Anda di halaman 1dari 4

Berbagai cara dan upaya yang dilakukan untuk memberantas Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia, upaya-upaya

tersebut meliputi upaya pencegahan, peningkatan tatalaksana ISPA, peningkatan jangkauan penemuan dini penderita ISPA (Depkes, 2002). Upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan antara lain: pemenuhan nutrisi serta istirahat, mencpitakan rumah yang sehat, menghindarkan balita dari polusi udara, personal hygiene dan mencari informasi tentang ISPA. Keluarga atau rumah tangga adalah unit masyarakat terkecil. Oleh sebab itu untuk mencapai perilaku masyarakat yang sehat harus dimulai di masingmasing keluarga. Di dalam keluargalah mulai terbentuk perilaku-perilaku masyarakat. Orang tua (ayah dan ibu) merupakan sasaran utama dalam promosi kesehatan pada tatanan ini. Karena orang tua, terutama ibu merupakan peletak dasar perilaku, terutama perilaku kesehatan bagi anak anak mereka (Notoatmodjo, 2003). Kebiasaan adalah bentuk tingkah laku yang tetap dari usaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan (Sunaryo, 2004). Syah (2004) mengatakan bahwa kebiasaan timbul karena penyusutan kecenderungan respon dengan menggunakan stimulasi yang berulangulang. Karena kebiasaan inilah maka akan muncul suatu pola bertingkah laku baru yang rela tif menetap dan otomatis. Kebiasaan (habit) dapat memunculkan wujud perilaku dalam hidup. Sedangkan menurut Notoatmodjo (2003) bahwa perilaku (sebagai perwujudan kebiasaan) yang didasari pengetahuan akan bersifat lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Menurut Stevens (2000), terbentuk suatu kebiasaan baru, akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pengalaman masa lalu, lingkungan fisik, karateristik individu seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, nilai, budaya, dan lain-lain. Sehingga kebiasaan ibu yang baik akan cenderung membentuk perilaku yang baik terhadap anggota keluarganya begitu juga sebaliknya pengaruh kebiasaan keluarga yang jelek akan mempengaruhi angka kesakitan dari anggota keluarganya dan sangat rentan dari penyakit, maka perilaku ibu yang mempunyai balita sangat besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan dari anak balitanya. Salah satu periode pertumbuhan dan perkembangan yang cukup mendapat perhatian bidang kesehatan adalah usia balita. Upaya pembangunan dan pembinaan kesehatan pada usia balita merupakan suatu hal yang penting, sebab pada usia balita merupakan periode transisi tumbuh kembang. Secara fisik usia balita merupakan usia pertumbuhan dimana usia ini semua sel termasuk sel-sel yang sangat penting seperti sel okta mengalami pertumbuhan yang

sangat pesat. Sedangkan secara psikologis usia balita merupakan usia perkembangan mental, emosional dan intelektual yang pesat juga. Pertumbuhan dan perkembangan pada usia balita ini akan berjalan secara optimal dan serasi, jika kondisi kesehatan balita dalam keadaan optimal pula (Depkes, 2005). Anak adalah aset bagi orang tua dan ditangan orang tua anak dapat tumbuh dan berkembang secara sehat baik fisik maupun mental. Secara sosiologis anak balita sangat tergantung pada lingkungan, karena itu keterlibatan orang tua diperlukan sebagai mekanisme untuk menurunkan dampak masalah kesehatan pada anak dan keluarganya (Nelson, 2003). Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri, lingkungan yang dimaksud adalah orang tua (Supartini, 2004).

Daftar Pustaka Supartini, Y., 2004, Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak, EGC, Jakarta. Syah, 2004, Psikologi Belajar, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Nelson. 2003. Ilmu Kesehatan Anak edisi 15 Volume 2. Jakarta: EGC. Notoatmodjo, S., 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta: Depkes RI, 2005, Rencana Kerja Jangka Menengah Nasional Penanggulangan Pneumonia Balita tahun 2005-2009, Jakarta. Depkes RI, 2002, Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut Untuk Penanggulangan Pnemonia Pada Balita, Jakarta. Stevens, et.all, 2000, Ilmu Keperawatan, EGC, Jakarta. Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. EGC, Jakarta. Pencegahan ISPA Infeksi saluran pernafasan bagian atas sangat sering terjadi pada anak, dan apabila tidak diberikan perawatan yang baik, maka infeksi ini akan menyebar ke saluran pernafasan bagian bawah, terutama menyerang paru-paru dan menimbulkan radang paru (penumonia) (Biddulph dan Stace, 1999). Menurut Depkes RI (2002), cara pencegahan agar balita tidak terkena penyakit pneumonia adalah sebagai berikut: 1. Kondisi lingkungan yang bersih dan sehat Infeksi saluran nafas akut menyebar melalui batuk dan air liur, oleh karena itu anak-anak sebaiknya tidak dibiarkan bersama dengan orang yang sedang menderita batuk pilek (Biddulph dan Stace, 1999).

Selain itu keadaan rumah juga sangat mempengaruhi kajiadan ISPA. Keadaan ventilasi rumah sangat berkaitan dnegan kejadian ISPA. Fungsi ventilasi adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetap segar, sehingga keseimbangan oksigen yang diperlukan tetap terjaga. Kurangnya ventilasi menyebabkan kurangnya oksigen dan meningkatnya kadar karbondioksida di dalam rumah yang bersifat racun bagi penghuninya, karena akan menghambat afinitas oksigen terhadap hemoglobin darah. Selain itu ventilasi yang buruk menyebabkan aliran udara tidak lancar, sehingga bakteri patogen sulit untuk keluar karena tidak ada aliran udara yang cukup untuk membawa bakteri keluar rumah. Selain itu resiko ISPA juga akan meningkat bila di rumah ada sumber pencemaran udara misalnya ada orang dewasa yang merokok atau keluarga memasak menggunakan asap, karena asap rokok dan debu dapat menyebabakan iritasi mukosa saluran pernafasan sehingga merusak sistem mekanisme pertahanan di saluran pernafasan, akibatnya bakteri mudah masuk ke dalam saluran nafas dan anak akan mudah terkena ISPA berulang (Achmadi, 1993 dalam Handayani, 1996). Paparan asap rokok pada anak dapat menimbulkan gangguan pernafasan terutama memperberat timbulnya infeksi saluran pernafasan akut dan gangguan fungsi paruparu. Asap dari pembakaran sampah juga dapat meningkatkan resiko terjadinya ISPA. Pembakaran minyak tanah, kayu bakar dan asap kendaraan bermotor disamping akan menghasilkan zat pollutan dalam bentuk debu (partikel) juga menghasilkan zat pencemar kimia berupa karbondioksida, karbonmonoksida, oksida sulfur, oksida nitrogen dan hydrocarbon yang berbahaya bagi kesehatan karena zat-zat tersebut menyebabkan reaksi peradangan pada saluran pernafasan dan bisa menyebabkan produksi lender meningkat yang dapat menurunkan mekanisme pertahanan di saluran pernafasan. 2. Immunisasi lengkapa Salah satu upaya yang dapat menurunkan resiko terkena ISPA pada balita adalah dengan pemberian immunisasi lengkap. Immunisasi adalah upaya pemberian antigen yang bertujuan untuk mengaktivasi kekebalan di dalam tubuh anak atau bayi sehingga terhindar dari penyakit atau penyakit berat yang mungkin timbul. Pemberian immunisasi merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka kejadian ISPA (Trapsilowati, 1999), pemberian immunisasi campak yang efektif dapat mencegah 11 % kematian balita akibat pneumonia dan dengan immunisasi DPT 6 % kematian akibat pneumonia dapat dicegah. 3. Pemberian ASI

ASI merupakan sumber kalori dan protein yang sangat penting bagi anak khususnya anak dibawah usia 1 tahun serta melindungi bayi terhadap infeksi karena ASI mengandung antibodi yang penting dalam meningkatkan kekebalan tubuh. Bayi yang diberi susu botol atau susu formula rata-rata mengalami dua kali lebih banyak serangan pneumonia dibanding bayi yang mendapatkan ASI. Penelitian di Kanada membuktikan bahwa ASI melindungi bayi terhadap infeksi saluran nafas dalam 6 bulan pertama kehidupan. Nilai gizi ASI yang lebih tinggi dan adanya antibodi, sel-sel leukosit serta enzim dan hormone melindungi bayi terhadap berbagai infeksi. Daftar Pustaka Biddulph dan Stace, 1999, Kesehatan Anak untuk Perawat, Petugas Penyuluhan Kesehatan dan Bidan Desa, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Depkes RI, 2002, Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut untuk Penenggulangan Penumonia Balita, Dirjen P2M dan PLP, Jakarta. Trapsilowati, W, 1999, Waspadai Bahaya ISPA dan Penumonia, Majalah Kesehatan Masyarakat, Edisi ke-156, Depkes RI, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai