residu dan destilat ketika

suhunya telah mencapai 58

dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 2L dan 2V

dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 2L dan 2V Melanjutkan proses destilasi dan mengambil 2

Melanjutkan proses destilasi dan mengambil 2 ml sampel berupa residu dan destilat

dan destilat ketika suhunya telah mencapai 60

dan memasukkannya ke dalam

tabung reaksi berlabel 3L dan 3V

A
A
memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 3L dan 3V A Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-5 BAB III Metodologi Percobaan A Meneruskan proses destilasi hingga suhu 61 mendinginkannya kemudian menambahkan

III-5

BAB III Metodologi Percobaan

III-5 BAB III Metodologi Percobaan A Meneruskan proses destilasi hingga suhu 61 mendinginkannya kemudian menambahkan
A
A

Meneruskan proses destilasi hingga suhu 61

mendinginkannya kemudian

menambahkan 15 ml kloroform dan 25 ml aseton

kemudian menambahkan 15 ml kloroform dan 25 ml aseton Meneruskan proses destilasi hingga suhu 65 ,

Meneruskan proses destilasi hingga suhu 65

, kemudian mengambil 2 ml sampel

berupa residu dan destilat dan memasukkannya kedalam tabung berlabel 4L dan 4V

destilat dan memasukkannya kedalam tabung berlabel 4L dan 4V Mendinginkan labu, kemudian menambahkan 15 ml kloroform

Mendinginkan labu, kemudian menambahkan 15 ml kloroform dan 25 ml aseton. Selanjutnya mengambil 2 ml sampel berupa residu dan destilat ketika suhunya telah

mencapai 63

dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 5L dan 5V

dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 5L dan 5V Melanjutkan proses destilasi kembali hingga titik

Melanjutkan proses destilasi kembali hingga titik didihnya tidak berubah, kemudian mengambil 2 ml sampel berupa residu dan destilat kemudian memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 6L dan 6V

memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlabel 6L dan 6V Mencuci labu dan membilasnya dengan sedikit kloroform

Mencuci labu dan membilasnya dengan sedikit kloroform kemudian mengeringkannya. Selanjutnya labu diisi dengan 50 ml kloroform, mendidihkannya

hingga suhu sekitar 56,5

dan mengambil 2ml sampel berupa residu dan destilat lalu

memasukkannya kedalam tabung reaksi berlabel 7L dan 7V

B
B
memasukkannya kedalam tabung reaksi berlabel 7L dan 7V B Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-6 BAB III Metodologi Percobaan B Mendingikan labu, mengembalikan destilat dari tahap 10 dan menambahkan

III-6

BAB III Metodologi Percobaan

III-6 BAB III Metodologi Percobaan B Mendingikan labu, mengembalikan destilat dari tahap 10 dan menambahkan 20
B
B

Mendingikan labu, mengembalikan destilat dari tahap 10 dan menambahkan 20 ml campuran destilat dan residu dari tahap 7, 8, dan 9. Melanjutkan proses destilasi

kembali pada suhu 62

, kemudian mengambil 2 ml sampel berupa residu dan

destilat lalu memasukkannya, kedalam tabung reaksi berlebel 8L dan 8V

lalu memasukkannya, kedalam tabung reaksi berlebel 8L dan 8V Mendinginkan labu, menambahkan destilat dari tahap k

Mendinginkan labu, menambahkan destilat dari tahap k dan menambahkan 50 ml

campuran destilat dan residu dari tahap 5 dan 6, kemudian meneruskan proses

destilasi hingga suhu 64

dan mengambil 2 ml sampel berupa residu dan destilat

lalu memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlebel 9L dan 9V

lalu memasukkannya ke dalam tabung reaksi berlebel 9L dan 9V Melanjutkan proses destilasi hingga suhu konstan

Melanjutkan proses destilasi hingga suhu konstan dan mengambil 2 ml sampel berupa residu dan destilat lalu memasukkannya kedalam tabung reaksi berlebel 10L dan 10V

memasukkannya kedalam tabung reaksi berlebel 10L dan 10V Menghitung indeks bias masing-masing dari sampel Selesai

Menghitung indeks bias masing-masing dari sampel

Selesai
Selesai
10V Menghitung indeks bias masing-masing dari sampel Selesai Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-7 BAB III Metodologi Percobaan III.6 Gambar Alat Percobaan Gambar III.1 Erlenmeyer Gambar III.2 Gelas

III-7

BAB III Metodologi Percobaan

III-7 BAB III Metodologi Percobaan III.6 Gambar Alat Percobaan Gambar III.1 Erlenmeyer Gambar III.2 Gelas ukur

III.6 Gambar Alat Percobaan

Gambar III.1 Erlenmeyer Gambar III.2 Gelas ukur Gambar III.3 Termometer Gambar III.4 Corong
Gambar III.1 Erlenmeyer Gambar III.2 Gelas ukur Gambar III.3 Termometer Gambar III.4 Corong

Gambar III.1 Erlenmeyer

Gambar III.2 Gelas ukur

Gambar III.1 Erlenmeyer Gambar III.2 Gelas ukur Gambar III.3 Termometer Gambar III.4 Corong
Gambar III.1 Erlenmeyer Gambar III.2 Gelas ukur Gambar III.3 Termometer Gambar III.4 Corong

Gambar III.3 Termometer

Gambar III.4 Corong

Gambar III.5 Pipet Volume Gambar III.6 Beaker Gelas Gambar III.7 Refraktometer Gambar III.8 Pipet Tetes

Gambar III.5 Pipet Volume

Gambar III.5 Pipet Volume Gambar III.6 Beaker Gelas Gambar III.7 Refraktometer Gambar III.8 Pipet Tetes Gambar

Gambar III.6 Beaker Gelas

Gambar III.5 Pipet Volume Gambar III.6 Beaker Gelas Gambar III.7 Refraktometer Gambar III.8 Pipet Tetes Gambar

Gambar III.7 Refraktometer

Pipet Volume Gambar III.6 Beaker Gelas Gambar III.7 Refraktometer Gambar III.8 Pipet Tetes Gambar III.9 Destilator

Gambar III.8 Pipet Tetes

Pipet Volume Gambar III.6 Beaker Gelas Gambar III.7 Refraktometer Gambar III.8 Pipet Tetes Gambar III.9 Destilator

Gambar III.9 Destilator

Gambar III.8 Pipet Tetes Gambar III.9 Destilator Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Tabel Hasil Percobaan

No.

Tabung

reaksi

Fraksi mol

Aseton

Fraksi Mol

Kloroform

Indeks bias

No. Tabung reaksi Fraksi mol Aseton Fraksi Mol Kloroform Indeks bias
No. Tabung reaksi Fraksi mol Aseton Fraksi Mol Kloroform Indeks bias
No. Tabung reaksi Fraksi mol Aseton Fraksi Mol Kloroform Indeks bias
No. Tabung reaksi Fraksi mol Aseton Fraksi Mol Kloroform Indeks bias

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

1L

56,5

1,00

0

1,354

2L

58

0,8309

0,16585

1,375

3L

60

0,8370

0,1629

1,381

4L

61

0,7451

0,2545

1,382

5L

63

0,6950

0,3046

1,382

6L

63

0,696

0,3036

1,383

7L

56,5

0,5528

0,4471

1,435

8L

62

0,5130

0,4869

9L

64

0,5613

1,417

 

0,4387

1,389

0,5586

0,4413

1,397

0,4869 9L 64 0,5613 1,417   0,4387 1,389 0,5586 0,4413 1,397 10. 10L 64

10. 10L

64

0,4869 9L 64 0,5613 1,417   0,4387 1,389 0,5586 0,4413 1,397 10. 10L 64
0,4869 9L 64 0,5613 1,417   0,4387 1,389 0,5586 0,4413 1,397 10. 10L 64

Tabel IV.1.1 Indeks bias residu (L) Fraksi mol pada campuran aseton-kloroform

No. Tabung reaksi Fraksi mol Aseton Fraksi Mol Kloroform Indeks bias
No.

No.

Tabung

reaksi

Fraksi mol

Aseton

Fraksi Mol

Kloroform

Indeks bias

No. Tabung reaksi Fraksi mol Aseton Fraksi Mol Kloroform Indeks bias
No. Tabung reaksi Fraksi mol Aseton Fraksi Mol Kloroform Indeks bias

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

1V

56,5

1

0

1,352

2V

58

0,7611

0,2426

1,382

3V

60

0,7730

0,3751

1,384

4V

61

0,8947

0,6513

1,386

5V

63

0,7730

0,3751

1,385

6V

63

0,8947

0,6513

1,387

7V

56,5

0,6732

0,3267

1,434

8V

62

0,7730

0,5371

1,418

9V

64

0,8947

0,6513

1,390

10V

64

0,7730

0,3751

1,395

8V 62 0,7730 0,5371 1,418 9V 64 0,8947 0,6513 1,390 10V 64 0,7730 0,3751 1,395
8V 62 0,7730 0,5371 1,418 9V 64 0,8947 0,6513 1,390 10V 64 0,7730 0,3751 1,395
8V 62 0,7730 0,5371 1,418 9V 64 0,8947 0,6513 1,390 10V 64 0,7730 0,3751 1,395
8V 62 0,7730 0,5371 1,418 9V 64 0,8947 0,6513 1,390 10V 64 0,7730 0,3751 1,395
8V 62 0,7730 0,5371 1,418 9V 64 0,8947 0,6513 1,390 10V 64 0,7730 0,3751 1,395

Tabel IV.1.2 Indeks bias destilat (V) Fraksi mol pada campuran aseton-kloroform

IV-1

IV-2 Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.2. Grafik dan Pembahasan Tujuan percobaan untuk mengukur indeks

IV-2

Bab IV Hasil dan Pembahasan

IV-2 Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.2. Grafik dan Pembahasan Tujuan percobaan untuk mengukur indeks bias

IV.2. Grafik dan Pembahasan Tujuan percobaan untuk mengukur indeks bias suatu larutan menggunakan alat refraktometer dengan benar serta membuat diagram titik didih terhadap komposisi berdasarkan data percobaan. Azeotrop merupakan teori tentang campuran 2 atau lebih komponen pada komposisi tertentu dimana komposisi tersebut tidak bisa berubah hanya melalui destilasi biasa. Pada dasarnya azeotrop dibagi menjadi 2 jenis. Yaitu:

1. Azeotrop positif Jika titik didih campuran azeotrop kurang dari titik didih salah satu larutan konstituennya. Contoh: campuran 95,63 etanol dan 4,37 % air, etanol mendidih pada suhu 78,4°Csedangkan air mendidih pada suhu 100°C , tetapi campurannya/azeotropnya mendidih pada suhu 78,2 °C.

2. Azeotrop Negatif

Jika titik didih campuran azeotrop lebih dari titik didih konstituennya atau salah satu konstituennya. Contoh: campuran asam klorida pada konsentrasi 20,2 % dan 79,8 % air. Pada praktikum kali ini zat yang digunakan yaitu aseton dan kloroform. Campuran zat tersebut memiliki titik didih yang hampir berdekatan, sehingga biasa disebut campuran azeotrop. Campuran azeotrop merupakan campuran dua atau lebih komponen pada komposisi tertentu dimana komposisi tersebut tidak bisa berubah hanya melalui distilasi biasa. Oleh karena itu, pemisahan dilakukan dengan cara kolom fraksionasi. Distilasi fraksionasi merupakan suatu metode pemisahan zat berdasarkan perbedan titik didih yang bedekatan. Adapun prinsip kerja dari pemisahan dengan distilasi fraksionasi yaitu pemisahan suatu campuran dimana komponen- komponennya diuapkan dan diembunkan secara bertingkat. Karena zat yang dianalisa merupakan 2 buah campuran zat dengan variasi konsentrasi tertentu dengan titik didih aseton sebesar 56,53 o C dan kloroform memilki titik didih sebesar 76 o C sehingga campuran tersebut sering disebut azeotrop. Pada proses distilasi campuran biner yang pertama keluar sebagai distilat adalah aseton. Hal ini disebabkan karena aseton memiliki titik didih yang lebih rendah yaitu sebesar 56,53 o C dibandingkan dengan kloroform yaitu 76 o C, sehingga aseton menguap terlebih dahulu. Pada penentuan titik didih campuran, titik didih dilihat pada saat terjadinya tetesan pertama, hal ini menunjukkan telah tercapai nya titik didih campuran.

hal ini menunjukkan telah tercapai nya titik didih campuran. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-3 Bab IV Hasil dan Pembahasan Fraksi mol kloroform terhadap titik didih menunjukkan bahwa semakin

IV-3

Bab IV Hasil dan Pembahasan

IV-3 Bab IV Hasil dan Pembahasan Fraksi mol kloroform terhadap titik didih menunjukkan bahwa semakin kecil

Fraksi mol kloroform terhadap titik didih menunjukkan bahwa semakin kecil fraksi mol zat dengan titik didih lebih rendah menyebabkan titik didih campuran menjadi lebih besar. Ini dapat dijelaskan dengan hukum raoult.

1,46 1,434 1,44 1,418 1,435 1,42 1,417 1,395 1,4 1,39 1,386 1,387 1,384 1,385 1,382
1,46
1,434
1,44
1,418
1,435
1,42
1,417
1,395
1,4
1,39
1,386
1,387
1,384
1,385
1,382
1,397
1,38
1,389
1,381
1,382
1,382
1,383
1,375
1,352
1,36
1,354
1,34
1,32
1,3
56,5
58
60
61
63
63
56,5
62
64
64
Indeks Bias

Suhu ( 0 C)

Liquid61 63 63 56,5 62 64 64 Indeks Bias Suhu ( 0 C ) Vapor Grafik

Vapor63 56,5 62 64 64 Indeks Bias Suhu ( 0 C ) Liquid Grafik IV.2.1 Titik

Grafik IV.2.1 Titik Azeotrop Residu-Destilat. Berdasarkan Grafik IV.2.1 dapat dilihat bahwa titik azeotrop dari percobaan ini adalah 56,5°C dan komposisi kloroform diatas menunjukkan sebesar 28%. Padahal suhu standartnya 64,7°C, dan jauh mencapai 72% untuk menjadi 100%. Dari gambar dapat dilihat bahwa kolom pada temperatur 64,8°C dengan komposisi kloroform 0,28. Untuk memperoleh kloroform murni, distilat kemudian di distilasi lagi pada kolom kedua (P=1,25 atm). Hal itu tidak sesuai dengan pernyataan bahwa bahwa semakin besar fraksi mol menyababkan titik didih larutan menjadi lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan ini termasuk dalam azeotrop positif karena kurang dari titik didih salah satu larutan konstituennya. Indeks bias tertinggi adalah indeks bias residu 7 L pada temperature 56,5°C yaitu 1,434. Sedangkan indeks bias terendah adalah indeks bias residu 1 L pada suhu 56,5°C yaitu 1,354. Titik azeotrop campuran kloroform dan aseton pada percobaan adalah 64,8°C.

campuran kloroform dan aseton pada percobaan adalah 64,8°C. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

IV-4 Bab IV Hasil dan Pembahasan 1,2 Grafik Fraksi Mol 1 1 0,8947 0,8947 0,8947

IV-4

Bab IV Hasil dan Pembahasan

IV-4 Bab IV Hasil dan Pembahasan 1,2 Grafik Fraksi Mol 1 1 0,8947 0,8947 0,8947 0,773
1,2 Grafik Fraksi Mol 1 1 0,8947 0,8947 0,8947 0,773 0,773 0,773 0,773 0,8 0,6732
1,2
Grafik Fraksi Mol
1
1
0,8947
0,8947
0,8947
0,773
0,773
0,773
0,773
0,8
0,6732
0,7611
0,6
0,6513
0,6513
0,6513
0,4
0,5371
0,3751
0,3751
0,3751
0,2
0,3267
0,2426
0
0
56,5
58
60
61
63
63
56,5
62
64
64
Fraksi Mol

Suhu ( 0 C)

Fraksi Mol Aseton61 63 63 56,5 62 64 64 Fraksi Mol Suhu ( 0 C ) Fraksi Mo

Fraksi Mo Klorofom62 64 64 Fraksi Mol Suhu ( 0 C ) Fraksi Mol Aseton Grafik IV.2.2 Grafik

Grafik IV.2.2 Grafik Hubungan Fraksi Mol dengan Suhu Grafik di atas adalah grafik hubungan antara suhu dengan fraksi mol Klorofom dan Aseton. Terdapat Fluktuasi antara kedua grafik tersebut yang dikarenakan kemungkinan kebocoran di beberapa titik pada alat destilasi sehingga menguap dan menghasilkan data yang tidak valid. Adanya zat terlarut dengan titik didih lebih tinggi di dalam suatu pelarut dapat menurunkan tekanan uap pelarut. Mengenai besarnya indeks bias, dapat dilihat ditabel pengamatan bahwa indeks bias residu sebelum dan setelah dipanaskan dengan komposisi yang sama memiliki hasil yang berbeda. Indeks bias sebelum pemanasan lebih kecil dibandingkan indeks bias setelah dipanaskan. Hal ini dikarenakan pada saat melakukan pemanasan, aseton menguap lebih cepat sehingga yang tersisa dalam residu yaitu sebagian aseton yang tidak menguap dan kloroform. Sehingga indeks bias menjadi naik, sesuai dengan indeks bias etanol yang besar. Hubungan indeks bias terhadap kemurnian tidak bisa diukur dengan kuantitatif, yang dapat dihitung adalah selisih indeks bias antara distilat terhadap zat murninya. Makin besar selisihnya menunjukkan makin kecil kemurniannya.

Makin besar selisihnya menunjukkan makin kecil kemurniannya. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB V KESIMPULAN

1.

Indeks bias yang terjadi adalah fluktuatif, kami mengasumsikan bahwa hal ini dapat terjadi karena terdapat beberapa titik pada alat yang mengalami kebocoran dan menguap pada saat proses distilasi.

2.

Titik azeotrop campuran kloroform dan aseton pada percobaan adalah 64,8°C .

3.

Komposisi campuran azeotrop pada percobaan kami adalah 28% kloroform dan 72% aseton yaitu pada tahap 7L dan 7V.

4.

Percobaan ini termasuk dalam azeotrop positif karena kurang dari titik didih salah satu larutan konstituennya. Titik azeotrop dari percobaan ini adalah 56,5°C dan komposisi kloroform diatas menunjukkan sebesar 28% yaitu pada tahap 7V.Padahal suhu standartnya 64,7°C, dan jauh mencapai 72% untuk menjadi 100%. Dari gambar dapat dilihat bahwa kolom pada temperatur 64,8°C dengan komposisi kloroform 0,28.

V-1

NOTASI

LAMBANG

T

SATUAN

°C

LAMBANG T SATUAN °C KETERANGAN Suhu

KETERANGAN

Suhu

LAMBANG T SATUAN °C KETERANGAN Suhu Liquid Vapour Indeks Bias Fraksi Mol Massa suatu zat Massa

Liquid

Vapour

Indeks Bias

Fraksi Mol

Massa suatu zat

Massa molekul relatif zat terlarut

Volume pelarut/terlarut

Tekanan suatu zat

Jumlah mol zat terlarut

L

-

V

-

n

-

X

-

m

gram

M

r

(g/mol)

V

mL

gr/mL

n

mol

vi

Rumus :

Berat Aseton

Mol

=

= ρ x V

X a (fraksi mol) =

Residu (L)

APENDIKS

1. Aseton : 50mL, Kloroform : 0mL

Berat Aseton

Mol

=

= 0,68

Berat Kloroform

Mol

=

= 0

= 0,789 X 50

= 39,5 gr

= 0,79 X 0

= 0

gr

X aseton

=

=

=

1

X kloroform =

 

=

=

0

2. Aseton : 48mL, Kloroform : 20mL

Berat Aseton

Mol

=

= 0,79 X 48

= 37,92 gr

= 0,6538

Berat Kloroform

= 0,789 X 20

 

=

15,78 gr

Mol

=

=

0,1326

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,8309

X kloroform =

 
 

=

=

0,1685

3. Aseton : 45mL, Kloroform : 18mL

Berat Aseton

Mol

=

= 0,6129

Berat Kloroform

= 0,79 X 45

= 35,55 gr

= 0,789 X 18

 

=

14,202 gr

Mol

=

=

0,1193

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,8370

X kloroform =

=

= 0,1629

4. Aseton : 57mL, Kloroform : 40mL

Berat Aseton

Mol

=

= 0,7764

Berat Kloroform

= 0,79 X 57

= 45,03 gr

= 0,789 X 40

 

=

31,56 gr

Mol

=

=

0,2652

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,7451

X kloroform =

 
 

=

=

0,2545

5. Aseton : 70mL, Kloroform :63 mL

Berat Aseton

Mol

=

= 0,953

Berat Kloroform

Mol

=

= 0,4177

= 0,79 X 70

= 55,3 gr

= 0,789 X 63

= 49,707 gr

X aseton

=

=

=

0,6950

X kloroform =

 

=

=

0,3046

6. Aseton : 67 ml, kloroform : 60 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,9125

Berat Kloroform

= 0,79 X 67

= 52,93 gr

= 0,789 X 60

 

=

47,34 gr

Mol

=

=

0,3978

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,696

X kloroform =

 
 

=

=

0,3036

7. Aseton : 65 ml, kloroform : 108 ml

Berat Aseton

= 0,79 X 65

= 51,35 gr

Mol

=

= 0,8853

Berat Kloroform

= 0,789 X 108

 

=

85,212 gr

Mol

=

=

0,7160

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,5528

X kloroform =

 
 

=

=

0,4471

8. Aseton : 74 ml, kloroform : 117 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,8172

Berat Kloroform

Mol

=

= 0,7757

= 0,79 X 74

= 47,4 gr

= 0,789 X 117 = 92,313 gr

X aseton

=

 
 

=

=

0,5130

X kloroform =

 

=

=

0,4869

9.

Aseton : 71 ml, kloroform : 114 ml

Berat Aseton

 

= 0,79 X 71

 

=

56,09 gr

Mol

=

 

=

0,9670

 

Berat Kloroform

= 0,789 X 114

 

=

89,946 gr

Mol

=

 

=

0,7558

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,5613

X kloroform =

 
 

=

=

0,4387

10.

Aseton : 69 ml, kloroform : 112 ml

Berat Aseton

 

= 0,79 X 69

 

=

54,51 gr

Mol

=

 

=

0,9398

 

Berat Kloroform

= 0,789 X 112

= 88,368 gr

Mol

=

= 0,7425

X aseton

=

 
 

=

=

0,5586

X kloroform =

=

=

0,4413

Destilat (V)

1. Aseton : 2 ml, kloroform : 0 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,0272

Berat Kloroform

Mol

=

= 0,79 X 2

= 1,58 gr

= 0,789 X 0

= 0 gr

= 0

X aseton

=

=

= 1

X kloroform =

=

= 0

2. Aseton : 3 ml, kloroform : 2 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,0408

Berat Kloroform

= 0,79 X 3

= 2,37 gr

= 0,789 X 2

 

=

1,578 gr

Mol

=

=

0,0132

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,7611

X kloroform =

 
 

=

=

0,2426

3. Aseton : 3 ml, kloroform : 3 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,0408

Berat Kloroform

Mol

=

= 0,79 X 3

= 2,37 gr

= 0,789 X 3

= 2,367 gr

= 0,0198

X aseton

=

 

=

=

0,7730

X kloroform =

 
 

=

=

0,3751

4. Aseton : 2 ml, kloroform : 2 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,0272

Berat Kloroform

= 0,79 X 2

= 1,58 gr

= 0,789 X 2

 

=

1,578 gr

Mol

=

=

0,0132

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,8947

X kloroform =

 
 

=

=

0,6513

5. Aseton : 3 ml, kloroform : 3 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,0408

= 0,79 X 3

= 2,37 gr

Berat Kloroform

= 0,789 X 3

 

=

2,367 gr

Mol

=

=

0,0198

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,7730

X kloroform =

 
 

=

=

0,3751

6. Aseton : 2 ml, kloroform : 2 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,0272

Berat Kloroform

= 0,79 X 2

= 1,58 gr

= 0,789 X 2

 

=

1,578 gr

Mol

=

=

0,0132

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,8947

X kloroform =

=

= 0,6513

7. Aseton : 1 ml, kloroform : 1 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,0136

Berat Kloroform

= 0,79 X 1

= 0,79 gr

= 0,789 X 1

 

=

0,789 gr

Mol

=

=

0,0066

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,6732

X kloroform =

 
 

=

=

0,3267

8. Aseton : 3 ml, kloroform : 3 ml

Berat Aseton

Mol

=

= 0,0408

Berat Kloroform

Mol

=

= 0,79 X 3

= 2,37 gr

= 0,789 X 3

= 2,367 gr

= 0,0198

X aseton

=

 

=

=

0,7730

X kloroform =

 
 

=

=

0,3571

9.

Aseton : 2 ml, kloroform : 2 ml

 

Berat Aseton

 

= 0,79 X 2

 

=

1,58 gr

Mol

=

 

=

0,0272

 

Berat Kloroform

= 0,789 X 2

 

=

1,578 gr

Mol

=

 

=

0,0132

 

X aseton

 

=

 

=

=

0,8947

X kloroform =

 
 

=

=

0,6513

10.

Aseton : 3 ml, kloroform : 3 ml

 

Berat Aseton

 

= 0,79 X 3

 

=

2,37 gr

Mol

=

 

=

0,0408

 

Berat Kloroform

Mol

=

= 0,789 X 3 = 2,367 gr

= 0,0198

X aseton

=

=

=

0,7730

X kloroform =

=

=

0,3751

DAFTAR PUSTAKA

D. Andrian. (2012). http://farmacyku.blogspot.com/2012/03/makalah-destilasi.html .

Himka

destilasi-biner/ .

Polban.

(2012).

http://himka1polban.wordpress.com/laporan/kimia-fisika/laporan-

Perry's. (1988). Chemical Engineering Handbook .

Petrokimia SMK. (2013). http://petrokimiaesemka.blogspot.ca/2013/05/destilasi.html .

Primasiswa.

(2013).

http://primasiswa.com/posts/105/semester-2-bab-2-pemisahan-

campuran .

Sukardjo. (1985). Kimia Fisika.

Wikipedia. (2013). http://id.wikipedia.org/wiki/Proses_pemishan .

Primasiswa. (2013). Primasiswa. Retrieved September 21, 2013, from Primasiswa.com:

http://primasiswa.com/posts/105/semester-2-bab-2-pemisahan-campuran

Wikipedia. (2013). wiki. Retrieved September 21`, 2013, from wikipedia.org:

http//:id.wikipedia.org/wiki/Proses_Pemisahan.

viii

Makalah Destilasi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Distilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya permintaan akan spritus. Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan rangkaian alat untuk distilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah yang telah berhasil menggambarkan secara akurat tentang proses distilasi pada sekitar abad ke-4 Bentuk modern distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam pada masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol menjadi senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro, The Hickman Stillhead dapat terwujud. Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih dikenal dengan Ibnu Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang dapat terbakar, ia juga telah menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang bahkan masih banyak dipakai sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan diuraikan dengan jelas oleh Al-Kindi (801-873).

1.2 Definisi Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

BAB II

ISI

2.1 Metode Destilasi Destilasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk memisahkan dan memurnikan cairan. Destilasi terdiri dari pmanasan cairan sampai pada titik didihnya, penghantaran uap pada alat pendingin dimana terjadi kondensasi dan mengambil zat yang telah terkondensasi. Destilasi merupakan suatu perubahan cairan menjadi uap dan uap tersebut didinginkan kembali menjadi cairan. Unit operasi destilasi merupakan metode yang digunakan untuk memisahkan komponen-komponennya yang terdapat dalam salah satu larutan atau campuran dan bergantung pada distribusi komponen-komponen tersebu antara fasa uap dan fasa air. Syarat utama dalam operasi pemisahan komponen-komponen dengan cara destilasi adalai komposisi uap harus berbeda dengan komposisi cairan dengan terjadi keseimbangan larutan- larutan, dengan komponen-komponennya cukup dapat menguap. Bila zat non volatil dilarutkan ke dalam suatu zat cair tersebut akan turun. Hukum raoult menyataka bahwa tekanan masing-masing komponen berbanding langsung dengan fraksi molnya. Apabila yang didinginkan adalah bagian campuran yang tidak teruapkan dan bukan destilatnya, maka proses tersebut biasanya dinamakan pengentalan dengan evaporasi. Dalam hal ini sering kali bukan pemisahan yang sempurna yang dikehendaki, melainkan peningkatan konsentrasi bahan-bahan yang terlarut dengan cara menguapkan sebagian dari pelarut. Sering kali destilasi digunakan semta-mata sebagai tahap awal dari suatu proses rektifikaasi. Dalam hal ini campuran dipisahkan menjadi dua, yaitu bagian yang mudah menguap dan bagian yang sukar menguap. Kemudian masing-masing bagian diolah lebih lanjut dengan cara rektifikasi. Uap yang dikeluarkan dari campuran disebut sebagai uap bebas, kondensat yang jatuh sebagai destilat dari bagian cairan yang tidak menguap sebagai residu. Biasanya destilat digunakan untuk menarik senyawa organic yang titik didihnya dibawah 250 0C, pendestilasian senyawa-senyawa yang titik didihnya tinggi dikuatirkan akan rusak oleh pemanasan sehingga tidak cocok untuk ditarik dengan teknik destilasi. Secara umum proses yang terjadi pada destilasi sederhana atau biasa yaitu :

1. Penguapan komponen yang mudah menguap dari campuran dalam alat penguap

2. Pengeluaran uap yang terbentuk melalui sebuah pipa uap yang lebar dan kosong tanpa perpindahan panas dan pemindahan massa yang disengaja atau dipaksakan yang dapat menyebabkan kondensat mengalir kembali ke lat penguap.

3. Jika perlu, tetes-tetes cairan yang sukar menguap yang ikut terbawa dalam uap dipisahkan dengan bantuan siklon dan disalurkan kembali kedalam alat penguap.

5.

Pendingin lanjut dari destilat panas dalam sebuah alat pendingin

6. Penampungan destilat dalam sebuah bejana

7. Pengeluaran residu dari alat penguap

8. Pendinginan lanjut dari residu yang dikeluarkan Penampungan residu dalam sebuah bejana. Destilasi merupakan cara yang penting untuk melakukan pemisahan campuran atau senyawa dalam skala besar. Dari pencampuran air dan penerimaan uap dalam sebuah pemisahan campuran, molekul dalam gerakan tetap dan cenderung lepas dari permukaan fase uap. Dalam temperatur yang tepat, pelarian fenomena akan dilanjutkan ke kotak campuran yang dibatasi dengan uap basah. Destilasi ini dikatakan normal karena tekanan campuran yang telah dipisahkan, tekanannya sama dengan tekanan udara luar yang besarnya adalah satu atm. Destilasi normal digunakan untuk memisahkan campuran volatil dari bahan yang tidak volatil. Itu dibuat dari cairan yang mendidih dan uap yang disimpan di dalam sebuah penerima hasil destilasi yang telah siap dilanjutkan dalam kotak pemisah. Pengaruh dari penambahan kolom fraksinasi akan mempersingkat beberapa pekerjaan pemisah dari distilasi biasa hanya menjadi satu pekerjaan. Proses distilasi berlangsung dimana uap cairan akan menjadi cairan di dalam kondensor pendingin. Cairan yang menjadi uap merupakan senyawa murni yang terpisah dari campurannya dan dari zat pengkotamin atau penyetor. Jika semua cairan sudah terpisah maka terdapat residu yang bersifat padatan. Hasil distilasi disebut distilat. Distilasi tergantung pada temperatur zatnya, beberapa molekul zat cair memiliki energi yang cukup untuk diubah dan membuat suatu tekanan uap. Kecendrungan untuk penguapan menjadi lebih besar karena energi kinetik yang ditambah dari kenaikan temperatur. Ketika suatu cairan dipanaskan sampai tekanan uapnya sama dengan atmosfer lingkungan cairan yang mendidih, maka hal ini disebut titik didih. Besarnya perbedaan titik didih beberapa senyawa berbanding lurus dengan tingkat kemudahan pemisahannya. Semakin besar perbedaan titik didih akan semakin mudah pula pemisahan senyawa tersebut. Dan sebaliknya, apabila perbedaan titik didih kecil maka akan semakin sulit pula pemisahan senyawa tersebut. Proses destilasi bisa dikerjakan dalam satu langkah menggunakan sebuah kolom fractionating antara botol destilasi dan alat kondensor. Salah satu tipe dari kolom adalah pipa vertilkal panjang yang sederhana dengan gelas embun atau material lembam lainnya. Sebuah tipe fractionating setelah mendestilasi sebuah cairan bisa dilanjutkan. Kondensasi dan penguapan diulangi beberapa kali sebelum air bereaksi di kkondensor atau alat pendingin,

akibatnya komponen terpisah dalam jumlah yang besar dari larutannya. Proses ini disebut destilasi fraksinasi. Untuk menggambarkan perbedaan ciri khas di antara sebuah zat dan sebuah larutan dilakukan dengan menguji dua cairan homogen sehingga berubah sifatnya menjadi gas oleh pemanasan dan kemudian didinginkan. Proses inilah yang disebut destilasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu proses distilasi :

1.

Termometer, Termometer tidak boleh dimasukan sampai mendekati/mengenai larutan, tetapi hanya diatas permukaan.

2.

Disetiap terjadinya kenaikan suhu uap lakukan penggantian wadah penampung distilat.

2.2

Jenis Destilasi

2.2.1

Pembagian Destilasi

1.

Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu :

a. Distilasi kontinyu

b. Distilasi batch

2.

Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu :

a. Distilasi atmosferis

b. Distilasi vakum

c. Distilasi tekanan

3.

Berdasarkan komponen penyusunnya terbagi menjadi dua, yaitu :

a.

Destilasi system biner

b.

Destilasi system multi komponen

4.

Berdasarkan system operasinya terbagi menjadi dua, yaitu :

a.

Single-stage Distillation

b.

Multi stage Distillation

2.2.2 Macam Destillasi Selain pembagian destilasi, dalam referensi lain menyebutkan macam macam destilasi, yaitu :

1.

Destilasi sederhana Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih yang jauh atau dengan salah satu komponen bersifat volatil. Jika campuran dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Selain perbedaan titik didih, juga perbedaan kevolatilan, yaitu kecenderungan sebuah substansi untuk menjadi gas. Distilasi ini

dilakukan pada tekanan atmosfer. Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air dan alkohol.

http://farmacyku.blogspot.com/2012/03/makalah-destilasi.html

Destilasi

{[['

Destilasi {[[' ']]} Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan

']]}

Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

Pembagian Destilasi

1. Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu :

a. Distilasi kontinyu

b. Distilasi batch

2. Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu :

a. Distilasi atmosferis

b. Distilasi vakum

c. Distilasi tekanan

3. Berdasarkan komponen penyusunnya terbagi menjadi dua, yaitu :

a. Destilasi system biner

b. Destilasi system multi komponen

4. Berdasarkan system operasinya terbagi menjadi dua, yaitu :

a. Single-stage Distillation

b. Multi stage Distillation

Selain pembagian macam destilasi, dalam referensi lain menyebutkan macam macam destilasi, yaitu :

1. Destilasi sederhana

2. Destilasi bertingkat ( fraksional )

3. Destilasi azeotrop

4. Destilasi vakum

5. Refluks / destruksi

6. Destilasi kering

Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murninya. Senyawa senyawa yang terdapat

dalam campuran akan menguap pada saat mencapai titik didih masing masing.

menguap pada saat mencapai titik didih masing – masing. Gambar : Alat Destilasi Sederhana Gambar di

Gambar : Alat Destilasi Sederhana Gambar di atas merupakan alat destilasi atau yang disebut destilator. Yang terdiri dari thermometer, labu didih, steel head, pemanas, kondensor, dan labu penampung destilat. Thermometer Biasanya digunakan untuk mengukur suhu uap zat cair yang didestilasi selama proses destilasi berlangsung. Seringnya thermometer yang digunakan harus memenuhi syarat:

a. Berskala suhu tinggi yang diatas titik didih zat cair yang akan didestilasi.

b. Ditempatkan pada labu destilasi atau steel head dengan ujung atas reservoir HE sejajar dengan

pipa penyalur uap ke kondensor. Labu didih berfungsi sebagai tempat suatu campuran zat cair yang akan didestilasi .

Steel head berfungsi sebagai penyalur uap atau gas yang akan masuk ke alat pendingin ( kondensor ) dan biasanya labu destilasi dengan leher yang berfungsi sebagai steel head. Kondensor memiliki 2 celah, yaitu celah masuk dan celah keluar yang berfungsi untuk aliran uap hasil reaksi dan untuk aliran air keran. Pendingin yang digunakan biasanya adalah air yang dialirkan dari dasar pipa, tujuannya adalah agar bagian dari dalam pipa lebih lama mengalami kontak dengan air sehingga pendinginan lebih sempurna dan hasil yang diperoleh lebih sempurna. Penampung destilat bisa berupa erlenmeyer, labu, ataupun tabung reaksi tergantung pemakaiannya. Pemanasnya juga dapat menggunakan penangas, ataupun mantel listrik yang biasanya sudah terpasang pada destilator.

Pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan molekul dalam permukaan cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih. Suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik didih. Cairan yang mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan mempnyai titik didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar. Jika campuran berair didihkan, komposisi uap di atas cairan tidak sama dengan komposisi pada cairan. Uap akan kaya dengan senyawa yang lebih volatile atau komponen dengan titik didih lebih

rendah. Jika uap di atas cairan terkumpul dan dinginkan, uap akan terembunkan dan komposisinya sama dengan komposisi senyawa yang terdapat pada uap yaitu dengan senyawa yang mempunyai titik didih lebih rendah. Jika suhu relative tetap, maka destilat yang terkumpul akan mengandung senyawa murni dari salah satu komponen dalam campuran.

http://petrokimiaesemka.blogspot.ca/2013/05/destilasi.html

Laporan DIstilasi Biner

Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) suatu bahan.

Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.

Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

Distilasi yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah distilasi campuran biner, dimana zat yang digunakan adalah campuran alcohol dan aseton dengan komposisi yang variasi.

Campuran azeotrop adalah campuran suatu zat dimana zat tersebut memiliki titik didih minimal atau titik didih maksimal. Susunan campuran azeotrop tergantung dari tekanan yang dipakai untuk membuat larutan- larutan dengan konsentrasi tertentu. Azeotrop merupakan campuran 2 atau lebih komponen pada komposisi tertentu dimana komposisi tersebut tidak bisa berubah hanya melalui distilasi biasa. Ketika campuran azeotrop dididihkan, fasa uap yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama dengan fasa cairnya. Campuran azeotrop ini sering disebut juga constant boiling mixture karena komposisinya yang senantiasa tetap jika campuran tersebut dididihkan. Untuk lebih jelasnya

http://himka1polban.wordpress.com/laporan/kimia-fisika/laporan-distilasi-biner/