Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTEK PENGELANTANGAN II

PEMASAKAN DAN PENGELANTANGAN PADA KAIN RAYON VISKOSA SECARA TERPISAH

NAMA NIM

: IHWAL ILHAMI : 124016

AKADEMI TEKNIK WARGA SURAKARTA


DESEMBER 2013

A. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menghilangkan kotoran alam dan luar dari serat rayon dengan Na2CO3

sehingga diperoleh kain yang bersih 2. Menghilangkan pigmen alam pada serat rayon dengan H2O2 sehingga diperoleh kain yang putih 3. Membandingkan derajat putih hasil proses hilang kanji, pemasakan dan pengelantangan pada kain rayon viskosa

B. DASAR TEORI
Bahan tekstil pada umumnya banyak mengandung zat zat bukan serat dan kotoran kotoran , hal ini dapat digolongkan dalam 3 golongan yaitu : Kotoran alamiah yaitu kotoran kotoran yang berasal dari serat yang timbul bersamaan dengan terjadinya serat itu sendiri misalnya lemak, lilin, malam, pektin, pigmen pada kapas, serisin pada sutera, keringat, lemak, lanolin pada wool, dll Kotoran dari luar yaitu kotoran kotoran yang berasal dari luar dan menempel pada kain , benang atau serat misalnya debu , ranting , daun noda noda minyak yang berasal dari mesin , dll Kotoran yang dengan sengaja ditambahkan untuk kelancaran proses misalnya minyak atau zat anti statik pada benang , kanji yang diberikan pada benang lusi yang berguna demi kelancaran proses pertenunan karena benang lusi yang sering banyak terjadi gesekan gesekan , dll

Zat zat tersebut diatas dapat mengganggu pada sat proses selanjutnya yang akan dialami bahan tekstil tersebut , karena zat zat ini akan menghambat masuknya zat kimia termasuk zat warna ke dalam serat . Oleh karena itu zat zat tersebut harus dihilangkan supaya tidak menghambat dalam proses selanjutnya .

1. PEMASAKAN
Pemasakan adalah proses yang bertujuan untuk menghilangkan bagian dari komponen penyusun serat berupa minyak-minyak, lemak, lilin, kotoran-kotoran yang tidak larut dan kotoran-kotoran kain yang menempel pada permukaan serat dapat dihilangkan, sehingga proses selanjutnya seperti pengelantangan, pencelupan, pencapan dan sebagainya dapat berhasil dengan baik. Pada dasarnya proses pemasakan serat-serat alam dilakukan dengan alkali seperti natrium hidroksida (NaOH), natrium carbonat (Na2CO3) dan air kapur, campuran natrium carbonat dan sabun, amoniak dan lain-lain. Sedangkan pemasakan serat buatan (sintetik) dapat dilakukan dengan zat aktif permukaan yang bersifat sebagai pencuci (detergen).

Ditinjau dari sistem yang digunakan, proses pemasakan dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu pemasakan sistem tidak kontinyu (discontinue) contohnya pemasakan dengan bak, mesin jigger, mesin haspel, mesin clapbau, mesin kier ketel dan pemasakan sistem kontinyu (continue) contohnya pemasakan dengan mesin J-Box, L-Box. Sedangkan kalau ditinjau dari tekanan mesin yang digunakan, proses pemasakan dibagi menjadi 2 macam, yaitu pemasakan tanpa tekanan misalnya menggunakan bak, mesin jigger, haspel, Clapbau, J-Box dan L-Box dan pemasakan dengan tekanan, misalnya menggunakan mesin kier ketel, jigger tertutup. Proses pemasakan (scouring) hanya dilakukan untuk serat - serat alam karena serat sintetik relatif sudah dibuat bersih dan murni. Proses pemasakan pada serat sintetik hanya untuk menghilangkan emulsi minyak pelumas pada benang. Tujuan pemasakan adalah untuk menghilangkan zat2 yang berupa kotoran dariserat nerupa minyak, malam, protein dan debu. Pada dasarnya proses pemasakan terbagi pada 2 tahap : 1. Tahap Saponifikasi ( Boiling Off ) Tahap ini untuk menghilangkan zat zat hidrofobik yang menghalangi proses selanjutnya seperti pektin, wax, protein, abu dan kotoran organik lainnya. 2. Tahap Pemasakan ( Scouring ) Tahap ini untuk melepaskan hasil saponifikasi kotoran dari serat berupa penyabunan. Pembentukan sabun dalam pemasakan sangat dipengaruhioleh kesadahn air dan kandungan mineral. Jadi dalam proses pemasakan kita memerlukan soda kostik ( NaOH) ntuk saponifikasi, scouring agent ( deterjen) sebagai pembasah, pendispersi dan pengemulsi kotoran hasil reaksi serta squestering agent untuk melunakkan air proses pemasakan. Logam alkali tanah ( Ca, Mg) dan logam beraty ( Fe, Cu) dalam bahan atau dalam air akan membenruk ikatan komplek dengan NaOH sehinmgga mengurangi efektifitas kerja sabun. Juga Hidroksil dan pektin dapat terikat dalam garam2 dalam air membentuk endapan dan endapan pektin brikatan dengan kapas melalui ikatan hidrogen bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran serat kapas yang berupa : minyak, lilin (wax) , debu, knitting oil (oli rajut ), dan kotoran lain yang menempel pada kain. Kotoran serat ini dapat menghalangi penyerapan serat pada proses selanjutnya. Pada prinsipnya proses pemasakan serat kapas adalah dengan mendidihkan bahan tekstil dengan larutan natrium hidroksida / soda kostik ( NaOH ) dengan konsentrasi tertentu selama waktu dan temperatur tertentu. Ilustrasi yang terjadi pada proses pemasakan ( scouring process ) : Soda kostik mengekstraksi pektin , wax , protein, abu dan kotoran organik lainnya dengan jalan saponifikasi dan diemulsikan menjadi bentuk yang larut dalam air dengan bantuan detergen / sabun yang mempunyai daya pendispersi yang kuat. Proses pemasakan / scouring ini sangat diperlukan untuk mendapatkan daya serap kain yang baik.

Pemasakan merupakan proses persiapan yang memegang peranan penting bagi bahan tekstil karena dengan pemasakan akan memudahkan bahan untuk menyerap zat-zat yang ada pada proses basah berikutnya. Tujuan pemasakan adalah untuk memperoleh bahan tekstil yang bersih atau untuk menghilangkan kotoran alami baik berupa lemak, minyak, pektin, serisin, gum,kulit biji kapas (pada serat selulosa dan protein) dan kotoran dari luar seperti oli, debu, spinning oil (pada serat sintetik) sehingga meningkatkan daya serap pada seluruh permukaan bahan secara merata. Mekanisme proses pemasakan adalah menyabunkan kotoran berupa lemak, oli, serisin, gum sehingga dapat larut dalam air serta melepaskan kotoran akibat efek detergensi dari larutan pemasakan dan gerakan mekanik yang diberikan pada bahan. Pemasakan dapat dilakukan secara proses tersendiri maupun dilakukan simultan dengan proses penghilanagn kanji dan pengelantangan. Untuk bahan dengan kandungan kotoran yang tinggi sebaiknya dilakukan secara terpisah (serat-serat alam), sedangkan untuk bahan yang terbuat dari serat sintetik atau serat campuran biasanya dilakukan proses simultan.

2. PENGLANTANGAN
Definis Pengelantangan Pengelantangan dikerjakan terhadap bahan tekstil bertujuan menghilangkan warna alami yang disebabkan oleh adanya pigmen-pigmen alam atau zat-zat lain, sehingga diperoleh bahan yang putih. Pigmen-pigmen alam pada bahan tekstil umumnya terdapat pada bahan dari serat-serat alam baik serat tumbuhtumbuhan maupun serat binatang yang tertentu selama masa pertumbuhan. Sedangkan bahan tekstil dari serat sintetik tidak perlu dikelantang, karena pada proses pembuatan seratnya sudah mengalami pemurnian dan pengelantangan, tetapi untuk bahan tekstil yang terbuat dari campuran serat sintetik dan serat alam diperlukan proses pengelantangan terutama prosesnya ditujukan terhadap serat alamnya. Untuk menghilangkan pigmen-pigmen alam tersebut hanya dapat dilakukan dalam proses pengelantangan dengan menggunakan zat pengelantang yang bersifat oksidator atau yang bersifat reduktor. Pengelantangan dapat dilakukan sampai memperoleh bahan yang putih sekali, misalnya untuk bahan-bahan yang akan dijual sebagai benang putih atau kain putih, tetapi dapat pula dilakukan hanya sampai setengah putih khususnya untuk bahanbahan yang akan dicelup atau berdasarkan penggunaan akhirnya. Zat Pengelantang Dalam pertekstilan dikenal dua jenis zat pengelantang yaitu zat pengelantang yang bersifat oksidator dan yang bersifat reduktor. Zat pengelantang yang bersifat oksidator pada umumnya digunakan untuk pengelantangan serat-serat selulosa dan beberapa di antaranya dapat pula dipakai untuk serat-serat binatang dan seat-serat sintetis. Sedangkan zat pengelantang yang bersifat reduktor hanya dapat digunakan untuk pengelantangan seratserat binatang.

Zat Pengelantang yang Bersifat Oksidator Zat pengelantang yang bersifat oksidator ada dua golongan, yaitu yang mengandung khlor dan yang tidak mengandung khlor. Zat pengelantang oksidator yang mengandung khlor, di antaranya : Kaporit (CaOCl2) Natrium hipokhlorit (NaOCl) Natrium khlorit (NaOClO2) Zat pengelantang oksidator yang tidak mengandung khlor, di antaranya : Hidrogen peroksida (H2O2) Natrium peroksida (Na2O2) Natrium perborat (NaBO3) Kalium bikhromat (K2Cr2O7) Kalium permanganat (KMnO2) Zat Pengelantang yang bersifat reduktor, antara lain : Sulfur dioksida (SO2) Natrium sulfit (Na2SO3) Natrium bisulfit (NaHSO3) Natrium hidrosulfit (Na2S2O4) Proses pengelantangan bahan tekstil dapat dilakukan tidak terhadap semua jenis bahan dari serat yang berbeda dengan zat pengelantang yang sama, tetapi harus dipilih kesesuaiannya agar dapat memperoleh hasil yang baik. Bahan tekstil dari serat selulosa seperti kapas dan rayon viskosa dapat dikelantang dengan kaporit, natrium hipokhlorit dan hidrogen peroksida. Pengelantangan rayon viskosa biasanya menggunakan natrium hipokhlorit akan lebih aman daripada dengan kaporit. Sedangkan pengelantangan dengan hidrogen peroksida juga lebih baik, karena tidak terjadi kerusakan serat, tetapi harganya lebih mahal dan memerlukan pemanasan. Untuk serat protein tidak dapat dikelantang dengan zat oksidator yang mengandung khlor, karena dapat terjadi kerusakan serat oleh khlor, sehingga lebih baik pengelantangan serat protein dapat digunakan dengan zat pengelantang yang tidak mengandung khlor seperti hidrogen peroksida dan zat pengelantang yang bersifat reduktor. Sedangkan bahan dari serat sintetik dan rayon asetat paling baik dikelantang dengan natrium khorit (Textone) dalam suasana asam. Rayon asetat dapat pula dikelantang dengan natrium hipokhlorit dalam suasana asam.

3. PENGLANTANGAN DENGAN HIDROGEN PEROKSIDA


Meskipun hidrogen peroksida harganya lebih mahal dan prosesnya juga perlu pemanasan, tetapi pengelantangan dengan hidrogen peroksida memberikan beberapa keuntungan karena hampir tidak terjadi kerusakan serat dan prosesnya dapat lebih singkat tanpa melalui proses pengasaman dan anti khlor. Pengelantangan untuk serat kapas, biasanya diperlukan kira-kira 2 volum H2O2 (20 ml/l H2O2 100 volume, pH = 11 12, suhu 850C dengan metafosfat dan zat pembasah selama 1 2 jam). Pengelantangan secara kontinyu, merupakan bagian dari proses berkesinambungan dari pemasakan dan pengelantangan. Kain dilakukan pada saturator (diimpregnasi) yang berisi larutan soda kostik kurang baik 3% dan suhunya 300C. Keluar dari saturator kain diperas oleh sepasang rol pemeras dengan derajat peras 100%. Selanjutnya kain diuap pada ruang pemanas dari J-Box dengan suhu 1000C, kemudian dilanjutkan pada storage chamber dari J-Box dengan kecepatan + 100 yard/menit. Kain berada dalam J-Box sekitar satu jam, kemudian kain dicuci melalui bak-bak cuci dari mesin yang diikuti pemerasan, terus masuk ke saturator yang berisi 0,5 volum H2O2 pada pH 10,5 10,8 dengan stabilisator buffer silikat. Keluar dari saturator kain diperas dengan derajat peras 100%, selanjutnya diuap pada ruang pemanas J-Box yang suhunya 1000C, kemudian dilakukan pada storage chamber dari J-Box. Kain berada dalam J-Box sekitar satu jam. Kemudian kain dicuci bersih melalui bakbak cuci diikuti pemerasan dan diakhiri dengan penumpukan kain pada tempatnya.

C. ALAT
1. 2. 3. 4. 5.

DAN

BAHAN
1. Kain Rayon Viskosa 2. H2O2 (35 %) 3. Na2CO3 4. Na2SiO3 5. Pembasah, dll

Beker glas Timbangan Elektrik Thermometer Pengaduk Bunsen, dll

D. RESEP
RESEP 1 PEMASAKAN
Na2CO3 Pembasah Sequester-T Suhu Waktu VLOT = = = = = = 3 1 0,5 85 60 1 : 20 cc/l cc/l gr/l 0 C menit

RESEP 2 PENGLANTANGAN
H2O2 Na2SiO3 Na2CO3 Pembasah Sequester-T Suhu Waktu VLOT = = = = = = = = 12 1 1 1 0,5 80 60 1 : 30 cc/l gr/l gr/l gr/l gr/l 0 C menit

E. PROSEDUR PRAKTIKUM
PEMASAKAN Hitung kebutuhan air proses dan zat kimia yang akan digunakan sesuai dengan resep Ambil dan timbang zat kimia kemudian siapkan larutan proses pada beker glass Naikkan suhu larutan prses sesuai pada resep setelah itu masukkan kain pada larutan proses dan lakukan pengerjaan pada kain (850C selama 1 jam) Angkat kain dan lakukan pencucian panas, sabun, panas dan bilas. Keringkan kain

PENGLANTANGAN Hitung kebutuhan air proses dan zat kimia yang akan digunakan sesuai dengan resep Ambil dan timbang zat kimia kemudian siapkan larutan proses pada beker glass Naikkan suhu larutan prses sesuai pada resep setelah itu masukkan kain pada larutan proses dan lakukan pengerjaan pada kain (800C selama 1 jam) Angkat kain dan lakukan pencucian panas, sabun, panas dan bilas.

Keringkan kain dan amati perubahan warna yang terjadi pada bahan Bandingkan derajat putih hasil proses pemasakan dengan hasil proses pengelantangan

F. PENGHITUNGAN KEBUTUHAN ZAT


RESEP 1
Keb Air Pembasah Na2CO3 Rapidase = = = = 20,287gr + 20,210gr 1/8 x 20 = 773,9 cc = 0,8 l 1 cc/l x 0,8 l = 0,8 cc 3 gr/l x 0,8 l = 2,4 gr 0,5 cc/l x 0,8 l = 0,4 cc

RESEP 2
BB Keb Air H2O2 Na2SiO3 Na2CO3 Pembasah Sequester-T = = = = = = = 20,1 gr 20,1 gr x 30 12 cc/l x 0,6 l 1 gr/l x 0,6 l 1 gr/l x 0,6 l 1 cc/l x 0,6 l 0,5 cc/l x 0,6 l = = = = = = 606,3 gr = 600 cc = 0,6 l 7,2 cc 0,6 gr 0,6 gr 0,6 cc 0,3 cc

G. FLOW PROSES

H. FUNGSI ZAT
1. H2O2 35% mengoksidasi pigmen / warna alam yang ada pada bahan sehingga diperoleh hasil kain yang putih dan bersih membantu membersihkan sisa-sisa kotoran yang tidak dibersihkan di proses pemasakan 2. Na2 agar tidak terlalu cepat sehingga proses pengelantangan bisa optimal 3. Na2SO3 : Hilang kanji : menghidrolisa kanji pati dari maltosa menjadi glukosa yang mudah larut dalam air Pemasakan : ~ mensafonifikasi gliserida ~ bersama sama dengan pembasah akn membentuk sabun yang akan mendispersikan molekul yang berat menjadi halus 4. Pembasah : mengurangi tegangan antar muka bahan dengan larutan sehingga bahan lebih mudah menyerap larutan prosesSequester T : mengkikat ion-ion berat yang ada pada larutan proses sehingga tidak menggangu jalannya proses.

I. HASIL PRAKTIKUM
1. Dari hasil prakek yang dilakukan pada cara pemasakan kain terlihat bersih dibanding dengan proses sebelumnya (hilang kanji/desizing) 2. Kain rayon viskosa setelah dilakukan proses pengelantangan kain terlihat putih dan bersih di banding proses sebelumnya

J. DISKUSI & ANALISA


PERBANDINGAN DERAJAT PUTIH PENGLANTANGAN DENGAN PEMASAKAN DAN DESIZING Hasil proses dari ke-3 cara yang udah dilakukan menghasilkan derajat putih yang berbeda beda antara pengelantangan, pemasakan, dan desizing. Hasil praktikum pada kain dihasilkan kain yang lebih putih pada proses pengelantangan dibandingkan dengan cara pemasakan maupun desizing. Hal ini dikarenakan larutan pengelantang menggunakan H2O2 35% yang dapat menghasilkan On- dan OOH+ yang mampu mengangkat pigmen-pigmen alam pada kain sehingga menjadi putih dan bersih,

selain itu H2O2 juga mampu membersihkan sisa-sisa kotoran alam yang masih terdapat pada bahan setelah melalui proses pemasakan. PEBANDINGAN DERAJAT PUTIH PEMASAKAN DENGAN DESIZING Perbandingan derajat putih antara proses pemasakan dan desizing mendapatkan hasil pada pemasakan lebih putih dibandingkan pada desizing karena pada proses pemasakan menggunakan Na2CO3 yang berfungsi membuka pori-pori serat sehingga mampu membersihkan kotoran alam yang terkandung dalam bahan sedangkan pada desizing hanya kanji saja yang hilang sedangkan kotoran alamnya belum hilang sehingga derajat putihnya tida seputih dibandingkan pada pemasakan

K. KESIMPULAN
1. Proses pemasakan menghasilkan kain yang lebih putih dibandngkan proses sebelumnya yang hanya membersihkan kanji pada kain 2. Proes pengelantangan hasilnya terlihat lebih putih dibandingkan dengan proses desizing maupun scouring

L. DAFTAR PUSTAKA
a. S o e p a r m a n , T e k n o l o g i k i m i a t e k s t i l t e r b i t a n k e s a t u , 1 9 7 2

b. Dr. Triyas Thessa Tri Astuti, Persiapan Penyempurnaan, http://prakerinthessa.blogspot.com/2010/06/deskripsi-kegiatan.html c. Ir.Ainur Rosyida,Msi.BUKU PRATEK PENGELANTANGAN I,AKADEMI TEKNOLOGI

WARGA SURAKARTA,2013.
d. 9 november 2012, Pemasakan (scouring) http://toolfree.blogspot.com/2012/11/scouring-proces.html

Anda mungkin juga menyukai