Anda di halaman 1dari 2

Menegakkan Diagnosis Kerja

Diagnosis kerja adalah diagnosis yang paling mungkin menurut dokter setelah melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium rutin atau laboratorium sederhana. Selain diagnosis kerja juga ada diagnosis banding, dan diagnosis pasti. Diagnosis banding adalah kemungkinan diagnosis lain dengan keluhan yang sama. Sedangkan diagnosis pasti adalah diagnosis kerja yang sudah dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang. Pemberian terapi sudah bisa dilakukan pada tahap diagnosis kerja. Anamnesis adalah wawancara untuk mencari informasi tentang penyakit pasien, dapat dilakukan secara langsung ke pasien (autoanamnesis) atau kepada orang lain yang tahu tentang penyakit pasien (alloanamnesis). Anamnesis dimulai dari menanyakan identitas pasien, tujuannya supaya pasien tidak tertukar dan pencatatan identitas ini bisa dilakukan oleh perawat. Selanjutnya yang ditanyakan adalah keluhan umum (Chief Complement), yaitu alasan utama pasien datang ke dokter. Setelah mengetahuti keluhan utama, dokter harus menjabarkannya untuk mendapatkan riwayat penyakit sekarang . Riwayat penyakit sekarang harus dijabarkan secara rinci, terarah, sistematis dan kronologis. Terarah maksudnya adalah ketika pasien menyebutkan keluhan utamanya, maka dokter harus mampu membayangkan penyakit-penyakit yang memiliki tanda atau gejala yang sama dengan yang diutarakan pasien dan memberikan pertanyaan yang khas untuk setiap penyakit yang diduga sedang diderita oleh pasien. Misalnya, datang seorang pasien dengan demam. Dokter menduga bahwa pasien tersebut menderita malaria, tifoid, atau TB. Maka dokter harus menanyakan ciri-ciri demamnya untuk mengarahkan pada diagnosisnya. Dokter juga harus menanyakan riwayat penyakit lain yang pernah diderita sebelumnya (riwayat penyakit dahulu) karena sering penyakit yang diderita sekarang berhubungan dengan penyakit yang diderita sebelumnya. Selanjutnya, riwayat sosial ekonomi juga harus ditanyakan karena ada banyak penyakit yang terkait dengan higiene, psikologis, dan sanitasi lingkungannya. Selain itu, riwayat ekonomi mungkin dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan terapi untuk pasien. Setelah informasi yang didapatkan, penegakkan diagnosis dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik lengkap dilakukan dari kepala hingga kaki (head to toe). Secara garis besar pemeriksaan fisik terdiri dari inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

Inspeksi (periksa lihat) : terdiri atas dua macam; Inspeksi umum dan inspeksi lokal. Pada inspeksi umum dapat dilihat perubahan umum pada pasien sehingga didapatkan kesan keadaan umum, sedangkan inspeksi lokal untuk melihat perubahan lokal sampai yang sekecil-kecilnya. Palpasi (Periksa raba): Menggunakan telapak tangan dan memanfaatkan alat peraba yang terdapat pada telapak dan jari tangan. Dari palpasi dapat ditentukan bentuk, besar (ukuran), tepi, permukaan serta konsistensi organ. Ukuran dapat dinyatakan dengan ukuran benda-benda umum, misalnya bola pimpong atau telur ayam. Tetapi lebih disarankan menggunakan ukuran, misalnya sentimeter. Permukaan organ dapat dinyatakan dengan rata atau berbenjolbenjol. Konsistensi dapat dinyatakan dengan lunak, keras, kenyal, kistik atau berfluktuasi.Tepi (pinggir) organ dapat dinyatakan dengan tajam atau tumpul. Perkusi (periksa ketuk): Tujuannya adalah mengetahui perbedaan suara ketuk sehingga dapat ditentukan batas-batas organ, misalnya paru, jantung, dan hati. pemeriksaan perkusi dilakukan pada pemeriksaan dada, abdomen, dan kepala. Perkusi dada bayi dan anak tidak boleh dilakukan terlalu keras. karena dinding toraks bayi dan anak masih tipis, maka ketukan yang keras dapat menyebabkan vibrasi serta resonansi di daerah lain, sehingga daerah redup dan pekak setempat tidak terdeteksi. Pada bayi dan anak kecil urutan pemeriksaan tidak harus menurut standar, misalnya pemeriksaan absomen didahulukandari pemeriksaan dada, tergantung dari keadaan. yang

perlu diingat adalah bahwa semua bagian tubuh harus diperiksa. Secara garis besar suara perkusi dibagi menjadi 3: Sonor (suara yang terdengar pada perkusi paru normal), pekak (suara perkusi otot paha atau bahu), dan timpani (suara perkusi abdomen bagian lambung). Selain itu juga terdapat suara antara, misalnya redup (antara sonor dan pekak) dan hipersonor (antara sonor dan timpani). Auskultasi (periksa dengar): Menggunakan stetoskop untuk mendengarkan bunyi pernafasan, bunyi dan bising jantung, peristaltik usus, dan aliran darah dalam pembuluh darah.