Anda di halaman 1dari 9

Analisis Perdebatan antara Konflik Politik dan Agama 2013 dalam Konflik Israel-Palestina

Helwa Mustofa 201010360311149 Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik

Abstract The war between Israel and Palestine was a war that caused much debate in the world and steal the attention of all the international people. The debate is going on about how the conflict occurred, whether as a pure political conflicts or a pure religious conflict. Discussion about Israel Palestine is quite extensive but here the author will analyze the debates between those who claim that Israel palestine conflict is a religious conflict with those who say that the conflict is purely political conflict. Issue of religion has become a very essential issue discussed in view of the conflict between Israel and Palestne. People of the world caught up in the information reported by many media as saying that Israel Palestine conflict is a religious conflict but in fact if we analyzed it more deeply, according to the authors the conflict is purely political conflicts that are packed in religious sentiment.

Keywords : Israel-Palestine conflict, religious conflict, political conflict, Hamas

1|Page

Analisis Perdebatan antara Konflik Politik dan Agama 2013 dalam Konflik Israel-Palestina
Pendahuluan Konflik Israel-Palestina boleh jadi merupakan konflik yang memakan waktu panjang setelah Perang Salib1 yang pernah terjadi antara dunia Timur dan Barat di sekitar abad keduabelas. Konflik yang telah berlangsung selama enam puluhan tahun ini menjadi konflik cukup akut yang menyita perhatian masyarakat dunia. Konflik yang menjadi salah satu konflik yang susah diselesaikan ini dibuktikan dengan penyerangan yang dilakukan oleh Israel beberapa waktu yang lalu. Tidak hanya mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa, serangan tersebut juga ditujukan oleh Israel untuk melawan dan melucuti sisa-sisa roket yang dimiliki pejuang Hamas, sebuah gerakan perlawanan Islam di Palestina yang menjadi alasan penyerangan Israel ke wilayah tersebut. Agresi meliter Israel ke Jalur Gaza beberapa waktu terakhir benar benar menarik perhatian banyak pihak, tidak saja dari kalangan masyarakat muslim melainkan hampir seluruh masyarakat dunia. Keprihatinan dan simpati masyarakat dunia akan kondisi Palestina yang menjadi korban keganasan agresi meliter Israel diungkapkan dalam berbagai bentuk solidaritas, mulai dari aksi kecamanan, kutukan dan penolakan terhadap tindakan Israel hingga pengiriman bantuan kemanusiaan dalam berbagai bentuk, seperti tenaga medis, makanan serta obat-obatan. Atas nama kemanusiaan, solidaritas semacam ini wajar dilakukan. Namun yang cukup menarik dari sekian banyak solidaritas yang ditujukan pada korban Palestina adalah simpati dan dukungan yang datang dari masyarakat Islam. Lebih dari sekedar memberikan bantuan kemanusiaan pada masyarakat Palestina, beberapa institusi dan ormas Islam bahkan siap mengirimkan tenaga relawannya sebagai "pasukan jihad".2 Kenyataan yang terjadi adalah bahwa konflik Israel-palestina berhasil membangun sentiment dalam masyarakat bahwa konflik tersebut merupakan konflik agama antara Islam dan Yahudi, hal ini dikarenakan rasa persaudaraan dan rasa solidaritas yang muncul dari masayarakat Islam dunia atas dasar banyaknya umat Islam yang menjadi korban akibat serangan bangsa yahudi (Israel) tersebut. Namun, terdapat fakta lain yang melatarbelakangi

Perang Salib seringkali dipahami sebagai perang yang dipicu oleh persoalan agama dengan sendirinya menjadi konotasi "Perang Agama", padahal jika dianalisis lebih jauh, Perang Salib pada prinsipnya merupakan benturan antara peradaban Timur dan Barat, dua peradaban yang digambarkan Samuel P Huntington sebagai peradaban yang hampir sulit diakurkan. Terbukti bahwa, banyak pihak dari kalangan Yahudi dan sejumlah kalangan Nasrani turut berjuang melawan "Tentara Salib" di pihak Timur yang berada dalam kekuasaan khalifah Islam. 2 Eko Marhaendy., Analisis konflik Israel-Palestina Sebuah Penjelajahan dimensi Politik dan Teologis., diakses melalui http://ekomarhaendy.files.wordpress.com/2011/02/analisis-sosial-konflik-israel-palestina.pdf (diakses pada tanggal 5/01/2013; 9:26)

2|Page

Analisis Perdebatan antara Konflik Politik dan Agama 2013 dalam Konflik Israel-Palestina
konflik Israelpalestina yaitu dimensi politik yang juga demikian kental dalam konflik IsraelPalestina. Fakta ini setidaknya ditunjukkan dengan keberpihakan Amerika Serikat sebagai negara adidaya pada Israel. Keberpihakan tersebut semakin terlihat jelas ketika tidak kurang dari puluhan resolusi yang dikeluarkan PBB untuk konflik Israel-Palestina kerap "dimentahkan" Amerika dengan vetonya. Ada hal lain yang lebih menarik, sunyinya suara negara-negara Arab (khususnya Saudi Arabia yang dalam banyak hal dianggap sebagai "kampong halaman Islam", dan berteman dekat dengan Amerika) semakin memperlihatkan nuansa politik yang cukup kontras dalam kasus ini. Sebagian pihak memandang konflik Israel-Palsetina murni sebagai konflik politik, sementara sebagian yang lain memandang konflik ini sarat dengan nuansa agama. Nuansa teologis dalam konflik Israel-Palestina bukan saja ditunjukkan dengan terbangunnya stigma perang Yahudi-Islam, akan tetapi keyakinan terhadap "tanah yang dijanjikan" sebagai tradisi teologis Yahudi juga tidak dapat dipisahkan dalam kasus ini. Oleh karenanya terjadi perdebatan yang cukup panjang antara dimensi agama dan politik karena kedua aspek diatas lah yang mewarnai perjalanan konflik antara Israel-Palestine.3 Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana penulis melihat konflik yang terjadi antara IsraelPalestine sebagai konflik agama ataukah sebagai konflik politik?

Teori/ konsep Untuk mempermudah melakukan analisis terhadap konflik Israel-Palestina maka penulis menggunakan pendekatan penyebab konflik Paul Wher yang mencakup beberapa hal, yaitu : 1) Konflik merupakan pembawaan sejak lahir. 2) Konflik ditimbulkan oleh sifat masyarakat dan cara mereka dibentuk. 3) Konflik adalah ciri yang tak terhindarkan dari kepentingan negara dalam kondisi anarki internasional. 4) Konflik adalah hasil kesalahan persepsi dan komunikasi yang buruk, 5) Konflik adalah proses alami yang umum bagi semua masyarakat.4
3

Ibid

Skripsi Dina Tsalit Wildana, 2009., konflik Israel-palestina (study terhadap konsep perdamaian di timur tengah)., Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Diakses melalui
http://digilib.uin-suka.ac.id/2595/1/BAB%20I%2C%20V.pdf (diakses pada tanggal 7/01/2013;7:56)

3|Page

Analisis Perdebatan antara Konflik Politik dan Agama 2013 dalam Konflik Israel-Palestina
Berdasarkan pendekatan penyebab konflik Paul Wher diatas maka konflik IsraelPalestina merupakan konflik yang sudah entrenched di dalam masyarakat kedua wilayah tersebut yang pada akhirnya memunculkan perdebatan antara konflik politik dan konflik agama yang mewarnai konflik tersebut. Berdasarkan pendekatan diatas konflik merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari suatu negara. Dalam analisa tipologi kekerasan menurut Johan Galtung terdapat beberapa tipe kekerasan yang dapat digunakan dalam menganalisa konflik Israel-Palestina ini, diantaranya adalah Cultural Violence, Structural Violence dan direct Violence. Direct violence merupakan tindakan yang menyerang secara fisik atau psikologis seseorang secara langsung, dalam arti bahwa kekerasan yang terjadi adalah kontak langsung antara pelaku yang bertanggung jawab dan korban dan berakibat bagi korban. Kekerasan ini meliputi pemusnahan etnis, kejahatan perang, pengusiran paksa terhadap suatu masyarakat, serta perkosaan dan penganiayaan. Kekerasan langsung mengancam HAM, khususnya hak untuk hidup. Sedangkan cultural violence adalah sikap dan keyakinan yang telah diajarkan sejak kecil dan selalu mengelilingi kita dalam kehidupan sehari-hari tentang kekuatan dan kebutuhan kekerasan yang berlaku. Hampir semua budaya mengakui bahwa membunuh orang adalah pembunuhan, tetapi membunuh puluhan, ratusan atau ribuan selama konflik dinyatakan sebagai 'perang'. Kemudian structural violence adalah kekerasan tidak langsung, yang bukan berasal dari orang tertentu, tetapi yang telah terbentuk dalam suatu sistem sosial tertentu. Jadi bila orang itu berkuasa atau memiliki harta kekayaan berlimpah, maka akan selalu ada kecenderungan untuk melakukan kekerasan, kecuali kalau ada hambatan yang jelas dan tegas.5

Pembahasan Perang yang terus terjadi antara Israel dan Palestina menimbulkan banyak dimensi untuk menganalisanya, dimensi yang dominan adalah antara agama dan politik. Mereka yang menganggap bahwa konflik antara Israel-Palestina adalah konflik agama, merupakan mereka yang terjebak dalam kesalahpahaman yang telah mengakar sehingga menjadi suatu kebenaran. Kebenaran yang sesungguhnya dapat dilihat dari bagaimana sejarah agama yang muncul diantara kedua tanah tersebut (Israel-palestine). Kesalahpahaman yang terjadi adalah
5

Turning the Tide., Structural/Cultural/Direct Violence., diakses melalui http://www.turning-thetide.org/files/Structural%20Cultural%20Direct%20Violence%20Hand-out.pdf (diakses pada tanggal 20/06/2013;2:03)

4|Page

Analisis Perdebatan antara Konflik Politik dan Agama 2013 dalam Konflik Israel-Palestina
mereka menganngap Palestina identik dengan Islam, memang masyarakat Palestina mayoritas beragama Islam. Namun jangan lupa kalau di Palestina juga hidup masyarakat yang beragama Kristen dan jumlahnya cukup signifikan, mereka juga ikut bahu membahu dengan sesama masyarakat Islam Palestina untuk melawan agresi Israel.6 Hal ini dibuktikan dengan, diakhir era 60-an hingga awal 70-an ada tokoh garis keras front populer untuk pembebasan Palestina (PFLP) yakni George Habbas. Dia beragama Kristen. Di era 80-an ada juru runding PLO yang namanya disegani, yakni Hasnan Asrawi yang merupakan perempuan Kristen.7 Perjuangan rakyat Kristen palestina juga dapat dibuktikan dari beberapa cuplikan pidato yang mereka sampaikan untuk membebaskan diri dari agresi Israel adalah :

Palestina, Tanah Suci adalah tanah air kami dan kami hidup selama berabadabad. Kami, orang Kristen Palestina adalah keturunan dari orang-orang Kristen pertama. Kami juga merupakan komunitas asli dan bagian dari rakyat Palestina. Dan seperti saudara kami Muslim Palestina, hak-hak kami sebagai warga Palestina dan hak asasi kami ditindas selama hampir satu abad.

Selain itu mereka juga mengatakan bahwa :

Sebagai pemimpin komunitas Kristen di Palestina, kami berhak untuk mencari perdamaian yang adil yang akan mengarah pada rekonsiliasi dan realisasi hakhak manusia. Mengakhiri pendudukan Israel adalah satu-satunya cara untuk Palestina, Kristen dan Muslim, untuk menikmati kehidupan kemakmuran dan kemajuan. Kami percaya inisiatif Organisasi Pembebasan Palestina untuk meningkatkan status Palestina di PBB ke Negara Observer merupakan langkah positif, kolektif, dan moral yang akan membawa kami lebih dekat menuju kebebasan.8

6 7

http://www.faryoroh.com/2009/02/konflik-israel-palestina-dan.html (dikases pada tanggal 5/01/2013;7:08) Ibid 8 The Global Review, pernyataan dari 100 tokoh masyarakat Kristen di tanah suci kepada negara eropa: dukungan keanggotaan palestina di PBB., diakses melalui http://www.theglobalreview.com/content_detail.php?lang=id&id=10220&type=1#.UOy4ZuTG-Cg ( diakses pada tanggal 5/01/2013; 7:34)

5|Page

Analisis Perdebatan antara Konflik Politik dan Agama 2013 dalam Konflik Israel-Palestina
Beberapa cuplikan pidato dari masyrakat Palestina diatas telah membuktikan bahwa rakyat Palestina sendiri yang multi-religious saja dapat hidup berdampingan dan berjuang bersama dalam mencapai kemerdekaan Palestina, mengapa masyarakat Internasional harus mempersoalkan masalah agama di palestina. Kemudian juga ada beberapa pendapat dari tokoh-tokoh Indonesia yang menyatakan bahwa konflik Israel Palestina adalah konflik politik. Tokoh agama di Sulawesi Utara (Sulut) sependapat bahwa perang yang terjadi di jalur Gaza yang melibatkan militer Israel dan Hamas, tidak terkait masalah agama, melainkan murni kepentingan politik. Oleh sebab itu, sangat salah jika ada opini yang mengatakan konfrontasi tersebut adalah perang agama. Ini politik internasional. mari kita memandangnya dari konteks kepentingan negara, bukan agama, ungkap Sekretaris MUI Sulut Amin Lasena ketika diwawancarai Komentar, Senada disampaikan Sekretaris Umum BPMS GMIM Pdt Arther Rumengan MTeol. Ditegaskannya juga bahwa aksi penyerangan Israel ke Gaza lebih kuat pada persoalan politik bukannya agama. ini masalah politik, bukan agama, kita janganlah mengiring persoalan ini ke masalah agama yang harus ditegaskan disini adalah bahwa menyelesaikan masalah dengan kekerasan bukan merupakan jalan keluar yang diharapkan, ujarnya. Menurutnya tindakan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.9 Selain itu dalam kunjungannya pertama kali ke Jakarta di tahun 1984, almarhum Yassir Arafat mengatakan bahwa perjuangan Palestina adalah untuk "mendirikan negara Palestina yang demokratis" bagi seluruh "orang Palestina yang beragama Kristen, Yahudi dan Islam sehingga mereka dapat hidup dengan baik dan memiliki kewajiban yang sama sebagai warga negara". Karena pada hakekatnya masyarakat Palestina adalah masyarakat yang plural. Dalam dunia politik, banyak warga palestina non-muslim juga memiliki andil dalam perjuangan bangsa Palestina. Salah satu wajah palestina yang paling dikenal di dunia internasional adalah perempuan Kristen Palestina yang bernama Hanan Ashwari. Selain menjadi legislator di parlemen Palestina, Hanan Ashwari selama beberapa tahun sempat menjadi juru bicara delegasi Palestina dalam perundingan perdamaian, Ayah Hanan, Daoud Mikhail, adalah salah seorang yang ikut membidani lahirnya PLO ( Oganisasi Pembebasan
9

Harian Komentar, written by opex., tekait konfrontasi Hamas Vs Israel: tokoh Islam-kristen SULUT: ini bukan perang agama., diakses melalui http://www.harian-komentar.com/slideshow/4138-terkait-konfrontasi-hamasvs-israel-tokoh-islam-kristen-sulut-ini-bukan-perang-agama.html (dikases pada tanggal 6/01/2013; 8:55)

6|Page

Analisis Perdebatan antara Konflik Politik dan Agama 2013 dalam Konflik Israel-Palestina
Palestina). Jadi, anggapan bahwa perjuangan Palestina itu milik umat Muslim semata tidaklah benar. Apalagi jumlah warga Palestina beragama Kristen maupun Yahudi tidak sedikit. Beberapa posisi pemerintahan seperti walikota Betlehem dan Menteri Pariwisata Palestina selalu diduduki oleh politisi Kristen.10 Dalam kenyatann konflik saat ini, kita mendapatkan realitas bahwa perbincanganperbincangan dalam mewujudkan kemerdekaan dan keamanan di Palestina selalu menemui jalan buntu. Setipa kali ada perjanjian damai yang berlaku, selalu saja ada peristiwa tragis yang menyertainya sehingga memperhambat proses perdamaian diantara keduanya. Hal ini senada dengan pernyataan Gelvin, yang menyatakan bahwa: There was a third reason why the land-for-peace was difficult to implement. Israeli attitudes toward the territories. Some of the territories were relatively easy for Israel to part with. Some, more difficult. And the Israelis refused to putone piece of real estate-the portion of Jerussalem the annexed-on the table at all.11 Kemudian Ralph Waldo Emerson menyatakan bahwa : Peace cannot be achieved through violence; it can only be attained through understanding.12

Berdasarkan pendapat-pendapat tokoh diatas maka dapat disimpulkan bahwa perdebatan anatara konflik agama atau konflik politik kah yang menyebabkan konflik Israel-Palestina maka semuanya tergantung dari bagaimana pihak-pihak yang terlibat tersebut memperbaiki perjanjian-perjanjian yang telah ada, menggunakan sisi kemanusiaan dalam menyelesaikan konflik dan menghindarkan segala kepentingankepentingan asing yang ikut mewarnai konflik tersebut serta adanya ketegasan dari

10

Charles Honoris., Palestina vs Israel: benarkah konflik agama? diakses melalui

http://news.detik.com/read/2012/11/24/130805/2100145/471/palestina-vs-israel-benarkah-konflik-agama (diakses pada tanggal 09/01/2013; 9:57).


11

Mohd Roslan Mohd Nor., konflik Israel Palestine dari aspek sejarah modern dan langkah pembebasan dari cengkraman zionis., diakses melalui http://eprints.um.edu.my/2004/1/05_Bil_5_Konflik_Palestin_dan_Harapan_Masa_Depan_Dr_Roslan.pdf (dikases pada tanggal 6/01/2013;6:48) 12 World Affairs Council., Centre for Global Studies., University of Washington., Understanding the IsraeliPalestinian conflict., diakses melalui http://www.world-affairs.org/wp-content/uploads/2012/03/2009-05-12israeli-palestine.pdf (diakses pada tanggal 07/01/2013;7:28)

7|Page

Analisis Perdebatan antara Konflik Politik dan Agama 2013 dalam Konflik Israel-Palestina
institusi-institusi Internasional tanpa dibarengi oleh kepentingan negara lain didalamnya.

Kesimpulan Interaksi antara Israel dan Palestina membentuk konflik yang teridentifikasi pada dua maslah besar, yaitu politik dan agama. jika dilacak dari latar belakang sejarahnya, masalah politik pada prinsipnya menjadi pemicu utama yang membentuk situasi konflik IsraelPalestina, dan argumentasi teologis tentang berbagai hal seperti; keyakinan tentang tanah yang dijanjikan, bangsa terpilih, maupun tanah tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah menjadi kekuatan lain yang membentuk konflik. Bahkan ada beberapa pihak yang menganggap bahwa argumentasi mengenai tanah yang dijanjikan adalah hanya sebuah mitos belaka yang sengaja dibentuk oleh bangsa yahudi untuk melegitimasi setiap tindakannya terhadap bangsa Palestina. Berdasarkan penjelasan singkat diatas bahwa pertanyaan mengenai penyebab konflik Israel-palestina adalah masalah konflik atau agama dapat terjawab melalui bagaiamana konflik ini dapat diselesaikan oleh kedua belah pihak yang bertikai. Walaupun penyelesaain konflik Israel Palestina akan sulit tercapai karena ternbentur oleh kompleksitas konflik yang melibatkan banyak pihak. Akan tetapi, pada aspek politik, langkah bijak yang yang tentunya dapat dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai persoalan dari kedua belah pihak untuk memunculkan kerjasama dari masing-masing kebijakan politik keduanya. Sementara itu, dari aspek teologis (agama), dialog merupakan langkah yang tepat dalam menyelesaikan persoalan keduanya, walaupun aspek agama tidak teralu mewarnai perjalanan konflik anatara Israel dan Palestina karena dalam sejarahnya hubungan keagamaaan tiga agama besar pernah terjalin harmonis tanpa sentuhan kepentingan politik.

8|Page

Analisis Perdebatan antara Konflik Politik dan Agama 2013 dalam Konflik Israel-Palestina
Daftar Pustaka Eko Marhaendy., Analisis konflik Israel-Palestina Sebuah Penjelajahan dimensi Politik dan Teologis., diakses melalui http://ekomarhaendy.files.wordpress.com/2011/02/analisissosial-konflik-israel-palestina.pdf (diakses pada tanggal 5/01/2013; 9:26) Skripsi Dina Tsalit Wildana, 2009., konflik Israel-palestina (study terhadap konsep perdamaian di timur tengah)., Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Diakses melalui http://digilib.uin-suka.ac.id/2595/1/BAB%20I%2C%20V.pdf (diakses pada tanggal 7/01/2013;7:56) http://www.faryoroh.com/2009/02/konflik-israel-palestina-dan.html (dikases pada tanggal 5/01/2013;7:08) The Global Review, pernyataan dari 100 tokoh masyarakat Kristen di tanah suci kepada negara eropa: dukungan keanggotaan palestina di PBB., diakses melalui http://www.theglobalreview.com/content_detail.php?lang=id&id=10220&type=1#.UOy4ZuTG-Cg diakses pada tanggal 5/01/2013; 7:34) Harian Komentar, written by opex., tekait konfrontasi Hamas Vs Israel: tokoh Islam-kristen SULUT: ini bukan perang agama., diakses melalui http://www.harian(

komentar.com/slideshow/4138-terkait-konfrontasi-hamas-vs-israel-tokoh-islamkristen-sulut-ini-bukan-perang-agama.html (dikases pada tanggal 6/01/2013; 8:55)

Charles Honoris., Palestina vs Israel: benarkah konflik agama? diakses melalui http://news.detik.com/read/2012/11/24/130805/2100145/471/palestina-vs-israelbenarkah-konflik-agama (diakses pada tanggal 09/01/2013; 9:57). Mohd Roslan Mohd Nor., konflik Israel Palestine dari aspek sejarah modern dan langkah pembebasan dari cengkraman zionis., diakses melalui http://eprints.um.edu.my/2004/1/05_Bil_5_Konflik_Palestin_dan_Harapan_Masa_De pan_Dr_Roslan.pdf (dikases pada tanggal 6/01/2013;6:48) World Affairs Council., Centre for Global Studies., University of Washington., Understanding the Israeli-Palestinian conflict., diakses melalui http://www.worldaffairs.org/wp-content/uploads/2012/03/2009-05-12-israeli-palestine.pdf (diakses pada tanggal 07/01/2013;7:28) Turning the Tide., Structural/Cultural/Direct Violence., diakses melalui http://www.turningthe-tide.org/files/Structural%20Cultural%20Direct%20Violence%20Hand-out.pdf (diakses pada tanggal 20/06/2013;2:03)
9|Page