Anda di halaman 1dari 11

Motorik Halus Usia 5-6 tahun

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Perkembangan pada anak dimulai sejak dalam kandungan, dari mulai dibuahinya sel telur oleh sperma kemudian dari sel yang sama bentuk dan fungsinya berkembang menjadi sel yang bersifat khusus seperti sel syaraf, sel otot, sel darah, sel tulang. Sel-sel tersebut membentuk jaringan seperti jaringan saraf, jaringan otot, jaringan darah, jaringan epitel, dan jaringan tulang. Kemudian jaringan-jaringan tersebut membentuk organ seperti otak, jantung, mata, telinga dan kaki. Kumpulan dari organ-organ tersebut akan membentuk sistem organ akhirnya menjadi organisme yang utuh di dalam kandungan seorang ibu yang siap dilahirkan ke dunia. Pada usia 0-8 tahun merupakan usia keemasan bagi anak dengan perkembangan mental maupun fisik yang berlangsung secara pesat khususnya pada anak usia 5-6 tahun kami mengobservasi yang sudah menginjak pendidikan formal awal yaitu di TK. Pada anak usia 5-6 tahun memiliki perkembangan fisik-motorik yang baik (perkembangan badan, otot kasar dan otot halus). Selanjutnya pada perkembangan kognitif pada anak usia 5-6 tahun sudah menunjukkan proses berpikir yang lebih jelas (preoperational). Aspek-aspek perkembangan yang selanjutnya adalah perkembangan emosional anak (emosi positif dan emosi negatif), perkembangan moral yang ditandai kemampuan anak untuk memahami aturan, norma maupun etika dengan disertai konsekuensi fisik ataupun hidonistik (kepuasan), perkembangan sosial dan perkembangan bahasa. Dengan demikian, untuk dapat mengetahui karakteristik atau aspekaspek perkembangan dari anak usia 5-6 tahun, kami mencoba membuat makalah mengenai aspek-aspek perkembangan anak uasia 5-6 tahun yang meliputi perkembangan fisik-motorik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial, perkembangan bahasa, perkembangan emosional, dan perkembangan moral. Di dalam perkembangan anak usia 5-6 tahun sebaiknya dimanfaatkan olehorang tua maupun orang-orang sekitar untuk memberikan bimbingan dan pengajaran yang dapat menjadikan mereka anak yang baik. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Apakah yang dimaksud motorik halus ? 2. Bagaimanakah perkembangan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun ? 3. Bagaimanakah perkembangan kognitif pada anak usia 5-6 tahun ? 4. Bagaimanakah perkembangan sosial pada anak usia 5-6 tahun? 5. Bagaimanakah perkembangan emosional pada anak usia 5-6 tahun? 6. Bagaimanakah perkembangan bahasa pada anak usia 5-6 tahun ?

C. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah yang telah dituliskan di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini antara lain : a. Tujuan Umum 1. Untuk mengetahui perkembangan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun. 2. Untuk mengetahui perkembangan kognitif pada anak usia 5-6 tahun. 3. Untuk mengetahui perkembangan social pada anak usia 5-6 tahun. 4. Untuk mengetahui perkembangna emosional pada anak usia 5-6 tahun. 5. Untuk mengetahui perkembangan bahasa pada anak usia 5-6 tahun. b. Tujuan Khusus Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Berkarya pada Semester Genap.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Motorik Halus Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin. Seperti, bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya. Kecerdasan motorik halus anak berbeda-beda. Dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. perbedaan ini juga dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulai yang didapatkannya. Lingkungan (orang tua) mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam kecerdasan motorik halus anak. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa pertama kehidupannya. Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi tepat. Di setiap fase, anak membutuhkan rangsangan

untuk mengembangkan kemampuan mental dan motorik halusnya. Semakin banyak yang dilihat dan didengar anak, semakin banyak yang ingin diketahuinya. Jika kurang mendapatkan rangsangan anak akan bosan. Tetapi bukan berarti anda boleh memaksa si kecil. Tekanan, persaingan, penghargaan, hukuman, atau rasa takut dapat mengganggu usaha dilakukan si kecil. Perlu diketahui bahwa kemampuan motorik halus sangat penting karena berpengaruh pada segi pembelajaran lainnya. Keadaan ini sesuai dengan penelitian Mayke (2007) bahwa motorik halus penting karena ini nantinya akan dibutuhkan anak dari segi akademis. Kegiatan akademis tersebut seperti menulis, menggunting, menjiplak, mewarnai, melipat, menarik garis dan menggambar. Hal ini sejalan dengan pendapat Hurlock (1978) bahwa penguasaan motorik halus penting bagi anak, karena seiring makin banyak keterampilan motorik yang dimiliki semakin baik pula penyesuaian sosial yang dapat dilakukan anak serta semakin baik prestasi di sekolah. B. Perkembangan Motorik Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan motorik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Perkembangan motorik beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetis atau kematangan fisik anak. Teori yang menjelaskan secara detail tentang sistematika motorik anak adalah Dynamic System Theory yang dikembangkan Thelen & whiteneyerr. Teori tersebut mengungkapkan bahwa untuk membangun kemampuan motorik anak harus mempersepsikan sesuatu di lingkungannya yang memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk bergerak. Kemampuan motorik merepresentasikan keinginan anak. Misalnnya ketika anak melihat mainan dengan beraneka ragam, anak mempersepsikan dalam otaknnya bahwa dia ingin memainkannya. Persepsi tersebut memotivasi anak untuk melakukan sesuatu, yaitu bergerak untuk mengambilnya. Akibat gerakan tersebut, anak berhasil mendapatkan apa yang di tujunya yaitu mengambil mainan yang menarik baginya. Teori tersebut pun menjelaskan bahwa ketika bayi di motivasi untuk melakukan sesuatu, mereka dapat menciptakan kemampuan motorik yang baru, kemampuan baru tersebut merupakan hasil dari banyak faktor, yaitu perkembangan system syaraf, kemampuan fisik yang memungkinkannya untuk bergerak, keinginan anak yang memotivasinya untuk bergerak, dan lingkungan yang mendukung pemerolehan kemampuan motorik. Misalnya, anak akan mulai berjalan jika system syarafnya sudah matang, proposi kaki cukup kuat menopang tubuhnya dan anak sendiri ingin berjalan untuk mengambil mainannya. C. Perkembangan Motorik Halus Usia 5-6 Tahun

Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang, bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis atau menggambar. Keterampilan Motorik Halus; meliputi otot-otot kecil yang ada diseluruh tubuh, seperti menyentuh dan memegang. Lerner & Hultsch (1983). Menurut dr. Radix Hadriyanto, Sp.A beberapa ciri khas tumbuh kembang anak yang normal secara umum menurut klasifikasi umurnya dapat dilihat pada table berikut : Stimulasi gerak halus Usia 5-6 tahun yang dapat diberikan sesuai dengan jenjang usia antara lain:Pada usia 5-6 tahun, hampir seluruh gerak kinestetiknya dapat dilakukan dengan efisien dan efektif. Gerakannya pun sudah terkoordinasi dengan baik. Namun, seperti diungkapkan Bambang, anak kelompok usia ini lebih menyukai permainan yang tidak banyak melibatkan motorik kasar. Mereka lebih menyukai permainan yang menggunakan kemampuan berpikir seperti bermain puzzle, balok, bongkar pasang mobil, serta mulai tertarik pada games di komputer maupun play station. Anak usia 5-6 tahun adalah anak yang periang dan imajinatif. Mereka tiada hentinya bergerak dan berbuat sesuatu. Dunia sekitar mereka seakan mengundang mereka, menunggu untuk ditemukan, dikuasai dan penuh tantangan. Untuk itulah perlu disediakan suatu lingkungan yang baik, yang kaya dengan stimulus untuk membantu mereka mengembangkan seluruh aspek dirinya. Anak usia 5-6 tahun memiliki perkembangan motorik yang lebih meningkat . tangan , lengan dan tubuh, semuanya bergerak bersama dibawah koordinasi mata ( santrock:1999) . Aspek pengembangan fisik untuk motorik halus meliputi: Mencontoh bentuk +, X, Lingkaran, bujur sangkar, segi tiga. Menjiplak angka, bentuk-bentuk lain. Menjahit sederhana dengan menggunakan tali sepatu, benang woll dll. Memasukkan surat ke dalam amplop. Membentuk dengan plastisin. Memasukkan benang ke dalam jarum Menggunting mengikuti bentuk Menganyam. Membentuk berbagai objek dengan tanah liat Menggambar sesuai gagasan-nya.

Meniru bentuk. Melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan.


Menggunakan alat tulis dengan benar. Menggunting sesuai dengan pola. Menempel gambar dengan tepat. Mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara detail

D. Program aktivitas Motorik Halus Usia 5-6 Tahun Adapun program aktivitas motorik halus yang penyusun lakukan yaitu membuat telepon mainan. Adapun Bahan-Bahan atau alat pembuatan telepon mainan yaitu: 1. Karton tebal 2. Benang 3. Lem 4. Gunting 5. Lidi 6. Pinsil warna

Cara membuat telepon mainan adalah sebagai berikut: 1. Buatlah 2 buah tabung dari karton. Lubangi masing-masing bagian bawah tabung yang tertutup. Biarkan bagian atas tetap terbuka.

2. Dengan menggunakan seutas benng panjang, masukan ujung benang ke again bawah kedua tabung. Buatlah simpulganda di bagian dalam tabung untuk mengunci ujung benng, akan lebih kokoh bila dikaitkan ke lidi

3. Bila perlu warnailah dan hiaslah tabung menggunakan warna-warna cerah dengan gambar bertema telepon

4. Lalu siap digunakan

Dari kegiatan diatas dapat disimpulkan yaitu pada usia 5-6 tahun motorik halusnya sedang berkembang sudah mulai bisa memegang dan menggunting, mewarnai dan merekatkan lem sesuai pola dan dapat membentuk pola sehingga dengan kegiatan seperti ini anak sangat berkembang motorik halusnya. Dan dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan teman sekelasnya.

BAB III PENUTUP

Usia paling kritis anak adalah sampai dengan usia anak lima tahun. Usia emas atau Golden Age berada pada masa paling kritis yaitu usia 0 sampai 2 tahun, karena 80% pertumbuhan otak terjadi pada masa usia emas tersebut. Pada tahap ini anak harus diberikan intervensi-intervensi yang tepat agar otak anak bisa berkembang dengan optimal. Intervensi yang diberikan bisa dalam bentuk stimulasi-stimulasi. Stimulasi yang diberikan harus merangsang 4 aspek kemampuan dasar, yaitu: Kemampuan Gerak Kasar (GK) ; Kemampuan Gerak Halus (GH) ; Kemampuan berbicara dan bahasa ; dan Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian. Dalam melakukan stimulasi sebaiknya harus memperhatikan prinsip stimulasi perkembangan. Orang tua bertanggung jawab atas perkembangan anaknya pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam mendidik anaknya serta dalam melakukan intervensi harus benar-benar tepat. Jika stimulasi yang diberikan tidak tepat maka akan sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk memperbaiki pengaruh stimulasi tersebut pada usia selanjutnya. Untuk itu manfaatkan masa usia kritis anak atau golden age, agar anak bisa berkembang seoptimal mungkin kearah yang positif.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.episentrum.com/artikel-psikologi/perkembangan-motorik-anak-usia-dini/ http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/tahapan-perkembanganmotorik-anak/ http://rahmadkadaryanto.blogspot.com/2011/03/makalah-stimulasi-motorik-kasarhalus.html http://imansantoso5699.wordpress.com/2012/02/16/permendiknas-no-58-tahun2009-tentang-pendidikan-anak-usia-dini/


http://dhiarazha.blogspot.com/2012/06/motorik-halus-usia-5-6-tahun.html

Deteksi Dini Gangguan Sensorik Motorik Anak


Penulis : Wardah Fazriyati | Senin, 30 September 2013 | 09:42 WIB

Dibaca: -

Komentar: -

Share:

SHUTTERSTOCK

Kalau anak tidak mau dipeluk, perlu segera waspada.

TERKAIT:

Menyikapi Keterlambatan Tumbuh Kembang Balita Klinik Tumbuh Kembang untuk Deteksi Dini Hingga Terapi Mendeteksi Gangguan Tumbuh Kembang Lewat Bermain KOMPAS.com - Anak di masa usia emas 0-5 tahun perlu mendapatkan perhatian kedua orangtuanya, terutama menyangkut tumbuh kembangnya. Jangan cepat merasa puas jika pada usia ini anak bertumbuh dengan baik, biasanya terukur dari berat dan tinggi badan yang normal. Perkembangan motorik kasar dan halus, perkembangan bicara, kognitif, serta perilaku sosial

juga perlu mendapat perhatian yang sama besarnya. Sayangnya, terutama pada orangtua bekerja, perkembangan anak kerap tak terpantau dengan baik. Akibatnya, anak kurang stimulasi dan terjadilah gangguan sensorik motorik anak. Dengan memantau perkembangan anak, orangtua sebenarnya bisa mendeteksi dini gangguan sensorik motorik anak. Sehingga kalau pun anak mengalami keterlambatan perkembangan, intervensi tepat bisa dilakukan, baik stimulasi di rumah maupun terapi bersama dokter ahli. "Ada beberapa tanda umum gangguan perkembangan. Tanda awalnya bisa dilihat dari bayi usia enam bulan. Jika pada usia ini bayi tidak menunjukkan interaksi sosial, segera intervensi. Atau pada anak yang usianya lebih besar, tanda awalnya bisa dilihat saat anak tidak bisa berinteraksi dengan temannya," terang dr Amendi Nasution, SpKFR (K) Rehab Medis Anak seusai talkshow kesehatan anak di Klinik Tumbuh Kembang Brawijaya, Kemang, Jakarta, Sabtu (28/9/2013). Menurut Amendi, ketika menemukan adanya gangguan perkembangan orangtua perlu segera intervensi. Langkah awalnya dengan mulai stimulasi di rumah. Jika anak belum menunjukkan perkembangan normal sesuai usia anak lainnya sebayanya, segera intervensi dengan terapi dokter ahli. Misal, pada usia enam bulan anak belum bisa tengkurap, lakukan stimulasi di rumah dengan bantuan semua pihak, orangtua juga pengasuh anak. Jika hingga tiga bulan setelah stimulasi, anak belum berkembang sesuai milestone perkembangan, orangtua harus mulai waspada. "Lampu kuningnya tiga bulan, kalau setelah enam bulan belum ada perkembangan ini sudah lampu merah dan perlu terapi," ungkapnya. Tanda gangguan Gangguan perkembangan anak sebenarnya bisa dideteksi sejak dini, dengan merujuk pada red flags. Baik red flags perkembangan motorik kasar, halus, kognitif, dan bahasa. Dokter spesialis anak, dr Attila Dewanti, SpA (K) Neurologi memaparkan red flags untuk deteksi dini gangguan sensorik motorik, berikut di antaranya: Motorik kasar: * Belum dapat berguling umur lima bulan. * Belum dapat mengontrol kepala usia 6-7 bulan. * Belum dapat duduk tegak di lantai 5-1 0 menit pada usia 10-12 bulan. * Belum dapat merangkak atau mengesot dan ditarik ke posisi berdiri pada umur 12-13 bulan. * Belum berjalan sendiri atau dititah pada umur 18-21 bulan. Motorik halus: * Tidak dapat memegang benda yang diletakkan di tangannya pada usia 4-5 bulan. * Tangan tetap terkepal erat sampai usa 4-5 bulan. * Tidak dapat memegang benda dengan satu tangan pada umur tujuh bulan. * Tidak dapat memindahkan benda kecil ke dalam gelas sampai usia 6-7 bulan. * Tidak dapat menyusun tiga kubus pada umur dua tahun. * Tetap memasukkan benda ke mulut disertai sekresi air liur sampai usia dua tahun. Bicara:

* Enam bulan mata tidak melirik dan kepala tidak menoleh pada sumber suara dari samping atau belakang. * 10 bulan tidak merespons terhadap panggilan namanya. * 15 bulan tidak mengerti terhadap kata-kata. * 18 bulan tidak dapat mengucapkan 10 kata. * 21 bulan tidak merespons perintah duduk, diri, kemari. * 24 bulan tidak dapat menunjuk dan menyebut bagian tubuh seperti mata atau hidung, teliga, mulut. * 12 bulan tidak menunjukkan babling, menunjuk atau mimik yang baik. * Tidak ada kata pada 16 bulan. * Tidak ada dua kata spontan pada umur dua tahun. Kognitif: * 2-3 bulan tidak tertarik pada wajah ibunya. * 6-7 bulan tidak mencari benda yang jatuh. * 8-9 bulan tidak berminat dengan permainan ciluk ba. * 12 bulan tidak mencari benda yang disembunyikan. * Dua tahun tidak bisa mengelompokkan benda berdasarkan kesamaan seperti hewan, kendaraan. * Tiga tahun tidak bisa menyebutkan nama diri. * Empat tahun tidak bisa menghitung secara berurutan. * Lima tahun tidak mengetahui warna. * 5,5 tahun tidak mengetahui hari lahir dan alamat. Interaksi sosial: * Tiga bulan tidak ada senyum sosial. * 6-8 bulan tidak tertawa saat diajak bermain. * 12 bulan sulit ditenangkan, tidak suka didekati/dipeluk. * 24 bulan mudah mengamuk tanpa sebab, tidak ada kontak mata dengan anak lain atau orang dewasa. * 3-5 tahun tidak disiplin, tidak mau bermain dengan anak lain

http://health.kompas.com/read/2013/09/30/0942049/Deteksi.Dini.Gangguan.Sensorik.Motorik.Ana k