Anda di halaman 1dari 7

ARTIKEL

INFEKSI NOSOKOMIAL DI RUMAH SAKIT

DISUSUN OLEH : NAMA NIM : Nunung Marisah Said : 1011015100

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2013

Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan manusia. Orang sakit yang dirawat di rumah sakit ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat dengan pasien lainnya. Rumah sakit adalah tempat pasien mendapatkan terapi dan perawatan agar sembuh dari penyakit yang diderita. Selain tempat untuk terapi dan perawatan, ternyata rumah sakit juga dapat menjadi sumber penyakit. Dimana rumah sakit adalah tempat berkumpulnya penyakit menular maupun tidak menular. Di rumah sakit sangat rentan terjadinya infeksi penyakit yang biasa disebut infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah suatu infeksi yang diperoleh/dialami pasien selama dirawat di rumah sakit. Infeksi nosokomial terjadi karena adanya transmisi mikroba patogen yang bersumber dari lingkungan rumah sakit dan perangkatnya. Akibat lainnya yang juga cukup merugikan adalah hari rawat penderita yang bertambah, beban biaya menjadi semakin besar, serta merupakan bukti bahwa manajemen pelayanan medis rumah sakit kurang bermutu. Infeksi nosokomial merupakan infeksi silang yang terjadi akibat perpindahan mikroorganisme melalui petugas kesehatan dan alat yang dipergunakan saat melakukan tindakan. Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial Presentase infeksi nosokomial di rumah sakit dunia mencapai 9% (variasi 3 21%) atau lebih 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit seluruh dunia mendapatkan infeksi nosokomial. Suatu penelitian yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik menunjukkan adanya infeksi nosokomial dan untuk Asia Tenggara sebanyak 10,0% (WHO, 2002). Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi

penyebab utama. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0% (Ducel, G, 2002). Infeksi nosokomial dapat terjadi pada pasien, tenaga kesehatan dan juga setiap orang yang datang ke rumah sakit. Penyebab infeksi nosokomial adalah akibat mikroorganisme berupa bakteri, virus, fungi dan parasit, tetapi umumnya terjadi akibat virus dan bakteri. Sumber infeksi dapat berasal dari pasien, petugas rumah sakit, pengunjung yang berstatus karier atau lingkungan rumah sakit. Dari keempat sumber penularan, pada umumnya kejadian infeksi nosokomial terjadi melalui tangan petugas rumah sakit yang tercemar kuman akibat berhubungan dengan pasien, bahan atau alat yang tercemar. Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya. Kerugian yang ditimbulkan akibat infeksi ini adalah menyebabkan cacat fungsional, stress emosional dan dapat menyebabkan cacat yang permanen serta kematian. Dampak tertinggi pada negara berkembang dengan prevalensi HIV/AIDS yang tinggi. Meningkatkan biaya kesehatan diberbagai negara yang tidak mampu dengan meningkatkan lama perawatan di rumah sakit, pengobatan dengan obat-obat mahal dan penggunaan pelayanan lainnya, serta tuntutan hukum.

KASUS INFEKSI NOSOKOMIAL SALURAN KENCING DI RUMAH SAKIT KHUSUS PENYAKIT MENULAR Dari survey yang dilakukan Janas dkk pada Rumah Sakit Khusus Penyakit Menular (RSPKM) terdapat infeksi nosokomial saluran kencing (INSK). Infeksi nosokomial saluran kencing (INSK) merupakan salah satu jenis infeksi nosokomial (INOS). Infeksi nosokomial saluran kencing atau INSK jadi penting karena selain penting karena selain paling umum, juga karena bias jadi sumber invasi bacteria atau hasilny a ke dalam aliran darah, dapat menyebabkan kerusakan ginjal, penyebaran infeksi, sepsis dan mungkin meningkatkan angka kesakitan. Angka INSK di rumah sakit Amerika Serikat antara 1,3%-2,5% dari penderita rumah sakit atau 30%-40% dari seluruh infeksi nososkomial. Sebagian besar yaitu sekurang-kurangnya 75%dari INSK ini berhubungan dengan tindakan kateterisasi. Data INSK di Indonesia masih sedikit dan belum lengkap. Dari beberapa data penelitian yang berasal dari beberapa bagian di beberapa rumah sakit besar di Indonesia terdapat angka INSK antara 8,3%-81% dari penderita yang diperiksa. Di lakukannya survey di Rumah Sakit Khusus Penyakit Menular (RSPKM) bertujuan untuk mendapatkan data dasar infeksi nosokomial dan hasilnya akan digunakan untuk mencari cara pencegahan infeksi nosokomial. Hasil survey yang dilakukan secara prospektif selama satu tahun didapatkan kejadian infeksi sebanyak 115 kasus (15,9%) dari 723 pasien yang telah diperiksa dan memenuhi criteria survey. Angka tersebut menunjukkan bahwa INSK di RSPKM sangat tinggi di bandingkan dengan laporan penelitian di luar negeri yaitu sebanyak 1,3% kasus. Hal ini mungkin karena penyakit dasar penderita yang dirawat di RSPKM semuanya penyakit infeksi atau menular dan keadaaan rumah sakit dan kesehatan umum disini belum begitu baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka INSK antara lain beratnya penyakit dasar penderita, tindakan kateterisasi dan pemberian antibiotika sebelum dirawat. Kuman penyebab kebanyakan bakteri kuman gram negatif dan terbanyak adalah E.coli. Lama perawatan di rumah sakit, disini semakain lama hari perawatan, makin tinggi angka INSK. Hal ini dapat dimengerti,dengan meningkatnya lama perawatan makin besar kemungkinan adanya kolonisasi kuman,juga lebih sering dilakukan tindakan kateterisasi.

Kegiatan pencegahan dan pengedalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya merupakan suatu standar mutu pelayanan dan penting bagi pasien, petugas kesehatan maupun pengunjung rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Pengendalian infeksi harus dilaksanakan oleh semua rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya untuk melindungi pasien, petugas kesehatan dan pengunjung dari kejadian infeksi dengan memperhatikan cost effectiveness (Depkes RI, 2007). Demi mengurangi angka kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit maka perlu dilakukan beberapa upaya antaranya adalah : a. Membiasakan cuci tangan yang benar ketika akan menangani dan sesudah menangani pasien. Cuci tangan bisa memutus rantai penularan dari satu pasien ke pasien lain melalui tangan tenaga medis, disamping itu juga memutus rantai penularan dari pasien ke tenaga medis sendiri atau sebaliknya. b. Penggunaan alat pelindung diri; masker, sarung tangan (handscoon), celemek. pemasangan infus, kateter, dll dengan tehnik aseptik dan antiseptik. c. Sterilisasi alat-alat medis. d. Pemantauan angka kuman oleh petugas khusus rumah sakit, meliputi angka kuman di lantai, dinding, dapur, alat makan, dll. Selanjutnya digunakan cairan antiseptik yang cocok untuk mengendalikan angka kuman tersebut. e. Pemisahan ruang perawatan dari ruang infeksi dan non infeksi, juga dibuat ruang isolasi untuk pasien yang dapat menularkan penyakitnya melalui udara, misalnya TBC paru. f. Sterilisasi ruangan dengan tehnik fogging dan penyinaran Ultra violet. dll, masih banyak upaya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.

Mencegah Penularan Dari Lingkungan Rumah Sakit Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu, minyak dan kotoran. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar mandi, dan alat-alat medis yang telah dipakai berkalikali. Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara, terutama bagi pendenita dengan status imun yang rendah

atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis. Selain itu, rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari. Toilet rumah sakit juga harus dijaga, terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan.

Kesimpulan Dari kasus di atas dapat di simpulkan bahwa survey prospektif INSK di RSPKM selama satu tahun ditemukan angka INSK yang cukup tinggi yaitu sebesar 115 kasus (15,9%). Angka INSK dipengaruhi beratnya penyakit dasar penderita. tindakan kateterisasi, dan pemberian antibiotika sebelum dirawat. Kuman penyebab kebanyakan bakteri kuman gram negatif dan yang terbanyak bakteri E.coli. Hari rawat kasus INSK lebih lama dari yang tidak mendapat INSK. Untuk mengurangi angka kejadian infeksi nosokomial dapat dilakukan beberapa upaya antara lain : Membiasakan cuci tangan yang benar ketika akan menangani dan sesudah menangani pasien. Cuci tangan bisa memutus rantai penularan dari satu pasien ke pasien lain melalui tangan tenaga medis, disamping itu juga memutus rantai penularan dari pasien ke tenaga medis sendiri atau sebaliknya, penggunaan alat pelindung diri; masker, sarung tangan (handscoon), celemek. pemasangan infus, kateter, dengan tehnik aseptik dan antiseptic, sterilisasi alat-alat medis, pemantauan angka kuman oleh petugas khusus rumah sakit, meliputi angka kuman di lantai, dinding, dapur, alat makan. Selanjutnya digunakan cairan antiseptik yang cocok untuk mengendalikan angka kuman tersebut, pemisahan ruang perawatan dari ruang infeksi dan non infeksi, juga dibuat ruang isolasi untuk pasien yang dapat menularkan penyakitnya melalui udara, misalnya TBC paru. Sterilisasi ruangan dengan tehnik fogging dan penyinaran Ultra violet. dll, masih banyak upaya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.

Saran a. Eliminasi dan kurangi perkembangan agen penyebab infeksi dan factor lainnya yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial dengan memperhatikan kebersihan dan sterilisasi lingkungan rumah sakit dan peralatan yang digunakan. b. Mengurangi prosedur-prosedur invasif untuk menghindari terjadinya infeksi nososkomial. c. Pencegahan terjadinya infeksi nosokomial memerlukan monitoring dan program untuk mengawasi kejadian infeksi, indetifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya.

Anda mungkin juga menyukai