Anda di halaman 1dari 185

UNIVERSITAS INDONESIA PENGGUNAAN SAKSI MAHKOTA SEBAGAI ALAT BUKTI PADA PENYERTAAN DALAM TINDAK PIDANA

TESIS

ZAHRI KURNIAWAN NPM : 1106 111 514

FAKULTAS HUKUM PROGRAM STUDI PASCASARJANA KEKHUSUSAN ILMU HUKUM JAKARTA JUNI 201

UNIVERSITAS INDONESIA PENGGUNAAN SAKSI MAHKOTA SEBAGAI ALAT BUKTI PADA PENYERTAAN DALAM TINDAK PIDANA

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum

ZAHRI KURNIAWAN NPM : 1106 111 514

FAKULTAS HUKUM PROGRAM STUDI PASCASARJANA KEKHUSUSAN ILMU HUKUM JAKARTA JUNI 201

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Hukum Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan tesis ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. H. Mardjono Reksodiputro, SH. MA, selaku Ketua jurusan Hukum dan Sistem Peradilan Pidana Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Topo Santoso, SH. MH. Ph.D., selaku dosen pembimbing dalam penulisan tesisi ini, Prof. Dr. jur. Andi Hamzah, SH., Dr. Eva Achjani Zulva, SH. MH., Dr. Surastini Fitriasih, SH. MH, serta para guru besar, para staf pengajar/dosen dan staf akademik Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya baik dalam perkuliahan maupun dalam penyusunan tesis ini ; 2. Pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, Badan Diklat Kejaksaan Republih Indonesia dan Resident Legal Advisor Office Of Overseas Prosecutirial Development Assistance And Training, US Departemen of Justice, yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh data yang saya perlukan; 3. Kedua orang tua S. Effendi, SA, Ami Hartini, kedua mertua saya dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan dukungan material dan moral, serta istri tercinta Inayah Prima Metharia, SH. dan putra kami tersayang Zahraan Al Khedira Syauqi atas dukungan, motivasi dan doa selama saya mengikuti program strata dua ini:

iv

Universitas Indonesia

4. Para sahabat saya sesama mahasiswa Pascarsarjana kelas Kejaksaan yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan perkulihan serta sama-sama belajar untuk hidup baru di Jakarta, tak lupa teman seperjuangan alumnus Kejari Sarolangun, kita berangkat bersama dan pulang bersama untuk hidup yang lebih berarti, serta semua pihak lain yang tidak dapat saya sebutkan saya persatu atas bantuanya saya ucapkan terima kasih.


An - Nisa' 135; Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu Karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Besar harapan saya tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca, serta memberikan sumbangsih untuk ilmu pengetahuan.

Jakarta, 12 Juni 2013

Zahri Kurniawan

Universitas Indonesia

ABSTRAK
Nama : Zahri Kurniawan Program Studi : Ilmu hukum Judul : Penggunaan Saksi Mahkota sebagai Alat Bukti pada Penyertaan dalam Tindak Pidana Konsep saksi mahkota yang dilaksanakan di peradilan Indonesia saat ini masih menimbulkan kontroversi dan perdebatan dikalangan praktisi maupun akademisi, karena memang sesungguhnya belum ada definisi normatif tentang saksi mahkota termuat dalam undang-undang. Apabila dibandingkan dengan konsep saksi mahkota di negara lain, ternyata terdapat perbedaan yang sangat mendasar yaitu pada konsep di Eropa dan Amerika sebelum diterapkan saksi mahkota harus dilakukan terlebih dahulu kesepakatan kerjasama atara penuntut umum dan saksi mahkota dalam penuntutan tindak pidana, sedangkang di Indonesia lebih mengartikan saksi mahkota sebagai kesaksian saling menyaksikan antara sesama pelaku tindak pidana penyertaan dalam tindak pidana untuk tujuan sempurnaya pembuktian.Tujuan dari penelitian ini mengkaji mengenai penerapan saksi mahkota dalam peradilan pidana dan memperbandingkanya dengan pelaksanaan saksi mahkota di Belanda dan Amerika Serikat serta melihat paradigma saksi mahkota menurut hukum acara pidana yang akan datang. Metode penelitian yang digunaka yuridis normatif. Dari hasil penelitian diperoleh suatu kenyataan konsep saksi mahkota yang dilaksanakan dalam peradilan pidana di Indonesia saat ini melanggar asas non self incrimination. Peranan saksi mahkota dibutuhkan dalam menghadapi permasalahn kurangnya alat bukti saksi pada penyertaan dalam tindak pidana. Penerapan konsep saksi mahkota dalam peradilan saat ini hanya mewujudkan suatu kepastian hukum, sehingga kurang memperhatikan cara memperoleh alat bukti (exclusionary rule), dan pentinya alat bukti yang saling menguatkan (corroborating evidence) dalam penerapan saksi mahkota. Secara subtansi dalam RUU KUHAP terjadi perubahan sangat signifikat mengenai konsep saksi mahkota dengan menyerap konsep saksi mahkota yang di kenal di Eropa dan Amerika Serikat.

Kata Kunci : Saksi Mahkota, Non Self Incrimination, Exclusionary Rule, Kesepakatan Kerjasama.

vii

Universitas Indonesia

ABSTRACT

Name : Zahri Kurniawan Study Program : Criminal Law Title : The Application of Crown Witness as Evidence on Participation in Criminal Offenses

The concept of crown witness implemented in Indonesian courts is still causing controversy and debates among practitioners and academicians, because actually there has been no normative definition of crown witness contained in the legislation. When compared with the concept of crown witness in other countries, there are fundamental differences. In Europe and the USA before crown witness is applied, a cooperation agreement shall be made first between the public prosecutor and the crown witness in a criminal proceeding; whereas in Indonesia what is referred to as crown witness is a witness who came from suspects or defendants and testify against other suspects/perpetrators in a crime in order to obtain perfect/complete evidence. The purpose of this research is to examine the application of crown witness in the criminal proceedings and compare it with the implementation of crown witness in the Netherlands and the United States as well as to see the crown witnesses paradigm in accordance with the law of criminal procedure which will be applicable in the future. The research method employed is judicial normative. Based on the research findings it is discovered that the concept of crown witness in criminal proceedings in Indonesia today violates the principle of non-self incrimination. The role of crown witnesses is required as a consequence of lack of evidence of witnesses in the participation (deelneming) in a crime. The application of the crown witness concept in court today is only to realize the rule of law so it does not take into consideration the manner in obtaining evidence (exclusionary rule) and the importance of corroborating evidence in the application of crown witnesses. In substance, the Draft of the Criminal Procedure Code experiences very significant changes in the concept of crown witness by absorbing the concept of crown witnesses which is known in Europe and the United States. Keywords: Crown Witness, Non Self Incrimination, Exclusionary Rule, Cooperation Agreement.

viii

Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... ii KATA PENGANTAR...... iii LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ...... vi ABSTRAK ...... vii DAFTAR ISI ......... x DAFTAR SINGKATAN.......... xi I. PENDAHULUAN ..................... 1 A.Latar Belakang .......................... 1 B.Pernyataan Masalah ......... 10 C.Pertanyaan penelitian......... 10 D.Tujuan Penelitian .......... 11 E.Manfaat Penelitian ........ 11 F.Kerangka Teoritis............... 12 G.Kerangka Konsepsional .................... 18 H.Metode Penelitian ............. 26 I. Sistematika Penelitian ....... 28 II.TINJAUAN YURIDIS PENGGUNAAN ALAT BUKTI SAKSI MAHKOTA DAN PENYERTAAN DALAM TINDAK PIDANA............. A. Penyertaan dalam Tindak Pidana.................................................................. B. Konsep Saksi Mahkota.................................................................................. C. Memaknai Dualisme Yurisprudesi dalam Penerapan Saksi Mahkota.......... D. Hak- Hak Saksi Mahkota dalam Peradilan Pidana....................................... E.Mengatasai Dilema Terkait Asas Non Self Incrimination dalam Penerapan Saksi Mahkota............................................................................... F. Penerapan Saksi Mahkota dalam Peradilan di Indonesia Melanggar Asas Non Self Incrimination...........................................................................

30 30 36 48 57 62 68

III.PENERAPAN ALAT BUKTI SAKSI MAHKOTA PADA PENYERTAAN DALAM TINDAK PIDANA DI PERADILAN......................................... 70 A.Pemecahan Berkas Perkara (Splitsing) dan Konstruksi Surat Dakwan terhadap Saksi Mahkota pada Penyertaan dalam Tindak Pidana.................. 70 B.Kedudukan Alat Bukti Saksi Mahkota dalam Pembuktian Tindak Pidana................................................................................................ 80 C.Pertanggungjawaban Pidana Saksi Mahkota dalam Penyertaan dalam Tindak Pidana .................................................................................... 88 D.Analisis Penerpana Saksi Mahkota sebagai Alat Bukti dalam Peradilan di Indonesia.......................................................................... 95

ix

Universitas Indonesia

IV.PENGATURAN SAKSI MAHKOTA DALAM HUKUM PIDANA YANG AKAN DATANG........................................................................................... 97 A.Beberapa Perubahan Konsep Saksi Mahkota pada Penyertaan dalam Tindak Pidana Menurut RUU KUHAP................. 97 B.Pedoman untuk Memperbaiki Ketentuan Pembuktian dalam Menerapkan Saksi Mahkota........................................................... 104 C.Perbandingan Konsep Saksi Mahkota Menurut RUU KUHAP Indonesia, Belanda dan Amerika Serikat.................................................. 111 D.Analisis Perbandingan Konsep Saksi Mahkota dalam RUU KUHAP Indonesia, Belanda dan Amerika Serikat......................... 123 E.Paradigma Pergeseran Sistem dalam RUU KUHAP................................. 140 F. Konsep lain yang Mengatur Keturutsertaan Saksi dalam Suatu Tindak Pidana....................................................................... 145 G. Paradigma Baru Saksi Mahkota Menurut RUU KUHAP....................... 155 V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 156 A.Kesimpulan ............................................................................................... 156 B.Saran.......................................................................................................... 159 DAFTAR REFERENSI ................................................................................. 160

Universitas Indonesia

DAFTAR SINGKATAN

AS BAP BPS CCP EHRM EVRM HAM HIR ICCPR KPK KUHAP KUHP Kasi Pidum Kejari LPSK MA OM OPDAT PN PT P 16

P 21 RUU KUHAP RUU KUHP SEMA UNAFEI

UNCAC US UNDOC UU UUD WvS

Amerika Serikat Berita Acara Pemeriksaan Badan Pusat Statistik Code of Criminal Procedure Europees Hof voor de Rechten van de Mens Europees Verdrag voor de Rechten van de Mens Hak Asasi Manusia Herziene Indonesisch Reglement International Covenant on Civil and Political Rights Komisi Pemberantas Korupsi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Mahkamah Agung Openbaar Ministerie Overseas Prosecutirial Development Assistance And Training Pengadilan Negeri Pengadilan Tinggi Surat Perintah Penunjukan Jaksa Penuntut Umum Untuk Mengikuti Perkembangan Penyidikan Perkara Tindak Pidana Pemberitahuan Hasil Penyidikan Perkara Pidana Sudah lengkap Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Surat Edaran Mahkamah Agung United Nations Asia and Far East Institute for the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders United Nations Convention Againts Corruption United States United Nations Office on Drugs and Crime Undang Undang Undang Undang Dasar Wetboek van Strafvorderingen

xi

Universitas Indonesia

xii

Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kejahatan merupakan masalah sosial yang tidak hanya dihadapi oleh masyarakat di Indonesia tetapi juga merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh masyarakat di dunia. Itulah sebabnya dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu mendengar bagaimana fenomena kejahatan ini terjadi, dengan berbagai modus operandi yang semakin canggih serta intensitasnya yang semakin meningkat. Di Indonesia sendiri menurut Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman, setiap 91 detik terjadi satu kejahatan di sepanjang tahun 2012 dan jumlah kejahatan di tahun 2012, tepatnya hingga November 2012, mencapai 316.500 kasus.1 Angka statistik di atas mengambarkan bagaimana tingginya tingkat kejahatan di Indonesia, namun mengenai persoalan tingginya intensitas kejahatan ini bukan menjadi permasalahan di Indonesia saja, tetapi menjadi persolaan bagi negara-negara lain bahkan, negara yang telah maju dan memiliki sistem penanggulangan kejahatan yang telah mapan pun menghadapi masalah yang sama, karena apapun bentuk negara dan bagaimanapun sistem hukumnya akan mengahadapi masalah kejahatan serta cara menanggulanginya. Dalam prespektif ilmu pengetahuan menurut Mardjono Reksodiputro, kejahatan merupakan bentuk tingkah laku manusia, tingkah laku individu ditentukan oleh sikapnya (attitude) dalam menghadapi situasi tertentu, sikap ini dibentuk oleh kesadaran subjektif akan nilai dan norma dari masyarakat atau kelompoknya.2 Mencari sebab orang melanggar norma akan sangat membantu untuk menemukan cara terbaik pembinaan (dalam arti usaha melakukan perubahan sikap) si pelanggar, inilah hubungan antara mencari sebab kriminalitas dengan mencari sistem pembinaan yang efektif, istilah pemberantasan kejahatan mungkin kurang tepat karena mengandung arti pemusnahan, dengan bersandar pada
Kompas. com,Setiap 91 Detik, Terjadi Satu Kejahatan di Indonesia", http://nasional.kompas.com/read/2012/12/26/15260465/Setiap.91.Detik.Terjadi.Satu.Kejahatan.di Indonesia, diunduh 4 Maret 2013. 2 Mardjono Reksodiputro, Kriminologi Dan sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pegabdian Hukum Universitas Indonesia, 2007), hal. 1-2.
1

pendapat Emile Durkheim yang memandang kejahatan sebagai suatu gejala di dalam setiap masyarakat yang bercirikan heterogenitas dan perkembangan sosial karena itu tidak mungkin kejahatan dimusnahkan habis, mungkin istilah yang lebih tepat adalah pencegahan kejahatan.3 Perkembangan ekonomi dan modernisasi, yang terjadi begitu cepat saat ini membawa dampak juga terhadap perkembangan kejahatan. Pergeseran bentukbentuk kejahatan seolah-olah telah mematahkan hipotesis kuno bahwa penyebab kejahatan semata-mata faktor kemiskinan. Karena saat ini kejahatan yang dikenal dengan istilah blue collar crime (yaitu bentuk kejahatan yang dilakukan oleh penjahat biasa) dan white collar crime (kejahatan yang dilakukan oleh kaum bergengsi atau berdasi), berevolusi sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang tanpa batas, bahkan ruang lingkup white collar crime menjadi semakin bebas dan meluas, baik terkait dengan dunia sosial, ekonomi maupun dunia politik dan kekuasaan atau pemerintahan. Dalam teori kriminologi hal ini dikenal dengan pendekatan dengan hubungan positif (direct relationship) yang melihat gejala kriminal merupakan kelanjutan dari kegiatan dan pertumbuhan ekonomi.4 Perkembangan kejahatan yang paling ditakuti adalah ketika kriminalitas dijadikan semacam profesi atau mata pencarian. Dalam konteks tersebut pada tataran tertentu kriminalitas tidak lagi sebagai suatu aktivitas atau tindakan terpaksa dan tidak dapat dihindari, tetapi justru dengan kesadaran penuh merupakan cara dan pilihan pertama dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan, walaupun tesis ini tidak terlalu baru, karena kecendrungan tersebut telah terjadi di beberapa negara di Eropa, Amerika, bahkan tidak terkecuali Cina dan Jepang. Misalnya tampak dari lembaga-lembaga (organisasi) kejahatan internasionalnya, atau biasa disebut Mafia di Eropa atau Amerika, Triad di Cina, atau Yakuza di Jepang, sebagai contoh yang paling dikenal.5

Ibid. Mardjono Reksodiputro, Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan, (Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pegabdian Hukum Universitas Indonesia, 2007), hal. 85. 5 Aprinus Salam, Politik dan Budaya Kejahatan Bagian,Satu, http://www.academia.edu/1497446/Politik_dan_Budaya_Kejahatan_Bagian_Satu_, hal. 3. diunduh 2 Mei 2013.
4

Dampak dari perkembangan kejahatan, akan berimplikasi langsung pada makin beratnya tugas aparat penegak hukum dalam mengungkapakan suatu kejahatan karena akal para penjahat yang semakin modern (maju) dimana para penjahat telah mengunakan metode operasi yang dirancang dengan baik untuk melindungi kegiatan kejahataan mereka serta menyamarkan identitas mereka dari deteksi oleh penegak hukum. Sehingga dalam pelaksanaan tugas aparat penegak hukum dituntut untuk mengembangkan teknik pengungkapan tindak pidana untuk mendapatkan atau menguatkan informasi tentang terjadinya tindak pidana melalui pengetahuan agar diperoleh pembuktian yang logis berdasarkan penemuan fakta yang ada sehingga dapat membentuk kontruksi yang logis.6 Dalam praktek tak jarang dijumpai, penyidik sangat sulit bahkan hampir tidak mungkin mendapatkan saksi karena kuatnya para pelaku tindak pidana dalam menjaga kerahasiaannya. Maka salah satu cara membongkar sindikat kejahatan tersebut kemudian penyidik memerintahkan anggotanya sebagai penyelidik ikut bergabung dalam sindikat kejahatan sebagai salah seorang pelaku kejahatan atau mengambil salah seorang anggota sindikat untuk dijadikan saksi mahkota atas tindak pidana yang dilakukan sindikat bersangkutan.7 Namun dalam upaya untuk bekerja sama dengan para pelaku kejahatan, aparat penegak hukum akan menghadapi suatu keadaan yang dilematis karena para kaki tangan pelaku kejahatan ini akan memilih untuk bekerja sama dengan penegak hukum apabila mereka mendapatkan suatu imbalan yang bermanfaat bagi mereka, baik dalam bentuk kekebalan, hadiah, atau pengurangan hukuman dari kejahatan yang pernah mereka lakukan, sehingga keputusan untuk menggunakan terdakwa sebagai kooperator harus dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya. Tujuannya yang diharapkan oleh penegak hukum dalam kerja sama dengan pelaku kejahatan ini, pada dasarnya untuk mempelajari nama pelaku kejahatan, tanggal dan urutan kejadian, struktur organisasi, dimana lokasi bukti yang akan digunakan dalam pengumpukan alat bukti untuk menangkap orang-orang lain atas kejahatan yang telah dilakukan.

Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983), hal. 34. 7 Lilik Mulyadi, Implikasi Yuridis tentang ''Saksi Mahkota", http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2003/8/21/op2.htm, diunduh 8 April 2013.

Kesepakatan kerjasama dengan pelaku kejahatan untuk membongkar suatu tindak pidana dimana pelaku tersebut juga turut serta dalam kejahatan itu, dan atas kesepakatan tersebut diberikan imbalan keringanan hukuman dikenal dengan istilah saksi mahkota, di Belanda dan Jerman dinamakan kroongetuige dan kronzeuge, di Italia awalnya disebut pentito sekarang di sebut collaboratore della giustizia, di negaranegara Great Britain (Inggris, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara) disebut supergrass, dan di Perancis dinamakan repenti,8 sedangkan di Amerika Serikat di sebut sebagai cooperator tetapi juga dikenal istilah lain yaitu state witness untuk saksi negara. Dalam praktik peradilan pidana Indonesia konsep saksi mahkota ini, kemudian diterapkan pada penyertaan dalam tindak pidana dengan tujuannya agar masing-masing terdakwa dapat memberikan kesaksian yang memberatkan satu sama lain. Perbedaan konsep mengenai saksi mahkota yang ada di negara lain (Inggris, Belanda, Amerika Serikat, Italia dan lainya) dengan praktik peradilan di Indonesia ini, kemudian menimbulkan perbedaan pandangan diantara para ahli hukum pidana, sedangkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana sendiri istilah saksi mahkota tidak disebutkan secara tegas. Namun dalam perkembangan peradilan pidana di Indonesia, saksi mahkota diakui sebagai alat bukti dalam perkara pidana diatur dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1986 K/Pid/1989, tanggal 21 Maret 1990.9 Dalam putusannya Mahkamah Agung tidak melarang apabila jaksa penuntut umum mengajukan saksi mahkota di persidangan dengan syarat bahwa saksi ini dalam kedudukannya sebagai terdakwa tidak termasuk dalam satu berkas perkara dengan terdakwa yang diberikan kesaksian. Namun pada tahun 1994 saat terjadinya kasus Marsinah, konsep saksi mahkota yang dikenal dalam praktik peradilan dibantah oleh putusan Mahkamah Agung yang lain, dalam perkara tersebut pertama kali di Indonesia dinyatakan dalam putusan Mahkamah Agung kesaksian saksi mahkota bertentangan dengan

P J P Tak, Deals With Criminals: Supergrasses, Crown Witnesses and Pentiti, European Journal of Crime Volume:Criiminal Law and Criminal Justice, https://www.ncjrs.gov/App/publications/Abstract.aspx?id=172602, diunduh 7 Mei 2013. 9 Varia Peradilan Nomor 62, Nopember 1990, (Jakarta: IKAHI, 1990), hal. 19-44.

hak asasi manusia dalam proses peradilan pidana.10 Sehingga kemudian penggunaan saksi mahkota di Indonesia menjadi perdebatan yang menarik. Dalam perdebatan tersebut sebagian pihak berpendapat penggunaan saksi mahkota dibolehkan karena bertujuan untuk tercapainya rasa keadilan publik,11di lain pihak menyatakan saksi mahkota dianggap sebagai sesuatu yang tidak diboleh dilakukan karena bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Dalam perkembangan hukum selanjutnya, ternyata bukan hanya persoalan boleh atau tidaknya saksi mahkota itu dapat dijadikan sebagai alat bukti, namun terdapat kenyataan baru mengenai perbedaan konsep tentang saksi mahkota, keadaan kembali mencuat dan bertambah seru saat Kombes Wiliardi Wizard memberikan kesaksian dalam persidangan kasus terbunuhnya Nasrudin

Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar, pada awal November 2009. Dalam kesaksiannya, Wiliardi menyatakan bahwa ia merasa diarahkan oleh petinggi Polri dalam proses penyidikan, yang tujuannya menjerat Antasari dalam rangkaian tuduhan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen dalam perkara di PN Jakarta Selatan No. 1532/PID.B/ 2009/PN.JKT.SEL . Terlepas apakah pernyataan Wiliardi dalam kesaksian itu benar atau tidak, yang pasti Wiliardi bersama teman-tamannya lain yang juga didakwa dalam kasus yang sama sudah saling memberikan kesaksian dalam perkara Antasari sebagai saksi mahkota bahkan saat ini perkara Antasari telah berkekutan hukum tetap. Mengingat penggunaan saksi mahkota dalam praktek peradilan pidana dapat menimbulkan implikasi yuridis yang serius terkait dengan hak tersangka dan terdakwa dalam proses peradilan pidana, maka perlu dipikirkan kembali secara matang mengenai konsep saksi mahkota, untuk lebih menjamin rasa keadilan. Pada umumnya perdebatan mengenai konsep saksi mahkota di Indonesia tidak saja terjadi pada tataran penerapan tetapi juga pada tataran definisi atau pemahaman, karena memang sesungguhnya tidak ada definisi normatif tentang hal ini yang termuat dalam undang-undang. Secara umum perdebatan tersebut terbagi dalam dua pendapat besar, yaitu :
Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia Dalam sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pegabdian Hukum Universitas Indonesia, 2007), hal. 27. 11 Setiyono, Eksistensi Saksi Mahkota Sebagai Alat Bukti Dalam Perkara Pidana, Lex Jurnalica Volume 05 Nomor 01, (Desember 2007), hal. 1.
10

1. Pendapat yang menyatakan bahwa saksi mahkota tidak dapat diterapkan dalam sistem pembuktian karena: a. Saksi mahkota, secara esensinya adalah berstatus terdakwa, oleh karena itu, sebagai terdakwa maka pelaku memiliki hak absolut untuk diam atau bahkan hak absolut untuk memberikan jawaban yang bersifat ingkar atau berbohong; b. Dikarenakan terdakwa tidak dikenakan kewajiban untuk bersumpah maka terdakwa bebas untuk memberikan keterangannya dihadapan persidangan. Sebaliknya, dalam hal terdakwa diajukan sebagai saksi mahkota, tentunya terdakwa tidak dapat memberikan keterangan secara bebas karena terikat dengan kewajiban untuk bersumpah. Konsekuensi dari adanya pelanggaran terhadap sumpah tersebut maka terdakwa akan dikenakan atau diancam dengan dakwaan baru berupa tindak pidana kesaksian palsu sebagaimana yang diatur dalam Pasal 242 KUHP.12 Adanya keterikatan dengan sumpah tersebut maka tentunya akan menimbulkan tekanan psikologis bagi terdakwa karena terdakwa tidak dapat lagi menggunakan hak ingkarnya untuk berbohong. Oleh karena itu, pada hakikatnya kesaksian yang diberikan oleh saksi mahkota tersebut disamakan dengan pengakuan yang didapat dengan

menggunakan kekerasan in casu kekerasan psikis ; c. Sebagai pihak yang berstatus terdakwa walaupun dalam perkara lainnya diberikan kostum sebagai saksi maka pada prinsipnya keterangan yang diberikan oleh terdakwa (saksi mahkota) hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam ketentuan Pasal 189 ayat (3) KUHAP ; d. Seringkali keterangan terdakwa dalam kapasitasnya sebagai saksi mahkota yang terikat oleh sumpah digunakan sebagai dasar alasan untuk membuktikan kesalahan terdakwa dalam perkaranya sendiri apabila
Pasal 242 ayat (1) KUHPidana mengatur sebagai berikut : Barang siapa dalam hal-hal dimana undang-undang menentukan supaya memberi keterangan di atas sumpah, atau mengadakan akibat hukum kepada keterangan yang demikian, dengan sengaja memberi keterangan palsu diatas sumpah, baik lisan atau tulisan, olehnya sendiri maupun oleh kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
12

terdakwa berbohong. Hal ini tentunya bertentangan dan melanggar asas non self incrimination. Dalam ketentuan Pasal 14 ayat (3) huruf g International Covenant on Civil and Political Rights, dijelaskan sebagai: In the determination of any criminal charge against him, everyone shall be entitled to the following minimum guarantes, in full equality : (g). Not to be compelled to testify against himself or to confess guilty. Pada dasarnya ketentuan Pasal 14 ayat (3) huruf g ICCPR,13 tersebut bertujuan untuk melarang paksaan dalam bentuk apapun . Selain itu, diamnya tersangka atau terdakwa tidak dapat digunakan sebagai bukti untuk menyatakan kesalahannya.14 2.Pendapat yang menyatakan bahwa saksi mahkota dapat diterapkan dalam sistem pembuktian menyatakan : a. Tidak ada larangan secara tegas dalam perundang-undangan yang dapat dijadikan acuan mengenai penerapan saksi mahkota. Peraturan perundang-undangan yang ada hanya ditafsirkan secara analogi oleh kelompok penentang agar tidak terjadi penerapan saksi mahkota; b. Majelis Hakim tidak dapat menolak berkas perkara dari penyidik dalam keadaan terpisah (splitsing) karena pemisahan itu diatur dalam Pasal 142 KUHAP.15 Terhadap penilaian unsur pembuktian sepenuhnya merupakan kewenangan hakim yang erat kaitannya dengan batas minimum pembuktian dan keyakinan hakim;16

Pada 23 Februari 2006, secara resmi Indonesia menjadi Negara Pihak ( State Party) pada dua kovenan HAM induk, yaitu Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi Sosial Budaya (International Covenant on Economic Social and Cultural Rights /ICESCR) dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil Politik (International Covenant on Civil and Political Rights /ICCPR). Dengan demikin dua kovenan ini mulai berlaku efektif/mengikat secara hukum (entry into force) bagi Indonesia sejak Mei 2006. Ratifikasi ini ditetapkan setelah DPR mengesahkan dua kovenan itu menjadi undang-undang, yaitu UU No. 11 Tahun 200 (ICESCR) dan UU No. 12 Tahun 2006 (ICCPR). Dengan ratifikasi ini Indonesia menjadi negara ke-156 yang meratifikasi ICCPR dan negara ke-153 untuk ICESCR dari total 191 negara anggota PBB. 14 Setiyono, Op.Cit.,hal.5. 15 Pasal 142 KUHAP : Dalam hal penuntut umum menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka yang tidak termasuk dalam ketentuan pasal 141, penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing-masing terdakwa secara terpisah. 16 Adami Chazawi, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, (Bandung : Alumni, 2008), hal. 32.

13

c. Penerapan saksi mahkota hanya digunakan untuk memperkuat pembuktian karena meringankan tugas penuntut umum, selain itu, penerapan tersebut juga didukung oleh alat-alat bukti lain. Dengan kata lain saksi mahkota bukan merupakan satu-satunya alat bukti yang berdiri sendiri, hal ini bisa ditunjukkan tentang salah satu alat bukti yaitu keterangan terdakwa dalam Pasal 175 KUHAP mengandung hak ingkar terdakwa, akan tetapi pasal tersebut menganjurkan terdakwa untuk menjawab setiap pertanyaan; d. Penggunaan saksi mahkota dibenarkan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu yaitu: 1). dalam perkara delik penyertaan ; 2). terdapat kekurangan alat bukti ; dan 3). Diperiksa dengan mekanisme pemisahan (splitsing); Dalam dilema mengenai kedudukan saksi mahkota dalam peradilan pidana saat ini, kita mendapatkan secercah harapan karena tim penyusun Rancangan Undang Undang Kitab Hukum Acara Pidana tampaknya melihat serius permasalahan saksi mahkota ini sehingga memasukan definisi saksi mahkota dalam RUU KUHAP di Pasal 200.17 Selain itu dalam RUU KUHAP memberikan cara dan batasan-batasan dalam menerapakan saksi mahkota sehingga tidak melanggar hak tersangka yang selama ini menurut banyak ahli hukum pidana melanggar asas non self incrimination. Dengan berlandaskan dari permasalahan konsep saksi mahkota dalam peradilan pidana saat ini, sehingga memerlukan suatu kajiaan secara komperhensif untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang kemudian dapat diaplikasikan langsung untuk memperbaiki konsep yang telah ada. Maka penulis akan melakukan kajian mengenai konsep saksi mahkota ini dengan menelaah materi muatanya, dasar ontologis lahirnya undang-undang, alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai pada putusannya, pelacakan sejarah dan perbandingan hukum. Mengingat penerapan saksi mahkota ini berkaitan langsung dengan hak-hak terdakwa dalam prose peradilan pidana dan kita ketahiu bersama bahwa tujuan dari sistem peradilan pidana bukanlah semata-mata untuk mencari dan membuat
17

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Rancancan Undang Undang Kitab Hukum Acara Pidana 2010, www.djpp.depkumham.go.id/rancangan/.../buka.p.. 16 april 2010, diunduh 20 November 2012.

jelas dugaan terjadinya kejahatan serta menemukan dan akhirnya menghukum pelaku kejahatan. Namun sistem peradilan pidana harus dapat memastikan bahwa upaya untuk menegakkan norma-norma hukum pidana tersebut dilakukan dengan memperhatikan dan menghormati hak-hak dari tersangka atau terdakwa, yang walaupun diduga melakukan perbuatan tercela namun hak-haknya sebagai warga negara tidaklah menjadi hapus atau hilang. Sehingga dalam upaya pelaksanaan konsep saksi mahkota harus dihindari terjadinya kesewenang-wenangan dari petugas-petugas yang dibebankan untuk mencari dan mendapatkan kebenaran. Perlindungan terhadap hak-hak tersangka dan terdakwa dalam hukum acara pidana sangat penting artinya, mengingat, sebagaimana dikatakan oleh Van Bemmelen sebagaimana dikutip Ansorie Sabuan, hukum acara pidana sudah dapat bertindak meskipun baru ada persangkaan adanya orang yang melanggar atau memenuhi aturan-aturan hukum pidana. Ini berarti bahwa hukum acara pidana bukan saja untuk menentukan secara resmi adanya pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum pidana tetapi juga mengadakan tindakan-tindakan meskipun baru ada persangkaan bahwa ada tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang.18 Berangkat dari paparan diatas untuk mendukung implimentasi perlindungan hak tersangka dan terdakwa dan kewajiban negara untuk melindungi hak-hak tersebut maka penulisan tesis ini mengambil judul. Penggunaan Saksi Mahkota sebagai Alat Bukti pada Penyertaan dalam Tindak Pidana.

18

Ansorie Sabuan, Hukum Acara Pidana, (Bandung: Angkasa, 1990), hal. 64.

B.Pernyataan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka disusunlah pernyataan permasalahan sebagai berikut : Pada awalnya penggunaan saksi

mahkota sebagai alat bukti dalam perkara pidana dibolehkan didasarkan pada alasan adanya kekhawatiran kurangnya alat bukti yang diajukan, khususnya terhadap perkara pidana yang berbentuk penyertaan dan juga alasan untuk memenuhi rasa keadilan publik, namun KUHAP dan penjelasannya tidak mengatur secara tegas mengenai definisi otentik tentang saksi mahkota dan mekanisme pelaksanaanya sehingga penerapan saksi mahkota masih dirasakan kurang memenuhi rasa keadilan bagi tersangka atau terdakwa dalam proses peradilan pidana. Ketentuan mengenai saksi mahkota sendiri secara otentik baru terdapat dalam dalam RUU KUHAP yang memberi pengertian mengenai peran dan kedudukan saksi mahkota sesuai dalam pasal 200 ayat (1), (2) dan (3) dimana ketentuan tersebut memberikan kewenagan bagi penuntut umum menentukan tersangka atau terdakwa sebagai saksi mahkota, berdasakan uraian tersebut diatas maka masalah utamanya adalah konsep saksi mahkota dan penggunan alat bukti saksi mahkota pada penyertaan dalam tindak pidana di peradilan saat ini, akan datang dan prespektif komparatif dengan negara lain.

C.Pertanyaan Penelitian Dengan adanya permasalahan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka perlu untuk melakukan penelitian mengenai hal tersebut kemudian akan dikaji serta dianalisa dari data yang diperoleh sehingga akhirnya akan ditemukan kesimpulan sekaligus merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian. Dari permasalahan tersebut di atas sangat kompleks dan luas sifatnya. Oleh karena itu tidak mungkin mengadakan pengkajian secara menyeluruh agar penelitian yang dilakukan lebih fokus maka analisa terhadap permasalahan utama di atas

10

perlu dibatasi dengan dirumuskan dalam tiga pertanyaan penelitian singkat sebagai berikut: 1. Bagaimana menerapkan alat bukti saksi mahkota dalam pembuktian penyertaan dalam tindak pidana dengan tidak melanggar hak

tersangka/terdakwa terkait asas non self incrimination? 2. Bagaimana peranan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam proses peradilan pidana di Indonesia ? 3. Bagaimana konsep saksi mahkota yang diperkenalkan dalam sistem hukum pidana Indonesia yang akan datang dan perbandinganya dengan konsep yang dianut negara lain? D. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengkaji mengenai konsep saksi mahkota dengan melihat konsep-konsep yang dianut di negara lain dan melihat hak saksi mahkota yang merupakan saksi sekaligus terdakwa dalam peradilan pidana. 2. Melihat bagaimana cara penerapan alat bukti saksi mahkota yang dilaksanakan dalam proses peradilan pidana saat ini dari tahap penyidikan, penuntutan, sampai pada tahap persidangan. 3. Mengkaji bagaimana hukum acara pidana yang akan datang melihat kedudukan saksi mahkota sebagai alat bukti untuk penyertaan dalam tindak pidana ?

E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut : 1. Secara Teoritis, penelitian ini di harapkan dapat memberikan suatu manfaat dalam bentuk sumbangan pemikiran serta dalam bentuk saran demi kemajuan perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan untuk bidang

11

hukum pidana pada khususnya yang berhubungan dengan penerapan saksi mahkota dalam proses peradilan pidana . 2. Secara Praktek, sangat bermanfaat dan membantu bagi semua pihak, baik itu para praktisi, akademisi dan juga para aparat penegak hukum khususnya jaksa penuntut umum yang mempunyai tugas melakukan penuntutan, dapat menerapkan saksi mahkota sesuai dengan ketentuan karena pada satu pihak saksi mahkota mendukung pembuktian namun dilain pihak terdapat hak individu yang harus dilindungi

F. Kerangka Teoritis Untuk melakukan pengkajian mengenai kedudukan saksi mahkota dalam tindak pidana penyertaan dalam penelitian ini, digunakan beberapa konsep atau teori yang sebagai alat analisis penelitian, teori - teori yang digunakan berkenaan dengan konsep hak asasi manusia dalam proses peradilan pidana dan konsep negara hukum, dimana kedua konsep tersebut saling berkaitan karena dalam sistem pemeriksaan perkara pidana wajib menjunjung hak asasi tersangka dan terdakwa yang merupakan implementasi hak asasi manusia, sedangkan dalam negara hukum menjamin hak asasi manusia dari kesewenang-wenangan oleh negara. 1.Hak Asasi Manusia dalam Proses Peradilan Pidana Menurut Mardjono Reksodiputro, secara umum salah satu fungsi dari suatu undang-undang hukum acara pidana adalah untuk membatasi kekuasaan negara dalam bertindak terhadap warga negaranya dalam proses peradilan pidana, namun yang sering dilupakan bahwa dalam hukum acara pidana juga memberikan kewenangan-kewenangan tertentu pada negara melalui aparat penegak hukumnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat melanggar hak asasi warganya.19 Dengan perkataan lain hukum acara pidana juga merupakan sumber kewenangan

19

Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana, Op.Cit., hal.

25.

12

dan kekuasaan bagi pihak yang terlibat dalam proses ini (polisi, jaksa, hakim dan penasihat hukum).20 Yang sering menjadi masalah selama ini yaitu dimana aparat penegak hukum terlampau jauh mengunakan kewenanganya sehingga menimbulkan keadaan yang tidak adil, karena dalam penggunaan kewenangannya aparat hukum melupakan hak-hak tersangka dan terdakwa. Padahal hukum acara pidana telah menggariskan bahwa aparat penegak hukum dalam pelaksanaan tugasnya tidak hanya melaksanakan tugasnya sesuai dengan aturan yang ada, tetapi juga memperhatikan hak tersangka dan terdakwa sebagaimana telah ditentukan serta mengimplementasikan asas-asas dan prinsip-prinsip yang melandasi proses hukum yang adil.21 Karena dalam peradilan yang adil ini terkandung penghargaan kita akan hak kemerdekaan seorang warga negara, meskipun seorang warga negara telah melakukan perbuatan yang tercela, hak-haknya sebagai warga negara tidaklah hapus atau hilang.22 Lebih lanjut Mardjono Reksodiputro menegaskan : 23 Pentingnya perlindungan terhadap hak-hak tersangka dan terdakwa dalam undang-undang hukum acara pidana dilandasi dari pemahaman bahwa walaupun kita dapat mencegah diri kita untuk melakukan tindak pidana, tetapi kita tidak pernah dapat melepaskan diri kita dari risiko diajukan sebagai tersangka dan terdakwa, oleh karena itulah suatu proses hukum yang adil, dengan pengadilan yang bebas adalah sangat penting bagi rasa aman masyarakat, yang tidak kalah pentingnya dari usaha menanggulangi kejahatan . Hak-hak tersangka dan terdakwa yang merupakan bagian dari hak individu sering dilekatkan dengan kata hak asasi manusia, yang dalam bahasa
Ibid . Menurut Lilik Mulyadi, hukum acara pidana pada dasarnya mencerminkan dua sifat yang khas, yaitu: Pertama, ketentuan-ketentuannya bersifat memaksa (dwingen recht). Oleh karena itu, sifat hukum acara pidana akan melindungi kepentingan bersama guna menjaga keamanan, ketentraman dan kedamaian hidup bermasyarakat. Karena bersifat memaksa, negara tetap melakukan penindakan terhadap pelakunya dan dapat dikatakan lebih jauh hal ini tidaklah tergantung kepada pribadi-pribadi, apakah mau dilakukan penindakan ataukah tidak, terkecuali terhadap tindak pidana aduan (klacht-delict). Kedua, sifat hukum acara pidana mempunyai dimensi perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM). Dengan demikian, konsekuensi logis dari negara hukum (rechtstaat), hukum acara pidana juga bersifat melindungi kepentingan dari hak-hak orang yang dituntut (tersangka/terdakwa). Lihat Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana (normative, teoretis, praktik dan permasalahannya) (Bandung: alumni, 2007), hal. 11-12. 22 Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana, Op.Cit., hal. 25 23 Ibid., hal. 34-35.
21 20

13

Inggris dikenal dengan istilah human rights. Hak asasi manusia didefenisikan sebagai hak-hak yang demikian melekat pada sifat manusia, sehingga tanpa hakhak itu manusia tidak mungkin mempunyai martabat sebagai manusia (inherent dignity) karena hak-hak tersebut adalah tidak dapat dicabut (inalienable) dan tidak boleh dilanggar (inviolable) dalam keadaan apapun.24 Dalam pemahaman tentang hak asasi manusia menurut Mardjono Reksodiputro: 25 Hak dan kewajiban itu adalah simetris adalah benar, namun perlu diingat simetris ini tidak berada dalam diri individu yang sama, kalau A mempunyai hak X, maka B mempunyai kewajiban yang berhubungan dengan dengan hak X, atau kalau A mempunyai kewajiban Y maka B mempunyai hak yang berhubungan dengan Y, dalam pengertian HAM maka seperti diuraikan di atas, hak-hak tersebut melekat pada manusia dan hanya dapat dimiliki oleh individu, sedangkan kewajiban yang merupakan bagian simetris di atas terdapat pada negara, karena hanya negara yang mempunyai kuasa memelihara dan melindungi hak-hak individu ini. Dari pengertian diatas maka dapat diambil suatu kesimpulan, dalam kontek HAM maka hak dimiliki manusia sebagai individu sedangkan penghormatan (to respect), pemenuhan (to fulfill) dan perlindungan HAM (to protect) ada pada negara, sehingga implementasinya dalam kebijakan yang akan dituangkan dalam suatu peraturan maupun perundang-undangan negara

berkewajiban untuk selalu memperhatikan hak asasi manusia, serta negara bertanggungjawab atas perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM.26
Ibid., hal. 27. Ibid., hal. 8. 26 Menurut Rhona K. M Smith prinsip kewajiban positif negara timbul sebagai konsekuensi logis dari ketentuan menurut hukum HAM internasional bahwa individu adalah pihak yang memegang HAM (right bearer) sedangkan negara berposisi sebagai pemegang kewajiban (duty bearer) terhadap HAM, yaitu kewajiban untuk melindungi (protect), menjamin (ensure) dan memenuhi (fulfill) HAM setiap individu. Lihat Rhona K. M Smith, Hukum Hak Asasi Manusia, (Yogyakarta: PUSHAM-UII, 2008), hal. 40. Lihat pula pendapat Jimly Asshiddiqie yang menyatakan bahwa , negara-lah yang terbebani kewajiban perlindungan dan pemajuan HAM, kewajiban negara tersebut ditegaskan dalam konsideran menimbang baik dalam Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik maupun Konvenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, dan dalam hukum nasional, termuat dalam Pasal 28I ayat (4) UUD 1945, yang menyatakan bahwa perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM adalah tanggungjawab negara, terutama Pemerintah. Jimly Asshiddiqie, Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, ( Materi yang disampaikan dalam Studium General pada acara The 1st National Converence Corporate Forum for Community Development, Jakarta, 19 Desember 2005), hal. 19.
25 24

14

Pandangan lain yang melihat mengapa negara bertanggung jawab untuk melindungi HAM, dapat dilihat dari pendapat Soediman Kartohadiprojo, sebagai mana dikutip Sudargo Gautama yang menyatakan segala tindakan negara dalam prakteknya dilakukan oleh manusia, karena tak ada manusia yang tak berderajat maka segala buah pekerjaan tidak ada yang sempurna maka jikalau orang diberi kekuasaan dalam negara tidak dapat menjalankan kekuasaan dengan jiwa prikemanusiaan dan keadilan, maka tak akan mungkilah diciptakan suatu negara hukum, sungguhpun ketentuan yang mengikat itu demikian bagus dan rapi.27 Beranjak dari uraian diatas, maka jelaslah bahwa dalam hal negara memberikan pengakuan mengenai hak tersangka untuk terhindar dari bentuk kesewenang-wenangan dalam proses peradilan pidana, maka pada negara jugalah terdapat kewajiban untuk memastikan bahwa hak-hak tersebut dapat ditegakkan. Di sinilah letak arti penting adanya aturan khusus tersebut untuk melindungi saksi mahkota yang berkedudukan sebagai saksi dan terdakwa dalam peradilan pidana. Dengan adanya ketentuan kewajiban negara menjamin hak-hak seorang tersangka atau terdakwa dalam peradilan pidana maka saksi mahkota yang berkedudukan sebagai saksi dan terdakwa memiliki hak untuk dapat perlindungan dari negara sehingga dalam pelaksanaanya terhindar dari kesewenang-wenang oleh aparat penegak hukum dalam sistem peradilan pidana.

2. Negara Hukum Dalam proses peradilan pidana, kemerdekaan tersangka dan terdakwa sebagai warga negara paling besar terancam karena ada kemungkinan salah penggunaan kewenangan yang diberikan oleh undang undang kepada aparat penegak hukum, sehingga dalam kerangka berpikir ini pengertia due process of law atau proses hukum yang adil harus dipahami sebagai perlindungan terhadap hak kemerdekaan setiap warga negara dalam negara hukum.28 Karena dalam negara hukum, negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang, tindakan-tindakan negara terhadap warganya dibatasi oleh hukum.29
Sudargo Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, (Bandung : Alumni, 1973), hal .11. Ibid. 29 Menurut Sudargo Gautama, cita-cita negara hukum pada asalnya sangat dipengaruhi oleh aliran individualism. Sejak abad ke-17 di dunia barat, orang sudah memikirkan cita-cita akan suatu
28 27

15

Dalam hubungan HAM dan negara hukum menurut Todung Mulya Lubis, bahwa rumah ideal bagi HAM hanya di dalam rechstaat, karena rechstaat menjamin hak asasi manusia seperti terlaksananya independensi peradilan, due process of law dan judicial review.30 Pembatasan kekuasaan negara kekuasaan negara terhadap perseorangan dan tindakan tindakan negara terhadap warga negara dibatasi oleh hukum, inilah yang dikatakan oleh ahli hukum Inggris dikenal dengan rule of law.31 Dalam pelaksanaan the rule of law menurut Sunarjati Hartono : 32 Selain mengawasi dan mengadili pertikaian yang terjadi diantara masyarakat, pengadilan juga berwenang untuk mengawasi bagaimana pemerintah menjalankan tugasnya, yang berarti bahwa pengadilan diposisikan sebagai satu-satunya instansi sekaligus instansi tertinggi (enigste en hoogste instantie) yang berwenang menentukan tindakan-tindakan pemerintah berdasarkan hukum yang berlaku, atau dengan kata lain hubungan antara the rule of law dengan konsep negara hukum adalah diberikannya kewenangan kepada pengadilan untuk memutuskan apakah kebijaksanaan pemerintah itu adil dan sesuai dengan grundsnorm atau falsafah hukum dan negara, yang dianut oleh bangsa yang bersangkutan. Walaupun pada awal pembentukan Undang Undang Dasar tidak disebutkannya secara tegas kedudukan Indonesia sebagai negara hukum dalam pembukaan maupun batang tubuh UUD 1945,33 namun menurut Oemar Seno Adji
negara hukum. Manusia pribadi meminta pengakuan hukum yang lebih layak. Segala sesuatu ini sebagai reaksi atas kekuasaan tak terbatas yang telah bertambah-tambah dari raja-raja, terkenal sebagai zaman absolutism. Pertama-tama, di dalam suatu negara hukum terdapat pembatasan kekuasaan negara terhadap perseorangan. Negara tidak maha kuasa. Negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang. Tindakan-tindakan negara terhadap warganya dibatasi oleh hukum. Jadi dapat kita katakan pula, bahwa ada suatu lapangan pribadi (individuale sfeer) dari tiap orang yang tak dapat dicampuri oleh negara. Selanjutnya, bahwa pelanggaran-pelanggaran atas hak-hak individual ini hanya dapat dilakukan, apabila diperbolehkan dan berdasarkan peraturan-peraturan hukum. Inilah yang dinamakan pula asas legaliteit dari negara hukum. Lihat: Sudargo Gautama, Pengertian tentang Negara Hukum, (Bandung: Penerbit Alumni, 1983), hal.1-3. . 30 Todung Mulya Lubis.In Search of Human Right : Legal Political Dilemmas of Indonesias New Order 1966-1990, (Dissertation Juris Scientioac Doctor University of California Berkeley, California, 1990), hal. 1. 31 Sudargo Gautama, Op.Cit., hal. 8. 32 Sunarjati Hartono, Apakah The Rule Of Law Itu ?, (Bandung : Alumni, 1976), hal. 102. 33 Menurut Muhammad Yamin, sebagaimana dikutip oleh Mien Rukmini, tidak disebutkannya secara tegas kedudukan Indonesia sebagai negara hukum dalam pembukaan maupun batang tubuh UUD 1945, pada dasarnya tidak terlepas dari suasana kebatinan para penyusun UUD dan pendiri Republik Indonesia saat itu yang tidak berkehendak terlalu mengagungkan HAM. Pada waktu itu mereka membenci individualism-liberalisme-kolonialisme-imperialisme. Para penyusun UUD tersebut berkehendak bahwa mereka menyusun UUD berdasarkan asas kekeluargaan. Suatu asas yang sama sekali bertolak belakang dengan paham individualism dan liberalism. Lihat Mien Rukmini, Perlindungan Ham Melalui Asas Praduga Tak Bersalah Dan Asas Persamaan

16

terdapat tiga ciri khusus yang menempatkan Indonesia sebagai negara hukum, sebagaimana digariskan oleh ilmu hukum dan diterima oleh pemerintah setelah memperbandingkan antara prinsip-prinsip didalama rule of law (dalam pengertian yang lebih luas dari Dicey) dan didalam socilalist legalist yaitu:34 1. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak hak asasi yang mengandung perlakuan yang sama dibidang politi, hukum, sosial ekonomi, budaya dan pendidikan; 2. Legalitas, dalam arti hukum dalam segala bentuknya; 3. Peradilan yang bebas, tidak bersifat memihak, bebas dari segala pengaruh kekuasaan lain; Lebih lanjut menurut Oemar Seno Adji menjelaskan bahwa, negara hukum Indonesia didasarkan pada pancasila sebagai ideologi negara, yang dirumuskan dalam prinsip-prinsip dasar negara yang bersifat fundamental.35Sedangkan menurut Muh. Mahfud. MD, Penerimaan negara Indonesia sebagai negara hukum ini bukan hanya karena bunyi Penjelasan UUD 1945, yang menyebut bahwa Indonesia ialah Negara berdasarkan hukum (rechtsstaat), melainkan juga karena alasan-alasan lain seperti yang dituangkan dalam pembukaan maupun di dalam batang tubuh UUD 1945 sendiri, baik isi pembukaan atau batang tubuh UUD 1945 yang secara tegas menyebutkan adanya prinsip demokrasi dan pengakuan serta perlindungan HAM merupakan bukti bahwa Indonesia menganut prinsip Negara hukum.36 Pernyataan tentang Indonesia sebagai negara hukum baru terdapat dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 setelah perubahan ketiga, dengan dimasukkannya pasal ini ke dalam bagian pasal UUD 1945 menunjukkan semakin kuatnya dasar hukum serta menjadi amanat negara bahwa Indonesia adalah negara hukum. Karena Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum (rechtsstaat) maka pertamatama HAM harus merupakan bagian dari hukum Indonesia dan selanjutnya prosedur hukum untuk mempertahankan dan melindungi HAM, dalam kaitan dengan fungsi pengadilan untuk menentukan ada tidaknya pelanggaran

Kedudukan Dalam Hukum Pada Sistem Peradilan Pidana Indonesia. (Bandung: PT Alumni. 2003), hal.45. 34 Oemar Seno Adji, Peradilan Bebas Negara Hukum, Jakarta : Erlangga, 1980 , hal.167. 35 Ibid. 36 Muh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum Menegakan Konstitusi, (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), hal. 140-141.

17

ketentuan HAM mempunyai kedudukan utama.37 Oleh karena itu suatu pematauan nasional atas pelaksanaan HAM harus memenuhi syarat-syarat :38 1) Menjadikan HAM bagian hukum Indonesia ; 2) Terdapat prosedur hukum untuk mempertahankan dan melindungi HAM tersebut ; 3) Terdapat pengadilan yang bebas ( an independent judiciary) ; dan 4) Adanya pula profesi hukum yang bebas (an independent legal profesional). Dari uraian diatas maka jelaslah Indonesia sebagai negara hukum, dan konsekwensinya sebagai negara hukum, harus menjamin perlindungan HAM, artinya perlindungan HAM tidak hanya cukup dimaktubkan dalam tujuan negara atau tidak cukup hanya dituangkan dalam berbagai pasal dalam konstitusi, namun yang lebih penting adalah bagaimana negara menjamin pengakuan dan perlindungan HAM tersebut dituangkan dalam peraturan setingkat undang-undang atau bahkan setingkat peraturan pelaksana dan kebijakan lain baik di tingkat pusat maupun daerah, serta secara umum negara dapat memastikan bahwa pelaku pelanggaran HAM akan dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan peraturan perundang undangan dan secara khusus dalam rangka proses peradilan pidana terdapat atauran yang membatasi aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya tidak mengabaikan hak asasi tersangka dan terdakwa. G. Kerangka Konsepsional Dengan mengangkat tema saksi mahkota dalam penelitian ini, penulis ingin melihat bagaimana penggunaan alat bukti saksi mahkota dalam perkara peyertaan penyertaan dalam tindak pidana, untuk itu akan dijelaskan mengenai beberapa konsep yang berkaitan dalam pelaksaan saksi mahkota dalam peradilan pidana yang meliputi : 1.Alat Bukti Menurut Hari Sasangka dan Lily Rosita alat bukti adalah :39

Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia Dalam sistem Peradilan Pidana, Op. Cit, hal. 12-13. 38 Ibid., hal 13.

37

18

Segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan, dimana dengan alat-alat bukti tersebut, dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa.

Sejalan dengan pengertian di atas, Andi Hamzah juga memberikan batasan hampir sama tentang bukti dan alat bukti yaitu:40 Sesuatu untuk meyakinkan kebenaran suatu dalil, pendirian atau dakwaan. Alat-alat bukti ialah upaya pembuktian melalui alat-alat yang diperkenan untuk dipakai membuktikan dalil-dalil, atau dalam perkara pidana dakwaan di sidang pengadilan, misalnya keterangan terdakwa, kesaksian, keterangan di sidang pengadilan, misalnya keterangan terdakwa, kesaksian, keterangan ahli, surat dan petunjuk dalam perkara perdata termasuk persangkaan dan sumpah. Didalam KUHAP telah diatur tentang alat-alat bukti yang sah yang dapat diajukan didepan sidang peradilan. Adapun alat-alat bukti yang sah menurut Pasal 184 ayat (1) KUHAP adalah : a. Keterangan Saksi; b. Keterangan ahli; c. Surat; d. Petunjuk; e. Keterangan terdakwa. Pasal 184 ayat (1) KUHAP menentukan secara limintatif alat bukti yang sah menurut undang-undang, di luar alat bukti itu, tidak dibenarkan dipergunakan untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Hakim, penuntut umum, terdakwa atau penasehat hokum, terikat dan terbatas hanya diperbolehkan mempergunakan alat bukti itu saja.41 2.Keterangan Saksi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP), dalam Pasal 1 angka 26 pengertian saksi adalah Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana
Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, (Bandung : Mandar Maju, 2003), hal. 11 . 40 Andi Hamzah, Kamus Hukum, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1986), hal. 99. 41 Yahya Harahap. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP : Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali, Cet Keempat, (Jakarta: Sinar Grafika, 2002), hal. 285.
39

19

yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Sedangkan menurut Pasal 1 angka 27 KUHAP, Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yangberupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu. Dalam hal menjadi seorang saksi yang keteranganya diperlukan di muka Pengadilan maka ada syarat-syarat yang harus di penuhi yaitu : a. Syarat formal Untuk memenuhi syarat formal keterangan saksi harus diberikan di bawah sumpah/janji. Dalam hal mengucapkan sumpah atau janji menurut ketentuan Pasal 160 ayat (3) KUHAP, sebelum saksi memberi keterangan wajib mengucapkan sumpah atau janji. Adapun sumpah atau janji :42 a. Dilakukan menurut cara agamanya masing-masing; b. Lafal sumpah atau janji berisi bahwa saksi akan memberi keterangan yang sebenar-benarnya dan tiada lain daripada yang sebenarnya. Dalam Pasal 161 ayat (2) menunjukkan bahwa pengucapan sumpah merupakan syarat mutlak, keterangan saksi atau ahli yang tidak disumpah atau mengucapkan janji, tidak dapat dianggap sebagai alat bukti yang sah, tetapi hanyalah merupakan keterangan yang dapat menguatkan keyakinan hakim, Ini tidak berarti kesaksian tidak dibawah sumpah bukan merupakan alat bukti keterangan saksi, bahkan bukan merupakan petunjuk hanya dapat memperkuat keyakinan hakim. b. Syarat materiel Mengenai materil dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 1 angka 27 KUHAP dimana ditentukan bahwa: Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu. Dalam hal ini haruslah diketahui bahwa tidak semua keterangan saksi mempunyai nilai sebagai alat bukti. Keterangan saksi yang mempunyai nilai

42

Ibid., hal. 286.

20

sebagai alat bukti adalah keterangan yang sesuai dengan isi pasal diatas, jika dijabarkan poin-poinnya sebagai berikut : 1) Yang saksi liat sendiri; 2) Yang saksi dengar sendiri; 3) Yang saksi alami sendiri; 4) Serta menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu. 3. Saksi Mahkota Menurut Andi Hamzah, terdapat pemikiran yang keliru mengenai pengertian saksi mahkota seakan-akan para terdakwa yang ikut serta (medeplegen) dalam perkaranya penyertaan dalam tindak pidana, kemudian dipisah dan bergantian menjadi saksi disebut saksi mahkota.43 Sering kita dengar dalam proses peradilan maupun kita baca di media massa menyatakan terdakwa bergantian gantian menjadi saksi satu sama lain, dalam berkas perkara yang dipisah-pisah kemudian terdakwa tersebut disebut sebagai saksi mahkota atau kroongetuige, lebih tegas Andi Hamzah menyatakan:44 Mereka yang bergantian sebagai saksi bukanlah saksi mahkota, saksi mahkota adalah salah seorang dari terdakwa dikeluarkan dari daftar terdakwa dan dijadikan saksi, pengubahan status terdakwa menjadi saksi itulah yang dipandang sebagai pemberian mahkota saksi (seperti dinobatkan sebagai saksi) jadi dia tidak pernah lagi menjadi terdakwa, supaya lebih kurang menyentuh rasa keadilan, maka biasanya jaksa memilih terdakwa yang paling ringan kesalahanya atau yang paling kurang dosa nya sebagai saksi. Lilik Mulyadi memberi pengertian saksi mahkota yaitu: 45 Saksi yang berasal dan/atau diambil dari salah seorang atau lebih tersangka atau terdakwa lainya yang bersama-sama melakukan perbuatan pidana dalam hal mana saksi tersebut diberi mahkota. Mahkota yang diberikan pada saksi yang berstatus terdakwa tersebut adalah dalam bentuk tiada penuntutan terhadapa perkaranya atau diberikan suatu penuntutan yang sangat ringan apabila perkaranya dilimpahkan ke pengadilan atau dimaafkan atas kesalahan yang pernah dilakukan saksi terbut. Dalam kedudukan sebagai saksi dan tersangka atau terdakwa maka konsekwensinya seorang saksi mahkota akan kehilangan kesempatan untuk
Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Op. Cit., hal. 271. Ibid. 45 Lilik Mulyadi, Putusan Hakim Dalam Hukum Acara Pidana : Teori, Praktik, Teknik Penyusunan dan Permasalahan, (Bandung: Citra Adtya Bakti, 2007), hal. 85-86.
44 43

21

dapat melakukan pembelaan yang cukup untuk dirinya sendiri dalam proses peradilan pidana, pentingnya pemberian kesempatan pembelaan kepada saksi mahkota untuk meminimalisir tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan aparat penegak hukum terhadap saksi mahkota. Menurut Oemar Seno Adji, dalam negara hukum seorang tertuduh mempunyai kesempatan yang adequate dan cukup untuk mengadakan pembelaan yang berarti : 46 1. Bahwa setiap waktu akan dapat bantuan hukum dan dapat selalu mengadakan hubungan dengan pembelanya; 2. Bahwa ia diberitahu dan mengetahui tentang tuduhan yang dihadapkan padanya; 3. Tertuduh dapat mengajukan saksi-saksi atau keterangan keterangan lain untuk kepentingan pembelaanya; 4. Tidak seorangpun dapat dipaksa untuk memberatkan diri dalam suatu proses pidana. Tekanan physik maupun psychis, psychologi tidak boleh dilakukan terhadap seorang tertuduh. 4. Penyertaan Penyertaan ( deelneming ) terjadi apabila dalam suatu tindak pidana terlibat lebih dari satu orang, sehingga harus dicari pertanggung jawaban masingmasing orang yang tersangkut dalam tindak pidana tersebut.47 Dua masalah pokok pada penyertaan yaitu mengenai diri orangnya dan mengenai tanggungjawab pidana tidak dapat dipisahkan, mengenai diri orangnya dalam penyertaan ada dua ajaran yang subjektif dan objektif, menurut ajaran subjektif, siapa yang berkehendak paling kuat dan atau mempunyai kepentingan yang paling besar terhadap tindak pidana itu, dialah yang membeban tanggung jawab pidana yang paling besar, sebaliknya menurut ajaran objektif menitik beratkan pada wujud perbuatan apa serta sejauh mana peran dan andil serta pengaruh positif dari perbuatan itu terhadap timbulnya tindak pidana yang dimaksud yang menentukan seberapa berat tanggungjawab yang dibebannya terhadap terjadinya tindak pidana.48 Saksi mahkota juga erat kaitannya dengan penyertaan, hal ini disebabkan saksi mahkota adalah kesaksian seseorang yang sama-sama terdakwa, dengan
Oemar Seno Adji, Op.Cit., hal. 42. Loebby Loqman, Percobaan, Penyertaan dan Gabungan Tindak Pidana, (Jakarta: Universitas Tarumanegara UPT Penerbitan, 1995), hal. 59. 48 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 3, Percobaan dan Penyertaan. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002). hal. 75
47 46

22

kata lain, saksi mahkota terjadi apabila terdapat beberapa orang terdakwa dalam suatu peristiwa tindak pidana, dimana terdakwa akan menjadi saksi terhadap teman pesertanya. 5. Non Self Incrimination ( Tidak Mempersalahkan Diri Sendiri ) Salah satu hak-tersangka/terdakwa yang sering dipermasalahkan dalam penenerapan saksi mahkota adalah asas non self incrimination (hak untuk tidak mempersalahkan dirinya sendiri). Di Amerika Serikat, mengenai hak untuk tidak menyalakan diri sendiri telah diakui secara kontitusional, dalam amandemen ke- V kontitusi Amerika Serikat memuat diantaranya, tidak boleh diwajibkan dalam perkara kejahatan apapun menjadi saksi yang memberatkan diri sendiri.49 Di Inggris diberlakukan hak untuk tidak menjawab pernyataan, bahkan sangat ketat, pemeriksaan harus mulai mengatakan kepada the suspect, bahwa ia mempunyai hak untuk diam tidak menjawab pertanyaan.50 Sedangkan dalam hukum pidana Belanda berlaku prinsip fair trial, yang memuat kewajiban untuk menjaga dan menghormati tersangka/terdakwa, dimana tersangka/terdakwa tidak diwajibkan memberikan keterangan yang akan mencelakakan dirinya sendiri.51 Dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil Politik yang telah diratifikasi Indonesia, ketentuan dalam pasal 14 ICCPR, juga patut menjadi perhatian dalam rangaka perlindungan hak asasi manusia (terdakwa) dalam proses peradilan ketentuan tersebut berkenaan dengan hak untuk tidak mempersalahkan diri sendiri (right of non self incrimination). Selain masalah hak untuk tidak mempersalahkan diri sendiri (right of non self incrimination) untuk menerapakan saksi mahkota perlu diatur suatu lembaga yang dapat mengawasi terhadap jalanya tindakan peyidik dalam
49

Luis Hendri, Pernyataan Hak Asasi Amerikadan Makna Internasional [ The United States Bill of Right Significance], dialih bahasa oleh Budi Prayitno dan Abdullah Alamudi, (Jakarta: Dinas Penerangan Amerika Serikat (USIS),1995), hal. 27. 50 Mien Rukimini, Perlindungan Ham Melalui Asas Praduga Tak Bersalah dan Asas Persamaan Kedudukan dalam Hukum pada Sistem Peradilan Pidana Indonesia, (Bandung: PT Alumni, 2000), hal. 90. 51 Constantijn Kelk, Tahapan Kritikal Dalam Pengembangan Sistem Hukum Pidana Yang Beradab, dalam Hukum Pidana dalam Perspektif, Agustinus Pohan, Topo Santoso, Martin Moerings, ed., (Denpasar: Pustaka Larasan; Jakarta: Universitas Indonesia, Universitas Leiden, Universitas Groningen, 2012) hal. 62.

23

rangka mendapatkan alat bukti dari saksi mahkota tersebut. Lembaga ini ini mempunyai kewenangan sebagai examinating judge dan investigating judge layaknya lembaga Habeas Corpus (Inggris) maupun Rechter Commisasris (Belanda) yang dapat memutuskan sah tidaknyaknya penyidikan yang dilakukan dengan kekerasan dan penyiksaan maupun perolehan alat bukti secara ilegal.52 Namun saat ini KUHAP belum mengatur secara tegas mengenai cara memperoleh alat bukti, serta bagaimana konsekwensi apabila alat bukti diperoleh dengan cara yang menyimpang, tetapi hal ini tidaklah menjadi hambatan dalam pelaksanaannya karena kekosongan hukum ini dapat diisi melalui putusan hakim.53 Di Amerika Serikat dikenal, exclusionary rules dimana membuat bukti tidak dapat diterima di pengadilan jika aparat penegak hukum memperolehnya dengan cara dilarang oleh undang undang. 6. Peradilan Pidana Proses peradilan pidana dalam penulisan ini, adalah peradilan yang prosesnya tunduk pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Penyelenggaraan peradilan pidana merupakan mekanisme bekerjanya aparat penegak hukum pidana mulai dari proses penyelidikan dan penyidikan, penangkapan dan penahanan, penuntutan dan pemeriksaan sidang pengadilan.54 Atau dengan kata lain bekerjanya, polisi, jaksa, hakim dan petugas lembaga pemasyarakatan yang berarti pula berproses atau bekerjanya hukum acara pidana.55 Sedangkan sistem peradilan merupakan sistem dalam masyarakat untuk menanggulangi masalah

Ibid . Menurut Mien Rukmini Untuk mengisi kekosongan kaidah ini, sebenarnya dapat diberikan peranan kepada hakim melalui yurisprodensi dan ilmu hukumnya (baik melalaui penemuan hukum maupun penghalusan hukum). Lihat, Mien Rukimini, Op.Ci.t, hal 95. Dan menurut Edwin H Suterland & Donald R Cressey, karena tehnik-tehnik yang dipergunakan pengadilan didalam menafsirkan dan mentrapkan ketentuan-ketentuan maupun kumpulan kesatuan pemikiranpemikiran dasar yang dilaksanakan oleh pengadilan adalah sebagian bentuk dari penyelenggaraan hukum, sama benarnya dengan ketentuan ketentuan yang tertulis. Dan keputusan pengadilan dalam suatu perkara merupakan bagian dari pada kumpulan kesatuan peraturan-peraturan yang dipakai dalam pembentukan keputusan mengenai pertentangan-pertentangan persoalan (sebagai yurisprodensi). Edwin H Suterland & Donald R Cressey, Principles of Criminologi, disadur oleh Momon Martasaputra,( Bandung: Alumni, 1973), hal. 5. 54 Topo Santoso, Polisi dan Jaksa : Keterpaduan atau Pergulatan, (Depok: Pusat Studi Peradilan Pidana Indonesia, 2000), hal. 23. 55 Ibid., hal. 23.
53

52

24

kejahatan, menaggulangi berarti usaha mengendalikan kejahatan agar berada dalam batas-batas yang dapat ditoleransi masyarakat,56dengan tujuan dari sistem peradilan pidana tersebut adalah antara lain :57 1. 2. 3. Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan; Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana; Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya.

Pendekatan sistem yang digunakan dalam peradilan pidana, menurut pendapat Harkristuti Harkrisnowo, mempunyai implikasi :58 1. Semua subsistem akan saling tergantung (Interdependent), karena produk (output) suatu subsistem merupakan masukan (input) bagi subsistem yang lain; 2. Pendekatan sistem mendorong adanya inter-agency consultation and cooporation, yang pada gilirannya akan meningkatkan upaya penyusunan strategik dari keseluruhan subsistem; 3. Kebijakan yang diputuskan dan dijalankan satu subsistem berpengaruh pada subsistem lain. Untuk mengetahui sejauh mana konsep RUU KUHAP dalam melindungi hak asasi manusia serta untuk melihat bagaimana efektifitas keberlakuan suatu kesepakatan dengan terdakwa maka perlu untuk melihat konsep-konsep yang mengatur kesepakatan dengan sakai menyangkut saksi mahkota yang lebih dahulu dilaksanakan dinegara lain, dalam hal ini di Belanda dan Amerika Serikat, pemilihan kedua negara tentulah memiliki alasan yang sangat kuat. Untuk Belanda kita ketahui bersama bahwa sistem hukum pidana Belanda paling penting dipelajari dalam perbandingan hukum pidana Indonesia karena sumber hukum formil dan materil Indonesia bersumber dari Belanda. Sedangkan Amerika Serikat yang mengganut sistem common law dimana prinsip dasar hukumnya tidak ditemukan dalam undang-undang yang dibuat parlemen dan hanya sebagian kecil ditemukan melalui pernyataan hukum yang sistematik, rinci yang disahkan oleh badan-badan legislatif atau diberlakukan ketetapaan, sehingga di Amerika Serikat perubahan sistem sosial dan teknologi mendorong sistem
56

Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia Dalam sistem Peradilan Pidana, Op.Cit., hal.

84. Ibid . Harkristuti Harkrisnowo, Sistem Peradilan Pidana Terpadu , dalam Newsletter Komisi Hukum Nasional, (Mei 2002), hal .10-17.
58 57

25

hukum kearah beban baru dan kebiasaan baru berakibat pada sistem hukum berubah bersama waktu berganti dan hukum bergerak, berubah sehingga hukum sangat dinamis.59 Dengan melakukan perbandingan hukum dengan Belanda dan Amerika Serikat ini diharapkan dapat diperoleh suatu pemecahan masalah mengenai kedudukan saksi mahkota pada penyertaan dalam tindak pidana dalam pembaharuan hukum. Sebagaimana di Soerjono Soekanto, tujuan akhir dari perbandingan hukum adalah bukan menemukan persamaan dan perbedaan akan tetapi pemecahan hukum secara adil dan tepat, serta hal tersebut penting untuk melaksanakan pembaharuan hukum.60

H. Metode Penelitian Dalam pelaksanaan penelitian ini penulis menggunakan pendekatan yuridis normatif. Metode penelitian yuridis normatif ini sering disebut sebagai penelitian doktrinal, yang meneliti hukum yang dikonsepkan dan dikembangkan atas dasar doktrin yang dianut sang pengkonsep dan/atau sang pengembang.61 Pokok kajiannya adalah hukum yang dikonsepkan sebagai norma atau kaidah yang berlaku dalam masyarakat dan mengacu prilaku setiap orang, sehingga penelitian hukum normatif berfokus pada inventarisasi asas-asas dan doktrin hukum, penemuan hukum dalam perkara in concreto, sistematik hukum, taraf singkronisasi hukum, perbandingan hukum dan sejarah hukum.62 Sebagai data penunjang dilakukan wawancara terhadap narasumber yaitu : Prof. Mardjono Reksodiputro, SH. MA., Prof. Dr. Jur. Andi Hamzah, SH., Steven Kessler (Resident Legal Advisor Office Of Overseas Prosecutirial Development Assistance And Training) US Departemen of Justice, Charles Guria dan Kevin Ricardson, (Executive Assistant Distrik Attorney King County Brooklyn, New York), Agung Ardiyanto (Kasi Pidum Kejari Jakarta Selatan) dan Kiki Yonata
Lawrence M Friedman, American Law An Introduction, Penerjemah Wishnu Basuki, (Jakarta : PT Tatanusa, 2001), hal. 20 -25. 60 Barda Nawawi Arif, Perbandingan Hukum Pidana, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), hal. 18. 61 Soetandyo Wignjosoebroto, Ragam ragam Penelitian Hukum, dalam Metode Penelitian Hukum : Konstelasi dan Refleksi, Sulistyowati Irianto dan Shidarta, ed., Cetakan Kedua, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2011), hal .121 -122. 62 Abdulkadir Muhamad, Hukum dan Penelitian Hukum, Cet-1, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 52.
59

26

(Kasi Pidum Kejari Jakarta Barat). Sedangkan untuk pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. Pendekatan Perundang undangan (Statute Approach) Oleh karena penelitian ini dalam level dogmatis hukum atau untuk keperluan praktik hukum tidak dapat melepaskan diri dari pendekatan perundangundangan,63 pendekatan perundang- undangan bukan saja melihat pada bentuk peraturan perundang-undangan, melainkan juga menelaah materi muatanya, dasar ontologis lahirnya undang-undang, landasan filosofis undang-undang, dan ratio legis dari ketentuan undang-undang.64 2. Pendekatan Kasus (Case Approach) Dalam pendekatan kasus yang perlu dipahami adalah ratio decidendi yaitu, alasan alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai pada putusanya,65ratio decidendi inilah yang menunjukan bahwa ilmu hukum merupakan ilmu yang bersifat preskriptif, bukan deskriptif, sedangkan dictum putusan merupakan sesuatu yang bersifat deskriptif, oleh karena itu pendekatan kasus bukan merujuk pada diktum putusan pengadilan, melainkan merujuk pada ratio decidendi.66 3. Pendekatan Historis (Historical Approach) Pendekatan historis dilakukan untuk pelacakan sejarah lembaga hukum dari waktu kewaktu, melalui pendekatan historis dapat membantu untuk memahami perubahan dan perkembangan filosofis yang melandasi aturan hukum.67 4. Pendekatan Perbandingan (Comparative Approach) Perbandingan hukum memberikan penilaian terhadap masing-masing system hukum yang digunakan serta mengkaji adanya asas-asas umum yang didapat dengan cara membandingkan.68 Melakukan perbandingan hukum harus mengungkapkan persamaan dan perbedaan, kegiatan ini bermanfaat bagi
63

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Cetakan Ke-6, (Jakarta : Prenada Media Group, 2010), hal. 96. 64 Ibid., hal 102 65 Ibid., hal 118 66 Ibid. 67 Ibid., hal 126. 68 Topo Santoso, Perbandingan Hukum Pidana, (Bahan Bacaan Mata Kuliah Perbandingan Hukum Pidana Program Magister Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok : 2011), hal. 1.

27

penyingkapan latar belakang terjadinya ketentuan hukum tertentu untuk masalah yang sama dari dua negara yang berbeda atau lebih.69 Penelitian hukum dengan perspektif normatif meneliti antara lain bahan pustaka atau data sekunder yang diperoleh dari studi kepustakaan. Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data sekunder yang meliputi : a. Bahan hukum primer : yaitu bahan hukum yang merupakan peraturan perundang-undangan, peraturan pelaksana lainnya dan yurisprudensi

putusan pengadilan yang berkaitan dengan permasalahan kedudukan saksi mahkota dalam penyertaan tindak pidana. b. Bahan hukum sekunder: yaitu bahan-bahan hukum yang isinya menjelaskan mengenai bahan hukum primer berupa buku, hasil penelitian, makalah simposium atau seminar, jurnal-jurnal ilmiah yang berkaitan dengan masalah kedudukan saksi mahkota dalam tindak pidana yang berbentuk penyertaan. c. Bahan hukum tertier: yaitu bahan- bahan penunjang yang menjelaskan bahan hukum primer dan sekunder misalnya dalam hal ini kamus, ensiklopedi yang memberikan batasan pengertian secara etimologi /arti kata atau secara grmatikal untuk istilah istilah tertentu,70yang berkorelasi dengan maslah kedudukan saksi mahkota dalam penyertaan tindak pidana.

I. Sistematika Penelitian Sistematika penulisan yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri atas 5 (lima) Bab yaitu: Bab1 Pendahuluan Di bab ini diuraikan mengenai latar belakang dilakukan penelitian, permasalahan penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian disertai dengan kerangka teoti, kerangka konsepsional dan metode penelitian serta sistematika penulisan.

Bab 2 Tinjaun Yuridis Penggunaan Alat Bukti Saksi Mahkota dalam Penyertaan Dalam Tindak Pidana
Peter Mahmud Marzuki, Op. Cit., hal 133. Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji. Penelitian hukum Normatif, (Jakarta: Rajawali press, 1995), hal. 33.
70 69

28

Bab ini membahas

mengenai tinjauan

umum

konsep saksi mahkota,

penyertaan dalam tindak pidana, yurisprudesi penerapan saksi mahkota di peradilan Indonesia, memaknai dualisme yurisprudesi dalam penerapan saksi mahkota, hak-hak saksi mahkota dalam proses peradilan pidana dan asas non self incrimination.

Bab 3 Penerapan Alat Bukti Saksi Mahkota dalam Penyertaan dalam Pidana di Peradilan Bab ini membahas mengenai pemecahan berkas perkara (splitsing) dan konstruksi surat dakwan terhadap saksi mahkota pada penyertaan dalam tindak pidana, kekuatan alat bukti saksi mahkota dalam pembuktian tindak pidana, ketentuan dalam pembuktian untuk menerapkan saksi mahkota,

pertanggungjawaban pidana saksi mahkota .

Bab 4 Perbandingan Konsep Saksi Mahkota Menurut RUU KUHAP dengan Konsep yang dianut Negara lain Bab ini mengetengahkan mengenai studi komparasi RUU KUHAP dengan Belanda dan Amerika Serikat, Pergeseran paradigma dalam RUU KUHAP dan melihat konsep lain yang mengatur keturutsertaan saksi dalam suatu tindak pidana dalam hal ini whistelblower dan justice collabolator kemudian membandinkanya dengan konsep saksi mahkota.

Bab 5 Penutup Bab ini Merupakan kesimpulan dari permasalahan mekanisme menerapkan saksi mahkota dengan tidak asas non self incrimination, peranan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam proses peradilan pidana dan konsep saksi mahkota yang introdusir dalam sistem hukum pidana Indonesia yang akan datang. Serta saran yang berisi mengenai padangan penulis untuk perbaikan dalam penerapan saksi mahkota untuk perkara penyerta dalam tindak pidana.

29

BAB II TINJAUAN YURIDIS PENGGUNAAN ALAT BUKTI SAKSI MAHKOTA DAN PENYERTAAN DALAM TINDAK PIDANA Dalam pembahasan awal ini penulis akan menguraikan bagaimana tentang konsep saksi mahkota, tidak saja di Indonesia tetapi juga di negara lain, kemudian dilanjutkan bagaimana memaknai dualisme yurisprodesi dalam penerapan saksi mahkota serta hak-hak saksi mahkota dalam proses peradilan pidana, dan yang terpenting upaya mengatasi dilema terkait asas non self incrimination dalam penerapan saksi mahkota. Sebelum sampai pada konsep saksi mahkota, akan sedikit dibahas tentang penyertaan dalam tindak pidana karena dalam penerapam saksi mahkota ini berkaitan erat dengan penyertaan dalam tindak pidana sehingga diperlukan pemahaman mengenai bentuk bentuk penyertaan dalam tindak pidana penyertaan dalam tindak pidana. A. Penyertaan dalam Tindak Pidana 1.Doktrin dan Sifat Penyertaan Penyertaan (deelneming) diatur dalam buku kesatuan tentang aturan umum, Bab V Pasal 55-62 KUHP. Makna dari istilah ini adalah bahwa ada dua orang atau lebih yang melakukan suatu tindak pidana atau dengan kata lain ada dua orang atau lebih yang mengambil bagian untuk mewujudkan tindak pidana.71 Filosofi dasar keberadaan lembaga penyertaan terdapat dua pandangan yaitu : a.Sebagai Strafausdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya orang) : 72 1.Penyertaan dipandang sebagai persoalan pertanggung jawaban pidana; 2.Penyertaan merupakan suatu delik, hanya bentuknya tidak sempurna. Sama halnya dengan percobaan dan persiapan (melakukan tindak pidana) penyertaan juga memperluas sifat dapat dipidana.73 Mengenai perluasan sifat
E Y Kanter dan S R Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapan, (Jakarta: Storya Grafika, 2002), hal. 336. 72 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI, Modul Asas Asas Hukum Pidana I, (Jakarta : Pusat Pendidikan dan Pelatihan ,2010), hal. 222.
71

dan pertanggungjawaban pidananya pelaku

30

dapat dipidana Hazewinkel - Suringa yang menganut ajaran formel sebagaimana dikutip Andi Hamzah menyatakan menurut sistem undangundang, telah dilakukan suatu grondfeit (peristiwa dasar) yaitu suatu peristiwa yang diuraikan dalam undang-undang ditambah beberapa perluasan menurut undang-undang (termasuk pula Pasal 56 KUHP yang mengatur tentang pembantuan).74 Sedangkan menurut pandangan materil ketentuan tentang deelneming (penyertaan) sama sekali bukanlah sesuatu yang menyangkut Ausdehnung atau perluasan pengertian sebab tanpa ketentuan tentang penyertaan, perluasan orang yang bukan pelaku, tetapi yang turut serta akan tinggal tidak terpidana.75 Lebih lanjut Hazewinkel Suringa sebagaimana dikutip Andi Hamzah menyatakan ajaran tentang penyertaan memperluas pertanggungjawaban (Tatbestand) selain pelaku yang mewujudkan seluruh isi delik

(dehnungsgrund) atau dalam bentuk percobaan juga mencakup orang-orang turut serta mewujudkanya, yang tanpa ketentuan tentang penyertaan tidak dapat dipidana, karena mereka tidak mewujudkan delik. 76 Dalam hal ini Van Bemmelen juga menyatakan ketentuan tentang penyertaan merupakan dasar perluasan pemidanaan orang-orang yang terlibat dala perwujudan delik, yang dalam bahasa jerman disebut Strafausdehnungsgrund. 77 b. Sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya perbuatan): 78 a. Penyertaan dipandang bentuk khusus dari tindak pidana; b.Penyertaan merupakan suatu delik, hanya bentuknya istimewa. Menurut Pompe sebagaimana dikutip Moeljatno berpendapat bahwa penyertaan memberi perluasan kepada norma-norma yang tersimpul dalam perumusan undang-undang.79 Dalam hal ini Andi Hamzah menyetujui pendapat Moeljatno yang mengatakan bahwa ajaran tentang penyertaan
Jan Remmelink, Hukum Pidana , Op. Cit., hal. 306. AZ Abidin dan Andi Hamzah, Hukum Pidana Indonesia, (Jakarta: PT Yasrif Watampone, 2010), hal. 423. 75 Ibid. 76 Ibid., hal 439 77 Ibid. 78 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI . Op.Cit, hal. 222. 79 Moeljatno. Hukum Pidana Delik-Delik Percobaan Delik-Delik Penyertaan, (Jakarta: PT Bina Aksara. 1985), hal. 5.
74 73

31

(deelniming) yang diuraikan dalam Bab V KUHPidana Pasal 55 sampai dengan Pasal 62 KUHP merupakan Tatbestandausdenhnungsgrund, para peserta delik melanggar kaidah-kaidah hukum pidana yang telah diperluas itu, masing-masing pada waktu dan tempat ketika mereka berbuat atau tidak berbuat sesuatu.80 Utrecht menyatakan pelajaran umum turut serta ini justru dibuat untuk menuntut pertanggungjawaban mereka yang memungkinkan pembuat melakukan peristiwa pidana, biarpun perbuatan mereka itu sendiri tidak memuat semua anasir peristiwa tersebut, karena tanpa turut sertanya mereka peristiwa pidana itu tidak pernah terjadi.81 Berdasarkan dua filosofi penyertaan tersebut maka dalam penulisan ini penulis sependapat dan mengunakan ajaran penyertaan sebagai dasar memperluas dapat dipidananya perbuatan karena penyertaan dalam tindak pidana merupakan pelanggaran kaidah-kaidah hukum pidana yang dilakukan para peserta delik yang kemudian diperluas berdasarkan waktu dan tempat ketika dan bentuk perbuatan dari masing- masing pesertanya untuk menuntut pertanggungjawaban para peserta dalam suatu tindak pidana .

2.Bentuk-Bentuk Penyertaan Menurut Kitab Undang Undang Hukum Pidana a.Orang yang Membuat Orang lain Melakukan atau Penyuruh (Doen Pleger) Dalam mencari pengertian dan syarat dari orang yang menyuruh melakukan (doen plegen), banyak ahli hukum merujuk pada keterangan yang ada di dalam MvT WvS Belanda, yang menyatakan bahwa Yang menyuruh melakukan adalah juga dia yang melakukan tindak pidana akan tetapi tidak secara pribadi, melainkan dengan perantara orang lain sebagai alat dalam tangannya, apabila orang lain itu berbuat tanpa kesengajaan, kealpaan atau tanpa tanggung jawab karena keadaan yang tidak diketahui, disesatkan atau tunjuk pada kekerasan.82

AZ Abidin dan Andi Hamzah, Op, Cit, hal. 440. Utrecht. Rangkaian Sari Kuliah Hukum Pidana II, (Bandung : Universitas Bandung, 1965), hal. 9 . 82 Hanindyopoetra dan Naryono Artodibyo, Hukum Pidana II Penyertaan, (Malang : FHPM Universitas Brawijaya, 1975), hal. 33.
81

80

32

b. Pelaku Peserta (Medeplegen) Mereka yang turut serta (medeplegen) adalah seseorang yang mempunyai niat sama dengan niat orang lain, sehingga mereka sama-sama mempunyai kepentingan dan turut melakukan tindak pidana yang diinginkan.83 Untuk mengatakan adanya suatu medeplegen (keturutsertaan) diisyaratkatkan adanya kerjasama antara para pelaku yang disadari, dan kesengajaan untuk kejasama itu harus dapat di buktikan.84 c. Pemancing (Uitlokker) dan Terpancing ( Uitgelokte) Van Hamel sebagaimana dikutip Lamintang sebagai bentuk penyertaan atau ikut merumuskan uitloken itu yaitu :Kesengajaan

serta

menggerakkan orang lain yang dapat dipertanggungjawabkan pada dirinya sendiri untuk melakukan suatu tindak pidana dengan menggunakan caracara yang telah ditentukan oleh undang-undang, karena telah bergerak, orang tersebut kemudian telah dengan sengaja melakukan tindak pidana yangbersangkutan.85 d.Pembantuan (Medeplichtigheid, Gehilfe atau Accomplice). Wirjono Prodjodikoro membagi pembantuan menjadi dua golongan yakini, perbuatan bantuan pada waktu tindak pidana dilakukan, dan perbuatan

bantuan sebelum pelaku utama bertindak, dan bantuan itu dilakukan dengan cara memberikan kesempatan, sarana atau keterangan. Pembantuan golongan pertama tersebut sering dipersamakan dengan turut serta. Sedangkan pembantuan golongan kedua sering dipersamakan dengan penggerakan.86

3. Pertanggungjawaban Pidana terhadap Penyertaan dalam Tindak Pidana Pertanggungjawaban atau yang dikenal dengan konsep liability dalam segi falsafah hukum, seorang filosof besar abad ke 20, Roscoe Pound sebagai mana dikutib Romli Atasasmita menyatakan IUse simple word liability for the

P. A. F Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Sinar Baru, 1990), hal. 588-589 . 84 Jan Remmelink, Op, Cit., hal 314. 85 P. A. F Lamintang, Op. Cit, hal. 606. 86 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Cet. 3, (Bandung : PT. Rafika Aditama, 2003), hal .126.

83

33

situation whereby one may exact legally and other is legally subjeced to the exaction.87 Pertangungjawaban pidana di artikan Pound adalah sebagai suatu kewajiban untuk membayar pembalasan yang akan diterima pelaku dari seseorang yang telah dirugikan.88 Pertanggungjawaban pidana dalam bahasa asing di sebut sebagai toerekenbaarheid, criminal reponsibility, criminal liability, pertanggungjawaban pidana di sini dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang tersebut dapat di pertanggungjawabkan atasnya pidana atau tidak terhadap tindakan yang di lakukanya itu.89 Pertanggungjawaban pidana pada hakikatnya merupakan suatu mekanisme yang dibangun oleh hukum pidana untuk bereaksi terhadap pelanggaran atas kesepakatan menolak sesuatu perbuatan tertentu. Dua masalah pokok pada penyertaan yaitu mengenai diri orangnya dan mengenai tanggungjawab pidana tidak dapat dipisahkan, mengenai diri orangnya dalam penyertaan ada dua ajaran yang subjektif dan objektif. Menurut ajaran subjektif, siapa yang berkehendak paling kuat dan atau mempunyai kepentingan yang paling besar terhadap tindak pidana itu, dialah yang membeban tanggung jawab pidana yang paling besar, sebaliknya menurut ajaran objektif menitik beratkan pada wujud perbuatan apa serta sejauh mana peran dan andil serta pengaruh positif dari perbuatan itu terhadap timbulnya tindak pidana yang dimaksud yang menentukan seberapa berat tanggungjawab yang dibebannya terhadap terjadinya tindak pidana.90 Adanya ajaran / teori penyertaan yang obyektif dan subyektif, ditimbulkan adanya konsepsi yang saling bertentangan menganai batas-batas pertanggungjawaban para peserta yaitu :91 a. Sistem yang berasal dari hukum Romawi. Menurut sistem ini tiap-tiap peserta sama nilainya (sama jahatnya) dengan orang yang melakukan, tindak pidana itu sendiri, sehingga mereka masingt-masing juga dipertanggungjawabkan sama
Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana. Cetakan kedua, (Bandung : Mandar Maju, 2000), hal. 65. 88 Ibid. 89 S.R Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana Indonesia dan Penerapanya ,Cet IV, (Jakarta : Alumni Ahaem-Peteheam, 1996), hal . 245. 90 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 3, Percobaan dan Penyertaan,( Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2002), hal. 75. 91 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI, Op,Cit. hal. 218-219
87

34

dengan pelaku. Pendirian inilah yang kemudian dikenal dengan teori atau jaran penyertaan obyektif ; b.Sistem yang berasal dari para jurist Italia dalam abad pertengahan. Menurut sistem ini tiap-tiap peserta tidak dipandang sama nilainya (tidak sama jahatnya), tergantung dari perbuatan yang dilakukan. Oleh karena itu pertanggungjawabannya juga berbeda, ada kalanya sama berat dan ada kalanya lebih ringan dari pelaku. Pendirian inilah yang dikenal dengan teori atau ajaran penyertaan yang subyektif. Menurut Moeljatno, bentuk tanggungjawab penyertaan dalam KUHP dapat digolongkan kedalam kelompok teori campuran,92karena dalam Pasal 55 disebutkan dipidana sebagai pembuat dan dalam Pasal 56 disebutkan dipidana sebagai pembantu. Akan tetapi apabila dilihat perbedaan

pertanggungjawabannya yaitu pembantu dipidana lebih ringan (dikurangi sepertiga) dari si pembuat, maka ini berarti dianut yang kedua. Selanjutnya dikemukakan oleh Moeljatno, bahwa apabila pada dasarnya KUHP menganut system Code Penal (sistem pertama) dengan pengecualian untuk pembantuan dianut sistem KUHP Jerman (sistem kedua). Maka konsekuensinya ialah Pertanggungjawaban pembantu lebih ringan dari pembuat prinsip ini terlihat didalam Pasal 57 (1) dan (2) KUHP. 93 B. Konsep Saksi Mahkota Konsep saksi mahkota telah lebih dahulu dikenal di daratan Eropa dan menurut banyak ahli konsep saksi mahkota ini diambil dari kosep saksi ratu/raja yang ada di Inggris dalam suatu uraianya P J P Tak, menyatakan bahwa konsep saksi mahkota :

92 93

Moeljatno, Op.,Cit, hal. 80. Ibid., hal 83-85.

35

Wel treffen we daar het begrip to turn kings/ Queens evidence aan, waarvan de volgende omschrijving wordt gegeven : When several person are charged with crime, and one of them gives evidence against his accomplices, on the promise of being granted a pardon,he is said to be admitted kings (in America) states evidence. Bij de Amerikaanse term states evidence wordt gemeld dat het een. Popular term is testimony given by an accomplice or joint participan in the commmision of a crime tending to criminate or convict the others, and given under an actual or implied promise of immunity or lesser sentence for himself.94 Menurut P.J.P. Tak saksi mahkota mengambil konsep dari saksi Raja/Ratu yang deskripsi ketika beberapa orang didakwa dengan beberapa kejahatan, dan salah satu dari mereka memberikan bukti terhadap pelaku yang lainya, maka diberikan janji pengampunan, hal ini dikatakan sebagai saksi raja di kerajaan sedangkan (di Amerika) disebut saksi negara, yang pengertianya kesaksian yang diberikan oleh orang yang turut serta dalam suatu kejahatan dan dia memberikan kesaksian terhadap kejahatan tersebut untuk menghukum atau mendakwa pelaku lain, maka secara aktual diberi janji berupa imunitas atau hukuman yang lebih ringan untuk dirinya.95 Mengenai konsep saksi mahkota, patut dicermati juga pendapat G.P.M.F. Mols dan . G. Spong yang menyatakan : 96 Saksi mahkota adalah seorang yang berada dalam organisasi kriminal yang aktif sebagi pelaku tindak pidana kemudian bekerjasama dengan penegak hukum dengan memberikan informasi tentang struktur organisasi kriminal, perbuatan pidana yang dilakukan oleh organisasi tersebut dan sebagainya, sehingga penegak hukum memperoleh informasi atas organisasi tersebut, dan sebagai gantinya dipertimbangkan untuk mendapat suatu bentuk imbalan. Siapa yang memberi imbalan tersebut (kejaksaan atau kehakiman) tidaklah penting .97 Di Italia menurut Manunza sebagaimana dikutip G.P.M.F.Mols dan G.Spong, sejak tahun 1977 terdapat peraturan saksi mahkota. Pada mulanya peraturan tersebut hanya diarahkan pada kegiatan-kegiatan teroris, pada tahun 1981 diarahkan juga untuk penculikan, pada tahun 1990 untuk obat-obat bius dan
P.J.P. Tak, De Kroongetuige En de Georganiseerde Misdaad, (Arnhem : S Gounda Quint D .Brouwer en Zoon, 1994), hal. 3. 95 Diterjemahkan bebas oleh Penulis 96 G.P.M.F. Mols dan . G. Spong , De kroongetuige in het Octopus-proces, Documentatie uit Octopus- proces, Requisitor, Velklarigen Van deskundigen, Pledooi, Vonnis, (Deventer :Gouda Quint, 1997), hal.31. 97 Diterjemahkan bebas ole penulis.
94

36

sejak tahun 1992 pada penyertaan dalam satu organisasi kejahatan mafia (tidak dalam suatu organisasi kriminal biasa), perluasan kelompok delik dilakukan setelah terjadi peristiwa yang mengguncangkan. Misalnya pada tahun 1992 saat terjadi penyerangan terhadap hakim, kemudian sebagai disusun peraturan yang memungkinkan orang-orang yang sudah dipidana, diberi imbalan sebagai ganti untuk keterangan. Para tersangka yang memberikan keterangan tentang tindak pidana orang lain rawan terhadap bahaya, oleh karena itu dapat dipertimbangkan untuk dilindungi dan diberi imunitas.98 Sedangkan menurut John H. Langbein saksi mahkota merupakan sistem untuk memaksakan pengakuan, dibawah sistem ini para saksi akan dijanjikan kekebalan dari penuntutan jika mereka bersaksi melawan mitra kejahatannya, jika beberapa anggota geng berusaha menjadi saksi mahkota, maka diantaranya yang paling banyak mengungkapkan bukti akan dijamin kekebalan hukumnya. Ini akan memacu persaingan diantara para anggota kejahatan untuk mengungkapkan semua dan lebih banyak lagi. Hukuman yang terkandung didalamnya juga besar, karena kejahatan-kejahatan biasanya berakhir dengan hukuman mati, jika tersangka berusaha dan gagal menjadi seorang saksi mahkota, maka kesaksiannya digunakan untuk menyerangnya balik.99 Dalam praktek di Belanda sistem saksi mahkota diartikan sebagai salah seorang terdakwa yang paling ringan peranannya dalam pelaksanaan kejahatan, misal delik narkoba atau terorisme dikeluarkan dari daftar terdakwa dan menjadi saksi, dasar hukumnya asas oportunitas yang ada ditangan jaksa untuk menuntut atau tidak menuntut seorang dipengadilan baik dengan syarat maupun tanpa syarat.100 Sedangkan menurut undang-undang di Italia sistem saksi mahkota adalah jika terdakwa yang paling ringan kesalahanya dalam komplotan bersedia membongkar jaringan komplotanya, kemudian jaksa berunding dengan terdakwa tersebut dan sebagai imbalanya akan dituntut pidana lebih ringan dibanding teman berbuatnya.101

G.P.M.F. Mols dan . G. Spong, Op.Cit., hal. 32-33. John H. Langbein, Shaping the Eighteenth-Century Criminal Tria. A Vew from the Ryder Sources, (50 U. CHL L. REv. 1, 1983), hal. 105. 100 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Edisi Kedua, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 272. 101 Ibid.
99

98

37

Konsep saksi mahkota ini mirip dengan plea bargaining di Amerika Serikat, apabila terdakwa mengakui perbuatanya maka jaksa dapat melakukan kesepakatan kerjasama dengan terdakwa dan sebagai imbalanya tuntutan pidana terhadap terdakwa dikurangi, perbedaanya dalam plea bargaining tidak perlu delik dilakukan beberapa orang, dapat juga untuk tindak pidana yang dilakukan yang pelakunya satu orang.102 Menurut Kevin Ricardson kesepakatan kerjasama dalam plea bargaining penerapanya :
103

merupakan bagian dari kesepakatan pengakuan yang dalam

1. Alat untuk menangani korupsi, kejahatan terorganisir, kejahatan gang, dan penipuan keuangan dalam jumlah besar; 2. Terdakwa setuju untuk bekerjasama dalam penyidikan dan penuntutan terhadap orang lain (yaitu, ko-konspirator); 3. Terdakwa setuju untuk mengaku bersalah ; 4. Jaksa setuju untuk merekomendasikan hukuman yang lebih ringan.

Dilihat dari sudut historis, konsep saksi mahkota telah ada sejak tahun 1750- an di Inggris hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian Radzinowicz tentang studi sejarah hukum pidana, di Inggris sejak tahun1750 secara langsung dapat diberikan reward pada saksi mahkota jika mereka ingin membantu dalam proses pidana terhadap kejahatan yang mereka turut menjadi peserta.104 Di luar Inggris ada figur yang memberikan perhatian pada saksi mahkota yaitu Cesare Beccaria tahun 1764 memberikan pendapat dalam karyanya Dei delittidelle pene, dengan memberikan contoh pada pengadilan untuk peserta dalam kejahatan yang serius, pemerintah dapat bekerjasama dengan salah satu peserta kejahatan dan memberikan jaminan imunitas.105 Cesare Beccaria adalah tokoh yang paling menonjol dalam usaha menentang kesewenang-wenangan saat itu, dalam tulisannya diatas tergambar delapan prinsip yang menjadi landasan

Ibid, hal 272. Kevin Ricardson, Investigation Of Public Corruption Using Plea Bargains, Confidental Information And Cooperators, (Makalah Disampaikan Dalam Pelatihan Tehnik-Tehnik Sukses Dalam Penyidikan dan Penuntutan Kasus Korupsi, Bertempat di Hotel JW Mariott Jakarta: Tanggal 20-21 Maret 2013). 104 P J P Tak, O.,Cit., hal .4. 105 Ibid., hal 5.
103

102

38

bagaimana hukum pidana, hukum acara pidana dan proses penghukuman dijalankan.106 Berdasarkan uraian diatas walaupun terlihat pengunaan saksi mahkota seakan-akan memaksa keterangan terdakwa untuk mendukung pembuktian namun cara ini digunakan karena dalam pembuktian benar-benar ditemui kesulitan sehingga untuk mendukung pembuktian maka digunakanlah saksi mahkota, namun dalam pelaksanaannya tetap memperhatikan hak-hak terdakwa dengan didahului adanya kesepakatan dan imbalan yang akan diberikan bagi terdakwa yang setuju untuk bekerjasama. Menurut R Soesilo, cara mengangkat saksi menjadi saksi mahkota ini dipandang banyak ahli hukum dari sudut moral bertentangan dengan sifat ksatria karena mempergunakan orang untuk menghianati kawan sendiri dan terdakwa yang diangkat menjadi saksi mahkota akan mengucapkan sumpah untuk mengatakan hal-hal yang sebenarnya padahal ia sebagai terdakwa berhak untuk tidak mengatakanya untuk membela diri, walaupun pengangkatan saksi mahkota ini ini dilihat dari sudut kesopanan tidak dibenarkan, akan tetapi dalam prakteknya dijalankan dalam perkara-perkara dimana sungguh-sungguh ditemukan kesulitan dalam pembuktianya.107 Dan menurut Yahya Harahap, melakukan pemisahan terdakwa karena khawatir alat bukti tidak cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa sebagi upaya untuk lebih menyempurnakan pembuktian menimbulkan kesan demi

sempurnanya pembuktian dilakukan dengan pengakuan terdakwa yang dipaksaan, ide pemikiran ini timbul berdasarkan alasan bagaimana agar keterangan seorang terdakwa dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah bagi terdakwa lain.108 Setelah melihat bagaimana konsep saksi mahkota yanga ada di luar negeri selanjutny akan dibahas konsep saksi mahkota dalam perradilan pidana di Indonesia. Karena dalam KUHAP istilah saksi mahkota tidak disebutkan secara tegas, sehingga dalam perkembangannya muncul berbagai pendapat, baik yang berasal dari praktisi maupun akademisi, mengenai penggunaan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam pemeriksaan perkara pidana.
Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2010), hal. 5. 107 R. Soesilo, Teknik Berita Acara, Ilmu Bukti dan Laporan (Menurut KUHAP), (Bogor: Politea, 1985), hal. 10. 108 Yahya Harahap, Op. Cit., hal. 321.
106

39

Menurut Andi Hamzah, terdapat pemikiran yang keliru mengenai pengertian saksi mahkota seakan akan para terdakwa dalam hal ikut serta (medeplegen) perkaranya dipisah dan kemudian bergantian menjadi saksi disebut saksi mahkota.109 Sering kita dengar dalam proses peradilan maupun kita baca di media massa menyatakan terdakwa bergantian gantian menjadi saksi satu sama lain, dalam berkas perkara yang dipisah-pisah kemudian disebut sebagai saksi mahkota atau kroongetuige, lebih tegas Andi Hamzah menyatakan:110 Mereka yang bergantian sebagai saksi bukanlah saksi mahkota, saksi mahkota adalah salah seorang dari terdakwa dikeluarkan dari daftar terdakwa dan dijadikan saksi, pengubahan status terdakwa menjadi saksi itulah yang dipandang sebagai pemberian mahkota saksi (seperti dinobatkan sebagai saksi) jadi dia tidak pernah lagi menjadi terdakwa, supaya lebih kurang menyentuh rasa keadilan, maka biasanya jaksa memilih terdakwa yang paling ringan kesalahanya atau yang paling kurang dosa nya sebagai saksi. Indriyanto Seno Adji, memiliki sudut pandang yang berbeda dengan Andi Hamzah, ia mengartikan saksi mahkota sebagai kesaksian yang diberikan oleh seseorang yang berkedudukan sebagai terdakwa dalam perkara pidana yang sama namun dibuat secara terpisah, konklusinya digabarkan sebagai berikut :111 Dalam suatu berkas tersendiri, A selaku terdakwa didakwa melakukan pembunuhan terhadap X, namun demikian kesaksian A, selaku saksi dibutuhkan dalam berkas terpisah lainnya dimana B didakwa melakukan pembunuhan yang sama terhadap X. Begitu pula sebaliknya dengan B. sehingga status A tidak pernah ditarik dalam daftar sebagai terdakwa dalam perkaranya. Yahya Harahap walaupun tidak secara langsung menyebut pengertian saksi mahkota, namun menurutnya, pemisahan terdakwa dalam beberapa perkara pada umumnya dilakukan oleh penuntut umum, apabila khawatir alat bukti yang disampaikan penyidik dianggap kurang cukup membuktikan kesalahan terdakwa, maka untuk lebih menyempurnakan pembuktian, penuntut umum dapat menambahnya dengan jalan memisahkan terdakwa-terdakwa dalam beberapa

109 110

Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Op. Cit., hal. 271. Indriyanto Seno Adji , KUHAP Dalam Prospektif, (Jakarta : Diadit Media, 2011), hal. 200. 111 Ibid., hal. 200-201.

40

berkas perkara yang berdiri sendiri, dengan pemisahan ini, para terdakwa dapat dipergunakan sebagai saksi secara timbal balik terhadap mereka.112 Loebby Loqman menyatakan bahwa saksi mahkota adalah kesaksian sesama terdakwa, yang biasanya terjadi dalam peristiwa penyertaan,113lebih lanjut menurut Loebby Loqman apabila terjadi penyertaan dalam suatu tindak pidana dan perkaranya dipisahkan, maka terdakwa yang satu tidak dapat dijadikan saksi terhadap terdakwa yang lain, pengecualian terhadap ketentuan tersebut, adalah apabila mereka yang disebut diatas itu akan meberikan kesaksian, maka terdakwa dan penuntut umum harus saling menyetujui, kesaksian demikian tidak berada dibawah sumpah. 114 R. Soesilo melihat saksi mahkota digunakan untuk menjaga jangan sampai ada beberapa orang terdakwa yang dibebaskan dari hukuman karena kurangnya bukti terutama terdakwa yang merupakan pelaku utama, sehingga dalam perkara tersebut tidaklah semua terdakwa dilakukan penuntutan tetapi hanya beberapa orang saja, sedangkan beberapa terdakwa yang lain diangkat sebagai saksi dalam perkara itu, guna membuktikan kesalahan terdakwa yang dituntut. 115 Sedangkan menurut Mardjono Reksodiputro, istilah saksi mahkota yang dalam bahasa Belanda disebut kroongetuige, dan di Inggris dikenal dengan crown witness serta di Amerika Serikat disebut state witness menunjukan bahwa saksi tersebut merupakan lambang negara, sehingga jatuh bagunnya dakwaan jaksa penuntut umum di pengadilan akan bergantung pada saksi tersebut, apabila dipersidangan keterangan saksi tersebut berbalik maka akan runtuhlah dakwaan yang disusun oleh jaksa penuntut umum.116

Yahya Harahap, Op., Cit, hal 321. Adami Chazawi sependapat dengan Yahya Harahap, menjelaskan biarpun sama-sama terdakwa dalam satu kasus yang sama, jika berkasnya terpisah (di-split) dimana dalam berkas yang satu A sebagai terdakwa memberikan kesaksian terhadap terdakwa B dalam sidang perkara yang lain dan atau sebaliknya, pada pemisahan berkas perkara yang disidangkan sendiri-sendiri, tidak dapat dianggap sebagai keterangan terdakwa apabila dia dalam berkas yang lain statusnya sebagai saksi, walaupun ia terkait dengan terdakwa dalam kasus yang sama diberkas lain atau di-split, saksi demikianlah dalam praktek sering disebut dengan saksi mahkota. Adami Chazawi, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Edisi Kedua, (Bandung: Alumni, 2008). 113 Loebby Loqman, Saksi Mahkota, Forum Keadilan, (Nomor 11, 1995). 114 Loebby Loqman, Hukum Acara Pidana Indonesia (Suatu Ikhtisar) Cetakan Pertama, (Jakarta: CV. Datacom, 1996), hal. 95. 115 R. Soesilo, Op, Cit., hal. 10. 116 Hasil Wawancara, Tanggal 3 April 2013.

112

41

Lebih lanjut menurut Mardjono Reksodiputro saksi mahkota ini seperti saksi kunci di Indonesia dengan kesaksian saksi kunci maka, akan membuka tabir kejahatan yang sebenarnya sehingga terhadap state witness diberi perlindungan dan ditawarkan keringanan hukuman. State witness atau saksi kunci dapat merupakan orang yang terlibat dalam perkara dimana ia menjadi saksi maupun orang yang tidak terlibat, dan keringanan hukuman yang dijanjikan bagi saksi kunci yang terlibat dalam perkara merupakan kewenangan bargaining power dari jaksa penuntut umum yang dibuat dengan sepengetahuan hakim.117 Berdasarkan sudut pandang para ahli diatas penulis sependapat dengan pendapat Andi Hamzah dan Mardjono Reksodiputro, sehingga menurut penulis saksi mahkota merupakan saksi yang diambil dari salah seorang terdakwa yang bersama-sama terdakwa yang lain melakukan perbuatan pidana, kemudian bersepakat dengan jaksa penuntut umum dengan sepengetahuan hakim untuk membuka tabir kejahatan yang telah dilakukan bersama terdakwa yang lain, dari kesepakatan tersebut terhadapnya diberikan imbalan berupa perlindungan dan keringanan hukuman. Adapun alasannya menurut penulis sistem saksi mahkota ini merupakan wujud kesaksian yang membantu negara dalam hal ini diwakili jaksa penuntut umum untuk mengukapakan suatu tindak pidana. Dengan adanya kesepakatan yang merupakan bargaining power jaksa penuntut umum mencerminkan bentuk perlindungan negara terhadap hak-hak terdakwa dalam peradilan pidana dan dengan kesukarelaan terdakwa untuk menjadi saksi mahkota tersebut dapat menghindari kesewenang-wenangan penegak hukum. Sedangkan untuk memenuhi rasa keadilan dimasyarakat dalam kesepakatan tersebut jaksa memilih terdakwa yang dapat membuka tabir kejahatan tersebut dengan tingkat kesalahan paling ringan. Setelah memahami sudut pandang dari para ahli hukum pidana, selanjutnya akan dibahas bagaimana dengan konsep saksi mahkota dalam peradilan di Indonesia. Penggunaan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam pemeriksaan perkara pidana dalam peradilan di Indonesia didasarkan pada yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung, yang ternyata juga terdapat adanya perbedaan sudut pandang para hakim dalam melihat saksi mahkota, namun pada praktik yang
117

Ibid .

42

lazim diterapkan pengertian saksi mahkota dipakai dalam perkara yang saling menyaksikan dalam bentuk penyertaandalam tindak pidana. Dalam yurisprudensi yang mengakui saksi mahkota sebagai alat bukti yang sah, yaitu Putusan Mahkamah Agung Nomor : 1986 K/Pid/1989 tanggal 2 Maret 1990 menyatakan :118 Bahwa jaksa penuntut umum diperbolehkan oleh undang-undang mengajukan teman terdakwa yang ikut serta melakukan perbuatan pidana tersebut sebagai saksi dipersidangan Pengadilan Negeri, dengan syarat bahwa saksi ini dalam kedudukannya sebagai terdakwa, tidak termasuk dalam berkas perkara yang diberikan kesaksian (splitsing). Dalam putusan Mahkamah Agung RI dengan Ketua Majelis Hakimnya Ali Said, SH di atas, memberikan pertimbangan dalam kaitannya dengan penerapan saksi mahkota, Mahkamah Agung menolak keberatan yang diajukan dengan pertimbangan : Bahwa keberatan dalam ad.1a tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena penuntut umum/jaksa diperbolehkan mengajukan teman terdakwa sebagai saksi, yang disebut saksi mahkota (kroongetuige), asalkan perkara terdakwa dipisahkan dari perkara saksi tersebut (terdakwa dan saksi tidak termasuk dalam satu berkas perkara). Hal tersebut tidak dilarang oleh undangundang. Yurisprudensi No. 1986 K/Pid/1989 tanggal 21 Maret 1990, ini juga memberikan definisi tentang saksi mahkota yaitu teman terdakwa yang melakukan tindak pidana bersama-sama diajukan sebagai saksi untuk membuktikan dakwaan penuntut umum, yang perkara dipisah karena kurangnya alat bukti. Berdasarkan yurisprudensi tersebut, pengajuan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam perkara pidana didasarkan pada kondisi-kondisi tertentu, yaitu dalam hal adanya perbuatan pidana dalam bentuk penyertaan dan terhadap penyertaan dalam tindak pidana tersebut diperiksa dengan mekanisme pemisahan (splitsing), serta perkara pidana bentuk penyertaan tersebut masih terdapat kekurangan alat bukti khususnya keterangan saksi, hal ini tentunya bertujuan agar terdakwa tidak terbebas dari pertanggungjawabannya sebagai pelaku perbuatan pidana.119

Ali Boediarto, Kompilasi Abstrak Hukum Putusan Mahkamah Agung Tentang Hukum Pidana, (Jakarta : Ikatan Hakim Indonesia, 2000), hal. 40-43.
119

118

Setiyono, Op., Cit.

43

Putusan Mahkamah Agung di atas selain membenarkan penerapan saksi mahkota juga memberikan cara bagi penuntut umum menerapkan saksi mahkota dengan mekanisme pemberkasan perkara dengan cara splitsing (terpisah) untuk kepentingan pembuktian. Namun dalam pelaksanan dalam peradilan pidana di Indonesia terdapat putusan yang menarik dimana Mahkamah Agung menolak saksi mahkota sebagai alat bukti, Putusan Mahkamah Agung tersebut dalam kasus pembunuhan Marsinah yang menyatakan saksi mahkota bertentangan dengan hukum. Putusan Mahkamah Agung dengan Hakim Ketua yang juga Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Tindak Pidana Umum Adi Andojo Soetjipto dalam perkara pembunuhan terhadap Marsinah terbagi atas 6 (enam) putusan, yaitu :120 - No.429 K/Pid/1995 tanggal 3 Mei 1995 atas nama terdakwa Judi Susanto - No.381 K/Pid/1995 tanggal 3 Mei 1995 atas nama terdakwa Judi Astono - No.1590 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 an. terdakwa Karyono Wongso - No.1592 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 atas nama terdakwa Bambang Wuryanto, Widayat, AS Prayogi - No. 1174 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 an. terdakwa Ny. Mutiari, SH - No. 1706 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 an. terdakwa Suwono dan Suprapto. Dalam pertimbangan hukumnya, Majelis Hakim mendalilkan : Bahwa judex factie telah salah menerapkan hukum pembuktian dimana para saksi yang adalah para terdakwa dalam perkara dengan dakwaan yang sama yang dipecah-pecah adalah bertentangan dengan hukum acara pidana yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, lagi pula para terdakwa telah mencabut keterangannya di dalam penyidikan dan pencabutan tersebut beralasan karena adanya tekanan phisik maupun psychis dapat dibuktikan secara nyata, disamping itu keterangan saksi-saksi lain yang diajukan ada persesuaian satu dengan yang lain. Dari pertimbangan hakim secara tegas menolak penerapan saksi mahkota dalam suatu perkara pidana dengan alasan pertama : bertentangan dengan hukum acara pidana yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Berkaitan dengan penghargaan terhadap hak asasi manusia ini, Indriyanto Seno Adji menyebutkan hak-hak terdakwa dalam proses peradilan pidana salah satunya prinsip non self
Ali Budiarto. Kematian Tokoh buruh Marsinah Saksi Mahkota Bertentangan dengan Hukum, Varia Peradilan (No 120, September 1995), hal 12-13.
120

44

incrimination yang secara universal mendapat pengakuan dunia, Implisitas pengakuan adanya prinsip non self incrimination itu disebutkan melalui Pasal 189 ayat 3 KUHAP, Keterangan terdakwa hanya dapat dipergunakan terhadap dirinya sendiri. Hal ini berarti bahwa terdakwa mempunyai hak untuk tidak mempersalahkan dirinya sendiri sejak proses penyidikan sampai dengan proses persidangannya di Pengadilan.121 Alasan kedua menurut Majelis Hakim, para terdakwa telah mencabut keterangannya dalam penyidikan dan pencabutan tersebut beralasan karena adanya tekanan phisik maupun psychis dapat dibuktikan secara nyata. Berkaitan dengan hal ini, majelis hakim tentu saja tidak akan sembarangan menggunakan alasan ini bilamana tidak ada pembuktian secara nyata. Ini berkaitan dengan profesionalisme penyidik dalam mengumpulkan alatalat bukti. Stigma masa lalu yang berkaitan dengan segala macam cara untuk memperoleh keterangan (bukan pengakuan) terdakwa haruslah ditinggalkan. Menurut Ali Budiarto, Putusan Mahkamah Agung dalam kasus kematian gadis tokoh buruh Marsinah ini merupakan terobosan baru yang menciptakan yurisprudensi yang berbobot dan bernilai mengenai status hukum saksi Mahkota yang selama puluhan tahun dijalankan dan diterima oleh para hakim sebagai sesuatu yang benar, dengan adanya yurisprudensi baru ini maka adanya saksi mahkota adalah bertentangan dengan Hukum Acara Pidana yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia. Hakim seharusnya menolak saksi mahkota.122 Berdasarkan dua yurisprodensi tentang saksi mahkota diatas, dalam peradilan pidana saat ini, ternyata yurisprodensi Mahkamah Agung Nomor : 1986 K/Pid/1989 tanggal 2 Maret 1990, telah menjadi pedoman dalam pelaksanaan saksi mahkota di peradilan, hal ini dapat dilihat dari putusan-putusan Mahkamah Agung lainya dalam mensikapi pengunaan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam perkara pidana. Putusan Mahkamah Agung tersebut diantaranya : 123 1. Nomor : 198 K/Pid/2004, tanggal 2 Maret 2004 atas nama terdakwa MUH. MUSYAFAK alias ABDUL HAMID (tindak pidanaa Terorisme peledakan
Indriyanto Seno Adji, KUHAP Dalam Prospektif, Op., Cit, hal 202. Ali Budiarto. Kematian Tokoh buruh Marsinah Saksi Mahkota Bertentangan dengan Hukum, Op.Cit., hal 14. 123 Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, putusan.mahkamahagung.go.id/, diunduh 12 Mei 2012.
122 121

45

bom di Bali). Dalam pertimbanganya majelis hakim yang diketuai H.German Hoediarto, S.H menolak keberatan yang diajukan penasehat hukum terdakwa mengenai keberatan : - Bahwa judex facti telah melakukan kesalahan penerapan Hukum Acara Pidana dengan menjadikan para Terdakwa sebagai saksi untuk perkara yang didakwakan kepada Pemohon Kasasi. Menurut ketentuan pasal 168 (b) KUHAP, bersama-sama Terdakwa tidak dapat dijadikan saksi. Dalam perkara aquo, Berita Acara Penyidikan (BAP) dilakukan pemecahan (splitsing) menjadi beberapa berkas perkara, dimana para Terdakwa dijadikan saksi dan sebaliknya saksi dijadikan Terdakwa - Bahwa dengan adanya pemecahan perkara yang dijadikan Terdakwa sebagai saksi dan kemudian saksi menjadi Terdakwa maka terbukti bahwa judex facti telah melakukan kekeliruan dalam penerapan Hukum Acara Pidana Dalam pertimbangnya majelis hakim menyatakan:
Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena judex facti

(Pengadilan Tinggi) tidak salah menerapkan hukum ; Menimbang, bahwa berdasarkan alasan-alasan yang diuraikan diatas lagi pula tidak ternyata, bahwa putusan judex facti dalam perkara ini bertentangan dengan hukum dan/atau Undang-Undang maka permohonan kasasi tersebut harus ditolak 2. No. 1918 K/Pid/2006, Tanggal 3 Oktober 2006 Nama : ASEP JAJA alias AJI alias DAHLAN alias YAHYA (tindak pidana terorisme) Dalam pertimbanganya majelis hakim yang diketuai Iskandar Kamil, S.H. menolak keberatan yang diajukan penasehat hukum terdakwa , dalam hal : - Tentang keterangan saksi yang juga sama-sama Terdakwa dalam berkas perkaIra yang dipisah (splitsing) Bahwa ada empat saksi yaitu Abdullah Umamity, Ismail Fahmi Yamsehu, Zainudin Nasir dan Ismail Fanath berkedudukan sama-sama sebagai Terdakwa. Dan berdasarkan KUHAP Pasal 168 huruf b, bersama-sama sebagai Terdakwa tidak dapat dijadikan saksi Dalam pertimbangnya majelis hakim menyatakan : Bahwa alasan ini juga tidak dapat dibenarkan, karena judex facti telah menerapkan peraturan hukum/telah menerapkan sebagaimana mestinya, karena pemeriksaan saksi mahkota dalam perkara terpisah(splitsing) tidak bertentangan dengan hukum. 3. No. 2475 K/Pid/2007, tanggal 23 Januari 2008 atas nama terdakwa DAVID FEBRIANTO Bin JOHANES (Tindak pidana membantu pencurian dengan kekerasan dalam keadaan memberatkan) Dalam pertimbanganya majelis

46

hakim yang diketuai Dr. Haripin Tumpa, SH. MH menolak keberatan yang diajukan penasehat hukum terdakwa , dalam hal : Bahwa putusan dalam perkara a quo salah menerapkan hukum tentang saksi mahkota atau kroongetuige. Bahwa pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri antara lain berdasarkan keterangan-keterangan saksi saksi mahkota yang juga adalah TerdakwaTerdakwa dalam perkara pidana a quo (berkas terpisah). Bahwa keterangan saksi-saksi mahkota tersebut haruslah dinyatakan tidak sah dan tidak mempunyai nilai pembuktian karena tidak sesuai dengan makna, prinsip dan aturan terkait dengan penempatan seorang Tersangka dan/atau Terdakwa sebagai saksi mahkota. Syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh seorang Tersangka dan/atau Terdakwa yang dijadikan saksi mahkota adalah (1) saksi itu adalah salah seorang diantara Tersangka atau Terdakwa dengan peranan paling kecil, artinya bukan pelaku utama ; (2) untuk saksi mahkota orang yang betul-betul sebagai pelaku tindak pidana maka pemberian mahkotanya berupa pembebasan dari tuntutan berdasarkan asas oportunitas (opportuniteitsbeginsel) ; dan (3) harus seizin Jaksa Agung Republik Indonesia untuk mendeponir perkaranya ; Putusan Mahkamah Agung No. 1774 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 jo Putusan Mahkamah Agung No. 1590 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 jo Putusan Mahkamah Agung No. 1592 K/Pid/1995 tanggal 3 Mei 1995, menegaskan bahwa secara yuridis pemecahan Terdakwa sebagai saksi mahkota terhadap Terdakwa lainnya adalah bertentangan dengan Hukum Acara Pidana yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip hak asasi manusia dan Hakim seharusnya menolak saksi mahkota Dalam pertimbangnya majelis hakim menyatakan : Bahwa alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena Pengadilan Tinggi tidak salah menerapkan hukum, lagi pula alasan tersebut mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, alasan semacam itu tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi, karena pemeriksaan dalam tingkat kasasi hanya berkenaan dengan tidak diterapkan suatu peraturan hukum, atau peraturan hukum tidak diterapkan sebagaimana mestinya, atau apakah cara mengadili tidakdilaksanakan menurut ketentuan undang-undang, dan apakah Pengadilan telah melampaui batas wewenangnya, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 253 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang No. 8 Tahun 1981). 4. No.179 K/Pid.Sus/2010, tanggal 02 Februari 2010 atas nama terdakwa ANDREAS SIE als. RICKY als. ERWIN als.KARYONO als. SUHERMAN als. YOSEP (tindak pidana Psikotropika) Dalam pertimbanganya majelis hakim yang diketuai Prof. Dr. Mieke Komar, SH.,MCL. menolak keberatan

47

yang diajukan penasehat hukum terdakwa , dalam keberatan mengenai keberatan : Judex facti salah dalam menerapkan hukum atau tidak menerapkan hukum sebagai mana mestinya , yakni cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan hukum yaitu Pengadilan tingkat pertama (Pengadilan Negeri Jakarta Pusat) mengenai saksi mahkota yang tidak boleh digunakan karena melanggar HAM

Dalam pertimbangnya majelis hakim menyatakan : Menimbang, bahwa berdasarkan alasan-alasan yang diuraikan di atas lagi pula tidak ternyata bahwa putusan judex facti dalam perkara ini bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi dari para Pemohon Kasasi I/Jaksa/ Penuntut Umum dan Pemohon Kasasi II/Terdakwa tersebut harus ditolak.

C. Memaknai Dualisme Yurisprudesi dalam Penerapan Saksi Mahkota Menurut Indriyanto Seno Aji, pasca putusan kasus pembunuhan Marsinah menimbulakan adanya dualisme pandangan yang berbeda mengenai pemaknaan saksi mahkota yang menimbulkan inkonsistensi yurisprudensi tentang saksi mahkota di Indonesia, Mahkamah Agung masih dianggap berpandangan dualistis, kontradiktif dan menimbulkan inkonsistensi dalam persoalan saksi mahkota.124 Sebelum melihat mengenai dualisme yurisprodensi yang kontradiktif dan menimbulkan inkonsistensi tersebut, untuk menelaah permasalahan yurisprudensi sebagai kaidah hukum di Indonesia ada baiknya kita lihat sejauh mana eksistensi yurisprudensi dalam sistem hukum Indonesia. Pada hakekatnya yurisprudensi di negara-negara yang sistem hukumnya comman law seperti di Inggris atau Amerika Serikat, mempunyai pengertian yang lebih luas, dimana yurisprudensi berarti ilmu hukum, sedangkan pengertian yurisprudensi di negara-negara Eropa kontinental termasuk Indonesia

yuriprudensi hanya berarti putusan pengadilan. Yurisprudensi yang kita maksudkan sebagai putusan pengadilan, di negara-negara anglo saxon dinamai preseden.125

Indriyanto Seno Aji, KUHAP Dalam Prospektif, Op, Cit, hal. 203. Achmad Ali, Menguak Tabir hukum (Suatu kajian Filosofis dan Sosiologis), (Jakarta : PT Toko Buku Gunung Agung, 2009), hal .125.
125

124

48

Dalam comman law system aturan hukum yang berkualitas preceden di ikuti dan diterapkan oleh seluruh pengadilan dalam menjatuhkan hukum terapan dalam kasus-kasus yang memiliki unsur dan sifat yang sama dengan kasus yang sebelumnya yang telah diputus oleh hakim sebelumnya, Putusan hakim dalam common law system merupakan sumber hukum yang resmi sebagai pengakuan atas asas hakim memiliki kewenangan dalam menciptakan hukum judge made law.126 Menurut Catherine Elliot dan Frances Quinn sebagaimana dikutip Nella Sumika Putri sistem common law (Inggris), menggunakan asas stare decisis atau asas the binding force of precedents, asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim sebelumnya, kekuatan mengikat dari precedent ini adalah pada bagian putusan yang dikenal dengan sebutan ratio decidendi, yaitu semua bagian putusan atau pertimbangan hukum yang menjadi dasar dari putusan dalam kasus konkret.127 Sedangkan krakteristik dalam civil law menganut sistem asas legalitas atau principle of legality, yang mengandung makna bahwa tiada suatu perbuatan merupakan suatu tindak pidana, kecuali telah ditentukan dalam undang-undang terlebih dahulu. Ketentuan perundang-undang ini harus ditafsirkan secara harfiah, dimana pengadilan tidak boleh memberikan penafsiran secara analogis, konsep asas legalitas ini juga berarti bahwa perundang-undangan tidak boleh berlaku surut (non-retroactive).128 Dalam sistem civil law undang-undang adalah sekumpulan klausa dan prinsip hukum yang otoritatif, komprehensif, dan sistematis yang dimuat dalam kitab atau bagian yang disusun secara logis sesuai hukum terkait, oleh sebab itu peraturan civil law dianggap sebagai sumber hukum utama, dimana sumber hukum lainya menjadi subordinatnya dan dalam masalah tertentu sering kali menjadi satu-satunya sumber hukum.129

Ahmad Kamil dan M Fauzan, Kaidah Kaidah Hukum Yurisprodensi, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hal. 26 . 127 Nella Sumika Putri, Pembatasan Pernafsiran Hakim Terhadap Perumusan Tindak Pidana Yang Tidak Jelas Melalui Yurisprudensi. Dalam Hukum Pidana Perspektif, Agustinus Pohan, Topo Santoso, Martin Moerings. ed., (Denpasar: Pustaka Larasan; Jakarta: Universitas Indonesia. Universitas Leiden. Universitas Groningen, 2012), hal. 48 128 Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana Kontemporer, (Jakarta: Fikahati Aneska, 2009), hal. 48. 129 Peter de Cruz, Perbandingan Sistem Hukum : Civil law, Common Law dan Socialist Law [Comparative Law Law in a Changing Worrld ], Diterjemahkan Narulita Yusron, (Bandung: Nusa Media, 2010 ), hal. 66.

126

49

Dalam konteks di Indonesia, kita dapat melihat hasil penelitian BPHN pada tahun 1995 yang menyimpulkan bahwa suatu putusan hakim dapat dikategorikan sebagai yurisprudensi apabila memenuhi unsur-unsur: 130 1. Putusan atas suatu peristiwa hukum yang belum jelas pengaturan perundangundangannya; 2. Putusan tersebut harus merupakan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap; 3. Telah berulangkali dijadikan dasar untuk memutus perkara yang sama 4. Putusan tersebut telah memenuhi rasa keadilan; 5. Putusan tersebut dibenarkan oleh Mahkamah Agung.

Dalam berbagai literatur disebutkan yurisprudensi diakui sebagai salah satu sumber hukum dalam sistem hukum Indonesia di samping sumber-sumber hukum lainnya,131 namun demikian tidak diakui doktrin stare decisis atau the binding force of precedent, artinya yurisprudensi bukan merupakan sumber hukum yang bersifat mengikat bagi hakim. Pada sistem hukum Indonesia hakim dalam membuat putusan didasarkan pada undang-undang tanpa ada kewajiban untuk melihat pada putusan sebelumnya dalam kasus yang sama, sehingga dalam putusannya antara hakim yang satu dengan hakim yang lain dapat membuat putusan yang sama ataupun berbeda tergantung pada pemahamannya dan penafsirannya terhadap suatu rumusan peraturan perundang-undangan. Walaupun yurisprudensi di Indonesia bersifat persuasive akan tetapi peranan dan eksistensinya lazim dijadikan acuan oleh para hakim judex facti (Pengadilan Negeri/Pengadilan Tinggi). Dengan demikian maka yurisprudensi dalam sistem hukum Indonesia di samping membangun, menemukan dan menciptakan hukum juga bersifat menjadi pegangan, acuan serta pedoman para hakim judex facti dan bahkan di tingkat Mahkamah Agung (judex juris) sebagai
Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana Kontemporer, Op.,Cit, hal. 11. Menurut Utrecht sumber hukum materiil yaitu perasaan hukum (keyakinan hukum) individu dan pendapat umum (public opinion) yang menjadi determinan materiil membentuk hukum, menentukan isi dari hukum, sedangkan sumber hukum formal, yaitu menjadi determinan formil membentuk hukum (formele determinanten van de rechtsvorming), menentukan berlakunya dari hukum. Sumber-sumber hukum yang formil adalah: Undang-Undang, Kebiasaan dan adat yang dipertahankan dalam keputusan dari yang berkuasa dalam masyarakat, traktat, yurisprudensi, dan pendapat ahli hukum yang terkenal (doktrinal). Lihat, E. Utrecht dan Moh. Saleh Djindang, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, Cetakan Kesepuluh, (Jakarta : 1983), hal. 84-85
131 130

50

kunci dalam memutus perkara.132 Kaitanya dengan yurisprudensi, di Indonesia hakim memiliki kewajiban untuk menggali hukum, hal ini diatur dalam Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang No 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, bahwa Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai nilai hukum yang

hidup dalam masyarakat. Ketentuan pasal tersebut secara jelas mengandung makna bahwa hakim harus menemukan hukum. Menurut Andi Hamzah, dunia modern tidak lagi dapat menerima secara ketat apa yang dikatakan oleh Montesquieu, bahwa hakim hanya menjadi corong undang-undang ( qui pronoce les paroles de la loi), hal ini tidak dapat diterima secara absolut, karena hakim menggali hukum yang hidup dalam masyarakat, khususnya bagi hukum pidana tidak dapat dipakai untuk menciptakan hukum melalui analogi, tetapi melalui interpretasi, hakim Indonesia dapat menerapkan hukum pidana sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat.133 Karena hukum modern dewasa ini, sudah meninggalkan paham lama yang menempatkan hukum yang diciptakan oleh para hakim diatas segala-galanya, kini melalui upaya penafsiran terhadap undang undang, hakim berwenang membuat hukum, sehingga tercipta keadilan yang materiil, hakim tidak semata-mata menegakan aturan formil, tetapi juga menemukan keadilan yang hidup ditengah masyarakat.134 Jika dilihat dari kebutuhan Indonesia saat ini dimana terdapat banyak perumusan undang-undang yang tidak jelas dan tidak terdapat penjelasan yang lebih lanjut dari undang-undang , tentu saja dibutuhkan suatu keseragaman dalam memberikan suatu penafsiran terhadap satu unsur tindak pidana. Dalam konteks ini penerapan stare decisis secara vertical menjadi suatu alternative yang dapat dipertimbangkan untuk mewujudkan suatu kepastian hukum.135 Meskipun judicial precedent merupakan solusi yang dibutuhkan oleh Indonesia pada saat ini sebagai sarana memberikan penafsiran yang sama dalam suatu unsur tindak pidana akan tetapi tidak serta merta judicial precedent tersebut menjadi mengikat tetapi menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh hakim dalam memutuskan
Lilik Mulyadi, Eksistensi Yurisprudensi Dikaji dari Prespektif Teoritis dan Praktik Peradilan,http://pnkepanjen.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=104&Itemid= 36, diunduh 12 Januari 2013. 133 Andi Hamzah, Asas Asas Hukum Pidana, (Jakarta: Yasrif Watampone, 2005), hal. 87. 134 Bismar Siregar, Hakim Wajib Menafsirkan Undang Undang, dalam , Varia Peradilan (Tahun X, No 120 September 1995, IKAHI), hal 88 . 135 Nella Sumika Putri, Op. Cit., hal 55.
132

51

suatu perkara.136 Karena didalam wacana hukum Indonesia, seharusnya hakim dinamakan penegak keadilan (bukan penegak hukum), maknanya adalah sebagai hakim dapat menafsirkan hukum (baca : undang undang), sehingga sebenarnya melakukan fungsi layaknya seorang legislator (law maker), ini dikenal pula sebagai diskresi yudisial (judicial discretion).137 Dalam menyikapi adanya dualisme dalam yurisprodensi yang mengatur tentang saksi mahkota dalam tindak penyertaan sebagaimana diuraikan diatas maka sebagai pegangan tentang kontroversi dalam melihat yurisprudensi tersebut maka patut disimak pendapat dari Soerjono Mantan Ketua Mahkamah Agung RI, yang berpendapat bahwa :138 Masalah precedent, sistem yang diteapkan sekarang sudah tepat, oleh karena praktek sistem precedent yang paling baik adalag sistem yang liberal dan rasional, keterkaitan hakim untuk mengikuti yurisprudensi yang telah menjadi yurisprodensi tetap. Harus bersifat bebas dan rasional, artinya keterkaitan mengikuti yurisprudensi tidak mutlak. Pendapat dan pandangan yang mengarah pada prinsip precedent liberal dan rasional pada saat sekarang tidak saja dianut negara common law system, di Inggris sendiri sebagai kiblat yang menganut sistem precedent absolut, sudah bergeser ke sistem liberal dan rasional, dimana sudah berkembang precedent yang didasarkan pada asas patokan kasus per kasus atau case by case basic dari asas inilah lahir doktrin relativitas yurisprudensi.139 Kelahiran doktrin relativitas yurisprudensi dengan asas kasus perkasus didasarkan pada prinsip dinamis (dinamic principle) yang menyatakan:140 1. Hukum dan perundang- undangan secara inherent mengandung jiwa yang dinamis bukan statis; 2. Jadi secara analogis yurisprudensi yang diciptakan hakim sebagai hukum berdasarkan kasus perkara yang diperiksa, juga mengandung sifat yang dinamis bukan statis; 3. Sehubungan dengan itu, setiap yurisprudensi yang diciptakan melalui judge made law bukan bersifat abadi, tetapi secara

Ibid Mardjono Reksodiputro, Menyelaraskan Pembaharuan Hukum, (Jakarta: Komisi Hukum Nasioanal, 2009). hal. 5. 138 Soerjono, Suatu Tinjauan Sistem Peradilan, dalam Varia Peradilan (Tahun X No 120 September 1995, IKAHI), hal. 82. 139 Ibid., hal. 83. 140 Ibid.
137

136

52

dinamis mengikuti perubahan dan perkembangan sosial ekonomi, sesuai dengan rasa keadilan masyarakat (sence of justice); 4. Lagi pula jika ditegakan prinsip precedent secara absolut, kemungkinan besar akan terjadi kekeliruan yang berlanjut secara terus menerus, sekiranya suatu yurisprodensi telah menjadi stare decisis, padahal didalamnya terkandung kesalahan dan kekeliruan, kemudian terhadapnya ditegakan precedent secara absolut, berarti putusan-putusan yang diambil kemudian, telah mengikuti putusan yang salah dan keliru. Dari uraian diatas dapat memberi pemahaman putusan hakim terhadap penerapan saksi mahkota, ternyata hakim dalam melaksanakan kewajiban hukumnya telah berani melakukan penafsiran terhadap KUHAP. Mengenai dualisme dalam putusan Mahkamah Agung mengenai saksi mahkota selama ini dalam literatur dan bahan bacaan lainya hanya dibahas tentang

pertentangangannya saja tanpa melihat dari dasar sistem penerepan yurisprudensi di Indonesia yang menganut asas liberal dan rasional sehingga dalam pelaksanaanya kita tidak hanya melihat dalam pengertian tentang saksi mahkota tetapi juga duduk perkaranya dalam kasus perkasus. Dalam melihat perkara Marsinah penulis menitik beratkan, pada pertimbangan bahwa saksi mahkota tidak dapat diterapkan karena, para terdakwa yang juga menjadi saksi telah mencabut keterangannya di dalam penyidikan dengan alasan karena adanya tekanan phisik maupun psychis yang dapat dibuktikan secara nyata. Berdasarkan pertimbangan tersebut tidak dapat diterapkanya saksi mahkota dalam perkara Marsinah karena dasar pembuktian tidak berdasarkan alat-alat bukti yang sah, sehingga alat bukti tidak dapat dijadikan dasar pembuktian dan di tolak pengadilan. Berkaitan dengan cara mencari dan mengumpulkan alat bukti ada baiknya melihat aturan yang ada di Amerika Serikat yang dikenal dengan exclusionary rule. Kemudian dalam perkara ini, alat bukti keterangan saksi yang diperoleh dari saksi mahkota tidak dikuatkan dengan alat bukti lain, sehingga alat bukti saksi mahkota tidak dapat memberikan keyakinan pada hakim, mengenai alat bukti yang harus berdiri sendirisendiri dan saling menguatkan dalam peradilan pidana di Amerika Serikat dikenal dengan (corroborating evidence). Mengenai ketentuan exclusionary rule dan corroborating evidence akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan berikutnya. 53

Argumen-argumen diatas berlandasakan dari adanya batasan dalam pembuktian, yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang

dibenarkan undang-undang dan dapat dipergunakan hakim membuktikan kesalahan yang didakwakan.141 Dikaitkan dengan saksi mahkota maka dalam pelaksanaan pembuktian harus diperhatikan beberapa hal, menurut William R. Bell, sebagaimana dikutip Eddy O.S Hiariej ada lima faktor yang berkaitan

dengan pembuktian yaitu: Pertama, bukti harus relevan atau berhubungan. Kedua, bukti harus dapat dipercaya (reliable). Dengan kata lain, bukti tersebut dapat diandalkan sehingga untuk memperkuat suatu bukti harus didukung oleh buktibukti lainnya atau corroborating evidence. Ketiga, bukti tidak boleh didasarkan pada persangkaan yang tidak semestinya atau unfair prejudice. Artinya, bukti tersebut bersifat objektif dalam memberikan informasi mengenai suatu fakta. Keempat, dasar pembuktian yakni bahwa pembuktian haruslah berdasarkan alatalat bukti yang sah. Kelima, berkaitan dengan cara mencari dan mengumpulkan bukti harus dengan cara-cara yang sesuai dengan hukum.142 Sehingga untuk menerapkan saksi mahkota sebagai alat bukti penyertaan dalam pidana harus memperhatikan pembatasannya baik itu mengenai cara memperoleh alat bukti saksi mahkota telah sesuai dengan aturan, maupun untuk membuktikan kesalahan terdakwa tidak hanya bergantung pada saksi mahkota tetapi harus ada bukti lain yang menguatkan. Dewasa ini dalam perkembangan teori pembuktian, persoalan beban pembuktian tidak lagi menjadi domain jaksa penuntut umum tetapi juga terdakwa, dengan pembuktian berimbang terdakwa dapat mengajukan bukti untuk menunjukan bahwa ia tidak bersalah, bukti yang diajukan oleh terdakwa disebut exculpatory evidence.143 Kembali pada permasalahn yurisprudensi menurut penulis langkah yang ditempuh Mahkamah Agung dengan mengunakan patokan kasus perkasus dalam

Yahya Harahap, Op., Cit, hal . 273. Eddy O.S Hiariej Pembuktian Terbalik dalam Pengembalian Aset Korupsi, dalam Hukum Pidana dalam Perspektif, Agustinus Pohan, Topo Santoso, Martin Moerings. ed., (Denpasar: Pustaka Larasan; Jakarta: Universitas Indonesia, Universitas Leiden, Universitas Groningen, 2012), hal. 199. 143 Ibid., hal. 201.
142

141

54

memutuskan perkara, relevan dengan perkataan Roscoe Pound bahwa hakim dalam mengadili perkara harus berpijak pada tiga langkah yaitu:144 1. Menemukan hukum, yakni menetapkan kaidah manakah yang dapat atau tidak dapat diterapkan diantara banyak kaidah yang ada menurut cara yang ditunjuk sistem hukum; 2. Menafsirkan kaidah yang ditetapkan, yakni menentukan makna sebagaimana ketika kaidah itu dibentuk dan berkenaan dengan keluasanya yang dimaksud; 3. Menerapakan kepada perkara yang dihadapi dengan kaidah yang ditemukan dan ditafsirkan demikian. Pada dasarnya yurisprudensi adalah hasil dari suatu proses penemuan hukum oleh hakim ketika mengadili suatu perkara yang dituangkan dalam pertimbangan dan putusanya,145dengan penemuan hukum oleh hakim diharapkan dapat memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang hukum yang tidak diatur dalam undang-undang.146 Dalam rangka penemuan hukum oleh hakim melalui yurisprudensi ini harus diingat bahwa, karena hakim dianggap tahu hukum (ius curia novit), maka putusan itu harus memuat pertimbanganpertimbangan yang memadai, yang bisa diterima secara nalar dikalangan institusi kehakiman, forum ilmu pengetahuan hukum, masyarakat luas dan para pihak yang berperkara.147 Walaupun prinsip-prinsip hukum tidak dapat menghilangkan subyektivitas, namun dalam memutus perkara hakim hendaknya tidak melihat peraturanperaturan formil saja,148tetapi perlu menampung secara proporsional nilai keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan,149sehingga putusannya tidak

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, Penterjemah Mohamad Radjab, (Jakarta : Bharatara Niaga Media, 1996), hal. 52. 145 Luhut M.P Pangaribuan, Lay Judges Dan Hakim Ad Hoc .Suatu Studi Teoritis Mengenai Sistem Peradilan Pidana Indonesia, (Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Hukum Pasca Sarjana, 2009), hal. 230. 146 Ibid. 147 Shidarta,Makalah Penemuan hukum Melalui Putusan Hakim,(Disampaikan dalam rangka Pemerkuat Pemahaman Hak Asasi Untuk hakim seluruh Indonesia di Hotel Grand Angkasa Medan, 2 - 5 Mei 2011), hal. 2. 148 Agus Brotosusilo, Penulisan Hukum, Materi Kuliah Filsafat Hukum, (Jakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Indonesa), hal. 125 . 149 Menurut Gustav Radbruch sebagaimana dikutip Theo Huijbersdari tiga tujuan hukum (yaitu kepastian, keadilan, dan kemanfaatan) keadilan harus menempati posisi yang pertama dan utama dari pada kepastian dan kemanfaatan. Secara historis, pada awalnya menurut Gustav Radbruch kepastian hukum menduduki peringkat yang paling atas di antara tujuan yang lain. Namun, setelah melihat kenyataan bahwa dengan teorinya tersebut Jerman di bawah kekuasaan Nazi melegalisasi praktek-praktek yang tidak berperikemanusiaan selama masa Perang Dunia II dengan jalan membuat hukum yang mensahkan praktek-praktek kekejaman perang pada masa itu-,

144

55

berpotensi untuk dikoreksi atau dibatalkan oleh rekan-rekannya di jenjang peradilan berikutnya. Kewibawaan putusan hakim terletak pada kejernihan sikap dan keruntutan logikanya tatkala menuangkan argumentasinya di dalam putusan, hanya dengan prinsip-prinsip ini reduksionisme dasar hukum ke dalam unsurunsur yang kemudian disilogismekan itu akan tetap terpelihara dalam satu sistem pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak hanya secara ilmiah hukum, melainkan juga secara moral.150

D.Hak-Hak Saksi Mahkota Dalam Proses Peradilan Pidana

Suatu istilah yang sangat populer dipergunakan merangkum cita-cita hukum acara pidana adalah due process of law namun makna due process of law ini sering diartikan secara keliru hanya dikaitkan dengan penerapan aturanaturan hukum acara pidana dalam proses terhadap tersangka dan terdakwa, karena artinya dalam peradilan adil jauh dari sekedar penerapan hukum atau peraturan undang-undang secara formal.151 Menutut Mardjono Reksodiputro mengutip, Tobias dan Petersen yang mengatakan bahwa due process of law itu (berasal dari Inggris, dokumen Magna Charta, 1215) due process of law itu merupakan:152 Constitutional guaranty...that no person will be deprived of life, liberty or property for reasons that are arbitrary... protects the citizens against arbitrary actions of the government

Radbruch pun akhirnya meralat teorinya tersebut di atas dengan menempatkan tujuan keadilan di atas tujuan hukum yang lain. Memanglah demikian bahwa keadilan adalah tujuan hukum yang pertama dan utama, karena hal ini sesuai dengan hakekat atau ontologi hukum itu sendiri. Bahwa hukum dibuat untuk menciptakan ketertiban melalui peraturan yang adil, yakni pengaturan kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan dengan seimbang sehingga setiap orang memperoleh sebanyak mungkin apa yang menjadi bagiannya. Bahkan dapat dikatakan dalam seluruh sejarah filsafat hukum selalu memberikan tempat istiwema kepada keadilan sebagai tujuan dari hukum. Lihat, Theo Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintas Sejarah, (Yogyakarta:, Kanisius,1982), hal. 161-166 150 Shidarta, Putusan Hakim:Antara Keadilan, Kepastian hukum dan Kemanfaatan, (Dalam lampiran Makalah yang disampaikan dalam rangka Pemerkuat Pemahaman Hak Asasi Untuk hakim seluruh Indonesia di Hotel Grand Angkasa Medan, 2 - 5 Mei 2011), hal. 8. 151 Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana, Op. Cit., hal.27-28. 152 Ibid.

56

Oleh karena itu unsur unsur dari due process itu adalah :153 1.Hearing (mendengarkan tersangka dan terdakwa); 2.Counsel (penasihat hukum); 3.Defense (pembelaan); 4.Evidence (pembuktian); 5.Fair and impartial court (pengadilan yang adil dan tidak memihak). Penghargaan kita akan hak kemerdekaan seorang warga penting karena setelah menjadi seorang tersangka maka status hukumnya berubah, orang tersebut ditandani oleh berbagai pembatasan dalam kemerdekaan sering pula dengan degradasi secara moral.154 Melalui proses peradilan pidana kemerdekaan warga negara tersebut paling besar terancam terhadap kemungkinan salah penggunaan kewenangan yang diberikan oleh undang undang kepada aparat penegak hukum, dalam kerangka berpikir seperti inilah pengertian due process of law atau proses hukum yang adil harus dipahami sebagai perlindungan terhadap hak kemerdekaan setiap warga negara dalam negara hukum.155 Penyalahgunaan kewenangan dalam sistem peradilan pidana banyak terjadi di tingkat penyidikan dan penuntutan karena pada tingkat ini tersangka/terdakwa rentan diperlakukan sebagai obyek dalam penyidikan dengan kekerasan (violence) dan penyiksaan (torture), bahkan metode ini telah membudaya, meskipun telah adanya perubahan sistem KUHAP, yaitu tidak dikehendakinya suatu pengakuan terdakwa sebagai alat bukti.156 Tentang hal ini sebenarnya KUHAP secara implisit telah mencoba memberikan perlindungan untuk menghindari perlakukan kasar, kekerasan dan penyiksaan, misalnya melalui Pasal 52 KUHAP menyatakan: Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan peradilan, tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim.Dan ketentuan dalam Pasal 117 KUHAP menyatakan bahwa Keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apapun. Dalam memori penjelasan Pasal 52 KUHAP menyatakan supaya pemeriksaan dapat dicapai hasil yang tidak menyimpang, maka tersangka atau
Ibid. Ibid., hal 28 155 Ibid. 156 Indriyanto Seno Adji, Penyiksaan dan HAM Dalam Perspektif KUHAP, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998), hal. 4.
154 153

57

terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan-tekanan terhadap tersangka atau terdakwa, ketentuan dalam Pasal 52 dan Pasal 117 ini dapat dikaitkan dengan prinsip universal tentang non self incremintion yang merupakan hak tersangka/terdakwa untuk tidak mempersalahkan dirinya sendiri, sebagaimana tercermin secara tidak langsung dalam Pasal 66 KUHAP yang menyatakan tersangka/terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian dan Pasal 189 ayat (3) KUHAP yang menyatakan keterangan terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendri.157 Sedangkan makna dalam pasal 52 KUHAP dan Pasal 117 KUHAP, haruslah diartikan sedemkian rupa, sehingga keterangan yang diberikan oleh tersangka yang bersumber pada free will (kehendak bebas), dengan demikian baik penyidik maupun hakim tidak diperkenankan untuk mencari keterangan yang tidak diberikan secara bebas.158 Berdasarkan uraian diatas dalam rangka pelaksanaan proses hukum yang adil maka penggunaan saksi mahkota dalam proses peradilan pidana harus memperhatikan hak-hak tersangka dan terdakwa terutama prinsip non self incrimination. Sedangkan persoalan mengenai cara perolehan bukti yang menyimpang dan akan dipergunakan dipengadilan, namun ternyata tidak ada pengaturanya didalam KUHAP. Dalam negara-negara penganut sistem anglo saxon (common law) maka persoalan ini dinamakan illegally secured evidence yang masuk dalam aturanaturan yang dinamakan exclusionary rules (Amerika Serikat) atau judges rules (Inggris) yaitu aturan-aturan yang berlaku umum dan berisikan larangan penggunaan alat bukti yang diperoleh penyidik secara tidak sah atau melanggar undang undang.159 Pentingnya larangan penggunaan alat bukti yang diperoleh penyidik secara tidak sah karena inti proses hukum yang adil adalah hak seorang tersangka dan terdakwa untuk didengar pandanganya tentang bagaimana peristiwa kejahatan itu terjadi, hak didampingi oleh penasihat hukum, hak memajukan pembelaan dan

KHN-SETRA HAM UI, Akses ke Peradilan, (Jakarta: Komisi Hukum Nasional, 2003), hal, 23. 158 Indriyanto Seno Adji, Penyiksaan dan Ham Dalam Perspektif KUHAP, Op. Cit., hal. 28. 159 Indriyanto Seno Adji, Sistem Peradilan Pidana dan Hak Asasi Manusia, Bunga Rampai, (Jakarta : Modul Kuliah kebijakan Penanggulangan Kejahatan dan Hak Asasi Manusia. Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia 2012, hal. 23.

157

58

penuntut umum harus membuktikan kesalahan terdakwa dimuka suatu pengadilan yang bebas dengan hakim yang tidak berpihak.160 Walaupun KUHAP belum mengatur mengenai larangan penggunaan alat bukti yang diperoleh penyidik secara tidak sah tetapi dalam rangka perlindungan terhadap hak warga negara kita dapat menyadarkan pandangan pada prisip yang terdapat dalam KUHAP. Menurut Mardjono Reksodiputro, paling tidak terdapat sepuluh asas yang melindungi hak warga negara dan berlakunya proses hukum yang adil dalam KUHAP yaitu :161 1.Perlakuan sama dimuka hukum tanpa diskriminasi; 2.Praduga tidak bersalah; 3.Hak untuk memperoleh kompensasi (ganti kerugian ) dan rehabilitasi; 4. Hak untuk mendapat bantuan hukum; 5.Hak kehadiran terdakwa dimuka pengadilan; 6.Peradilan yang bebas dan dilakukan dengan cepat dan sederhana; 7.Peradilan terbuka untuk umum; 8.Dasar undang-undang dan dan kewajiban adanya surat perintah dalam pelanggaran atas hak individu warga negara; 9.Merupakan salah satu unsur dasar dalam hak warga negara atas liberty and sucurity dimana tersangka dan terdakwa diberi jaminan untuk membelah diri sepenuhnya; 10.Pengadilan berkewajiban mengendalikan pelaksanaan putusanyanya, dapat hanyalah dilihat sejauh kewajipan pengawasan. Pencantuman hak- hak tersangka didalam sejumlah pasal di dalam KUHAP (Pasal 50 sampai Pasal 68) merupakan pencerminan terhadap pelaksanaan hak asasi manusia dengan tingkat universal, sehingga pencantuman hak-hak tersangka itu untuk memperhatikan dan menghormati harkat martabat manusia sesuai dokumen atau instrumen internasional tentang hak asasi.162 Menurut Indriyanto Seno Adji dalam rangka perlindungan hak asasi manusia (terdakwa) dalam proses peradilan patut memperhatikan ketentuan Pasal 14 ICCPR Kovenan Internasional tentang Hak Sipil Politik yang telah diratifikasi Indonesia, ketentuan tersebut berkenaan dengan :163

Mardjono Reksodiputro, Bunga Rampai Permasalahan Dalam Sistem Peradilan Pidana, Op. Cit., hal. 9. 161 Ibid., hal .17. 162 Indriyanto Seno Adji, Penyiksaan dan Ham Dalam Perspektif KUHAP, Op. Cit., hal. 25. 163 Ibid., hal. 26-27.

160

59

1.Tuduhan perlu dituangkan dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh tertuduh mengenai sifat (nature) dan sebab (cause) dari tuduhan yang bersangkutan; 2. Persiapan dalam waktu adequat untuk mengadakan pembelaan dan hak berhubungan dengan penasihat hukum (right to communicate); 3. Secepat mungkin diadakan pemeriksaan (without any delay); 4. Diadili dan untuk mengadakan pembelaan terhadap dirinya atau melalui advokat, diberitahukan kepadanya mengenai haknya apabila ia tidak didampingi seorang advokat memperoleh bantuan hukum, khususnya jika ia kurang mampu untuk memperoleh bantuan hukum; 5. Memeriksa (to examine) para saksi a charge adanya menghadiri para saksi a charge ataupun a de charge; 6. Memperoleh seorang penterjemah, apabila tidak memahami bahasa yang dipergunakan pengadilan; 7. Hak untuk tidak mempersalahkan diri sendiri (right of non self incrimination). Dalam proses peradilan pidana KUHAP tidak menghendaki

tersangka/terdakwa sudah dijatuhi putusan bersalah sebelum prosesnya dimulai,164 karena setiap orang dianggap tidak bersalah sampai ada keputusan hakim yang berkekuatan hukum tetap bahwa ia bersalah (presumtion of innocence), sehingga hak asasinya selama proses peradilan selalu terjamin dan terlindungi.165 KUHAP melihat proses peradilan pidana sebagai perjuangan untuk menegakakn hukum secara adil, didalam prosesnya hak hak tersangka dan terdakwa terlindungi dan dianggap sebagai hak warga negara.166 Sebagai implementasi pelaksanaan hukum yang adil dalam rangka melindungi hak asasi saksi mahkota maka penggunaan saksi mahkota dalam proses peradilan sedapat mungkin di hindari lebih baik dihindari. Namun apabila dalam suatu perkara yang menyangkut penyertaan dalam tindak pidana tidak ada alat bukti lain untuk mendukung pembuktian selain saksi mahkota, maka untuk menjamin timbulnya kepastian hukum dan terjaganya ketertiban masyarakat saksi mahkota dapat diterapkan dengan segala konsekwensinya dan tetap menghormati hak-hak asasi saksi mahkota.167

164 165

Mien Rukmini, Op.Cit., hal. 83. Ibid., hal. 260. 166 Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia Dalam sistem Peradilan Pidana, Op.Cit., hal 44. Zulfan dan Kaharuddin, Saksi Mahkota dan Perlindungan Hak Asasi Manusia dalam Pembuktian Hukum Pidana, Jurnal Media Hukum (Volume 15 No 1 Juni 2008), hal. 165.
167

60

Karena dengan ditetapkan dan diajukan seorang sebagai saksi mahkota maka hak haknya dalam posisi sebagai terdakwa tidak dapa digunakan sebagaimana mestinya, disinilah hak asasi manusia sebagai saksi mahkota dikebiri dan terkekang sehingga bertentangan dengan asas peradilan jujur, terutama hak dalam posisi terdakwa untuk membela diri tidak dapat terlaksana dengan baik, dan peradilan terhadap terdakwa akan jauh dari pencapaian keadilan.168 Menurut Artidjo Alkostar penerapan aturan hukum yang menyangkut saksi mahkota (crown witness/kroongetuige) harus memperhatikan ketentuan Pasal 168 KUHAP dan Pasal l69 KUHAP, dan diterapkan secara selektif agar tidak melanggar hak asasi manusia atau hak dasar konstitusinal serta tidak melanggar prinsip umum non self incrimination.169

E.Mengatasai Dilema Terkait Non Self Incrimination dalam Penerapan Saksi Mahkota Diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam pelaksanaan hukum acara pidana formiel dan hukum pidana materiel, karena menyangkut hak asasi dan perlindungan martabat manusia.170 Konstitusi Republik Indonesia sendiri telah menetapkan pengakuan terhadap perlindngan hak-asasi dan perlindungan martabat manusia sebagaiana tercantum dalam pasal 28 I UUD 1945 (Perubahan Kedua) yang menyatakan: 1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. 2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapat perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Menurut Romli Atasasimita, sebagai konsekwensi logis dari asas praduga tak bersalah maka terhadap tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum

Ibid, hal. 157. Artidjo Alkostar, Kebutuhan Responsifitas Perlakuan Hukum Acara Pidana dan Dasar Pertimbangan Pemidanaan serta Judicial Immunity, (Makalah Disampaikan dalam RAKERNAS 2011 Mahkamah Agung dengan Pengadilan Seluruh Indonesia, Jakarta 18-22 September 2011), hal .6. 170 Ibid., hal. 2-3.
169

168

61

untuk tidak memberikan keterangan yang memberatkan atau merugikan dirinya sendiri (the right of non-self incrimination) dan hak untuk tidak memberikan jawaban (the right to remain silent) baik dalam proses penyidikan maupun proses persidangan.171 Asas non-self incrimination merupakan suatu hal yang dilarang dalam suatu proses peradilan pidana, karena tindakan atau pernyataan yang diambil atau berasal dari seseorang mengakibatkan dirinya menjadi in crime, larangan ini berangkat dari beban negara untuk menuduh dan membawa seseorang ke pengadilan, dan membuktikan tuduhanya, sehingga seseorang tertuduh tidak dapat dipaksa membantu kewajiban negara itu. Non-self incrimination merupakan hak istimewa terbatas pada tindak pidana saja, tetapi tidak hanya berlaku untuk informasi yang memberatkan, berlaku juga untuk bukti yang cenderung memberatkan terdakwa, hak istimewa ini berlaku untuk terdakwa dan saksi, dan hak istimewa tidak hanya dalam proses penyidikan pidana, melainkan juga dalam semua tindakan pengadilan pidana, serta dalam penyelidikan oleh lembaga admministrative, karena hak istimewa ini sangat pribadi dengan demikian tidak dapat digunakan untuk orang lain, lingkup hak ini hanya berlaku untuk orang perorangan dan tidak semu (juridical) seperti korporasi, serikat, partnership.172 Menurut Indriyanto Seno Adji, salah satu alasan pihak yang menolak penerapan saksi mahkota dalam proses peradilan pidana adalah, menyangkut asas non self incrimination, karena : 173 Pengajuan saksi mahkota ini bertentangan dengan hak asasi manusia, khususnya hak-hak terdakwa dalam proses peradilan pidana yaitu prinsip atau asas non self incrimination yang secara universal mendapat pengakuan dunia, implisitas pengakuan adanya asas non self incrimination itu disebutkan dalam pasal 189 ayat (3) KUHAP yaitu: Keterangan terdakwa hanya dapat dipergunakan terhadap dirinya sendiri Hal ini berarti terdakwa mempunyai hak untuk tidak mempersalahkan dirinya sendiri sejak proses penyidikan sampai persidangan di pengadilan.
Romli Atasasimita, Logika Hukum Asas Praduga Tak Bersalah, http://m.tokohindonesia.com/publikasi/article/322-opini/2400-logika-hukum-asas-praduga-takbersalah, diunduh 5 Mei 2013. 172 Christopher Osakwe, The Bill Of Right For The Criminal Defendatin In American Law, dalam, Human Right In Criminal Procedure A Comparative Study, Jhon A Andrews, ed., (Boston/London : Martinus Nijhoff Publisher, The Hague, 1982), hal. 274. 173 Indriyanto Seno Adji, KUHAP Dalam Prospektif, Op.Cit., hal. 95.
171

62

Tidaklah mungkin bagi seorang terdakwa akan mempersalahkan dirinya sendiri dengan memberi kesaksian yang memberatkan dirinya sendiri dalam berkas perkara yang dibuat terpisah, dalam satu berkas terdakwa menyangkal perbuatanya, namun dalam kedudukanya sebagai saksi dalam berkas pidana yang terpisah ia mengakui melakukan perbuatan yang disangkalnya sendiri.174 Menurut Andi Hamzah sistem saksi mahkota yang dikenal dalam peradilan pidana di Indonesia saat ini dengan cara mendudukan seseorang untuk bergantian sebagai saksi dan terdakwa walaupun dalam perkara terpisah melanggar asas non self incrimination dan mendorong seseorang untuk melakukan sumpah palsu, sebagai jalan keluarnya sebagai ketua tim perumus RUU KUHAP yang akan datang Andi Hamzah memasukan pengertian saksi mahkota dengan mereduksi sistem yang ada di Belanda, Italia dan Amerika Serikat.175 Dalam prespektif hukum pidana Belanda menurut Constantijn Kelk, setiap tindak pemeriksaan yang dilakukan terhadap tersangka/terdakwa, dilakukan oleh polisi atau oleh hakim, memperhatikan sejumlah syarat dasar untuk menjaga dan menjamin otonomi tersangka/terdakwa dalam kebebasannya memberikan keterangan. Hal ini sangat penting mengingat situasi pemeriksaan (pengambilan keterangan) dilakukan dalam kondisi ketidak setaraan, sebab pejabat penyidik memiliki sejumlah sarana paksa (dwangmiddelen) yang memungkinkannya merampas kemerdekaan tersangka.176 Untuk menghindari ancaman sebagai sarana paksa yang memaksa tersangka memberi keterangan yang diminta maka :177 1. Pertama-tama pejabat penyidik yang memeriksa tersangka dilarang untuk melakukan apapun juga yang bertujuan membuat tersangka memberi keterangan tidak dalam keadaan bebas (Pasal 29 Ned Sv.);178 2. Di samping itu, undang-undang menetapkan bahwa tersangka/ terdakwa dalam proses pemeriksaan tidak diwajibkan untuk menjawab. Dengan kata lain, ia memiliki hak untuk diam atau tidak menjawab (zwijgrecht); 3. Selanjutnya, pejabat yang melakukan penyidikan atau pemeriksaan harus dengan tegas (expressis verbis) memberitahu tersangka/ terdakwa akan hak-nya tersebut di atas, satu dan lain karena barangsiapa yang tidak
Ibid . Hasil Wawancara, Tanggal 9 April 2013. 176 Constantijn Kelk, Tahapan Kritikal Dalam Pengembangan Sistem Hukum Pidana Yang Beradab, dalam Hukum Pidana dalam Perspektif, Agustinus Pohan, Topo Santoso, Martin Moerings. ed., (Denpasar: Pustaka Larasan; Jakarta: Universitas Indonesia, Universitas Leiden, Universitas Groningen, 2012), hal. 61. 177 Ibid. 178 Sv: Wetboek van Strafvorderingen (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Belanda).
175 174

63

mengetahui apa haknya nyata tidak akan dapat menggunakannnya. Inilah yang disebut sebagai cautieplich (kewajiban untuk menginformasikasikan tersangka/terdakwa bahwa ia memiliki hak untuk diam) dari pejabat pemeriksa. Ketentuan-ketentuan di atas mengejawantahkan prinsip bahwa terdakwa baik secara langsung maupun tidak langsung tidak boleh dipaksa memberikan keterangan yang memberatkan dirinya sendiri (Pasal 14 ayat 3 sub g ICCPR). The privilege against self-incrimination or the right of silence (hak istimewa untuk tidak memberikan keterangan yang memberatkan diri sendiri atau hak untuk diam) merupakan prinsip yang diakui masyarakat internasional yang sekaligus merupakan bagian penting dari proses pidana yang adil (fair trial). Sebagaimana ditegaskan oleh EHRM ,179 (EHRM 5 November 2002, NJ 2004, 262). Walaupun asas nemo-tenetur (seipsum accusare: the right not incriminate oneself) tidak secara tegas termuat di dalam perundang-undangan pidana Belanda, namun dengan sendirinya di dalam hukum pidana Belanda berlaku prinsip fair trial (Pasal 6 EVRM). Yang memuat kewajiban untuk menjaga dan menghormati tersangka/terdakwa yang tidak diwajibkan memberikan keterangan yang akan mencelakakan dirinya sendiri.180Ketentuan-ketentuan pemeriksaan terhadap tersangka/terdakwa dimaksud untuk mencegah terdakwa akan ditempatkan di bawah tekanan, dipaksa, diancam, diintimidasi dengan keras atau dibujuk atau melalui tipu daya, sedemikian sehingga ia memberi keterangan yang tidak benar atau keliru.181 Menurut P.J. P. Tak sebagaimana dikutip Romli Atasasmita dalam hukum pidana Belanda, hak-hak tersangka atau terdakwa dijamin dan dilindungi sedemikian rupa, sehingga jika penyidik memaksa keterangan dari tersangka atau terdakwa diberikan hak untuk mengajukan review kepada examining judges untuk memeriksa kebenaran review yang diajukan tersangka atau terdakwa,
182

Di

Amerika Serikat, mengenai hak untuk tidak menyalakan diri sendiri telah diakui secara kontitusional, dalam amandemen ke- V Kontitusi Amerika Serikat, memuat diantaranya, tidak boleh diwajibkan dalam perkara kejahatan apapun menjadi
Europees Hof voor de Rechten van de Mens te Straatsburg (Mahkamah atau Pengadilan Hak Asasi Manusia di Strasburg). 180 Constantijn Kelk, Op.Cit., hal. 62. 181 Ibid. 182 Romli Atasasimita, Logika Hukum Asas Praduga Tak Bersalah, Op. Cit.
179

64

saksi yang memberatkan diri sendiri.183 Di Inggris diberlakukan hak untuk tidak menjawab pernyataan, bahkan sangat ketat, pemeriksaan harus mulai mengatakan kepada the suspect, bahwa ia mempunyai hak untuk diam tidak menjawab pertanyaan.184 Di Amerika serikat menurut Steve Kessler, dalam upaya menghindari terjadinya untuk self incrimination dalam mengunakan saksi yang bersifat cooperator maka hal penting dalam kesepakatan kerjasama ini dilakukan dengan sukarela dimana motivasi cooperator berharap akan keringanan hukuman dari kejahatan yang telah dilakukan, bukan dari paksaan.185 Bentuk keringanan hukuman yang akan diberikan bukan penghapusan pidana sama sekali, tetapi mekanismenya yang berlaku di Amerika Serikat menurut Charles Guria, apabila telah terjadi kesepakatan dengan terdakwa dan terdakwa mengaku bersalah atas satu dakwaan berat (serious charge) dan dakwaan ringan (less-serious charge), Setelah berhasil memenuhi kewajibannya sesuai kesepakatan, kantor kejaksaan akan meminta pengadilan agar terdakwa diizinkan untuk mencabut pengakuan bersalah yang sebelumnya diajukan terhadap dakwaan berat dan mempindanakan yang Terdakwa atas dakwaan ringan sesuai yang diizinkan oleh undangundang.186 Karena saksi mahkota dalam persidangan sudah menjadi kaedah hukum yang diterima namun perlu suatu telaahan secara comparative untuk menghindari terjadinya pelanggaran asas non self incrimination, ini dapat dilakuakun dengan melihat ketentuan sebagaimana dalam prespektif hukum pidana di Belanda dan Amerika Serikat dalam penggunaan saksi mahkota untuk pembuktian perkara pidana. Selain itu untuk mengatasi dilema asas non self incrimination kita dapat bersandar pada pendapat Christopher Osakwe yang menyatakan.187 In a delicate balancing of this privilage with competing right of the state to conduct legitimate investigation into cause of crime , the court have held taht the privelege against self incrimination is not available if the person has already been tired for offence or if the person has been pardoned for the offence or if the legislature has conferred immunity from prosecution.
183 184

Luis Hendri, Op. Cit., hal . 27. Mien Rukimini, Op.Cit, hal. 90. 185 Hasil Wawancara, Tanggal 21 Maret 2013. 186 Hasil Wawancara, Tanggal 21 Maret 2013. 187 Christopher Osakwe, Op.Cit., hal. 374.

65

Dari pemahaman tentang privelege against self incrimination, Christopher Osakwe bependapat untuk mengatasai dilema keseimbangan antara hak tersangka/terdakwa dengan hak negara untuk melakukan investigasi atas nama hukum terhadap penyebab kejahatan, maka hak istimewa terdakwa terkait non self incrimination tidak berlaku dalam hal, seseorang telah menjalankan proses persidangan, orang tersebut telah dimaafkan dalam sebuah kesepakatan, atau pembuat undang undang telah memberikan imunitas dari penuntutan. Berlandaskan dari uraian di atas ternyata untuk menerapkan saksi mahkota pada penyertaan dalam tindak pidana dapat dihindari tindakan yang bertentangan dengan asas non self incrimination, sehingga proses peradilan pidana dapat berjalan dengan adil dengan tidak melanggar hak tersangka dan terdakwa dan negara tetap memberi perlindungan terhadap individu (tersangka atau terdakwa). Karena pada hakekatnya proses pemeriksaan terhadap seseorang yang telah disangka maupun didakwa melakukan kejahatan bukanlah untuk mencari kesalahan tetapi untuk kebenaran dengan tujuan tegaknya keadilan dan menurut Topo Santoso dalam pelaksanaanya :188 Mencari kebenaran harus dilakukan secara adil, pengertian adil mencakup keseimbangan dalam mempertahankan kepentingan negara dan masyarakat atau undang undang dan melindungi kepentingan tersangka.189 Dalam rangka memaknai konsepsi adil lebih lanjut ada baiknya kita melihat teori keadilan menurut Jhon Rawls, dalam bukunya yang berjudul A Theory of Justice yang kemudian di revisi menjadi Political Liberalism Rawls mencoba mempertahankan kemukakan:
188 189

prinsip-prinsi

keadilan,

konsepsi

keadilan

yang

dia

190

Topo Santoso, Polisi dan Jaksa : Keterpaduan atau Pergulatan , Op. Cit, hal. 45. Menurut Bagir Manan Dalam upaya untuk mencapai penegakan hukum yang adil dan berkeadilan menurut Bagir Manan, harus dilihat dari dua dua aspek penting, yaitu cara penegakan hukum (procedural justice) dan isi atau hasil penegakan hukum (substantive justice), dalam masyarakat yang menjunjung tinggi hukum mewujudkan tujuan sama penting dengan tujuan itu sendiri, sedangkan untuk dapat menemukan secara tepat subtansi keadilan harus dibedakan antara keadilan individu (individual justice) dan keadilan sosial (social justice). Namun dalam kenyataanya dapat terjadi semacam jarak antara keadilan individual dan keadilan sosial, jarak ini dapat diatasi atau dikurangi, apabila dalam sistem penegakan hukum dapat dengan cermat dilekatkan nilai sosial dan moral dalam setiap aturan hukum yang akan ditegakan, dengan demikian dalam setiap keadilan individual akan terkandung keadilan sosial. Lihat, Bagir Manan, Menegakan Hukum Suatu Pencarian, (Jakarta: Asosiasi Advokat Indonesia , 2009), hal 60 -161. 190 Lord Lloyd Hampstead dan M.D.A. Freeman, Introduction to Jurispridence, (Britain: ELBS, 1985), hal. 523-524.

66

a. b. c.

Kebebasan maksimal yang tidak bisa dibatasi oleh apapun kecuali halhal yang justru untuk melindungi kebebasan tersebut; Persamaan bagi semua baik dalam kebebasan dasar dari kehidupan sosial maupun dalam pembagian semua bentuk barang-barang sosial; Persamaan kesempatan yang adil dan pengahapusan segala untuk ketidaksamaan kesempatan atas dasar keturunan atau harta kekayaan.

Mengenai prinsip keadilan, menurut Rawls sebagaiman dikutip Albert Y. Dien menyatakan, haruslah berdasar pada asas hak bukan manfaat. Jika asas manfaat yang menjadi dasar maka ia akan mengabaikan prosedur yang fair, hal yang dianggap utama adalah hasil akhirnya yang memiliki banyak manfaat untuk sebanyak mungkin orang tanpa mengindahkan cara dan prosedurnya (the greatest good for the greatest number), sebaliknya, prinsip keadilan yang berdasarkan pada asas hak akan melahirkan prosedur yang fair karena berdasar pada hak-hak (individu) yang tak boleh dilanggar (hak-hak individu memang hal yang dengan gigih diperjuangkan Rawls untuk melawan kaum utilitarian).191 Lebih lanjut menurut Rawls sebagaimana dikutip Darji Darmodiharjo dan Shidarta, perlu ada keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, bagaimana ukuran dari keseimbangan itu harus diberikan itulah yang disebut keadilan,192untuk itu kepentingan-kepentingan individu harus mendapat tempat dalam aturan adil masyarakat, akan tetapi kepentingan ini tidak dapat menjadi prinsip yang terakhir.193
Albert Y. Dien, Masyarakat yang Berkeadilan Pemikiran Jhon Rawls dalam Filsafat Hukum, Jurnal Supremasi Hukum, (Volume 7, Nomor 1, Januari 2011), hal. 13. 192 Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok- Pokok Filsafat Hukum, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999), hal. 159 . 193 Theo Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintas Sejarah, (Yogyakarta : Kanisius, 1982), hal. 202. Dalam tataran kaidah tentang keadilan di Indonesia dapat kita lihat dalam pencerminan sila Pancasila, mengenai keseimbangan antara kepentingan pribadi dan masyarakat, hal ini tercermin dalam sila ke-2 Pancasila yaitu Kemanuasiaan yang Adil dan Beradab, menurut Agus Brotosusilo dalam sila kedua ini terkandung keserasian antara perorangan, antar kelompok dan antara perorangan dan kelompok karena dalam sila ini mengandung nilai nilai individualism dan komunalism (monodualistik) sehingga dalam pelaksanaanya hubunganya bukan saja harus adil, tetapi juga beradab. Lihat, Agus Brotosusilo, Keserasian Nilai Nilai Pancasila Sebagai Sumber segala Sumber Hukum (Dalam Arus Globalisasi), Materi Kuliah Filsafat Hukum, (Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2011). Hubungan yang adil dan beradab dapat diumpamakan sebagai cahaya dan api, bila apinya besar maka cahayanya terang, jadi bila peradabannya tinggi maka keadilanpun mantap. Sesuai dengan kodrat alami, maka manusia mempunyai pikiran/cipta dan perasaan/rasa yang bila dikombinasikan akan menjadi kehendak/karsa yang merupakan motif dari pada karya/sikap tindak. Lihat pula. Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, Renungan Tentang Filsafat Hukum, Cetatakan Kelima, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994), hal. 82.
191

67

F. Penerapan Saksi Mahkota dalam Peradilan di Indonesia Melanggar Asas Non Self Incrimination Berdasarkan uraian mengenai konsep saksi mahkota dan yurisprudesi penyertaan dalam tindak pidana di peradilan Indonesia menurut penulis terdapat satu masalah yang sangat krusial yang mungkin ini yang menimbulkan kontroversi selama ini, jika dilihat dari segi historis dan konsep pada negara lain dalam penerapan saksi mahkota terdapat, unsur kesepakatan untuk bekerjasama yang menimbulkan hak dan kewajiban diantara penegak hukum dan saksi mahkota (berkedudukan selaku saksi dan terdakwa). Dari kesepakatan itu hak penuntut umum mendapatkan informasi dari saksi mahkota terhadap kejahatan yang turut ia lakukan, sedangkan kewajiban penuntut umum memberikan imbalan berupa pengurangan hukuman diakhir kerjasama dalam proses persidangan. Bentuk kesepakatan kerjasama ini tidak telihat dalam konsep saksi mahkota di Indonesia, dimana dalam konsep saksi mahkota dan penerapanya tidak ada kesepakatan antara saksi mahkota dan penegak hukum (penyidik dan penuntut umum), dapat diartikan penegak hukum (jaksa) bebas menentukan kedududukan saksi mahkota untuk saling meyaksikan dalam kedudukan sebagai saksi dan terdakwa, hal ini dikarenakan penerapan saksi mahkota dalam peradilan di Indonesia banyak dipengaruhi dari yurisprudensi yang memberikan justifikasi pengunaan saksi mahkota dalam hal penyertaan karena kurangnya alat bukti, Sehingga pelaksanaan saksi mahkota di Indonesia jelas melanggar hak tersangka dan terdakwa yaitu asas non self incrimination.

68

BAB III PENERAPAN SAKSI MAHKOTA SEBAGAI ALAT BUKTI PENYERTAAN DALAM TINDAK PIDANA DI PERADILAN Setelah melihat konsep saksi mahkota dan penyertaan dalam tindak pidana selanjutnya dalam bab ini menguarikan penerapan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam peradilan di Indonesia, yang akan diawali dari tahap penyidikan dimana dilakukan pemecahan berkas perkara (splitsing) kemudian konstruksi surat dakwan terhadap saksi mahkota dan dalam tahap penuntutan akan dibahas mengenai kedudukan alat bukti saksi mahkota dalam pembuktian tindak pidana, pertanggungjawaban pidana saksi mahkota, kemudian dianalisis untuk

mendapakan suatu pendapat mengenai penerapan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam peradilan di Indonesia.

A.Pemecahan Berkas Perkara (Splitsing) dan Konstruksi Surat Dakwan Terhadap Saksi Mahkota pada Penyertaan dalam Tindak Pidana Pada prinsipnya menurut hukum acara pidana splitsing berkas perkara adalah hak jaksa, pemisahan itu dapat dilakukan jika jaksa menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana. Dalam hal kejahatan melibatkan beberapa orang tersangka, dengan kata lain, lebih dari satu perbuatan dan pelaku, splitsing bisa dilakukan karena peran masing-masing terdakwa berbeda, konsekuensi lain dari splitsing, para pelaku harus saling bersaksi dalam perkara masing-masing, dalam satu perkara pelaku memiliki dua kedudukan, baik sebagai saksi maupun terdakwa akibatnya timbul saksi mahkota. Menurut Indriyanto Seno Adji, pada dasarnya karakteristik penerapan saksi mahkota dalam praktek beracara dipersidangan secara spesifik untuk :194 1. Tindak pidana dilakukan oleh lebih dari satu orang, sehingga memenuhi sebagai delik penyertaan yang diatur pasal 55 KUHP, baik para pelaku dikualifikasikan sebagai pelaku langsung (yang melakukan), yang menyuruh melakukan, yang turut melakukan dan atau yang menganjurkan melakukan; 2. Minimnya alat bukti dalam melakukan tindak pidana; 3. Tindak pidana itu dipecah menjadi beberapa terdakwa, meskipun tindak pidana yang dilanggar hanya satu, misal pembunuhan (pasal 338 KUHP).
194

Indriyanto Seno Adji, KUHAP Dalam Prospektif, Op. Cit., hal . 201.

69

Terdakwa dalam satu berkas akan menjadi saksi terhadap terdakwa lain dalam berkas terpisah. Para terdakwa ini berkedudukan pula sebagai saksi saksi dalam berkas terdakwa terpisah pisah itu. Mengingat kedudukan saksi dalam proses peradilan pidana menempati posisi kunci, sehingga pentingnya alat bukti saksi dalam proses peradilan pidana, telah dimulai sejak awal proses peradilan pidana, dari ditingkat kejaksaan sampai pada akhirnya di pengadilan, keterangan saksi sebagai alat bukti utama menjadi acuan hakim dalam memutus bersalah atau tidaknya terdakwa, jadi jelas bahwa saksi mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam upaya menegakkan hukum dan keadilan.195 Permasalahan yang sering muncul di dalam praktek penanganan perkara, adalah terdapat dugaan terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa pelaku, namun tidak ada saksi yang secara langsung melihat dan mendengar saat tindak pidana dilakukan. Sehingga yang paling mengetahui tentang peristiwa tersebut adalah para pelaku sendiri. Dalam hal inilah, diperlukan upaya pembuktian dengan jalan melakukan pemecahan perkara (splitsing) supaya terdapat alat bukti keterangan saksi, yang biasa disebut dengan saksi mahkota dan mempunyai kekuatan untuk pembuktian. Dasar dilakukannya pemecahan berkas perkara ini tercantum dalam Pasal 142 KUHAP yang menyatakan : Dalam hal Penuntut Umum menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka yang tidak termasuk dalam ketentuan Pasal 141, Penuntut Umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing-masing terdakwa secara terpisah. Pasal 142 KUHAP memberikan kewenangan kepada Penuntut Umum untuk melakukan pemecahan berkas perkara dari satu berkas perkara menjadi beberapa berkas perkara. Artinya, kewenangan untuk melakukan splitsing berada di tangan Penuntut Umum. Namun KUHAP tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kapankah splitsing tersebut dilakukan oleh Penuntut Umum. Apabila

Surastini Fitriasih, Perlindungan Saksi Dan Korban Sebagai Sarana Menuju Proses Peradilan (Pidana) Yang Jujur Dan Adil, http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=52534&idc=21, diunduh 14 April 2013.

195

70

diperhatikan redaksi dari Pasal 142 KUHAP, yaitu ....Penuntut Umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing-masing terdakwa secara terpisah.. Dengan demikian, pelaksanaan splitsing dilakukan sebelum Penuntut Umum melimpahkan berkas perkara ke-Pengadilan Negeri sebagaimana diterangkan dalam Pedoman Pelaksanaan KUHAP dalam Penjelasan Pasal 142 KUHAP, menyatakan bahwa biasanya splitsing dilakukan dengan membuat berkas perkara baru dimana para tersangka saling menjadi saksi, sehingga untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan baru, baik terhadap tersangka maupun saksi, maka splitsing dilakukan pada saat Penuntut Umum melakukan kegiatan Prapenuntutan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 14 huruf b KUHAP, yaitu : Mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan (4), dengan memberikan petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik. Oleh karena itu, splitsing dilakukan pada saat tahap Prapenuntutan, yaitu ketika penunut umum memberikan petunjuk kepada Penyidik untuk memecah berkas perkara, hal tersebut disebabkan pemecahan penuntutan perkara (splitsing) seperti yang dimaksudkan dalam ketentuan Pasal 142 KUHAP, memang biasanya dilakukan dengan membuat berkas perkara lagi, sehingga perlu dilakukan kembali pemeriksaan terhadap saksi maupun terhadap terdakwa. Pada dasarnya, pemecahan berkas perkara terjadi disebabkan faktor diantaranya pelaku tindak pidana yang terdiri dari beberapa orang. Dalam hal ini Yahya Harahap berpendapat, Penuntut Umum dapat menempuh cara untuk memecah berkas perkara menjadi beberapa berkas perkara sesuai dengan jumlah terdakwa sehingga: 196 a. b. Berkas yang semula diterima Penuntut Umum dari Penyidik, dipecah menjadi dua atau beberapa berkas perkara; Pemecahan dilakukan apabila yang menjadi terdakwa dalam perkara tersebut, terdiri dari beberapa orang. Dengan pemecahan berkas dimaksud, masing-masing terdakwa didakwa dalam satu surat dakwaan yang berdiri sendiri antara yang satu dengan yang lain; Pemeriksaan perkara dalam pemecahan berkas perkara, tidak lagi dilakukan bersamaan dengan suatu persidangan, masing-masing terdakwa diperiksa dalam persidangan yang berbeda;
Yahya Harahap, Op. Cit., hal . 442.

c.

196

71

d.

Pada umumnya, pemecahan berkas perkara menjadi penting, apabila dalam perkara tersebut kurang bukti dan kesaksian. Dengan pemecahan berkas perkara menjadi beberapa perkara yang berdiri

sendiri, antara seorang terdakwa dengan terdakwa yang lain, masing-masing dapat dijadikan sebagai saksi secara timbal balik. Sedang apabila mereka digabung dalam suatu berkas dan pemeriksaan persidangan, antara yang satu dengan yang lain tidak dapat saling dijadikan menjadi saksi yang timbal balik. Minimnya alat bukti dalam suatu tindak pidana yang bersangkut paut dengan delik penyertaan (deelneming) itulah yang memaksa dilakukan suatu spilitsing (pemecahan) perkaranya menjadi beberapa berkas dan beberapa terdakwa.197 Sedangkan Andi Hamzah bepandangan bahwa splitsing dilakukan dengan membuat berkas perkara baru dimana para tersangka saling menjadi saksi sehingga untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan baru, baik terhadap terangka maupun saksi .198 Namun lebih lanjut Andi Hamzah menjelaskan : Jika ada beberapa tersangka (terdakwa) dan juga ada beberapa orang saksi maka dalam memecah perkara tersebut hanya perlu membuat dupikat saja, dimana daftar nama tersangka (terdakwa) diubah menjadi sendiri-sendiri, dan pemeriksaan saksi tetap, karena menurut Andi Hamzah penuntut umum dapat langsung memecah berkas perkara tersebut menjadi beberapa buah yang perlu diminta dari penyidik ialah duplikat hasil pemeriksaan, karena sangat kurang bermanfaat kalau hanya untuk dipecah menjadi beberapa berkas perkara itu harus bolak balik dari penuntut umum ke penyidik dan tidak sesuai dengan asas peradilan cepat. 199 Andi Hamzah membedakan antara perkara tidak lengkap (kurang saksisaksi) yang harus dipecah dimana para tersangka saling menjadi saksi yang harus diselesaikan melalui pasal 138 KUHAP, dengan pemecahan perkara menjadi lebih dari satu tanpa menambah pemeriksaan, yang menurut Andi Hamzah masuk dalam bidang penuntutan, dan karena itu penuntut umum dapat langsung melakukanya.200 Pendapat Andi Hamzah ini berdasarkan pendirianya bahwa bergantian menjadi saksi bukalah saksi mahkota (kroongetuide) sebab saksi mahkota berarti salah seorang terdakwa (biasanya yang paling ringan
197 198

Indriyanto Seno Adji , KUHAP Dalam Prospektif, Op.Cit., hal. 96. Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta ; CV Sapta Artha Jaya, 1996), hal. Ibid., hal. 168. Ibid .

167.
199 200

72

kesalahanya) dijadikan (dilantik) menjadi saksi jadi seperti diberi mahkota, yang tidak akan dijadikan terdakwa lagi, dan mengenai pelaksanaan pemecahan berkas perkara dilakukan pada tingkat penuntutan oleh jaksa penuntut umum, hal ini dibolehkan berdasarkan adagium, bahwa jaksa adalah dominus litis,201dalam penuntutan terdakwa.202 Salah satu urgensi dari pemecahan berkas perkara menjadi berkas perkara yang berdiri sendiri, untuk menempatkan para terdakwa masing-masing menjadi saksi secara timbal balik diantara sesama mereka. Oleh karena itu, jelas diperlukan kembali pemeriksaan penyidikan. Sekalipun pemecahan berkas perkara dilakukan oleh penuntut umum, namun pemeriksaan penyidikan yang diakibatkan pemecahan berkas perkara tetap menjadi wewenang penyidik, karena,

201

Wewenang penuntutan dipegang oleh Penuntut Umum sebagai monopoli, artinya tiada badan lain yang boleh melakukan wewenang tersebut. Ini disebut dominus litis di tangan Penuntut Umum atau Jaksa. Dominus berasal dari bahasa latin, yang artinya pemilik. Hakim tidak dapat meminta supaya delik (tindak pidana) diajukan kepadanya, hakim hanya menunggu saja penuntutan dari Penuntut Umum. Namun dengan adanya Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) yang mempunyai Penuntut Umum sendiri, berarti ketentuan monopoli penuntutan oleh Kejaksaan telah diterobos. Lihat Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Laporan Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Jakarta, 2006, hal 7-8. Jaksa yang dapat menentukan apakah suatu kasus dapat diajukan ke Pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut Hukum Acara Pidana. Disamping sebagai penyandang dominus litis, Jaksa merupakan pelaksana putusan pidana (executive ambtenaar). Kewenanangan Kejaksaan untuk melakukan penuntutan tersebut berdasarkan Undang-Undang No 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, Pasal 2 ayat (1) ditegaskan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia adalah lembaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara dalam bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. Sedangkan kewenangan jaksa berdasarkan Pasal 13 KUHAP menyatakan bahwa penuntut umum adalah Jaksa yang diberi wewenang untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim. Dan menurut Pasal 14 hutuf KUHAP penuntut umum mempunyai wewenang : a. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik ataupenyidik pembantu. b. Mengadakan pra penuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan ayat (4) dengan memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan daripenyidik. c. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan lanjutan dan atau merubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan kepada penyidik. d. Membuat surat dakwaan. e. Melimpahkan perkara ke pengadilan. f. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan haridan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa maupun kepada saksi, untuk datang pada sidang yang telah ditentukan. g. Melakukan penuntutan. h. Menutup perkara demi kepentingan umum. i. Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab penuntut umum menurut ketentuan undangundang ini. j. Melaksanakan penetapan hakim. 202 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia,Op.Cit., hal.168 .

73

dalam dalam mekanismenya pemecahan berkas perkara dilakukan hal-hal sebagai berikut: 203 1.Pemeriksaan penyidikan dilakukan oleh penyidik dengan jalan penuntut umum mengembalikan berkas perkara kepada penyidik, dalam arti penyidikan tambahan ; 2.Pemeriksaan penyidikan pemecahan berkas perkara dilakukan oleh penyidik berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh penuntut umum; 3.Tata cara pengembalian berkas baik yang dilakukan penuntut umum pada penyidik maupun pihak penyidik kepada penuntut umum dalam rangka pemecahan berkas perkara, berpedoman pada ketentuan tata cara dan batasan batasan tenggang waktu yang ditentukan dalam pasal 110 ayat (4) dan 138 ayat (2) KUHAP . Dalam praktik peradilan splitsing berkas perkara menurut Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Jakarta Barat, splitsing berkas perkara dilakukan oleh penyidik berdasarkan petunjuk dari jaksa penuntut umum yang menanggani perkara (Jaksa sesuai surat P.16),204pelaksanaan splitsing dilakukan untuk kepentingan pembuktian perkara sesuai dengan unsur pasal yang dituduhkan, namun sering kali terjadi berkas perkara dari awal diajukan penyidik kepada penuntut umum dalam keadaan telah dipisah karena dari awal penyidik telah berpendapat perlu dilakukan pemisaha, karena kurangnya alat bukti.205 Pada dasarnya dalam melakukan splitsing berkas perkara pihak penuntut umum memiliki alasan-alasan yang bersifat kaususistis tergantung pada perkara yang dihadapi, Djoko Prakoso pernah melakukan penelitian terhadap tujuan dilakukan splitsing dalam perkara, penyelundupan barang, kasus pembunuhan dan percobaan pembunuhan dari hasil penelitiannya disimpulkan alasan-alasan yang berbeda dari tujuan dilakukan splitsing.206 Namun dari alasan-alasan tersebut dapat ditarik kesimpulan tujuan terpenting dari dilakukan splitsing tersebut karena alat bukti yang diperoleh masing kurang (sudah ada alat bukti lain selain saksi

Yahya Harahap, Op. Cit., hal. 443. Surat Perintah Penunjukan Jaksa Penuntut Umum Untuk Mengikuti Perkembangan Penyidikan Perkara Tindak Pidana . 205 Hasil Wawancara, Tanggal 9 Maret 2013. 206 Lebih lanjut lihat, Hasil penelitian, Djoko Prakoso, Pemecahan Berkas Perkara (Splitsing), (Yogyakarta: Liberty, 1988) , hal. 188-216.
204

203

74

mahkota) sehinga untuk memperkuat alat bukti yang ada maka ditambahkan alat bukti saksi mahkota yang tujuanya untuk menunjukan peran dan kedudukan masing-masing pelaku dalam tindak pidana penyertaan. Menurut Agung Aryanto, Kasi Pidum Kejari Jakarta Selatan proses pemecahan berkas perkara atau splitsing dalam prakteknya diterapkan pada:207 1. Saat terjadinya tindak pidana tidak ditemukan alat bukti atau tidak disaksikan oleh seorangpun selain lain para pelaku sehingga untuk menjelaskan peran masing-masing pelaku berkas perkara harus dipecah, dengan demikian diperoleh kedudukan dan peran masing-masing pelaku, tetapi selain keterangan saksi mahkota tersebut, sebelumnya telah diperoleh alat bukti lain. Hal ini semata mata dan untuk kepentingan pembuktian diperlukan alat bukti saksi mahkota untuk menguatkan alat bukti yang telah ada. Walaupun pada dasarnya pihak penuntut umum dalam melakukan splitsing berkas perkara pihak memiliki alasan-alasan yang bersifat kasusistis tergantung pada perkara yang dihadapi, tetapai tujuan yang hendak diperoleh dari pemecahan berkas perkara tersebut untuk mengetahui kronologis atau kejadian tersebut yang hanya dapat diungkap oleh pelaku yang merupakan bagian dari jaringan kejahatan tersebut. Namun pada umum untuk saksi mahkota yang memberikan keterangan tidak diberikan imbalan keringanan dan mereka tidak luput dari ancaman hukuman ; 2. Dalam tindak penyertaan dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa, untuk tindak pidana penyertaan dimana salah satu pelaku masih masuk kategori anak anak, maka pada berkas perkara anak-anak akan dipisah dengan pelaku yang telah dewasa karena perbedaan hukum acara pemeriksaan anak dan orang yang telah dewasa dan sesuai Pasal 7 ayat (1) Undang undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak; Anak yang melakukan tindak pidana bersama-sama dengan orang dewasa diajukan ke Sidang Anak, sedangkan orang dewasa diajukan ke sidang bagi orang dewasa. 3.Dalam perkara tindak pidana penyertaan yang salah satu pelakunya adalah anggota TNI yang tunduk pada peradilan militer, maka berkas perkara dipisah

207

Hasil Wawancara, Tanggal 16 Februari 2013 .

75

karena perbedaan kewenangan mengadili antara pelaku tindak pidana sipil yang tunduk pada peradilan umum dan pelaku TNI yang tunduk pada peradilan militer. Walaupun berdasarkan pasal 89 KUHAP dimungkinkan pelaksanaan di Peradilan Umum tetapi pelaksanaan akan menempuh mekanisme yang tidak mudah karena berdasarkan pasal 89 ayat (3) pembentukan tim penyidik untuk tindak pidana ini berdasarkan surat keputusan bersama Mentri Pertahanan dan Keamanan dan Mentri Kehakiman serta mekanisme lainya yang diatur dalam pasal 90 KUHAP; 4. Dalam perkara tindak pidana penyertaan yang salah satu pelakunya melakukan tindak pidana yang lain, Misalnya dalam tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan (Pasal 335 KUHP) yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, pada saat terjadi tindak pidana ternyata salah satu dari pelaku membawa senjata api namun tidak digunakan sebagai alat untuk melakukan kejahatan, sehingga berkas perkara dipisah karena yang tidak membawa senjata api didakwa dengan dakwaan melanggal Pasal 335 KUHP sedangkan pelaku yang membawa senjata api didakwa secara komulatif melanggar pasal 335 KUHP dan melanggar Undang Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Berdasarkan uraian diatas maka menurut penulis mekanisme splitsing (pemecahan berkas perkara) ini merupakan kewenagan dari Penuntut Umum sedangkan urgensinya untuk medukung pembuktian karena hal-hal yang bersifat kasusistis tergantung dari tindak pidana yang dihadapi, walaupun mekanisme splitsing ini lazim digunakan pada penyertaan dalam pidana yang kemudian menimbulkan saksi mahkota, namun pada prakteknya di peradilan mekanisme spilitsing ini juga diterapakan dimana terdapat perbedaan kedudukan para pelaku dalam peradilan pidana dan juga karena adanya perbedaan peran pelaku, sehingga mekanisme splitsing ini bukan khusus untuk menerapan saksi mahkota. Menurut Mardjono Reksodiputro istilah splitsing ini pada awalnya digunakan pada perkara penyertaan dalam tindak yang dilakukan oleh militer dan sipil kemudian pelaku yang tunduk pada peradilan militer diajukan ke peradilan militer dan pelaku yang lain diajukan dalam peradilan umum, sehingga berkas perkaranyanya di splitsing, tetapi dalam perkembangannya istilah splitsing ini juga digunakan pada pelaku penyertaan dalam tindak pidana yang sama-sama

76

diajukan dalam peradilan umum dengan cara memisahkan berkas perkara dengan tujuan untuk mendapatkan saksi mahkota.208 Setelah tahap penyidikan selesai selanjutnya proses dilanjutkan pada tahap penuntutan dimana pada tahap ini yang terpenting adalah, mengenai dakwaan yang diakan dibuat penuntut umum sebagai dasar pemeriksaan selanjutnya dipersidangan. Dalam undang-undang sendiri tidak ditemukan mengenai pengertian surat dakwaan A. Karim Nasution, memberi pengertian surat tuduhan atau dakwaan merupakan:209 Surat atau akta yang memuat suatu perumusan dari tindak pidana yang dituduhkan, yang sementara dapat disimpulkan dari surat-surat pemeriksaan pendahuluan yang merupakan dasar bagi hakim untuk melakukan pemeriksaan yang bila ternyata cukup bukti, terdakwa dapat dijatuhi hukuman. Dengan memperhatikan ketentuan undang-undang mengenai syarat syarat dakwaan maupun pengalaman praktek, maka dapat dikatakan bahwa surat dakwaan adalah suatu surat atau akte (acte van verwijzing) yang memuat uraian perbuatan atau faktaf akta yang terjadi, uraian mana akan menggambarkan atau menjelaskan unsur-unsur yuridis dari pasal-pasal tindak pidana (delik) yang dilanggar.210 Hakim tidak dibenarkan menjatuhkan hukuman diluar batas-batas yang terdapat dalam surat dakwaan, oleh sebab itu terdakwa hanya dapat dipidana berdasarkan apa yang terbukti mengenai kejahatan yang dilakukannya menurut rumusan surat dakwaan. Tujuan utama dari surat tuduhan adalah undang undang ingin melihat ditetapkan alasan-alasan yang menjadi dasar penuntutan suatu peristiwa pidana, untuk itu maka sifat-sifat kekhususan dari suatu tindak pidana yang telah dilakukan harus dicantumkan dengan sebaik baiknya.211 Secara teknis yang perlu diperhatikan dalam menyusun surat dakwaan apabila terdapat beberapa orang

Hasil wawancara, tanggal 12 Juni 2013. A Karim Nasution, Masalah Surat Tuduhan Dalam Proses Pidana, (Jakarta: PN Percetakan Negara RI, Jakarat, 1972), hal. 75. 210 Ramelan, Hukum Acara Pidana, Teori dan Implementasi, (Jakarta: Sumber Ilmu Jaya, 2006), hal. 162. 211 Karim Nasuiton, Op.Cit, hal. 78.
209

208

77

terdakwa melakukan satu perbuatan (penyertaan dalam tindak pidana), maka dalam surat dakwaan harus secara tegas diuraikan:212 1. Apakah terdakwa sebagai pelaku berperanan sebagai orang yang melakukan (pleger) ; 2. Apakah terdakwa berperanan sebagai orang yang menyuruh lakukan (doen pleger); 3. Apakah terdakwa berperanan sebagai orang yang turut serta melakukan atau bersama-sama, dengan pelaku lainnya (medepleger); 4. Apakah terdakwa berperanan sebagai orang yang membujuk atau menganjurkan,melakukan perbuatan (uitlokker) ; atau 5. Apakah terdakwa sebagai orang yang membantu melakukan (medeplichtige). Untuk bentuk dakwaan terhadap saksi mahkota pada penyertaan dalam tidak pidana dapat dilihat dalam dakwaan yang dibuat jaksa penuntut umum dalam dakwaan dibawah ini : 1. Daniel Daen Sabon alias Danil.213 Bahwa Ia Terdakwa Daniel Daen Sabon alias Danil bersama dengan Hendrikus Kia Walen alias Hendrik, saksi Fransiskus Tadon Kerans alias Amsi, saksi Heri Santosa Bin Rasja alias Bagol (Masing-masing dilakukan penuntutan secara terpisah) dan Saudara SEI LELA (Belum tertangkap) pada hari sabtut anggal 14 Maret 2009 sekitar jam 14.30 WIB atau setidaktidaknya pada suatu waktu tertentu antara bulan Januari tahun 2009 sampai dengan bulan maret tahun 2009 atau setidak-tidaknya pada tahun 2009 bertempat di Jalan Hartono Raya Modernland, Kelurahan Kelapa Indah, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang atau setidak-tidaknya pada suatu tempat tertentu yang masih termasuk daerah Hukum Pengadilan Negeri Tangerang yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini sebagai orang yang melakukan atau turut melakukan perbuatan dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain yaitu korban Nasrudin Zulkarnaen Iskandar, perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan cara sebagai berikut ....dst, 2. PIDER Pgl PIDER.214 Bahwa Terdakwa PIDER Pgl PIDER pada hari Sabtu tanggal 27 November 2010 sekira pukul 17.30 WIB atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam bulan November tahun 2010 bertempat di Batang Maweh Jorong Paroman Kenagarian Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten
Ramelan, Penuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi Dalam Sistem Hukum Imdonesia (Corruption Law Suit In Indonesia Legal System), Jurnal Legislasi Indonesia, (Vol 8 No 2- Juni 2011, Direktorat Peraturan Perundang undangan, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI), hal. 197. 213 Putusan Mahkamah Agung No. 721 K/PID/2010, Tanggal 5 Mei 2010. 214 Putusan Mahkamah Agung No. 2437 K/Pid.Sus/2011, Tanggal 7 Februari 2012.
212

78

Pasaman Barat atau setidak-tidaknya pada suatu tempat dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Pasaman Barat, secara tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman seberat lebih kurang 1,7 g (satu koma tujuh gram) berdasarkan hasil penimbangan barang bukti yang dilakukan oleh Perum Pegadaian Cabang Simpang Empat No. 630/IL.XI.026400.2010 tanggal 30 November 2010, dilakukan dengan cara sebagai berikut : Terdakwa PIDER bersama dengan ARIFUL AMRI Pgl IPUL (dilakukan penuntutan secara terpisah) pada hari Sabtu tanggal 27 November 2010 sekira pukul 16.00 WIB berangkat dari Lubuk Sikaping menuju Maligi,...dst Dalam praktek peradilan tidak terdapat bentuk khusus yang membedakan antara yang mana saksi mahkota dengan terdakwa lainya, dan tidak ada penyebutan kata-kata dalam hal saksi menjadi terdakwa dalam perkara lain dengan istilah saksi mahkota. Menurut Kasi Pidana Kejari Umum Jakarta Selatan dan Kasi Pidana umum Kejari Jakarta Barat dalam dakwaan yang lazim dibuat jaksa penuntut umum untuk saksi mahkota dalam penyertaan dalam tindak pidana, untuk menunjukan bahwa antara saksi dan terdakwa bergantian menjadi saksi dan terdakwa (saksi mahkota) maka dalam surat dakwaan yang dibuat oleh penuntut umum dicantumkan kalimat: masing-masing dilakukan penuntutan secara terpisah atau masing- masing sebagai terdakwa yang penuntutannya diajukan secara terpisah.215

B.Kedudukan Saksi Mahkota sebagai Alat Bukti dalam Pembuktian Alat bukti yang sah merupakan alat bukti yang berhubungan dengan suatu tindak pidana, untuk dipergunakan sebagai bahan pembuktian, guna menimbulkan keyakinan bagi hakim, atas tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa. Andi Hamzah, beragument pembuktian merupakan : 216 Upaya pembuktian melalui alat-alat yang diperkenankan untuk dipakai membuktikan dalil-dalil atau dalam perkara pidana dakwaan di sidang pengadilan misalnya keterangan terdakwa, saksi, ahli, surat dan petunjuk, dalam perkara perdata termasuk persangkaan dan sumpah.

215 216

Wasil Wawancara , Tangal 16 Februari 2013, dan Tanggal 9 Maret 2013. Andi, Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Op.Cit., hal. 158.

79

Subekti menyatakan bahwa membuktikan adalah meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan.217 Menurut Mardjono Reksodiputro pembuktian (von bewijis) berbeda dengan di Amerika Serikat yang dinamakan law of evidence (pembuktian) karena dinegara Anglo saxon dibuat rinci berdasarkan putusan pengadilan.218 Sedangkan beban pembuktian merupakan suatu penentuan oleh hukum tentang siapa yang harus membuktikan suatu fakta yang dipersoalkan dipengadilan, untuk membuktikan dan menyakinkan pihak manapun bahwa fakta tersebut memang benar-benar terjadi seperti yang diungkapkannya dengan konsekweksi hukum bahwa jika tidak dapat dibuktikan oleh pihak yang dibebani pembuktian, fakta tersebut dianggap tidak pernah terjadi seperti yang diungkapkan oleh pihak yang mengajukan fakta tersebut ke pengadilan.219 Dalam Pasal 183 KUHAP menyatakan sebagai berikut : Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah Ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Atas dasar ketentuan Pasar 183 KUHAP ini, maka dapat disimpulkan bahwa KUHAP memakai sistem pembuktian menurut undang-undang yang negatif. Ini berarti bahwa dalam hal pembuktian harus dilakukan penelitian, apakah terdakwa cukup alasan yang didukung oleh alat pembuktian yang ditentukan oleh undangundang (minimal dua alat bukti) dan kalau ia cukup, maka baru dipersoalkan tentang ada atau tidaknya keyakinan hakim akan kesalahan terdakwa.220

Subekti, Hukum Pembuktian, (Jakarta: Pradnya Paramitha, 2001), hal. 1. Mardjono Reksodiputro, Materi Kuliah Seminar Usulan Penelitian Tesis, (Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2012. 219 Munir Fuady, Teori Hukum pembuktian Pidana dan Perdata, (Bandung : PT Citra Adiya Bakti, 2006), hal. 45. 220 Pembuktian tentang benar tidaknya terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan, merupakan bagian terpenting hukum acara pidana dalam hal ini, hak Asasi Manusia (HAM) dipertaruhkan. Bagaimana akibatnya jika seseorang yang didakwakan dinyatakan terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan berdasarkan alat bukti yang ada disertai keyakinan hakim, padahal tidak benar, untuk inilah maka hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materil, berbeda dengan hukum acara perdata yang cukup dengan kebenaran formal. Lihat, Eka Martiana Wulansari, Pengembalian Beban Pembuktian dalam Upaya Pemberantasan Tindak Pidana Korups (Return Burder of Proofin In Corruption Eradication Effort), Jurnal legislasi Indonesia, (Vol 8 No 2- Juni 2011, Direktorat Peraturan Perundang undangan, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI), hal. 254.
218

217

80

Menurut Edward Omar Sharif Hiariej pembuktian merupakan : 221 Pembuktian merupakan jantung dalam persidangan suatu perkara di pengadilan karena berdasarkan pembuktianlah hakim akan mengambil putusan mengenai benar salahnya atau menang kalahnya seseorang dalam berperkara, pembuktian tidaklah mungkin terlepas dari hukum pembuktian itu sendiri sebagai ketentuan-ketentuan pembuktian yang meliputi alat bukti, barang bukti, cara mengumpulkan dan memperoleh bukti sampai pada penyampaian bukti di pengadilan serta kekuatan pembuktian dan beban pembuktian. Mengenai kedudukana saksi mahkota dalam pembuktian maka perlu dilihat terlebih dahulu batasan keterangan saksi menurut Pasal 1 angka 27 KUHAP menentukan: Keterangan saksi adalah salah satu bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia liat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu. Sedangkan menurut Pasal 185 ayat (1) KUHAP, memberi batasan pengertian keterangan saksi dalam kapasitasnya sebagai alat bukti, bahwa : Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan. Dalam hal menjadi seorang saksi yang keteranganya diperlukan di muka Pengadilan maka ada syarat-syarat yang harus di penuhi oleh seorang saksi, yakni diantaranya :222 1. Syarat formal Bahwa dalam syarat formal ini keterangan saksi harus diberikan dengan di bawah sumpah/janji menurut cara agamanya masing-masing, bahwa akan

memberi keterangan sebenarnya dan tidak lain dari apa yang sebenarnya (Pasal 160 ayat (3) KUHAP). Dalam Pasal 161 ayat (2) menunjukkan bahwa pengucapan sumpah merupakan syarat mutlak: Keterangan saksi atau ahli yang tidak disumpah atau mengucapkan janji, tidakdapat dianggap sebagai alat bukti yang sah, tetapi hanyalah merupakan keterangan yang dapat menguatkan keyakinan hakim.

Edward Omar Sharif Hiariej, Pembuktian Terbalik Dalam Pengembalian Aset Kejahatan Korupsi, (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada pada tanggal 30 Januari 2012 di Yogyakarta), hal. 9. 222 Lilik Mulyadi, Op.Cit., hal. 173.

221

81

Ini tidak berarti merupakan kesaksian wajib diberikan dibawah sumpah, apabila tidak diberikan dibawah sumpah tidak memiliki nilai sebaga alat bukti keterangan bahkan juga bukan merupakan alat bukti petunjuk, karena hanya dapat memperkuat keyakinan hakim. 2. Syarat materiel Mengenai syarat ini dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 1 angka 27 KUHAP menentukan bahwa: Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu. Dalam hal ini haruslah diketahui bahwa tidak semua keterangan saksi mempunyai nilai sebagai alat bukti. Keterangan saksi yang mempunyai nilai ialah keterangan yang sesuai dengan isi pasal yang dikemukakan diatas, yakni jika dijabarkan poin-poinnya adalah sebagai berikut : 1) Yang saksi liat sendiri; 2) Saksi dengar sendiri; 3) Dan saksi alami sendiri; 4) Serta menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu. . Selain ketentuan syarat formil dan materil diatas dalam rangka pembuktian juga harus memperhatikan bahwa dalam KUHAP dikenal asas unus testis nullus testis artinya satu saksi bukan merupakan saksi yang diatur dalam Pasal 185 ayat (2) KUHA, walaupun asas tersebut dapat dikesampingkan dengan Pasal 185 ayat (3) KUHAP bahwa ketentuan tersebut tidak berlaku apabila disertai dengan satu alat bukti lain yang sah, berdasarkan tafsir acontrario keterangan seorang saksi cukup untuk membuktikan kesalahan apabila disertai alat bukti lain.223 Namun dalam menilai keterangan saksi menurut Tresna : 224 Keterangan saksi berlainan dengan bukti surat, karena bukti saksi bukan merupakan bukti yang menentukan, dan terhadap bukti saksi berlaku asas didalam hukum pembuktian yaitu hakim tidak boleh menerima sesuatu hal sebagai kenyataan selama ia belum yakin benar tentang kebenaranya

Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, (Bandung : Mandar Maju, 2003), hal. 42. 224 R Tresna, Komentar HIR, Cetakan Ke Delapan Belas, (Jakarta : PT Pradnya Paramita, 2005), hal. 150.

223

82

Sehingga dalam alat bukti kesaksian tidak melekat sifat pembuktian yang sempurna (volledig bewijskracht), dan juga tidak melekat di dalamnya sifat kekuatan pembuktian yang mengikat dan menentukan (beslissende bewijskracht). Tegasnya, alat bukti kesaksian sebagai alat bukti yang sah mempunyai nilai kekuatan pembuktian bebas dan tidak mengikat hakim. Kekuatan pembuktian keterangan saksi sebagai alat bukti yang sah menurut KUHAP :225 1) Tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat, hakim mempunyai kebebasan untuk menilainya; 2) Alat bukti keterangan saksi sebagai alat bukti yang mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang bebas, dapat dilumpuhkan terdakwa dengan alat bukti yang lain berupa saksi a de charge maupun dengan keterangan ahli atau alibi. Dalam praktik peradilan apabila menghadapi permasalahn kurangnya alat bukti saksi biasanya penuntut umum mencukupi keterangan saksi tunggal dengan alat bukti petunjuk. Petunjuk mana dapat ditarik atau digali dan dijabarkan penuntut umum dari keterangan terdakwa atau dari kejadian maupun dari keadaan yang ada persesuaiannya antara yang satu dengan yang lain. Akan tetapi, tidak mudah mencari suatu petunjuk sebagai alat bukti, karena agar petunjuk dapat dinilai sebagai alat bukti, harus terdapat persesuaian antara perbuatan, kejadian atau keadaan dengan peristiwa pidana, dan hakim bebas untuk menilai kesempurnaan dan kebenarannya. Berdasarkan uraian diatas dan kebiasaan praktek peradilan maka kedudukan keterangan saksi mahkota pada perkara menyangkut penyertaan dalam tindak pidana, dalam proses pembuktian kedudukannya disamakan dengan alat bukti keterangan saksi karena : a) Saksi mahkota diambil dari salah seorang tersangka/terdakwa menerangkan perbuatan yang dilakukan bersama terdakwa dalam suatu tindak pidana saat ia didudukan sebagai saksi; b) Saksi mahkota dalam memberi keterangan dipersidangan sebagai saksi disumpah;

225

Yahya Harahap, Op. Cit., hal. 274.

83

c) Dalam surat tuntutan (requisitor) yang dibuat oleh jaksa penuntut umum keterangan saksi mahkota di tempatkan dalam bagian fakta persidangan dalam point keterangan saksi. 226 Menurut Agung Aryanto (Kasi Pidana Umum Jakarta Selatan) dan Kiki Yonata (Kasi Pidana Umum Jakarta Barat), serta pengalaman penulis sendiri selaku jaksa penuntut umum, keterangan saksi mahkota sebagai alat bukti

keterangan saksi selalu diterima oleh pengadilan bahkan dalam pertimbangan putusanya hakim juga menempatkan keterangan saksi mahkota dalam alat bukti keterangan saksi.227 Namun terdapat hal yang menarik dalam putusan Pengadilan Negeri Denpasar dimana dalam putusan tersebut alat bukti sakis mahkota dapat digunakan sebagai alat bukti surat, hal ini dapat dilihat dari putusan Pengadilan Negeri Denpasar No : 317/Pid.B/2003/Pn.Dps, tanggal 18 September 2003 Atas nama terdakwa Ali Imron Bin H Nurhasyim alias Alik Alias Toha alias Mulyadi alias Zaid. Dikarenakan saksi mahkota Amrozi Bin H Nurhasyim dan Ali Gufron alias Mukhlas mengundurkan diri sebagai saksi karena mereka merupakan kakak kandung terdakwa, dalam pertimbangan hakim tersebut menyatakan: 228 Bahwa walaupun hak mengundurkan diri sebagai saksi hanya dapat dinyatakan secara absolut di depan sidang akan tetapi secara relatif hal ini bukanlah berarti pernyataan ketidak sediaaan sebagai saksi tidak boleh dilakukan, saksi mahkota Amrozi Bin H Nurhasyim dan Ali Gufron alias Mukhlas ditingkat penyidikan dan penuntutan, yang dapat berupa ada pernyataan secara tegas, tidak bersedia atau mengundurkan diri sebagai saksi. Akan tetapi aspek ini tidak dilakukannya sehingga kesaksian Amrozi Bin H Nurhasyim dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik tanggal 24 dan 25 Januari 2003 dan Ali Gufron alias Mukhlas dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik tanggal 13 Februari Januari 2003 secara yuridis berdasarkan Himpunan tanya jawab rapat kerja Mahkamah Agung R.I dengan Pengadilan Tingkat banding di Daerah (Rakerda) tahun 1987 Nomor : 138 huruf b dan nomor 195 serta Putusan Mahkamah Agung R.I nomor: 229.K/Kr/1959 tanggal 23 Februari 1959 maka Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersebut secara tegas ditentukan sebagai Bukti Surat, sesuai dengan ketentuan pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP.

Hasil Wawancara dengan Kasi Pidum Jakarta Selatan, Tanggal 16 Februari 2013. Hasil Wawancara, Tanggal 16 Februari 2013 dan Tanggal 9 Maret 2013. 228 Putusan Pengadilan Negeri Denpasar No : 317/Pid.B/2003/PN.Dps tanggal 18 September 2003.
227

226

84

Berdasarkan putusan tersebut diatas maka penggunaan saksi mahkota dalam rangka pembuktian terdapat dimensi lain dengan cara mendudukan keterangan saksi mahkota sebagai alat bukti surat, hal ini menurut penulis menarik untuk dilakukan pengkajian yang lebih mendalam, terlebih lagi dalam putusan Pengadilan Denpasar tersebut hanya menyebutkan bahwa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik sebagai bukti surat, sesuai dengan ketentuan Pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP, tetapi tidak merinci mengenai surat sebagaimana dimaksud sesuai Pasal 187 KUHAP. Namun secara singkat penulis akan memberikan pendapat mengenai (BAP) penyidik terhadap saksi mahkota yang mengundurkan diri di persidangan dapat ditentukan sebagai alat bukti surat, mengenai hal ini penulis kurang sependapat dengan alasan : 1. Seorang saksi ketika memberikan keterangan di depan persidangan, dapat menarik/mencabut keterangannya yang telah dia berikan di dalam berita acara pemeriksaan saksi (BAP Saksi) yang dibuat oleh penyidik. Tidak ada pengaturan di KUHAP mengenai hal keterangan saksi yang ditarik/dicabut di muka persidangan. Jika seorang saksi menarik/mencabut keterangannya dalam berita acara pemeriksaan saksi yang dibuat penyidik, maka tidak berlakulah ketentuan Pasal 185 ayat (1) KUHAP. Sehingga fungsi keterangan saksi pada berita acara pemeriksaan saksi yang dibuat penyidik dapat menjadi alat bukti petunjuk sesuai Pasal 188 ayat (2) KUHAP. Menurut Lilik Mulyadi selama ini BAP dianggap sebagai sakral yang dicari adalah pengakuan terdakwa dibandingkan keterangan terdakwa, padahal Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 229 K/Kr/1959 tanggal 23 Februari 1959 serta pendapat Mahkamah Agung dalam tanya jawab hukum pidana Mahkamah Agung dengan Peradilan Tingkat Banding di Daerah dalam 4 Lingkungan Peradilan Tahun 1987 menggariskan bahwa BAP merupakan alat bukti petunjuk sebagaimana ketentuan Pasal 188 ayat (2) KUHAP.229 Akibat dianggapnya BAP sebagai hal yang sakral sehingga yang dikejar adalah kebenaran
Lilik Mulyadi, Menuju Sistem Peradilan Pidana Kotemporer Tanpa Berita Acara Penyidikan (BAP) Dan Berita Acara Sidang (BAS), http://pnkepanjen.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=169:menuju-sistem-peradilanpidana-kontemporer-tanpa-berita-acara-penyidikan-bap-dan-berita-acara-sidangbas&catid=23:artikel&Itemid=36 , diunduh 23 Januari 2013.
229

85

prosedural maka posisi hakim dalam SPP secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak disadari yang seharusnya berdiri dari posisi obyektif ke posisi obyektif sudah berada dalam posisi subyektif ke obyektif sebagaimana posisi jaksa penuntut umum; 230 2. Sistem peradilan pidana yang ditata melalui KUHAP dibagi dalam tiga tahap: (a) tahap pra ajudikasi (pre-adjudication), (b) tahap ajudikasi (adjudication), (c) tahap purna ajudikasi (post adjudication), BAP Pemeriksaan saksi adalah tindakan yang dilakukan pada tahap tahap praajudikasi (pre-adjudication) yang hasilnya sangat tergantung apa yang disampaikan penyidik, sehingga kedudukan tersangka dalam posisi yang lemah. Menurut Mardjono Reksodiputro, desain prosedur yang memberikan dominasi pada tahap pra ajudikasi tidak menguntungkan hak-hak tersangka dan terdakwa, karena desain prosedural suatu hukum acara pidana terlalu berat memberi penekanan kepada hak-hak pejabat negara untuk menyelesaikan perkara atau menemukan kebenaran ketimbang memperhatikan hak-hak warga negara untuk membela dirinya terhadap kemungkinan persangkaan atau pendakwaan yang kurang atau tidak benar atau pun palsu. Sedangkan sistem yang secara penuh dapat melindungi hak-hak warga negara yang merupakan terdakwa paling jelas terungkap pada tahap ajudikasi karena pada tahap inilah terdakwa berdiri tegak sama sama derajatnya dengak jaksa/penuntut umum.231 Sedangkan fungsi BAP menurut Marwan Effeny, Berita Acara Pemeriksaan dan Beita Acara Tindakan lainya sebagaiman dimaksud pasal 75 KUHAP, adalah suatu wadah pencatatan suatu permintaan keterangan atau pencatatan kondisi objektif dari tindakan yang dilakukan oleh penyidik atau pembuat berita acara sesuai lingkup kewenanganya, sesuai hukum acara pidana yang berlaku, kegunaan berita acara pemeriksaan atau tindakan lainya untuk dijadikan dasar tindakan selanjutnya.232 Di Belanda polisi dapat mengundang setiap orang yang diduga mengetahui mengenai tejadinya kejahatan tersebut untuk diperiksa sebagai saksi, namun demikian seseorang yang diundang
Ibid Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana, Op.Cit., hal.33-35 232 Marwan Effendy, Sistem Peradilan Pidana , Tinjauan Terhadap Beberapa Perkembangan Hukum Pidana, (Jakarta : Referensi, 2012), hal. 58.
231 230

86

untuk diperiksa sebagai saksi oleh kepolisian tidak wajib untuk memenuhi undangan tersebut. Selanjutnya keterangan sebagai saksi yang diberikan di hadapan kepolisian tidak dibuat di bawah sumpah.233 Dan dalam sistem hukum Belanda berkas perkara yang dibuat oleh kepolisian tidak mengikat baik bagi jaksa penuntut umum maupun hakim dalam proses pembuktian di persidangan, namun demikian jaksa penuntut umum maupun hakim dapat menerima berkas perkara tersebut sebatas sebagai dasar dari dakwaan yang dikenakan terhadap terdakwa.234 Sedangkan mengenai seberapa jauh hakim terikat dengan BAP menurut Bismar Siregar, hakekatnya berita acara pemeriksaan pendahuluan hanya sekedar pengantar tentang duduk peristiwa kejadian untuk membawa tersangka menjadi tertuduh disidang pengadilan dan pemeriksaan dipersidanganlah nanti yang akan menentukan, tanya jawab antara jaksa selaku penuntut umum dengan tertuduh dan bila didampingi pembelanya akan menghasilkan duduk peristiwa yang sebenarnya, sehingga menurut Bismar Siregar, pada hakekatnya hakim tidak perlu terikat pada BAP, karena telah disepakati apapun yang diungkapkan dalam berita acara pemeriksaan pendahuluan tetap yang berlaku ialah hasil persidangan;235 3. Walaupun pengertian surat menurut Pasal 187 mengatakan surat sebagaimana tersebut dalam pasal 184 (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, termasuk juga berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu. Namun Menurut Mardjono Reksodiputro, BAP hanya suatu dokumen yang kekuatanya sama dengan akta notaris, apabila dapat dibuktikan lain maka kekuatannya sebagai alat bukti surat dapat gugur. Mengenai BAP yang dijadikan alat bukti surat dalam perkara diatas kebenaranya dapat dianggap cacat karena BAP tersebut berasal dari saksi yang menyatakan mundur sebagai saksi karena memiliki
Jeroen Chorus, et al., Introduction to Dutch Law, Third Revised Edtion, (The Netherlands : Kluwe Law International, The Hague, 1999), hal. 128. .234 Ibid. 235 Bismar Siregar, Hukum Acara Pidana, (Jakarta: Badan Pembina Hukum Nasional Departemen Kehakiman, 1983), hal. 68.
233

87

hubungan keluarga dengan terdakwa dan hal ini dibenarkan oleh undangundang.236

C. Pertanggung Jawaban Pidana Saksi Mahkota Dalam Tindak Pidana Penyertaan Menurut Andi Hamzah yang dimaksud dengan peserta (deelnemers) dalam tindak pidana ialah : 237 1. Pelaku peserta (medelplegers); 2. Pembuat pelaku (doen plegers) yaitu mereka yang membuat sehingga orang yang tidak dapat dipidana melakukan yang oleh para pengarang disebut penyuruh; 3. Pemancing (uitlokkers) yang oleh, Moeljatno dinamakan penganjur dan oleh pengarang lain disebut pembujuk; 4. Pembantu pada saat delik dilakukan; 5. Pembantu sebelum delik dilakukan. Para peserta yang disebut pada butir 1 sampai 3 disebut didalam pasal 55 KUHP yang bersama dengan pelaku (pleger) termasuk kategori pembuat (dader), dengan sedirinya, pelaku yang seorang diri mewujutkan delik tidak termasuk peserta, para peserta yang disebut dalam butir 4 dan 5 disebut didalam pasal 56 KUHP yang diancam pidana tertingginya lebih ringan daripada ancaman pidana bagi yang termasuk kategori pembuat (dader) dalam hal melakukan kejahatan.238 Sistem yang membedakan penilaian terhadap para peserta yang berbeda menurut ukuran perbuatan yang dilakukan yang ada kalanya disamakan dengan pelaku dan ada kalanya tidak disamakan mengakibatkan bahwa pertanggungjawaban mereka berbeda pula, yaitu ada kalanya sama berat dengan pelaku dan ada kalanya lebih ringan, menurut Moeljatno berasal dari para ahli hukum Italia pada abad pertengahan.239 Mempertanggungjawabkan seseorang dalam hukum pidana bukan hanya berarti sah menjatuhkan pidana terhadap orang itu, tetapi juga sepenuhnya dapat diyakini bahwa memang pada tempatnya meminta pertanggungjawaban atas

236 237 238 239

Hasil Wawancara, Tanggal 3 April 2013. A.Z. Abidin dan Andi Hamzah, Hukum Pidana Indonesia, Op., Cit. hal. 442. Ibid. Ibid.

88

tindak pidana yang dilakukannya.240 Menurut Chairul Huda pertanggungjawaban dalam tindak pidana percobaan dan penyertaan :241 Hanya dapat dipertanggungjawabkan terhadap pembuat apabila pada waktu melakukan perbuatan tersebut, batin pembuat menghendaki dan mengetahui hal tersebut, selain itu dalam percobaan dan penyertaan, tidak dapat dipertanggungjawabkan terhadap pembantu jika pada diri pembuat terdapat bentuk kesalahan yang lain (kealpaan). Bagaimana pertanggungjawaban pidana terhadap saksi mahkota mengingat saksi mahkota berkaitan erat dengan penyertaan dalam tindak pidana maka untuk melihat pertanggungjawaban pidana terhadap saksi mahkota dalam peradilan pidana di Indonesia dalam hal ini penulis akan melihat dari pertimbangan dalam Putusan Mahkamah Agung dalam menjatuhkan sanksi pidana terhadap saksi mahkota. Untuk melihat bagaimana pertanggungjawaban saksi mahkota dalam penyertaan dalam hal ini penulis akan membahasnya dengan cara menganalisis putusan Mahkamah Agung dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain yang melibatkan ketua KPK saat itu Antasari Ashar: 1. Putusan MA No. 696 K/Pid/2010, atas nama FRANSISKUS TADON KERAN alias AMSI dalam tuntutan jaksa Penuntut Umum terdakwa terbukti melakukan tindak pidana Turut Serta Melakukan Pembunuhan Berencana yang diatur dan diancam pidana Pasal 340 KUHP jo 55 ayat 1 ke1 KUHP, dituntut pidana penjara selama seumur hidup Putusan Pengadilan Negeri Tangerang No. 1809/PID.B/2009/ PN.TNG, terdakwa terbukti melakukan tindak pidana Turut Serta Melakukan Pembunuhan Berencana yang diatur dan diancam pidana Pasal 340 KUHP jo 55 ayat 1 ke-1 KUHP, dijatuhi pidana penjara selama 17 (tujuh belas) tahun. (putusan MA menguatkan putusan PN) 2. Putusan MA No. 721 K/PID/2010, atas nama DANIEL DAEN SABON alias DANIL dalam tuntutan jaksa Penuntut Umum terdakwa terbukti melakukan tindak pidana Turut Serta Melakukan Pembunuhan Berencana yang diatur dan diancam pidana Pasal 340 KUHP jo 55 ayat 1 ke-1 KUHP, dituntut pidana penjara selama Seumur Hidup Putusan Pengadilan Negeri Tangerang No. 1811/PID.B/2009/ PN.TNG tanggal 23 Desember 2009 terdakwa terbukti melakukan tindak pidana Turut Serta Melakukan Pembunuhan Berencana yang diatur dan diancam pidana
Chairul Huda, Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Tanpa Kesalahan, Tinajauan kritis Terhadap Teori Pemisahan tindak Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana, (Jakarta : Kencana, 2008), hal. 65. 241 Ibid., hal. 109.
240

89

Pasal 340 KUHP jo 55 ayat 1 ke-1 KUHP, dijatuhi pidana penjara selama 18 (delapan belas) tahun. (putusan MA menguatkan putusan PN) 3. Putusan MA No. 723 K/Pid/2010 atas nama HENDRIKUS KIA WALEN alias HENDRIK dalam tuntutan jaksa Penuntut Umum terdakwa terbukti dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, sarana atau keterangan sengaja menganjurkan orang lain dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain sebagaimana dalam Dakwaan Kesatu melanggar Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP jo. Pasal 340 KUHP , dituntut pidana penjara selama Seumur Hidup Putusan Pengadilan Negeri Tangerang No. 1808/PID.B/2009/ PN.TNG. tanggal 23 Desember 2009 terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Dengan sengaja membujuk orang lain melakukan pembunuhan berencana; Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 17 (tujuh belas) tahun ; (putusan MA menguatkan putusan PN) 4. Putusan MA No. 725 K/Pid/2010 atas nama EDUARDUS NOE NDOPO MBETE alias EDO dalam tuntutan jaksa Penuntut Umum terdakwa bersalah telah melakukan pembujukan/penganjuran pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam pasal 340 KUHPidana jo pasal 55 ayat (1) ke 2 KUHPidana; dituntut pidana penjara selama seumur hidup Putusan Pengadilan Negeri Tangerang Nomor: 1807/PID.B/ PN.TNG, tanggal 23 Desember 2009 terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Dengan sengaja membujuk orang lain melakukan pembunuhan berencana; Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 17 (tujuh belas). tahun(putusan MA menguatkan putusan PN) 5. Putusan MA No. 1429 K/Pid/2010 atas nama Antasari Azhar, SH.,MH. dalam tuntutan jaksa Penuntut Umum terdakwa melakukan tindak pidana "Orang Yang Turut Melakukan Perbuatan Membujuk Orang Lain Melakukan Pembunuhan Berencana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 55 ayat 1 ke-1 Jo. Pasal 55 ayat 1 ke-2 Pasal 340 KUH Pidana dituntut pidana mati Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1532/PID.B/ 2009/PN.JKT.SEL tanggal 11 Februari 2010, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana TURUT SERTA MENGANJURKAN PEMBUNUHAN BERENCANA Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 18 (delapan belas) tahun penjara Putusan Mahkamah Agung Memperbaiki amar putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor : 71/PID/2010/PT.DKI tanggal 17 Juni 2010 yang mengubah putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor :

90

1532/PID.B/2009/PN.JKT.SEL tanggal 11 Februari 2010 sekedar mengenai kwalifikasi tindak pidana yang dilakukan oleh Terdakwa sehingga berbunyi sebagai berikut : Menyatakan Terdakwa ANTASARI AZHAR, SH.,MH. yang identitas lengkapnya tersebut di muka, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana TURUT SERTA MENGANJURKAN PEMBUNUHAN BERENCANA Memidana Terdakwa tersebut, dengan pidana penjara selama : 18 (delapan belas) Tahun . Dari beberapa putusan diatas terdapat dua bentuk penyertaan yaitu turut serta melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dan turut serta menganjurkan tindak pidana pembunuhan berencana. Untuk pertanggungjawaban pidana dalam perbuatan turut serta (medeplegen) memperluas

pertanggungjawaban orang yang turut terlibat tindak pidana, disamping bertanggungjawab sebagai pelaku (pleger) juga harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukan dalam kerja sama yang sadar dengan pihak lain,242sedangkan ketentuan tentang tanggung jawab pembujuk atau pengerak terbatas hanya pada tindakan yang sengaja digerakan dan seluruh akibat yang mengikutinya.243 Dalam perkara diatas apabila dilihat dari peran para pelaku dan berat ringanya hukuman yang dituntut oleh jaksa penuntut umum maupun putusan pemidanaan dari hakim terlihat bahwa pembebanan pertanggungjawaban pidana dalam turut serta peserta dan turut serta menganjurkan dipertanggungjawabkan sama untuk tiap-tiap peserta berati mereka dianggap sama nilainya (sama jahatnya) dengan orang yang melakukan, tindak pidana itu sendiri, sehingga mereka masingt-masing juga dipertanggungjawabkan sama dengan pelaku, sehingga dapat disimpulkan bahwa pertanggungjawaban pidana yang diterapkan dalam perbuatan turut serta merupakan bentuk antara ajaran/teori penyertaan yang obyektif. Dalam perkara diatas ternyata ada disparitas dalam tuntutan dan putusan pidana walaupun tidak terlalu mencolok kecuali dalam perkara Antasari Azhar yang dituntut pidana mati, hal ini lebih dikarenakan adanya karakteristik dari latar belakang pelaku dan tindak pidan yang dilakukan. Dalam praktenya penuntutan terhadap saksi mahkota dalam perkara penyertaan berat ringanya tuntutan tidak harus mutlak sama antara pelaku yang satu dengan yang lainya karena untuk
242 243

Jan Remmelink, Op.Cit., hal. 318. Ibid., hal .335.

91

tuntutan pidana harus mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan hal-hal yang memberatkan, serta harus dibedakan antara tuntutan terhadap pelaku yang telah dewasa dengan pelaku yang masih masuk kategori anak.244 Mengenai tuntutan pidana mati terhadap Antasari Azhar dan pidana seumur hidup bagi pelaku lainnya ada baiknya kita lihat bagaimana kebijakan Kejaksaan dalam penuntutan. Dalam melakukan kebijakan penuntutan Kejaksaan menilai untuk menjaga policy pimpinan Kejaksaan dalam mewujudkan kesatuan kebijakan penuntutan yang sejalan dengan asas bahwa Kejaksaan adalah satu dan tidak dapat dipisah-pisahkan, maka tuntutan pidana yang menyangkut keadilan distrebutief dalam kasus yang mirip, perlu dijaga besaran tuntutanya, adapun elastisitasnya terletak pada keadilan legal dan keadilan commutatief.245 Sedangkan menurut Surat Edaran Jaksa Agung Nomor: SE-001/J-

A/4/1995 tanggal 27 April 1995 Tentang Pedoman Tuntuntan Pidana, karena komplek, ternyata tuntutan pidana yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum selama ini masih belum memenuhi harapan maka, untuk mewujudkan tuntutan pidana harus : 246 1.Lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup dan berkembang didalam masyarakat; 2.Membuat jera para pelaku tindak pidana, mampu menimbulkan dampak pencegahan dan mempunyai daya tangkal bagi yang lainnya; 3.Menciptakan kesatuan kebijakan penuntutan sejalan, dengan asas bahwa Kejaksaan adalah satu dan tidak bisa dipisah-pisahkan ; 4.Menghindari adanya disparitas tuntutan pidana untuk perkara - perkara sejenis antara satu daerah dengan daerah yang lainnya dengan memperhatikan faktor kastustik pada setiap, perkara pidana. Dengan memperhatikan keadaan masing - masing perkara secara kasuistis, Jaksa Penuntut Umum harus mengajukan tuntutan pidana dengan wajib berpedoman pada kriteria beriku ini :247 1. Pidana mati. a. Perbuatan yang didakwakan diancam pidana mati; b. Dilakukan dengan cara yang sadis diluar perikemanusian;
Hasil Wawancara dengan Kasi Pidum Jakarta Selatan, Tanggal 16 Februari 2013. Bambang Waluyo, et al., Pola Membina Rasa Keadilan Masyarakat, (Jakarta: Pusat Pendidikan Dan Latihan Kejaksaan Agung R.I, 1991), hal. 34. 246 Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Pedoman Tuntutan Pidana, http://acarapidana.bphn.go.id/wp-content/uploads/2011/12/SEJA-001-JA-4-1995-PEDOMANTUNTUTAN-PIDANA.pdf, diunduh 7 Mei 2013. 247 Ibid.
245 244

92

c. Dilakukan secara berencana; d. Menimbulkan korban Jiwa atau sarana umum yang vital; e. Tidak ada alasan yang meringankan. 2. Seumur Hidup. a. Perbuatan yang didakwakan diancam dengan pidana mati; b. Dilakukan secara sadis; c. Dilakukan secara berencana;. d. Menimbulkan korban jiwa atau sarana umum yang vital; e. Terdapat hal - hal yang meringankan. Apabila dicermati dalam pedoman diatas yang membedakan kriteria pidana mati dengan pidana seumur hidup terdapat pada, hal-hal yang meringkankan, berkaca pada perkara Antasari Azhar, terlepas dari kontroversi dalam hal pembuktian dengan berpedoman dari ajaran pertanggungjawaban pidana bagi pelaku penyertaan dalam pidana yang di anut dalam sistem hukum Indonesia walaupun menganut sistem campuran tetapi untuk ajaran subyektif (tergantung dari perbuatan yang dilakukan) hanya diterapakan pada pertanggungjawabannya terhadap pembantu. Untuk hal-hal yang meringankan tidak mungkinlah kita melupakan pengabdian Antasari Azhar selaku jaksa penuntut umum dan kariernya di Komisi Pemberantas korupsi yang terbilang gemilang tidak dijadikan pertimbangan yang meringankan maka seharusnya pertanggungjawaban pidana terhadap Antasari Azhar disamakan dengan pelaku (peserta) yang lain. Sedangkan dalam penjatuhan pidana dalam beberapa perkara diatas tidak terjadi dispratitas pemidanaan yang menjolok dalam putusan pidana yang dibuat hakim karena hakim memiliki kebebasan untuk menjatuhkan berat ringanyanya pidana (starmaat) yang akan dijatuhkan dan yang diatur oleh undang undang hanyalah maksimum dan minimumnya saja. Sehubungan dengan kebebasan hakim ini dikatakan oleh Sudarto bahwa kebebasan hakim dalam menetapkan pidana tidak boleh sedemikian rupa, sehingga memungkinkan terjadinya ketidaksamaan yang menyolok, hal mana akan mendatangkan perasaan tidak sreg (onbehagelijk) bagi masyarakat, maka pedoman memberikan pidana dalam KUHP sangat diperlukan, sebab ini akan mengurangi ketidaksamaan tersebut meskipun tidak dapat menghapuskannya sama sekali.248 Sedangkan menurut Artidjo Alkostar, dalam upaya menentukan amar putusan yang bersifat adil menuntut
248

Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, (Bandung: Alumni, 1977), hal. 61.

93

pertimbangan hukum (legal reasoning) yang cukup tepat dan logis, karena pengadilan merupakan laboratorium nalar (the laboratory of logic) dan memiliki pemangku kepentingan (stake holder) sesuai dengan perkaranya, sehingga dalam menjatuhkan putusan pengadilan harus menjaga disparitas tuntutan pidana.249 Disparitas pemidanaan dapat terjadi karena banyak faktor, Beccaria dalam adagium yang dirumuskan sebagai, let punishment fir the crime, mengakui bahwa setiapa perkara pidana memiliki karakteristik sendiri disebabkan karena kondisi pelaku, korban ataupun situasi yang ada pada saat tindak pidana terjadi, karenanya hakim yang melihat perkara tentu saja tidak Bahkan menutup menurut mata dalam faktor.250

mempertimbangkan Harkrisnowo:251

berbagai

Harkristuti

Situasi yang dikenal dengan disparity in sentencing merupakan masalah universal yang dihadapi oleh lembaga peradilan di negara manapun, pengakuan adanya karakteristik khusus dalam setiap perkara pidana, baik dari segi pelaku, korban maupun kondisi yang melingkupi suatu kejahatan membuat tidak mungkin bentuk kejahatan yang serupa dijatuhi pidana yang sama persis. D. Analisis Penerpana Saksi Mahkota sebagai Alat Bukti dalam Peradilan di Indonesia. Pada dasarnya penerapan saksi mahkota dalam praktek beracara dipersidangan dilakukan dalam hal : a.Tindak pidana dilakukan oleh lebih dari satu orang, sehingga memenuhi sebagai delik penyertaan yang diatur pasal 55 KUHP; b.Minimnya alat bukti dalam melakukan tindak pidana; c.Tindak pidana itu dipecah menjadi beberapa terdakwa, Terdakwa dalam satu berkas akan menjadi saksi terhadap terdakwa lain dalam berkas terpisah ; d. Para terdakwa ini berkedudukan pula sebagai saksi saksi dalam berkas terdakwa terpisah pisah itu.

Artidjo Alkostar, Kebutuhan Responsifitas Perlakuan Hukum Acara Pidana dan Dasar Pertimbangan Pemidanaan serta Judicial Immunity, Op.Cit, hal. 8. 250 Eva Achjani Zulfa, Pergeseran Paradigma Pemidanaan, (Bandung: CV Lubuk Agung, 2011), hal. 32 . 251 Harkristuti Harkrisnowo, Rekontruksi Konsep Pemidanaan : Suatu Gugatan Terhadap proses Legislasi dan Pemidanaan Di Indonesia, (Orasi Pengukuhan Guru Besar Universitas Indonesia, Depok 8 Maret 2003), hal. 7.

249

94

Dalam praktik peradilan sebelum menerapkan saksi mahkota maka pada tahap awal yaitu dalam tindakan penyidikan dilakukan splitsing berkas perkara yang dilakukan oleh penyidik berdasarkan petunjuk dari jaksa penuntut umum dan urgensi penerapan splitsing dalam praktiknya untuk kepentingan pembuktian dimana diperlukan alat bukti saksi mahkota untuk menguatkan alat bukti yang telah ada dengan tujuan yang hendak diperoleh dari pemecahan berkas perkara tersebut untuk mengetahui kronologis atau kejadian tersebut yang hanya dapat diungkap oleh pelaku yang merupakan bagian dari jaringan kejahatan tersebut. Untuk dakwaaan yang lazim diterapkan dalam saksi mahkota yang

menunjukan bahwa antara saksi dan terdakwa bergantian menjadi saksi dan terdakwa maka dalam surat dakwaan yang dibuat oleh penuntut umum

dicantumkan kalimat, masing-masing dilakukan penuntutan secara terpisah atau masing- masing sebagai terdakwa yang penuntutannya diajukan secara terpisah. Sedangkan untuk pembuktian maka keterangan saksi mahkota disamakan dengan alat bukti keterangan saksi karena : a) Saksi mahkota yang diambil dari salah seorang tersangka/terdakwa menerangkan perbuatan yang dilakukan oleh saksi bersama terdakwa dalam suatu tindak pidana; b) Saksi mahkota dalam memberi keterangan dipersidangan sebagai saksi juga disumpah. ; c) Dalam setiap surat tuntutan (requisitor) yang dibuat oleh jaksa penuntut umum keterangan saksi mahkota di tempatkan dalam bagian fakta persidangan dalam point keterangan saksi. Dalam praktinya penuntutan terhadap saksi mahkota dalam tindak pidana yang berbentuk penyertaan untuk berat ringanya tuntutan tidak harus mutlak sama antara pelaku yang satu dengan yang lainya karena untuk tuntutan pidana harus mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan hal-hal yang memberatkan, serta harus dibedakan antara tuntutan terhadap pelaku yang telah dewasa dengan pelaku yang masih masuk kategori anak. Berdasarkan uraian diatas konsep saksi mahkota yang dikenal di Indonesia sebagai kesaksian yang diberikan oleh seseorang yang berkedudukan sebagai terdakwa dalam perkara pidana yang sama namun dibuat secara terpisah, telah menjadi suatu hal yang lazim diterakan dipersidangan khususnya dalam tindak pidana penyertaan, walaupun konsep ini kurang mencerminkan kewajiban negara

95

dalam menjamin bahwa hak-hak tersangka dan terdakwa yang berkedudukan sebagai saksi mahkota dalam sistem peradilan pidana. Karena arti dari dari peradilan yang adil lebih jauh dari sekedar penerapan hukum atau peraturan undang-undang secara formil tetapi dalam peradilan yang adil ini terkandung penghargaan kita akan hak kemerdekaan seorang warga negara, meskipun seorang warga negara telah melakukan perbuatan yang tercela, hak-haknya sebagai warga negara tidaklah hapus atau hilang, dengan demikin nampak bahwa dari penerapan konsep saksi mahkota dalam peradilan saat ini untuk mewujudkan suatu kepastian hukum dimana untuk dapat menjangkau pelaku kejahatan disandarkan pada peraturan formil dan kurang memperhatikan bentuk perlindungan negara terhadapa hak-hak tersangka atau terdakwa.

96

BAB 4 PENGATURAN SAKSI MAHKOTA DALAM HUKUM PIDANA YANG AKAN DATANG Dalam bab ini penulis akan menguraikan permasalahan mengenai beberapa perubahan dalam penerapan konsep saksi mahkota, beberapa ketentuan dalam pembuktian untuk menerapkan saksi mahkota menurut RUU KUHAP, perbandingan pengaturan RUU KUHAP versi 2013, dengan ketetuan di Belanda dan Amerika Serikat dan analisis secara menyeluruh dari perbandingan,

kemudian penulis akan membahas mengenai paradigma pergeseran sistem yang dianut oleh RUU KUHAP. Dan pada akhir dibahas mengenai perbedaan dan persamaan konsep lain yang mengatur keturutsertaan saksi dalam suatu tindak pidana dalam konsep whistelblower dan justice collabolator .

A.Beberapa Perubahan Penerapan Konsep Saksi Mahkota Dalam Tindak Pidana Penyertaan Menurut RUU KUHAP. Pada awal munculnya KUHAP, bangsa Indonesia sangat berbangga atas terciptanya karya yang terkodefikasi dan unifikasi hukum acara pidana namun seiring perjalanan waktu yang telah lebih dari 30 tahun KUHAP semakin menampakan adanya keterbatasan dan juga bergesernya kultur pemerintahan yang cenderung refresif membatasi produk hukum yang mengedepankan hak asasi manusia kearah yang lebih menghormati hak asasi manusia. Untuk pembaharuan KUHAP adalah penting mengatur secara tegas mengenai kewajiban aparatur penegak hukum untuk memberitahukan secara lengkap dan jelas hak-hak yang dimiliki tersangka dan terdakwa termasuk konsekwensi yuridis apabila kewajiban itu lalai dilaksanakan.252 Maka pembaruan hukum acara pidana juga dimaksudkan untuk lebih memberikan kepastian hukum, penegakan hukum, ketertiban hukum,

keadilan masyarakat, dan perlindungan hukum serta hak asasi manusia, baik

Al Wisnubroto dan G Widiarta, Pembaharuan Hukum Acara Pidana, (Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2005), hal. 55 .

252

97

bagi tersangka, terdakwa, saksi, maupun korban, demi terselenggaranya negara hukum.253 Pengaturan saksi mahkota dalam hukum acara pidana yang akan datang (RUU KUHAP) memberikan banyak sekali dimensi baru, selain menjelaskan apa yang dimaksud saksi mahkota juga memasukan konsep-konsep baru sehubungan dengan proses dan mekanisme untuk menerapkan saksi mahkota, hal hal yang berkaitan dengan penerapan saksi mahkota dalam hukum acara pidana yang akan datang dapat uraikan diantaranya sebagai berikut. 1. Pemecahan Perkas Perkara (Splitsing) Selain mengenai justifikasi pemecahan berkas perkara masalah kewenangan pemecahan berkas perkara (splitsing) selama ini juga menimbulkan perdebatan tentang siapa yang berwenang melaksanakan splitsiing, penuntut umum atau penyidik. Dalam pedoman pelaksanaan undang undang hukum acara pidana menyatakan penyidik yang melaksanakan splitsing dengan dasar pemikiran bahwa masalah splitsing ini adalah masih tahap persiapan tindakan penuntutan dan belum sampai pada tahap penyidangan perkara dipengadilan.254 Menurut Andi Hamzah pedoman pelaksanaan KUHAP tidak seluruhnya tepat karena tidak selalu perkara yang dipecah harus diperiksa kembali, mungkin kalau tidak ada saksi, sedangkan ada beberapa tersangka hal demikian benar, namun hal demikian memungkinkan orang dipaksa melakukan sumpah palsu, karena secara logis para saksi akan berbohong tidak adak meberatkan tersangka (terdakwa) karena pada giliranya ia juga akan menjadi tersangka (terdakwa).255 Dalam RUU KUHAP apabila kita merujuk dalam Pasal 49 maka masalah justifikasi dan kewenangan ini telah diatur jelas. Sesuai bunyi Pasal 49 : Ayat (1) Apabila pada waktu yang sama atau hampir bersamaan penuntut umum menerima beberapa perkara, penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara dan membuatnya dalam satu surat dakwaan, dalam hal
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Konsideran Menimbang hurup a, Rancangan Undang Undang Hukum Acara Pidana Indonesia tahun 2010, www.djpp.depkumham.go.id, diunduh 15 Desember 2012. 254 Departemen Kehakiman Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan Kitab Hukum Acara Pidana, Cetakan ke-IV Telah Dipebaiki, (Buku Digandakan Khusus Kejaksan Agung Republik Indonesia, Jakarta: 1982), hal. 90 . 255 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia . Op.Cit.,hal. 168.
253

98

a.beberapa tindak pidana dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap penggabungannya; b beberapa tindak pidana bersangkut paut satu dengan yang lain; atau c.beberapa tindak pidana ada hubungannya satu dengan yang lain dan penggabungan tersebut diperlukan untuk kepentingan pemeriksaan. Ayat (2) Beberapa tindak pidana dapat dituntut dalam satu surat dakwaan tanpa memperhatikan apakah merupakan suatu gabungan dari pidana umum atau khusus atau ditetapkan oleh undang-undang khusus sepanjang memenuhi ketentuan ayat (1), kecuali dalam kompetensi pengadilan khusus. Ayat (3) Penuntut umum dapat menuntut dua atau lebih Terdakwa dalam satu surat dakwaan apabila Terdakwa melakukan tindak pidana penyertaan. Penjelasan Pasal 49 Ayat (1)Yang dimaksud dengan tindak pidana dianggap mempunyai sangkut paut satu dengan yang lain, apabila tindak pidana tersebut dilakukan: a.oleh lebih seorang yang bekerja sama dan dilakukan pada saat bersamaan; b.oleh lebih dari seorang pada saat dan tempat yang berbeda, akan tetapi merupakan pelaksanaan dari permufakatan jahat yang dibuat oleh mereka sebelumnya; c.oleh seorang atau lebih dengan maksud mendapat alat yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana lain atau menghindarkan diri dari pemidanaan. Ayat (2) Tidak diperlukan untuk membuat berkas perkara terpisah bagi setiap tindak pidana apabila satu berkas perkara mendukung tuntutan lebih dari satu tindak pidana. Ayat (3) Apabila dua atau lebih tindak pidana dituntut dalam satu surat dakwaan, setiap tindak pidana dipisahkan dalam surat dakwaan menjadi satu tuntutan pidana. Dalam penjelasn RUU KUHAP Pasal 49 ayat (1) memberikan penjelasan mengenai tindak pidana dianggap mempunyai sangkut paut satu dengan yang lain. Serta ayat (2) menjelaskan tidak perlunya lagi pemisahan berkas perkara atau yang dikenal sebagai splitsing selama ini dan sehubungan dengan tindak pidana penyertaan Penuntut umum dapat menuntut dua atau lebih Terdakwa dalam satu surat dakwaan apabila Terdakwa melakukan tindak pidana

penyertaan.

99

2.Hak Untuk Diam Memang penting untuk mengakui bahwa sifat tugas penegak hukum akan menempatkan para petugas penegak hukum dalam kedudukan dilematis dalam hal informasi yang mereka peroleh berkaitan dengan kehidupan pribadi perorangan atau informasi yang menganggu kepentingan nama baik orang, pengungkapan informasi demikian selain untuk kepentingan peradilan atau pelaksanaan tugas serta tidak benar juga jika penegak hukum menahan diri untuk melakukan pengungkapan informasi.256 Oleh karena itu dalam rangka penyidikan, diberi kemungkinan bila perlu dan tidak ada pilihan lain melainkan harus berbuat demikian (melanggar hak asasi seseorang, karena orang tersebut melanggar hak asasi orang lain) namun dilakukan tindakan itu berdasarkan hukum.257 Sebagai jalan keluar untuk permasalahan dilematis dalam upaya penegakan hukum, RUU KUHAP telah menunjukan kemajuan (progress) dalam

perlindungan hak-hak tersangka, terdakwa, khususnya menyangkut rights to silence, dalam Pasal 90 ayat (1) menerangkan : Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan, tersangka atau terdakwa berhak untuk memberikan atau menolak untuk memberikan keterangan berkaitan dengan sangkaan atau dakwaan yang dikenakan kepadanya. Ketentuan dalam KUHAP saat ini, menegaskan bahwa seorang tersangka mempunyai hak untuk segera diperiksa oleh penyidik, namun ketentuan ini tidak menegaskan bahwa tersangka mempunyai hak untuk diam. Dalam persidangan, bila terdakwa menolak menjawab suatu pertanyaan, maka hakim ketua sidang akan menyarankan ia untuk menjawab. Hal baru yang ditambahkan dalam rancangan KUHAP adalah dengan menegaskan secara eksplisit mengenai hak untuk tidak mengkriminalisasi diri sendiri. Bahkan ditetapkan lebih lanjut bahwa penyidik dengan jelas perlu menginformasikan hak-hak kepada tersangka sebagaimana dikenal dalam Miranda rule. Menurut Mardjono Reksodiputro, alasan pentingnya hak untuk diam ini karena setiap pelaku kejahatan yang didakwa melakukan
C. De Rovers, To Server & To Protect, Acuan Universal Penegakan HAM, [To Server & To Protect Human Right And Humanitarian Law for Police and Security Forces], Diterjemahkan oleh Supardan Mansyur (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), hal. 166 . 257 Bismar Siregar, Hukum Acara Pidana, (Jakarta: Badan Pembina Hukum Nasional Departemen Kehakiman, 1983), hal. 65.
256

100

kejahatan memiliki hak untuk membela diri dengan menjawab pertanyaan yang tidak merugikan kepentingan dalam pembelaanya dipersidangan dan tidak melakukan tindakan mengkriminalisasi diri sendiri, sehingga hak untuk diam ini bukan berarti tersangka atau terdakwa bungkam atas semua pertanyaan yang diajukan kepadanya karena apabila tersangka atau terdakwa bungkam berarti ia telah melepaskan haknya untuk melakukan pembelaan dan dianggap mengakui perbuatanya.258 Di Amerika Serikat, setiap proses pidana akan dimulai dengan Miranda rule yang merupakan hak tersangka sebelum diperiksa oleh penyidik/instansi yang berwenang259. Hak tersebut antara lain adalah hak untuk diam, karena segala perkataannya dapat digunakan untuk melawannya di pengadilan, hak untuk mendapatkan penasihat hukum/advokat untuk membela hak-hak hukumnya, dan bila ia tidak mampu maka ia berhak mendapatkan penasihat hukum dari negara, yang diberikan oleh pejabat yang bersangkutan.260 Hak tersebut merupakan bagian dari hak untuk memperoleh keadilan. Hak hak penting bagi orang yang disangka telah melakukan kejahatan ini di Amerika merupakan hak kepribadian (the right to privacy) dengan prinsip moral yang mendasarinya dengan demikian polisi dan penegak hukum lainya dapat melakukan upaya hukum setelah mendapat kuasa khusus dari pejabat pengadilan yang pada akhirnya tugas penuntut umum bukan untuk menghukum, tetapi mejaga keadilan dapat terlaksana.261 Miranda rule,262merupakan penegasan terhadap hak-hak asasi manusia untuk memperoleh keadilan yang telah ada

Hasil wawancara, tanggal 12 Juni 2013. M. Sofyan Lubis, Prinsip Miranda Rule Hak Tersangka Sebelum Pemeriksaan, (Jakarta: Pustaka Yustisia, 2010), hal. 15. 260 Ibid, hal 22. 261 Livingstone Hall, Hak Tertuduh Dalam Perkara Pidana, Dalam Ceramah Radio oleh Profesor-Profesor Harvard Law School, Disusun oleh Harold J. Berman, Diterjemahkan oleh Gregory Churchill, J.D, (Jakarta : Tatanusa, 2008), hal. 50-56. 262 Miranda Rule berbunyi: You have the right to remain silent. You have the right to the pressence of an attorney. If you cannot afford an attorney, one will be appointed for you. Anything you say can and will be used against you. Terjemahan: Anda berhak untuk diam. Anda berhak atas kehadiran penasihat hukum. Jika anda tidak mampu menunjuk penasihat hukum, maka negara akan memilihkan. Apapun yang anda katakan dapat dan akan digunakan untuk menuntutmu
259

258

101

sebelumnya, keadilan di sini termasuk keadilan atas kepastian hukum dalam tata cara mengadilinya.263 3. Pengenalan Plea Bargaining Jalur khusus dalam RUU KUHAP tampaknya diadopsi dari lembaga plea bargaining yang dikembangkan dalam criminal justice system negara-negara yang termasuk keluarga hukum anglo saxon, khususnya di Amerika Serikat, lembaga plea bargaining ini menawarkan kepada terdakwa jalur yang tidak begitu rumit dan penerapan ketentuan pidana yang lebih ringan apabila terdakwa mengaku bersalah serta mengakui perbuatannya. Jalur khusus melalui pengakuan bersalah dari terdakwa tidak berlaku secara mutlak, tergantung pada hakim yang memeriksa. Hakim dapat menolak pengakuan terdakwa sepanjang hakim raguragu terhadap kebenaran pengakuan itu.264 Hal ini tercantum di dalam Rancangan yang berjudul jalur khusus dalam Pasal 198 RUU KUHAP yang berisi : (1) Pada saat penuntut umum membacakan surat dakwaan, terdakwa mengakui semua perbuatan yang didakwakan dan mengaku bersalah melakukan tindak pidana yang ancaman pidana yang didakwakan tidak lebih dari 7 (tujuh) tahun, penuntut umum dapat melimpahkan perkara ke sidang acara pemeriksaan singkat. (2) Pengakuan terdakwa dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh terdakwa dan penuntut umum. (3) Hakim wajib: a.memberitahukan kepada terdakwa mengenai hak-hak yang dilepaskannya dengan memberikan pengakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2); b.memberitahukan kepada terdakwa mengenai lamanya pidana yang kemungkinan dikenakan; dan c.menanyakan apakah pengakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan secara sukarela. (4) Hakim dapat menolak pengakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) jika hakim ragu terhadap kebenaran pengakuan terdakwa. (5) Dikecualikan dari Pasal 198 ayat (5), penjatuhan pidana terhadap terdakwa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak boleh melebihi 2/3 dari maksimum pidana tindak pidana yang didakwakan.

J. Djohansjah, Akses Menuju Keadilan (Access to Justice), (Makalah Disampaikan Pada Pelatihan HAM Bagi Jejaring Komisi Yudisial , Bandung : 3 Juli 2010), hal. 17. 264 Nyoman Serikat Putra Jaya, Catatan atas RUU KUHAP, KOMPAS, (25 April 2013).

263

102

Pada saat penuntut umum membacakan surat dakwaan, terdakwa mengakui semua perbuatan yang didakwakan dan mengaku bersalah melakukan tindak pidana yang ancaman pidana yang didakwakan tidak lebih dari tujuh tahun penjara, penuntut umum dapat melimpahkan perkara ke sidang acara pemeriksaan singkat. Pidana yang dijatuhkan tidak boleh lebih dari 2/3 dari maksimum. Di sinilah letak pengakuan yang memberi keuntungan (semacam plea bargaining). Hakim dapat menolak pengakuan ini dan meminta penuntut umum mengajukan ke sidang pemeriksaan biasa.265 Di Amerika Serikat dalam pelaksanaan plea bargaining, Menurut Romli Atasasmita : 266 Jika tertuduh menyatakan not guilty, maka perkaranya akan dilanjutkan dan kemudian diadili di muka persidangan oleh juri. Apabila tertuduh menyatakan not guilty atau nolo contendere (no contest) maka perkaranya siap untuk diputus. Khususnya pernyatan nolo contendere atau no contest pada hakikatnya memiliki implikasi yang sama dengan guilty akan tetapi dalam hal ini tidak disyaratkan bahwa tertuduh harus mengakui kesalahannya, melainkan cukup jika ia menyatakan bahwa dia tidak akan menentang tuduhan jaksa di muka persidangan juri nanti. Alasan pokok bagi penuntut umum untuk melakukan negosiasi adalah karena dua hal pertama, karena jumlah perkara yang sangat besar, sehingga menyulitkan kedudukan penuntut umum yang tidak mungkin dapat bekerja secara efektif mengingat faktor waktu; kedua, karena penuntut umum berpendapat, bahwa kemungkinan akan berhasilnya penuntutan sangat kecil. Misalnya karena kurangnya bahan pembuktian, kurangnya saksi yang dapat dipercaya, atau tertuduh orang yang dianggap respectable di kalangan para juri.267

4. Larangan Mengkriminalisasi Diri Sendiri (Non Self-Incrimination) Dalam Pasal 158 RUU KUHAP memberikan larangan terhadap tindakan self-incrimination yang selama ini menjadi perdebatan dalam pelaksaan saksi mahkota menyangkut hak untuk tidak mengkriminalisasi diri sendiri. Sesuai pasal 158 huruf b:
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI , Naskah Akademik Rancangan Undang Undang Tentang Hukum Acara Pidana, Op. Cit., hal . 26. 266 Romli Atasasimita, Sistem Peradilan Pidana kotemporer, Op. Cit., hal. 124. 267 Ibid.
265

103

Kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini, saksi tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi, jika,bersama-sama sebagai tersangka atau terdakwa walaupun perkaranya dipisah. Dalam Penjelsan Pasal 158 menyatakan bersama-sama menjadi terdakwa, termasuk jika suatu tindak pidana dilakukan bersama-sama oleh para terdakwa, tetapi berkas perkara dipisahkan. Ketentuan ini untuk menghindari self-

incrimination, jika terdakwa bergantian menjadi saksi dalam perkara yang dipisah. Dalam menentukan atas dakwaan yang ditujukan padanya, setiap orang berhak untuk tidak dipaksa untuk memberikan keterangan yang memberatkan dirinya atau dipaksa mengaku bersalah dan tidak ada beban kewajiban pembuktian bagi Tersangka. Beban pembuktian menjadi kewajiban jaksa penuntut umum, 181 : Ayat (3) Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. Ayat (4) Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang sah lainnya. Seringkali keterangan terdakwa dalam kapasitasnya sebagai saksi mahkota yang terikat oleh sumpah digunakan sebagai dasar alasan untuk membuktikan kesalahan terdakwa dalam perkaranya sendiri apabila terdakwa berbohong, hal ini tentunya bertentangan dan melanggar asas non self incrimination. Dalam ketentuan Pasal 14 ayat (3) huruf g ICCPR dijelaskan sebagai berikut : In the determination of any criminal charge against him, everyone shall be entitled to the following minimum guarantes, in full equality : (g). Not to be compelled to testify against himself or to confess guilty. Pada dasarnya, ketentuan Pasal 14 ayat (3) huruf g ICCPR tersebut bertujuan untuk melarang paksaan dalam bentuk apapun . Selain itu, diamnya tersangka atau terdakwa tidak dapat digunakan sebagai bukti untuk menyatakan kesalahannya. prinsip ini dalam RUU KUHAP tercermin secara parsial melalui Pasal

104

B.Pedoman lain untuk Memperbaiki Ketentuan Pembuktian dalam Menerapkan Saksi Mahkota 1. Exclusionary Rule Pada umumnya negara hukum menentukan bahwa barang bukti yang yang diperoleh dengan cara melanggar hak-hak dasar yang ditentukan dalam konstitusi atau diperoleh secara illegal tidak dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan dan prinsip ini dikenal dengan exclusionary rule.268 Menurut Eddy O.S. Hiariej Ada empat hal terkait konsep pembuktian yang sangat fundamental : 269 1) bukti harus relevan dengan sengketa atau perkara yang sedang diproses. Artinya, bukti tersebut berkaitan dengan fakta-fakta yang menunjuk pada suatu kebenaran dari suatu peristiwa; 2) bukti haruslah dapat diterima atau admissible. Sebaliknya, bukti yang tidak relevan, tidak akan dapat diterima. Kendatipun demikian, dapat saja suatu bukti relevan tetapi tidak dapat diterima; 3) adanya exclusionary rules atau exclusionary discretion, yaitu peraturan yang mensyaratkan bahwa bukti yang diperoleh secara ilegal tidak dapat diterima di pengadilan. Terlebih dalam konteks hukum pidana, kendatipun suatu bukti relevan dan dapat diterima dari sudut pandang penuntut umum, namun bukti tersebut dapat dikesampingkan oleh hakim bilamana perolehan bukti tersebut dilakukan tidak sesuai dengan aturan; 4) dalam konteks pengadilan, setiap bukti yang relevan dan dapat diterima harus dapat dievaluasi oleh hakim. Hal demikian termasuk dalam konteks kekuatan pembuktian atau bewijskracht. Hakim akan menilai setiap alat bukti yang diajukan ke pengadilan, kesesuaian antara bukti yang satu dengan bukti yang lain, kemudian akan menjadikan bukti-bukti tersebut sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil putusan. Dari rangkaian kalimat Pasal 183 KUHAP terdapat kata-kata ...alat bukti yang sah.., yang tidak ditemukan penjelasan secara lebih lanjut. Namun demikian, secara logika kata-kata itu dapat dimaknai bahwa setiap perolehan, perlakuan maupun penggunaan alat bukti harus dilakukan dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan. KUHAP memang tidak memiliki penjelasan yang tegas tentang apa yang dimaksud dengan ...alat bukti yang sah.... Ini berbeda dengan Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang Mahkamah Konstitusi pada Pasal 36 menjelaskan :
Artidjo Alkostar, Op.Cit., hal. 1. Eddy O.S. Hiariej, Keterangan Ahli, (Disampaikan saat memberikan keterangan sebagai Ahli yang diajukan Pemohon dalam persidangan tanggal 18 Januari 2011 dalam putusan Mahlamah Konstitusi No Nomor 65/PUU-VIII/2010).
269 268

105

Ayat (2) : Alat bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, harus dapat dipertanggungjawabkan perolehannya secara hukum. Ayat (3) : Dalam hal alat bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan perolehannya secara hukum, tidak dapat dijadikan alat bukti yang sah. Menurut Mardjono Reksodiputro exclusionary rules merupakan aturan yang membuat alat bukti yang diperoleh dan disita tidak sesuai dengan prosedur yang sah tidak tidak dapat digunakan sebagai alat bukti,270 sehingga kelalaian di dalam memperhatikan atau memegang asas exclusionary rules ini mengakibatkan dakwaan, tuntutan dan atau putusan menurut hukum tidak dapat diterima atau batal demi hukum.271 Sistem hukum Amerika Serikat yang memiliki asas exclusionary

rules, dimana asas ini menentukan bahwa setiap bukti yang diperoleh apabila tidak sesuai dengan hukum atau bertentangan dengan hukum (illegal) harus dianggap tidak mempunyai kekuatan dalam pembuktian (unlawful gathering evidenceatau onrechtmatigeverkrijgen bewijs), menurut Gordon Van Kessel sebagimana dikutip Luhut M.P Pangaribuan menyatakan exclusionary rules are a police control Mechanism rather tahan an integral part of the adversary system.272 Di Amerika Serikat exclusionary rules merupakan atauran yang berasal dan berkembang dari case law yang dimaksud agar warga negara terhindar dari tindakan-tindakan aparat penegak hukum yang sewenang-wenang, dan kasus yang paling menonjol dan dijadikan sebagai pedoman bagi aparat penegak hukum dalam menempuh kebenaran prosedural pelaksanaan tugasnya adalah berasal dari Miranda Case (Miranda Vs Arizona state tahun 1966).273

Hasil wawancara, tanggal 12 juni 2013. Lebih lanjut Mardjono Reksodiputro, memberikan ilustrasi dalam satu tindak pidana pencurian anggota kepolisian melakukan penyitaan berdasarkan surat perintah penyitaan untuk tindak pidana pencurian dan dalam pengeledahan terhadap pelakunya ditemukan barang bukti berupa ganja didalam rumahnya maka ketika ganja tersebut turut disita maka penyitaanya tidak sah karena dasar penyitaanya adalah surat penyitaan untuk tindak pidana pencurian. 271 Bagir Manan , Penegakan Hukum Dalam Perkara Pidana, Varia Peradilan (No. 296 Juli 2010). 272 Luhut M.P Pangaribuan, Lay Judges Dan Hakim Ad Hoc .Suatu Studi Teoritis Mengenai Sistem Peradilan Pidana Indonesia, (Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Hukum Pasca Sarjana. 2009), hal. 169. 273 Indriyanto Seno Adji, Sistem Peradilan Pidana dan Hak Asasi Manusia (Bunga Rampai), Op. Cit, hal. 23.

270

106

Menurut Dallin H. OakS di Amerika Serikat aturan exclusionary rules : 274 Menjadikan bukti tidak dapat diterima di pengadilan jika aparat penegak hukum memperoleh itu dengan cara dilarang oleh konstitusi, oleh undangundang atau aturan pengadilan. The United States Supreme Court saat ini memberlakukan exclusionary rule dalam negara bagian dan federal, prosiding untuk empat jenis utama dari pelanggaran: pencarian dan penangkapan yang melanggar hak dalam amandemen keempat, pengakuan yang diperoleh dengan melanggar dalam amandemen kelima dan keenam, kesaksian yang identifikasi diperoleh secara melanggar merupakan pelanggaran terhadap dari perubahan tersebut, dan bukti yang diperoleh dengan metode cara yang menimbulkan guncangan penggunaannya akan melanggar klausul due process Di Inggris suatu illegally secured evidence (perolehan bukti secara tidak sah) tidak patut dijadikan sebagai bukti di pengadilan, larangan itu diciptakan Mahkamah Agung Inggris judge's rules. yang memuat aturan mengenai bagaimana keadaan seorang tersangka dapat diperiksa polisi, disertai

pemberitahuan segala hak-hak tersangka dalam proses penyidikannya dan akibat hukumnya terhadap pelanggaran hak tersebut.275 Di Belanda ketentuan pengenyampingan alat bukti yang tidak sah ini (the exclunary rule) only to alimited exeted, Menurut G.J M. Corsten sebagai mana dikuti Luhut M.P Pangaribuan dewasa ini di Belanda bahkan dalam kondisi tertentu bahan pembuktian yang terkumpul secara melawan hukum tidak boleh digunakan sebagai bukti untuk perbuatan yang didakwakan.276 Dalam hukum acara pidana Belanda menurut P J P Tak, mengenai konsekwensi dari alat bukti yang diperolegh secara tidak sah (ilegal) diatur dalam Dutch Code of Criminal Procedure sect.359a CCP (KUHAP Belanda) yang aturanya : 277 1. Pengadilan dapat mengurangi hukuman dengan mempertimbangkan disatu sisi tingkat keseriusan dari perbuatan dan di lain sisi, pemulihan (kompensasi) terhadap kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan yang menyimpangan;
Dallin H. OakS, Studying the Exclusionary Rule in Search and Seizure, The University of Chicago Law Review, (Vol. 37, No.4, Summer 1970 Copyright 1970 by the University of Chicago), hal. 665. 275 Indriyanto Seno Adji, Penyiksaan Tersangka Dan Antisipasi Perlindungan HAM, http://www.suarapembaruan.com/News/1996/11/071196/OpEd/02/02.html,1996, diunduh tanggal 4 Mei 2013. 276 Luhut M.P Pangaribuan, Op.Cit., hal.170. 277 P.J.P. Tak, The Dutch Criminal Justice System. (The Netherlands : aolf Legal Publishers CB Nijmegen, 2008), hal. 107.
274

107

2. Pengadilan dapat mengecualikan bukti; dan 3. Kasus dapat diberhentikan jika penyimpangan dalam memperoleh bukti secara ilegal mengarah pada tindakan yang bertentangan dengan prinsipprinsip hukum acara pidana yang layak . Jadi exclutionary rule sebagai mekanisme kontrol untuk penyidik, sebagai mata rantai awal pemeriksaan suatu perkara tindak pidana, termasuk perolehan bukti yang dapat dikesampingkan dengan ketentuan exclutionary rule apabila dilakukan dengan coercion, bahasa KUHAP keterangan saksi diberikan dengan tidak bebas.278 Dua type justifikasi yang penting untuk atuaran exclusionary rule, adalah secara normatif dan faktual. Justifikasi secara normatif aturan perundangundangan terkadang dijadikan dasar perlindungan dan pembenaran bagi pemerintah yang jahat sedangkan justifikasi faktual secara tegas dinyatakan bahwa, bukan merupakan alat bukti dan nilainya berkurang apabila dalam pencarianya melanggar aturan pencarian dan penyitaaan, hal ini diharapkan dalam jangka pendek sebagai pencegahan dan dalam jangka panjang sebagai pendidikan.279 Mengesampingkan bukti yang diperoleh atau disita secara ilegal diharapkan memiliki efek yang relatif langsung bagi aparat penegak hukum untuk mencegah dari perilaku yang tidak benar, selain itu menekankan keseriusan masyarakat dalam mengamati aturan pencarian dan penyitaan, the exclusionary rule diharapkan menjadi kekuatan moral dan edukatif dari hukum dengan demikian dalam jangka panjang memiliki efek untuk mendorong kepatuhan yang lebih besar.280

2. Doctrin of Corroboration Suatu isyarat yang ditarik dari suatu perbuatan, kejadian atau keadaan yang mempunyai persesuaian antara yang satu dengan yang lain dan mempunyai mempunyai persesuaian dengan tidak pidana melahirkan atau mewujudkan suatu petunjuk yang membentuk kenyataan terjadinnya suatu tindak pidana dan

278 279

Ibid., hal. 169. Dallin H. OakS, Op.Cit., hal. 668. 280 Ibid .

108

terdakwalah pelakunya, hal tersebut yang menurut Yahya Harahap disebut dengan petunjuk.281 Sedangkan menurut Pasal 188 ayat (1) KUHAP petunjuk adalah : Perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Berbeda dengan alat bukti yang lain, yakni keterangan ahli, surat dan keterangan terdakwa maka alat bukti petunjuk diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa. Pengentian diperoleh berarti alat bukti petunjuk bukan merupakan alat bukti langsung (indirect bewijs). Oleh karena itu banyak yang menganggap alat bukti petunjuk bukan merupakan alat bukti. Van Bemmelen sebagai mana dikutip Andi Hamzah tetapi kesalahan yang terutama ialah bahwa petunjuk-petunjuk dipandang sebagai alat bukti, padahal hakikatnya tidak ada.282 Alat bukti petunjuk yang berasal dari KUHAP Belanda tahun 1838 yang sudah lama diganti dengan eigen waarneming va de rechter (pengamatan hakim sendiri) berupa kesimpulan yang ditarik dari alat bukti lain berdasarkan hasil pemeriksaan di sidang pengadilan. Tidak ada KUHAP di dunia yang menyebut petunjuk (Belanda: aanwijzing, Inggris: indication) sebagai alat bukti kecualiKUHAP Belanda dahulu (1838); HIR dan KUHAP 1981).283 Karena adanya syarat yang satu dengan yang lain harus terdapat pesesuaian, maka dengan demikian berakibat bahwa sekurang-kurangnya perlu ada dua petunjuk untuk memperoleh bukti yang sah atau sebuah alat bukti petunjuk dengan satu buah bukti lain ada persesuaian dalam keseluruhan yang dapat menimbulkan alat bukti. Untuk permasalahan tentang persesuaian alat bukti dalam rangka pembuktian di Amerika Serikat dikenal doctrin of corroboration (saling menguatkan) jika ada dua bukti harus differen soua dan indepedent. Menurut Jonathan L Cohen sebagiamana dikutip Terence Anderson David Schum, dan William Twining :284

Yahya Harahap, Op. Cit , hal. 313. Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Op.Cit., hal. 285. 283 Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI , Naskah Akademik Rancangan Undang Undang Tentang Hukum Acara Pidana, Op. Cit., hal. 24. 284 Terence Anderson, David Schum, and William Twining, Analysis Of Evidence, Secon Edition, (UK : Cambridges University Press, Cambridges CB2 2RU, 2005), hal. 107.
282

281

109

Dalam bentuk yang paling sederhana kesaksian yang saling menguatkan terjadi apabila dua orang saksi sama-sama memberikan kesaksian dimana masing-masing berdiri sendiri dan berbicara mengenai fakta yang sama, fakta didukung setidak-tidaknya oleh keterangan dua saksi yang memberi keterangan terpisah dan bersesuaian satu sama lain, Secara harfiah corroboration, (saling menguatkan) ini terjadi ketika dua orang saksi yang memberikan keterangan secara bebas menjelaskan yang saling bersesuaian tentang sebuah fakta, istilah tersebut digunakan dalam dua arti:285 1. Untuk menjelaskan keterangan dari seorang atau lebih berkesesuaian dengan dengan saksi sebelumnya; 2. Sebagai penolong dalam mempertahankan sebuah fakta yang didalihkan oleh salah satu pihak dari bantahan yang diutarakan pihak lawan mengenai fakta tersebut. Corroborating evidence mendukung bukti menjadi sebuah dalil, karena telah didukung oleh beberapa alat bukti, bukti yang menguatkan memperkuat keterangan saksi lain, bukti yang menguatkan juga memperkuat atau menambah kredibilitas kesaksian, bukti yang menguatkan dapat mencakup informasi baru dan tambahan.. Aturan bukti yang menguatkan modern mensyaratkan pentinya bukti independen yang akan membangun sebuah pernyataan layak dipercaya.286 Corroboration telah menjadi suatu konsep yang sangat teknis, secara sederhana pelaksanaannya untuk membuktikan keterlibatan seorang terdakwa dalam kejahatan tidak hanya memastikannya dalam beberapa materi khusus, tetapi kejahatan itu benar terjadi dan terdakwalah pelakunya, bukti yang menguatkan diwajibkan oleh undang-undang untuk tindak pidana serta tanpa adanya bukti yang menguatkan tersebut tidak mungkin ada sebuah keyakinan.287 Di Inggris jika pelaku tindak pidan ingin menjadi saksi Ratu dengan memberikan bukti terhadap rekan dalam melakukan kejahatan, hakim pengadilan senantiasa memperingatkan dewan juri sehubungan kesaksian mereka. Karena kesaksian seorang kaki tangan harus didukung bukti yang menguatkan. Hukum

Ibid., hal. 382. United States v. Awan, 2010 U.S. App. LEXIS 12084 (2d Cir. N.Y. June 14, 2010). http://witnesses.uslegal.com/corroboration/, diunduh tanggal 5 Mei 2013. 287 Ibid.
286

285

110

Inggris tidak memiliki doktrin tentang jebakan dan tampaknya tidak ada discretion untuk mengecualikan bukti yang diperoleh tidak layak.288 Dalam rangka menghormati harkat martabat manusia dan melindungi hak asasi manusia dimana penerapan saksi mahkota ini sangat berpontensi melanggar hak hak terdakwa maka dalam pelaksanaanya walaupun sulit, hendaknya dengan prinsip keseimbangan disatu sisi menghormati harkat martabat manusia (terdakwa) dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip hak asasi manusia dan disisi lain untuk melindungi kepentingan umum (masyarakat). Oleh sebab itu untuk menerapakan saksi mahkota sebagai alat bukti dipersidangan maka harus sangat diperhatikan mengenai cara memperoleh kesakaian , apakah dengan cara yang sah atau dengan cara dilarang oleh undang undang, bila cara memperolehnya dengan cara yang melanggar undang undang maka sepantasnya alat bukti ini ditolak oleh pengadilan. Dan satu lagi masalah krusial dalam pembuktian yang mengunakan alat bukti saksi mahkota maka untuk menyatakan kesalahan terdakwa bukan saja berasal dari alat bukti keterangan saksi mahkota tetapi harus adanya bukti lain yang saling menguatkan sehingga dapat dengan jelas menimbulkan keyakinan untuk menyatakan terdakwa bersalah.

C.Perbandingan Kosep Saksi Mahkota Menurut RUU KUHAP dengan Konsep yang Dianut Di Belanda dan Amerika Serikat Dalam rangka pembangunan hukum, diperlukan terlebih dahulu adanya perencanaan hukum (legal planning) yang dapat menampung segala kebutuhan dalam suasana perubahan-perubahan sosial atau dinamika masyarakat, namun sebagaimana menurut Sunaryati Hartono, legal planning itu bukan pekerjaan yang mudah, harus terlebih dahulu kita mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam tentang sistem hukum asing.289 Di sinilah letak perlunya perbandingan hukum comparative law, dengan perbandingan hukum akan memperluas cakrawala berpikir serta memberi kesadaran kepada perencana/pelaksana pembangunan hukum itu bahwa, setiap masalah hukum terbuka lebih dari satu

K. W Lidstone ,Human Right In English Criminal Trial , dalam Human Right In Criminal Procedure A Comparative Study, Jhon A Andrews, ed., (Boston/London : Martinus Nijhoff Publisher, The Hague, 1982), hal. 100. 289 Sunaryati Hartono, Capita Selecta Perbandingan Hukum, (Bandung : Alumni,1992), hal. 3.

288

111

cara untuk mengatasinya apalagi dalam perkembangan kehidupan masyarakat modern sekarang ini.290 Menurut Andi Hamzah manfaat mempelajari perbandingan hukum pidana karena Dunia semakin sepit, hubungan semakin maju dan canggih, kontak budaya, ekonomi, dan militer semakin intensif dan menyatu hubungan hukum pun demikian, bahkan salah satu faktor yang sering dituding sebagai penghalang penanaman modal asing ialah tidak terjaminya kepastian hukum di Indonesia, beberapa aturan hukum dan lembaga perlindungan hukum dipandang tidak selaras dengan perkembangan modern, dengan demikian memperdalam pengetahuan perbandingan hukum pidana sangatlah penting.291 Menurut Peter De Cruz arti penting lain dari metode komparatif : 292

Adapun mengenai pengertian perbandingan hukum berdasarkan beberapa pendapat sarjanan. 1.Orucu mengemukakan suatu definisi perbandingan hukum sebagai berikut:Perbandingan hukum merupakan suatu disiplin ilmu hukum yang bertujuan menemukan persamaan dan perbedaan serta menemukan pula hubungan-hubungan erat antara berbagai sistem-sistem hukum; melihat perbandingan lembaga-lembaga hukum konsep-konsep serta mencoba menentukan suatu penyelesaian atas masalah-masalah tertentu dalam sistem-sistem hukum dimaksud dengan tujuan seperti pembaharuan hukum, unifikasi hukum dan lain-lain) ; 2. Definisi lain mengenai kedudukan perbandingan hukum dikemukakan oleh Zweigert dan Kort yaitu perbandingan dari jiwa dan gaya dari sistem hukum yang berbeda-beda atau lembaga-lembaga hukum yang berbeda-beda atau penyelesaian masalah hukum yang dapat diperbandingkan dalam sistem hukum yang berbeda-beda; 3.Sudarto berpendapat bahwa perbandingan hukum merupakan cabang ilmu dari ilmu hukum dan karena itu lebih tepat mengunakan istilah perbandingan hukum dari istilah hukum perbadingan ; 4. Romli Atasasmita berpedapat bahwa perbandingan hukum adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari secara sistematis dan dengan pendekatan analisis-kritis (critical analysis) terhadap hukum (pidana) dari dua atau lebih sistem hukum dengan mempergunakan metode perbandingan yang bertujuan menemukan unsur persamaan dan perbedaan yang memberikan manfaat baik sisi teoritik maupun praktik. dikutip dari Romli Atasasmita, Perbandingan hukum Pidana Kotemporer, Op., Cit. hal.1215 291 Andi Hamzah, Perbandingan Hukum Pidana Beberapa Negara, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 4. 292 Peter De Cruz, Op.Cit., hal. 28. Menurut Ade Maman Suherman, Perbandingan sistem hukum ditujukan untuk memperoleh suatu pemahaman yang comprehensive tentang semua sistem hukum yang eksis secara global dan paling tidak memperoleh manfaat: (1).Manfaat internal dengan mempelajari perbandingan sistem hukum pidana dapat memahami potret budaya hukum negaranya sendiri dan mengadopsi hal-hal yang positif dari hukum asing guna pembangunan hukum nasional, (2) Manfaat eksternal dengan mempelajari perbandingan sistem hukum, baik individu, organisasi maupun negara dapat mengambil sikap yang tepat dalam melakukan hubungan hukum dengan negara lain yang berlainan sistem hukumnya, (3) Untuk kepentingan harmonisasi hukum dalam pembentukan hukum supranasional. Lihat, Ade Maman Suherman, Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, (Jakarta :PT Raja Grafindo Persada, 2006) , hal. 19.

290

112

Terletak pada apa yang katakan Yntema sebagai Perbaikan dan perluasan terus menerus terhadap pengetahuan kita, yang membentuk sebuah komponen penting bagi pendidikan hukum, dan menurut Paton sebagaimana dikutip Peter Da Cruz bahwa tidak mungkin membayangkan eksistensi yurisprudensi tanpa hukum komparatif, karena semua aliran yurisprodensi, baik yang bersifat historis, filosofis, sosiologis maupun analitis mengandalkan metode penelitian komparatif. Untuk mengetahui sejauh mana konsep RUU KUHAP tentang saksi mahkota dalam melindungi hak asasi manusia serta untuk melihat bagaimana efektifitas keberlakuan suatu kesepakatan dengan terdakwa maka perlu untuk melihat konsep-konsep yang mengatur kesepakatan dengan saksi yang lebih dahulu dilaksanakan dinegara lain, dalam hal ini di Belanda dan Amerika Serikat pemilihan kedua negara tentulah memiliki alasan yang sangat kuat, Belanda kita ketahui bersama bahwa sistem hukum pidana Untuk

Belanda paling

penting dipelajari dalam perbandingan hukum pidana Indonesia karena sumber hukum formil dan materil Indonesia bersumber dari Belanda. Sedangkan Amerika Serikat yang mengganut sistem common law prinsip dasar hukumnya tidak ditemukan dalam undang-undang yang dibuat parlemen dan hanya sebagian kecil ditemukan melalui pernyataan hukum yang sistematik dan terinci yang disahkan oleh badan-badan legislatif atau diberlakukan ketetapaan, sehingga di Amerika Serikat perubahan sistem sosial dan teknologi mendorong sistem hukum kearah beban baru dan kebiasaan baru berakibat pada sistem hukum berubah bersama waktu berganti dan hukum bergerak, berubah sehingga hukum sangat dinamis.293

1.Rancangan Undang Undang Hukum Acara Pidana Indonesia Tahun 2013 Selama ini sistem peradilan pidana Indonesia diberi stigma sebagai menganut sistem inkuisitor (inquisitorial system), sistem ini sering dianggap lebih rendah (inferior) dibanding sistem akusator (accusatorial atau advesaryal system) sistem akusatorial sering diibaratkan konflik antara dua gladiator, atau sebagai duel anggar dimana jaksa menusukan floretnya dan pembela berkewajuban untuk menagkisnya.294
293 294

Lawrence M Friedman, American Law An Introduction, Op.Cit, hal. 20-25. Mardjono Reksodiputro, Pembaharuan Hukum Pidana ,Op. Cit., hal. 110.

113

Namun sesuai konsep yang dianut RUU KUHAP nampak bahwa terjadi kecendrungan beralihnya sistem peradilan pidana kita menunju sistem berimbang (adversary system) hal ini dapat dilihat diantara, ketika kedua pihak, baik penuntut umum maupun terdakwa dan penasihat hukumnya dapat menambah alat bukti baru di sidang pengadilan (seperti saksi a charge dan a de charge), dengan sendirinya tidak diperlukan P 21 (pernyataan penuntut umum bahwa berkas telah lengkap) karena penuntut umum walaupun sidang sudah dimulai, masih dapat meminta bantuan penyidik untuk menambah pemeriksaan seperti pengajuan saksi baru untuk melawan saksi yang diajukan penasihat hukum, jadi benar-benar sistem ini mengharuskan penuntut umum dan penyidik bekerjasama erat untuk suksesnya penuntutan.295 Perubahan dalam RUU KUHAP juga memberikan norma baru tentang saksi mahkota yang sebelumnya tidak diakomodir dalam KUHAP, dengan norma baru ini diharapkan membantu penuntut umum dalam mengungkapkan suatu perkara dengan tidak melupakan hak-hak terdakwa. Meknisme saksi mahkota yang terdapat dalam RUU KUHAP . diatur dalam bagian Ketujuh dalam Pasal 200 : (1)Salah seorang tersangka atau terdakwa yang peranannya paling ringan dapat dijadikan Saksi dalam perkara yang sama dan dapat dibebaskan dari penuntutan pidana, apabila Saksi membantu mengungkapkan keterlibatan tersangka lain yang patut dipidana dalam tindak pidana tersebut. (2)Apabila tidak ada tersangka atau terdakwa yang peranannya ringan dalam tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka tersangka atau terdakwa yang mengaku bersalah berdasarkan Pasal 199 dan membantu secara substantif mengungkap tindak pidana dan peran tersangka lain dapat dikurangi pidananya dengan kebijaksanaan hakim pengadilan negeri. (3)Penuntut umum menentukan tersangka atau terdakwa sebagai saksi mahkota. Pengertian saksi mahkota dalam pasal 200 RUU KUHAP diatas dapat diartikan sesuai pertama ayat (1), saksi mahkota seorang tersangka atau terdakwa yang peranannya paling ringan dapat dijadikan saksi dalam perkara yang sama, menurut RUU KUHAP terhadap saksi mahkota ini dapat diberikan kekebalan dalam penuntutan apabila saksi membatu mengungkapkan keterlibatan tersangka
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Laporan Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, (Jakarta: Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI , 2006), hal. 7.
295

114

lain yang patut dipidana dalam tindak pidana tersebut. Kedua dalam ayat (2) saksi mahkota diartikan sebagai apabila tidak ada tersangka ataua terdakwa yang peranya paling ringan maka tersangka atau terdakwa yang mengaku bersalah dan membantu secara subtantif mengungkap tindak pidana dan peran tersangka lain maka sesuai dalam RUU KUHAP terhadap tersangka atau terdakwa yang membantu secara subtantif mengungkap tindak pidana dan peran tersangka lain di berikan pengurangan hukuman sesuai kebijaksanaan hakim. Apabila dilihat dari subtansi Pasal 200 RUU KUHAP tersebut maka dapat dilihat bahwa untuk penerapan saksi mahkota ini sangat berkaitan dengan ajaran penyertaan dimana terdapat dua orang atau lebih yang melakukan tindak pidana, dan menurut Moeljatno penyertaan barulah ada jika bukan satu orang saja yang tersangkut dalam dalam terjadinya penyertaaan delik atau perbuatan kriminal, tetapi terdapat beberapa orang yang mempunyai saham .296 Ketentuan tentang saksi mahkota yang dituangkan di dalam Pasal 200 Rancangan KUHAP sesuai dengan asas oportunitas juga yang dianut di Indonesia. Tentu hal ini harus disampaikan penuntut umum kepada hakim, karena penuntut umum yang menentukan terdakwa dijadikan saksi mahkota.297 Menurut asas oportunitas, jaksa berwenang menuntut dan tidak menuntut suatu perkara ke pengadilan, baik dengan syarat maupun tanpa syarat. The public prosecutor may decide conditionally or unconditionally to make prosecution to court or not. Jadi dalam hal ini penuntut umum tidak wajib menuntut seseorang melakukan tindak pidana jika menurut pertimbangannya akan merugikan kepentingan umum, dengan demi kepentingan umum seseorang yang melakukan tindak pidana, tidak dituntut.298 Asas oportunitas ini sumber asalnya Perancis melalui Netherland dimasukkan ke Indonesia sebagai hukum kebiasaan (hukum tidak tertulis) dilanjutkan sampai masa penjajahan Jepang dan masa kemerdekaan s/d tahun

Moeljatno, Op. Cit., hal. 5. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Naskah Akademik Rancangan Undang Undang Tentang Hukum Acara Pidana, Op, Cit, hal. 27. 298 Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Laporan hasil kerja Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Op. Cit., hal. 8.
297

296

115

1961 sekarang dalam Undang Undang No.16 Tahun 2004 asas ini masih dicantumkan.299 Ide implementasi asas oportunitas terhadap pelaku korupsi yang kooperatif sebaiknya mempergunakan konsepsi protection of cooperating persons, konsep ini dilaksanakan di Eropa, seperti Belanda dan Italia berupa diterapkan saksi mahkota (kroongetuige) tersangka/terdakwa yang dijadikan saksi karena mau membongkar kejahatan terorganisir teman-temannya, imbalannya ialah ia dikeluarkan dari daftar terdakwa dan dijadikan saksi.300 Protection of reporting persons sebagai dasar introdusir dalam sistem hukum pidana indonesia kelak, karena konsep protection of cooperating persons memilki keterkaitan dengan saksi mahkota dengan penerapan ajaran deelneming (penyertaan) pada Pasal 55 KUHP.301 Berdasarkan United Nations Convention Againts Corruption (2003), yang telah diratifikasi pada bulan Maret tahun 2006, memberikan beberapa tipe/bentuk perlindungan hukum dalam kaitannya dengan tindak pidana korupsi, yaitu :302 (1) protection of Witnesses, Experts dan Vitims (Pasal 32), (2) protection ofReporting Persons (Pasal 33), dan (3) Protection of Cooperating persons (Pasal 37). Pasal 37 memilki persamaan dengan ide yang dikemukakan oleh Jaksa Agung RI, hanya legalitas perlindungannya tidak didasarkan asas oportunitas. Disebutkan Pasal 37 bahwa (terjemahan bebas) : Pasal 37 ayat 2 : Setiap Negara Peserta wajib mempertimbangkan memberikan kemungkinan dalam kasus yang tertentu, mengurangi hukuman dari seorang tertuduh yang memberikan kerjasama yang substansial dalam penyelidikan atau penuntutan suatu kejahatan yang ditetapkan berdasarkan konvensi ini. Pasal 37 ayat 3 : Setiap Negara Peserta wajib mempertimbangkan kemungkinan, sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Hukum Nasional, untuk memberikan kekebalan (immunity) dari penuntutan bagi orang yang memberikan kerjasama yang substansial dalam penyelidikan atau penuntutan suatu kejahatan yang ditetapkan berdasarkan Konvensi ini.

299 300

Ibid., hal. 71 . Ibid., hal. 84. 301 Ibid., hal. 86. 302 Indriyanto Seno Adji, KUHAP Dalam Prospektif, Op.Cit., hal. 198.

116

Sehingga bentuk perlindungan terhadap orang-orang yang bekerjasama dengan penegak hukum dikategorikan dengan dua macam, yaitu bagi seorang Terdakwa (juga terpidana) dengan pemberian pengurangan hukuman (mitigating

punishment),dan seorang Terdakwa dengan pemberian kekebalan dari penuntutan (immunity from Prosecution). Mencari suatu justifikasi untuk implementasi asas oportunitas terhadap Cooperating Offenders tidaklah tepat berdasarkan pertimbangan demi kepentingan umum yang maknanya multi-tafsir maka arah introdusir konsepsi protection of coperating persons dengan memberikan suatu keterkaitan crown witness serta peran terkecil dalam asas deelneming adalah lebih ditolerir arahnya, karenanya konsep ini tetap memerlukan dukungan kebenaran norma dan asas due process of law enforcement dengan memperhatikan prinsip rule of law.303 2. Belanda Hukum acara pidana Belanda adalah bagian dari tradisi (sistem hukum) Eropa-kontinenal (civil law) dapat digambarkan sebagai sistem inquisitoir moderat, karena hakim berkewajiban untuk secara mandiri/otonom mencari dan mengungkap kebenaran (materiil) tidak secara pasif duduk dikursi mendengarkan bagaimana para pihak dalam perkara Openbaar Ministerie (OM/kejaksaan) dan pembelaan menguraikan duduk perkara dari sudut pandang mereka masingmasing, konsekuensi kedua dari dianutnya sistem acara yang bersifat inquisitoire ialah kuatnya kedudukan dan posisi OM dalam setiap tahapan proses pemeriksaan perkara. OM tidak saja memimpin dan mengendalikan jalannya penyidikan, namun merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang menetapkan apakah penuntutan akan dilanjutkan atau tidak.304 Menurut Andi Hamzah, di Belanda pengaturan mengenai saksi mahkota atau yang dikenal dengan istilan kroongetuige awalnya belum diatur didalam pada KUHAP Belanda, sehingga dalam pelaksanaanya didasarkan pada doktrin dan

Ibid., hal. 90. Jan Crijns, Kesepakatan Dengan saksi dalam Proses Pidana Kesepakatan dengan Saksi dalam Peradilan Pidana Belanda dan Pelajaran yang mungkin dapat dipetik Oleh Indonesia , dalam Hukum Pidana dalam Perspektif, Agustinus Pohan, Topo Santoso, Martin Moerings. Ed., (Denpasar: Pustaka Larasan; Jakarta: Universitas Indonesia, Universitas Leiden, Universitas Groningen, 2012), hal. 160-161.
304

303

117

yurisprudensi dengan payung hukumnya asas oportunitas yang ada pada jaksa.305 Saksi mahkota yang dikenal dalam praktik pengadilan di Belanda adalah salah seorang terdakwa yang paling ringan perananya dalam pelaksanaan kejahatan itu, misal delik narkoba atau terorisme dikeluarkan dari daftar terdakwa dan menjadi saksi, dasar hukumnya asas oportunitas yang ada ditangan jaksa untuk menuntut atau tidak menuntut seorang dipengadilan baik dengan syarat maupun tanpa syarat.306 Di Belanda landasan hukum formal mengenai saksi mahkota melalui proses panjang sebelum diundangkan pada 2005 dan diberlakukan sejak 1 April 2006,307 sebelum tanggal tersebut kesepakatan dengan saksi mahkota sudah kerap digunakan, satu dan lain karena diam-diam dibiarkan oleh Hoge Raad.308 Landasan perundang-undangan yang memungkinkan dibuatnya kesepakatan dengan saksi dapat ditemukan dalam ketentuan Pasal 226g sampai dengan 226l KUHAP Belanda.309 Pranata hukum atau instrumen kesepakatan ini selalu berkenaan dengan saksi yang sekaligus berkedudukan sebagai tersangka/terdakwa.310 Atas dasar ketentuan Pasal 226g (1) KUHAP Belanda, jaksa penuntut

umum berwenang untuk membuat kesepakatan demikian hanya bila berhadapan dengan kriminalitas berat, atau lebih konkretnya, 1) dalam hal adanya persangkaan (verdenking) dilakukan kejahatan yang diancam dengan sekurangkurangnya 8 tahun penjara; 2) atau dalam hal adanya persangkaan dilakukannya kejahatan yang diancam dengan sekurangkurangnya 4 tahun penjara dan yang diperbuat dalam ikatan atau jaringanyang terorganisir.311 Petunjuk pelaksanaan pembuatan kesepakatan dengan saksi dalam perkara pidana (Aanwijzing toezeggingen aan getuigen in strafzaken) diterbitkan Kejaksaan Agung (College van procureurs-generaal, yang merupakan organ tertinggi dari Openbaar Ministerie. Dalam petunjuk pelaksanaan diuraikan lebih
305 306

Hasil Wawancara, tanggal 9 April 2013 . Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Op. Cit., hal. 272. 307 Wet toezeggingen aan getuigen in strafzaken van 12 mei 2005, Staatsblad 2005, 254, mulai berlaku 1 April 2006. 308 Jan Crijns, Op.Cit., hal. 156. 309 Ibid., hal. 162. 310 Ibid., hal. 155. 311 Ibid., hal. 163.

118

rinci mengenai aturan yang mengikat jaksa penuntut umum dalam pembuatan kesepakatan dengan saksi. Sedangkan hakim berwenang menguji apakah jaksapenuntut umum secara nyata bertindak selaras dengan aturan-aturan yang termuat di dalam petunjuk pelaksanaan, dan bila ternyata tidak maka hakim berwenang memutus bahwa kesepakatan yan dibuat dengan saksi melanggar hukum.312 Di negeri Belanda dianut asas oportunitas menurut Pasal 167 ayat (2) Ned.SV, walaupun tidak tegas diatur tentang kemungkinan dilekatkannya syaratsyarat penerapan asas itu, namun dalam praktek diterapkan oleh penuntut umum sebagai hukum tidak tertulis,313Belanda memperluas lagi penerapan asas oportunitas dengan ketentuan baru bahwa semua perkara yang ancaman pidananya dibawah 6 tahun penjara dapat di afdoening, tidak hanya perkara ringan saja. Penyelesaian perkara berdasarkan asas oportunitas dengan cara mengenakan denda administratif, dapat menambah pendapatan negara, mengurangi jumlah perkara di pengadilan, dan mengurangi jumlah narapidana.314 Jaksa Belanda boleh memutuskan akan menuntut atau tidak akan menuntut perkara dengan atau tanpa syarat, secara garis besar ada 3 kategori penyampingan perkara di Belanda, yaitu 315: 1. Perkara dikesampingkan karena alasan kebijakan (police),yang meliputi perkara ringan, umur terdakwa sudah lanjut (tua) dan kerusakan telah diperbaiki/kerugian diganti. 2. Alasan teknis (tidak cukup bukti, lewat waktu dan lain lain). 3. Perkara digabung dengan perkara lain. Di Belanda ada pembatasan penting berkenaan dengan imbalan apa yang dapat ditawarkan jaksa penuntut umum kepada saksi yang diminta memberi keterangan, pembatasan terpentingnya ialah larangan menawarkan imbalan

imunitas (kekebalan) mutlak dalam penuntutan pidana, dalam arti saksi tidak akan dituntut atas kejahatan dimana ia berkedudukan sebagai tersangka. Pembatasan

Ibid., hal. 162. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Laporan hasil kerja Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Op.Cit., hal. 33. 314 Ibid., hal. 36. 315 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Op. Cit., hal. 38.
313

312

119

ini, berarti saksi yang membuat kesepakatan dengan jaksa penuntut umum tetap akan dituntut atas tindak pidana yang disangkakan terhadapnya.316

3. Amerika Serikat Hukum Amerika Serikat merupakan keturunan langsung dari hukum Inggris yang dibawa kebenua baru oleh pemukim-pemukim Inggris pada abad ke-17 dan ke-18, secara formil diterima sebagai dasar hukum oleh negara-negara yang bergabung dalam dalam Amerika Serikat sesudah revolusi Amerika.317 Sering dikatakan bahwa hukum Amerika, seperti hukum Inggris adalah sangat empiris dalam metodenya, bahwa hukum itu melangkah maju dari kasus ke kasus dan dari masalah ke masalah, mencari pemecahan-pemecahan praktis dengan tudak mengacu kepada perangkat doktrin doktrin yang sistematis atau suatu teori yang komperhensif.318 Sebelum digelar suatu peradilan pidana undang undang federal dan negara bagian mengaharuskan serangkaian prosedur dan acara, beberapa negara bagian diharuskan oleh konstitusi AS dan konstitusi negara bagian, ada negara bagian yang diharuskan oleh keputusan pengadilan, dan lainnya oleh undang undang legislatif yang berlaku, sisanya sering ditentukan oleh kebiasaan dan tradisi.319 Model pencarian dan pengajuan bukti didasarkan pada asumsi bahwa setiap kasus atau kontroversi memiliki dua sisi : dalam kasus pidana pemerintah mengklaim bahwa terdakwa bersalah sementara terdakwa mempertahankan ketidak bersalahanya, diruang pengadilan masing-masing pihak memberi kesaksian dari sisi yang sebagaimana dilihatnya, teori (atau harapan) yang mendasari ini adalah bahwa kebenaran akan muncul jika masing-masing pihak diberi kesempatan penuh untuk mengajukan kumpulan bukti-bukti, fakta dan

Jan Crijs, Op, Cit, hal. 163-164. Harold J .Berman, Latar Belakang Hukum Amerika Serikat, Dalam Ceramah Radio oleh Profesor-Profesor Harvard Law School, Disusun oleh Harold J. Berman diterjemahkan oleh Gregory Churchill, J.D,( Jakarta :Tatanusa, 2008), hal. 4. 318 Harold J .Berman,Segi-segi Filosofis, Dalam Ceramah Radio oleh Profesor-Profesor Harvard Law School, Disusun oleh Harold J. Berman diterjemahkan oleh Gregory Churchill, J.D. (Jakarta: Tatanusa, 2008), hal. 262. 319 Biro Program Informasi Internasional Departemen Luar Negeri AS, Garis besar Sistem Hukum Amerika Serikat, Diadaptasi dari [Jucial Process In America] ,( Jakarta: 2001), hal .97.
317

316

120

argumument didepan hakim (dan juri) yang netral dan sungguh-sungguh memberikan perhatian.320 Di Amerika Serikat tidak dikenal istilah saksi mahkota, namun untuk terdakwa setuju untuk bekerjasama dalam penyidikan dan penuntutan terhadap orang lain disebut cooperators (ko-konspirator).321 Selain itu juga dikenal istilah state witness untuk mereka yang bekerja dengan penuntut umum untuk menjadi saksi kunci dalam membuka suatu perkara, sehingga state winess ini tidak diterapkapkan untuk semua perkara dan pelaksanaanya dilakukan bargaining power oleh jaksa penuntut dan di ketahui oleh hakim.322 Untuk melihat bagaimana ketentuan cooperators maka dapat kita liat beberapa putusan pengadilan di Amerika Serikat yang berhubungan dengan cooperators:323 1. United States v. Reid, 19 F. Supp. 2d 534, 537 (E.D. Va. 1998) (It is naive to assume that most co-conspirators would be so altruistic as to abandon their own self interest and testify for the very government that seeks a stiff sentence against them without a bargain being made.) Amerika Serikat v Reid, 19 F. Supp. 534 2d, 537 (E.D. Va 1998) ("Adalah naif berasumsi bahwa orang yang turut melakukan kejahatan akan secara sukarela mengabaikan kepentinganya sendiri dan bersaksi pada pihak pemerintah , walapun mengakui bahwa pemeriksaan sidang berusaha untuk membuktikan kesalahan dan menjatuhkan kesalahan terhadap mereka, apabila tidak dilakukan dengan kekuatan tawar menawar) 2. United States v. Cervantes-Pacheco, 826 F.2d 310, 315 (5th Cir. 1987) (en banc) (No practice is more ingrained in our criminal justice system than the practice of the government calling a witness who is an accessory to the crime for which the defendant is charged and having that witness testify under a plea bargain that promises him a reduced sentence.) Amerika Serikat v Cervantes-Pacheco, 826 F.2d 310, 315 (Cir 5th 1987.) (En banc) ("Tidak ada praktek yang lebih mendarah daging dalam sistem peradilan pidana kita dari pada praktek pemerintah memanggil saksi yang merupakan aksesori kejahatan untuk membebankan terdakwa dan saksi yang memberi kesaksian dibawah tawar-menawar dijanjikan berkurangnya hukuman")
Ibid., hal. 105. Hasil Wawancara dengan Kevin Ricardson, Tanggal 21 Maret 2013. 322 Hasil Wawancara, Tanggal 3 April 2013 323 Dikutip dari: Hon. H. Lloyd King, Jr, Why Prosecutors are Permitted To offer Witness Inducements, A matter Of constitutional Authority, hal 155, www.law.stetson.edu/.../whyprosecutors-are-, diunduh 20 Januari 2013.
321 320

dengan

121

3. Lisenba v. California, 314 U.S. 219, 227 (1941) (holding that there is no due process violation where an accomplice confesses and testifies against a defendant in return for leniency); Brady v. United States, 397 U.S. 742, 75153 (1970) ([We] cannot hold that it is unconstitutional for the State to extend a benefit to a defendant who in turn extends a substantial benefit to the state. Lisenba v California, 314 US 219, 227 (1941) Lisenba v. California, 314 U.S. 219, 227 (1941) (menurut pendapat bahwa tidak ada pelanggaran due process di mana kaki tangan mengakui dan memberi kesaksian terhadap terdakwa dengan imbalan keringanan hukuman), Brady v Amerika Serikat, 397 US 742, 751-53 (1970) ("[Kami] tidak bisa percaya bahwa itu adalah inkonstitusional bagi Negara untuk memperluas manfaat kepada terdakwa yang pada gilirannya memperluas manfaat besar untuk negara. " 4. United States v. Dailey, 759 F.2d 192, 196 (1st Cir. 1985) (recognizing that co-defendants are frequently the most knowledgeable witnesses available to testify about criminal activity); Reid, 19 F. Supp. 2d at 538 ([T]here are situations where those individuals [co-conspirators] may be the only credible witnesses of criminal activity and,without their testimony, the government would not be able to obtain convictions.) United States v. Dailey, 759 F.2d 192, 196 (1st Cir. 1985) (mengakui bahwa co-defendants kebanyakan memiliki pengetahuan untuk bersaksi tentang kegiatan kriminal), Reid, 19 F. Supp. 2d di 538 ("[T] di sini adalah situasi di mana orang-orang [co-konspirator] mungkin menjadi satu-satunya saksi yang kredibel kegiatan kriminal dan, tanpa kesaksian mereka, pemerintah tidak akan dapat memperoleh keyakinan.") Dari putusan diatas menurut Hon. H. Lloyd King, Jr berpendapat, cooperators memilih untuk bekerjasama dengan jaksa karena mereka memiliki harapan untuk menerima beberapa keuntungaan dari usaha-usaha mereka, baik dalam bentuk hadiah, kekebalan atau pengurangan hukuman atas kejahatan mereka. Kewenangan jaksa untuk menawarkan motivasi kepada para saksi dalam pertukaran untuk kesaksian memiliki sejarah panjang untuk diterima dalam yurisprudensi Amerika. Mahkamah Agung, secara tradisional mengakui perjanjian saksi pancingan diperbolehkan dalam konstitusi merupakan

kewenangan kejaksaan, dan pengadilan telah mengakui pentingnya perjanjian tersebut dalam mengamankan kesaksian dari saksi penting untuk penuntutan kejahatan konspirasi.324

324

Ibid., hal.156.

122

Jaksa Amerika (US Attorney, County Attorney, District Attorney dan State Attorney) yang tidak mengenal asas oportunitas namun mengenal plea bargaining yang menentukan jaksa dapat mengurangi tuntutan dengan adanya pengakuan terdakwa, dalam pelaksanaanya ketika jaksa sudah merasa memiliki kasus yang cukup kuat dengan beberapa orang saksi yang mendukung dan bersedia memberikan kesaksian melawan terdakwa, pemerintah menawarkan kepada terdakwa untuk hadiri di pengadilan dengan syarat mengakui kesalahanya apabila terdakwa bersedia mengakui kesalahanya hakim akan menjatuhkan hukuman (hanya hakim yang diberikan kewenangan menjatuhkan hukuman),325 sebaliknya apabila tertuduh menyatakan tidak mengakui bersalah maka perkara dilanjutkan dan diadili dengan mempergunakan sistem juri. Mekanisme plea bargaining diyakini membawa keuntungan, baik untuk terdakwa maupun untuk masyarakat. Keuntungan bagi terdakwa adalah dirinya bersama penuntut umum bisa menegosiasikan hukuman yang pantas baginya. Masyarakat diuntungkan karena mekanisme ini akan menghemat biaya pemeriksaan di pengadilan, dimana terdakwa mengakui perbuatannya dan tetap akan mendapatkan hukuman. Meskipun hukuman yang diberikan rata-rata lebih sedikit dari apa yang akan diputus hakim jika melalui proses pengadilan konvensional, namun disisi lain mekanisme ini dapat memberikan efek terhadap proses peradilan pidana karena penuntut umum mempunyai waktu lebih banyak dan bisa menangani lebih banyak perkara. Romli Atmasasmita dengan bertitik tolak pada batasan dari Bryan Garner, Albert Alschuler, Harvard Law Riview, F. Zimring and R. Frase dan Welsh S. White menyimpulkan tentang plea bargaining beberapa hal sebagai berikut326: 1.Bahwa plea bargaining ini pada hakikatnya merupakan suatu negosiasi antara pihak penuntut umum dengan tertuduh atau pembelanya ; 2.Motivasi negosiasi tersebut yang paling utama ialah untuk mempercepat proses penanganan perkara pidana ; 3.Sifat negosiasi harus dilandaskan pada kesukarelaan tertuduh untuk mengakui kesalahannya dan kesediaan penuntut umum memberikan ancaman hukuman yang dikehendaki tertuduh atau pembelanya ;

Marwan Effendi, Kejaksaan RI Posisi dan Fungsinya Dari Prespektif Hukum, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), hal. 84 . 326 Romli Atasasmita, Sistem Peradilan Pidana Kotemporer, Op. Cit., hal .127-128.

325

123

4.Keikutsertaan hakim sebagai wasit yang tidak memihak dalam negosiasi dimaksud tidak diperkenankan. D.Analisis Perbandingan Konsep Saksi Mahkota Dalam RUU KUHAP Indonesia, dengan di Belanda dan Amerika Serikat 1. Justifikasi Keberadaan Saksi Mahkota Secara subtansi dalam RUU KUHAP terjadi perubahan yang sangat signifikat mengenai konsep saksi mahkota dengan konsep mengenai saksi mahkota yang selama ini dikenal dalam proses persidangan di Indonesia apabila dilihat konsep saksi mahkota dalam RUU KUHAP hampir mirip dengan konsep saksi mahkota yang di kenal di Italia,327pemikiran konsep saksi mahkota ini untuk memperbaiki konsep yang selama ini digunakan di peradilan mengartikan saksi mahkota, terdakwa bergantian menjadi saksi atas kawan berbuatnya yang bertentangan dengan asas non self incrimination. Selain memasukuan ketentuan tentang saksi mahkota RUU KUHAP juga memasakukan konsep pengakuan dan pengurangan hukuman mirip dengan sistem plea bargaining, hal ini tercantum di dalam 197 RUU KUHAP dengan judul jalur khusus memuat ketentuan, Pada saat penuntut umum membacakan surat dakwaan, terdakwa mengakui semua perbuatan yang didakwakan dan mengaku bersalah melakukan tindak pidana yang ancaman pidana yang didakwakan tidak lebih dari tujuh tahun penjara, penuntut umum dapat melimpahkan perkara ke sidang acara pemeriksaan singkat. Pidana yang dijatuhkan tidak boleh lebih dari 2/3 dari maksimum,di sinilah letak pengakuan yang memberi keuntungan (semacam plea bargaining).

Menurut Andi Hamzah konsep saksi mahkota di Italia Saksi mahkota ialah salah seorang tersangka/terdakwa yang paling ringan perannya dalam delik terorganisasikan yang bersedia mengungkap delik itu, dan untuk jasanya itu dia dikeluarkan dari daftar tersangka/terdakwa dan dijadikan saksi. Jika tidak ada peserta (tersangka/terdakwa) yang ringan perannya dan tidak dapat dimaafkan begitu saja, tetap diambil yang paling ringan perannya dan dijadikan saksi kemudian menjadi terdakwa dengan janji oleh penuntut umum akan menuntut pidana yang lebih ringan dari kawan berbuatnya yang lain. Demikian ketentuan undang-undang Italia tentang saksi mahkota, lebih lanjut. Lihat Naska Akademik RUU KUHAP, Op.Cit., hal 26, bandingkan dengan Pasal 200 RUU KUHAP versi 2013.

327

124

Selain memuat ketentuan saksi mahkota, RUU KUHAP juga mengadopsi mekanisme semacam plea bargaining yang ada di Amerika Serikat,328dengan adanya konsep ini maka antara penuntut umum dan saksi mahkota dapat melakukan negosiasi kesepakatan bersalah dari terdakwa sebagai imbalan bagi janjinya jaksa penuntut untuk meminta hukuman lebih ringan kepada hakim, yang dapat mendorong terdakwa untuk mau duduk sebagai saksi mahkota karena dengan adanya kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian tersebut memberi harapan kepada terdakwa akan adanya imbalan keringanan hukuman. Di Amerika Serikat jaksa dapat menghentikan penuntutan atau berkompromi (plea bargaining),329terdakwa dapat mengaku bersalah sebelum persidangan di mulai. Jika Jaksa setuju, maka ia dapat mengurangi dakwaan atau memberi rekomendasi kepada pengadilan agar menjatuhkan pidana yang lebih ringan.330 Praktek plea bargaining, di Amerika Serikat terjadi pada periode arraignment dan preliminary hearing, apabila tertuduh menyatakan dirinya bersalah atas kejahatan yang dilakukan proses selanjutnya adalah penjatuhan hukuman tanpa melalui trial, periode arraignment on information or indictment ini merupakan suatu proses singkat guna mencapai dua tujuan yaitu ; 331 1) Memberitahukan kepada tertuduh perihal tuduhan yang dijatuhkan padanya; dan
Menurut Albert Alschuler secara teliti telah mengungkapkan sejarah plea bargaining system. Pada bagian pertama dari artikelnya, Plea Bargaining and Its History (1979),. Pada masa common law, terhadap seorang tertuduh telah diberikan perlakuan yang tidak kejam, karena ia telah membantu penuntut umum dalam melakukan penuntutan terhadap orang lain dalam perkara tertentu, akan tetapi bukanlah karena ia (tertuduh) telah mengakibatkan penuntutan menjadi lebih mudah, atu karena ia (tertuduh) telah berbuat baik terhadap si korban, terhadap siapa ia melakukan kejahatan. Selanjutnya, Alschuler mengemukakan, bahwa semula plea bargaining ini muncul pada pertengahan abad ke-19, dan kemudian dikenal dalam bentuknya seperti sekarang ini. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sistem ini sangat berperanan dalam mengatasi kesulitan menangani perkara pidana. Bahkan pada sekitar tahun 1930, pengadilan di Amerika Serikat sangat bergantung pada sistem ini. Pada tahun 1958, Mahkamah Agung (Supreme Court of Justice) Amerika Serikat pernah menyatakan bahwa praktik plea bargaining adalah ilegal. Akan tetapi atas keberatan Departemen Kehakiman (Department of Justice) kehendak tersebut tidak dilaksanakan. Bahkan akhirnya pada tahun 1970, Mahkamah Agung menyatakan pendapatnya, bahwa plea bargaining was inherent in the criminal law and its administration (Brad v. United States, 397 U.S. 742 (1970). Hingga saat ini tidak ada perhatian yang sungguh-sungguh untuk menghapuskan sistem ini, oleh karena adanya sistem tersebut tampaknya telah diperoleh suatu fair trail dan accurancy dalam penangnan perkara pidana. Lihat Romli Atasasmita, Sistem Peradilan Pidana Kotemporer, Op, Cit., hal. 118-119. 329 Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Laporan Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana, Op. Cit., hal. 17. 330 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana di Indonesia, Op.Cit., hal. 50. 331 Romli Atasasmita, Sistem Peradilan Pidana Kotemporer, Op.Cit, hal .124.
328

125

2) Memberikan kesempatan pada tertuduh untuk menjawab tuduhan tersebut dengan menyatakan: not guilty atau guilty atau nolo contendence (no contest). Pada tingkat negara bagian dan federal paling tidak 90 persen dari semua kasus tindak pidana tidak pernah sampai ke pengadilan, ini karena sebelum peradilan dimulai kesepakatan telah tercapai antara penuntut umum dan pengacara terdakwa mengenai dakwaan resmi yang yang dikenakan dan sifat hukum yang dianjurkan negara bagian kepada pengadilan, pada prinsipnya dijanjikan suatu bentuk keringan sebagai imbalan untuk penyataan bersalah .332 terdapat tiga (tidak ekslusif secara timbal balik ) tipe kesepakatan pernyataan bersalah. 333 a.Pengurangan dakwaan, bentuk kesepakatan ini paling umum antara seorang jaksa penuntut umumdan seorang terdakwa adalah pengurangan dakwaan menjadi lebih ringan dari pada yang didukung oleh bukti-bukti; b.Penghapusan dakwaan yang tak relevan, bentuk kedua dari kesepakatan pernyataan bersalah adalah persetujuan jaksa wilayah untuk

membatalkan dakwaan terhadap seseorang, terdapat dua varian mengenai tema ini, pertama perjanjian untuk tidak menuntut secara vertikal yakni, tidak mengajukan dakwaan lebih serius terhadap orang tersebut, kedua menolak dakwaan horisontal yakni menolak dakwaan tambahan untuk kejahatn yang sama oleh terdakwa.; c. Penawaran hukuman, bentuk ketiga dari kesepakatan bersalah dari terdakwa sebagai imbalan bagi janjinya jaksa penuntut untuk meminta hukuman lebih ringan kepada hakim. Sedangkan di Belanda dalam sistem hukumnya tidak mengenal adanya plea bargaining, sehingga di Belanda dilakukan pembatasan kepada jaksa penuntut umum berkenaan dengan imbalan yang dapat ditawarkan pada saksi, pembatasan ini berpengaruh terhadap kesediaan saksi untuk menimbang-nimbang apakah ia akan bekerjasama dengan yustisi atau tidak.334

332 333

Biro Program informasi Internasional Departemen Luar Negeri AS, Op.Cit., hal .112. Ibid . 334 Jan Crijns, Op. Cit., hal. 171.

126

Tetapi jaksa di Belanda boleh memutuskan akan menuntut atau tidak menuntut perkara dengan atau tanpa syarat, wewenang tersebut didasarkan atas tiga hal, Pertama dakwaan dicabut karena alasan kebijakan (antara lain, tindak pidananya tidak seberapa, pelakunya sudah tua, dan kerugian sudah diganti). Kedua, perkara dikesampingkan karena alasan teknis (biasanya lebih dari 50 persen karena buktinya kurang). Ketiga, melalui penggabungan, yaitu menggabungkan perkara tersangka dengan perkaranya yang sudah diajukan ke pengadilan. 335 Ketentuan tentang saksi mahkota yang dituangkan di dalam Pasal 200 RUU KUHAP sesuai dengan asas oportunitas, di Indonesia asas oportunitas hanya diberikan kepada Jaksa Agung RI karena alasan kebijakan (policy), yaitu guna mencegah penyalahgunaan kebijaksanaan (diskresi) penuntutan. Oleh karena itu jaksa yang ingin menggunakan wewenang tersebut untuk mengesampingkan perkara yang saksi dan buktinya cukup, harus memohon kepada Jaksa Agung untuk mengesampingkan perkara demi kepentingan umum. Namun disayangkan bahwa Jaksa Agung RI sangat jarang menggunakan wewenang tersebut.336 Menurut KUHAP dibenarkan yaitu :337 1.Penghentian penuntutan karena alasan teknis menurut Pasal 140 ayat (2) KUHAP; a. kalau tidak cukup bukti-buktinya; b. kalau peristiwanya bukan merupakan tindak pidana; c. kalau perkaranya ditutup demi hukum. (tersangkanya meningal dunia, dan neb is in idem). 2.Penghentian penuntutan karena alasan kebijakan. Penuntut Umum menghubungkan kewenangan melakukan penuntutan pidana dengan kepentingan masyarakat (umum) dan kepentingan ketertiban hukum Di Indonesia penerapan asas oportunitas oleh Jaksa Agung didasarkan atas Undang - Undang Kejaksaan sebagai peraturan yang mengatur mengenai pokokterdapat dua macam keputusan tidak menuntut yang

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Laporan hasil kerja Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Op.Cit., hal. 47. 336 Ibid., hal. 93-94. 337 Ibid ,. hal.11-12.

335

127

pokoknya,338mengenai perlu atau tidaknya pengaturan yang lebih rinci dan konkret hal itu diserahkan Jaksa Agung.339 Namun pengaturan yang lebih rinci seharusnya dilakukan, hal ini didasarkan pada perkembangan di beberapa negaranegara maju, seperti Belanda, Inggris, Amerika, Australia memberikan perincian yang konkret terkait makna kepentingan umum/public interest. Dilihat dari bentuk kewenangannya, jika memperbandingkan antara penghentian perkara pidana di Belanda, Amerika, Inggris, Australia dengan penerapan asas oportunitas oleh Jaksa Agung di Indonesia, karakternya yang diskresional tentu sama namun perbedaannya terlihat pada kejelasan makna kepentingan umumnya.340 Menurut Pedoman Pelaksanaan KUHAP (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP) memberikan penjelasan sebagai berikut Dengan demikian kriteria demi kepentingan umum dalam penerapan asas oportunitas di negara kita adalah didasarkan untuk kepentingan negara dan masyarakat dan bukan untuk kepentingan masyarakat.

338

Menurut Andi Hamzah mengatakan bahwa: ".... sama dengan zaman kolonial yang hanya Jaksa Agung (Procureur Generaal) yang boleh menyampingkan perkara demi kepentingan umum. Wewenang itu tidak diberikan kepada Jaksa biasa. Hal itu disebabkan tidak dipercayainya mereka melaksanakan yang demikian penting itu. Sedangkan kewenangan mengesampingkan perkara yang berada pada Jaksa Agung ini sejak berlaku Undang-undang Nomor 15 Tahun 1961 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kejaksaan Republik Indonesia, kemudian termaktub dalam Undangundang Nomor 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, terakhir dalam Pasal 35 huruf c Undangundang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, yang menyatakan bahwa Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang mengesampingkan perkara demi kepentingan umum. Menurut Penjelasan Pasal 35 huruf c Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, mengesampingkan perkara merupakan pelaksanaan asas oportunitas yang hanya dapat dilakukan oleh Jaksa Agung setelah memperhatikan saran dan pendapat dari badan-badan kekuasaan negara yang mempunyai hubungan dengan masalah tersebut. Hal ini berarti kewenangan mengesampingkan perkara hanya ada pada Jaksa Agung dan bukan pada Jaksa di bawah Jaksa Agung (vide Penjelasan Pasal 77 KUHAP). Dengan penjelasan ini semakin tidak jelas pelaksanaan asas oportunitas itu. Dengan adanya kata-kata: Setelah memperhatikan saran dan pendapat dari badan-badan kekuasaan negara yang mempunyai hubungan dengan masalah tersebut menjadi makin kabur pengertiannya. Menjadi kabur karena siapakah badan-badan kekuasaan negara yang mempunyai hubungan dengan masalah tersebut? Hal ini berarti wewenang oportunitas ini dibatasi secara remang-remangsehingga tidak ada kepastian hukum dalam penerapannya. Lihat Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Laporan hasil kerja Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Op.Cit .hal. 27 339 Taufik Rachman, Kepentingan Umum Dalam Mengkesampingkan Perkara Pidana Di Indonesia, Dalam Hukum Pidana dalam Perspektif, Agustinus Pohan, Topo Santoso, Martin Moerings. ed., (Denpasar: Pustaka Larasan; Jakarta: Universitas Indonesia, Universitas Leiden, Universitas Groningen, 20120, hal. 150. 340 Ibid .

128

Menurut Mardjono Reksodiputro dalam asas oportunitas : 341 Dikenal oportunitas secara negatif dimana hak menutup perkara atas dasar kepentingan umum dimana hak ini digunakan secara terbatas dan hak oportunitas secara positif, disini diakukan pendekatan bahwa apa bila tidak diperlukan oleh umum maka penuntutan dihentikan. Dan menurut Indriyanto Seno Aji asas oportunitas merupakan :342 Suatu overheidsbeleid yang melaksanakan staatbeleid, karena dapat dipergunakan dalam suatu kewenangan (discreationary power) yang mengikat maupun kewenangan aktif, Kewenangan aktif ini kaitanya dengan asas oportunitas memberi kewenangan Jaksa Agung melakukan tindakan terhadap norma tersamar sepanjang kewenangan ini didasarkan asas umum pemerintahan yang baik. Sedangkan menurut Eva Achjani Zulva, jaksa mengunakan asas oportunitasnya atas dasar kewenangan diskresi yang dimilikinya untuk menentukan suatu perkara akan terus dilakukan penuntutan atau dihentikan. Menurut Ronald F Wriht sebagaimana dikutip Eva Achjani Zulva diskresi bagi jaksa merupakan kewenangan untuk memilih dan menentukan penuntutan suatu perkara dan menentukan jenis, berat atau lamanya sanksi yang akan dituntut, dan menurut David E Aronson sebagaimana dikutip Eva Achjani Zulva, makna diskresi meliputi tindakan menginterpretasikan undang-undang, pengunaan kewenangan dan pilihan tindakan dari penegak hukum.343 Di Amerika Serikat konsep diskresi kejaksaan berlaku dalam konteks perdata, administratif, dan pidana. Menurut Mahkamah Agung Amrika serikat "keputusan lembaga untuk tidak menuntut atau melaksanakan penuntutan, baik melalui proses perdata atau pidana adalah keputusan yang umumnya merupakan kebijaksanaan mutlak sebuah instansi.344

Mardjono Reksodriputro, Rekonstruksi Sistem Peradilan Pidana Indonesia, (Makalah Yang Disempurnakan Untuk Kuliah Umum di Universitas Batanghari Jambi 26 Januari dan 21 April 2010), hal. 3. 342 Indriyanto Seno Adji, Korupsi Kebijakan Aparatur Negara & Hukum Pidana, Op.Cit., hal. 465. 343 Eva Achjani Zulva, Pergeseran Paradigma Pemidanaan, Op.Cit., hal.158-159 344 Heckler v. Chaney 470 U.S. 821, 831 (1985). http://www.immigrationpolicy.org/justfacts/understanding-prosecutorial-discretion-immigration-law, diunduh 20 April 2013.

341

129

Diskresi menurut Frieman biasanya mengacu pada suatu kasus dimana seseorang subjek suatu peraturan, memiliki kekuasaan untuk memilih diantara berbagai altenatif bentuk diskresi sendiri memiliki empat bentuk.345 Dengan melihat ketentuan asas oportunitas dan pelaksanaannya di negara negara lain tampaknya akan lebih efektif apabila kewenagan oportunitas ini di berikan langsung pada jaksa-jaksa di Indonesia dengan demikian maka perkara perkara yang akan dilimpahkah ke pengadilan dapat disaring sebelum sampai ke pengadilan serta tidak akan terulang kembali pencurian-pencurian ringan yang sampai ke pengadilan karena dengan melihat begitu banyaknya perkara yang ada saat ini tidaklah mungkin semua bergantung pada kewenangan oportunitas yang ada pada jaksa agung.346 Belanda menganut juga asas oportunitas (the principle of discretionary powers), sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan Pasal 167(2) dan Pasal
Diskresi biasanya mengacu pada suatu kasus dimana seseorang subjek suatu peraturan , memiliki kekuasaan untuk memilih diantara berbagai altenatif. Diskresi menghasilakn empat tipe peraturan formal, Pertama sebagai peraturan bersifat pasti dan tetap dari dua segi baik publik maupun petugas tidak memiliki pilihan, peraturan hukum pidana pada umumnya mengambil bentuk ini, misal pelarangan pembunuhan, mencuri ;peraturan diatas kertas bersifat mutlak, para petugas tidak memiliki hak formal untuk membiarkan seorang pelanggar lepas, Kedua yaitu otorisasi , berlaku diskresioner bagi publik namun tidak bagi petugas, contoh ; seorang pria dan wanita mengajukan permohonan pernikahan , kemudian ada orang lain yang mengajukan gugatan untuk itu yang menimbulakan pilihan untuk personal dimata hukum, sehingga para petugas negara tidak memiliki pilihan selain memberi reaksi dengan cara cara resmi yang telah digariskan. Ketiga privilese berlaku diskresioner dalam dua segi : seseorang yang memenuhi ketentuan bisa melaksanakanya atau tidak sesuai kehendaknya dan ada juga diskresi disisi publik, Keempat hanya petugas yang memiliki alternatif . hal amat lazim dalam hukum pidana, seringkali diskresi luas bagi para hakim dalam menetapkan hukuman , siterdakwa tidak berhak mengatakan apapun.Lihat Lawrence M Frieman, Sistem Hukum perspektif Sosial [The Legal System A socila Science Perspective], diterjemahkan M. Khozim, (Bandung: Nusa Media, tanpa tahun), hal. 42. 346 Berbeda sekali dengan asas oportunitas yang dikenal secara global yang merupakan wewenang semua Jaksa (bukan oleh Jaksa Agung saja), untuk melaksanakan asas itu denganpengertian : Penuntut umum dapat menuntut atau tidak menuntut dengan syarat atau tanpa syarat suatu perkara ke pengadilan (the public prosecutor may decide conditionally or unconditionally to make prosecution to court or not). Demikianlah sehingga negara-negara seperti di Nederland, Jepang, Korea (selatan), Israel, Norwegia, Denmark, Swedia dll, asas ini dilaksanakan secara penuh, sehingga di Nederland perkara yang diajukan ke pengadilan hanya 50% dari semua perkara yang diterima oleh penuntut umum. Di Jepang, perkara yang diputus bebas dari pengadilan hanya 0,001% atau dalam 100.000 perkara yang diajukan penuntut umum ke pengadilan baru satu diputus bebas, karena jaksa telah menyeleksi ketat hanya perkara yang cukup bukti yang diajukan ke pengadilan,. Di Norwegia bahkan jaksa dapat mengenakan sanksi sendiri sebagai syarat untuk tidak dilakukan penuntutan ke pengadilan yang disebut patale unnlantese. Hal ini untuk mencegah menumpuknya perkara di pengadilan dan membuat penjara menjadi penuh sesak. Baru-baru ini terbit peraturan di Nederland, bahwa semua perkara yang diancam pidana dibawahenam tahun penjara, jika kasusnya bersifat ringan, dengan memperhatikan keadaan pada waktu delik dilakukan,terdakwa telah berubah tingkah lakunya dikenakan afdoening yaitu penyelesaian di luar pengadilan dengan syarat terdakwa membayar denda administratif.) Lihat Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Op.Cit., hal 28-29.
345

130

242(2) dari Wetboek van Strafvordering (KUHAP Belanda), sehingga dapat memberikan landasan hukum untuk dibuatnya kesepakatan dengan saksi.347 Pelaksanaan asas oportunitas di Belanda, jaksa berwenang menuntut dan tidak menuntut suatu perkara ke pengadilan, baik dengan syarat maupun tanpa syarat. The public prosecutor may decide conditionally or unconditionally to make prosecution to court or not. Jadi dalam hal ini, Penuntut Umum tidak wajib menuntut seseorang melakukan tindak pidana jika menurut pertimbangannya akan merugikan kepentingan umum.348 Konsekuensi logis dari asas oportunitas (opportuniteitsbeginsel) di Belanda OM tidak berada dalam kedudukan memiliki kewajiban mutlak untuk melakukan penuntutan; atas dasar adanya kepentingan umum (gronden aan het algemeen belang ontleend), OM juga berwenang untuk memutuskan melakukan seponering atau menyelesaikan kasus di luar pengadilan. Satu aspek penting lain berkaitan dengan tugas OM ialah OM tidak saja bertanggung jawab memajukan kepentingan umum, namun juga hak-hak korban maupun tersangka/terdakwa selama keseluruhan proses pemeriksaan pidana.349 Implementasi asas oportunitas di Amerika Serikat dikenal dengan istilah substansial assistance.350 Menurut Linda Drazga Maxfield and John H. Kramer substansial assistance merupakan : 351 Inisiatif dari pemerintah yang menyatakan bahwa terdakwa telah memberikan bantuan substansial dalam penyidikan atau penuntutan orang lain yang melakukan pelanggaran, maka dalam proses pengadilan dapat menyimpang dari pedoman umum. Berdasarkan The Guidelines Manual, the statute, and prosecutorial directives such as the U.S. Department of Justices (DOJs) U.S. Attorneys Manual, terdapat empat ketentuan dalam pelaksanaan substansial assistance

Jan Crijns, Op Cit., hal. 162. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Laporan hasil kerja Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Op.Cit., hal. 9. 349 Jan Crijs, Op.Cit., hal. 161. 350 Ibid, hal 84. 351 Linda Drazga Maxfield and John H. Kramer, Subtantial Assitance ; An Empirical Yardstik Gauging Equity In Current Federal Policy And Practice, (United States Sentencing Commission, January 1998), hal. 2.
348

347

131

yaitu:

352

Pertama, faktor-faktor yang akan digunakan oleh jaksa sebelum

menetapkan apakah terdakwa yang bekerja dapat diberikan bantuan "substansial adanya jaminan dengan bantuan substansial dapat membantu untuk hal belum terselesaikan, Kedua terbatas dalam tindakan penuntutan, Ketiga bantuan substansial terkait dengan kerjasama mengenai penyidikan atau penuntutan orang lain, Terakhir tidak semua bantuan substansial adalah sama Di Amerika Serikat Prosecutors have wide discretion in Plea Bargaining with defendants,353sama halnya di Amerika Serikat di Inggris juga dikenal diskresi penuntutan (Prosecutorial discretion) sepertinya yang diucapkan Attorney General (Jaksa Agung), Sir Hartley Shocrecross 354: Tidak pernah menjadi aturan di negeri ini saya hampir tidak pernah bahwa tersangka perbuatan kriminal harus secara otomatis menjadi subjek penuntutanm, memang peraturan utama (penuntutan pidana) yang direktur penuntut umum (Director of Publik Prosecotor) bekerja untuk mempersiapkan pada waktu dilakukanya mempunyai sifat yang menunujukan bahwa kepentingan umum mensyaratkan demikian, itukah yang menjadi pertimbangan menentukan. Jaksa di Amerika Serikat (U.S.Attorney, Country Attorney dan District Attorney atau State Attorney) hampir-hampir mandiri didalam menjalankan kekuasaan diskresinya itu sejak tahap paling awal penyidikan sampai dengan proses sesudah peradilan. Keputusannya dibidang penuntutan hampir bebas sama sekali dari pengawasan orang atau badan lain. Ia dapat menghentikan proses perkara dengan menghentikan penuntutan atau melakukan kompromi mengenai dakwaan, yang dalam bahasa praktisi hukum Amerika disebut plea bargaining atau kompromi pengakuan sehingga tersangka boleh mengakui kesalahannya (plead guilty) sebelum ia diadili.355

The Guidelines Manual, the statute, and prosecutorial directives such as the U.S. Department of Justices (DOJs) U.S. Attorneys Manual, include four that are cited below. First, the factors to be used by the prosecutor prior to sentencing to determine whether the cooperation of a given defendant is substantial and therefore warrants a substantial assistance departure motion are unaddressed, Second, the authority to move for a 5K1.1 departure is limited to the prosecution. Third, substantial assistance is linked to cooperation concerning the investigation or prosecution of another person Finally, apparently not all substantial assistance is equal. 353 Artidjo Alkostar, Op.Cit., hal. 4. 354 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Op. Cit., hal. 36. 355 Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Laporan hasil kerja Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Op.Cit., hal. 54.

352

132

Dengan adanya ketentuan saksi mahkota dan plea bargaining dalam RUU KUHAP maka dalam pelaksanaan nantinya akan memberikan kewenangan diskresi langsung pada tiap-tiap penuntut umum, dengan demikian lebih dapat dijamin terciptanya asas peradilan pidana secara cepat, sederhana dan biaya ringan yang bertumpu pada keadilan dalam reformasi hukum dan era globalisasi. Karena diskresi penuntutan, akan terbuka kesempatan bagi jaksa untuk menjaring kasuskasus pidana lebih efektif sebelum penuntutan dengan menangguhkan penuntutan, sehingga pelaku dapat merehabilitasi dirinya sendiri. Ini dikemukakan UNAFEI yang menyatakan manfaat diskresi penuntutan adalah: 356 1) It allows effective screening of cases before prosecution; 2) It afford the prosecutions it suspend prosecution in suitable cases thus allowing the accused himself; 3) It also allows promulgation of criminal policy guidelines at the time. Melalui kesepakatan dengan saksi tententu, saksi yang bersangkutan dapat didorong melangkah lebih jauh untuk memberikan keterangan (yang

mengkriminalinasi diri sendiri), sesuatu yang kemungkinan besar tidak mungkin terjadi tanpa adanya kesepakatan tersebut. Walaupun demikian, kebijakan (diskresi) penuntutan itu harus dilaksanakan dengan alasan yang memadai dan informasi yang cukup, dengan aturan dan pedoman yang memadai, dengan program pembinaan yang memadai bagi mereka yang akan dilepas, untuk mencapai tujuan tersebut, yang palin pantas melaksanakanya adalah jaksa sebagai seniman hukum,357 yang memiliki keterampilan hukum.358

Ibid., hal. 18. Istilah Seniman Hukum (legal crafisman) di ciptakan diciptakan Le Grade, lihat dalam catatan kaki R.M Surahman dan Andi Hamzah, Op. Cit., hal. 46. 358 R.M Surahman dan Andi Hamzah, Jaksa di Berbagai Negara, Peranan dan Kedudukanya, (Jakarta: Sinar Grafika, 1996), hal. 46.
357

356

133

2.Mekanisme Pelaksanaan Sistem peradilan pidana Anglo Amerika dan Eropa Kontinental menunjukan dua cara pendekatan untuk menemukan fakta yang pada dasarnya berbeda metode akuisitoir (berlawanan) dan metode inkusitoir.359 Menurut Lon F Fuller tujuan dari kaidah ini (advesarial sistem) bukan hanya untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah terhadap kemungkinan vonis yang tidak adil, maksud kaidah tersebut untuk menjaga integritas dari masyarakat, yang ditujukan agar acara-acara melalui mana masyarakat mengenakan hukuman kepada para anggotanya yang tersesat tetap sehat dan

Menurut Friedman kedua sistem yaitu sistem adu (adversary system ) dan sistem Selidik (inquisitorial system) berbeda seperti siang dan malam ahli hukum common law merasa sistem adversary system adalah satu-satunya cara yang adil dalam menjalankan sidang, karena keadilan dan kebenaran akan menang saat kita membiarkan masing-masing pihak berdebat, bersaing dan saling menguji, sedangkan ahli hukum ciwil law berpandangan sistem adu (adversary system ) adalah primitif dan sering tidak adil karena menjadi ajang pertarungan antara penasehat hukum yang setengahnya terlalu cerdik sehingga kebenaran tertutupi dalam proses. Lihat : Lawrence M Friedman, Op,.Cit, hal. 19. Menurut Luhut M.P Pangaribuan apabila dirangkum maka perbedaan antara Prinsip inqusitorial dengan advesarial yaitu: 1.Inqusitorial : (1) dalam suatu peeriksaan restored to the confenssion yang could be induced by torture (2) keterangan yang diberikan tidak bebas (pengakuan) diterima sebagai Legally sufficient indication telah adanya suatu probable cause and reasonable suspicion (3) dan dengan adanya probable cause and reasonable suspicion itu akan digunakan sebagai the standard for arresting a suspect searching or seizing his/her property, or filling a criminal charge (4) pemeriksaan dijalankan dengan official state monopoly on prosecutor (5) dalam pemeriksaan dipengadilan perkembanganya sudah mixed element of theinquisatorial and advesarial system dengan tetap a limited opportunity for the parties to put their case (6) the judges play an importan and active role in collecting the evidence dan (7) akan tetapi penekanan masih tetap pada collecting written documentation yang dalam penyidikan dikenal BAP (8) yang mewarisi tradisi hukum dari Perancis dan umumnya negara negar yang mewarisi eropa kontinental.; 2.Advesarial : (1) dalam setiap tahap pemeriksaan kasus kasus pidana fakta yang dikumpulkan harus show beyond reasonable doubt (2) dalam pemeriksaan suatu kasus polisi dan jaksa sudah yakin siapa terangkanya tetapi tetap selalu hati-hati karena setiap tindakan misalnya penyidikan di Inggris harus dibawa ke Summary trial, biasanya dengan pemeriksaan hakim disebut magistrate atau jury in the Crown Court trial one;s peers (3) dalam sistem advesarial ini ada doktrin jury system adalah sebagai protection for the defendant against power of the state (4) dalam pemeriksaan dipengadilan contest is essential (5) pemeriksaan dipengadilan dilakukan dengan cara oral hearing dan the parties to put forward their case (6) dengan pemeriksaan dipengadilan dengan kontek itu, judge an artbitrator untuk memastikan adanya fair flay dari para pihak (7) dalam keseluruhan proses advesarial mode little official inveloment (8) dikenal suatu proses pleas of guilty dan merupakanan immediately binding judgement. Lihat pula, Luhut M.P Pangaribuan, Op.Cit., hal. 87-91,

359

134

bermanfaat,360yang pada akhirnya individu dapat bebas sebebasnya dari prasangka sebagaimana dapat dapat dimungkunkan oleh keadaan manusia.361 Dipengadilan pidana Indonesia saat ini semua aspek perkara itu diputuskan dan merupakan tanggungjawab hakim atau majelis hakim yang dididik khusus untuk menjadi hakim, pengadilan indonesia masih mempertahankan stelsel aktif hakim.362 Di Belanda praktek yang paling lazim pada kasus-kasus dimana tertuduh secara hukum didampingi pembela merupaka komunikasi tiga arah antara hakim ketua, jaksa dan pembela (atau team pembela), hakim ketua mendominasi komunikasi (mirip Indonesia), pihak terlemah atau paling lemah dalam interaksi ini adalah pembela, tertuduh sebagian besar objek pemeriksaan perkara.363 Seperti dalam semua prosedur inquisitorial modern di benua Eropa, pengaturan prosedural dan organisasi yang mengatur peradilan pidana di Belanda mencerminkan bagaimana individu mendefinisikan hubungan mereka dengan, harapan dari negara dalam hal rechtstaat modern: negara adalah fundamental bagi rasional realisasi peradilan pidana sebagai bagian dari 'kepentingan umum', dan dengan demikian diharapkan (dan dipercaya) untuk menegakkan hukum dan ketertiban baik dan kebebasan individu.364 Ketentuan dalam rancangan KUHAP Indonesia mencerminkan kesediaan untuk menghargai kerjasama dengan pengurangan hukuman dalam bentuk bentuk tawar-menawar dengan terdakwa. Namun dalam pelaksanaanya para jaksa hendaknya memberikan pertimbangan yang tepat untuk mengeyampingkan penuntutan, untuk menghentikan proses perkara dengan atau tanpa syarat atau penyimpangan yang diperbolehkan undang undang atau praktek dari sistem
Lon F Fuller, Sistem Perlawanan, Dalam Ceramah Radio oleh Profesor-Profesor Harvard Law School, Disusun oleh Harold J. Berman diterjemahkan oleh Gregory Churchill, J.D. (Tatanusa Jakarta, 2008), hal. 30-31. 361 Ibid., hal. 36. 362 Lihat Luhut M.P Pangaribuan, Op, Cit, hal. 20. Stelsel aktif artinya haki yang memimpin sidang secara aktif untuk melakukan pemeriksaan fakta (fact finding) termasuk menentukan hal hal apa saja yang masih perlu disajikan para pihak, kekuasaan hakim dalam pengadilan yang pidana berdasarkan stelsel aktif ini menjadi absolut. 363 L.H.C Hulsman, Sistem Peradilan Pidana Dalam Perspektif Perbandingan Hukum, [The Dutch Criminal Justice Sistem From A Comparative Legal Prespective ] disadur oleh Soedjono Dirdjosisworo, (Jakarta : CV Rajawali, 1984), hal. 151. 364 C.H. Brants-Langeraar, Consensual Criminal Procedures: Plea and Confession Bargaining and Abbreviated Procedures to Simplify Criminal Procedure, Electronic Journal of Comparative Law,( vol. 11.1 May 2007), hal. 2.
360

135

peradilan pidana yang formil, dengan sepenuhnya menghargai hak-hak para tersangka dan korban, untuk tujuan tersebut negara harus menjaga

dimungkinkanya rencana diversi bukan sekedar untuk meringankan beban pengadilan yang berlebihan saja, melainkan juga mencegah akibat buruk dari penahanan sementara, dakwaan dan penghukuman maupun akibat buruk kemungkinan pengaruh yang tidak diharapakan dari penjara.365 Dalam memutuskan The Whiskey Cases 49 pada tahun 1878,366 Mahkamah Agung Amerika Serikat, meninjau apakah praktek hukum common law dapat menerima sistem saksi yang bersifat kooperator, dalam kesimpulanya terdakwa yang bersaksi terhadap kelompoknya memiliki hak memperoleh keadilan dalam persidangan untuk mengajukan permohonan pengampunan, Mahkamah mengakui pentingnya diskresi penuntutan dalam menentukan pelaksanaan penuntutan pidana, termasuk keputusan untuk menawarkan bujukan kepada saksi pemerintah.367 Aturannya adalah bahwa pengadilan tidak akan menyarankan Jaksa Agung bagaimana ia akan melakukan penuntutan pidana, hal itu dianggap sebagai

provisi jaksa penuntut umum, bukan dari pengadilan yang menentukan apakah terdakwa akan membantu atau tidak pembantu dan bersedia membuka kesalahan dirinya dan rekan-rekannya serta dan diperiksa untuk negara. Karena jaksa yang terbaik dan memenuhi syarat untuk menjawab pertanyaan itu, karena jaksa tahu

Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pedoman Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Peranan Para Jaksa, Point 18 Fungsi dan Sifat Diskresi, Diterima Oleh Kongres Perserikatan Bangsa Bangsa Ke-8 Tentang Pencegahan Kejahatan dan Pembinaan Para Pelaku Tindak Pidana, 1990, Hak Cipta Terjemahan Pada R M Surahman. 366 The Whiskey Cases, 99 U.S. at 603. The Court also offered the following advice to prosecutors on appropriate procedures to be employed in determining whether to accept an offer by a defendant to cooperate: Applications of this kind are not always to be granted, and in order to acquire the information necessary to determine the question, the public prosecutor will grant the accomplice an interview, with the understanding that any communications he may make to the prosecutor will be strictly confidential. Interviews for the purposed mentioned are for mutual explanation, and do not absolutely commit either party . . . . Prosecutors in such a case should explain to the accomplice that he is not obliged to criminate himself, and inform him just what he may reasonably expect in case he acts in good faith, and testifies fully and fairly as to his own acts in the case, and those of his associates. When he fulfills those conditions he is equitably entitled to a pardon, and the prosecutor, and the court if need be, when fully informed of the facts, will join in such a recommendation. Id. at 60304. With the exception of the matter of pardon, these recommended procedures closely resemble the procedures generally used by modern-day federal prosecutors in debriefing potential cooperating defendants. 367 Hon. H. Lloyd King, Jr, Op.Cit., hal. 163.

365

136

bukti apa saja yang dapat dikemukakan untuk membuktikan tindak pidana yand di tuduhkan.368 Menurut Kevin Ricardson pada sesi-sesi penawaran terhadap kooperator dan keputusan untuk menggunakan terdakwa sebagai kooperator harus mempertimbangkan keuntungan dan kerugian.369 Dan jangan melupakan kooperator anda seorang kriminal sebagaimana ia sesungguhnya, pada waktu yang sama tunjukan kepada juri bukti lain yang menunjukan kejujurannya.370 Di Belanda satu aspek terpenting dari prosedur yang harus ditempuh berkenaan dengan tahap pengujian kesepakatan yang dibuat antara saksi dengan OM oleh hakim, Hakim komisaris dalam tahapan ini akan memeriksa dan menguji tidak saja keabsahan (rechtmatigheid) dari imbalan yang ditawarkan melainkan juga seberapa jauh saksi dan keterangannya dapat diandalkan dan dipercaya (Pasal 226h(3) KUHAP Belanda), Hanya bilamana hakim komisaris telah memutus keabsahan kesepakatan dengan saksi dan menyatakan bahwa keterangan saksi layak dipercaya, maka kesepakatan boleh diwujudkan.371. Berkaitan dengan pelaksanaan kerjasama dengan pengurangan hukuman dalam bentuk bentuk tawar-menawar dengan terdakwa, maka harus diperhatikan batasan umum dalam bentuk kesebandingan antara, satu pihak, kejahatan yang disangkakan terhadap saksi dengan, pada lain pihak, kejahatan yang dengan bantuan keterangan yang diberikan saksi tersebut dapat dituntut serta dituntaskan dengan baik. Dengan kata lain, kesepakatan dengan saksi kiranya hanya layak dipertimbangkan untuk dibuat apabila yang dihadapi adalah kasus-kasus yang relatif besar dan penting. Dalam konsep yang dianut dalam RUU KUHAP dimungkinkan untuk diberikan kekebalan dari penuntutan (immunity from prosecution) kepada tersangka yang mempunyai peran paling ringan, yang berdasarkan konsep Protection of Cooperating Persons yang memilki keterkaitan dengan saksi (penyertaan) pada Pasal 55

Mahkota dengan penerapan ajaran deelneming

368 369

Ibid . Hasil Wawancara, tanggal 21 Maret 2013. 370 Hasil Wawancara dengan Charles Guria, tanggal 21 Maret 2013. 371 Jan Crijs, Op. Cit., hal.167.

137

KUHP.372 Pemberian kekebalan dari penuntutan (immunity from prosecution) hampir mirip dengan yang dianut dalam kosep saksi mahkota yang ada di Italia dan sangat berbeda dengan yang diterapkan di Belanda dan Amerika Serikat. Konsep pemberian kekebalan penuntutan ini penting untuk dipikirkan, karena sebenarnya jaksa tidak dapat menjamin bahwa kekebalan penuntutan dan pengurangan pidana yang dijanjikan akan benar terwujud. Karena kewenangan nyata mutlak ada pada hakim yang memeriksa perkara pidana di mana saksi sekaligus diperiksa sebagai terdakwa. Sekalipun hakim dalam kasus-kasus di mana saksi memberikan kerjasamanya, umumnya bersedia memenuhi janji yang diberikan jaksa penuntut umum, tidak dapat dipungkiri bahwa saksi/ terdakwa dapat memberikan keterangan bohong dan mencabut keteranganya . Serta sistem hukum civil law sebagaimana yang dianut di Indonesia menganut civil Law, sebagaimana dikemukakan oleh Bernard Rabatel dalam tulisannya Legal Challenges in Mutual Legal Assistance yang diterbitkan Asian Development Bank (ADB) sebagaimana dikutip Artidjo Alkostar mengatakan :373. It is also common for requested authorities to ask the requesting authorities to offer a witness immunity from prosecution. This could be a problem in civil law countries, where granting immunity to a witness is not common. Jadi, dalam sistem hukum Civil Law atau Kontinental (bukan Anglo Saxon) menjamin saksi untuk tidak dituntut (menjamin imunitas) adalah tidak lazim Di Belanda sendiri ada batasan mengenai kesepakatan dengan saksi ketentuan Pasal 226g (1) KUHAP Belanda, jaksa-penuntut umum berwenang untuk membuat kesepakatan demikian hanya bila berhadapan dengan kriminalitas berat, atau lebih konkretnya, 1) dalam hal adanya persangkaan (verdenking) dilakukan kejahatan yang diancam dengan sekurang-kurangnya 8 tahun penjara, 2) atau dalam hal adanya persangkaan dilakukannya kejahatan yang diancam dengan sekurangkurangnya 4 tahun penjara dan yang diperbuat dalam ikatan atau jaringan yang terorganisir.374

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Laporan hasil kerja Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Op. Cit., hal. 86. 373 Artidjo Alkostar, Op.Cit., hal. 4. 374 Jan Crijns, Op.Cit., hal. 163.

372

138

Dalam hukum Belanda pembatasan terpenting ialah larangan untuk menawarkan imbalan imunitas (kekebalan) mutlak terhadap penuntutan pidana, dalam arti saksi kemudian tidak akan dituntut atas kejahatan terhadap mana ia berkedudukan sebagai tersangka, pembatasan ini dengan kata lain berarti bahwa, saksi dengan siapa jaksa-penuntut umum membuat kesepakatan bagaimana pun juga tetap akan dituntut atas tindak pidana yang disangkakan terhadapnya.375 Sedangkan di Amerika Serikat menurut Charles Guria, bentuk hukuman yang diberikan adalah hukuman yang ringan bagi cooperator, tetapi hukuman yang lebih berat untuk pelanggaran kesepakatan, contoh : 376 Terkait dengan perkara Kings County Grand Jury Nomor 1234/2013, yang melibatkan Pencurian (Grand Larceny), Kepemilikan secara Pidana atas Barang Curian dan Persekongkolan untuk melakukan tindak pidana terhadap Sovereign Bank pada tanggal 1 Januari, 2013, telah disepakati bahwa Terdakwa akan mengaku bersalah atas satu Dakwaan Berat (Serious Charge) dan Dakwaan Ringan (Less-Serious Charge). Apabila selama masa kerjasama, Terdakwa ditangkap kembali atau dengan cara apa pun melanggar kesepakatan tersebut, Kantor ini akan menghadirkan Terdakwa di pengadilan dan minta agar dipidanakan sesuai dakwaan yang Terdakwa sudah mengaku bersalah dan mendapatkan hukuman maksimum berdasarkan Kitab Hukum Pidana. Setelah berhasil memenuhi kewajibannya sesuai kesepakatan ini, Kantor ini akan meminta pengadilan agar Terdakwa diizinkan untuk mencabut pengakuan bersalah yang sebelumnya diajukan terhadap Dakwaan Berat dan mempindanakan yang Terdakwa atas Dakwaan Ringan sesuai yang diizinkan oleh UndangUndang. Perlu dipahami bahwa kesepakatan ini bukan merupakan janji tertentu untuk putusan tertentu. Selanjutnya perlu dipahami pula bahwa putusan final tunduk pada persetujuan dari hakim Mahkamah Agung yang menangani perkara ini. Selanjutnya disepakati dan dipahami oleh para pihak bahwa terdakwa akan mematuhi semua penangguhan perkara yang sedang berjalan hingga pada saat kerjasamanya tidak diperlukan lagi oleh kantor ini.377 Dalam pertanggungjawaban pidana yang menyangkut bentuk penyertaan dimana dalam bentuk ini saksi mahkota diterapkan, menurut hukum pidana Belanda dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, golongan
Ibid, hal 164. Charles Guria,Successful Techniques for the Investigation & Prosecution of Corruption, (Makalah Disampaikan Dalam Pelatihan Tehnik-tehnik Sukses Dalam Penyidikan dan Penuntutan Kasus Korupsi, Bertempat di Hotel JW Mariott, Jakarta: Tanggal 20-21 Maret 2013). 377 Ibid.
376 375

139

penyertaan dimasukan dalam kelompok pembuat peristiwa pidana yang meliputi, pelaku (Pleger), Orang Yang Membuat Orang lain Melakukan atau Penyuruh (Doen Pleger), Mereka Yang Ikut Serta Dalam Suatu Tindak Pidana (Medeplegen) dan Mereka Yang Menggerakan Orang Lain Untuk Melakukan Tindak Pidana (uitloken), Namun dalam hal pembantuan (medeplichtigheid) menurut KUHP beban tanggungjawabnya lebih ringan dengan pidana maksimum dikurangi sepertiga, sedangkan menurut Rancangan Undang Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana dalama pasal 22 ayat 2 ketentuan tentang Pembantu tidak berlaku untuk pembantuan terhadap tindak pidana yang diancam dengan pidana denda Kategori I (tingkat keseriusan, sangat ringan-tidak ada pidana penjara-denda kategori I Rp.150.000).378 Sedangkan di Belanda memandang sifat accessoir atau keterkaitan dengan perbuatan pelaku menyebabkan pembantu tidak dapat diringankan379. Dalam common law dalam melihat principals (peserta utama) dalam dua bentuk yaitu ; 1) Principals in the first degree (pembuat derajat pertama) ialah barang siapa yang secara nyata melakukan kejahatan, baik dengan tangan sendiri, maupun dengan alat perantara yang tidak benyawa atau an innocrnt human agent (alat berupa manusia yang tidak bersalah atau tidak dapat

dipertanggungjawabkan), 2) Principals in the second degree ialah barang siapa yang hadir ketika suatu kejahatan dilakukan oleh orang atau yang membantunya atau yang bersekongkol dengannya dalam mewujudkan delik.380 Dan menurut Cristopher Ryan sebagai mana dikutip Andi Hamzah Principals offender ialah seseorang yang bertanggungjawab secara langsung dalam melakukan actus reus yang mewujudkan suatu kejahatan, dengan ketentuan bahwa ia terbukti mempunyai mens rea (kesalahan dalam arti luas) yang ditentukan oleh hukum, accesories menurut Cristopher Ryan dimasukan kedalam secondary participation, yaitu seorang yang secara tidak langsung terlibat dalam perwujudan delik, tetapi walaupun demikian, ia dianggap oleh hukum as if he

Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia, Naskah RUU www.djpp.depkumham.go.id, Op, Cit . 379 Andi Hamzah Dan A.Z . Abidin , Hukum Pidana Indonesia, Op.Cit., hal. 505. 380 Ibid., hal. 445.

378

KUHP,

140

were a principal offender, seolah-olah ia principal offender.381 Untuk pembantuan menurut pasal 56 KUHP mempunyai kesamaan dengan accessory before the fact, yang menurut Clark & Marshall sebagaimana dikutip Andi Hamzah yaitu peserta yang receives (menerima) relieves (membebaskan) comfort (menolong) atau assists (membantu) orang lain secara pribadi, sedangkan diketahui bahwa bahwa orang itu telah melakukan kejahatan.382

E. Paradigma Pergeseran Sistem Dalam RUU KUHAP Perbedaan mencolok antara sistem Anglo Amerika dan Eropa kontinental mencolok tidak hanya menyangkut percabangan dua sistem akuisotorial dan iquisatorial.383 tetapi juga dapat dilihat dari perbagai alat peradilan pidana hal tersebut karena akar falsafah dan politik yang khas dari sistem anglo Amerika dan Eropa Kontinental, pada intinya sistem Aglo Amerika memperlihatkan ide individualisme dan desetralisasi sedangkan sistem eropa kontinental didasarkan pada prinsip keseragaman, organisasi, birokratik, dan sentralisasi, serta sistem anglo Amerika memperlihatkan kecendrungan untuk mengutamakan keadilan dalam acara serta perlindungan hak-hak individu yang sangat tinggi sedangkan sistem Eropa kontinental sangat ditekankan untuk mengembangkan secara hatihati hukum acara yang memadai untuk dapat memastikan fakta-fakta agar dapat dicapai keputusan yang adil dalam suatu perkara.384 Dalam sistem kontinental sekalipun, dalam rumpun yang sama ditemukan perbedaan-perbedaan sebagaimana penelitian Prof. Stephen C. Thaman, karena secara individual ada kecenderungan di negara negara Eropa dewasa ini ini
Ibid., hal. 444. Ibid, hal 448. 383 Menurut Richard Demming sebaiaman dikutip Soedjono Dirdjosisworomengemukakan: the great difference between continental lawand english American law that in European court the inquisitorial system used, in england and America the adversary system used, Lihat Soedjono Dirdjosisworo, Filsafat Peradilan Pidana dan Perbandinagan Hukum , Bandung : Alumni , 1984, hal. 4. Menurut Friedman Kedua sistem yaitu sistem adu (adversary system ) dan sistem selidik (inquisitorial system) berbeda seperti siang dan malam ahli hukum common law merasa sistem adversary system adalah satu-satunya cara yang adil dalam menjalankan sidang, karena keadilan dan kebenaran akan menang saat kita membiarkan masing-masing pihak berdebat, bersaing dan saling menguji, sedangkan ahli hukum ciwil law berpandangan sistem adu (adversary system ) adalah primitif dan sering tidak adil karena menjadi ajang pertarungan antara penasehat hukum yang setengahnya terlalu cerdik sehingga kebenaran tertutupi dalam proses. Lihat pula Lawrence M Friedman, Op,Cit, hal. 93. 384 Soedjono Dirdjosisworo, Filsafat Peradilan Pidana dan Perbandinagan Hukum, (Bandung: Alumni , 1984), hal. 27.
382 381

141

membuka diri ke sistem luar yang lebih baik, beberapa negara telah menerima hal yang dianggap baik dari common law yakni mengenai prosedur advesarial untuk memodernisasi sistem inkusatorial yang dianut.385 Dengan studi perbandingan hukum pidana antara lain lain menemukan fakta bahwa negara negara dunia ketiga masih berlaku atau setidak-tidaknya dipengaruhi kuat oleh negara bekas penjajah, dalam hal ini Indonesia secara mengakar bahkan KUHP dan berbagai undang-undang masih bekas peninggalan pemerintah hindia Belanda.386 Menurut Friedman, ilmu kedokteran, ilmu terapan dan alam, dimanapun pada dasarnya sama namun hukum ditentukan secara tegas berdasarkan kebangsaan, hukum berhenti sampai perbatasan negara, jadi tidak ada dua sistem hukum yang betul betul serupa , masing masing sistem hukum bersifat khusus bagi negaranya atau yuridiksinya, hal ini terkait bahwa setiap sistem hukum sepenuhnya berbeda dengan sistem hukum lainya.387 Dalam konsep RUU KUHP Indonesia Pasal 137-175 ketentuan prosedur persidangan sudah mengarah ke adversarial atau antara penuntut umum dan terdakwa/penasihat hukum lebih berimbang. Penuntut umum dan terdakwa diberi kedudukan seimbang sehingga tidak adalagi berita acara yang dibuat oleh penyidik yang diserahkan kepada hakim. Hakim hanya menerima dakwaan dan daftar terdakwa dan saksi. Jadi benar-benar hakim berada di tengah-tengah antara pertarungan penuntut umum dan terdakwa beserta penasihat hukumnya. Para pihak dapat mengajukan saksi-saksi dan bukti lain di sidang pengadilan388. Inilah yang merupakan perubahan penting yang berbeda dengan KUHAP 1981 yang menurut Mr. Robert Strang dari OPDAT, masih tetap sama dengan HIR dan KUHAP Belanda, kecuali beberapa perubahan.389 Menurut Robert R Strang salah satu tujuan eksplisit dari Kelompok Kerja adalah untuk membuat KUHAP yang baru yang lebih adversarial, tujuan ini diabadikan dalam satu dari ketentuan awal kode rancangan acara pidana yang
385 386

Luhut M.P Pangaribuan, Op.Cit., hal. 93. Soedjono Dirdjosisworo, Op. Cit., hal. 11. 387 Ibid., hal. 19. 388 Departemen Hukum Dan Hak Asasi manusia, Naskah Akademik Rancangan Undang Undang Tentang Hukum Acara Pidana, Op, Cit. 389 Robert Strang, More Adversarial, but not Completely Adversarial: Reformasi of the Indonesian Criminal Procedure Code. Fordham International Law Journal, (Volume 32, Issue 1 2008 Article 13), hal. 5.

142

tercakup dalam Undang-undang ini harus dilaksanakan secara adil dan dalam adversarial, dengan cara ini penekanan adversarial baru yang paling jelas pada sidang panggung. Ketentuan ini tidak diadopsi dari sistem hukum common law tetapi lebih kepada sistem civil law Prancis.390 Lebih lanjut Robert R Strang mengatakan bahwa, Kelompok Kerja (Tim Pembuat RUU KUHAP) telah

melakukan sintesi dua tradisi untuk menghasilkan sistem peradilan pidana yang jauh lebih fleksibel. Konsep KUHAP menghilangkan banyak ketentuaan dalam saat ini, yang dinilai formalisme dan telah kritis diwarisi dari sistem Belanda dan menggantikannya dengan sistem hybrid yang lebih Advesarial tetapi berusaha untuk melestarikan bagian dari tradisi inquistorial nya. Di Indonesia sistem hukum tumbuh dan berkembang didasarkan pada asas konkordasi, dimana berlaku beberapa sistem hukum, pada satu sisi

memperlakukan sistem hukum yang berasal dari daratan Eropa (Eropa Kontinental) dan disisi lain berlaku pula hukum adat sebagai hukum yang asli. Tidak cuma itu, diantara kedua sistem hukum tersebut berlaku pula hukum Islam. Dalam konteks keberagaman sistem hukum ini, asas penting dalam kehidupan adat adalah sifat kekeluargaan (komunalitas) dan dengan masukknya agama Islam ke Indonesia, maka banyak daerah adat yang menyerap unsur-unsur agama Islam dalam kehidupan hukum adatnya.391 Melihat kenyatan dalam RUU KUHAP tidak hanya menyerap sistem hukum dari ciwil law tetapi juga banyak mengadopsi ketentuan dari common law maka tampaknya akan terjadi pergeseran dalam sistem hukum Indonesia pidana, sehingga dalam kenyataanya yang akan datang sistem hukum pidana Indonesia merupakan campuran antara sistem common law dan sistem ciwil law. Saat ini

Robert R. Strang, More Adversarial, but not Completely Adversarial: Op, Cit art. 4. This provision was not adopted from a common law system, but rather from the former heart of the civil law system-France. See CODE DE PROCEDURE PENALE, art. l-P, available at http://www.legifrance.gouv.fr/initRechCodeArticle.do [hereinafter C. PR. PEN.]; see also Draft of KUHAP dated Jan. 18, 2006, art. 3A (on file with author) (noting French origin). The French criminal procedure code has introduced more adversarial elements in recent years, such as guilty pleas, traditionally associated with adversarial systems, see C. PR. PEN., supra, art. 41 (2)-(3), and most recently allowing the prosecutor and defense attorney to question witnesses directly, but it is not yet clear whether these recent innovations have really shifted the inquisitorial approach of French judicial actors. See Transplants to Translations, supra note 2, at 59-63. 391 Sunarjati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, (Bandung: Alumni,1991), hal. 57-60.

390

143

pun menurut Ahmad Ali sebenarnya realitas hukum Indonesia tidak dapat disebut sistem civil law murni lagi karena : Dalam realiatasnya hukum Indonesia, memberlakukan : (1) perundangundangan (ciri eropa kontinental), 2. Hukum adat (ciri customary law), (3) hukum Islam dan eksistensi Peradilan Agama di Indonesia (ciri muslim law System), dan (4) hakim Indonesia didalam praktik mengikuti yurisprodensi (yang merupakan ciri common law system, dengan asas stare decisi itulah argumen sehingga pakar modern memasukan indonesia kedalam mix legal system .392 Dengan Melihat kenyatan bahwa masyarakat bahwa Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar didunia dan menurut data statistik BPS (akhir 2010), jumlah pemeluk agama Islami sekitar 87.18 persen dari 237.641.326 penduduk Indonesia, sehinga perlu juga dilakukan dipertimbangkan kemungkin untuk menyerap Islamic law dalam hukum acara pidana yang akan datang. Karena dalam era globalisasi dan era reformasi harus ditekadkan untuk melakukan pembaharuan yang mendasar terhadap kekeliruan kekeliruan dalam bidang hukum yang telah dibuat dimasa lalu.393 Maka menurut Ahmad Ali tak ada metode yang relevan untuk menghadapi isu hukum era globalisasi dunia dewasa ini kecuali dengan penggunaan secara proposional secara serentak ketiga pendekatan hukum : normatif , empiris dan filusufis, dan itulah yang dikenal sebagai triangular conceptof legal pluralism.394 Menurut Wagner Menski sebagaimana dikutip Ahmad Ali triangular conceptof legal pluralism (konsep segitiga plurarisme hukum),395yang sangat relevan bagi hukum bangsa Asia dan Afrika mengunakan tiga tipe utama pendekatan hukum yaitu hukum yang diciptakan masyarakat (social norms), hukum yang diciptakan negara (state made law) dan hukum yang timbul melalui nilai estetika/religi (ethical value), triangular conceptof legal pluralism dari Menski ini memperkuat konsep Lawrence M friedman tentang unsur ketiga hukum yaitu legal culture

Ahmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) Dan Teori Peradilan ( Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang Undang (Legisprudence), Vol 1, (Jakarta: Kencana , 2012), hal. 449. 393 Mardjono Reksodiputro, Menyelaraskan Pembaharuan Hukum, (Jakarta:Komisi Hukum Nasional RI, 2009), hal. 173. 394 Ahmad Ali, Op,Cit., hal. 185. 395 Lebih lihat Ahmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) Dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang Undang (Legisprudence), Op.Cit., hal.184 -201.

392

144

(kultur hukum), tipe hukum yang ideal menurut Menski, suatu tipe hukum yang berhasil secara optimal menjalin interaksi antara tiga komponen utama tadi.396 Dalam rangka pembaharuan hukum pidana di Indonesia Topo Santoso berpendapat :397 Selama ini dalam pembaharuan hukum di Indonesia, bahan-bahan yang diambil senantiasa dan terutama berasal dari konsep-konsep dan pengalaman dari keluarga hukum civil law dan common law, padahal kian lama, kian tampak bahwa masyarakat memerlukan sumber-sumber alternative yang berbeda dari kedua keluarga hukum itu, bagi masyarakat muslim, hukum Islam tentu memiliki tempat yang lebih tinggi karena hukum ini merupakan bagian dari integralitas ajaran Islam dan selaras dengan rasa keimanan. Selain itu Perkembangan hukum di Indonesia tidak hanya dirumuskan sebagai usaha untuk membuat kehidupan hukum di negeri ini menjadi lebih modern melainkan juga menyesuaikan ciri-ciri serta persyaratan hukum modern itu dengan kecendrungan budaya Indonesia, sehingga hukum tersebut benar benar dapat menjadi bagian kebudayaan Indonesia.398 Oleh sebab itu hukum pidana, yang merupakan the punitive of social control dan sebagai produk politik, sepantasnya merupakan sublimasi dari semua nilai masyarakat yang dirangkum dan dirumuskan para legislator dan diterapkan oleh aparat dalam sistem peradilan pidana.399 Berajak dari uraian diatas sudah sepantasnya Islamic law dapat dijadikan sebagai bahan rujukan untuk pembaharuan hukum pidana acara pidana di Indonesia. Sebagai salah satu hal yang menarik untuk dikaji sebagai sumber alternatif dalam hal pembuktia, sumpah dan saksi yang berkaitan dengan saksi mahkota, menarik untuk melihat kepada sistem Islamic law yang berlaku di Arab Saudi yang mana terdapat perbedaan yang cukup signifikan dengan hukum pembuktian yang dianut di Indonesia saat ini (civil law) maupun yang diterapkan di Amerika Serikat (common law). Dalam hal pembuktian dalam hukum Islam

Ibid, hal 184 -201 Topo Santoso, Hukum Pidana Islam Dalam Studi Hukum, Makalah ini disampaikan dalam Seminar Perkembangan dan Prospek Hukum Islam di Indonesia, diselenggarakan oleh LKIHI Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok:7 Desember 2006, hal 5. 398 Satjipto Raharjo, Hukum Dan Perubahan Sosial , Bandung: Alumni, 1983, hal 291. 399 Harkrisnowo, Harikristuti. Rekonstruksi Konsep Pemidanaan Suatu Gugatan Terhadap Legislasi Dan Pemidanaan di Indonesia. Op.Cit, hal 2 .
397

396

145

dikenal diktum yang berbunyiPembuktian itu dibebankan (wajib) atas pengugat, sedangkan sumpah dibebankan (diwajibkan) kepada yang menolak gugatan.400 Diktum tersebut menjadi kaidah umum dalam penyelesaian perkara, didasarkan pada suatu pertimbangan bahwa orang yang menggugat (penggugat) itu belum tentu benar untuk itu diwajibkan menunjukan bukti fisik menguatkan gugatanya, sedangkan pihak yang menolak gugatan (terdakwa) wajib

mengucapkan sumpah didepan majelis hakim, selain sebagai kaidah umum diktum tersebut menunjukan bahwa kebenaran yang diputus pengadilan itu adalah kebenaran formal.401 Pada masa Rasulullah SAW, untuk penyelesaian perkara yang secara kasat mata sulit dibuktikan karena tidak cukup bukti, Rasulullah SAW banyak melakukan sentuhan imani dan dan sentuhan nurani, dengan kata lain Rasulullah SAW tidak hanya hanya berpegang pada fakta hukum yang sebenarnya nampak tetapi juga dengan pengakuan tulus dari para pihak untuk sejujurnya menyantakan dan menyampaikan duduk perkara dengan benar.402

F. Konsep lain yang Mengatur Keturutsertaan Saksi dalam Suatu Tindak Pidana 1.Whistelblower dan Justice Collabolator Pembahsaan konsep lain yang mengatur juga keturutsertaan saksi dalam tindak pidana ini, dimaksudkan untuk melihat apa yang dimaksud whistel blower dan justice collabolator serta perbedaan dan persamaannya dengan saksi mahkota sehingga didapat makna yang jelas dan batasan masing- masing dari konsep tersebut. Walaupun sampai saat ini untuk saksi mahkota, whistelblower dan justice collabolator di Indonesia belum ada payung hukum atau peraturan setingkat undang- undang yang mengatur, namun padahal akhir-akhir ini banyak sekali mencuat suatu perkara yang menyangkut whistelblower dan justice

collabolator seperti dalam kasus pemberian travel cek kepada anggota DPR yang

Oyo Sunaryo Muklas, Perkembangan Peradilan Islam, di Jazirah Arab Ke Peradilan Agama Di Indonesia, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hal. 63. 401 Ibid., hal. 63-64. 402 Ibid., hal. 50.

400

146

kemudian di bongkar oleh salah satu penerimanya Agus Condro atau kasus pajak Gayus Tambunan yang di buka oleh Susno Duaji. Saat ini pengertian tentang Whistleblower dan Justice Collaborator baru sebatas Surat Edaran MA (SEMA) No 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan bagi Whistleblower dan Justice Collaborator, kedua istilah ini mendapat pemisahan yang tegas. Pemahaman pertama, tetap disebut sebagai whistleblower, sedangkan pemahaman yang kedua dikategorikan sebagai justice collaborator. Menurut SEMA tersebut, whistleblower adalah seseorang yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana tertentu yang bukan pelaku tindak pidana itu. Apabila pelapor (whistleblower ) dilaporkan balik oleh terlapor, maka perkara yang dilaporkan mengenai whistleblower diisyaratkan adanya hal-hal sebagai berikut:403 a. Saksi pelapor merupakan pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana, akan tetapi bukan merupakan bagian dari pelaku tindak pidana yang dilaporkan; b. Jika Pelapor tindak pidana juga dilaporkan oleh terlapor maka perkara terlapor yang dilaporkan oleh Pelapor didahulukan penanganannya.pelapor didahulukan. Namun berdasarkan SEMA No. 4 Tahun 2011 tersebut tampaknya ada perbedaan pemaknaan mengenai keterlibatan atau keturutsertaan seorang whistleblower dalam tindak pidana yang dilaporkan, seperi halnya yang berkembang di negara lain. Dalam pengertian SEMA diatas disyartakan bahwa seorang whistleblower atau saksi pelapor merupakan pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana, akan tetapi bukan merupakan bagian dari pelaku tindak pidana yang dilaporkan. Sedangkan menurut Mardjono Reksodiputro dalam bahan pustaka pengertian whistleblower adalah:404 Pembocor-rahasia atau pengadu. Dia adalah seorang yang membocorkan informasi yang sebenarnya bersifat rahasia di kalangan di mana informasi itu berada, tempat di mana informasi itu berada maupun jenis informasi
Kepaniteraan Mahkamah Agung RI, Surat Edaran Mahkamah Agung No. 4/2011. http://kepaniteraan.mahkamahagung.go.id/peraturan/10-sema/191-sema-no-14-tahun-2010dokumen-elektronik-sebagai-kelengkapan-berkas-kasasipk-.html , diunduh 4 Januari 2013. 404 Mardjono Reksodiputro, Pembocor-rahasia (whistleblower) dan Penyadapan-rahasia (wiretapping,electronic interception) Dalam Menanggulangi Kejahatan di Indonesia, (Makalah Disampaikan 3 Agustus 2010 dalam Seminar Center for Legislacy,Empowerment,Advocacy and Research(CLEAR) Di Hotel Le Meridien).
403

147

tersebut dapat bermacam-macam, si pembocor sendiri adalah orang-dalam di organisasi tersebut, dia dapat terlibat ataupun tidak dalam kegiatan yang dibocorkan itu, karena dia adalah orang-dalam maka dia menempuh risiko dengan perbuatannya itu. Dalam buku Memahami whistleblower, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memberi kriteria untuk disebut sebagai whistleblower, saksi setidaknya harus memenuhi dua kriteria mendasar yaitu:405 1. Whistleblower menyampaikan atau mengungkap laporan kepada otoritas yang berwenang atau kepada media massa atau publik. Dengan mengungkapkan kepada otoritas yang berwenang atau media massa diharapkan dugaan suatu kejahatan dapat diungkap dan terbongkar; 2. Seorang whistleblower merupakan orang dalam, yaitu orang yang mengungkap dugaan pelanggaran dan kejahatan yang terjadi di tempatnya bekerja atau ia berada. Karena skandal kejahatan selalu terorganisir, maka seorang whistleblower kadang merupakan bagian dari pelaku kejahatan atau kelompok mafia itu sendiri. Dia terlibat dalam skandal lalu mengungkapkan kejahatan yang terjadi. Whistleblower merupakan makna kriminologis bagi mereka yang memiliki keberanian membongkar suatu kejahatan yang berada dilingkungan kehidupan, profesi maupun sosianlnya
406

. Menurut Indriyanto Seno Adji peran inner-circle

criminal dianggap memiliki daya potensial untuk membuka tabir kejahatan lebih signifikan, namun demikian sebagai suatu balanced og bargain terhadap pelaku tersebut diberikan suatu reward berupa perlindungan hukum yang dinamakan protection of cooperating person baik itu person diartikan sebagai saksi (waitness), korban (victim) maupun pelapor (reporter).407 Whistleblower berkembang diberbagai Negara dengan seperangkat aturan masing-masing, diantaranya :408 1. Amerikat Serikat, whistleblower diatur dalam Whistleblower Act 1989, Whistleblower di Amerika Serikat dilindungi dari pemecatan, penurunan pangkat, pemberhentian sementara, ancaman, gangguan dan tindak diskriminasi;

Abdul Haris Semendawai, et al., Memahami WHISTLEBLOWER, (Jakarta: Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban , 2011), hal. 2-3. 406 Indriyanto Seno Adji. KUHAP Dalam Prospektif, Op. Cit., hal. 190. 407 Ibid . 408 Eddy O.S. Hiariej, Legal Opin: Permohonan Pengujian Pasal 10Ayat (2)Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksidan Korban, Newslette Komisi Hukum Nasional ,(Vol. 10 No.6 tahun 2010), hal..23.

405

148

2. Afrika Selatan, Whistleblower diatur dalam Pasal 3 Protected Dsdosures Act Nomor 26 Tahun 2000, Whistleblower diberi perlindungan dari accupational detriment atau kerugian yang berhubungan dengan jabatan atau pekerjaan; 3. Canada, Whistleblower diatur dalam Section 425.1 Criminal Code of Canada. Whistleblower dilindungi dari pemberi pekerjaan yang memberikan hukuman disiplin, menurunkan pangkat, memecat atau melakukan tindakan apapun yang merugikan dari segi pekerjaan dengan tujuan untuk mencegah pekerja memberikan informasi kepada pemerintah atau badan pelaksanaan hukum atau untuk membalas pekerja yang memberikan informasi; 4. Australia, Whistleblower diatur dalam Pasal 20 dan Pasal 21 Protected Dsdosures Act 1994. Whistleblower identitasnya dirahasiakan, tidak ada pertanggungjawban secara pidana atau perdata, perlindungan dari penceraman nama baik perlindungan dari pihak pembalasan dan perlindungan kondisional apabila namanya dipublikasikan ke media; 5. Inggris, Whistleblower diatur Pasal 1 dan Pasal 2 Public Interes Disclouse Act 1998. Whistleblower tidak boleh dipecah dan dilindungi dari viktimisasi serta perlakuan yang merugikan. Sedangkan seseorang Justice Collaborator, menurut SEMA No. 4 Tahun 2011, yaitu : a. Yang bersangkutan merupakan salah satu pelaku tindak pidana tertentu sebagaimana dimaksud dalam SEMA ini, mengakui kejahatan yang dilakukannya, bukan pelaku utama dalam kejahatan tersebut serta memberikan keterangan sebagai saksi di dalam proses peradilan; b. Jaksa penuntut umum dalam tuntutannya menyatakan bahwa yang bersangkutan telah memberikan keterangan dan bukti-bukti yang sangat signifikan sehingga penyidik dan atau penuntut umum dapat mengungkap tindak pidana yang dimaksud secara efektif, mengungkap pelaku-pelaku lainnya yang memiliki peran lebih besar dan/atau mengembalikan asset-aset/hasil suatu tindak pidana; c. Atas bantuannya tersebut, maka terhadap saksi pelaku yang bekerja sama sebagaimana dimaksud di atas, hakim dalam menentukan pidana yang akan dijatuhkan dapat mempertimbangkan hal-hal penjatuhan pidana sebagai berikut: i. Menjatuhkan pidana percobaan bersyarat khusus, dan/atau ii. Menjatuhkan pidana berupa pidana penjara yang paling ringan diantara terdakwa lainnya yang terbukti bersalah dalam perkara dimaksud. Secara historis sejak tahun 1930, Kitab Hukum Pidana Italia memberikan kekebalan sebagian ataupun penuh dari hukuman jika pelaku memberikan ganti rugi atas kerugian kejahatan atau bekerjasama dengan pihak berwajib dalam perkara konspirasi politik atau kegiatan yang berhubungan dengan

149

gang/kelompok. Baru pada tahun 1984 ketika, Mafioso Sisilia Tommaso Buscetta menentang Mafia dan memulai karirnya sebagai kolaborator hukum, perlindungan saksi dibentuk secara formil. Busceta menjadi saksi bintang dalam persidangan Maxi, yang mengarah pada 350 anggota Mafia dihukum penjara. Sebagai imbalan kerjasamanya, dia direlokasikan dengan identitas baru. Kejadian tersebut mendorong lebih banyak lagi anggota Mafia untuk bekerja sama, dimana hasilnya pada akhir 1990-an penegak hukum Italia telah mendapatkan bantuan dari 1,000 lebih kolaborator hukum.409 Perlindungan saksi pertama kali muncul di Amerika Serikat di tahun 1970an suatu prosedur hukum yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan program pembongkaran organisasi kejahatan berjenis mafia. Hingga saat itu, sumpah diam dikenal sebagai omert yang tidak tertulis diantara anggota Mafia tidak dapat digoyahkan sehingga mengancam nyawa siapapun yang melanggar dan bekerjasama dengan polisi. Saksi penting tidak dapat dibujuk untuk bersaksi dan saksi kunci menghilang oleh karena upaya pimpinan kelompok kejahatan yang menjadi target penuntutan. Pengalaman awal ini meyakinkan Departemen Hukum Amerika Serikat bahwa suatu program perlindungan saksi perludi institusikan.410 Di Indonesia sendiri keberadaan whistleblower disadari memiliki peranan penting, tetapi pengaturan yang lebih rinci yang berkaitan dengan saksi sebagai whistleblower yang memiliki unsur-unsur yang berbeda cukup signifikan dibandingkan dengan saksi dalam kategori lain. Kerumitan posisi wistleblower (pemukul kentongan) menyebabkan para perumus undang-undang a quo memutuskan untuk tidak memasukkan ketentuan tentang wistleblower dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.411 Secara yuridis normative, berdasar UU No.13 Tahun 2006, Pasal 10 Ayat (2) keberadaan whistleblower tidak ada tempat untuk mendapatkan perlindungan
UNODC (United Nations Office On Drug and Crime), Praktek Terbaik Perlindungan Saksi Dalam Proses Pidana Yang Melibatkan Kejahatan Terorganisir, hal. 12. 410 Ibid., hal. 6. 411 Mahkamah Konstitusi. Penjelasan Pemerintah Dalam Perkara Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi danKorban terhadap UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, (Dalam putusan Mahkamah konstitusi Nomor 42/PUU-VIII/2010), hal 44.
409

150

secara hukum. Bahkan, seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang akan dijatuhkan. Isi Pasal 10 Ayat (2) UU No.13 Tahun 2006, terdapat kata-katasaksi yang juga tersangka merupakan rumusan yang kurang bisa dipahami secara konsisten terhadap saksi yang juga berstatus sebagai saksi pelapor kemudian tiba-tiba berubah menjadi tersangka. Hal ini dapat menimbulkan multitafsir dan menimbulkan ketidakpastian hokum, Eddy O.S Hiariej berpendapat:412 Kalau mengacu pada ketentuan Pasal 10 ayat (2), Saksi yang juga Tersangka, dalam konteks hukum pidana terminologi ini tidak benar, saksi ya Saksi, tersangka ya tersangka. Dalam hal kata-kata saksi yang juga tersangka pasti ini terjadi deelneming, terjadi yang namanya kroongetuige, saksi mahkota, sebab kalau saksi dan sekaligus dia tersangka adalah tunggal maka dia pasti disebut sebagai tersangka atau terdakwa, dia memberikan keterangan pengadilan adalah keterangan terdakwa bukan keterangan saksi. Karena itu ketentuan Pasal 10 ayat (2) itu merancukan saksi korban, saksi pelapor karena saksi menjadi tersangka, ini menandakan kalau Saksi yang juga adalah Tersangka maka pasti di sini terjadi penyertaan, pasti lebih dari 1 orang pelakunya. Maka sebetulnya kata-kata Saksi yang juga Tersangka ini lebih merujuk kepada kroongetuige. Lebih lanjut Eddy O.S. Hiariej mengatakan, Pasal 10 Ayat (2) UU No.13 Tahun 2006 bertentangan dengan semangat whistleblower, karena pasal ini tidak memenuhi prinsip perlindungan terhadap seorang whistleblower, dimana yang bersangkutan tetap akan dijatuhi hukuman pidana bilamana terlibat dalam kejahatan tersebut.413 Terkait dengan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang akan dijatuhkan, Pasal 197 angka (1) huruf (f) KUHAP menegaskan bahwa surat putusan pemidanaan memuat pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan dan peraturan perundang- undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa, beberapa hal yang dapat meringankan terdakwa antara lain tidak

Eddy O.S. Hiariej, Tetap Dijatuhi Pidana Bilamana Terlibat dalam Kejahatan , Newsletter Komisi Hukum Nasional, (Vol.10, No.6 Juli 2010). 413 Ibid.

412

151

berbelit-belit, kooperatif, belum pernah dihukum, berusia masih muda, berkelakuan baik atau sopan selama persidangan di pengadilan, atau memiliki tanggungan anak dan istri. Posisi sebagai justice collaborator tidak dapat serta-merta dihubungkan dengan upaya untuk memperoleh keringanan hukuman, sekiranya hakim memberikan keringanan hukuman, itu adalah berdasarkan hal-hal tersebut di atas, bukan karena setelah menerima tawaran untuk menjadi justice collaborator. Sikap kooperatif seorang terdakwa sudah cukup menjadi dasar bagi hakim untuk memberikan keringanan, jadi spirit penerapan justice collaborator diletakkan dalam konteks untuk membongkar kejahatan yang lebih besar, bukan sebagai alat negosiasi pihak-pihak yang berkepentingan.414

2.Perbedaaan dan Persamaan Konsep Saksi Mahkota dengan Whistelblower dan Justice Collabolator Berdasarkan uraian diatas maka antara konsep saksi mahkota, whistleblower serta justice collaborator terdapa kesamaan dalam hal keturut sertaan pelaku dalam tindak pidana walaupun dalam konsep whistleblower tidak di haruskan adanya keterlibatan pelaku dalam tindak pidana. Dalam peradilan di Amerika yang telah menerapkan konsep whistleblower, menurut Kevin Ricardson

peradilan di Amerika Serikat tidak memberikan batasan yang pasti apakah whistleblower tersebut merupakan bagian kejahatan atau hanya yang melaporkan kejahatan, karena pada kenyataannya sering juga seorang whistleblower akan menjadi terdakwa dan dipidana pada akhir proses persidangan.415 Berbeda dengan justice collabolator dan saksi mahkota dalam konsep whistleblower memberikan makna bahwa inisiatif untuk melaporkan tindak pidana (bekerjasama dengan penegak hukum), ada pada whistleblower karena ia seorang pengungkap fakta walaupun nantinya status whistleblower dapat berubah menjadi justice collabolator ketika seorang whistleblower yang turut serta dalam tindak pidana didudukan sebagai saksi dalam perkara yang ia laporkan, sedangkan

Frans H Winarta, Esensi Justice Collaborator. http://www.komisihukum.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=411:esensijustice-collaborator-&catid=1:latest-news&Itemid=50&lang=in.,diunduh 12 Oktober 2012. 415 Hasil Wawancara, Tanggal 21 Maret 2013 .

414

152

dalam justice collabolator dan saksi mahkota kerjasama terjadi setelah aparat penegak hukum menanggani perkara tetapi karena membutuhkan keterangan dari justice collabolator dan saksi mahkot kemudian dilakukan penawaran untuk melakukan kerjasama. Dilihat dari segi motivasi seorang whistleblower yang menyampaikan informasi, membongkar, mem-blowup atau mengungkapkan suatu praktek penyimpangan didalam suatu kelompok/organisasi /korporasi atau institusi, dalam prakteknya menurut Adrianus Meliala sebagai mana dikutip Marwan Effendy berkaitan dua hal, pertama yang berkaitan dengan etika dan yang kedua berkaitan dengan hukum.416 Sedangkan menurut Kevin Ricardson motivasi whistleblower dalam bekerjasama untuk memperbaiki kesalahan, keuangan, pertimbangan pengadilan, balas dendam dan niat mulia.417 Sedangkan bagi seorang justice collabolator dan saksi mahkota keringanan hukuman sebagai tawaran imbal balik yang diberikan atas kerjasama tersebut yang menjadi faktor mendorong motivasi tersebut. Untuk penerapanya dalam bentuk kejahatan, konsep whistleblower serta justice collaborator sebagaimana disebutkan dalam SEMA No. 4 Tahun 2011 diterapkan dalam kejahatan yang menyangkut korupsi, terorisme, tindak pidana narkotika, tindak pidana pencucian uang, perdagangan orang, maupun tindak pindana lainnya yang bersifat terorganisir, telah menimbulkan masalah dan ancaman yang serius terhadap stabilitas dan keamanan masayarakat sehingga meruntuhkan lembaga serta nilai-nilai demokrasi, etika dan keadilan serta membahayakan pembangunan berkelanjutan dan supremasi hukum. Semua tindak pidana yang disebutkan dalam SEMA No. 4 Tahun 2011 merupakan tindak-tindak pidana yang secara Internasional diakui sebagai kejahatan terorganisir oleh United Nations Convention Against Transnational Organized Crime, Palermo pada tahun 2000 yang diratifikasi oleh Republik Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009, dalam penjelasan dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 tersebut, tindak pidana terorganisir dapat ditentukan berdasarkan lingkup, karakter, modus operandi, dan pelakunya.
Marwan Effendy, Sistem Peradilan Pidana, Tinjauan Terhadap Beberapa Perkembangan Hukum Pidana, Op.Cit., hal .145. 417 Kevin Ricardson, Op, Cit.
416

153

Sedangkan konsep saksi mahkota tidak membatasi atau dapat diterapkan pada semua tindak pidana artinya lebih luas, dan jelas saksi mahkota akan menjadi saksi di pengadilan karena memang dalam konsep saksi mahkota pada hakekatnya untuk mendapatkan kesaksian sebagai alat bukti. Menurut Robert R. Strang : Pengenalan konsep terdakwa bekerja sama (saksi mahkota) di Indonesia awalnya dirancang untuk fokus pada melindungi korban, diperluas untuk mendorong whistelblower, terutama dalam kasus korupsi, sehubungan dengan bekerja sama terdakwa, undang-undang menyatakan bahwa saksi yang juga merupakan pelaku dalam kasus yang sama tidak dapat dilepaskan dari setiap tuntutan hukum jika ia / dia terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, maka kesaksiannya dapat digunakan oleh hakim sebagai pertimbangan untuk mengurangi hukuman tersebut.418 Diakhir tulisan ini penulis berpendapat selain maanfaat dan dan hasil yang akan didapat dari konsep whistleblower, justice collaborator termasuk juga saksi mahkota, perlu juga melihat dari sudut moral. Apabila kita lihat lebih dalam dari sudut moral apakah tidak lebih mulia kedudukan mereka bila melaporkan kejahatan dan bekerjasama dengan penegak hukum sebelum kejahatan terjadi, dalam hal tindak pidana korupsi kerugian negara dapat terselamatkan begitu pula dalam tindak pidana yang lain. Perkatakaan sedikit ekstrim mereka adalah penjahat yang berhianat,419apakah hanya karena kemudian mereka mau bekerjasam dengan aparat penegak hukum kita dapat melupakan satu kejahatan bahkan rangkain kejahatan yang lainya yang pernah di lakukanya. Bahkan menurut Steven Kessler kerjasama dengan pelaku kejahatan menuntut kehati-hatian bagi aparat penegak hukum karena kerjasama ini hampir mirip bekerjasama dengan iblis.420 Karena itu penggunan kooperator dan informan rahasia merupakan hal kontroversial maka digunakan seperlunya dalam penuntutan jenis-jenis tindak pidana tertentu (misal korupsi, narkoba dan kejahatan terorganisir) dan membutuhkan pengendalian ketat untuk menghindari dampak negative. oleh karena dalam pelaksanaan kerjasama tetap namakan

Robert R. Strang, Op.Cit., hal. 204. Istilah penjahat yang berhianat dikutip dari penyataan Mardjono Reksodiputro, pada saat menyampaikan kuliah Seminar Usulan Tesis, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, tahun 2012 420 Hasil Wawancara 21 Maret 2013
419

418

154

kooperator seorang kriminal sebagaimana ia sesungguhnya, dan pada waktu yang sama tunjukan kepada juri bukti lain yang menunjukan kejujurannya.421 Berkaitan dengan motivasi apakah tidak mungkin, tujuan mereka bekerjasama dengan penegak hukum untuk menutupi suatu kejahatan dengan mengungkap kejahtan lain. Sebagai contoh saat Nazarudin mengungkapkan

penyimpangan dalam kasus Hambalang, apakah kemudian kita akan memberikan penghargaan sebagai whistleblower terbaik, karena telah mengungkap kasus Hambalang yang melibatkatkan banyak pejabat di Indonesia dengan nilai kerugian negara yang fantastis, tetapi dilain pihak kita apa kita dapat melupakan bahwa Nazaruddin juga tersangkut banyak perkara korupsi lain, yang nilanya tidak kalah dari kasus Hambalang. Begitu juga dalam kasus Susno Duaji yang menguangkap perkara pajak tetapi dilain pihak ia juga terbukti melakukan dua tindak pidana korupsi. Namun kita juga tidak boleh menampikan adanya motivasi bertobat dari pelakunya, selama motivasi ini tidak dilatar belakangi sikap moral yang buruk maka makna penjahat, itu akan berubah menjadi pelaku yang bertobat. Menurut Adrianus Meliala sebagaimana dikutip Marwan Effendy mengatakan, dari sudut pandang etika terdapat dua tipe whistleblower yaitu :422 Pertama, si penjaga etika (ethical resister) yang dengan itikad baik (good faith) mengungkap terjadinya penyimpangan atau mismanagement dengan tujuan adanya suatu perubahan dalam manajemen dalam tempat yang bersangkutan bekerja, dan Kedua si sakit hati (the disgruntler) yang mengungkap adanya mismanagement dengan didasari dendam (revenge). G. Paradigma Baru Saksi Mahkota Menurut RUU KUHAP Secara subtansi dalam RUU KUHAP terjadi perubahan yang sangat signifikat mengenai konsep saksi mahkota dengan konsep mengenai saksi mahkota yang selama ini dikenal dalam proses persidangan di Indonesia apabila dilihat konsep saksi mahkota dalam RUU KUHAP hampir mirip dengan konsep saksi mahkota yang di kenal di Eropa, pemikiran konsep ini berpijak dari konsep yang selama ini digunakan bertentangan dengan asas self incrimination,.

Charles Guria, Op, Cit. Marwan Effendy, Sistem Peradilan Pidana , Tinjauan Terhadap Beberapa Perkembangan Hukum Pidana, Op. Cit., hal. 145 .
422

421

155

Dalam RUU KUHAP ketentuan tentang saksi mahkota yang dituangkan di dalam Pasal 200 sesuai dengan asas oportunitas juga yang dianut di Indonesia hal ini sama dengan di Belanda. Konsep yang dianut dalam RUU KUHAP dimungkinkan untuk diberikan kekebalan dari penuntutan (immunity from prosecution) kepada tersangka yang mempunyai peran paling ringan, yang berdasarkan kosep protection of Cooperating Persons yang memilki keterkaitan dengan saksi Mahkota dengan penerapan ajaran deelneming (penyertaan) pada Pasal 55 KUHP. Dalam RUU KUHAP juga memperkenalkan sistem yang mirip dengan plea bargaining, hal ini tercantum di dalam 197 dengan judul jalur khusus. Dimana saat penuntut umum membacakan surat dakwaan, terdakwa mengakui semua perbuatan yang didakwakan dan mengaku bersalah melakukan tindak pidana yang ancaman pidana yang didakwakan tidak lebih dari tujuh tahun penjara, penuntut umum dapat melimpahkan perkara ke sidang acara pemeriksaan singkat. Konsep RUU KUHAP tidak hanya menyerap sistem hukum dari ciwil law tetapi juga banyak mengadopsi ketentuan dari common law maka terjadi pergeseran paradigma dalam sistem hukum Indonesia pidana, sehingga sistem hukum pidana Indonesia yang akan datang merupakan campuran antara sistem common law dan sistem ciwil law.

156

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian ini maka penulis berkesimpulan bahwa: 1. Untuk mengatasai permasalahan agar penerapan saksi mahkota pada penyertaan dalam tindak pidana tidak melanggar asas non self incrimination, maka diperlukan kesepakatan untuk kerjasama secara sukarela dari saksi mahkota dengan jaksa penuntut umum sebelum mengajukan saksi mahkota sebagai alat bukti dipersidangan. Kesepakatan kerjasam antara jaksa penuntut umum dengan saksi mahkota, merupakan bargaining power dari jaksa penuntut umum yang dibuat dengan sepengetahuan hakim, yang akan memberikan hak dan kewajiban antara jaksa (penegak hukum) dan saksi mahkota

(berkedudukan selaku saksi dan terdakwa) hak penuntut umum mendapatkan informasi sebanyak banyaknya dari saksi mahkota terhadap kejahatan yang turut ia lakukan, sedangkan kewajiban penuntut umum memberikan imbalan berupa pengurangan hukuman. Kewenangan (bargaining power) jaksa penuntut umum untuk melakukan kesepakatan kerjasama dengan saksi mahkota merupakan perwujutan dari asas oportunitas yang dimiliki oleh jaksa penuntut umum. 2. Konsep kesepakatan untuk kerjasama antara jaksa penuntut umum dengan saksi mahkota (bargaining power) tidak terdapat dalam pelaksanaan saksi mahkota di peradilan pidana Indonesia saat ini, dalam praktik peradilan pidana di Indonesia sebelum menerapkan saksi mahkota pada tahap awal dalam

tindakan penyidikan dilakukan splitsing berkas perkara yang dilakukan oleh penyidik berdasarkan petunjuk dari jaksa penuntut umum, urgensi penerapan splitsing dalam prakteknya untuk kepentingan pembuktian karena diperlukan alat bukti saksi mahkota untuk menguatkan alat bukti yang telah ada. Sedangkan kedudukan saksi mahkota dalam proses pembuktian disamakan dengan alat bukti keterangan saksi karena : a) Saksi mahkota yang diambil dari salah seorang tersangka/terdakwa untuk menerangkan perbuatan yang dilakukan oleh saksi bersama terdakwa dalam suatu tindak pidana.

157

b) Saksi mahkota dalam memberi keterangan dipersidangan sebagai saksi juga disumpah. c) Dalam setiap surat tuntutan (requisitor) yang dibuat oleh jaksa penuntut umum keterangan saksi mahkota di tempatkan dalam bagian fakta persidangan dalam point keterangan saksi. Mekanisme penerapan konsep saksi mahkota dalam peradilan saat ini hanya mewujudkan suatu kepastian hukum dimana untuk dapat menjangkau pelaku kejahatan disandarkan pada peraturan formil dan kurang memperhatikan bentuk perlindungan negara terhadap hak-hak tersangka atau terdakwa 3. Secara subtansi dalam RUU KUHAP terjadi perubahan yang sangat signifikan mengenai konsep saksi mahkota dengan konsep mengenai saksi mahkota yang selama ini dikenal dalam proses persidangan di Indonesia apabila dilihat konsep saksi mahkota dalam RUU KUHAP hampir mirip dengan konsep saksi mahkota yang di kenal di negara lain, pemikiran konsep saksi mahkota dalam RUU KUHAP ini berpijak dari konsep yang selama ini digunakan mengartikan saksi mahkota ialah jika para terdakwa bergantian menjadi saksi atas kawan berbuatnya, justru hal ini bertentangan dengan asas self incrimination,. Dalam RUU KUHAP ketentuan tentang saksi mahkota yang dituangkan di dalam Pasal 200, sesuai dengan asas oportunitas juga yang dianut di Indonesia hal ini sama dengan di Belanda. Konsep yang dianut dalam RUU KUHAP dimungkinkan untuk diberikan kekebalan dari penuntutan (immunity from prosecution) kepada tersangka yang mempunyai peran paling ringan, yang berdasarkan kosep protection of cooperating persons yang memilki keterkaitan dengan saksi Mahkota dengan penerapan ajaran deelneming (penyertaan) pada Pasal 55 KUHP. Rancangan Undang Undang Hukum Acara Pidana juga memperkenalkan sistem yang mirip dengan plea bargaining, hal ini tercantum di dalam 197 yang berjudul jalur khusus. Pada saat penuntut umum membacakan surat dakwaan, terdakwa mengakui semua perbuatan yang didakwakan dan mengaku bersalah melakukan tindak pidana yang ancaman pidana yang didakwakan tidak lebih dari tujuh tahun penjara, penuntut umum dapat melimpahkan perkara ke sidang acara pemeriksaan singkat. RUU KUHAP tidak hanya menyerap sistem hukum dari ciwil law tetapi juga banyak mengadopsi

158

ketentuan dari common law maka tampaknya akan terjadi pergeseran dalam sistem hukum Indonesia pidana, sehingga dalam kenyataanya yang akan datang sistem hukum pidana Indonesia merupakan campuran antara sistem common law dan sistem ciwil law.

B. Saran Berdasarkan beberapa hasil kesimpulan sebagaimana yang telah dikemukakan oleh penulis, maka selanjutnya dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut : 1. Mengingat saksi mahkota berkaitan erat dengan hak asasi manusia, khususnya hak asasi terdakwa maka diperlukan kehati-hatian dan aturan yang khusus mengenai saksi mahkota dalam proses peradilan pidana di Indonesia. Untuk dapat mendukung implementasi prinsip-prinsip due process of law dalam proses peradilan pidana dalam penerapan konsep saksi mahkota hendaknya aparat penegak hukum mengeserkan paradigma berfikir pengunaan saksi mahkota untuk mencapai kepastian hukum tetapi juga harus dibarengi dengan proses hukum yang adil harus dipahami yaitu sebagai perlindungan terhadap hak kemerdekaan setiap warga negara dalam negara hukum. 2. Pelaksanaan saksi mahkota tanpa adanya kesepakatan kerjasama antara saksi mahkota dan jaksa penuntut diperadilan saat ini jelas melanggar asas non self incrimination, maka sebagai jalan keluar untuk memperbaiki penerapan saksi mahkota sebagai alat bukti dipersidangan diperlukan pedoman pelaksanan kesepakatan kerjasama yang memberi kewenangan bargaining power bagi jaksa penuntut di Indonesia sebagai wujud asas oportunitas untuk bekerjasama dengan saksi mahkota, dengan menggunakan interpretasi futuristik pada ketentuan kentuan saksi mahkota yang terdapat dalam RUU KUHAP. 3. Melihat kenyatan pengaturan saksi mahkota dalam RUU KUHAP diserap dari sistem hukum dari ciwil law dan common law, maka perlu dilakukan usaha agar pencampuran sistem hukum tersebut tidak menggangu sistem hukum di Indonesia, karena pembaharuan hukum di Indonesia tidak hanya sebagai usaha untuk membuat kehidupan hukum di negeri ini menjadi lebih modern melainkan juga menyesuaikan ciri-ciri serta persyaratan hukum modern itu dengan kecendrungan sistem hukum di Indonesia. Oleh sebab itu sistem hukum

159

hendaknya merupakan sublimasi dari semua nilai masyarakat yang dirangkum dan dirumuskan para legislator dan diterapkan oleh aparat dalam sistem peradilan pidana

160

DAFTAR PUSTAKA

1.Buku Ali, Achmad. Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis). Cetakan II. Jakarta : PT Toko Buku Gunung Agung, 2009. ___________. Menguak Teori Hukum (Legal Theory) Dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang Undang (Legisprudence) Vol 1. Jakarta: Kencana, 2012. Anderson, Terence, David Schum, and William Twining. Analysis of Evidence. Secon Edition. UK Cambridges CB2 2RU : Cambridges University Press, 2005. Andrews, Jhon A. Ed. Human Right In Criminal Procedure A Comparative Study. The Hague. Boston/London : Martinus Nijhoff Publisher, 1982. Arif, Barda Nawawi. Perbandingan Hukum Pidana. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002. Atmasasmita, Romli. Perbandingan Hukum Pidana Kontemporer. Jakarta : Fikahati Aneska, 2009. ____________. Sistem Peradilan Pidana Kontemporer. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011. Berman, Harold J. Ceramah Radio oleh Profesor-Profesor Harvard Law School. Diterjemahkan oleh Gregory Churchill, J.D. Jakarta : Tatanusa, 2008. Biro Program Informasi Internasional Departemen Luar Negeri AS. Garis besar Sistem Hukum Amerika Serikat [Jucial Process In America]. Jakarta: Departemen Luar Negeri AS, 2001. Boediarto, Ali. Kompilasi Abstrak Hukum Putusan Mahkamah Agung Tentang Hukum Pidana. Jakarta : Ikatan Hakim Indonesia, 2000. Chazawi, Adami. Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. Edisi Kedua. Bandung: Alumni, 2008. ____________.Pelajaran Hukum Pidana Bagian 3, Percobaan dan Penyertaan. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2002. Chorus, Jeroen, Et al. Introduction to Dutch Law. Third Revised Edtion. The Hague: Kluwer International Law, 1999. Darmodiharjo, Darji dan Shidarta. Pokok- Pokok Filsafat Hukum. Jakrata :PT Gramedia Pustaka Utama, 1999. De Cruz, Peter. Perbandingan Sistem Hukum : Civil law, Common Law dan Socialist La. Diterjemahkan Narulita Yusron. Bandung : Nusa Media, 2010. Dirdjosisworo, Soedjono. Filsafat Peradilan Pidana dan Perbandingan Hukum. Bandung : CV Armico. Bandung, 1984.

161

Effendi, Marwan. Kejaksaan RI Posisi dan Fungsinya Dari Prespektif Hukum. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2005. _____________.Sistem Peradilan Pidana, Tinjauan Terhadap Perkembangan Hukum Pidana. Jakarta : Referensi, 2012. Beberapa

Friedman, Lawrence M. American Law An Introduction. Penerjemah Wishnu Basuki. Jakarta : PT Tatanusa, 2001. Fuady, Munir. Teori Hukum pembuktian (Pidana dan Perdata). Bandung : PT Citra Adiya Bakti, 2006. Gautama, Sudargo. Pengertian Tentang Negara Hukum. Bandung : Alumni, 1973. Hamzah, Andi. Kamus Hukum, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1986. ____________. Hukum Acara Pidana Indonesia. Jakarta : CV Sapta Artha Jaya, 1996. ____________. Asas Asas Hukum Pidana. Jakarta : Yasrif Watampone, 2005. ____________. Hukum Acara Pidana Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Sinar Grafika, 2008. ____________. Perbandingan Hukum Pidana Beberapa Negara. Jakarta : Sinar Grafika, 2008. ____________. dan A.Z . Abidin . Hukum Pidana Indonesia. Jakarta : PT Yasrif Watampone, 2010. Hampstead, Lord Lloyd Hampstead, dan M.D.A. Freeman, Introduction to Jurispridence. Britain : ELBS, 1985. Hanindyopoetra dan Naryono Artodibyo. Hukum Pidana II Penyertaan. Malang : FHPM Universitas Brawijaya, 1975. Harahap, Yahya. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP : Penyidikan dan Penuntutan, Edisi kedua . Jakarta: Sinar Grafika, 2000. ____________.Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP : Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali. Cet Keempat. Jakarta : Sinar Grafika, 2002. Hartono, Sunaryati. Apakah The Rule Of Law Itu ?. Bandung : Alumni, 1976. ____________. Capita Selecta Perbandingan Hukum, Bandung : Alumni, 1992. Hendri, Luis. Pernyataan Hak Asasi Amerikadan Makna Internasional. Dialih bahasakan oleh Budi Prayitno. Jakarta : Dinas Penerangan Amerika Serikat (USIS), 1995. Huda, Chairul. Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Tanpa Kesalahan, Tinajauan kritis Terhadap Teori Pemisahan tindak Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana. Jakarta : Kencana, 2008. Huijbers, Theo. Filsafat Hukum Dalam Lintas Sejarah. Yogyakarta: Kanisius, 1982.

162

Hulsman, L.H.C. Sistem Peradilan Pidana Dalam Perspektif Perbandingan Hukum. Disadur oleh Soedjono Dirdjosisworo. Jakarta : CV Rajawali, 1984. Irianto, Sulistyowati dan Shidarta. Ed. Metode Penelitian Hukum : Konstelasi dan Refleksi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2011. Kamil, Ahmad dan M Fauzan. Kaidah Kaidah Hukum Yurisprodensi. Jakarta : Prenada Media, 2004. Kanter, E Y dan S R Sianturi. Asas-asas Hukum Pidana Di Indonesia dan Penerapan. Jakarta : Storya Grafika, 2002. Kartanegara, Satochid. Hukum Pidana, Kumpuln Kulian Bagian I . Jakarta : Balai Lektur Mahasiswa, Tanpa Tahun Lamintang, P. A. F. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia . Bandung : Sinar Baru, 1990. Lubis, M. Sofyan. Prinsip Miranda RuleHak Tersangka Sebelum Pemeriksaan. Jakarta : Pustaka Yustisia, 2010. Loqman, Loebby. Percobaan, Penyertaan dan Gabungan Tindak Pidana. Jakarta: Universitas Tarumanegara UPT Penerbitan,1995. _____________. Hukum Acara Pidana Indonesia (Suatu Pertama, Jakarta : CV Datacom, 1996. Ikhtisar) Cetakan

Marzuki, Peter Mahmud. Penelitian Hukum. Cetakan Ke- 6. Jakarta : Prenada Media Group, 2010. MD, Muh. Mahfud. Membangun Politik Hukum Menegakan Konstitusi. Jakarta : Rajawali Pers, 2010. Moeljatno. Hukum Pidana Delik-Delik Percobaan Delik-Delik Penyertaan. Jakarta : PT Bina Aksara, 1985. Mols , G.P.M.F. Mols dan . G. Spong . De kroongetuige in het Octopus-proces, Documentatie uit Octopus- proces, Requisitor, Velklarigen Van deskundigen, Pledooi, Vonnis. Deventer :Gouda Quint, 1997. Muhamad, Abdulkadir. Hukum dan Penelitian Hukum. Cet-1. Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2004. Muladi. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Semarang: Penerbit UNDIP, 1998. Mulyadi, Lilik. Putusan Hakim Dalam Hukum Acara Pidana : Teori, Praktik, Teknik Penyusunan dan Permaasalahannya. Bandung : Citra Aditya Bakti, 2007. Muklas, Oyo Sunaryo. Perkembangan Peradilan Islam, di Jazirah Arab Ke Peradilan Agama Di Indonesia. Bogor: Ghalia Indonesia, 2011. Nasution, A Karim. Masalah Surat Tuduhan Dalam Proses Pidana. Jakarta : PN Percetakan Negara RI, 1972.

163

Pangaribuan, Luhut M.P. Lay Judges Dan Hakim Ad Hoc Suatu Studi Teoritis Mengenai Sistem Peradilan Pidana Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia Fakultas Hukum Pasca Sarjana, 2009. Pohan, Agustinus, Topo Santoso dan Martin Moerings. Ed. Hukum Pidana dalam Perspektif. Denpasar : Pustaka Larasan. Jakarta : Universitas Indonesia. Universitas Leiden. Universitas Groningen, 2012. Pound, Roscoe. Pengantar Filsafat Hukum. Jakarta : Bharatara, 1996. Prakoso, Djoko. Pemecahan Berkas Perkara (Splitsing). Yogyakata: Liberty, 1988. Prodjodikoro, Wirjono. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. Cet. 3. Bandung : PT. Rafika Aditama, 2003. Ramelan. Hukum Acara Pidana, Teori dan Implementasi. Jakarta: Sumber Ilmu Jaya, 2006 Raharjo, Satjipto. Hukum Dan Perubahan Sosial. Cetakan Kedua. Bandung : Alumni, 1983. Reksodiputro, Mardjono. Bunga Rampai Permasalahan Dalam Sistem Peradilan Pidana. Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan Dan Pengabdian Hukum Universitas Indonesia, 2007. _____________. Hak Asasi Manusia Dalam sistem Peradilan Pidana. Jakarta : Pusat Pelayanan Keadilan Dan Pengabdian Hukum Universitas Indonesia, 2007. ____________. Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan. Jakarta : Pusat Pelayanan Keadilan Dan Pengabdian Hukum Universitas Indonesia, 2007. ____________.Kriminologi Dan sistem Peradilan Pidana. Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pegabdian Hukum Universitas Indonesia, 2007. ___________.Menyelaraskan Pembaharuan Hukum. Jakarta: Komisi Hukum Nasioanal, 2009. Remmelink, Jan. Hukum Pidana. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2003. Rovers, C. De. To Server & To Protect, Acuan Universal Penegakan HAM, Diterjemahkan oleh Supardan Mansyur. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2000. Rukmini, Mien. Perlindungan Ham Melalui Asas Praduga Tak Bersalah Dan Asas Persamaan Kedudukan Dalam Hukum Pada Sistem Peradilan Pidana Indonesia. Bandung : PT Alumni, 2003. Sasangka, Hari dan Lily Rosita. Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana. Bandung : Mandar Maju, 2003. Santoso, Topo. Polisi dan Jaksa : Keterpaduan atau Pergulatan. Depok : Pusat Studi Peradilan Pidana Indonesia, 2000. ____________. dan Eva Achjani Zulfa. Kriminologi. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2010.

164

Semendawai, Abdul Haris, Et al. Memahami WHISTLEBLOWER. Jakarta : Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), 2011. Seno Adji, Indriyanto. Penyiksaan dan HAM Dalam Perspektif KUHAP. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1998. ____________. Korupsi Kebijakan Aparatur Negara & Hukum Pidana. Jakarta: CV Diadit Media, 2006. ____________. KUHAP Dalam Prospektif. Jakarta : Diadit Media, 2011. Seno Adji, Oemar. Peradilan Bebas Negara Hukum. Jakarta : Erlangga, 1980. Sianturi, S.R. Asas-asas Hukum Pidana Indonesia dan Penerapanya. Cet IV. Jakarta : Alumni Ahaem-Peteheam, 1996. Siregar, Bismar. Hukum Acara Pidana. Jakarta : Badan Pembina Hukum Nasional Departemen Kehakiman, 1983. Smith, Rhona K. M. Hukum Hak Asasi Manusia. Yogyakarta : PUSHAM-UII, 2008. Soekanto, Soerjono dan Sri Mamuji. Penelitian hukum Normatif. Jakarta : Rajawali press, 1995. Soesilo, R. Teknik Berita Acara, Ilmu Bukti dan Laporan (Menurut KUHAP), Bogor: Politea, 1985. Subekti. Hukum Pembuktian. Jakarta : Pradnya Paramitha, 2001. Suherman, Ade Maman. Pengantar Perbandingan Sistem Hukum. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2006. Surahman, R.M dan Andi Hamzah. Jaksa di Berbagai Negara, Peranan dan Kedudukanya. Jakarta : Sinar Grafika, 1996. Tak, P.J.P. De Kroongetuige En de Georganiseerde Misdaad. Arnhem : Gounda Quint D Brouwer en Zoon, 1994. S

_________The Dutch Criminal Justice System. The Netherlands : aolf Legal Publishers CB Nijmegen, 2008. Tresna, R. Komentar HIR. Cetakan Ke Delapan Belas. Jakarta : PT Pradnya Paramita, 2005. UNODC (United Nations Office On Drug and Crime). Praktek Terbaik Perlindungan Saksi Dalam Proses Pidana Yang Melibatkan Kejahatan Terorganisir. Waluyadi. Pengetahuan Dasar Hukum Acara Pidana. Bandung : CV.Mandar Maju, 1999. Waluyo, Bambang. Et al. Pola Membina Rasa Keadilan Masyarakat. Jakarta : Pusat Pendidikan Dan Latihan Kejaksaan Agung R.I, 1991. Wisnubroto, Al dan G Widiarta. Pembaharuan Hukum Acara Pidana. Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2005.

165

Zulfa, Eva Achjani. Pergeseran Paradigma Pemidanaan. Bandung : CV Lubuk Agung, 2011. 2. Makalah, Jurnal dan Majalah Ilmiah Alkostar, Artidjo. Kebutuhan Responsifitas Perlakuan Hukum Acara Pidana dan Dasar Pertimbangan Pemidanaan serta Judicial Immunity. Makalah Disampaikan dalam RAKERNAS 2011 Mahkamah Agung dengan Pengadilan Seluruh Indonesia, Jakarta, 18-22 September 2011. Asshiddiqie, Jimly. Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Materi yang disampaikan dalam Studium General Pada acara The 1st National Converence Corporate Forum for Community Development, Jakarta, 19 Desember 2005. Budiarto, Ali. Kematian Tokoh buruh Marsinah Saksi Mahkota Bertentangan dengan Hukum. Varia Peradilan No 120 September 1995, Jakarta: IKAHI, 1995. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Laporan Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Oportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Jakarta, 2006. Dien, Albert Y. Masyarakat Yang Berkeadilan Pemikiran Jhon Rawls Dalam Filsafat Hukum. Jurnal Supremasi Hukum. (Volume 7. Nomor 1, Januari 2011). Djohansjah, J.Akses Menuju Keadilan (Access to Justice). Makalah Disampaikan Pada Pelatihan HAM Bagi Jejaring Komisi Yudisial, Bandung, 3 Juli 2010. Guria, Charles. Successful Techniques for the Investigation & Prosecution of Corruption. Makalah Disampaikan Dalam Pelatihan Tehnik-tehnik Sukses Dalam Penyidikan dan Penuntutan Kasus Korupsi. Bertempat di Hotel JW Mariott, Jakarta, Tanggal 20-21 Maret 2013. Hamzah, Andi. Sistem Peradilan Pidana Terpadu. Media Hukum. (Vol 2 No 7 Tanggal 22 September. 2003. Jakarta : Persatuan Jaksa Republik Indonesia, 2003). Harkrisnowo, Harkristuti. Sistem Peradilan Pidana Terpadu. Newsletter Komisi Hukum Nasional, (Mei 2002). Hiariej, Eddy O.S. Legal Opin :Permohonan Pengujian Pasal 10Ayat(2)Undangundang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksidan Korban. Newslette Komisi Hukum Nasional . (Vol. 10 No.6, Tahun 2010). KHN-SETRA HAM UI. Akses ke Peradilan. Jakarta : Komisi Hukum Nasional, 2003. Langbein, John H. Shaping the Eighteenth-Century Criminal Tria. A Vew from the Ryder Sources 50 U. CHL L. REv. 1, 105, 1983. Loqman, Loebby. Saksi Mahkota. Forum Keadilan . (Nomor 11. 1995).

166

Manan, Bagir .Penegakan Hukum Dalam Perkara Pidana . Varia Peradilan (No. 296, Juli 2010). Maxfield, Linda Drazga and John H. Kramer. Subtantial Assitance ; An Empirical Yardstik Gauging Equity In Current Federal Policy And Practice. United States Sentencing Commission, January 1998. Nasution, Adnan Buyung. Praperadilan Versus Hakim Komisaris, Beberapa Pemikiran Mengenai Keberadaan Keduanya. Newsletter KHN, (April 2002). OakS, Dallin H. Studying the Exclusionary Rule in Search and Seizure. The University Of Chicago Law Review. (Vol. 37 No.4. Summer 1970. University of Chicago, Copyright 1970). Ramelan. Penuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi Dalam Sistem Hukum Imdonesia (Corruption Law Suit In Indonesia Legal System). Jurnal legislasi Indonesia. Direktorat Peraturan Perundang Undangan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, (Vol 8 No 2- Juni 2011 ). Reksodiputro, Mardjono. Rekonstruksi Sistem Peradilan Pidana Indonesia. Makalah Yang Disempurnakan Untuk Kuliah Umum di Universitas Batanghari, Jambi, 26 Januari dan 21 April 2010. ____________.Pembocor-rahasia (whistleblower) dan Penyadapan-rahasia (wiretapping,electronic interception) Dalam Menanggulangi Kejahatan di Indonesia. Makalah Disampaikan dalam Seminar Center for Legislacy,Empowerment,Advocacy and Research(CLEAR) Di Hotel Le Meridien, 3 Agustus 2010 . Ricardson, Kevin. Investigation Of Public Corruption Using Plea Bargains, Confidental Information And Cooperators. Makalah Disampaikan Dalam Pelatihan Tehnik-tehnik Sukses Dalam Penyidikan dan Penuntutan Kasus Korupsi. Bertempat di Hotel JW Mariott. Jakarta, Tanggal 20-21 Maret 2013. Santoso, Topo . Hukum Pidana Islam Dalam Studi Hukum. Makalah ini disampaikan dalam Seminar Perkembangan dan Prospek Hukum Islam di Indonesia, diselenggarakan oleh LKIHI Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Depok, 7 Desember 2006. Shidarta. Penemuan Hukum Melalui Putusan Hakim. Makalah Disampaikan dalam Rangka Pemerkuat Pemahaman Hak Asasi Untuk hakim seluruh Indonesia. di Hotel Grand Angkasa Medan, 2 - 5 Mei 2011. ___________. Putusan Hakim:Antara Keadilan, Kepastian hukum dan Kemanfaatan. Dalam lampiran Makalah yang disampaikan dalam rangka Pemerkuat Pemahaman Hak Asasi Untuk hakim seluruh Indonesia di Hotel Grand Angkasa Medan, 2 - 5 Mei 2011. Siregar, Bismar. Hakim Wajib Menafsirkan Undang Undang. Varia peradilan Jakarta : Tahun X No 120 September 1995, IKAHI, 1995. Soerjono. Suatu Tinjauan Sistem Peradilan. Varia Peradilan. Jakarta :Tahun X No 120 September 1995. IKAHI, 1995.

167

Setiyono. Eksistensi Saksi Mahkota Sebagai Alat Bukti Dalam Perkara Pidana. Dipublikasikan dalam Jurnal Hukum Lex Jurnalica .(Volume 05. Nomor 01, Desember 2007). Strang, Robert R. More Adversarial, but not Completely Adversarial: Reformasi of the Indonesian Criminal Procedure Code. Fordham International Law Journal. (Volume 32. Issue 1, 2008). Utari, Indah Sri. HAM Sebagai Kritik: Gagasan Tentang Politik Hukum Nasional di Tentah Tuntutan Global. Pandecta (Vol.2 . No. 1, Januari 2008). Wulansari, Eka Martiana, Pengembalian Beban Pembuktian dalam Upaya Pemberantasan Tindak Pidana Korups (Return Burder of Proofin In Corruption Eradication Effort). Jurnal legislasi Indonesia, Vol 8 No 2Juni 2011. Direktorat Peraturan Perundang undangan. Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI (Vol 8 No 2- Juni 2011). Zulfan dan Kaharuddin. Saksi Mahkota Dan Perlindungan Hak Asasi Manusia Dalam Pembuktian hukum Pidana. Jurnal Media Hukum .(Volume 15 No 1, Juni 2008). 3.Tesis, Disertai Dan Sumber Yang Tidak Diterbitkan Brotosusilo, Agus. Keserasian Nilai Nilai Pancasila Sebagai Sumber segala Sumber Hukum (Dalam Arus Globalisasi). Materi Kuliah Filsafat Hukum. Jakarta: Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2011. ____________.Penulisan Hukum. Materi Kuliah Filsafat Hukum. Jakarta: Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2011. Harkrisnowo, Harkristuti, Rekontruksi Konsep Pemidanaan : Suatu Gugatan Terhadap proses Legislasi dan Pemidanaan Di Indonesia, Orasi Pengukuhan Guru Besar Universitas Indonesia. Depok, 8 Maret 2003. Hiariej, Edward Omar Sharif. Pembuktian Terbalik Dalam Pengembalian Aset Kejahatan Korupsi. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta, tanggal 30 Januari 2012 . Lubis, Todung Mulya.In Search of Human Right : Legal Political Dilemmas of Indonesias New Order 1966-1990. Dissertation Juris Scientioac Doctor University of California Berkeley, California 1990. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI. Modul Asas Asas Hukum Pidana I. Jakarta, 2010. Reksodiputro, Mardjono. Materi Kuliah Seminar Usulan Penelitian Tesis. Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2012.

168

Santosa, Topo. Perbandingan Hukum Pidana. Bahan Bacaan Mata Kuliah Perbandingan Hukum Pidana. Depok : Program Magister Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2011 . Seno Adji, Indriyanto. Sistem Peradilan Pidana dan Hak Asasi Manusia (Bunga Rampai). Modul Kuliah kebijakan Penanggulangan Kejahatan dan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, 2012. 3.Perundang Undangan, Putusan pengadilan Dan Kasus Pengadilan Departemen Kehakiman Republik Indonesia. Pedoman Pelaksanaan Kitab Hukum Acara Pidana, Cetakan ke-IV Telah Dipebaiki. Buku Digandakan Khusus Kejaksan Agung Republik Indonesia. Jakarta: 1982. Kejaksaan Republik Indonesia. Surat Edaran Jaksa Agung Nomor: SE-001/JA/4/1995 tanggal 27 April 1995 Tentang Pedoman Tuntuntan Pidana. ___________.Surat Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : B-69/E/02/1997 tanggal 19 Februari 1997 Perihal : Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana. Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putusan No 1986 K/Pid/1989 tanggal 21 Maret 1990 atas nama terdakwa Abdurahman __________. Putusan No.1590 K/Pid/1994. tanggal 3 Mei 1995 atas nama terdakwa Karyono Wongso. __________. Putusan No. 1592 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 atas nama terdakwa Bambang Wuryanto, Widayat, AS Prayogi. __________. Putusan No. 1174 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 an. terdakwa Ny. Mutiari, SH. __________. Putusan No. 1706 K/Pid/1994 atas nama terdakwa terdakwa Suwono dan Suprapto. __________. Putusan No. 429 K/Pid/1995 tanggal 3 Mei 1995 atas nama terdakwa Judi Susanto. __________. Putusan No. 381 K/Pid/1995 atas nama terdakwa Judi Astono. __________. Putusan No : 198 K/Pid/2004, tanggal 2 Maret 2004 atas nama terdakwa MUH. MUSYAFAK alias ABDUL HAMID. __________. Putusan No. 1918 K/Pid/2006 , Tanggal 3 Oktober 2006 Nama : ASEP JAJA alias AJI alias DAHLAN alias YAHYA. __________. Putusan No. 2475 K/Pid/2007 , tanggal 23 Januari 2008 atas nama terdakwa DAVID FEBRIANTO Bin JOHANES. __________. Putusan No.179 K/Pid.Sus/2010. tanggal 02 Februari 2010 atas nama terdakwa ANDREAS SIE als. RICKY als. ERWIN als.KARYONO als. SUHERMAN als. YOSEP. __________. Putusan No. 696 K/Pid/2010 atas nama FRANSISKUS TADON KERAN alias AMSI. 169

__________. Putusan No. 723 K/Pid/2010 atas nama WALEN alias HENDRIK .

HENDRIKUS KIA

__________. Putusan No. 725 K/Pid/2010 atas nama EDUARDUS NOE NDOPO MBETE alias EDO. __________. Putusan No. 1429 K/Pid/2010 atas nama Antasari Azhar, SH.,MH. __________. Putusan No. 721 K/PID/2010 Tanggal 5 Mei 2010 atas nama terdakwa Daniel Daen Sabon alias Danil. ___________.Putusan No. 2437 K/Pid.Sus/2011 tanggal 7 Februari 2012 atas nama terdakwa PIDER Pgl PIDER. ___________.Surat Edaran Mahkamah Agung . No 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan bagi Whistleblower dan Justice Collaborator. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Putusan Nomor 42/PUU-VIII/2010. Dalam Perkara Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi danKorban terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta . Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Amademen ke-2 (kedua). Ditetapkan Di Jakarta, Tanggal 18 Agustus 2000. Pengadilan Negeri Denpasar. Putusan No : 317/Pid.B/2003/PN.Dps . atas nama tanggal 18 September 2003 Republik Indonesia. Kitab Undang Undang Hukum Pidana. diubah dan ditambah UU No. 1/1946.Berita Republik Indonesia II, 9. _________.Undang Undang Hukum Acara Pidana, UU No. 8 Tahun 1981, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209. __________.Undang Undang tentang Pengadilan anank, UU No 3 Tahun 1997, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3668. __________. Undang-Undang tentang Kekuasaan Kehakiman, UU No 4 tahun 2004, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358. __________. Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi, UU No 23 Tahun 2004, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316. __________.Undang-Undang Tentang tentang Perlindungan Saksi dan Korban, UU No. 13 Tahun 2006, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4635. Lisenba v. California, 314 U.S. 219, 227 (1941). United States v. Dailey, 759 F.2d 192, 196 (1st Cir. 1985). United States v. Cervantes-Pacheco, 826 F.2d 310, 315 (5th Cir. 1987).

170

United States v. Reid, 19 F. Supp. 2d 534, 537 (E.D. Va. 1998). Whiskey Cases - 99 U.S. 594 (1878). 4. Internet . Atasasimita, Romli. Logika Hukum Asas Praduga Tak Bersalah, http://m.tokohindonesia.com/publikasi/article/322-opini/2400-logikahukum-asas-praduga-tak-bersalah BPS. Penduduk Indonesia tahun 2010. http://sp2010.bps.go.id/index.php CODE DE PROCEDURE PENALE, art. l-P, available at http://www.legifrance.gouv.fr/initRechCodeArticle.do [hereinafter C. PR. PEN.] Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia R I. Rancancan Undang-Undang hukum Acara Pidana 2010, www.djpp.depkumham.go.id/rancangan/.../buka.p.. 16 april 2010, _____________.Naskah Akademik Rancangan Undang Undang Tentang Hukum Acara Pidana. www.djpp.depkumham.go.id, Fitriasih, Surastini. Perlindungan Saksi Dan Korban Sebagai Sarana Menuju Proses Peradilan (Pidana) Yang Jujur Dan Adil, http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=52534&idc =21. Hukumonline.com.Jaksa-Pengacara Akan BertarungTanpa www.hukumonline.com/printpdf/lt500d39774a0ac Teks.

Jaya, Nyoman Serikat Putra. Catatan atas RUU KUHAP, Kompas, 25 April 2013. http://hariini.kompas.com/kategori/harian-kompas/page/36/ Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Pedoman Tuntutan Pidana, http://acarapidana.bphn.go.id/wp-content/uploads/2011/12/SEJA-001-JA-41995-PEDOMAN-TUNTUTAN-PIDANA.pdf King, Jr,, Hon. H. Lloyd. Why Prosecutors are Permitted To offer Witness Inducements, A matter Of constitutional Authority, hal 155, www.law.stetson.edu/.../why-prosecutors-are-, Kompas.com, Setiap 91 Detik, Terjadi Satu Kejahatan di Indonesia, http://nasional.kompas.com/read/2012/12/26/15260465/Setiap.91.Detik.Terj adi.Satu.Kejahatan.di.Indonesia, Mulyadi, Lilik . Eksistensi Yurisprudensi Dikaji dari Prespektif Teoritis dan Praktik Peradilan, layanan informasi, Artikel ___________.Menuju Sistem Peradilan Pidana Kotemporer Tanpa Berita Acara Penyidikan (BAP) Dan Berita Acara Sidang (BAS), http://pnkepanjen.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=169:men uju-sistem-peradilan-pidana-kontemporer-tanpa-berita-acara-penyidikanbap-dan-berita-acara-sidang-bas&catid=23:artikel&Itemid=36

171

__________.Implikasi Yuridis tentang ''Saksi http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2003/8/21/op2.htm

Mahkota",

Salam, Aprinus, Politik dan Budaya Kejahatan Bagian Satu, http://www.academia.edu/1497446/Politik_dan_Budaya_Kejahatan_Bagian _Satu_ Seno Adji, Indriyanto. Penyiksaan Tersangka Dan Antisipasi Perlindungan HAM, http://www.suarapembaruan.com/News/1996/11/071196/OpEd/02/02.html, 1996 Tak, P J P, Deals With Criminals: Supergrasses, Crown Witnesses and Pentiti, European Journal of Crime Volume:Criiminal Law and Criminal Justice, https://www.ncjrs.gov/App/publications/Abstract.aspx?id=172602 United States v. Awan, 2010 U.S. App. LEXIS 12084 (2d Cir. N.Y. June 14, 2010). http://witnesses.uslegal.com/corroboration/. Winarta, Frans H, Esensi Justice Collaborator. http://www.komisihukum.go.id/index.php?option=com_content&view=artic le&id=411:esensi-justice-collaborator-&catid=1:latestnews&Itemid=50&lang=in.

172