Anda di halaman 1dari 29

Laporan Praktikum Ke-7 M.K.

Evaluasi Nilai Gizi

Tanggal mulai : 13 November 2013 Tanggal selesai : 18 Desember 2013

EVALUASI NILAI GIZI PROTEIN IN VIVO


Oleh: Kelompok 5-E2 Sri Zilla Arsyilah Rina Apriany Utami Natahsa Fredlina Ginting Regi Meiliani Adhe Fadillah Putri I14100135 I14110027 I14110051 I14110076 I14110105

Asisten Praktikum: Qurratu Aini Ilyatun Niswah Penanggung Jawab Praktikum: Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

PENDAHULUAN
Latar Belakang Protein adalah salah satu bio-makromolekul yang penting perananya dalam makhluk hidup. Fungsi dari protein itu sendiri secara garis besar dapat dibagi kedalam dua kelompok besar, yaitu sebagai bahan struktural dan sebagai mesin yang bekerja pada tingkat molekular. Apabila tulang dan kitin adalah beton, maka protein struktural adalah dinding batu-batanya. Beberapa protein struktural, fibrous protein, berfungsi sebagai pelindung, sebagai keratin yang terdapat pada kulit, rambut, dan kuku. Sedangkan protein struktural lain ada juga yang berfungsi sebagai perekat, seperti kolagen. Protein dapat memerankan fungsi sebagai bahan struktural karena seperti halnya polimer lain, protein memiliki rantai yang panjang dan juga dapat mengalami cross-linking dan lain-lain. Selain itu protein juga dapat berperan sebagai biokatalis untuk reaksi-reaksi kimia dalam sistem makhluk hidup. Makromolekul ini mengendalikan jalur dan waktu metabolisme yang kompleks untuk menjaga kelangsungan hidup suatu organisma. Suatu sistem metabolisme akan terganggu apabila biokatalis yang berperan di dalamnya mengalami kerusakan (Winarno FG. 2001). Nilai gizi protein dapat diartikan sebagai kemampuan suatu protein untuk dapat dimanfaatkan oleh tubuh sebagai sumber nitrogen untuk sintesis protein tubuh. Terdapat dua factor yang menentukan nilai gizi suatu protein, yaitu: (1) daya cerna atau nilai cernanya dan (2) kandungan asam amino essensialnya. Protein yang mudah dicerna (dihidrolisis) oleh enzim-enzim pencernaan, serta mengandung asam-asam amino essensial yang lengkap serta dalam jumlah yang seimbang, merupakan protein yang bernilai gizi tinggi. Umumnya protein hewani (daging, ikan, susu, telur) merupakan protein yang bernilai gizi tinggi, kecuali gelatin. Protein nabati umumnya daya cernanya lebih rendah dan kekurangan salah satu (sering juga kekurangan dua macam) asam amino essensia. Sebagai contoh, protein serealia (beras, terigu) kekurangan asam amino lisin, sedangkan protein kacang-kacangan (kedelai) kekurangan asam amino belerang (metionin dan sistein). Nilai gizi protein harus dianalisis karena nilai gizi protein itu sangat penting untuk mengetahui kandungan protein pada bahan pangan. Teknik evaluasi nilai gizi protein terdapat beberapa cara, tetapi pada garis besarnya dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu metode in vitro (secara kimia, enzimatis atau mikrobiologis) dan in vivo (secara biologis menggunakan hewan percobaan, termasuk manusia). Beberapa metode in vitro mengevaluasi komposisi asam amino essensial suatu protein (metode skor kimia), ketersediaan (bio-avaibilitas) asam amino (metode lisin tersedia), daya cerna suatu protein (daya cerna protein in vitro, metode enzimatis), serta nilai PER yang dihitung bedasarkan nilai cerna dan komposisi asam amino suatu protein (PER hitung, CPER, computed protein efficiency ratio). Nilai gizi protein akan menentukan jumlah yang harus dikonsumsi. Untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan protein, protein dengan nilai gizi rendah harus dikonsumsi dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dengan protein yang bernilai gizi tinggi. Berdasarkan metode

tersebut penetapan metode secara in vivo lebih baik digunakan karena dapat menganalisa secara langsung ketersediaannya. Hanya butuh usaha lebih untuk dapat mengontrol lingkungan (Winarno FG. 2001).. Kadar protein pada bahan dan produk pangan dapat ditentukan dengan berbagai jenis metode analisis. Metode analisis protein yang sering digunakan Metode Kjeldahl yang merupakan metode penetapan kadar prtein kasar (crude protein). Untuk menentukan kandungan protein dalam bahan pangan (analisis proksimat). Metode ini didasarkan pada pengukuran kadar nitrogen total dalam contoh/sampel. Kandungan protein dapat dihitung dengan mengasumsikan rasio tertentu antara protein terhadap nitrogen untuk contoh yang dianalisis. Metdoe analisis selanjutnya adalah Metode biuret yang bertujuan untuk membuktikan ada tidaknya ikatan peptide pada suatu protein. Dengan demikian praktikum ini perlu dilakukan mengingat protein merupakan suatu zat gizi yang memiliki peranan penting didalam tubuh. Ketersediaan protein di dalm tubuh perlu diketahui untuk mengetahui pangan yang dikonsumsi dimanfaatkan dengan baik atau tidak. Sehingga perlu adanya suatu evaluasi perhitungan nilai gizi protein yang dilakukan secara langsung yaitu dengan metode in vivo.

Tujuan Secara umum evaluasi nilai gizi secara biologis bertujuan untuk mengetahui nilai gizi protein beberapa pangan dengan menggunakan metode in vivo (secara biologis) dengan menggunakan hewan percobaan tikus putih (Rattus. Sp). Secara khusus evaluasi nilai gizi protein secara biologis bertujuan untuk menghitung nilai PER (Protein Efficiency Ratio ), NPR (Net Protein Ratio), NPU (Net Protein Utilization ), NB (Nilai biologis), DC (Daya Cerna Sejati ), dan NPU hitung.

TINJAUAN PUSTAKA
Protein Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.Protein memiliki fungsi utama yang kompleks di dalam semua proses biologi. Protein berfungsi sebagai katalisator, sebagai pengangkut dan penyimpan molekul lain seperti oksigen, mendukung secara mekanis sistem kekebalan tubuh, menghasilkan pergerakan tubuh, sebagai transmitor gerakan syaraf dan mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan (Katili 2009). Protein pada umumnya dipertahankan oleh dua jenis ikatan kovalen yang kuat yaitu peptida dan sulfida dan tiga jenis ikatan non kovalen yang lemah;

hidrogen, hidrofobik, dan elektrostatik. Protein tersusun atas asam amino. Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk mensintesis beberapa asam amino kecuali sembilan asam amino diantaranya isoleusin, leusin, lisin, methionin, fenilalanin, threonin, triptofan, valin, dan histidin (Sumardjo 2008). Kebutuhan asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh dapat terpenuhi dengan mengkonsumsi protein hewani. Asam amino adalah sembarang senyawa organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (-NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit : keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama. (disebut atom C "alfa" atau ). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter-ion. Asam amino termasuk golongan senyawa yang paling banyak dipelajari karena salah satu fungsinya sangat penting dalam organisme, yaitu sebagai penyusun protein. Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya. Perombakan protein dimulai di dalam lambung dengan media cairan lambung yang asam, cairan tersebut membantu dan mempermudah pepsin untuk bekerja merombak rantaian spesifik ikatan peptida dari asam amino yang rantainya lebih pendek, pepton. Sebagian protein yang sudah dicerna masuk ke dalam usus, asam telah dinetralisir menjadi sedikit alkalis dan enzim di cairan pankreas kemudian bekerja. Protease pankreatik dimana tripsin dan khimotripsin dirombak menjadi asam amino sederhana yang langsung dapat diserap usus. Protein lainnya dipecah menjadi dipeptida, tripeptida, atau terdiri atas lebih dari 3 asam amino. Enzim proteolitik lainnya yanng berkemampuan memecah protein yaitu karboksi peptidase dan amino peptidase yang mengubah protein komplek menjadi dipeptida dan kemudian 2 asam amino. Enzim pengubah protein bersifat hidrolik sehingga memerlukan air pada proses perombakan atau pelepasan asam amino (Suwandito dan Trimartini 2011). Asam amino yang larut air ini memudahkan penyerapan yaitu melalui proses difusi pasif dan selektif diantara yang aktif. Penyerapan berlangsung setelah melalui membran usus, vena portal, hati, kemudian masuk sirkulasi darah dan diedarkan ke jaringan di seluruh tubuh. Penyerapan asam amino berlangsung terutama pada bagian atas usus, 60% asam amino bebas diserap di usus halus, 28% di usus besar atau kolon, dan 12% telah mulai diserap saat makanan berada di lambung (Suwandito dan Trimartini 2011). Asam-asam amino yang berlebihan dapat digunakan sebagai sumber energi bagi tubuh atau disimpan dalam bentuk lemak sebagai cadangan energi. Berdasarkan kandungan asam-asam amino essensialnya, maka suatu protein bahan pangan dapat dinilai apakah bergizi tinggi atau rendah. Suatu protein bernilai gizi tinggi apabila mengandung asam-asam amino essensial yang susunannya lengkap serta komposisinya sesuai dengan kebutuhan tubuh serta asam-asam amino tersebut dapat digunakan oleh tubuh (available) (Sumardjo 2008). Nilai gizi protein dapat diartikan sebagai kemampuan suatu protein untuk dapat dimanfaatkan oleh tubuh sebagai sumber nitrogen untuk sintesis protein

tubuh. Terdapat dua faktor yang menentukan nilai gizi suatu protein, yaitu: (1) daya cerna atau nilai cernanya dan (2) kandungan asam amino essensialnya. Protein yang mudah dicerna (dihidrolisis) oleh enzim-enzim pencernaan, serta mengandung asam-asam amino essensial yang lengkap serta dalam jumlah yang seimbang, merupakan protein yang bernilai gizi tinggi. Umumnya protein hewani seperti daging, ikan, susu, dan telur merupakan protein yang bernilai gizi tinggi, kecuali gelatin. Protein nabati umumnya daya cernanya lebih rendah dan kekurangan salah satu atau kekurangan dua macam asam amino essensial. Sebagai contoh, protein serealia seperti beras dan terigu kekurangan asam amino lisin, sedangkan protein kacang-kacangan yaitu kedelai kekurangan asam amino belerang (metionin dan sistein) (Sumardjo 2008). Bila dua jenis protein yang memiliki jenis asam amino esensial pembatas yang berbeda dikonsumsi bersama-sama maka kekurangan asam amino dari satu protein dapat ditutupi oleh asam amino sejenis yang berlebihan pada protein lain. Dua protein tersebut saling mendukung (complementary) sehingga mutu gizi dari campuran menjadi lebih tinggi. Contohnya, tepung gandum yang kekurangan asam amino lisin namun berlebihan asam amino belerang dicampur dengan kacang-kacangan yang kekurangan asam amino belerang akan membentuk bahan makanan dengan komposisi asam amino mendekati sempurna. Sejumlah kecil protein hewani pun dapat meningkatkan mutu protein nabati dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu, susu dengan serealia, nasi dengan tempe, kacang-kacangan dengan daging atau roti meruapak kombinasi menu yang dapat meningkatkan mutu protein (Winarno 2002).

Tikus Percobaan Metode in vivo merupakan metode evaluasi nilai biologis pangan yang sensitif dan dapat memberikan informasi yang akurat mengenai manfaat dan keamanan pangan karena dilakukan dengan menggunakan organisme hidup secara utuh. Prinsip metode ini adalah pemberian makan pada hewan untuk melihat manfaat suatu bahan pangan dalam tubuh dengan asumsi semua jaringan, sel-sel penyusun tubuh, serta enzim-enzim yang ada dalam tubuh hewan coba memiliki kesamaan dengan manusia. Hewan percobaan adalah hewan yang sengaja dipelihara dan diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model guna mempelajari berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian atau pengamatan laboratorium. Pemanfaatan hewan percobaan menurut pengertian secara umum ialah untuk penelitian yang mendasarkan pengamatan aktivitas biologi tergantung pada bidang ilmu yang dibina dan lingkungan apa suatu laboratorium bernaung sehingga pemanfaatan hewan percobaan ini akan mengarah ke suatu tujuan khusus. Kesamaan filogeni antara manusia dengan primata mendorong para ilmuwan memilih hewan primata sebagai model dalam percobaan laboratorium. Akan tetapi karena dari segi pengadaannya sulit dan pemeliharaannya juga memerlukan biaya yang besar maka jenis tikus putih dapat dipilih sebagai alternatif (Malole dan Pramono 1989). Terdapat lima macam tikus putih ( Albino Normay rat, Rattus morvegicus) yang biasa digunakan sebagai hewan percobaan di laboraturium,

yaitu Long Evans, Osborne Mendel, Shermon, Sporgue Dawley, dan Wistar, beberapa sifat tikus percobaan adalah (Zakaria et al. 2007): 1. Noctural, berarti aktif pada malam hari dan tidur pada siang hari. 2. Tidak mempunyai kantung empedu ( gali blader). 3. tidak dapat mengeluarkan isi perutnya (muntah). 4. tidak pernah berhenti tumbuh, walaupun kecepatannya menurun setelah berumur 100 hari. Umumnya tikus yang digunakan untuk percobaan adalah tikus-tikus yang baru disapih yaitu umur kurang lebih 21 hari. Sebelum percobaan dimulai harus dilakukan masa adaptasi selama 4-5 hari untuk membiasakan tikus pada lingkungan laboratorium. Selain itu pada masa adaptasi ini dapat dilakukan pengamatan apakah tikus dapat terus digunakan dalam percobaan ( tidak sakit). Pada masa adaptasi ini biasanya diberikan ransum semi sinthetik diet atau ransum yang digunakan sebagai control, yaitu kasein dan laktal bumin sebagai sumber proteinnya, dicampur dengan bahan- bahan lain seperti karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Bahan- bahan makanan tersebut hanya boleh dicampurkan apabila akan digunakan dan untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan akibat pengaruh fisik, kimia atau mikrobiologis dan sebaiknya bahan-bahan tersebut disimpan pada suhu 4 C (Zakaria et al. 2007). Kandang tikus berlokasi pada tempat yang bebas dari suara ribut dan terjaga dari asap industri atau polutan lanilla. Lantai ruangan harus mudah dibersikan dan disanitasi. Suhu optimum ruangan untuk tikus adalah 22-24 C dan kelembaban udara 50-60%, dengan ventilasi yang cukup. Tempat makanan harus dibuat cukup besar untuk ad limitum feeding. Demikian tempat minum harus mudah dicapai oleh tikus, botol tempat air minum harus dibersihkan setiap satu minggu sekali. Ransum harus diganti setiap hari dan sisa ransum yang tertinggal jangan digunakan lagi. Tempat ransum harus diletakkan sedemikian rupa sehingga terhindar dari kontaminasi urin dan feses (Zakaria et al. 2007). Persamaan beberapa kebutuhan zat gizi tikus dengan manusia membuat penggunaan tikus sebagai hewan percobaan sangat menguntungkan. Menurut Muchtadi (2010), zat-zat gizi yang diperlukan tikus untuk pertumbuhannya yaitu karbohidrat yang terdiri dari pati, gula, dan selulosa. Lemak esensial juga dibutuhkan terutama linoleat dan linolenat karena karbohidrat dapat disintesis di dalam tubuhnya dari linoleat. Bila kekurangan asam lemak esensial maka kulitnya akan bersisik, pertumbuhannya terhambat, dan pada kasus berat dapat menimbulkan kematian. Sedangkan asam amino esensial yang dibutuhkan tikus ada 10 macam yaitu lisin, histidin, triptofan, fenilalanin, leusin, isoleusin, treonin, methionin,valin, dan arginin. Sehingga tanda-tanda kekurangan zat gizi yang juga dibutuhkan oleh manusia dapat terlihat dengan jelas pada tikus dan memudahkan penelitian. Selain itu penggunaan tikus sebagai hewan percobaan memberikan keuntungan karena biaya yang diperlukan tidak sebesar penggunaan hewan mamalia sehingga lebih terjangkau. Namun tikus juga memiliki kekurangan, diantaranya adalah tingkat stress tikus yang tinggi. Tikus termasuk hewan yang sensitif dan mudah mati pada tingkat stress tertentu.

Oleh karena itu, perlakuan terhadap tikus percobaan harus sangat hati-hati. Tikus memerlukan waktu adaptasi sebelum diberi perlakuan uji, tikus tidak boleh dipegang dengan alat bantu dan cara memegang tikus pun harus sesuai, telapak tangan harus ditempatkan pada punggungnya sedangkan ibu jari serta telapak tangan memegang kaki-kaki depan di bawah lehernya Muchtadi (2010).

Teknik Evaluasi Nilai Gizi Protein in vivo Secara garis besar, terdapat dua macam metode evaluasi nilai gizi protein yaitu metode in vitro dan metode in vivo. Metode in vivo, secara biologis, menggunakan hewan percobaan, salah satu hewan yang biasa digunakan yaitu tikus putih. Parameter yang ditetapkan dalam evaluasi nilai gizi suatu protein secara biologis antara lain PER, DC, BV, dan NPU. Protein efficiency ratio (PER) pada dasarnya menghitung efisiensi suatu protein pangan untuk digunakan dalam sintesis tubuh. PER merupakan perbandingan antara pertambahan berat badan dengan jumlah protein yang dikonsumsi. PER adalah suatu pengujian 28 hari untuk mengetahui pertambahan berat badan per satu gram protein yang dikonsumsi. FDA menggunakan PER sebagai dasar untuk persentase USRDA (US recommended daily allowance (USRDA) untuk protein (Muchtadi 2010). Cara ini biasanya melibatkan penggunaan anak-anak tikus jantan yang sudah tidak menyusu lagi yaitu yang berumur 20-23 hari. Kecepatan pertumbuhan tikus-tikus muda tersebut dipakai sebagai ukuran pengujian mutu protein yang dikonsumsi. Tikus percobaan diberi ransum yang mengandung 10% protein dengan masa percobaan selama 28 hari atau 4 minggu. Setiap minggu dievaluasi jumlah tambahan berat dan makanan yang dikonsumsi. Harga PER sangat dipengaruhi oleh kadar protein dalam diet dan komponen lain dalam bahan makanan seperti vitamin (Winarno 2002). Namun PER memiliki kekurangan karena mengasumsikan bahwa seluruh protein yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan, sedangkan protein pada tubuh manusia juga digunakan untuk fungsi pemeliharaan. Oleh karena itu, digunakan pula parameter Net protein ratio (NPR) dimana dilibatkan satu kelompok tikus yang diberi ransum tanpa protein dengan tujuan untuk menjadi pembanding. Perbedaan dengan NPR dengan PER yaitu pada NPR ditambahkan kelompok tikus nonprotein dan lama percobaan hanya sekitar 10 hari (Muchtadi 2010). Net protein utilization (NPU) adalah perbandingan antara jumlah asam amino yang dapat ditahan oleh tubuh dengan jumlah protein yang dikonsumsi. Jumlah nitrogen yang dimakan oleh tiap-tiap tikus percobaan diamati dan dicatat. Cara ini juga melibatkan penggunaan hewan percobaan tikus, umur 23 hari, yang dikelompokkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberi ransum yang mengandung protein yang akan diuji mutunya, sedangkan kelompok kedua diberi ransum tanpa protein untuk dijadikan pembanding (kontrol). Baik air maupun ransum diberikan ad libitum. Masa percobaan berlangsung selama 10 hari. Setelah selesai tikus-tikus percobaan dibunuh dengan menggunakan kloroform, tubuhnya dibuka, kemudian dikeringkan pada suhu 1050 C selama 48 jam, dan ditentukan berat keringnya. Setelah digiling, lalu dianalisis dan diukur kadar nitrogennya.

NPU dinyatakan dalam satuan prosen nitrogen yang dikonsumsi tikus-tikus percobaan (Winarno 2002). Nilai gizi protein diartikan sebagai kemampuan suatu protein untuk dapat dimanfaatkan oleh tubuh sebagai sumber nitrogen untuk sintesis protein tubuh, dua faktor penentunya yaitu daya cerna atau nilai cerna dan kandungan asam amino esensialnya (Muchtadi 2010). Nilai atau mutu protein sangat tergantung pada dua faktor yaitu daya cerna dan nilai biologisnya. Yang dimaksud daya cerna (DC) adalah jumlah fraksi nitrogen dari bahan makanan yang dapat diserap oleh tubuh. Sedangkan nilai biologis atau biological value (BV) merupakan harga atau jumlah fraksi nitrogen yang masuk ke dalam tubuh yang kemudian dapat ditahan oleh tubuh dan dimanfaatkan dalam proses pertumbuhan atau untuk menjaga agar tubuh tetap dalam keadaan normal. Baik nilai biologis maupun nilai NPU sangat dipengaruhi oleh jumlah kalori yang dikonsumsi. Konsumsi kalori yang rendah akan menurunkan retensi nitrogen dan akibatnya menurunkan nilai biologis dan NPU (Winarno 2002). Mutu protein dinilai dari perbandingan asam-asam amino yang terkandung dalam protein tersebut. Pada prinsipnya, suatu protein yang dapat menyediakan asam amino esensial dalam suatu perbandingan yang menyamai kebutuhan manusia mempunyai mutu yang lebih tinggi. Sebaliknya, protein yang kekurangan satu atau lebih asam amino esensial mempunyai mutu yang rendah. Jumlah asam amino yang tidak esensial tidak dapat digunakan sebagai pedoman karena asamasam amino tersebut dapat disintesis dalam tubuh (Winarno 2002). Asam-asam amino yang biasanya sangat kurang dalam bahan makanan disebut asam amino pembatas. Dalam serealia asam amino pembatasnya adalah lisin, sedang dalam leguminosa asam amino pembatasnya biasanya adalah metionin, maka kedua protein ini tergolong bermutu rendah. Jika protein dengan mutu rendah terlalu banyak dikonsumsi dan menu yang dibuat tidak beraneka ragam akan berakibat pada kurangnya asam amino pembatas dan beresiko mengalami gejala-gejala lanjutan (Winarno 2002).

Ransum Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat diberikan kepada ternak baik berupa bahan organik maupun nonorganik yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak, sedangkan ransum adalah campuran dua atau lebih bahan pakan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan ternak selama 24 jam. Ransum berasal dari bahan nabati atau hewani, berdasarkan sifatnya dapat berupa hijauan dan konsentrat, dan berdasarkan sumber zat gizinya yaitu sumber protein, mineral, dan energi. Secara internasional, ransum atau bahan pakan dibagi dalam delapan kelas, yaitu pakan kasar yang banyak mengandung serat kasar, hijauan segar, silase, sumber energi, sumber protein, sumber mineral, sumber vitamin, dan bahan additive (Sunarso dan Christiyanto 2000). Ransum sumber protein adalah ransum atau pakan yang mengandung lebih dari 20% protein. Contohnya ransum asal hewani yaitu tepung ikan, tepung daging, susu skim, dan tepung darah, sedangkan ransum asal nabati yaitu kacang tanah, kedele, turi, gamal, lamtoro atau pakan bungkil yang berasal dari kelapa,

kelapa sawit, kedele, kacang, kapok, kapas dan jagung (Sunarso dan Christiyanto 2000). Komposisi ransum tikus berdasarkan rekomendasi AOAC yaitu meliputi sumber protein, sumber lemak, pati, selulosa, vitamin, mineral, dan air. Komponen protein ditentukan jumlahnya (10%) dengan rumus X = (1.60x100) / %N sampel. Komponen lemak yang menggunakan minyak jagung ditentukan jumlahnya (8%) dengan menggunakan rumus 8 X x (%kadar lemak/100). Komponen mineral ditentukan jumlahnya (5%) dengan rumus 5 X x (%kadar abu/100). Vitamin ditentukan jumlahnya tetap 1%. Serat yang menggunakan CMC ditentukan jumlahnya (1%) dengan rumus 1 X x (%kadar serat kasar/100). Air minum sebanyak 5% ditentukan dari rumus 5 X x (%kadar air/100). Dan kemudian prosentase akhir adalah komponen karbohidrat yang melengkapi total prosentase menjadi 100% maka rumusnya adalah (100% - lainnya) (AOAC 1984 dalam Muchtadi 2010). Seluruh komponen yang sudah ditimbang sesuai rumus beratnya kemudian dijadikan satu dan diaduk hingga rata menjadi adonan. Adonan kemudian digiling. Menurut Sunarso dan Christiyanto (2000), dalam ilmu ternak, penggilingan (grinding) akan memperkecil ukuran partikel pakan, meningkatkan kecernaan khususnya bagi butiran yang keras. Partikel yang lebih kecil akan memperluas permukaan sehingga kecernaannya akan meningkat. Setelah itu adonan halus tercampur rata, adonan dibentuk menjadi ransum potongan kecil-kecil. Ransum kemudian dipanaskan di dalam oven hingga kering dan matang. Suhu tinggi pengeringan juga dapat membantu menghindarkan ransum dari pembusukan akibat mikroorganisme atau jamur dan kerusakan fisik.

Kasein Kasein merupakan proteida fosfor yang dijumpai dalam endapan koloida air susu dan terdiri dari beberapa unit asam amino. Kasein berasal dari bahasa latin yaitu Caseine, kata ini berawal dari kata caesus yaitu keju. Kasein merupakan hasil pengolahan susu yang larut dalam larutan alkali dan asam pekat, mengendap dalam asam lemak, dan tidak larut dalam air. Kasein sebagai protein utama susu merupakan protein nutrien dan penyimpan, kasein dapat diendapkan oleh asam. Kasein merupakan sejenis senyawa organik yang mempunyai gugus polar dan nonpolar. Kasein mengandung sulfur yang terdapat pada metionin dan sistin (Khopkar 2003). Ransum merupakan campuran pakan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan ternak atau hewan selama 24 jam. Bahan pakan sengaja dicampurkan dengan kasein untuk menghasilkan ransum sumber protein. Ransum sumber protein adalah ransum atau pakan yang mengandung lebih dari 20% protein (Sunarso dan Christiyanto 2000). Kasein sebagai sumber protein memiliki nilai gizi yang tinggi karena mengandung semua asam amino esensial dengan jumlah yang tinggi melebihi pola referensi dari FAO. Oleh karena itu kasein berfungsi sebagai acuan baku dalam pengujian-pengujian protein (ransum kontrol). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ishihara et al (2003), dinyatakan bahwa kasein mengandung asam amino esensial sebanyak 43.65%. Kasein komersial umumnya dihasilkan dari

susu skim yang mengalami pengendapan kasein akibat penambahan asam atau rennet. Komposisi kasein komersial terdiri atas protein 88.5%, lemak 0.2%, air 7%, dan abu 3.8% (Webb et al 1981). Menurut Buckle et al (1987), kasein komersial yang diproduksi merupakan substansi granular berwarna putih kekuningan. Kasein terbentuk dalam bentuk kalsium kaseinat, yaitu senyawa kompleks dari Ca-fosfat dan terdapat dalam bentuk partikel-partikel kompleks koloidal yang dikenal sebagai misel. Berdasarkan komposisi kimiawi, kasein terdiri atas: 55% -kasein, 25% -kasein, 15% k-kasein, dan 5% beberapa komponen kecil -kasein (Damodoran 1996).

Tepung Lele Pakan sumber protein merupakan bahan yang mengandung protein kasar 20% atau lebih, yang berasal dari hewan termasuk bahan yg disilase, maupun sumber nabati seperti bungkil. Pakan sumber protein hewani antara lain tepung ikan, tepung daging dan tulang, tepung daging, tepung bulu yang telah dihidrolisis, tepung limbah unggas, dan tepung darah. Ransum tepung ikan umumnya mengandung asam amino dengan asam amino yang menonjol yaitu arginin, glisin, leusin, isoleusin, lisin, dan valin (Sunarso dan Christiyanto 2000). Protein ikan adalah protein yang istimewa karena bukan hanya berfungsi sebagai penambahan jumlah protein yang dikonsumsi, tetapi juga sebagai pelengkap mutu protein (Erlangga 2009). Ilyas (2003) menyatakan, tepung ikan adalah produk padat yang dihasilkan dengan jalan mengeluarkan sebagian besar air dan sebagian atau seluruh lemak dalam ikan atau sisa ikan. Tepung ikan merupakan salah satu hasil pengawetan ikan dalam bentuk kering untuk kemudian digiling menjadi tepung. Cara pengolahan yang paling mudah dan praktis adalah dengan mencincang ikan kemudian mengeringkannya dengan sinar matahari atau dengan pengeringan mekanis. Pembuatan tepung ikan didasarkan pada pengurangan kadar air pada daging ikan. Kadar air pada daging ikan merupakan faktor penentu daya simpan ikan, pengurangan kadar air pada ikan akan membantu menghambat proses pembusukan. Dengan proses pengeringan secara terus menerus, maka proses pembusukannya akan berhenti sehingga tepung akan lebih tahan terhadap bakteri, jamur, maupun enzim. Proses pengeringan ikan menjadi tepung ikan selain menggunakan metode pengeringan dapat didahului dengan pemanasan suhu tinggi (Moeljanto 1982). Tepung ikan merupakan sumber kalsium (Ca) dan phosphor (P) dengan kandungan vitamin B dan mineral yang tinggi. Disamping memiliki kandungan serat yang rendah, pada tepung ikan lele juga terdapat kandungan trace element seperti seng (Zn), yodium (I), besi (Fe), mangan (Mn) dan kobalt (Co) (Moeljanto 1982). Komposisi kimia yang ada dalam tepung ikan tidak jauh berbeda dengan komposisi kimia pada ikan segar, yaitu air, protein, lemak, mineral, dan vitamin serta senyawa-senyawa nitrogen lainnya (Sunarya 1990). Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) memiliki rendemen daging sekitar 35% dari keseluruhan tubuhnya, ikan jenis ini memiliki bagian kepala dan tulang yang cukup besar yaitu kepala sekitar 27,49% dan tulang sebesar 14,61%. Komposisi gizi ikan lele

mengandung protein 17.8%, lemak 0.84%, abu 1.65%, air 79.45% dan karbohidrat 0.26% (Erlangga 2009). Oleh karena itu dapat dilihat bahwa kandungan air dan protein merupakan dua unsur penyusun utama dari tubuh ikan lele. Protein ikan lele memiliki kandungan asam amino esensial dalam jumlah yang cukup, yaitu Arginin 6.3%, Histidin 2.8%, Asoleusin 4.3%, Leusin 9.5%, Lisin 10.5%, Metionin 1.4%, Fenilalanin 4.8%, Treonin 4.8%, Valin 4.7%, dan Triptopan 0.8%, maka kandungan asam amino esensialnya sejumlah 49.9% sedangkan asam amino non esensialnya 50.1% (FAO 1997 diacu dalam Astawan 2008). Tepung lele digunakan dalam campuran ransum sebagai sumber protein yang mewakili kebutuhan protein manusia yang akan diujikan. Kandungan protein ikan umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan hewan darat yang akan menghasilkan kalori lebih tinggi. Dalam tubuh manusia protein memegang peranan penting dalam pembentukan jaringan. Kandungan asam amino esensial pada daging ikan dapat dikatakan sempurna, artinya semua jenis asam amino esensial terdapat pada daging ikan, tetapi perlu diperhatikan beberapa asam amino tidak mencukupi kebutuhan manusia diantaranya fenilalanin, triptofan, dan metionin. Kandungan protein pada daging ikan cukup tinggi dan berpola mendekati pola kebutuhan asam amino di dalam tubuh manusia. Ikan mempunyai nilai biologis yang tinggi (Winarno 2002).

Tepung Ikan Gabus Pakan sumber protein merupakan bahan yang mengandung protein kasar 20% atau lebih, yang berasal dari hewan termasuk bahan yg disilase, maupun sumber nabati seperti bungkil. Pakan sumber protein hewani antara lain tepung ikan (Sunarso dan Christiyanto 2000). Tepung ikan adalah produk padat yang dihasilkan dengan jalan mengeluarkan sebagian besar air dan sebagian atau seluruh lemak dalam ikan atau sisa ikan. Tepung ikan merupakan salah satu hasil pengawetan ikan dalam bentuk kering untuk kemudian digiling menjadi tepung (Ilyas 2003). Komposisi kimia yang ada dalam tepung ikan tidak jauh berbeda dengan komposisi kimia pada ikan segar. Salah satu jenis tepung ikan yang biasa digunakan adalah tepung ikan gabus. Ikan gabu (Ophiocephalus striatus) memiliki kadar protein yang cukup tinggi. Kadar protein ikan gabus 25.5% lebih tinggi dibandingkan dengan ikan bandeng (20%), ikan emas (16%), ikan kakap (20%) dan ikan sarden (21.1%). Dalam 100 g ikan gabus mengandung kalori 69 kkal, protein 25.2 g, lemak 1.7 g, dan air 69 g. Sedangkan kandungan asam amino dalam 100 g ikan gabus adalah leusin 1314.2 mg, isoleusin 801.6 mg, treonin 581.2 mg, metionin 397.5 mg, fenilalanin 678.4 mg, lisin 1273.4 mg, tirosin 1193.4 mg, glisin 769.9 mg, alanin 156.8 mg, valin 811 mg, serin 461 mg, asam aspartat 1358 mg, asam glutamat 2578 mg, arginin 2499.7 mg dan histidin 332 mg. Tepung ikan gabus dalam setiap 100 g mengandung energi 428 kkal, protein 16%, lemak 11.6%, karbohidrat 64.9% dan air 6% dengan PER 2.8J (Puslitbang Gizi Depkes 1999). Tepung ikan gabus banyak digunakan sebagai sumber protein hewani yang diharapkan menjadi alternatif sumber protein terutama albumin (Santosa 2001), namun dalam evaluasi nilai gizi in vivo tepung ikan gabus dijadikan campuran

ransum agar ransum yang dihasilkan menjadi ransum sumber protein. Tepung ikan gabus digunakan dalam campuran ransum sebagai sumber protein yang mewakili kebutuhan protein manusia yang akan diujikan. Kandungan protein ikan umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan hewan darat yang akan menghasilkan kalori lebih tinggi. Dalam tubuh manusia protein memegang peranan penting dalam pembentukan jaringan. Kandungan asam amino esensial pada daging ikan dapat dikatakan sempurna, artinya semua jenis asam amino esensial terdapat pada daging ikan, tetapi perlu diperhatikan beberapa asam amino tidak mencukupi kebutuhan manusia diantaranya fenilalanin, triptofan, dan metionin. Kandungan protein pada daging ikan cukup tinggi dan berpola mendekati pola kebutuhan asam amino di dalam tubuh manusia. Ikan mempunyai nilai biologis yang tinggi (Winarno 2002).

METODOLOGI
Waktu dan Tempat Praktikum Evaluasi Nilai Gizi Protein secara in vivo dilakukan pada hari Rabu tanggal 13 November sampai tanggal 18 Desember 2013 pada pukul 09.00 sampai dengan pukul 12.00 WIB yang dilaksanakan di Laboratorium Evaluasi Nilai Gizi lantai 2, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Alat dan Bahan Bahan utama yang digunakan adalah tikus putih galur sprague dawley (sebagai hewan percobaan ) dan ransum tikus percobaan.Komposisi penyusun ransum tikus terdiri dari pati jagung, campuran mineral, campuran vitamin, minyak jagung, kasein (sebagai protein standar ) dan beberapa sampel protein uji, dan berbagai pereaksi yang digunakan untuk analisis kjeldahl serta analisis proksimat lainnya. Alat utama yang digunakan pada praktikum kali ini adalah kandang metabolic, wadah minum, botol kaca, timbangan tikus, timbangan bahan, tissue, alumunium foil, refrigerator, sendok, baskom, erlenmeyer, penangas, seperangkat peralatan untuk analisis kjeldahl dan proksimat.

Prosedur Percobaan Tahap pertama : Persiapan dan Analisis proksimat : 1. Penetapan Kadar Air Metode Oven Biasa untuk mengetahui kadar air pada tepung lele, ikan gabus dan non-protein dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Cawan dikeringkan dalam oven selama 1 jam

cawan dimasukkan dalam desikator selama 15-20 menit

cawan ditimbang (a gram) sampel sebanyak 2 gram dimasukkan ke dalam cawan cawan dan sampel ditimbang (X1 gram) dipanaskan dalam oven selama1 jam dimasukkan kedalam desikator selama 15-20 menit cawan dan sampel ditimbang (X2 gram). Gambar 1 Prosedur penetapan kadar air metode oven biasa 2. Penetapan Kadar Abu Percobaan untuk mengetahui kadar air pada tepung lele, ikan gabus dan non protein dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: Cawan pengabuan dikeringkan di dalam oven pada suhu 100-105C selama 1 jam cawan didinginkan selama 15 menit dalam desikator, kemudian ditimbang dimasukkan sampel sebanyak 1.5-2 gram ke dalam cawan dimasukkan ke dalam Tanur dengan suhu 600C didinginkan diluar Tanur pada tempat yang telah disediakan, hingga suhunya turun sampai 120C dimasukkan dalam desikator, setelah dingin timbang cawan+abu. Gambar 2 Prosedur penetapan kadar abu 3. Penetapan Kadar Lemak Penetapan kadar lemak metode soxhlet diawali dengan cara mengeringkan labu lemak pada suhu 105C selama 30 menit, kemudian didinginkan dalam desikator agar sampel bebas dari lemak. Penetapan kadar lemak dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: Sampel yang telah ditimbang disimpan pada alat ekstraksi soxhlet dituang 50 ml pelarut heksana pada labu lemak dan diletakkan di soxhlet dipanaskan selama 6 jam, kemudian pelarut disulingkan labu dikeringkan di dalam oven. Gambar 3 Prosedur ekstraksi lemak metode soxhlet

4. Penetapan Kadar Protein Percobaan kali ini dilakukan penetapan kadar protein dalam sampel dengan menggunakan metode Kjeldhal. Penetapan kadar protein dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: Ditimbang bahan kira-kira 0.5 gram dimasukkan bahan tersebut dalam labu Kjeldhal ditambahkan 2.5-5 gram atau 0.5-1 sendok selenium mix atau campuran 5 gram CuSO4 dan KMnO4 (1:9) dan 25 ml H2SO4 pekat dipanaskan dengan api kecil, kemudian api dibesarkan sampai terjadi larutan berwarna jernih kehijauan dan uap SO2 hilang didinginkan kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dan diencerkan sampai tanda tera dipipet 10 ml, lalu dimasukkan ke dalam labu destilasi dan ditambahkan 10 ml NaOH 10% kemudian disuling destilat ditampung dalam 20 ml larutan asam borat 3% dititrasi larutan asam borat dengan HCl standar sampai berwarna ungu dengan menggunakan metil merah sebagai indikator. Gambar 4 Prosedur penetapan kadar protein metode Kjeldhal Tahap kedua : Pembuatan Ransum Pembuatan ransum dibuat menjadi Ransum yang empat jenis ransum. Ransum tersebut adalah ransum non protein, ransum kasein, ransum ikan gabus, dan ransum ikan lele. Ransum kasein dan ransum non protein merupakan jenis ransum non protein yang akan diberikan pada tikus non protein, sedangkan untuk jenis ransum ikan lele dan ikan gabus merupakan ransum protein dan diberikan pada tikus yang diberi perlakuan pemberian protein. Komposisi antar jenis ransum yang dibuat berbeda beda tergantung pada karakteristik bahan dasar yang digunakan. Salah satu contoh komposisi pembuatan ransum seperti ditampilkan dalam tabel 1 sebagai berikut. Tabel 1 Komposisi pembuatan ransum
Bahan Campuran Sumber protein Minyak jagung Air Mineral mix Vitamin mix CMC Pati jagung 100 g 0 8 5 5 1 1 80 X15 120 75 75 15 15 1200

Perlakuan Tikus Pembuatan ransum Masing-masing perlakuan untuk tiga tikus dilakukan proses adaptasi dengan pemberian casein selama tiga hari 10 hari masa perlakuan dengan ransum Diberikan ransum kepada tikus setiap hari, ditimbang feses dan urin setiap hari Dipisahkan kotorannya Ditimbang tikus setiap tiga hari sekali Dimatikan tikus dengan kloroform di akhir percobaan (hari ke 13) Dibuat sayatan melintang pada tikus dimulai dari ekor hingga kepala pada bagian perut dan dada Semua tikus digabungkan diletakkan pada satu nampan yang telah diketahui beratnya Ditimbang sebelum dan sesudah dikeringkan dalam oven pada 105oC48 jam Dihitung berat cairan tubuh dan berat karkas kering, dihancurkan hingga halus Dihitung kadar nitrogen dalam karkas dan ransum dengan metode Kjeldahl dan dihitung BV dan D Gambar 5 Proses perlakuan pada tikus Tahap ketiga : Intervensi dan pemeliharaan tikus Masa adaptasi tikus selama 3 -5 hari untuk pembiasaan tikus pada lingkungan pengujian Digunakan ransum selama masa adaptasi adalah ransum kontrol seperti kasein, laktalbumin atau susu skim yang dicampur dengan bahan bahan lain Apabila dari hasil pengamatan terlihat tikus tidak mengalami gangguan , maka ransum yang dikonsumsi dicatat setiap hari. Selama intervensi, berat tikus dan ransum yang dikonsumsi harus dicatat secara berkala. Berat badan tikus ditimbang tiap 2 hari, sedangkan ransum yang dikonsumsi dicatat setiap hari

X Selama intervensi, feses, urin dikumpulkan dalam wadah tertentu ( 2 hari sekali ) Botol penampung urin diberi 1-2 tetes H2SO4 5 % , untuk mencegah menguapnya amoniak Tepat pada hari ke 10 bedah seluruh tikus dan ambil darah dari rongga dada. Gambar 6 Intervensi dan pemeliharaan tikus Tahap keempat : Destruksi Feses dicampur dari 3 tikus dan di tumbuk hingga halus. Urin dicampur. Ditimbang 0,5 gram feses/urin,dimasukkan kedalam labu destilasi, dibuat duplo Ditambahkan setengah sudip selenium mix. Ditambahkan H2SO4 7 ml. Didestruksi hingga warna dari feses dan urin jernih dengan menggunakan api yang kecil Hasil desktruksi diencerkan dengan air 100 ml diambil 10 ml duplo, dimasukkan ke labu destilasi ditambahkan 3 tetes mm MM ditambahkan NaOH sampai setengah labu Untuk di bawah alat : - Masukan HBO3 20 ML - Tambahkan 3 tetes MM Gambar 7 Proses Destruksi Destilasi Sampel dipindahkan ke labu kjedhal, bilas labu destruksi hingga bersih dengan aquades Ditambahkan aquades hingga labu kjedhal. Ditambahkan MMB 3 tetes Ditambahkan NaOH Dibilas dengan aquades

X Didestilat 75 ml Erlenmeyer diisi 20 ml asam borat Diteteskan 2-3 MM Di titrasi dengan HCL Gambar 8 Proses Destilasi Titrasi Erlenmeyer diletakkan dibawah buret untuk dilakukan titrasi diteteskan sedikit demi sedikit larutan titran titrasi dikatakan selesai jika telah terbentuk warna ungu untuk pertama kali dan warna telah permanen Gambar 9 Prosedur titrasi analisis protein pada feses tikus

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu bahan pakan atau pangan. Zat gizi sangat diperlukan oleh hewan untuk pertumbuhan, produksi, reproduksi, dan hidup pokok. Analisis proksimat yang dilakukan pada ransum adalah penentuan kadar air, serat kasar, lemak, protein, dan abu. Penentuan kadar air dengan analisis proksimat memiliki prinsip yaitu menghitung kadar air dalam suatu bahan dengan menggunakan oven, sehingga dapat diukur berat sampel sebelum di oven dan berat sampel sesudah di oven. Selisih keduanya merupakan jumlah air yang dikandung bahan tersebut (Khopkar SM 1980). Ransum yang sudah jadi ditimbah terlebih dahulu kemudian dimasukan ke dalam oven menggunakan cawan yang telah dipanaskan sebelumnya. Ransum dipanaskan hingga kering dan kandungan air telah menguap seluruhnya kurang lebih selama 3 jam pada suhu diatas 100oC. Ransum yang sudah dipanaskan ditimbang kembali. Selisih berat ransum sebelum dipanaskan dengan berat ransum setelah dipanaskan merupakan kandungan air dalam ransum. Kandungan gizi yang dianalisis selanjutnya adalah lemak. Prinsip penentuan kadar lemak dengan analisis proksimat adalah melarutkan lemak yang terdapat didalam bahan dengan pelarut lemak (ekstraksi) selama beberapa waktu yaitu sekitar 3-8 jam. Alat yang digunakan untuk ekstraksi adalah sokhlet (gold fish). Pelarut yang digunakan adalah: kloroform, petroleum benzena, aseton, heksan. Lemak yang terekstaksi (larut dalam pelarut) terakumulasi dalam wadah pelarut (labu sokhlet/gelas gold fish) kemudian dipisahkan dari pelarut dengan cara dipanaskan dalam oven dengan temperatur 105 C. Pelarut akan menguap

karena titik didihnya rendah/dibawah 80 C maka untuk mendapatkan berat lemak tinggal ditimbang lemak yang tertinggal didalam wadah (Khopkar SM 1980). Prosedur penetapan kandungan lemak dengan analisis proksimat menurut Khopkar SM (1980) adalah sampel bahan kering diekstrasi dengan etil eter selama beberapa jam, maka bahan yang didapatkan adalah lemak, eter akan menguap. Alat yang digunakan adalah timbangan analitik, tang penjepit, oven pengering, desikator, seperangkat alat ekstraksi dan selongsong dari soxhlet yang berfungsi untuk ekstraksi lemak, labu penampung yang berfungsi menampung sisa petroleum benzene yang jatuh dari soxhlet , alat pendingin yang berfungsi untuk mengkondensari uap hasil penguapan petroleum benzen agar tidak mencemari lingkungan, dan kertas saring bebas lemak yang berfungsi untuk menyaring ekstrak. Prinsip penentuan kadar protein dengan analisis proksimat adalah penetapan nilai protein kasar dilakukan secara tidak langsung karena analisis ini didasarkan pada penentuan kandungan nitrogen yang terdapat dalam bahan. Kandungan nitrogen (N) yang diperoleh dikalikan dengan angka 6,25 sebagai angka konversi menjadi nilai protein. Nilai 6,25 didapat dari asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen (Khopkar SM 1980). Prosedur penentuan protein dengan analisis proksimay menurut Khopkar SM (1980) adalah dilakukan dengan 3 tahapan yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi. Prinsip penentuan kadar serat kasar menggunakan analisis proksimat adalah komponen suatu bahan yang tidak dapat lewat dalam pemasakan dengan asam encer dan basa encer selama 30 menit adalah sampel kering dan abu, untuk mendapatkan serat kasar maka bagian yang tidak larut tersebut (residu) disamakan sesuai dengan analisis (Khopkar SM 1980). Menurut Khopkar SM (1980), perbedaan antara berat endapan sebelum dibakar dan berat abu disebut serat kasar. Serat kasar adalah bahan organik yang tidak larut saat dihidrolisis dengan H2SO4 1,25% dan NaOH 1,25%. Perebusan dengan menggunakan H2SO4 1,25% setelah itu diberi NaOH 1,25% supaya suasananya asam menjadi basa sesuai dengan suasana pencernaan pada ruminansia yang di dalam rumen yang asam dan usus halus suasana basa. Alat yang digunakan adalah beaker glass 600ml, desikator, tang penjepit, timbangan analitik, tanur (550oC sampai 600oC), pemanas untuk mendidihkan campuran bahan dalam beaker glass, saringan linen yang berfungsi untuk menyaring bahan organik yang tertinggal, gelas arloji, glass wool dan gooch crucible yang berfungsi sebagai penyaring bahan organik yang tertinggal. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah H2SO4 1,25% (0,255N) yang berfungsi untuk menghidrolisis karbohidrat dan protein, NaOH 1,25% (0,313N) yang berfungsi untuk penyabunan lemak, dan ethyl alkohol 95%. Semua senyawa organik kecuali serat kasar akan larut bila direbus dalam H2SO4 1,25% (0,255N) dan NaOH 1,25% (0,313N) yang berurutan masing-masing selama 30 menit. Bahan organik yang tertinggal disaring dengan glass wool dan gooch crucible. Hilangnya bobot setelah dibakar 550oC sampai 600oC adalah serat kasar. Berdasarkan data-data yang diperoleh, maka kadar serat kasar dapat dihitung dengan menghitung bobot sampel setelah dioven 105oC dikurangi bobot sisa pembakaran 550 sampai 600oC dan dikali 100% dan dibagi bobot sampel awal. Prinsip penentuan kadar abu dengan analisis proksimat menurut Khopkar SM (1980) adalah bahan dibakar dalam tanur (fornace) dengan suhu 600 C selama 3 8 jam, sehingga seluruh unsur utama pembentukan senyawa organik

(C, H, N, O), habis terbakar dan berubah menjadi gas. Sisanya yang tidak terbakar adalah abu, yang merupakan kumpulan dari mineral yang terdapat dalam bahan. Cawan porselen dikeringkan di dalam oven selama 1 jam pada suhu 100-105oC, kemudian dilanjutkan dengan pendinginan di dalam Eksikator selam 15 menit dan ditimbang. Hasil penimbangan dicatat sebagai A gram. Sejumlah sampel kering dimasukkan ke dalam oven sebanyak 2-5 gram di dalam cawan, dicatat sebagai B gram. Sampel dipanaskan dengan hot plate atau pembakar bunsen sampai tidak berasap lagi. Sampel dimasukkan ke dalam tanur listrik dengan temperatur 600700oC, dibiarkan beberapa lama sampai bahan berubah menjadi abu putih betul. Lama pembakaran sekitar 3-6 jam. Sampel didinginkan dalam eksikator kurang lebih 30 menit dan timbang dengan teliti (hasil dicatat sebagai C gram). Kadar abu dapat dihitung dari data hasil yang telah didapat. Menurut Sunarso dan Christiyanto (2000) ransum adalah campuran dua atau lebih bahan pakan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan ternak selama 24 jam. Ransum berasal dari bahan nabati atau hewani, berdasarkan sifatnya dapat berupa hijauan dan konsentrat, dan berdasarkan sumber zat gizinya yaitu sumber protein, mineral, dan energi. Ransum yang dibuat untuk praktikum kali ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu ransum protein dan ransum non protein. Ransum jenis protein diperoleh dari tepung ikan. Berikut disajikan tabel komposisi bahan penyusun ransum. Tabel 2 Komposisi bahan penyusun ransum
Komposisi Protein Lemak Mineral Vitamin Serat Air Karbohidrat Sumber Protein standar atau protein uji Minyak jagung Mineral mix Vitamin mix CMC Air minum Pati jagung Jumlah 10% 8% 5% 1% 1% 5% 70% Perhitunngan (%) 1.60 x 100 = % N sampel % kadar lemak 8 ( ) 100 % kadar abu 5 ( ) 100 1% % kadar serat kasar 1 ( ) 100 % kadar air 5 ( ) 100 100 (lainnya)

Ransum yang dibuat oleh kelompok praktikan adalah ransum jenis non protein. Pembuatan ransum diawali dengan penentuan komposisi dari bahanbahan penyusun ransum. Ransum dibuat dari beberapa bahan pangan sumber karbohidrat sebanyak 70%, sumber lemak sebanyak 8%, sumber mineral sebanyak 5%, sumber vitamin sebanyak 1%, sumber serat sebanyak 1%, air sebanyak 5%, dan sumber protein sebanyak 10%. Protein jenis non protein yang dibuat oleh kelompok praktikan bahan pangan sumber protein digantikan dengan bahan pangan sumber karbohidrat sehingga komposisi bahan pangan sumber karbohidrat yang digunakan sebanyak 80%. Berikut disajikan tabel formulasi ransum non protein sampel 100 gram.

Tabel 3 Formulasi ransum non protein per 100 gram bahan pangan campuran
Bahan campuran Sumber protein Minyak Air Mineral mix CMC Vitamin mix Pati jagung Jumlah Ransum non protein Per 100 gram 0.00 8.00 5.00 5.00 1.00 1.00 80.00 100 Tot. formulasi (B3X15) 0.00 120.00 75.00 75.00 15.00 15.00 1200 1500

Ransum non protein diperoleh dari formulasi bahan campuran per 100 gram dengan sumber minyak sebesar 8 gram, air 5 gram, mineral mix 5 gram, CMC 1 gram, vitamin mix 1 gram, dan pati jagung 80 gram. Total sampel analisis non-protein per 100 gram diperoleh sebesar 100. Total formulasi sampel nonprotein diperoleh sebesar 1500 gram dalam 100 gram yang berarti 1:1,5 yaitu sebesar 15, sehingga dilakukan perkalian dari sampel kasein sumber minyak per 100 gram sebesar 8 gram dikalikan dengan perbandingan formulasi untuk sumber minyak sebesar 15. Sehingga diperoleh hasil sebesar 120 gram. Total formulasi dari bahan campuran lainnya dapat diperoleh dengan melakukan kalkulasi dan cara yang sama yang dilakukan pada bahan campuran sumber minyak. Sehingga diperoleh total hasil formulasi, air 75 gram, mineral mix 75 gram, CMC 15 gram, vitamin mix 15 gram, dan pati jagung 1200 gram. Bahan pangan yang sudah siap dan jumlahnya sudah sesuai komposisi dicampurkan hingga merata dibuat menjadi adonan. Adonan yang sudah jadi kemudian digiling sehingga ukurannya menjadi lebih kecil. Penggilingan ini menurut Sunarso dan Christiyanto (2000) akan meningkatkan daya cerna ransum karena ukuran partikel yang mengecil. Partikel yang mengecil akan memperluas permukaan sehingga daya cernanya akan meningkat. Ransum yang telah dibentuk menjadi andonan kecil kemudian dipanaskan dalam oven hingga kering dengan suhu tinggi. Suhu tinggi pada pemanasan dan pengeringan ini akan membantu ransum terhindar dari pembusukan akibat mikroorganisme atau jamur dan kerusakan fisik. Ransum yang telah jadi dapat diberikan kepada tikus sesuai perlakuan yang telah ditentukan. Hewan percobaan adalah hewan yang sengaja dipelihara dan diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model guna mempelajari berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian atau pengamatan laboratorium. Kesamaan filogeni antara manusia dengan primata mendorong para ilmuwan memilih hewan primata sebagai model dalam percobaan laboratorium. Akan tetapi karena dari segi pengadaannya sulit dan pemeliharaannya juga memerlukan biaya yang besar maka jenis tikus putih dapat dipilih sebagai alternatif (Malole dan Pramono 1989). Persamaan beberapa kebutuhan zat gizi tikus dengan manusia membuat penggunaan tikus sebagai hewan percobaan sangat menguntungkan. Menurut Muchtadi (2010), zat-zat gizi yang diperlukan tikus untuk pertumbuhannya yaitu karbohidrat yang terdiri dari pati, gula, dan selulosa.

Menurut Zakaria et al (2007), umumnya tikus yang digunakan untuk percobaan adalah tikus-tikus yang baru disapih yaitu umur kurang lebih 21 hari. Sebelum percobaan dimulai harus dilakukan masa adaptasi selama 4-5 hari untuk membiasakan tikus pada lingkungan laboratorium. Masa pembiasaan pada praktikum dilakukan selama 3 hari sebelum intervensi diberikan. Masa pembiasaan pada praktikum yang kurang dari masa pembiasaan berdasarkan Zakaria et al (2007) diakibatkan oleh waktu praktikum yang terbatas sehingga tidak memungkinkan melakukan masa pembiasaan terlalu lama. Selama masa pembiasaan pada praktikum, tikus diberikan ransum kasein sebagai sumber proteinnya, dicampur dengan bahan- bahan lain seperti karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Bahan- bahan makanan tersebut hanya boleh dicampurkan apabila akan digunakan dan untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan akibat pengaruh fisik, kimia atau mikrobiologis dan sebaiknya bahan-bahan tersebut disimpan pada suhu 4C. Tikus percobaan pada praktikum dibedakan menjadi empat jenis tikus berdasarkan jenis ransum yang diberikan. Jenis-jenis ransum yang diberikan adalah ransum kasein, ransum tepung ikan lele, ransum tepung ikan gabus, dan ransum non protein. Perbedaan jenis ransum yang diberikan memberikan perbedaan pada pertambahan berat badan tikus percobaan bahkan terdapat penurunan berat badan pada salah satu tikus percobaan. Hasil penimbangan berat badan tikus percobaan saat awal dan penimbangan berat badan tikus percobaan di akhir praktikum adalah sebagai berikut: Tabel 4 Hasil penimbangan berat badan tikus percobaan
Jenis Ransum Kode Tikus BB awal (gram) BB akhir (gram) 95 70,2 39,1 38,6 Selisih BB awal dan BB akhir (gram) 19 2,4 3,2 -33

Kasein Tepung Ikan Lele Tepung Ikan Gabus Non Protein

J1 M3 K3 T3

76 67,8 35,9 71,6

Kelompok praktikum E2 bertanggungjawab terhadap pertumbuhan tikus non protein. Pertumbuhan tersebut termasuk pertambahan maupun penurunan berat badan tikus non protein. Tikus non protein diberikan kode T3 dengan berat badan awal 71,6 gram. Berat badan tikus percobaan ditimbang sebanyak 7 kali selama masa intervensi dan sekali sebelum melakukan pembedahan. Berat badan akhir tikus percobaan diambil berdasarkan berat badan tikus sebelum melakukan pembedahan. Tikus non protein memiliki berat badan akhir 38,6 gram. Tikus non protein mengalami penurunan berat badan setelah masa intervensi. Penurunan berat badan terjadi selama intervensi pada tikus non protein, dimana penurunan berat badan terjadi secara bertahap. Selisih berat badan pada tikus non protein pada awal dan akhir intervensi sebesar 33 gram. Selain tikus non protein, tikus dengan jenis ransum kasein, ransum tepung lele, dan ransum tepung ikan gabus mengalami penambahan berat badan. Pada tikus kasein dengan berat badan awal 76 gram memiliki pertambahan berat badan sebesar 19 gram. Tikus kasein memiliki pertambahan berat badan paling besar dibandingkan dengan tikus tepung lele dan tikus tepung ikan gabus.

Berat badan awal pada tikus tepung lele sebesar 67,8 gram, sedangkan berat badan awal pada tikus tepung ikan gabus adalah 35,9 gram. Berat badan tikus paling besar di awal masa pembiasaan dimiliki oleh tikus kasein sebesar 76 gram sedangkan berat badan tikus paling besar di akhir masa intervensi dimiliki oleh tikus kasein pula dengan berat 95 gram. Tikus non protein mengalami penurunan berat badan akibat ransum yang tidak mengandung protein ataupun tidak mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan oleh tikus dalam masa pertumbuhannya. Katili (2009) protein berfungsi mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan organisme, sehingga pemberian ransum tanpa protein menghambat pertumbuhan dan perkembangan tikus percobaan. Pada tikus dengan pemberian ransum tepung lele dan tepung ikan gabus, tikus mengalami penambahan berat badan sebanyak 2,4 3,2 gram. Penambahan berat badan pada kedua tikus percobaan dipengaruhi oleh kandungan protein pada ikan lele dan ikan gabus yang menjadi bahan ransum. Tikus dengan penambahan berat badan paling besar terdapat pada tikus kasein, dimana ransum terdiri dari kasein dengan jumlah protein lebih dari 20% (Sunarso dan Christiyanto 2000). Kasein sebagai sumber protein memiliki nilai gizi yang tinggi karena mengandung semua asam amino esensial dengan jumlah yang tinggi melebihi pola referensi dari FAO. Oleh karena itu kasein berfungsi sebagai acuan baku dalam pengujian-pengujian protein (ransum kontrol). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ishihara et al (2003), dinyatakan bahwa kasein mengandung asam amino esensial sebanyak 43.65%. Jumlah asam amino yang berlimpah berpengaruh terhadap penambahan berat badan tikus kasein. Secara garis besar, terdapat dua macam metode evaluasi nilai gizi protein yaitu metode in vitro dan metode in vivo. Metode in vivo, secara biologis, menggunakan hewan percobaan, salah satu hewan yang biasa digunakan yaitu tikus putih. Parameter yang ditetapkan dalam evaluasi nilai gizi suatu protein secara biologis antara lain PER, DC, BV, dan NPU (Muchtadi 2010). Praktikum ini menggunakan metode in vivo menggunakan tikus sebagai hewan percobaan. Hasil perhitungan nilai gizi protein pada tikus dengan ransum tepung lele dan tikus dengan ransum tepung ikan gabus adalah sebagai berikut: Tabel 5 Hasil perhitungan nilai gizi protein pada tikus percobaan
Jenis Ransum Tepung lele Tepung ikan gabus Kode Tikus M3 K3 Nilai PER 0,66 0,50 Nilai NPR 11,27 6,56 Nilai DC (%) 77,39 102,36

Hasil praktikum menunjukkan bahwa nilai PER dan NPR pada tikus dengan ransum tepung lele memiliki nilai yang lebih tinggi, yakni 0,66 untuk PER dan 11,27 untuk NPR. Namun, daya cerna ransum tepung ikan gabus lebih baik dibandingkan daya cerna tepung ikan lele dengan persentase daya cerna sebesar 102,36% pada ransum ikan gabus. Nilai PER yang semakin tinggi menunjukkan bahwa suatu jenis protein semakin efisien digunakan dalam sintesis sel tubuh. PER merupakan perbandingan antara pertambahan berat badan dengan jumlah protein yang dikonsumsi (Muchtadi TR dan Ayustaningwarno F 2010). Kecepatan pertumbuhan tikus-tikus muda tersebut dipakai sebagai ukuran pengujian mutu protein yang dikonsumsi. Harga PER sangat dipengaruhi oleh kadar protein dalam

diet dan komponen lain dalam bahan makanan seperti vitamin (Winarno 2002). Tingginya nilai PER pada ransum tepung lele diakibatkan oleh kandungan protein dalam ikan lele yang tinggi sebesar 49,9% asam amino esensial dan 50,1% asam amino non esensial (FAO 1997 diacu dalam Astawan 2008). Selain itu tepung ikan lele juga mengandung vitamin B dan kadar mineral trace element yang tinggi (Moeljanto 1982). Kadar protein yang tinggi pada ikan lele tidak sebesaar kadar protein dalam ikan gabus sebanyak 25,5%. Hal ini yang menyebabkan nilai PER pada ransum tepung lele lebih tinggi dibandingkan ransum tepung ikan gabus (Depkes RI 1999). Selain menghitung nilai PER pada masing-masing ransum, perhitungan nilai gizi protein dilakukan pula dengan menghitung nilai NPR, dimana dilibatkan satu kelompok tikus yang diberi ransum tanpa protein dengan tujuan untuk menjadi pembanding. Perhitungan menggunakan NPR dilakukan karena nilai PER dianggap memiliki kekurangan. Nilai PER memiliki kekurangan karena mengasumsikan bahwa seluruh protein yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan, sedangkan protein pada tubuh manusia juga digunakan untuk fungsi pemeliharaan (Muchtadi TR dan Ayustaningwarno F 2010). Hal ini sesuai dengan hasil praktikum dimana nilai PER berbanding lurus dengan nilai NPR ransum, dimana ransum tepung lele memiliki nilai PER dan NPR lebih tinggi. Nilai gizi protein diartikan sebagai kemampuan suatu protein untuk dapat dimanfaatkan oleh tubuh sebagai sumber nitrogen untuk sintesis protein tubuh, dua faktor penentunya yaitu daya cerna atau nilai cerna dan kandungan asam amino esensialnya (Muchtadi TR dan Ayustaningwarno F 2010). Daya cerna (DC) diartikan sebagai jumlah fraksi nitrogen dari bahan makanan yang dapat diserap oleh tubuh. Berdasarkan hasil praktikum ransum ikan gabus yang memiliki nilai PER dan NPR lebih rendah ternyata memiliki kandungan nitrogen lebih mudah diserap tubuh dibandingkan ransum tepung lele. Hal diakibatkan oleh kandungan asam amino esensial pada tepung ikan gabus lebih merata dibandingkan kandungan asam amino esensial pada tepung lele (Winarno 2002). Mutu protein dinilai dari perbandingan asam-asam amino yang terkandung dalam protein tersebut. Pada prinsipnya, suatu protein yang dapat menyediakan asam amino esensial dalam suatu perbandingan yang menyamai kebutuhan manusia mempunyai mutu yang lebih tinggi. Sebaliknya, protein yang kekurangan satu atau lebih asam amino esensial mempunyai mutu yang rendah. Jumlah asam amino yang tidak esensial tidak dapat digunakan sebagai pedoman karena asamasam amino tersebut dapat disintesis dalam tubuh (Winarno 2002).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Nilai gizi protein pada bahan pangan yang dievaluasi dengan metode in vivo pada praktilkum kali ini adalah tepung ikan gabus dan ikan lele yang diolah menjadi ransum untuk hewan percobaan yaitu tikus putih. Bahan pangan tersebut dibandingkan hasil evaluasinya dengan protein kontrol berupa kasein. Hasil analisis yang dilakukan adalah nilai gizi dari protein ikan gabus lebih baik

dibandingkan dengan ikan lele, hal ini dibuktikan dengan kandungan asam amino esensial dan nilai cerana yang berada pada ikan gabus lebih baik dibandingkan yang berada pada ikan lele. Selain kasein yang digunakan sebagai pembanding kontrol ditambah pula dengan adanya kelompok yang tidak diberi intervensi protein, kelompok ini ada untuk mengurangi kesalahan pada nilao PER yang menganngap bahwa semua protein hanya digunakan untuk pertumbuhan dan tidak untuk pertahaanan (maintenance) didalam tubuh. Nilai koreksi tersebut ditulis pada nilai NPR. Penentuan nilai daya cerna (DC) dihasilkan dari hasil perbandingan antara protein yang diserap yang dilihat dari selisih nilai nitrogen pada feses antara tikus protein dan non protein dengan nitrogen yang dikonsumsi secara total. Sedangkan nilan net protein utilisation (NPU) diperoleh dari hasil metabolic secara keseluruhan baik dari feses dan urin yang telah dihitung selisihnya antara tikus protein dan non protein dibandingkan dengan nitrogen yang diserap. Untuk nilai PER dan NPR pada tikus yang diberi intervensi ikan lele lebih memiliki nilai yang besar dibandingkan dengan tikus yang diberi intervensi ikan gabus. Sedangkan nilai DC tepung ikan gabus memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan nilai DC tepung ikan lele.

Saran Saran untuk praktikum kali ini adalah dalam hal penanganan terhadap tikus lebih baik dilakukan oleh tenaga yang lebih terlatih untuk mengurangi data yang tidak akurat seperti penimbangan berat badan tikus, berat feses dan berat urin.

DAFTAR PUSTAKA
Astawan M. 2008. Khasiat Warna-Warni Makanan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Belitz HD dan Grosch W. 2000. Food Chemistry. Berlin : Verlag Springer Buckle KA. 1987. Ilmu Pangan. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Damodaran S. 1996. Amino Acids, Peptides, and Proteins. In: Fennema OR (ed.) 1996. Food Chemistry Third Edition. New York: Marcel Dekker Inc. Depkes RI. 1999. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta. Fennema OR. 1996. Food Chemistry 3rd Edition. New York: Marcek Dekker, Inc. Ilyas N. et al. 2003. Indonesian Fermented Food. Departement of Horticultur, Ohio Argic. Res and Dev. Center. Wooster, Ohio.

Ishihara J. et al. 2003. Demographics, Lifestyle, Health Characteristic, and Dietary Intake Among Dietary Supplement User in Japan. Int J Epidemiol. Agus; 32(4):546-53. Katili, AS. 2009. Struktur dan Fungsi Protein Kolagen. Jurnal Pelangi Ilmu Volume 2. Khopkar, S.M. 1980. Konsep Dasar Kimia Analitik. Diterjemahkan oleh A. Saptorahardjo dan A. Nurhadi. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/bt111062.pdf (diakses 30 Desember 2013) Khopkar SM. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia Press Malome MBM dan Pramono CSU. 1989. Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan di Laboratorium. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral dan Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor. Meyer LH. 1973 Food Chemistry. New Delhi: East-West Press PVT. Ltd Moeljanto. 1982. Penanganan Ikan Segar. Jakarta: Swadaya. Muchtadi TR dan Ayustaningwarno F. 2010. Teknologi Proses Pengolahan Pangan. Bandung: Alfabeta. Palupi NS, Zakaria FR, dan Prangdimurti E. 2007. Pengaruh Pengolahan terhadap Nilai Gizi Pangan. [Modul e-learning ENBP]. Bogor: Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, IPB. Santoso et al. 2001. Perbaikan Mutu Gel Ikan Mas Melalui Modifikasi Proses [Laporan Penelitian]. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Sumardjo, D. 2008. Pengantar Kimia. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Sunarso MS dan Christiyanto MP. 2000. Manajemen Pakan. http://nutrisi.awardspace.com/download/MANAJEMEN%20PAKAN.pdf [diakses 25 Desember 2013]

Sunarya. 1990. Masalah Mutu Tepung Ikan, Rebon, dan Kepala Udang sebagai Bahan Baku Pangan. Makalah Seminar Teknologi Pangan Ikan/Udang. Semarang: Universitas Diponegoro. Suwandito dan Trimartini. 2011. Metabolisme Protein dan Asam Amino. http://www.fk.unair.ac.id/pdfiles/Metabolisma%20asam%20amino.pdf [diakses pada 25 Desember 2013] Winarno FG. 2001. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Winarno FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

LAMPIRAN
Tabel Hasil Pengamatan Tabel 5 Berat badan tikus percobaan
sebelum bedah 7 85.6 64.8 38.5 44.9 9 93.8 66.9 39.1 38.6 selisih BB awal dan akhir 19 2.4 3.2 -33

Jenis Ransum

Kode Tikus 1 76 67.8 35.9 71.6 3 76.5 61.8 31 57.7

Hari ke-

Kasein Tepung Ikan Lele Tepung Ikan gabus Non Protein

J1 M3 K3 T3

5 83.4 56.4 27.6 50.6

95 70.2 39.1 38.6

Tabel 6 Data konsumsi ransum


Kode Tikus 1 Kasein J1 10 Tepung Ikan Lele M3 5.2 Tepung Ikan gabus K3 3.1 Non Protein T3 1.5 Jenis Ransum 2 3 4 7.9 10 7 1 1 1 4 4 2 2 0 0 Konsumsi Ransum 5 6 7 8 9 Total 6.7 9 11.3 10.3 7 79.2 0 8 6.6 3 7 32.8 2.4 7 5.3 2 6 35.8 1 0 0 0 1 5.9

Tabel 7 Data suhu dan kelembaban ruangan tikus percobaan


HARI KEP1 P2 P3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TANGGAL 20 Nov 2013 21 Nov 2013 22 Nov 2013 23 Nov 2013 24 Nov 2013 25 Nov 2013 26 Nov 2013 27 Nov 2013 28 Nov 2013 29 Nov 2013 30 Nov 2013 1 Nov 2013 Suhu (C) 26.1 26.9 26.3 27.2 27.4 28.1 27.2 25.9 27.5 27.3 26.7 27.7 27.2 25.9 28.1 Kelembaban (%) 65 67 66 67 78 77 71 75 75 79 75 72 79 67 79

10 2 Nov 2013 MINIMUM MAKSIMUM

Tabel 8 Rata-rata nitrogen feses, urin, dan ransum


NAMA TIKUS JACK (Kasein) MARK (Lele) KAMAL (Gabus) TOM (Non protein) %N 0.46 2.06 2.23 3.43 FESES Protein 2.84 12.87 13.96 21.47 %N 0.49 1.07 0.62 0.53 URIN Protein 3.05 6.66 3.85 3.32 RANSUM %N Protein 1.33 8.33 1.53 9.58 2.47 15.43 0.55 3.45

Tabel 9 Nilai NPU, NB, dan DC


NAMA TIKUS Kasein Tepung Ikan Lele Tepung Ikan Gabus Non Protein % NB 88.83 92.38 99.83 % DC Sejati 99.71 77.39 102.36 NPU 88.57 71.50 102.19

Tabel 10 Nilai PER


NAMA TIKUS Kasein Tepung Ikan Lele Tepung Ikan Gabus Non Protein Kandungan Protein Ransum /100g 8.33 9.58 15.42 Asupan Protein Tikus (g) 6.60 3.14 5.52 0.00 PER 2.88 0.76 0.58 PER Terkoreksi 0.87 0.66 0.50 NPR 7.88 11.27 6.56

Contoh Perhitungan %Nilai Biologis


(N Asupan Hit (N Feses Hit N Feses Hit Non prot) (N Urin Hit N urin Hit Non Prot)) 100 N Asupan Hit (N feses Hit N Feses Hit Non Prot)) (0,5 (0,14 0,03) (0,05 0,02)) 100 = 92,38% 0,5 (0,14 0,03)

%Daya Cerna Sejati (N Asupan Hitung (N Feses Hitung N Feses Hitung Non prot) 100 N Asupan Hitung
0,5 (0,14 0,03) 100 = 77,39% 0,5

PER
(Berat tikus sebelum dibedah Berat tikus sebelum Intervensi) 70,20 67,80 = 0,76 3,14

Gambar Hasil Pengamatan

Gambar 10 Analisis Proksimat

Gambar 11 Hasil analisis proksimat

Gambar 12 Analisis Proksimat

Gambar 13 Preparasi sampel sebelum analisis

Pembagian Tugas Sri Zilla Arsyilah Rina Apriany Utami Natahsa Fredlina Ginting Regi Meiliani Adhe Fadillah Putri : Tinjauan Pustaka : Kesimpulan dan Saran, Editor : Pembahasan tabel 4 dan tabel 5 : Prolog pembahasan : Cover, Pendahuluan, dan Metode