Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi aeronautika demikian pesat, sementara itu fisiologi manusia dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Menjadi sebuah tantangan untuk mengandarai pesawat modern dengan segala keterbatasan fisiologi manusia khususnya risiko kejadian hipoksia yang sangat erat kaitannya dengan ketinggian. Semakin tinggi pesawat mengangkasa semakin tinggi pula risiko terjadinya hipoksia. Hal ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan pesawat. ( Rahadyan A, Joesoef A.H, Kaunang D.R.D, 2008) Hipoksia pada waktu penerbangan adalah suatu kondisi yang membahayakan keselamatan manusia dan mempengaruhi keadaan fisiologis, aspek intelektual serta aspek psikomotorik manusia. Otak manusia bukan merupakan sistem alarm yang dapat mengingatkan seseorang terhadap kondisi kekurangan suplai O2.Terjadinya hipoksia dalam penerbangan tidak disadari oleh penerbang, karena gejala dan tanda hipoksia biasanya tidak menimbulkan gangguan dan nyeri, timbulnya gejala awal bersifat perlahan-lahan, serta terdapat perbedaan toleransi individu dan toleransi harian terhadap hipoksia akhirnya terjadi peningkatan keparahan gejala hipoksia dan waktu kesadaran efektif akan menurun dengan cepat. (Harding, 1988) Tekanan pada ketinggian sangat mempengaruhi jumlah oksigen dalam darah dan setiap individu memiliki variasi yang berbeda-beda. Pada penerbangan dengan ketinggian 25.000 feet dapat menunjukan efek hipoksia dan bevariasi antara individu dalam kenyataannya, kebanyakan orang akhirnya akan pingsan pada 25.000 feet. ( Garrison P, 2011) Pada high altitude, beberapa respon fisiologis terjadi, seperti hiperventilasi (respon dini) dan perubahan hematologi (peningkatan sel darah merah / RBC), dan konsentrasi hemoglobin (Hb) (tanggapan jangka panjang). Perubahan ini merupakan faktor kunci fisiologis yang diikuti ketika pelatihan di ketinggian untuk meningkatkan kinerja.

Pelatihan dalam ruang hypobaric dengan paparan kronis

ketinggian telah digunakan

sebagai metode alternatif untuk mencapai aklimatisasi dengan ketinggian. ( G. Viscor et all,) Awak pesawat secara umum telah dilatih untuk mengenali gejala-gejala hipoksia melalui pelatihan simulasi di ruang Hypobaric Chamber pada ketinggian 25.000 feet atau lebih. (Ghosh PC,2010) Merupakan syarat utama menjadi pilot, baik militer maupun sipil, untuk memiliki kondisi fisik dan mental yang prima. Dalam melakukan Indoktrinasi Latihan Aerofisiologi (ILA) berkala di Ruang Udara Bertekanan Rendah (RUBR), awak pesawat di latih untuk mengenali gejala-gejala hipoksia dapat berbeda untuk setiap individu. Sebelum melakukan latihan dilakukan pemeriksaan kesehatan seperti pemeriksaan laboratorium. ( Rahadyan A, Joesoef A.H, Kaunang D.R.D, 2008) Dalam penelitian ini dimana kadar hemoglobin seseorang dapat mempengaruhi waktu sadar efektif (EPT) dalam keadaan hipoksia di Ruang Udara Bertekanan Rendah (RUBR)/ Hypobaric Chamber.
(Conroy, 2005)

I.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: - Apakah ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan waktu sadar efektif (EPT) dalam keadaan hipoksia di Ruang Udara Bertekanan Rendah (RUBR)/ Hypobaric Chamber?

I.3 Tujuan Penelitian I.3.1 Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan waktu sadar efektif (EPT) pada latihan penerbangan dalam berbagai simulasi ketinggian di hypobaric chamber.

I.3.2 Tujuan Khusus - Mengetahui rata-rata waktu sadar efektif (EPT) dalam ketinggian 25000 feet. - Mengetahui rata-rata kadar hemoglobin untuk mencapai waktu sadar efektif (EPT).

I.4 Manfaat Penelitian I.4.1 Bagi institusi Hypobaric Chamber dan laboratorium Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi bagi tenaga kesehatan dan seluruh anggota penerbangan aktif tentang berbagai tanda hipoksia, rata-rata kadar hemoglobin untuk mencapai waktu sadar efektif (EPT), rata-rata waktu sadar efektif (EPT) dalam ketinggian 25000 feet. I.4.2 Bagi peneliti Dapat menjadi pengalaman dan menambah wawasan bagi peneliti tentang tanda hipoksia, rata-rata kadar hemoglobin untuk mencapai waktu sadar efektif (EPT), ratarata waktu sadar efektif (EPT) dalam ketinggian. Informasi yang diperoleh dapat dijadikan acuan bagi peneliti selanjutnya. I.4.3 Bagi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan tambahan kepustakaan dalam penelitian selanjutnya. Diharapkan dapat informasi tentang berbagai tanda hipoksia, rata-rata kadar hemoglobin untuk mencapai waktu sadar efektif (EPT), rata-rata waktu sadar efektif (EPT) dalam ketinggian khususnya dalam bidang matra udara.