Anda di halaman 1dari 3

BAB 1 PENDAHULUAN Sehat menurut WHO (1947) merupakan suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan

sosial, sehingga tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Hal tersebut mengandung tiga karakteristik yang merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia, memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan eksternal, dan sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif. Kesehatan jiwa didefinisikan sebagai suatu kondisi sehat emosional, psikologis dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif dan kestabilan emosional. Gangguan jiwa adalah suatu sindrom atau pola psikologis atau perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya distress atau disabilitas (kerusakan pada satu atau lebih pada satu area fungsi yang penting) atau disertai peningkatan resiko kematian yang menyakitkan, nyeri, disbilitas ataj sangat kehilangan atau kebebasan (Videbeck, 2008). Data WHO tahun 2000 melaporkan angka gangguan mental yang semula 12% meningkat menjadi 13% di tahun 2001. WHO bahkan memprediksi angka gangguan jiwa penduduk dunia meningkat hingga 15% pada tahun 2015. Sementara di Indonesia, berdasarkan RISKESDAS 2007 prevalensi gangguan mental emosional orang Indonesia berumur 15 tahun ke atas mencapai 11,6%, sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat psikosis, skizofrenia dan gangguan depresi berat 0,5%. Salah satu diagnosis medik gangguan jiwa yang teridentifikasi adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan suatu penyakit otak persisten, dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah.Gangguan ini itandai dengan gejala-gejala positif yaitu bertambahnya kemunculan tingkah laku yang berlebihan, dan menunjukkan penyimpangan dari fungsi psikologis seprti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, dan gangguan kognitif dan persepsi. Gejala negatif adalah penurunan kemunculan suatu tingkah laku yang juga berarti penyimpangan dari fungsi psikologis yang normal seperti berkurangnya keinginan untuk bicara dan merawat diri, afek datar dan terganggunya relasi personal (Hawari, 2007).

Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia 0,3-1% artinya penduduk di Indo esia berjumlah 200 juta maka diperkirakan sekitar 2 juta jiwa menderita skizofrenia dimana sekitar 99% dirawat di rumah sakit jiwa.Salah satu masalah dalam penanganan skizofrenia adalah relaps. Relaps adalah kembalinya suatu penyakit setelah nampaknya mereda. Waham yang merupakan gangguan pada isi pikir. Waham sendiri didefinisikan sebagai suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat atau terus menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan (Kelliat, 2009).Akibat dari waham adalah klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistik, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata yang didengar, dan kontak mata kurang. Akibat lainnya adalah resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan yang salah satunya ditunjukkan dengan perilaku kekerasa. Perilaku kekerasan yaitusuatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang baik secara fisik atau psikologis. Dari hasil pengamatan ruangan Arimbi selama berdinas, kami menemukan bahwa pasien dengan masalah keperawatan gangguan isi pikir : waham hanya satu pasien dari 16 pasien yang ada di ruanganyakni Ny Y. Kami mengambil kasus Ny. Y karena Ny. Y selain memiliki masalah keperawatan gangguan isi pikir waham kebesaran, beliau juga memiliki riwayat perilaku kekerasan, riwayat halusinasi dan ada harga diri rendah kronis. Klien sudah bolak-balik masuk rumah sakit Dr. H Mardzoeki Mahdi dari tahun 1991. Keluarga mengatakan bahwa klien merupakan sosok yang pendiam namun ini berbeda dengan yang telah diekspresikan saat ini.

A. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, kami dapat mengambil rumusan masalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Apa yang dimaksud dengan gangguan isi pikir : waham? Apa saja etiologi dari gangguan isi pikir : waham? Apa manifestasi klinis klien dengan gangguan isi pikir : waham? Bagaimana proses terjadinya masalah? Bagaimana rentang respon klien dengan gangguan isi pikir : waham? Bagaimana pohon masalah dari gangguan isi pikir : waham? Apa saja masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan gangguan isi pikir : waham?

8. 9.

Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan isi pikir : waham? Bagaimana contoh aplikasi komunikasi terapeutik pada SP klien?

B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Penulis mampu memberikan, menerapkan dan melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan ganguan isi pikir : waham, melalui pendekatan secara terapeutik dalam melakukan pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, implementasi serta evaluasi. 2. Tujuan Khusus Penulis dapat memahami konsep dasar (teori) tentang gangguan isi pikir : waham.