Anda di halaman 1dari 3

Pemeriksaan Khusus

1. Pemeriksaan pneumothorax Pada kekerasan yang mengenai daerah dada, dapat terjadi patah tulang iga yang mengakibatkan tertusuknya paru dan selanjutnya menimbulkan pneumotoraks. Dalam hal demikian, pembuktian dapat dilakukan dengan mudah, yaitu dengan cara membuka rongga dada di bawah permukaan air untuk melihat keluarnya gelembung udara. Kulit daerah dada yang telah dilepaskan dari dinding dada dipegang pada tepi bebasnya sedemikian rupa sehingga membentuk semacam kantong dengan dasar dinding dada. De dalam kantong ini kemudian diisi air. Dengan sebuah skalpel, dinding dada diiris di bawah permukaan air sampai menembus ke rongga dada. Pengumpulan udara dalam rongga dada pada pneumotoraks akan menyebabkan ke luar gelembung udara dari lubang. Pemeriksaan pneumotoraks dapat pula dilakukan dengan menggunakan semperit gelas yang besar (ukuran 25 sentimeter kubik) dan jarum trokar. Semperit diisi setengah penuh, lalu dengan jarum trokat, sela iga ditusuk. Adanya pengumpulan udara dalam rongga dada akan menyebabkan keluar gelembung udara ke dalam air dalam semperit. 2. Pemeriksaan emboli udara Terbukanya pembuluh darah akibat trauma, kadangkala dapat menyebabkan timbulnya emboli udara. Dikenal 2 jenis emboli udara berdasarkan letak dari emboli tersebut, emboli udara vena (emboli udara paru) dan emboli udara arterial (emboli udara sistemik). Pada permukaan kulit leher bagian dalam melakukan autposi rutin, vena daerah ini mudah terpotong, terutama vena jugularis. Bila ini terjadi, maka terdapat kemungkinan masuknya udara post mortal ke dalam pembuluh darah tersebut. Pada pengangkatan alat leher kemudian, terjadi manipulasi terhadap leher dan kepala sehingga udara yang masuk tadi dapat berpindah dan masuk ke dalam jantung. Hal tersebut diatas akan memberikan hasil pemeriksaan yang salah (false positive) dan karenanya harus dihindari, dengan jalan tidak membuka daerah leher sebelum dilakukan pemeriksaan emboli. a. Pemeriksaan emboli udara vena Dengan mengingat kemungkinan terjadinya hasil false positive seperti yang diuraikan di atas, maka pembukaan kuliat dimulai dari setinggi incisura jugularis ke bawah sepanjang garis median. Kulit daerah leher dibiarkan utuh untuk sementara dan jangan ganjal bahu mayat dengan balok. Kulit dan otot dinding dada serta rongga perut dibuka seperti biasa. Rawan iga dipotong mulai dari iga ke-3 ke arah kaudo-lateral. Insersi otot diafragma dipotong untuk melepaskan bagian bawah sternum dan iga. Kemudian bagian depan didnding dada ini dilepaskan dengan terlebih dahulu menggergaji tulang dada (sternum) melintang setinggi iga ke-3. Tindakan memotong tulang dada setinggi iga ke-3 ini dilakukan untuk mencegah terpotongnya pembuluh darah besar yang berjalan dibelakang iga ke-2 dan tulang selangka. Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan memanjang pada tempat yang letaknya paling tinggi (di pertengahan kandung jantung) sepanjang 5 sampai 7

sentimeter. Ke dalam kandung jantung kemudian diisikan air sehingga seluruh jantung terdapat di bawah permukaan air (terendam). Kadang-kadang jantung cenderung untuk mengapung. Dlam hal ini tekanlah jantung dengan jari tangan kiri dan jagalah agar jantung tetap terendam. Dengan pisau organ, tusuklah ventrikel kanan dekat dengan permulaan a. pulmonalis sampai menembus ke dalam bilik kanan. Dengan melakukan pemutaran bidang pisau (knife blade) sebanyak 90 derajat, maka lbang tusukan diperlebar. Perhatikanlah apakah terdapat gelembung udara yang keluar dari lubang tersebut. Dengan cara yang sama, ventrikel kiri juga dilubangi dan diperhatikan juga pakah terdapat gelembung udara yang keluar. Pada kasus dengan emboli udara vena, udara akan terkumpul dalam bilik kanan jantung dan karenanya, pada pemeriksaan akan ditemukan keluarnya gelembung udara dari lubang yang dibuat pada bilik kanan, sedangkan dari bilik jantung kiri tidak terdapat gelembung udara yang keluar. Bila pada pemeriksaan tidak keluar gelembung baik dari bilik kanan maupun kiri, maka kemungkinan terdapatnya emboli udara vena dapat disingkirkan. Bila pada penusukan bilik kanan dan kiri keduanya memberikan gelembung udara, maka hal ini dapat disebabkan oleh adanya emboli udara vena disertai defek septum, atau diakibatkan oleh terbentuknya gas pembusukan dalam bilik jantung kanan maupun kiri. Dalam hal ini kemungkinan terdapatnya emboli udara vena tidak dapat dipastikan maupun disingkirkan. b. Pemeriksaan emboli udara vena Untuk membuktikan adanya emboli udara arterial, lakukan persiapan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan emboli udara vena. Dengan jantung yang seluruhnya terdapat di bawah permukaan air, lakukan pemotongan permulaan a. coronaria kiri dengan jalan mengirisnya pada bagian anterior septum dan perhatikan apakah terdapat gelembung udara yang keluar. Bila perlu dapat dilakukan pengurutan sepanjang septum dari arah apex jantung ke arah tempat pengirisan. 3. Emboli lemak Kematian akibat emboli lemak dapat terjadi pada kasus trauma tumpul terhadap jaringan lemak atau patah tulang panjang pada orang dewasa. Butir lemak yang berasal dari jaringan lemak atau sumsum tulang dapat memasuki aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Pada otak, butir lemak ini dapat menyumbat pembuluh otak yang kecil dan mengakibatkan kematian. Diagnosa emboli lemak dapat ditegakkan bila dalam pembuluh darah dapat ditemukan butir lemak ini (fat globule). Untuk melihat ini, dilakukan pemeriksaan histopatologik dengan pewarnaan khusus untuk lemak, misalnya Sudan III. Butir lemak akan diwarnai menjadi berwarna merah-jingga. Pada pengerjaan/processing jaringan untuk pembuatan preparat

histopatologik, hendaknya dihindari proses rutin yang dalam perjalanannya akan melarutkan butir lemak yang terdapat dalam pembuluh darah tersebut. 4. Percobaan getah paru-paru (longsap proof) Permukaan paru disiram dengan air bersih, iris bagian perifer, ambil sedikit cairan perasaan dari jaringan perifer paru, taruh pada gelas objek, tutup dengan kaca penutup dan lihat dengan mikroskop. 5. Percobaan apung paru-paru (docimasia pulmonum hydrostatica = longdrijfproef) Keluarkan paru-paru dengan mengangkatnya mulai dari trachea sekalian dengan jantung dan timus. Kesemuanya ditaruh dalam baskom berisi air. Bila terapung artinya paru-paru telah terisi udara pernafasan. Untuk memeriksa lebih jauh, pisahkan paru-paru dari jantung dan timus, dan kedua belah paru juga dipisahkan. Bila masih terapung, potong masing-masing paru-paru menjadi 12-20 potongan-potongan kecil. Bagian-bagian ini diapungkan lagi. Bagian kecil paru ini ditekan dipencet dengan jari di bawah air. Bila telah bernafas, gelembung udara akan terlihat dalam air. Bila masih mengapung, bagian kecil paru-paru ditaruh di antara 2 lapis kertas dan dipijak dengan berat badan. Bila masih mengapung, itu menunjukkan bayi telah bernafas. Sedangkan udara pembusukan akan keluar dengan penekanan seperti ini, jadi ia akan tenggelam.